π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 173 dokumenPERANCANGAN PERBAIKAN TANAH DENGAN METODE DEEP SOIL MIXING PADA AREA PERIMETER ROCKBUN REKLAMASI KALIBARU
Pada area konstruksi dengan jenis tanah lunak perlu dilakukan perbaikan tanah agar dapat menahan beban rencana dan memenuhi kriteria perencanaan, baik penurunan maupun stabilitas lereng. Tugas akhir ini berisi desain perbaikan tanah pada area perimeter rockbund reklamasi Kalibaru dengan menggunakan metode Deep Soil Mixing (DSM) untuk mengatasi tanah lunak. Perencanaan perbaikan tanah dilakukan dengan mengacu pada SNI 8460:2017 Persyaratan Perancangan Geoteknik. Perancangan perbaikan tanah dimulai dari penentuan profil dan parameter tanah, iterasi tinggi timbunan, analisis DSM, dan analisis stabilitas. Iterasi tinggi timbunan Analisis stabilitas menggunakan software PLAXIS 2D dan SLOPE/W. Vacuum surcharge menggunakan PVD dengan tekanan 70 kPa, konfigurasi DSM yang digunakan adalah grid dengan area replacement ratio 0.41 dan ????????????,???????????????? 135 kPa. Timbunan surcharge yang diaplikasikan adalah setinggi 6.3 meter untuk area dengan pembebanan 32 kPa dan 9.9 meter untuk area dengan pembebanan 82 kPa dengan ???? tanah timbunan 18 ????????/????3. Analisis Penurunan menggunakan Plaxis 2D dan Plaxis 3D.
PERANCANGAN PERBAIKAN TANAH DENGAN KOMBINASI METODA VACUUM DAN SURCHARGE PRE-LOADING PADA AREA PERIMETER ROCKBUND REKLAMASI KALIBARU
Pada area konstruksi dengan jenis tanah lunak perlu dilakukan perbaikan tanah agar dapat menahan beban rencana dan memenuhi kriteria perencanaan, baik penurunan maupun stabilitas lereng. Tugas akhir ini berisi desain perbaikan tanah pada area perimeter rockbund reklamasi Kalibaru dengan menggunakan metode vacuum and surcharge preloading untuk mengatasi tanah lunak. Perencanaan perbaikan tanah dilakukan mengacu pada SNI 8460:2017 Persyaratan Perancangan Geoteknik. Perancangan perbaikan tanah dimulai dari penentuan profil dan parameter tanah, pemodelan perbaikan tanah tahap 1 pada PLAXIS 2D, iterasi tinggi timbunan, perhitungan derajat konsolidasi tanpa PVD, perancangan PVD, perhitungan derajat konsolidasi dengan PVD, dan pemodelan perbaikan tanah tahap 2 pada PLAXIS 2D. Analisis stabilitas dan penurunan menggunakan software PLAXIS dengan model konstitutif soft soil creep, Mohr-Coulomb, dan hardening soil. Vacuum surcharge menggunakan PVD dengan tekanan 70 kPa. PVD menggunakan konfigurasi segiempat dengan spasi 1 meter dan kedalaman 15 meter. Sedangkan, timbunan surcharge yang diaplikasikan adalah setinggi 7 meter dengan ???? tanah timbunan 18 kN/m3.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN TANGGUL PADA SUNGAI SEPAKU, IBUKOTA NUSANTARA
Tugas akhir ini membahas perencanaan pembangunan tanggul pada Sungai Sepaku di Ibu Kota Nusantara (IKN). Sungai Sepaku merupakan salah satu sungai utama di wilayah IKN yang rentan terhadap banjir, sehingga pembangunan tanggul diperlukan untuk mengurangi risiko bencana. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem tanggul yang efektif dengan mempertimbangkan aspek hidrologi, hidraulika, dan geoteknis dari tanah pondasi tanggul yang diperoleh melalui proses pemodelan muka air, merencanakan tanggul, serta menghitung anggaran yang dibutuhkan untuk merealisasikan pembangunan tanggul pada wilayah Sungai Sepaku. Hasil penelitian menunjukan menunjukan dibutuhkan total 93 tanggul yan terbagi pada sisi kiri dan kanan dari sungai dengan jarak antar cross-section 25 m dengan desain tinggi tanggul 1 m dari muka air banjir. Wilayah genanangan yang tereduksi dari perencenaan pembangunan tangul ini adalah 60% (genangan awal 35 ha dan genangan akhir 14 ha). Untuk merealisasikan pembangunan tanggul ini dibutuhkan biaya senilai 18,399,241,521.00 atau terbilang delapan belas milyar tiga ratus sembilan puluh sembilan juta dua ratus empat puluh satu ribu lima ratus dua puluh satu rupiah.
PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN TIANG PONDASI DALAM PILE ABUTMENT PADA TANAH LEMPUNG LUNAK TERKONSOLIDASI DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
(Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan) Perancangan struktur pondasi jembatan pada lapisan tanah lempung lunak merupakan hal yang menantang dalam desain dikarenakan rendahnya kekuatan tanah lempung lunak, besarnya nilai kompresibiltas, dan rendahnya nilai permeabilitas pada lapisan tanah lempung lunak. Efek timbunan di atas tanah lempung lunak akan berakibat pada stabilitas tiang dikarenakan karakterisitik tanah lempung lunak yang mudah untuk berdeformasi. Pada banyak kasus efek pergeseran tanah ini diatasi menggunakan dinding penahan tanah sehingga Pergerakan tanah dapat tereduksi. Pada penelitian ini akan dilakukan analisa terkait pengaruh sudut kemiringan pada fondasi tiang pile abutment, apakah pengaruh sudut kemiringan dapat mengatasi lateral displacement pada tiang yang diakibatkan oleh pergerakan tanah lempung lunak. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui dampak kemiringan tiang pondasi terhadap karakteristik lateral displacement pada tiang, dan karakteristik gaya dalam terutama bending moment yang terjadi pada tiang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konfigurasi grup tiang menggunakan tiang lurus dan tiang dengan kemiringan berlawanan arah dengan arah gaya yang terjadi (negative inclined pile) dapat mereduksi momen lentur dan pergerakan lateral yang terjadi pada fondasi tiang. Pada penelitian juga didapatkan gaya yang bekerja pada kaki abutment memiliki peran signifikan terhadap pergerakan lateral yang terjadi pada fondasi tiang.
PERANCANGAN FONDASI PILE-RAFT RUMAH SUSUN 1 SEMPER (CAKUNG DRAIN), JAKARTA UTARA
Rumah Susun 1 Semper (Cakung Drain) merupakan rumah susun yang dibangun di Jalan Inspeksi Cakung Drain, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Kota Administrasi Jakarta Utara. Rumah susun ini terdiri dari 8 gedung dengan masing-masing gedung memiliki 16 lantai tanpa basemen. Tugas Akhir ini memiliki tujuan untuk menentukan parameter tanah pada lokasi proyek dan merancang sistem fondasi yang dapat memikul beban dari struktur. Pada lokasi proyek terdapat lapisan tanah lempung lunak di dekat permukaan dengan rata-rata nilai N-SPT sebesar 2 β 3 hingga kedalaman 14,5 meter. Penentuan parameter tanah dilakukan menggunakan korelasi N-SPT. Fondasi yang digunakan adalah fondasi rakit bertiang (pile-raft) dengan tebal raft sebesar 1,6 meter, diameter tiang sebesar 1 meter, dan panjang total tiang 34 meter. Jenis tiang yang digunakan adalah tiang bor. Beban yang digunakan untuk analisis fondasi merupakan joint reaction kolom hasil dari pemodelan struktur. Proses perancangan fondasi dilakukan dengan perhitungan manual untuk analisis daya dukung aksial tiang tunggal dan menggunakan bantuan perangkat lunak Ensoft LPILE untuk analisis daya dukung lateral tiang tunggal serta Ensoft GROUP untuk analisis kelompok tiang. Dilakukan juga analisis penurunan fondasi dengan bantuan perangkat lunak MIDAS GTS NX. Penulangan tiang bor dimodelkan dengan perangkat lunak SpColumn, sedangkan penulangan raft dimodelkan dengan perangkat lunak CSI SAFE.
