πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 172 dokumen

TRANSIENT SIMULATION TO ANALYZE WAX DEPOSITION AND FLOW PATTERN BEHAVIOR ALONG TUBING UNDER ESP INSTALLATION AND GASSY WELL CONDITION

Wax deposition is a typical phenomenon that can cause flow restriction in the tubing, resulting in a decrease in production. To address the production declines, an Electrical Submersible Pump (ESP) is used, but it can affect the thermal condition and flow behavior, especially for gassy well conditions. Therefore, transient simulation is required to determine the production, wax deposition, and flow behavior in the tubing under ESP installation. The well of this study, β€œX” well is a gassy well that has a solution GOR of 700 scf/bbl, and the reservoir fluid in it is a waxy crude type with a wax content of 38%. In this case, the β€œX” well use a 400 Series DN610 type pump of ESP with 70 stages. Transient simulation is performed for 7 days using OLGA 2022.1.0 software. The result of the simulation shows that there is already a wax deposition on the first day with a maximum wax thickness of 0.0021 inches, the fluid temperature that is below 153.5Β°F, and the deposition that occurs at 1677 ft-MD to the tubing head position. In the following days, there is a thickening of the wax at the same depth until day 7 when the wax deposition has reached the depth of 1809 ft-MD with a maximum wax thickness of 0.0114 inches and fluid temperature that is below 153.5Β°F. Sensitivity analysis is then performed to see the influence of ESP installation on the wax deposition by changing the number of stages and using no ESP during transient simulation. It was found that the more the number of stages that are used, the more wax deposition is formed, and the least amount of wax deposition is when no ESP is used. This is because the installation of ESP can eventually increase the production rate by adding the number of stages. As the amount of oil that flows in the tubing increases, the more wax that is contained in the oil will be able to precipitate and then deposit. The flow pattern that occurs along the tubing under the installation of ESP as the result of the simulation varies. At pump setting depth to KOP (Kick Off Point), the stratified flow is the most dominant flow pattern. At KOP to tubing head position, the slug flow is the most dominant flow pattern although at day 1.4, day 2.8, day 4.2, and day 7 the flow pattern at the tubing head position is annular flow due to the high-moving gas while the liquid being moves slowly as the thin film. The liquid slug body occurs at day 5.6 and has successfully lifted to the tubing head with the rate of 926 STB/d and this will happen frequently.

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Fadhlan Solihan
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

EXPLORING MACHINE LEARNING ALGORITHMS FOR PREDICTING POROSITY, PERMEABILITY, AND ROCK TYPE FROM WELL LOG DATA

Reservoir characterization is a fundamental step in resource development and production. This step involves identifying rock types to infer key reservoir parameters such as permeability. Traditional methods rely heavily on core data, which is often limited and expensive. To address this limitation, this study enhances the abundant log data with machine learning techniques to predict porosity, permeability, and rock type across the entire well depth. The methodology involves comprehensive data preprocessing, including integrating, normalizing, cleaning Log ASCII Standard (LAS) and RCAL data and feature extraction. Rock typing was performed using RQI/FZI methods, and the data was split into training and testing sets. Specifically, data from six wells with core data were used. One well was designated as the testing set, and the remaining wells were used for training. This process was repeated for each well in a loop, ensuring that all wells were evaluated individually. Three main types of machine learning models were assessed: regression, classification, and clustering algorithms. Sequential forward selection (SFS) was employed to identify the optimal features for the models, and cross-validation was used to ensure their robustness. The models provided good predictions despite the limited data (103 data points). Results indicated that regression models for porosity prediction achieved an overall RMSE of 3.66%, demonstrating reasonable accuracy. For rock-type prediction, the clustering model achieved an average accuracy of 46.6% across all wells, outperforming both regression and classification models. Permeability predictions further validated the clustering model's superiority, with the lowest RMSE values averaging 42.572 md across most wells. Compared to the manual rock-typing average RMSE of 44.83 md, machine learning proved its reliability in generalizing to new data. This study underscores the potential of machine learning to integrate abundant log data with core data, enhancing subsurface property predictions. The clustering model proved the most effective, demonstrating robust performance and reliable predictions across different datasets. These findings highlight the viability of machine learning as a powerful tool in petrophysics and reservoir engineering, offering significant advantages over traditional core data analysis methods.

