📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenANALISIS HUBUNGAN FAKTOR IKLIM TERHADAP RISIKO DEMAM BERDARAH DI SULAWESI
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang ditularkan oleh nyamuk Aedes dan penyebarannya dipengaruhi oleh faktor iklim, seperti suhu, curah hujan, dan kelembapan relatif. Hubungan antara faktor iklim dan kejadian DBD bersifat kompleks karena menunjukkan pola nonlinier serta efek keterlambatan (lag), sehingga diperlukan pendekatan pemodelan yang mampu mengakomodasi karakteristik tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan nonlinier dan efek lag antara faktor iklim dan kejadian DBD, menentukan spesifikasi model Distributed Lag Nonlinear Model (DLNM) terbaik, mengevaluasi kemampuan prediktif model, serta menginterpretasikan hubungan antara faktor iklim dan kejadian DBD berdasarkan estimasi Relative Risk (RR). Penelitian ini menggunakan data bulanan periode Januari 2019 hingga Oktober 2024 pada Kota Palu, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton Utara, dan Kabupaten Buton. Variabel respons berupa jumlah kasus DBD, sedangkan variabel prediktor meliputi suhu rata-rata, curah hujan, dan kelembapan relatif. Pemodelan dilakukan menggunakan Distributed Lag Nonlinear Model (DLNM) dalam kerangka Bayesian dengan distribusi Negative Binomial dan pendekatan Integrated Nested Laplace Approximation (INLA). Pemilihan model terbaik didasarkan pada nilai Mean Leave-One-Year-Out Cross Validation (LOYO CV) dan Deviance Information Criterion (DIC), sedangkan evaluasi model dilakukan menggunakan probabilitas outbreak, Receiver Operating Characteristic (ROC), Area Under the Curve (AUC), dan Confusion Matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara faktor iklim dan kejadian DBD bersifat nonlinier dengan efek lag hingga lima bulan, dengan pola yang berbeda pada setiap wilayah. Model terbaik di Kota Palu melibatkan curah hujan dan kelembapan relatif, di Kabupaten Buton Selatan dan Kabupaten Buton hanya melibatkan curah hujan, sedangkan di Kabupaten Buton Utara hanya melibatkan kelembapan relatif. Adapun di Kabupaten Buton Tengah tidak ada variabel iklim yang terpilih, sehingga model terbaiknya hanya memuat komponen temporal berupa efek musiman dan efek antar tahun. Secara umum, variabel suhu tidak terpilih pada satu pun wilayah, sedangkan curah hujan menjadi variabel iklim yang paling dominan. Evaluasi menggunakan LOYO CV menunjukkan bahwa model mampu menggambarkan pola temporal kejadian DBD, meskipun kemampuan prediktifnya bervariasi antarwilayah. Selain itu, estimasi Relative Risk menunjukkan bahwa besarnya risiko DBD dipengaruhi oleh tingkat paparan faktor iklim dan waktu lag. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan DLNM berbasis Bayesian mampu menggambarkan hubungan kompleks antara faktor iklim dan kejadian DBD serta berpotensi mendukung sistem peringatan dini dan pengendalian DBD yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim di masing-masing wilayah.
PENGEMBANGAN KERANGKA CASH FLOW WATERFALL UNTUK ANALISIS STRUKTUR PEMBIAYAAN SUKUK BERDASARKAN KARAKTERISTIK AKAD
Total penerbitan sukuk global pada tahun 2024 mencapai USD205,1 miliar, sementara di Indonesia, per April 2026, terdapat 311 seri sukuk korporasi dengan nilai outstanding sebesar Rp92,82 triliun. Perkembangan tersebut mendorong berbagai penelitian mengenai pricing, yield, dan perilaku pasar sukuk. Namun, penelitian yang mengkaji mekanisme distribusi arus kas berdasarkan karakteristik akad masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan model stokastik untuk mengevaluasi mekanisme pembayaran sukuk sesuai karakteristik akad. Penelitian dilakukan dengan membangun model arus kas sukuk Ijarah dan Mudharabah. Arus kas perusahaan penerbit dimodelkan menggunakan Geometric Brownian Motion, kemudian diintegrasikan ke dalam konstruksi cash flow waterfall yang merepresentasikan mekanisme pembayaran masing-masing akad. Melalui simulasi Monte Carlo, performa mekanisme pembayaran dievaluasi berdasarkan Holder Internal Rate of Return, Issuer Benefit Ratio, dan Repayment Success Probability pada berbagai kondisi ekonomi. Khusus untuk sukuk Mudharabah, dilakukan optimisasi multiobjektif menggunakan NSGA-II untuk memperoleh nisbah bagi hasil yang memaksimalkan Holder IRR dan IB Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik akad memengaruhi distribusi manfaat ekonomi dan profil risiko yang tercermin pada ukuran performa struktur pembiayaan. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan drift meningkatkan stabilitas struktur pembiayaan, sedangkan peningkatan volatilitas menurunkan stabilitasnya. Selain itu, diperoleh nisbah bagi hasil optimal untuk sukuk Mudharabah dari perspektif perusahaan penerbit.
PENGARUH EKSTRAKSI ALKALI DAN STRUKTUR LEMBARAN SERAT UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA VEGAN LEATHER BERBASIS SERAT DAUN NANAS (PALF).
