📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenDEVELOPMENT OF A LEAN ENTERPRISE INTERVENTION DECISION FRAMEWORK (LEIDF) FOR STATE INTERVENTION IN DISTRESSED STATE-OWNED ENTERPRISES: AN EX-POST CASE ILLUSTRATION OF PT KRAKATAU STEEL (PERSERO) TBK
Keputusan intervensi negara pada BUMN yang mengalami kondisi distress memerlukan proses pengambilan keputusan yang terstruktur dan terstandar. BUMN memiliki mandat ganda yaitu menjaga keberlanjutan finansial sekaligus mengemban amanat negara/kepentingan publik. Oleh karena itu, penilaian kredit biasa tidak memadai untuk menilai proposal intervensi BUMN. Meskipun analisa mendalam atas proposal intervensi telah ada, belum adanya framework standar berpotensi mengakibatkan inkonsistensi dalam proses assessment. Akibatnya, Keputusan berisiko lebih didorong oleh kondisi genting, financial pressure atau pertimbangan strategis yang kurang dilengkapi langkah pengaman yang memadai. Tesis ini menggunakan pendekatan kualitatif dan design oriented untuk mengembangkan Lean Enterprise Intervention Decision Framework (LEIDF) dan menerapkannya pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai ilustrasi kasus ex-post. LEIDF dikembangkan melalui studi literatur, sintesa konsep dan konsultasi dengan DAM Danantara. Landasan teori meliputi bounded rationality, stage-gate decision logic, Financial versus economic viability, execution feasibility, moral hazard, risiko fiskal, SOE governance dan juga kepentingan umum/negara. Konsultasi dengan Danantara digunakan untuk memahami praktek assessment intervensi, ketersediaan data, tata kelola dan pelaksanaan LEIDF secara praktis. Tesis ini mengusulkan LEIDF sebagai framework pengambilan Keputusan berbasis stage-gate, berurutan, berbasis pertanyaan, dan berdasarkan pada bukti. LEIDF terdiri dari 4 gate yaitu Post-Intervention Economic Viability, Execution Feasibility, Intervention Risk Control dan Public Value/State Interest Justification. Ilustrasi penerapan pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. menunjukkan bahwa LEIDF dapat mengorganisasi assessment atas proposal intervensi secara terstruktur dan operasional, dengan hasil rekomendasi keputusan adalah Conditional Recovery (Penyehatan)
THE ENVIRONMENTAL IMPACTS OF PILE DRIVING FOR OFFSHORE WIND TURBINES ON MARINE MAMMALS IN INDONESIAN WATERS
This study presents a national-scale assessment of construction-phase underwater noise impacts from offshore wind turbine (OWT) monopile installation on marine mammals in Indonesian waters. Although offshore wind development is a key component of Indonesia’s energy transition, quantitative integration of acoustic environmental impacts remains limited in existing planning frameworks. This research addresses this gap by combining engineering-based acoustic modeling with spatial ecological analysis across techno?economically feasible offshore wind farm (OWF) candidate sites. Monopile geometric parameters—including diameter, pile length, penetration depth, and wall thickness—were derived using multiple linear regression based on a reference dataset of existing offshore wind projects. The resulting model identifies turbine capacity as the dominant design variable, producing representative monopile diameters of approximately 4.11–6.64?m for the 2.5?MW turbine class, with site-specific adjustments captured through secondary parameters. Underwater noise source levels were estimated using two complementary approaches: the Energy Conversion Factor (ECF) framework of Wood et?al. (2023) and the empirical scaling law of von?Pein et?al. (2022). The Wood model produces uniform and conservative Energy Source Levels (?209–211?dB re 1?µPa²·s), while the von?Pein model exhibits greater sensitivity to site-specific parameters, generating more variable Sound Exposure Levels. Transmission loss modeling indicates that Permanent Threshold Shift (PTS) impact ranges remain relatively limited, extending up to 430–614?m (Wood model) and 85–191?m (von?Pein model) depending on hearing group and hammer scenario. In contrast, Temporary Threshold Shift (TTS) zones extend significantly further, reaching 8–19?km (Wood model) and 2.6–6.0?km (von?Pein model). These results highlight the strong dependence of predicted impact extent on model selection. Spatial overlay analysis in QGIS reveals substantial overlap between acoustic impact zones and marine mammal habitats, particularly for Balaenopteridae, Delphinidae, and Physeteridae. The integrated risk classification framework—combining acoustic exposure, ecological vulnerability, and wave-based installation windows—identifies a clear west-to-east gradient, with low-risk zones concentrated in the Java Sea and higher-risk regions in the Banda Sea, Maluku, and offshore Papua. Seasonal analysis shows increased risk levels during August–October. The findings demonstrate that offshore wind development in Indonesia must incorporate both spatial and temporal considerations to minimize ecological impacts. The study provides a first-order, evidence-based framework for acoustic risk assessment and supports targeted mitigation measures including optimized installation timing, noise reduction technologies, and spatial planning strategies.