2024
πŸ‘€ Penulis: Afgha Izzam Tursina
🏷️ Kepeloparan 🏷️ Petrofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

MINDFUL RETREAT: WELLNESS RESORT SEBAGAI FASILITAS PEMELIHARAAN KESEJAHTERAAN INDIVIDU DI KABUPATEN BOGOR

Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan mendalam dalam pola hidup global, memaksa adaptasi dan perubahan yang mendalam. Ini mempengaruhi ekonomi, kesehatan individu, dan masyarakat secara menyeluruh. Dampak pandemi ini tidak hanya mencakup kesehatan fisik tetapi juga psikologis. Selama pandemi, adaptasi ke perubahan seperti bekerja dari kantor (WFO) atau dari rumah (WFH) telah menjadi tantangan.. Banyak yang mengalami gangguan kesehatan psikologis, seperti stres dan kelelahan, seiring dengan ketidakpastian dan perubahan rutinitas. Beberapa individu merasa cemas, ragu-ragu, dan tidak siap untuk beradaptasi Pandemi telah meninggalkan dampak jangka panjang, termasuk adaptasi dan gelombang kelelahan pada pekerja dan pengusaha. Penting untuk memperhatikan masalah sosial dan budaya, seperti stigma dan beban kerja berlebihan, yang memengaruhi kesejahteraan pekerja. Beberapa dampak di antaranya stres, depresi, dan kecemasan telah menjadi masalah yang signifikan dalam masyarakat. Depresi memengaruhi aspek emosional, fisik, dan perilaku individu. Gangguan kecemasan muncul dari ketidakpastian dan ketidaknyamanan dalam menghadapi situasi yang tidak jelas. Dalam upaya mengurangi stres, terapi, pengampunan, dan dukungan sosial menjadi solusi. Terapi termasuk relaksasi otot, meditasi, dan mindfulness untuk mengurangi stres. Therapeutic Recreation adalah upaya untuk memulihkan kesehatan fisik dan psikologis melalui rekreasi yang sistematis untuk memenuhi kebutuhan individu. Waktu luang atau Leisure adalah waktu yang diperoleh setelah bekerja, dan penting untuk memastikan dampak positif terhadap kesejahteraan individu. Pentingnya kesadaran (mindfulness) dalam menghadirkan diri dalam waktu luang dan rekreasi ditekankan. Pandemi tidak hanya mempengaruhi kesehatan individu tetapi juga sektor ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata. Pembatasan pergerakan telah mengubah pariwisata dan memunculkan konsep baru seperti wellness tourism. Wellness tourism berfokus pada kesejahteraan fisik dan mental individu di luar lingkungan rutin mereka. memainkan peran penting dalam menyediakan lingkungan pemulihan, seperti Wellness Center. Kesejahteraan individu dapat dicapai melalui berbagai aktivitas seperti spa, meditasi, yoga, dan konsultasi jiwa. Upaya ini mengarah pada perbaikan kualitas hidup dan harapan hidup individu secara menyeluruh. Pandemi telah meninggalkan dampak jangka panjang, termasuk adaptasi dan gelombang kelelahan pada pekerja dan pengusaha. Penting untuk memperhatikan masalah sosial dan budaya, seperti stigma dan beban kerja berlebihan, yang memengaruhi kesejahteraan pekerja. Beberapa dampak di antaranya stres, depresi, dan kecemasan telah menjadi masalah yang signifikan dalam masyarakat. Depresi memengaruhi aspek emosional, fisik, dan perilaku individu. Gangguan kecemasan muncul dari ketidakpastian dan ketidaknyamanan dalam menghadapi situasi yang tidak jelas. Dalam upaya mengurangi stres, terapi, pengampunan, dan dukungan sosial menjadi solusi. Terapi termasuk relaksasi otot, meditasi, dan mindfulness untuk mengurangi stres. Therapeutic Recreation adalah upaya untuk memulihkan kesehatan fisik dan psikologis melalui rekreasi yang sistematis untuk memenuhi kebutuhan individu. Waktu luang atau Leisure adalah waktu yang diperoleh setelah bekerja, dan penting untuk memastikan dampak positif terhadap kesejahteraan individu. Pentingnya kesadaran (mindfulness) dalam menghadirkan diri dalam waktu luang dan rekreasi ditekankan. Pandemi tidak hanya mempengaruhi kesehatan individu tetapi juga sektor ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata. Pembatasan pergerakan telah mengubah pariwisata dan memunculkan konsep baru seperti wellness tourism. Wellness tourism berfokus pada kesejahteraan fisik dan mental individu di luar lingkungan rutin mereka. memainkan peran penting dalam menyediakan lingkungan pemulihan, seperti Wellness Center. Kesejahteraan individu dapat dicapai melalui berbagai aktivitas seperti spa, meditasi, yoga, dan konsultasi jiwa. Upaya ini mengarah pada perbaikan kualitas hidup dan harapan hidup individu secara menyeluruh.

