π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPENENTUAN KONTROL OPTIMAL DAN PREMI ASURANSI PADA KEAMANAN SIBER
Meningkatnya ketergantungan terhadap sistem digital menyebabkan risiko serangan siber semakin tinggi dan berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan strategi mitigasi yang mengombinasikan penerapan kontrol keamanan dan asuransi siber. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model matematika penyebaran virus siber, menentukan strategi kontrol optimal untuk menekan penyebaran virus, serta menghitung premi asuransi siber berdasarkan tingkat risiko penyebaran virus. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan suatu kerangka pemodelan yang menghubungkan dinamika penyebaran virus siber, strategi kontrol optimal, dan penentuan premi asuransi sehingga tingkat risiko penyebaran virus yang dihasilkan model dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam menentukan premi asuransi siber. Model dikembangkan menggunakan pendekatan epidemiologi kompartemen untuk menggambarkan dinamika penyebaran virus siber. Analisis model meliputi penentuan titik kesetimbangan, analisis kestabilan, perhitungan bilangan reproduksi dasar menggunakan Next Generation Matrix, analisis sensitivitas, serta penentuan kontrol optimal menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin yang diselesaikan dengan metode Forward-Backward Sweep. Model selanjutnya dikembangkan dengan laju transmisi yang bergantung pada tingkat proteksi sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter laju infeksi merupakan faktor yang paling memengaruhi penyebaran virus. Selain itu, penerapan kontrol optimal mampu menurunkan jumlah maksimum komputer terinfeksi hingga lebih dari 12% dibandingkan kondisi tanpa kontrol, sedangkan peningkatan tingkat proteksi sistem turut menurunkan tingkat risiko penyebaran virus sehingga premi asuransi yang ditentukan berdasarkan tingkat risiko juga menjadi lebih rendah. Dengan demikian, model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan strategi pengendalian dan premi asuransi siber berdasarkan tingkat risiko
PERANCANGAN STRUKTUR ORGANISASI CV SAHARA PRATAMA BERDASARKAN ALUR PROSES BISNIS
CV Sahara Pratama merupakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di industri konversi kertas yang berfokus pada proses pemotongan kertas dari gulungan besar menjadi gulungan kecil. Berdiri sejak tahun 2017, perusahaan mengalami peningkatan permintaan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan tersebut belum diimbangi dengan pengembangan pengelolaan internal perusahaan. Kondisi ini ditunjukkan oleh belum jelasnya pembagian tugas dan kewenangan, belum efektifnya pelaksanaan tanggung jawab antarbagian, serta belum terdokumentasinya proses bisnis perusahaan. Akibatnya perusahaan menghadapi permasalahan terkait beban kerja, koordinasi aktivitas, dan ketepatan waktu pengiriman. Oleh karena itu, diperlukan perancangan struktur organisasi berdasarkan alur proses bisnis. Perancangan struktur organisasi pada penelitian ini didasarkan pada teknologi organisasi berupa interdependensi antar proses bisnis. Hal ini diidentifikasi melalui pemetaan proses bisnis existing dan proses bisnis usulan berdasarkan standar acuan Process Classification Framework (PCF). Proses bisnis usulan kemudian divalidasi dan digunakan sebagai dasar identifikasi keterkaitan antar proses bisnis, departementalisasi, dan pemetaan tingkat tanggung jawab menggunakan matriks RASCI untuk menghasilkan rancangan struktur organisasi usulan perusahaan. Penelitian ini menghasilkan rancangan proses bisnis usulan yang mengintegrasikan proses bisnis existing dengan proses tambahan yang diperlukan untuk mendukung pengelolaan perusahaan. Proses bisnis yang diusulkan berfokus pada penguatan kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan pelanggan yang meningkat melalui penyelarasan strategi perusahaan, perencanaan produksi, pengelolaan kualitas, pemasaran, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan sumber daya manusia. Penelitian ini menghasilkan struktur organisasi yang terdiri atas 6 departemen dan 13 fungsi jabatan dengan tiga tingkatan hierarki. Hasil perancangan diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan dan koordinasi dalam perusahaan.
