π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS PENGARUH KEGIATAN PENAMBANGAN NIKEL TERHADAP PERUBAHAN MUKA AIRTANAH PT XYZ, MALUKU UTARA
Aktivitas penambangan nikel dengan metode tambang terbuka di PT XYZ, Maluku Utara, berpotensi menimbulkan perubahan pada sistem airtanah lokal, khususnya pada muka airtanah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan muka airtanah akibat penambangan serta memprediksi debit air yang masuk ke pit. Metode yang digunakan adalah pemodelan airtanah dengan perangkat lunak Visual MODFLOW Classic, melakukan analisis kondisi steady-state pada fase sebelum penambangan dan kondisi transient setelah penambangan. Data penelitian meliputi topografi, litologi, parameter hidrolik, muka airtanah, curah hujan, dan data sungai yang diperoleh dari penelitian PT XYZ serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi muka airtanah sebelum penambangan dalam keadaan steady-state memperoleh koefisien korelasi 0,971 dengan Normalized RMS 12,393%, mengindikasikan bahwa model dapat merepresentasikan pola aliran airtanah dengan baik. Pada kondisi setelah penambangan, terjadi penurunan muka airtanah maksimum sekitar 9 meter disertai dengan pergeseran pola aliran akibat peningkatan gradien hidrolik. Debit airtanah yang masuk ke dalam pit mencapai nilai tertinggi pada tahun pertama operasi sebesar 6 L/s untuk Pit A dan 3 L/s untuk Pit B, kemudian mengalami penurunan seiring berjalannya waktu akibat proses adaptasi sistem akuifer.
JARINGAN SARAF BUATAN DARI REPRESENTASI KUIVER
Jaringan saraf buatan adalah bentuk khusus dari representasi suatu kuiver jaringan. Dengan konsep morfisma representasi kuiver dapat didefinisikan konsep morfisma jaringan saraf buatan. Dengan morfisma jaringan saraf buatan, dapat didefinisikan isomorfisma jaringan saraf buatan sehingga dapat didefinisikan jaringan saraf buatan yang isomorfik. Jaringan-jaringan saraf buatan yang saling isomorfik dapat membentuk kelas ekivalen dengan relasi ekivalen isomorfik. Himpunan kelas-kelas ekivalen ini akan disebut sebagai ruang moduli. Dalam disertasi ini telah dibuktikan bahwa jaringan saraf buatan yang isomorfik adalah syarat cukup untuk mengatakan bahwa jaringan saraf buatan tersebut memiliki fungsi jaringan saraf buatan yang sama. Dalam disertasi ini juga dikaji tentang sifat-sifat dari grup perubahan basis ruang moduli yang terbentuk. Lebih lanjut, dihitung juga dimensi dari ruang moduli yang terbentuk. Dari perhitungan dimensi tersebut diperoleh pemetaan yang disebut teleportasi titik saraf untuk mengurangi kompleksitas algoritma jaringan saraf buatan. Hasil lainnya berupa dimensi ruang moduli serta perhitungan untuk jaringan saraf buatan rekursif.
DEVELOPING AUTOMATION AND SYSTEM INTEGRATION FOR THE WEIGHING PROCESS AND DOCUMENTATION OF COAL SHIPMENTS UNDER THE FOBMV METHOD AT PT XYZ
Penelitian ini mengkaji dokumentasi pengiriman batubara di PT XYZ, sebuah perusahaan tambang milik negara, melalui metode Free on Board Mother Vessel (FOBMV). Proses penimbangan masih bergantung pada tiga sistem terpisah, Weighbridge Application (WBA), Internal Application System (IAS), dan External Verification Application (EVA), yang tidak terintegrasi serta mengandalkan input manual. Kondisi ini menimbulkan masalah berulang berupa ketidakakuratan data, inefisiensi proses, dan beban kerja berlebih, sehingga menghambat kelancaran operasi dan memperlambat pengambilan keputusan manajerial. Pendekatan mixed-method digunakan dengan menggabungkan wawancara dan observasi lapangan serta analisis kuantitatif melalui indikator seperti Tingkat kesalahan (error rate), Process Cycle Efficiency (PCE), dan Full-Time Equivalent (FTE). Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesalahan rata-rata 0,65%, 79% waktu siklus terserap oleh aktivitas non-value-added, serta kebutuhan tiga operator untuk mencapai target harian. Analisis akar masalah menegaskan bahwa penyebab utama berasal dari input manual dan ketiadaan integrasi sistem. Solusi yang diajukan, dikembangkan melalui pendekatan User-Centered Design (UCD), meliputi penerapan Radio Frequency Identification (RFID) untuk identifikasi dump truck, pembuatan Delivery Order (DO) otomatis, serta dokumen Surat Jalan Batubara (SJB) dengan kode QR. Integrasi melalui pemindaian QR di IAS dan mirroring basis data ke EVA menempatkan WBA sebagai sumber data tunggal (single source of truth). Implementasi solusi menghasilkan penurunan error sebesar 86%, peningkatan efisiensi empat kali lipat, serta pengurangan workload hingga 80%, sehingga memperkuat keandalan operasional di industri pertambangan.
