📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenINOVASI VEGAN LEATHER DARI LIMBAH PANGAN DAN PERTANIAN: SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK INDUSTRI FASHION
Tingginya beban lingkungan industri penyamakan kulit mendorong urgensi pengembangan material komposit alami berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi NaOH (5% dan 10%) serta rasio cairanterhadappadatan (10:1 dan 20:1 mL/g) pada proses ekstraksi alkali serat daun nanas (pineapple leaf fiber, PALF) terhadap karakteristik kulit vegan (vegan leather) berbasis matriks lateks karet alam. Komposit nonanyaman (nonwoven) hasil fabrikasi dikarakterisasi secara komprehensif, dengan kain PALF anyaman (woven, W0) digunakan sebagai variasi struktur lembaran serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH dari 5% ke 10% dan ekspansi rasio cairan terhadap padatan dari 10:1 ke 20:1 mL/g secara signifikan meningkatkan efisiensi delignifikasi serat. Fenomena ini meningkatkan interaksi antarmuka seratmatriks, di mana perlakuan NaOH 10% dengan rasio 20:1 mL/g menghasilkan kadar selulosa sebesar 88,66%, kuat tarik komposit nonanyaman sebesar 2,43 MPa, dan reduksi absorpsi air hingga 5,48% akibat struktur yang lebih homogen berdasarkan pengamatan Scanning Electron Microscopy (SEM). Pada kondisi tersebut, kulit vegan menunjukkan stabilitas yang baik dengan laju biodegradasi terkendali sebesar 8,97% massa hilang setelah 28 hari. Sebagai pembanding, variasi woven menghasilkan kuat tarik 7,78 MPa dan kuat sobek 66,44 N/mm. Dapat disimpulkan bahwa manipulasi parameter termokimia ekstraksi alkali secara langsung merekayasa sifat fungsional komposit kulit vegan untuk aplikasi mode ringan (lightweight fashion).
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
ANALISIS DIAGRAM FUNDAMENTAL LALU LINTAS PADA LALU LINTAS HETEROGEN
Alokasi dan pemanfaatan lajur pada jalan bebas hambatan multilajur menimbulkan heterogenitas kondisi arus lalu lintas yang tidak dapat ditangkap secara memadai oleh pendekatan pemodelan berbasis data agregat. Meskipun diagram fundamental telah banyak digunakan untuk analisis arus lalu lintas dan estimasi kapasitas, sebagian besar studi menggabungkan pengamatan dari seluruh lajur ke dalam satu aliran tunggal, sehingga mengaburkan perbedaan kinerja operasional antarlajur. Tugas akhir ini mengembangkan diagram fundamental pada ruas jalan tol tiga lajur dengan mengkalibrasi lima model makroskopis, terdiri dari tiga model single regime dan dua model multi-regime, yang diterapkan secara terpisah pada masing-masing lajur maupun pada konfigurasi agregat. Kinerja model dievaluasi menggunakan R², RMSE, dan MAPE, serta estimasi kapasitas dibandingkan antara konfigurasi per lajur dan agregat maupun terhadap nilai normatif Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI 2023). Hasil analisis mengkonfirmasi perbedaan kecepatan dan arus yang signifikan secara statistik pada seluruh pasangan lajur yang berdekatan, menolak asumsi homogenitas lajur yang mendasari standar kapasitas jalan bebas hambatan Indonesia saat ini. Dari sisi kinerja model, tidak ada model single regime yang mampu secara bersamaan memenuhi boundary condition dan akurasi empiris, sementara model multi-regime Greenshields–Greenberg mengatasi keterbatasan ini dengan mencatat akurasi tertinggi di antara kelima model. Dari sisi kapasitas, estimasi per lajur secara konsisten melebihi estimasi agregat, dan seluruh model menghasilkan kapasitas empiris yang jauh di bawah nilai normatif PKJI 2023, mencerminkan keterbatasan standar normatif yang mengasumsikan kondisi geometrik ideal dan perilaku lalu lintas homogen yang tidak representatif terhadap kondisi aktual di lapangan.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