PERENCANAAN KLASIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN BERBASIS AKTIVITAS PADA UNIT KERJA PENDUKUNG INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi permasalahan inefisiensi komposisi sumber daya manusia, khususnya rasio dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hingga saat ini, belum terdapat model acuan yang mengklasifikasikan jenis tendik berdasarkan karakteristik aktivitas di setiap unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis saat ini dan proses bisnis yang seharusnya dilakukan oleh setiap unit kerja, memetakan peran pada setiap proses bisnis dengan matriks RAOSI, serta mengklasifikasikan tenaga kependidikan berbasis aktivitas pada empat Unit Kerja Pendukung (UKP) ITB, yaitu Ditmawa, DSDM, DKST, Ditkeu. Penelitian ini menggunakan kerangka workforce planning ISO 30409:2016 dengan pendekatan task-based segmentation. Pemetaan proses bisnis dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pejabat struktural di setiap direktorat yang divalidasi dengan peraturan yang berlaku serta standar acuan. Model klasifikasi dikembangkan berdasarkan empat dimensi penilaian yaitu Strategic Value, Uniqueness, Needs Private Information Access, dan Repetitiveness and Standardization of the Task. Penilaian dilakukan melalui kuesioner berskala ordinal 1β4 yang diisi oleh pejabat struktural, dengan hasil yang kemudian divalidasi kepada pimpinan masing-masing unit. Proses bisnis saat ini berjumlah 236 (Ditmawa), 261 (DSDM), 243 (DKST), dan 344 (Ditkeu). Setelah evaluasi kesesuaian, proses bisnis yang seharusnya dilakukan bertambah menjadi 347, 309, 360, dan 421 untuk masing-masing direktorat. Dari keseluruhan proses bisnis dengan operate pada level staf, hasil klasifikasi menunjukkan dominasi kategori tendik tetap di seluruh unit yaitu 162 aktivitas di Ditmawa, 84 di DSDM, 165 di DKST, dan 199 di Ditkeu. Sisanya terdistribusi pada kategori KJP/MK, dan TAD. Penelitian ini menghasilkan model klasifikasi tenaga kependidikan berbasis aktivitas yang dapat digunakan sebagai acuan oleh DSDM ITB dalam perencanaan, rekrutmen, dan penempatan tenaga kependidikan, serta menjadi landasan implementasi pada seluruh Unit Kerja Pendukung di ITB.
MANAJEMEN RISIKO MALPRAKTEK SEBAGAI RISIKO PERUSAHAAN DI RUMAH SAKIT (STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT UMUM PINDAD TUREN)
Pada pelaksanaan pelayanan kesehatan, hubungan antara dokter dan pasien menghasilkan suatu persetujuan dalam pemberian dan penerimaan pelayanan medis yang dapat dibenarkan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan identifikasi dan penilaian risiko malpraktik sebagai bagian dari manajemen risiko korporasi di Rumah Sakit Umum Pindad Turen sebelum terjadinya kasus malpraktik operasi katarak tahun 2024, serta faktor-faktor dalam manajemen risiko korporasi di Rumah Sakit Umum Pindad Turen menyebabkan kegagalan pencegahan risiko malpraktik pada kasus operasi katarak tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Anali sis penelitian ini dilakukan dengan pendekatan tematik deduktif yaitu menggunakan kerangka konseptual Governance, Risk and Compliance (GRC) sebagai dasar dala m menetapkan tema, kategori dan kode awal sebelum proses analisis data dimulai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan identifikasi dan penilaian risiko malpraktik sebagai bagian dari manajemen risiko korporasi di Rumah Sakit Umum Pindad Turen sebelum terjadinya kasus operasi katarak tahun 2024 menunjukkan si stem manajemen risiko telah diterapkan melalui pendekatan GRC. Pada aspek gove rnance, rumah sakit telah memiliki struktur tata kelola yang mendukung pengelolaa n risiko melalui penerapan clinical risk management yang terintegrasi dalam sistem mutu, pre-operative assessment, SOP, WHO Surgical Safety Checklist, risk register clinical audit dan sistem pelaporan insiden. Pada aspek risk management, identifika si dan penilaian risiko dilakukan melalui klasifikasi tingkat risiko sebagai dasar pen gambilan keputusan klinis dan penyusunan langkah mitigasi. Namun aspek complia nce, implementasi beberapa prosedur belum dilaksanakan secara konsisten terkait p elaksanaan skrining pra operasi yang belum didukung pemeriksaan kadar gula dara h pada tahap awal pelayanan, belum adanya standar baku mengenai batas aman kad ar gula darah sebagai dasar penundaan operasi, pelaksanaan tindak lanjut pascaoper asi yang belum optimal, serta belum seragamnya pelaporan insiden dan komunikasi antar unit. Faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan pencegahan risiko malpraktik pada kas us operasi katarak tahun 2024 di Rumah Sakit Umum Pindad Turen diidentifikasi m elalui Fishbone Analysis