DESIGNING A REAL-TIME TKDN MONITORING DASHBOARD CONCEPT AS A DECISION SUPPORT SYSTEM ALIGNED WITH AKHLAK VALUES AT PT BUKIT ASAM
Peningkatan penekanan terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam kebijakan pengadaan nasional menimbulkan kebutuhan mendesak akan sistem pelaporan yang akurat dan transparan di BUMN, termasuk PTBA. Proses pelaporan saat ini masih manual dan terfragmentasi, sehingga rawan inakurasi, inefisiensi, dan menurunnya akuntabilitas. Kondisi ini menegaskan pentingnya mekanisme pemantauan digital yang mampu mengintegrasikan data pengadaan sekaligus mendukung pengambilan keputusan etis berlandaskan nilai AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif). Penelitian ini berangkat dari proposisi bahwa dashboard terintegrasi, yang dikembangkan sebagai Decision Support System, dapat mengatasi keterbatasan pendekatan manual. Tahapan penelitian meliputi analisis kondisi eksisting, eksplorasi kebutuhan pemangku kepentingan terkait fitur visualisasi, aksesibilitas, dan transparansi, serta perumusan rancangan mock-up dashboard real-time berbasis User-Centered Design. Pendekatan ini memastikan bahwa rancangan sistem selaras dengan konteks kerja, kebutuhan aktual pengguna, serta prinsip tata kelola organisasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semiterstruktur, observasi partisipatif, dan telaah dokumen. Analisis tematik diterapkan untuk mengidentifikasi kebutuhan sistem, yang kemudian dituangkan dalam desain mock-up. Hasil rancangan menunjukkan bagaimana integrasi dan visualisasi realtime dapat meningkatkan efisiensi pemantauan, mengurangi risiko human error, dan memperkuat penerapan nilai AKHLAK dalam proses pengadaan. Penelitian ini diharapkan membuktikan bahwa dashboard TKDN real-time tidak hanya meningkatkan akurasi dan ketepatan waktu pelaporan, tetapi juga mendukung tata kelola pengadaan yang transparan, kolaboratif, dan berbasis data. Secara akademis, penelitian ini memperluas penerapan Decision Support System di sektor pertambangan dengan menambahkan kontribusi penting dari prinsip UserCentered Design serta integrasi nilai etika perusahaan.
KARAKTERISTIK BATUAN INDUK DAN PEMODELAN CEKUNGAN DI LAPANGAN NORTH AMAN, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Cekungan Sumatra Tengah merupakan cekungan dengan tipe belakang busur yang berada di sepanjang Sundaland bagian depan. Cekungan ini merupakan salah satu cekungan aktif, produktif, memiliki dua lapangan besar yaitu lapangan Minas dan Duri yang menyumbangkan 12 miliar barel minyak setara dengan 52% dari produksi total minyak di Indonesia. Sekarang ini, menjadi tantangan yang lebih berat untuk eksplorasi hidrokarbon karena kandungan hidrokarbon pada reservoir Cekungan Sumatra Tengah terus berkurang. Untuk itu, dibutuhkan konsep eksplorasi minyak dan gas bumi yang dapat mengenali karakteristik batuan induk sehingga dapat mengetahui persebaran dari hidrokarbon. Salah satu aspek yang sangat penting untuk memahami hal ini adalah membuat pemodelan cekungan terbaru sehingga dapat mengetahui persebaran dari hidrokarbon. Tujuan dari penelitian ini diantaranya mengevaluasi karakteristik batuan induk, merekonstruksi sejarah pengendapan, evolusi termal, dan generasi hidrokarbon serta menganalisa dan mengidentifikasi waktu kematangan, migrasi, dan ekspulsi batuan induk. Tahapan penelitian meliputi tahap persiapan dan studi literatur, pengumpulan data, analisis dan interpretasi data. Data yang digunakan terbagi menjadi dua yaitu data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan adalah data geokimia yang terdiri atas Total Organic Carbon (TOC), pirolisis batuan, dan reflektansi vitrinit. Data geologi yaitu log talikawat. Data sekunder yang digunakan berupa data geofisika berupa seismik 2D. Analisis data geokimia yang terdiri atas Total Organic Carbon (TOC), pirolisis batuan, dan reflektansi vitrinit akan menghasilkan karakteristik pada batuan induk yang terdiri atas kekayaan batuan induk, temperatur maksimum dalam menghasilkan hidrokarbon, dan kematangan. Analisis data geologi yang terdiri atas data log gamma ray bertujuan untuk mengetahui jenis litologi, log densitas bertujuan untuk mengetahui densitas batuan, dan log sonic untuk mengetahui porositas batuan. Data seismik 2D yang digunakan bertujuan untuk mengetahui batas formasi, kedalaman asli, dan kehadiran struktur geologi pada daerah penelitian. Setelah semua data telah dianalisis dan diinterpretasi, pemodelan cekungan 1D dilakukan untuk mengetahui sejarah pemendaman daerah penelitian. Data yang diperlukan untuk pemodelan cekungan 1D adalah data geokimia dan geologi. Selanjutnya pemodelan cekungan 2D juga dilakukan untuk mengetahui kematangan batuan induk secara lateral. Data yang diperlukan untuk pemodelan