📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS KONTEN EDUKASI BERBASIS INSTAGRAM MENGGUNAKAN KERANGKA ADDIE UNTUK MENENTUKAN FORMAT YANG TEPAT UNTUK PEMAHAMAN KLINIS HEWAN TERHADAP PRODUK PELIHARA
Tingkat pemahaman dan adopsi perangkat lunak manajemen digital yang rendah di klinik veteriner menghambat digitalisasi layanan kesehatan hewan. Pelihara, platform SaaS untuk klinik veteriner, menghadapi tantangan dalam menyajikan konten edukatif yang jelas, relevan, dan kredibel melalui Instagram. Studi ini bertujuan untuk menganalisis konten edukatif berbasis Instagram guna mengindetifikasi format yang sesuai untuk membantu klinik veteriner memahami produk Pelihara. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui sampling purposif dan wawancara semi-terstruktur dengan empat dokter hewan di Bandung, diverifikasi oleh satu ahli industri, dan dianalisis secara tematis menggunakan kerangka kerja ADDIE hingga tahap Pengembangan. Temuan menyoroti tiga elemen kunci untuk desain konten yang tepat: testimoni autentik dan komunikasi transparan untuk membangun kredibilitas; format ringkas dan mudah dipahami seperti video pendek dengan waktu unggah strategis; dan narasi berbasis kasus yang memaparkan masalah nyata sebelum memperkenalkan Pelihara sebagai solusi. Validasi ahli menyoroti peran keterlibatan emosional dan edutainment dalam mempertahankan perhatian dan kepercayaan audiens. Studi ini memberikan panduan praktis untuk menciptakan konten edukatif Instagram yang mendorong adopsi digital di klinik veteriner, sekaligus berkontribusi secara akademis dengan menerapkan kerangka kerja ADDIE pada konten media sosial B2B di sektor kesehatan hewan.
ASSESSING THE POTENTIAL UTILIZATION OF POI DATA FOR ZONE FORMULATION IN DETAILED SPATIAL PLAN: A CASE STUDY IN PEKANBARU, INDONESIA
This study explores the use of Point of Interest (POI) data as a planning support tool within the Detailed Spatial Plan (DSP) framework. While POI data has been widely used in urban research, its integration into regulatory zoning remains limited. Using a case study in Pekanbaru, Indonesia, POI-based zones were developed from Google Maps data and assessed for reliability, spatial distribution, and planning relevance. Functional classification was conducted using the Category-to-Ratio (CR) Index and Simpson Index. To address data sparsity and capture complex spatial patterns, Graph Attention Networks (GAT) were applied to generate synthetic POI embeddings and simulate activity scenarios across different urban contexts. Validation included manual POI checks and assessment of zoning outcomes through green area comparison, alignment with regional plans, and usability via the Analytic Hierarchy Process (AHP), focusing on efficiency, legality, availability, and reliability. Findings demonstrate the value of POI-based zoning for highlighting urban structure and diversity, especially in early planning stages. The model offers a spatially grounded, transferable approach aligned with Planning Support Science, bridging data-driven tools with institutional processes.
