📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

ADSORPSI ION CD2+ MENGGUNAKAN BIOKOMPOSIT CA-ALGINAT MAGNETIT DAUN KELOR

Keberadaan ion logam berat dalam perairan memberikan dampak buruk pada lingkungan berupa pencemaran air. Salah satu logam berat yang banyak ditemukan dalam air permukaan, air tanah, maupun air minum merupakan ion logam kadmium. Paparan ion kadmium dapat memberikan efek gangguan kesehatan pada manusia seperti kelainan ginjal, gangguan paru kronis, dan kanker. Terdapat metode untuk mengurangi kadar ion kadmium dalam air yaitu dengan adsorpsi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat biokomposit Ca-alginat dengan magnetit dan daun kelor serta menentukan kondisi optimum adsorpsi ion kadmium dengan adsorben. Pembuatan bulir adsorben dilakukan dengan mencampurkan alginat, daun kelor, dan magnetit kemudian dialirkan pada larutan CaCl2 menggunakan pompa peristaltik. Metode karakterisasi adsorben yang telah disintesis meliputi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (SEM-EDS) lalu kuantifikasi ion kadmium dilakukan dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Dari penelitian ini, komposisi optimum komposit Ca-alginat magnetit daun kelor diperoleh pada komposisi A:DK (3:4). Dengan adanya pergeseran bilangan gelombang spektrum FTIR pada gugus fungsi karbonil, hidroksil, dan Fe-O menunjukkan bahwa gugus fungsi tersebut berperan dalam proses penyerapan ion kadmium. Dari hasil karakterisasi SEM-EDS pada adsorben setelah kontak menunjukkan adanya ion kadmiumdi permukaan adsorben. Kondisi optimum adsorpsi ion kadmium menggunakan adsorben didapatkan pada pH 7 dengan waktu kontak selama 3 jam. Adsorpsi ion kadmium dengan biokomposit alginat magnetit daun kelor mengikuti model kinetika adsorpsi orde satu semu serta model isoterm Langmuir dengan qmaks sebesar 0,256 mg/g. Berdasarkan studi termodinamika, proses adsorpsi bersifat eksotermik dan menurunkan ketidakteraturan.

2025
👤 Penulis: Caecillia Caroline Sugiyanto
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT ALGINAT MAGNETIT DAUN KELOR (AMD) UNTUK ADSORPSI ION PB(II)

Pencemaran perairan akibat limbah logam berat telah menjadi permasalahan serius karena menimbulkan risiko toksisitas bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia. Cemaran ion Pb2+ dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk cacat lahir dan keterbelakangan mental, efek toksik terhadap sistem saraf, peredaran darah, dan organ vital, bahkan dalam konsentrasi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan komposit yang terbuat dari alginat, magnetit dan daun kelor (AMD) untuk adsorpsi ion Pb²? dalam air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komposit (AMD) berhasil disintesis dan dikarakterisasi melalui Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Spektrum FTIR komposit AMD mengindikasikan puncak-puncak serapan sejumlah gugus fungsi (yaitu gugus –OH, COO– dan Fe–O) yang terdapat pada masing-masing komponen komposit (alginat, magnetit dan daun kelor). Berdasarkan pergeseran bilangan gelombang yang teramati pada spektrum IR komposit AMD setelah adsorpsi, gugus karboksilat, karbonil dan hidroksil berperan dalam adsorpsi ion Pb²?. Selain itu, hasil SEM juga telah menunjukkan adanya ion timbal pada permukaan komposit AMD setelah adsorpsi. Kondisi optimum untuk adsorpsi ion Pb²? oleh komposit AMD tercapai pada suhu 303 K, pH 3, dan waktu kontak selama 5 jam. Hasil studi kinetika menunjukkan bahwa proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde satu semu, sementara studi isoterm mengindikasikan kecocokan dengan model isoterm Langmuir, dengan kapasitas adsorpsi maksimum (qmaks) sebesar 91,56 mg/g. Proses adsorpsi Pb²? oleh komposit AMD bersifat eksotermik.

2025
👤 Penulis: Ahmad Lazuardi Ramadhan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN MATERIAL SENSOR BERBASIS RESONANSI PLASMON PERMUKAAN DAN KOLORIMETRI CITRA DIGITAL UNTUK DETEKSI ION LOGAM HG(II) MENGGUNAKAN NANOPARTIKEL PERAK TERMODIFIKASI POLIMER BERCETAK ION