Tingginya beban lingkungan industri penyamakan kulit mendorong urgensi pengembangan material komposit alami berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi NaOH (5% dan 10%) serta rasio cairan-terhadap-padatan (10:1 dan 20:1 mL/g) pada proses ekstraksi alkali serat daun nanas (pineapple leaf fiber, PALF) terhadap karakteristik kulit vegan (vegan leather) berbasis matriks lateks karet alam. Komposit non-anyaman (non-woven) hasil fabrikasi dikarakterisasi secara komprehensif, dengan kain PALF anyaman (woven, W0) digunakan sebagai variasi struktur lembaran serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH dari 5% ke 10% dan ekspansi rasio cairan terhadap padatan dari 10:1 ke 20:1 mL/g secara signifikan meningkatkan efisiensi delignifikasi serat. Fenomena ini meningkatkan interaksi antarmuka serat-matriks, di mana perlakuan NaOH 10% dengan rasio 20:1 mL/g menghasilkan kadar selulosa sebesar 88,66%, kuat tarik komposit non-anyaman sebesar 2,43 MPa, dan reduksi absorpsi air hingga 5,48% akibat struktur yang lebih homogen berdasarkan pengamatan Scanning Electron Microscopy (SEM). Pada kondisi tersebut, kulit vegan menunjukkan stabilitas yang baik dengan laju biodegradasi terkendali sebesar 8,97% massa hilang setelah 28 hari. Sebagai pembanding, variasi woven menghasilkan kuat tarik 7,78 MPa dan kuat sobek 66,44 N/mm. Dapat disimpulkan bahwa manipulasi parameter termokimia ekstraksi alkali secara langsung merekayasa sifat fungsional komposit kulit vegan untuk aplikasi mode ringan (lightweight fashion).
HUBUNGAN MIKROSTRUKTUR TERHADAP PERFORMA ELEKTROKIMIA KATODE LINI0,5MN1,5O4 (LNMO) PADA BATERAI ION LITIUM
Baterai ion litium merupakan teknologi penyimpanan energi yang banyak digunakan pada perangkat elektronik portabel, kendaraan listrik, dan sistem penyimpanan energi skala besar. Salah satu material katode yang menjanjikan untuk aplikasi baterai ion litium generasi berikutnya adalah LiNi0,5Mn1,5O4 (LNMO) karena memiliki tegangan operasi tinggi (~4,7 V vs Li/Li?), densitas energi yang tinggi, struktur spinel tiga dimensi, serta bebas kobalt. Namun, material LNMO masih menghadapi berbagai tantangan, seperti degradasi struktur, pelarutan Mn, pembentukan fase impuritas, dan ketidakstabilan antarmuka pada tegangan tinggi yang dapat menurunkan performa elektrokimia. Salah satu pendekatan yang berpotensi meningkatkan stabilitas LNMO adalah melalui rekayasa mikrostruktur. Meskipun demikian, kajian mengenai pengaruh heating rate terhadap evolusi mikrostruktur LNMO yang disintesis melalui metode kopresipitasi serta keterkaitannya dengan performa elektrokimia masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh variasi heating rate selama proses kalsinasi terhadap mikrostruktur dan performa elektrokimia LNMO yang disintesis menggunakan metode kopresipitasi. Material LNMO disintesis menggunakan metode kopresipitasi yang diikuti proses kalsinasi dengan variasi heating rate sebesar 4 °C/min, 7 °C/min, dan 10 °C/min. Karakterisasi struktur kristal dilakukan menggunakan X-ray Diffraction (XRD) yang dilengkapi analisis Rietveld refinement, sedangkan morfologi partikel diamati menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM). Evaluasi performa elektrokimia dilakukan melalui pengujian Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS), charge-discharge, dan stabilitas siklus menggunakan konfigurasi half-cell (LNMO || Li). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel berhasil membentuk fase spinel LNMO. Peningkatan heating rate (HR) menyebabkan peningkatan fraksi fase impuritas Na0,67Ni0,33Mn0,67O2 dan penurunan kristalinitas material. Sampel LNMO HR 4 menunjukkan karakteristik mikrostruktur terbaik dengan kandungan fase impuritas paling rendah, morfologi truncated octahedral yang lebih homogen, permukaan partikel yang lebih halus, serta jumlah partikel sekunder yang lebih sedikit dibandingkan sampel lainnya. Hasil pengujian charge-discharge menunjukkan bahwa LNMO HR 4 memiliki kapasitas spesifik discharge sebesar 125,04 mAh g?¹ dan coulombic efficiency sebesar 92,52%. Sementara itu, pengujian EIS menunjukkan bahwa LNMO HR 7 memiliki hambatan transfer muatan (charge transfer resistance, Rct) terendah sebesar 103,4 ?, diikuti oleh LNMO HR 4 sebesar 118,5 ? dan LNMO HR 10 sebesar 124,2 ?. Hasil ini menunjukkan bahwa hambatan transfer muatan yang rendah tidak selalu berkorelasi secara langsung dengan performa elektrokimia secara keseluruhan, karena kinerja LNMO juga dipengaruhi oleh karakteristik mikrostruktur yang terbentuk. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa hubungan antara mikrostruktur dan performa elektrokimia bersifat kompleks dan tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan satu parameter elektrokimia. Interaksi antara struktur kristal, morfologi partikel, fase impuritas, dan karakteristik antarmuka elektrode-elektrolit perlu dipertimbangkan secara simultan untuk memahami mekanisme yang mendasari peningkatan maupun penurunan kinerja material LNMO. Pengujian stabilitas siklus selama 300 siklus pada densitas arus 1 C menunjukkan bahwa LNMO HR 4 memiliki stabilitas siklus terbaik dengan capacity retention sebesar 94,23%. Secara keseluruhan, hasil penelitian mengonfirmasi bahwa variasi heating rate merupakan parameter sintesis yang berperan dalam mengendalikan evolusi mikrostruktur LNMO, yang selanjutnya memengaruhi karakteristik transfer muatan, kapasitas spesifik, dan stabilitas siklus material. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa performa elektrokimia LNMO tidak ditentukan oleh satu parameter tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi antara kristalinitas, homogenitas morfologi, keberadaan fase impuritas, dan karakteristik transfer muatan yang terbentuk selama proses sintesis. Temuan ini memberikan kontribusi ilmiah berupa pemahaman mengenai peran heating rate dalam mengendalikan evolusi mikrostruktur serta keterkaitannya dengan performa elektrokimia LNMO yang disintesis melalui metode kopresipitasi, sehingga optimasi mikrostruktur melalui kontrol heating rate dapat menjadi salah satu strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan performa dan kestabilan material katode LNMO sebagai kandidat material katode baterai ion litium bertegangan tinggi.