yang menunjukkan penyebabnya berasal dari berbagai fakt or yang saling berkaitan. Pada aspek Man, kegagalan dipengaruhi oleh variasi komp etensi, pengalaman, kedisiplinan dan kepatuhan tenaga medis terhadap prosedur, se rta belum optimalnya budaya pelaporan risiko. Pada aspek Method, penyebab utama meliputi belum tersusunnya standar skrining praoperasi yang mewajibkan pemeriks aan GDS sejak kunjungan awal, belum adanya batas ambang klinis yang terstandar sebagai dasar kelayakan operasi pada pasien diabetes, serta belum optimalnya meka nisme follow-up dan pelaporan insiden. Pada aspek Equipment, faktor penyebab ber asal dari belum optimalnya pemanfaatan sistem informasi rumah sakit dan belum ter sedianya sistem peringatan dini berbasis data klinis. Pada aspek Material, kegagala n dipengaruhi oleh ketidaklengkapan informasi riwayat medis pasien serta belum te rsedianya checklist risiko praoperasi yang baku. Pada aspek Environment, tekanan b eban kerja, kondisi kegawatdaruratan dan budaya komunikasi risiko yang belum ter buka turut memengaruhi proses pengambilan keputusan klinis. Sementara aspek M anagement, kegagalan disebabkan oleh pengawasan risiko yang masih bersifat reakt if, belum optimalnya internalisasi budaya keselamatan pasien dan budaya risiko di s eluruh organisasi
INVESTIGASI POTENSI KURKUMIN-RESVERATROL SEBAGAI TERAPI KOMBINASI PADA LINI SEL KANKER PAYUDARA T47D: PENELUSURAN JALUR MEKANISME DAN TARGET MOLEKULER PROLIFERASI SEL
Kanker payudara luminal A ditandai oleh ekspresi estrogen receptor (ER) dan progesterone receptor (PR) yang berperan dalam proliferasi sel. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antiproliferatif kombinasi kurkumin (CUR) dan resveratrol (RES) pada sel T47D serta mekanismenya melalui analisis siklus sel dan ekspresi gen ER/PR. Aktivitas antiproliferatif dianalisis menggunakan Cell Counting Kit-8, distribusi siklus sel dengan flow cytometry, dan ekspresi gen menggunakan qPCR. Hasil menunjukkan IC50 kurkumin dan resveratrol berturut-turut sebesar 0,229 mM dan 6,87 mM. Kombinasi CUR-RES menginduksi akumulasi sel pada fase S dari 30,91% menjadi 44,31%. Selain itu, kombinasi CUR-RES menurunkan ekspresi gen ER dan PR secara signifikan (p<0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi CUR-RES berpotensi sebagai kandidat terapi adjuvan kanker payudara luminal A melalui penghambatan proliferasi, induksi S-phase cell cycle arrest, dan penekanan ekspresi reseptor hormon.
PERENCANAAN KLASIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN BERBASIS AKTIVITAS PADA UNIT KERJA PENDUKUNG INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi permasalahan inefisiensi komposisi sumber daya manusia, khususnya rasio dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hingga saat ini, belum terdapat model acuan yang mengklasifikasikan jenis tendik berdasarkan karakteristik aktivitas di setiap unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis saat ini dan proses bisnis yang seharusnya dilakukan oleh setiap unit kerja, memetakan peran pada setiap proses bisnis dengan matriks RAOSI, serta mengklasifikasikan tenaga kependidikan berbasis aktivitas pada empat Unit Kerja Pendukung (UKP) ITB, yaitu Ditmawa, DSDM, DKST, Ditkeu. Penelitian ini menggunakan kerangka workforce planning ISO 30409:2016 dengan pendekatan task-based segmentation. Pemetaan proses bisnis dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pejabat struktural di setiap direktorat yang divalidasi dengan peraturan yang berlaku serta standar acuan. Model klasifikasi dikembangkan berdasarkan empat dimensi penilaian yaitu Strategic Value, Uniqueness, Needs Private Information Access, dan Repetitiveness and Standardization of the Task. Penilaian dilakukan melalui kuesioner berskala ordinal 1β4 yang diisi oleh pejabat struktural, dengan hasil yang kemudian divalidasi kepada pimpinan masing-masing unit. Proses bisnis saat ini berjumlah 236 (Ditmawa), 261 (DSDM), 243 (DKST), dan 344 (Ditkeu). Setelah evaluasi kesesuaian, proses bisnis yang seharusnya dilakukan bertambah menjadi 347, 309, 360, dan 421 untuk masing-masing direktorat. Dari keseluruhan proses bisnis dengan operate pada level staf, hasil klasifikasi menunjukkan dominasi kategori tendik tetap di seluruh unit yaitu 162 aktivitas di Ditmawa, 84 di DSDM, 165 di DKST, dan 199 di Ditkeu. Sisanya terdistribusi pada kategori KJP/MK, dan TAD. Penelitian ini menghasilkan model klasifikasi tenaga kependidikan berbasis aktivitas yang dapat digunakan sebagai acuan oleh DSDM ITB dalam perencanaan, rekrutmen, dan penempatan tenaga kependidikan, serta menjadi landasan implementasi pada seluruh Unit Kerja Pendukung di ITB.
