📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 173 dokumenANALISIS KESTABILAN TEROWONGAN DENGAN METODE RMR, SISTEM-Q, DAN ELEMEN HINGGA PADA TEROWONGAN HEADRACE BENDUNGAN SAGULING, KABUPATEN BANDUNG BARAT, JAWA BARAT
Bendungan Saguling telah dibangun sejak tahun 1980 sebagai salah satu usaha pemerintah untuk memenuhi kebutuhan listrik dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memanfaatkan aliran Sungai Citarum. Bendungan Saguling telah beroperasi selama 37 tahun dan telah membangkitkan listrik sebanyak 2.156 GWh per tahun. Maka dari itu, penelitian dilakukan untuk melakukan karakterisasi massa batuan, analisis kestabilan terowongan, dan evaluasi perkuatan pada STA 1+000 sampai dengan STA 4+910 di terowongan headrace Saguling. Penelitian ini menggunakan data primer yang terdiri dari 6 sampel batuan dan data sekunder yang terdiri dari sifat mekanik batuan, data scanline, serta geometri terowongan headrace. Analisis kestabilan terowongan headrace diawali dengan melakukan karakterisasi massa batuan sesuai dengan metode RMR dan Sistem-Q. Hasil karakterisasi tersebut digunakan untuk menentukan tipe perkuatan yang optimal sesuai dengan kelas massa batuan pada setiap STA. Berdasarkan nilai RMR, STA 1+000 sampai dengan STA 4+910 termasuk ke dalam Kelas II (baik) sehingga perkuatan yang digunakan adalah rock bolts dan conventional shotcrete yang pemasangannya disesuaikan dengan rekomendasi RMR. Berdasarkan nilai Q, pada STA 1+000 sampai dengan STA 4+910 tidak diperlukan perkuatan karena termasuk ke dalam kelompok B dan C. Saat ini, perkuatan yang digunakan berupa rock bolts, wire mesh, dan concrete sesuai dengan shop drawing terowongan headrace Saguling. Analisis kestabilan terowongan dilakukan dengan menggunakan software RS2. Metode yang digunakan adalah metode elemen hingga untuk mendapatkan nilai parameter kestabilan terowongan. Hasil yang didapatkan adalah STA 1+000 sampai dengan STA 4+910 berada dalam kondisi stabil namun cukup kritis untuk mengalami keruntuhan. Tipe perkuatan yang paling baik untuk terowongan headrace Saguling adalah perkuatan saat ini karena memiliki nilai parameter yang paling baik dibandingkan perkuatan rekomendasi berdasarkan RMR dan Sistem-Q.
ANALISIS PERBAIKAN TANAH UNTUK TIMBUNAN PADA ABUTMENT DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRID DAN GEOCELL DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
Pada konstruksi jembatan, pembangunan timbunan di belakang abutmen perlu diperhatikan, termasuk penurunan, stabilitas, dan pengaruhnya terhadap struktur abutmen dan pondasi tiang. Kondisi tanah dasar dan tanah timbunan yang kurang baik menjadi tantangan yang perlu diselesaikan. Geogrid dan geocell adalah material yang umum digunakan sebagai perkuatan timbunan untuk mengatasi masalah tersebut. Meskipun demikian, masih diperlukan pemahaman yang lebih dalam tentang dampak penggunaan kombinasi geogrid dan geocell terhadap stabilitas timbunan di belakang abutmen, terutama ketika dianalisis menggunakan metode elemen hingga. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh material pengisi geocell, material timbunan, dan konfigurasi perkuatan geogrid dan geocell untuk timbunan di belakang abutmen jembatan, dengan fokus pada stabilitas timbunan, penurunan timbunan, dan gaya dalam fondasi tiang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa geocell dapat meningkatkan daya dukung tanah pasir sebesar 2.56 dan lempung sebesar 1.88, sementara geogrid meningkatkan daya dukung pasir sebesar 2.00 dan lempung sebesar 1.33. Jenis perkuatan yang disarankan untuk timbunan di belakang abutmen guna meningkatkan angka keamanan adalah geocell dengan pengisi lempung. Perkuatan tersebut disarankan diletakkan di dasar timbunan untuk perkuatan tunggal atau sebanyak empat lapis dengan spasi 2 meter untuk perkuatan berlapis. Perkuatan ini efektif mengurangi momen lentur, gaya geser, dan deformasi fondasi tiang serta abutmen, tetapi tidak signifikan terhadap penurunan tanah.
PEMETAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) LUMUT BALAI
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PT X dibangun dengan kondisi topografi dan geologis yang kurang ideal, yaitu dengan membukan lahan pegunungan. Hal ini menjadi rentan mengalami pergeseran permukaan tanah. Selain itu, berbagai proses di PLTP menyebabkan getaran-getaran yang dapat meningkatkan resiko pergeseran. PLTP yang menjadi objek studi proyek capstone ini, terdapat objek krusial yaitu pipa penyambung yang menghubungkan aliran listrik dan turap yang menahan permukaan tanah. Apabila objek tersebut mengalami pergseran sampai mengalami kerusakan, maka produksi tenaga listrik dapat terganggu, sehingga diperlukan upaya monitoring pergeseran yang terjadi. Capstone ini memiliki tiga tujuan, yaitu untuk menentukan nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark, mendeteksi pergeseran objek krusial berupa pipa penyambung dan turap, dan melakukan pemodelan 3D wilayah PLTP Lumut Balai. Pada proyek ini digunakan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan Global Navigation Satellite System (GNSS). Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark adalah dengan meregresi linearkan data koordinat GNSS dari kala yang berbeda. Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai pergeseran objek adalah dengan data point cloud yang dilakukan proses-proses pengolahan menggunakan perangkat lunak pengolahan point cloud mulai dari proses registrasi, cleaning, georeferensi, hingga deteksi pergeseran dengan menggunakan metode yang disebut Multiscale Model to Model Cloud Comparison (M3C2). Metode pembuatan model 3D dilakukan dengan picking point dari data point cloud. Kemudian, akan dibentuk objek sesuai dengan titik yang dipilih. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat titik-titik benchmark yang terindikasi mengalami pergeseran pada arah horizontal dan pada arah vertikal. Hasil analisis pergeseran objek menunjukkan bahwa pipa penyambung mengalami pergeseran yang signifikan pada bagian kanan bawah pipa penyambung. Sedangkan turap tidak mengalami pergseran yang signifikan. Terakhir, dihasilkan model 3D dari wilayah PLTP Lumut Balai dengan Level of Detail (LoD) 2.
STUDI DESAIN BASEMENT DAN FONDASI TAHAN GEMPA UNTUK PROYEK MURAI TOWER DI JAKARTA UTARA
Proyek Murai Tower merupakan proyek pembangunan gedung yang terdiri atas tower office dan basment dua tingkat. Tower office terdiri dari 56 lantai struktural yang dibangun dengan sistem struktursistem rangka pemikul momen khusus (SPRMK). Pembanguan proyek ini berlokasi di Jakarta Utara sehingga gempa perlu dipertimbangkan terhadap desain bangunan yang akan dibangun. Untuk perancangan basement, akan dilakukan pemasangan diaphragm wall yang diikuti dengan penggalian secara bertahap. Penggalian untuk setiap tahapan akan dipasangkan dengan ground anchor untuk menjaga stabilitas galian. Preliminary design dari ground anchor akan dilakukan secara konvensional. Kemudian, analisis untuk setiap tahap galian dalam akan dilakukan dengan program MIDAS GTS NX. Sistem pondasi yang digunakan berupa sistem pondasi tiang bor yang disatukan oleh raft. Sistem pondasi ini dipilih karena proyek ini berada di Kota Jakarta yang padat sehingga getaran yang dihasilkan oleh tiang pancang beresiko dapat memberikan dampak kepada gedung-gedung eksisting di sekitar. Dalam menentukan daya dukung pondasi, preliminary design akan dilakukan dengan berbagai korelasi-korelasi dari data N-SPT yang dimiliki. Selanjutnya, digunakan aplikasi LPILE dan GROUP untuk mendapatkan kapasitas batas aksial, lateral, dan momen. Pemeriksaan akhir akan dilakukan dengan memodelkan menggunakan aplikasi MIDAS GTS NX untuk memastikan bahwa gaya yang terjadi masih berada pada kapasitas syarat.
PEMETAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) LUMUT BALAI 1
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PT X dibangun dengan kondisi topografi dan geologis yang kurang ideal, yaitu dengan membukan lahan pegunungan. Hal ini menjadi rentan mengalami pergeseran permukaan tanah. Selain itu, berbagai proses di PLTP menyebabkan getaran-getaran yang dapat meningkatkan resiko pergeseran. PLTP yang menjadi objek studi proyek capstone ini, terdapat objek krusial yaitu pipa penyambung yang menghubungkan aliran listrik dan turap yang menahan permukaan tanah. Apabila objek tersebut mengalami pergseran sampai mengalami kerusakan, maka produksi tenaga listrik dapat terganggu, sehingga diperlukan upaya monitoring pergeseran yang terjadi. Capstone ini memiliki tiga tujuan, yaitu untuk menentukan nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark, mendeteksi pergeseran objek krusial berupa pipa penyambung dan turap, dan melakukan pemodelan 3D wilayah PLTP Lumut Balai. Pada proyek ini digunakan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan Global Navigation Satellite System (GNSS). Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark adalah dengan meregresi linearkan data koordinat GNSS dari kala yang berbeda. Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai pergeseran objek adalah dengan data point cloud yang dilakukan proses-proses pengolahan menggunakan perangkat lunak pengolahan point cloud mulai dari proses registrasi, cleaning, georeferensi, hingga deteksi pergeseran dengan menggunakan metode yang disebut Multiscale Model to Model Cloud Comparison (M3C2). Metode pembuatan model 3D dilakukan dengan picking point dari data point cloud. Kemudian, akan dibentuk objek sesuai dengan titik yang dipilih. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat titik-titik benchmark yang terindikasi mengalami pergeseran pada arah horizontal dan pada arah vertikal. Hasil analisis pergeseran objek menunjukkan bahwa pipa penyambung mengalami pergeseran yang signifikan pada bagian kanan bawah pipa penyambung. Sedangkan turap tidak mengalami pergseran yang signifikan. Terakhir, dihasilkan model 3D dari wilayah PLTP Lumut Balai dengan Level of Detail (LoD) 2.
PEMETAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) LUMUT BALAI 1
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PT X dibangun dengan kondisi topografi dan geologis yang kurang ideal, yaitu dengan membukan lahan pegunungan. Hal ini menjadi rentan mengalami pergeseran permukaan tanah. Selain itu, berbagai proses di PLTP menyebabkan getaran-getaran yang dapat meningkatkan resiko pergeseran. PLTP yang menjadi objek studi proyek capstone ini, terdapat objek krusial yaitu pipa penyambung yang menghubungkan aliran listrik dan turap yang menahan permukaan tanah. Apabila objek tersebut mengalami pergseran sampai mengalami kerusakan, maka produksi tenaga listrik dapat terganggu, sehingga diperlukan upaya monitoring pergeseran yang terjadi. Capstone ini memiliki tiga tujuan, yaitu untuk menentukan nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark, mendeteksi pergeseran objek krusial berupa pipa penyambung dan turap, dan melakukan pemodelan 3D wilayah PLTP Lumut Balai. Pada proyek ini digunakan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan Global Navigation Satellite System (GNSS). Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai vektor kecepatan pergeseran titik benchmark adalah dengan meregresi linearkan data koordinat GNSS dari kala yang berbeda. Metode yang digunakan untuk memeroleh nilai pergeseran objek adalah dengan data point cloud yang dilakukan proses-proses pengolahan menggunakan perangkat lunak pengolahan point cloud mulai dari proses registrasi, cleaning, georeferensi, hingga deteksi pergeseran dengan menggunakan metode yang disebut Multiscale Model to Model Cloud Comparison (M3C2). Metode pembuatan model 3D dilakukan dengan picking point dari data point cloud. Kemudian, akan dibentuk objek sesuai dengan titik yang dipilih. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat titik-titik benchmark yang terindikasi mengalami pergeseran pada arah horizontal dan pada arah vertikal. Hasil analisis pergeseran objek menunjukkan bahwa pipa penyambung mengalami pergeseran yang signifikan pada bagian kanan bawah pipa penyambung. Sedangkan turap tidak mengalami pergseran yang signifikan. Terakhir, dihasilkan model 3D dari wilayah PLTP Lumut Balai dengan Level of Detail (LoD) 2.
