📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenPENINGKATAN AKURASI PERAMALAN UNTUK MENINGKATKAN TINGKAT LAYANAN PELANGGAN DAN EFISIENSI MODAL KERJA: STUDI KASUS RANTAI PASOKAN SUKU CADANG ALAT BERAT
PT Cakra Harmoni Sentosa, distributor alat berat terbesar di Indonesia, mencatat transaksi suku cadang senilai IDR 1,1 triliun per tahun di Plant Sungai Danau (SDU). Namun demikian, tingkat layanan pelanggan (Customer Service Level atau CSL) hanya mencapai 75%, di bawah target 80%, sementara Days of Inventory (DOI) mencapai 87 hari, melampaui target 75 hari. Kondisi ini mencerminkan masalah kelebihan stok dan kekurangan stok yang terjadi secara bersamaan, yang bersumber dari ketergantungan perusahaan pada metode peramalan Moving Average 12 bulan (MA12). Metode ini tidak mampu mengakomodasi pola permintaan intermittent dan lumpy yang mendominasi 90% portofolio suku cadang. Penelitian ini menerapkan kerangka klasifikasi permintaan Syntetos-Boylan-Croston (2005) untuk mengelompokkan seluruh SKU aktif berdasarkan Average Demand Interval (ADI) dan Squared Coefficient of Variation (CV²), kemudian mengevaluasi 23 variasi model peramalan per kategori pola permintaan menggunakan walk-forward validation. Pemilihan model didasarkan pada weighted average rank yang menggabungkan 75% SPEC dan 25% akurasi berbasis MAPE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pola permintaan secara konsisten mengungguli kebijakan peramalan seragam. Untuk item lumpy (11.51% dari SKU), Ensemble SES, SBA, LSTM, dan N-Beats mencapai performa terbaik. Untuk item smooth (6.67%) dan intermittent (78.66%), Ensemble CatBoost, MLP, dan ARIMA terbukti lebih unggul. Untuk item erratic (3.16%), SES dikombinasikan dengan safety stock buffer yang ditingkatkan untuk mencapai service level 90% direkomendasikan sebagai pendekatan yang paling sesuai. Simulasi Stock Level Maximum menggunakan metode yang diusulkan dan kalibrasi safety stock dinamis per SKU dengan formula SS = Z dikali sigma-demand dikali akar dari LT memproyeksikan peningkatan CSL dari 75% menjadi sekitar 81%, atau satu poin persentase di atas target, serta penurunan DOI dari 87 hari menjadi 74 hari. Penurunan ini setara dengan pelepasan modal kerja senilai IDR 39 miliar. Analisis feature importance pada komponen machine learning mengidentifikasi variabel lag permintaan, rolling mean dan standar deviasi, jumlah alat berat aktif, harga batu bara, serta statistik lead time sebagai pendorong utama akurasi peramalan di seluruh kategori pola permintaan.
ANALISA TEKNO-EKONOMI TERHADAP TEKNOLOGI DAPUR BUSUR LISTRIK SEBAGAI JALAN MENUJU PRODUKSI BAJA RENDAH EMISI DI INDONESIA
Persetujuan Paris mendorong seluruh negara untuk mengurangi emisinya. European Union (EU) meluncurkan program bernama European Green Deal yang mengakibatkan pemberlakuan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) terhadap 6 (enam) jenis barang yang diimpor ke dalam wilayah EU. Baja merupakan salah satu jenis barang yang terkena biaya tambahan berupa CBAM Certificate akibat karbon yang terkandung di dalamnya. Indonesia juga memiliki rencana untuk memberlakukan Pajak Karbon terhadap baja, tetapi tarif per Ton CO2 nya belum setinggi tarif CBAM di EU. Terdapat 3 (tiga) jalur besar produksi baja yang teruji secara komersial, yaitu Rute Blast Furnace – Basic Oxygen Furnace (BF-BOF), Rute Direct Reduced Iron – Electric Arc Furnace (DRI-EAF) berbasis gas, dan Rute Electric Arc Furnace (EAF) berbasis scrap. Setiap rute tersebut memiliki tingkatan emisi yang berbeda dan akan mempengaruhi daya saing terkait dengan pemberlakuan Pajak Karbon di Indonesia dan EU-CBAM. Penelitian ini akan memberikan ulasan dan perbandingan teknologi pada fasilitas di Giga Steel terkait dengan konsumsi spesifik