STUDI KUALITATIF BERBASIS DESIGN THINKING TENTANG BUSANA LUAR KONVERTIBEL: DARI KESESUAIAN MASALAH–SOLUSI (PSF) KE KESESUAIAN PRODUK–PASAR (PMF) DI PASAR PEREMPUAN URBAN INDONESIA
Industri outerwear di Indonesia, khususnya pada segmen urban, menghadapi peningkatan permintaan terhadap produk yang mengintegrasikan fungsionalitas, adaptabilitas, dan gaya. Namun, banyak usaha rintisan di bidang fesyen yang mengalami kesulitan menjembatani kesenjangan antara identifikasi kebutuhan pasar dengan penyediaan produk yang benar-benar memenuhinya, sehingga adopsi pasar menjadi terbatas dan pertumbuhan terhambat. Penelitian ini mengkaji Chute Up, sebuah startup berbasis di Bandung yang mengkhususkan diri pada jaket tahan air konvertibel 3-in-1, melalui lensa Problem–Solution Fit (PSF) sebagai tahap dasar menuju Product–Market Fit (PMF). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan kerangka kerja Design Thinking, penelitian ini mengintegrasikan data dari dua tahap: wawancara mendalam (in-depth interviews / IDI) pada tahap Empathise untuk menangkap kebutuhan dan masalah pengguna, serta evaluasi prototipe ketiga pada tahap Prototype & Test dalam kondisi penggunaan nyata. Data dianalisis melalui open coding, axial coding, dan selective coding, serta ditriangulasi dengan masukan ahli dan analisis konteks pasar untuk mengidentifikasi kekuatan produk yang telah tervalidasi sekaligus area yang memerlukan perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chute Up telah mencapai PSF, dengan fitur multifungsi, kemampuan beradaptasi terhadap cuaca, dan penyimpanan terintegrasi yang divalidasi sebagai atribut bernilai tinggi bagi perempuan urban di Indonesia. Pengguna secara khusus mengapresiasi kemampuan produk ini dalam mengurangi kompleksitas perencanaan pakaian dan beradaptasi dengan berbagai skenario mobilitas. Namun, ditemukan pula sejumlah celah kegunaan, termasuk tingkat kejelasan mekanisme perubahan mode, kenyamanan serta distribusi berat pada mode tas, dan ketidaksempurnaan kecil pada perangkat keras dan penyelesaian akhir seperti kelancaran resleting dan penyegelan jahitan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan penyempurnaan berbasis bukti seperti mekanisme transformasi yang lebih jelas, penyesuaian ergonomis, dan peningkatan ketahanan terhadap air untuk memperkuat peluang adopsi dan posisi kompetitif. Studi ini selaras dengan Customer Development Model dari Blank (2013) dan prinsip iterative prototyping dari Brown v (2009) serta Plattner dkk. (2010), yang menunjukkan bahwa umpan balik pengguna secara berkelanjutan dapat dioperasionalkan untuk mengurangi risiko inovasi. Secara strategis, Chute Up berada pada ceruk pasar dengan potensi keunggulan first-mover di industri outerwear konvertibel Indonesia, selama keunggulan eksekusi dan iterasi yang disiplin dapat dipertahankan.
MANAGING DEMURRAGE USING FMEA (FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS) – A CASE STUDY OF COAL MINING CORPORATION IN INDONESIA
PT CMC (Coal Mining Corporation) merupakan perusahaan pertambangan batubara di Indonesia yang berperan dalam memenuhi kebutuhan energi domestik dan ekspor. Saat ini, jadwal bongkar muat kapal mengalami tumpang tindih akibat jadwal kapal yang terlalu panjang sehingga meningkatkan biaya demurrage. Kapal yang datang sering menumpuk dan menyebabkan antrean serta keterlambatan proses bongkar muat. Situasi ini tidak hanya berdampak langsung pada biaya demurrage tetapi juga mengurangi efisiensi operasional pelabuhan dan meningkatkan risiko operasional. Untuk mengatasi tantangan bisnis tersebut, tujuan dari penelitian ini antara lain mengidentifikasi risiko operasional dan mengusulkan strategi perbaikan yang efektif untuk mengurangi demurrage. Kerangka kerja penelitian ini menggunakan gap analysis dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengurangi demurrage. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer menggunakan kuesioner yang dikembangkan berdasarkan FMEA untuk mengukur tingkat keparahan, kejadian, dan deteksi. Kuesioner diberikan kepada 15 responden yang terdiri dari tiga tim distribusi, tujuh tim dermaga Palembang, dan lima tim penanganan transportasi. Data sekunder menggunakan data historis operasional selama tiga tahun dari tahun 2022 sampai 2024. Metode analisis data menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Root Cause Analysis (RCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis akar penyebab dengan menggunakan 5 why root cause analysis, terdapat 25 akar penyebab permasalahan. Berdasarkan RPN (risk priority number), urutan atau prioritas risiko yang dapat dikendalikan adalah sebagai berikut: (1) Menunggu tongkang kargo (tongkang kargo belum tersedia), (2) Kapal datang bersamaan (overlapping time arrival), (3) Floating crane tidak tersedia karena belum selesai melayani kapal sebelumnya, (4) Antrean karena prioritas pemuatan untuk kapal domestik, (5) Target loading rate tidak tercapai. Rekomendasi yang diajukan meliputi: memprioritaskan area berdampak tinggi dengan segera berfokus pada penanganan isu-isu yang paling mendesak, yaitu alokasi sumber daya tongkang, implementasi sistematis, mendorong kolaborasi lintas fungsi antara tim distribusi, tim dermaga Palembang, dan tim penanganan transportasi untuk memastikan implementasi yang terintegrasi dan efektif, serta strategi bertahap dalam implementasi jangka pendek, menengah, panjang, dan pemantauan kinerja berkelanjutan.