INTEGRASI DATA POINT CLOUD MULTI SOURCES UNTUK IDENTIFIKASI BANGUNAN YANG TERKENA DAMPAK BENCANA GEOLOGI DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, terletak di Provinsi Banten, merupakan daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam, khususnya tanah longsor. Karakteristik geografis kabupaten ini yang terdiri dari daerah perbukitan dan pegunungan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor secara signifikan. Dampak dari bencana ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerugian ekonomi, tetapi juga merusak infrastruktur dan bangunan. Oleh karena itu, pada project ini dilakukan identifikasi kerusakan bangunan secara akurat agar dapat dilakukan evaluasi kebencanaan secara tepat. Proses awal dilakukan identifikasi fenomena pergerakan tanah yang diturunkan dari data InSAR untuk menentukan wilayah yang berisiko tinggi. Selanjutnya, survei lapangan dilakukan dan rekomendasi untuk memvalidasi area yang teridentifikasi sehingga menghasilkan pemilihan Kecamatan Cikulur untuk analisis lebih lanjut. Untuk mengetahui dampak kerusakan bangunan secara detail, dilakukan pengintegrasian data point cloud LiDAR dan TLS dengan objek MTs Ar-Ribathiyyah Cikulur. Dari hasil integrasi dua sumber point cloud tersebut didapatkan RMSE 0,265 mm, dengan hasil penggabungan tersebut akan dibuat Model 3D BIM. Model 3D BIM memiliki kedalaman detail dan informasi pada LOD300 yang mencakup atribut informasi kondisi bangunan, termasuk hasil analisis vertikalitas bangunan, sehingga asesmen terhadap kelayakan bangunan dapat dilakukan secara kuantitatif.
STUDI PENURUNAN TANAH TERKINI DI CEKUNGAN BANDUNG
Cekungan Bandung memiliki masalah penurunan muka tanah yang sudah diamati sejak tahun 2000. Penurunan muka tanah yang terjadi pada Cekungan Bandung diperkirakan sangat dipengaruhi oleh pengambilan air tanah yang berlebihan (Abidin, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar dari penurunan muka tanah yang terjadi di Cekungan Bandung di tahun 2010 sampai 2016. Pemantauan penurunan muka tanah terkini di Cekungan Bandung pada penelitian ini dilakukan dengan metode survei GPS (Global Potitioning System) dari tahun 2010 sampai 2016 di beberapa daerah yang diduga mengalami penurunan muka tanah. Hasil pengolahan data GPS menunjukkan pada periode tahun 2010 sampai 2016 beberapa daerah di Cekungan Bandung telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 0.1 sampai 20 cm pertahun yang bervariasi baik secara spasial maupun temporal. Pemantauan terhadap penurunan muka tanah ini berguna untuk pengaturan pengambilan air tanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan.