📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 32 dokumen

IDENTIFIKASI PERUBAHAN HARGA LAHAN RESIDENSIAL DI SEKITAR GERBANG TOL PAMULIHAN JALAN TOL CISUMDAWU

Beroperasinya Gerbang Tol Pamulihan pada Jalan Tol Cisumdawu sejak awal 2022 mengubah aksesibilitas Kecamatan Pamulihan dan Tanjungsari, dua kecamatan agraris peri-urban yang sebelumnya relatif terisolasi dari Kota Bandung, hal ini berpotensi mendorong kapitalisasi nilai lahan, meskipun kajian mengenai hal ini pada konteks peri-urban Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan harga lahan residensial di sekitar Gerbang Tol Pamulihan melalui tiga sasaran, yaitu mengidentifikasi faktor yang memengaruhi harga lahan, pola persebarannya, dan model harga lahannya, pada radius dua kilometer yang mencakup lima desa dengan seratus responden. Penelitian menggunakan analisis konten dari lima penelitian terdahulu untuk menyintesis variabel, analisis spasial dengan Inverse Distance Weighting untuk memetakan pola persebaran harga lahan dari tahun 2017 sampai 2026, serta regresi linear berganda dengan Ordinary Least Square mengikuti kerangka Hedonic Pricing Model untuk membentuk model harga lahan. Hasil analisis konten menyaring enam belas variabel yang melalui backward elimination menghasilkan enam variabel signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen, yaitu bentuk lahan, lebar jalan depan lahan, luas bangunan, jarak ke gerbang tol, jarak ke SMA terdekat, dan jarak ke jalan nasional. Rata-rata harga lahan naik 130,2 persen dari tahun 2017 ke 2026, dengan model regresi yang memenuhi seluruh uji asumsi klasik dan menghasilkan Adjusted R Square sebesar 0,627. Temuan menarik adalah jarak ke gerbang tol berpengaruh positif terhadap harga lahan, menunjukkan donut effect, karena lahan yang terlalu dekat titik akses tol menghadapi eksternalitas negatif berupa kebisingan dan kemacetan. Variabel aksesibilitas jalan, baik lebar jalan depan lahan maupun jarak ke jalan nasional, terbukti lebih dominan dibandingkan kedekatan langsung dengan gerbang tol, sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi dasar empiris bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam menentukan arahan zonasi kepadatan permukiman di kawasan sekitar Gerbang Tol Pamulihan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Dzaki Auliansyah
🏷️ Geografis 🏷️ Analisis Harga Lahan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

ANALISIS KEADILAN SPASIAL DALAM PENYEDIAAN TAMAN TERHADAP MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KOTA BANDUNG

