📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS PENGARUH KURVATUR PENGHUBUNG LENGAN-BILAH TERHADAP KARAKTERISTIK MODEL TURBIN ARUS PASANG SURUT SUMBU VERTIKAL
Turbin sumbu vertikal (VAT) merupakan jenis turbin yang memiliki poros utama tegak lurus terhadap tanah atau permukaan dasar. Salah satu tipe turbin sumbu vertikal yang umum digunakan adalah tipe Darrieus yang menggunakan basis sistem gaya angkat untuk memutar rotor. Tipe ini memiliki dua jenis konfigurasi, yakni bilah lengkung dan bilah lurus. Turbin Darrieus bilah lengkung memiliki koefisien daya lebih tinggi dan tip speed ratio dua kali lipas dibandingkan turbin Darrieus bilah lurus. Namun, bentuk turbin Darrieus bilah lengkung menyisakan celah antar-turbin sehingga blockage ratio lebih kecil, sedangkan bilah lurus dapat menutup celah dan menghasilkan blockage ratio yang lebih besar. Maka dari itu, dilakukan tinjauan terhadap turbin arus pasang surut sumbu vertikal dengan pendekatan desain yang menggabungkan kedua bentuk bilah untuk mengoptimalkan performa turbin. Bentuk dasar yang digunakan adalah turbin Darrieus bilah lurus dengan modifikasi pada bagian ujung atas dan bawah bilah yang terhubung dengan lengan turbin, atau blade tip. Bagian ujung tersebut dibentuk melengkung agar menyerupai sebagian karakteristik bilah lengkung, yang kemudian disebut sebagai kurvatur. Pengujian dilakukan menggunakan model fisik di kolam arus pada Laboratorium Gelombang, Institut Teknologi Bandung. Performa turbin arus pasang surut sumbu vertikal ditinjau berdasarkan karakteristik kecepatan sudut, percepatan sudut, torsi dinamik, koefisien torsi dinamik, koefisien thrust, dan koefisien daya. Pengujian dilakukan terhadap dua model turbin arus pasang surut sumbu vertikal, masing-masing dengan kurvatur 2.5 cm dan 5.0 cm. Pengujian dilakukan berdasarkan tiga parameter batasan, yakni seluruh bagian badan turbin terendam, nilai blockage ratio 0.093 untuk turbin dengan kurvatur 2.5 cm dan 0.085 untuk turbin dengan kurvatur 5.0 cm, dan variasi nilai inverter senilai 35 Hz, 40 Hz, 45 Hz, dan 50 Hz. Pengukuran data dilakukan dengan mengukur besar putaran turbin berdasarkan sensor gyroscope pada Inertial Measurement Unit (IMU) dan pengambilan beban thrust berdasarkan sensor load cell. Didapatkan bahwa turbin dengan kurvatur 5.0 cm memiliki kinerja dan efisiensi yang lebih baik dari turbin dengan kurvatur 2.5 cm dengan peningkatan sebesar 11.60%, 7.06%, dan 15.14% pada koefisien torsi dinamik, koefisien thrust, dan koefisien daya.
KARAKTERISASI AKUIFER AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE HIDROGEOLOGI DAN HIDROGEOFISIKA DI DAERAH TUMPANGKRASAK, KUDUS, JAWA TENGAH
Akuifer merupakan lapisan batuan sedimen yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah. Di Indonesia, sekitar 46% kebutuhan air berasal dari air tanah, tetapi pasokan air saat musim kemarau sering kali tidak terpenuhi, terutama di Pulau Jawa yang berpotensi kekeringan lebih dari 75%. Kabupaten Kudus termasuk wilayah rawan, dengan cakupan akses air minum aman hanya 23,97%. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan eksplorasi potensi akuifer dan penilaian kualitas air di daerah Tumpangkrasak, Kudus, Jawa Tengah. Daerah penelitian didominasi endapan aluvium berumur Holosen dengan geomorfologi satuan dataran aluvial di selatan Gunung Muria. Penelitian ini mengkombinasikan metode hidrogeologi dan hidrogeofisika: dua lintasan geolistrik diinterpretasikan dan divalidasi dengan sampel pengeboran sumur bor eksplorasi TK-1; Kemudian arah aliran air tanah dipetakan dengan interpolasi inverse distance weighting (IDW); IDW juga diterapkan untuk membuat peta pH dan Total Dissolved Solids (TDS) dari 37 titik sumur gali. Analisis laboratorium pada air sumur bor TK-1 berdasarkan Permenkes No. 2 Tahun 2023. Hasil menunjukkan sistem akuifer dengan aliran air tanah dari barat laut ke tenggara. Sistem tersusun atas tiga bagian: (1) Akuifer dangkal umumnya di kedalaman (0,00-30,00 m) dengan tipe akuifer pasir bebas dan semi tertekan; (2) Akuiklud lempung di kedalaman (30,00-70,00 m); dan (3) Akuifer dalam pasir tertekan tercatat pada kedalaman lebih dari 70,00 m. Beberapa kualitas air sumur tidak memenuhi ambang batas: (TDS) pada titik S-08, S-09, dan S-34 berkisar 332–413 mg/L; selisih suhu udara dan suhu air di titik S-04, S-07, S-09, S-10, S-11, S-12, S-15, dan S-16 berkisar 3,20–6,40 °C; nilai pH di titik S-04, S-23, S-24, dan S-26 tercatat rentang 6,10–6,49; dan tiga sumur berbau. Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik. Sedangkan, sumur bor TK-1 menunjukkan koliform positif dan TDS sebesar 336,50 mg/L. Hasil studi ini sebagai rekomendasi dalam mengeksploitasi air yang aman.
