📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenINTEGRASI SPASIAL EKOSISTEM KOTA KREATIF: EVALUASI KONEKTIVITAS TRANSPORTASI PUBLIK MENUJU KOMUNITAS SENI RUPA DI JAKARTA SELATAN
Transisi paradigma pembangunan DKI Jakarta menuju Kota Global mendudukkan ekonomi kreatif, terkhusus subsektor seni rupa, sebagai jangkar utama pembangunan kota yang berkelanjutan. Kota Administrasi Jakarta Selatan memang telah diakui sebagai episentrum organik kegiatan kreatif sekaligus ditetapkan sebagai model Kota Seni Rupa nasional; meskipun demikian, realitas keruangannya justru memperlihatkan ancaman struktural terhadap keberlanjutan ekosistem tersebut. Komunitas seni rupa akar rumput (grassroots) kini berhadapan dengan tekanan gentrifikasi lahan yang menggeser posisi mereka dari koridor utama ke kawasan sekunder maupun periferal kota. Hambatan keruangan itu diperberat oleh kesenjangan prasarana konektivitas makro: sebagian besar komunitas mengalami isolasi spasial karena tidak terjangkau jaringan transportasi massal utama, yaitu koridor MRT, LRT, maupun BRT TransJakarta pada tahap integrasi first-mile dan last-mile. Evaluasi Jakarta Selatan sebagai Kota Kreatif yang dilakukan Nathania (2022) masih menyisakan celah kritis, yakni terbatasnya analisis pada dimensi spasial, tidak adanya evaluasi terhadap prasarana fisik seni rupa yang resmi, serta belum terpetakannya ketercapaian konektivitas keruangan. Oleh sebab itu, kebaruan (novelty) sekaligus orisinalitas studi ini terletak pada pendekatan kuantitatif spasial yang memetakan koordinat absolut kelompok komunitas akar rumput secara empiris, mengukur ketercapaian fisiknya terhadap simpul mobilitas makro secara matematis melalui Sistem Informasi Geografis (SIG), serta merumuskan kerangka penataan ruang preskriptif berwawasan Transit-Oriented Creativity (TOC) yang belum pernah dikaji dalam literatur studi wilayah serupa. Tujuan yang hendak dicapai adalah merumuskan arahan optimasi tata ruang kreatif inklusif berbasis integrasi konektivitas transportasi publik bagi keberlanjutan ekosistem komunitas seni rupa di Jakarta Selatan. Studi ini dijalankan sebagai penelitian deskriptif analitis yang bertumpu pada pendekatan kuantitatif spasial bersifat cross-sectional, dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai instrumen pengolahannya. Sebaran 51 titik ruang aktivitas komunitas seni rupa diuji secara statistik melalui metode Average Nearest Neighbor (ANN) untuk membuktikan bentuk pola aglomerasi keruangannya. Tingkat aksesibilitas komunitas terhadap simpul transportasi selanjutnya dinilai melalui Buffer Spatial Analysis pada dua ambang batas jarak pejalan kaki, yakni 400 meterv sebagai radius nyaman berjalan kaki dan 800 meter sebagai radius toleransi maksimum. Kedua keluaran tersebut kemudian disintesiskan melalui teknik tumpang susun (overlay) spasial terhadap zonasi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) eksisting sehingga menghasilkan arahan kebijakan penataan ruang. Pengujian statistik memperlihatkan bahwa 51 komunitas seni rupa tidak membentuk klaster aglomerasi fisik yang mengelompok, melainkan menyebar merata (dispersed) secara signifikan dengan Nearest Neighbor Ratio (R) sebesar 1,155 dan p-value 0,033. Dari sisi aksesibilitas, ketimpangan keruangan terkonfirmasi: sebanyak 43,14% komunitas (22 titik) berstatus terisolasi spasial karena berada di luar radius pelayanan 800 meter dari simpul transit makro. Isolasi ganda tersebut secara spesifik terjadi pada kantong distrik Kemang serta kawasan periferal Jagakarsa dan Pesanggrahan yang justru menaungi mayoritas sanggar seni berbasis budaya lokal. Evaluasi regulasi zonasi turut menunjukkan tidak tersedianya kategori peruntukan spesifik yang melindungi ruang seni mandiri di dalam dokumen pengendalian tata ruang eksisting. Sebagai sintesis, penelitian ini merekomendasikan intervensi tata ruang berbasis konsep Transit-Oriented Creativity (TOC). Arahan kebijakannya mencakup perluasan rute layanan angkutan pengumpan (feeder) MikroTrans/JakLingko menuju kantong komunitas yang terisolasi, disertai penerapan instrumen creative incentive zoning melalui pendayagunaan perangkat Teknik Pengaturan Zonasi, antara lain Zona Bonus dan Zona Pengendalian Pertumbuhan, sebagai perlindungan ruang kreatif aktif dari tekanan konversi komersial. Kontribusi keilmuan studi ini terletak pada upayanya menautkan dua ranah yang selama ini berjalan terpisah dalam Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), yaitu perencanaan sistem transportasi perkotaan dan preservasi ruang budaya. Wacana teoretis creative placemaking (Markusen & Gadwa, 2010) diperkaya, penerapan Teori Aksesibilitas Spasial (Hansen, 1959) diperluas, dan prinsip hak atas kota (Lefebvre, 1968) dioperasionalkan ke dalam kerangka keadilan spasial yang inklusif.
