📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

PERANCANGAN PUSTAKA PYTHON UNTUK ALGORITMA OPTIMISASI SPIRAL DENGAN KLASTERING DALAM PENCARIAN SELURUH AKAR SISTEM PERSAMAAN NONLINEAR

Pencarian akar sistem persamaan nonlinear merupakan permasalahan fundamental yang banyak muncul dalam berbagai bidang sains dan rekayasa. Pada fungsi yang kompleks, tidak kontinu, atau tidak terdiferensialkan, metode berbasis gradien sering kali kurang efektif sehingga diperlukan pendekatan alternatif berbasis metaheuristik. Tugas akhir ini berfokus pada pembuatan pustaka Python pysne sebagai perangkat lunak untuk pencarian seluruh akar sistem persamaan nonlinear menggunakan algoritma Spiral Optimization with Clustering (SPOC). Pustaka ini mengintegrasikan berbagai komponen pendukung, meliputi metode inisialisasi berbasis barisan Low-Discrepancy, algoritma SPOC untuk pencarian akar pada domain real, serta pengembangan SPOC untuk permasalahan bilangan bulat. Pengembangan pustaka disertai dengan studi pustaka, perancangan perangkat lunak, dan eksperimen numerik untuk mengevaluasi ketepatan serta kinerja setiap komponen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inisialisasi berbasis barisan Low-Discrepancy menghasilkan kinerja yang lebih stabil dibandingkan inisialisasi acak, dengan barisan Korobov dipilih sebagai metode inisialisasi utama karena memberikan konsistensi terbaik. Algoritma SPOC dalam pysne berhasil menemukan seluruh akar referensi pada berbagai sistem persamaan nonlinear dengan tingkat akurasi yang tinggi. Untuk permasalahan bilangan bulat, pendekatan yang dikembangkan mampu mereplikasi seluruh solusi referensi dan pada beberapa kasus menemukan solusi tambahan yang valid secara numerik. Secara keseluruhan, pustaka pysne menyediakan implementasi SPOC yang andal, konsisten dengan literatur rujukan, serta dapat dimanfaatkan sebagai perangkat lunak yang praktis untuk pencarian seluruh akar sistem persamaan nonlinear pada domain real maupun integer.

2026
👤 Penulis: Aldy Nugraha Hermawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Optimisasi Nonlinear 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

AN ACTIVITY-BASED COSTING APPROACH TO CALCULATE UNIT COST UNDER DUMPING AREA RELOCATION IN COAL MINING OPERATIONS

Penelitian ini membahas keterbatasan visibilitas pembentukan biaya pada tingkat aktivitas ketika alternatif rencana penimbunan masih dievaluasi terutama berdasarkan estimasi biaya agregat dan kebutuhan armada. Penelitian mengevaluasi implikasi biaya satuan dari rencana relokasi area penimbunan pada kegiatan pemindahan lapisan penutup di PT. XYZ selama periode perencanaan 2027–2029. Penelitian bertujuan menghitung biaya satuan pada tingkat aktivitas dan total biaya satuan pada Plan A sebagai skenario dasar dan Plan B sebagai skenario relokasi, mengidentifikasi aktivitas utama penyebab perbedaan biaya, serta menilai implikasi finansialnya. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus terapan yang didominasi oleh analisis kuantitatif. Data numerik diperoleh dari dokumen internal perusahaan yang telah disetujui, sedangkan wawancara semi-terstruktur digunakan untuk mengonfirmasi permasalahan bisnis, memvalidasi struktur aktivitas, klasifikasi biaya, cost driver, dan interpretasi hasil. Model Activity-Based Costing mengalokasikan biaya sumber daya ke dalam aktivitas OB Loading, OB Hauling, OB Dozing, OB Road Maintenance, OB Support, OB Lighting, dan OB Overhead. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Plan B secara konsisten menghasilkan biaya satuan yang lebih rendah. Total biaya satuan Plan A adalah US$4,33/bcm pada 2027, US$4,21/bcm pada 2028, dan US$3,94/bcm pada 2029, sedangkan Plan B menghasilkan US$3,40/bcm, US$3,23/bcm, dan US$3,18/bcm. Pengurangan biaya masing-masing sebesar US$0,93/bcm, US$0,98/bcm, dan US$0,77/bcm, terutama berasal dari aktivitas OB Hauling akibat berkurangnya jarak angkut, cycle time, kebutuhan truk, dan operator. Dalam model perencanaan finansial terintegrasi, Plan B diproyeksikan menurunkan total biaya sekitar US$68 juta dan meningkatkan laba setelah profit sharing sekitar US$46 juta. Penelitian merekomendasikan Plan B sebagai dasar perencanaan, dengan tetap melakukan validasi terhadap asumsi teknis dan operasional sebelum implementasi.

