📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PERANCANGAN SISTEM OPERASIONAL HAULING BATTERY ELECTRIC VEHICLE PT SAPTAINDRA SEJATI

PT Saptaindra Sejati (SIS) sebagai kontraktor pertambangan batubara menghadapi tuntutan transisi armada hauling dari truk diesel menuju Battery Electric Vehicle (BEV) untuk menurunkan emisi dan biaya operasional. Namun, penerapan BEV dengan mekanisme battery swapping memunculkan kompleksitas baru berupa kebutuhan infrastruktur pengisian daya dan potensi antrean yang dapat mengganggu pencapaian target produksi. Tugas akhir ini bertujuan menghasilkan rancangan dasar sistem operasional hauling BEV pada Jobsite ADMO PT SIS yang mencakup konfigurasi infrastruktur pendukung sekaligus sistem informasi operasional untuk mengoordinasikan eksekusi armada di lapangan. Perancangan dilakukan melalui dua subtopik yang terintegrasi. Subtopik simulasi membangun model Discrete Event Simulation (DES) atas sistem hauling diesel eksisting sebagai baseline yang divalidasi secara statistik, kemudian memodelkan sistem BEV dengan battery swapping dan menentukan konfigurasi optimal, yaitu jumlah battery swapping station pada setiap Change Shift Area, jumlah charging station, dan jumlah armada BEV aktif, menggunakan optimasi berbasis simulasi OptQuest dengan kebijakan dispatcher dinamis. Subtopik sistem informasi mengidentifikasi kebutuhan fungsional melalui user persona dan user journey map, membangun model pemilihan antrian sebagai basis fitur pengarahan operator, serta merancang dan mengevaluasi prototype mixed-fidelity dari sistem informasi operasional battery swap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi infrastruktur BEV usulan mampu menekan total waktu antrean secara signifikan dibandingkan sistem diesel eksisting sekaligus tetap memenuhi target produksi tahunan perusahaan. Model pemilihan antrian yang dikembangkan berhasil menjadi dasar fitur pengarahan operator pada swap station dan charging station, dan prototype sistem informasi dinilai aplikatif untuk mendukung serta mengintegrasikan eksekusi operasional armada BEV. Rancangan terintegrasi ini menjadi dasar pengambilan keputusan strategis bagi PT SIS dalam melaksanakan transisi armada diesel menuju BEV secara efisien dan terukur.

2026
👤 Penulis: Fuad Aqil Nurhidayat
🏷️ Operasional Manajemen 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI PEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN MASYARAKAT YANG CERDAS MELALUI INDIKATOR SNI ISO 37122 DI KOTA BANDUNG