Tingkat kepadatan penduduk Kota Bandung yang sangat tinggi (15.233 jiwa/km²), diiringi dengan dominasi lahan terbangun sebesar 67,76%, telah menyebabkan ruang perkotaan menjadi semakin terbatas dan kompetitif. Tekanan spasial tersebut secara langsung memicu krisis penyediaan taman kota, yang tercermin dari capaian Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik yang baru menyentuh angka 12,15%. Di tengah keterbatasan tersebut, Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) menjadi kelompok yang paling rentan. Keterbatasan daya beli menjebak mereka pada segregasi hunian padat dan menyempitkan akses terhadap ruang rekreasi komersial. Oleh karena itu, keberadaan taman publik aktual yang dekat dan bebas biaya menjadi kebutuhan strategis bagi kelompok ini. Sayangnya, penilaian terhadap taman perkotaan pada studi terdahulu kerap bertumpu pada distribusi spasial dan cakupan radius semata, sehingga mengabaikan realitas kompleks terkait hambatan rute pejalan kaki dan kapasitas layanan taman. Padahal, penyediaan taman bagi kawasan MBR tidak dapat dinilai sekadar dari dokumen perencanaan, melainkan harus dikaitkan dengan pemerataan manfaat layanan aktual yang diterima penduduk. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menerapkan pendekatan multidimensional untuk mengevaluasi bagaimana taman aktual lintas hierarki benar-benar melayani permukiman MBR. Secara spesifik, penelitian ini menganalisis keadilan spasial penyediaan taman di Kota Bandung melalui pendekatan spasial-kuantitatif yang meliputi: validasi taman aktual, identifikasi permukiman MBR, pemodelan sebaran penduduk mikro, pengukuran dimensi Spatial Proximity, Density, Connectivity, dan Diversity, serta penyusunan Indeks Keadilan Taman (IKT) pada skenario 500 meter dan 1.000 meter. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa dari 455 objek taman yang tercatat di RDTR, hanya 303 objek yang tervalidasi sebagai taman aktual. Ketersediaan taman aktual tersebut kemudian dianalisis tingkat pelayanannya terhadap permukiman MBR yang teridentifikasi ke dalam tipologi formal, swadaya, dan liar. Berdasarkan pengukuran tersebut, nilai rata-rata IKT pada skenario 500 meter hanya mencapai 0,13 dengan median 0, yang mengindikasikan bahwa mayoritas kawasan MBR belum terlayani secara memadai. Ketika batas jangkauan diperluas menjadi 1.000iv meter, rata-rata IKT meningkat menjadi 0,38. Namun, peningkatan ini bersifat bersyarat karena perbaikan layanan baru dapat diakses setelah kelompok MBR menanggung pengorbanan ekstra berupa tambahan waktu tempuh dan kelelahan fisik di luar batas toleransi ideal. Secara spasial, deprivasi layanan tetap persisten pada permukiman organik berkepadatan tinggi (seperti Batununggal) meskipun batas jangkauan telah ditingkatkan. Sebaliknya, keadilan taman yang tinggi justru secara paradoks terkonsentrasi di sekitar kawasan perumahan terpadu skala besar (seperti Gedebage), dengan akses MBR lebih didorong oleh fenomena eksternalitas positif yang terjadi. Kontras antara sebagian kecil kelompok MBR yang diuntungkan secara lokasi dengan mayoritas MBR lain yang masih terisolasi ini mempertegas wujud ketimpangan spasial di Kota Bandung. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidakadilan taman bagi kelompok MBR berakar pada tiga tipologi persoalan: Krisis Ketersediaan Ruang, Beban Kepadatan Berlebih, dan Beban Jarak Aksesibilitas. Secara konseptual dan metodologis, penyusunan IKT menawarkan instrumen yang menggeser tata ruang dari sekadar pemenuhan kuota hijau menjadi evaluasi kerentanan spasial. Pada akhirnya, pendekatan ini menegaskan bahwa arahan penanganan tidak dapat dilakukan melalui satu intervensi tunggal, melainkan harus diarahkan secara spesifik sesuai dengan tipologi persoalan pada kawasan prioritas, agar penyediaan taman dapat memberikan pemerataan manfaat yang berkeadilan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fauzan Arfanjani
🏷️ Geografis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN HASIL INTERPRETASI VISUAL CITRA UNTUK PENERIMAAN PBB

Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan sawah maupun lahan kering, banyak yang mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Perubahan penggunaan lahan dapat di monitoring menggunakan data spasial remote sensing . Akusisi data remote sensing secara berseri dari waktu ke waktu memungkinkan untuk melakukan analisis perubahan penggunaan lahan. Dalam penelitian ini digunakan dua citra yaitu citra Ikonos tahun 2000 dan citra Quickbird tahun 2003. Pada kedua citra tersebut dilakukan digitasi on screen, sehingga di peroleh peta perubahan penggunaan lahan. Hasil perubahan penggunaan lahan tersebut ditumpangsusunkan dengan peta tata guna lahan dari PBB agar diperoleh data NJOP pada wilayah yang mengalami perubahan.

2026
👤 Penulis: Mohammad Taufiq
🏷️ Remote Sensing 🏷️ Analisis Perubahan Penggunaan Lahan 🏷️ Geografis

ANALISIS ZONASI DI KAWASAN KECAMATAN KEMBANGAN, JAKARTA BARAT AKIBAT PERKEMBANGAN KORIDOR JL. PURI INDAH RAYA DENGAN MARKET APPROACH