PENGARUH PENAMBAHAN GETAH DAMAR SEBAGAI COUPLING AGENT TERHADAP SIFAT MEKANIK BIOKOMPOSIT POLYLACTIC ACID (PLA) BERPENGUAT SERAT RAMI.
Meningkatnya kesadaran lingkungan dan menipisnya sumber daya fosil saat ini mengakibatkan penelitian material komposit berbasis bio (biokomposit) semakin berkembang, salah satunya yaitu biokomposit Polylactic Acid (PLA) berpenguat serat rami. Namun, perbedaan sifat antara PLA yang cenderung hidrofobik dan serat rami yang hidrofilik akan menyebabkan kekuatan antarmuka yang kurang baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan penggunaan coupling agent. Pada penelitian ini, getah damar akan digunakan sebagai coupling agent pada biokomposit PLA berpenguat serat rami. Getah damar berpotensi sebagai coupling agent karena memiliki gugus aktif yang bersifat hidrofilik dan juga hidrofobik. Penambahan getah damar dilakukan dengan variasi fraksi massa 0 %, 10%, 20%, 30%, dan 40% terhadap matriks PLA pada biokomposit berpenguat serat rami. Pengujian tarik dan karakterisasi mikrostruktur hasil perpatahan dilakukan untuk melihat sifat mekanik dan kekuatan adhesi antarmuka yang dihasilkan. Nilai kekuatan tarik biokomposit tanpa getah damar didapatkan sebesar 42,86 MPa sedangkan kekuatan tarik biokomposit fraksi massa 10% getah damar lebih rendah, yaitu sebesar 37,51 MPa. Namun, ketika kekuatan tarik hasil uji dibandingkan dengan nilai rule of mixture, biokomposit dengan fraksi massa getah damar 10% memiliki selisih terkecil yaitu sebesar 0,4 MPa sedangkan tanpa penambahan getah damar sebesar 14,59 MPa. Semakin kecil selisih antara hasil uji dengan nilai ROM tersebut menandakan bahwa ikatan antarmuka semakin baik. Hal ini juga didukung dengan hasil mikrostruktur perpatahan dimana tanpa penambahan getah damar terdapat gap antara serat dan matriksnya sedangkan dengan penambahan fraksi massa getah damar 10% tidak terdapat gap antara serat dan matriksnya.
EVALUASI KETAHANAN GESER SAMBUNGAN MEKANIK, ADHESIF, DAN HYBRID PADA KOMPOSIT SANDWICH TENUNAN 3D SERAT GELAS – POLIESTER
Komposit sandwich tenunan 3D semakin banyak diminati karena kombinasi kekuatan dan kekakuan yang tinggi dengan berat yang relatif ringan, sehingga banyak digunakan dalam aplikasi struktural, salah satunya sebagai panel lantai kereta api. Meski demikian, proses manufaktur komposit dengan dimensi besar masih memiliki keterbatasan sehingga diperlukan metode penyambungan untuk memperoleh ukuran sesuai kebutuhan. Tiga jenis sambungan yang umum digunakan pada komposit adalah sambungan mekanik, adhesif, dan hybrid. Pada penelitian ini dilakukan pengujian dengan konfigurasi stabilized single lap shear out untuk mengevaluasi karakteristik ketiga jenis sambungan tersebut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sambungan hybrid, yang merupakan kombinasi mekanik dan adhesif, memberikan kekuatan tertinggi. Sambungan mekanik menempati urutan kedua, sedangkan sambungan adhesif memiliki kekuatan paling rendah. Mode kegagalan yang teridentifikasi adalah bearing out pada sambungan mekanik dan adhesive failure pada sambungan adhesif, sementara sambungan hybrid menunjukkan mekanisme kegagalan gabungan dari kedua metode sambungan.
