📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

PENGARUH AGING DAN SHOT PEENING TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA MARAGING 18NI-300 (AMS-6514)

Baja maraging 18Ni-300 merupakan baja berkekuatan tinggi yang digunakan pada komponen berkinerja tinggi, termasuk komponen senjata. Pada aplikasi tersebut, material menerima pembebanan berulang sehingga diperlukan kemampuan menahan inisiasi dan propagasi retak fatigue. Penelitian ini menganalisis pengaruh perlakuan aging, shot peening, dan kombinasi aging + shot peening terhadap sifat mekanik baja maraging 18Ni-300. Perlakuan aging digunakan untuk menganalisis pengaruh precipitation hardening, sedangkan shot peening digunakan untuk menganalisis pengaruh modifikasi permukaan terhadap ketahanan fatigue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aging meningkatkan kekerasan rata-rata dari 373 HV pada spesimen raw material menjadi 594 HV, sedangkan kombinasi aging + shot peening menghasilkan kekerasan tertinggi 651 HV. Hasil ini konsisten dengan hasil uji tarik, aging meningkatkan yield strength 104% dan tensile strength 85% dibandingkan spesimen raw material. Perlakuan aging + shot peening juga meningkatkan yield strength 95% dan tensile strength 79%. Hasil pengujian struktur mikro menunjukkan matriks utama didominasi oleh martensit. Hasil XRD mendukung hasil pengujian struktur mikro yaitu menunjukkan dominasi fasa martensit berbasis BCC (?) dan fasa minor austenit berbasis FCC (?). Pada pengujian fatigue, spesimen aging + shot peening menunjukkan ketahanan fatigue tertinggi dengan rata-rata cycle to failure 744.758, meningkat 1138% dibandingkan spesimen raw material. Sebaliknya, spesimen dengan perlakuan shot peening tanpa aging memiliki cycle to failure paling rendah karena terjadi peningkatan kekasaran permukaan yang memicu terjadinya multiple crack initiation, konsisten dengan hasil fraktografi spesimen shot peening yang memiliki banyak titik inisiasi retak. Dengan demikian, kombinasi aging + shot peening merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan ketahanan fatigue baja maraging 18Ni-300 karena mengkombinasikan penguatan presipitasi dan efek tegangan sisa tekan pada permukaan.

2026
👤 Penulis: Wulan Noviana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN ALAT PENGOLAH TANAH MANUAL UNTUK PETANI PEREMPUAN PADA LAHAN KERING

Keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian terus meningkat, namun sebagian besar alat pengolahan tanah manual masih dirancang berdasarkan karakteristik antropometri laki-laki. Ketidaksesuaian ini memicu peningkatan beban kerja, kelelahan dini, dan risiko gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan menghasilkan rancangan alat pengolah tanah manual untuk lahan kering yang mampu beroperasi pada kedalaman efektif 5–15 cm serta dioptimalkan untuk petani perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan desain rekayasa yang mencakup fase konseptual, perwujudan, dan detail. Kebutuhan pengguna diterjemahkan ke dalam Design Requirements and Objectives untuk menentukan spesifikasi rancangan. Konsep terpilih dikembangkan melalui analisis ergonomi berbasis data antropometri, analisis interaksi tanah dan alat untuk optimalisasi geometri mata bajak, serta analisis kekuatan struktur menggunakan metode elemen hingga. Penelitian ini menghasilkan rancangan alat bajak manual yang dilengkapi sistem pengaturan kedalaman kerja dan konfigurasi modular jumlah mata bajak, sehingga beban operasional dapat disesuaikan dengan kemampuan pengguna. Analisis ergonomi menunjukkan bahwa rancangan ini mampu mengakomodasi pengguna perempuan pada rentang persentil kelima hingga kesembilan puluh lima. Selanjutnya, analisis interaksi tanah dan alat menunjukkan bahwa penggunaan mata bajak tipe very narrow tine efektif menggemburkan tanah tanpa menyebabkan pembalikan lapisan pada kedalaman yang ditargetkan. Alat ini memerlukan gaya dorong operasional sebesar 70,64 N pada kedalaman 5 cm dengan konfigurasi tiga mata bajak dan 126,07 N pada kedalaman 15 cm dengan konfigurasi satu mata bajak, yang masih berada di bawah batas aman kapasitas dorong kontinu perempuan. Analisis struktural turut membuktikan bahwa seluruh komponen utama memenuhi kriteria kekuatan yang dipersyaratkan.