ANALISIS PENGARUH VARIASI PEMASANGAN SPEAKER TERHADAP KUALITAS AKUSTIK DI DALAM MASJID
Akustik pada masjid terdiri dari akustik ruang masjid dan sistem tata suara masjid. Akustik ruang berkaitan dengan geometri, material permukaan, waktu dengung, dan fenomena akustik yang terjadi di dalamnya. Sistem tata suara berkaitan dengan pengaturan/konfigurasi pengeras suara. Pengaturan pengeras suara dapat ditinjau dari tata letak, ketinggian, tipe, sudut, dan jumlah. Kualitas akustik pada masjid sangat penting untuk kelangsungan proses ibadah di dalamnya terutama kejelasan suara ucap dan kemerataan suara. Maka dari itu, kemerataan suara dan kejelasan suara ucap menjadi luaran utama yang ditinjau dalam penelitian ini. Penelitian ini berbasis simulasi dengan konsep penelusuran sinar/gelombang suara. Simulasi dibagi ke dalam dua bagian yaitu kondisi masjid tanpa sistem tata suara dan dengan sistem tata suara. Kualitas akustik masjid ditinjau dari nilai waktu dengung, kemerataan suara, dan kejelasan suara ucap. Simulasi tanpa sistem tata suara dilakukan dengan mengubah-ubah material lantai baik dalam kondisi masjid kosong maupun penuh. Simulasi dengan sistem tata suara dilakukan dengan pengaturan pengeras suara pada masjid kondisi penuh. Setiap parameter pengaturan pengeras suara divariasikan dengan dua kondisi. Pengaturan pengeras suara dilakukan sebanyak 32 kali sesuai jumlah kombinasi variasi parameter. Ruang masjid besar tidak akan memiliki waktu dengung sesuai standar jika tidak menggunakan material penyerap suara. Waktu dengung pada masjid kondisi kosong dengan variasi material lantai yaitu 2,3-13,6 detik. Waktu dengung pada masjid kondisi penuh yaitu 0,8 detik. Pada analisis tanpa interaksi antarparameter, parameter yang berpengaruh signifikan terhadap kejelasan suara ucap yaitu tata letak dan tipe pengeras suara. Tata letak melingkar lebih baik dari tata letak kolom dengan nilai kejelasan suara ucap minimal rata-rata lebih tinggi 0,005. Tipe kolom lebih baik dari tipe biasa dengan nilai kejelasan suara ucap minimal rata-rata lebih tinggi 0,004. Parameter yang berpengaruh signifikan terhadap kemerataan suara yaitu ketinggian, tipe, dan jumlah pengeras suara. Ketinggian 5 meter lebih baik dari 3 meter dengan nilai kemerataan suara rata-rata lebih rendah 1,1 dB. Tipe kolom lebih baik dari tipe biasa dengan nilai kemerataan suara rata-rata lebih rendah 1,21 dB. Jumlah 18 lebih baik dari 6 dengan nilai kemerataan suara rata-rata lebih rendah 1,13 dB. Pada analisis dengan interaksi antarparameter, parameter yang paling berpengaruh dan berdampak pada nilai kejelasan suara ucap minimal adalah tata letak (nilai estimasi 0,00475 dan nilai p < 0,001). Urutan besar dampak parameter pada nilai kejelasan suara ucap mimimal adalah tata letak, tipe, ketinggian, jumlah, dan sudut. Parameter yang paling berpengaruh dan berdampak pada nilai kemerataan suara adalah tipe (nilai estimasi 1,205 dan nilai p < 0,001). Urutan besar dampak parameter pada nilai kemerataan suara adalah tipe, jumlah, ketinggian, sudut, dan tata letak.
