📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 146 dokumenANALISIS SEGMENTASI GUNUNGAPI BERDASARKAN DATA CITRA SATELIT DAN MODEL SLAB SUBDUKSI PULAU SUMATRA DAN JAWA
Pulau Sumatra dan Jawa dikenal karena memiliki sejumlah gunungapi yang aktif, menciptakan suatu lingkungan geologi yang dinamis kompleks. Dalam hal ini, pengelompokkan segmen berdasarkan suatu parameter terukur menjadi faktor penting dalam memahami proses geodinamika yang terjadi. Studi ini berfokus pada analisis segmentasi gunungapi di wilayah Sumatra dan Jawa. Penelitian ini menggunakan data citra satelit untuk mendapatkan kelurusan struktur geologi seperti sesar dan diskontinuitas struktural yang ada di Pulau Jawa dan Sumatra. Metode yang digunakan adalah modified Segmen Tracing Algorithm (mSTA) dan Land Surface Temperature (LST). Metode mSTA digunakan untuk mendeteksi kelurusan secara otomatis dari citra satelit dan LST digunakan untuk mendapatkan suhu permukaan. Integrasi kedua parameter ini digunakan untuk mengidentifikasi sembilan segmen gunungapi yang khas di Pulau Sumatra dan Jawa berdasarkan visualisasi dari kerapatan densitas kelurusan yang didapatkan dari analisis citra satelit. Selain itu, pengambilan data lapangan diperlukan untuk memverifikasi kelurusan dan LST yang terdeteksi yang dilakukan di tiga lokasi yaitu Gunung Sinabung, Gunung Tangkuban Parahu, dan Gunung Ijen. Di Gunung Sinabung terdapat empat lokasi pengambilan data struktur dengan arah kelurusan timur laut–barat daya dan suhu permukaan 28?C. Di Gunung Tangkuban Parahu ditemukan kelokan sungai dan zona hancuran sebagai indikator keberadaan struktur geologi berarah barat–timur dan suhu permukaan 29?C. Di Gunung Ijen terdapat satu lokasi pengambilan data struktur dengan arah kelurusan barat laut–tenggara dan suhu permukaan 28?C. Hubungan antara rumpun gunungapi dengan data slab subduksi digunakan untuk memahami segmen gunungapi yang terdeteksi. Kemiringan slab subduksi menunjukkan hubungan positif dengan densitas gunungapi yang ada di setiap segmen. Pertambahan sudut kemiringan slab subduksi berbanding lurus dengan peningkatan jumlah gunungapi dalam satu kelompok segmen. Hasil analisis LST menunjukkan variasi temperatur permukaan dari 16-31?C. Panas naik ke permukaan melalui celah-celah atau retakan pada zona permeabilitas yang tinggi. Hasil studi ini memiliki implikasi yang signifikan dalam pemahaman dinamika geologi dan kebencanaan gunungapi di Pulau Sumatra dan Jawa berupa enam segmen gunungapi di Pulau Sumatra dan tiga segmen gunungapi di Pulau Jawa. Data lapangan dan slab subduksi digunakan untuk memverifikasi hasil pemrosesan citra dan memahami fenomena segmentasi gunungapi yang diperoleh.
ESTIMASI KERUGIAN LANGSUNG AKIBAT BENCANA DI PULAU JAWA
Letak geografis serta jumlah penduduk yang besar menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah yang rawan bencana dengan berbagai ancaman, termasuk gempa bumi, longsor, banjir, dan letusan gunung api. Berdasarkan data historis, keempat jenis bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp395.050.291.044.408,00 dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Oleh karena itu, perhitungan potensi kerugian akibat keempat bencana tersebut menjadi hal yang penting untuk dilakukan agar terhindar dari kerugian ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Adapun jenis kerugian yang akan dibahas secara spesifik dalam project ini adalah jenis kerugian langsung (direct loss). Proses perhitungan kerugian diawali dengan mengumpulkan peta ancaman bencana untuk mengetahui parameter indeks ancaman. Kemudian, proses dilanjutkan dengan melakukan identifikasi sruktur taksonomi bangunan melalui metode GED4ALL Building Taxonomy yang telah disimplifikasi untuk parameter pengamatannya. Data indeks ancaman dan struktur taksonomi bangunan yang diperoleh akan digunakan sebagai variabel dalam persamaan perhitungan risiko kerugian langsung akibat bencana dengan metode Damage and Loss Assessment (DaLA). Pada tahapan akhir, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga proses sebelumnya akan disajikan dalam suatu dashboard berbasis WebGIS. Hasil perhitungan risiko kerugian menunjukkan bahwa bencana gempa bumi memiliki potensi kerugian tertinggi dengan nilai total kerugian sebesar Rp195.322.940.153.487,00 disusul dengan bencana longsor dan banjir dengan nilai total kerugian sebesar Rp117.043.904.494.640,00 dan Rp12.329.442.055.227,00. Potensi kerugian terendah ditunjukkan oleh jenis bencana letusan gunung api dengan nilai total kerugian Rp68.006.471.074,00. Secara keseluruhan, luaran utama yang dihasilkan pada project ini dapat digunakan untuk proses lanjutan dalam sistem manajemen risiko bencana, khususnya pada tahap analisis dan evaluasi risiko.