2026
👤 Penulis: Muhammad Izhar Yusran
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN PERENCANAAN KEBUTUHAN PEGAWAI DSDM, DKST, DITMAWA, DAN BIRO ADUM ITB BERDASARKAN ANALISIS BEBAN KERJA DENGAN METODE WORK SAMPLING

Tenaga kependidikan dan dosen adalah komponen yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan kependidikan dan menghasilkan mutu lulusan perguruan tinggi yang baik. Maka dari itu, perencanaan pegawai di ITB merupakan hal penting, salah satunya di Unit Kerja Pendukung (UKP). Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) mengalami kesulitan untuk menentukan kebutuhan pegawai karena belum memiliki kebijakan perencanaan pegawai. Kebijakan perencanaan pegawai perlu mempertimbangkan banyak faktor, salah satunya adalah beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban kerja sehingga dapat memetakan usulan perencanaan kebutuhan pegawai di Direktorat Sumber Daya Manusia, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi, Direktorat Kemahasiswaan, dan Biro Administrasi Umum ITB. Keempat direktorat tersebut terpilih karena perbedaan karakteristik pekerjaan dan tantangan yang dihadapi. Penelitian menggunakan metode pengukuran waktu kerja langsung (direct time study) melalui work sampling yang divalidasi dengan pencatatan aktivitas melalui logbook dan Focus Group Discussion (FGD). Pengamatan dilakukan secara acak selama jam kerja operasional untuk memperoleh proporsi aktivitas produktif dan nonproduktif. Data hasil pengamatan kemudian diuji keseragamannya dan disesuaikan menggunakan faktor performance rating, allowance, indeks lembur, serta fluktuasi beban kerja tahunan. Selanjutnya, kebutuhan pegawai dihitung berdasarkan beban kerja pada masing-masing seksi maupun subdirektorat. Identifikasi beban kerja dilakukan pada 24 seksi atau subdirektorat yang tersebar di 4 UKP. Sebanyak 18 seksi atau subdirektorat memiliki beban kerja (BK) normal, 5 seksi atau subdirektorat memiliki beban kerja underload, dan 1 seksi atau subdirektorat memiliki beban kerja overload. Penelitian ini menghasilkan 8 seksi atau subdirektorat dengan skenario tidak lembur (0,9 < BK ? 1) dan 6 seksi atau subdirektorat dengan skenario lembur (1 < BK ? 1,26) yang mendominasi. Sebanyak 10 seksi atau subdirektorat tidak menghasilkan skenario yang mendominasi sehingga terdapat skenario tidak lembur atau lembur yang dapat diusulkan. Usulan kebutuhan pegawai yang dirancang mempertimbangkan target beban kerja dan kondisi operasional organisasi. Penelitian ini juga mengusulkan redistribusi pekerjaan, penerapan cross functioning pada periode sibuk, serta pemanfaatan teknologi sebagai upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan sumber daya manusia.

2026
👤 Penulis: Cindy Nathania
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Beban Kerja

DETERMINATION OF COMPOSITE CRACK ARRESTOR THICKNESS TO STOP CRACK PROPAGATION IN API 5L X52 CO? PIPE USING XFEM SIMULATION

The growing implementation of carbon capture, utilization, and storage (CCUS) has increased the need for safe and reliable carbon dioxide (CO?) transportation through high pressure pipelines. One major safety concern is long-running fracture, in which an initiated crack continues to propagate along the pipeline due to the sustained crack-driving force generated by internal pressure and CO? decompression. This study determines the minimum thickness of a carbon fibre reinforced polymer (CFRP) crack arrestor required to stop crack propagation in an API 5L X52 pipeline. Crack propagation was simulated numerically using the Extended Finite Element Method (XFEM) in Abaqus 2024. The model consisted of a three dimensional pipeline containing an initial 30 mm longitudinal through wall crack and subjected to an internal pressure of 8 MPa. Model accuracy was evaluated through mesh convergence and analytical validation using the Mode I stress intensity factor and reference stress. The CFRP arrestor was modelled as an external layered reinforcement with a [0/90] fibre orientation and thicknesses of 5.010, 5.845, 6.680, 7.515, and 10.020 mm. Arrest performance was evaluated based on the final crack length, crack velocity, and whether the crack remained within the reinforced region. The results showed that the 5.010 mm arrestor was unable to stop the crack, whereas all configurations with thicknesses of 5.845 mm and above successfully arrested crack propagation. The minimum successful thickness was therefore determined to be 5.845 mm, corresponding to 35 composite plies and a final fully opened crack length of 65 mm. Increasing the arrestor thickness improved its performance, with the 10.020 mm configuration producing the shortest final crack length of 59 mm. These findings demonstrate that increasing CFRP thickness enhances local stiffness, reduces crack-tip deformation, and limits the distance of crack propagation in API 5L X52 CO? pipelines.