ANALISIS RISIKO SISTEMIK PASAR SAHAM SYARIAH INDONESIA MENGGUNAKAN METODE HUTAN DARI SELURUH POHON MERENTANG MINIMUM
Pasar saham syariah di Indonesia rentan terhadap risiko sistemik akibat meningkatnya keterkaitan antarsaham yang dapat mempercepat penyebaran guncangan di pasar. Namun, penelitian terdahulu umumnya hanya menganalisis struktur keterkaitan antarsaham atau karakteristik volatilitas secara terpisah sehingga belum memberikan gambaran yang komprehensif mengenai risiko sistemik. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan analisis jaringan dinamis dan pemodelan volatilitas untuk mengidentifikasi penyebaran serta persistensi risiko sistemik pada pasar saham syariah Indonesia. Penelitian menggunakan data harga penutupan harian 45 saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) selama periode Desember 2020 hingga November 2024. Jaringan saham dikonstruksi menggunakan metode Hutan dari Seluruh Pohon Merentang Minimum (Forest of All Minimum Spanning Trees/FaMST) berbasis Ultrametrik Subdominan (Subdominant Ultrametric/SDU) dengan teknik jendela geser (sliding window), sedangkan volatilitas saham dianalisis menggunakan model heteroskedastik GARCH dan EGARCH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika keterkaitan antarsaham membentuk tiga kondisi pasar berdasarkan perubahan rerata jarak jaringan. Perubahan tersebut dimodelkan menggunakan ARIMA(1,1,0) untuk menghasilkan proyeksi dinamika keterkaitan antarsaham dalam jangka pendek. Analisis jaringan mengidentifikasi enam saham yang secara konsisten menempati posisi sentral pada lebih dari separuh periode pengamatan, yaitu ANTM, SMGR, ADRO, PTBA, TKIM, dan INDY. Posisi ini menunjukkan bahwa enam saham tersebut memiliki peran penting dalam penyebaran risiko sistemik. Pemodelan volatilitas menunjukkan bahwa lima saham tidak menunjukkan asimetri volatilitas sehingga lebih sesuai dimodelkan menggunakan GARCH(1,1), sedangkan PTBA menunjukkan pola yang berbeda, yaitu kenaikan harga justru memicu volatilitas yang lebih besar dibandingkan penurunan harga dengan besaran yang sama sehingga lebih sesuai dimodelkan menggunakan EGARCH(1,1). Evaluasi persistensi volatilitas menunjukkan bahwa lama bertahan dari pengaruh guncangan terhadap volatilitas berbeda pada setiap saham. ANTM memiliki persistensi volatilitas tertinggi, yaitu sekitar 258 hari perdagangan hingga pengaruh guncangan terhadap volatilitas berkurang menjadi separuhnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sentralitas jaringan dan persistensi volatilitas merupakan dua dimensi risiko yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Sentralitas jaringan menunjukkan potensi suatu saham dalam menyebarkan guncangan kepada saham lain. Adapun persistensi volatilitas menunjukkan lama guncangan tetap bertahan pada saham tersebut. Dengan mempertahankan dua dimensi tersebut secara bersamaan, diperoleh penilaian risiko sistemik yang lebih komprehensif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan investasi serta perumusan kebijakan untuk mendukung stabilitas pasar saham syariah di Indonesia.
KONSTRUKSI PENDANAAN PENSIUN DOSEN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI MENGGUNAKAN METODE ENTRY AGE NORMAL BERBASIS MODEL SUKU BUNGA COX-INGERSOLL-ROSS
Penelitian ini bertujuan mengonstruksi pendanaan pensiun dosen Pegawai Negeri Sipil pada perguruan tinggi negeri menggunakan metode Entry Age Normal dengan tingkat suku bunga yang dimodelkan menggunakan Cox–Ingersoll–Ross. Data penelitian terdiri atas 130 dosen PNS aktif, riwayat pengangkatan dan golongan, tabel gaji pokok, tabel mortalitas, serta data suku bunga Bank Indonesia. Perjalanan karier dosen disimulasikan berdasarkan usia masuk, kenaikan golongan, masa kerja, status Guru Besar, dan usia pensiun. Manfaat pensiun dihitung berdasarkan gaji terakhir dan Final Average Salary lima tahun terakhir. Hasil estimasi model CIR menghasilkan parameter ???? sebesar 0,276714, ???? sebesar 0,045655, dan ???? sebesar 0,028501, dengan nilai MAPE sebesar 7,47%. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pendekatan gaji terakhir umumnya menghasilkan Normal Cost dan Actuarial Liability yang lebih besar daripada pendekatan Final Average Salary. Proyeksi pendanaan periode 2026–2045 menghasilkan nilai Unfunded Actuarial Liability negatif, yang menunjukkan kondisi surplus. Dengan demikian, akumulasi dana yang terbentuk mampu memenuhi kewajiban aktuaria peserta aktif hingga akhir periode proyeksi.