EVALUASI KINERJA STRUKTUR MODULAR TIPIKAL DI INDONESIA TERHADAP BEBAN GEMPA
Struktur modular tipikal di Indonesia menggunakan sistem sambungan petikemas atau biasa disebut dengan corner fittings. Penentuan tipe sambungan pada struktur modular di Indonesia sangat perlu mempertimbangkan kondisi dan potensi gempa, mengingat Indonesia termasuk negara yang rawan gempa. Berkaitan dengan hal tersebut, melalui penelitian ini, akan ditentukan tipe sambungan struktur modular tipikal di Indonesia berdasarkan parameter penentu kinerja serta akan dilakukan evaluasi kinerja dari keseluruhan struktur modular tipikal di Indonesia dengan diberikan pembebanan gempa. Secara garis besar, pada studi ini, dilakukan evaluasi terhadap struktur modular dengan sistem sambungan intermodule tipikal di Indonesia berkaitan dengan kinerja dan respons struktur dalam memikul beban gempa yang didesain berdasarkan SNI 2847:2019 dan menggunakan analisis spektrum respons ragam berdasarkan SNI 1726:2019 serta menentukan jumlah tingkat maksimum yang dapat didesain untuk struktur modular dengan sistem sambungan petikemas.
GEOLOGI DAERAH MANGOLI TENGAH BAGIAN SELATAN, PULAU MANGOLI, KABUPATEN KEPULAUAN SULA, PROVINSI MALUKU UTARA
Pulau Mangoli sebagai area penelitian merupakan bagian dari mikrokontinen Banggai-Sula yang berasal dari Benua Australia dan telah mengalami proses tektonik yang kompleks hingga sampai pada keadaan geologi saat ini. Terjadinya proses geologi yang kompleks menjadikan area penelitian menarik untuk diteliti secara lebih mendalam, khususnya terkait studi pemetaan geologi lebih detail, alterasi, dan mineralisasi. Penelitian ini dilakukan sebagai studi awal dalam eksplorasi regional untuk menentukan karakteristik dan genesa dari kondisi geologi daerah Mangoli Tengah bagian selatan, serta kondisi alterasi dan mineralisasi yang berkembang di area penelitian yang lebih detail. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode pemetaan lapangan dengan luas area 52 km2 untuk studi geologi dan 13 km2 untuk studi alterasi dan mineralisasi sebagai penelitian detail pada area Desa Paslal - Capalulu. Metode lain yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis petrografi, analisis mineragrafi, dan analisis kinematika struktur geologi sekunder. Daerah penelitian tersusun atas delapan satuan batuan berdasarkan persebaran litologi dan analisis geomorfologi, yaitu satuan batuan metamorf, granitoid biotit, granit pegmatit, lava riolit, serpih, intrusi diabas, intrusi andesit, dan aluvium. Pada area Desa Paslal – Capalulu ditemukan zona alterasi pada satuan batuan lava riolit, serpih, granitoid biotit, dan batuan metamorf. Zona alterasi terdiri dari zona kuarsa + klorit + serisit ± epidot dengan mineralisasi pirit, serisit + kuarsa + klorit ± kalsit dengan mineralisasi pirit dan kemungkinan sfalerit, kuarsa + illit + serisit, dan kuarsa + kalsit dengan mineralisasi pirit. Mineral bijih hadir dengan tekstur diseminasi dan setempat mengisi urat. Pada zona alterasi ini, ditemukan juga kehadiran mineral bijih lain berupa magnetit sebagai mineral logam serta hematit, goetit, dan limonit sebagai mineral hasil pelapukan.
STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI DI DAERAH PEJAWARAN, KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH
Penelitian terkait kondisi geologi dan hidrogeologi di daerah Pejawaran, Kabupaten Banjarngeara masih sangat sedikit, padahal hal tersebut berguna sebagai acuan terhadap perubahan kondisi geologi, hidrogeologi ataupun lingkungan. Oleh karena itu, studi geologi dan hidrogeologi detail dengan skala 1:25.000 perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemetaan kondisi geologi dan hidrogeologi, serta mengidentifikasi kondisi fisik dan kimia air tanah di daerah Pejawaran. Metode penelitian terdiri dari studi pralapangan, pemetaan geologi dan hidrogeologi, integrasi dan interpretasi kondisi geologi dan hidrogeologi, serta analisis sifat fisik dan kimia air tanah. Pemetaan pralapangan mengacu pada peta kelurusan, kemiringan lereng, topografi, pola aliran sungai, dan volkanostratigrafi. Pemetaan geologi mengacu pada litologi, struktur geologi dan deskripsi geomorfologi, sedangkan pemetaan hidrogeologi mengacu pada persebaran dan keluaran mata air, kondisi fisik air tanah, dan elevasi muka air tanah. Pengukuran sifat fisik dilakukan di lapangan dan analisis data kimia dilakukan menggunakan metode ion chromatography (IC). Hasil dari pemetaan geologi terdiri dari 10 satuan geomorfologi, 23 satuan batuan tidak resmi, 24 struktur geologi berupa sesar interpretatif, serta 3 periode erupsi sejarah geologi. Hasil dari pemetaan hidrogeologi diantaranya 3 klasifikasi tipe mata air, 4 litologi potensi akuifer, serta 3 kemungkinan pola aliran air tanah. Hasil analisis kimia dilakukan berdasarkan data kation dan anion mata air, sehingga menghasilkan beberapa diagram seperti Gibbs, Piper, dan Schoeller. Geomorfologi daerah penelitian didominasi oleh bentuk kerucut gunung api dan punggungan, sedangkan litologi dominasi tuf dan batulapili, serta struktur geologi berarah timur laut–barat daya dan barat–timur. Terdapat 7 khuluk dan 5 gumuk berdasarkan peta volkanostratigrafi skala 1:50.000. Keluaran mata air dikontrol topografi, potensi akuifer berada pada litologi tuf dan batulapili, serta pola aliran hidrogeologi di daerah penelitian berasal dari utara menuju selatan. Berdasarkan hasil analisis fisik, hampir semua sampel air termasuk ke dalam temperatur mata air dingin, pH 6,0–7,0, dan TDS 0–150 ppm. Hanya satu sampel MAP-1 termasuk mata air hangat, pH 7,0, dan TDS 1660 ppm. Sampel air dingin memiliki fasies Ca + Mg-HCO3 dan terpengaruh interaksi batuan dan fluida.
GEOLOGI DAN PEMODELAN RESERVOIR STATIS KARBONAT PADA INTERVAL ANGGOTA MANTAWA DAN FORMASI MINAHAKI DI LAPANGAN CHIVAS, CEKUNGAN BANGGAI, SULAWESI TENGAH
Abstrak
GEOLOGI DAERAH MEKARMANIK DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT
Tidak ada deskripsi.
