📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenSIMPLE SYNTHESIS OF SINGLE CRYSTAL LINI0.5MN1.5O4 USING POST ANNEALING METHOD WITH THE VARIATION OF LITHIUM ADDITION TO ENHANCE ELECTROCHEMICAL PERFORMANCE OF BATTERIES
Due to the increasing need for energy storage solutions, the demand for highperformance lithium-ion batteries (LIBs) is on the rise. High-voltage lithium-ion batteries (HVLIBs) are viewed as strong candidates for future applications because of their superior energy density. One potential cathode material for HVLIBs is Lithium Nickel Manganese Oxide (LiNi0.5Mn1.5O4, LNMO), which provides an operating voltage of approximately 4.7 V, a high theoretical specific capacity, and remarkable thermal stability. Nevertheless, LNMO encounters several challenges, particularly concerning mechanical degradation, capacity loss, and electrolyte breakdown. The mechanical degradation and capacity loss are mainly attributed to Jahn-Teller distortion. In this study, cathode materials Li1+xNi0.5Mn1.5O4 (where x = 0, 0.2, 0.4) were created using a modified sol-gel technique. The variation in lithium content was incorporated to mitigate the impact of Jahn-Teller Distortion. This adjustment in lithium was applied during the post-annealing phase to examine its influence on crystallinity, morphology, and electrochemical performance. Material characterization was performed through X-ray diffraction (XRD) to analyze the crystal structure and scanning electron microscopy (SEM) for examining morphology. The slurry for the LNMO cathode was formulated using a mixed slurry approach and then applied to an aluminum current collector. Evaluation of the electrochemical performance was carried out on CR2032 coin cells, which included electrochemical impedance spectroscopy (EIS), charge-discharge profiles, and cycling performance assessments. The experimental findings indicated that adding excess lithium had a significant effect on the structure, morphology, and electrochemical characteristics of LNMO. Characterization results revealed that the addition of lithium enhanced structural stability, with the I311/I400 ratio nearing the ideal value and increased crystallinity. Samples with excess lithium demonstrated enhanced electrochemical performance, showing reduced charge-transfer resistance and greater lithium-ion diffusivity. The optimal lithium addition in the sample Li1.2Ni0.5Mn1.5O4 yielded the best results, achieving a capacity retention of 95.52% after 100 cycles at 0.5C and a discharge capacity of 122.41 mAh/g. Additionally, all samples exhibited a quasi-singlecrystal morphology, which contributed to the enhancement of structural stability and electrochemical performance.
ANALISIS LAJU DAN KAPASITAS INFILTRASI MENGGUNAKAN MODEL HORTON PADA BERBAGAI KELERENGAN DI BAWAH TEGAKAN PINUS MERKUSII TERHADAP PRODUKTIVITAS GETAH PINUS DI RPH BOJONG, BKPH GUNUNG HALU, KPH BANDUNG SELATAN, PERUM PERHUTANI DIVISI REGIONAL JAWA BARAT DAN BANTEN.
Pinus merkusii merupakan sumber utama penghasil getah dengan nilai ekonomi tinggi. Penelitian karakteristik tanah berupa laju dan kapasitas infiltrasi sebagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi produktivitas getah pinus masih terbatas. Infiltrasi ini penting untuk ketersediaan air yang berperan dalam sintesis getah dan pembentukan tekanan turgor untuk eksudasi getah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik laju dan kapasitas infiltrasi pada berbagai tipe kelerengan di bawah tegakan pinus, memodelkan laju infiltrasi menggunakan model Horton, serta mengkaji hubungannya dengan produktivitas getah pinus. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2025 sampai dengan Juni 2025 di Petak 76A RPH Bojong, BKPH Gunung Halu, KPH Bandung Selatan, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten. Plot penelitian ditentukan secara stratified purposive sampling pada kelerengan landai (8% - <15%), agak curam (15% - <25%), dan curam (25% - 40%). Pengukuran laju dan kapasitas infiltrasi (single ring infiltrometer), pengambilan sampel tanah untuk analisis sifat fisik tanah, dan penimbangan berat getah untuk analisis produktivitas getah pinus dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju dan kapasitas infiltrasi aktual berbeda signifikan antar kelerengan (p < 0,05). Laju dan kapasitas infiltrasi pada kelerengan curam paling rendah. Model Horton terbukti cukup representatif menggambarkan kecenderungan penurunan laju infiltrasi (R² berkisar 0.6 - 0.8 dan nRMSE berkisar 28% - 39%). Namun, tidak ditemukan korelasi signifikan antara laju dan kapasitas infiltrasi dengan produktivitas getah pinus (p > 0,05).