2026
👤 Penulis: Unedo Yakhin Pardede
🏷️ Karbonisasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Teknik Struktur Pipa

PENGEMBANGAN GARAM-GARAM BARU MOKSIFLOKSASIN DENGAN ASAM MALONAT, ASAM MALEAT, DAN ASAM SITRAT

Moksifloksasin merupakan senyawa antibiotik golongan fluorokuinolon generasi keempat yang memiliki keterbatasan sifat fisikokimia berupa kelarutan dan stabilitas yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sifat fisikokimia tersebut melalui pembentukan garam dengan asam malonat, asam maleat, dan asam sitrat, serta mengevaluasi karakteristik padatan, kelarutan, dan stabilitasnya. Analisis termal dan difraktometri dilakukan untuk menetapkan rasio molar reaksi dan mendeteksi terbentuknya sistem padatan baru. Selanjutnya, analisis Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR) dilakukan untuk mengidentifikasi struktur interaksi. Sebagai hasil diperoleh sistem padatan baru yang diprediksi sebagai garam. Uji kelarutan dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dalam media akuades, dapar fosfat pH 6,8, dan dapar KCl pH 2,0, sedangkan uji stabilitas dievaluasi FTIR dan PXRD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa garam dapat terbentuk pada rasio molar 1:1 dan 2:1 melalui metode Solvent Drop Grinding (SDG). Uji kelarutan menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pH 2,0 dibandingkan dengan pH lainnya. Selain itu, bentuk garam kombinasi tersebut terbukti memiliki stabilitas yang lebih baik daripada moksifloksasin tunggal.

2026
👤 Penulis: Ridho Fernanda
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS KONEKTIVITAS HINTERLAND PELABUHAN UTAMA DI PULAU JAWA DAN ESTIMASI DEMAND TERMINAL PETI KEMAS DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK DAN PELABUHAN PATIMBAN

Konektivitas hinterland merupakan faktor penting yang memengaruhi wilayah layan dan daya saing antar pelabuhan. Cakupan hinterland tidak hanya ditentukan oleh kedekatan geografis, tetapi juga oleh aksesibilitas jaringan, waktu tempuh, dan generalised cost dari wilayah produksi atau konsumsi menuju pelabuhan. Di Pulau Jawa, kehadiran Pelabuhan Patimban sebagai entry port di wilayah utara Jawa Barat berpotensi mengubah struktur hinterland dan pembagian demand peti kemas, khususnya pada wilayah yang sebelumnya bergantung pada Pelabuhan Tanjung Priok. Penelitian ini menggabungkan analisis konektivitas hinterland pelabuhan utama di Pulau Jawa dengan identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap estimasi demand Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok untuk mengestimasi demand Terminal Peti Kemas Pelabuhan Patimban. Analisis dilakukan terhadap Pelabuhan Tanjung Priok, Patimban, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak dengan unit analisis kabupaten/kota melalui pendekatan deterministik dan probabilistik. Pendekatan deterministik digunakan untuk menentukan pelabuhan dengan nilai generalised cost minimum, sedangkan pendekatan probabilistik digunakan untuk menggambarkan kecenderungan pemilihan pelabuhan dan tingkat kompetisi antar pelabuhan. Estimasi demand Tanjung Priok dilakukan menggunakan regresi multilinear dengan metode stepwise berdasarkan variabel ekonomi, demografi, industri, perdagangan, nilai tukar, dan aktivitas logistik. Hasil analisis deterministik menunjukkan bahwa setelah Pelabuhan Patimban dipertimbangkan, jumlah hinterland dominan Tanjung Priok menurun dari 35 menjadi 23 kabupaten/kota. Berdasarkan perubahan tersebut, diperoleh spatial hinterland share Tanjung Priok sebesar 65,71% dan Patimban sebesar 34,29%. Di sisi lain, hasil probabilistik menunjukkan bahwa batas hinterland antar pelabuhan tidak bersifat kaku, melainkan membentuk zona kompetitif pada beberapa wilayah dengan probabilitas pemilihan pelabuhan yang relatif terbagi. Selanjutnya, Nilai share tersebut digunakan untuk mengestimasi demand Terminal Peti Kemas Pelabuhan Patimban. Hasil estimasi menunjukkan bahwa demand Terminal Peti Kemas Patimban diperkirakan mencapai sekitar 3.11 juta TEU pada tahun 2027 dan 3.79 juta TEU pada tahun 2037. Dengan demikian, Pelabuhan Patimban berpotensi memiliki peran sebagai pelabuhan pendukung Tanjung Priok dalam sistem pelabuhan utama di Pulau Jawa.