ANALISIS POTENSI PENGGUNAAN DATA SATELIT GRAVIMETRI DALAM PEMANTAUAN DINAMIKA HIDROLOGI DI INDONESIA
Siklus hidrologi memiliki peran krusial dalam keberlangsungan hidup dan sistem iklim di Bumi. Di Indonesia, dengan karakteristik iklim tropis maritim yang kompleks, pemantauan dinamika hidrologi menjadi tantangan tersendiri, terutama karena pendekatan pemantauan konvensional masih terbatas dan berfokus pada dinamika di atas permukaan Bumi. Upaya mengatasi keterbatasan tersebut, pemanfaatan data satelit gravimetri GRACE (Gravity Recovery and Climate Experiment) dan GRACE-FO (Follow On) menawarkan solusi potensial karena kemampuannya dalam mendeteksi perubahan Total Water Storage (TWS) yang merepresentasikan total massa air di darat, mencakup air permukaan, kelembapan tanah, dan air tanah. Namun, kelangsungan pemanfaatan data GRACE di wilayah Indonesia terhambat oleh adanya kekosongan data akibat masa transisi misi selama 11 bulan, serta gangguan noise sinyal nonhidrologi berskala masif akibat gempa bumi besar seperti gempa Sumatra-Andaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengoreksi gangguan sinyal gempa pada data pengamatan GRACE, melakukan gap-filling untuk mengembalikan kontinuitas deret waktu observasi, serta menganalisis pola dinamika hidrologi tahunan dan semitahunan di Indonesia beserta keterkaitannya dengan fenomena iklim. Penelitian ini menggunakan data observasi anomali TWS dari CSR GRACE/GRACE-FO RL06.3 Mascon dengan rentang rentang waktu dari April 2002 hingga Juni 2025. Proses awal pengolahan difokuskan pada koreksi gempa bumi di perairan Andaman-Sumatra dengan menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) yang identik dengan Empirical Orthogonal Function (EOF) untuk mengekstraksi dan mengeliminasi sinyal co-seismic serta postseismic. Setelah dikoreksi, prosedur algoritma climSSA (climate adjustment scheme using Singular Spectrum Analysis) yang dipadukan dengan parameter iklim turunan seperti curah hujan dan potensi evaporasi diaplikasikan untuk merekonstruksi bulan-bulan yang tidak memiliki data observasi. Deret waktu anomali TWS kontinu kemudian didekomposisi menggunakan regresi harmonik untuk mengekstraksi komponen tren linier jangka panjang, pola tahunan, dan pola semitahunan. Hasil observasi divalidasi keandalannya menggunakan perhitungan water budget closure dengan data meteorologis, dan selanjutnya dikorelasikan menggunakan pendekatan lag correlation terhadap empat indeks iklim utama, yaitu El Niño Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), Australian Monsoon Index (AUSMI), dan Indian Monsoon Index (IMI). Kajian ini juga dilengkapi dengan mendeteksi anomali hidrologis berbasis GRACE-DSI (Drought Severity Index) dan perhitungan estimasi anomali Groundwater Storage (GWS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan koreksi gempa bumi berhasil mereduksi anomali tren nonhidrologi secara drastis, utamanya di perairan laut Andaman-Sumatra, sehingga data TWS menjadi lebih stabil dan homogen merepresentasikan variasi massa murni hidrologi. Rekonstruksi data menggunakan metode climSSA terbukti sangat efektif, ditunjukkan oleh pencapaian nilai cross validation dengan simulasi Monte Carlo sebesar 0,93 dan tingkat kesalahan (RMSE) sangat kecil, yaitu 0,68 cm. Melalui dekomposisi harmonik, teridentifikasi bahwa dinamika hidrologi di sebagian besar wilayah Indonesia didominasi oleh pola tahunan yang merespons sistem monsun, sedangkan pola semitahunan hanya mendominasi wilayah lintang ekuatorial seperti Sumatra bagian Barat dan Utara, serta Papua bagian Utara. Validasi menggunakan persamaan water budget closure menegaskan validitas GRACE dengan nilai korelasi moderat menuju kuat dan nilai RMSE yang rendah pada kisaran 7,578 cm. Dalam kaitannya dengan variabilitas iklim, ENSO terbukti menjadi pengontrol iklim global paling dominan yang memengaruhi dinamika TWS di area Indonesia bagian Tengah hingga Timur, sementara intervensi IOD lebih dominan menyetir variasi TWS di wilayah Indonesia bagian Tengah ke Barat. Lebih lanjut, indeks kekeringan GRACE-DSI sukses memetakan rentetan defisit hidrologis ekstrem seperti El Niño tahun 2015-2016 dan 2019, yang memperlihatkan adanya keterlambatan respons air di daratan (lag) berkisar 5 hingga 12 bulan sesudah terjadinya kekeringan curah hujan (meteorologis). Analisis komponen air tanah (GWS) mengungkap adanya laju degradasi cadangan air tanah yang nyata di ekosistem gambut Sumatra dan Kalimantan yang mengalami tren penyusutan sekitar -0,08 cm/tahun, berbanding terbalik dengan wilayah rawa dataran rendah alami seperti Merauke yang masih mengalami tren akumulasi air tanah sebesar 0,65 cm/tahun. Namun, terdapat pola unik di daerah Pantura yang dikenal masif proses ekstraksi air tanahnya terdeteksi memiliki tren naik 0,31 cm/tahun. Secara keseluruhan, integrasi koreksi spasial gempa bumi dan rekonstruksi data climSSA memegang peran penting dalam memaksimalkan potensi data satelit gravimetri GRACE/GRACE-FO. Identifikasi komprehensif atas dinamika hidrologi regional dan cadangan air tanah ini sangat krusial agar dapat diimplementasikan menjadi acuan dan landasan data ilmiah bagi pemangku kebijakan dalam rangka mitigasi bencana hidrometeorologi di masa yang akan datang.