2026
👤 Penulis: Ahda Alauddin Najib
🏷️ Desain Rekayasa 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

UJI  AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% HERBA MENIRAN HIJAU (PHYLLANTHUS NIRURI  L.) DALAM PENCEGAHAN DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS

Delayed onset muscle soreness (DOMS) merupakan kondisi nyeri otot yang dipicu oleh aktivitas fisik berlebih atau tidak biasa yang melibatkan kerusakan mikro jaringan otot dan memicu terjadinya respons inflamasi. Herba meniran hijau (Phyllanthus niruri L.) mengandung metabolit sekunder terutama flavonoid yang berpotensi sebagai agen antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas ekstrak etanol 70% herba meniran hijau terhadap mencit yang mengalami DOMS setelah diinduksi renang paksa. Respon berupa penurunan ambang batas nyeri dievaluasi dengan mengukur waktu latensi menggunakan instrumen lempeng panas. Kelompok pengujian terdiri dari kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif (aspirin 100 mg/kgBB), serta ekstrak dengan dosis 75, 150, dan 300 mg/kg bobot badan (BB). Hasil penelitian menunjukkan nilai %?t pada kelompok yang diberikan ekstrak dosis 75, 150, dan 300 mg/kg BB berbeda bermakna (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif dengan nilai berturut-turut 37,33 ± 3,65; 18,20 ± 17,39; dan 0 ± 0. Dosis 300 mg/kg BB menunjukkan aktivitas yang lebih baik (p<0,05) dibandingkan kedua dosis lainnya. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% herba meniran hijau mampu mencegah DOMS pada model mencit yang diinduksi renang paksa. Efek ini diduga akibat adanya kombinasi senyawa flavonoid yang mampu menekan mediator inflamasi dan senyawa tanin yang mampu meredam pemicu stres oksidatif otot.

2026
👤 Penulis: Kanaya Piscesea Hari Valent
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california.

2026
👤 Penulis: Fransiskus Petra Benaya M
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california.

2026
👤 Penulis: Fransiskus Petra Benaya M
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS UIO-66 (ZR-MOF) BERBASIS MATERIAL KOMPOSIT AUNPS/SIO2 DENGAN PENDEKATAN METODE FOTOTERMAL

Metal-organic framework (MOF) UiO-66 umumnya disintesis secara solvotermal dengan waktu reaksi yang relatif lama (lebih dari 24 jam) dan konsumsi energi yang tinggi (sekitar 120 ?). Sementara itu, pemanfaatan nanopartikel emas (AuNPs) sebagai material fototermal untuk sintesis material masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menyintesis material komposit AuNPs/SiO2 dan mengevaluasi pemanfaatannya sebagai material fototermal berbasis cahaya tampak untuk sintesis UiO-66. AuNPs disintesis menggunakan metode Turkevich, kemudian dienkapsulasi dengan SiO2 melalui metode Stöber. Material AuNPs dan AuNPs/SiO2 dikarakterisasi menggunakan spektroskopi visible, particle size analyzer (PSA), difraksi sinar-X (XRD), dan spektroskopi inframerah transformasi Fourier (FTIR). Selanjutnya, material tersebut diaplikasikan sebagai sumber panas lokal pada sintesis fototermal UiO-66 dan dibandingkan dengan metode solvotermal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum sintesis AuNPs diperoleh pada mol rasio Na3Ct:HAuCl4 sebesar 3,5:1 dengan ukuran partikel dominan 50–55 nm dan puncak LSPR pada 524 nm. AuNPs/SiO2 memiliki homogenitas yang lebih baik dibandingkan AuNPs serta menunjukkan peningkatan laju pemanasan dan efisiensi konversi fototermal yang lebih tinggi. Sintesis fototermal menghasilkan UiO-66 dengan kristalinitas 62,58%, lebih tinggi dibandingkan metode solvotermal (49,81%). Spektra FTIR mengonfirmasi keberhasilan penambahan AuNPs/SiO2 melalui kemunculan pita ulur asimetrik Si–O–Si pada sekitar 1100 cm?¹. Kondisi sintesis paling efisien diperoleh menggunakan metode fototermal berbasis material komposit AuNPs/SiO2 dengan waktu enkapsulasi SiO2 selama 4 jam dan penyinaran 30 menit, menghasilkan %hasil 51,1 ± 0,7%. Meskipun lebih rendah dibandingkan metode solvotermal (65,9 ± 8,9%), metode ini memerlukan waktu sintesis yang lebih singkat (kurang dari 24 jam) dan konsumsi energi yang lebih rendah (sekitar 45 °C).