2026
👤 Penulis: M. Daffa' Hanifaturrahman
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Logistik

MENINGKATKAN CAPAIAN PRODUKTIVITAS PENGUPASAN TANAH PENUTUP DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA LEAN SIX SIGMA: STUDI KASUS AKTIVITAS PERNAMBANGAN DI PT.BBB

Topsoil removal merupakan aktivitas penting dalam operasi tambang terbuka karena menentukan kesiapan area penambangan, keberlangsungan produksi, serta keberhasilan reklamasi lahan pascatambang. Namun demikian, proses ini masih menghadapi berbagai inefisiensi operasional seperti waktu tunggu yang tinggi, konflik pergerakan alat, dan variasi proses yang menyebabkan produktivitas menurun. Selain itu, penanganan topsoil yang kurang tepat dapat menurunkan kualitas tanah sehingga mengurangi keberhasilan revegetasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi waste pada proses topsoil removal, merumuskan strategi peningkatan produktivitas, serta mengevaluasi bagaimana preservasi kualitas topsoil dapat dipertahankan. Penelitian menggunakan pendekatan Lean Six Sigma melalui metodologi DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control) dengan studi kasus di PT BBB. Value Stream Mapping (VSM) digunakan untuk mengidentifikasi aktivitas bernilai tambah dan tidak bernilai tambah, Cycle Time Analysis dan Pareto Analysis digunakan untuk mengukur tingkat inefisiensi serta menentukan prioritas permasalahan, sedangkan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) digunakan untuk mengevaluasi risiko operasional dan menentukan prioritas perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan produktivitas terutama disebabkan oleh waktu tunggu, konflik lalu lintas alat, gangguan operasional, dan ketidakkonsistenan pelaksanaan di lapangan, bukan karena keterbatasan kapasitas alat. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian mengusulkan optimasi sistem dispatch, penyeimbangan armada, perbaikan manajemen jalan angkut, pengaturan lalu lintas operasional, serta penerapan prosedur operasional preventif. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dan preservasi kualitas topsoil dapat dicapai secara bersamaan melalui perbaikan operasional yang sistematis dan berbasis data.

2026
👤 Penulis: Menahim Fajar Kurnia Rapa
🏷️ Operasi Tambang Terbuka 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

EVALUASI KINERJA SEISMIK SPECIAL TRUSS MOMENT FRAME (STMF) PADA SUMBU KUAT KOLOM DENGAN VARIASI JUMLAH INTERMEDIATE VERTICAL MEMBER (IVM)

Special Truss Moment Frame (STMF) merupakan sistem rangka baja tahan gempa yang memanfaatkan pelelehan elemen fuse pada special segment sebagai mekanisme disipasi energi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penambahan Intermediate Vertical Member (IVM) terhadap kinerja seismik sistem STMF. Objek penelitian berupa bangunan baja tiga lantai yang dimodelkan menggunakan ETABS dengan empat variasi jumlah IVM, yaitu 0, 1, 2, dan 3 buah pada setiap special segment. Perencanaan struktur mengacu pada SNI 1729:2020, SNI 1726:2019, SNI 7860:2020, dan AISC 341-16. Evaluasi kinerja dilakukan melalui analisis pushover dengan metode displacement control. Perilaku nonlinier dimodelkan menggunakan plastic hinge yang didefinisikan secara manual berdasarkan kurva backbone mengacu pada ASCE 41-17. Parameter yang dievaluasi meliputi kekakuan awal, kapasitas geser dasar, daktilitas, distribusi sendi plastis, dan mekanisme keruntuhan struktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan IVM meningkatkan kekakuan awal dan kapasitas lateral struktur hingga mencapai konfigurasi optimum. Variasi dengan dua IVM memberikan kinerja terbaik karena menghasilkan kapasitas dan daktilitas tertinggi serta mekanisme redistribusi gaya yang lebih efektif. Sebaliknya, penambahan tiga IVM menyebabkan penurunan daktilitas akibat meningkatnya kekakuan special segment sehingga kemampuan rotasi plastis elemen fuse berkurang. Analisis pushover juga menunjukkan bahwa distribusi kekakuan struktur menyebabkan sendi plastis pada beberapa kasus terbentuk lebih dahulu pada elemen chord luar lantai dasar sebelum mekanisme pelelehan pada elemen fuse berkembang secara optimal. Dengan demikian, diperlukan jumlah IVM yang optimum untuk memperoleh keseimbangan antara kekakuan, kapasitas, dan daktilitas sistem STMF.