Air merupakan komponen vital dalam kehidupan manusia dan dimanfaatkan dalam berbagai sektor seperti industri, pertanian, rumah tangga, serta sebagai sumber air minum. Namun, ketersediaan air bersih kini semakin menurun akibat aktivitas industri, pertanian, irigasi, dan meningkatnya kepadatan penduduk. Pembuangan limbah yang tidak terkendali menyebabkan air tercemar oleh berbagai polutan, termasuk logam berat. Salah satu ancaman serius terhadap kualitas air adalah penggunaan merkuri (Hg) dalam kegiatan penambangan emas ilegal. Ion merkuri (Hg2+) merupakan polutan logam berat yang sangat toksik, bahkan dalam konsentrasi rendah, karena dapat mengganggu sistem saraf pusat, merusak ginjal, dan menyebabkan efek toksik kronis pada manusia maupun organisme akuatik. Di lingkungan perairan, Hg(II) dapat mengalami transformasi menjadi Hg+, Hg0, dan metil merkuri (MeHg) melalui interaksi dengan senyawa organik-anorganik dan mikroorganisme. Pengolahan air tercemar menjadi sangat penting agar tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Beberapa metode pengolahan seperti pengendapan, penyaringan, adsorpsi, penukar ion, dan fotodegradasi telah banyak digunakan. Namun, proses monitoring kualitas air secara berkala menggunakan sensor yang cepat, sensitif, dan selektif menjadi langkah awal yang krusial. Teknik konvensional seperti Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), Atomic Emission Spectrophotometry (AES), Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS), dan metode elektrokimia memiliki sensitivitas dan akurasi tinggi. Namun, metode-metode ini relatif mahal, rumit, dan kurang cocok untuk analisis lapangan. Nanopartikel perak (AgNPs) melalui sintesis hijau menjadi alternatif menarik dalam pengembangan sensor karena memanfaatkan bahan alami seperti ekstrak polong buah Kabau yang merupakan limbah rumah tangga dan pasar tradisional. Ekstrak polong buah Kabau mengandung senyawa metabolit aktif (flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid) yang berfungsi sebagai agen pereduksi dan penstabil. AgNPs dapat digunakan dalam bentuk terdispersi maupun dikembangkan ke dalam paper-based analytical devices (PADs). Meski menawarkan kelebihan seperti biaya rendah dan kemudahan penggunaan, tantangan tetap ada terkait selektivitas, sensitivitas, dan kestabilan AgNPs yang terbatas oleh waktu dan interferensi matriks lingkungan. Ion-imprinted polymer/polimer bercetak ion (IIP) hadir sebagai solusi karena memiliki situs pengenalan spesifik terhadap ion target dan stabil dalam berbagai kondisi. Dalam penelitian ini, dikembangkan sensor berbasis resonansi plasmon permukaan (SPR) dan kolorimetri citra digital (DIC) menggunakan AgNPs yang dimodifikasi dengan IIP spesifik untuk Hg(II), menghasilkan material AgNPs@IIP-Hg. AgNPs disintesis secara ramah lingkungan menggunakan ekstrak polong Kabau, menghasilkan nanopartikel berbentuk spherical berukuran rata-rata 16,01 nm yang stabil berdasarkan karakterisasi spektrofotometer UV-Vis, Transmission Electron Microscope (TEM), Particle size analyzer (PSA), zeta potensial, Fourier Transform Infrared (FTIR), dan X-ray Diffraction (XRD). IIP-Hg disintesis dengan metode presipitasi menggunakan 4-vinil piridin, etilen glikol dimetakrilat (EGDMA), Benzoil peroksida (BPO), dan etanol, kemudian dikarakterisasi menggunakan FTIR, Scanning Electrom Microscopy-Energy-Dispersive Spectrometer (SEM-EDS), PSA, zeta potensial, serta thermogravimetric analysis (TGA-DTG). Hasil studi adsorpsi menunjukkan kondisi optimum pada pH 4, waktu kontak 60 menit, dan massa adsorben 20 mg, dengan kapasitas adsorpsi maksimum 41,32 mg.g-1 untuk ion-imprinted polymer Hg (IIP-Hg) dan 23,31 mg.g-1 untuk non-imprinted polymer (NIP). Proses adsorpsi mengikuti kinetika orde dua semu dan isoterm Langmuir. IIP-Hg menunjukkan kemampuan adsorpsi terhadap Hg(II) yang lebih tinggi dibandingkan polimer non-imprinted (NIP), dengan nilai imprinting factor sebesar 1,77, yang mengindikasikan adanya situs pengenalan spesifik terhadap ion target pada IIP-Hg. Selain itu, IIP-Hg juga menunjukkan selektivitas tinggi terhadap Hg(II) dibanding logam lain (Cu2+, Pb2+, Cd2+). Parameter termodinamika menunjukkan proses berlangsung spontan (?G < 0), eksoterm (?H < 0), dan disertai peningkatan ketidakteraturan pada sistem adsorpsi (?S > 0). IIP-Hg dapat digunakan ulang hingga lima siklus tanpa kehilangan performa signifikan. Modifikasi material AgNPs@IIP-Hg berhasil disintesis dan dikarakterisasi melalui UV-Vis, FTIR, SEM, HRTEM, EDS, dan SAED. Hasil menunjukkan AgNPs terdistribusi merata di permukaan IIP-Hg dengan struktur polikristalin. Sensor AgNPs@IIP-Hg memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan AgNPs tanpa modifikasi, dengan LOD dan LOQ yang lebih rendah. Pengujian visual dengan metode DIC menunjukkan perubahan intensitas warna blue yang linier terhadap konsentrasi Hg(II). Pengujian pada sampel nyata dari tambang emas rakyat dengan metode spike menunjukkan hasil tidak berbeda signifikan dibandingkan metode standar CVAAS, yang menegaskan keandalan sensor ini. Dengan demikian, material AgNPs@IIP-Hg berbasis SPR dan DIC menunjukkan potensi besar sebagai sensor lapangan yang efisien, selektif, ramah lingkungan, dan aplikatif untuk deteksi ion logam Hg(II) di lingkungan perairan.