Perkembangan perkotaan di Indonesia yang semakin pesat menuntut penyelenggaraan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga menjamin keberlanjutan, kecerdasan, dan ketangguhan wilayah, sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2022 tentang Perkotaan. Pasal 41 ayat (1) PP tersebut mengamanatkan penyusunan Indeks Perkotaan Berkelanjutan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI), yang kemudian diterjemahkan Badan Standardisasi Nasional melalui adopsi identik SNI ISO 37120 tentang kota berkelanjutan, SNI ISO 37122 tentang kota cerdas, dan SNI ISO 37123 tentang kota berketahanan. Meskipun kerangka regulasi tersebut telah tersedia, implementasi pengukuran kota cerdas di Indonesia hingga kini masih menghadapi persoalan mendasar. Kota Bandung, sebagai salah satu kota pelopor kota cerdas di Indonesia dengan Peraturan Wali Kota Nomor 1470 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Bandung Kota Cerdas Periode 2018-2023, masih menghadapi kesenjangan antara ketersediaan standar pengukuran SNI ISO 37122:2019 dengan penerapannya di lapangan yang belum terpadu dan konsisten. Penelitian ini bertujuan menilai kondisi dan capaian Kota Cerdas Kota Bandung berdasarkan indikator SNI ISO 37122 dalam mendukung arah pembangunan perkotaan sesuai PP Nomor 59 Tahun 2022, melalui tiga sasaran, yaitu meninjau relevansi indikator terhadap ketersediaan data di Kota Bandung, mengkaji kondisi eksisting berdasarkan indikator terpilih, serta menganalisis rating capaian antarindikator dan merumuskan strategi pengembangannya.viii Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari instansi pemerintah Kota Bandung, dokumen perencanaan, dan portal data terbuka, dengan rentang waktu pengamatan tahun 2020 hingga 2025 dan prioritas pada data tahun 2024- 2025 melalui pendekatan best available data. Analisis dilakukan melalui tiga tahap yang saling berkelanjutan, yaitu peninjauan relevansi dan ketersediaan data pada 80 indikator dalam 19 tema SNI ISO 37122:2019, pengukuran kondisi eksisting setiap indikator terpilih menggunakan data sekunder yang dilengkapi data primer kuesioner untuk indikator bersifat rumah tangga, serta analisis rating capaian antartema yang divisualisasikan melalui diagram radar dan dilanjutkan dengan perumusan strategi pengembangan menggunakan kerangka Strategic Choice Approach (SCA) yang dikembangkan oleh Friend dan Hickling (2005) melalui empat mode kerja shaping, designing, comparing, dan choosing, serta ditinjau lebih lanjut melalui empat aspek pendekatan Technology, Organization, Process, dan Product (TOPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak seluruh indikator SNI ISO 37122:2019 dapat diterapkan secara langsung pada konteks Kota Bandung akibat keterbatasan ketersediaan data resmi di tingkat kota, sehingga diterapkan pendekatan proxy indicator secara konsisten pada indikator-indikator yang datanya belum terdokumentasi. Rata-rata capaian Kota Cerdas Kota Bandung secara keseluruhan tercatat sebesar 34,19%, dengan variasi capaian yang cukup lebar antartema. Tema Perencanaan Perkotaan mencatatkan capaian tertinggi (79,15%), diikuti Kesehatan (66,11%), Telekomunikasi (63,12%), Perumahan (61,15%), dan Keuangan (51,79%), yang menunjukkan fondasi kuat pada aspek tata ruang digital, layanan kesehatan, infrastruktur telekomunikasi, penyediaan perumahan, serta digitalisasi keuangan kota. Sebaliknya, tema Keamanan (4,18%), Air Limbah (8,26%), dan Energi (8,76%) mencatatkan capaian terendah, yang mengindikasikan keterbatasan sistem pemantauan berbasis teknologi, seperti kamera pengintai digital terintegrasi, SCADA, dan smart metering, pada ketiga sektor tersebut. Analisis rating melalui diagram radar mengonfirmasi pola ketimpangan pembangunan Kota Cerdas Kota Bandung antarsektor, dengan sektor yang telah memiliki basis kelembagaan dan regulasi mapan cenderung mencapai kinerja lebih tinggi dibandingkan sektor yang membutuhkan investasi infrastruktur teknologi berskala besar dan koordinasi lintasix lembaga yang kompleks. Penerapan kerangka SCA-TOPP selanjutnya menghasilkan rekomendasi strategi pengembangan yang terintegrasi pada aspek penyediaan teknologi terbuka, penguatan kelembagaan lintas perangkat daerah, penerapan siklus pengambilan keputusan bertahap, serta penetapan keluaran nyata berupa kebijakan, infrastruktur, dan platform digital, yang dikelompokkan menjadi prioritas jangka pendek, menengah, dan panjang. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik berupa contoh penerapan operasional SNI ISO 37122:2019 pada konteks kota di Indonesia, termasuk strategi mengatasi kesenjangan data melalui pendekatan proxy indicator, serta menunjukkan relevansi Strategic Choice Approach sebagai kerangka perumusan strategi pembangunan kota dalam kondisi ketidakpastian data yang tinggi. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan basis data dan rekomendasi awal yang dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kota Bandung dalam menyusun kebijakan dan prioritas pengembangan Kota Cerdas ke depan, sejalan dengan arah kebijakan pembangunan perkotaan nasional sebagaimana diamanatkan PP Nomor 59 Tahun 2022. Penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain ketergantungan pada data proksi yang bersifat estimasi, perbedaan periode data antarindikator akibat pendekatan best available data, serta rekomendasi strategi yang bersifat akademik dan belum melalui proses konsultasi publik langsung dengan pemangku kepentingan Pemerintah Kota Bandung, sehingga memerlukan verifikasi dan penyesuaian lebih lanjut oleh pengambil kebijakan sebelum diimplementasikan secara penuh.