PERAMALAN HARGA KARET (TSR20) MENGGUNAKAN LSTM DENGAN KOREKSI EROR SVR DAN OPTIMASI HYPERPARAMETER
Harga karet TSR20 memiliki volatilitas tinggi dan dinamika yang dipengaruhi faktor pasar global, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan taktis seperti perencanaan inventori dan penetapan kontrak jangka pendek. Penelitian ini mengusulkan kerangka peramalan hibrida satu bulan ke depan yang menggabungkan Long Short-Term Memory (LSTM) sebagai peramal utama dengan Support Vector Regression (SVR) untuk koreksi residual. Akurasi dipacu melalui optimasi hyperparameter menggunakan dua metaheuristik—Particle Swarm Optimization (PSO) dan Simulated Annealing (SA). Alur kerja mencakup: praproses data harga mingguan TSR20, pembentukan sekuens input LSTM untuk menangkap struktur temporal (tren, musiman, autokorelasi), pelatihan LSTM baseline, perhitungan residual (selisih antara realisasi dan prediksi LSTM), rekayasa fitur teknikal untuk memodelkan struktur residual, pelatihan SVR pada residual, serta integrasi koreksi sehingga prediksi akhir merupakan penjumlahan keluaran LSTM dan estimasi residual SVR. Evaluasi dilakukan secara berurutan (train–validation–test) dengan metrik RMSE, MAE, MAPE, dan R2, serta perbandingan antar-varian (baseline vs. hibrida dan PSO vs. SA). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pendekatan hibrida konsisten meningkatkan kinerja dibanding LSTM baseline (RMSE 12,58; MAE 10,32; MAPE 5,77; R2 0,44 pada data uji). Optimasi hyperparameter berperan penting: varian berbasis PSO menurunkan galat uji hingga kisaran RMSE ±8,6–9,0 dan MAE ±6,7–7,0, sedangkan SA berada di kisaran RMSE ±10,7–10,8 dan MAE ±8,58–8,69. Peningkatan ini terutama datang dari kemampuan SVR memanfaatkan pola residual yang masih terstruktur (mis. sisa autokorelasi dan pergeseran waktu singkat) sehingga memperbaiki ketepatan timing dan amplitudo pada horizon satu bulan. Analisis sensitivitas mengindikasikan bahwa kombinasi unit LSTM, laju belajar, ukuran batch, epoch, dropout, serta parameter SVR (C, ?, dan kernel) yang ditata melalui PSO cenderung menghasilkan trade-off bias–varians yang lebih stabil daripada SA pada dataset ini.
PENGEMBANGAN AKSELERATOR PERANGKAT KERAS CNN BERBASIS ARSITEKTUR STREAMING DAN RECONFIGURABLE
Convolutional Neural Network (CNN) merupakan salah satu algoritma utama dalam bidang Computer Vision yang terbukti mampu memberikan akurasi tinggi pada berbagai aplikasi seperti klasifikasi citra dan deteksi objek. Namun, implementasi CNN pada perangkat dengan sumber daya terbatas, seperti edge device atau sistem Internet of Things (IoT), sering terkendala oleh kebutuhan komputasi yang tinggi serta konsumsi daya yang besar. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan akselerator perangkat keras yang mampu menjalankan komputasi CNN secara lebih efisien. Pada penelitian ini dilakukan perancangan dan implementasi akselerator CNN berbasis Field Programmable Gate Array (FPGA) dengan dua pendekatan, yaitu arsitektur streaming dan arsitektur reconfigurable. Arsitektur streaming dirancang untuk mempercepat aliran data secara berkesinambungan dengan latensi rendah, sementara arsitektur reconfigurable memberikan fleksibilitas dalam menyesuaikan konfigurasi layer CNN tanpa memerlukan sintesis ulang perangkat keras. Hasil pengujian menunjukkan bahwa akselerator berbasis streaming mampu mempercepat inference hingga 173 kali dibandingkan CPU, sedangkan akselerator reconfigurable mencapai percepatan hingga 101 kali dengan fleksibilitas konfigurasi model. Dari sisi pemanfaatan sumber daya FPGA, arsitektur streaming memaksimalkan penggunaan blok DSP hingga 205 dan 217 buah (93% dan 99%), sedangkan arsitektur reconfigurable menggunakan lebih sedikit DSP, yaitu 89 buah (40%), tapi memanfaatkan LUT dan BRAM lebih banyak, masing-masing meningkat 6% dan 20%. Dengan begitu, streaming memberikan inference yang lebih cepat 1,6 kali dibandingkan reconfigurable namun tidak memiliki fleksibelitas dan tidak dapat mengimplementasi model yang lebih kompleks. Sedangkan reconfigurable memiliki infrence yang lebih lambat namun mampu mengimplementasi dan mengubah model yang lebih kompleks tanpa perlu adanya sintesis ulang perangkat keras.