MODIFIKASI MEMBRAN OSMOSIS BALIK KOMPOSIT SERAT BERONGGA DENGAN PENAMBAHAN ADITIF BERMUATAN UNTUK DESALINASI
Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi membran Thin-Film Composite (TFC) berbasis serat berongga polipropilena dengan penambahan senyawa bermuatan 4'- Aminobenzo-15-crown-5 (Crown) untuk meningkatkan kinerja desalinasi. Modifikasi dilakukan melalui proses Interfacial Polymerization dengan variasi konsentrasi Crown (0–0,10% w/v). Karakterisasi meliputi analisis morfologi, hidrofilisitas, dan kapasitas tukar kation untuk memahami pengaruh penambahan Crown terhadap sifat membran. Uji kinerja dilakukan melalui pengukuran fluks air murni dan rejeksi garam menggunakan larutan NaCl. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi Crown memengaruhi keseimbangan antara permeabilitas dan selektivitas membran. Membran dengan konsentrasi Crown 0,02% w/v (C02) menunjukkan kinerja paling optimal dengan fluks moderat dan rejeksi garam yang tinggi, sedangkan konsentrasi Crown yang terlalu tinggi menurunkan selektivitas akibat kemungkinan terbentuknya defek pada lapisan poliamida. Dengan demikian, penambahan Crown berpotensi meningkatkan performa membran TFC untuk aplikasi desalinasi.
POTENSI AKUMULASI UNSUR LOGAM DALAM JARINGAN CYPERUS ROTUNDUS DARI PRODUK SAMPING TERAK NIKEL: KAJIAN BIOAKUMULASI
Terak nikel merupakan produk samping proses peleburan bijih nikel yang mengandung logam berat seperti Fe dan Ni, bersifat basa, miskin hara, serta berpotensi mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi terak nikel, menganalisis spesiasi logam Fe dan Ni, mengevaluasi pengaruh pencampuran terak dengan tanah Lembang serta penambahan substrat (NPK dan asam sitrat), dan menilai potensi Cyperus rotundus sebagai fitoremediator. Penelitian dilakukan menggunakan reaktor berisi campuran terak nikel (30%) dan tanah Lembang (70%) dengan empat variasi perlakuan, yaitu kontrol (C), penambahan asam sitrat (V1), NPK (V2), serta kombinasi keduanya (V3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terak nikel murni bersifat basa (pH 9,35), memiliki kandungan Fe tinggi, tetapi miskin unsur hara. Pencampuran dengan tanah Lembang memperbaiki sifat media sehingga lebih mendukung pertumbuhan tanaman. Analisis spesiasi logam memperlihatkan bahwa Fe dominan pada fraksi residual yang stabil, sedangkan Ni lebih banyak terdapat pada fraksi mobile sehingga lebih mudah terlindi dan berpotensi terakumulasi oleh tanaman. Pemberian NPK meningkatkan biomassa tanaman, asam sitrat meningkatkan kelarutan logam, sedangkan kombinasi keduanya menghasilkan pertumbuhan dan akumulasi logam tertinggi. Nilai BCF dan TF < 1 mengindikasikan bahwa mekanisme fitostabilisasi menjadi jalur utama fitoremediasi. Dengan demikian, Cyperus rotundus berpotensi digunakan sebagai fitoremediator pada media berbasis terak nikel.