2026
👤 Penulis: Fairuz Zahra Ghaniyyah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Perkembangan Perkotaan 🏷️ Indikator Sni Iso 37122

UJI  AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% HERBA MENIRAN HIJAU (PHYLLANTHUS NIRURI  L.) DALAM PENCEGAHAN DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS

Delayed onset muscle soreness (DOMS) merupakan kondisi nyeri otot yang dipicu oleh aktivitas fisik berlebih atau tidak biasa yang melibatkan kerusakan mikro jaringan otot dan memicu terjadinya respons inflamasi. Herba meniran hijau (Phyllanthus niruri L.) mengandung metabolit sekunder terutama flavonoid yang berpotensi sebagai agen antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas ekstrak etanol 70% herba meniran hijau terhadap mencit yang mengalami DOMS setelah diinduksi renang paksa. Respon berupa penurunan ambang batas nyeri dievaluasi dengan mengukur waktu latensi menggunakan instrumen lempeng panas. Kelompok pengujian terdiri dari kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif (aspirin 100 mg/kgBB), serta ekstrak dengan dosis 75, 150, dan 300 mg/kg bobot badan (BB). Hasil penelitian menunjukkan nilai %?t pada kelompok yang diberikan ekstrak dosis 75, 150, dan 300 mg/kg BB berbeda bermakna (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif dengan nilai berturut-turut 37,33 ± 3,65; 18,20 ± 17,39; dan 0 ± 0. Dosis 300 mg/kg BB menunjukkan aktivitas yang lebih baik (p<0,05) dibandingkan kedua dosis lainnya. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% herba meniran hijau mampu mencegah DOMS pada model mencit yang diinduksi renang paksa. Efek ini diduga akibat adanya kombinasi senyawa flavonoid yang mampu menekan mediator inflamasi dan senyawa tanin yang mampu meredam pemicu stres oksidatif otot.

2026
👤 Penulis: Kanaya Piscesea Hari Valent
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN SPASIAL TINGKAT KESESUAIAN HABITAT BURUNG MERAK HIJAU JAWA (PAVO MUTICUS MUTICUS LINNAEUS, 1766) DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Penurunan populasi merak hijau jawa (Pavo muticus muticus Linnaeus, 1766) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) belum didukung oleh ketersediaan data spasial habitat yang memadai sebagai dasar pengelolaan konservasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variabel lingkungan penentu kesesuaian habitat serta memetakan sebaran habitat potensial merak hijau jawa di TNUK menggunakan pendekatan Species Distribution Model berbasis presence-only dengan algoritma Maximum Entropy (MaxEnt). Model dibangun dengan mengintegrasikan data kehadiran merak hijau jawa di Padang Penggembalaan Cidaon dan data sekunder periode 2020–2025 serta sembilan variabel prediktor, yaitu elevasi, kelerengan, tutupan lahan, jarak dari area terbuka, jarak dari sumber air, jarak dari area terbangun, jarak dari jalan, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Land Surface Temperature (LST). Hasil pengamatan lapangan menunjukkan Padang Penggembalaan Cidaon berperan sebagai habitat fungsional bagi merak hijau jawa dengan jumlah teramati sebanyak 11 individu. Model terbaik dibangun oleh empat variabel utama, yaitu elevasi, jarak dari area terbuka, jarak dari area terbangun, dan jarak dari jalan dengan nilai Area Under Curve (AUC) 0,962. Pemodelan menghasilkan tiga kelas kesesuaian habitat, yaitu non-potensial seluas 59.864,58 ha (98,1%), potensial seluas 817,38 ha (1,3%), dan habitat sangat potensial seluas 345,69 ha (0,6%). Habitat dengan kesesuaian tinggi terkonsentrasi pada patch berelevasi rendah (0-20 mdpl), memiliki area terbuka dengan tutupan vegetasi di sekitarnya, dan minim gangguan antropogenik. Beberapa kawasan dengan kesesuaian habitat tinggi, diantaranya Cidaon– Cibunar –Cikeusik, Kalajetan–Cegog, Pulau Peucang, dan Pulau Handeuleum. Sebagai upaya konservasi, perlindungan dan pengelolaan habitat pada lokasi dengan kesesuaian tinggi perlu diprioritaskan. Apabila reinforcement populasi direalisasikan, pelepasliaran dilakukan pada patch habitat potensial dan sangat potensial yang disertai monitoring yang representatif secara spasial pada habitat merak hijau jawa.