ANALISIS MORFOLOGI GADING SPESIES PROBOSCIDEA DARI PULAU JAWA DAN FLORES SERTA KAITANNYA DENGAN LINGKUNGAN PURBA
Penelitian ini bertujuan untuk membedakan morfologi antara gading Proboscidea yang banyak ditemukan di Indonesia, lebih tepatnya pada fosil gading yang ditemukan di Pulau Jawa dan Flores. Morfologi dari gading yang diamati dikaitkan dengan lingkungan purba serta kondisi geologinya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penelitian gading untuk kedepannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode biometrik dimana dilakukan pengukuran pada gading serta dengan mendeskripsikan fisik dari gading yang diamati. Hasil dari pengukuran akan dibandingkan antar spesies dan dibuat sebuah plot untuk melihat persebaran spesies dan menentukan parameter mana yang paling cocok dalam penentuan spesies dari gading yang diamati. Hasil dari penelitian ini berupa dua parameter yang paling cocok digunakan dalam identifikasi yaitu hubungan antara panjang gading dan sudut lengkungannya. Kondisi fisik dari gading juga dihubungkan dengan lingkungan purba dimana kondisi gading yang teramati dapat terlihat adaptasi serta kebiasaan pada suatu spesies.
ANALISIS KINERJA LABORATORIUM CAMPURAN HANGAT AC-WC FOAMED-ASBUTON TERHADAP KETAHANAN FATIGUE & NILAI MODULUS RESILIEN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membandingkan kinerja laboratorium antara campuran AC-WC berbasis foamed-asbuton dan foamed-aspal Pen 60/70. Penelitian ini secara spesifik berfokus pada evaluasi nilai Resilient Modulus (MR) dan ketahanan terhadap kelelahan (fatigue resistance) dari kedua jenis campuran tersebut. Pemanfaatan asbuton sebagai bahan perkerasan jalan lokal menghadapi kendala suhu pencampuran dan pemadatan yang tinggi, sehingga teknologi Warm Mix Asphalt (WMA) dengan foaming bitumen diperkenalkan sebagai solusi untuk menurunkan suhu kerja. Metodologi penelitian ini diawali dengan penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) untuk kedua campuran menggunakan metode Marshall. Selanjutnya, pengujian modulus resilien dilakukan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) pada suhu 25oC, 35oC, dan 41oC. Selain itu, pengujian ketahanan fatigue dievaluasi menggunakan four-point bending test. Proses foaming juga dianalisis untuk menentukan kadar air optimum (OWC) melalui pengujian Expansion Ratio dan Half-Life. Analisis data dilakukan dengan membandingkan parameter-parameter volumetrik dan empiris dari pengujian Marshall, seperti kepadatan, VIM, VMA, VFA, stabilitas, dan flow. Analisis juga mencakup perbandingan nilai MR dan fatigue life antara campuran HMA (Hot Mix Asphalt) dan WMA (Warm Mix Asphalt). Pengaruh penurunan kepadatan akibat proses foaming terhadap penurunan modulus dan ketahanan fatigue juga dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KAO untuk kedua jenis aspal adalah 6%. Nilai Resilient Modulus (MR) pada WMA lebih rendah dibandingkan HMA. Foaming-asbuton memiliki MR yang lebih tinggi pada suhu rendah (2113.5 MPa pada 25oC) dibandingkan Foaming-Aspal Pen.60/70, namun sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Secara keseluruhan, teknologi foaming secara signifikan menurunkan umur lelah campuran, dengan dampak yang lebih parah pada asbuton, sehingga penggunaannya belum bisa direkomendasikan untuk aplikasi perkerasan jalan yang memerlukan ketahanan tinggi.