EKSPLORASI POTENSI PLANT-DERIVED EXOSOME-LIKE NANOPARTICLES (PDEN) DARI DAUN PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA) DALAM PENGOBATAN JERAWAT: INTEGRASI EFEK ANTIINFLAMASI DAN ANTIBAKTERI
Jerawat (Acne vulgaris) merupakan penyakit kulit inflamasi kronis akibat kombinasi peningkatan produksi sebum, hiperkeratinisasi folikel, kolonisasi Cutibacterium acnes, dan respons imun berlebih. Terapi antibiotik konvensional sering menimbulkan resistensi bakteri dan iritasi kulit sehingga diperlukan alternatif berbahan alami dengan sistem penghantaran inovatif. Centella asiatica mengandung senyawa bioaktif antiinflamasi dan antibakteri, sedangkan plant-derived exosome-like nanoparticles (PDEN) berpotensi sebagai sistem penghantaran alami yang aman dan efisien. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi C. asiatica-derived PDEN (CA-PDEN) sebagai kandidat nanokosmetik alami untuk terapi jerawat dengan karakterisasi, uji stabilitas, serta uji aktivitas antiinflamasi dan antibakteri. CA-PDEN diisolasi dari daun C. asiatica melaui proses homogenisasi, sentrifugasi bertahap, presipitasi polyethylene glycol (PEG) 6000 (15%), dan filtrasi. Karakterisasi dengan transmission electron microscopy (TEM) dan nanoparticle tracking analysis (NTA) menunjukkan CA-PDEN memiliki morfologi spherical dengan ukuran rata-rata 186 nm dan ukuran dominan (modal) 135 nm serta konsentrasi partikel mencapai 3,6 × 10¹? partikel/mL dalam rentang 100–300 nm. Hasil bicinchoninic acid (BCA) protein assay menunjukkan kandungan protein isolat mencapai 260,42–1442,08 ?g/mL. Analisis proteomik liquid-chromatography-orbitrap high resolution mass spectrometry (LC-HRMS) mengidentifikasi enzim biosintesis flavonoid (CHS) dan terpenoid (DXS) yang berpotensi antiinflamasi dan antibakteri. Ukuran CA-PDEN stabil selama empat minggu penyimpanan pada suhu -20?. Uji sitotoksisitas pada sel RAW 264.7 dengan MTT assay menunjukkan CA-PDEN tidak sitotoksik (viabilitas sel > 80%) hingga konsentrasi 150 ?g/mL, sedangkan uji internalisasi dengan immunocytochemistry (ICC) PKH67 dan 4’,6-diamidino- 2-phenylindole (DAPI) membuktikan CA-PDEN dapat diinternalisasi oleh sel RAW 264.7 setelah 2 jam inkubasi. Pengukuran produksi NO (nitrit oksida) dengan kit Griess dan kadar sitokin IL-6 dengan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) pada sel RAW 264.7 terinduksi LPS menunjukkan pemberian CA-PDEN mampu menurunkan NO (p<0,05) dan Interleukin-6 (IL-6) (p>0,05) secara optimal pada 40 ?g/mL. Analisis flow cytometry menunjukkan penurunan marker M1 (CD80) pada konsentrasi CA-PDEN 10,20, dan 40 ?g/mL dan peningkatan marker M2 (CD206) pada 10 ?g/mL (p>0,05), menandakan pergeseran ke arah fenotipe antiinflamasi. Uji mikrodilusi terhadap C.acnes menunjukkan penurunan optical density (OD) secara signifikan (p<0,05) pada 9,18 dan 36,73 ?g/mL, meskipun minimum inhibitory concentration (MIC) belum tercapai. Secara keseluruhan, CA-PDEN memiliki karakteristik khas eksosom, stabilitas baik, serta potensi antiinflamasi dan antibakteri sehingga berpeluang dikembangkan sebagai kandidat nanokosmetik alami untuk terapi jerawat.
EVALUASI KONDISI INFRASTRUKTUR BUDIDAYA PETERNAKAN LELE TERHADAP POTENSI KONTAMINASI MIKROPLASTIK PADA BUDIDAYA IKAN LELE
Ikan lele, sebagai komoditas akuakultur vital di Indonesia, kini menghadapi ancaman serius dari kontaminasi mikroplastik. Penelitian ini secara kuantitatif menghubungkan kondisi infrastruktur budidaya dengan tingkat kontaminasi, mengevaluasi kondisi infrast, dan merumuskan kriteria pencegahan yang efektif. Metode riset melibatkan observasi lapangan, wawancara, dan pengambilan sampel air serta ikan (usus dan daging) di sekitar Sungai Citarum. Sampel diisolasi menggunakan metode oksidasi Fenton dan flotasi ZnCl2 untuk menghilangkan bahan organik dan memisahkan mikroplastik berdasarkan densitasnya, kemudian diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan bentuk, ukuran, dan warna menggunakan mikroskop cahaya binokuler. Hasil menunjukkan dominasi mikroplastik berbentuk fiber dan fragmen berwarna hitam dan transparan. Ikan lele berukuran kecil (4-6 cm) menunjukkan konsentrasi mikroplastik yang jauh lebih tinggi dibandingkan ikan lele yang lebih besar (7-9 cm), dengan partikel 0–100 ?m paling dominan di jaringan daging, mengindikasikan kemungkinan translokasi partikel berukuran sangat kecil. Praktik budidaya hanya memenuhi 50,67% terhadap standar (FAO, PERMEN KP 22/2024, SNI 6418.3:2014). Infrastruktur yang buruk, terutama penggunaan terpal sebagai alas kolam, secara langsung meningkatkan kontaminasi fiber. Oleh karena itu, studi ini merekomendasikan penerapan kriteria infrastruktur yang lebih ketat, mencakup material kolam tahan degradasi, sistem filtrasi air, manajemen limbah terstruktur, dan edukasi berkelanjutan bagi pembudidaya.