cekungan 2D adalah data geokimia, geologi, dan geofisika. Evaluasi batuan induk dilakukan pada Formasi Lower Red Bed dan Formasi Brown Shale. Hasil evaluasi batuan induk pada Sumur A menunjukkan bahwa Formasi Lower Red Bed masuk ke dalam kategori luar biasa (14.38 β 63.8 wt%) dengan tipe kerogen I β III. Untuk Formasi Brown Shale dibagi menjadi dua yaitu Formasi Brown Shale Batubara dengan kualitas luar biasa (17.19 β 55.42 wt%) dengan tipe kerogen II β III dan Formasi Brown Shale dengan kualitas baik β baik sekali (1.32 β 4 wt%) dengan tipe kerogen I β III. Batuan induk Sumur B menunjukkan bahwa Formasi Lower Red Bed masuk ke dalam kategori baik β baik sekali (1.33 β 3.16 wt%) dengan tipe kerogen II β III, Formasi Brown Shale Batubara masuk ke dalam kategori baik sekali (2.29 β 3.16 wt%) dengan tipe kerogen II β III, dan Formasi Brown Shale baik sekali (2.6 β 2.71 wt%) dengan tipe kerogen II β III. Tingkat kematangan Sumur A Formasi Lower Red Bed menunjukkan awal matang (435 β 444?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.94 β 0.95%). Sedangkan Formasi Brown Shale Batubara menunjukkan awal matang (435 β 437?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.92 β 0.96%) dan Formasi Brown Shale menunjukkan awal β akhir matang (446 β 456?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.64 β 1.01). Untuk Formasi Lower Red Bed Sumur B menunjukkan tingkat kematangan belum β awal matang (413 β 447?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.55 β 1.15%). Formasi Brown Shale Batubara menunjukkan tingkat kematangan belum β awal matang (434 β 449?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.64 β 0.67%) Sedangkan untuk Formasi Brown Shale menunjukkan tingkat kematangan awal matang (446?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.57%). Analisis pemodelan cekungan 1D pada Sumur A menunjukkan bahwa batuan induk telah memasuki jendela minyak pada tahap akhir. Generasi hidrokarbon diperkirakan telah berlangsung sejak Miosen Tengah (14.25 juta tahun lalu) dan mengalami ekspulsi pada Pleistosen. Sedangkan untuk Sumur B menunjukkan bahwa batuan induk telah memasuki jendela minyak pada tahap akhir. Generasi hidrokarbon diperkirakan telah berlangsung sejak Miosen Tengah (15.49 juta tahun lalu) dan mengalami ekspulsi pada Pleistosen untuk Formasi Lower Red Bed. Sama halnya dengan pemodelan cekungan 1D, pemodelan cekungan 2D menunjukkan bahwa batuan induk daerah penelitian telah memasuki jendela minyak pada tahap akhir (late oil). Migrasi hidrokarbon menunjukkan bahwa hidrokarbon daerah penelitian mengalami migrasi lebih ke arah vertikal dan mengalami akumulasi pada Formasi Bangko.
STRATEGI ADAPTIVE SOCIAL PROTECTION (ASP) DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN TERHADAP RISIKO MULTIHAZARD DI KOTA AMBON STUDI KASUS : KECAMATAN TELUK AMBON DAN BAGUALA, KOTA AMBON
Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi Adaptive Social Protection (ASP) untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap risiko gempa bumi dan tsunami di Kecamatan Teluk Ambon dan Baguala. Analisis dilakukan melalui pemetaan risiko bencana, kajian dampak terhadap dimensi perlindungan sosial (pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan mobilitas), serta evaluasi efektivitas distribusi bantuan sosial. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis analisis spasial dan indeks. Data diperoleh melalui studi literatur, telaah dokumen resmi, serta pengolahan data sekunder dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 68% wilayah terbangun di lokasi studi berada dalam zona bahaya, estimasi populasi terpapar mencapai 71.960 jiwa dimana 32% di antaranya merupakan masyarakat miskin yang tercatat dalam DTKS. Dampak signifikan teridentifikasi pada dimensi sosial-ekonomi, meliputi penurunan pendapatan, kerusakan fasilitas kesehatan (86% berada di zona bahaya tsunami), ancaman terhadap 19.945 anak usia sekolah, serta gangguan mobilitas akibat keterpaparan 65% jaringan jalan, terutama pada jalan arteri dan kolektor yang berperan penting dalam konektivitas dan distribusi logistik. Selain itu, distribusi bantuan sosial terbukti masih rendah dan belum responsif terhadap risiko bencana karena lebih dari 90% penduduk miskin tidak terjangkau program bantuan sosial. Strategi ASP yang diusulkan dirancang adaptif sesuai tingkat risiko dan dampak sosial, mulai dari penguatan kapasitas komunitas di wilayah berisiko rendah, integrasi perlindungan sosial dengan infrastruktur kesiapsiagaan di wilayah berisiko menengah, hingga intervensi komprehensif lintas desa pada wilayah dengan risiko sangat tinggi. Dengan demikian, ASP berperan penting dalam mengurangi dampak bencana sekaligus menjaga keberlanjutan ketahanan sosialekonomi masyarakat pascabencana.
PEMODELAN NUMERIK SISTEM PANAS BUMI KOMPLEKS KALDERA KEPAHIANG, BENGKULU, INDONESIA
Lapangan panas bumi Kepahiang di Bengkulu, Indonesia, merupakan kompleks kaldera dengan zona upflow di dalam maupun di luar batas kaldera. Konfigurasi ini mengindikasikan kendali struktur sesar terhadap distribusi fluida dan panas, sehingga pemodelan numerik diperlukan untuk lebih memahami sistem panas buminya. Penelitian ini mengintegrasikan data geologi, geokimia, dan geofisika (3G) untuk membangun model numerik tiga dimensi menggunakan perangkat lunak Volsung dengan persamaan keadaan EOS1 pada domain 146,25 kmΒ² dengan ketebalan 3,5 km. Model dikalibrasi menggunakan data geotermometer (Sempiang 275β300 Β°C; Kaba 300β330 Β°C; Grojogan Sewu 200β250 Β°C), laju alir manifestasi permukaan (Sempiang 41,76 kg/s, Grojogan 11,41 kg/s), kontur isotermal, dan data suhu sumur KPH-01. Hasil menunjukkan heterogenitas fasa antar sektor: Kaba menampilkan fenomena counterflow dengan zona uap (1088β468 mdpl, Saturasi gas 0,5β0,9), zona pendidihan (468β312 mdpl), dan zona air tekanan tinggi di bawah 468 mdpl. Sempiang memiliki zona pendidihan dangkal (312β0 m, Saturasi gas maksimum 0,32) dan dibawahnya zona air tekanan tinggi, sedangkan Grojogan Sewu berupa dominasi air dengan caprock relatif lebih tipis (780β156 m), dan temperatur lebih rendah. Pemodelan numerik menegaskan bahwa Kepahiang adalah sistem dua fasa heterogen dengan kecenderungan awal menuju sistem dominasi uap, di mana Kaba berperan sebagai pusat zona uap lokal. Karakter ini menunjukkan potensi pengembangan signifikan, meskipun kalibrasi lanjutan berbasis data sumur eksplorasi dan produksi diperlukan untuk meningkatkan akurasi model dan mendukung strategi pengelolaan reservoir secara berkelanjutan.
KARAKTERISASI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) TERFERMENTASI SEKUNDER BAKTERI ASAM LAKTAT (LACTOBACILLUS PLANTARUM) DENGAN TINGKAT PENYANGRAIAN BERBEDA
Kopi merupakan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi dengan dua jenis utama yang umum diperdagangkan, yaitu arabika dan robusta. Kopi robusta memiliki cita rasa lebih pahit serta kadar kafein lebih tinggi dibandingkan kopi arabika sehingga diperlukan pengolahan lanjutan berupa fermentasi sekunder yang dapat meningkatkan cita rasa dan aroma. Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh fermentasi sekunder menggunakan bakteri Lactobacillus plantarum dan tingkat penyangraian (roasting) berbeda terhadap karakteristik fisikokimia kopi robusta. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah metode perlakuan kopi (fermentasi dan non-fermentasi), dan faktor kedua adalah tingkat derajat roasting (light, medium, dan dark). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi kadar fenolik total, kadar kafein, dan uji organoleptik (warna, aroma, rasa, dan kenampakan). Analisis data dilakukan dengan ANOVA dilanjutkan uji Duncan pada taraf 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Senyawa volatil kopi robusta dianalisis menggunakan principal component analysis (PCA). Proses pasca panen dalam penelitian ini meliputi fermentasi 12 jam pada biji kopi robusta beras (green bean), dilanjutkan proses roasting pada tiga tingkat: ringan (light), sedang (medium), dan gelap (dark). Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu, pH, kandungan fenolik total, kadar kafein, aktivitas antioksidan, dan senyawa volatil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi sekunder selama 12 jam dan perlakuan tingkat roasting terbaik yaitu hasil roasting tingkat medium dengan kadar fenolik non-fermentasi 36,63 mg/mL dan kandungan antioksidan fermentasi 78,36%. Sedangkan kadar kafein terendah pada tingkat dark untuk fermentasi L. plantarum yaitu 15,19 ppm. Proses fermentasi dapat meningkatkan kompleksitas asam organik kopi robusta dan menurunkan nilai pH. Dengan demikian, kombinasi fermentasi sekunder menggunakan L. plantarum dan roasting tingkat sedang memberikan peningkatan kualitas kopi robusta.