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI GLISEROL TERHADAP KARAKTERISTIK BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR PATI UBI JALAR DENGAN FILLER KITOSAN
Pengaruh Konsentrasi Gliserol terhadap Karakteristik Bioplastik Berbahan Dasar Pati Ubi Jalar dengan Filler Kitosan. Dibimbing oleh Angga Dwiartama dan Heri Rahman. Penggunaan plastik konvensional sebagai kemasan menimbulkan masalah limbah lingkungan jangka panjang. Bioplastik berbasis pati ubi jalar (Ipomoea batatas L.) menjadi alternatif potensial, namun memiliki kelemahan pada sifat mekanis dan ketahanan terhadap air. Penambahan gliserol sebagai plasticizer dapat memperbaiki karakteristik bioplastik dengan meningkatkan fleksibilitas dan memodifikasi sifat fisik serta mekaniknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi gliserol terhadap karakteristik bioplastik serta menentukan konsentrasi gliserol yang paling optimal untuk menghasilkan bioplastik dengan sifat terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan variasi konsentrasi gliserol (1,5%, 2,5%, 3,5%, dan 4,5%) dan penambahan filler kitosan 2% untuk menguji karakteristik bioplastik yang meliputi kekuatan tarik, densitas, elongasi, Water Vapour Permeability (WVP), swelling index, dan laju biodegradasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Analisis Ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian, variasi konsentrasi gliserol maemberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik fisik dan mekanik bioplastik yang dihasilkan. Peningkatan konsentrasi gliserol dari 1,5% hingga 4,5% menyebabkan penurunan densitas dan kekuatan tarik, serta peningkatan nilai Water Vapour Permeability (WVP), swelling index, dan elongasi. Sementara itu, parameter biodegradabilitas tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan menunjukkan bahwa seluruh formulasi memiliki kemampuan terurai yang baik. Secara keseluruhan, formulasi optimal terdapat pada konsentrasi gliserol 2,5% (G2).
BEAMFORMING PADA RADAR NON-ROTATING 360° BERBASIS HEXAGONAL ARRAY UNTUK APLIKASI AIR SURVEILLANCE
Radar air surveillance konvensional memindai wilayah azimut melalui putaran mekanis, yang membatasi laju pembaruan data dan menuntut perawatan berkala. Radar non-rotating mengatasi keterbatasan ini melalui pemindaian elektronik, namun realisasinya sebagai phased array aktif menuntut penggeser fasa dan penguat pada setiap elemen, sehingga kompleksitas, konsumsi daya, dan biayanya menjadi sangat tinggi. Butler matrix menawarkan alternatif pasif, tetapi menghadirkan dua persoalan: Butler matrix berorde genap tidak menghasilkan berkas pada arah broadside, dan jaringan ini tidak menyediakan informasi sudut kedatangan sinyal secara presisi. Penelitian ini mengusulkan integrasi rat-race coupler pasif pada pasangan port masukan Butler matrix 8×8 yang bersebelahan, untuk secara simultan mengisi celah berkas broadside dan membangkitkan kanal jumlah (?) serta kanal selisih (?) bagi estimasi sudut monopulse — seluruhnya tanpa komponen aktif maupun pemrosesan digital. Sistem dirancang pada substrat FR4 di frekuensi 3 GHz sebagai satu sektor dari susunan heksagonal 48 elemen, disimulasikan dengan CST Microwave Studio, difabrikasi, dan divalidasi melalui pengukuran Vector Network Analyzer serta pengukuran pola radiasi outdoor. Hasil pengukuran menunjukkan return loss seluruh port berada di bawah ?10 dB, deviasi fasa progresif Butler matrix tidak melebihi 2,7°, dan rat-race coupler menghasilkan beda fasa 0,43° pada kanal ? dan 180,16° pada kanal ?. Sistem terintegrasi membentuk berkas ? tepat pada arah broadside, membuktikan tercapainya beam gap filling. Kurva diskriminan ?/? pada lima pasangan port .menghasilkan estimasi sudut dengan galat rerata 0,44°, mencakup seluruh sektor ±30°.