PENGARUH FERMENTASI SUBSTRAT PADAT MENGGUNAKAN BACILLUS SUBTILIS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN TEPUNG LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK
Larva Lalat Tentara Hitam (Hermetia illucens L.) memiliki potensi sebagai sumber protein alternatif bernilai tinggi untuk pangan dan pakan berkelanjutan, namun masih terkendala oleh tingginya kandungan lemak serta kompleksitas struktur protein yang membatasi ketersediaan hayatinya. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar, perolehan, derajat hidrolisis, karakteristik, dan bioaktivitas protein H. illucens melalui penghilangan lemak, fermentasi substrat padat menggunakan Bacillus subtilis pada 45°C, ekstraksi alkali menggunakan NaOH 0,25 M, serta hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain. Variasi waktu fermentasi (0–4 hari) meningatkan kadar protein dari 47,15% menjadi 51,07 ± 0,06%, dengan kondisi optimum pada hari ke-4. Kurva pertumbuhan B. subtilis menunjukkan laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,181 jam?¹ dan waktu penggandaan 3,82 jam, yang mendukung proses biokonversi substrat. Ekstraksi alkali meningkatkan perolehan protein dari 42,73% menjadi 65,26 ± 4,48%, dengan nilai optimum pada hari ke-2 fermentasi, sedangkan hidrolisis enzimatis meningkatkan derajat hidrolisis dari 46,65% menjadi 49,63 ± 1,84%, dengan nilai tertinggi pada hari ke-4. Analisis SDS-PAGE menunjukkan terjadinya penurunan berat molekul protein setelah fermentasi dan hidrolisis, yang mengindikasikan degradasi protein menjadi peptida berukuran lebih kecil. Fermentasi juga meningkatkan kandungan asam amino esensial. Hidrolisat protein yang dihasilkan menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC?? sebesar 194,46 ± 6,68 ppm serta tidak menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap E.coli dan S.aureus. Sebagai kesimpulan, kombinasi fermentasi, ekstraksi alkali, dan hidrolisis enzimatis efektif meningkatkan kualitas protein H. illucens melalui peningkatan kadar protein, perolehan protein, derajat hidrolisis, perubahan profil molekul protein, serta menghasilkan hidrolisat protein yang memiliki potensi bioaktif untuk aplikasi pangan dan pakan fungsional.
ANALISIS HISTORIS DAMPAK KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH DAN URBANISASI TERHADAP PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN HUTAN BAKAU DAN POTENSI PENYIMPANAN KARBON DI JAKARTA UTARA
Fenomena urbanisasi yang berlangsung masif di wilayah perkotaan pesisir berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir, khususnya hutan bakau yang memiliki peran peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon sebagai salah satu upaya dalam memitigasi perubahan iklim. Sebagai bagian dari wilayah ibu kota DKI Jakarta yang memiliki tingkat urbanisasi tinggi sekaligus wilayah yang memiliki ekosistem hutan bakau di pesisirnya, Jakarta Utara mengalami perkembangan perkotaan yang pesat dan menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan antara pembangunan dengan pelestarian ekosistem hutan bakau. Dalam hal ini, arah kebijakan tata ruang wilayah menjadi faktor penting bagi perkembangan kota sekaligus perlindungan kawasan pesisir. Namun, kajian yang mengintegrasikan analisis historis arah kebijakan tata ruang, dinamika urbanisasi, perubahan tutupan lahan hutan bakau, dan penyimpanan karbon di Jakarta Utara masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis dampak arah kebijakan tata raung wilayah terhadap dinamika urbanisasi, dampak urbanisasi terhadap perubahan tutupan lahan hutan bakau, serta mengestimasi penyimpanan karbon pada ekosistem hutan bakau di Jakarta Utara secara historis selama periode 1995 – 2025. Penelitian ini menggunakan mix method dengan desain concurrent triangulation. Analisis dilakukan melalui content analysis terhadap dokumen RTRW DKI Jakarta dan RTRW Jabodetabek-Punjur, analisis spasial menggunakan Google Earth Engine dan ArcGis Pro, analisis statistik deskriptif, serta pemodelan InVEST Carbon Storage and Sequestration. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah kebijakan tata ruang wilayah DKI Jakarta mengalami perubahan orientasi pembangunan dari sektor industri menuju sektor jasa dan diarahkan untuk dapat menjadi seperti kota besar dunia. Arah pembangunan tersebut mendorong dinamika urbanisasi melalui pengembangan pusat-pusat kegiatan ekonomi, peningkatan aksesibilitas transportasi, serta penyediaan kawasan permukiman yang meningkatkan daya tarik Jakarta Utara sebagai tujuan migrasi. Dinamika urbanisasi selama periode 1995 – 2025 ditunjukkan oleh meningkatnya persentase lahan terbangun, kepadatan penduduk, dan kontribusi PDRB sektor tersier. Dinamika urbanisasi yang terjadi selamaviii periode tersebut berdampak pada berkurangnya luas tutupan lahan bakau. Namun, tidak terjadi secara masif. Meskipun pada periode 2005 – 2015 sempat mengalami konversi luas 70,56 Ha menjadi lahan terbangun, yang diidentifikasi menjadi lahan reklamasi, tetapi kemudian sejak tahun 2005 hingga 2025 luas hutan bakau mengalami peningkatan luas sebesar 105 Ha. Peningkatan tersebut dikarenakan adanya kegiatan penanaman kembali yang dilakukan oleh Komunitas setempat dan Pemerintah DKI Jakarta. Perubahan luas hutan bakau ini memengaruhi dinamika nilai penyimpanan karbon, di mana cadangan karbon ikut menurun pada periode 1995 – 2005 dari 267.389 ton C menjadi 212.143 ton C diakibatkan berkurangnya luas hutan bakau, kemudian kembali meningkat dari 212.143 ton C menjadi 289.487 ton C di tahun 2005 – 2025.