2025
👤 Penulis: Muhamad Allan Serunting
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kualitas Air 🏷️ Sensor Nanopartikel

STUDI INKLUSI FLUIDA UNTUK ANALISIS PROSES TERMAL PADA AREA RESERVOIR SISTEM PANAS BUMI PATUHA

Lapangan panas bumi Patuha Unit 2 berada pada pad yang sama dengan Unit 1, tetapi memiliki lintasan sumur yang berbeda. Data sebelumnya mencatat adanya proses pendidihan, pemanasan, serta indikasi intrusi magmatik di PPL-7, sehingga membuka peluang adanya kontribusi fluida magmatik pada sistem ini. Penelitian ini meninjau ulang kondisi termal Unit 2 menggunakan analisis inklusi fluida yang dianggap lebih presisi dibandingkan geotermometer alterasi, mengingat heterogenitas lateral–vertikal serta pengaruh campuran air meteorik yang dapat memperlebar rentang estimasi suhu. Tujuannya adalah memetakan evolusi termal melalui distribusi temperatur homogenisasi (Th), membedakan liquid-rich dan vapor-rich untuk mengenali jejak pendidihan, menilai kontribusi magmatik berdasarkan salinitas, serta menyusun rekomendasi area prospek. Data yang digunakan berupa coring dan cutting berjumalh 4 sumur dengan 2 kedalaman berbeda dalam satu sumur yakni sumur 9Z (1471,47 dan 1471,5 mMD), 4W (1616,7 dan 1617,7 mMD), 7Y (1464,05 dan 1464,95 mMD), 6Z (1480 dan 1480,2 mMD). Metodenya meliputi mikrotermometri pada sayatan ganda (penentuan temperatur homogenisasi dan salinitas dari temperatur peleburan), klasifikasi tipe inklusi, dan integrasi dengan log temperatur untuk menyusun kontur isotermal berbasis modus temperatur homogenisasi. Hasil utama menunjukkan 9Z memiliki Th rata-rata ~270°C dengan salinitas 2–3% dan inklusi dua fasa dengan vapor-rich, 4W merekam Th 250–270°C dengan salinitas 3–12% dan vapor-rich (jejak magmatik kuat), 7Y menampilkan dua episode kontras (1464,05 mMD: Th ~220°C, 1–2%; 1464,95 mMD: Th hingga ~340°C, salinitas sampai ~21% dan vapor-rich intens), sedangkan 6Z umumnya Th ~220°C dengan salinitas 1–2%. Dari analisis juga menunjukkan bahwa sumur 4W (modus Th 280°C) dan 9Z (270°C) merupakan zona bersuhu tinggi yang prospektif. Sumur 9Z memperlihatkan indikasi pemanasan lokal dengan salinitas rendah, sementara 4W merekam episode boiling diikuti pendinginan. Sebaliknya, 6Z menunjukkan tren dilusi yang kuat akibat masuknya air meteorik, sedangkan 7Y merepresentasikan kondisi menengah dengan indikasi boiling lokal. Implikasi geotermalnya menunjukkan bahwa reservoir aktif cenderung menyempit ke arah barat laut (4W dan 9Z), dengan tren boiling dan pemanasan dari tenggara ke barat laut. Sementara itu, tren pendinginan dan mixing terdistribusi ke arah timur dan selatan (6Z dan 7Y).

2025
👤 Penulis: Yaumun Nurul Chotimah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

SIMULASI PENGARUH ANGIN GUNUNG DAN LEMBAH TERHADAP SEBARANEMISIC02 GEOTHERMAL POWER PLANTPATUHA (STUDI KASUS: 11-13 AGUSTUS 2023)

Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Patuha yang berada di kawasan pegunungan memainkan peran penting dalam mendistribusikan emisi C02 sehingga dapat memengaruhi area tertentu dengan tingkat konsentrasi emisi yang lebih tinggi. Tanpa pemahaman yang jelas mengenai pola penyebaran emisi, akan ada risiko peningkatan akumulasi C02 di wilayab tertentu, yang dapat berdampak pada kualitas udara dan lingkungan. Selain itu, jika PLTP berkembang dan laban hijau di sekitar berkurang, diperlukan strategi mitigasi yang tepat agar kawasan yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami tidak terdarnpak secara signiftkan. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mensimulasikan pola penyebaran emisi C02 yang dipengaruhi oleb sirkulasi angin gunung dan lembab di kawasan PLTP Patuba. Pada penelitian ini, metode yang digunakan difokuskan pada simulasi sebaran emisi C02 pada tanggal penelitian yang dipilib. Simulasi model dilakukan menggunakan dua aplikasi yaitu WRF dan HYSPLIT. Inputan WRF menggunakan data FNL dengan resolusi temporal 6 jam dan resolusi spasial 0,25° x 0,25°. Simulasi WRF menggunakan tiga domain kajian yaitu 9 km, 3 km, dan 1 km. Hasil output WRF akan divalidasi menggunakan data ERAS. Model HYSPLIT digunakan untuk menunjang basil simulasi dilihat dari potensi arab sebaran ernisi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sirkulasi angin gunung dan lembab berperan penting dalam penyebaran emisi C02 di sekitar PLTP Patuha. Angin meridional lebih dominan dibandingkan angin zonal, dengan pola yang lebih terorganisir dan kecepatan lebih tinggi. Pola angin menunjukkan dominasi angin gunung pada pagi hari dan angin lembah pada siang bari, serta transisi pada sore hingga malam. Analisis vertikal mengindikasikan zona pembalikan angin pada ketinggian 3000- 4000 meter. Hasil trayektori menunjukkan arah sebaran emisi ke barat !aut, sebingga area hijau di wilayah tersebut sebaiknya dipertabankan sebagai penyerap alami C02.