2026
👤 Penulis: Syifa Syakira
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

OPTIMASI DESAIN TURBIN HIDROKINETIK TIPE SAVONIUS BERBASIS ANALISIS KOMPUTASIONAL UNTUK PEMANFAATAN ALIRAN TAILRACE PLTA TANGGARI UNIT 3 DAN 4

Aliran tailrace PLTA Tanggari Unit 3 dan 4 masih memiliki energi kinetik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi tambahan. Penelitian ini bertujuan menentukan konfigurasi optimum turbin hidrokinetik tipe Savonius dengan deflektor triangular dan deflektor sirkular melalui optimasi overlap ratio (OR), blade arc angle (BAA), dan tip speed ratio (TSR). Kondisi aliran menggunakan hasil pengukuran Acoustic Doppler Current Profiler dengan kecepatan rata-rata 1,046 m/s pada beban pembangkit 11 MW dan exceedance probability 70%. Analisis dilakukan menggunakan simulasi Computational Fluid Dynamics dua dimensi dan transien dengan pendekatan URANS serta model turbulensi SST k–?. Sebanyak 30 titik desain awal dibentuk menggunakan Latin Hypercube Sampling dengan kriteria Maximin. Hasil simulasi digunakan untuk membangun model Gaussian Process Regression/Kriging dengan kernel ARD Matérn 5/2. Selanjutnya, Bayesian Optimization dilakukan menggunakan fungsi akuisisi Expected Improvement selama lima iterasi dengan lima simulasi tambahan pada setiap iterasi. Hasil optimasi meningkatkan koefisien daya terbaik dari 0,4162 menjadi 0,4372 atau sebesar 5,05%. Desain terbaik diperoleh pada OR 0,0058, BAA 126,0106°, dan TSR 0,8619, dengan koefisien torsi 0,50724 dan torsi rata-rata 17,3117 Nm. Kombinasi kedua deflektor meningkatkan koefisien daya sebesar 101,85% dibandingkan konfigurasi tanpa deflektor. Deflektor sirkular memberikan kontribusi dominan, sedangkan deflektor triangular berperan sebagai pengarah aliran tambahan. Karena simulasi dilakukan secara dua dimensi, hasil penelitian terutama digunakan untuk perbandingan relatif dan masih memerlukan konfirmasi melalui simulasi tiga dimensi serta pengujian eksperimental.

2026
👤 Penulis: Abraham TP Lingga
🏷️ Optimisasi Desain Turbin Hidrokinetik 🏷️ Analisis Fluida Komputasi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california.

2026
👤 Penulis: Fransiskus Petra Benaya M
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california.

2026
👤 Penulis: Fransiskus Petra Benaya M
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS UIO-66 (ZR-MOF) BERBASIS MATERIAL KOMPOSIT AUNPS/SIO2 DENGAN PENDEKATAN METODE FOTOTERMAL

Metal-organic framework (MOF) UiO-66 umumnya disintesis secara solvotermal dengan waktu reaksi yang relatif lama (lebih dari 24 jam) dan konsumsi energi yang tinggi (sekitar 120 ?). Sementara itu, pemanfaatan nanopartikel emas (AuNPs) sebagai material fototermal untuk sintesis material masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menyintesis material komposit AuNPs/SiO2 dan mengevaluasi pemanfaatannya sebagai material fototermal berbasis cahaya tampak untuk sintesis UiO-66. AuNPs disintesis menggunakan metode Turkevich, kemudian dienkapsulasi dengan SiO2 melalui metode Stöber. Material AuNPs dan AuNPs/SiO2 dikarakterisasi menggunakan spektroskopi visible, particle size analyzer (PSA), difraksi sinar-X (XRD), dan spektroskopi inframerah transformasi Fourier (FTIR). Selanjutnya, material tersebut diaplikasikan sebagai sumber panas lokal pada sintesis fototermal UiO-66 dan dibandingkan dengan metode solvotermal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum sintesis AuNPs diperoleh pada mol rasio Na3Ct:HAuCl4 sebesar 3,5:1 dengan ukuran partikel dominan 50–55 nm dan puncak LSPR pada 524 nm. AuNPs/SiO2 memiliki homogenitas yang lebih baik dibandingkan AuNPs serta menunjukkan peningkatan laju pemanasan dan efisiensi konversi fototermal yang lebih tinggi. Sintesis fototermal menghasilkan UiO-66 dengan kristalinitas 62,58%, lebih tinggi dibandingkan metode solvotermal (49,81%). Spektra FTIR mengonfirmasi keberhasilan penambahan AuNPs/SiO2 melalui kemunculan pita ulur asimetrik Si–O–Si pada sekitar 1100 cm?¹. Kondisi sintesis paling efisien diperoleh menggunakan metode fototermal berbasis material komposit AuNPs/SiO2 dengan waktu enkapsulasi SiO2 selama 4 jam dan penyinaran 30 menit, menghasilkan %hasil 51,1 ± 0,7%. Meskipun lebih rendah dibandingkan metode solvotermal (65,9 ± 8,9%), metode ini memerlukan waktu sintesis yang lebih singkat (kurang dari 24 jam) dan konsumsi energi yang lebih rendah (sekitar 45 °C).

2026
👤 Penulis: Devina Ayu Safitri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Metamorfosis Material 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRATEGI PENGEMBANGAN LINI BISNIS SEBAGAI PERSIAPAN DALAM MENGHADAPI STREAMLINING BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) ASURANSI

PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), sebuah perusahaan BUMN asuransi yang tergabung dalam holding Indonesia Financial Group (IFG) sedang dihadapkan pada agenda besar yaitu perampingan BUMN asuransi yang dilakukan oleh Danantara. Menjelang agenda besar tersebut, kinerja Askrindo induk memperlihatkan trend yang kurang baik, ditandai dengan perolehan premi bruto pada tahun 2025 yang turun sebesar 20% yoy, sementara combined ratio meningkat menjadi 112% pada tahun 2025. Hal ini memperlihatkan kondisi yang tidak sejalan dengan industri, dimana data OJK menyatakan premi asuransi umum tumbuh 3% pada tahun 2025 dengan combined ratio yang dapat terjaga di level 71%. Portofolio bisnis Askrindo bertumpu pada lini bisnis finansial dimana pada tahun 2025 lini bisnis finansial memiliki porsi sebesar 88% dari keseluruhan portofolio. Untuk itu, rekomposisi portoflio melalui pengembangan lini bisnis non-finansial menjadi salah satu strategi utama perusahaan. Askrindo perlu mengoptimalkan lini bisnis yang dimiliki guna memberikan nilai tambah dalam mempertahankan keunggulan kompetitifnya pada saat dilakukannya konsolidasi BUMN asuransi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, studi ini disusun untuk memberikan analisa mengenai bagaimana kinerja keuangan Askrindo dibandingkan dengan para pesaingnya di industri dan antar member holding IFG, apa lini bisnis yang akan dikembangkan dan apa strategi yang harus disusun untuk mengembangkan lini bisnis tersebut. Studi ini menggunakan beragam metode analisis dan framework untuk menjawab permasalahan yang terjadi, antara lain analisis benchmark keuangan, analisis situasi bisnis (SWOT, EFAS, IFAS dan SFAS), Analytic Hierarchy Process (AHP) dan matriks TOWS. Hasil analisis benchmark menunjukkan bahwa Askrindo memiliki kedudukan aset dan ekuitas terbesar di industri asuransi umum. Dari sisi profit, Askrindo berada pada posisi kedua terbesar dari kelima perusahaan yang diperbandingkan dalam studi ini. Pada level lini bisnis, dengan menggunakan SWOT, SFAS dan AHP, prioritas lini bisnis yang dikembangkan oleh Askrindo adalah lini bisnis Aneka (produk asuransi mikro), Suretyship dan Harta Benda. Strategi kunci yang akan diterapkan adalah penetrasi ke pasar ritel, pemanfaatan kemitraan strategis dan implementasi transformasi digital. Strategi ini diharapkan dapat mempertahankan keunggulan kompetitif Askrindo dalam menghadapi perampingan BUMN asuransi.

2026
👤 Penulis: Zico Andrea Aripratama
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Benchmark

EVALUASI STRATEGI PERFORASI BERDASARKAN PENGARUH SKIN PERFORASI TERHADAP KEMAMPUAN ALIR SUMUR PADA SUMUR VERTIKAL, BERARAH, DAN HORIZONTAL DI SUATU LAPANGAN DI SUMATRA SELATAN