Koridor Jl. Puri Indah Raya, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat ditetapkan dalam RDTR Provinsi DKI Jakarta (Pergub No. 31 Tahun 2022) sebagai kawasan perumahan kepadatan tinggi dan sangat tinggi (sub-zona R-1 dan R-2). Namun, dinamika sosial-ekonomi perkotaan yang pesat mendorong pergeseran fungsi lahan yang signifikan, di mana kawasan yang semestinya didominasi hunian kini banyak ditempati kegiatan perdagangan dan jasa seperti kafe, restoran, klinik, kantor, dan ruko. Kesenjangan ini sejalan dengan teori location and land use Alonso (1964) yang menyatakan bahwa lahan perkotaan cenderung beradaptasi menuju fungsi dengan kemampuan membayar sewa tertinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketidaksesuaian zonasi di RDTR dengan penggunaan lahan eksisting, sekaligus mengkaji nilai lahan menggunakan Market Approach sebagai dasar penilaian arah perubahan fungsi kawasan. Metode yang digunakan meliputi analisis spasial overlay dengan ArcGIS, identifikasi transformasi fungsi bangunan, analisis pola aktivitas dan volume lalu lintas, serta penilaian nilai tanah melalui Market Approach dengan perbandingan subject property dan tiga comparable properties yang dilengkapi sequential adjustment berdasarkan karakteristik lahan, lingkungan, prospek pasar, dan harga penawaran. Data harga lahan turut diekstrapolasi hingga tahun 2026 untuk mengukur tren perubahan nilai lahan secara kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan ketidaksesuaian nyata antara RDTR dan kondisi eksisting, di mana sebagian besar kegiatan yang berkembang merupakan perdagangan dan jasa yang tidak sesuai peruntukan perumahan. Penilaian Market Approach mengindikasikan nilai lahan telah melampaui kisaran harga pasar permukiman, mencerminkan tekanan mekanisme pasar yang kuat ke arah fungsi komersial, yang diperparah oleh celah regulasi dan lemahnya sanksi pengendalian tata ruang. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan penyesuaian zonasi menjadi zona perdagangan dan jasa atau mixed-use, disertai penyesuaian intensitas pemanfaatan ruang (KDB, KLB, KDH) yang proporsional guna mendukung pembangunan kawasan secara terencana dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Angella Leticia
🏷️ Geografis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Nilai Lahan

TRANSFORMASI RUANG KAMPUNG KOTA CILENGGANG DI TENGAH EKSPANSI PENGEMBANGAN KOTA BARU TANGERANG SELATAN

Ekspansi pengembangan kota baru di kawasan pinggiran metropolitan Jabodetabek menghasilkan fenomena kampung kota terjepit, permukiman organik yang terkepung perumahan formal. RT 010 dan RT 012 Kampung Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, termasuk kategori kampung terjepit berat dalam radius pengembangan BSD City. Penelitian ini menganalisis transformasi ruang secara temporal, karakter morfologi, serta faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keberlanjutan kampung. Penelitian menggunakan pendekatan campuran deskriptif-eksplanatif dengan klasifikasi citra Landsat berbasis SVM pada tujuh titik waktu (1995–2025), analisis Urban Index (UI), Building Coverage Ratio (BCR), Street Pattern Analysis, kajian literatur dan wawancara, serta Sustainable Livelihood Approach (SLA) melalui kuesioner kepada 30 responden. Kawasan Terbangun Terencana berkembang dari 0 ha menjadi 125,08 ha sementara RTH/Pertanian menyusut dari 143,76 ha menjadi 97,91 ha dalam empat periodisasi: Pra-Ekspansi, Awal Ekspansi (1995–2005), Akselerasi dan Pengepungan (2005–2015), dan Konsolidasi Terjepit (2015–2025). UI tidak membedakan kampung dan kawasan formal pada skala makro, namun BCR kampung (45,14%) lebih tinggi dari kawasan formal (38,01%), mencerminkan densifikasi internal. RT 010 dan RT 012 menunjukkan pola cul-desac bukan sebagai produk desain, melainkan akibat penutupan akses historis oleh perumahan formal yang mengepungnya. Tidak ada instrumen RDTR yang melindungi permukiman organik eksisting. Analisis SLA menunjukkan Modal Sosial (+0,35) dan Modal Fisik (+1,13) meningkat, sementara Modal Alam (?1,00) dan Modal Manusia (?0,44) menurun. Seluruh responden berencana tetap tinggal, mengkonfirmasi ikatan sosial dan kesadaran historis sebagai faktor dominan kebertahanan kampung. Kebaruan penelitian terletak pada pendekatan tiga lapis integratif yaitu time-series tutupan lahan, morfologi multiskala, dan SLA. Kebertahanan Kampung Cilenggang bersifat kondisional dan bertumpu pada modal sosial, bukan perlindungan regulatif, mengimplikasikan perlunya instrumen perlindungan permukiman organik dalam regulasi tata ruang.