2025
👤 Penulis: Ratu Naia Ariefari
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN SKALA CORE-TO-FIELD PADA SURFAKTAN–POLIMER FLOODING UNTUK PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK

The declining production from mature oil fields remains a critical challenge, as conventional methods recover only about 30% of the Original Oil in Place (OOIP). Surfactant–Polymer (SP) flooding, a Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) technique, offers potential to improve recovery by reducing interfacial tension and increasing sweep efficiency. This study aims to calibrate a core-scale SP flooding model using laboratory experimental data and upscale it to field scale for production forecasting. A numerical model was developed in CMG-BUILDER, validated through history matching with CMG-CMOST, and simulated in CMG-STARS. The history matching reduced the simulation error from 32.8% to 3.5%, demonstrating accurate representation of waterflooding and chemical flooding behavior after adjustments to relative permeability and capillary number parameters. Fieldscale simulations were performed using a 5-Spot well pattern with heterogeneous porosity and permeability distributions. Sensitivity analysis of surfactant concentration and slug size revealed that longer slugs at lower concentrations improved recovery efficiency, with the optimal case (0.1% surfactant, 0.6 PV slug) achieving the highest recovery factor of 83.67%. These results confirm that slug distribution and sweep coverage are more influential than surfactant concentration once critical interfacial tension reduction is achieved. The integrated workflow from laboratory validation to field-scale simulation provides a reliable approach to evaluate SP flooding performance while minimizing uncertainties and costs prior to field implementation.

2025
👤 Penulis: Fajrin Maulana Ibrahim
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN MRNA PENGKODE PROTEIN SPIKE YANG RESISTEN TERHADAP FURIN DAN TMPRSS2 SEBAGAI KANDIDAT VAKSIN COVID-19

Protein spike SARS-CoV-2 memegang peranan penting dalam infeksi sel inang dan merupakan target utama antibodi netralisasi. Namun, sifat metastabil dan kerentanan spike terhadap protease sel inang, yakni Furin dan TMPRSS2, dapat mengurangi efektivitas imunogenisitasnya. Studi terdahulu telah membuktikan bahwa mutasi gen spike SARS CoV-2 pada residu R682G dan S813Y dapat menyebabkan resistensi terhadap proteolitik oleh Furin dan TMPRSS2 sehingga protein spike tetap memiliki struktur yang stabil dan utuh. Vaksin berbasis Messenger RNA (mRNA) merupakan alternatif baru dari vaksin konvensional dengan peran penting dalam pengendalian penyakit menular. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kandidat vaksin COVID-19 berbasis mRNA yang mengkode protein spike SARS-CoV-2 ITB dengan mutasi pada residu R682G dan S813Y, yang diharapkan dapat resisten terhadap protease Furin dan TMPRSS2 sehingga memicu respons imun adaptif yang lebih tinggi. Mutasi S813Y dilakukan pada gen spike-R682G melalui PCR site-directed mutagenesis dan dikonfirmasi dengan teknik sekuensing, lalu dilakukan subkloning ke dalam vektor ekspresi pcDNA3.1(+)-UTR. DNA plasmid berkualitas tinggi diproduksi dan dilinierisasi, kemudian digunakan sebagai templat dalam transkripsi in vitro untuk mensintesis mRNA dan divalidasi melalui elektroforesis, spektrofotometri, dan RT-qPCR. Hasil sekuensing menunjukkan terdapat mutasi pada residu R682G dan S813Y pada plasmid bakteri transforman. Plasmid pcDNA3.1(+)-UTR_spike-mutan menunjukkan kemurnian, baik dengan nilai rasio A???/??? 1,93 dan tingkat supercoil ? 88 %. Transkripsi secara in vitro menghasilkan mRNA dengan panjang ? 4.280 bp, nilai rasio A???/??? 1,92 dan konsentrasi mRNA ? 45 ?g/reaksi. Keberadaan mRNA pengkode spike terkonfirmasi melalui RT-qPCR. Keberhasilan konstruksi gen mutan dan sintesis mRNA membuka peluang untuk pengembangan kandidat vaksin berbasis mRNA sebagai platform vaksin yang cepat dan adaptif untuk menghadapi penyakit menular yang sedang berkembang.

