📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

ANALISIS KAPABILITAS DINAMIS DI EPC PERUSAHAAN BUMN UNTUK MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF

Industri EPC merupakan roda utama pembangunan ekonomi nasional, di mana Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memainkan peran utama dalam melaksanakan proyek-proyek strategis nasional di sektor energi, minyak dan gas, petrokimia, dan industri. Dalam lima tahun terakhir, BUMN yang bergerak di bidang EPC telah ditandai dengan meningkatnya proyek-proyek strategis nasional, disertai dengan disrupsi rantai pasokan global yang signifikan yang berdampak pada fluktuasi biaya material, waktu pengiriman, dan lingkungan yang semakin kompetitif. Terlepas dari peran utama mereka dalam industri EPC, banyak perusahaan BUMN EPC menghadapi tantangan dalam mempertahankan daya saing yang berkelanjutan, berjuang dengan pembengkakan biaya, keterlambatan proyek, dan penurunan margin keuntungan. Situasi ini menunjukkan potensi kurangnya kapabilitas BUMN EPC untuk memaksimalkan sumber daya internal menjadi keunggulan kompetitif. Tentunya hal ini akan berdampak pada daya saing dan posisi atau kekuatan mereka dalam pasar persaingan nasional dan internasional. Studi ini menganalisis strategy daya saing antar BUMN EPC di sektor industri EPC Indonesia, dimana dilekatkan dengan profit yang tipis, tingkat kebutuhan modal kerja yang tinggi, persaingan yang tinggi, perubahan technology yang tinggi, dan posisi kekuatan daya tawar klien yang tinggi. Dengan menggunakan kerangka analisa gabungan yang terintegrasi dari analisa market, lingkungan external, EFAS matriks, lingkungan internal, IFAS matriks, IE matriks, SWOT, TOWS, business strategi, strategi perusahaan dan kapabilitas dinamis. Kapabilitas dinams digunakan sebagai kerangka analisis yang utama untuk menganalisa kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan pada salah satu BUMN EPC di Indonesia. Data secara sistematis diambil dari data yang tersedia secara umum, termasuk annual reports, financial statements, publikasi industri terkait, data resmi perusahaan yang terbit durasi tahun 2020-2024 dan wawancara para pemangku kepentingan. Analisa kapabilitas dinamis mengungkapkan bahwa keunggulan kompetitif BUMN EPC adalah adaptif dan defensif dengan deteksi yang kuat, menjaring peluang dengan selektif serta kemampuan untuk transformasi secara bertahap. Studi ini menyimpulkan bahwa kapabilitas dinamis memegang peranan penting dalam mendorong SOEEPC untuk merespond lingkungan yang serba tidak pasti dan meningkatkan posisi daya saing di sektor industri EPC.

2026
👤 Penulis: Nidiya Sari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Efisiensi Modal Kerja

INTEGRASI ENVIRONMENTAL, SOCIAL, AND GOVERNANCE (ESG) KE DALAM TATA KELOLA SIKLUS HIDUP KEMITRAAN: DARI PEMILIHAN HINGGA IMPLEMENTASI DAN PEMANTAUAN DI PT PELABUHAN INDONESIA (PERSERO)

Sebagai operator pelabuhan milik negara terbesar di Indonesia, Pelindo memiliki peran penting dalam memastikan kelancaran logistik dan konektivitas maritim nasional. Peran tersebut tidak hanya mencakup kegiatan operasional pelabuhan, tetapi juga melibatkan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan operator terminal, kontraktor, tenant, investor, perusahaan pelayaran, penyedia jasa logistik, serta mitra strategis lainnya. Oleh karena itu, implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) tidak dapat hanya dipandang sebagai agenda internal perusahaan. ESG juga perlu diterapkan dalam cara Pelindo memilih, mengelola, memantau, dan mengevaluasi mitra sepanjang siklus kemitraan. Dari perspektif korporasi, Pelindo telah menunjukkan peningkatan komitmen dalam menangani isu keberlanjutan dan tata kelola. Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari program dekarbonisasi, elektrifikasi peralatan pelabuhan, penyediaan fasilitas shore power, pemanfaatan energi terbarukan, rehabilitasi mangrove, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja, hingga penguatan tata kelola perusahaan. Upaya-upaya tersebut menunjukkan bahwa prinsip ESG telah menjadi bagian dari arah strategis Pelindo. Namun demikian, komitmen tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam proses tata kelola ESG yang efektif dalam pemilihan dan pengelolaan mitra. Dalam praktiknya, penerapan pertimbangan ESG belum dilakukan secara sistematis dalam proses seleksi mitra, implementasi kontrak, dan monitoring setelah mitra terpilih. Kondisi ini menjadi suatu kesenjangan, mengingat banyak risiko dan dampak ESG dalam operasional pelabuhan justru dipengaruhi atau dihasilkan oleh mitra bisnis, bukan hanya oleh Pelindo sendiri. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif untuk mengkaji kondisi saat ini, mengidentifikasi tantangan utama, serta merumuskan kerangka tata kelola siklus kemitraan berbasis ESG. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan fungsi internal yang terkait dengan keberlanjutan, tata kelola dan kepatuhan, manajemen risiko, perencanaan strategis, pengembangan bisnis, legal, serta pengelolaan kemitraan. Wawancara tersebut memberikan pemahaman mengenai bagaimana ESG saat ini dipahami dan diterapkan di lingkungan Pelindo. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui telaah dokumen internal, berbagai standar ESG, serta benchmarking dengan beberapa pelabuhan internasional terpilih, yaitu Port of Rotterdam, Port of Antwerp-Bruges, dan PSA International. Teknik analisis data yang digunakan adalah Thematic Content Analysis yang mencakup open coding, axial coding, dan selective coding. Interpretasi temuan dilakukan dengan menggunakan Resource-Based View, Cynefin Framework, Institutional Theory, Stakeholder Theory, dan Legitimacy Theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam kesenjangan utama yang saling berkaitan dalam implementasi ESG pada kondisi saat ini di Pelindo. Pertama, Pelindo belum memiliki tata kelola ESG formal yang secara khusus mengatur proses pengambilan keputusan terkait mitra. Kedua, penerapan kriteria ESG dalam proses seleksi dan pengelolaan mitra masih belum konsisten. Ketiga, keterbatasan kapabilitas internal dan belum lengkapnya data ESG mitra menyebabkan penilaian ESG sulit dilakukan secara sistematis. Keempat, kerangka ESG yang sudah ada belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam perangkat operasional seperti checklist, scoring, persyaratan minimum, maupun dashboard pemantauan. Kelima, proses monitoring setelah mitra terpilih masih perlu diperkuat, terutama dalam memastikan pelaksanaan komitmen ESG mitra setelah kontrak ditandatangani. Keenam, aturan untuk menyeimbangkan pertimbangan ESG dengan aspek komersial belum didefinisikan secara jelas. Dengan demikian, Pelindo masih perlu memperkuat tata kelola integrasi ESG dalam proses seleksi, implementasi, monitoring, dan pembaruan kerja sama dengan mitra. Berdasarkan benchmarking dengan pelabuhan internasional, dapat disimpulkan bahwa kematangan implementasi ESG di sektor pelabuhan tidak hanya berhenti pada pelaporan keberlanjutan. Port of Rotterdam menunjukkan pentingnya membedakan antara aspek yang dapat dikendalikan secara langsung dan aspek yang hanya dapat dipengaruhi melalui perjanjian kontraktual, infrastruktur, insentif, dan kolaborasi. Sementara itu, Port of Antwerp-Bruges menunjukkan bahwa prinsip keberlanjutan dapat diintegrasikan dalam proses penilaian konsesi dan perjanjian kontraktual. PSA International juga menunjukkan bahwa ESG dapat digunakan sebagai bagian dari penciptaan nilai melalui aksi iklim, transformasi rantai pasok berkelanjutan, pembiayaan hijau, solusi logistik digital, pengadaan berkelanjutan, dan praktik bisnis yang bertanggung jawab. Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa otoritas pelabuhan dapat memengaruhi kinerja keberlanjutan mitra melalui integrasi ESG ke dalam proses screening, due diligence, perjanjian kontraktual, penilaian berbasis risiko, dan monitoring pasca kontrak. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan ESG Based Partner Lifecycle Governance Framework bagi Pelindo. Kerangka ini mencakup tiga area yang saling berkaitan, yaitu ESG Control Area, ESG Influence Area, dan ESG Monitoring Area. Kerangka tersebut didukung oleh kriteria ESG, kewajiban pengungkapan ESG oleh mitra, mekanisme scoring dan pembobotan berbasis risiko, proses tata kelola lintas fungsi, klausul ESG, database ESG mitra, dashboard monitoring, serta roadmap implementasi bertahap. Melalui kerangka ini, Pelindo diharapkan dapat mentransformasikan ESG dari agenda keberlanjutan di tingkat korporasi menjadi mekanisme tata kelola yang lebih praktis dalam pengelolaan siklus kemitraan.