ESTIMASI BERAT DAN WAKTU PANEN UNGGAS NON-INVASIF MENGGUNAKAN FUSI MULTI-KAMERA YOLO PADA PLATFORM EDGE-FOG
Metode penimbangan unggas manual memicu stres ternak. Teknologi visi komputer 2D rentan terhadap ilusi postur optik, sementara sensor 3D aktif berbiaya tinggi dan rentan terhadap debu kandang. Selain itu, arsitektur Cloud murni menghadapi kendala latensi dan limitasi bandwidth di pedesaan. Penelitian ini mengusulkan sistem estimasi berat non-invasif berbasis fusi multikamera (2.5D) pada arsitektur Edge-Fog. Sistem mengintegrasikan citra kamera atas dan samping menggunakan YOLO26s-seg dan pelacak BoT-SORT yang diakselerasi via Intel OpenVINO. Model regresi eXtreme Gradient Boosting (XGBoost) dipilih karena ketahanannya meredam ekstrapolasi liar (anti-runaway) dan latensi inferensinya yang ultra-rendah (1,1 ms). Model ini dilatih dengan >13.000 dataset kustom melalui pelabelan hibrida terotomatisasi (Quantile Mapping). Hasil pengujian menunjukkan fusi 2.5D berhasil menekan Root Mean Square Error (RMSE) menjadi 19,50 gram dan Mean Absolute Error (MAE) 11,07 gram, mereduksi galat hingga 75,2% dibandingkan pendekatan 2D planar (RMSE 78,76 gram; MAE 51,82 gram). Penyempitan drastis selisih antara RMSE dan MAE ini membuktikan fusi 2.5D sukses memusnahkan tebakan pencilan ekstrem (outlier) akibat ilusi postur ayam. Arsitektur Edge-Fog memangkas latensi menjadi 32 ms dan menghemat bandwidth hingga 96,75% melalui telemetri zero-video. Integrasi Sistem Pendukung Keputusan (DSS) memampukan akselerasi panen 2 hari lebih awal, menghasilkan efisiensi Biaya Operasional (OpEx) sebesar 9,3% per siklus. Persentase ini ekuivalen dengan penghematan absolut Rp 26.400.000 pada populasi 10.000 ekor ayam, menggaransi skalabilitas keekonomian sistem.
STUDI PEMBENTUKAN DAN PENGENDALIAN BIOFILM PADA INDUSTRI PANGAN
Biofilm pada permukaan yang bersentuhan dengan pangan dapat meningkatkan risiko kontaminasi silang dan menurunkan efektivitas sanitasi. Penelitian ini mengevaluasi pembentukan biofilm oleh Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis dalam susu UHT pada permukaan polivinil klorida (PVC) dan stainless steel pada suhu 5 dan 28°C selama 4 dan 20 jam, baik tanpa maupun dengan perlakuan disinfektan berbasis natrium hipoklorit. Total biomassa yang melekat, jumlah sel hidup, dan morfologi biofilm masing-masing dianalisis menggunakan pengukuran densitas optik dengan pewarnaan crystal violet, metode hitung cawan, dan scanning electron microscopy (SEM). Permukaan PVC menghasilkan biomassa yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan stainless steel (p < 0,001), sedangkan jenis material tidak berpengaruh signifikan terhadap viabilitas sel. Waktu inkubasi yang lebih lama secara signifikan meningkatkan jumlah sel hidup, sementara temperatur tidak memberikan pengaruh signifikan sebagai faktor tunggal. Perlakuan disinfeksi secara signifikan menurunkan viabilitas sel (p < 0,001), tetapi tidak menurunkan biomassa secara signifikan. Hasil pengamatan SEM mengonfirmasi bahwa residu extracellular polymeric substances yang telah mengalami kerusakan tetap melekat pada permukaan setelah perlakuan. Oleh karena itu, pengendalian biofilm yang efektif memerlukan proses pembersihan untuk menghilangkan matriks sebelum dilakukan disinfeksi akhir.