2026
👤 Penulis: Rahmania Afradiella Alifah
🏷️ Geografis 🏷️ Urban Planning 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS HIGHEST AND BEST USE PENGGUNAAN LAHAN KOSONG BEKAS PALAGUNA PLAZA, KOTA BANDUNG, JAWA BARAT

Pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang terus meningkat mendorong intensifikasi pembangunan dan alih fungsi lahan sekaligus menuntut pemanfaatan lahan pada lokasi strategis secara optimal. Lahan bekas Palaguna Plaza seluas 10.143 m² yang berlokasi di Jalan Asia Afrika, Kecamatan Regol, Kota Bandung, merupakan lahan terlantar di kawasan Pusat Pelayanan Kota (PPK). Kondisi ini menimbulkan risiko pemanfaatan secara tidak sah dan menyebabkan hilangnya nilai ekonomi lahan yang seharusnya dapat memberikan manfaat bagi pemerintah seperti Penerimaan Asli Daerah Kota Bandung, investor, dan masyarakat. Untuk mendapatkan alternatif pemanfaatan lahan yang optimal sehingga meningkatkan PAD Kota Bandung, dilakukan penelitian menggunakan kerangka analisis Highest and Best Use (HBU) yang mencakup prinsip physically possible, legally permissible, financially feasible, dan maximally productive. Alternatif pemanfaatan diuji yaitu hotel bintang 3, hotel bintang 4, hotel bintang 5, mall, dan gedung kesenian/convention hall, melalui analisis produktivitas, delineasi pasar, pasokan dan permintaan, marketabilitas, serta kelayakan finansial. Periode proyek diproyeksikan selama 15 tahun menggunakan Discounted Cash Flow (DCF) dengan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period pada tingkat diskonto 12%. Hasil analisis menunjukkan bahwa mixed-use development yang terdiri dari hotel bintang 5, mall, dan gedung kesenian/convention hall ditetapkan sebagai highest and best use dengan utilisasi bangunan 88,87%, NPV>0, serta IRR>12%. Pemanfaatan lahan dengan konsep ini diproyeksikan memberikan tambahan PAD Kota Bandung sebesar Rp 37,39 miliar per tahun atau 1,23% dari PAD eksisting tahun 2025.

2026
👤 Penulis: Christopher Maleakhi H.S.
🏷️ Geografis 🏷️ Pemanfaatan Lahan Strategis 🏷️ Analisis Highest And Best Use

TINGKAT WALKABILITY PADA SEPANJANG KORIDOR KOMERSIAL DAN KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI DI KECAMATAN JATINANGOR

Perkembangan kawasan pendidikan tinggi dan kawasan komersial di Kecamatan Jatinangor menyebabkan tingginya aktivitas pejalan kaki pada koridor utama Jalan Raya Jatinangor. Koridor ini menjadi pusat pergerakan masyarakat karena terhubung dengan kawasan pendidikan, perdagangan dan jasa, permukiman, serta berbagai fasilitas pelayanan lainnya. Namun, kondisi fasilitas pejalan kaki pada beberapa titik yang ada di sepanjang Jalan Raya Jatinangor masih belum memadai sehingga memengaruhi kenyamanan dan keamanan berjalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi jaringan pejalan kaki berdasarkan standar fasilitas pejalan kaki, persepsi pengguna, tingkat walkability menggunakan metode Global Walkability Index (GWI), kemudian membandingkan kondisi dari hasil keluaran sebelumnya. Penelitian ini membagi wilayah studi menjadi beberapa segmen. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner, pengumpulan data sekunder, serta analisis gap, analisis skoring, dan analisis spasiaI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan pendidikan tinggi memiliki kondisi jaringan pejalan kaki dan tingkat walkability yang lebih baik dibandingkan kawasan komersial, meskipun secara keseluruhan tingkat walkability dan fasilitas pejalan kaki pada wilayah penelitian masih belum sepenuhnya optimal. Selain itu, fasilitas bagi penyandang disabilitas serta keterhubungan jalur pejalan kaki menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan fasilitas seperti penyediaan trotoar, fasilitas penyeberangan, fasilitas bagi penyandang disabilitas, serta penataan aktivitas kendaraan untuk mendukung lingkungan berjalan kaki yang lebih aman dan nyaman.