2024
πŸ‘€ Penulis: Ananda Khairunissa
🏷️ Kesehatan Mental 🏷️ Pariwisata Wellness 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

KAJIAN IMPLEMENTASI STANDAR GREEN BUILDING PROYEK KONSTRUKSI BERDASARKAN SISTEM SERTIFIKASI EXCELLENCE IN DESIGN FOR GREATER EFFICIENCIES (EDGE)STUDI KASUS: PROYEK SCIENCE TECHNO PARK (STP) ITB GANESHA

<p align="justify">Masifnya pembangunan telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan. Menurut Kementerian PUPR (2020) secara global, bangunan gedung menggunakan 40% energi dan 12% persediaan air tawar,yang berkontribusi terhadap 30% emisi gas rumah kaca yang dipercaya sebagai penyebab pemanasan global. Green Building menjadi solusi yang muncul sebagai tanggapan terhadap tantangan ini dengan dapat mengurangi konsumsi energi sebesar 25%, penggunaan air sebesar 40%, emisi CO2 36%, dan limbah padat sebesar 70% dibandingkan dengan bangunan konvensional. Akan tetapi, implementasi teknologi Green Building menghadapi berbagai permasalahan dari faktor internal maupun eksternal dilihat dari minimnya implementasi teknologi tersebut. Untuk itu, sebagai langkah dalam meningkatkan implementasi teknologi Green Building di Indonesia, dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor penghambat yang memengaruhi adopsi konsep Green Building serta melakukan evaluasi dan strategi untuk menjawab permasalahan yang ada. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara kajian literatur, kuesioner, observasi, dan wawancara. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif dan analisis SWOT untuk merumuskan strategi peningkatan penerapan Green Building. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan yang sangat berpengaruh menjadi faktor penghambat yaitu variabel dengan kode X4, X1, dan X3 untuk faktor internal serta Y4, Y1, dan Y7 untuk faktor eksternal. <p align="justify">

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Kaisar Diandra
🏷️ Green Building 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

FUTURE LIVING: HOUSING IN TRANSIT DEVELOPMENT AREA TO ALLEVIATE TRAFFIC CONGESTION

Urbanisasi di Jakarta telah menyebabkan pertumbuhan populasi yang cepat dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Hal ini telah mengakibatkan kemacetan yang parah di berbagai wilayah kota. Untuk mengatasi masalah ini, strategi yang diusulkan adalah pembangunan hunian mixed use di kawasan yang terintegrasi dengan sistem transportasi publik yang ada. Pembangunan hunian mixed use bertujuan untuk menciptakan kawasan yang tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menawarkan fasilitas komersial, perkantoran, dan area rekreasi dalam satu lingkungan. Kawasan ini dirancang agar penduduknya dapat menjalani kegiatan sehari-hari tanpa perlu menggunakan kendaraan pribadi secara intensif. Pembangunan hunian mixed use yang berorientasi transit akan memberikan akses yang mudah ke sarana transportasi publik seperti stasiun kereta api, terminal bus, atau jalur khusus transportasi massal lainnya. Hal ini akan merangsang penggunaan transportasi umum, mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke dalam kota, dan secara efektif mengurangi kemacetan. Selain itu, pengembangan kawasan berorientasi transit dapat mempromosikan gaya hidup berkelanjutan dengan menyediakan fasilitas untuk pejalan kaki dan sepeda serta mengurangi kebutuhan akan mobilitas dengan mobil pribadi. Proyek merupakan sebuah bangunan mixed-use di kawasan TOD Blok M yang merupakan kawasan TOD dengan intensitas kegiatan di sekitarnya tinggi, tetapi permukiman sekitarnya masih tergolong permukiman berkepadatan rendah. Analisis permasalahan ini kemudian menghasilkan tiga persoalan, yaitu integrasi fungsi untuk mengurangi mobilitas pengguna sebagai persoalan utama, persoalan tambahan lainnya mengenai lingkungan berbasis transit yang kreatif dan produktif sebagai respon karakteristik kawasan TOD Blok M, serta arsitektur restoratif di kawasan padat penduduk yang sejalan dengan tujuan TOD Blok M, yaitu β€œGreen Creative Hub”.