SELEKSI SENYAWA AKTIF BAHAN ALAM SEBAGAI KANDIDAT INHIBITOR PROTEASE HIV-1 MENGGUNAKAN DIMER-BASED SCREENING SYSTEM
Protease HIV merupakan salah satu target utama dalam Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART) penyakit AIDS. Obat yang saat ini telah diakui FDA sebagai inhibitor protease HIV adalah Darunavir. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Darunavir memiliki dua mode aksi, yaitu mengikat sisi aktif pada bentuk dimer dan mencegah proses dimerisasi dengan berikatan pada monomer. Pengembangan obat HIV baru diperlukan sebagai respons akan meningkatnya resistensi virus terhadap terapi yang tersedia. Hal ini mendorong eksplorasi kandidat senyawa baru dengan mekanisme kerja alternatif seperti inhibisi dimerisasi protease HIV. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan penapisan senyawa bahan alam khususnya dari tanaman obat Indonesia yang berpotensi sebagai alternatif inhibitor dimerisasi protease HIV. Penapisan senyawa dilakukan secara in silico dengan analisis karakteristik farmakokimia senyawa berdasarkan standar ADMETLab 2.0 serta penilaian skor afinitas pengikatan melalui simulasi molecular docking menggunakan AutoDock Vina. Sebanyak 465 senyawa diseleksi berdasarkan kriteria kelayakan farmakokimia dan profil ADMET, kemudian 50 senyawa dengan skor terbaik dipilih untuk dianalisis lebih lanjut melalui molecular docking. Docking dilakukan antara ligan dengan reseptor molekul dimer protease HIV (PDB ID: 3OXC) pada sisi aktif dan monomer protease HIV (PDB ID: 1HHP) secara Blind docking. Senyawa terbaik hasil uji molecular docking dikonfirmasi dengan uji in vitro Dimer-Based Screening System (DBSS) HIV yang telah dikembangkan sebelumnya. Senyawa terpilih diujikan dalam bentuk senyawa murni dan carbon dots (CDs) yang disintesis menggunakan metode hidrotermal. Hasil in silico menunjukkan, dari 50 senyawa yang diujikan, afinitas pengikatan yang kuat terhadap reseptor 3OXC dan 1 HHP berturut-turut ditemukan pada Darunavir (-11,1 kcal/mol, -7,4 kcal/mol), Cassyfiline (-9,7 kcal/mol, -7,4 kcal/mol), Ocoteine (-9,6 kcal/mol, -7,3 kcal/mol), Nuciferine (-10,3 kcal/mol, -7,3 kcal/mol), dan Curcumin (-9,9 kcal/mol, -6,2 kcal/mol). Senyawa yang dianalisis lebih lanjut pada in vitro DBSS adalah Nuciferine, Nuciferine CDs, Curcumin, Curcumin CDs, dan Pyrrolic CDs. Analisis DBSS difokuskan pada Nuciferine dan Curcumin, yang dipilih berdasarkan afinitas pengikatan yang tinggi, ketersediaan bahan yang memadai, serta dukungan literatur terkait aktivitas antivirusnya. Kedua senyawa tersebut kemudian dimodifikasi menjadi carbon nanodots (Nuciferine CDs dan Curcumin CDs) untuk meningkatkan bioavailabilitas, dan turut diuji DBSS dengan Pyrrolic CDs sebagai kontrol tanpa prekursor bahan alam. Analisa docking terhadap model struktur Nuciferine CDs tidak dapat dilakukan karena struktur molekul dari Nuciferine CDs belum tersedia. Sementara analisa docking terhadap model struktur Curcumin CDs (amino, graphitic, pyrridinic, dan pyrrolic) pada molekul dimer menghasilkan nilai afinitas pengikatan yang positif akibat konformasi ligan dan reseptor yang diujikan tidak memungkinkan membentuk ikatan pada sisi aktif dimer. Akan tetapi potensi besar Curcumin CDs sebagai inhibitor protease HIV dikonfirmasi melalui docking dengan monomer (-9,4 sampai -10,1 kcal/mol). Hasil ini didukung dengan uji in vitro DBSS yang menunjukkan senyawa dengan kemampuan inhibisi dimerisasi tertinggi (nilai fluoresensi relatif), yaitu Nuciferine CDs (2473,31 RFU), Curcumin CDs 160 (2152,63 RFU), dan Curcumin CDs 200 (1979,77 RFU) pada konsentrasi 10 ppm. Dapat disimpulkan bahwa metode molecular docking dan DBSS berhasil menunjukkan kemampuan penghambatan dimerisasi protease HIV pada kandidat senyawa terpilih.
