📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenANALISIS TINGKAT WALKABILITY DAN KARAKTERISTIK PEJALAN KAKI PADA KAWASAN TOD BLOK M MELALUI PENGUKURAN OBJEKTIF (ATRIBUT LINGKUNGAN BINAAN) DAN SUBJEKTIF (PERCEIVED WALKABILITY)
Kawasan Blok M yang seharusnya mendukung penerapan konsep Transit-Oriented Development (TOD) sebagaimana ditetapkan dalam RTRW Provinsi DKI Jakarta masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya inklusivitas, terbatasnya penyediaan perumahan terjangkau, serta keberadaan parkir on-street yang berlebihan dan tidak tertata. Kondisi tersebut menunjukkan pengembangan kawasan belum sepenuhnya berorientasi pada peralihan penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi umum, sehingga masih memicu kemacetan dan mengganggu aksesibilitas pejalan kaki (Manurung & Yusuf, 2025). Oleh karena itu, keberadaan infrastruktur transit di Kawasan TOD Blok M belum mampu mendukung kualitas berjalan kaki secara optimal. Pengalaman berjalan kaki dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan yang mencakup aspek kenyamanan, keamanan, dan kemudahan akses (He et al., 2024). Selain itu, lingkungan binaan berperan melalui karakteristik fisik, seperti aksesibilitas, keramahan berjalan kaki (walkability), dan keterhubungan antarpenggunaan lahan, serta melalui persepsi subjektif pejalan kaki terhadap kualitas lingkungan berjalan kaki (He et al., 2024).Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik lingkungan binaan dalam pendekatan objektif dan subjektif (persepsi pejalan kaki) dalam pengukuran walkability di Kawasan Blok M yang ditetapkan sebagai kawasan berbasis TOD. Pengukuran karakteristik lingkungan binaan dilakukan menggunakan prinsip 5D (Density, Diversity, Design, Distance to Accessibility, dan Distance to Transit) serta Neighborhood Environment Walkability Scale (NEWS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis Sistem Informasi Geografis (GIS) dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan variabel-variabel NEWS dapat diterapkan di Indonesia dengan nilai reliabilitas lebih dari 0,60 dan nilai validitas lebih dari 0,238 pada setiap variabel. Setiap variabel dalam konsep 5D juga menunjukkan hasil yang sejalan dan saling mendukung dengan variabel NEWS. Kedua pendekatan tersebut menghasilkan temuan yang saling melengkapi karena NEWS mampu menangkap aspek-aspek yang tidak dapat diukur secara objektif, seperti kualitas infrastruktur pejalan kaki. Variabel kepadatan (Density dan Residential Density) menunjukkan adanya kepadatan hunian pada lokasi tertentu denganv dominasi hunian horizontal. Variabel keberagaman (Diversity) menunjukkan keberagaman aktivitas yang cukup tinggi, terutama pada kawasan yang didominasi oleh fungsi permukiman, perkantoran, serta perdagangan dan jasa (mixed-use). Variabel desain (Design) menunjukkan tingkat konektivitas yang tinggi, terutama pada kawasan dengan intensitas aktivitas yang tinggi. Akses terhadap layanan dasar (basic services) dan transportasi umum juga tergolong baik, dengan jangkauan sekitar 100–500 meter atau waktu tempuh berjalan kaki selama 5–20 menit. Variabel kualitas infrastruktur pejalan kaki dan lalu lintas (Infrastructure and Traffic) menunjukkan kondisi yang tergolong baik. Namun, masyarakat masih cenderung menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan berjalan kaki. Kondisi tersebut tercermin dari banyaknya parkir yang tidak tertata dan memanfaatkan ruang pejalan kaki. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pejalan kaki berasal dari berbagai kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, serta tingkat kepemilikan SIM dan kendaraan pribadi. Berdasarkan kecenderungan jarak dan waktu berjalan kaki rata-rata harian, terdapat indikasi bahwa penyediaan layanan di Kawasan Blok M telah mampu menjangkau berbagai tujuan dalam rentang standar TOD, yaitu sekitar 5–20 menit atau 500–800 meter berjalan kaki. Hasil pengukuran walkability menunjukkan bahwa Kawasan TOD Blok M memperoleh nilai walkability objektif sebesar 53,63 dan walkability subjektif sebesar 59,59. Kedua nilai tersebut termasuk dalam kategori "Cukup Baik" berdasarkan Pedoman Pengukuran Indeks Kelayakan Berjalan di Kawasan Perkotaan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, Tahun 2023. Meskipun demikian, Kawasan TOD Blok M masih belum sepenuhnya memenuhi karakteristik kawasan TOD yang kompak, inklusif, dan terintegrasi secara optimal dengan sistem transit.
STUDI EKSPERIMENTAL KINETIKA DAN EVOLUSI FASA REDUKSI BIJIH NIKEL SAPROLIT DALAM ATMOSFER 5% H2–95% N2
Nikel merupakan logam strategis yang digunakan dalam industri baja tahan karat, paduan, pelapisan, katalis, dan material baterai. Indonesia memiliki posisi penting dalam industri nikel karena didukung oleh sumber daya dan cadangan yang didominasi bijih laterit. Bijih saprolit umumnya diolah melalui jalur pirometalurgi konvensional, tetapi proses tersebut masih menghadapi tantangan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca. Hidrogen sebagai reduktan menjadi alternatif untuk menghasilkan proses reduksi beremisi lebih rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis tahapan reduksi non-isotermal, menentukan parameter kinetika reduksi isotermal, serta mengevaluasi evolusi fasa dan morfologi bijih nikel saprolit dalam atmosfer 5% H2–95% N2. Sampel bijih saprolit dikeringkan, diremuk, digerus, diayak hingga fraksi ?200 mesh, lalu dikalsinasi pada 700 °C selama 4 jam. Produk kalsinasi direduksi menggunakan thermogravimetric analyzer dengan massa sampel 300 mg dan laju alir gas 250 mL/menit. Percobaan non-isotermal dilakukan hingga 900 °C pada laju pemanasan 10 °C/menit, sedangkan percobaan isotermal dilakukan pada 500, 600, 700, 800, dan 900 °C selama 3 jam. Data perubahan massa dikonversi menjadi derajat reduksi, kemudian dianalisis menggunakan metode isokonversi isotermal dan pemodelan kinetika. Model difusi tiga dimensi Jander digunakan untuk mengevaluasi interval reduksi aktif. Evolusi fasa dianalisis menggunakan X-ray diffraction (XRD), sedangkan morfologi dan distribusi unsur diamati menggunakan scanning electron microscopy–energy dispersive spectroscopy (SEM–EDS). Reduksi non-isotermal menunjukkan dua tahap utama. Tahap 300–600 °C menghasilkan kehilangan massa aktual 3,15% dibandingkan nilai teoritis 4,43% dan diinterpretasikan berkaitan dengan reduksi awal spesies nikel serta transformasi hematit menuju magnetit dan/atau oksida antara. Tahap 600–900 °C menghasilkan kehilangan massa aktual 4,90% dibandingkan nilai teoritis 7,75% dan berkaitan dengan reduksi lanjutan oksida besi menuju Fe melalui FeO. Pada kondisi isotermal, kenaikan temperatur mempercepat reduksi awal, tetapi tidak selalu meningkatkan derajat reduksi akhir. Energi aktivasi tampak meningkat dari 28,07 kJ/mol pada ? ? 0,1 menjadi 69,45 kJ/mol pada ? ? 0,3, kemudian berada pada 63,34–63,50 kJ/mol hingga ? ? 0,5. Model Jander memberikan energi aktivasi tampak 57,1–73,7 kJ/mol pada 500–800 °C, sedangkan nilai negatif pada 800–900 °C menunjukkan ketidaksesuaian model untuk mekanisme suhu tinggi. XRD dan SEM–EDS menunjukkan magnetit pada 500 °C, fayalit sejak temperatur rendah, taenite pada 700 °C, serta penguatan fasa silikat dan koalesensi mikrostruktur pada 800– 900 °C yang membatasi reduksi lanjutan.
MODEL BRANDING SPASIAL-SENSORI-KULTURAL (SSCBM): PENGEMBANGAN MODEL KONSTRUKSI NILAI UNTUK MEREK KECANTIKAN BERBASIS WARISAN BUDAYA
Penelitian ini mengkaji bagaimana branding terintegrasi dapat memengaruhi persepsi nilai di bidang industri kecantikan Indonesia yang sedang berkembang, dengan fokus spesifik pada merek kecantikan berbasis warisan budaya yang ingin bersaing di pasar global. Sektor kecantikan dan kesehatan sedang mengalami peningkatan yang semakin kompetitif, didorong oleh permintaan konsumen akan produk yang tidak hanya memberikan manfaat fungsional tetapi juga menawarkan keterikatan emosional dan simbolis. Di pasar internasional, pembeli kini menilai merek kecantikan berdasarkan otentisitas, narasi, signifikansi budaya, dan keunggulan dalam pengalaman membeli ataupun menggunakan, melebihi efektivitas semata. Transformasi ini mendorong perusahaan-perusahaan kecantikan global untuk berlomba melampaui metode pemasaran tradisional, seperti melakukan strategi branding terintegrasi yang dapat membangun ikatan emosional dan loyalitas yang lebih dalam. Meskipun merek kecantikan Indonesia memiliki efektivitas fungsional yang tinggi, aksesibilitas terhadap sumber daya alam, dan warisan budaya berlimpah, banyak dari merek kecantikan tersebut belum mampu mencapai pengakuan global yang signifikan. Terlepas dari kekayaan warisan budaya Indonesia—yang dapat dimanfaatkan sebagai pembeda otentisitas dalam branding—kekuatan ini seringkali kurang dimanfaatkan dalam strategi merek. Hal ini disebabkan oleh seringnya penggunaan metode pemasaran yang terfragmentasi—mengandalkan kampanye influencer atau iklan tunggal yang gagal menciptakan identitas merek yang kohesif dalam jangka panjang. Akibatnya, konsumen mungkin menerima upaya promosi tanpa sepenuhnya memahami atau mengerti identitas dan makna sesungguhnya dari merek tersebut. Studi ini berpendapat bahwa inti masalah tersebut berasal dari kurangnya model sistematis yang dapat menyelaraskan berbagai elemen merek, khususnya isyarat spasial, sensorik, dan budaya, menjadi pengalaman merek yang terintegrasi. Mengatasi hal tersebut, studi ini mengusulkan dan secara eksploratif memvalidasi Model Branding Spasial-Sensori-Budaya (SSCBM). Model ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana integrasi berbagai dimensi dapat bekerja bersama dalam menciptakan persepsi nilai merek lebih kuat dan pengalaman merek yang lebih bermakna. Studi ini meneliti apakah integrasi ketiga dimensi tersebut meningkatkan nilai merek secara lebih efektif daripada pendekatan merek satu dimensi, dan bagaimana konsumen secara emosional dan kognitif memproses pengalaman terintegrasi tersebut. Persepsi nilai diukur melalui lima dimensi nilai, yang meliputi dimensi fungsional, emosional, sosial, otentisitas, dan simbolik. Dengan menggunakan kerangka Design Thinking, penelitian ini memiliki lima tahap proses- empati, definisi, ideasi, prototipe, dan pengujian - dengan metode kualitatif yang diikuti dengan analisis tematik dan penalaran abduktif. Penggunaan Design Thinking memungkinkan penelitian ini ketat namun tetap berpusat pada konsumen, sekaligus mendukung pengembangan konseptual iteratif sepanjang penelitian. Wawancara konsumen di tahap awal mengungkapkan bagaimana orang menginterpretasi isyarat merek, yang menjadi dasar pengembangan "How Might We". Melalui analisis abduktif, hasil tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan SSCBM. Pada fase pengujian, lima skenario penggunaan merek—kondisi plasebo, kondisi dimensi tunggal terisolasi (spasial, sensorik, dan budaya), dan kondisi SSCBM terintegrasi—dibuat prototipenya menggunakan Heiress of Java Island (HOJI), sebuah merek berbasis warisan lokal yang sedang dikembangkan oleh PT Karya Unggul Anugrah. Partisipan terlibat oleh semua prototipe melalui simulasi pameran yang diikuti dengan wawancara untuk mendapatkan data yang lebih mendalam. Kondisi prototipe dikontrol dengan sengaja untuk memungkinkan perbandingan langsung dan eksplorasi mendalam tentang bagaimana kombinasi isyarat merek yang berbeda memengaruhi konstruksi persepsi nilai serta interpretasi kognitif dan emosional. Studi ini mengungkapkan bahwa elemen merek yang terintegrasi secara konsisten menghasilkan persepsi nilai lebih tinggi daripada metode terfragmentasi. Partisipan umumnya menggambarkan pengalaman terintegrasi sebagai lebih kredibel secara kognitif, menarik secara emosional, imersif, dan mudah diingat daripada pendekatan merek yang terisolasi. Meskipun kepercayaan fungsional tetap menjadi dasar, integrasi elemen merek menciptakan efek sinergis yang memperkuat imersi emosional, resonansi simbolik, signifikansi sosial, dan persepsi otentisitas secara bersamaan. Hasil studi menunjukkan bahwa konsumen memproses dimensi branding secara berurutan, di mana isyarat yang dipimpin oleh spasial mengaktifkan perhatian perseptual, isyarat yang dipimpin oleh sensori mendukung imersi pengalaman, dan isyarat yang dipimpin oleh budaya memfasilitasi makna simbolik dan pembentukan kepercayaan. Hasil lebih lanjut menunjukkan bahwa konsumen memproses nilai ini melalui dua jalur: jalur kognitif (berfokus pada koherensi dan kredibilitas) dan jalur emosional (berfokus pada identitas dan keterikatan). Terakhir, studi ini menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung merasakan nilai premium ketika elemen branding tampak koheren dan saling terkait di berbagai titik kontak, daripada branding yang terisolasi. Secara teoritis, penelitian ini menambah literatur tentang merek dengan menggeser fokus merek dari konsep-konsep elemen terisolasi ke dalam sistem persepsi merek yang lebih terpadu. Secara manajerial, penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi merek-merek kecantikan berbasis warisan budaya yang berupaya melakukan diferensiasi untuk bersaing di pasar internasional. Terakhir, penelitian ini menunjukkan bagaimana metode kualitatif berbasis desain dapat memvalidasi teori-teori branding yang kompleks.