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB BURNOUT PADA PEKERJA INDUSTRI GARMEN PT X YANG DAPAT MEMENGARUHI PERILAKU KESELAMATAN KERJA
Industri tekstil dan garmen memiliki tuntutan kerja tinggi serta kondisi lingkungan yang kompleks, sehingga berisiko menimbulkan burnout pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab burnout dan menguji pengaruh faktor fisik lingkungan kerja (kebisingan, iklim kerja panas, PM2,5, PM10 dan pencahayaan) terhadap tingkat burnout. Selain itu, penelitian ini menilai hubungan burnout dengan perilaku keselamatan kerja, yang mencakup safety compliance dan safety participation. Penelitian dilakukan pada pekerja produksi di bagian garmen PT X dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert, burnout diukur menggunakan Maslach Burnout Inventory–General Survey (MBI-GS), faktor penyebab burnout menggunakan Job Demands–Resources (JDR) Model dan perilaku keselamatan kerja melalui instrumen yang diadaptasi dari penelitian terdahulu. Faktor fisik lingkungan kerja diperoleh melalui pengukuran langsung di area produksi. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), uji bootstrapping dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job demands (tekanan kerja, risiko dan bahaya) serta job resources (pengetahuan keselamatan, dukungan sosial) berpengaruh signifikan terhadap burnout. Faktor fisik lingkungan kerja, khususnya iklim kerja panas, PM2,5, PM10 dan intensitas pencahayaan, terbukti berpengaruh signifikan terhadap burnout, dengan PM2,5 sebagai faktor dominan. Sebaliknya, kebisingan berkorelasi negatif namun tidak signifikan. Burnout juga memiliki hubungan negatif signifikan dengan perilaku keselamatan kerja, yang berarti semakin tinggi burnout, semakin rendah kepatuhan dan partisipasi pekerja terhadap keselamatan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja, penguatan dukungan sosial, serta pengendalian paparan PM2,5 sebagai strategi pencegahan burnout dan peningkatan budaya keselamatan kerja di industri garmen.
ANALISIS POTENSI PENERAPAN SPONGE CITY BERDASARKAN KARAKTERISTIK BIOFISIK DAN HIDROLOGI PERKOTAAN DKI JAKARTA
DKI Jakarta sebagai wilayah pesisir menghadapi tekanan hidrologi ganda yang saling memperkuat: risiko banjir yang dinamis dan land subsidence yang berlangsung progresif. Luas genangan banjir menurun dari 18.540,88 Ha (2015) menjadi 14.689,43 Ha (2025), namun dominasi wilayah terdampak berpindah dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan yang mencatatkan proporsi genangan berbahaya tertinggi. Kondisi ini diperparah oleh laju penurunan muka tanah ratarata -1,86 cm/tahun yang merusak elevasi dan kapasitas tampung saluran drainase eksisting, membuktikan bahwa grey infrastructure konvensional tidak lagi memadai. Diperlukan transformasi menuju intervensi hidrologi yang menahan dan meresapkan air langsung dari sumbernya, sebagaimana prinsip Sponge City. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi penerapan konsep Sponge City di DKI Jakarta melalui pendekatan spasial-kuantitatif berdasarkan kondisi biofisik dan hidrologi untuk menentukan wilayah prioritas implementasi. Metode yang digunakan adalah Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) berbasis Weighted Linear Combination (WLC) yang mengintegrasikan empat parameter dengan bobot melalui Rank Order Centroid (ROC), yaitu tutupan lahan (52,08%), kemiringan lereng (27,08%), curah hujan (14,58%), dan jenis tanah (6,25%). Model diuji melalui analisis sensitivitas One-at-a-Time (OAT) pada delapan skenario variasi bobot, serta validasi spasial terhadap 1.291 titik genangan banjir. Hasil pemodelan di-overlay dengan Peta Pola Ruang RDTR untuk mengidentifikasi zona prioritas, kemudian diinterseksi dengan peta penggunaan lahan eksisting guna merumuskan rekomendasi infrastruktur yang kontekstual terhadap regulasi tata ruang Jakarta. Hasil menunjukkan kawasan terbangun mendominasi hingga 89,38% wilayah, sementara tutupan lahan resapan alami menyusut drastis, yaitu semak belukar (- 80,88%), lahan pertanian (-58,78%), dan tanah terbuka (-47,65%). Indeks Potensi Sponge City menunjukkan 59,29% wilayah DKI Jakarta berada pada Kelas 4 (Potensi Sangat Tinggi), terkonsentrasi di Jakarta Selatan (91,5%) dan Jakarta Timur (71,1%). Pemadatan tanah perkotaan turut mereduksi kapasitas infiltrasiv sehingga jenis tanah Dystric Nitisols direklasifikasi dari HSG B menjadi HSG C. Model terbukti konsisten terhadap variasi pembobotan (fluktuasi luas hanya 0,182%) dan tervalidasi kuat, dengan 73,59% titik genangan eksisting berada tepat pada zona prioritas hasil pemodelan. Dibandingkan kajian Sponge City Jakarta yang umumnya deskriptif pada skala kawasan mikro atau tinjauan literatur, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pendekatan spasial-kuantitatif skala kota yang menjadikan dua ancaman bencana sebagai justifikasi urgensi dan menerjemahkannya ke dalam parameter biofisikhidrologi terukur untuk pemodelan SMCE. Penelitian ini membuktikan bahwa wilayah dengan urgensi tertinggi atau 93,71% area prioritas merupakan kawasan budidaya aktif yang didominasi permukiman padat (42,93%) dan jaringan jalan (13,44%), bukan lahan kosong yang dapat dikonversi bebas. Temuan ini mengubah paradigma implementasi dari penyediaan ruang baru menjadi strategi integrasi infrastruktur resapan seperti permeable pavement, biopori, dan rainwater harvesting ke dalam lingkungan terbangun eksisting. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada ilmu perencanaan wilayah dan kota melalui penerapan evaluasi multikriteria spasial pada kota pesisir dengan tekanan bencana hidrologi ganda. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan basis data spasial dan justifikasi regulasi (Pergub DKI 109/2021, Permen ATR/BPN 14/2022, Pergub DKI 20/2024) yang dapat menjadi pedoman pemangku kebijakan dalam menentukan lokasi prioritas dan jenis infrastruktur Sponge City sesuai tipologi fisik dan pola pemanfaatan ruang di setiap zona DKI Jakarta
