📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 38 dokumen

PENGARUH PARAMETER PENGABUAN TERHADAP KUANTIFIKASI LOGAM TANAH JARANG PADA BATU BARA BANJARMASIN

Logam tanah jarang (LTJ) merupakan kelompok unsur strategis yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi teknologi modern, seperti magnet permanen, baterai kendaraan listrik, dan perangkat elektronik berperforma tinggi. Peningkatan kebutuhan global terhadap LTJ tidak diimbangi dengan keberagaman sumber pasokan, sehingga menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan rantai pasok. Kondisi ini mendorong pencarian sumber alternatif di luar endapan primer konvensional. Batu bara dan produk sampingannya berpotensi menjadi sumber sekunder LTJ, terutama pada batu bara yang terbentuk dalam kondisi geologi tertentu. Kajian mengenai asosiasi LTJ pada batu bara Indonesia masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi batu bara Indonesia sebagai sumber sekunder LTJ serta mempelajari pengaruh proses pengabuan terhadap perilaku logam tanah jarang. Penelitian ini menggunakan sampel batu bara sub-bituminus dari lapisan Eocene dan Miocene serta batuan pengapit Roof dan Floor yang berasal dari Kalimantan Selatan. Seleksi sampel dilakukan melalui analisis proksimat, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), Electron Probe Microanalysis (EPMA), dan Inductively Coupled Plasma (ICP) untuk menentukan tipe batu bara dengan potensi LTJ paling signifikan. Sampel terpilih kemudian diuji melalui percobaan pengabuan dengan variasi temperatur pembakaran, waktu pembakaran, dan ukuran partikel yang dirancang menggunakan Metode Taguchi L9. Abu hasil pembakaran dikarakterisasi menggunakan XRD, Scanning Electron Microscope (SEM), dan ICP, kemudian dianalisis secara statistik menggunakan rasio signal-to-noise (S/N) dan analisis varians (ANOVA) untuk menentukan parameter proses yang paling berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batu bara sub-bituminus lapisan Eocene memiliki potensi paling unggul sebagai sumber sekunder logam tanah jarang (LTJ). Abu sampel ini memiliki konsentrasi total LTJ tertinggi sebesar 275,6 ppm, didukung oleh proporsi LTJ kritis sebesar 40,6% dan nilai Outlook Coefficient 1,55 yang masuk dalam kategori menjanjikan (promising). Secara geokimia, LTJ pada batu bara Eocene berasosiasi kuat dengan fasa anorganik pembawa utama berupa aluminosilikat. Pada tahap pengabuan, terjadi transformasi mineral yang didominasi oleh pembentukan fase amorf aluminosilikat. Berdasarkan analisis Signal-to-Noise (S/N) metode Taguchi, waktu pembakaran merupakan parameter yang paling berpengaruh signifikan terhadap hasil pengukuran LTJ, diikuti oleh temperatur dan ukuran partikel. Respons hasil pengukuran LTJ diprediksi mencapai kondisi paling optimum pada kombinasi temperatur 1000 °C, waktu pembakaran 240 menit, dan ukuran partikel 140 mesh.

2026
👤 Penulis: Fajri Adam
🏷️ Geokimia 🏷️ Pengabuan Batu Bara 🏷️ Logam Tanah Jarang

POTENSI TITANIUM DAN VANADIUM PADA PASIR BESI DI PESISIR GUNUNG MURIA: PENDEKATAN MINERALOGI DAN GEOKIMIA

Titanium (Ti) dan vanadium (V) merupakan logam kritis yang semakin dibutuhkan dalam berbagai industri strategis, termasuk paduan logam, baterai, dan teknologi energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi kandungan serta karakteristik sebaran Ti dan V dalam endapan pasir besi di wilayah pesisir Gunung Muria, Jawa Tengah, melalui pendekatan mineralogi dan geokimia. Metode penelitian meliputi analisis mineralogi menggunakan grain counting, XRay Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengidentifikasi jenis mineral pembawa Ti dan V serta karakteristik teksturnya. Analisis geokimia dilakukan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menentukan komposisi oksida utama, serta Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry (ICP-MS) untuk mengukur konsentrasi unsur Ti dan V secara kuantitatif. Selain itu, analisis ukuran butir dilakukan untuk mengetahui pengaruh fraksi sedimen terhadap distribusi unsur target. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ti dan V terutama berasosiasi dengan mineral magnetite yang berkembang pada fraksi pasir halus hingga sedang. Kandungan TiO? dan V?O? menunjukkan variasi spasial yang dipengaruhi oleh proses sedimentasi, sumber material, serta dinamika lingkungan pesisir. Integrasi data mineralogi dan geokimia terbukti efektif dalam mengidentifikasi potensi pengayaan Ti dan V, sehingga dapat menjadi dasar ilmiah bagi evaluasi sumber daya dan pengembangan eksplorasi pasir besi di wilayah pesisir Gunung Muria.