SINTESIS TURUNAN AZA-BODIPY BERBASIS VANILIN DAN POTENSINYA SEBAGAI AGEN PHOTOTHERANOSTIC SENSITIF PH
Agen phototheranostic merupakan molekul multifungsi yang menggabungkan kemampuan pencitraan optik dan fototerapi. Salah satu parameter kunci dalam pengembangan agen phototheranostic adalah sensitivitas terhadap lingkungan biologis, seperti pH. Sensitivitas ini penting karena variasi pH dapat ditemukan pada berbagai kondisi patologis, seperti lingkungan asam pada tumor. Agen phototheranostic sensitif pH umumnya memanfaatkan perubahan sifat fotofisika berupa emisi fluoresensi. Senyawa aza-boron-dipirometena (aza-BODIPY) merupakan kandidat senyawa sensitif pH secara fluoresensi yang potensial karena memiliki sifat fluoresensi yang dapat dimodifikasi, stabilitas fotokimia yang baik, dan sensitivitas terhadap perubahan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan turunan aza-BODIPY berbasis vanilin yang sensitif terhadap perubahan pH, mengevaluasi sifat fotofisikanya, serta mengevaluasi responsnya terhadap perubahan pH dalam potensinya sebagai agen phototheranostic yang sensitif pH. Sintesis aza-BODIPY dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu kondensasi Claisen-Schmidt untuk menghasilkan calkon, adisi Michael dengan nitrometana untuk membentuk nitro calkon, siklisasi dan dimerisasi nitro calkon dengan ammonium asetat untuk menyintesis aza-dipirin, dan kelasi aza-dipirin dengan BF3.OEt2 untuk membentuk aza-BODIPY. Kemudian, brominasi inti aza-BODIPY dilakukan menggunakan NBS. Sintesis calkon, nitro calkon, dan aza-dipirin masing-masing menghasilkan rendemen sebesar 66%, 75%, dan 62%. Aza-diprin memiliki sinyal proton pirolik pada 7,03 ppm dan serapan maksimum pada 600 nm. Reaksi antara aza-dipirin dengan BF3.OEt2 menghasilkan aza-BODIPY dengan rendemen 80% yang memberikan pergeseran sinyal pirolik menjadi 6,87 ppm dan puncak serapan baru pada 666 nm. Brominasi aza-BODIPY menghasilkan konversi 61%.
PENGEMBANGAN KATALIS HETEROGEN BERBASIS ZEOLIT BERPORI HIERARKIS DENGAN IMPREGNASI OKSIDA LOGAM OKSOFILIK
Katalis heterogen berperan besar dalam industri kimia dan petrokimia. Sebagai contoh, industri pembuatan styrofoam memerlukan berbagai katalis untuk produksi bahan bakunya serta pembuatan polimer stirena. Salah satu sifat yang berperan dalam reaksi ini yaitu oksofilisitas. Oksofilisitas adalah kecenderungan suatu logam untuk menarik oksigen. Dalam penelitian ini, logam-logam oksofilik seperti besi, nikel, dan molibdenum dikembangkan sebagai katalis. Logam-logam ini sudah terbukti mempunyai sifat oksofilik yang kuat. Untuk mengembangkan tipe katalis ini lebih jauh maka penelitian ini mencoba mengembangkan katalis dengan situs aktif oksofilik dan penyangga zeolit berpori hierarkis. Zeolit adalah mineral kristalin berpori mikro dengan luas permukaan tinggi. Namun karena ukurannya pori tersebut cepat tersumbat oleh hasil reaksi samping, memperpendek umur katalis. Untuk menambah umur katalis penelitian ini mencoba mengembangkan katalis dengan zeolit penyangga yang sudah dimodifikasi sehingga mempunyai mesopori. Logam-logam oksofilik kemudian diimpregnasi ke dalam penyangga. Hasil dari analisis XRD dan EDS membuktikan bahwa logam-logam terimpregnasi ke dalam zeolit. Hasil dari analisis SEM dan BET membuktikan bahwa terbentuk pori hierarkis pada zeolit.