PERENCANAAN SISTEM RAINWATER HARVESTING DI STASIUN TRANSPORTASI MASSAL LAYANG DI JAKARTA SELATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BEBAN DRAINASE EKSISTING
Pesatnya pembangunan dan tingginya curah hujan di Jakarta Selatan semakin membebani sistem drainase eksisting, sementara kebutuhan air domestik terus meningkat. Tugas akhir ini merencanakan sistem rainwater harvesting pada stasiun transportasi massal layang dan mengkaji pengaruhnya terhadap beban drainase melalui analisis hidrologi, simulasi neraca air, perencanaan komponen, simulasi beban drainase, serta analisis kelayakan ekonomi dan SWOT. Hasil analisis menunjukkan sistem mampu menyuplai kebutuhan air domestik sebesar 1.856 m³/tahun, menghemat 14% biaya air instansi (Rp39,89 juta pada tahun pertama) dengan reliabilitas temporal 4%. Instalasi terdiri atas bak penampung beton bertulang 40,837 m³, jaringan pipa HDPE 100 mm, 9 unit first flush, injeksi natrium karbonat, dan 2 unit forced filtration. Sistem menurunkan debit puncak limpasan stasiun dari 0,29 m³/detik menjadi 0,19 m³/detik dan memenuhi seluruh parameter kelayakan ekonomi. Analisis SWOT merumuskan strategi pendanaan dan mitigasi keterbatasan lahan, termasuk prospek penerapan sejak awal pembangunan guna menekan biaya investasi.
PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN ENERGI BERBASIS ALGORITMA GENETIKA UNTUK APLIKASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) ATAP RUMAHAN
Tingkat adopsi PLTS atap skala rumah tangga sangat dipengaruhi oleh besaran penghematan biaya listrik yang dapat diperoleh, yang mana hal tersebut berkorelasi dengan regulasi yang berlaku. Penghapusan skema net metering melalui Peraturan Menteri ESDM No. 2 Tahun 2024 meniadakan kompensasi finansial atas suplus energi PLTS yang diekspor ke jaringan PLN, sehingga penghematan biaya listrik menjadi tidak optimal tanpa strategi pengelolaan energi yang tepat. Perubahan regulasi ini menggeser orientasi sistem dari ekspor surplus energi ke maksimalisasi konsumsi mandiri (self-consumption). Perancangan ini bertujuan untuk merancang dan memverifikasi Sistem Manajemen Energi (Energy Management System/EMS) berbasis Algoritma Genetika (Genetic Algorithm/GA) pada sistem PLTS Atap hibrida residensial untuk pelanggan rumah tangga 2200 VA. EMS dirancang dengan fungsi objektif meminimalkan biaya listrik prosumer melalui optimasi daya baterai dan aksi charge atau discharge baterai dengan tetap menjaga operasi baterai pada SOC 20-80% dan batas daya baterai. Pengujian kinerja EMS dilakukan secara closed-loop menggunakan MATLAB/Simulink dengan data masukan berupa profil beban, cuaca, dan tarif listrik. Verifikasi EMS dilakukan pada lima skenario yang meliputi variasi kompensasi ekspor, kondisi cuaca cerah dan berawan, skema tarif konstan dan dinamis (Time-of-Use), variasi kapasitas penyimpanan, serta variasi SOC awal baterai. Pada seluruh skenario verifikasi, EMS berhasil melakukan penghematan biaya listrik hingga 17,45% dibanding biaya listrik harian yang diberikan oleh sistem PLTS tanpa EMS. EMS yang dirancang membutuhkan waktu komputasi 18,99 detik per siklus pada timestep 5 menit. Dengan demikian, EMS berbasis Algoritma Genetika mampu bekerja pada kondisi sistem yang dinamis dan memberikan referensi daya baterai untuk meminimalkan tagihan listrik harian.
ANALISIS BIAS SISTEMATIS PARAMETER PEMULIHAN MODEL STOKASTIK CARMA(2, 1) AKIBAT KONTAMINASI DAN KETERBATASAN DATA DERET WAKTU PADA VARIABILITAS UV/OPTIK AGN
Variabilitas ultraviolet/optik inti galaksi aktif (active galactic nuclei, AGN) bersifat aperiodik dan stokastik, dan mekanisme fisis utama yang mendorongnya hingga kini belum diketahui secara pasti. Untuk mengkarakterisasi variabilitas tersebut, dikembangkan pendekatan statistik berbasis proses stokastik, dan model yang dipandang paling baik saat ini adalah proses CARMA(2, 1) atau Damped Harmonic Oscillator (DHO), yang memberikan deskripsi lebih akurat dibandingkan model-model lain. Parameter model ini dilaporkan berkaitan dengan besaran fisis AGN, seperti massa lubang hitam dan luminositas, sehingga pemulihannya yang akurat menjadi penting. Akan tetapi, kurva cahaya hasil pengamatan mengandung keterbatasan dan kontaminasi data, sehingga parameter DHO yang diinferensi rentan terhadap bias sistematis. Penelitian ini mengkuantifikasi bias tersebut melalui simulasi Monte Carlo dengan parameter intrinsik yang diketahui secara pasti, pada dua kasus redaman, yakni overdamped (? = 1,74) dan underdamped (? = 0,7). Tiga faktor diuji secara terisolasi, yaitu celah pengamatan, panjang survei, dan kontaminasi sinyal non-stokastik. Hasil menunjukkan bahwa celah acak tidak menimbulkan bias sistematis, sedangkan celah musiman menimbulkan bias berarah yang bergantung kasus dengan batas toleransi fraksi celah sekitar 0,73. Pengaruh panjang survei juga bergantung kasus, yakni berupa estimasi terlalu rendah secara monoton pada skala waktu peluruhan untuk kasus overdamped sebagai efek panjang berhingga, dan estimasi terlalu tinggi yang tidak monoton pada kasus underdamped. Kontaminasi berdampak asimetris, dengan kasus underdamped jauh lebih rentan terhadap supernova, sementara microlensing menjadi kontaminan paling merusak secara multivariat. Implikasi terhadap estimasi massa lubang hitam tetap terkendali sepanjang syarat fraksi celah dan panjang survei minimum dipenuhi.