2026
👤 Penulis: Maria Vianita Golu Pake
🏷️ Mineralogi 🏷️ Geokimia 🏷️ Pasir Besi

MINERALOGI DAN GEOKIMIA ENDAPAN PASIR BESI DI KOMPLEKS VULKANIK MURIA: INDIKASI KEBERADAAN RARE EARTH ELEMENTS (REE) DAN POTENSI EKSPLORASI LANJUTAN

Dataran aluvial pada zona pesisir Kompleks Vulkanik Muria, yang membentang dari Kabupaten Jepara hingga Kabupaten Pati, merupakan wilayah yang kaya akan endapan pasir besi. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mengkonfirmasi keberadaan Rare Earth Elements (REE) dalam endapan tersebut, meskipun kajian mineralogi dan geokimia secara mendalam masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, sebaran, serta komposisi mineral pembawa REE pada endapan pasir besi guna mengevaluasi potensi ekonominya sebagai sumber logam strategis. Metode penelitian meliputi pengamatan langsung di lapangan terhadap kondisi geologi, arah aliran sungai, serta lingkungan pengendapan sebagai studi awal. Selanjutnya, pengambilan sampel pasir besi dilakukan menggunakan hand auger, serta metode bulk sampling dan channel sampling pada penampang stratigrafi maupun bukaan galian. Sampel yang diperoleh kemudian diamati dan dianalisis menggunakan beberapa metode, yaitu pemisahan menggunakan Magnetic Separator, Grain Counting, serta analisis geokimia yang mencakup XRD, XRF, dan ICP-MS. Mineral pembawa REE adalah mineral klinopiroksen dengan kontribusi minor mineral fosfat (xenotim dan apatit) yang berasal dari Gunung Muria sebagai sumber primer, dengan hasil analisis menunjukkan bahwa ?REE pada fraksi tailing (532,35–687,67 ppm) secara konsisten lebih tinggi dibandingkan fraksi konsentrat (278,5–436,26 ppm) di seluruh titik sampel, yang mengindikasikan bahwa distribusi REE yang lebih terkonsentrasi pada material tailing.

2026
👤 Penulis: Maria Andrina Nuha
🏷️ Mineralogi 🏷️ Geokimia 🏷️ Rare Earth Elements (Ree)

KARAKTERISASI GEOKIMIA DAN ANALISIS LAJU OKSIDASI MINERAL SULFIDA PADA PEMBENTUKAN AIR ASAM TAMBANG BERDASARKAN HASIL UJI KINETIK SKALA LABORATORIUM

Aktivitas penggalian dan penimbunan dalam kegiatan penambangan batubara berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT). AAT terbentuk karena mineral sulfida terutama pirit (FeS2) akan tersingkap selama kegiatan penambangan sehingga akan bereaksi dengan oksigen dan air. Oleh karena itu, pemahaman ilmiah dan teknis mengenai pembentukan AAT harus dilakukan sejak dini untuk mengetahui dan meminimalisir resiko lingkungan yang akan terjadi, diantaranya dengan melakukan karakterisasi geokimia dan analisis laju oksidasi mineral sulfida. Dua puluh satu sampel batuan dari dua pit tambang batubara berbeda digunakan dalam karakterisasi geokimia pada penelitian ini, meliputi rangkaian pengujian skala laboratorium yang terdiri atas uji mineralogi dan unsur, uji statik, uji kinetik, sekaligus pengujian kualitas air lindian hasil uji kinetik. Uji statik terdiri atas NAG pH, pH pasta, ANC, dan total sulfur yang nantinya akan disajikan dalam grafik penapisan yang selanjutnya hasilnya akan dikonfirmasi oleh uji kinetik menggunakan parameter pH dan TDS air lindian. Laju oksidasi mineral sulfida pirit ditentukan berdasarkan dua pendekatan yaitu dengan mol besi total dan mol sulfat total hasil uji kualitas air lindian. Karakterisasi geokimia batuan mengklasifikasikan sepuluh dari dua puluh satu sampel sebagai material yang berpotensi membentuk asam (PAF) sehingga sepuluh sampel tersebut akan diuji lebih lanjut laju oksidasi mineral sulfidanya. Perhitungan laju oksidasi mineral sulfida pirit menggunakan dua pendekatan menunjukkan hasil yang berbeda yaitu laju oksidasi berdasarkan mol sulfat total jauh lebih cepat dibandingkann dengan menggunakan pendekatan mol besi total, hal ini disebabkan oleh sulfat akan cenderung stabil dalam larutan dibandingkan dengan spesies besi yang cenderung mengendap. Laju oksidasi sampel yang bersifat PAF berdasarkan mol besi total berkisar antara 9.41×10?13mol/m2s - 1.03×10?8mol/m2s, sedangkan berdasarkan mol sulfat total berkisar antara 5.57×10?11mol/m2s - 9.66×10?8mol/m2s.