PRELIMINARY ANALYSIS OF IMPACT?REFERENCED LOADING PATTERNS IN THE GOLF SWING
Golf merupakan olahraga yang menuntut keterampilan teknis, koordinasi antarsegmen tubuh, serta ketepatan waktu untuk mencapai performa optimal. Salah satu aspek penting dalam menghasilkan pukulan yang efektif adalah pemanfaatan rantai kinetik secara efisien, khususnya melalui pergerakan segmen tubuh bagian bawah dan distribusi beban pada kaki. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik biomekanika ayunan antara pegolf profesional dan pegolf amatir dengan fokus pada rotasi panggul, sudut lutut, dan komponen vertikal gaya reaksi tanah (vGRF) pada lead leg. Penelitian melibatkan dua subjek, masing-masing satu pegolf profesional dan satu pegolf amatir, yang melakukan ayunan menggunakan iron 7. Data kinematika diperoleh menggunakan sistem motion capture OptiTrack, sedangkan data vGRF lead leg direkam dengan force plate. Analisis kinematika dilakukan menggunakan perangkat lunak OpenSim dan hasilnya disinkronkan dengan data force plate untuk menentukan waktu terjadinya puncak vGRF terhadap momen impact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pegolf profesional mencapai puncak vGRF lead leg sebesar ±1,1 kali berat badan, terjadi 57 ms sebelum impact. Sebaliknya, pegolf amatir mencapai puncak vGRF setelah impact dengan nilai yang tidak melebihi 1 kali berat badan. Selain itu, pegolf profesional menunjukkan rotasi panggul yang lebih besar, fleksi lutut yang lebih dalam, durasi downswing yang lebih singkat, serta kecepatan clubhead yang lebih tinggi (98 km/jam) dibandingkan pegolf amatir (73 km/jam). Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa pegolf profesional mampu memanfaatkan rantai kinetik secara lebih efisien melalui perpindahan beban pada lead leg yang lebih tepat waktu serta koordinasi mekanika tubuh bawah yang lebih optimal. Hal ini berdampak pada peningkatan kecepatan clubhead dan performa pukulan secara keseluruhan.
PENGARUH PRE-TREATMENT CHEMICAL OXIDATION TERHADAP DEGRADASI BENZENA, TOLUENA, ETILBENZENA, DAN XILENA (BTEX) PADA TANAH TERKONTAMINASI PERTALITE
Aktivitas perekonomian sangat bertumpu pada ketersediaan energi, salah satunya Bahan Bakar Minyak (BBM). BBM jenis Pertalite mengandung senyawa hidrokarbon aromatik volatil, yaitu benzena, toluena, etilbenzena, dan xilena (BTEX) dengan konsentrasi hingga 15,825% dengan benzena bersifat karsinogenik. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan BBM nasional, tumpahan pada proses produksi dan distribusi berpotensi mencemari tanah sehingga diperlukan pemulihan lahan terkontaminasi Pertalite. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis oksidator sebagai pre-treatment pada pemulihan lahan terkontaminasi Pertalite terhadap efisiensi degradasi BTEX serta memilih jenis oksidator terbaik untuk dilanjutkan dengan bioremediasi. Dalam penelitian ini digunakan variasi jenis oksidator hidrogen peroksida, kalium persulfat, dan kalium permanganat dengan konsentrasi 1% sebagai agen pre-treatment chemical oxidation. Variabel yang dipertimbangkan meliputi efisiensi degradasi dan laju penyisihan BTEX. Tanah uji berjenis sandy loam dengan konsentrasi BTEX awal 0,3-0,5%, total fosfat 218,772 mg/kg, total nitrogen 621,739 mg/kg, dan pH 7. Penelitian yang dilakukan menunjukkan hidrogen peroksida 1% dapat mendegradasi kontaminan BTEX hingga 54% dalam 7 (tujuh) hari dengan laju degradasi 0,11/hari dan dipilih untuk dilanjutkan ke tahap bioremediasi. Pada akhir penelitian, kondisi reaktor menunjukkan pH akhir 7, kadar air 22%, total fosfat 198,5 mg/kg, total nitrogen 931,057 mg/kg, dan total bakteri 9,03 log CFU/g-tanah. Rasio C:N:P akhir bioremediasi mencapai 100:7:1 yang berkontribusi dalam meningkatkan efisiensi degradasi BTEX. Secara keseluruhan, bioremediasi yang didahului pretreatment CO melalui penambahan hidrogen peroksida 1% menghasilkan efisiensi degradasi BTEX hingga 72% dalam 28 hari dengan efisiensi dan laju degradasi tertinggi secara berturut-turut terjadi pada fraksi benzena > toluena > etilbenzena > total xilena.