CEKAMAN SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN, KADAR KUERSETIN, TANIN, DAN VITAMIN C TANAMAN KELOR (MORINGA OLEIFERA L.)
Tanaman pepohonan Moringa oleifera Lam. memiliki potensi tinggi sebagai sumber senyawa bioaktif, seperti kuersetin, tanin, dan vitamin C yang berperan sebagai antioksidan alami. Kandungan metabolit sekunder tersebut memiliki nilai penting dalam bidang pangan fungsional dan kesehatan. Akumulasi senyawa bioaktif dalam tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cekaman salinitas. Cekaman salinitas dapat menginduksi jalur metabolisme sekunder tanaman sebagai bentuk adaptasi terhadap stres abiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian salinitas terhadap pertumbuhan serta kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C pada tanaman kelor. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh cekaman salinitas terhadap pertumbuhan dan kandungan kuersetin, tanin, serta vitamin C pada tanaman kelor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima cekaman salinitas berupa konsentrasi NaCl (0 mM, 25 mM, 50 mM, 75 mM, dan 100 mM) selama 35 hari dengan enam ulangan pada setiap cekaman. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman dan jumlah daun yang diukur setiap minggu, serta kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C pada akhir periode cekaman. Analisis kuantitatif metabolit sekunder dilakukan secara spektrofotometrik, sedangkan data dianalisis secara statistik menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman salinitas tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan tinggi tanaman, laju pertumbuhan jumlah daun, dan kadar kuersetin tanaman kelor. Cekaman salinitas 50 mM menghasilkan kadar tanin tertinggi sebesar 18,02 ± 0,61 g(GAE)/kg, sedangkan cekaman 75 mM menghasilkan kadar vitamin C tertinggi sebesar 0,425 ± 0,093 mg/100 g pada tanaman kelor. Cekaman salinitas tidak berpengaruh terhadap kadar kuersetin tanaman kelor. Penelitian ini menunjukkan bahwa salinitas dapat meningkatkan kandungan metabolit sekunder pada tanaman kelor tanpa menurunkan performa pertumbuhan secara drastis.
PRARANCANGAN SISTEM PERTANIAN TANAMAN KELOR (MORINGA OLEIFERA LAM.) TERINTEGRASI BIOFLOK IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS)
Tanaman kelor (Moringa oleifera L.) dikenal kaya manfaat nutrisi dan senyawa bioaktif. Namun, produksinya dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti kelembaban tanah. Kelor memiliki potensi yang perlu dieksplorasi responsnya terhadap variasi ketersediaan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kelembaban tanah terhadap laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman dan laju pertumbuhan mutlak jumlah daun tanaman kelor, serta mengetahui pengaruh variasi kelembaban tanah terhadap kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C pada tanaman kelor. Penelitian menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan variasi kelembaban tanah berbasis %WHC (Water Holding Capacity), yaitu 100% WHC, 80% WHC, 60% WHC, 50% WHC, dan 30% WHC. Parameter yang diukur meliputi laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman, laju pertumbuhan mutlak jumlah daun, serta kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C. Analisis data dilakukan dengan One Way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% dan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman tertinggi dan jumlah daun terbanyak pada 7 hst hingga 35 hst terdapat pada perlakuan 100%WHC. Kadar tanin tertinggi terdapat pada perlakuan 30%WHC dengan nilai 0,016 mgGAE/g. Kadar Vitamin C tertinggi ada perlakuan 50%WHC dengan nilai 24,22 mg/L. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah variasi kelembaban tanah berpengaruh terhadap laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman dan laju pertumbuhan mutlak jumlah daun, tidak berpengaruh pada kadar kuersetin, dan berpengaruh terhadap kadar vitamin C dan tanin pada tanaman kelor.