2026
👤 Penulis: Devina Ayu Safitri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Metamorfosis Material 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRATEGI PENGEMBANGAN LINI BISNIS SEBAGAI PERSIAPAN DALAM MENGHADAPI STREAMLINING BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) ASURANSI

PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), sebuah perusahaan BUMN asuransi yang tergabung dalam holding Indonesia Financial Group (IFG) sedang dihadapkan pada agenda besar yaitu perampingan BUMN asuransi yang dilakukan oleh Danantara. Menjelang agenda besar tersebut, kinerja Askrindo induk memperlihatkan trend yang kurang baik, ditandai dengan perolehan premi bruto pada tahun 2025 yang turun sebesar 20% yoy, sementara combined ratio meningkat menjadi 112% pada tahun 2025. Hal ini memperlihatkan kondisi yang tidak sejalan dengan industri, dimana data OJK menyatakan premi asuransi umum tumbuh 3% pada tahun 2025 dengan combined ratio yang dapat terjaga di level 71%. Portofolio bisnis Askrindo bertumpu pada lini bisnis finansial dimana pada tahun 2025 lini bisnis finansial memiliki porsi sebesar 88% dari keseluruhan portofolio. Untuk itu, rekomposisi portoflio melalui pengembangan lini bisnis non-finansial menjadi salah satu strategi utama perusahaan. Askrindo perlu mengoptimalkan lini bisnis yang dimiliki guna memberikan nilai tambah dalam mempertahankan keunggulan kompetitifnya pada saat dilakukannya konsolidasi BUMN asuransi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, studi ini disusun untuk memberikan analisa mengenai bagaimana kinerja keuangan Askrindo dibandingkan dengan para pesaingnya di industri dan antar member holding IFG, apa lini bisnis yang akan dikembangkan dan apa strategi yang harus disusun untuk mengembangkan lini bisnis tersebut. Studi ini menggunakan beragam metode analisis dan framework untuk menjawab permasalahan yang terjadi, antara lain analisis benchmark keuangan, analisis situasi bisnis (SWOT, EFAS, IFAS dan SFAS), Analytic Hierarchy Process (AHP) dan matriks TOWS. Hasil analisis benchmark menunjukkan bahwa Askrindo memiliki kedudukan aset dan ekuitas terbesar di industri asuransi umum. Dari sisi profit, Askrindo berada pada posisi kedua terbesar dari kelima perusahaan yang diperbandingkan dalam studi ini. Pada level lini bisnis, dengan menggunakan SWOT, SFAS dan AHP, prioritas lini bisnis yang dikembangkan oleh Askrindo adalah lini bisnis Aneka (produk asuransi mikro), Suretyship dan Harta Benda. Strategi kunci yang akan diterapkan adalah penetrasi ke pasar ritel, pemanfaatan kemitraan strategis dan implementasi transformasi digital. Strategi ini diharapkan dapat mempertahankan keunggulan kompetitif Askrindo dalam menghadapi perampingan BUMN asuransi.