ESTIMASI PERUBAHAN STOK KARBON DAN VALUASI EKONOMINYA BERDASARKAN DINAMIKA ALIH FUNGSI LAHAN SEBAGAI DASAR PERUMUSAN INSENTIF DAN DISINSENTIF PENDUKUNG PERDAGANGAN KARBON (STUDI KASUS: KAWASAN PERKOTAAN CEKUNGAN BANDUNG)
Perdagangan karbon sektor kehutanan menjadi upaya Indonesia dalam mencapai target NZE 2060. Namun, implementasinya pada skala daerah khususnya Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (KPCB) masih dihadapkan dengan alih fungsi lahan, lemahnya nilai ekonomi karbon dibandingkan dengan nilai ekonomi lokal, serta ketiadaan peraturan turunan skala daerah dalam menyikapi mandat Perpres 110/2025 dan Permenhut 6/2026. Terbitnya kedua peraturan tersebut sejatinya memperluas peran pemerintah daerah dari yang semula hanya sekadar pelaksana menjadi perencana, pelaksana, dan pengevaluasi aksi mitigasi perubahan iklim. Hampir satu tahun sejak Perpres dan Permenhut tersebut terbit namun diindikasikan belum terdapat kajian untuk menurunkan berbagai mandat perdagangan karbon sektor kehutanan untuk daerah. Padahal, perdagangan karbon sektor kehutanan memiliki potensi sebagai sumber pendapatan daerah yang baru, membantu pengendalian alih fungsi lahan, serta sebagai cara baru untuk menyejahterakan masyarakatnya bagi daerah. Atas dasar tersebut, penelitian ini dimulai dari mengestimasi stok karbon dari biomassa setiap tutupan lahan dan menghitung valuasi ekonominya berdasarkan harga karbon terkini dari IDX Carbon untuk tahun 2010-2060 yang teridentifikasi terus mengalami penurunan, terutama untuk sektor kehutanan, akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian. Lalu, secara kualitatif penelitian ini menjabarkan potensi dan kendala dari perdagangan karbon khususnya untuk penerapan skema kredit REDD+, ARR, dan IFM yang diindikasikan layak diterapkan di KPCB karena telah dipetakan bahwa terdapat potensi yang besar untuk diterapkan di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Potensi dan kendala yang teridentifikasi bervariasi berdasarkan karakteristik skema kredit karbon. Hasil identifikasi tersebut menjembatani perumusan dasar skema insentif dan disinsentif untuk mendukung perdagangan karbon. Perumusan insentif dan disinsentifviii dikontekstualisasikan dengan Perpres 110/2025 dan Permenhut 6/2026 sebagai upaya menurunkan mandat kedua peraturan tersebut, meningkatkan minat daerah di KPCB untuk berdagang karbon, dan menekan alih fungsi hutan. Akhir kata, penelitian ini menyajikan berbagai dasar skema insentif dan disinsentif fiskal serta non fiskal yang dapat dieksplorasi lebih lanjut secara operasional, teknis, pembiayaan, dan kelembagaannya oleh pihak terkait untuk mengupayakan terwujudnya ekosistem perdagangan karbon di KPCB yang diharapkan juga dapat membantu mengatasi berbagai isu yang sedang dihadapi oleh KPCB.
PEMULIHAN BETA-KAROTEN DARI CRUDE PALM OIL (CPO) MENGGUNAKAN ADSORBEN KARBON AKTIF BERBAHAN DASAR AMPAS KOPI
Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu sumber alami ?-karoten yang berperan sebagai prekursor vitamin A dan memiliki aktivitas antioksidan. Namun, sebagian besar ?-karoten hilang selama proses pemurnian minyak sawit sehingga diperlukan metode pemulihan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis aktivator, rasio adsorben:CPO, dan suhu terhadap efisiensi adsorpsi ?-karoten dari CPO, menentukan model isoterm dan kinetika adsorpsi, serta mengevaluasi proses desorpsi ?-karoten. Proses adsorpsi dilakukan menggunakan variasi aktivator, rasio adsorben:CPO (1:3, 1:4, dan 1:5), serta suhu (40, 50, dan 60°C). Konsentrasi ?-karoten dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 446 nm. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis aktivator, rasio adsorben:CPO, dan suhu berpengaruh signifikan terhadap efisiensi adsorpsi, sedangkan interaksi antarvariabel tidak berpengaruh signifikan. Kondisi operasi optimum diperoleh pada karbon aktif teraktivasi H?PO?, rasio adsorben:CPO 1:3, dan suhu 60°C dengan efisiensi adsorpsi sebesar 75,98%. Model isoterm yang paling sesuai adalah Freundlich (R² = 0,9500). Model kinetika adsorpsi mengikuti pseudo orde dua untuk karbon aktif teraktivasi H?PO? dan pseudo orde satu untuk karbon aktif teraktivasi NaOH. Proses desorpsi menggunakan heksana menghasilkan efisiensi desorpsi sebesar 31,6% pada karbon aktif H?PO? dan 29,6% pada karbon aktif NaOH, dengan overall recovery ?-karoten masing-masing sebesar 24,9% dan 22,2%