TUGUREJO MANGROVE ECO-HUB: PUSAT PENELITIAN, EDUKASI, DAN PERLINDUNGAN EKOSISTEM MANGROVE
Indonesia sebagai kawasan ekosistem mangrove terbesar di dunia memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan biosfer global. Selain skala global, ekosistem mangrove juga memiliiki peran tersendiri untuk wilayahnya, salah satunya di Kota Semarang. Ekosistem mangrove Tugurejo merupakan bagian dari kawasan mangrove terluas di Kota Semarang yang berperan penting bagi stabilitas pesisir Kota Semarang. Meski berperan penting, keberadaannya masih sering dikorbankan untuk kepentingan ekspansi industri, yang berdampak pada penurunan signifikan ekosistem mangrove. Kondisi ini juga menimbulkan konflik pemanfaatan ruang, dimana masyarakat lokal memiliki keterikatan secara historis, ekologis serta ekonomis terhadap ekosistem mangrove. Intervensi arsitektur diperlukan untuk mengakomodasi posisi sebagai kawasan lindung mangrove dari ekspansi industri serta sebagai wadah pemberdayaan kolaboratif. Perancangan Tugurejo Mangrove Eco-Hub sebagai design catalyst, bertujuan untuk merancang sebuah fasilitas yang memicu perubahan, perlindungan dan percepatan proses regenerasi dalam lingkungan. Mengintegrasikan fungsi penelitian, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pemicu perubahan. Menggunakan pendekatan regeneratif dan resiliensi yang berupaya membangun kemitraan aktif antara objek arsitektur dengan ekosistem untuk meningkatkan kapasitas lingkungan secara progresif. Metode perancangan mencakup analisis tapak secara menyeluruh, kajian literatur, dan studi preseden terkait fungsi, lokasi perancangan, dan konstruksi lahan basah. Perancangan dirumuskan dengan gubahan massa yang menyebar dalam kawasan perancangan dengan sistem panggung atau elevated untuk mengurangi dampak fisik ke lingkungan lahan basah. Secara teknis menyediakan zona untuk ruang pulih dan berkembang keseluruhan ekosistem mangrove, serta akselerator peningkatan kerapatan mangrove. Struktur baja dan beton prefabrikasi dipilih untuk meminimalisasi konstruksi, sekaligus rekayasa pada struktur yang memungkinkan berperan sebagai sediment capture dan nursery habitat. Untuk meningkatkan resiliensi, fasilitas juga berperan dalam mewujudkan konektivitas dan kolaborasi melalui transfer pengetahuan serta pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan begitu mampu meningkatkan ethical interdependence antara manusia dan lingkungan untuk saling menjaga, melestarikan, dan melindungi.
PREDIKSI TINGGI GENANGAN BANJIR BERBASIS DATA SATELIT DAN MACHINE LEARNING DI SUNGAI CILIWUNG, DKI JAKARTA
Pemodelan banjir penting untuk mengidentifikasi wilayah terdampak dan mendukung sistem peringatan dini dalam menentukan prioritas mitigasi. Namun, pemodelan berakurasi tinggi membutuhkan waktu komputasi besar, sedangkan curah hujan observasi berbasis titik memiliki keterbatasan dalam merepresentasikan distribusi spasial hujan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang memanfaatkan data dengan cakupan spasial lebih luas dan mampu menghasilkan prediksi genangan secara cepat. Penelitian ini mengevaluasi data curah hujan satelit GSMaP Hourly Gauge V7 sebagai alternatif curah hujan observasi serta mengembangkan model machine learning menggunakan Random Forest dan Long Short-Term Memory (LSTM) neural network untuk memprediksi tinggi genangan dan mengklasifikasikan kejadian banjir di Sungai Ciliwung, DKI Jakarta. Model dilatih menggunakan 49 kejadian banjir hasil simulasi model hidraulik dua dimensi dan diuji serta divalidasi dengan 12 kejadian lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien determinasi antara curah hujan satelit dan observasi meningkat dari 39,79% sebelum koreksi menjadi 42,31% setelah koreksi. Peningkatan sedang ini menunjukkan bahwa koreksi bias mengurangi perbedaan distribusi, meskipun tetap dipengaruhi oleh representasi spasial, kualitas data observasi, dan kondisi klimatologi lokal. Dalam pemodelan machine learning, Random Forest menghasilkan F1-score sebesar 88,19% dan KGE sebesar 87,43%, sedangkan LSTM menghasilkan F1-score sebesar 90,36% dan KGE sebesar 96,85%. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi data satelit, pemodelan hidraulik dua dimensi, dan machine learning berbasis LSTM berpotensi mendukung sistem peringatan dini banjir melalui prediksi genangan yang lebih cepat. Pengembangan selanjutnya dapat mengintegrasikan data banjir pluvial dan produk curah hujan satelit near real-time untuk meningkatkan efektivitas model machine learning.