PENGEMBANGAN TALENTA STRATEGIS UNTUK SUKSESI MANAJER RIG LOKAL: MEMBANGUN KETAHANAN TERHADAP KETIDAKPASTIAN PASAR (STUDI KASUS PT. OMBAK BIRU OFFSHORE)
Industri pengeboran lepas pantai Indonesia menghadapi kontradiksi struktural: ketergantungan pada model operasi yang membutuhkan ekspatriat, yang sebelumnya membantu memastikan kontinuitas kinerja, namun kini membuat industri tersebut rentan terhadap tiga jenis ketidakpastian pasar. PT. Ombak Biru Offshore (PT. OBO), anak perusahaan Morghulis Limited (NYSE: MOR) di Indonesia, memiliki 100% ketergantungan pada Rig Manager yang ekspatriat dan tidak memiliki infrastruktur suksesi lokal secara formal. Terdapat tiga risiko dalam kerentanan ini. The cost of expatriate labour is high at USD 285,000 to 320,000 per year, and this is not economically viable during the downturn in oil prices, while the cost of national labour is around USD 90,000 to 110,000 per year, which is also significant over several years. Seiring dengan diaktifkan kepatuhan tenaga kerja TKDN dari sekadar pedoman menjadi kewajiban komersial yang mengikat melalui SKK Migas yang diaktifkan pada 4 April 2023, dengan bobot evaluasi tender sebesar 15% dan juga sanksi Kartu Kuning, Kartu Merah, dan Kartu Hitam, volatilitas dalam penegakan regulasi meningkat secara material. The third worrisom trend is the age of the median cross-over worker, who is now over 55, and for which the expected time for the first wave of mass pensions is 2025-2030, while the supply of expatriates in the world is declining. PT. OBO tidak memiliki rekam jejak suksesi lokal, dan beroperasi sebagai "penyewa kapabilitas" yang menanggung seluruh biaya untuk mendatangkan keahlian Command Core impor, tanpa membangun kompetensi institusional residual ke dalam modal manusianya sendiri. Tiga pertanyaan penelitian yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah: Arsitektur kompetensi yang mendefinisikan peran Rig Manager di PT; Keuatan yang saat ini menghambat dan/atau mendorong pengembangan pipeline suksesi lokal; dan Model strategis pengembangan talenta seperti apa yang dapat menciptakan ketahanan biaya, ketahanan regulasi, dan ketahanan operasional secara terintegrasi untuk menghadapi ketiga sumber ketidakpastian pasar tersebut. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus tunggal eksploratif kualitatif dengan kerangka kerja Strategic Foresight yang terdiri dari 5 fase yang ditawarkan oleh Hines dan Bishop (2015). Penarikan data kompetensi dilakukan dengan Behavioral Event Interview (BEI) dengan informan Rig Manager yang aktif, wawancara terstruktur dengan informan senior organisasi dan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) dengan 12 insinyur PT. OBO. Data yang diperoleh dari transkrip wawancara, dokumen regulasi, data tolok ukur industri dan Laporan SDM Internal Perusahaan ditriangulasi lintas sumber. Integrasi teoretis diambil dari model Resource Based View (Barney, 1991), Dynamic Capabilities (Teece, Pisano & Shuen, 1997), dan Kerangka 7S McKinsey, dan model konversi pengetahuan SECI (Nonaka & Takeuchi, 1995). Hasil dari penelitian pertama menghasilkan matriks kompetensi yang terdiri dari 8 domain yaitu Operasi Teknis, Kepemimpinan Keselamatan, Ketajaman Komersial, Keterampilan Non-Teknis, Penilaian Krisis, Manajemen Klien dan Institusional, Kepatuhan Regulasi, dan Tata Kelola Transfer Pengetahuan. Sementara kompetensi yang bersifat tasit (*tacit*) diperoleh dari pengalaman lapangan, diperkirakan sekitar 75-80% kompetensi Rig Manager bersifat tasit, dan kompetensi seperti itu membutuhkan pengalaman di lapangan sebesar 150 sumur. Secara struktural, para insinyur OBO tidak mendapatkan paparan terhadap komando operasional saat bertugas, dan mereka tertahan oleh glass ceiling pada tingkatan Toolpusher, yang menimbulkan Paradoks Kompetensi-Legitimasi. Analisis medan kekuatan (force field analysis) untuk pertanyaan penelitian kedua menunjukan kondisi yang mendekati ekuilibrium, dengan 21 faktor pendorong (driving forces) dibalansikan dengan 23 faktor penghambat (restraining forces), yang tersebar dalam empat kategori hambatan: Kesenjangan Kapabilitas, Defisit Arsitektur Organisasi, Kendala Sertifikasi dan Biaya, serta Tarikan Pasar-Lokasi dengan penawaran premi upah sebesar 40-60% dari operator pengeboran di Timur Tengah. Analisis VRIO menunjukkan bahwa pipeline Rig Manager lokal akan memenuhi VRIO (Berharga, Langka, dan Sulit Ditiru — Valuable, Rare, and Inimitable), namun belum memenuhi Organisasi. Menurut teori pencapaian keunggulan kompetitif yang berkelanjutan adalah hal yang memungkinkan, tetapi belum terjadi di dalam organisasi ini. Arsitektur Jalur Ganda (*Dual-Pathway Architecture*) is a result of the third question posed in the research. Jalur Akselerasi (Accelerated Pathway) selama 48 bulan dirancang untuk para insinyur yang telah memiliki minimal 7 tahun pengalaman operasional di PT. OBO untuk diangkat menjadi Rig Manager pada kuartal keempat tahun 2030. Program Pelatihan Insinyur (Engineering Trainee Program) yang berlangsung selama 122 bulan sedang berjalan, dengan harapan keseluruhan pipeline siap pada akhir tahun 2036. Arsitektur Organisasi, yang melibatkan Komite Pengarah Manajemen Talenta, Sistem Informasi Manajemen Talenta dan kerangka akuntabilitas kinerja, Pengembangan Modal Manusia, yang melibatkan model progresi jalur ganda, Dana Pengembangan Lokal, dan Mekanisme Poros Penurunan (Downturn Pivot Mechanism) yang mengalihkan kontraksi pendapatan siklikal menjadi jendela transfer pengetahuan yang terstruktur alih-alih menghentikan pengembangan sama sekali, dan Sistem Transfer Pengetahuan yang terdiri dari 4 modul berjenjang KT-1 sampai KT-4. Targeting of the full Lokalisasi Command Core, excluding Rig Managers, Operations Installation Managers and Drilling Superintendents expatriates, was achieved in 2037. Model terintegrasi ini menawarkan ketahanan biaya, karena tidak mengharuskan pengeluaran untuk ekspatriat berbiaya tinggi, ketahanan regulasi karena kepatuhan proaktif terhadap PTK-007 Revisi 5, dan ketahanan operasional karena pemisahan PT. OBO dari pasar kontraktor ekspatriat global. Teori RBV yang dikembangkan dalam kajian ini adalah dengan menggabungkan teori Dynamic Capabilities dalam konteks institusional anak perusahaan multinasional (MNC) di bawah kondisi regulatif yang bernuansa nasionalis sumber daya. Konstruk "penyewa kapabilitas" (*capability renter*) is offered as a conceptual contribution that can be applied to an organization in which the functions of the "Command Core" are systematically moved out of the organization, so that no long-term learning of the organization or competitiveness is taken out of the investment of the organization's activities. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi terhadap perancangan kebijakan oleh SKK Migas, kebijakan modal manusia di Morghulis Limited, dan tantangan kebijakan modal manusia bagi para operator hulu Indonesia dalam konteks kewajiban nasionalisasi modal manusia yang sesuai dengan persyaratan PTK-007 Revisi 5.
