📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 44 dokumen

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATAN

Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.

2026
👤 Penulis: Syarif Hidayat
🏷️ Geografi 🏷️ Inklusi Pembangunan 🏷️ Kecerdasan Buatan

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATANJUDUL

Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.

2026
👤 Penulis: M. Nabil Alfagani
🏷️ Geografi 🏷️ Inklusi Pembangunan 🏷️ Kecerdasan Buatan

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATAN

Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.

2026
👤 Penulis: Berliana Atria Prastiwi
🏷️ Geografi 🏷️ Inklusi Sosial 🏷️ Analisis Risiko

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATAN

Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.

2026
👤 Penulis: Helmaliya Prameswari Putri
🏷️ Geografi 🏷️ Kepemilikan Aksesibilitas 🏷️ Analisis Risiko Banjir

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATAN

Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.

2026
👤 Penulis: Intan Mutia
🏷️ Geografi 🏷️ Kesejahteraan Lansia Dan Penyandang Disabilitas 🏷️ Analisis Geospatial

PEMETAAN POTENSI BANJIR ROB DI DESA ERETAN KABUPATEN INDRAMAYU

Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, merupakan kawasan pesisir berelevasi rendah 0–2 m di atas muka laut yang rutin mengalami banjir rob akibat kombinasi pasang tinggi, kenaikan muka air laut, dan penurunan muka tanah. Tugas akhir ini bertujuan menghasilkan peta potensi genangan banjir rob berbasis skenario untuk periode 2025–2045 dengan interval lima tahun. Pemodelan dilakukan menggunakan Spatial Bathtub Model yang mengintegrasikan Digital Terrain Model dari LiDAR 2025, parameter muka air laut pasang tertinggi hasil prediksi model dari analisis konstanta harmonik pasang surut, proyeksi kenaikan muka air laut regional, serta laju penurunan muka tanah hasil InSAR yang diinterpolasi dengan Ordinary Kriging dan dikalibrasi menggunakan GNSS. Tujuh skenario disusun untuk membedakan kontribusi faktor penyebab genangan. Hasil validasi lapangan menunjukkan Overall Accuracy 75,71%, Precision 96,57%, Recall 75,78%, F1-Score 84,92%, dan Critical Success Index 73,80%. Produk akhir berupa peta overlay temporal genangan rob dan informasi luas area terdampak per skenario sebagai dasar perencanaan mitigasi banjir rob di pesisir Indramayu.

2026
👤 Penulis: Ira Nazwa Fazzira
🏷️ Geografi 🏷️ Analisis Sistem Informasi Geografis (Sig) 🏷️ Manajemen Risiko Banjir

VISUALIASSI JALUR KABEL DAN PIPA BAWAH LAUT INDONESIA

Keberadaan kabel dan pipa di dasar perairan bukanlah tanpa resiko. Kebanyakan kabel dan pipa bawah laut mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia. Kerusakan yang terjadi pada kabel atau pipa bawah laut dapat menimbulkan kerugian baik bagi pemilik instalasi maupun pihak yang tidak sengaja telah mengakibatkan kerusakan. Informasi keberadaan kabel dan pipa bawah laut selama ini tersedia dalam format cetak yaitu pada peta laut dan daftar koordinat jalur kabel dan pipa bawah laut pada Buku Daftar Kabel dan Pipa Bawah Laut yang diterbitkan oleh Janhidros. Format cetak memiliki keterbatasan dalam hal akses. Dengan memanfaatkan teknologi internet yang mampu memberikan kemudahan bagi pihak-pihak dalam mengakses informasi yang dibutuhkan tanpa terbatas tempat dan waktu, maka melalui tugas akhir ini akan divisualisasikan jalur kabel dan pipa bawah laut dan akan diberikan informasi tekstual terkait yang terimplementasi dalam bentuk aplikasi purwarupa sistem informasi geografis berbasis web.

2026
👤 Penulis: Diah Dzihrina
🏷️ Geografi 🏷️ Informasi Geografis 🏷️ Manajemen Risiko Lingkungan

PERANGCANGAN BASIS DATA UNTUK MEMBANGUN SISTEM INFORMASI LANDAS KONTINEN INDONESIA

Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi UNCLOS 1982. Sebagai konsekuensinya Indonesia harus memenuhi kewajiban dan mendapatkan hak-hak atas laut yang diatur dalam hukum laut internasional tersebut. Dalam UNCLOS 1982, diatur tentang penentuan batas landas kontinen, baik itu berupa landas kontinen sejauh 200 mil laut, maupun landas kontinen yang lebih dari 200 mil laut. Dalam penetapan batas wilayah laut, diperlukan sarana pendukung dalam bentuk sistem data utama (spasial dan non-spasial) dan basis data terintegrasi yang berisikan informasi mengenai batas laut Indonesia sehingga data tersebut dapat dibangun, disimpan, dikelola, dimanipulasi dan ditampilkan secara akurat dan cepat. Tugas akhir ini menyajikan kajian perancangan sistem basis data spasial landas kontinen Indonesia. Sistem basis data spasial ini dapat menyajikan informasi mengenai landas kontinen Indonesia dan dapat dijadikan sebagai alternatif untuk pendepositan landas kontinen Indonesia ke Sekjen PBB.