PERANCANGAN SISTEM PENGHANTAR TURUN UNTUK PROTEKSI PETIR PADA TOWER TRANSMISI TEGANGAN TINGGI
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas petir tertinggi di dunia, dengan kerapatan sambaran mencapai 224 sambaran per kilometer persegi per tahun. Kondisi ini menyebabkan sambaran langsung pada menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV menjadi ancaman utama keandalan sistem transmisi, di mana data Unit Pelaksana Transmisi Tanjung Karang mencatat 42% gangguan transmisi disebabkan oleh sambaran petir yang berpotensi mengakibatkan backflashover (BFO). Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi arus pada struktur menara akibat sambaran langsung dan merancang pemasangan paralel down conductor sebagai solusi proteksi petir untuk mereduksi arus surja yang mengalir melalui struktur baja menara. Pemodelan dan simulasi dilakukan secara numerik menggunakan Metode Momen (MoM) melalui perangkat lunak dengan eksitasi gelombang arus petir fungsi Heidler berparameter 10/350 ?s pada menara tipe AA+0 setinggi 35,4 meter. Dua konfigurasi pemasangan down conductor dari material bare copper dianalisis, yaitu jalur tengah menara dan jalur tepi menara, dengan variasi radius konduktor dan resistansi pentanahan untuk menguji kestabilan performa masing-masing konfigurasi terhadap ketidakpastian parameter lapangan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tanpa down conductor, arus surja sebesar 37.750,7 A mengalir sepenuhnya melalui struktur baja menara. Pemasangan down conductor jalur tengah menghasilkan penurunan arus pada struktur menara sebesar 8% secara konsisten pada seluruh variasi parameter, menunjukkan karakteristik yang stabil namun kurang responsif terhadap penambahan radius. Sementara itu, konfigurasi jalur tepi menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap radius konduktor dengan penurunan mencapai 16% pada radius 2 cm, akibat penguatan kopling induktif mutual antara konduktor tembaga dan kaki baja menara yang letaknya berdekatan. Konfigurasi jalur tepi dengan radius memadai terbukti paling efektif berkat kombinasi penurunan impedansi surja dan penguatan kopling induktif tersebut, sehingga direkomendasikan sebagai konfigurasi optimal untuk sistem proteksi petir pada menara transmisi 150 kV di lingkungan petir tropis Indonesia.
PEMANFAATAN BULU DOMBA SEBAGAI FASHION ACCESSORIES BERTEMA DEMON SLAYER: KIMETSU NO YAIBA
Pemanfaatan hasil peternakan di Indonesia masih belum dilakukan secara optimal, khususnya pada bulu domba yang cenderung memiliki nilai guna dan nilai jual rendah. Bulu domba lokal, seperti domba Wonosobo dan domba Batur, umumnya hanya dimanfaatkan secara terbatas, bahkan seringkali dibuang, meskipun memiliki karakteristik material yang berpotensi untuk dikembangkan. Di sisi lain, perkembangan industri fashion menunjukkan meningkatnya minat terhadap accessory sebagai medium ekspresi identitas dan tren budaya populer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aplikasi bulu domba lokal sebagai material utama dalam perancangan fashion accessories dengan mengangkat tema Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, yang pada tahun 2025 ini sedang mencapai titik tertinggi popularitasnya dikalangan masyarakat dunia, karena kekuatan karakter visual dan naratifnya yang mampu menarik minat generasi dewasa muda. Penelitian ini dilakukan dengan metode yang bersifat kualitatif dengan pendekatan eksploratif, yang meliputi studi literatur, observasi lapangan di peternakan domba, eksplorasi karakter visual, serta eksperimen material dan teknik, dengan teknik utama yang digunakan yaitu teknik felt dan sulam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bulu domba lokal memiliki potensi estetika dan fungsional yang signifikan apabila diolah dengan teknik yang tepat. Aplikasi karakter dan visual karakter dari Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba mampu diterjemahkan ke dalam bentuk fashion accessories yang memiliki identitas kuat, bernilai artistik, serta relevan dengan tren kontemporer. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pemanfaatan material lokal, meningkatkan apresiasi terhadap produk kriya tekstil Indonesia, serta membuka peluang eksplorasi lanjutan pada perancangan fashion accessories berbasis budaya populer.