BIOKOMPOSIT ALGINAT MAGNETIT DAUN KELOR SEBAGAI ADSORBEN ION CU(II)
Aktivitas industri yang terus berkembang telah menghasilkan polusi logam berat yang dapat membahayakan lingkungan, khususnya lingkungan perairan. Salah satu logam berat yang umum mencemari lingkungan perairan adalah tembaga, umumnya sebagai spesi ion Cu(II). Ion Cu(II) dalam jumlah yang sesuai diperlukan tubuh karena berperan sebagai kofaktor katalitik dalam berbagai reaksi redoks. Namun, keracunan ion Cu(II) dapat menyebabkan terjadinya kerusakan DNA, gangguan metabolisme mitokondria, dan kematian sel. Penelitian ini bertujuan untuk membuat biokomposit alginat magnetit daun kelor (AMDK) sebagai adsorben untuk adsorpsi ion Cu(II) dan mengkarakterisasi adsorben tersebut. Selain itu, ditentukan kondisi adsorpsi optimum dan model kinetika, isoterm, serta termodinamika adsorpsi Cu(II) oleh AMDK. Penambahan magnetit ke dalam biokomposit dilakukan untuk meningkatkan efektvitas adsorpsi logam dengan mempermudah pemisahan adsorben dari sampel. Adsorben biokomposit AMDK berhasil disintesis dan dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS). Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR, pergeseran bilangan gelombang pada spektrum FTIR menunjukkan bahwa gugus fungsi O–H dan C=O berperan dalam proses adsorpsi. Dari citra SEM, ditunjukkan bahwa morfologi permukaan adsorben AMDK bersifat heterogen dan tidak rata. Selain itu, pemetaan EDS menunjukkan keberadaan unsur Cu pada adsorben AMDK setelah adsorpsi. Hasil optimasi adsorpsi menunjukkan bahwa kondisi optimum adsorpsi ion Cu(II) dengan adsorben AMDK tercapai pada pH 4 dan waktu kontak 420 menit. Proses adsorpsi ion Cu(II) dengan AMDK mengikuti model kinetika adsorpsi orde satu semu dan model isoterm adsorpsi Langmuir, dengan kapasitas adsorpsi maksimum (qm) sebesar 35,955 mg/g. Berdasarkan studi termodinamika, proses adsorpsi bersifat eksotermik, mengalami penurunan derajat ketidakteraturan, dan berlangsung spontan.
REAKSI TRANSFER HIDROGEN SITRONELAL MENJADI SITRONELOL TERKATALISIS MOF-808
Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sitronela di dunia dengan kapasitas produk sebesar ±3.100 ton per tahun. Minyak atrisi ini diperoleh dari tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) dan memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan lebih lanjut. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah rekayasa senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Salah satu komponen utama minyak sitronela adalah sitronelal, yaitu senyawa aldehida yang beraroma khas. Senyawa ini dapat diubah menjadi senyawa turunan yang memiliki minat global yaitu tinggi, seperti sitronelol, yaitu senyawa alkohol dengan aroma yang berbeda dan memiliki banyak aplikasi di industri parfum dan bahan aktif lainnya. Proses hidrogenasi sitronelal menjadi sitronelol umumnya dilakukan menggunakan gas hidrogen bertekanan tinggi (10-60 bar) dengan pemanfaatan katalis logam dari kelompok platina. Akan tetapi, reaksi katalitik yang melibatkan gas hidrogen yang memerlukan penanganan khusus dan logam kelompok platina memiliki kelimpahan yang relatif rendah. Penelitian ini memanfaatkan katalis Metal-Organic Framework (MOF), MOF-808, untuk reaksi transfer hidrogen sitronelal menjadi sitronelol dengan sumber hidrogen berasal dari senyawa golongan alkohol. Logam zirkonium relatif memiliki kelimpahan yang lebih banyak dibandingkan logam grup platina dan telah dilaporkan memiliki performa yang baik dalam menghidrogenasi furfural menjadi furfuril alkohol sehingga dapat diimitasi untuk proses hidrogenasi sitronelal menjadi sitronelol. Karakterisasi MOF-808 dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Powder X-ray Diffraction (P-XRD). Sementara itu, uji katalitik dianalisis menggunakan kromatografi gas (GC). Pada penelitian ini, reaksi transfer hidrogen sitronelal menjadi sitronelol ini teramati berjalan optimal pada kondisi reaksi 160 °C selama 2 jam dengan konsentrasi katalis sebesar 4 mol% dan 2-propanol sebagai sumber hidrogen. Sistem reaksi teroptimasi ini menunjukkan nilai konversi sitronelal >99%, rendemen sitronelol 98%, dan selektivitas produk sitronelol >99%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa MOF-808 memiliki potensi sebagai katalis dalam reaksi transfer hidrogen sitronelal menjadi produk sitronelol yang selektif.