2026
👤 Penulis: Mestika Elok Arviani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERCEPATAN INDUSTRI BIOSIMILAR INDONESIA: INTERVENSI STRATEGIS UNTUKKETAHANAN KESEHATAN DAN TRANSFORMASI EKONOMI NASIONAL

Indonesia menghadapi paradoks struktural dalam sektor farmasi nasionalnya: negara ini mengelola skema asuransi kesehatan pembayar tunggal terbesar di dunia — Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) — namun tetap sangat bergantung pada produk obat biologis impor yang biayanya terus meningkat dan mengancam keberlanjutan fiskal sistem tersebut dalam jangka panjang. Sementara negaranegara pembanding seperti Korea Selatan, India, Iran, Brasil, dan Tiongkok telah berhasil atau sedang secara cepat membangun industri biosimilar domestik yang kompetitif, Indonesia hingga saat ini belum memiliki jalur akselerasi biosimilar yang terpadu, tervalidasi oleh pemangku kepentingan, dan berbasis analisis yang kuat. Tesis ini hadir untuk menjawab kesenjangan tersebut. Tujuan umum penelitian ini adalah merancang paket intervensi strategis guna mempercepat industri biosimilar nasional Indonesia, dengan mengubah peluang pasar dan kebutuhan yang belum terpenuhi akan obat biologis terjangkau menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat kemandirian farmasi nasional. Lima sasaran penelitian memandu kajian ini: menyusun peta pemangku kepentingan menggunakan kerangka Power–Interest Grid; mengidentifikasi dan mengkategorikan hambatan kritis; merancang paket intervensi multi-pilar yang tervalidasi bersama mitra kunci; memodelkan dampak ekonomi dan fiskal secara kuantitatif; serta mengembangkan peta jalan akselerasi nasional dengan periode implementasi bertahap 2026–2035. Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods sequential explanatory, yang mengintegrasikan survei kuesioner terstruktur terhadap 10 perusahaan terkait farmasi, wawancara semi-terstruktur dengan 25 informan institusional, survei kuesioner terstruktur terhadap 50 responden yang dipilih secara purposif, dua sesi diskusi kelompok terfokus (focus group discussion) beserta lokakarya ko-desain, serta pemodelan ekonomi input–output yang dikalibrasi berdasarkan data sektoral Indonesia dan data klaim JKN. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ekosistem biosimilar Indonesia dikendalikan oleh koalisi saling ketergantungan antara aktor negara, badan usaha milik negara, dan lembaga regulasi, bukan oleh satu institusi dominan tunggal. Tiga klaster hambatan yang saling terkait — ketiadaan infrastruktur biomanufaktur, kesenjangan sumber daya manusia yang kritis, serta arsitektur regulasi dan tata kelola yang terfragmentasi — secara bersama-sama membentuk kendala mengikat vi (binding constraints) bagi pengembangan industri. Sebagai respons, penelitian ini merancang Paket Intervensi Tiga Pilar dengan Dimensi Transformasi Digital, yang mencakup modernisasi teknologi manufaktur, penguatan ekosistem talenta, reformasi kebijakan dan tata kelola, serta loncatan berbasis kecerdasan buatan. Analisis skenario input–output menggunakan insulin sebagai produk utama memproyeksikan bahwa implementasi penuh paket intervensi ini berpotensi menghasilkan penghematan belanja JKN sebesar IDR 2,3–3,1 triliun per tahun, kontribusi terhadap output PDB sebesar IDR 20–35 triliun, dan penciptaan 10.000– 15.000 lapangan kerja terampil baru pada tahun 2035. Temuan-temuan ini disintesiskan ke dalam peta jalan akselerasi biosimilar nasional yang berfase, mencakup Fase Fondasi (2026–2027), Fase Akselerasi (2027–2030), Fase Konsolidasi (2030–2032), dan Fase Pemosisian Global (2032–2035), sehingga memberikan instrumen yang praktis, teruji secara analitis, dan layak secara politis bagi para pembuat