MODEL SISTEM DINAMIS UNTUK ANALISIS KEBIJAKAN KONVERSI LIQUIFIED PETROLEUM GAS (LPG) KE DIMETIL ETER (DME) DI INDONESIA
Liquified petroleum gas (LPG) merupakan sumber energi rumah tangga yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Tingginya ketergantungan Indonesia pada LPG impor (sebesar 79%) untuk memenuhi energi rumah tangga domestik menimbulkan permasalahan dalam ketahanan energi nasional. Sebagai upaya untuk mengurangi risiko permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia berupaya untuk menggantikan sebagian LPG dengan sumber energi alternatif, yaitu dimetil eter (DME) yang diperoleh dari teknologi gasifikasi batu bara domestik. Meskipun konversi ini sebagai salah satu program prioritas yang ditetapkan dalam Perpres No. 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pelaksanaan program ini melibatkan banyak pemangku kepentingan di dalamnya. Pemangku kepentingan dan aktor yang terlibat dalam program konversi LPG ke DME ini diantaranya Pemerintah Indonesia sebagai problem owner, PT Bukit Asam sebagai penyedia batu bara, pabrik DME sebagai produsen DME, PT Pertamina Patra Niaga sebagai off-taker dan distributor DME, serta masyarakat yang terdampak dari konversi energi rumah tangga. Pelaksanaan program konversi LPG ke DME ini merupakan salah satu contoh sistem transisi energi nasional. Kinerja dari sistem transisi ini menentukan tingkat keberhasilan transisi dan dampaknya pada aktor yang terlibat. Peran pemerintah melalui kebijakan fiskal dan non fiskal yang dibuat diperlukan untuk menjaga kualitas dari kinerja sistem transisi energi nasional tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian untuk memodelkan rekomendasi strategi kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan keberhasilakn konversi LPG ke DME di Indonesia. Melalui pengembangan model sistem dinamis, pengaruh setiap alternatif rekomendasi strategi kebijakan fiskal dan non fiskal yang akan disusun oleh pemerintah terhadap kinerja sistem dapat disimulasikan. Untuk mengukur kinerja sistem, digunakan kriteria performansi tingkat pencapaian target produksi DME, tingkat impor LPG nasional, dan rasio beban fiskal nasional dalam implementasi konversi DME. Model yang dikembangkan mempertimbangkan aspek fiskal berupa adanya insentif, subsidi dan penghematan fiskal dan aspek teknis berupa tingkat konversi batu bara ke DME dan learning rate. Untuk memodelkan bagaimana performansi konversi dapat meningkatkan keekonomian DME, digunakan mekanisme learning curve terhadap biaya produksi DME. Pada penelitian ini dikembangkan kondisi business as usual (BAU) yang merepresentasikan implementasi kebijakan sesuai rencana pemerintah. Hasil simulasi pada target blending ratio (BR) 20% dan 50% menunjukkan tingkat pencapaian produksi DME masing-masing sebesar 41,93% dan 53,30%, penurunan impor LPG menjadi 72,89% dan 54,63%, tingkat penghematan terhadap pengeluaran 144% dan 368%, serta keuntungan dari penjualan batu bara sebesar 59,2 juta dan 190,5 juta USD/tahun. Evaluasi tiga skenario kebijakan, yaitu Technology Plateau (TPL), Technology Push (TPU), dan Energy Security Push (ESP), menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) menunjukkan bahwa strategi yang paling sesuai bergantung pada target BR. Pada BR 20%, skenario konservatif melalui TPL memberikan keseimbangan terbaik antara pemenuhan kebutuhan DME, efisiensi fiskal, dan manfaat ekonomi, sedangkan pada BR 50%, ESP lebih sesuai untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi melalui pemberian insentif serta percepatan pengembangan industri dan learning effect. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan transisi LPG ke DME perlu diterapkan secara bertahap sesuai target blending ratio.