ANALISIS PEMBAKARAN LEAN-PREMIXED PADA RUANG PEMBAKARAN TURBIN GAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE DINAMIKA FLUIDA KOMPUTASI
Turbin gas menghadapi tantangan utama berupa tingginya konsumsi energi dan emisi nitrogen oksida (NOx) akibat temperatur pembakaran yang ekstrem. Kondisi ini mendorong kebutuhan teknologi ruang bakar yang mampu menekan emisi tanpa mengurangi performa. Ruang bakar pra-campur miskin ditawarkan sebagai solusi dengan cara mencampur bahan bakar dan udara sebelum masuk ke ruang bakar sehingga temperatur puncak dapat dikendalikan lebih rendah dan pembentukan NOx berkurang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi rasio ekuivalensi, temperatur pemanasan, temperatur pemicu, dan panjang ruang bakar terhadap distribusi temperatur, posisi zona nyala, serta pembentukan emisi NOx pada pembakaran pra-campur metana–udara menggunakan metode Dinamika Fluida Komputasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada temperatur awal 300 K, rasio ekuivalensi 1 menghasilkan temperatur puncak 2.275 K dengan emisi NOx tertinggi yaitu 345 ppm. Peningkatan pemanasan awal menjadi 500 K dan 600 K memperluas area temperatur tinggi hingga 1,53 × 10?² m² dan meningkatkan emisi NOx sampai 1.044 ppm pada rasio ekuivalensi 1. Variasi panjang ruang bakar dari 200 mm menjadi 400 mm menaikkan temperatur outlet 69–99 K dan emisi NOx 105–843 ppm dengan nilai tertinggi pada rasio ekuivalensi 0,8 sebesar 1.921 ppm. Pemanasan awal terbukti lebih dominan dibandingkan pemicu dengan kenaikan temperatur rata-rata 251 K dan emisi NOx hingga 30 ppm sedangkan temperatur pemicu hanya memberi perubahan kecil. Temuan ini memberikan dasar rancangan ruang bakar pra-campur miskin yang menyeimbangkan stabilitas nyala, efisiensi termal, dan emisi rendah.
PENGEMBANGAN MODEL SELEKSI ALTERNATIF BIOMASSA UNTUK KEBUTUHAN CO-FIRING BATUBARA DENGAN PENDEKATAN STRUCTURAL EQUATION MODELING-PARTIAL LEAST SQUARES (SEM-PLS) DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP): STUDI KASUS PLTU PANGKALAN SUSU
Program co-firing biomassa pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan langkah strategis dalam mendukung pencapaian bauran energi nasional dan pengurangan emisi karbon. Namun, pemilihan alternatif biomassa yang tepat masih menghadapi tantangan kompleks karena keterbatasan model evaluasi yang mempertimbangkan aspek multi-dimensi secara sistematis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pemilihan alternatif biomassa berbasis integrasi Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Pendekatannya kuantitatif dalam dua tahap: (i) SEM-PLS digunakan untuk menguji hubungan kausal lima kriteria teknis, ekonomi, lingkungan, sosial, dan kebijakan/regulasi berdasarkan survei 100 responden (praktisi/pengelola biomassa PLTU) sekaligus memperoleh bobot kriteria (Aj) melalui normalisasi koefisien jalur; (ii) AHP digunakan untuk menilai 15 subkriteria dan 4 alternatif (A1–A4) oleh pakar guna memperoleh prioritas lokal alternatif per subkriteria, yang kemudian diintegrasikan menjadi skor alternatif biomassa. Hasil menunjukkan seluruh kriteria berpengaruh positif dan signifikan (p<0,05) terhadap keputusan, Hasil AHP menunjukkan bahwa kriteria sosial dan ekonomi menempati bobot tertinggi dalam pemilihan alternatif. Pada tingkat alternatif, Cangkang Sawit meraih skor alternatif biomassa tertinggi (0,298), diikuti Sekam Padi (0,293), Pelet Kayu (0,206), dan Serbuk Kayu(0,205). Secara praktis, model ini memberi alat keputusan yang komprehensif dan replikabel bagi pengelola PLTU, pembuat kebijakan, dan penyedia biomassa untuk menyusun strategi yang sejalan regulasi, berdampak sosial-ekonomi positif, efisien secara biaya, serta dapat dioperasikan secara teknis dan ramah lingkungan.