dari bahan baku, bahan bakar, energi, emisi CO2 yang dihasilkan, dan daya saing biaya terhadap setiap rute produksi yang disebutkan di atas. Kemudian akan dilakukan Analisa terhadap dampak dari Pajak Karbon dan CBAM dalam mendorong transisi menuju penggunaan teknologi rendah emisi untuk produksi baja. Berdasarkan Analisa yang dilakukan, rute BF-BOF memiliki biaya produksi yang paling rendah, namun pada saat bersamaan merupakan penghasil CO2 paling tinggi karena penggunaan Batubara yang besar. Biaya produksi dari rute scrap-based EAF lebih tinggi dari rute BF-BOF, tetapi memiliki emisi CO2 paling rendah. Rute DRI-EAF memiliki biaya produksi yang paling tinggi, namun karena penggunaan Gas Alam sebagai pereduksi, level emisi CO2 dari DRI-EAF lebih rendah dibandingkan rute BF-BOF tetapi masih lebih tinggi dibandingkan rute EAF berbasis scrap. Dengan tarif karbon di Indonesia saat ini, rute BF-BOF masih merupakan rute produksi yang paling kompetitif. Situasinya akan berubah ketika tarif karbon menjadi diatas 67 USD/t-CO2. Pada kondisi tersebut, rute EAF berbasis scrap akan menjadi lebih kompetitif dibandingkan rute BF-BOF. Harga karbon di EU lebih dari 80 USD/t-CO2. Untuk pasar ekspor ke EU, rute EAF berbasis scrap akan lebih menjadi pilihan.
PENILAIAN KELAYAKAN: STUDI PRA-KELAYAKAN UNTUK PENGEMBANGAN INDUSTRI BIOSIMILAR DI INDONESIA MENUJU KEMANDIRIAN DAN PELAYANAN KESEHATAN YANG TERJANGKAU
ndonesia saat ini menghadapi Defisit Struktural Ganda yang berada di persimpangan antara jaminan kesehatan nasional dan stabilitas makroekonomi. Kerentanan negara ini juga terlihat pada sektor farmasi nasional yang sangat bergantung pada impor, yakni sebesar 90 persen untuk obat-obatan biologis. Ketergantungan impor ini menciptakan celah keamanan yang membuat sistem kesehatan rentan terhadap krisis rantai pasokan global. Selain itu, hal ini meningkatkan beban fiskal negara yang tidak berkelanjutan. Pada tahun 2023, pengeluaran untuk penyakit katastropik di bawah program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melonjak menjadi Rp 34,7 triliun. Peningkatan pengeluaran ini didorong oleh mahalnya biaya terapi impor. Secara historis, tingginya volume impor turut mendorong terjadinya Defisit Transaksi Berjalan, yang pada gilirannya akan melemahkan stabilitas mata uang kita.Analisis menggunakan Porter's five forces (lima kekuatan Porter) menunjukkan bahwa industri biosimilar menghadapi hambatan yang besar untuk masuk ke pasar. Industri ini membutuhkan pengeluaran modal yang sangat besar dan teknologi yang rumit, sehingga sulit dibiayai dengan persyaratan komersial perbankan. Masalah utamanya adalah belum adanya model industri yang menggabungkan kelayakan teknis dengan pendanaan strategis untuk membantu industri ini mengatasi rintangan pasar. Oleh karena itu, Studi Kelayakan Awal sangat diperlukan untuk mengembangkan model bagi kemajuan industri biosimilar nasional. Studi ini akan meneliti prospek pengembangan tiga molekul biosimilar: Dulaglutide, Trastuzumab, dan Pembrolizumab, untuk tahap produksi awal di Indonesia.Studi tersebut memiliki dua tujuan utama; tujuan pertama adalah menguji Kelayakan Tekno-Ekonomi dari strategi Percepatan Transfer Teknologi (In-Licensing) dibandingkan dengan Penelitian dan Pengembangan (R&D) mandiri. Tujuan kedua adalah menghitung Dampak Makroekonomi, termasuk Dampak Langsung, Tidak Langsung, serta Efek Pengali (Multiplier Effects), untuk membenarkan penggunaan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia sebagai solusi pembiayaan.Apakah Anda ingin saya membantu meringkas teks ini, menjelaskan istilah teknis seperti biosimilar dan In-Licensing dengan lebih sederhana, atau mencari informasi terbaru terkait pengembangan industri biosimilar di Indonesia saat in.