2025
👤 Penulis: Novi Safitri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Vaksin Covid-19 🏷️ Protein Spike Sars-Cov-2

PEMODELAN PENYEBARAN PENYAKIT MENULAR PASCAPANDEMIK COVID-19 MELALUI TEORI PERMAINAN DAN PENDEKATAN HUTAN EPIDEMIK

Penelitian ini memodelkan penyebaran penyakit menular antarinvidu dan antarwilayah pada situasi pascapandemik. Pada model tingkat individu, diamati keterkaitan antara dinamika penyebaran penyakit dengan pengambilan keputusan menggunakan masker melalui teori permainan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kerangka teori permainan, keputusan individu menggunakan masker dipengaruhi oleh perilaku pengguna masker dalam masyarakat dan rasio antara biaya menggunakan masker dengan biaya terinfeksi. Lebih lanjut lagi diperoleh kesimpulan bahwa perilaku sosial, yaitu sikap kooperatif dalam menggunakan masker, berpengaruh terhadap insidensi penyakit. Selanjutnya pada model tingkat wilayah digunakan konsep hutan epidemik untuk mempelajari penyebaran pemodelan penyebaran penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara spasio-temporal. Konsep ini menghasilkan graf berbentuk hutan yang merepresentasikan penyebaran penyakit secara eksplisit yang melibatkan waktu awal terjadinya wabah, jarak spasio-temporal, dan prevalensi penyakit. Penentuan waktu awal terjadinya wabah di setiap wilayah dilakukan menggunakan kurva logistik. Berdasarkan waktu awal terjadinya wabah, diperoleh bahwa terdapat empat periode wabah ISPA, dan wilayah dengan waktu awal terjadinya wabah yang lebih awal relatif memiliki jumlah kasus yang tinggi. Hal ini mengarah pada gagasan bahwa sumber penyebar penyakit adalah wilayah dengan jumlah kasus tinggi. Hutan epidemik dibentuk untuk menunjang gagasan tersebut dan berhasil mengidentifikasi pohon dominan (yaitu pohon dengan jumlah kasus anak paling tinggi). Wilayah yang menjadi kasus primer pada pohon dominan memiliki jumlah kasus yang relatif lebih tinggi dibandingkan pohon lain. Simulasi dilakukan dengan mengurangi jumlah kasus pada wilayah primer sebesar 50% untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hutan yang terbentuk. Hasil simulasi menunjukkan bahwa terdapat pengurangan jumlah kasus anak yang dihasilkan sehingga diperoleh target potensial pencegahan wabah untuk menekan perluasan penyebaran ISPA.

2025
👤 Penulis: Yuki Novia Nasution
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERAN MEDIASI KEBAHAGIAAN PEGAWAI DALAM ADOPSI TEKNOLOGI DIGITAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KINERJA DAN BUDAYA KERJA DI PERUSAHAAN TAMBANG BATUBARA XYZ

Penelitian ini mengkaji peran mediasi kebahagiaan karyawan dalam hubungan antara adopsi teknologi digital dan hasil organisasi, khususnya terhadap kinerja pegawai dan budaya kerja di PT XYZ, sebuah perusahaan pertambangan batubara terkemuka di Indonesia. Berlandaskan pada empat konstruk yang saling terkait yaitu kebahagiaan karyawan, adopsi teknologi digital, kinerja karyawan dan budaya kerja, penelitian ini menawarkan wawasan baru mengenai bagaimana faktor psikologis memengaruhi adopsi teknologi di industri berisiko tinggi dan padat karya. Dengan menjawab kesenjangan signifikan dalam literatur, studi ini mengeksplorasi mekanisme bagaimana alat digital memengaruhi kinerja pegawai, terutama di sektor-sektor dengan tuntutan fisik tinggi dan tingkat stres kerja yang signifikan. Dengan menggunakan metodologi kuantitatif yang kuat, analisis dilakukan melalui pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan perangkat lunak SmartPLS terhadap data survei yang diperoleh dari 124 karyawan operasional lini depan di PT XYZ. Penelitian ini menguji empat hipotesis utama: (1) adopsi teknologi digital berpengaruh positif terhadap kebahagiaan karyawan, (2) kebahagiaan memediasi hubungan antara adopsi teknologi digital dan kinerja, (3) kebahagiaan memediasi hubungan antara adopsi teknologi digital dan budaya kerja, serta (4) budaya kerja memoderasi hubungan antara kebahagiaan dan kinerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat digital secara signifikan meningkatkan kebahagiaan karyawan (? = 0,612, p < 0,001), yang pada gilirannya mendorong peningkatan kinerja (? = 0,317, p = 0,001) dan membentuk budaya kerja yang positif (? = 0,491, p < 0,001). Namun, efek moderasi budaya kerja tidak didukung secara statistik (? = 0,102, p = 0,212), yang mengindikasikan adanya kekakuan budaya dalam lingkungan industri tradisional. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap wacana transformasi digital dengan memfokuskan kajian pada industri pertambangan batubara, sebuah sektor yang selama ini kurang terwakili dalam berbagai studi sebelumnya. Studi ini memperluas model tradisional seperti Technology Acceptance Model (TAM) dengan memasukkan dimensi emosional, serta menunjukkan bahwa alat digital tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga dapat mengurangi stres dan meningkatkan motivasi. Secara teoritis, penelitian ini memvalidasi model struktural yang menempatkan kebahagiaan sebagai mediator dalam pengaruh teknologi terhadap kinerja dan budaya organisasi. Sementara itu, tidak signifikannya peran moderasi budaya kerja memberikan pemahaman baru mengenai keterbatasan lingkungan kerja yang hierarkis dan sangat berfokus pada keselamatan. Secara metodologis, pengembangan kuesioner dengan 30 butir pernyataan menghasilkan alat ukur yang andal untuk menilai dimensi emosional dan budaya dalam lingkungan kerja digital. Dari perspektif praktis, temuan penelitian ini menekankan pentingnya strategi transformasi digital yang berpusat pada manusia. Tiga intervensi berbasis bukti direkomendasikan: (1) penerapan Digital-Engagement Dashboard untuk memantau penggunaan teknologi dan keterlibatan karyawan, (2) pembentukan Innovation Labs lintas fungsi guna mendorong perubahan budaya secara kolaboratif, dan (3) program pelatihan kepemimpinan untuk membangun empati digital dan kecerdasan emosional. Solusi-solusi ini bertujuan menyelaraskan sistem teknologi dengan kesejahteraan psikologis dalam konteks industri. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan longitudinal serta perbandingan lintas industri guna memperdalam validasi kerangka kerja dan memahami lebih jauh dinamika budaya. Dengan menempatkan kebahagiaan sebagai mediator yang kritikal, studi ini menjembatani bidang psikologi organisasi dan sistem informasi, serta menawarkan wawasan aplikatif bagi industri yang tengah menavigasi transformasi digital di lingkungan kerja berisiko tinggi.