2026
👤 Penulis: Aminah Kastuari
🏷️ Geografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Informasi Geografis

ASPEK PERMASALAHAN DAN ALTERNATIF SOLUSI BENCANA BANJIR DI JAKARTA

Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia. Sebagai sebuah kota metropolitan, Jakarta nampaknya masih perlu waktu untuk bisa berbenah. Dari tahun ke tahun pemandangan Jakarta masih diwarnai dengan banjir yang bahkan cakupannya semakin meluas. Banjir sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi di Jakarta, apalagi setelah hujan turun. Terlepas dari anggapan sebagian besar masyarakat tentang penyebab banjir di Jakarta ini, sebenarnya ada beberapa faktor utama yang berkenaan dan punya andil cukup besar dalam hal pengaturan debit air sampai terjadinya banjir. Faktor-faktor utama tersebut apabila dipelajari dengan seksama maka akan terlihat suatu keterikatan antara satu dan lainnya. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami permasalahan yang berakibat pada kinerjanya, maka secara otomatis hal itu memicu gangguan pada faktor yang lainnya. Dengan pengetahuan tentang pemetaan serta pemanfaatan data dan informasi spasial, kasus banjir di jakarta ini bisa dipelajari dengan lebih fokus melalui faktor-faktor penyebab banjir dan menjadikannya sebagai parameter untuk bahan dianalisis.

2026
👤 Penulis: WAHYU PERMANA
🏷️ Geografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data Spasial

DIBALIK PEMBANGUNAN ITB 1989-2002 YANG TAK TERUNGKAP

Tidak ada deskripsi.

2026
👤 Penulis: Tidak diketahui
🏷️ Geografi 🏷️ Pendidikan Teknik 🏷️ Revolusi Perpustakaan

PEMBANGUNAN KAMPUS ITB 1989-1996: MEWUJUDKAN IMPIAN DAN CITA-CITA

Tidak ada deskripsi.

2026
👤 Penulis: Tidak diketahui
🏷️ Geografi 🏷️ Rekonstruksi Lingkungan

PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB DARI FENOMENA PENURUNAN TANAH DI KAWASAN SEMARANG

Dampak dari fenomena penurunan tanah di kawasan Semarang telah dapat dilihat langsung pada kehidupan sehari-hari, seperti retaknya bangunan, rusaknya infrastruktur, dan meluasnya genangan banjir rob. Berdasarkan data survei GPS yang telah dilakukan sejak tahun 2008-2012, diketahui bahwa Semarang mengalami penurunan tanah dengan laju 0-0,22 m per tahun atau 0-22 cm per tahun. Informasi yang dirasa penting mengenai penurunan tanah di Semarang ini belum ditunjang oleh mudahnya informasi tersebut didapat oleh masyarakat umum atau pihak yang membutuhkan. Untuk itu, diperlukan suatu sistem untuk menjawab kebutuhan tersebut. Penelitian tugas akhir ini mencoba untuk membangun sebuah basis data spasial yang kemudian ditampilkan dalam SIG berbasis web. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu dalam mengorganisasi penyimpanan data spasial dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan informasi terkait penurunan tanah di Kota Semarang. Tahapan penelitian ini terdiri dari pembangunan basis data spasial, pembangunan aplikasi SIG berbasis web beserta pembangunan aplikasi basis data. Hasil dari penelitian ini adalah dibangunnya sebuah SIG berbasis web dari fenomena penurunan tanah di Kawasan Semarang dengan menggunakan perangkat lunak PostgreSQL/PostGIS dan GeoServer. Informasi yang didapatkan dari hasil pembangunan aplikasi ini masih terbatas. Hal ini dikarenakan oleh ketersediaan data-data terkait penurunan tanah di Kota Semarang yang terbatas pula.