PERENCANAAN FONDASI TIANG DAN DINDING PENAHAN TANAH TOWER 7 RUMAH SUSUN ASN IBU KOTA NUSANTARA PADA TANAH BERKONTUR
Dengan rencana perpindahan Ibu Kota Negara menuju Ibu Kota Negara Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, perlunya tempat tinggal untuk mengakomodasi Aparat Sipil Negara, salah satunya yaitu Tower 7 Rumah Susun ASN IKN yang terdiri atas 12 lantai. Perencanaan pembangunan Tower 7 berada pada profil tanah clay shale dan juga berada pada lereng sehingga perencanaan fondasi tiang dan dinding penahan tanah akan mempertimbangkan parameter tanah, begitu pula dengan hasil fondasi dan dinding penahan tanah yang akan mempengaruhi stabilitas lereng. Pada perencanaan fondasi tiang dan dinding penahan tanah Tower 7, jenis fondasi tiang yang digunakan adalah fondasi tiang bor dengan kedalaman 15 meter dan diameter 0,8 meter. Dinding penahan tanah yang digunakan adalah dinding penahanan tanah kantilever yang memiliki ketinggian bervariasi antara 5 β 6 meter. Perencanaan fondasi dilakukan dengan menghitung kapasitas aksial dan lateral tiang tunggal dengan LPILE dan RSPILE, kemudian menentukan konfigurasi kelompok tiang dengan menggunakan software GROUP. Dinding penahan tanah kantilever direncanakan dengan menghitung tekanan lateral aktif dan pasif yang bekerja untuk menghasilkan dimensi dinding yang optimal dan sesuai dengan syarat faktor keamanan minimumnya. Hasil kedua perencanaan struktur bawah pun akan diperiksa pengaruhnya terhadap analisis stabilitas lereng menggunakan SLIDE 2.
ANALISIS KESTABILAN RENCANA LERENG TAMBANG BATUBARA MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS DAN ELEMEN HINGGA PADA AREA PIT XYZ, KALIMANTAN TENGAH
PT LH merupakan salah satu perusahaan pertambangan batubara yang terletak di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah yang menggunakan metode penambangan terbuka. PT LH menambang batubara pada Batu Ayau (Tea) yang berumur Eosen AkhirβOligosen Awal dan memiliki cadangan batubara yang ekonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis kestabilan lereng tambang terbuka Pit XYZ dan memberikan rekomendasi desain pada lereng tambang yang tidak stabil. Penelitian ini dilakukan dengan dua metode, yaitu metode kesetimbangan batas dan metode elemen hingga untuk mengetahui nilai faktor keamanan (FK) dari lereng tambang Pit XYZ dengan mengacu kepada Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827/K/30/MEM/2018 dan standar geoteknik PT LH. Pada daerah penelitian terdapat empat litologi yaitu batulumpur, batupasir, batubara, dan batulumpur berkarbon. Sifat fisik dan mekanik batuan diperoleh dari uji laboratorium serta data litologi diperoleh dari log bor geoteknik dan log bor geofisika yang terletak di sekitar daerah penelitian. Analisis Pit XYZ dilakukan dalam kondisi statis dan dinamis disertai perhitungan probabilitas longsor yang dibagi menjadi sembilan garis penampang yang berbeda (section 1βsection 9) pada beberapa bagian highwall dan lowwall. Berdasarkan analisis kestabilan lereng menggunakan metode kesetimbangan batas dan metode elemen hingga, section 2βsection 9 menunjukkan lereng tambang dalam kondisi stabil, sedangkan pada penampang section 1 bagian highwall nilai faktor keamanan menunjukkan tidak stabil sehingga harus diberikan rekomendasi desain berupa melandaikan sudut lereng tunggal sebesar 10Β° dan melebarkan jenjang menjadi 10 meter sehingga diperoleh nilai faktor keamanan sebesar 1,65 dengan metode kesetimbangan batas dan nilai faktor keamanan sebesar 1,38 dengan metode elemen hingga.