2025
👤 Penulis: Sigit Herutomo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Psikologi Organisasi

ANALISIS DAN STUDI PARAMETRIK PENYERAPAN ENERGI IMPAK STRUKTUR SUBFLOOR PESAWAT KOMUTER 19 PENUMPANG

Penelitian ini menganalisis kelaiktabrakan struktur subfloor pesawat komuter 19 penumpang melalui simulasi numerik berbasis finite element analysis (FEA) menggunakan LS-DYNA untuk mengevaluasi kemampuan penyerapan energi impak dan memahami pengaruh parameter desain dengan penerapan crash box tipe top-hat. Studi parametrik dilakukan pada dua frame fuselage, dengan variasi material (Al7075-T6, AA6061-T6, dan Al2024-T3), ketebalan, dan model stiffener. Model divalidasi menggunakan uji referensi top-hat crash box, dengan galat maksimum 3,44% pada gaya dan perpindahan sehingga layak digunakan untuk analisis global. Hasil simulasi menunjukkan fuselage baseline mampu menyerap 13,65 kJ (90% energi kinetik) dengan deformasi dominan berupa buckling dan bending pada subfloor. Penggunaan top-hat crash box berbahan Al7075-T6 dengan ketebalan 1,4 mm memberikan kinerja penyerapan energi terbaik sebagai stiffener meningkatkan specific energy absorption (SEA) subfloor hingga 8.84% dan mengurangi effective G, sebagai ukuran besaran perlambatan, hingga 2.34%.

2025
👤 Penulis: Muhammad Adillah Utama
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS SIFAT ANTARMUKA DAN MORFOLOGI PADA BIOKOMPOSIT DENGAN MATRIKS HIGH IMPACT POLYPROPYLENE-GETAH DAMAR BERPENGUAT SERAT RAMI

Pengembangan komposit menggunakan serat alam sebagai penguat menjadi alternatif dari serat sintetis untuk membuat biokomposit yang lebih ramah lingkungan. Akan tetapi, serat alam kurang bagus digabungkan dengan polyolefin seperti high impact polypropylene (HIPP) karena perbedaan polaritas sehingga ikatan antara keduanya kurang kompatibel. Hal ini menjadikan biokomposit yang dibuat memiliki kualitas antarmuka serat-matriks yang buruk dan menyebabkan sifat mekanik tidak optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan getah damar sebagai coupling agent pada matriks HIPP terhadap densitas, sifat tarik dan antarmuka biokomposit serat rami. Serat rami yang digunakan berupa quasi-unidirectional dengan perlakuan alkalisasi larutan 1% NaOH selama 1 hari. Proses pencampuran matriks dilakukan dengan mesin ekstrusi secara dua tahap dengan variasi fraksi berat damar (Wf) 0%, 15%, 25%, 35%, dan 55%. Biokomposit dibuat menggunakan compression molding dengan fraksi volume serat (????????) 10% untuk setiap variasi. Kemudian, dilakukan uji konstituen biokomposit, densitas, tarik, dan single fiber pull-out untuk dianalisis. Hasil pengujian menunjukkan sifat tarik dan kekuatan geser antarmuka yang tertinggi pada 55% fraksi berat damar. Pada 55 wt% damar, sifat mekanik biokomposit menghasilkan nilai rata-rata kekuatan tarik sebesar 51,38 MPa dengan modulus elastisitas sebesar 5,03 GPa, dan kekuatan geser antarmuka sebesar 10,86 MPa. Selain itu, data dan visual hasil pengujian biokomposit ini mengindikasikan sifat antarmuka (interface) yang baik antara serat dan matriksnya, ditunjukkan dengan kekuatan tarik yang semakin mendekati RoM dan dibuktikan dengan nilai interfacial shear strength yang meningkat.