MENGELOLA RISIKO OPERASIONAL LAYCAN DALAM FMEA (ANALISIS MODE DAN EFEK KEGAGALAN) – STUDI KASUS PELABUHAN DRAGON
PT NSA Tbk merupakan perusahaan pertambangan batubara Indonesia yang memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan energi domestik dan ekspor. Saat ini, PT NSA Tbk menghadapi tantangan dalam mengelola jadwal laycan. Situasi ini menimbulkan risiko operasional, memperparah kemacetan pelabuhan, mengganggu kelancaran proses pemuatan batubara. Untuk mengatasi tantangan bisnis ini, tujuan dari studi ini untuk mengidentifikasi risiko operasional, menilai dan mengusulkan mitigasi, menerapkan pemantauan dan pengendalian risiko operasional di Pelabuhan Dragon. Kerangka kerja penelitian ini menggunakan gap analysis dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengurangi resiko operasional laycan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer menggunakan forum diskusi grup yang dikembangkan berdasarkan FMEA untuk mengukur tingkat keparahan, kejadian, dan deteksi. Narasumber berjumlah 13 orang: delapan dari tim distribusi, satu supervisor pelabuhan, dan empat dari tim pendukung operasional. Data sekunder menggunakan data operasional historis tahun 2023 dan 2024. Metode analisis data menggunakan Analisis Mode dan Efek Kegagalan (FMEA) dan Analisis Akar Penyebab (RCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis akar penyebab masalah menggunakan 5 Why, terdapat 25 akar penyebab masalah. Berdasarkan urutan nomor prioritas risiko (RPN) sebagai berikut: (1) Antrian bongkar muat karena jetty masih digunakan oleh kapal sebelumnya (jetty 3), (2) Kapal datang bersamaan, (3) Menunggu antrian domestik di jetty 1, (4) Menunggu antrian domestik di jetty 3 (5) Laporan Hasil Verifikasi (LHV) tidak disetujui oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, sehingga Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) tertunda hingga 2 hari. Rekomendasi memprioritaskan area berdampak tinggi dengan fokus pada penanganan isu yang mendesak, yaitu antrian bongkar muat di jetty 3; implementasi sistematis; Mendorong kolaborasi lintas fungsi antara tim distribusi, pengawas pelabuhan, dan tim pendukung operasional; strategi bertahap untuk implementasi jangka pendek, menengah, dan panjang; dan pemantauan kinerja berkelanjutan.