DIFERENSIASI LAYANAN DAN STRATEGI PROMOSI UNTUK MEMPERTAHANKAN PERTUMBUHAN LAYANAN TERKELOLA: STUDI KASUS PT CARIVA MITRA INOVASI
Perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi perusahaan teknologi informasi. Namun, peluang tersebut diikuti tekanan persaingan, perubahan kebutuhan pelanggan, dan tantangan dalam membangun kesadaran pasar. PT Cariva Mitra Inovasi merupakan perusahaan teknologi informasi yang berkembang dan menyediakan layanan transformasi cloud serta managed services melalui kemitraan dengan vendor teknologi global. Meskipun telah memiliki kapabilitas teknis dan memperoleh tanggapan positif dari pelanggan, perusahaan masih kesulitan mencapai target bisnis managed services dan meningkatkan awareness di kalangan calon pelanggan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor diferensiasi utama yang dipertimbangkan pelanggan dan calon pelanggan dalam memilih penyedia IT managed services, sekaligus merumuskan rekomendasi strategi promosi. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan pelanggan dan nonpelanggan, serta data sekunder. Data dianalisis melalui initial coding, focused coding, sintesis kode, dan pembentukan tema dengan menggunakan SERVQUAL, Importance–Performance Analysis, VRIN, Porter’s Five Forces, analisis pesaing, dan kerangka pemasaran. Hasil penelitian menemukan enam faktor diferensiasi, yaitu nilai komersial, kepercayaan dan jaminan risiko; tata kelola, transparansi dan kejelasan komunikasi; penyelesaian insiden dan keandalan SLA; proaktivitas dan perbaikan berkelanjutan; responsivitas dan ketersediaan layanan; serta kapabilitas teknis dan keahlian optimasi. Perusahaan menunjukkan kinerja baik pada aspek responsivitas, komunikasi, kolaborasi, penanganan insiden, keandalan SLA, proaktivitas, pelaporan, dan dukungan teknis. Namun, masih diperlukan peningkatan pada fleksibilitas komersial, sertifikasi organisasi, komunikasi berorientasi bisnis, kualitas pelaporan, eskalasi pihak ketiga, inovasi proaktif, dan kompetensi engineering. Untuk meningkatkan awareness pasar, perusahaan perlu menerapkan strategi promosi berbasis kepercayaan dan kredibilitas melalui testimoni pelanggan, program referral, peningkatan visibilitas kemitraan dan sertifikasi, partisipasi tender, serta jejaring profesional.
MACHINE LEARNING-BASED PIPELINE CORROSION PREDICTION USING FEATURE-MATCHED MULTI-TEMPORAL IN-LINE INSPECTION DATA
In-line inspection (ILI) data from multiple periods is used to track pipeline corrosion over time, but corrosion features often shift in position between inspections, which makes it hard to compare the same defect and lowers prediction reliability. This research develops an automated feature matching system to align corrosion features across multi-temporal ILI data and analyzes its effect on machine learning-based corrosion depth prediction. The matching used an iterative closest point transformation and an overlap-based correspondence optimization on three inspection periods of an offshore pipeline, evaluated through positional error reduction and a simulation-based sensitivity analysis. An XGBoost model was replicated from a reference study, then applied to the case study data with and without calibration from the matched dataset. The results show that feature matching reduces the median positional error by up to 99.87% and reaches a matching accuracy above 80% for both period pairs, while the replication matched the reference within 0.2%. The calibration lowered the prediction error from 7.909 %WT to 3.379 %WT, below the naive benchmark of 3.505 %WT. These findings show that feature matching is an important preprocessing step for improving machine learning-based corrosion prediction .