This study evaluates the influence of perforation strategy on perforation skin and well deliverability in a mature offshore oil field located in Southeast Sumatra, Indonesia. In cased-and-perforated completions, perforation design plays a critical role in determining inflow efficiency because perforation-induced pressure losses may significantly reduce well productivity. Therefore, identifying an optimum perforation configuration is essential to minimize perforation skin and improve well deliverability. The objective of this study is to evaluate the effects of perforation density and phasing angle on perforation skin and well deliverability and to determine the optimum perforation configuration for wells with different trajectories. The study was conducted on three representative wells, namely RF-14 (horizontal well), KE-07 (deviated well), and FB-01 (vertical well). Reservoir, fluid, well, and completion data under current field conditions were collected and evaluated. Perforation skin was calculated using the Karakas and Tariq model for vertical and deviated wells and the Furui model for horizontal wells. The calculated perforation skin was combined with formation skin and incorporated into inflow performance analysis using PIPESIM. A systematic sensitivity analysis was performed by varying perforation density and phasing angle to investigate their impact on perforation skin and well deliverability. The optimum perforation configuration was selected based on minimum perforation skin and maximum well deliverability. The results indicate that perforation density and phasing angle affect perforation skin behavior and well deliverability. RF-14 achieved its optimum configuration at 8 spf and 90° phasing (m = 4), resulting in a perforation skin of approximately -1.41 and an AOF of 52,308 STB/D. KE-07 achieved its optimum configuration at 16 spf and 45° phasing, resulting in a perforation skin of approximately -1.229 and an AOF of 44,585 STB/D. FB-01 achieved its optimum configuration at 16 spf and 45° phasing, resulting in a perforation skin of approximately -1.159 and an AOF of 108,215 STB/D. The findings show that the optimum perforation configuration varies with well trajectory due to differences in flow geometry, convergence behavior, and reservoir anisotropy effects. The novelty of this study lies in the integrated evaluation of perforation density and phasing angle across vertical, deviated, and horizontal wells within the same mature oil field, providing a comparative understanding of trajectory-dependent perforation behavior and its impact on well deliverability.

2026
👤 Penulis: Al Farrel Putra Ramadhani
🏷️ Perforasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kinerja Sumur

STUDI FORMULASI DAN STABILITAS FISIK TABLET TRIPLE-LAYER FIXED-DOSE COMBINATION AMLODIPIN BESILAT DAN LOSARTAN KALIUM

Kombinasi amlodipin besilat (AML) dan losartan kalium (LST) memiliki prospek yang menjanjikan dalam penanganan hipertensi. Namun, kedua bahan aktif ini memiliki potensi interaksi yang dapat berpengaruh pada keamanan, khasiat, dan kualitas sediaan farmasi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil stabilitas AML dan LST, serta strategi pemisahan fisik melalui formulasi tablet triple-layer dalam menjaga stabilitas keduanya. Studi degradasi dipercepat menunjukkan bahwa AML dan LST sangat rentan terhadap pengaruh asam, basa, dan oksidasi. Stabilitas fasa padatan AML dan LST ditinjau menggunakan PXRD dan DSC setelah penyimpanan pada kondisi uji stabilitas dipercepat (40±2 °C/75±5% RH) selama 12 minggu. AML menunjukkan profil stabilitas fisik tanpa perubahan signifikan pada difraktogram PXRD dan termogram DSC. LST mengalami transformasi fasa menjadi losartan kalium 3,5 hidrat, ditandai dengan munculnya puncak karakteristik baru pada sudut 2? = 5,7°; 6,8°; 8,9°; dan 13,3°. Pada termogram DSC ditemukan dua puncak endotermik masing-masing pada 93,3 dan 277,9°C serta pembentukan puncak eksotermik baru pada 178,9°C. Campuran fisik AML-LST (1:1 w/w) menghasilkan campuran eutektik yang dikonfirmasi melalui termogram DSC, disertai pelebaran dan hilangnya puncak karakteristik kedua bahan aktif pada difraktogram PXRD. Sementara itu, AML mengalami transformasi fasa selama proses granulasi basah menjadi amlodipin besilat dihidrat yang ditandai dengan munculnya puncak karakteristik baru pada sudut 2? = 4,82°; 10,36°; 13,34°; 18,42°; 21,36°; dan 24,94°. Kemudian, formula tablet triple-layer efektif dalam menjaga stabilitas AML dibandingkan sediaan tablet monolayer. Sedangkan stabilitas LST tidak menunjukkan perbaikan karena pada dasarnya degradasi LST dipengaruhi oleh kondisi kelembapan tinggi selama pengujian.