PENGEMBANGAN SISTEM KEMASAN AKTIF ETHYLENE SCAVENGER BERBASIS EKONOMI SIRKULER: STUDI KASUS PADA TOMAT
Produksi tomat di Indonesia mencapai 1,15 juta ton pada 2024 dengan tren yang terus meningkat. Walaupun demikian, potensi ekonomi dari komoditas ini masih terkendala oleh tingginya angka kehilangan pascapanen. Secara fisiologis, penyebab utamanya adalah percepatan pematangan buah akibat akumulasi gas etilen di dalam ruang kemasan. Pengendalian gas etilen telah menjadi strategi utama dalam mempertahankan kualitas produk hortikultura. Namun, penjerap etilen (ethylene scavenger) konvensional berbasis oksidasi masih terkendala biaya produksi tinggi dan isu keamanan pangan. Di sisi lain, proses budidaya tomat menghasilkan limbah biomassa lignoselulosa yang sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Menjawab tantangan tersebut, penelitian ini menerapkan pendekatan ekonomi sirkuler yang mengintegrasikan upaya perlindungan kualitas produk hortikultura dengan strategi valorizasi limbah pertanian. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem kemasan penjerap etilen berbasis adsorpsi dengan memanfaatkan limbah biomassa tomat. Kebaruan riset ini terletak pada integrasi material dan teknologi keberlanjutan, di mana keseluruhan komponen penjerap etilen disintesis dari limbah tanaman tomat untuk kemudian diaplikasikan kembali guna melindungi buah tomat. Secara sistematis, penelitian ini distrukturkan ke dalam empat tahapan utama. Tahap pertama difokuskan pada pemodelan kinetika produksi etilen guna mengidentifikasi keterkaitan etilen dengan karakteristik fisiologis pematangan buah. Tahap kedua dan ketiga mencakup sintesis adsorben etilen berbasis karbon melalui pirolisis, serta fabrikasi matriks biokomposit melalui jalur biodelignifikasi. Pengujian secara komprehensif dilakukan pada setiap fase material untuk mempelajari karakteristik struktural dan kapasitas adsorpsi guna memahami sinergi fungsionalnya. Tahap akhir melibatkan integrasi material aktif adsorben dan biokomposit menjadi sistem lembaran biokomposit adsorben etilen (BAE). Validasi kinerja BAE dilakukan melalui pengujian umur simpan pada komoditas tomat, uji regenerasi untuk menentukan potensi penggunaan ulang (reusability) BAE, serta uji biodegradabilitas guna memastikan dampak lingkungan yang minimal setelah masa pakai berakhir. Tahap pertama berfokus pada pengembangan model matematis untuk mengestimasi laju akumulasi etilen netto (net accumulation) pada tomat dalam kemasan tertutup. Pengukuran akumulasi etilen dan evaluasi proses pematangan tomat dilakukan dengan variasi massa atau jumlah buah (1, 3, dan 6 buah), dan varietas (Optima, Dokter benih, dan Servo). Hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi etilen mengikuti kinetika orde satu semu (pseudo-first-order), dengan konsentrasi puncak berkisar antara 1,7 hingga 6,43 ?L/L yang dipengaruhi secara signifikan oleh variasi massa buah, sementara faktor varietas tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Proses pematangan ditengarai dengan perubahan warna hijau menjadi kekuningan yang terjadi bertepatan dengan puncak akumulasi etilen. Pematangan terus berlanjut, meskipun konsentrasi etilen terus menurun seiring waktu penyimpanan. Simulasi pemanfaatan adsorben dalam kemasan membuktikan bahwa kapasitas dan kuantitas adsorben berperan krusial dalam mereduksi konsentrasi etilen dan menunda fase pematangan. Pemodelan ini memberikan basis kuantitatif dalam menentukan strategi manajemen etilen yang presisi untuk mencapai target perpanjangan masa simpan. Tahap kedua difokuskan pada valorisasi limbah lignoselulosa tanaman tomat menjadi adsorben berbasis material karbon, yang diklasifikasikan sebagai biochar atau karbon aktif sesuai dengan metode aktivasi yang diterapkan. Untuk menghasilkan adsorben yang andal, sintesis dilakukan melalui dua fase sistematis yaitu eksplorasi dan optimasi. Fase eksplorasi menguji pengaruh suhu pirolisis lanjut (600 dan 800 oC), durasi penggilingan (1 dan 5 menit), serta pengaruh aktivasi kimia menggunakan asam sitrat dan natrium bikarbonat, terhadap karakteristik adsorben. Temuan menunjukkan bahwa peningkatan suhu pirolisis ke 800 °C tidak secara linier meningkatkan kapasitas adsorpsi, mengisyaratkan adanya titik jenuh pada stabilitas struktur karbon. Terkait aspek fisik, durasi penggilingan selama 5 menit justru menurunkan kemampuan adsorpsi dibandingkan durasi 1 menit, yang mengindikasikan bahwa reduksi ukuran partikel yang berlebihan dapat mengganggu integritas struktur fungsional adsorben. Dari sisi modifikasi kimia, penggunaan asam sitrat terbukti lebih efektif dalam menginduksi pembentukan pori dan situs aktif spesifik etilen dibandingkan natrium bikarbonat. Hasil karakterisasi BET menunjukkan fenomena tidak biasa di mana kapasitas adsorpsi tidak berbanding lurus dengan luas permukaan maupun volume pori. Indikasi-indikasi tersebut menunjukkan bahwa aktivasi fisik-termal mampu menghasilkan kinerja adsorpsi yang kompetitif dibandingkan dengan karbon aktif dengan aktivasi kimia maupun karbon aktif komersial, meskipun kedua varian terakhir memiliki luas permukaan yang lebih besar. Data tahap eksplorasi tersebut, dan dikembangkan dengan kajian literatur, mendasari tahap optimasi yang difokuskan pada pengembangan biochar, yakni material karbon yang disintesis tanpa aktivasi kimia, dengan mengevaluasi variabel ukuran partikel bahan baku, suhu pirolisis, dan perlakuan microwave. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengaruh ukuran partikel bahan baku tidak berbeda signifikan, sementara suhu pirolisis dan perlakuan microwave memberikan efek sinergis terhadap sifat adsorptif material. Biochar yang dihasilkan mencapai kapasitas adsorpsi etilen yang lebih tinggi dibanding tahap eksplorasi, yaitu sebesar 38,8-44,8 ?L/g, yang dipengaruhi oleh perpaduan sifat kimia permukaan dan struktur pori, melampaui dominasi faktor luas permukaan. Mempertimbangkan efisiensi produksi dan performa adsorpsi, suhu pirolisis 350°C tanpa perlakuan microwave ditetapkan sebagai kondisi operasi optimum. Tahap ketiga bertujuan menyintesis matriks biokomposit pembawa biochar (adsorben etilen) melalui pre-treatment biodelignifikasi limbah lignoselulosa tanaman tomat oleh Marasmius sp. dan Trametes versicolor. Analisis komponen kimia dan gugus fungsi permukaan mengonfirmasi bahwa kedua jamur secara selektif mendegradasi lignin dengan efektivitas sebanding, meskipun melalui mekanisme berbeda. Marasmius sp. berkolonisasi via pertumbuhan hifa permukaan secara ekstensif, sementara T. versicolor dominan secara enzimatis ke dalam matriks. Biomassa terdelignifikasi tersebut kemudian diformulasi dengan pengikat menjadi biokomposit. Evaluasi fisik-mekanik menunjukkan bahwa matriks berbasis Marasmius sp. secara signifikan lebih tipis, kompak, dan kohesif dibandingkan T. versicolor yang memiliki gramatur tinggi dan kurang padat. Biodelignifikasi meningkatkan ketahanan terhadap kelembapan, namun disertai penurunan kekuatan tarik. Secara keseluruhan, formulasi optimum diperoleh pada kombinasi biomassa Marasmius sp. dengan formulasi pengikat tanpa gliserol, yang menghasilkan matriks dengan ketahanan kelembapan tinggi. Sebagai bentuk agregasi atas capaian ketiga tahap penelitian, pada tahap akhir dilakukan integrasi material fungsional biochar dengan biokomposit menjadi lembaran Biokomposit Adsorben Etilen (BAE). Material ini selanjutnya dievaluasi secara komprehensif melalui uji aplikasi pengemasan tomat, regenerasi, dan biodegradabilitas. Hasil pengujian menunjukkan BAE yang diproduksi dengan teknik imobilisasi biochar ke permukaan biokomposit tercatat mampu mempertahankan lebih dari 80% kapasitas adsorpsi etilen material biochar murni, yang mengindikasikan minimnya penyumbatan pori (pore blocking). Pada simulasi aplikasi kemasan, penggunaan BAE dalam kondisi awal, BAE-fresh (BAE-F), secara signifikan menekan puncak akumulasi etilen dan menghambat laju pematangan tomat. Hal ini ditandai dengan tertahannya transisi warna tomat dari fase breaker-turning pada fase turning-pink selama tujuh hari observasi. Sebaliknya, pada perlakuan kontrol tanpa penambahan BAE, tomat telah mencapai fase merah tua dalam durasi penyimpanan yang sama. Evaluasi aplikasi penyimpanan tomat menggunakan BAE-regenerasi (BAE-R) menunjukkan persistensi kinerja adsorpsi, dengan deviasi minimal dibandingkan BAE-F. Kapasitas retensi yang signifikan ini mengonfirmasi resiliensi fungsional BAE-F serta peluang implementasi material secara berulang (reusability). Meskipun terdapat indikasi bahwa prosedur regenerasi saat ini belum memulihkan arsitektur pori dan situs aktif secara utuh, temuan ini memberikan landasan saintifik bagi pengembangan prosedur pemulihan yang lebih presisi. Potensi keberlanjutan BAE dibuktikan melalui kemampuan biodegradasinya yang cepat, yakni mencapai ±90% dalam 32 hari. Temuan ini mengonfirmasi bahwa BAE dapat berperan sebagai kemasan aktif berbasis limbah yang bersifat closed-loop, mendukung ekonomi sirkuler melalui pengurangan limbah dan peningkatan nilai guna biomassa. Secara keseluruhan, disertasi ini berhasil merumuskan teknologi pengemasan aktif ethylene scavenger yang layak secara teknis dan efektif dalam memperpanjang masa simpan produk hortikultura. Teknologi ini memanfaatkan biomassa limbah produk hortikultura sebagai bahan baku sehingga mendukung penerapan ekonomi sirkuler melalui valorizasi biomassa serta pengurangan kehilangan pascapanen.