MENGUNGKAP BEBAN TERSEMBUNYI TUBERKULOSIS (TB) UNTUK PENENTUAN PRIORITAS INTERVENSI DI JAWA BARAT
Estimasi beban tuberkulosis (TB) yang merepresentasikan suatu wilayah menghadapi tantangan berupa bias kapasitas diagnostik. Hal ini dapat menjadi pemicu kesalahan dalam penentuan fokus intervensi kesehatan. Tingginya angka kasus di suatu wilayah bisa jadi hanya mencerminkan implikasi dari banyaknya alat tes, bukan merepresentasikan beban penyakit yang sebenarnya. Studi ini melakukan analisis dan evaluasi dari kondisi penyakit TB di Provinsi Jawa Barat dengan menyoroti ketimpangan distribusi alat diagnostik, yaitu GeneXpert, dengan mempertimbangkan kondisi sosioekonomi, demografi, dan lingkungan dari masing-masing wilayah. Melalui pendekatan pemodelan inferensi Bayesian, studi ini berhasil membangun model yang mengoreksi bias laporan data kasus akibat persebaran GeneXpert yang tidak merata dan membuktikan bahwa variasi laporan kasus di wilayah yang ada di Jawa Barat saat ini lebih didorong oleh heterogenitas ketersediaan alat diagnostik, sedangkan positivity rate di masyarakat sebenarnya relatif homogen antarwilayah di Jawa Barat. Untuk memahami hubungan kerentanan beban penyakit antarwilayah secara spasial, dilakukan pengonstruksian jaringan yang memetakan konektivitas kerentanan TB berdasarkan kemiripan sosioekonomi dan kedekatan geografis. Jaringan yang terbentuk kemudian dievaluasi melalui beberapa metrik konektivitas, seperti k- Core, Betweenness Centrality, Eigenvector Centrality, dan PageRank Centrality. Lebih jauh, dari evaluasi yang dilakukan pada jaringan teridentifikasi bahwa kawasan Ciayumajakuning sebagai wilayah dengan tingkat prioritas tinggi untuk dilakukan intervensi. Temuan ini memberikan landasan saintifik bagi pemangku kebijakan untuk membuat intervensi dan alokasi sumber daya lebih optimal dan adil, serta hasil dari studi ini dapat memberikan informasi untuk wilayah yang lebih prioritas untuk fokus intervensi ketika sumber daya yang dimiliki terbatas.
STUDI PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO PADA BENDUNGAN WAY APU KABUPATEN BURU, MALUKU
Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap sumber energi fosil serta masih adanya 0,17% wilayah terpencil yang belum teraliri listrik mendorong perlunya pemerataan sumber energi yang lebih berkelanjutan. Dengan potensi sumber daya air yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mendukung transisi energi menuju pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Perencanaan PLTM Way Apu berlokasi di Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Debit banjir rencana dengan periode ulang 100 tahun diperoleh sebesar 1.415,69 m³/s. Daya bangkitan PLTM Way Apu dihitung berdasarkan debit andalan 70% sebesar 25,34 m³/s dan net head sebesar 40,45 meter serta efisiensi turbin sebesar 90%, sehingga menghasilkan daya bangkitan total sebesar 8,6 MW. Keuntungan maksimal yang dapat diperoleh per tahun pada PLTM Way Apu adalah sekitar Rp100 miliar, dengan tarif harga listrik yang dijual ke PLN sebesar Rp1.352/kWh. Dengan nilai keuntungan tersebut, diperoleh Net Present Value (NPV) sebesar Rp381.424.828.321 (setara Rp381 miliar) dan Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 3,47, sehingga dapat disimpulkan bahwa investasi PLTM Way Apu layak secara ekonomi.
PERANCANGAN STRUKTUR ATAS BAJA KOMPOSIT TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM RANGKA BRESING KONSENTRIK PADA APARTEMEN 12 LANTAI DI KAWASAN TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT FATMAWATI
Peningkatan jumlah penduduk Kota Jakarta sebesar 0,23% per tahun memicu tingginya kebutuhan hunian di tengah keterbatasan lahan. Kondisi tersebut mendorong terjadinya fenomena commuting jarak jauh yang kurang efisien bagi masyarakat perkotaan. Sebagai solusi, konsep Transit-Oriented Development (TOD) diterapkan untuk mengintegrasikan hunian dengan akses transportasi umum. Kawasan Stasiun MRT Fatmawati dipilih sebagai lokasi strategis karena menghubungkan wilayah penyangga Jakarta Selatan dengan pusat kota. Pada kawasan ini, dilakukan perancangan gedung apartemen kelas menengah urban yang terdiri dari 12 lantai sebagai struktur tahan gempa. Diimplementasikan konsep baja komposit yang terdiri dari kolom komposit, balok komposit, serta pelat komposit dek baja. Sistem penahan gaya lateral direncanakan menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Rangka Bresing Konsentrik Khusus (SRBKK). Digunakan sambungan terprakualifikasi tipe Welded Unreinforced Flange-Welded Web (WUF-W) pada sambungan balok-kolom pada SRPMK untuk memenuhi persyaratan daktilitas struktur tahan gempa. Tata cara pembebanan dan analisis struktur yang dilakukan mengacu pada SNI 1727:2020 dan SNI 1726:2019 dengan persyaratan kekuatan dan detailing sambungan mengikuti SNI 1729:2020, SNI 7860:2020, dan SNI 7972:2020.