STUDI KARAKTERISTIK SERPIH MINYAK SERTA POTENSI KANDUNGAN ASPAL DAN MINYAK DI FORMASI SAMPOLAKOSA, KABUPATEN BUTON SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA
<p align="justify">Pulau Buton memiliki sumber daya aspal alam yang melimpah berkisar 650 juta ton dengan fokus pemerintah daerah Sulawesi Tenggara pada upaya peningkatan penggunaan aspal untuk pembangunan dan preservasi jalan. Kelimpahan aspal alam ini juga perlu diimbangi dengan banyak penelitian dari karakteristik dan potensinya. Lokasi penelitian berada di Desa Hendea dan Desa Sandangpangan, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara geografis, daerah penelitian terletak pada koordinat 5o 29’ 17’’ – 5o 33’ 26’’ BT dan 122o 43’ 35” – 122o 47’ 22” LS. Penelitian ini difokuskan pada Formasi Sampolakosa yang merupakan satuan litostratigrafi pembawa serpih minyak di daerah penelitian. Analisis yang digunakan pada penelitian terdiri dari analisis ultimat, analisis proksimat, reflektansi vitrinit, analisis retorting, dan analisis kadar aspal. Hasil analisis ultimat menunjukkan serpih minyak dan ekstrak aspal berada pada zona katagenesis dengan ekstrak aspal bertipe kerogen I. Tak hanya itu, serpih minyak menjadi tiga kelompok, yaitu: kelompok bertipe kerogen III, kelompok gabungan tipe II dan III, dan kelompok gabungan tipe kerogen I dan II. Reflektansi vitrinit pada penelitian ini menunjukkan serpih minyak berada pada zona belum matang dengan rentang nilai 0,26 – 0,31%. Analisis proksimat pada serpih minyak di penelitian ini menunjukkan kadar sulfur (0,59 – 2,69%) yang dikategorikan sebagai kadar dengan nilai medium, kadar abu (39,22 – 48,47%) yang menunjukkan banyaknya material anorganik yang terkandung, dan kadar zat terbang (50,91 – 55,87%) yang menandakan tingginya hasil kandungan minyak pada proses retorting. Análisis retorting pada serpih minyak menunjukkan volume minyak Fischer dengan rentang 80 – 278 l/ton, volume air Fischer dengan kisaran 7 – 42 l/ton dengan berat jenis serpih minyak, yaitu: 1,75 – 2,396 g/cm3. Hasil analisis retorting didapatkan hasil rata-rata estimasi volume minyak yaitu 151,8 l/ton. Di sisi lain, kadar aspal pada ekstraksi serpih minyak didapatkan rata-rata 19,4%. Selain itu, potensi kandugan minyak di daerah penelitian dari analisis retorting pada Formasi Sampolakosa adalah 56.525 barel dan potensi kandungan aspal pada analisis kadar aspal adalah 1.126.796,848 ton.<p align="justify">
STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI PADA DAERAH CIJENGKOL DAN CIRACAS, JAWA BARAT
<p align="justify">Mata air hangat muncul di daerah Cijengkol dan Ciracas yang mengindikasikan keterdapatan sistem geotermal di bawah permukaan. Studi geologi dan hidrogeologi secara detail di daerah tersebut perlu dilakukan sebagai acuan dalam proses pengembangan energi geotermal di daerah tersebut. Studi geologi dan hidrogeologi di daerah Cijengkol dan Ciracas dilakukan sebelum proses pengembangan energi geotermal sebagai upaya perencanaan dan antisipasi agar tidak terjadi pencemaran mata air tanah, longsor, ataupun pelepasan gas vulkanik. Maksud penelitian ini adalah untuk memetakan kondisi geologi dan mengetahui sistem hidrogeologi di daerah Cijengkol dan Ciracas. Metode penelitian yang dilakukan berupa studi literatur, analisis citra, pemetaan geologi, analisis geomorfologi, vulkanostratigrafi, petrografi, serta analisis fisika dan kimia air tanah. Geomorfologi daerah penelitian dipetakan berdasarkan analisis citra dan observasi lapangan menghasilkan tujuh satuan geomorfologi yang didominasi oleh bentang alam gunung api dan punggungan. Dari analisis vulkanostratigrafi didapatkan bahwa daerah penelitian masih termasuk Khuluk Sunda dan Pra-Sunda. Tujuh satuan batuan tidak resmi dan tiga sesar diperkirakan terdapat pada daerah penelitian. Berdasarkan analisis citra dan observasi lapangan, produk gunung api yang mengontrol kondisi hidrogeologi berupa satuan batuan beku dan aliran piroklastik yang menjadi akuifer. Selain itu pengontrol kemunculan mata air adalah kemiringan lereng dan struktur geologi sebagai jalur keluarnya air ke permukaan. Identifikasi kondisi fisik dan kimia air tanah kemudian dilakukan berdasarkan sifat fisik dan kimia sampel air yang menghasilkan beberapa grafik dan diagram. Berdasarkan hasil analisis fisik terdapat tujuh sampel mata air yang diduga terpengaruh oleh air termal. Fasies kimia air hangat termasuk Na+K-Cl dan mata air dingin Ca+Mg-HCO3. Pola aliran tanah daerah penelitian umumnya berarah selatan ke utara dari data muka air tanah.<p align="justify">