EVALUASI PAJANAN PANAS PADA PEKERJA DI PANDAI BESI DESA MEKARMAJU, KECAMATAN PASIRJAMBU, KABUPATEN BANDUNG
Desa Mekarmaju merupakan desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai Pengrajin Besi dengan total jumlah pekerja pandai besi sebanyak 563 orang. Industri pandai besi tergolong sebagai industri dengan risiko tekanan panas terhadap pekerja karena proses produksinya menggunakan suhu yang sangat tinggi. Hal tersebut dapat menyebabkan adanya risiko kecelakaan akibat kerja dan terjadi peningkatan sumber bahaya yang ada di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi bahaya pajanan panas serta dampaknya terhadap kondisi fisiologis pekerja pandai besi di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung. Metode penelitian berupa observasional analitik dengan desain penelitian sebelum dan setelah (pretest-posttest) untuk melihat perubahan kondisi fisiologis setelah terpapar lingkungan kerja panas dengan sampel sebanyak 40 pekerja. Hasil pengukuran iklim kerja menunjukkan bahwa nilai ISBB tertinggi terdapat pada kategori home industri produksi menengah (26,1°C). Faktor signifikan yang memengaruhi nilai ISBB adalah lokasi penelitian (p<0,001), luas bangunan (p=0,007), laju metabolik (p<0,001), dan durasi kerja (p=0,045). Analisis kondisi fisiologis menunjukkan terdapat perubahan signifikan sesudah bekerja dan sesudah beristirahat pada tekanan sistolik (p=0,002), tekanan diastolik (p<0,001), dan suhu tubuh (p < 0,001), yang menegaskan adanya respon fisiologis akibat pajanan panas. Analisis korelasi menunjukkan suhu tubuh memiliki hubungan positif yang signifikan dengan nilai ISBB (p < 0,001; ? = 0,540). Analisis heat strain mengungkapkan bahwa faktor utama berhubungan signifikan dengan kejadian heat strain adalah konsumsi air minum (p = 0,013). Keluhan gejala heat strain yang paling banyak dialami pekerja adalah rasa haus (39 keluhan), pegal otot (38 keluhan), dan kram otot (21 keluhan). Penelitian ini menyimpulkan bahwa lingkungan kerja pandai besi memiliki potensi bahaya signifikan terhadap kesehatan pekerja, sehingga diperlukan strategi pengendalian pajanan panas melalui pengaturan jam kerja, beban kerja, serta penyediaan hidrasi yang memadai.
PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI KADAR VITAMIN C BUAH MANGGA MULTI-VARIETAS BERDASARKAN SPEKTROSKOPI NEAR INFRARED MENGGUNAKAN PARTIAL LEAST SQUARES REGRESSION (PLSR) DENGAN METODE PEMBAGIAN DAERAH PANJANG GELOMBANG
Pengukuran kadar Vitamin C pada buah mangga (Mangifera indica L.) merupakan aspek penting untuk menentukan kualitas dan nilai gizi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi kadar Vitamin C pada mangga multi-varietas menggunakan spektroskopi near infrared dengan metode Partial Least Squares Regression (PLSR), memanfaatkan strategi pembagian daerah panjang gelombang untuk mengekstraksi fitur spektral yang paling informatif. Data spektrum dikumpulkan dari beberapa varietas mangga dan diproses menggunakan kombinasi prapemrosesan seperti, Standard Normal Variate (SNV), Multiplicative Scatter Correction (MSC), Savitzky-Golay (SG) derivative, detrending (DT), dan normalisasi vektor (VNORM). Spektrum kemudian dibagi menjadi beberapa sub-daerah untuk pemodelan terfokus, dan jumlah latent variables (LV) dioptimalkan untuk setiap kombinasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model Unifikasi dengan prapemrosesan SNV+SG-D1 memberikan performa terbaik, dengan ????2 kalibrasi = 0,937; ????2 validasi = 0,724; RMSE validasi = 7,914 mg/100g; dan RPD validasi = 1,902; mengindikasikan kemampuan prediksi yang baik pada data baru. Model ini memanfaatkan panjang gelombang spektral pada rentang (1136,7-1316,1 nm; 1430,1-1563,8 nm; dan 2176,9-2500,2 nm), sehingga mampu menangkap sinyal relevan Vitamin C dengan presisi lebih tinggi dibandingkan model pada mode Gen A dan Gen B. Hasil ini menunjukkan bahwa pembagian daerah panjang gelombang efektif dalam meningkatkan performa model PLSR untuk prediksi komponen bioaktif pada buah mangga multi-varietas.