2026
👤 Penulis: Adrian
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRATEGI TATA KELOLA PERSAMPAHAN KOTA AMBON: STUDI PERBANDINGAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN PEMERINTAH DAN BERBASIS KOMUNITAS

Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku menghadapi permasalahan persampahan seperti keterbatasan infrastruktur, belum meratanya pelayanan persampahan sampai keterbatasan lahan TPA. Di tengah kondisi tersebut muncul inisiatif dari komunitas masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi tata kelola persampahan berbasis reguler dan berbasis komunitas, membandingkan efektivitas kedua tata kelola tersebut, serta merumuskan strategi tata kelola persampahan yang efektif. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Uritetu sebagai representasi tata kelola persampahan berbasis reguler, Negeri Laha dan Negeri Ema sebagai representasi tata kelola berbasis komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis statistik deskriptif untuk menganalisis data kuesioner dari 95 responden yang mencakup lima variabel penelitian: struktur kelembagaan, desain institusional, tingkat partisipasi, pola kolaborasi dan efektivitas dimensi teknis, didukung oleh data wawancara mendalam dan observasi lapangan. Serta analisis SWOT untuk merumuskan strategi tata kelola persampahan Kota Ambon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola berbasis reguler di Kelurahan Uritetu mengungguli aspek cakupan pengangkutan sampah dan keseragaman regulasi, namun lemah pada pengelolaan sampah di sumber dan partisipasi aktif masyarakat. Sebaliknya, tata kelola berbasis komunitas di Negeri Laha dan Negeri Ema unggul pada dimensi pembangunan kepercayaan, komitmen bersama, dan keterlibatan langsung masyarakat, meskipun menghadapi keterbatasan infrastruktur dan kelembagaan. Perbandingan kedua tata kelola persampahan menunjukkan belum ada satu pun yang unggul secara menyeluruh. Berdasarkan analisis SWOT, posisi strategis tata kelola persampahan Kota Ambon berada pada kuadran I dengan strategi SO, terdapat lima strategi utama yang diarahkan untuk memanfaatkan kekuatan internal sistem pengelolaan sampah baik reguler maupun praktik baik komunitas dengan memanfaatkan peluang eksternal yang cukup signifikan.

2026
👤 Penulis: Anna Meiliza Adriaansz
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENINGKATAN PROSES PENELITIAN & PENGEMBANGAN UNTUK MEMPERSINGKAT WAKTU PENGEMBANGAN PRODUK BARU DAN MEMPERCEPAT PENETRASI PASAR:STUDI KASUS PADA PT. DNA FARMASI TBK.

Departemen R&D PT DNA Farmasi Tbk mengalami permasalahan bisnis yaitu rendahnya pencapaian New Product Development (NPD) pada periode 2023–2025 dimana hanya mencapai 33% dari target Perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab tersebut serta menyusun strategi perbaikan untuk mempercepat pengembangan produk Obat Iron-Chelating. Keterlambatan pengembangan produk baru, berdampak pada menurunnya ketepatan waktu peluncuran produk, tertundanya kontribusi pendapatan, dan melemahnya daya saing perusahaan dalam industri farmasi yang sangat kompetitif dan ketat dari sisi regulasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif, dengan kerangka DMAIC dari Lean Six Sigma yang dipadukan dengan prinsip Quality by Design (QbD), Root Cause Analysis (RCA), dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Tahapan penelitian dimulai dengan analisis kondisi aktual melalui data Key Performance Indicator, pemetaan proses, dan wawancara pemangku kepentingan untuk memperoleh baseline kinerja. Pada tahap Analyze, penelitian ini menggunakan Pareto analysis, stakeholder analysis, Current Reality Tree (CRT), dan PESTEL analysis untuk mengidentifikasi faktor dominan penyebab keterlambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pencapaian NPD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh kombinasi beberapa masalah utama. Berdasarkan hasil analisis tersebut, alternatif solusi kemudian diprioritaskan dan diterjemahkan ke dalam strategi Lean Six Sigma QbD, karena mampu menjawab tiga kebutuhan utama sekaligus, yaitu penguatan basis ilmiah pengembangan produk melalui QbD, penyederhanaan alur kerja melalui Lean, dan pengurangan variasi proses melalui Six Sigma. Hasil pilot project menunjukkan bahwa strategi tersebut mampu menurunkan lead time pada tahapan penting, terutama pada pengembangan laboratorium, penyusunan dokumen pengembangan, dan persiapan pengajuan registrasi.