PENGARUH AGING DAN SHOT PEENING TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA MARAGING 18NI-300 (AMS-6514)
Baja maraging 18Ni-300 merupakan baja berkekuatan tinggi yang digunakan pada komponen berkinerja tinggi, termasuk komponen senjata. Pada aplikasi tersebut, material menerima pembebanan berulang sehingga diperlukan kemampuan menahan inisiasi dan propagasi retak fatigue. Penelitian ini menganalisis pengaruh perlakuan aging, shot peening, dan kombinasi aging + shot peening terhadap sifat mekanik baja maraging 18Ni-300. Perlakuan aging digunakan untuk menganalisis pengaruh precipitation hardening, sedangkan shot peening digunakan untuk menganalisis pengaruh modifikasi permukaan terhadap ketahanan fatigue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aging meningkatkan kekerasan rata-rata dari 373 HV pada spesimen raw material menjadi 594 HV, sedangkan kombinasi aging + shot peening menghasilkan kekerasan tertinggi 651 HV. Hasil ini konsisten dengan hasil uji tarik, aging meningkatkan yield strength 104% dan tensile strength 85% dibandingkan spesimen raw material. Perlakuan aging + shot peening juga meningkatkan yield strength 95% dan tensile strength 79%. Hasil pengujian struktur mikro menunjukkan matriks utama didominasi oleh martensit. Hasil XRD mendukung hasil pengujian struktur mikro yaitu menunjukkan dominasi fasa martensit berbasis BCC (?) dan fasa minor austenit berbasis FCC (?). Pada pengujian fatigue, spesimen aging + shot peening menunjukkan ketahanan fatigue tertinggi dengan rata-rata cycle to failure 744.758, meningkat 1138% dibandingkan spesimen raw material. Sebaliknya, spesimen dengan perlakuan shot peening tanpa aging memiliki cycle to failure paling rendah karena terjadi peningkatan kekasaran permukaan yang memicu terjadinya multiple crack initiation, konsisten dengan hasil fraktografi spesimen shot peening yang memiliki banyak titik inisiasi retak. Dengan demikian, kombinasi aging + shot peening merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan ketahanan fatigue baja maraging 18Ni-300 karena mengkombinasikan penguatan presipitasi dan efek tegangan sisa tekan pada permukaan.
PENGARUH AGING DAN SHOT PEENING TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA MARAGING 18NI-300 (AMS-6514)
Baja maraging 18Ni-300 merupakan baja berkekuatan tinggi yang digunakan pada komponen berkinerja tinggi, termasuk komponen senjata. Pada aplikasi tersebut, material menerima pembebanan berulang sehingga diperlukan kemampuan menahan inisiasi dan propagasi retak fatigue. Penelitian ini menganalisis pengaruh perlakuan aging, shot peening, dan kombinasi aging + shot peening terhadap sifat mekanik baja maraging 18Ni-300. Perlakuan aging digunakan untuk menganalisis pengaruh precipitation hardening, sedangkan shot peening digunakan untuk menganalisis pengaruh modifikasi permukaan terhadap ketahanan fatigue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aging meningkatkan kekerasan rata-rata dari 373 HV pada spesimen raw material menjadi 594 HV, sedangkan kombinasi aging + shot peening menghasilkan kekerasan tertinggi 651 HV. Hasil ini konsisten dengan hasil uji tarik, aging meningkatkan yield strength 104% dan tensile strength 85% dibandingkan spesimen raw material. Perlakuan aging + shot peening juga meningkatkan yield strength 95% dan tensile strength 79%. Hasil pengujian struktur mikro menunjukkan matriks utama didominasi oleh martensit. Hasil XRD mendukung hasil pengujian struktur mikro yaitu menunjukkan dominasi fasa martensit berbasis BCC (?) dan fasa minor austenit berbasis FCC (?). Pada pengujian fatigue, spesimen aging + shot peening menunjukkan ketahanan fatigue tertinggi dengan rata-rata cycle to failure 744.758, meningkat 1138% dibandingkan spesimen raw material. Sebaliknya, spesimen dengan perlakuan shot peening tanpa aging memiliki cycle to failure paling rendah karena terjadi peningkatan kekasaran permukaan yang memicu terjadinya multiple crack initiation, konsisten dengan hasil fraktografi spesimen shot peening yang memiliki banyak titik inisiasi retak. Dengan demikian, kombinasi aging + shot peening merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan ketahanan fatigue baja maraging 18Ni-300 karena mengkombinasikan penguatan presipitasi dan efek tegangan sisa tekan pada permukaan.