2024
πŸ‘€ Penulis: Karin Hanasyanila Salma
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Hidrologi Kota 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

SISTEM PENELUSURAN RUTE DAN KONTROL TERPUSAT UNTUK TUGAS PEMETAAN MENGGUNAKAN DRONE JAMAK

Drone jamak dapat digunakan untuk melakukan tugas pemetaan, sehingga diperlukan akurasi yang baik dalam penelusuran rute pemetaan. Selain akurasi, drone harus melaksanakan tugas dengan waktu tempuh sesingkat-singkatnya. Untuk mencapai tersebut, drone akan dikontrol dengan menggunakan kontrol terpusat yang terhubung pada access point. Kontrol tersebut menyebabkan drone dianggap sebagai individu yang berbeda, sehingga drone akan bersifat independen. Meningkatkan akurasi penelusuran posisi dilakukan dengan dengan mendeteksi beberapa marka fidusial persegi (MFP) dalam proses penentuan posisi. Posisi dari drone diasumsikan dengan titik pusat kamera, sehingga perhitungan posisi drone lebih akurat. Selain itu, algoritma pemisahan diterapkan juga pada drone untuk menghindari tabrakan saat menjalankan tugas pemetaan. Algoritma tersebut akan memisahkan drone sesuai dengan jarak aman yang telah ditetapkan, yaitu 200 cm. Pada penelitian ini, jumlah drone yang digunakan berjumlah 2 drone. Dari hasil penelitian, drone melakukan sebuah pengujian penelusuran rute searah sumbu x dan sumbu y. Berdasarkan pengujian tersebut, nilai RMSE yang dihasilkan mengalami penurunan. Saat drone bergerak searah sumbu x positif, nilai RMSE yang diperoleh adalah 5,2 cm. Nilai tersebut lebih rendah dari hasil penelitian sebelumnya yang bernilai 19,3 cm. Dalam menjalankan tugas pemetaan, drone akan melakukan penelusuran rute dan didapat nilai RMSE untuk drone A sebesar 12,3 cm dan drone B sebesar 22,5 cm dengan waktu tempuh 51 detik. Dengan demikian, Teknik pendeteksian beberapa marka meningkatkan kemampuan penelusuran rute dan drone dapat melakukan tugas pemetaan dengan baik, meskipun drone bekerja pada area yang terbatas, yaitu 5m x 4m. Kata kunci: drone, kontrol terpusat, penelusuran rute, marka fidusial persegi

2024
πŸ‘€ Penulis: Shania Argiliana
🏷️ Teknologi Drone 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Pemetaan Lokasi

DEVELOPMENT OF A NOVEL HIGH LIFT DEVICES MECHANISM BASED ON 3D-PRINTED MORPHING WING FOR SMALL UAV

<p align="justify">In the field of fixed-wing aviation, stall prevention remains a crucial challenge. Stall, characterized by a sudden loss of lift at high angles of attack, significantly impacts flight safety and performance. This research focuses on exploring morphing wing technologies to enhance high-lift devices in small Unmanned Aerial Vehicle (UAV). The main objectives are to design, develop, and test a morphing wing that can improve lift and stall resistance. We designed the SPICS (Slotted-Pillar Internal Compliant System) morphing wing through several iterations to achieve the desired parabolic deflection. Using Fused Deposition Modeling (FDM) 3D printing technology, we created a test section with a 40 cm span and 20 cm chord length. Red dots were added on the wing's cross section to track deflection using computer vision algorithms. The SPICS design was then tested in a controlled wind tunnel environment. The test results showed that the SPICS morphing wing could adjust its camber, resulting the improvement in lift coefficient ????????, with the ???????????????????? reaching up to 1.65. Moreover, the stall angle was extended from 10Β° to 14Β°, indicating improved stall resistance. From the stall test, SPICS able to recover the wing from stall condition and maintain its ???????? for higher angle of attack. These findings confirm the potential of the SPICS morphing wing to be a viable alternative to conventional fixed flaps on small scale UAV. <p align="justify">

2024
πŸ‘€ Penulis: Mutaqin Aryawijaya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Teknologi Aeronautika 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan
Halaman 12 dari 12
πŸ’¬