STUDI KARAKTERISTIK FISIK DAN NILAI CALIFORNIA BEARING RATIO KONDISI SOAKED DAN UNSOAKED PADA TANAH EKSPANSIF
Pengujian California Bearing Ratio (CBR) unsoaked dan soaked umumnya dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah dasar pada kondisi aslinya dan kondisi terburuk. Namun, pengujian California Bearing Ratio (CBR) relatif menghabiskan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Berdasarkan hasil pengujian, nilai CBR akan mengalami penurunan seiring meningkatnya derajat saturasi dan mengalami peningkatan seiring meningkatnya kepadatan maksimum. Oleh karena itu, diusulkan suatu metode untuk mengkorelasikan nilai CBR dengan kepadatan dan derajat saturasi pada akhir kompaksi khususnya pada tanah ekspansif. Pada penelitian ini dilakukan berbagai pengujian pada sampel tanah berbutir halus, yang diduga ekspansif. Terdapat 4 sampel tanah yang diuji pada penelitian ini yang berasal dari berbagai lokasi di Indonesia. Sampel yang digunakan merupakan sampel terganggu. Mayoritas sampel tanah memiliki indeks plastisitas dan batas cair yang tinggi. Pada penelitian ini dilakukan berbagai pengujian pada 4 sampel tanah ekspansif. Dari hasil pengujian tersebut diperoleh hubungan antara nilai CBR dan nilai batas cair dengan R2 = 0,969, hubungan antara nilai CBR dan batas plastis dengan R2 = 0,943, hubungan antara nilai CBR dan indeks plastisitas dengan R2 = 0,963, hubungan antara nilai CBR dan swelling pressure dengan R2 = 0,931, serta hubungan antara nilai CBR dengan indeks plastisitas dan MBV dengan R2 = 0,922.
PENGEMBANGAN DESAIN STRUKTURAL TUBULAR DENGAN PELAT WAFEL DAN SOIL IMPROVEMENT UNTUK GEDUNG PERKANTORAN PADA DAERAH REKLAMASI DI INDONESIA
Tugas akhir desain membahas seputar penerapan desain struktural tubular dengan pelat wafel dan ground improvement untuk gedung perkantoran di daerah reklamasi rawan gempa di Indonesia. Pengerjaan didasarkan pada penerapan konsep yang diperkenalkan oleh insinyur ternama, Fazlur Khan, yang mengembangkan konsep struktural tubular pada Brunswick Building di Illinois, Chicago. Mempertimbangkan perbedaan lokasi pembangunan bangunan referensi dengan lokasi tinjauan, diperlukan penyesuaian dalam hal geoteknis untuk mengatasi kemungkinan likuifaksi dan gempa yang lebih kuat. Penyesuaian tersebut meliputi kebutuhan perbaikan tanah dengan metode vacuum preloading, aplikasi PVD, dan kompaksi dinamik. Selain itu, diperlukan juga implementasi dinding penahan tanah, strutting baja, dan king post sebagai struktur penunjang fase konstruksi. Sementara itu, struktur atas diinovasikan dengan menggabungkan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) dan Sistem Dinding Struktural Khusus (SDSK) menjadi sistem ganda yang mengintegrasikan pelat wafel, sehingga tidak diperlukannya elemen balok konvensional. Pengaplikasian inovasi-inovasi tersebut kemudian akan diuji ketahanannya terhadap persyaratan analisis bangunan tahan gempa yang berlaku di Indonesia.