EVALUASI PARAMETER DESAIN REKAHAN TERHADAP PRODUKTIVITAS RESERVOIR: STUDI KORELASI ANTARA SRV DAN VOLUME DRAINASE TRANSIEN TEKANAN DALAM SIMULASI RESERVOIR NON-KONVENSIONAL
Unconventional tight oil reservoirs are characterized by ultra-low permeability, making multi-stage hydraulic fracturing (MSHF) essential to achieve commercial hydrocarbon production. The effectiveness of MSHF is governed by fracture design parameters that control the extent of Stimulated Reservoir Volume (SRV). However, geometric SRV estimation does not always represent the dynamically drained reservoir volume contributing to production. Therefore, this study evaluates the influence of hydraulic fracturing design parameters on reservoir productivity and develops a correlation between geometric SRV and dynamic Drainage Volume (DV). A three-dimensional synthetic tight oil reservoir model was developed using the CMG IMEX black-oil simulator. Hydraulic fractures were represented using a single-porosity model with Local Grid Refinement (LGR). Sensitivity analyses were conducted by varying fracture stages and fracture half-length over a 20-year production period under constant-rate conditions. Dynamic DV was determined through pressure drawdown analysis during pseudo-steady-state flow. The study established an empirical relationship between DV and SRV with an R2 value of 0.8775 The techno- economic assessment also demonstrated that increasing fracture dimensions beyond the optimum design produces diminishing economic returns because of substantially higher capital expenditures (CAPEX). The highest Pre-Tax Net Present Value (NPV), amounting to USD 9,995,763.75, was obtained using a configuration of 17 fracture stages with a 500-ft fracture half-length. Increasing the fracture half-length beyond 500 ft reduced the NPV, indicating that this configuration represents the economic optimum for the evaluated reservoir.
PERANCANGAN ALAT PENGOLAH TANAH MANUAL UNTUK PETANI PEREMPUAN PADA LAHAN KERING
Keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian terus meningkat, namun sebagian besar alat pengolahan tanah manual masih dirancang berdasarkan karakteristik antropometri laki-laki. Ketidaksesuaian ini memicu peningkatan beban kerja, kelelahan dini, dan risiko gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan menghasilkan rancangan alat pengolah tanah manual untuk lahan kering yang mampu beroperasi pada kedalaman efektif 5–15 cm serta dioptimalkan untuk petani perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan desain rekayasa yang mencakup fase konseptual, perwujudan, dan detail. Kebutuhan pengguna diterjemahkan ke dalam Design Requirements and Objectives untuk menentukan spesifikasi rancangan. Konsep terpilih dikembangkan melalui analisis ergonomi berbasis data antropometri, analisis interaksi tanah dan alat untuk optimalisasi geometri mata bajak, serta analisis kekuatan struktur menggunakan metode elemen hingga. Penelitian ini menghasilkan rancangan alat bajak manual yang dilengkapi sistem pengaturan kedalaman kerja dan konfigurasi modular jumlah mata bajak, sehingga beban operasional dapat disesuaikan dengan kemampuan pengguna. Analisis ergonomi menunjukkan bahwa rancangan ini mampu mengakomodasi pengguna perempuan pada rentang persentil kelima hingga kesembilan puluh lima. Selanjutnya, analisis interaksi tanah dan alat menunjukkan bahwa penggunaan mata bajak tipe very narrow tine efektif menggemburkan tanah tanpa menyebabkan pembalikan lapisan pada kedalaman yang ditargetkan. Alat ini memerlukan gaya dorong operasional sebesar 70,64 N pada kedalaman 5 cm dengan konfigurasi tiga mata bajak dan 126,07 N pada kedalaman 15 cm dengan konfigurasi satu mata bajak, yang masih berada di bawah batas aman kapasitas dorong kontinu perempuan. Analisis struktural turut membuktikan bahwa seluruh komponen utama memenuhi kriteria kekuatan yang dipersyaratkan.
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATAN
Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATANJUDUL
Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.