2026
👤 Penulis: Vanny Narita
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRATEGI INVESTASI BPI DANANTARA DALAM MENYEIMBANGKAN TKDN DAN BIAYAENERGI : STUDI KASUS PROGRAM PLTS 100 GWP DI INDONESIA

Transisi energi di Indonesia menghadapi tantangan trilema yang kompleks, yakni menyeimbangkan keamanan energi, keberlanjutan lingkungan, dan keterjangkauan ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan visi ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp dan eliminasi impor BBM demi mencapai swasembada energi. Namun, ambisi ini terhambat oleh tingginya Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik akibat rantai pasok industri surya domestik yang belum matang dan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kaku, sehingga menciptakan disparitas harga (Levelized Cost of Electrcity atau LCOE) yang signifikan dibandingkan benchmark global. Penelitian ini relevan dengan mandat kelompok sindikat dan BPI Danantara dalam merumuskan strategi investasi strategis untuk memecahkan kebuntuan struktural tersebut. Masalah utama yang dikaji adalah bagaimana menyeimbangkan trade-off antara kewajiban industrialisasi lokal (TKDN) dan pencapaian biaya energi yang kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model finansial dan investasi bagi CTO Office BPI Danantara dalam mengorkestrasi program 100 GWp. Solusi potensial yang diajukan adalah penerapan model finansial yang optimal mempertimbangkan harga LCOE yang dapat diterima (acceptable) dan pemenuhan maksimal tingkat komponen dalam negeri, beserta enabling regulations & policies yang dapat membantu mewujudkannya. Metodologi yang digunakan adalah Metode Campuran (Mixed-Methods) dengan desain Penelitian Tindakan (Action Research). Pendekatan ini menggabungkan analisis kualitatif melalui Gap Analysis rantai pasok dan wawancara pemangku kepentingan, serta analisis kuantitatif melalui pemodelan finansial LCOE dengan studi kasus proyek de-dieselisasi PLTS + BESS Saparua. Hasil penelitian merumuskan Strategi Tiga Pilar Terintegrasi bagi BPI Danantara, yang terdiri atas orkestrasi aggregated demand dari pipeline 100 GWp, deployment concessional capital melalui blended finance, dan phased TKDN roadmap berbasis kematangan industri per kategori komponen. Model finansial Saparua menghasilkan LCOE murni sebesar 19,55 sen USD/kWh dengan Equity IRR 11,00 persen, lebih rendah 23,8 persen dibanding BPP diesel. Pada skala program 100 GWp, cost-benefit analysis produksi modul lokal menghasilkan Benefit-Cost Ratio sebesar 2,10x hingga 6,49x dengan potensi penghindaran emisi tahunan 95 hingga 110 MtCO2 dan penciptaan 14.560 pekerjaan permanen di sektor manufaktur. Dampak yang diharapkan dari penelitian ini meliputi terciptanya peta jalan kemandirian teknologi nasional, penurunan emisi karbon secara signifikan, serta penciptaan nilai tambah ekonomi dan lapangan kerja melalui pembangunan ekosistem industri hijau yang kompetitif di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Lucky Luqman Nurrahmat
🏷️ Transisi Energi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

TRANSFORMASI KAPABILITAS ADCP DALAM PENGEMBANGAN TOD DI INDONESIA : REFLEKSI DAN KEMUNGKINAN DI MASA DEPAN

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya ambisi pengembangan Transit-Oriented Development (TOD) di Indonesia yang belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan kapabilitas pengembang dalam mengelola TOD sebagai ekosistem perkotaan yang terintegrasi. Penelitian bertujuan mengidentifikasi ketersediaan Regulasi TOD, kapabilitas pengembang TOD, menganalisis pola kolaborasi antar aktor, dan merumuskan kebutuhan penguatan kapabilitas pengembang di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus melalui wawancara, studi dokumen, dan analisis komparatif (benchmarking) dengan praktik TOD di Singapura, Jepang, dan Hong Kong. ADCP memiliki kekuatan pada akses proyek strategis berbasis transit dan pengalaman teknis pengembangan kawasan, namun masih menghadapi keterbatasan pada aspek integrasi lintas sektor, pengembangan model joint development, pengelolaan kawasan, serta pembentukan model bisnis berkelanjutan. Penelitian ini juga menemukan bahwa regulasi TOD di Indonesia telah berkembang pada aspek tata ruang dan transportasi, tetapi masih bersifat fragmented pada aspek kelembagaan dan pembiayaan kawasan. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis hubungan antara transformasi kapabilitas pengembang dengan keberhasilan implementasi TOD di Indonesia, yang menunjukkan bahwa keberhasilan TOD tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan regulasi, tetapi juga oleh kemampuan pengembang bertransformasi dari project developer menjadi ecosystem orchestrator. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dalam pengembangan kajian TOD di Indonesia, khususnya terkait pentingnya kapabilitas organisasi pengembang dalam membangun integrasi antara transportasi, tata ruang, pembiayaan, dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Henriko Ganesha Putra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

FORMULASI INDEKS KEMANDIRIAN INDUSTRI PERTAHANAN (IKIP) : PENGELATANANALYTIC HIERARCHY PROCESS UNTUK PENGUKURAN OTONOMI STRATEGIS ALUTSISTANASIONAL