ANALISIS SUMBER SULFIDA DAN MEKANISME FENOMENA TUBO BELERANG DI DANAU MANINJAU, SUMATRA BARAT
Danau Maninjau merupakan danau vulkanik di Sumatra Barat yang berperan penting sebagai sumber perikanan, pembangkit listrik tenaga air, dan pariwisata. Dalam beberapa dekade terakhir, kualitas air Danau Maninjau mengalami penuruan seperti: peningkatan nutrien yang ditandai oleh eutrofikasi, peningkatan bahan organik, penipisan lapisan oksik, dan meningkatnya frekuensi fenomena tubo belerang, yaitu naiknya sulfida dari lapisan dasar ke permukaan yang sering memicu kematian massal ikan di Keramba Jaring Apung (KJA). Fenomena tersebut diduga merupakan hasil interaksi antara proses biogeokimia, kondisi meteorologis, dan dinamika hidrodinamika. Keberadaan sulfida di Danau Maninjau telah menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian sebelumnya. Beberapa studi mengaitkan pembentukan sulfida dengan aktivitas biotik, terutama proses reduksi sulfat oleh bakteri pada kondisi anoksik, sedangkan studi lainnya mengindikasikan adanya kontribusi faktor abiotik yang berasosiasi dengan aktivitas vulkanik. Meskipun demikian, hingga saat ini belum terdapat kesimpulan yang komprehensif mengenai faktor utama yang berpotensi menjadi sumber sulfida. Selain itu, mekanisme transport sulfida dari lapisan hipolimnion menuju lapisan permukaan yang menjadi pemicu langsung terjadinya tubo belerang juga masih belum dikaji secara khusus. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber sulfida di Danau Maninjau serta mengkaji mekanisme pergerakannya di dalam kolom air secara terpadu, sehingga dapat memberikan dasar ilmiah bagi pemahaman proses terjadinya tubo belerang dan pengembangan strategi mitigasi dampaknya. Penelitian dilakukan melalui survei lapangan, analisis hidrogeokimia, dan pemodelan numerik. Survei kualitas air dilaksanakan pada November 2022 dan Agustus 2023 di tujuh stasiun dengan pengukuran suhu, pH, TDS (Total Dissolved Solid), ORP (Oxidation Reduction Potential) dan DO (Dissolved Oxygen) serta analisis sulfida, sulfat, klorida, bikarbonat, besi, mangan, dan bahan organik pada air dan sedimen. Sumber sulfida diidentifikasi melalui karakteristik ion utama serta hubungan karbon–sulfur dalam sedimen. Dinamika kolom air dianalisis menggunakan data suhu kolom air dan meteorologi tahun 2015–2017, sedangkan proses fisik dan dinamika sulfida masing-masing disimulasikan menggunakan model hidrodinamika tiga dimensi HAMSOM dan model reaksi–difusi satu dimensi. Hasil analisis hidrogeokimia menunjukkan bahwa sistem perairan Danau Maninjau tidak dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik aktif. Perairan memiliki pH netral hingga basa (6,5 – 8,9), TDS rendah (<0,105 g/L), dan didominasi ion bikarbonat yang mencerminkan sistem penyangga karbonat. Sulfida terakumulasi di lapisan hipolimnion dengan konsentrasi maksimum 0,425 mg/L. Korelasi positif antara karbon dan sulfur (r = 0,73, p = 0,016) dalam sedimen menunjukkan bahwa sulfida terutama dihasilkan oleh reduksi sulfat secara biotik yang memanfaatkan bahan organik dari aktivitas KJA, bukan dari sumber magmatik. Stratifikasi termal kolom air dikendalikan oleh kondisi meteorologis, terutama suhu udara, radiasi matahari, dan kecepatan angin. Peningkatan suhu udara dan masukan panas dari radiasi matahari memperkuat stratifikasi, sedangkan penurunan suhu udara dan peningkatan angin mendorong pencampuran vertikal. Secara musiman, stratifikasi umumnya menguat pada pertengahan tahun dan melemah pada awal serta akhir tahun. Nilai Indeks stratifikasi (SI/Stratification index)) tertinggi terjadi pada Juni 2015, Mei 2016, dan Juni 2017, masing-masing sebesar 1962,20 J/m2, 2393,22 J/m2, dan 1181,84 J/m2. Rata-rata tahunan menunjukkan kecenderungan melemah dari 1416,57 J/m2 (2015) menjadi 1038,00 J/m2 (2016) dan 788,38 J/m2 (2017). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pada kecepatan angin rendah, suhu udara menjadi pengendali utama pembentukan stratifikasi, sedangkan pencampuran lebih mudah terjadi ketika Tmax ? 25,7 °C dan kecepatan angin ? 2 m/s. Simulasi hidrodinamika menunjukkan bahwa distribusi suhu dan arus sangat dipengaruhi oleh angin. Model mampu mereproduksi suhu hasil observasi dengan baik, dengan Root Mean Square Error (RMSE) 0,052–0,095 °C dan skill score (SS) 0,890–0,984. Stratifikasi terkuat terjadi pada Mei–Juni, ditandai gradien suhu permukaan barat–timur hingga 0,18 °C dan termoklin pada kedalaman sekitar 30 m. Sebaliknya, pada Oktober dan Desember stratifikasi melemah dengan gradien suhu maksimum sekitar 0,04 °C. Angin dominan yang berhembus dari barat ke timur mendorong arus permukaan ke arah yang sama. Pada Oktober dan Desember, kondisi ini menyebabkan distribusi stratifikasi menjadi tidak merata secara spasial. Bagian barat danau menunjukkan suhu kolom air yang lebih homogen, sehingga berpotensi lebih tinggi mengalami umbalan sulfida. Simulasi dinamika sulfida menunjukkan bahwa faktor biogeokimia, terutama bahan organik, berperan dominan dalam mengontrol konsumsi oksigen dan akumulasi sulfida Keluaran model umumnya lebih rendah dibandingkan hasil pengamatan, dengan RMSE DO 0,11 mg/L, Fe 0,38 mg/L, dan Mn 0,77 mg/L. Dekomposisi bahan organik menyumbang 98,899–99,290% dari total konsumsi oksigen, sehingga menjadi penyebab utama terbentuknya kondisi anoksik di kolom air. Namun, naiknya sulfida ke lapisan atas dihambat oleh proses oksidasi, terutama oleh MnO? (89,974–90,658%), sedangkan kontribusi FeOOH lebih kecil (8,283 8,938%). Oleh karena itu, penurunan oksigen terlarut tidak selalu diikuti oleh kemunculan sulfida di permukaan. Secara spasial, wilayah dengan kepadatan KJA tinggi menunjukkan risiko peningkatan sulfida yang lebih besar akibat tingginya beban bahan organik. Secara keseluruhan, fenomena tubo belerang di Danau Maninjau merupakan hasil interaksi antara produksi sulfida secara biotik, dinamika stratifikasi yang dikendalikan faktor meteorologis, dan proses hidrodinamika yang mengatur pergerakan massa air. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengendalian beban bahan organik serta pemahaman terhadap dinamika cuaca dan proses fisik danau sebagai dasar mitigasi kejadian kematian massal ikan di Danau Maninjau.
ANALISIS RISIKO KESEHATAN MASYARAKAT AKIBAT TRANSMISI ANTIBIOTIC RESISTANCE ESCHERICHIA COLI DI DAS CITARUM HULU
Fenomena resistensi bakteri merupakan ancaman kesehatan global yang semakin meningkat akibat penggunaan antibiotik yang irasional terutama di negara berkembang. Pengendalian laju resistensi melibatkan matriks manusia, hewan dan lingkungan, sesuai kerangka One Health, namun pengaruh faktor lingkungan pada proses transmisi bakteri ke manusia seringkali terabaikan. Dari 12 kelompok bakteri resisten prioritas yang perlu dimonitor sebaranya oleh WHO, Antibiotic-resistant Escherichia coli (AREc) merupakan jenis yang mudah bertransmisi di antara lingkungan akuatik, manusia, dan hewan. Sebaran AREc sangat krusial ketika badan air yang tercemar fekal masih digunakan sebagai sumber air bersih dan air minum dan berpotensi menimbulkan diare, infeksi saluran kemih, hingga sepsis. Di sisi lain, surveilans AREc di lingkungan masih terkendala biaya, kompleksitas uji, ketiadaan indikator universal, serta fluktuasi spasiotemporal, sehingga hubungan antara cemaran lingkungan dan dampak kesehatan masyarakat akibat transmisi AREc sering belum terkuantifikasi secara terpadu. Untuk itu, penelitian ini mengembangkan metode analisis risiko kesehatan lingkungan berbasis paradigma One Health pada DAS Citarum Hulu dengan menggunakan kerangka DPSEEA. Tahapan penelitian diawali dengan penelusuran driver dan pressure resistensi berupa pola konsumsi antibiotik, keberadaan residu antibiotik di lingkungan akuatik dan limpasan efluen yang mengandung AREc dari IPAL domestik, rumah sakit, industri dan peternakan sebagai sumber pencemar potensial). Penelitian dilanjutkan dengan identifikasi bahaya berupa pengukuran konsentrasi TEc dan rasio AREc pada sumber pencemar dan sungai, pemilihan AREc prioritas (indikator) dan penerapan metode deteksi ?-d-glucuronidase (MPR) sebagai alternatif yang mudah dalam deteksi AREc. Risiko kesehatan dikuantifikasi melalui measurement-based QMRA untuk menilai risiko kesehatan secara cross-sectional dan model-based probabilistic SWAT-QMRA untuk mengestimasi risiko kesehatan secara spasiotemporal. Berdasarkan data 2014–2023, konsumsi antibiotik terbesar di Indonesia adalah amoxicillin (45,9%), ciprofloxacin (16,2%), cefixime (13,6%), tetracycline (9,5%), dan metronidazole (5,3%). Pada 2016–2025, residu antibiotik di Sungai Citarum Hulu terdeteksi untuk jenis ofloxacin/levofloxacin, sulfamethoxazole, trimethoprim, chloramphenicol, lincomycin, clarithromycin, cefotaxime, erythromycin, dan sulfadiazine. Ofloxacin/levofloxacin berisiko tinggi menimbulkan sifat resistensi bakteri di lingkungan akuatik dengan nilai RQ 1,64 di Segmen Nanjung dan 1,36 di Segmen Maroko yang melebihi PNEC-R. Rerata konsentrasi TEc tertinggi pada IPAL domestik terpusat (89.437 ± 76.717 CFU/100 mL), diikuti rumah sakit (48.279 ± 11.067), peternakan (22.827 ± 12.652), dan industri farmasi (8.460 ± 8.357). IPAL rumah sakit memiliki rasio konsentrasi AREc tertinggi dan spektrum resistensi terluas dibanding peternakan, domestik dan industri farmasi. Namun, IPAL di seluruh sektor tersebut terindikasi menjadi reservoir resistensi karena rasio reduksi AREc dari inlet ke outlet bernilai negatif. Di Sungai Citarum Hulu, sebagai badan air penerima, TEc meningkat saat curah hujan tinggi (2.558 ± 360 CFU/mL) dibandingkan saat curah hujan rendah (1.621 ± 300 CFU/mL), dengan jenis AREc yang paling tinggi konsentrasinya adalah Erythromycin-resistant Escherichia coli. Namun, Tetracycline-resistant Escherichia coli yang diusulkan sebagai indikator single-resistant AREc (PC1 0,869) dan ESBL-Ec sebagai indikator multi-resistant AREc (PC1 0,659) dalam surveilance AREc di Sungai Citarum Hulu. Dalam penelitian ini, terbukti juga bahwa metode MPR dapat diperhitungkan sebagai alternatif metode deteksi AREc yang lebih mudah dan cepat untuk kondisi Sungai Citarum Hulu, dengan akurasi mencapai 87,2%, sensitivitas 67,4%, dan spesifisitas 94%. Pada tahap field-based QMRA di komunitas KJA Saguling, air bersih dan air minum yang bersumber dari air tanah dan air waduk teridentifikasi sebagai sumber paparan signifikan untuk TEc, ESBL-Ec, dan CREc. Risiko gastrointestinal infection (Pannual) elah melebihi batas aman WHO untuk TEc (???? = 9,4×10?¹), ESBL-Ec (???? = 1,5×10?²), dan CREc (???? = 8,7×10?¹), sedangkan Pannual genitourinary infection dan skin infection masih memenuhi batas aman WHO. Responden dengan Pannual yang melebihi batas aman WHO memiliki potensi 1,6 kali lebih besar menjadi silent carrier. Pada tahap berikutnya, untuk mengetahui perkiraan variasi risiko kesehatan secara spasiotemporal, dilakukan pemodelan terintegrasi SWAT–QMRA menggunakan tetracycline-resistant Escherichia coli (TREc) sebagai indikator yang bersifat constant prevalent. Konsentrasi TREc hasil pemodelan SWAT berada pada rentang 2.039–33.500 CFU/100 mL dengan rerata 8.198 CFU/100 mL. Secara keseluruhan model menunjukkan kekuatan sedang (NSE = 0,077; r = 0,45; RMSE = 28.490 CFU/100 mL) sehingga masih memerlukan penguatan data input beban dari sumber pencemar. Risiko kesehatan tertinggi adalah gastrointestinal infection (Pannual = 0,62–0,83; DALY = 223.000–296.000 per 100.000 penduduk per tahun), dan masih konsisten dengan rentang DALY pada studi field-based QMRA. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kemunculan dan transmisi AREc di matriks lingkungan dapat berpengaruh pada kesehatan masyarakat, terutama pada komunitas yang masih bergantung pada air permukaan untuk air minum/air bersih. Penelitian juga mengusulkan TREc dan ESBL-Ec sebagai indikator untuk pemantauan rutin, menunjukkan kelayakan metode MPR sebagai alat surveilans sederhana, serta membuktikan utilitas SWAT–QMRA untuk memetakan risiko secara spasiotemporal sebagai dasar prioritisasi intervensi.