PERANCANGAN FILM INTERAKTIF ANAK RANTAU: PROSES ADAPTASI MENUJU LINGKUNGAN BARU DENGAN MELIBATKAN PENONTON DALAM MEMILIH ALUR CERITA
Mahasiswa rantau menghadapi berbagai tantangan dalam proses adaptasi sosial dan psikologis akibat perbedaan budaya, lingkungan, serta pola pergaulan di tempat baru. Dalam proses tersebut, individu dihadapkan pada beragam pilihan hidup, baik dalam konteks sosial, akademik, maupun personal, yang masing-masing memiliki konsekuensi terhadap kondisi mental dan hubungan sosialnya. Namun, fenomena ini masih jarang diangkat secara mendalam melalui media film, khususnya dalam bentuk film interaktif yang memungkinkan keterlibatan aktif penonton. Oleh karena itu, perancangan karya ini bertujuan untuk menciptakan film interaktif berjudul ResaHana yang menampilkan konsekuensi sosial dan mental diri dalam pilihan hidup mahasiswa rantau melalui pendekatan visual dan narrative storytelling. Metode perancangan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap mahasiswa rantau luar daerah Bandung. Data yang diperoleh dianalisis untuk mengidentifikasi pengalaman adaptasi, konflik sosial, serta dampak psikologis yang muncul akibat pilihan hidup yang diambil. Hasil analisis tersebut kemudian diterapkan ke dalam bentuk narasi bercabang (branching narrative) yang memungkinkan penonton menentukan alur cerita melalui pilihan-pilihan tertentu. Film interaktif ResaHana dirancang untuk iv menghadirkan pengalaman imersif, di mana penonton berperan aktif sebagai pengambil keputusan dan secara langsung merasakan konsekuensi dari pilihan tersebut. Karya ini diharapkan dapat menjadi media reflektif bagi mahasiswa rantau serta berkontribusi pada pengembangan film interaktif sebagai medium komunikasi visual yang edukatif di Indonesia.
INOVASI VEGAN LEATHER DARI LIMBAH PANGAN DAN PERTANIAN: SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK INDUSTRI FASHION
Tingginya beban lingkungan industri penyamakan kulit mendorong urgensi pengembangan material komposit alami berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi NaOH (5% dan 10%) serta rasio cairanterhadappadatan (10:1 dan 20:1 mL/g) pada proses ekstraksi alkali serat daun nanas (pineapple leaf fiber, PALF) terhadap karakteristik kulit vegan (vegan leather) berbasis matriks lateks karet alam. Komposit nonanyaman (nonwoven) hasil fabrikasi dikarakterisasi secara komprehensif, dengan kain PALF anyaman (woven, W0) digunakan sebagai variasi struktur lembaran serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH dari 5% ke 10% dan ekspansi rasio cairan terhadap padatan dari 10:1 ke 20:1 mL/g secara signifikan meningkatkan efisiensi delignifikasi serat. Fenomena ini meningkatkan interaksi antarmuka seratmatriks, di mana perlakuan NaOH 10% dengan rasio 20:1 mL/g menghasilkan kadar selulosa sebesar 88,66%, kuat tarik komposit nonanyaman sebesar 2,43 MPa, dan reduksi absorpsi air hingga 5,48% akibat struktur yang lebih homogen berdasarkan pengamatan Scanning Electron Microscopy (SEM). Pada kondisi tersebut, kulit vegan menunjukkan stabilitas yang baik dengan laju biodegradasi terkendali sebesar 8,97% massa hilang setelah 28 hari. Sebagai pembanding, variasi woven menghasilkan kuat tarik 7,78 MPa dan kuat sobek 66,44 N/mm. Dapat disimpulkan bahwa manipulasi parameter termokimia ekstraksi alkali secara langsung merekayasa sifat fungsional komposit kulit vegan untuk aplikasi mode ringan (lightweight fashion).