REDESAIN GEDUNG RAWAT JALAN DAN FASILITASNYA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. MOEWARDI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT BERBASIS EVIDENCE-BASED DESIGN
Gedung Wijaya Kusuma merupakan pusat rawat jalan utama di RSUD dr. Moewardi (RSDM). Berdasarkan hasil Evaluasi Pasca Huni (EPH) yang telah dilakukan RSDM, gedung tersebut memiliki nilai performansi yang sangat buruk. Data statistik menunjukkan gedung ini melayani lebih dari 2000 pasien dengan beban rata – rata kunjungan dalam satu hari 7386 orang per hari. Sehingga memicu masalah kapasitas ruang, sirkulasi, kebisingan, privasi serta kebutuhan area tunggu yang memadai. Sehingga penelitian ini bertujuan merumuskan ulang program ruang dan desain fasilitas yang efisien dan nyaman menggunakan metode perancangan berlandaskan kerangka kerja Evidence-Based Design (EBD). Pengumpulan data dilakukan melalui prosedur Place-Centered Mapping serta penggunaan Kuesioner Skala Likert dengan fokus pada kelompok penunggu pasien. Dilakukan juga pengolahan data udara menggunakan metode fotogrametri melalui perangkat lunak Agisoft Metashape Professional. Semua data dalam penelitian dipadukan dengan (EPH) dari pihak manajemen rumah sakit untuk merumuskan program ruang dan kebutuhan fasilitas gedung rawat jalan. Hasil sintesis data menghasilkan enam kriteria utama perancangan yaitu Sense of Personal Control & Privacy, Positive Distractions, Social Support, Eliminating Environmental Stressors, Connecting Patients to Natural Views, Engenders Feelings. Setiap kriteria diwujudkan dalam implementasi desain yang berfokus pada efisiensi dan kenyamanan, tujuanya perancangan baru ini mampu menyelesaikan masalah overkapasitas sebelumnya sekaligus menciptakan ruang penyembuhan (healing environment) yang optimal bagi pengguna di dalamnya.
DISEQUILIBRIUM SUPPLY DAN DEMAND LOGAM EMAS DI INDONESIA : ANALISISEKONOMI, EKONOMI POLITIK, DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN MENGGUNAKAN STUDIKASUS : PT ANEKA TAMBANG TBK.
Indonesia memiliki cadangan emas sekitar ±3.444 ton, namun menghadapi paradoks struktural berupa tingginya ketergantungan impor emas meskipun memiliki potensi sumber daya yang besar. Selama periode 2021–2025, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM) mengimpor rata-rata 28,04 ton emas per tahun, sementara pasokan domestik riil hanya mencapai 5,36 ton per tahun, dengan ketergantungan impor sebesar 94,4% pada tahun 2024 dan arus keluar devisa kumulatif lebih dari US$10 miliar. Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan supply emas dari sumber lokal untuk memperkuat industri pengolahan emas dalam memenuhi demand emas domestik di Indonesia melalui identifikasi faktor-faktor struktural dan institusional penyebab ketidakseimbangan supply-demand, pengembangan model matematis supply–demand, simulasi berbagai skenario kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), serta pengukuran dampak finansial, ekonomi, dan kelembagaan dari implementasi kebijakan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Applied Policy Modeling Research (APMR) yang mengintegrasikan model matematis supply–demand, analisis ekonomi politik kelembagaan, dan simulasi skenario kebijakan berbasis data operasional PT ANTAM periode 2021–2025 serta laporan McKinsey (2025). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gap struktural rata-rata sebesar 25,63 ton per tahun bukan disebabkan oleh keterbatasan geologi, melainkan oleh tujuh hambatan institusional, terutama distorsi fiskal dan belum tersedianya mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) emas. Utilisasi Pabrik Logam Mulia (PLM) Pulogadung yang hanya mencapai 38,4% dari kapasitas terpasang sebesar 100 ton per tahun mengindikasikan bahwa permasalahan utama terletak pada aspek tata kelola. Analisis elastisitas menunjukkan nilai Ed sebesar +3,33 pada tahun 2024, yang mengonfirmasi karakteristik permintaan emas sebagai instrumen investasi yang bersifat procyclical. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario DMO Hybrid merupakan alternatif kebijakan yang paling optimal dengan potensi reduksi impor rata-rata sebesar 51,5%, penghematan devisa sebesar US$5,03–9,60 miliar dalam lima tahun, peningkatan utilisasi PLM, serta penguatan hilirisasi emas nasional. Penelitian ini merekomendasikan penerbitan Peraturan Menteri ESDM mengenai DMO Emas berbasis model hybrid, revisi PMK Nomor 51 Tahun 2025 untuk mengurangi distorsi fiskal, pembangunan sistem informasi nasional supply-demand emas, serta transformasi ANTAM menuju hybrid sourcing model yang terintegrasi dengan agenda hilirisasi nasional tahun 2025–2030.