2026
👤 Penulis: Revinta Kurnia Septanti
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Quality By Design (Qbd)

KERANGKA KERJA CERDAS UNTUK PEMELIHARAAN PREDIKTIF PADA LAPANGAN MINYAK: PEMANFAATAN PEMBELAJARAN MESIN UNTUK PENGELOMPOKAN RISIKO KOROSI SUMUR DAN PREDIKSI KEGAGALAN ESP

This study presents an intelligent framework for oilfield predictive maintenance that integrates machine learning to cluster tubing corrosion risk and forecast Electrical Submersible Pump (ESP) failures in the mature Offshore South East Sumatra fields, where 119 tubing leak incidents have been recorded across 92 wells, most occurring before the ESP's targeted run life. Principal Component Analysis (PCA) was applied to nine corrosion-related parameters to reduce dimensionality, followed by K-Means and Gaussian Mixture Model (GMM) clustering to segment wells into Low, Moderate, and High corrosion risk regimes. The K Means model achieved a silhouette score of 0.417 and a Davies-Bouldin Index of 1.077, outperforming GMM. For ESP failure prediction, six baseline classification algorithms were evaluated, together with a seventh soft-voting ensemble that combined them, and a hyperparameter-tuned XGBoost model achieved the best performance with a PR-AUC of 0.64 and ROC-AUC of 0.704 against unseen test data, addressing the dataset's 75:25 class imbalance through cost-sensitive learning. SHapley Additive exPlanations (SHAP) were used to interpret model outputs, identifying bottom-hole temperature, differential pressure, fluid velocity, and CO2 partial pressure as the dominant drivers of ESP failure. The clustering, classification, and SHAP outputs were integrated into a rule-based, web-based application that automatically generates well level corrosion risk diagnostics, ESP success probability, and optimized tubing material and workover recommendations. Validation on a blind test set of two wells withheld from training demonstrated the framework's capability to deliver actionable, well-specific intervention strategies, though this small validation sample reflects workflow feasibility rather than statistically robust field performance; the approach nonetheless offers a practical, data-driven pathway to enhance tubing and ESP reliability and reduce unnecessary workover costs in mature oilfield operations.

2026
👤 Penulis: Valentino Varian Vanitra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

PERENCANAAN KLASIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN BERBASIS AKTIVITAS PADA UNIT KERJA PENDUKUNG INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi permasalahan inefisiensi komposisi sumber daya manusia, khususnya rasio dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hingga saat ini, belum terdapat model acuan yang mengklasifikasikan jenis tendik berdasarkan karakteristik aktivitas di setiap unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis saat ini dan proses bisnis yang seharusnya dilakukan oleh setiap unit kerja, memetakan peran pada setiap proses bisnis dengan matriks RAOSI, serta mengklasifikasikan tenaga kependidikan berbasis aktivitas pada empat Unit Kerja Pendukung (UKP) ITB, yaitu Ditmawa, DSDM, DKST, Ditkeu. Penelitian ini menggunakan kerangka workforce planning ISO 30409:2016 dengan pendekatan task-based segmentation. Pemetaan proses bisnis dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pejabat struktural di setiap direktorat yang divalidasi dengan peraturan yang berlaku serta standar acuan. Model klasifikasi dikembangkan berdasarkan empat dimensi penilaian yaitu Strategic Value, Uniqueness, Needs Private Information Access, dan Repetitiveness and Standardization of the Task. Penilaian dilakukan melalui kuesioner berskala ordinal 1–4 yang diisi oleh pejabat struktural, dengan hasil yang kemudian divalidasi kepada pimpinan masing-masing unit. Proses bisnis saat ini berjumlah 236 (Ditmawa), 261 (DSDM), 243 (DKST), dan 344 (Ditkeu). Setelah evaluasi kesesuaian, proses bisnis yang seharusnya dilakukan bertambah menjadi 347, 309, 360, dan 421 untuk masing-masing direktorat. Dari keseluruhan proses bisnis dengan operate pada level staf, hasil klasifikasi menunjukkan dominasi kategori tendik tetap di seluruh unit yaitu 162 aktivitas di Ditmawa, 84 di DSDM, 165 di DKST, dan 199 di Ditkeu. Sisanya terdistribusi pada kategori KJP/MK, dan TAD. Penelitian ini menghasilkan model klasifikasi tenaga kependidikan berbasis aktivitas yang dapat digunakan sebagai acuan oleh DSDM ITB dalam perencanaan, rekrutmen, dan penempatan tenaga kependidikan, serta menjadi landasan implementasi pada seluruh Unit Kerja Pendukung di ITB.

2026
👤 Penulis: Yohanes Satria
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 15 dari 418
💬