2026
👤 Penulis: Zico Andrea Aripratama
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Benchmark

STUDI FORMULASI DAN STABILITAS FISIK TABLET TRIPLE-LAYER FIXED-DOSE COMBINATION AMLODIPIN BESILAT DAN LOSARTAN KALIUM

Kombinasi amlodipin besilat (AML) dan losartan kalium (LST) memiliki prospek yang menjanjikan dalam penanganan hipertensi. Namun, kedua bahan aktif ini memiliki potensi interaksi yang dapat berpengaruh pada keamanan, khasiat, dan kualitas sediaan farmasi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil stabilitas AML dan LST, serta strategi pemisahan fisik melalui formulasi tablet triple-layer dalam menjaga stabilitas keduanya. Studi degradasi dipercepat menunjukkan bahwa AML dan LST sangat rentan terhadap pengaruh asam, basa, dan oksidasi. Stabilitas fasa padatan AML dan LST ditinjau menggunakan PXRD dan DSC setelah penyimpanan pada kondisi uji stabilitas dipercepat (40±2 °C/75±5% RH) selama 12 minggu. AML menunjukkan profil stabilitas fisik tanpa perubahan signifikan pada difraktogram PXRD dan termogram DSC. LST mengalami transformasi fasa menjadi losartan kalium 3,5 hidrat, ditandai dengan munculnya puncak karakteristik baru pada sudut 2? = 5,7°; 6,8°; 8,9°; dan 13,3°. Pada termogram DSC ditemukan dua puncak endotermik masing-masing pada 93,3 dan 277,9°C serta pembentukan puncak eksotermik baru pada 178,9°C. Campuran fisik AML-LST (1:1 w/w) menghasilkan campuran eutektik yang dikonfirmasi melalui termogram DSC, disertai pelebaran dan hilangnya puncak karakteristik kedua bahan aktif pada difraktogram PXRD. Sementara itu, AML mengalami transformasi fasa selama proses granulasi basah menjadi amlodipin besilat dihidrat yang ditandai dengan munculnya puncak karakteristik baru pada sudut 2? = 4,82°; 10,36°; 13,34°; 18,42°; 21,36°; dan 24,94°. Kemudian, formula tablet triple-layer efektif dalam menjaga stabilitas AML dibandingkan sediaan tablet monolayer. Sedangkan stabilitas LST tidak menunjukkan perbaikan karena pada dasarnya degradasi LST dipengaruhi oleh kondisi kelembapan tinggi selama pengujian.

2026
👤 Penulis: Adrian
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRATEGI TATA KELOLA PERSAMPAHAN KOTA AMBON: STUDI PERBANDINGAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN PEMERINTAH DAN BERBASIS KOMUNITAS

Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku menghadapi permasalahan persampahan seperti keterbatasan infrastruktur, belum meratanya pelayanan persampahan sampai keterbatasan lahan TPA. Di tengah kondisi tersebut muncul inisiatif dari komunitas masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi tata kelola persampahan berbasis reguler dan berbasis komunitas, membandingkan efektivitas kedua tata kelola tersebut, serta merumuskan strategi tata kelola persampahan yang efektif. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Uritetu sebagai representasi tata kelola persampahan berbasis reguler, Negeri Laha dan Negeri Ema sebagai representasi tata kelola berbasis komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis statistik deskriptif untuk menganalisis data kuesioner dari 95 responden yang mencakup lima variabel penelitian: struktur kelembagaan, desain institusional, tingkat partisipasi, pola kolaborasi dan efektivitas dimensi teknis, didukung oleh data wawancara mendalam dan observasi lapangan. Serta analisis SWOT untuk merumuskan strategi tata kelola persampahan Kota Ambon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola berbasis reguler di Kelurahan Uritetu mengungguli aspek cakupan pengangkutan sampah dan keseragaman regulasi, namun lemah pada pengelolaan sampah di sumber dan partisipasi aktif masyarakat. Sebaliknya, tata kelola berbasis komunitas di Negeri Laha dan Negeri Ema unggul pada dimensi pembangunan kepercayaan, komitmen bersama, dan keterlibatan langsung masyarakat, meskipun menghadapi keterbatasan infrastruktur dan kelembagaan. Perbandingan kedua tata kelola persampahan menunjukkan belum ada satu pun yang unggul secara menyeluruh. Berdasarkan analisis SWOT, posisi strategis tata kelola persampahan Kota Ambon berada pada kuadran I dengan strategi SO, terdapat lima strategi utama yang diarahkan untuk memanfaatkan kekuatan internal sistem pengelolaan sampah baik reguler maupun praktik baik komunitas dengan memanfaatkan peluang eksternal yang cukup signifikan.