PERANCANGAN KAWASAN TEPI AIR SEBAGAI DESTINASI WISATA DI TANJUNGPANDAN BELITUNG DENGAN PENDEKATAN URBAN REGENERATION
Pariwisata perkotaan menjadi strategi pembangunan utama kota kontemporer. Di Kabupaten Belitung, moratorium timah 2023–2024 menggeser orientasi ekonomi ke sektor pariwisata, didukung status destinasi prioritas nasional dan UNESCO Global Geopark. Sebagai gerbang wisata, Tanjungpandan memiliki aset strategis kawasan tepi air (5,2 km) dan simpul warisan budaya (heritage nodes). Namun, kawasan ini masih sekadar menjadi titik transit singkat akibat degradasi lingkungan, terputusnya koneksi tepi air dengan heritage nodes, kerentanan banjir, dan terbengkalainya sejarah kota. Penelitian ini bertujuan merancang tepi air Tanjungpandan sebagai destinasi wisata melalui pendekatan urban regeneration yang mengintegrasikan aspek fisik-ekologis, spasial-fungsional, dan sosio-kultural. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data lapangan, analisis makro-mikro, analisis potensi-masalah, gap analysis, studi preseden, serta analisis SWOT-TOWS. Hasil perancangan berupa kerangka desain hingga masterplan seluas ±32,9 hektar dengan lima zona tematik. Melalui strategi Stitching Mechanism, desain ini merajut kembali tepi air dengan heritage nodes, mengaktifkan marina, dan menerapkan infrastruktur biru-hijau untuk mitigasi banjir. Kebaruan studi ini terletak pada model regenerasi yang memadukan pariwisata, resiliensi lingkungan, dan identitas lokal pada kota yang bertransisi dari ekonomi ekstraktif. Kesimpulannya, urban regeneration mampu mereposisi Tanjungpandan dari sekadar titik transit menjadi destinasi wisata yang tangguh, berkelanjutan, dan beridentitas lokal.
PERANCANGAN RUANG TERBUKA BERBASIS INFRASTRUKTUR HIJAU DI KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA
Kawasan Cagar Budaya (KCB) Kotabaru Yogyakarta merupakan pusat aktivitas beridentitas Garden City yang kini mengalami dinamika perkembangan fungsi ruang. Transformasi tersebut memicu berbagai persoalan spasial pada ruang terbuka publik, khususnya di sekitar simpul Stadion Kridosono dan koridor sekitarnya. Permasalahan utama meliputi belum optimalnya pemanfaatan stadion sebagai ruang terbuka publik inti, konflik kebutuhan ruang antara area publik dan permukiman, alih fungsi ruang hijau menjadi lahan terbangun, tingginya dominasi kendaraan, serta jaringan jalur pejalan kaki yang belum terintegrasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi penataan ulang untuk mengoptimalkan kawasan tersebut sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sekaligus pusat aktivitas komunal. Perancangan ini menerapkan pendekatan infrastruktur hijau untuk menempatkan RTH sebagai inti pengembangan kawasan. Melalui fragmental process sebagai metode perancangan, studi ini mengintegrasikan analisis deskriptif dan perhitungan Indeks Hijau-Biru Indonesia (IHBI). Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, digitasi citra satelit, dan kompilasi data sekunder. Sebagai respons desain, diterapkan empat prinsip utama: activate the public realm, historic identity, enhancing green infrastructure, dan seamless connectivity. Strategi perancangan diwujudkan melalui pemertahanan struktur ruang eksisting, rekonfigurasi jaringan sirkulasi kendaraan dan pedestrian, optimalisasi Stadion Kridosono sebagai simpul utama, penciptaan koridor jalan yang aktif, serta pengintegrasian elemen hijau. Strategi tersebut disimulasikan pada Stadion Kridosono dan tiga koridor utama, yaitu Jalan Suroto, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Lempuyangan. Simulasi ini menghasilkan rancangan aksis ruang terbuka yang menerus dan berpusat di Kridosono. Melalui penerapan infrastruktur hijau, perhitungan IHBI menunjukkan peningkatan persentase RTH di KCB Kotabaru sebesar 5,67% (dari 13,53% menjadi 19,20%), serta menyumbang kenaikan proporsi RTH skala Kota Yogyakarta sebesar 0,13% (dari 18,69% menjadi 18,82%). Ruang-ruang ini tidak hanya berhasil ditransformasikan menjadi wadah aktivitas publik harian, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kapasitas ruang terbuka hijau, sekaligus melestarikan identitas historis Kotabaru sebagai kawasan perkotaan berkonsep Garden City.