2026
👤 Penulis: Resta Artariani
🏷️ Geografi 🏷️ Manajemen Infrastruktur 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMBUATAN BASIS DATA DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS HERBARIUM BANDUNGENSE BERBASIS WEB

Herbarium Bandungense merupakan laboratorium tempat menyimpan sampel dan informasi mengenai tanaman terutama pada daerah Bandung. Untuk lebih memudahkan pengguna dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan, dibangun Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis web pada data Herbarium Bandungense. Pembuatan sistem informasi berbasis web ini memerlukan dua tahap penting dalam pengolahan data, yaitu pembangunan basis data spasial dan pembuatan website yang terintegrasi dengan basis data spasial. Proses pengolahan data ini menggunakan PostgreSQL sebagai metode pembangunan basis data spasial serta Geoserver dan OpenLayers untuk pembuatan peta digital. Basis data yang dibangun dengan menggunakan standar Taxonomic Databases Working Group sebagai acuannya. SIG berbasis web dibangun menggunakan beberapa bahasa pemrograman seperti HTML, PHP, CSS, dan JavaScript. Hasil dari pengolahan data tersebut dimasukkan kedalam suatu website yang didesain secara user friendly dalam website SITH ITB sehingga memudahkan pengguna dalam mencari informasi yang dibutuhkan dan juga pengeolola untuk mengolah dan memperbarui data Herbarium Bandungense.

2026
👤 Penulis: MUHAMMAD ( 15109035 ); Pembimbing :Dr.Ir.Kokasih Prijatna, M.Sc
🏷️ Geografi 🏷️ Data Geografis 🏷️ Pembangunan Basis Data

IDENTIFIKASI GENANGAN AIR DENGAN MEMANFAATKAN CITRA QUICKBIRD DAN ALOS PALSAR (Studi Kasus: Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung)

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi bencana yang cukup tinggi dan lebih dari 70% bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologis termasuk banjir. Banjir didefinisikan sebagai luapan atau genangan yang keluar dari sungai atau badan air dan menyebabkan suatu bahaya dan disebabkan oleh fenomena cuaca dan kejadian yang menyebabkan presipitasi berlebihan pada suatu permukaan bumi. Di Pulau Jawa terdapat empat daerah rawan banjir yang mendapat prioritas tinggi yaitu lereng Gunung Merapi, Provinsi Jakarta dan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo serta Daerah Aliran Sungai Citarum. Tujuan dari studi ini adalah melakukan identifikasi tutupan lahan daerah kawasan banjir beserta luasan genangan air pada tiap tutupan lahan dengan memanfaatkan citra Quickbird dan citra ALOS PALSAR. Sebelum dilakukan proses klasifikasi dan analisis citra, proses pra pengolahan data dilakukan pada citra Quickbird dan ALOS PALSAR agar bersih dari kesalahan yang ada. Tutupan lahan akan didapatkan dari citra Quickbird dengan metode klasifikasi object based dan genangan air diperoleh dengan deliniasi nilai backscatter citra ALOS PALSAR. Dengan curah hujan 5 mm pada tanggal 10 September 2007 seluruh kelas pada area studi tergenang dengan nilai tertentu.

2026
👤 Penulis: MAUNDRI PRIHANGGO (NIM: 15108021);Pembimbing: Prof. Ketut Wikantika, M.Eng., Ph.D ; Dr. Soni Darm
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Citra 🏷️ Geografi

PEMETAAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI MELALUI CITRA SATELIT

Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Perubahan-perubahan ini dapat disebabkan oleh pasang surut, arus, gelombang, angin, intrusi air laut, runoff, pencemaran, ataupun kawasan continental shelf. Akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya fenomena abrasi dan sedimentasi yang dapat mengakibatkan adanya perubahan bentuk garis pantai. Kecamatan Muara Gembong yang termasuk dalam regional Kabupaten Bekasi, terletak di Pantai Utara Pulau Jawa. Letak geografisnya yang berada di kawasan pesisir menyebabkan Kecamatan Muara Gembong rentan terkena abrasi dan sedimentasi. Untuk itu, diperlukan penelitian mengenai perubahan garis pantai yang terjadi di sepanjang pesisir Kecamatan Muara Gembong. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan memetakan garis pantai melalui citra satelit LANDSAT-7 ETM+ multitemporal, yaitu data dari tahun 2000–2012. Citra tersebut diolah dengan dua macam metode penajaman visual citra, yakni ratioing dan algoritma BILKO agar terlihat perbedaan visual yang jelas antara daratan dan lautan. Dari citra yang telah diolah, dapat dilakukan digitasi garis pantai dari tahun ke tahun pada kedua metode. Hasil yang didapat dari kedua metode adalah adanya abrasi yang signifikan di wilayah pesisir Desa Pantai Bahagia dan Desa Pantai Sederhana, yaitu seluas 139,05 Ha dan 91,65 Ha pada metode ratioing dan 141,56 Ha dan 103,82 Ha pada metode algoritma BILKO. Berdasarkan nilai total perubahan garis pantai, luas daerah Kecamatan Muara Gembong berkurang 346,54–349,56 Ha dari tahun 2000 sampai 2012.

2026
👤 Penulis: DIANLISA EKAPUTRI (NIM: 15108012); Pembimbing: Dr. rer. nat. Wiwin Windupranata, S.T., M.Si. ; D
🏷️ Geografi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Citra Satelit
Halaman 1 dari 3
💬