Instrumen evaluasi industri pertahanan yang tersedia saat ini mengukur kandungan lokal dan kematangan teknis, namun tidak mampu menangkap dimensi strategis kemandirian yang sesungguhnya. Produk alutsista dengan TKDN tinggi dan TRL/MRL matang dapat tetap rentan secara strategis apabila hak kekayaan intelektual, rantai pasok komponen kritis, dan kebebasan operasionalnya masih dikendalikan pihak asing melalui klausul End-User Certificate, sebuah kondisi yang disebut fake self-reliance. Penelitian ini merumuskan Indeks Kemandirian Industri Pertahanan (IKIP) sebagai instrumen pengukuran komposit dengan tiga pilar: Technology Sovereignty, Supply Chain Resilience, dan Operational Autonomy. Pembobotan dilakukan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan agregasi Geometric Mean Method (GMM) dari 16 expert panel lintas lima domain institusional. Validasi dilakukan melalui proof of concept scoring pada Senapan Serbu SS2 (PT Pindad). Hasil GMM menghasilkan bobot prioritas: OA (36,8%), TS (34,9%), dan SCR (28,4%). Analisis per domain mengungkap heterogenitas perspektif yang substantif. Kemhan dan praktisi Defend ID memprioritaskan OA karena pengalaman langsung dengan restriksi EUC, Kemenperin memprioritaskan SCR sesuai mandat regulasi, sementara domain akademisi dan lembaga riset memprioritaskan TS sebagai fondasi kemandirian jangka panjang. Skor IKIP SS2 menempatkan platform ini pada level Semi-Independent, mengungkap sovereignty-supply-autonomy paradox: kuat di Technology Sovereignty (83,74) namun moderat di Operational Autonomy (57,58) dan lemah di Supply Chain Resilience (52,27). Temuan penelitian mendukung lima rekomendasi kebijakan: adopsi IKIP sebagai standar evaluasi; lokalisasi komponen kritis berbasis IKIP; penetapan skor IKIP minimum dalam pengadaan alutsista; negosiasi EUC berbasis data kuantitatif; dan integrasi IKIP sebagai indikator KPI RIPIN menuju kemandirian industri pertahanan Indonesia pada 2035.

2026
👤 Penulis: Indra Irawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Hierarki

ARSITEKTUR BARU PEMBIAYAAN INDONESIA: DFI KONSOLIDATIF SEBAGAI MESIN PEMBANGUNAN DAN HILIRISASI NASIONAL

Agenda hilirisasi industri Indonesia 2025–2029 menuntut tersedianya pembiayaan jangka panjang (patient capital) berskala masif yang tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh perbankan komersial maupun APBN. Data dari CTO Office Danantara Economist Division (Agustus 2024) mengindikasikan total kebutuhan pendanaan pembangunan mencapai USD 1.299 miliar dalam satu dekade ke depan, sementara kapasitas kontribusi BUMN (termasuk Danantara) diperkirakan hanya sebesar USD 122 miliar. Kesenjangan (financing gap) yang ekstrem ini mempertegas urgensi reformasi kelembagaan. Meskipun Indonesia memiliki berbagai lembaga pembiayaan Pembangunan, seperti PT SMI, LPEI, INA, HIMBARA, dan bahkan Danantara, kerangka hukum dan kelembagaannya masih terfragmentasi. Fragmentasi tersebut menimbulkan tumpang tindih mandat, ketidakjelasan status hukum, serta kegagalan dalam menciptakan kapasitas leverage yang cukup untuk menutup defisit pembiayaan proyek pembangunan hilirisasi yang berisiko tinggi namun berdampak strategis. Penelitian ini berfokus pada analisis kualitatif dan kuantitatif hukum–kelembagaan (legal-institutional analysis) atas opsi pembentukan Development Financial Institution (DFI) konsolidatif sebagai instrumen pembiayaan pembangunan nasional. Tesis ini memusatkan perhatian pada desain institusional dan kepastian hukum, khususnya dalam konteks konsolidasi aset negara dan relasi kewenangan antar-lembaga pasca-pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Penelitian ini membandingkan tiga model kelembagaan DFI NDB (National Development Bank) yang secara hukum dan tata kelola memiliki implikasi berbeda: 1. Super-Holding Integrated Model: DFI-NDB sebagai investment holding di bawah BPI Danantara, berfokus pada pemanfaatan keuangan negara yang terkonsentrasi dan mengonsolidasikan PT SMI, PT PII, PT LPEI, dan PT SMF menjadi Bank Pembangunan dibawah kendali BPI Danantara. Pada opsi ini, INA tidak termasuk dalam konsolidasi karena INA juga merupakan SWF. 2. Ministry-Led Agency Model: DFI-NDB sebagai lembaga swasta nasional ataupun BUMN di bawah kendali Kementerian Keuangan dengan mengonsolidasikan INA (Indonesia Investment Authority), PT SMI, PT PII, PT LPEI, dan PT SMF dengan fokus pada kehati-hatian fiskal (fiscal prudence) dan integrasi APBN. 3. Autonomous Sovereign Vehicle Model: DFI-NDB sebagai badan hukum sui generis dengan mengonsolidasikan INA (Indonesia Investment Authority), PT SMI, PT PII, PT LPEI, dan PT SMF yang bertanggung jawab langsung iii kepada Presiden (serupa struktur INA), berfokus pada kecepatan pengambilan keputusan dan fleksibilitas operasional. Ketiga model tersebut dianalisis berdasarkan beberapa dimensi yang terukur dan relevan secara hukum dan kebijakan, yaitu: (a) ketersediaan dan efisiensi kapital untuk me-leverage pembiayaan, (b) efektivitas eksekusi yang menggabungkan kecepatan pengambilan keputusan kelembagaan (speed), toleransi risiko nonkomersial, dan regulasi serta (c) ketahanan institusi yang meliputi kepastian hukum (perlindungan dan legitimasi formal) dan tata kelola. Metodologi yang digunakan menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui analisis hukum-kelembagaan (legalinstitutional analysis) yang mencakup telaah peraturan perundang-undangan, dokumen kebijakan, dan struktur kelembagaan, serta wawancara terbatas dengan pakar dan praktisi. Pendekatan kuantitatif diterapkan melalui Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk mengevaluasi dan memprioritaskan alternatif desain kelembagaan DFI berdasarkan pembobotan kriteria secara sistematis. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi pada perumusan kebijakan desain DFI yang memiliki kepastian hukum, meminimalkan tumpang tindih kewenangan, serta mampu mendukung agenda hilirisasi nasional secara efektif dan akuntabel

2026
👤 Penulis: Windy Natriavi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ARSITEKTUR TATA KELOLA PENGAWASAN PERBANKAN INDONESIA: DESAIN HYBRID TWIN PEAK BERBASIS META-GOVERNANCE DAN INTEGRATED EARLY WARNING SYSTEM UNTUK BANK-LED ECONOMY