2026
👤 Penulis: Anna Meiliza Adriaansz
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENINGKATAN PROSES PENELITIAN & PENGEMBANGAN UNTUK MEMPERSINGKAT WAKTU PENGEMBANGAN PRODUK BARU DAN MEMPERCEPAT PENETRASI PASAR:STUDI KASUS PADA PT. DNA FARMASI TBK.

Departemen R&D PT DNA Farmasi Tbk mengalami permasalahan bisnis yaitu rendahnya pencapaian New Product Development (NPD) pada periode 2023–2025 dimana hanya mencapai 33% dari target Perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab tersebut serta menyusun strategi perbaikan untuk mempercepat pengembangan produk Obat Iron-Chelating. Keterlambatan pengembangan produk baru, berdampak pada menurunnya ketepatan waktu peluncuran produk, tertundanya kontribusi pendapatan, dan melemahnya daya saing perusahaan dalam industri farmasi yang sangat kompetitif dan ketat dari sisi regulasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif, dengan kerangka DMAIC dari Lean Six Sigma yang dipadukan dengan prinsip Quality by Design (QbD), Root Cause Analysis (RCA), dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Tahapan penelitian dimulai dengan analisis kondisi aktual melalui data Key Performance Indicator, pemetaan proses, dan wawancara pemangku kepentingan untuk memperoleh baseline kinerja. Pada tahap Analyze, penelitian ini menggunakan Pareto analysis, stakeholder analysis, Current Reality Tree (CRT), dan PESTEL analysis untuk mengidentifikasi faktor dominan penyebab keterlambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pencapaian NPD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh kombinasi beberapa masalah utama. Berdasarkan hasil analisis tersebut, alternatif solusi kemudian diprioritaskan dan diterjemahkan ke dalam strategi Lean Six Sigma QbD, karena mampu menjawab tiga kebutuhan utama sekaligus, yaitu penguatan basis ilmiah pengembangan produk melalui QbD, penyederhanaan alur kerja melalui Lean, dan pengurangan variasi proses melalui Six Sigma. Hasil pilot project menunjukkan bahwa strategi tersebut mampu menurunkan lead time pada tahapan penting, terutama pada pengembangan laboratorium, penyusunan dokumen pengembangan, dan persiapan pengajuan registrasi.

2026
👤 Penulis: Revinta Kurnia Septanti
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Quality By Design (Qbd)

KERANGKA KERJA CERDAS UNTUK PEMELIHARAAN PREDIKTIF PADA LAPANGAN MINYAK: PEMANFAATAN PEMBELAJARAN MESIN UNTUK PENGELOMPOKAN RISIKO KOROSI SUMUR DAN PREDIKSI KEGAGALAN ESP