USULAN STRATEGI RETENSI DONATUR ALUMNI DANA LESTARI BADAN PENGELOLA USAHA DAN DANA LESTARI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Kemandirian finansial merupakan aspek krusial bagi institusi pendidikan seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Dana lestari (endowment fund) yang dikelola oleh Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL) memegang peranan strategis dalam mendorong kemandirian finansial ITB. Namun, data historis menunjukkan keberadaan fluktuasi dan inkonsistensi dalam penerimaan dana tahunan yang menghambat pertumbuhan dana lestari. Akar permasalahan utama yang teridentifikasi adalah rendahnya tingkat retensi berdonasi alumni ITB dengan mayoritas alumni hanya menjadi one-time-donor saat kelulusan. Rendahnya tingkat berdonasi ini berpotensi mengancam kestabilan finansial jangka panjang yang sedang dibangun ITB melalui dana lestari yang dikelola BPUDL. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam menginisiasi dan mendorong retensi donasi dari alumni ITB. Metode pengolahan data kuantitatif multivariat berupa PLS-SEM menjadi pilihan pada penelitian ini untuk mendukung sifat eksploratif dari tujuan penelitian. Model penelitian dikembangkan dengan merujuk pada tiga penelitian terdahulu, yaitu penelitian Behl dkk. (2023), Nasution dkk. (2025), dan Shen & Sha (2020). Penyebaran kuesioner dengan teknik convenience sampling terhadap alumni ITB memperoleh 301 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa philanthropic intentions, alumni engagement, social impact, openness, dan assurance of legitimacy memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap donation retention. Akan tetapi, konstruk brand equity dan conversational voice teridentifikasi tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Analisis tingkat kepentingan dan performa konstruk akan diukur dengan Importance-Performance Map Analysis (IPMA) dan keberadaan heterogenitas kelompok responden diuji dengan Multigroup Analysis (MGA). Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh, penelitian ini mengusulkan strategi retensi donasi dana lestari alumni ITB kepada BPUDL, yaitu: (I) peningkatan intensi filantropi alumni; (II) penyusunan cerita inspiratif dari alumni penerima bantuan filantropi ITB; (III) peningkatan keterikatan alumni terhadap ITB; dan (IV) penyebaran informasi relevan berdasarkan kekhawatiran alumni.
PENGEMBANGAN MODEL MULTIFIDELITY-PHYSICS INFORMED NEURAL NETWORK BERBASIS MODIFIED CAM CLAY UNTUK MEMPREDIKSI KURVA STRESS-STRAIN TANAH LEMPUNG
Prediksi kurva stress-strain tanah lempung menggunakan machine learning telah berkembang pesat di bidang teknik geoteknik, meskipun sebagian besar pendekatan machine learning hanya melakukan curve fitting — pendekatan tersebut membutuhkan data yang masif, mengabaikan aspek mekanika tanah, dan jarang memperhitungkan pore stress. Sebagian besar penelitian sebelumnya juga berfokus pada tanah pasir dan hanya memprediksi perilaku deviatoric stress. Penelitian ini mengusulkan model neural network berupa Multifidelity–Physics-Informed (MPINN) dua tahap yang memprediksi baik deviatoric stress maupun pore stress tanah lempung berdasarkan index properties-nya. Tahap 1 menggunakan neural network berupa Artificial Neural Network (ANN) untuk mengkalibrasi parameter Modified Cam Clay (MCC) dan menghasilkan kurva low-fidelity yang konsisten secara fisika melalui batasan keras. Tahap 2 menggunakan LSTM atau BiLSTM untuk mempelajari residual antara kurva MCC tahap 1 dan data pengujian laboratoriun Triaxial CU sebagai target, sehingga menghasilkan mekanisme multifidelity berbasis residual. Dalam penelitian ini, hyperparameter dioptimasi menggunakan Bayesian Optimization dan 5-Fold Cross Validation, serta lima model — RF, LSTM-Only, BiLSTM-Only, LSTM-MPINN, dan BiLSTM-MPINN — dibandingkan performanya untuk 176 pasang kurva. LSTM-MPINN memberikan kinerja terbaik dan paling robust (R² = 0,869 pada data uji), dengan performa terbaik berada pada rentang water content 44–85%, plasticity index 58–80%, dan void ratio 1,15–2,17. Selain itu, analisis SHAP menunjukkan bahwa MPINN menggeser fitur penting dari parameter yang secara mekanik merupakan parameter yang lemah (berat jenis basah, gravitasi spesifik) ke parameter yang lebih sesuai dengan mekanika (PI, LI), sehingga menghasilkan prediksi yang tidak hanya lebih akurat tetapi juga dapat diinterpretasikan secara geoteknik. Kerangka ini memberikan model yang efisien dalam penggunaan data dan konsisten secara fisika untuk memprediksi perilaku tanah lempung pada tahap awal selagi menunggu hasil hasil laboratorium. Nilai error E50, puncak q, dan ????? ketika puncak q juga dievaluasi pada penelitian ini. Meskipun hasil penelitian ini tidak menunjukkan pola karakteristik tanah tertentu yang memberikan error terkecil, secara umum seluruh model menunjukkan bahwa error terhadap puncak q lebih kecil dibandingkan error E50 dan ????? ketika puncak q.