MODIFIKASI KIMIA FRUSTULA CYCLOTELLA STRIATA TBI DAN APLIKASINYA SEBAGAI KATALIS SIKLISASI ASETALDEHID DAN ETERIFIKASI ETANOL
Frustula (cangkang sel) diatom laut merupakan sumber silika terbarukan yang dapat didayagunakan sebagai prekursor material aluminosilikat. Saat ini penelitian diatom masih didominasi oleh identifikasi dan ekstraksi senyawa aktif sehingga pemanfaatan frustulanya belum tereksplorasi secara optimal. Penelitian ini mengeksplorasi aluminosilikat berbasis diatom untuk mengkatalisis sintesis senyawa organik sehingga memperluas cakupan aplikasi aluminosilikat yang selama ini berfokus pada reaksi perengkahan dan pirolisis. Tujuan dari riset ini adalah memodifikasi frustula Cyclotella striata TBI menjadi aluminosilikat bertopologi MFI (Al-Sil-CS) yang digunakan untuk mengkatalisis siklisasi asetaldehid dan eterifikasi etanol. Awalnya C. striata TBI dikultivasi dalam medium air laut termodifikasi hingga diperoleh biomassa basah. Biomassa tersebut kemudian dicuci dengan asam untuk menghasilkan biosilika (Sil-CS). Modifikasi biosilika menjadi aluminosilikat dilakukan secara hidrotermal menggunakan tetrapropilamonium bromida (TPABr) sebagai agen pengarah struktur. Karakteristik fisikokimia frustula diamati menggunakan mikroskop optik, mikroskop elektron pemindai (SEM), mikroskop elektron transmisi (TEM), spektroskopi inframerah transformasi fourier (FTIR), difraksi sinar-X (XRD), fluoresensi sinar-X (XRF), Brunauer–Emmett–Teller (BET), dan desorpsi amonia terprogram suhu (NH3-TPD). Aktivitas katalitik aluminosilikat berbasis frustula diamati menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa (GC-MS) dan resonansi magnet inti (NMR, 1H dan 13C). Simulasi mekanisme siklisasi ditentukan dengan metode mekanika kuantum semi empiris GFN-xTB (Geometry, Frequency, Noncovalent, Extended Tight-Binding). Hasil penelitian menunjukkan bahwa frustula C. striata TBI memiliki morfologi bulat pipih dengan pendaran warna kuning kehijauan. Analisis morfologi lebih lanjut menggunakan SEM menunjukkan diameter frustula C. striata TBI berkisar pada rentang 8–20 µm dengan permukaan cangkang biosilika berpori dengan motif yang khas (central fultoportulae, marginal fultoportulae, dan costae). Modifikasi biosilika C. striata TBI menjadi Al-Sil-CS mengubah morfologinya menjadi struktur yang semula amorf menjadi struktur kristal yang berbentuk tanda tambah tiga dimensi (+) dan ukuran diameternya mengecil pada kisaran 0,7–0,9 µm. Struktur Al-Sil-CS mengandung cincin lima anggota (5MR) khas topologi MFI yang teridentifikasi dengan pita vibrasi pada bilangan gelombang 555 cm?¹. Struktur kristal Al-Sil-CS teridentifikasi dari pola difraksi pada 2? = 7,8–8,0° dan 22,8–23,2°. Analisis lebih lanjut dengan XRF menunjukkan kristal Al-Sil-CS memiliki rasio Si/Al = 1 yang mengindikasikan atom Al telah terinkorporasi ke dalam biosilika menjadi Al-Sil-CS. Berdasarkan analisis BET, arsitektur Al-Sil-CS memiliki pola adsorpsi isoterm tipe 4 dengan histeresis tipe 3 yang mengindikasikan keberadaan pori hierarkis yang terdiri atas meso- dan mikropori dengan rerata jari-jari 5,96 nm dan luas permukaan 60,47 m2 g?1. Berdasarkan hasil adsorpsi-desorpsi amonia, Al-Sil-CS memiliki situs asam sebanyak 0,6419 mmol g?1. Aktivitas katalitik Al-Sil-CS diuji melalui dua reaksi sintesis yakni siklisasi asetaldehid dan eterifikasi etanol. Pada tahap pertama, aktivitas katalitik diamati pada siklisasi asetaldehid. Aktivitas dan selektivitas Al-Sil-CS pada siklisasi asetaldehid menjadi paraldehid dikonfirmasi melalui analisis GC-MS dan NMR (1H dan 13C). Senyawa paraldehid teridentifikasi melalui kromatogram yang menunjukkan puncak signifikan pada waktu retensi 7,68 menit dengan pola fragmentasi m/z 43, 45, 87, 89, 117, dan 132. Ikatan C–O–C paraldehid teridentifikasi melalui spektrum 13C NMR yang menunjukkan sinyal singlet pada pergeseran kimia 98,44 ppm. Lebih lanjut, peningkatan jumlah paraldehid teridentifikasi melalui ikatan O–H pada spektrum 1H NMR melalui peningkatan sinyal dobel doblet pada rentang pergeseran kimia 4–4,5 ppm (J = 2 Hz). Kombinasi data instrumen tersebut menegaskan tingginya aktivitas katalisis Al-Sil-CS pada siklisasi asetaldehid. Secara teoritis, mekanisme reaksi dipelajari melalui GFN-xTB yang memodelkan siklisasi berlangsung dalam tiga tahapan utama. Mekanisme reaksi diawali dengan protonasi satu molekul asetaldehid menghasilkan spesies karbokation (Ia), yang kemudian mengalami serangan nukleofilik oleh oksigen pada situs katalitik (OAl) membentuk struktur hemiasetal (Ib). Pada tahap kedua, proton hemiasetal memprotonasi molekul asetaldehid berikutnya dan menghasilkan karbokation baru (IIa). Selanjutnya, oksigen hemiasetal menyerang karbokation tersebut secara nukleofilik membentuk rantai dioksimetilen (IIb). Proses perpanjangan rantai ini berlanjut hingga tiga molekul asetaldehid terikat membentuk trioksimetilen (IIIa), yang diikuti oleh siklisasi menjadi cincin trioksan (IIIb). Di akhir reaksi, produk paraldehid terdesorpsi melalui transfer proton kembali ke situs katalitik. Simulasi mekanisme menggunakan metode Nudged Elastic Band (NEB) menghitung energi Gibbs yang bernilai ?G1 dan ?G2 sebesar –18,31 dan –59,12 kcal mol?1. Meskipun penentuan energi Gibbs tahap IIIb terkendala oleh jarak proton yang jauh dari situs hemiasetal, data termodinamika ini membuktikan peran muatan asam dan topologi Al-Sil-CS pada siklisasi asetaldehid menjadi paraldehid. Aktivitas katalitik Al-Sil-CS pada reaksi eterifikasi etanol dengan tert-butanol dikonfirmasi melalui analisis GC-MS. Kromatogram menunjukkan kemunculan puncak baru pada waktu retensi 2,33 menit dengan pola fragmentasi m/z 57, 59, dan 87 yang mengidentifikasi senyawa ETBE. Meskipun yield yang dihasilkan relatif kecil, penggunaan Al-Sil-CS menunjukkan selektivitas 100% terhadap ETBE tanpa terdeteksi adanya produk samping. Sebagai pembanding, reaksi menggunakan Sil- CS (kontrol negatif) hanya menghasilkan ETBE dalam jumlah yang sangat rendah (<2 mM), jauh di bawah aktivitas Al-Sil-CS yang mampu menghasilkan ETBE 10,54 mM dengan profil kinetika orde nol. Analisis lebih lanjut menunjukkan nilai Turnover Number (TON) Al-Sil-CS sebesar 16,04. Timpangnya aktivitas katalitik antara Sil-CS dan Al-Sil-CS ini membuktikan peran penting inkorporasi aluminium dalam menciptakan situs katalitik yang dapat menyintesis bahan bakar ramah lingkungan. Hasil aktivitas Al-Sil-CS pada siklisasi dan eterifikasi memvalidasi keunggulan frustula sebagai prekursor katalis terbarukan untuk aplikasi sintesis bahan kimia bernilai tinggi.
ADOPSI PRAKTIK HIJAU PADA SEKTOR KULINER UMKM: HUBUNGAN ANTARA NIAT PEMBELIAN HIJAU KONSUMEN DAN ADOPSI PRAKTIK HIJAU
Indonesia menghadapi tantangan lingkungan yang kritis yang memerlukan perhatian segera di seluruh sektor ekonomi. Dengan populasi 275,7 juta jiwa, negara ini menghasilkan 38,6 juta ton sampah pada tahun 2024, dengan hanya 34% yang dibuang dengan benar. Sektor makanan dan minuman, meskipun berkontribusi signifikan terhadap PDB (IDR 813.062 miliar dengan pertumbuhan tahunan 4,90%), merupakan kontributor utama beban lingkungan melalui limbah makanan, kemasan berlebihan, proses yang intensif energi, dan konsumsi air yang tinggi. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mewakili 99,9% bisnis Indonesia dan mempekerjakan 97% tenaga kerja, menjadikannya penting bagi pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Namun, UMKM kuliner beroperasi di bawah kendala sumber daya yang parah—modal terbatas, pengetahuan lingkungan minimal, dan skala operasional kecil—menciptakan ketegangan kompleks antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa 67% konsumen Indonesia menganggap produk berkelanjutan penting, menerjemahkan kesadaran lingkungan ini ke dalam adopsi praktik hijau aktual oleh bisnis tetap menjadi tantangan signifikan. Penelitian ini mengatasi kesenjangan kritis dalam literatur yang ada dengan menyelidiki bagaimana niat pembelian hijau konsumen mempengaruhi adopsi praktik hijau pada UMKM kuliner Indonesia melalui lensa Theory of Planned Behavior (TPB). Meskipun TPB telah divalidasi secara luas dalam perilaku lingkungan umum dan konsumsi hijau massal, tidak ada investigasi komprehensif tentang penerapannya secara khusus pada adopsi praktik hijau UMKM kuliner yang didorong oleh proses pengaruh konsumen. Studi ini memperkenalkan pendekatan pengukuran pengaruh konsumen-bisnis terintegrasi yang menetapkan keterkaitan langsung antara faktor psikologis konsumen dan adopsi praktik berkelanjutan bisnis aktual. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan desain survei cross-sectional dengan data yang dikumpulkan dari 301 konsumen Indonesia berusia 20 tahun ke atas yang telah mengunjungi atau memesan dari UMKM kuliner dalam enam bulan terakhir. Studi ini memanfaatkan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji empat hipotesis utama yang memeriksa hubungan antara sikap lingkungan, norma subjektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan, niat pembelian hijau, dan adopsi praktik hijau. Temuan empiris memberikan dukungan kuat untuk semua empat hipotesis. Sikap lingkungan muncul sebagai prediktor terkuat niat pembelian hijau dengan koefisien jalur 0,404 (t = 8,779, p < 0,001), menunjukkan bahwa keyakinan evaluatif konsumen tentang manfaat lingkungan dan tanggung jawab pribadi adalah pendorong utama niat mereka untuk mendukung UMKM kuliner hijau. Norma subjektif juga menunjukkan pengaruh signifikan pada niat pembelian hijau (? = 0,330, t = 7,113, p < 0,001), mencerminkan budaya kolektivis Indonesia di mana harmoni sosial dan konformitas kelompok sangat membentuk perilaku konsumen. Kontrol perilaku yang dipersepsikan menunjukkan efek positif dan signifikan pada niat pembelian hijau (? = 0,235, t = 4,896, p < 0,001), menyoroti bahwa persepsi konsumen tentang kemampuan mereka untuk mengidentifikasi dan mengakses UMKM hijau secara signifikan mempengaruhi niat. Yang paling menonjol, niat pembelian hijau menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan adopsi praktik hijau (? = 0,894, t = 55,288, p < 0,001), mengonfirmasi bahwa permintaan konsumen adalah mekanisme paling kuat yang mendorong UMKM kuliner untuk mengadopsi praktik berkelanjutan. Model secara kolektif menjelaskan 83,4% varians dalam niat pembelian hijau dan 79,9% varians dalam adopsi praktik hijau, menunjukkan kekuatan penjelasan yang luar biasa. Analisis mediasi mengonfirmasi bahwa niat pembelian hijau sepenuhnya memediasi hubungan antara semua tiga anteseden TPB (sikap lingkungan, norma subjektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan) dan adopsi praktik hijau. Ini memvalidasi bahwa sinyal pasar konsumen berfungsi sebagai mekanisme transmisi kritis yang menghubungkan faktor psikologis dengan perilaku lingkungan organisasi. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan bisnis kuliner skala kecil yang beroperasi di bawah kendala sumber daya yang signifikan dapat dan memang mengadopsi praktik hijau ketika sinyal permintaan konsumen cukup kuat, menunjukkan bahwa mengatasi hambatan sisi penawaran saja tidak cukup tanpa secara bersamaan menumbuhkan tekanan sisi permintaan melalui niat pembelian hijau konsumen. Studi ini memberikan tiga solusi bisnis yang dapat ditindaklanjuti untuk UMKM kuliner: mengimplementasikan sistem komunikasi praktik hijau visual yang membuat manfaat lingkungan menjadi konkret dan terukur, menciptakan program partisipasi pelanggan yang mengaktifkan norma sosial dan menyediakan cara nyata untuk berkontribusi, dan membentuk jaringan kolaboratif lingkungan untuk berbagi sumber daya dan mengatasi kendala infrastruktur. Rekomendasi manajerial menekankan membangun proposisi nilai lingkungan yang jelas, merekayasa bukti sosial melalui keterlibatan komunitas, mengurangi hambatan terhadap perilaku pembelian hijau, dan mendekati praktik hijau melalui solusi ekosistem kolaboratif. Penelitian menyimpulkan bahwa mengatasi tantangan lingkungan Indonesia di sektor kuliner memerlukan pendekatan ganda: memberdayakan konsumen untuk mengekspresikan preferensi hijau melalui keputusan pembelian sambil secara bersamaan mendukung UMKM dalam mengembangkan kemampuan untuk merespons melalui solusi praktik hijau yang dapat diakses, terjangkau, dan kolaboratif. Hubungan yang sangat kuat antara niat pembelian hijau dan adopsi praktik hijau mengonfirmasi bahwa permintaan konsumen adalah tuas paling kuat untuk mendorong keberlanjutan di sektor ini, menjadikan kultivasi permintaan sama pentingnya dengan dukungan sisi penawaran untuk mencapai dampak lingkungan yang bermakna.