KARAKTERISASI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) TERFERMENTASI SEKUNDER SACCHAROMYCES CEREVISIAE DENGAN TINGKAT PENYANGRAIAN BERBEDA
Kopi robusta (Coffea canephora) merupakan komoditas penting Indonesia dengan cita rasa kuat dan kandungan kafein tinggi, namun kualitas sensorialnya masih perlu ditingkatkan melalui inovasi pascapanen. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh fermentasi sekunder menggunakan Saccharomyces cerevisiae serta tingkat penyangraian berbeda terhadap karakteristik fisikokimia, bioaktif, profil volatil, dan mutu organoleptik kopi robusta. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor, yaitu perlakuan kopi (fermentasi dan non-fermentasi) serta tingkat roasting (light, medium, dark), masing-masing tiga ulangan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, abu, pH, fenolik total, aktivitas antioksidan, kafein, profil volatil, dan organoleptik SCA. Hasil menunjukkan fermentasi sekunder menurunkan kadar air signifikan, dengan nilai terendah pada dark roast fermentasi (0,90%). Kadar abu tertinggi terdapat pada light roast non-fermentasi (9,79%), sedangkan pH tertinggi pada light roast fermentasi (5,43). Fenolik total dan aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh medium roast non-fermentasi (41,93 mg GAE/g; 74,20%), sementara terendah pada dark roast fermentasi. Kandungan kafein tertinggi terdapat pada medium roast non-fermentasi (2,00%). Profil volatil didominasi ester dan alkohol pada medium roast fermentasi. Uji organoleptik menegaskan medium roast menghasilkan keseimbangan terbaik aroma, rasa, dan kenampakan. Disimpulkan bahwa kombinasi fermentasi sekunder dan penyangraian medium optimal meningkatkan kualitas kopi robusta.
ALIRAN FLUIDA PADA SALURAN TERBUKA MIRING
Penelitian ini mengkaji dinamika aliran pada saluran terbuka miring, yang dimodelkan menggunakan Persamaan Saint-Venant satu dimensi. Model ini, yang diturunkan dari prinsip konservasi massa dan momentum, dilinearisasi untuk mengkaji perambatan gangguan kecil. Sistem persamaan linear yang dihasilkan kemudian diselesaikan secara numerik menggunakan skema beda hingga Forward Time Backward Space (FTBS). Hasil simulasi menunjukkan bahwa Bilangan Froude (????) merupakan parameter yang mengontrol stabilitas dan karakteristik gelombang. Ditemukan bahwa skema numerik stabil untuk ?????2, sementara nilai yang lebih rendah menyebabkan ketidakstabilan. Lebih lanjut, peningkatan Bilangan Froude dan kemiringan saluran (????) terbukti mempercepat perambatan gelombang serta meningkatkan kecuraman dan amplitudonya. Disimpulkan bahwa kemiringan saluran dan Bilangan Froude merupakan parameter dominan yang secara kolektif mengatur perambatan gelombang.
POTENSI ANTI-INFLAMASI PLANT-DERIVED EXOSOME-LIKE NANOPARTICLE (PDEN) DARI BUAH RANTI (SOLANUM NIGRUM L.) YANG TERKANDUNG DALAM HIDROGEL GELATIN-DOPAMIN PADA LINI SEL RAW 264.7
Plant-derived Exosome-like Nanoparticle (PDEN) merupakan nanovesikel yang disekresikan tumbuhan dan mengandung berbagai bahan bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa senyawa bioaktif yang terkandung pada PDEN dari buah ranti (Solanum nigrum L.) dapat berperan sebagai agen anti-inflamasi. Akan tetapi, PDEN tersebut membutuhkan metode penyimpanan yang dapat menjaga stabilitas PDEN seperti liofilisasi (freeze-dry). Selain itu, nanovesikel seperti PDEN memiliki retensi yang rendah di dalam tubuh sehingga mempengaruhi efektivitas dari PDEN. Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut adalah dengan memuat PDEN ke dalam suatu sistem hidrogel. Hidrogel gelatin-dopamin (Gel-Dop) adalah salah satu inovasi injectable thermosensitive hydrogel yang dapat diaplikasikan langsung ke area target, menjadikannya sistem pengantaran obat yang terkontrol dan minim invasi. Selain itu, hidrogel Gel-Dop juga dilaporkan memiliki aktivitas anti-inflamasi, sehingga pemuatan PDEN ke dalam hidrogel Gel-Dop berpeluang untuk menjadi alternatif pengobatan penyakit inflamasi secara in situ dan terkontrol. Meskipun demikian, penelitian yang mengombinasikan PDEN dari buah ranti dengan hidrogel Gel-Dop masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi agen anti-inflamasi PDEN S. nigrum L. terliofilisasi yang terkandung dalam hidrogel gelatin-dopamin secara in vitro terhadap sel RAW 264.7. Isolasi PDEN berhasil dilakukan dengan presipitasi polietilen glikol (PEG), sentrifugasi bertingkat, dan liofilisasi dengan