The banking sector plays a central role in Indonesia’s economy as a financial intermediary, a key transmission channel for monetary policy, and a pillar of financial system stability. The dominance of banking assets, coupled with the growing complexity of digitalization and intraday liquidity risks, necessitates a more robust and responsive supervisory governance framework. Since the transfer of supervisory authority from Bank Indonesia to Otoritas Jasa Keuangan under Law No. 21 of 2011, questions have emerged regarding the effectiveness of the current institutional design. These concerns are particularly salient in the context of fragmented authority among Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, and Lembaga Penjamin Simpanan, as well as the increasing need for real-time data integration across institutions. This study is motivated by the rapid digitalization of the financial sector, the integration of real-time payment systems, and the increasing complexity of intraday liquidity risks, all of which call for stronger governance in banking supervision in Indonesia. Within a multi-authority governance architecture, where microprudential supervision resides with Otoritas Jasa Keuangan, macroprudential policy and payment systems are under Bank Indonesia, and bank resolution is handled by Lembaga Penjamin Simpanan, the primary challenge lies not in the absence of instruments, but in data fragmentation, delays in policy escalation, and the suboptimal integration between intraday liquidity data flows and payment system transactions, as well as stock data on capital and asset quality. This research aims to assess the adequacy of the existing Early Warning System (EWS), formulate enhancements to governance mechanisms, and evaluate their impact on economic, financial, institutional, and policy stability. Using a mixed-methods approach that combines qualitative institutional analysis and quantitative evaluation of risk indicators, this study finds that supervisory effectiveness is not solely determined by the centralization of authority, but rather by the quality of information orchestration and the clarity of escalation protocols. Drawing on a synthesis of network governance and meta-governance theories, as well as international empirical findings from International Monetary Fund and Bank for International Settlements, the study recommends a Hybrid Twin Peaks model based on meta-governance and an integrated Early Warning System (EWS) as the most rational and feasible option in the context of Indonesia as a bank-led economy. This model enables stronger data integration and faster crisis response without requiring radical legal restructuring, thereby maintaining a balance between effectiveness, legitimacy, and governance sustainability. The contribution of this research is both academic and policy-oriented, offering an adaptive systemic orchestration design to strengthen national financial system stability in a gradual and evidence-based manner.

2026
👤 Penulis: Novi Maryaningsih Tri Astuti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGUATAN EKOSISTEM KELEMBAGAAN HILIRISASI BIOSIMILAR TRASTUZUMAB DI INDONESIA : ANALISIS SISTEM SIRKULATORI LATOUR DALAM KERANGKA ACTOR-NETWORK THEORY

Hilirisasi obat biologis biosimilar berpotensi menjadi salah satu solusi strategis untuk efisiensi pembiayaan, perluasan akses, dan kemandirian kesehatan nasional, namun ekosistem kelembagaan dan kebijakan berikut infrastruktur dan fasilitas pendukungnya belum terbentuk dengan baik untuk menjamin keberlanjutannya. Penelitian ini menelaah mengapa ekosistem kelembagaan untuk hilirisasi biosimilar di Indonesia belum cukup kuat menghubungkan pembuktian komparabilitas ilmiah, perizinan dan sertifikasi, legitimasi adopsi klinis, serta skema pengadaan dan pembiayaan publik. Biosimilar trastuzumab untuk kanker payudara HER2-positif dijadikan studi kasus penelitian ini sebagai bagian dari inisiatif bio-defense.id yang menargetkan produksi pertama pada tahun 2029. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan orientasi implementatif yang berbasis misi. Dalam hal ini, ekosistem dianalisis melalui sistem sirkulatori lima loop Latour yang dilengkapi tiga pilar institusi Scott (regulatif, normatif, dan kultural-kognitif) serta inovasi berorientasi misi Mazzucato, dengan proposisi mengenai simpul pengikat loop sebagai jangkar analisis. Selanjutnya metode analisis ditriangulasi dari studi literatur, dokumen kebijakan, data sekunder, dan tiga sesi Focus Group Discussion (FGD). Hasilnya menunjukkan bahwa hambatan paling menentukan bukan tidak adanya riset, regulasi, atau instrumen pasar yang mendukung ekosistem, tetapi belum adanya Obligatory Passage Point (OPP) yang mampu mengikat kelima loop ke dalam satu simpul misi yang aktif. Dalam rancangan tesis ini, inisiatif bio-defense.id ditempatkan sebagai simpul misi sekaligus OPP, yaitu titik lintasan wajib yang menghubungkan translasi riset, pengembangan dan peningkatan skala produk, pembuktian komparabilitas, legitimasi klinis, regulasi, keberpihakan pasar (market shaping), serta pembiayaan publik. Rancangan yang diusulkan menempatkan payung kebijakan berjenjang, yaitu penetapan misi bio-defense.id sebagai Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Prioritas Nasional (PN) Bidang Kesehatan untuk jangka pendek hingga menengah, serta sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk jangka panjang. Kemudian perlu dilakukan revitalisasi dan penguatan Satuan Tugas Percepatan Pengembangan Produk Biologi sebagai mekanisme orkestrasi operasional dalam lokus ekosistem konkret terintegrasi, dengan bio-defense.id sebagai simpul misi yang menyatukan riset, peningkatan skala industri, regulasi (sertifikasi dan perizinan), serta pembiayaan dan investasi. Ekosistem ini juga menginisiasi keterlibatan pemangku kepentingan terkait sejak fase awal pengembangan produk.

2026
👤 Penulis: Ade Faisal
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PERTAHANAN TERHADAP PENGELOLAAN MINERALKRITIS BAGI PENGUASAAN MATERIAL MAJU DI INDONESIA