ANALISIS STABILITAS LERENG UNTUK SKALA REGIONAL STUDI KASUS SIKLON TROPIS SENYAR NOVEMBER 2025
Akhir bulan November 2025, Siklon Tropis Senyar menimpa sebagian wilayah di Suamtera dan Aceh menyebabkan kerugian yang masif baik dari aspek korban jiwa maupun aspek material. Kerugian tersebut salah satunya disebabkan oleh longsor dangkal yang diinduksi oleh hujan lebat yang menimpa. Adanya kejadian ini memunculkan urgensi untuk memetakan bahaya longsor dengan pendekatan yang lebih kuantitatif berdasarkan model berbasis fisik. Beberapa studi terdahulu telah mengembangkan model berbasis fisik untuk keperluan penilaian bahaya longsor dengan memanfaatkan teori lereng tak hingga, di antaranya TAG_FLOW dan SLIDE. Penelitian ini membandingkan akurasi prediksi distribusi spasial longsor pada TAG_FLOW dan SLIDE yang memiliki perbedaan fundamental pada pemanfaatan kuat geser tambahan dari lapisan tak jenuh dan mekanisme kenaikan muka air tanah. Penelitian dilakukan melalui studi parametrik komparatif dengan memvariasikan beberapa parameter kunci, seperti kohesi, sudut geser dalam, derajat kejenuhan awal, dan ketebalan tanah maksimum tanah. Komparasi model dilakukan melalui analisis titik dana analisis spasial. Pada analisis titik, perubahan nilai faktor keamanan dan muka air tanah dipelajari untuk memahami perilaku model dan mekanismenya. Selanjutnya, analisis spasial dilakukan untuk mengetahui akurasi prediksi model melalui metrik Success Rate (SR) dan Modified Success Rate (MSR). Selain itu, penelitian ini juga mencoba menyelesaikan permasalahan kelangkaan data melalui proses analisis balik dengan menggunakan kerangka Bayesian yang diselesaikan dengan metode Rantai Markov Monte Carlo. Analisis balik dilakukan dengan dasar bahwa lereng yang mengalami kegagalan memiliki faktor keamanan bernilai satu. Penelitian ini juga mengajuukan metode analisis balik pada titik nonlongsor dengan menggunakan fungsi distribusi kumulatif dalam perhitungan rantai Markov dengan kondisi lereng non-longsor memiliki faktor keamanan lebih dari satu. Studi parametrik menunjukkan SLIDE selalu menghasilkan analisis dengan faktor keamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan TAG_FLOW. Hal ini disebabkan oleh adanya penambahan kuat geser yang signifikan dalam bentuk kohesi semu. Selain itu, model hidrologis pada SLIDE selalu menghasilkan fraksi tebal lapisan jenuh air lebih rendah dibanding TAG_FLOW yang mengimplikasikan tingginya nilai FS. Analisis balik yaang diajukan dalam penelitian ini terbukti mampu menghasilkan parameter spasial yang lebih representatif terhadap kondisi kelongsoran. Hal ini juga dibuktikan dengan kecocokan secara kualitatif antara pencatatan longsor SERTIT dan prediksi model. Secara kuantitatif, penerapan parameter posterior pada model TAG_FLOW meningkatkan nilai SR dari 0,207 menjadi 0,320 dan MSR dari 0,544 dan 0,655 dibandingkan dengan parameter seragam awal. Evaluasi lebih lanjut melalui kurva ROC menghasilkan AUC sebesar 0,926, dengan titik optimum pada Indeks Youden pada FS = 1,16 (TPR = 82,6% ; FPR = 13,8%), menunjukkan model mampu membedakan titik longsor dan non-longsor dengan sangat baik. Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena menghasilkan parameter yang tidak unik. Hal ini disebabkan oleh kalibrasi terpisah pada model TAG_FLOW dan SLIDE menghasilkan dua himpunan parameter kuat geser posterior yang berbeda, dengan model SLIDE cenderung menekan nilai kohesi dan sudut geser dalam lebih rendah untuk mengompensasi kontribusi kohesi semu, tetapi keduanya menghasilkan peta probabilitas kegagalan yang serupa tanpa dapat divalidasi terhadap data uji tanah independen. Penerapan model terkalibrasi pada area ril Tapanuli Tengah (30, 2km2) menghasilkan peta probabilitas kegagalan secara statistik konsisten dengan pola kelongsoran aktual. Nilai probabilitas kegagalan mulai meningkat pada lereng dengan kemiringan di atas 15°, dengan nilai rerata tertinggi (0,214) proporsi sel berisiko tinggi (???????? ? 0, 5) terbesar (10,3%) berada pada kelas kemiringan 30° ? 45°. Angka ini sejalan dengan 9,7% kejadian longsor aktual yang juga terkonsentrasi pada kelas lereng tersebut. Kesesuaian ini menunjukkan bahwa peta hasil analisis balik cukup andal digunakan sebagai dasar pemetaan bahaya longsor pada skala regional. Meskipun demikian, mengingat keterbatasan non-unisitas parameter posterior, penelitian ini tetap menekankan pentingnya penyelidikan tanah lapangan untuk memvalidasi parameter hasil analisis balik sebelum dimanfaatkan pada mitigasi lokasi spesifik.