2025
👤 Penulis: Muhammad Andre Cahya Praja
🏷️ Geokimia 🏷️ Analisis Laju Oksidasi Mineral Sulfida 🏷️ Pembentukan Air Asam Tambang

STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA FLUIDA MANIFESTASI PANAS BUMI DAERAH CIANJUR BAGIAN SELATAN, JAWA BARAT

Beberapa manifestasi panas bumi ditemukan di daerah Cianjur bagian selatan, khususnya Tanggeung, Cibungur, Leles, dan Panyindangan. Tujuan penelitian ini adalah memahami kondisi geologi yang mengontrol keluaran manifestasi, mengetahui asal; karakteristik; dan pola aliran fluida bawah permukaan, serta mengetahui model geokimia sistem geotermal daerah penelitian. Secara geologi, daerah penelitian terdiri atas tujuh satuan batuan, yaitu: Satuan Breksi Volkanik, Breksi Tuf, Batupasir, Batupasir Karbonatan, Diorit, dan Andesit. Adapun struktur geologi di daerah penelitian meliputi: sesar naik, Sesar Geser Mengiri Cibungur, Sesar Geser Mengiri Leles, Sesar Geser Menganan Leuwilutung, dan Sesar Geser Menganan Sukajadi. Struktur geologi diduga menjadi pengontrol sistem geotermal di daerah penelitian Hasil analisis geokimia menunjukan bahwa terdapat 5 reservoir di daerah penelitian. Sistem geotermal Tanggeung memiliki kolam air panas (PTG) bertemperatur 63,9°C dan pH 7,8. Reservoir sistem geotermal Tanggeung memiliki temperatur 120±10°C di kedalaman 18 meter pada Satuan Batuan Breksi Tufan. Sistem geotermal Cibungur memiliki dua kolam air panas dan satu kolam air hangat (PPG, PCB, dan PCH) dengan temperatur dan pH masing-masing: 55,2°C, 53,5°C, dan 41,3°C serta 8,3, 8,5 dan 8,6. Seluruh manifestasi berasal dari reservoir yang sama. Reservoir tersebut memiliki temperatur 120±10°C di kedalaman 18 meter pada Satuan Batuan Breksi Tufan. Sistem geotermal Leles memiliki tiga kolam air panas (PL1, PL2, dan PL4) dengan temperatur dan pH masing-masing: 65,7°C, 65,3°C, dan 57°C serta 7,7 di seluruh manifestasi. Manifestasi PL1 dan PL2 berasal dari reservoir yang sama, sedangkan manifestasi PL4 berasal dari reservoir yang berbeda. Kedua reservoir tersebut memiliki temperatur 110±10°C di kedalaman 10 meter pada Satuan Batupasir Karbonatan. Sistem geotermal Panyindangan memiliki kolam air hangat bertemperatur 38,9°C, pH 7,75, dan debit 1 liter/detik. Reservoir sistem geotermal Panyindangan memiliki temperatur 110±10°C di kedalaman 10 meter pada Satuan Batupasir Karbonatan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Sultan Badruzzaman
🏷️ Geologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Sistem Geotermal

KARAKTERISTIK ENDAPAN NIKEL LATERIT DAN PERSEBARAN UNSUR KOBALT (CO) PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT DI DAERAH BULI, HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA

Nikel menjadi salah satu logam yang banyak dieksploitasi dan dimanfaatkan dalam berbagai sektor industri. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara produsen nikel terbesar yang salah satu cadangannya berada di Kabupaten Halmahera Timur. Dalam endapan nikel laterit, terdapat mineral penyerta yaitu kobalt (Co) yang menjadi produk sampingan dari proses metalurgi endapan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit, mengetahui zona pengayaan unsur kobalt, hubungan unsur kobalt dengan unsur atau senyawa lainnya pada endapan nikel laterit, dan memperkirakan persebaran unsur kobalt pada endapan nikel laterit di daerah penelitian. Data yang digunakan yaitu data geokimia XRF, peta geologi lembar Maluku, dan data DEM. Profil endapan nikel laterit di daerah penelitian terbagi menjadi tiga zona yaitu limonit, saprolit, dan batuan dasar. Batuan dasar yang ditemukan pada daerah penelitian berjenis harsburgit dan dunit. Endapan nikel laterit pada daerah penelitian memiliki tipe endapan nikel dominan silika Mg terhidrasi dan beberapa tipe oksida. Berdasarkan analisis geokimia XRF lainnya, kobalt mengalami pengayaan pada zona limonit. Analisis Korelasi Spearman (rs) menunjukkan bahwa unsur Co memiliki korelasi positif sangat kuat dengan MnO (rs=0,89),dan berkorelasi positif kuat dengan Fe2O3(rs=0,75). Kelimpahan unsur Co dipengaruhi oleh kemiringan dan memiliki nilai (IOL) yang tinggi. Estimasi persebaran unsur kobalt dilakukan menggunakan IDW pada zona limonit. Berdasarkan hasil estimasi tersebut,konsentrasi unsur kobalt yang tertinggi (Co > 0,1847%) berada di timur laut dan barat daya dari daerah penelitian dengan limonit yang relatif tidak tebal namun diduga kuat dikontrol oleh kemiringan lereng dan kontrol struktur. Konsentrasi unsur kobalt yang rendah (Co < 0,0739%) berada pada tengah daerah dengan limonit yang tebal dan berada di kemiringan lereng yang kurang optimal.

2025
👤 Penulis: Rafly Betriliansyah
🏷️ Geokimia 🏷️ Endapan Nikel Laterit 🏷️ Persebaran Unsur Kobalt

STUDI GEOKIMIA DAN KARAKTERISTIK PROFIL NIKEL LATERIT DI DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA

Abstrak bisa dilihat di file aslinya

2025
👤 Penulis: Rahmad Syukur
🏷️ Geokimia 🏷️ Laterit Nikel 🏷️ Karakteristik Profil Mineral

PENENTUAN DAERAH RESAPAN SISTEM PANASBUMI KAMOJANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

Lapangan panasbumi Kamojang yang terletak di Jawa Barat, Indonesia, merupakan salah satu kawasan panasbumi aktif yang telah dimanfaatkan sejak tahun 1983 sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) sekaligus lokasi wisata. Keberadaan mata air di sekitar daerah penelitian menjadi sumber air dan rekreasi yang penting bagi pengelola kawasan. Untuk menjaga fungsi hidrologi dan ekosistem mata air, diperlukan pemahaman terhadap daerah resapan dan karakteristik fluida. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah resapan pada sistem panasbumi berdasarkan interpretasi data isotop stabil 18O dan 2H, mengidentifikasi model hidrogeologi, menganalisis faktor geologi yang memengaruhi daerah resapan, serta mengevaluasi proses geokimia dan isotop yang terjadi pada fluida panasbumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah resapan utama diprediksi berada di timur mata air panas di beberapa puncak gunung pada satuan yang setara dengan Qgpk (batuan gunungapi Guntur–Pangkalan dan Kendang) dan Qym (endapan gunungapi muda) pada peta geologi regional. Model konsep hidrogeologi disajikan pada Gambar IV.14. Faktor-faktor yang memengaruhi keberadaan daerah resapan meliputi elevasi, topografi, litologi, serta struktur berupa sesar dan sistem rekahan. Interpretasi geokimia menunjukkan bahwa mata air berada dekat dengan daerah resapan dan seluruh mata air panas belum mencapai kesetimbangan dengan batuan. Fluida mata air panas Manuk, Berecek, Kamojang, dan Cikahuripan berasal dari aktivitas vulkanik, sedangkan fluida mata air panas Hujan dan hot pool berasal dari pemanasan ulang oleh uap dari reservoir panasbumi. Interpretasi isotop menunjukkan bahwa daerah penelitian dipengaruhi oleh evaporasi dan air hujan berasal dari daratan atau vegetasi sekitar. Fluida di daerah penelitian dipengaruhi oleh sumber panasbumi atau magmatik, dan terjadi pencampuran (mixing) antara air meteorik yang terpanaskan oleh uap pada reservoir panasbumi dengan fluida hasil kondensasi.