STUDI KOMPARASI BENTUK PENAMPANG LAS TERHADAP KONSENTRASI TEGANGAN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
Secara umum, sambungan las merupakan salah satu metode penyambungan yang paling fleksibel dalam menyesuaikan geometri sambungan baja. Dibandingkan dengan sambungan baut. Sambungan las dapat diaplikasikan pada berbagai bentuk struktur, termasuk sambungan yang memiliki kelengkungan atau penampang tidak beraturan. Hal ini sering dijumpai pada struktur lepas pantai, jembatan, serta struktur gedung tinggi yang menggunakan elemen baja dengan kontur permukaan melengkung. Misalnya, link dalam sistem struktur Eccentrically Braced Frame (EBF) pada bangunan, sambungan las digunakan pada link yang berfungsi sebagai fuse atau elemen pendisipasi energi. Dalam konteks ini, sambungan las menjadi lebih efektif karena mampu menyalurkan gaya dengan merata dan mendukung mekanisme disipasi energi saat struktur mengalami gaya gempa. Pemodelan sambungan las dalam analisis numerik, khususnya metode elemen hingga, harus dilakukan dengan ketelitian tinggi. Distribusi tegangan yang terjadi pada kedua elemen baja yang disambungkan harus dapat ditangkap dengan benar. Jika tidak, terdapat risiko terjadinya konsentrasi tegangan berlebihan pada titik-titik tertentu, terutama di daerah weld toe atau weld root. Konsentrasi tegangan berlebih tersebut dinyatakan dalam parameter Stress Concentration Factor (SCF). Dengan memodelkan sambungan las secara lebih akurat, distribusi tegangan dapat lebih merata, nilai SCF dapat direduksi, dan potensi kegagalan lokal pada daerah sambungan dapat diminimalisasi. SCF sendiri memiliki keterkaitan langsung dengan ketahanan fatigue dari sambungan. Pada kondisi beban berulang, misalnya beban akibat lalu lintas pada jembatan atau beban siklik akibat gempa, sambungan dengan nilai SCF tinggi akan lebih rentan mengalami retak inisiasi. Retak ini biasanya bermula di daerah weld toe dan kemudian berkembang menjadi retak propagasi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan fatigue. Oleh karena itu, pengendalian geometri las dan reduksi SCF bukan hanya penting untuk kapasitas statis, tetapi juga krusial untuk memperpanjang umur kelelahan struktur baja. ii Beberapa strategi geometri, seperti pemangkasan pipa untuk penetrasi las dapat meningkatkan kualitas transfer tegangan. Dengan penetrasi las yang lebih baik ke dalam pipa, distribusi tegangan menjadi lebih stabil dan homogen, sehingga risiko inisiasi retak fatigue dapat ditekan. Variasi bentuk penampang las juga sangat berpengaruh, misalnya fillet segitiga, las cekung, las cembung, cembung poligon, maupun kombinasi Complete Joint Penetration (CJP) dengan cekung. Masing- masing bentuk penampang memiliki perilaku struktural yang berbeda dalam menghantarkan tegangan, sehingga penelitian ini memodelkan seluruh variasi bentuk tersebut, termasuk kondisi ekstrem berupa model tanpa las. Selain aspek geometri, penelitian ini juga mengkaji material nonlinier dalam pemodelan. Baja tidak hanya bekerja dalam rentang elastis, tetapi dapat memasuki fase plastis hingga mendekati kondisi fraktur. Pemodelan dengan material nonlinier memungkinkan analisis yang lebih realistis terhadap daktilitas sambungan. Daktilitas, dalam konteks ini, didefinisikan sebagai kemampuan struktur untuk berdeformasi secara signifikan sebelum mengalami keruntuhan secara tiba-tiba. Sambungan las dengan geometri tertentu dapat memberikan kapasitas daktilitas lebih tinggi dibanding sambungan tanpa las, bergantung pada jenis pembebanannya (aksial tarik, aksial tekan, momen, maupun P lateral). Efek P–? juga tidak dapat diabaikan. Pada struktur dengan deformasi besar, gaya aksial yang bekerja dapat menimbulkan tambahan momen sekunder akibat pergeseran lateral. Fenomena ini memperbesar respon deformasi sambungan, yang pada gilirannya dapat memengaruhi nilai SCF, tingkat daktilitas, serta umur fatigue. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya mengkaji distribusi tegangan pada kondisi elastis, tetapi juga meninjau interaksi antara pembebanan berulang, nonlinieritas material, dan ketidakstabilan geometrik. Di Indonesia, aspek detail kualitas las masih sering kurang diperhatikan. Kerapian hasil las, keseragaman ukuran kaki las, serta transisi geometri yang halus antara las dan elemen induk sering kali diabaikan. Hal ini berpotensi meningkatkan SCF dan mempercepat kegagalan akibat fatigue. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami pengaruh variasi geometri las terhadap distribusi tegangan, daktilitas, ketahanan fatigue, serta keandalan sambungan baja, sekaligus menjadi dasar rekomendasi peningkatan praktik pengelasan di lapangan.