Perubahan lingkungan strategis global menunjukkan bahwa ketahanan dan keamanan negara tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan juga oleh kemampuan negara dalam mengelola sumber daya alam strategis yang menopang teknologi pertahanan modern. Mineral kritis—termasuk nikel, kobalt, litium, dan logam tanah jarang (rare earth elements, REE)—merupakan bahan baku utama material maju yang digunakan dalam industri pertahanan dan teknologi strategis. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia (±42 persen cadangan global menurut USGS 2024) dan produsen utama beberapa komoditas mineral kritis lainnya, memiliki peluang strategis sekaligus tantangan tata kelola dalam memastikan pengelolaannya selaras dengan kepentingan pertahanan dan keamanan nasional. Meskipun pemerintah telah menetapkan mineral kritis sebagai aset strategis nasional melalui Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023 (47 komoditas) dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 76/2025 tentang Badan Industri Mineral (BIM), pengelolaannya masih cenderung menitikberatkan dimensi ekonomi dan hilirisasi. Dimensi pertahanan—khususnya keamanan pasokan jangka panjang dan kemandirian material maju—belum terintegrasi secara eksplisit. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kebijakan pertahanan nasional dalam mengarahkan pengelolaan mineral kritis guna mendukung penguasaan material maju dan kemandirian industri pertahanan Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) terhadap tiga kelompok sumber data sekunder: (1) dokumen kebijakan resmi pemerintah; (2) peraturan perundang-undangan; dan (3) tabulasi 33 pernyataan publik pemangku kepentingan kunci pada periode 2020–2026, di antaranya Direktur Jenderal (Dirjen) Potensi Pertahanan Sri Yanto, Dirjen Mineral dan Batubara Tri Winarno, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, serta Mendiktisaintek sekaligus Kepala BIM Brian Yuliarto. Penelitian ini sepenuhnya berbasis data sekunder dan tidak menggunakan wawancara primer. Efektivitas kebijakan dievaluasi berdasarkan tiga indikator: keselarasan tujuan (goal alignment), koherensi kebijakan (policy coherence), dan instrumen implementasi (implementation instruments), yang masing-masing dioperasionalkan melalui rubrik penilaian Likert 1–5. Hasil penelitian menemukan bahwa efektivitas kebijakan pertahanan terhadap mineral kritis di Indonesia masih rendah secara struktural dan strategis (skor rata-rata 1,7 dari 5,0), dengan empat karakteristik utama: parsial, terfragmentasi, didorong kepentingan ekonomi (economic-driven), dan belum berorientasi pertahanan (defense-oriented). Akan tetapi, periode 2023–2026 menunjukkan momentum transformasi positif melalui penetapan Kepmen ESDM 296/2023, pembentukan BIM, Minerba Convex 2025 sebagai titik temu publik pertama Dirjen Pothan dan Dirjen Minerba, serta Rapat BIM mengenai LTJ Mamuju pada 12 Mei 2026 sebagai operasionalisasi konkret pertama. Komparasi dengan enam negara/blok terdepan (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Tiongkok) menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi terendah pada empat dari lima dimensi kematangan kebijakan, dengan satu pengecualian pada dimensi Pengendalian Ekspor. Momentum 2023–2026 tersebut diposisikan sebagai indikasi awal perubahan arah kebijakan (early policy reorientation), bukan sebagai bukti efektivitas kebijakan yang telah tercapai. Penelitian ini menghasilkan rekomendasi tiga lapis (strategis-konseptual, operasional-instrumental, dan kelembagaan-prosedural) yang mencakup penyusunan Grand Strategy Mineral Kritis Nasional 2026–2045, perluasan paradigma kebijakan pertahanan menuju resource-based defense strategy, pengesahan Undang-Undang Mineral Kritis tersendiri, pengembangan cadangan strategis (strategic stockpile), pengaktifan Komponen Pendukung (Komduk) bagi industri pertambangan-pengolahan, penguatan kelembagaan BIM, dan pembentukan Dewan Mineral Kritis Nasional. Peta jalan implementasi 2026–2045 disusun dalam empat fase: Konsolidasi Kebijakan, Industri Material Antara, Penguasaan Material Maju, dan Kemandirian Strategis.

2026
👤 Penulis: Sahrun Gultom
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS TINGKAT WALKABILITY DAN KARAKTERISTIK PEJALAN KAKI PADA KAWASAN TOD BLOK M MELALUI PENGUKURAN OBJEKTIF (ATRIBUT LINGKUNGAN BINAAN) DAN SUBJEKTIF (PERCEIVED WALKABILITY)

Kawasan Blok M yang seharusnya mendukung penerapan konsep Transit-Oriented Development (TOD) sebagaimana ditetapkan dalam RTRW Provinsi DKI Jakarta masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya inklusivitas, terbatasnya penyediaan perumahan terjangkau, serta keberadaan parkir on-street yang berlebihan dan tidak tertata. Kondisi tersebut menunjukkan pengembangan kawasan belum sepenuhnya berorientasi pada peralihan penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi umum, sehingga masih memicu kemacetan dan mengganggu aksesibilitas pejalan kaki (Manurung & Yusuf, 2025). Oleh karena itu, keberadaan infrastruktur transit di Kawasan TOD Blok M belum mampu mendukung kualitas berjalan kaki secara optimal. Pengalaman berjalan kaki dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan yang mencakup aspek kenyamanan, keamanan, dan kemudahan akses (He et al., 2024). Selain itu, lingkungan binaan berperan melalui karakteristik fisik, seperti aksesibilitas, keramahan berjalan kaki (walkability), dan keterhubungan antarpenggunaan lahan, serta melalui persepsi subjektif pejalan kaki terhadap kualitas lingkungan berjalan kaki (He et al., 2024).Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik lingkungan binaan dalam pendekatan objektif dan subjektif (persepsi pejalan kaki) dalam pengukuran walkability di Kawasan Blok M yang ditetapkan sebagai kawasan berbasis TOD. Pengukuran karakteristik lingkungan binaan dilakukan menggunakan prinsip 5D (Density, Diversity, Design, Distance to Accessibility, dan Distance to Transit) serta Neighborhood Environment Walkability Scale (NEWS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis Sistem Informasi Geografis (GIS) dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan variabel-variabel NEWS dapat diterapkan di Indonesia dengan nilai reliabilitas lebih dari 0,60 dan nilai validitas lebih dari 0,238 pada setiap variabel. Setiap variabel dalam konsep 5D juga menunjukkan hasil yang sejalan dan saling mendukung dengan variabel NEWS. Kedua pendekatan tersebut menghasilkan temuan yang saling melengkapi karena NEWS mampu menangkap aspek-aspek yang tidak dapat diukur secara objektif, seperti kualitas infrastruktur pejalan kaki. Variabel kepadatan (Density dan Residential Density) menunjukkan adanya kepadatan hunian pada lokasi tertentu denganv dominasi hunian horizontal. Variabel keberagaman (Diversity) menunjukkan keberagaman aktivitas yang cukup tinggi, terutama pada kawasan yang didominasi oleh fungsi permukiman, perkantoran, serta perdagangan dan jasa (mixed-use). Variabel desain (Design) menunjukkan tingkat konektivitas yang tinggi, terutama pada kawasan dengan intensitas aktivitas yang tinggi. Akses terhadap layanan dasar (basic services) dan transportasi umum juga tergolong baik, dengan jangkauan sekitar 100–500 meter atau waktu tempuh berjalan kaki selama 5–20 menit. Variabel kualitas infrastruktur pejalan kaki dan lalu lintas (Infrastructure and Traffic) menunjukkan kondisi yang tergolong baik. Namun, masyarakat masih cenderung menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan berjalan kaki. Kondisi tersebut tercermin dari banyaknya parkir yang tidak tertata dan memanfaatkan ruang pejalan kaki. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pejalan kaki berasal dari berbagai kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, serta tingkat kepemilikan SIM dan kendaraan pribadi. Berdasarkan kecenderungan jarak dan waktu berjalan kaki rata-rata harian, terdapat indikasi bahwa penyediaan layanan di Kawasan Blok M telah mampu menjangkau berbagai tujuan dalam rentang standar TOD, yaitu sekitar 5–20 menit atau 500–800 meter berjalan kaki. Hasil pengukuran walkability menunjukkan bahwa Kawasan TOD Blok M memperoleh nilai walkability objektif sebesar 53,63 dan walkability subjektif sebesar 59,59. Kedua nilai tersebut termasuk dalam kategori "Cukup Baik" berdasarkan Pedoman Pengukuran Indeks Kelayakan Berjalan di Kawasan Perkotaan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, Tahun 2023. Meskipun demikian, Kawasan TOD Blok M masih belum sepenuhnya memenuhi karakteristik kawasan TOD yang kompak, inklusif, dan terintegrasi secara optimal dengan sistem transit.