2026
👤 Penulis: Salsabillah Anzah Mahatri
🏷️ Geografis 🏷️ Kepedulian Masyarakat 🏷️ Fasilitas Umum

PEMBANGUNAN VIRTUAL-REALTY GIS UNTUK DOKUMENTASI WARISAN BUDAYA(STUDI KASUS : KOMPLEK CANDI SEWU, YOGYAKARTA)

Warisan budaya merupakan kekayaan yang dimiliki oleh setiap bangsa yang dapat menceritakan perilaku kehidupan masyarakat pada suatu bangsa. Cerita yang terkandung dalam suatu warisan budaya, yang salah satunya tertuang pada Benda Cagar Budaya, merupakan cerita yang memiliki nilai sejarah dan tidak pernah bisa digantikan sehingga perlu dilakukan upaya-upaya yang tepat untuk melestarikan cerita sejarah yang kita dimiliki salah satunya dengan mendokumentasikan warisan budaya (Kompleks Candi Sewu, Klaten, Jawa Tengah). Konservasi dapat diartikan sebagai cabang arkeologi yang mencoba untuk mempreservasi dan mengelola objek arkeologis untuk berbagai kepentingan akademis-praktis di masa sekarang dan mendatang (Yuwono, 2003). Sistem informasi geografis yang menyediakan kemampuan untuk menyimpan, menampilkan serta menganalisa data spasial, dalam kegiatan konservasi dapat berperan untuk arkeolog dalam kepentingan pemeliharaan maupun rekonstruksi. Pembangunan virtual reality GIS untuk dokumentasi konservasi warisan budaya pada prinsipnya lebih mengarah pada segi visualisasi. Tahapan yang dilakukan meliputi perancangan desain basis data, ekstraksi data yang meliputi pemodelan 3D, georeferensi model, segmentasi model bangunan candi, implementasi basis data, serta proses visualisasi. Hasil yang diharapkan dari virtual reality GIS ini yaitu aplikasi dengan visual 3D yang menampilkan visualisasi dari Kompleks Candi Sewu berupa foto udara, 3D komplek candi, serta model 3D LOD 2, LOD 3, hingga LOD 4. Selain itu diharapkan aplikasi yang dibuat dapat membuat proses konservasi terutama rekonstruksi bangunan candi lebih efektif dan efisien.

2026
👤 Penulis: Ririn Threesiana
🏷️ Virtual Reality 🏷️ Konservasi Arkeologi 🏷️ Geografis

PLANNING OF URBAN GREEN SPACES AS EVACUATION AREA IN EARTHQUAKE DISASTER

After an earthquake there is a need to evacuate the refugee into evacuation area. Urban green spaces may be suitable for this purpose.The aim of this studies is to assess suitability of urban green spaces as evacuation area. The function of urban green space is not only ecological but also as evacuation area. This study tries to combine it. The main object of this study is to develop a GIS-based approach to assess the suitability urban green spaces for use as evacuation areas in the event of earthquake disaster. This research used one approach in advance land use suitability analysis the Multi Criteria Decision Analysis (MDCA). Multi Criteria Analysis is a tool that create for complex multi criteria problem that add qualitative and/or quantitative aspects of the problem in decision making process. To spatially implement multi criteria analysis it used Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE) module of Integrated Land and Water Information System (ILWIS) and to determine the weight values between criteria, the Analytic Hierarchy Process (AHP) was adopted. Bandung serve as case study because based on earthquake risk assessment from RADIUS project the earthquake may lead to a variety of severe damage that can illustrated with Modified Mercalli Intensity (MMI) scale 8 to 9. There is 6 suitability factor used in this study distance from building, distance from road network, capacity of accommodation, slope, earthquake intensity zone and distance from water network. Moreover, from the AHP result the highest weight for suitability factor is distance from building 0.234 followed by earthquake intensity zone 0.231, capacity of accommodation 0.162, slope 0.145, distance from water network 0.134 and distance from road network 0.094. This research found that SMCE is an effective method for assessing the suitability of urban parks as evacuation area. Urban parks cannot afford all of estimation refugees, only 27 % from the total estimation refugees. It is need additional area for accommodated all of the refugee. Public facilities such as schools, hospitals, and stadiums are generally suitable for use as a shelters. The location and proportions of urban green spaces is not evenly distributed within the city. There is a need to plan appropriate proportions and distribution of urban parks to make evacuation area can established by relying on existing urban parks.