2026
👤 Penulis: Para Wahyu Sovana
🏷️ Seismika Baja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAN FRAKSI CENDAWAN ENDOFIT KNUFIA SP. KPO 3.13B TERHADAP BERBAGAI MIKROORGANISME UJI

Jerawat merupakan salah satu gangguan pada kulit yang penyebabnya seringkali dikaitkan dengan adanya pertumbuhan C. acnes pada kulit. Jerawat dan kondisi infeksi lainnya umumnya ditangani dengan antibiotik. Akan tetapi, penggunaan antibiotik secara tidak rasional dapat meningkatkan potensi terjadinya resistensi antibiotik. Oleh karena itu, dibutuhkan substitusi selain antibiotik yang memiliki aktivitas antimikroba sehingga tingkat kejadian resistensi berkurang. Cendawan endofit diketahui mengandung metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antimikroba dari ekstrak dan fraksi cendawan endofit Knufia sp. KPO 3.13b terhadap E. coli, S. aureus, C. acnes, dan C. albicans. Penelitian dilakukan dengan memisahkan bagian biomassa dan media fermentasi menggunakan sentrifugasi yang kemudian diekstraksi menggunakan ultrasound-assisted extraction (UAE) untuk biomassa dan ekstraksi cair-cair (ECC) untuk media fermentasi. Aktivitas antimikroba ekstrak diuji dilakukan melalui mikrodilusi untuk menentukan KHM dan drop test untuk menentukan KBM. Ekstrak kemudian difraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum (KCV) dan aktivitas antimikrobanya diuji kembali menggunakan metode yang sama. Fraksi yang aktif disubfraksinasi menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP) dan subfraksi yang diperoleh diidentifikasi golongan senyawanya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua ekstrak tidak memiliki aktivitas terhadap E. coli dan C. albicans, tetapi menunjukkan aktivitas pada S. aureus dan C. acnes dengan KHM 2048 µg/mL, serta KBM 2048 µg/mL terhadap C. acnes. Beberapa fraksi menampilkan aktivitas antimikroba terhadap S. aureus dan C. acnes dengan fraksi media 3 menunjukkan aktivitas bakteriostatik tertinggi (KHM 256 µg/mL). Fraksi media 4 menunjukkan aktivitas bakterisidal tertinggi hanya pada C. acnes dengan KBM 1024 µg/mL. Fraksi media 3 disubfraksinasi dan teridentifikasi didominasi oleh senyawa yang diduga golongan steroid/triterpenoid.

2026
👤 Penulis: Devi Nurdiana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

AKTIVITAS PENGHAMBATAN ENZIM TIROSINASE OLEH EKSTRAK KULIT BUAH, DAUN, DAN PERASAN BUAH JERUK NIPIS (CITRUS X AURANTIIFOLIA (CHRISTM.) SWINGLE) SERTA FRAKSI TERPILIH