KOMUNITAS BURUNG PADA EMPAT TUTUPAN LAHAN SEPANJANG SUNGAI CI GEDE GUNUNG SAWAL, CIAMIS, JAWA BARAT
Gunung Sawal merupakan gunung hutan hujan tropis di Ciamis, Jawa Barat. Gunung Sawal merupakan habitat bagi satwa endemik dari beragam taksa, salah satunya adalah avifauna (burung) yang memiliki beragam jasa ekologi bagi manusia. Gunung ini dilewati oleh beragam sungai yang merupakan zona riparian, salah satunya adalah Sungai Ci Gede, yang membentang dari area non konservasi hingga Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perbedaan komunitas burung di area non konservasi dan konservasi serta area prioritas konservasi di sepanjang Sungai Ci Gede, Gunung Sawal. Penelitian dilakukan pada empat tutupan lahan, yaitu kebun (KB), agroforestri (AG), Suaka Margasatwa area peralihan (PR), dan area curug (CR). Penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 Juni – 12 Juli 2025, menggunakan metode pengamatan point count radius 50 meter dengan total 12 titik pengamatan. Pengamatan pagi dilakukan selama 12 periode (15 menit/periode) dalam rentang waktu pukul 06:00 – 10:00 WIB. Perbedaan komunitas burung dianalisis dengan menghitung taxonomic diversity (diversity index, Non-metric Multidimensional Scaling (NMDS), dan Shannon Entropy Heatmap) serta functional diversity (Multifaceted Functional Diversity (MFD). Penentuan area prioritas konservasi dianalisis menggunakan Conservation Value Index (CVI). Berdasarkan hasil penelitian, tercatat 49 spesies, 28 famili, dan 1.919 individu burung. Analisis NMDS menunjukkan bahwa terdapat komunitas burung yang berbeda pada area konservasi (PR dan CR) dan non konservasi (KB dan AG) yang kekerabatannya divisualisasikan dengan Heatmap Shannon Entropy. Keanekaragaman spesies tertinggi dijumpai pada tutupan lahan agroforestri (AG) (H’ = 2,511). Analisis MFD menunjukkan adanya keragaman relung spesies berdasarkan traits fungsional berupa feeding guild dan stratum vegetasi. Komunitas burung yang merupakan spesies forest-dependent hanya ditemui di area konservasi (Suaka Margasatwa area peralihan (PR) & area curug (CR)). Sedangkan spesies generalis dapat ditemukan di seluruh tutupan lahan. Analisis CVI menunjukkan bahwa kebun (KB) merupakan tutupan lahan dengan dengan nilai prioritas konservasi tertinggi, yaitu 12.602 karena terdapat perjumpaan dengan elang jawa (Nisaetus bartelsi Stresseman, 1994) dengan status konservasi IUCN Endangered (EN).