ANALISIS KESEHATAN POHON DAN PENDUGAAN PRODUKSI OKSIGEN DI JALUR HIJAU JALAN KOTA BANDUNG
Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki peran penting dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan, salah satunya melalui Jalur Hijau Jalan (JHJ) yang berfungsi sebagai penyedia jasa ekosistem, terutama produksi oksigen. Kota Bandung menghadapi tantangan serius terkait kualitas udara akibat kepadatan penduduk dan aktivitas transportasi yang tinggi. Namun, persentase JHJ hanya sekitar 1,06% dari total luas wilayah kota, sehingga perlu adanya evaluasi terhadap kondisi kesehatan pohon JHJ serta pendugaan kontribusinya dalam produksi oksigen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status kesehatan pohon menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM), dan menduga produksi oksigen yang dihasilkan oleh pohon JHJ di empat ruas jalan utama Kota Bandung, yaitu Jalan Pasirkaliki, Jalan Pajajaran, Jalan Cihampelas, dan Jalan Wastukencana. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan dengan sistem sensus, mencatat parameter dimensi pohon, serta kerusakan pohon berdasarkan standar FHM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pohon JHJ berada dalam kondisi sehat, yaitu 94,81% (402 individu), dengan 4,48% (19 individu) mengalami kerusakan ringan, dan 0,71% (3 individu) kerusakan sedang. Tidak ditemukan pohon dengan kerusakan berat. Estimasi produksi oksigen pohon JHJ mencapai 259,45 kg/hari. Kontribusi terbesar berasal dari jalan Pajajaran (134,55 kg/hari), diikuti Jalan Cihampelas (60,50 kg/hari), Jalan Pasirkaliki (36,97 kg/hari), dan Jalan Wastukencana (27,43 kg/hari). Jumlah tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan oksigen sekitar 300 jiwa per hari. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan JHJ secara berkelanjutan, baik melalui pemeliharaan pohon eksisting maupun penanaman lanjutan dengan spesies yang tahan terhadap tekanan perkotaan dan kapasitas produksi oksigen tinggi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan pemangku kebijakan dalam mengoptimalkan peran JHJ sebagai penyedia jasa ekosistem, terutama dalam mendukung kualitas udara Kota Bandung.
ANALISIS DAYA DUKUNG HABITAT MONYET EKOR PANJANG (MACACA FASCICULARIS) BERDASARKAN DAYA JELAJAH DI RESORT KAREUMBI BARAT, TAMAN BURU GUNUNG MASIGIT KAREUMBI
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dikategorikan sebagai spesies Terancam (Endangered) sejak tahun 2022 oleh IUCN. Penelitian ini dilakukan di Resort Kareumbi Barat, Taman Buru Masigit Kareumbi, yang merupakan salah satu habitat alami primata ini yang memiliki konflik satwa liar-manusia dan fragmentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana habitat di TBGMK mampu mendukung kehidupan monyet ekor panjang dengan menduga populasi, menghitung luas daya jelajah, dan menentukan daya dukung habitat berdasarkan daya jelajahnya. Metode yang digunakan meliputi estimasi populasi dengan metode hitung langsung (direct count) menggunakan survey jalur sepanjang ±52 km pada 8 transek berbeda, analisis daya jelajah menggunakan metode Minimum Convex Polygon (MCP), serta analisis daya dukung habitat berdasarkan daya jelajahnya. Hasil penelitian menunjukkan estimasi populasi monyet ekor panjang sebanyak 84 individu (95% Interval Kepercayaan, CI: 80—88 individu), daya jelajah rata-rata seluas 13,65 ha, dan daya dukung habitat di area tersebut mampu menampung sekitar 382 individu berdasarkan daya jelajahnya. Meskipun populasi saat ini masih di bawah daya dukung habitat, penelitian ini menyoroti bahwa konflik yang ada datang dari faktor-faktor lain yang mendorong spesies ini untuk keluar kawasan seperti ketiadaan zona penyangga dan fenologi pakan musiman. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan berkelanjutan untuk mengurangi konflik dan memastikan kelestarian spesies.