Hiperpigmentasi kulit merupakan masalah yang dipicu oleh aktivitas berlebih dari enzim tirosinase dalam biosintesis melanin akibat paparan sinar ultraviolet. Selain berperan dalam melanogenesis, enzim tirosinase juga bertanggung jawab atas pencoklatan yang terjadi pada buah dan sayuran. Pencarian inhibitor tirosinase alami yang aman dan efektif menjadi fokus penting dalam industri kosmetik dan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak etanol daun, kulit buah, dan perasan buah jeruk nipis (Citrus x aurantiifolia (Christm.) Swingle) serta fraksi terpilih sebagai inhibitor enzim tirosinase secara in vitro. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang menunjukkan aktivitas terbaik kemudian difraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Aktivitas inhibisi enzim tirosinase dilakukan secara in vitro menggunakan metode microplate assay yang diukur absorbansinya pada panjang gelombang 475 nm. Asam kojat digunakan sebagai kontrol positif dengan IC?? sebesar 2,806 ± 0,186 µg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jeruk nipis memiliki aktivitas inhibisi tirosinase terbaik di antara ketiga ekstrak dengan persentase inhibisi 24,591 ± 0,689% pada konsentrasi 400 µg/mL, diikuti oleh ekstrak kulit buah 15,696 ± 0,493% dan perasan buah 11,576 ± 0,299%. Analisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antar kelompok ekstrak (p = 0,015). Fraksi etil asetat dari daun jeruk nipis menunjukkan aktivitas inhibisi tirosinase terbaik dengan IC?? sebesar 251,917 ± 1,841 µg/mL dan persentase inhibisi 60,91% pada konsentrasi 400 µg/mL. Uji Kruskal-Wallis pada data fraksi menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p = 0,025). Analisis KLT mengindikasikan keberadaan senyawa fenolik dan flavonoid dengan menunjukkan nilai Rf yang serupa dengan kuersetin pada ekstrak dan fraksi etil asetat. Fraksi etil asetat memiliki kadar fenol total (8,810 ± 0,361 g GAE/100 g) dan kadar flavonoid total (2,118 ± 0,036 g QE/100 g) yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif sangat kuat antara kadar fenolik dan flavonoid dengan aktivitas inhibisi tirosinase (r = 0,998 dan 0,978; p < 0,01). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi etil asetat daun jeruk nipis mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai inhibitor enzim tirosinase, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen antitirosinase alami yang lebih aman

2026
👤 Penulis: Vinni Mayasyifa Djaelantie
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN GAME DENGAN TEMA SISTEM IMUN TUBUH MANUSIA UNTUK AUDIENS 18-23 TAHUN

Sistem imun tubuh manusia merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh manusia untuk menghadapi ancaman asing yang dapat membahayakan tubuh. Pengetahuan mengenai sistem imun tubuh manusia seringkali sulit dipahami oleh audiens awam karena sifatnya yang sering dianggap rumit dan membosankan. Media konvensional seringkali dirasa terlalu monoton dan tidak memiliki daya tarik yang dapat membuat dewasa muda, khususnya usia 18-23 tahun tertarik untuk mempelajari topik ini. Perancangan ini bertujuan untuk menciotakan sebuah game yang mengutamakan aspek hibutan dan kesenangan (entertain anda happiness) sebagai daya tarik utamanya, dimana pemahaman mengenai sistem imun hadir sebagai dampak dari proses bermain. Perancangan ini menerapkan strategi personifikasi, dimana aspek yang ada pada sistem imun tubuh manusia akan diterjemahkan menjadi karakter dan objek di dalam game, dengan menyeimbangkan aspek tantangan dan keseruan yang diberikan. Hasil akhir perancangan ini diharapkan berupa game yang interaktif dan imersif, dimana pemain bisa berfokus pada kemenangan dan kesenangan dari mekanik dan visual, namun secara tidak langsung memperoleh pengetahuan mengenai cara kerja sistem imun tubuh manusia.

2026
👤 Penulis: Muhammad Hilman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PREFERENSI PELANGGAN TERHADAP ATRIBUT MOBILE BANKING BNI (WONDR BY BNI): PENDEKATAN CHOICE-BASED CONJOINT

Sektor perbankan digital di Indonesia telah mengalami transformasi besar. Empat bank terbesar berdasarkan modal inti di Indonesia, bersaing secara agresif untuk menarik klien melalui aplikasi mobile banking mereka. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk akan meluncurkan platform mobile banking unggulannya, "Wondr by BNI", pada tahun 2024. Penelitian ini memiliki tiga tujuan yang saling berkaitan: mengukur nilai utilitas nasabah (estimasi part-worth) untuk atribut-atribut mobile banking beserta levelnya; mengidentifikasi kombinasi profil fitur yang paling disukai pasar secara umum maupun segmen nasabah yang berbeda; serta menghasilkan rekomendasi strategis berbasis data untuk memperkuat proposisi nilai kompetitif Wondr. Desain penelitian kuantitatif dengan metode Choice-Based Conjoint (CBC) analysis diterapkan. Sebanyak 230 pengguna mobile banking aktif di kawasan metropolitan Jabodetabek menyelesaikan dua belas tugas pilihan (sepuluh tugas desain dan dua tugas holdout), menghasilkan 2.276 total observasi pilihan. Biaya transfer menjadi atribut dominan (dengan tingkat kepentingan relative = 26.9%), dimana transfer gratis menjadi pendorong utama yang mempengaruhi pilihan nasabah. Terdapat perbedaan preferensi pada berbagai segmentasi: Kesiapan teknologi sedang terpengaruh dengan harga, kesiapan teknologi rendah terpengaruh dengan promosi dan kesingkatan, dan kesiapan teknologi tinggi berpengaruh kepada keamanan dan fitur tampilan. Temuan-temuan ini mendukung imperatif strategis bagi BNI. Perusahaan harus mempertimbangkan biaya transfer mengingat hal tersebut memiliki kepentingan realtif tertinggi di studi ini. Untuk ekosistem mobile banking ekspansinya harus dilakukan bertahap, dengan pertama membangun fitur dasar pada aspek transaksional sebelum melakukan ekspansi kepada fitur pinjaman, gaya hidup maupun investasi. Studi ini juga menggabungkan teori Lancaster dan TRI 2.0 untuk membuat studi yang komprehensif dan mengisi kesenjangan penelitian.

2026
👤 Penulis: Raldimaz Islahan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Preferensi Pelanggan

ANALISIS PROGRAM PEMELIHARAAN JALAN TERDAMPAK BANJIR (STUDI KASUS : JALAN PAUH-SAROLANGUN, JAMBI)

In addition to traffic loading, flooding has a significant impact on pavement deterioration. If not promptly addressed, flooding can accelerate pavement deterioration, preventing the road from maintaining its intended level of service throughout its design life. Therefore, flood management should not only focus on evaluating pavement damage but should also include an appropriate maintenance program to preserve pavement performance, optimize the remaining service life, and minimize long term maintenance costs. This study employed the Integrated Road Management System (IRMS) V.3 to develop a road maintenance program based on the structural condition of the pavement. Pavement deflection data and Remaining Service Life (RSL) were used to determine maintenance recommendations using the Decision Tree specified in Bina Marga Guideline No. 07/P/BM/2021. To improve the reliability of the analysis, the RSL obtained from IRMS V.3 was compared with that calculated using the AASHTO 1993 method. In addition, the drainage system performance of floodaffected road sections was evaluated. The maintenance program was then developed under two budget scenarios and two scenarios for the timing of floodcause mitigation. The results indicate that the flooding was not caused by inadequate drainage system performance, as the existing drainage channels along the flood affected road sections were capable of conveying the design flood discharge. The structural evaluation showed that the Remaining Service Life (RSL) estimated using the IRMS V.3 method was more optimistic than that obtained using the AASHTO 1993 method due to differences in the calculation approach, including the use of temperature uncorrected pavement deflection and the exclusion of the subgrade resilient modulus (MR). The analysis of the flood affected road sections indicates that flooding has the potential to accelerate pavement deterioration. However, it cannot be identified as the dominant deterioration factor because accelerated deterioration was also observed in road sections that were not affected by flooding. Based on the maintenance program scenarios, implementing flood cause mitigation in the first year was identified as the most recommended strategy, as it resulted in better pavement performance, reflected by a lower International Roughness Index (IRI), and lower total maintenance costs at the end of the analysis period

2026
👤 Penulis: Niana Fitriasari
🏷️ Pengelolaan Jalan 🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI FINANSIAL TERHADAP ALTERNATIF PENGADAAN PESAWAT: STUDI KASUS KEPUTUSAN SEWA VERSUS BELI BOEING 737 MAX PADA GARUDA INDONESIA