PEMETAAN KOTA RAMAH ANAK: PENGEMBANGAN INDEKS AKSESIBILITAS SPASIAL BERBASIS TRANSPORTASI INKLUSIF DI KOTA BANDUNG
Pembangunan kota yang inklusif menempatkan aksesibilitas sebagai salah satu indikator utama dalam menjamin kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat untuk mengakses berbagai aktivitas perkotaan. Anak merupakan kelompok rentan yang memiliki kebutuhan aksesibilitas khusus karena keterbatasan kemampuan fisik dan kognitif serta tingginya ketergantungan terhadap kualitas lingkungan perjalanan. Meskipun Kota Bandung telah berkomitmen mewujudkan Kota Layak Anak, hingga saat ini belum tersedia kajian yang mampu mengevaluasi aksesibilitas ramah anak secara komprehensif melalui integrasi berbagai dimensi aksesibilitas dalam satu kerangka analisis. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan memetakan tingkat aksesibilitas ramah anak di Kota Bandung melalui pengembangan Composite Accessibility Index (CAI) berbasis analisis spasial sebagai dasar penyusunan rekomendasi peningkatan aksesibilitas dalam mendukung transportasi inklusif. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methode (kuantitatif-spasial dan kualitatif-observasional) dengan unit analisis berupa grid berukuran 250 × 250 meter yang mencakup seluruh wilayah Kota Bandung. Penyusunan CAI dilakukan menggunakan pendekatan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dengan mengintegrasikan tiga dimensi utama, yaitu Usefulness, Connectivity, dan Safety. Selanjutnya dilakukan analisis spasial untuk memetakan tingkat aksesibilitas, analisis bivariate antara nilai indeks dan distribusi populasi anak untuk mengidentifikasi Priority Accessibility Area, serta triangulasi observasi sebagai validasi hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas ramah anak di Kota Bandung masih didominasi oleh kategori rendah hingga sedang (84,41%), serta mengidentifikasi tiga tipologi Priority Accessibility Area dengan karakteristik permasalahan dan kebutuhan intervensi yang berbeda meskipun memiliki tingkat aksesibilitas yang sama-sama rendah. Berdasarkan temuan tersebut, disusun rekomendasi peningkatan aksesibilitas dengan cara penguatan pelayanan dasar, penguatan konektivitas, dan pemeliharaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan prioritas. Penelitian ini menunjukkan bahwa Composite Accessibility Index berbasis analisis spasial mampu memberikan framework yang komprehensif mengenai kondisi aksesibilitas ramah anak dan dapat menjadi instrumen pendukung dalam penyusunan kebijakan transportasi inklusif serta pengembangan Kota Layak Anak di Kota Bandung.
ANALISIS HIDRAULIKA-SEDIMEN DALAM DESAIN STABILISASI LATERAL SUNGAI CIRASEA
Erosi tebing dan migrasi alur sebagai bagian dari proses morfodinamika lateral sungai menjadi ancaman serius bagi infrastruktur di sepanjang Sungai Cirasea, sebagaimana ditunjukkan oleh banyaknya kejadian keruntuhan lereng yang bahkan turut merusak struktur pengaman tebing eksisting. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan stabilisasi sungai yang telah dibangun sebelumnya masih bersifat reaktif dan belum didasarkan pada pemahaman spesifik terhadap karakteristik hidraulika Sungai Cirasea. Tugas Akhir ini disusun untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui tiga tujuan utama, yaitu menganalisis pengaruh karakteristik hidraulika aliran terhadap mekanisme ketidakstabilan alur, mengidentifikasi zona kritis pada ruas Sungai Cirasea, serta merumuskan rancangan stabilisasi lateral yang sesuai dengan kondisi morfologi sungai. Pendekatan analisis hidraulika-sedimen dilakukan melalui pemodelan hidraulika menggunakan HEC-RAS untuk mengevaluasi profil muka air, distribusi kecepatan, dan tegangan geser aliran sebagai parameter pengendali proses erosi dan dinamika sedimen. Karakteristik hidraulika tersebut selanjutnya diintegrasikan dengan analisis erosi kaki tebing dan stabilitas lereng menggunakan Bank Stability and Toe Erosion Model (BSTEM) serta verifikasi analitik melalui metode Bishop Simplified sehingga mekanisme keruntuhan tebing dapat dipahami secara lebih komprehensif. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh, dirumuskan sebuah rancangan stabilisasi tebing yang mengintegrasikan penggunaan struktur gabion dengan pelindung kaki (toe protection) berupa batuan riprap, sehingga mampu mempertahankan stabilitas lateral tebing sekaligus memberikan perlindungan terhadap potensi gerusan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rancangan tersebut memenuhi persyaratan stabilitas hidraulik dan geoteknik sehingga layak diterapkan sebagai alternatif penanganan pada lokasi tinjauan.