2026
👤 Penulis: GENTRIA ARDIPUTRI PARAMITA (ITB: 25413009); (ITC: s6019323)
🏷️ Geografis 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Kota 🏷️ Analisis Kualitatif Dan Quantitatif

PENENTUAN NILAI SHAPE INDEX DENGAN DATA GEOSPASIAL TUTUPAN LAHAN PADA EKOREGION PULAU JAWA

Suatu guna lahan/tutupan lahan merupakan bagian dari ekoregion sangat rentan terhadap gangguan eksternal baik manusia dalam memenuhi kebutuhan sosial dan ekonominya maupun dari alam. Untuk memperkirakan sebesar apa kerentanan suatu guna lahan/tutupan lahan ini, para ahli membuat suatu nilai ukuran dengan melihat dari bentuk geometri dari suatu ekosistem yang disebut shape index. Untuk menghitung nilai shape index ini diperlukan besarnya luas dan keliling setiap tutupan lahan per ekoregion. Karena nilai shape index didapatkan dengan cara keliling dibagi dengan dua kali akar luas yang telah dikalikan dengan nilai π (227).Hasil dari perhitungan nilai ini berupa peta distribusi nilai shape index untuk setiap tutupan lahan per ekoregion. Ada 13 peta sesuai dengan jumlah tutupan lahan yang ada di Pulau Jawa.

2026
👤 Penulis: REZKY NOFAN ( 15108071 ); Pembimbing : Dr. Ir. Kosasih Prijatna, M.Sc.
🏷️ Geografis 🏷️ Analisis Geospasial 🏷️ Manajemen Eksokosistem

STUDI PERANCANGAN KAWASAN KEBAYORAN LAMA DENGAN KONSEP KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT MELALUI PEMODELAN GENERATIF BERBASIS GIS CITYENGINE

Kebayoran Lama merupakan salah satu kawasan perdagangan tradisional utama di Jakarta Selatan yang berkembang pesat berkat kedekatannya dengan simpul transportasi massal, yaitu Stasiun KRL Kebayoran dan Halte TransJakarta Kebayoran dan Velbak. Potensi kawasan ini sebagai sub-pusat pelayanan kota berbasis transit menghadapi persoalan serius berupa densifikasi spasial, fragmentasi ruang, keterbatasan aksesibilitas, dan konflik fungsi antara pejalan kaki, pengendara, dan pedagang kaki lima. Kondisi tersebut menurunkan kualitas lingkungan dan daya saing ekonomi lokal. Studi perancangan ini bertujuan merumuskan usulan perancangan kawasan Kebayoran Lama dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) melalui pemodelan generatif berbasis Geographic Information System menggunakan perangkat lunak CityEngine. Metode penelitian yang digunakan adalah metode fragmental dengan teknik problem solving, didukung dengan analisis spasial, observasi lapangan, serta studi literatur, dan kebijakan tata ruang. Hasil analisis desain ini menghasilkan tiga capaian utama. Pertama, teridentifikasi potensi kawasan berupa fungsi perdagangan yang kuat, keterhubungan dengan simpul transportasi, dan peluang pengembangan lahan. Kedua, terumuskan visi, misi, serta program fasilitas kawasan berorientasi transit yang menekankan integrasi transportasi, tata guna lahan campuran, hunian vertikal, ruang publik inklusif, dan strategi revitalisasi pasar. Ketiga, dihasilkan konsep perancangan yang memanfaatkan CityEngine untuk menyusun skenario penataan kawasan dan optimalisasi ruang. Studi perancangan ini berkontribusi secara teoretis dengan memperlihatkan peran CityEngine sebagai alat analisis sekaligus perancangan dalam studi rancang kota, serta secara praktis memberikan rekomendasi desain yang dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam penataan ulang kawasan Kebayoran Lama berbasis TOD.

2025
👤 Penulis: Balqis Puti Belinda
🏷️ Geografis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

IMPLEMENTASI PENGINDRAAN JARAK JAUH (GIS) UNTUK MEMPERKIRAKAN LAJU EROSI DAN KUALITAS AIR DI AREA PERTAMBANGAN NIKEL

Pertambangan nikel di Pulau Obi, Maluku Utara, menyebabkan perubahan tutupan lahan secara signifikan yang berdampak pada peningkatan laju erosi dan penurunan kualitas air. Penelitian ini bertujuan memprediksi laju erosi dan konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) menggunakan pendekatan Geographic Information System (GIS) dan metode MUSLE. Data yang digunakan mencakup citra satelit Sentinel-2A tahun 2015, 2020, dan 2025, peta Digital Elevation Model (DEMNAS), data curah hujan Stasiun Meteorologi Oesman Sadik, serta data tata guna lahan. Analisis NDVI menunjukkan penurunan vegetasi dari rata-rata 0,32 (2015) menjadi 0,18 (2025). Luas lahan tambang meningkat dari 14,25% menjadi 45,15%, sementara hutan lebat menurun hingga tersisa 34,86% dari total wilayah studi. Hasil perhitungan menunjukkan laju erosi tertinggi mencapai 165 ton/ha/tahun pada area terbuka dan tailing. Nilai Rw meningkat seiring peningkatan debit dan volume aliran permukaan. Terdapat hubungan linier antara sediment yield dan konsentrasi TSS, yang diprediksi menggunakan persamaan Laili (2015). Konsentrasi TSS mencapai lebih dari 200 mg/l pada lokasi dengan laju erosi tinggi. Diperlukan penerapan konservasi lahan, reklamasi, dan pemantauan berkala dengan citra satelit untuk mencegah degradasi lingkungan yang lebih lanjut.

2025
👤 Penulis: Muhammad Farrel Adafi
🏷️ Pertambangan 🏷️ Geografis 🏷️ Analisis Erosi

PENGEMBANGAN MODEL KONSEPTUAL GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM-BASED SMART WASTE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH DI KAWASAN PERKOTAAN CIBINONG RAYA, KABUPATEN BOGOR

Pengelolaan sampah di kawasan perkotaan Cibinong Raya, Kabupaten Bogor, menghadapi tantangan signifikan akibat pesatnya urbanisasi dan keterbatasan sistem konvensional yang belum mampu memenuhi kebutuhan efisiensi, distribusi layanan, serta pengambilan keputusan berbasis data spasial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model konseptual Geographic Information System-Based Smart Waste Management System (GIS-SWM) guna mengoptimalkan pengelolaan sampah melalui integrasi teknologi informasi dan analisis spasial. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif-konseptual, dengan analisis spasial, pemetaan distribusi fasilitas, identifikasi zona prioritas, serta optimasi rute pengangkutan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), Technique for Order of Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), dan Certainty Factor Model. Studi kasus dilakukan pada enam kecamatan di Cibinong Raya sebagai representasi kawasan peri-urban dengan dinamika pertumbuhan wilayah yang pesat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan model GIS-SWM mampu meningkatkan akurasi penetapan wilayah prioritas, memperbaiki distribusi fasilitas layanan, mempercepat proses pengambilan keputusan, serta meningkatkan efisiensi operasional dalam pengelolaan sampah. Kebaruan penelitian terletak pada arsitektur sistem spasial yang adaptif, evidencebased, serta mudah direplikasi di kota berkembang lain di Indonesia. Sumbangan utama penelitian adalah memperkuat landasan ilmiah dan praktis bagi pemerintah daerah serta pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sampah berbasis teknologi menuju smart city berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Farras Rahman
🏷️ Geografis 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Smart City