trehalose 50mM. Karakterisasi ukuran PDEN menggunakan particle size analyzer menunjukkan ukuran PDEN yang diliofilisasi cenderung homogen dengan rata-rata sebesar 134Β±4,4 nm dan Polydispersity Index (PI) senilai 0,169, lebih kecil secara signifikan (p<0.05) jika dibandingkan dengan PDEN segar yang berukuran 171.9Β±1,5 nm dan PI bernilai 0,319. PDEN yang teramati menggunakan Transmitted Electron Microscopy (TEM) menunjukkan morfologi berupa membulat dan cup-shaped. Protein dari isolat PDEN dikuantifikasi menggunakan Bicinchoninic Acid (BCA) Protein Assay dengan konsentrasi 509Β±36,99 ?g/mL. Uji sitotoksisitas PDEN dengan MTT assay terhadap sel makrofag lini RAW 264.7 menunjukkan PDEN dengan konsentrasi 0,1-10 ug/mL selama 24 jam tidak menunjukkan efek sitotoksik (viabilitas >70%) dengan viabilitas sel untuk PDEN berada pada rentang 73-88%. Kemudian, PDEN yang telah terisolasi dimuat ke dalam hidrogel gel-dop dengan melarutkan hidrogel gel-dop bersama Phosphate Buffer Saline (PBS), natrium periodat (NaIO4), dan larutan PDEN di atas penangas bersuhu 37Β°C. Uji pelepasan protein dari hidrogel gel-dop bermuatan PDEN menggunakan BCA assay teramati mencapai konsentrasi maksimal pada jam ke-12, sedangkan hidrogel gel-dop saja membutuhkan waktu 24 jam sehingga hasil ini digunakan untuk uji lanjutan. Konfimasi internalisasi PDEN bebas dan PDEN dari pelepasan hidrogel gel-dop menggunakan pewarnaan PKH67 menunjukkan bahwa kedua jenis PDEN dapat terinternalisasi ke dalam sitoplasma sel RAW 264.7 dalam waktu 12 jam. Uji sitotoksistas dengan MTT assay menunjukkan eluat dari hidrogel gel-dop tidak memberikan efek sitotoksik (viabilitas >70%) dengan viabilitas sel terhadap hidrogel adalah 76,747%, sedangkan pemuatan PDEN ke hidrogel gel-dop sebanyak 2,5; 5; dan 10 ?g/ml menghasilkan viabilitas sel sebesar 80,04%; 78,47%; dan 70,17% setelah 24 jam. Selain itu, potensi aktivitas anti-inflamasi diuji menggunakan uji Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) pada sel RAW 264.7 yang diinduksi dengan lipopolisakarida (LPS) untuk mengamati sekresi Interleukin-6 (IL-6). Hasil uji menunjukkan penurunan sekresi IL-6 yang signifikan pada sel yang diperlakukan dengan PDEN maupun eluat Gel-Dop yang mengandung PDEN dibandingkan dengan kontrol (p<0,0001). Efek tersebut sebanding dengan kontrol positif menggunakan dexamethasone, obat antiinflamasi yang umum digunakan di pasaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PDEN buah ranti (Solanum nigrum L.) dapat diliofilisasi tanpa mengubah ukuran dan homogenitasnya, serta pemuatannya ke dalam hidrogel Gel-Dop memungkinkan pelepasan terkontrol, tidak bersifat sitotoksik, dan memiliki potensi antiinflamasi terhadap sel RAW 264.7.
SISTEM REKOMENDASI MAKANAN BERBASIS KNOWLEDGE-BASED DAN RANDOM FOREST PADA PLATFORM SMART CANTEEN (STUDI KASUS: ITB GANESHA)
Panduan gizi yang personal sangat penting untuk mendukung kesehatan, meningkatkan konsentrasi, dan menjaga produktivitas. Secara umum, kebutuhan akan panduan gizi yang sesuai dengan kondisi individu menjadi hal yang krusial, terutama di lingkungan akademik seperti ITB Ganesha yang menuntut aktivitas fisik dan mental yang tinggi setiap harinya. Namun, mayoritas civitas akademika merasa kesulitan memilih makanan sehat karena keterbatasan informasi nutrisi. Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian ini bertujuan membangun sistem rekomendasi makanan yang mampu memberikan saran gizi personal pada platform Smart Canteen. Sistem dikembangkan dengan pendekatan hibrida yang menggabungkan metode knowledge-based dan machine learning, menggunakan metodologi DSRM dan CRISP-DM sebagai kerangka kerja pengembangan. Metode knowledge-based labeling digunakan untuk menghitung kebutuhan kalori pengguna serta melabeli data makanan, yang kemudian dipelajari oleh model klasifikasi Random Forest. Rekomendasi akhir dihasilkan dengan menggabungkan hasil prediksi model dan skor kompatibilitas nutrisi yang dihitung secara personal. Hasil evaluasi menunjukkan performa sistem yang sangat baik, dengan akurasi Random Forest mencapai 95%, skor validasi oleh ahli gizi sebesar 4,67 dari 5, dan tingkat keberhasilan UAT mencapai 100%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem rekomendasi makanan berbasis knowledge-based dan random forest efektif dan valid dalam menyediakan rekomendasi makanan terpersonalisasi untuk mendukung pola makan yang lebih sehat di lingkungan ITB Ganesha.