2025
👤 Penulis: Rahel Tamita Ginting
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Geokimia

STUDI GEOKIMIA UNSUR JEJAK PADA ENDAPAN EMAS OROGENIK DI SEKAYAM, KALIMANTAN BARAT

Daerah Sekayam, Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi endapan emas orogenik yang berasosiasi dengan zona deformasi dan alterasi hidrotermal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur jejak yang berasosiasi dengan mineralisasi emas menggunakan pendekatan analisis geokimia unsur jejak dan mengklasifikasikan batuan berdasarkan pola unsur tanah jarang (REE) untuk memahami karakter litologi dan sumber batuannya. Sebanyak 10 sampel batuan dari berbagai zona (milonitik, urat, sedimen, dan sesar) dianalisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF), X-ray Diffraction (XRD), Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS), dan Loss on Ignition (LOI). Hasil analisis XRF dan ICP-MS menunjukkan bahwa unsur As, Sb, dan S memiliki korelasi positif dengan Au, hal ini mengindikasikan presipitasi emas bersama mineral pembawa seperti arsenopirit dan stibnit, unsur K yang berkorelasi positif dengan Au merefleksikan proses serisitisasi akibat fluida hidrotermal kaya K+, serta hasil XRD dan LOI menunjukkan alterasi pada lokasi penelitian yaitu serisitisasi, karbonatisasi, dan silisifikasi. Analisis pola REE memperlihatkan bahwa zona milonitik dan sesar mengalami pengayaan LREE (light rare earth elements) signifikan akibat pengaruh fluida metasomatik, sementara zona urat cenderung mengalami deplesi REE akibat mobilisasi oleh fluida. Pola REE dan multi-elemen tiap sampel dikomparasi dengan batuan dari Pegunungan Schwaner , Kompleks Luk Ulo, Kompleks Meratus, dan Area Mineralisasi Emas Timburu untuk menginterpretasi kesamaan litologi sumber berupa material busur magmatik yang telah terdeformasi dan teralterasi.

2025
👤 Penulis: Anggian Imanuel Krisna
🏷️ Geokimia 🏷️ Mineralisasi Emas 🏷️ Alterasi Hidrotermal

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

STUDI KARAKTERISTIK KENAMPAKAN FISIK, MINERALOGI, DAN GEOKIMIA ENDAPAN NIKEL LATERIT DI BLOK TAMBANG UTARA DAERAH POMALAA, SULAWESI TENGGARA

Karakterisasi endapan nikel laterit yang terintegrasi pada profil spesifik di Blok Tambang Utara Pomalaa masih terbatas, meskipun geologi regionalnya telah banyak dipelajari. Penelitian ini menggunakan 26 data lapangan sekunder dan menganalisis 10 sampel representatif dari profil Pit Wrangler di Blok Tambang Utara Daerah Pomalaa, yang dianalisis menggunakan metode deskripsi megaskopis, analisis XRD, dan analisis XRF. Hasil penelitian menunjukkan adanya profil laterit berlapis di atas batuan induk ultramafik, yang secara fisik terdiferensiasi menjadi horizon-horizon dengan perubahan warna dan ukuran butir yang sistematis. Secara geokimia, terjadi proses pelindian masif unsur MgO dan SiO?, pengayaan residual Fe?O? hingga >75% di horizon limonit, dan pengayaan supergen NiO yang mencapai puncaknya sebesar 2,99% di horizon earthy saprolite. Analisis mineralogi mengonfirmasi transformasi batuan dasar yang kaya mineral silikat menjadi horizon saprolit yang didominasi oleh kelompok serpentin dan mineral lempung (halloysite), dan akhirnya menjadi horizon limonit yang kaya akan goetit dan hematit. Berdasarkan korelasi data, mineral pembawa nikel utama diidentifikasi sebagai mineral hidrosilikat sekunder (serpentin dan lempung) melalui mekanisme substitusi isomorfik, sehingga endapan ini diklasifikasikan sebagai tipe hidrosilikat (hydrous silicate deposit)

2025
👤 Penulis: Taskia Aulia Mukminin
🏷️ Geokimia 🏷️ Mineralogi 🏷️ Karakterisasi Endapan Nikel Laterit
Halaman 1 dari 3
💬