PENGEMBANGAN MEMBRAN PALADIUM UNTUK PEMISAHAN HIDROGEN: STUDI INTERAKSI GAS PENGOTOR DAN RESPON TERHADAP KONDISI OPERASI DINAMIK.
Teknologi pemisahan hidrogen memiliki peran penting dalam aplikasi hidrogen sebagai energi pembawa (carrier energy) bersih masa depan. Teknologi membran berbasis paladium merupakan salah satu teknologi yang terus dikembangkan sebagai teknologi pemisahan hidrogen dengan selektivitas sangat tinggi yang mencapai 100%. Logam paladium merupakan logam dengan harga yang mahal dan langka serta memiliki ketahanan mekanik dan termal yang kurang baik. Salah satu metode untuk memperbaiki sifat tersebut adalah dengan memodifikasinya menjadi paduan dengan logam lain seperti Ag, Cu, dan Au. Membran paduan Pd-Ag dilaporkan memiliki permeabilitas H2 relatif tinggi dibandingkan dengan paduan logam lain. Sementara itu, membran paduan Pd-Ag-Au dilaporkan memiliki ketahanan kimia yang baik. Membran Pd-Ag dan Pd-Ag-Au menjadi pilihan utama dalam pengembangan membran binary dan ternary dengan selektivitas dan ketahanan kimia yang tinggi untuk proses pemisahan H2. Berbagai metode sintesis membran berbasis paladium telah dikembangkan oleh para peneliti sebelumnya. Dari berbagai metode sintesis membran tersebut, membran berbasis paladium yang menggunakan metode sintesis electroless plating memiliki permeabilitas hidrogen yang tinggi. Untuk mendapatkan metode electroless plating yang optimal, berbagai modifikasi telah dikembangkan, seperti variasi komposisi bak pelapisan, variasi bahan kimia yang digunakan, penggunaan kondisi vakum, tekanan osmosis, dan juga variasi yang berkaitan dengan prosedur pelapisan electroless plating. Studi terkait pengaruh tingkat vakum yang berbeda pada proses electroless plating terhadap karakteristik membran paduan berbasis paladium belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini akan mengkaji pengaruh aplikasi vakum pada proses pembuatan membran Pd-Ag dan Pd-Ag-Au dengan metode electroless plating. Membran paduan paladium diaplikasikan untuk pemisahan hidrogen dengan umpan berupa campuran gas. Keberadaan gas pengotor dalam umpan menjadi salah satu tantangan dalam aplikasi membran berbasis paladium. Gas pengotor di umpan dapat menjadi inhibitor maupun menjadi penyebab terjadinya fenomena polarisasi konsentrasi untuk hidrogen berpermeasi di permukaan membran paladium. Fenomena ini dapat menurunkan kinerja membran secara signifikan. Evaluasi kinerja membran Pd-Ag yang disintesis dengan bantuan vakum dipelajari dalam penelitian ini. Evaluasi kinerja membran Pd-Ag dilakukan secara tunak maupun dinamik. Evaluasi secara tunak dilakukan untuk mengetahui efek tiap gas pengotor yang terlibat terhadap nilai fluks H2. Sementara itu, operasi dinamik digunakan untuk mengurangi efek inhibisi maupun fenomena polarisasi konsentrasi yang terjadi karena kehadiran gas pengotor di sisi umpan. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengembangkan membran berbasis paladium untuk proses pemisahan hidrogen serta melakukan evaluasi kinerja membran dengan adanya gas pengotor berupa CH4, CO, CO2, dan H2O dalam keadaan tunak dan dinamik. Dalam penelitian ini, sintesis membran berbasis paladium dilakukan dengan metode electroless plating secara sirkulasi dengan modifikasi kondisi vakum. Pelapisan dilakukan secara berurutan di mana pelapisan paladium dilakukan terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan pelapisan perak. Dua tingkat vakum yang berbeda digunakan dalam proses pelapisan paladium, yaitu -1 inHg dan -5 inHg. Proses anealing dilakukan pada suhu 600 oC selama 6 jam dalam lingkungan hidrogen untuk membentuk membran paduan. Membran Pd-Ag dan Pd-Ag-Au yang dihasilkan selanjutnya dianalisis menggunakan SEM EDS, XRD, dan AFM. Evaluasi membran dilakukan secara tunak maupun dinamik dengan melibatkan empat gas pengotor berupa CH4, CO, CO2, H2O, dan Argon sebagai balancing gas pada suhu permeasi medium, yaitu 300 oC. Keempat gas tersebut merepresentasikan gas yang terlibat dalam reaksi reformasi kukus maupun kering dan juga penggeseran air gas. Evaluasi kinerja membran dilakukan dengan menggunakan rangkain peralatan uji coba membran dengan konfigurasi shell dan tube yang dilengkapi dengan mass flow controller, heater, furnace, kondensor, temperature controller, dan on-line Gas Chromatography. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan vakum dapat mempercepat deposisi logam pada permukaan alumina dan menghasilkan lapisan paladium yang lebih tipis dengan ketebalan 7,28 ± 0,57 ?m dan kekasaran permukaan rata-rata 19,27 nm. Namun, penggunaan vakum juga dapat menginisiasi terjebaknya pengotor pada permukaan membran, yang menghasilkan membran yang lebih tebal. Proses anil dengan suhu lebih rendah dan waktu yang lama dapat lebih baik membuat paduan logam yang homogen dibandingkan suhu tinggi dan waktu yang singkat. Pemilihan pendukung alumina yang baik sangat menentukan keberhasilan proses pelapisan logam. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa nilai permeabilitas H2 membran Pd-Ag (M1) pada suhu 300 oC menunjukkan nilai terbaik, yaitu 6,85 x 10-9 mol·m-1·detik-1·Pa-0,5 dibandingkan dengan membran Pd-Ag (M4) dan Pd-Ag- Au (M7). Nilai permeabilitas H2 meningkat dengan kenaikan suhu permeasi. Nilai permeabilitas H2 dipengaruhi oleh komposisi membran, metode pembuatan, dan proses anil. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa energi aktivasi membran Pd-Ag (M1), yaitu 4,12 kJ/mol lebih kecil dibandingkan nilai energi aktivasi membran Pd- Ag-Au (M7), yaitu 8,64 kJ/mol. Penambahan komponen Au dapat meningkatkan energi penghalang untuk gas berpermeasi melewati kisi logam. Selanjutnya, hasil evaluasi dengan menggunakan berbagai gas pengotor menunjukkan bahwa gas CO2, CH4, H2O, dan Ar menunjukkan efek non inhibisi pada permukaan membran Pd-Ag. Penurunan fluks H2 dengan kehadiran gas tersebut hanya karena efek pengenceran. Hal ini berbeda dengan gas CO yang menunjukkan efek inhibisi pada permukaan membran. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa efek inhibisi gas CO tidak cukup signifikan pada membran Pd-Ag dibandingkan dari berbagai laporan peneliti terdahulu. Sementara itu, membran Pd- Ag-Au memiliki CO adsorption coverage yang lebih rendah dibandingkan Pd-Ag. Hasil evaluasi Hukum Sieverts dengan kehadiran gas pengotor menunjukkan bahwa model persamaan yang dikembangkan oleh Barbierri dkk. cukup baik merepresentasikan hasil penelitian pada kondisi permeasi yang digunakan. Hasil fitting konstanta menunjukkan bahwa nilai konstanta adsorpsi gas CO lebih besar dibandingkan dengan gas lainnya. Hal ini mengindikasi ada ikatan kuat antara gas CO dan membran Pd-Ag. Hasil evaluasi dengan operasi dinamik menunjukkan bahwa operasi dinamik telah berhasil meningkatkan kinerja membran Pd-Ag. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai fluks H2 dan persen penjumputan H2 dibandingkan saat kondisi tunak. Peningkatan ini mungkin disebabkan oleh efek perturbasi yang dihasilkan dengan operasi dinamik dapat secara efektif menurunkan efek inhibisi maupun efek polarisasi konsentrasi di sisi umpan. Kondisi optimum operasi dinamik dipengaruhi oleh banyak variabel seperti nilai switching time, pola input yang digunakan, nilai amplitudo umpan, serta komposisi umpan yang digunakan. Misalnya saat menggunakan umpan gas campuran, nilai switching time optimal adalah 10 menit dengan amplitudo umpan kecil yaitu 80/120 mL/menit. Persen peningkatan fluks tertinggi sebesar 17,2% diperoleh dengan operasi dinamik dengan pola injeksi reguler selama 10 detik dengan nilai switching time 8 menit dengan menggunakan umpan gas campuran.