IDENTIFIKASI POTENSI PENURUNAN MUKA TANAH DI INDONESIA
Wilayah Indonesia banyak yang mengalami fenomena penurunan muka tanah yang umumnya terjadi di kota-kota besar. Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah terhadap suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya (Marfai, 2006). Penurunan muka tanah memiliki karakteristik yang bervariasi, secara spasial maupun temporal, yang diakibatkan oleh faktor penyebab yang berbeda. Penyebab utama dari terjadinya fenomena penurunan muka tanah adalah pemanfaatan lahan yang menyebabkan pemadatan sistem akuifer akibat pengambilan air tanah, beban yang berlebih, dekomposisi dan pengeringan dari tanah organik, pertambangan bawah tanah, ekstraksi minyak dan gas bumi, ekstraksi lumpur, patahan kerak bumi, hidrokompaksi, pemadatan alamiah (natural compaction), pergeseran lempeng tektonik, serta pencairan permafrost. Indikasi adanya penurunan muka tanah diantaranya terjadinya banjir rob, kerusakan infrastruktur, maupun intrusi air laut. Potensi penurunan muka tanah diperoleh dengan melakukan analisis spasial tumpang susun (overlay) dan grid network dari enam jenis pemanfaatan lahan yang diduga berkorelasi sebagai penyebab penurunan muka tanah. Enam jenis pemanfaatan lahan yang di maksud adalah daerah sedimen, lahan gambut, pertambangan, konsesi migas, panas bumi (geothermal), dan pemukiman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat 26,05% wilayah di Indonesia yang didalamnya ada 1 faktor penyebab penurunan muka tanah, 20,71% wilayah di Indoensia yang didalamnya memiliki 2 faktor penyebab penurunan muka tanah. Dan sebanyak 5,23% wilayah di Indonesia rawan mengalami penurunan muka tanah karena terdapat 3 faktor didalamnya. Untuk daerah yang didalamnya terdapat 4 faktor dan atau lebih ada sebanyak 0,49%.
STUDI GEOLOGI DAERAH MANGOLI TIMUR DAN MINERALISASI AREA NAFLOW, IZIN USAHA PERTAMBANGAN PT INDOMINERAL UTAMA SEJAHTERA, PULAU MANGOLI, KABUPATEN KEPULAUAN SULA, PROVINSI MALUKU UTARA
Pulau Mangoli merupakan bagian dari Mikrokontinen Banggai Sula yang berasal dari Benua Australia dan telah mengalami proses tektonik yang kompleks. Dengan proses geologi yang kompleks, area penelitian ini menjadi menarik untuk dilakukan penelitian yang mendalam, tetapi belum ada penelitian khususnya pada studi geokimia, alterasi, dan mineralisasi di area tersebut. Studi ini dilakukan sebagai studi awal dalam eksplorasi regional untuk menentukan genesa dan karakteristik kondisi geologi di Mangoli Timur serta kondisi alterasi, geokimia, dan sistem mineralisasi yang berkembang di Area Naflow. Penelitian ini dilakukan dengan metode pemetaan lapangan dengan luas area 56 km2 untuk studi geologi dan 16 km2 untuk studi geokimia, alterasi, dan mineralisasi sebagai penelitian detail pada Area Naflow. Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi dan alterasi, analisis petrografi, analisis mineragrafi, analisis XRay Fluoresence, serta analisis Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry. Daerah penelitian tersusun atas tujuh satuan batuan berdasarkan persebaran litologi dan analisis geomorfologi yaitu satuan metamorf kompleks, gabro, granit, batulanau, diabas, leukogranit, dan aluvial. Pada Area Naflow muncul zona alterasi yang lemah dari intrusi leukogranit yang menerobos batuan gabro. Intrusi leukogranit bertekstur aplit menunjukkan bukti model mineralisasi pegmatit berkembang pada daerah penelitian. Zona alterasi terdiri dari zona epidot + klorit + serisit dan epidot + klorit + aktinolit. Pada zona alterasi ini juga muncul mineral bijih berupa pirit, kalkopirit, hematit, dan magnetit dengan tekstur diseminasi. Pada analisis geokimia unsur jejak batuan leukogranit terlihat bahwa perbandingan kandungan Mg/Li tinggi jika dibandingkan dengan komposisi granit di kerak benua bagian atas yang menunjukkan adanya pengayaan unsur Li. Pada penelitian detail Area Naflow, analisis geokimia batuan utuh dari enam sampel leukogranit menunjukkan bahwa batuan leukogranit berasosiasi dengan VAG (Volcanic Arc Granite). Selain itu, unsur U, Th, dan Rb juga memiliki konsentrasi