ANALISIS RISIKO PAJANAN DEBU KAYU DAN PENURUNAN FUNGSI PARU-PARU PADA PEKERJA KAYU DI LINGKUNGAN PANDAI BESI
Industri pandai besi sektor informal di Desa Mekarmaju tidak hanya melibatkan penempaan logam, tetapi juga pengolahan kayu untuk gagang dan sarung pisau yang menghasilkan debu kayu respirabel secara masif. Tanpa penggunaan alat pelindung diri yang memadai, pajanan kronis ini berisiko memicu inflamasi dan penurunan fungsi paru pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kesehatan akibat pajanan debu kayu terhadap fungsi paruparu pada pekerja kayu di lingkungan pandai besi Desa Mekarmaju. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 30 pekerja terpapar dan 10 kontrol. Metodologi meliputi pengukuran konsentrasi debu respirabel menggunakan personal sampling pump selama 8 jam kerja, uji fungsi paru melalui spirometri, kuesioner karakteristik individu, serta analisis gugus fungsi kimia debu menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR). Risiko kesehatan dievaluasi melalui perhitungan Chronic Daily Intake (CDI), Hazard Index (HI), dan Odds Ratio (OR). Hasil menunjukkan rata-rata konsentrasi debu pada pekerja kayu sebesar 1,823 ± 2,6199 mg/m³, dengan 16,67% sampel melebihi NAB (3 mg/m³). Analisis statistik mengonfirmasi hubungan negatif yang signifikan antara dosis pajanan (CDI) dengan penurunan nilai Forced Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) (p < 0,001). Karakterisasi risiko mengungkap bahwa 46,67% pekerja memiliki nilai HI > 1 (rata-rata 2,9335), yang mengindikasikan tingkat pajanan membahayakan kesehatan. Peluang pekerja mengalami fungsi paru abnormal mencapai 43,5 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (OR = 43,5; 95% CI: 4,1–461).
PEMODELAN JASA EKOSISTEM SEBAGAI STRATEGI MITIGASI BENCANA BANJIR MELALUI SKENARIO PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI DAS BATANG TORU (STUDI KASUS: SIKLON SENYAR 2025)
DAS Batang Toru mengalami tekanan deforestasi yang masif dan tercatat sebagai salah satu wilayah paling terdampak bencana hidrometeorologi Siklon Senyar pada November 2025. Upaya rehabilitasi ekosistem pascabencana yang tercantum dalam rencana induk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi belum dilengkapi arahan teknis dan prioritas wilayah yang berbasis proyeksi tutupan lahan di masa depan. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan dan prioritas intervensi penataan ruang sebagai upaya rehabilitasi ekosistem DAS Batang Toru berdasarkan dinamika dan skenario perubahan tutupan lahan serta jasa ekosistem dalam mengatur banjir. Metode penelitian terdiri atas empat tahap: (1) Klasifikasi tutupan lahan periode 2000 hingga 2025 dilakukan menggunakan algoritma Random Forest berbasis citra Landsat, (2) Proyeksi tutupan lahan tahun 2040 melalui pendekatan Cellular Automata berbasis Weight of Evidence di perangkat lunak Dinamica EGO pada tiga skenario, yaitu Business-as-Usual, Arahan Pola Ruang (APR), dan Konservasi (KR), (3) Kapasitas retensi banjir melalui model Urban Flood Risk Mitigation dalam platform InVEST pada kondisi curah hujan normal dan ekstrem, dan (4) Arahan prioritas intervensi yang dirumuskan melalui eksplorasi kawasan dan wawancara pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan DAS Batang Toru kehilangan 17.911 hektare tutupan hutan dalam 25 tahun terakhir, didorong oleh ekspansi konsesi industri ekstraktif di hulu dan hilir DAS. Pemodelan skenario menunjukkan tujuh dari sebelas variabel spasial berpengaruh signifikan terhadap perubahan lahan, di mana skenario Arahan Pola Ruang tidak menunjukkan perbaikan berarti dibandingkan dengan skenario Business-as-Usual. Selain itu, pada kondisi curah hujan normal, DAS masih mampu menahan 72 hingga 80 persen volume hujan, namun pada intensitas ekstrem yang sebanding dengan Siklon Senyar kapasitas tersebut turun menjadi 35 hingga 42 persen. Temuan tersebut turut menggambarkan kerentanan struktural DAS Batang Toru terhadap kejadian hidrometeorologi ekstrem. Penelitian ini menghasilkan peta zonasi empat kategori prioritas intervensi, yaitu zona proteksi, degradasi, pemulihan, dan kritis sebagai dasar arahan rehabilitasi ekosistem dan revisi kebijakan tata ruang di DAS Batang Toru.