REAKSI TRANSFER HIDROGEN SITRAL MENJADI GERANIOL-NEROL OLEH MOF-808
Sitral adalah senyawa aldehida terkonjugasi yang beraroma sitrus yang kuat dan digunakan secara luas di industri parfum, kosmetik, makanan, serta farmasi. Sitral terdiri dari dua isomer yaitu geranial (isomer trans) dan neral (isomer cis). Produk hidrogenasi selektif gugus aldehida sitral menghasilkan senyawa alkohol tak jenuh yaitu geraniol dan nerol, yaitu dua senyawa alkohol monoterpena yang merupakan isomer geometris. Geraniol (isomer trans) dan nerol (isomer cis) banyak digunakan sebagai bahan pewangi di industri perasa dan aroma, perawatan diri, dan lain-lain. Hidrogenasi sitral menjadi geraniol-nerol umumnya menggunakan gas hidrogen bertekanan dan dikatalisis oleh logam grup platina. Reaksi ini cukup efektif namun grup platina bernilai tinggi karena kelimpahannya yang relatif rendah dan memerlukan peralatan khusus terutama dalam skala industri. Penelitian ini mengevaluasi kinerja katalitik Metal-Organic Framework (MOF) berbasis zirkonium yaitu MOF-808 pada reaksi transfer hidrogen sitral menjadi geraniol-nerol dengan sumber hidrogen 2-propanol. MOF-808 disintesis dengan metode solvotermal dari ZrCl4 dan asam trimesik dalam N,Ndimetilformamida (DMF) dan asam asetat. MOF-808 hasil sintesis dicuci menggunakan aseton dengan aliran gas nitrogen. MOF-808 dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Powder X-Ray Diffraction (P-XRD). Reaksi hidrogenasi dilakukan dalam autoklaf 25 mL di atas penangas minyak silikon dengan pemutaran konstan 700 rpm. Hasil reaksi dianalisis menggunakan kromatografi gas (GC) dan Proton Nuclear Magnetic Resonance (1H-NMR). Konversi reaksi mencapai >99% dengan rendemen geraniol-nerol 90% dan nilai Turnover Frequency (TOF) 11,2 h-1. Reaksi mencapai hasil optimum dengan penggunaan sitral (0,457 g; 3 mmol) dan sumber hidrogen 2-propanol (10 mL; 130 mmol) pada 160 °C selama 2 jam dengan MOF-808 (0,034 g; 0,12 mmol Zr; 4% mmol Zr). Uji penggunaan ulang MOF-808 menunjukkan performa katalitik tetap tinggi dan kestabilan struktur MOF-808 tetap terjaga setelah digunakan dua kali. Evaluasi selektivitas reaksi transfer hidrogen oleh MOF-808 pada sitral dan senyawa turunannya (sitronelal dan geraniol) menunjukkan hidrogenasi terjadi secara selektif pada gugus karbonil (C=O) dan tidak teramati hidrogenasi pada gugus alkena (C=C).
PREPARASI DAN EVALUASI KINERJA ADSORPSI MATERIAL BERCETAKAN MOLEKUL BISFENOL A
Bisfenol A (BPA) merupakan senyawa kimia sintetis yang banyak digunakan dalam produksi plastik polikarbonat dan resin epoksi. Sebagai endocrine-disrupting chemical (EDC), BPA dapat meniru hormon estrogen dan mengganggu sistem hormon manusia, sehingga menimbulkan kekhawatiran global. Untuk mengatasi potensi pencemaran ini, Molecularly Imprinted Polymer (MIP) dikembangkan sebagai material adsorben yang selektif. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis MIP dan polimer pembanding Non-Imprinted Polymer (NIP) menggunakan monomer asam metakrilat, pengikat silang etilenglikol dimetakrilat, pelarut asetonitril, dan inisiator benzoil peroksida. Hasil karakterisasi menggunakan FTIR menunjukkan keberhasilan proses pembuatan cetakan, yang ditandai dengan munculnya puncak khas BPA pada MIP sebelum leaching dan menghilang setelah pencucian. Analisis morfologi permukaan melalui SEM menunjukkan bahwa MIP memiliki struktur yang lebih berpori dibandingkan NIP. Proses adsorpsi dipantau menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum BPA (225 nm), yang digunakan untuk menghitung konsentrasi sisa BPA dan nilai adsorpsi (qe). Uji adsorpsi menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi maksimum (qmax) berdasarkan model isoterm Langmuir adalah 65,45 mg/g untuk MIP dan 46,82 mg/g untuk NIP. Kinetika adsorpsi pada kedua polimer mengikuti model pseudo-orde dua. Uji selektivitas menggunakan parasetamol sebagai molekul pembanding menunjukkan bahwa MIP memiliki faktor selektivitas (?) sebesar 1,3660, mengindikasikan bahwa MIP mampu mengadsorpsi BPA 1,37 kali lebih banyak dibandingkan NIP. Adsorpsi terhadap parasetamol oleh MIP dan NIP relatif rendah dan tidak menunjukkan perbedaan signifikan, membuktikan bahwa MIP bersifat selektif terhadap BPA.