ANALISIS DINAMIKA MAGMATISME BERDASARKAN CITRA SATELIT SAR (SYNTHETIC APERTURE RADAR) DAN TOMOGRAFI GEMPA VULKANIK UNTUK MEMPREDIKSI FASE LETUSAN GUNUNG SINABUNG
Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung teraktif di Pulau Sumatra. G.Sinabung terletak di Sumatra Utara, Kabupaten Karo, Medan dan berada diantara zona deflasi dari Gunung Toba Purba. Secara tektonik, G. Sinabung terbentuk di dalam pull apart basin Toba dan Sesar Sumatra Sistem mempengaruhi morfologi dari kompleks Toba. Berdasarkan catatan aktivitas gunung api PVMBG, G. Sinabung kembali aktif pada tahun 2010 setelah “tertidur” selama 400 tahun. Aktivitas erupsi G. Sinabung meningkat sejak 2013 hingga berhenti di tahun 2021. Adapun aktivitas erupsi G. Sinabung berupa phreatic (2010), phreatic - phreatomagmatic (September – Desember 2013), intrusi magma dan lava flow (Desember 2013 – pertengahan 2014), pertumbuhan dan runtuhan kubah lava (Desember 2014 – pertengahan 2015), pertengahan 2015 erupsi G. Sinabung berubah menjadi dominan vulkanian hingga tahun 2021. Peningkatan aktivitas gunung api berupa deformasi permukaan, seismisitas, emisi gas, perubahan temperatur pada lava dome atau hidrotermal dapat menjadi indikator untuk mengamati gunung api sebelum terjadinya erupsi. Penelitian ini melakukan integrasi metode pengamatan satelit dan permukaan untuk mengidentifikasi karakteristik erupsi berdasarkan deformasi permukaan pada puncak gunung dan aktivitas seismik G. Sinabung. Pengamatan deformasi di permukaan dilakukan secara multitemporal menggunakan metode NSBAS dari perangkat lunak LiCSBAS. Total citra yang digunakan yaitu 1145 orbit ascending dan 765 orbit descending. Hasil pengamatan pada puncak G. Sinabung menunjukkan terjadi deformasi inflasi-deflasi dari tahun 2014 hingga 2021 (4 fase erupsi), dimana deformasi maksimum berkorelasi dengan erupsi G. Sinabung. Fenomena erupsi ini tercatat berkaitan dengan runtuhnya kubah lava. Namun, pada erupsi 19 Februari 2018 yang tercatat sebagai erupsi eksplosif dengan skala 4 VEI. Puncak G. Sinabung masih menunjukkan deformasi inflasi hingga bulan Mei 2019, yang diawali dengan erupsi freatik. Setelah erupsi kembali pada Mei 2019, kubah lava tercatat mengalami deformasi deflasi dan pada 9 Juni 2019 terjadi erupsi dengan skala 4 VEI, sama seperti 19 Februari 2018. Analisis katalog seismik PVMBG, sebelum erupsi Februari 2018 tercatat banyak gempa low-frequency dan VT-A sedangkan sebelum erupsi Juni 2019, gempa low-frequency jarang terjadi. Berdasarkan katalog seismik, erupsi Februari 2018 dan Juni 2019 menunjukkan dua sumber erupsi yang berbeda. Oleh karena itu, analisis seismik tomografi gempa lokal dilakukan untuk mengidentifikasi model magmatisme G. Sinabung pada dua waktu erupsi tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan rekaman seismik pada periode Oktober 2017 hingga Februari 2018 dan Februari hingga Juli 2019 diperoleh 1082 kejadian gempa. Pengamatan pada rentang tahun 2017 hingga Februari 2018 terdeteksi 710 kejadian gempa dengan keterangan 384 gempa vulkano-tektonik tipe A (gelombang P dan S jelas) sedangkan 326 merupakan gempa gabungan dari gempa hybrid, gempa vulkano–tektonik dangkal dan frekuensi rendah. Adapun pada rentang Maret – Juli 2019 telah teridentifikasi 372 gempa dengan rincian 176 gempa vulkano-tektonik (gelombang P dan S jelas) sedangkan 196 gempa gabungan dari gempa hybrid, gempa vulkano–tektonik dangkal dan frekuensi rendah. Selanjutnya, dari 1082 gempa yang teridentifikasi hanya 526 gempa yang dapat digunakan untuk memodelkan magmatisme G. Sinabung menggunakan tomografi seismik waktu tempuh. Hasil pemetaan hiposenter gempa, gempa terdistribusi dari G. Sinabung hingga G. Sibayak dengan rentang kedalaman dari -1 hingga 8 km. Selain itu, berdasarkan waktu periode pengamatan, gempa sebelum erupsi Februari 2018 dominan terletak di antara G. Sinabung – Sibayak sedangkan gempa sebelum erupsi Juni 2019 terdistribusi di sekitar G. Sinabung. Gempa yang terjadi diantara G. Sinabung – Sibayak dianalisis lebih lanjut menggunakan model gaya berat dari GGMplus. Berdasarkan anomali residual, gempa dikelompokkan menjadi 5 zona yaitu, Zona 1 (Z1) gempa di sekitar G. Sinabung diduga bersumber dari aktivitas vulkanik, gempa Zona 2 (Z2) diduga berasal dari Sesar yang terletak di timur G. Sinabung, gempa zona 4 diduga merupakan gempa lanjutan dari gempa tektonik yang terjadi pada 17 Januari 2017. Sedangkan, gempa Zona 3 (Z3) dan Zona 5 (Z5) belum dapat diidentifikasi dikarenakan kurangnya informasi geologi di area tersebut. Gempa Z3 dan Z5 berkorelasi dengan kontras anomali residual yang diduga menunjukkan batas litologi, zona lemah, dan struktur geologi. Berdasarkan analisis morfometri (kelurusan dan sungai), ditemukan jejak kelurusan yang memotong sungai di antara G. Sinabung – Sibayak yang menandakan jejak tektonik aktif, dan sungai yang mengalami pergeseran terbesar terletak di antara gempa di Z3. Sehingga, gempa pada Z3 diduga merupakan gempa tektonik lokal. Selanjutnya, identifikasi karakteristik litologi dan magmatisme G. Sinabung dideskripsikan berdasarkan kecepatan Vp dan rasio Vp/Vs yang dihasilkan dari tomografi seismik. Hasil uji resolusi menunjukkan bahwa area terang memiliki resolusi tinggi sedangkan gelap tidak terresolusi dengan baik dengan kedalaman dari -1 km hingga 2 km. Pada kedalaman -1 km di bawah puncak G. Sinabung, terdapat anomali Vp rendah dan Vp/Vs tinggi yang diduga merupakan magma dari G. Sinabung. Di bawah anomali ini (kedalaman 0 – 2 km) ditemukan Vp tinggi dan Vp/Vs rendah yang diduga merupakan magma yang telah mendingin dan mengeras sehingga memiliki porositas rendah dan densitas batuan meningkat. Berdasarkan hiposenter gempa sebelum erupsi, teridentifikasi gempa erupsi Februari 2018 berada di kedalaman 0.13 km di bawah puncak sedangkan gempa erupsi Juni 2019 berada di kedalaman -1.03 km. Hal ini menandakan erupsi Juni 2019 lebih dangkal dibandingkan erupsi Februari 2018. Hasil ini tervalidasi berdasarkan termobarometri mineral plagioklas yang menunjukkan temperatur sampel erupsi Juni 2019 (981oC) lebih rendah dibandingkan Februari 2018 (1034oC).
SINERGI PEPTIDA PENARGET ?-ROLL DAN EKTOIN: STRATEGI BARU UNTUK MENGHAMBAT FUNGSI NS1 VIRUS DENGUE SEROTIPE 2
Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan global dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, terutama di negara tropis seperti Indonesia. DBD disebabkan oleh virus dengue (DENV) yang disebarkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypti. DENV terdiri atas empat serotipe utama, yaitu DENV-1 hingga DENV-4, dengan DENV-2 dan DENV-3 merupakan serotipe yang paling sering menyebabkan kasus infeksi berat di Indonesia. Vaksin untuk DBD telah tersedia namun efektivitasnya masih terbatas sementara itu, antivirus spesifik yang mampu menghambat replikasi virus dengue belum ditemukan hingga saat ini. Secara struktural, DENV tersusun atas tiga protein struktural (C, prM/M, dan E) serta tujuh protein non- struktural (NS1, NS2A/B, NS3, NS4A/B dan NS5). Di antara protein non-struktural DENV, protein NS1 memiliki peran krusial dalam proses replikasi virus, mekanisme sekresi, patogenesis penyakit, serta modulasi dan penghindaran respons imun inang. Protein NS1 berfungsi optimal dalam bentuk dimer dan hexamer (trimer dari dimer). Protein NS1 memiliki tiga domain, di mana domain ?-roll berperan sebagai elemen kunci dalam pembentukan antarmuka dimer. Domain ?-roll ini terdiri atas 19 residu asam amino dari masing-masing rantai yang saling berinteraksi membentuk dimer NS1 yang stabil. Dengan demikian, domain ini menjadi target yang sangat menjanjikan untuk intervensi terapeutik, karena gangguan terhadap struktur ?-roll diperkirakan dapat menghambat proses dimerisasi dan menurunkan fungsi biologis NS1. Pendekatan terapeutik berbasis peptida telah banyak dieksplorasi sebagai inhibitor untuk berbagai protein virus dengue. Peptida sintetik memiliki keunggulan dalam hal spesifisitas dan kemampuan meniru antarmuka alami protein–protein. Namun demikian, kendala utama peptida terapeutik adalah rendahnya stabilitas dan bioavailabilitas in vivo akibat degradasi oleh enzim protease serta keterbatasan difusi dalam sistem biologis. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan sistem ko-pelarut menggunakan ektoin, yaitu osmolit alami bermuatan zwitterion yang dikenal berperan sebagai chemical chaperone untuk menstabilkan protein dan peptida dalam lingkungan air. Penggunaan ektoin diharapkan dapat meningkatkan kestabilan struktural dan afinitas pengikatan peptida terhadap target proteinnya. Inovasi utama penelitian ini adalah sintesis peptida 19-mer yang urutannya berasal dari urutan ?-roll protein NS1 DENV-2, karena serotipe ini diketahui memiliki tingkat virulensi yang lebih tinggi, asosiasi yang kuat dengan manifestasi klinis berat, serta dominasi epidemiologis yang luas di wilayah endemik, termasuk Indonesia. Oligopeptida ini diharapkan berfungsi sebagai pengganggu terbentuknya dimer NS1 sehingga dapat menurunkan atau bahkan menghilangkan fungsi biologis NS1 dalam patogenitas DBD. Peptida ini kemudian dievaluasi secara in vitro untuk menilai potensinya dalam mengganggu struktur dan fungsi NS1. Serangkaian pengujian dilakukan untuk memperoleh data komprehensif meliputi: (1) Surface Plasmon Resonance (SPR) untuk menentukan afinitas dan parameter termodinamika interaksi peptida–NS1; (2) Circular Dichroism (CD) spectroscopy untuk mengamati perubahan struktur sekunder protein target setelah pengikatan; dan (3) Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk menilai perubahan kemampuan pengenalan NS1 oleh antibodi spesifik setelah berinteraksi dengan peptida. Selain itu, analisis komputasi menggunakan penambatan molekuler (HADDOCK) dan simulasi dinamika molekul (AMBER FF19SB, 500 ns) dilakukan untuk menganalisis mode pengikatan, jaringan kontak antarmolekul, serta kestabilan kompleks selama waktu simulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peptida ?-roll berikatan kuat dengan NS1, dengan nilai konstanta disosiasi (KD) sebesar 0,14 ± 0,01 ?M dan perubahan energi bebas Gibbs (?G) sekitar ?9,34 ± 0,08 kkal/mol, menandakan interaksi yang kuat. Penambahan ektoin sebagai ko-pelarut meningkatkan kestabilan dan afinitas pengikatan, menghasilkan nilai KD 0,12 ± 0,01 ?M dan ?G ?9,44 ± 0,06 kkal/mol. Analisis statistik menunjukkan peningkatan yang bermakna (p < 0,05) antara kondisi dengan dan tanpa ektoin, mengindikasikan peran ektoin dalam memperkuat interaksi peptida–NS1. Spektrum CD memperlihatkan penurunan konten ?-sheet sebesar sekitar 9% ± 0,1% serta penurunan proporsi ?-heliks, menunjukkan terjadinya disrupsi elemen struktural di sekitar domain ?-roll. Sementara itu, hasil ELISA menunjukkan penurunan nilai absorbansi OD450 secara konsentrasi-dependent, menggambarkan berkurangnya pengenalan NS1 oleh antibodi spesifik akibat perubahan struktur NS1. Analisis in silico melalui penambatan molekul menunjukkan bahwa peptida berikatan kuat pada area sekitar domain ?-roll monomer NS1. Ketika dilakukan penambatan molekul terhadap kompleks dimer, terbentuk konfigurasi NS1–peptida–NS1, di mana keberadaan peptida pada antarmuka ?-roll mencegah interaksi langsung antar-rantai NS1. Kondisi ini mengubah orientasi dimer alami sehingga kompleks dimer tidak lagi terbentuk secara sempurna, menandakan potensi peptida untuk menghambat proses dimerisasi NS1 secara kompetitif. Selanjutnya, hasil simulasi dinamika molekul 500 ns menunjukkan trajektori RMSD yang stabil dan jaringan ikatan hidrogen yang persisten sepanjang waktu simulasi. Perhitungan energi bebas pengikatan menggunakan metode MM-PBSA dan MM- GBSA menghasilkan nilai masing-masing ?0,9 kkal/mol dan ?19,56 kkal/mol, yang menegaskan kestabilan kompleks peptida-NS1 dan kontribusi dominan gaya elektrostatik serta van der Waals terhadap interaksi yang terbentuk. Secara keseluruhan, hasil eksperimental dan komputasional mendukung hipotesis bahwa peptida turunan domain ?-roll mampu mengganggu struktur dan fungsi NS1 melalui mekanisme kompetitif terhadap antarmuka dimerisasi. Penambahan ektoin terbukti berkontribusi dalam meningkatkan stabilitas interaksi peptida, baik secara termodinamika maupun struktural. Temuan ini memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk pengembangan terapi peptida berbasis ?-roll yang distabilkan osmolit sebagai pendekatan baru untuk menekan morbilitas dan mortalitas DBD, khususnya yang disebabkan oleh DENV-2.