EVALUASI METODE KOREKSI PENCAHAYAAN NON-UNIFORM PADA PENCITRAAN MIKROSKOPIK KERUTAN PERMUKAAN KULIT DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS JARINGAN SARAF KONVOLUSIONAL DAN FILTER MORFOLOGI
Analisis citra mikroskopik digunakan secara luas dalam bidang dermatologi dan industri kosmetik untuk mengevaluasi kerutan kulit secara kuantitatif. Namun, hasil analisis sangat dipengaruhi oleh kondisi akuisisi citra, terutama adanya pencahayaan tidak merata dan blur pada bagian tepi akibat perbedaan kelengkungan permukaan kulit. Permasalahan ini dapat menurunkan akurasi pengukuran parameter tekstur, seperti korelasi dan entropi. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada evaluasi metode koreksi pencahayaan non-uniform menggunakan filter morfologi dan Convolutional Neural Network (CNN) dengan membandingkan hasil koreksi terhadap kondisi ideal, yaitu citra kulit pada bidang datar. Rumusan masalah penelitian meliputi: (1) bagaimana nilai parameter kerutan kulit yang diperoleh dari citra hasil akuisisi mikroskop digital sebelum dan setelah dilakukan koreksi pencahayaan, serta (2) bagaimana perbandingan kinerja metode koreksi morfologi dan CNN. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perubahan nilai parameter kerutan kulit akibat koreksi pencahayaan dan mengevaluasi perbedaan performa kedua metode tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode morfologi secara umum memberikan hasil pengukuran yang lebih mendekati kondisi ideal dibandingkan CNN. Metode Flat Field menghasilkan rata-rata selisih korelasi sebesar 0,008 dan entropi sebesar 0,031, metode Open Close sebesar 0,011 untuk korelasi dan 0,033 untuk entropi, sedangkan CNN sebesar 0,013 untuk korelasi dan 0,138 untuk entropi. Keunggulan metode morfologi terletak pada kemampuannya meratakan distribusi intensitas cahaya sekaligus mempertahankan fitur kerutan pada citra kulit, meskipun terdapat reflektansi tinggi dan blur pada area tepi citra. Sebaliknya, model CNN yang digunakan belum optimal karena hanya melakukan koreksi pada komponen iluminasi tanpa memperbaiki blur tepi, serta dipengaruhi keterbatasan data latih dari pre-trained model yang berbasis citra kulit manusia dengan karakteristik reflektansi berbeda. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode morfologi lebih efektif dalam mengoreksi pencahayaan non-uniform pada citra mikroskopik kerutan kulit dibandingkan CNN dalam kondisi penelitian ini.
KAJIAN PERILAKU BERISIKO PENGENDARA SEPEDA MOTOR OJEK ONLINE DI INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN MOTORCYCLE RIDER BEHAVIOR QUESTIONNAIRE
Kasus kecelakaan lalu lintas di Indonesia didominasi oleh pengendara sepeda motor yaitu sebesar 76,30%. Faktor manusia pada pengendara sepeda motor masih menjadi penyebab utama tingginya angka kecelakaan. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa perilaku berisiko pengendara sepeda motor memiliki keterkaitan dengan kecelakaan, near crash dan penilangan. Namun penelitian sebelumnya hanya berfokus kepada pengendara sepeda motor secara umum di Indonesia. Mengingat pentingnya ojek online dalam kehidupan zaman sekarang, serta tantangan-tantangan yang dialami oleh pengemudi ojek online sepeda motor, diperlukan penelitian lanjut mengenai hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku berisiko pengendara sepeda motor ojek online di Indonesia yang memiliki keterkaitan terhadap insiden lalu lintas. Tujuan ini akan dicapai menggunakan kuesioner yang dikembangkan berdasarkan Motorcycle Rider Behavior Questionnaire (MRBQ) dan variabel karakteristik pengendara. Penelitian ini menggunakan 102 data pengendara sepeda motor di Indonesia yang dikumpulkan melalui pembagian survei kuesioner secara langsung dan secara online. Data perilaku berisiko tersebut diolah menggunakan metode uji regresi logistik biner. Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan gambaran umum pengendara sepeda motor ojek online di Indonesia, serta perilaku berisiko pengendara sepeda motor yang memiliki keterkaitan terhadap insiden lalu lintas. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perilaku berisiko safety violations dan stunts memiliki keterkaitan dengan insiden kecelakaan. Sementara itu, traffic errors secara parsial memiliki keterkaitan insiden terhadap near crash. Terakhir, tidak ada variabel perilaku berisiko yang terkait dengan penilangan secara simultan maupun parsial. Implikasi hasil penelitian ini adalah usulan rekomendasi untuk mengurangi atau mencegah perilaku berisiko yang meningkatkan terjadinya insiden lalu lintas dengan engineering, enforcement, dan edukasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan terdapat perbedaan perilaku berisiko pengendara sepeda motor ojek online yang memiliki keterkaitan terhadap insiden lalu lintas.