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015β2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015β2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015β2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015β2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015β2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
DIFERENSIASI LAYANAN DAN STRATEGI PROMOSI UNTUK MEMPERTAHANKAN PERTUMBUHAN LAYANAN TERKELOLA: STUDI KASUS PT CARIVA MITRA INOVASI
Perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi perusahaan teknologi informasi. Namun, peluang tersebut diikuti tekanan persaingan, perubahan kebutuhan pelanggan, dan tantangan dalam membangun kesadaran pasar. PT Cariva Mitra Inovasi merupakan perusahaan teknologi informasi yang berkembang dan menyediakan layanan transformasi cloud serta managed services melalui kemitraan dengan vendor teknologi global. Meskipun telah memiliki kapabilitas teknis dan memperoleh tanggapan positif dari pelanggan, perusahaan masih kesulitan mencapai target bisnis managed services dan meningkatkan awareness di kalangan calon pelanggan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor diferensiasi utama yang dipertimbangkan pelanggan dan calon pelanggan dalam memilih penyedia IT managed services, sekaligus merumuskan rekomendasi strategi promosi. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan pelanggan dan nonpelanggan, serta data sekunder. Data dianalisis melalui initial coding, focused coding, sintesis kode, dan pembentukan tema dengan menggunakan SERVQUAL, ImportanceβPerformance Analysis, VRIN, Porterβs Five Forces, analisis pesaing, dan kerangka pemasaran. Hasil penelitian menemukan enam faktor diferensiasi, yaitu nilai komersial, kepercayaan dan jaminan risiko; tata kelola, transparansi dan kejelasan komunikasi; penyelesaian insiden dan keandalan SLA; proaktivitas dan perbaikan berkelanjutan; responsivitas dan ketersediaan layanan; serta kapabilitas teknis dan keahlian optimasi. Perusahaan menunjukkan kinerja baik pada aspek responsivitas, komunikasi, kolaborasi, penanganan insiden, keandalan SLA, proaktivitas, pelaporan, dan dukungan teknis. Namun, masih diperlukan peningkatan pada fleksibilitas komersial, sertifikasi organisasi, komunikasi berorientasi bisnis, kualitas pelaporan, eskalasi pihak ketiga, inovasi proaktif, dan kompetensi engineering. Untuk meningkatkan awareness pasar, perusahaan perlu menerapkan strategi promosi berbasis kepercayaan dan kredibilitas melalui testimoni pelanggan, program referral, peningkatan visibilitas kemitraan dan sertifikasi, partisipasi tender, serta jejaring profesional.
PENGARUH AGING DAN SHOT PEENING TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA MARAGING 18NI-300 (AMS-6514)
Baja maraging 18Ni-300 merupakan baja berkekuatan tinggi yang digunakan pada komponen berkinerja tinggi, termasuk komponen senjata. Pada aplikasi tersebut, material menerima pembebanan berulang sehingga diperlukan kemampuan menahan inisiasi dan propagasi retak fatigue. Penelitian ini menganalisis pengaruh perlakuan aging, shot peening, dan kombinasi aging + shot peening terhadap sifat mekanik baja maraging 18Ni-300. Perlakuan aging digunakan untuk menganalisis pengaruh precipitation hardening, sedangkan shot peening digunakan untuk menganalisis pengaruh modifikasi permukaan terhadap ketahanan fatigue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aging meningkatkan kekerasan rata-rata dari 373 HV pada spesimen raw material menjadi 594 HV, sedangkan kombinasi aging + shot peening menghasilkan kekerasan tertinggi 651 HV. Hasil ini konsisten dengan hasil uji tarik, aging meningkatkan yield strength 104% dan tensile strength 85% dibandingkan spesimen raw material. Perlakuan aging + shot peening juga meningkatkan yield strength 95% dan tensile strength 79%. Hasil pengujian struktur mikro menunjukkan matriks utama didominasi oleh martensit. Hasil XRD mendukung hasil pengujian struktur mikro yaitu menunjukkan dominasi fasa martensit berbasis BCC (?) dan fasa minor austenit berbasis FCC (?). Pada pengujian fatigue, spesimen aging + shot peening menunjukkan ketahanan fatigue tertinggi dengan rata-rata cycle to failure 744.758, meningkat 1138% dibandingkan spesimen raw material. Sebaliknya, spesimen dengan perlakuan shot peening tanpa aging memiliki cycle to failure paling rendah karena terjadi peningkatan kekasaran permukaan yang memicu terjadinya multiple crack initiation, konsisten dengan hasil fraktografi spesimen shot peening yang memiliki banyak titik inisiasi retak. Dengan demikian, kombinasi aging + shot peening merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan ketahanan fatigue baja maraging 18Ni-300 karena mengkombinasikan penguatan presipitasi dan efek tegangan sisa tekan pada permukaan.