PENGEMBANGAN KATALIS ZEOLIT *MRE BERPORI HIERARKIS MENGGUNAKAN KALIUM PERSULFAT DAN NANOPARTIKEL CACO3 UNTUK PRODUKSI BIOGASOLIN BERKELANJUTAN
Permintaan biogasolin yang terus meningkat mendorong pengembangan katalis yang dapat membantu produksi biogasolin skala besar. Zeolit merupakan salah satu katalis yang umum digunakan dalam reaksi perengkahan untuk produksi biogasolin karena beberapa kelebihannya seperti stabil secara termal dan selektivitasnya dapat diatur. Zeolit *MRE diketahui dapat menghasilkan biogasolin dengan kadar aromatik yang rendah tetapi fraksi gasolinnya masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan katalis zeolit *MRE berpori hierarkis untuk reaksi perengkahan dengan produk yang mengandung fraksi gasolin yang tinggi dan kadar aromatik yang rendah. Sintesis zeolit *MRE berpori hierarkis dilakukan dengan metode bottom-up menggunakan cetakan keras berupa nanopartikel CaCO3 dan tanpa cetakan yang dibantu radikal hidroksil yang bersumber dari kalium persulfat (K2S2O8). Katalis yang telah disintesis dikarakterisasi dengan X?Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared (FTIR), analisis luas permukaan dan volume pori, serta Scanning Electron Microscopy (SEM). Adapun performa katalis diuji pada reaksi perengkahan minyak nabati yakni minyak sawit dan minyak tamanu. Produk cair hasil perengkahan dikarakterisasi dengan Gas Chromatography?Simulated Distillation (GC?SIMDIS) dan Gas Chromatography?Detailed Hydrocarbon Analysis (GC?DHA). Reaksi perengkahan minyak sawit dengan katalis zeolit berpori hierarkis menghasilkan produk biogasolin dengan kandungan fraksi gasolin yang tinggi serta kadar aromatik yang rendah. Zeolit berpori hierarkis dengan kalium persulfat pada perengkahan minyak sawit menghasilkan fraksi gasolin sebesar 74,8% (m/m) dengan kadar aromatik sebesar 46,9% (v/v) sedangkan zeolit berpori hierarkis dengan mesoporogen nanopartikel CaCO3 menghasilkan fraksi gasolin sebesar 70,8% (m/m) dengan kadar aromatik sebesar 25,6% (v/v). Di sisi lain, perengkahan minyak tamanu dengan fraksi gasolin tertinggi dan kadar aromatik terendah diperoleh dari katalis zeolit *MRE konvensional dengan rasio Si/Al sebesar 75 (SAR75). SAR75 menghasilkan fraksi gasolin sebesar 70,90% (m/m) dengan kadar aromatik sebesar 44,33% (v/v).
ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI TIO2 DAN POLIANILIN UNTUK ANALISIS KADAR TBHQ SECARA VOLTAMMETRI
Tersier butil hidrokuinon (TBHQ) merupakan antioksidan yang biasa digunakan untuk memperlambat proses oksidasi pada makanan. Berdasarkan peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 11 Tahun 2019, batas makismal TBHQ pada minyak nabati adalah 180 mg/kg. Pengukuran kadar TBHQ dalam makanan dibutuhkan agar tidak melebihi batas maksimal. Metode analisis TBHQ yang biasa digunakan adalah kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan kromatografi gas (GC). Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah voltammetri karena preparasi lebih mudah, waktu analisis cepat, dan memiliki selektivitas dan sensitivitas yang tinggi. Modifikasi dilakukan pada elektroda kerja yaitu elektroda pasta karbon (EPK) dengan menambahkan nanopartikel TiO2 dan melakukan elektropolimerisasi anilin bercetakan molekul untuk meningkatkan kinerja elektroda dalam pengukuran analit TBHQ. Berdasarkan penelitian, modifikasi penambahan TiO2 yang optimum yaitu menggunakan metode ruah dengan komposisi TiO2 8% (b/b). Proses elektropolimerisasi dilakukan pada komposisi TBHQ:Anilin (1:3) dengan jumlah siklus elektropolimerisasi sebanyak 15 siklus. Pengukuran TBHQ yang optimum dilakukan menggunakan teknik Square Wave Voltammetry (SWV) pada larutan bufer pH 5. Kinerja elektroda dapat dilihat dari kebolehulangan pembuatan 3 EPK dengan standar deviasi relatif sebesar 0,22% (n = 3) dan kebolehulangan 1 EPK dengan standar deviasi relatif sebesar 3,44% (n = 25). Analisis laju pindai menunjukkan bahwa proses transfer elektron yang terjadi pada permukaan elektroda dikontrol oleh proses difusi. Daerah linier pengukuran berada pada rentang 0,01-1 mM (R2=0,9994) dan menghasilkan LOD sebesar 3,34 ?M. Pengukuran TBHQ pada sampel minyak pada mi instan menggunakan metode voltammetri menghasilkan konsentrasi sebesar 103,3 mg/kg dan metode KCKT menghasilkan konsentrasi sebesar 105,9 mg/kg. Dari uji statistik diperoleh bahwa hasil analisis kedua metode tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan.
STUDI KOMPARATIF ZEOLIT MFI, BEA, DAN HIBRIDA MFI-BEA SEBAGAI KATALIS UNTUK BAHAN BAKAR BIO BERKELANJUTAN
Seiring dengan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil, kebutuhan akan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan terus meningkat. Salah satu upaya yang banyak dikembangkan adalah produksi bahan bakar bio berkelanjutan yang berasal dari biomassa, seperti minyak kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja katalis zeolit MFI, BEA, dan hibrida MFI-BEA dalam proses perengkahan katalitik minyak kelapa sawit untuk menghasilkan fraksi bensin dengan kualitas yang merujuk pada spesifikasi Pertamax. Karakterisasi katalis dilakukan dengan XRD dan FTIR untuk memastikan keberhasilan sintesis dan pembentukan struktur katalis. Analisis fisisorpsi nitrogen dilakukan untuk mengetahui luas permukaan dan volume pori katalis. Selain itu, morfologi katalis juga dianalisis menggunakan karakterisasi SEM. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa katalis hibrida MB0,57, MB0,50, dan MB0,44 berhasil terbentuk, dengan struktur yang dikonfirmasi melalui puncak-puncak kombinasi dari zeolit MFI dan BEA pada difraktogram XRD dan spektrum FTIR. Katalis MB0,44 memiliki luas permukaan total dan volume pori total yang paling tinggi dibandingkan katalis lainnya. Dalam uji performa katalitik, katalis MB0,44 menghasilkan fraksi bensin dengan kandungan aromatik sebesar 68,64% (v/v), benzena sebesar 7,16% (v/v), dan nilai RON sekitar 102, menunjukkan performa terbaik di antara semua katalis hibrida MFI-BEA yang disintesis secara kimia. Selain MB0,44, katalis MFI-BEA juga memberikan performa terbaik dibandingkan katalis hibrida yang disintesis secara fisik lainnya. Katalis MFI-BEA menghasilkan fraksi bensin dengan kandungan aromatik sebesar 67,85% (v/v), benzena sebesar 8,17% (v/v), dan nilai RON sekitar 102. Hasil ini menunjukkan bahwa pembentukan hibrida pada struktur zeolit dapat meningkatkan kualitas fraksi bensin yang diperoleh dari proses perengkahan katalitik, serta mendukung pengembangan bahan bakar bio berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.