This study presents an intelligent framework for oilfield predictive maintenance that integrates machine learning to cluster tubing corrosion risk and forecast Electrical Submersible Pump (ESP) failures in the mature Offshore South East Sumatra fields, where 119 tubing leak incidents have been recorded across 92 wells, most occurring before the ESP's targeted run life. Principal Component Analysis (PCA) was applied to nine corrosion-related parameters to reduce dimensionality, followed by K-Means and Gaussian Mixture Model (GMM) clustering to segment wells into Low, Moderate, and High corrosion risk regimes. The K Means model achieved a silhouette score of 0.417 and a Davies-Bouldin Index of 1.077, outperforming GMM. For ESP failure prediction, six baseline classification algorithms were evaluated, together with a seventh soft-voting ensemble that combined them, and a hyperparameter-tuned XGBoost model achieved the best performance with a PR-AUC of 0.64 and ROC-AUC of 0.704 against unseen test data, addressing the dataset's 75:25 class imbalance through cost-sensitive learning. SHapley Additive exPlanations (SHAP) were used to interpret model outputs, identifying bottom-hole temperature, differential pressure, fluid velocity, and CO2 partial pressure as the dominant drivers of ESP failure. The clustering, classification, and SHAP outputs were integrated into a rule-based, web-based application that automatically generates well level corrosion risk diagnostics, ESP success probability, and optimized tubing material and workover recommendations. Validation on a blind test set of two wells withheld from training demonstrated the framework's capability to deliver actionable, well-specific intervention strategies, though this small validation sample reflects workflow feasibility rather than statistically robust field performance; the approach nonetheless offers a practical, data-driven pathway to enhance tubing and ESP reliability and reduce unnecessary workover costs in mature oilfield operations.

2026
👤 Penulis: Valentino Varian Vanitra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS SMART UNTUK MEMPRIORITASKAN INISIATIF EFISIENSI ENERGI: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN RETAIL DI INDONESIA

ESG menjadi topik penting bagi industri retail karena aktivitas perusahaan retail secara langsung berpengaruh terhadap lingkungan dan masyarakat. Efisiensi Energi merupakan salah satu aspek ESG yang paling penting karena operasional toko bergantung pada fasilitas yang mengonsumsi energi. PT Prima Retail Lestari (PT PRL), perusahaan retail di Indonesia, saat ini menghadapi masalah dan perlu menilai kembali inisiatif Efisiensi Energinya di bawah batasan anggaran dan operasional. Perusahaan telah menerapkan beberapa inisiatif. Namun, masing-masing inisiatif memiliki implikasi dan faktor implementasi yang berbeda. Dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini, PT PRL tidak dapat menerapkan semua inisiatif dan perlu menentukan inisiatif mana yang harus diprioritaskan. Masalah utama dari studi ini adalah tidak adanya kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur untuk mengevaluasi dan memprioritaskan inisiatif Efisiensi Energi. Proses prioritas ini perlu dianalisis karena prioritas bukanlah hal yang dapat disepakati dari hasil diskusi saja. Tanpa kerangka kerja yang terstruktur, perusahaan akan sulit melakukan komparasi antar alternatif sehingga dapat merugikan pengalokasian sumberdaya dan investasi terhadap ESG. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan kemudian menerapkan prioritas inisiatif ESG melalui kerangka pengambilan keputusan multi-kriteria yang terstruktur, yang mempertimbangkan aspek finansial dan non finansial. Studi ini menggunakan metode SMART untuk membantu dalam prioritas inisiatif Efisiensi Energi di PT PRL. Pendekatan ini akan membantu identifikasi kriteria, dan pengembangan kerangka pengambilan keputusan, serta menentukan inisiatif mana yang harus diprioritaskan. Data pada studi ini diperoleh dari wawancara semi-terstruktur, kuesioner, dan analisis dokumen internal. Studi dimulai dengan memahami proses pengambilan keputusan saat ini dan mengidentifikasi tantangan, kemudian menggunakan SMART sebagai alat pengambilan keputusan. Hasil studi ini adalah kerangka kerja pengambilan keputusan terstruktur dan prioritas yang diusulkan berdasarkan analisis SMART yang dilakukan. Kerangka kerja yang diusulkan dapat diintegrasikan ke dalam proses perencanaan ESG PT PRL untuk mendukung pengambilan Keputusan di masa mendatang.