2025
👤 Penulis: Hikari Aufa Rafiqi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

RISPERIDONE, MIKROSFER PLGA, MIKROENKAPSULASI, EMULSI TUNGGAL-PENGUAPAN PELARUT, FORMULASI LEPAS LAMBAT

Risperidone merupakan antipsikotik atipikal yang bekerja sebagai antagonis reseptor dopamin D? dan serotonin 5-HT?A, digunakan dalam terapi skizofrenia, gangguan bipolar, serta iritabilitas terkait autisme. Karena waktu paruh plasma risperidone yang relatif singkat, diperlukan formulasi penghantaran obat lepas lambat untuk meningkatkan kepatuhan terapi dan kestabilan pelepasan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengevaluasi mikrosfer risperidone berbasis polimer PLGA (rasio LA:GA 75:25) menggunakan metode single emulsion–solvent evaporation. Proses sintesis diawali dengan optimasi parameter mikroenkapsulasi berdasarkan karakteristik blanko mikrosfer PLGA, yang kemudian digunakan untuk enkapsulasi risperidone 50 mg. Karakterisasi FTIR dan XRD mengonfirmasi keberhasilan enkapsulasi obat dalam matriks polimer. Analisis termal (TGA dan DSC) menunjukkan penurunan stabilitas termal pada mikrosfer risperidone-PLGA dibandingkan blanko, namun suhu awal dekomposisi masih sesuai untuk aplikasi farmasi. Pengamatan morfologi dengan SEM menunjukkan mikrosfer berbentuk spherical dengan distribusi ukuran partikel yang lebih baik dibandingkan produk pembanding, Risperdal Consta. Analisis TEM mengungkap adanya area terlokalisasi risperidone di dalam matriks PLGA, menggambarkan fenomena enkapsulasi secara dua dimensi dan distribusi internal obat dalam polimer. Kuantifikasi porositas menggunakan BET mengindikasikan dominasi makropori dan penurunan luas permukaan spesifik akibat keberadaan risperidone dalam matriks. Evaluasi mikroenkapsulasi menunjukkan pemuatan obat sebesar 26,86% dan efisiensi enkapsulasi 70,48%. Secara keseluruhan, formulasi mikrosfer risperidone-PLGA yang diperoleh memenuhi kriteria sebagai sistem penghantaran obat lepas lambat dengan potensi durasi kerja yang lebih panjang.

2025
👤 Penulis: Azica Kurnia Nirwana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

OPTIMISASI MISS RATIO MELALUI MITIGASI DRIFT PADA LEARNED CACHE EVICTION MENGGUNAKAN MODEL ENSEMBLE

Strategi cache eviction yang adaptif menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya dinamika beban kerja pada sistem penyimpanan modern. Salah satu pendekatan yang telah dikembangkan untuk menangani hal ini adalah GL-Cache, sebuah algoritma eviction berbasis machine learning yang melakukan pelatihan ulang model setiap hari. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan dalam menghadapi pola akses yang berubah dengan cepat atau berulang. Penelitian ini mengusulkan strategi manajemen model yang melengkapi GL-Cache dengan tiga strategi, yaitu Matchmaker, Accuracy-Updated Ensemble (AUE), dan DriftSurf. Ketiga strategi ini memungkinkan penyimpanan, pembobotan, maupun penggantian model yang digunakan untuk inferensi secara dinamis. Skema diimplementasikan menggunakan LibCacheSim dan dievaluasi pada 2.103 jejak block-I/O dari tiga dataset: Alibaba (? 9 hari), CloudPhysics (? 7 hari), dan Tencent (± 1 bulan). Dua skenario kapasitas cache digunakan, yaitu kecil (0.1% dari working set) dan besar (10%). Evaluasi dilakukan berdasarkan nilai perbaikan miss ratio serta overhead dari strategi. Signifikansi statistik dianalisis menggunakan uji Wilcoxon satu arah dengan ambang ? = 0.05. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pada cache 0.1%, Matchmaker memberikan peningkatan yang signifikan secara statistik (p < 0.05) di semua dataset. Selain itu, seluruh strategi juga menunjukkan perbaikan signifikan pada dataset Tencent yang berdurasi lebih panjang. Namun, ketika ukuran cache diperbesar menjadi 10%, keunggulannya menjadi kurang signifikan. Analisis menunjukkan bahwa overhead yang dihasilkan dari deployment strategi secara praktis tidak berdampak pada tier berbasis HDD, namun lebih sensitif untuk sistem yang didukung SSD

2025
👤 Penulis: William Nixon
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Optimasi Sistem Penyimpanan

SISTEM PENYIMPANAN DATA EPIGENOMIK UNTUK MENDUKUNG PELATIHAN PREDIKSI KEAKTIFAN CIS-REGULATORY REGIONS DENGAN FEED FORWARD NEURAL NETWORK