Industri penerbangan merupakan sektor yang membutuhkan modal besar dan sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekonomi. Garuda Indonesia, sebagai maskapai nasional, memiliki kebutuhan untuk memperbarui armada melalui pengadaan pesawat generasi baru, khususnya Boeing 737 MAX, guna menggantikan sebagian armada Boeing 737-800NG yang semakin menua, mendukung efisiensi operasional, dan meningkatkan produktivitas armada. Di tengah volatilitas harga bahan bakar, fluktuasi nilai tukar, keterbatasan pasokan pesawat, dan ketidakpastian permintaan pasar, pemilihan metode pengadaan pesawat yang tepat menjadi penting untuk menjaga stabilitas keuangan dan keberlanjutan operasional perusahaan. Pascarestrukturisasi, Garuda Indonesia perlu lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi. Pengadaan pesawat merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan komitmen modal besar dan berdampak langsung terhadap arus kas, struktur biaya, serta kewajiban jangka panjang perusahaan. Secara umum, pengadaan pesawat dapat dilakukan melalui pembelian langsung atau skema sewa, seperti sale and leaseback, operating lease, dan financial lease. Setiap alternatif memiliki karakteristik yang berbeda dari sisi kebutuhan dana awal, struktur pembayaran, risiko kepemilikan, fleksibilitas operasional, dan manfaat ekonomi pada akhir periode evaluasi. Evaluasi keputusan lease versus buy dalam pengadaan pesawat Boeing 737 MAX pada Garuda Indonesia dilakukan dengan metode Discounted Cash Flow melalui perhitungan Net Present Value untuk membandingkan empat alternatif pengadaan pesawat, yaitu direct purchase, sale and leaseback, operating lease, dan financial lease. Model keuangan dalam penelitian ini mencakup komponen arus kas yang relevan, antara lain harga pesawat, pembayaran sewa, biaya operasi, biaya perawatan, biaya pendanaan, dampak pajak, serta nilai residu atau terminal residual value pada alternatif yang memiliki manfaat ekonomi kepemilikan. Analisis SWOT juga digunakan sebagai kerangka pendukung untuk menilai strengths, weaknesses, opportunities, dan threats dari alternatif sewa versus beli berdasarkan kondisi internal Garuda Indonesia dan lingkungan bisnis eksternal. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh alternatif leasing memberikan nilai finansial yang lebih baik dibandingkan direct purchase. Pada skenario dasar, direct purchase menghasilkan NPV sebesar USD 38,569 juta dan digunakan sebagai tolok ukur. Sale and leaseback menghasilkan NPV sebesar USD 44,041 juta dengan NAL NPV sebesar USD 5,472 juta. Operating lease menghasilkan NPV sebesar USD 47,920 juta dengan NAL NPV sebesar USD 9,351 juta. Sementara itu, financial lease menghasilkan NPV tertinggi sebesar USD 48,047 juta dan NAL NPV tertinggi sebesar USD 9,478 juta. Berdasarkan hasil tersebut, financial lease menjadi alternatif pengadaan pesawat yang paling menarik secara finansial dalam asumsi dasar penelitian ini. Penelitian ini juga melakukan sensitivity analysis terhadap beberapa variabel utama, yaitu nilai tukar, harga bahan bakar, WACC, nilai residu, dan harga sewa dasar. Financial lease tetap menjadi alternatif yang paling kuat pada sebagian besar skenario, terutama pada perubahan nilai tukar dan harga bahan bakar. Namun, perubahan WACC, nilai residu, dan harga sewa dasar dapat memengaruhi hasil akhir, sehingga rekomendasi perlu mempertimbangkan risiko nilai residu, struktur pembiayaan, kondisi pasar leasing, serta ketersediaan penawaran komersial terbaru.

2026
👤 Penulis: Richlahnia
🏷️ Keuangan Perusahaan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Penerbangan

MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEBIJAKANPENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTAPALU DAN KABUPATEN BUTON TENGAH

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penularannya dipengaruhi oleh dinamika kasus dan kondisi iklim, sehingga perencanaan kebijakan pengendaliannya perlu mempertimbangkan ketidakpastian dan risiko. Penelitian ini bertujuan menyusun model pengambilan keputusan kebijakan pengendalian DBD di Kota Palu dan Kabupaten Buton Tengah selama periode 2019 sampai 2024, serta menganalisis pengaruh penyertaan faktor iklim terhadap rekomendasi kebijakan. Perubahan status risiko DBD yang dikelompokkan menjadi Aman, Waspada, dan Bahaya dimodelkan menggunakan rantai Markov. Faktor iklim berupa suhu, kelembapan, dan curah hujan diringkas menjadi indeks iklim berbasis pembobotan setara, kemudian digunakan untuk membentuk matriks transisi kondisional. Kebijakan optimal ditentukan melalui kerangka pohon keputusan dengan fungsi kerugian relatif yang nilai harapannya ditaksir menggunakan bootstrap resampling nonparametrik dan simulasi Monte Carlo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tanpa faktor iklim merekomendasikan kebijakan Ringan pada seluruh status risiko di kedua wilayah dengan kestabilan yang tinggi. Sebaliknya, model dengan faktor iklim menghasilkan rekomendasi terdiferensiasi, yaitu kebijakan Ringan pada kondisi iklim Rendah dan kebijakan Sedang pada kondisi iklim Tinggi, dengan perbedaan yang terlokalisasi pada kondisi iklim Tinggi. Dengan demikian, penyertaan faktor iklim memberikan nilai tambah berupa kemampuan diferensiasi keputusan sehingga model menjadi lebih informatif dan adaptif untuk mendukung kebijakan pengendalian DBD.

2026
👤 Penulis: Diva Palupi Smartianty
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko
Halaman 10 dari 349
💬