INTEGRASI PROSES VARIANCE GAMMA (VG) DAN GEOMETRIC BROWNIAN MOTION (GBM) UNTUK SIMULASI HARGA KARBON
Ketidakpastian harga karbon menjadi faktor penting dalam penilaian kelayakan ekonomi proyek mitigasi iklim. Penelitian ini menganalisis dan membandingkan kelayakan ekonomi Proyek Penyerapan Karbon Berbasis Mikroalga dan Proyek Panas Bumi Lahendong Unit 5 & 6 dengan memodelkan harga karbon menggunakan Geometric Brownian Motion (GBM) dan Variance Gamma (VG). Data harga karbon berasal dari transaksi IDXCarbon periode Januari 2024-Maret 2026. Pemilihan model dilakukan berdasarkan uji normalitas serta kriteria AIC, BIC, RMSE, dan MAPE. Valuasi proyek dilakukan menggunakan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), simulasi Monte Carlo 10.000 iterasi, serta Real Options Valuation (ROV) dengan pendekatan option to delay untuk Proyek Lahendong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model VG memberikan kinerja terbaik dengan AIC -379,06, BIC -375,29, dan MAPE 0,4989%. Proyek Mikroalga tidak layak secara ekonomi dengan ekspektasi NPV sebesar -Rp57.503.294 dan probabilitas kegagalan 100%, sedangkan Proyek Lahendong menunjukkan kinerja yang baik dengan ekspektasi NPV sebesar USD 14.040.102, probabilitas kegagalan 0%, dan IRR 8,32%. Analisis ROV menghasilkan nilai tambahan investasi yang signifikan dengan TIV sebesar USD 29.610.024 dan ROV sebesar USD 15.569.922. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proyek berskala besar dengan sumber pendapatan yang lebih stabil memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap ketidakpastian harga karbon.
ANALISIS NUMERIK DAN OPTIMASI DESAIN KANTONG LUMPUR UNTUK SEDIMEN KOHESIF MENGGUNAKAN METODE COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD) BERBASIS FLOW-3D
Kantong lumpur konvensional umumnya dirancang untuk mengendapkan sedimen non-kohesif sehingga kurang efektif dalam menangkap sedimen kohesif. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian model numerik terhadap model fisik serta mengevaluasi pengaruh variasi jumlah ruas kantong lumpur terhadap efektivitas pengendapan sedimen kohesif menggunakan FLOW-3D. Model numerik divalidasi menggunakan model fisik skala 1:5, kemudian dilakukan optimasi konfigurasi satu ruas, dua ruas, dan empat ruas dengan memvariasikan jumlah divider wall tanpa mengubah lebar total kantong lumpur. Simulasi dilakukan menggunakan konsentrasi sedimen sebesar 0,25 kg/m³ dan ukuran butir sedimen kohesif sebesar 0,034 mm pada debit model fisik 45 L/s, 90 L/s, dan 108 L/s. Hasil validasi menunjukkan bahwa model numerik mampu merepresentasikan kondisi model fisik dengan baik dengan nilai MAE rata-rata sebesar 6,41% untuk tinggi muka air dan 12,66% untuk kecepatan aliran. Hasil simulasi menunjukkan bahwa variasi jumlah ruas memengaruhi distribusi aliran, residence time, dan efektivitas pengendapan sedimen. Konfigurasi dua ruas memberikan kinerja terbaik dengan efektivitas pengendapan sebesar 77,63%, 70,97%, dan 70,13% pada debit model fisik 45 L/s, 90 L/s, dan 108 L/s, serta menghasilkan residence time paling panjang dibandingkan konfigurasi satu ruas maupun empat ruas. Berdasarkan hasil tersebut, konfigurasi dua ruas direkomendasikan sebagai desain optimum untuk meningkatkan efektivitas pengendapan sedimen kohesif berukuran 0,034 mm.
REDESAIN BENTENG TAKIMPO LIPU OGENA SEBAGAI BAGIAN DARI STRATEGI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA BUTON
Benteng Takimpo Lipu Ogena di Pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu warisan cagar budaya peninggalan Kesultanan Buton dengan nilai historis, arsitektural, serta sosial budaya yang tinggi. Benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai sistem pertahanan, tetapi juga sebagai ruang hidup masyarakat yang mencerminkan struktur sosial dan kosmologi lokal. Namun, kondisi eksisting menunjukkan terjadinya degradasi fisik, melemahnya fungsi sosial budaya dan belum optimalnya pengembangan potensi ekonomi dalam pengelolaan sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep yang menghasilkan simulasi redesain Benteng Takimpo Lipu Ogena sebagai bagian dari strategi pelestarian cagar budaya Buton untuk menjawab tantangan pelestarian fisik, penguatan fungsi sosial budaya, serta pengembangan potensi ekonomi kawasan secara berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi kajian pustaka, studi preseden, analisis kebijakan pelestarian, analisis tapak dan kebutuhan ruang yang kemudian disintesis menjadi konsep perancangan yang menghasilkan simulasi desain. Kajian menunjukan bahwa pelestarian benteng tidak cukup dilakukan melalui konservasi fisik semata, tetapi memerlukan pendekatan desain yang kontekstual, adaptif, dan berkelanjutan berdasarkan nilai sejarah, sosial dan budaya. Perancangan didasarkan pada lima prinsip utama yaitu pelestarian otentisitas dan integritas, adaptasi fungsional berbasis pelestarian, partisipasi masyarakat dalam kerangka living heritage, edukasi dan interpretasi budaya, serta keberlanjutan lingkungan melalui pendekatan ecotourism. Prinsip-prinsip tersebut dielaborasi menjadi kerangka analisis dan diterjemahkan ke dalam konsep tapak dan bangunan dengan pendekatan contextual continuity yang menginterpretasikan nilai arsitektur tradisional Buton ke dalam bahasa arsitektur kontemporer. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu menjaga identitas dan nilai historis benteng, sekaligus menghidupkan kembali fungsi sosial melalui aktivitas budaya, ruang publik, dan edukasi. Selain itu, pengembangan potensi ekonomi dilakukan melalui integrasi wisata berbasis budaya dan lingkungan yang melibatkan masyarakat lokal secara aktif. Dengan demikian, redesain Benteng Takimpo Lipu Ogena dapat menjadi model perancangan pelestarian kawasan cagar budaya yang kontekstual, adaptif, dan berkelanjutan.