EVALUASI DISTRIBUSI AIR BERDASARKAN RENCANA OPERASIONAL DAN DATA OBSERVASI MENGGUNAKAN PEMODELAN PASOKAN AIR DAN HIDROLIK DI SISTEM BENDUNGAN IR. H. DJUANDA – SALURAN TARUM UTARA
Sistem distribusi air dari Bendungan Ir. H. Djuanda menuju Bendung Curug, Bendung Walahar, hingga Saluran Tarum Utara merupakan infrastruktur strategis yang berperan dalam penyediaan air untuk sektor irigasi, domestik, dan industri di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Sistem ini melayani lebih dari 230.000 ha daerah irigasi serta memasok air baku bagi kawasan industri dan kebutuhan domestik di Provinsi Jawa Barat. Keandalan sistem sangat bergantung pada kesesuaian antara debit rencana, debit operasional, dan debit aktual di lapangan. Namun, kompleksitas operasi jaringan, perubahan karakteristik aliran, serta keterbatasan sistem pemantauan menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian debit (discharge imbalance, ?Q) yang berpotensi menurunkan akurasi neraca air, keandalan distribusi, dan tingkat pemenuhan kebutuhan air. Penelitian terdahulu umumnya mengevaluasi aspek hidrologi, hidraulik, atau distribusi air secara terpisah sehingga belum mampu menjelaskan penyebab ketidaksesuaian debit secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memvalidasi faktor-faktor penyebab ketidaksesuaian debit, mengembangkan pendekatan Integrated Discharge Evaluation yang mengintegrasikan analisis hidrologi, hidraulik, dan distribusi air, mengevaluasi pengaruh ketidaksesuaian debit terhadap kinerja distribusi air, serta menyusun skenario operasional untuk meningkatkan keandalan dan efisiensi distribusi air pada Sistem Jatiluhur. Penelitian menggunakan data operasional Bendungan Ir. H. Djuanda, Bendung Curug, Bendung Walahar, serta Saluran Tarum Barat (STB), Saluran Tarum Timur (STT), dan Saluran Tarum Utara (STU) selama periode 2021 hingga 2025. Validasi lapangan dilakukan melalui pengukuran debit menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) pada 18 titik pengamatan. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan metode F.J. Mock untuk mengestimasi kontribusi aliran sungai, sedangkan rekonstruksi hidraulik dilakukan menggunakan HEC-RAS dengan simulasi unsteady flow. Evaluasi distribusi air dan skenario operasional dilakukan menggunakan River Basin Simulation Model (RIBASIM). Selain itu, dilakukan analisis manfaat ekonomi pemanfaatan air pada sektor irigasi, domestik, dan industri berdasarkan hasil simulasi distribusi air. Hasil penelitian menunjukkan kehilangan debit sebesar 31,42 m³/s pada ruas Bendungan Ir. H. Djuanda hingga Bendung Curug dan sebesar 30,37 m³/s pada ruas Bendung Curug hingga Bendung Walahar. Ketidaksesuaian debit dipengaruhi oleh kombinasi faktor hidrologi, hidraulik, operasional, dan keterbatasan sistem pemantauan. Faktor dominan meliputi ketidakpastian debit pelepasan Bendungan Ir. H. Djuanda sebesar ±28,60 m³/s (±9%), deviasi debit Sungai Cikao sebesar ±2,82 m³/s (±27%), kontribusi aliran Sungai Cilangkap, Sungai Ciampel, dan Sungai Cibarukbuk, penurunan kapasitas efektif saluran akibat sedimentasi, pembuangan debit melalui PHTB, keberadaan gorong-gorong menuju Cipule, serta pengambilan air untuk irigasi nonteknis yang belum termonitor secara memadai. Faktor-faktor tersebut meningkatkan ketidakpastian neraca air dan menyebabkan deviasi antara debit hasil simulasi, data operasional, dan hasil pengukuran lapangan. Evaluasi distribusi air menunjukkan bahwa Saluran Tarum Utara memiliki tingkat keandalan terendah dengan rasio pemenuhan kebutuhan air sebesar 83,42 hingga 99,45% pada kondisi eksisting. Skenario Operasional 2 memberikan kinerja terbaik dengan meningkatkan rasio pemenuhan kebutuhan air menjadi 97,26 hingga 99,98% serta meningkatkan manfaat ekonomi pemanfaatan air dari Rp3,39 triliun menjadi Rp4,05 triliun atau sekitar 19,5% dibandingkan kondisi eksisting. Penelitian ini menghasilkan pendekatan Integrated Discharge Evaluation sebagai kerangka evaluasi terpadu yang mengintegrasikan validasi hidrometri lapangan, analisis hidrologi, rekonstruksi hidraulik, evaluasi distribusi air, dan analisis skenario operasional dalam satu pendekatan sistematis. Pendekatan ini mampu mengidentifikasi penyebab utama ketidaksesuaian debit, mengevaluasi dampaknya terhadap keandalan distribusi air, serta mendukung penyusunan strategi operasi yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis data. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi metodologis bagi pengembangan evaluasi sistem distribusi air skala besar sekaligus menyediakan rekomendasi praktis untuk meningkatkan akurasi neraca air, efektivitas sistem pemantauan, dan keandalan pengelolaan distribusi air pada Sistem Jatiluhur maupun sistem distribusi air sejenis di Indonesia.