FRACTURE ANALYSIS OF API 5L X52 PIPELINE FOR CO2 TRANSPORT AT HIGHWAY CROSSING
Meningkatnya gas rumah kaca sebagaimana telah ditetapkan oleh Paris Agreement, mendorong pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Indonesia sebagai salah satu pihak yang menandatangani perjanjian ini, memiliki tanggungan untuk turut berkontribusi pada pengembangan teknologi CCUS, salah satu cara metode cost-efficient yang dapat dilakukan untuk mendorong pengembangan CCUS di Indonesia berupa penggunaan ulang pipa transmisi minyak dan gas untuk transmisi CO2. Namun penggunaan ulang pipa memerlukan studi kelayakan lebih lanjut, beberapa tantangan seperti aspek keselamatan, integritas struktural, terutama di bawah kondisi beban yang ditimbulkan oleh lintasan jalan raya. Penelitian ini menganalisis retakan melingkar dan perilaku propagasi retak pada pipa API 5L X52 untuk transmisi gas CO2 yang dikenai beban lintasan jalan raya. Dengan menggunakan Extended Finite Element Method (XFEM) pada perangkat lunak Abaqus, penelitian ini memodelkan retakan melingkar dan mengevaluasi respons dari retakan tersebut akibat kombinasi tekanan internal dan eksternal akibat beban lintasan jalan raya. Berdasarkan studi ini, ditemukan bahwa model elemen hingga yang tervalidasi dapat dibuat menggunakan perangkat lunak Abaqus. Kedua, tambahan pembebanan dari perlintasan jalan raya mengurangi safety margin dari retakan pada pipa, dibuktikan oleh API 579 Failure Assessment Diagram (FAD). Terakhir, alat keputusan kuantitatif, grafik Maximum Allowable Working Pressure (MAWP), dibuat untuk pengendalian retakan pada kasus retakan melingkar pada persimpangan jalan raya, dengan panjang retakan awal yang bervariasi
PENGEMBANGAN SISTEM PEMANDU PEREMUKAN CRASH BOX UNTUK PENINGKATAN PENYERAPAN ENERGI PADA APLIKASI KERETA KECEPATAN TINGGI
Kelaiktabrakkan pada kereta kecepatan tinggi sangat peka terhadap ketidaksempurnaan perakitan—terutama ketidakselarasan—yang dapat mengalihkan beban dari kotak serap energi tumbukan (crash box) ke sambungan dan memicu kegagalan dini. Hal ini bertentangan dengan maksud Manajemen Energi Tabrakan (EN 15227) yang menuntut deformasi terkontrol pada komponen penyerap. Berangkat dari temuan uji tumbuk skala penuh yang menunjukkan bahwa ketidakselarasan dan integritas sambungan mendominasi jalur beban, studi ini mengembangkan serta memvalidasi sistem pemandu peremukan. Metodologi menggabungkan tiga uji tumbuk skala penuh dengan analisis elemen-hingga dinamik eksplisit; model elemen-hingga dikalibrasi terhadap set uji paling andal dan diperkaya untuk merepresentasikan degradasi las/daerah terpengaruh panas (HAZ) serta konektor baut dengan kapasitas/prategang. Kajian sensitivitas mengeksplorasi ketidakselarasan sudut dan kapasitas sambungan, kemudian dilanjutkan dengan prototipe virtual sistem pemandu. Validasi menekankan metrik yang relevan bagi aplikasi—gaya–perpindahan, fitur kecepatan–waktu serta kesesuaian mode kegagalan—bukan semata dekomposisi energi.
PERANCANGAN PERMAINAN EDUKATIF UNTUK PENGENALAN MINAT DAN PERLUASAN WAWASAN PROFESI PADA ANAK
Wawasan cita-cita anak-anak di pedesaan cenderung terbatas akibat kurangnya referensi dan pendekatan edukatif yang hanya mengenalkan profesi umum, serta menekankan aspek fisik dari profesi tersebut. Hal ini berimplikasi pada rendahnya minat anak desa untuk melanjutkan pendidikan jenjang tinggi, rendahnya minat dan dorongan anak desa untuk mencapai profesi yang lebih tinggi, dan rendahnya pertumbuhan serta perkembangan desa itu sendiri. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan anak mengenai cita-cita serta mendorong anak untuk berani memiliki cita-cita, melalui perancangan permainan edukatif yang kontekstual, yang dapat memperkenalkan profesi dan nilai minat yang dibangun dibaliknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan desain yang berpusat pada pengguna. Data dikumpulkan dengan teknik observasi lapangan, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada anak usia 9-12 tahun di lingkungan pedesaan. Sebagai respons terhadap temuan rendahnya wawasan dan referensi profesi bagi anak di desa, dirancang sebuah permainan edukatif interaktif yang memasukkan unsur refleksi didalamnya. Melalui visualisasi dan permainan dengan tema yang dekat dengan keseharian di desa, diharapkan anak-anak dapat lebih terhubung dan menyadari potensi cita-cita yang tersedia di daerahnya, yang akhirnya juga berkontribusi pada pengembangan daerahnya.