PENGARUH SUHU TERHADAP SINTESIS HIJAU PARTIKEL KITOSAN DARI SELONGSONG LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS) MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN MATA LELE (LEMNA MINOR)
Larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) merupakan agen biokonversi yang berpotensi sebagai sumber kitosan alternatif karena tingginya kandungan kitin, terutama pada limbah selongsong larvanya. Kitosan ini dapat diubah menjadi partikel yang memiliki pengaplikasian yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu pada proses sintesis hijau (green synthesis) partikel kitosan dari selongsong larva lalat tentara hitam menggunakan ekstrak air tanaman mata lele (Lemna minor) dengan variasi suhu 40°C, 50°C, dan 60°C. Ekstraksi kitosan dilakukan melalui proses penghilangan lemak, mineral, dan protein untuk mengisolasi kitin, yang kemudian ditransformasi melalui deasetilasi menggunakan NaOH. Dari ekstraksi tersebut didapatkan kitosan dengan derajat deasetilasi berdasarkan fourier transform infrared mencapai 87,27% dengan yield 13,95 ± 2,13% dan tingkat kelarutan dalam asam asetat 2 mg/mL. Ekstrak tanaman mata lele diperoleh melalui maserasi air untuk mengekstrak kandungan fenolik dan flavonoid. Hasil uji spektrofotometri menunjukkan kandungan total fenolik 3,32 ± 0,12 mg GAE/L dan total flavonoid 3,80 ± 0,18 mg QE/L yang mengindikasikan potensinya sebagai agen taut silang (crosslinker), penstabil, dan penudung (capping). Sintesis partikel dilakukan dengan mencampurkan larutan kitosan dan ekstrak tanaman dengan rasio volume 1:1 di dalam incubator shaker pada agitasi 110 rpm selama 1 jam, dengan variasi suhu 40°C, 50°C, dan 60°C. Hasil karakterisasi scanning electron microscope memperlihatkan morfologi partikel berbentuk bundar, sementara analisis dynamic light scattering dan potensial zeta menunjukkan rata-rata ukuran partikel berkisar dari 175,67 hingga 278,33 nm dengan muatan zeta +31,73 hingga +41,50 mV. Dari hasil pengukuran juga teramati bahwa peningkatan suhu sejalan dengan peningkatan ratarata ukuran dan muatan zeta partikel. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid pada ekstrak tanaman mata lele terbukti dapat digunakan dalam sintesis hijau partikel kitosan dari selongsong lalat tentara hitam, di mana ukuran dan stabilitas nanopartikelnya dipengaruhi oleh suhu.
KEWAJIBAN IMBALAN PASCAKERJA PSAK 219 MENGGUNAKAN PROJECTED UNIT CREDIT MULTIPLE DECREMENT DENGAN MODIFIKASI TINGKAT DISKONTO
Pengukuran kewajiban imbalan pascakerja sesuai PSAK 219 dipengaruhi oleh asumsi aktuaria dan tingkat diskonto yang digunakan. Umumnya menggunakan pendekatan Single Decrement (SD) dan satu tingkat diskonto untuk seluruh peserta, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan berbagai kemungkinan penyebab keluar peserta sebelum usia pensiun normal maupun perbedaan karakteristik sisa masa kerja peserta. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menyusun tabel Multiple Decrement (MD) dari tabel SD, menentukan tingkat diskonto berdasarkan segmentasi Masa Kerja Yang Akan Datang (MKYAD) menggunakan kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan oleh IBPA, serta menganalisis pengaruhnya terhadap nilai Current Service Cost (CSC) dan Present Value of Defined Benefit Obligation (PVDBO) menggunakan metode Projected Unit Credit (PUC). Tabel MD disusun menggunakan asumsi Uniform Distribution of Decrements (UDD) dengan mempertimbangkan empat penyebab decrement, yaitu meninggal dunia, cacat, mengundurkan diri, dan pensiun normal. Tingkat diskonto ditentukan berdasarkan nilai Average Remaining Working Lifetime (ARWL) pada setiap kelompok MKYAD dan mengacu pada kurva imbal hasil IBPA, dengan interpolasi linear untuk tenor yang tidak tersedia. Asumsi yang digunakan meliputi mortalitas TMI IV 2019, tingkat cacat sebesar 1% dari mortalitas, tingkat pengunduran diri berdasarkan kelompok usia, usia pensiun normal 57 tahun, dan tingkat kenaikan gaji sebesar 5% per tahun. Hasil penelitian sesuai tanggal valuasi 2 Oktober 2025 menunjukkan bahwa kelompok MKYAD jangka pendek, menengah, dan panjang memiliki ARWL masing-masing sebesar 5,81 tahun, 14,71 tahun, dan 27,35 tahun dengan tingkat diskonto 5,7343%, 6,7312%, dan 6,8733%. Penggunaan model MD menghasilkan nilai kewajiban yang lebih rendah dibandingkan model SD. Model MD menghasilkan total CSC sebesar Rp 3.811.103.682 dan PVDBO sebesar Rp 44.187.464.043, atau lebih rendah masing-masing sebesar 25,90% dan 37,98% dibandingkan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model MD dan tingkat diskonto berbasis segmentasi MKYAD menghasilkan pengukuran kewajiban imbalan pascakerja yang lebih mencerminkan karakteristik peserta.