2026
👤 Penulis: Farah Nadira Iriawan
🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Kriteria Multi Aspek

PERENCANAAN KLASIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN BERBASIS AKTIVITAS PADA UNIT KERJA PENDUKUNG INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi permasalahan inefisiensi komposisi sumber daya manusia, khususnya rasio dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hingga saat ini, belum terdapat model acuan yang mengklasifikasikan jenis tendik berdasarkan karakteristik aktivitas di setiap unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis saat ini dan proses bisnis yang seharusnya dilakukan oleh setiap unit kerja, memetakan peran pada setiap proses bisnis dengan matriks RAOSI, serta mengklasifikasikan tenaga kependidikan berbasis aktivitas pada empat Unit Kerja Pendukung (UKP) ITB, yaitu Ditmawa, DSDM, DKST, Ditkeu. Penelitian ini menggunakan kerangka workforce planning ISO 30409:2016 dengan pendekatan task-based segmentation. Pemetaan proses bisnis dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pejabat struktural di setiap direktorat yang divalidasi dengan peraturan yang berlaku serta standar acuan. Model klasifikasi dikembangkan berdasarkan empat dimensi penilaian yaitu Strategic Value, Uniqueness, Needs Private Information Access, dan Repetitiveness and Standardization of the Task. Penilaian dilakukan melalui kuesioner berskala ordinal 1–4 yang diisi oleh pejabat struktural, dengan hasil yang kemudian divalidasi kepada pimpinan masing-masing unit. Proses bisnis saat ini berjumlah 236 (Ditmawa), 261 (DSDM), 243 (DKST), dan 344 (Ditkeu). Setelah evaluasi kesesuaian, proses bisnis yang seharusnya dilakukan bertambah menjadi 347, 309, 360, dan 421 untuk masing-masing direktorat. Dari keseluruhan proses bisnis dengan operate pada level staf, hasil klasifikasi menunjukkan dominasi kategori tendik tetap di seluruh unit yaitu 162 aktivitas di Ditmawa, 84 di DSDM, 165 di DKST, dan 199 di Ditkeu. Sisanya terdistribusi pada kategori KJP/MK, dan TAD. Penelitian ini menghasilkan model klasifikasi tenaga kependidikan berbasis aktivitas yang dapat digunakan sebagai acuan oleh DSDM ITB dalam perencanaan, rekrutmen, dan penempatan tenaga kependidikan, serta menjadi landasan implementasi pada seluruh Unit Kerja Pendukung di ITB.

2026
👤 Penulis: Yohanes Satria
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERENCANAAN KLASIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN BERBASIS AKTIVITAS PADA UNIT KERJA PENDUKUNG INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi permasalahan inefisiensi komposisi sumber daya manusia, khususnya rasio dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hingga saat ini, belum terdapat model acuan yang mengklasifikasikan jenis tendik berdasarkan karakteristik aktivitas di setiap unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis saat ini dan proses bisnis yang seharusnya dilakukan oleh setiap unit kerja, memetakan peran pada setiap proses bisnis dengan matriks RAOSI, serta mengklasifikasikan tenaga kependidikan berbasis aktivitas pada empat Unit Kerja Pendukung (UKP) ITB, yaitu Ditmawa, DSDM, DKST, Ditkeu. Penelitian ini menggunakan kerangka workforce planning ISO 30409:2016 dengan pendekatan task-based segmentation. Pemetaan proses bisnis dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pejabat struktural di setiap direktorat yang divalidasi dengan peraturan yang berlaku serta standar acuan. Model klasifikasi dikembangkan berdasarkan empat dimensi penilaian yaitu Strategic Value, Uniqueness, Needs Private Information Access, dan Repetitiveness and Standardization of the Task. Penilaian dilakukan melalui kuesioner berskala ordinal 1–4 yang diisi oleh pejabat struktural, dengan hasil yang kemudian divalidasi kepada pimpinan masing-masing unit. Proses bisnis saat ini berjumlah 236 (Ditmawa), 261 (DSDM), 243 (DKST), dan 344 (Ditkeu). Setelah evaluasi kesesuaian, proses bisnis yang seharusnya dilakukan bertambah menjadi 347, 309, 360, dan 421 untuk masing-masing direktorat. Dari keseluruhan proses bisnis dengan operate pada level staf, hasil klasifikasi menunjukkan dominasi kategori tendik tetap di seluruh unit yaitu 162 aktivitas di Ditmawa, 84 di DSDM, 165 di DKST, dan 199 di Ditkeu. Sisanya terdistribusi pada kategori KJP/MK, dan TAD. Penelitian ini menghasilkan model klasifikasi tenaga kependidikan berbasis aktivitas yang dapat digunakan sebagai acuan oleh DSDM ITB dalam perencanaan, rekrutmen, dan penempatan tenaga kependidikan, serta menjadi landasan implementasi pada seluruh Unit Kerja Pendukung di ITB.