PENGEMBANGAN AI VOICE CHAT DENGAN DOMAIN SPESIFIK COMPUTER SCIENCE MENGGUNAKAN PRE-TRAINED MODEL
Perkembangan teknologi voice assistant telah mendorong interaksi manusiaβkomputer menuju bentuk yang lebih natural dan kontekstual, namun sebagian besar sistem yang tersedia masih bersifat umum (general-purpose) dan kurang optimal untuk menangani percakapan pada domain teknis tertentu seperti Computer Science. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem AI Voice Chat berbasis pre-trained models yang dioptimalkan untuk domain Computer Science dengan pendekatan arsitektur modular, mencakup tiga komponen utama: Speech-to-Text (STT), Natural Language Processing (NLP), dan Text-to-Speech (TTS). Modul STT menggunakan model Whisper, Wav2Vec 2.0, dan SpeechT5 STT; modul NLP menggunakan Llama 3.2 Instruct, Qwen 2.5 1.5B Instruct, dan Gemma 2B Instruct yang di-fine-tune menggunakan kerangka kerja Unsloth pada dataset Alpaca yang disesuaikan untuk domain teknis; sedangkan modul TTS menggunakan Kokoro, Chatterbox, dan SpeechT5 TTS. Evaluasi dilakukan secara terpisah untuk tiap modul menggunakan metrik yang relevan: Word Error Rate (WER) untuk STT, Exact Match (EM), BLEU, dan ROUGE-L untuk NLP, serta Perceptual Evaluation of Speech Quality (PESQ) untuk TTS. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Whisper unggul pada STT dengan WER terendah sebesar 19,86%, fine-tuning NLP belum menghasilkan peningkatan signifikan dengan EM tetap 0% dan nilai BLEU serta ROUGE-L rendah, serta seluruh model TTS memiliki skor PESQ yang mirip (1,207β1,223) dengan Kokoro dan SpeechT5 unggul dari sisi efisiensi. Selain itu, pengujian aspek keamanan menunjukkan bahwa model lokal lebih aman karena tidak menyimpan maupun mengulang data sensitif. Penelitian ini membuktikan kelayakan pengembangan AI Voice Chat domain spesifik berbasis pre-trained models yang berjalan secara lokal, meskipun peningkatan kualitas NLP, optimisasi efisiensi TTS, serta perhatian lebih pada aspek keamanan tetap diperlukan untuk implementasi nyata..
IMPLEMENTASI MODEL DETEKSI OBJEK PADA SISTEM TIMBANGAN CERDAS KHUSUS JERUK UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI SORTIR SEKALIGUS MENGATASI MASALAH CLASS IMBALANCE
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan efisiensi dan akurasi dalam proses sortir jeruk keprok Brastepu di rantai pasok agribisnis, khususnya di tingkat lapak. Proses manual yang ada saat ini menyebabkan inefisiensi waktu, tingginya angka kesalahan pencatatan, serta beban kerja fisik dan kognitif yang signifikan, yang berujung pada kerugian finansial dan menurunnya kepercayaan antaraktor. Untuk itu, diusulkan pengembangan sistem deteksi kebusukan jeruk berbasis computer vision yang terintegrasi dengan timbangan digital cerdas dan aplikasi khusus. Sebagai langkah awal, model YOLOv11m diimplementasikan, namun menunjukkan presisi rendah pada deteksi jeruk busuk (0.776), di bawah standar toleransi 15% false positive, akibat class imbalance dalam dataset. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah ini, tiga strategi penanganan class imbalance pada dataset diimplementasikan dan dievaluasi pada model YOLOv11m: pembobotan kelas (class weighting), penggunaan pre-trained weights, dan oversampling kelas minoritas. Model terbaik (YOLOv11m dengan pre-trained weights saja) berhasil mencapai presisi kelas 'rotten' 0.868, presisi keseluruhan 0.840, recall keseluruhan 0.818, dan mAP50 0.902, memenuhi semua kebutuhan non-fungsional yang ditetapkan. Sistem deteksi ini kemudian di-deploy sebagai API menggunakan FastAPI, mampu menerima citra, melakukan inferensi, menghitung proporsi kebusukan dan confidence interval dengan Finite Population Correction (FPC), serta mengembalikan data terstruktur. Evaluasi persepsi pengguna menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan penerimaan yang sangat positif dari pedagang (Perceived Usefulness 4.36, Perceived Ease of Use 4.96) dan pekerja lapak (Perceived Usefulness 4.49, Perceived Ease of Use 4.67). Hal ini mengindikasikan bahwa sistem ini sangat bermanfaat dan mudah digunakan, dengan potensi tinggi untuk adopsi di lapangan.