KOMPOSIT HIDROGEL TOPIKAL MENGANDUNG MEMBRAN AMNION MANUSIA DAN SPIDROIN UNTUK PENYEMBUHAN LUKA KULIT MENCIT MUS MUSCULUS YANG DIINDUKSI DIABETES MELITUS
Pemanfaatan membran amnion manusia (human amnion membrane, hAM) telah diidentifikasi sebagai pilihan alami yang menjanjikan untuk regenerasi luka kulit dan pengobatan lesi kulit, termasuk luka kulit kronis yang disebabkan penyakit diabetes melitus (DM). hAM terdiri dari sel epitel dan fibroblas sehingga rentan terhadap penolakan dan pelepasan faktor pertumbuhan. Oleh karena itu, sel epitel harus dideselularisasi namun apabila hAM dideselularisasi, maka dapat menurunkan sifat mekaniknya maka perlu menggunakan material komposit yang memiliki stabilitas mekanik seperti spidroin sehingga hAM bisa digunakan lebih efektif sebagai dressing luka. hAM dapat memberikan sinyal biologis dan faktor pertumbuhan sedangkan spidroin menyediakan struktur kuat dan stabilitas mekanik. Penggunaan hidrogel sebagai bentuk penghantaran material telah mendapat perhatian dibidang medis karena sifatnya mampu mempertahankan kelembapan di area luka yang dapat mempercepat regenerasi jaringan dan dapat mengurangi rasa sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi efek potensial penyembuhan luka kulit kronis melalui aplikasi hidrogel topikal yang mengandung komposit human amnion membran decellularization (hAMD) dan spidroin dibandingkan dengan kelompok kontrol. Adapun kelompok kontrol terdiri dari; i) kelompok sehat, ii) kelompok kontrol DM tanpa perlakuan, iii) kelompok kontrol DM perlakuan karbopol, iv) kelompok kontrol DM perlakuan hAM komersial. Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis (histopatologi). Metode penelitian, hAM sebelum digunakan terlebih dahulu dideselularisasi menggunakan metode kimiawi. Spidroin diekstraksi dari jaring laba-laba Argiope appensa menggunakan asam format. Selanjutnya komersial, hAMD, spidroin dan komposit diformulasikan dalam bentuk hidrogel dan dikarakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), Attenuated Total Reflection-Fourier Transform Infrared Spectroscopy (ATR-FTIR), uji viabilitas hidrogel secara organoleptik, uji pH, fraksi gel, dan swelling ratio. Mencit jantan (Mus musculus) galur Swiss Webster diinduksi sampai diabetes melitus melalui penyuntikan aloksan secara intraperitoneal. Pengujian dilakukan 2 tahap; tahap pertama merupakan uji pendahuluan untuk menentukan konsentrasi hidrogel terbaik, konsentrasi 10 atau 15%. Adapun kelompok yang diujikan terdiri dari; i) hAM komersial 10%, ii) hAM komersial 15%, iii) hAMD 10%, iv) hAMD 15%, v) spidroin 10%, vi) spidroin 15%, vii) komposit 10% (komposit yang mengandung hAMD 10% dan spidroin 10%), viii) komposit 15% (komposit yang mengandung 15% hAMD dan 15% spidroin). Tahap selanjutnya adalah uji lanjutan dengan pemberian hidrogel menggunakan konsentrasi yang telah ditentukan. Kelompok DM perlakuan, diberi hidrogel sebanyak 3 kali (pagi, siang dan malam) setiap hari dengan cara topikal. Penyembuhan luka dievaluasi secara makroskopik pada hari ke 3,7,14 dan 21 setelah perlakuan. Selanjutnya mencit di eutanasia, dilakukan pengolahan jaringan untuk menganalisis (1) tahap inflamasi (hari ke 3) dengan menghitung jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit). (2) Tahap proliferasi (hari ke 7 dan 14) dan (3) tahap remodeling (hari ke 21) dengan menghitung dan menganalisis jumlah pembuluh darah baru (angiogenesis), fibroblas, re-epitelisasi, kolagen, dan TGF-?. Perubahan histopatologi luka kulit dianalisis menggunakan pewarnaan histologi diantaranya; i) Hematoxylin Eosin (HE) untuk sel inflamasi, angiogenesis, fibroblas, dan sel epitel. ii) Pewarnaan Trichrome masson (TM) untuk menganalisis kolagen dan iii) pewarnaan Immunohistochemistry (IHC) untuk visualisasi Transforming Growth Factor-beta (TGF-?). Hasil penelitian ini menunjukkan, hAM yang dideselularisasi sudah tidak memiliki sel epitel dibandingkan dengan hAM tanpa deselularisasi (fresh). Berdasarkan hasil ATR-FTIR, spektra FTIR sampel hAMD memiliki karakteristik puncak pada wavenumber 1650 (amida I), 1550 (amida II), 1450, dan 1200 amida III), sedangkan sampel spidroin mempunyai karakteristik puncak pada 1530 cm-1 (amida II). Keberadaan gugus amida menunjukkan bahwa hAMD masih mempertahankan sifat bioaktif dan biokompatibel, sehingga dapat berfungsi sebagai matriks penopang alami yang dapat mempercepat proses epitelisasi serta penutupan luka. Hasil uji penentuan konsentrasi pada hari ke 21 diantaranya; i) hAM komersial 15%, ii) hAMD 15%, iii) spidroin 15% dan iv) komposit 10% menyebabkan penutupan luka secara signifikan (p<0,05) lebih cepat dibandingkan konsentrasi lain. Hasil pengamatan makroskopik, penutupan luka pada kelompok mencit DM perlakuan komposit 10% lebih baik dan lebih cepat 33% dibandingkan dengan kelompok kontrol sehat dan 40% dibandingkan dengan kelompok DM tanpa perlakuan. Apabila dibandingkan dengan kelompok perlakuan lain seperti kelompok kontrol karbopol, kelompok kontrol komersial, kelompok perlakuan hAMD dan kelompok perlakuan spidroin, kelompok mencit perlakuan komposit 10% penutupan lukanya lebih cepat 15-20%. Hasil penutupan luka makroskopik sejalan dengan hasil histopatologi masing-masing kelompok baik kelompok mencit DM tanpa perlakuan dan DM semua perlakuan. Pada fase inflamasi, komposit 10% mampu memfasilitasi proliferasi sel inflamasi. Pada fase proliferasi, komposit 10% juga mampu membentuk angiogenesis, fibroblas, reepitelisasi, meningkatkan sintesis kolagen dan TGF-?. Pada fase remodeling, jumlah sel inflamasi, angiogenesis, fibroblas, re-epitelisasi, dan sintesis kolagen terjadi penurunan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok DM tanpa perlakuan dikarenakan sudah terjadi penutupan luka. Visualisasi TGF-? pada kelompok DM komposit 10% terdapat peningkatan dari hari ke 3,7,14 dan pada hari ke 21, jumlah TGF-? terjadi penurunan sehingga kecil kemungkinan terjadinya pertumbuhan jaringan parut yang berlebih dan menonjol di atas bekas luka. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan, hidrogel topikal yang mengandung hAMD 15%, spidroin 15% maupun komposit 10% memiliki potensi dalam penyembuhan luka kronis pada mencit yang diinduksi diabetes, namun yang paling cepat dalam penutupan luka dari 3 kelompok diatas adalah hidrogel topikal mengandung komposit 10%.
COMPUTATIONAL STUDY OF CALLUS EVOLUTION FROM REPAIR TO REMODELLING IN INTRAMEDULLARY-NAILED FEMUR FRACTURES
Penyembuhan tulang setelah fiksasi intramedullary nailing tidak berhenti saat jembatan tulang pertama kali terbentuk, karena callus masih harus beradaptasi terhadap lingkungan mekanis selama remodelling jangka panjang. Penelitian ini mengembangkan kerangka komputasional untuk menghubungkan fase perbaikan dan remodelling pada fraktur femur yang ditangani dengan intramedullary nail. Model fraktur femur berbasis CT diberi kondisi pembebanan berjalan fisiologis. Fase perbaikan disimulasikan menggunakan algoritma mechanoregulation yang dimodifikasi hingga terbentuk jembatan tulang kontinu. Morfologi callus yang dihasilkan kemudian ditransfer ke simulasi remodelling yang dikendalikan oleh stimulus strain energy density dan microdamage. Model ini digunakan untuk mengevaluasi perubahan morfologi callus, distribusi sifat material, daerah tidak aktif, serta pembagian beban antara callus dan implan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa jembatan callus bagian tengah mengalami peningkatan kekakuan dan densitas secara bertahap, sedangkan daerah callus perifer dengan stimulus mekanis rendah cenderung mengalami resorpsi. Temuan ini menunjukkan bahwa remodelling pasca-perbaikan berlangsung tidak seragam secara spasial dan sangat dipengaruhi oleh transfer beban lokal di sekitar intramedullary nail. Kerangka ini dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi pengaruh skenario rehabilitasi atau pembebanan yang berbeda terhadap penyembuhan fraktur jangka panjang dan stress shielding akibat implan.
CELAH STRUKTURAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR LINTAS-DAERAH : ANALISIS HAMBATANKOORDINASI HORIZONTAL DAN KERANGKA ALTERNATIF AGREGASI VERTIKAL
Penelitian ini menguji kelayakan model Build-Transfer-Lease (BTL) dalam kerangka KPBU Indonesia untuk pembiayaan infrastruktur daerah, serta merumuskan prinsip reformasi regulasi jika model tersebut tidak dapat diterapkan. Penelitian dilatarbelakangi oleh celah struktural yang teridentifikasi melalui Indeks Kesenjangan Implementasi (IGI) sebesar 86,6% terdiri dari Fiscal Gap (86%), Scale Gap (93%), Coordination Gap (100%), dan Regulatory Gap (67,5%) serta keterbatasan model KPBU Indonesia yang berbasis BOT termodifikasi untuk infrastruktur skala kecil dan non-revenue-generating. Dengan pendekatan kuantitatif deskriptif-komparatif menggunakan data sekunder dari DJPK Kementerian Keuangan, Bappenas PPP Book, dokumen proyek SPAM Tuk Jambe, dan regulasi KPBU, serta survei kepada 35 ahli KPBU, penelitian menemukan bahwa model BTL tidak dapat diterapkan di bawah regulasi KPBU saat ini. Analisis konten terhadap Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 9 Tahun 2025 menunjukkan bahwa regulasi tidak mengadopsi transfer aset di awal disertai pembayaran sewa berkala, tetap mensyaratkan koordinasi horizontal, dan membatasi Availability Payment sebagai pembayaran satu arah. Kasus Tuk Jambe diframing ulang sebagai ilustrasi counterfactual BTL, di mana koordinasi horizontal bukan akar masalah melainkan konsekuensi dari syarat konsolidasi kepemilikan dalam model saat ini. Simulasi Discounted Cash Flow (DCF) empiris membuktikan bahwa agregasi vertikal melalui entitas pembiayaan pusat (BUMN) menjadi prasyarat mutlak kelayakan finansial. Dengan tarif dasar pro-rakyat (Rp 4.784/m³), proyek standalone hanya menghasilkan IRR 7,96% di bawah WACC daerah 8,90%, sehingga menjadi tidak layak. Kelayakan marjinal (IRR 7,96%, NPV positif) hanya tercapai melalui kombinasi suntikan belanja modal APBN sebagai hibah (grant) dan penurunan WACC menjadi 7,63% melalui agregasi BUMN. Penelitian merumuskan tiga prinsip reformasi directional: perluasan definisi Availability Payment (multi-pihak), pengaturan timing transfer aset di awal, dan pelonggaran syarat sektoral BUMN sebagai PJPK.