2026
👤 Penulis: Raditya Aryatama Wiradisuria
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EVALUASI POTENSI ANTI-FATIGUE KOMBINASI EKSTRAK KUNYIT (CURCUMA LONGA L.) DAN KAYUMANIS (CINNAMOMUM BURMANNI (NEES DAN T.NEES) BLUME) MENGGUNAKAN METODE FORCED SWIMMING TEST

Kelelahan merupakan kondisi yang ditandai dengan menurunnya kemampuan otot dalam mempertahankan aktivitas fisik akibat berkurangnya kapasitas menghasilkan gaya atau kontraksi. Kunyit (Curcuma longa L.) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii (Nees & T.Nees) Blume) mengandung senyawa bioaktif, seperti kurkumin dan sinamaldehid, yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi serta berpotensi sebagai agen anti-fatigue. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis tunggal optimum ekstrak etanol rimpang kunyit dan ekstrak etanol kulit batang kayu manis serta mengevaluasi aktivitas anti-fatigue kombinasi kedua ekstrak menggunakan metode forced swimming test. Ekstrak diperoleh melalui maserasi menggunakan etanol 96% dan dikarakterisasi menggunakan kromatografi lapis tipis dan KLT densitometri. Aktivitas anti-fatigue diuji pada mencit jantan galur ddY, disertai analisis histologi otot gastrocnemius menggunakan pewarnaan hematoksilin dan eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol rimpang kunyit mengandung golongan fenol, flavonoid, kuinon, triterpenoid, dan kumarin dengan kadar kurkumin 23,923 ± 4,25%, sedangkan ekstrak etanol kulit batang kayu manis mengandung fenol, flavonoid, tanin, kuinon, saponin, triterpenoid, dan kumarin dengan kadar sinamaldehid 1,29 ± 0,39%. Pada forced swimming test, durasi berenang pada mencit yang diberi ekstrak etanol rimpang kunyit dosis 65 dan 130 mg/kg bobot badan (BB) tidak berbeda bermakna (p>0,05) dibandingkan kontrol negatif. Kunyit dengan dosis 260 mg/kg BB meningkatkan durasi renang secara signifikan (p < 0,05). Ekstrak etanol kulit batang kayu manis pada dosis 65, 130, dan 260 mg/kg BB meningkatkan durasi renang secara bermakna (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif. Pemberian kombinasi kunyit dosis 130 mg/kg BB dan kayu manis 65 mg/kg BB menunjukkan peningkatan durasi berenang yang signifikan (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif dan kelompok yang diberikan kunyit atau kayu manis tunggal. Dari keseluruhan hasil yang diperoleh, dosis optimum ekstrak etanol rimpang kunyit dan ekstrak etanol kulit batang kayu manis sebagai anti-fatigue adalah, berturut-turut, 260 dan 130 mg/kg BB. Efek anti-fatigue pada model mencit yang diinduksi renang paksa dari kombinasi ekstrak kunyit dan kulit batang kayu manis lebih baik dibandingkan efek ekstrak tunggalnya.

2026
👤 Penulis: Ayasha Vashtia Renando
🏷️ Antioksidan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 12 dari 349
💬