Prediksi keaktifan cis-regulatory regions (CRRs) menggunakan neural network pada data epigenomik penting untuk riset penyakit genetik. Namun, data dari proyek FANTOM (Functional Annotation Of The Mammalian Genome) dan ENCODE (Encyclopedia Of DNA Elements) masih tersebar dalam format mentah yang tidak terstruktur, sehingga analisis menjadi lambat dan tidak efisien. Penelitian ini merancang basis data epigenomik terstruktur menggunakan tiga model: MySQL (relasional), Cassandra (kolumnar), dan MongoDB (dokumen), untuk dievaluasi dari sisi kecepatan ekstraksi data. Eksperimen dilakukan dalam dua kondisi: terbatas dan produksi. Pada kondisi terbatas, Cassandra menunjukkan kinerja rendah dibanding MySQL dan MongoDB, sehingga tidak digunakan pada tahap production. Dalam kondisi production, aplikasi web yang dikembangkan mendukung query data epigenomik, pemilihan fitur dan lini sel, serta pelatihan model klasifikasi menggunakan Feedforward Neural networks melalui batch streaming untuk mengatasi masalah memori. MongoDB, dengan skema denormalisasi dan dukungan dokumen bersarang, secara konsisten unggul dalam mengurangi waktu ekstraksi—hingga 100× lebih cepat pada skala kecil dan 12× pada skala besar dibanding MySQL, serta 1,31× lebih cepat dibanding metode tanpa basis data.

2025
👤 Penulis: Marco William Langi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Data Mining Epigenomik 🏷️ Manajemen Basis Data

IMPLEMENTASI DAN AUTOMASI PLATFORM EKSPERIMEN JARINGAN BERKINERJA TINGGI DENGAN DATA PLANE DEVELOPMENT KIT (DPDK) DAN VECTOR PACKET PROCESSOR (VPP)

Ketergantungan masyarakat terhadap layanan digital yang terus meningkat menuntut infrastruktur jaringan untuk bekerja dengan cepat, efisien, dan andal. Mayoritas server di dunia menggunakan sistem operasi Linux , yang meskipun andal, memiliki keterbatasan kinerja pada lalu lintas jaringan yang sangat besar karena overhead dari kernel networking stack. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan kernel bypass seperti Data Plane Development Kit (DPDK) dan Vector Packet Processing (VPP) dikembangkan untuk memungkinkan pemrosesan paket di user space, sehingga meningkatkan throughput dan mengurangi latensi. Namun, implementasi dan pengujian teknologi ini seringkali kompleks dan memerlukan konfigurasi manual yang signifikan. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengotomatisasi sebuah platform eksperimen jaringan berkinerja tinggi yang memanfaatkan teknologi DPDK dan VPP. Platform ini dirancang untuk dapat berintegrasi dengan testbed jaringan lOOGbps Institut Teknologi Bandung (ITB) dan memfasilitasi eksperimen secara otomatis untuk membandingkan kinerja kernel bypass dengan Linux networking stack konvensional. Metodologi yang digunakan meliputi analisis persyaratan desain untuk tiga subsistem utama: infrastruktur, otomasi, dan antarmuka. Subsistem infrastruktur diimplementasikan pada general-purpose server yang terhubung ke jaringan testbed, dengan Node 4 dan 5 berfungsi sebagai generator lalu lintas menggunakan DPDK-pktgen, dan Node 6 sebagai Device-Under-Test (DUT) yang menjalankan VPP dengan DPDK atau Linux kernel stack. Subsistem otomasi dikembangkan menggunakan Ansible untuk mengelola seluruh siklus hidup eksperimen, mulai dari pengecekan lingkungan, persiapan konfigurasi, eksekusi pengujian, hingga pembersihan pasca-eksperimen, sehingga meminimalkan intervensi manual. Sebagai antarmuka, digunakan Command Line Interface (CLI) untuk interaksi pengguna. Pengujian dilakukan dalam beberapa skenario, yaitu receive-only, basic forwarding, dan multiple destination forwarding dengan variasi jumlah sesi dan porta. Parameter kinerja utama yang diukur adalah throughput dalam packets per second (Mpps) dan penggunaan CPU (%). Hasil pengujian menunjukkan bahwa platform berbasis DPDK dan VPP memiliki performa yang jauh lebih unggul dibandingkan Linux networking stack pada sebagian besar skenario. Dalam pengujian receive-only, DPDK mampu menerima hingga 33.887 Mpps, atau sekitar 10 kali lebih tinggi dari Linux kemel yang hanya mencapai 3.227 Mpps dengan penggunaan CPU yang sama. Pada skenario basic forwarding, VPP dengan satu core mencapai throughput 28.7 Mpps, dan meningkat hingga 45.1 Mpps dengan tiga core , sementara Linux kemel hanya mampu memproses sekitar 6.2 Mpps dengan penggunaan CPU yang jauh lebih tinggi. Meskipun pada skenario multiple destination forwarding dengan satu core kinerja VPP lebih rendah, penambahan core menunjukkan skalabilitas linear yang mendekati performa Linux. Subsistem otomasi juga terbukti berhasil menjalankan seluruh alur kerja eksperimen secara otomatis dan andal. Implementasi platform ini memberikan kontribusi berupa sebuah sistem eksperimen jaringan berkinerja tinggi yang efisien, otomatis, dan sejalan dengan tren adopsi teknologi jaringan berbasis software dan open-source.

2025
👤 Penulis: Bevan Julio Krisna
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 117 dari 418
💬