2026
👤 Penulis: Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI EKSPERIMENTAL KINETIKA DAN EVOLUSI FASA REDUKSI BIJIH NIKEL SAPROLIT DALAM ATMOSFER 5% H2–95% N2

Nikel merupakan logam strategis yang digunakan dalam industri baja tahan karat, paduan, pelapisan, katalis, dan material baterai. Indonesia memiliki posisi penting dalam industri nikel karena didukung oleh sumber daya dan cadangan yang didominasi bijih laterit. Bijih saprolit umumnya diolah melalui jalur pirometalurgi konvensional, tetapi proses tersebut masih menghadapi tantangan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca. Hidrogen sebagai reduktan menjadi alternatif untuk menghasilkan proses reduksi beremisi lebih rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis tahapan reduksi non-isotermal, menentukan parameter kinetika reduksi isotermal, serta mengevaluasi evolusi fasa dan morfologi bijih nikel saprolit dalam atmosfer 5% H2–95% N2. Sampel bijih saprolit dikeringkan, diremuk, digerus, diayak hingga fraksi ?200 mesh, lalu dikalsinasi pada 700 °C selama 4 jam. Produk kalsinasi direduksi menggunakan thermogravimetric analyzer dengan massa sampel 300 mg dan laju alir gas 250 mL/menit. Percobaan non-isotermal dilakukan hingga 900 °C pada laju pemanasan 10 °C/menit, sedangkan percobaan isotermal dilakukan pada 500, 600, 700, 800, dan 900 °C selama 3 jam. Data perubahan massa dikonversi menjadi derajat reduksi, kemudian dianalisis menggunakan metode isokonversi isotermal dan pemodelan kinetika. Model difusi tiga dimensi Jander digunakan untuk mengevaluasi interval reduksi aktif. Evolusi fasa dianalisis menggunakan X-ray diffraction (XRD), sedangkan morfologi dan distribusi unsur diamati menggunakan scanning electron microscopy–energy dispersive spectroscopy (SEM–EDS). Reduksi non-isotermal menunjukkan dua tahap utama. Tahap 300–600 °C menghasilkan kehilangan massa aktual 3,15% dibandingkan nilai teoritis 4,43% dan diinterpretasikan berkaitan dengan reduksi awal spesies nikel serta transformasi hematit menuju magnetit dan/atau oksida antara. Tahap 600–900 °C menghasilkan kehilangan massa aktual 4,90% dibandingkan nilai teoritis 7,75% dan berkaitan dengan reduksi lanjutan oksida besi menuju Fe melalui FeO. Pada kondisi isotermal, kenaikan temperatur mempercepat reduksi awal, tetapi tidak selalu meningkatkan derajat reduksi akhir. Energi aktivasi tampak meningkat dari 28,07 kJ/mol pada ? ? 0,1 menjadi 69,45 kJ/mol pada ? ? 0,3, kemudian berada pada 63,34–63,50 kJ/mol hingga ? ? 0,5. Model Jander memberikan energi aktivasi tampak 57,1–73,7 kJ/mol pada 500–800 °C, sedangkan nilai negatif pada 800–900 °C menunjukkan ketidaksesuaian model untuk mekanisme suhu tinggi. XRD dan SEM–EDS menunjukkan magnetit pada 500 °C, fayalit sejak temperatur rendah, taenite pada 700 °C, serta penguatan fasa silikat dan koalesensi mikrostruktur pada 800– 900 °C yang membatasi reduksi lanjutan.

2026
👤 Penulis: Fierdy Akasya
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MATEMATIKA KEUANGAN SYARIAH

Pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) syariah merupakan salah satu alternatif pembiayaan yang menerapkan prinsip syariah melalui mekanisme jual beli maupun bagi hasil. Penelitian ini bertujuan membangun model pembiayaan KPR syariah menggunakan akad Murabahah dan Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) dengan pendekatan nisbah kesepakatan, menentukan nisbah optimal, serta membandingkan kinerjanya dengan KPR konvensional. Penelitian dilakukan melalui pemodelan matematika dan simulasi numerik. Penghasilan bulanan nasabah dimodelkan menggunakan Geometric Brownian Motion (GBM), sedangkan prediksi imbal hasil obligasi Indonesia dilakukan menggunakan model Vasicek sebagai acuan keuntungan Bank Syariah. Penentuan nisbah kesepakatan dilakukan menggunakan optimasi multiobjektif Pareto dengan dua fungsi objektif, yaitu memaksimumkan imbal hasil Bank Syariah dan keuntungan nasabah. Selanjutnya, seluruh solusi Pareto disetarakan menggunakan pendekatan Holding Period Return (HPR) agar dapat dibandingkan pada periode pembiayaan yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Murabahah menghasilkan imbal hasil Bank Syariah sebesar 4,70% dan imbal hasil nasabah sebesar 34,09%. Sementara itu, model MMQ menghasilkan nisbah kesepakatan optimal sebesar 48,10% dengan imbal hasil Bank Syariah sebesar 10,11% dan imbal hasil nasabah sebesar 48,48%. Optimasi menghasilkan 19 solusi Pareto optimal dengan periode pembiayaan antara 180–382 bulan. Setelah dilakukan transformasi menggunakan holding period return, seluruh solusi dapat dibandingkan secara objektif dan menunjukkan bahwa nisbah 48,10% tetap menjadi solusi yang memberikan keseimbangan terbaik antara keuntungan Bank Syariah dan nasabah. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan tingkat pertumbuhan pendapatan (?) cenderung meningkatkan imbal hasil Bank Syariah dan nasabah, sedangkan peningkatan volatilitas pendapatan (?) menyebabkan penyebaran imbal hasil semakin besar, meningkatkan ketidakpastian pembiayaan, dan menurunkan imbal hasil yang diterima kedua belah pihak.

2026
👤 Penulis: Rizky Uyuun Akfindarwan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENINGKATAN STABILITAS GEL CINCAU HIJAU (PREMNA OBLONGIFOLIA) MELALUI PENAMBAHAN KAPPA KARAGENAN, KONJAK GLUKOMANAN, DAN KALSIUM KLORIDA UNTUK PRODUKSI SKALA INDUSTRI

Green grass jelly is a food product made from the leaf extract of Premna oblongifolia, which is rich in pectin. However, its industrial-scale utilization is still constrained by low gel stability, characterized by a high degree of syneresis and weak texture (hardness), which hinders product quality consistency during storage. This study was conducted in two phases. The first phase evaluated the effects of leaf drying pretreatment (55°C, 24 hours) and variations in extraction temperature (65°C, 70°C, 75°C, 80°C, and 85°C) on the hardness, cohesiveness, and syneresis of the gel over 14 days of storage, in order to determine the best control condition. The second phase evaluated the effects of adding kappa-carrageenan, Konjac Glucomannan (KGM), and calcium chloride (CaCl?) at a total concentration of 1.0% (w/w) using a Mixture Design approach on the same three parameters, in order to obtain an optimal stabilizer formulation. The results showed that an extraction temperature of 85°C without drying pretreatment (85F) produced the best syneresis stability among all treatment combinations in the first phase, and was therefore selected as the control for the second phase. Based on the Mixture Design optimization, the best composition for producing a grass jelly gel with optimal stability was a combination of 25.28% kappa-carrageenan, 52.53% KGM, and 22.19% CaCl?. This formulation successfully reduced the syneresis value from 26.42% in the control to 20.05% (a reduction of approximately 24%), with a cohesiveness value of 0.9144, which was relatively equivalent to the control (a difference of less than 2%). However, the hardness value obtained was 54.78 g, slightly lower (by approximately 12%) than the control value of 62.3 g. Therefore, the combination of kappa-carrageenan, KGM, and CaCl? at this proportion is recommended as the optimal formulation for improving the storage stability of green grass jelly gel, although improvement in hardness still requires further research.

2026
👤 Penulis: Rafif Ramdhany Harahap
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california. Inovasi II pada perancangan industri ini juga menerapkan sistem pascapanen iv terintegrasi yang terdiri dari 12 unit operasi dengan menerapkan Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Alur produksi dimulai dari unit penerimaan bahan baku pepaya segar sebesar 6.700 kg per hari dari petani mitra, unit sortasi dengan berdasarkan standar panen 120-125 Hari Setelah Antesis (HSA) atau warna 25% kuning, unit pencucian, unit perlakuan air panas (Hot Water Treatment, HWT), dan penirisan. Setelah itu, buah melewati grading I berdasarkan bobot (grade S: 1-1,5 kg dan grade A: 0,8-0,99 kg), unit pematangan Pressurized Ripening Room dengan inovasi gas etilen dan LED merah. Setelah pematangan, buah melewati unit grading II berdasarkan keseragaman warna (grade S1: bobot 1-1,5 kg dengan warna ?75% kuning/jingga, grade A1: bobot 0,8-0,99 kg dengan warna ?75% kuning/jingga, grade S2: bobot 1,0-1,5 kg dengan warna 50-74,99% kuning/jingga, dan grade A2: bobot 0,8-0,99 kg dengan warna 50-74,99% kuning/jingga), unit pelabelan buah, unit pengemasan dalam kardus corrugated fiber board, unit penyimpanan, dan unit distribusi menggunakan mobil truk berpendingin ke supermarket modern dan toko buah premium. Kapasitas produksi pepaya grade S1 sebesar 4.899,96 kg atau 4.083 buah per hari dan grade A1 sebesar 1.633,39 kg atau 1.815 buah per hari sebagai produk premium. Sekitar 10% output pematangan merupakan grade S2 dan A2 yang belum memenuhi standar kualitas keseragaman warna untuk grade S1 dan A1, sehingga dilakukan proses pematangan kembali hingga mencapai kualitas premium. Pepaya california grade S1 disuplai dengan harga dasar Rp21.000 per buah dan grade A1 dijual dengan harga dasar Rp18.000 per buah. Kedua grade tersebut memenuhi persyaratan Extra Class standar internasional Codex Alimentarius (CXS 183-1993) dan Kelas Super SNI 4230-2009. Setiap buah dilengkapi label merek "Calinova Freshindo" dan dikemas dalam kardus corrugated fiber board. Proses produksi dan produk pepaya yang dihasilkan dirancang untuk memenuhi sertifikasi ISO 22000, ISO 45001, GHP, HACCP, BPOM, dan Sertifikat Prima Produk Bahan Pangan (SPPB). Total investasi awal perancangan industri ini sebesar Rp6.368.073,76. Biaya operasional tahunan dari industri ini mencapai Rp33.818.815.591. Total proyeksi pendapatan per tahun sebesar Rp42.076.126.463 dari penjualan grade S1 dan A1, setelah memperhitungkan PPN 11% dan faktor inflasi harga pangan 2,9%. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp7.257.530.270, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 42% yang lebih besar dari cost of capital 5,75%, Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) sebesar 2,14, dan Payback Period selama 1,98 tahun. Break Even Point unit dan harga grade S1 masing-masing tercapai pada 969.946 kg/tahun dan Rp19.473.537.278/tahun, sedangkan Break Even Point unit dan harga grade A1 masing-masing tercapai pada 431.087 kg/tahun dan Rp8.654.905.457/tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan usaha masih layak hingga terjadi kenaikan biaya bahan baku maksimum sebesar 19%, namun dengan penurunan harga jual dan/atau volume produksi maksimum sebesar 5%. Secara keseluruhan, rancangan industri ini memiliki profitabilitas dan ketahanan finansial yang baik dan layak diimplementasikan sebagai industri pascapanen pepaya berskala komersial.

2026
👤 Penulis: Andian Sandi Pamungkas
🏷️ Pascapanen Buah 🏷️ Inovasi Ripening 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 15 dari 349
💬