PENGEMBANGAN DESAIN STRUKTURAL TUBULAR DENGAN PELAT WAFEL DAN SOIL IMPROVEMENT UNTUK GEDUNG PERKANTORAN PADA DAERAH REKLAMASI DI INDONESIA
Tugas akhir desain membahas seputar penerapan desain struktural tubular dengan pelat wafel dan ground improvement untuk gedung perkantoran di daerah reklamasi rawan gempa di Indonesia. Pengerjaan didasarkan pada penerapan konsep yang diperkenalkan oleh insinyur ternama, Fazlur Khan, yang mengembangkan konsep struktural tubular pada Brunswick Building di Illinois, Chicago. Mempertimbangkan perbedaan lokasi pembangunan bangunan referensi dengan lokasi tinjauan, diperlukan penyesuaian dalam hal geoteknis untuk mengatasi kemungkinan likuifaksi dan gempa yang lebih kuat. Penyesuaian tersebut meliputi kebutuhan perbaikan tanah dengan metode vacuum preloading, aplikasi PVD, dan kompaksi dinamik. Selain itu, diperlukan juga implementasi dinding penahan tanah, strutting baja, dan king post sebagai struktur penunjang fase konstruksi. Sementara itu, struktur atas diinovasikan dengan menggabungkan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) dan Sistem Dinding Struktural Khusus (SDSK) menjadi sistem ganda yang mengintegrasikan pelat wafel, sehingga tidak diperlukannya elemen balok konvensional. Pengaplikasian inovasi-inovasi tersebut kemudian akan diuji ketahanannya terhadap persyaratan analisis bangunan tahan gempa yang berlaku di Indonesia.
STUDI HUBUNGAN KURVA KARAKTERISTIK TANAH-AIR (SOIL-WATER CHARACTERISTIC CURVE/SWCC) PENGERINGAN DAN PEMBASAHAN UNTUK SHALE TERHANCURKAN TERKOMPAKSI DI DAERAH CISOMANG
Kurva karakteristik tanah-air (Soil-Water Characteristic Curve/SWCC) sebagai komponen penting dalam penyelidikan tanah takjenuh untuk dapat menentukan kuat geser tanah, permeabilitas, dan perubahan volume. Kurva yang mengandung variabel kadar air terhadap isapan matric ini memerlukan waktu yang panjang dalam membuatnya melalui penelitian laboratorium. Terlebih, kurva ini terdiri atas dua jenis, yaitu kurva pengeringan dan pembasahan. Oleh karena itu, diperlukan metode khusus untuk memprediksi salah satu kurva agar dapat memangkas waktu penelitian untuk membuat kurva ini berdasarkan data kurva yang lain melalui persamaan Fredlund dan Xing 1994 yang diturunkan secara matematis atau numerik. Objek pada penelitian ini diperuntukkan untuk tanah shale yang berada di Cisomang. Melalui formulasi persamaan secara matematis, numerik, dan korelasi, serta beberapa data literatur, prediksi untuk salah satu kurva SWCC untuk jenis tanah tersebut dapat ditentukan dengan hasil yang menunjukkan beberapa galat yang terjadi, terutama pada isapan matric tinggi.
PEMETAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) LUMUT BALAI
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PT X dibangun dengan kondisi topografi dan geologis yang kurang ideal, yaitu dengan membukan lahan pegunungan. Hal ini menjadi rentan mengalami pergeseran permukaan tanah. Selain itu, berbagai proses di PLTP menyebabkan getaran-getaran yang dapat meningkatkan resiko pergeseran. PLTP yang menjadi objek studi proyek capstone ini, terdapat objek krusial yaitu pipa penyambung yang menghubungkan aliran listrik dan turap yang menahan permukaan tanah. Apabila objek tersebut mengalami pergseran sampai mengalami kerusakan, maka produksi tenaga listrik dapat terganggu, sehingga diperlukan upaya monitoring pergeseran yang terjadi. Capstone ini memiliki tiga tujuan, yaitu untuk menentukan nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark, mendeteksi pergeseran objek krusial berupa pipa penyambung dan turap, dan melakukan pemodelan 3D wilayah PLTP Lumut Balai. Pada proyek ini digunakan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan Global Navigation Satellite System (GNSS). Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark adalah dengan meregresi linearkan data koordinat GNSS dari kala yang berbeda. Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai pergeseran objek adalah dengan data point cloud yang dilakukan proses-proses pengolahan menggunakan perangkat lunak pengolahan point cloud mulai dari proses registrasi, cleaning, georeferensi, hingga deteksi pergeseran dengan menggunakan metode yang disebut Multiscale Model to Model Cloud Comparison (M3C2). Metode pembuatan model 3D dilakukan dengan picking point dari data point cloud. Kemudian, akan dibentuk objek sesuai dengan titik yang dipilih. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat titik-titik benchmark yang terindikasi mengalami pergeseran pada arah horizontal dan pada arah vertikal. Hasil analisis pergeseran objek menunjukkan bahwa pipa penyambung mengalami pergeseran yang signifikan pada bagian kanan bawah pipa penyambung. Sedangkan turap tidak mengalami pergseran yang signifikan. Terakhir, dihasilkan model 3D dari wilayah PLTP Lumut Balai dengan Level of Detail (LoD) 2.
PEMETAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) LUMUT BALAI
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PT X dibangun dengan kondisi topografi dan geologis yang kurang ideal, yaitu dengan membukan lahan pegunungan. Hal ini menjadi rentan mengalami pergeseran permukaan tanah. Selain itu, berbagai proses di PLTP menyebabkan getaran-getaran yang dapat meningkatkan resiko pergeseran. PLTP yang menjadi objek studi proyek capstone ini, terdapat objek krusial yaitu pipa penyambung yang menghubungkan aliran listrik dan turap yang menahan permukaan tanah. Apabila objek tersebut mengalami pergseran sampai mengalami kerusakan, maka produksi tenaga listrik dapat terganggu, sehingga diperlukan upaya monitoring pergeseran yang terjadi. Capstone ini memiliki tiga tujuan, yaitu untuk menentukan nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark, mendeteksi pergeseran objek krusial berupa pipa penyambung dan turap, dan melakukan pemodelan 3D wilayah PLTP Lumut Balai. Pada proyek ini digunakan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan Global Navigation Satellite System (GNSS). Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark adalah dengan meregresi linearkan data koordinat GNSS dari kala yang berbeda. Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai pergeseran objek adalah dengan data point cloud yang dilakukan proses-proses pengolahan menggunakan perangkat lunak pengolahan point cloud mulai dari proses registrasi, cleaning, georeferensi, hingga deteksi pergeseran dengan menggunakan metode yang disebut Multiscale Model to Model Cloud Comparison (M3C2). Metode pembuatan model 3D dilakukan dengan picking point dari data point cloud. Kemudian, akan dibentuk objek sesuai dengan titik yang dipilih. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat titik-titik benchmark yang terindikasi mengalami pergeseran pada arah horizontal dan pada arah vertikal. Hasil analisis pergeseran objek menunjukkan bahwa pipa penyambung mengalami pergeseran yang signifikan pada bagian kanan bawah pipa penyambung. Sedangkan turap tidak mengalami pergseran yang signifikan. Terakhir, dihasilkan model 3D dari wilayah PLTP Lumut Balai dengan Level of Detail (LoD) 2.