KAJIAN KERENTANAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI WILAYAH PULAU SUMATRA

Pulau Sumatra merupakan salah satu pulau yang berada di Indonesia. Di sebelah barat, Pulau Sumatra berbatasan dengan Samudra Hindia, di sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka, di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Selat Sunda. Kondisi tersebut menyebabkan interaksi antara laut dan pesisir menjadi dinamis. Pengamatan tingkat kerentanan kabupaten pesisir yang berada di Pulau Sumatra dilakukan dengan menggunakan metode Coastal Vulnerability Index (CVI) untuk menentukan seberapa rentan Pulau Sumatra akibat interaksi laut dan pesisirnya. Metode Coastal vulnerability Index (CVI) ditinjau dari parameter fisis berupa kemiringan pantai, tunggang pasang surut, tinggi gelombang, kenaikan muka laut, geomorfologi pantai, serta laju erosi dan akresi. Hasil pemetaan kerentanan yang dilakukan, diperoleh kabupaten pesisir dengan nilai kerentanan sangat tinggi (rank 5) terdapat pada Kabupaten Simeulue, Nias Utara, Kep. Mentawai, Bengkulu Tengah, Bengkulu, Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Pesisir Barat, dan Tanggamus. Panjang segmen garis pantai pada masing-masing Kabupaten Pesisir secara berurutan adalah Simeulue sebesar 43 km (7,6%), Nias Utara 15 km (2,6%), Kep. Mentawai 29 km (5,1%), Bengkulu Tengah 16 km (2,8%), Bengkulu 34 km (6,0%), Seluma 70 km (12,3%), Bengkulu Selatan 41 km (7,2%), Kaur 88 km (15,5%), Pesisir Barat 219 km (38,6%), dan Tanggamus 13 km (2,3%).

2025
👤 Penulis: Theo Raynold E. B. N. Ndruru
🏷️ Geografis 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Geomorfologi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA HARGA LAHAN DI KOTA BANDUNG

Perkembangan Kota Bandung mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk terutama pembangunan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Kota Bandung memiliki daya tarik yang cukup besar sebagai pusat perekonomian dan permukiman yang mendorong peningkatan permintaan lahan untuk kegiatan tersebut. Namun, ketersediaan lahan yang terbatas tidak sebanding dengan permintaan tersebut yang berdampak pada kelangkaan lahan. Kondisi ini dapat berdampak kepada harga lahan yang akan membentuk pola tertentu berdasarkan karakteristik yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pola harga lahan di Kota Bandung. Adapun dalam mencapai tujuan tersebut akan dilakukan pengidentifikasian terhadap penggunaan lahan dan sebaran fasilitas pendukung dengan analisis spasial yaitu dengan Supervised Classification dan Web Scrapping. Mengidentifikasi pola harga lahan dengan analisis spasial dengan metode kriging. Mengidentifikasi karakteristik harga lahan dengan analisis statistik deskriptif dan analisis spasial berupa Network Analysis dengan metode Closest Facility untuk melihat jarak harga lahan ke fasilitas dan PPK Bandung terdekat. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi harga lahan di Kota Bandung dengan analisis regresi linear sederhana. Penelitian ini memperoleh adanya perubahan penggunaan lahan tidak terbangun menjadi terbangun selama 5 tahun terakhir sebesar 987,11 ha. Pola harga lahan menggambarkan bahwa harga tertinggi berada di wilayah sekitar PPK Alun-Alun, dan k earah Utara dari Kota Bandung yang setiap titik harga lahan memiliki karakteristiknya masing-masing. Pola tersebut dipengaruhi oleh faktor kondisi fisik lahan yaitu luas lahan, faktor aksesibilitas yaitu lebar jalan, faktor jarak ke fasilitas pendukung yaitu bangunan cagar budaya, jarak ke fasilitas pendidikan dasar dan menengah, dan jarak ke fasilitas transportasi, dan faktor jarak ke PPK Bandung yaitu jarak ke PPK Gedebage

2025
👤 Penulis: Iqsal Aryo Syahputra
🏷️ Geografis 🏷️ Analisis Statistik Deskriptif 🏷️ Regresi Linear Sederhana
Halaman 1 dari 3
💬