STUDI AMBLESAN TANAH DENGAN METODE KONSOLIDASI 1 DIMENSI AKIBAT FAKTOR KONSOLIDASI ALAMIAH DAN FAKTOR ANTROPOGENIK DI CEKUNGAN BANDUNG, JAWA BARAT
Amblesan tanah merupakan kejadian bahaya geologi yang banyak terjadi di beberapa kota besar di dunia dan mengakibatkan banyak kerugian, salah satunya pada wilayah Cekungan Bandung. Cekungan Bandung berada pada koordinat 107Β°35β0ββ BT, -6Β°54β30ββ LS sampai dengan 107Β°50β0ββ BT, -7Β° 4β0ββ LS, tepatnya berada pada Formasi Kosambi yang secara administrasi mencakup Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Cekungan Bandung telah mengalami amblesan tanah dengan rata-rata kecepatan penurunan 8 β 23 cm/tahun dari hasil pengukuran Global Positioning System (GPS) dan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Faktor penyebab amblesan tanah di Cekungan Bandung belum diketahui secara rinci. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi faktor alamiah (konsolidasi alamiah) dan faktor antropogenik (penurunan muka airtanah dan pembebanan bangunan), serta mengevaluasi kontribusi masing-masing faktor terhadap amblesan tanah di Cekungan Bandung. Metode yang digunakan yaitu metode konsolidasi satu dimensi dengan model analitik dan numerik pada masing-masing faktor. Data penelitian menggunakan 11 titik bor yang tersebar di Cekungan Bandung, properti geoteknik lapisan, data penurunan muka airtanah, dan data penambahan beban bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konsolidasi alamiah berkisar antara 0,06 β 6,54 m dengan waktu amblesan maksimum akan tercapai dalam rentang tahun 726,94 β 5935,68 tahun. Pengaruh faktor antropogenik berupa penurunan muka airtanah berkisar 0,006 β 1,93 m dan faktor penambahan beban bangunan berkisar 0,006 β 2,21 m. Perhitungan dengan menggunakan model analitik dan numerik memberikan hasil yang berkorelasi positif pada ketiga faktor yang dianalisis. Persentase kemiripan hasil yang didapatkan berkisar antara 13,5 β 25,6%. Berdasarkan hasil analisis, faktor konsolidasi alamiah berkontribusi lebih dari 50% dari total amblesan yang terjadi. Faktor antropogenik (penurunan MAT dan penambahan beban bangunan) mempercepat laju amblesan tanah sebesar 0,4 β 15,5 cm/tahun atau 18 β 61%. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap upaya mitigasi agar nantinya dapat ditangani dengan tepat.
ANALISIS KESTBILAN TEROWONGAN DI AREA TAMBANG BAWAH TANAH PT. ANTAM TBK, GUNUNG PONGKOR, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Produksi emas yang sangat besar yang dimiliki oleh PT Antam berasal dari tambang bawah tanah yang berada di Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Metode penambangan bawah tanah yang dilakukan oleh PT Antam menggunakan metode cut and fill. PT Antam memiliki IUP yang diperpanjang hingga tahun 2031, sehingga diperlukan analisis geologi, geoteknik, dan geomekanika yang dapat berperan penting dalam kestabilan suatu desain terowongan untuk menunjang kegiatan produksi pertambangan. Objek penelitian berada pada bukaan terowongan GH 435 dan GH 460. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi massa batuan berdasarkan metode Rock Mass Rating (RMR), sehingga mendapatkan rekomendasi penyangga berdasarkan nilai RMR, serta menentukan potensi tipe runtuhan yang dapat terjadi pada terowongan objek penelitian. Analisis numerik dengan metode elemen hingga dapat menghasilkan parameter faktor kekuatan (FK), perpindahan total, dan kapasitas penyangga di sekitar bukaan terowongan. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan melalui data laboratorium, didapatkan litologi penyusun GH 435 dan GH 460 yang terdiri dari tuf lapili. Lalu, berdasarkan klasifikasi RMR didapatkan karakteristik kelas massa batuan pada GH 435 yaitu kelas III (cukup), sedangkan pada GH 460 merupakan kelas massa batuan IV (buruk). Parameter dari RMR dan orientasi diskontinuitas yang didapat pada perolehan data lapangan digunakan dalam penentuan tipe runtuhan dan didapatkan hasil bahwa bukaan GH 435 memiliki potensi runtuhan baji, sedangkan GH 460 memiliki potensi runtuhan massa batuan dan baji di beberapa titik. Rekomendasi penyangga pada GH 435 berdasarkan nilai RMR berupa baut batuan, jaring kawat, dan beton tembak, sedangkan pada GH 460 berupa baut batuan, jaring kawat, beton tembak, dan H-beam. Nilai faktor kekuatan dengan rekomendasi penyangga berdasarkan RMR bernilai di atas 1,5 untuk atap dan dinding di terowongan GH 435 dan GH 460. Nilai perpindahan total dengan rekomendasi penyangga berdasarkan RMR sesuai dengan standar yang dipakai di PT Antam. Hasil dari kapasitas penyangga juga menunjukan bahwa penyangga berdasarkan RMR berada di faktor keamanan yang sesuai dengan standar PT Antam.