REHABILITASI KESEHATAN MENTAL DENGAN PRINSIP HEALING ARCHITECTURE SEBAGAI RESPON ISU DEPRESI DI KOTA BANDUNG
Sebanyak 28 juta masyarakat Indonesia berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental, dengan 87% penderita depresi tercatat tidak mencari pengobatan (Kemenkes, 2023). Kelompok usia 15–24 tahun tercatat memiliki prevalensi depresi tertinggi, sebesar 2%. Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan tenaga profesional di Indonesia, dengan rasio psikiater mencapai 1 banding 250.000 penduduk, berbeda dari standar WHO sebesar 1:30.000. Stigma yang ada dan tumbuh di masyarakat membentuk kecenderungan penderita mengisolasi diri dan menunda pencarian bantuan profesional. Di Kota Bandung, kemacetan kronis akibat 2,2 juta kendaraan untuk 2,4 juta jiwa serta keterbatasan ruang terbuka hijau (12,3% dari standar minimum 30%) menjadi faktor tambahan yang memicu stres pada masyarakat perkotaan. Kondisi tersebut menjadi latar belakang bagi kebutuhan fasilitas yang dapat mengakomodasi layanan kesehatan mental secara terbuka dan terintegrasi dengan aktivitas publik. Penentuan tipologi didasarkan pada kebutuhan ruang yang mengaburkan batas antara fasilitas kesehatan mental dan ruang publik, sebagai respon terhadap tiga isu utama: akses layanan psikologis bagi kaum muda, ruang interaksi sosial dan dukungan komunitas, serta tekanan psikologis di lingkungan perkotaan. Fungsi tersebut diimplementasikan melalui integrasi layanan psikologi dan psikiatri dengan area komersial, restoran, pusat kebugaran, dan spa dalam satu bangunan. Kawasan Jalan Dipati Ukur, yang berbatasan dengan Jalan Teuku Umar, ditentukan sebagai tapak perancangan. Melalui prinsip cahaya alami, elemen biofilik, keseimbangan ruang, dan kontrol sensoris, Healing Architecture diwujudkan ke dalam tiga pilar respons desain. Pendekatan ini menciptakan lingkungan binaan yang aksesibel bagi layanan rehabilitasi, terintegrasi secara fungsi, dan memulihkan kondisi psikologis. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis perilaku pengguna, serta studi komparatif terhadap tipologi fasilitas sejenis di tingkat nasional dan internasional, dengan hasil berupa gubahan massa yang merespons batas tapak melalui subtraksi volume tengah, pemisahan massa untuk sirkulasi, dan penyesuaian elevasi untuk penetrasi cahaya matahari, serta zonasi vertikal dengan tingkat privasi yang meningkat pada lantai atas. Perancangan proyek bertujuan mewujudkan fasilitas yang mengintegrasikan fungsi klinis, wellness, dan publik sebagai respon terhadap isu kesehatan mental pada kelompok muda. Luaran yang dituju berupa tipologi bangunan yang berkontribusi pada peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental, pengurangan stigma sosial, serta penguatan sistem dukungan bagi generasi muda di Kota Bandung
ANALISIS DISTRIBUSI DOSIS BNCT PADA OTAK BERBASIS PHANTOM BOLA BERLAPIS MENGGUNAKAN SIMULASI MONTE CARLO PHITS
Boron Neutron Capture Therapy (BNCT) merupakan radioterapi berbasis neutron yang berpotensi memberikan dosis radiasi tinggi secara selektif pada tumor otak melalui reaksi ¹?B(n,?)?Li. Efektivitas terapi ini dipengaruhi oleh distribusi fluks neutron epitermal dan dosis radiasi pada jaringan target maupun jaringan sehat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh energi neutron sumber dan kedalaman jaringan terhadap fluks neutron termal dan dosis BNCT, hubungan konsentrasi Boron dengan dosis boron pada Gross Tumor Volume (GTV), serta selektivitas dosis melalui parameter Tumor-to-Brain Ratio (TBR) dan Tumor-toSkin Ratio (TSR). Simulasi dilakukan dengan metode Monte Carlo menggunakan PHITS pada phantom kepala berbasis bola berlapis (GTV, CTV, PTV, otak, tulang tengkorak, kulit) dengan komposisi material mengacu ICRP. Sembilan skenario disimulasikan dari kombinasi tiga energi neutron sumber (5,0×10??; 5,0×10??; 5,0×10?? MeV) dan tiga konsentrasi Boron (30, 40, 50 µg/g), dengan fluks dihitung via tally T-Track dan dosis via tally T-Deposit. Hasil menunjukkan energi neutron dan kedalaman berpengaruh signifikan terhadap fluks termal, dengan titik persilangan (crossing point) pada kedalaman 3–4 cm antara neutron berenergi rendah (unggul di kedalaman dangkal) dan tinggi (unggul di kedalaman besar). Dosis boron pada GTV berbanding lurus terhadap konsentrasi Boron, dengan gradien tercuram pada energi 5×10?? MeV. Nilai TBR berkisar 1,7– 2,8 dan TSR 1,75–3,5, keduanya meningkat seiring naiknya konsentrasi boron dan energi neutron. Kombinasi boron 50 µg/g dan energi 5×10?? MeV memberikan dosis boron GTV serta selektivitas (TBR/TSR) tertinggi, menjadi kondisi optimum pada model yang dikaji.
ANALISIS REAKSI SAHAM SEKTOR MIGAS DI PASAR MODAL INDONESIA TERHADAP PERISTIWA DOMESTIK DAN GLOBAL TERKAIT ENERGI DENGAN METODE EVENT STUDY DAN INTERVENTION TIME SERIES
Sektor minyak dan gas bumi merupakan sektor yang sensitif terhadap informasi domestik dan global, seperti kebijakan energi, harga minyak dunia, nilai tukar, serta kondisi geopolitik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis reaksi saham sektor migas di pasar modal Indonesia terhadap peristiwa domestik dan global terkait energi menggunakan metode event study dan intervention time series. Analisis dilakukan pada sepuluh saham sektor migas yang terdaftar serta aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Metode event study digunakan untuk menguji reaksi pasar terhadap kenaikan harga BBM subsidi tahun 2022 melalui indikator abnormal return (AR), trading volume activity (TVA), dan security return variability (SRV). Selanjutnya, metode intervention time series digunakan untuk menganalisis pengaruh beberapa peristiwa energi terhadap AR saham sektor migas menggunakan model ARMA–GARCH dengan variabel intervensi pulse dan step. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi saham sektor migas tidak seragam antara agregat sektor dan individual emiten. Hasil event study menunjukkan adanya pola reaksi pasar melalui AR, TVA, dan SRV, meskipun tidak seluruh perubahan signifikan secara statistik. Sementara itu, hasil analisis intervensi dengan model utama ARMA(0,0)–GARCH(1,1) menunjukkan bahwa Perang Rusia–Ukraina, kenaikan harga BBM subsidi, dan Kepmen ESDM 91/2023 terkait HGBT berpengaruh signifikan terhadap AR agregat sektor. Pengaruh tersebut muncul dalam bentuk pulse sehingga respons pasar lebih mencerminkan reaksi sesaat pada event date bukan perubahan rata-rata AR yang berkelanjutan. Pada tingkat individual, respons saham bersifat heterogen dan bergantung pada karakteristik masing-masing emiten. Dengan demikian, kedua metode memberikan gambaran yang saling melengkapi mengenai reaksi pasar modal terhadap peristiwa energi.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO DENGAN KAPASITAS TERPASANG 2 X 0,75 MW PADA PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN CIJUREY PAKET I, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Bendungan Cijurey, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan upaya pemanfaatan infrastruktur bendungan untuk mendukung penyediaan energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan teknis PLTM serta mengevaluasi kelayakan ekonominya. Metodologi penelitian meliputi analisis hidrologi, perencanaan hidrolika bangunan, penentuan elevasi rumah pembangkit, serta analisis finansial. Elevasi powerhouse ditentukan berdasarkan pemodelan banjir rencana periode ulang 100 tahun dengan debit puncak sebesar 341,99 m³/s untuk menjamin keamanan infrastruktur. Hasil analisis menunjukkan daya bangkitan rata-rata sebesar 1.586,81 kW pada tahun basah, 1.002,36 kW pada tahun normal, dan 976,30 kW pada tahun kering. Produksi energi listrik tahunan masing-masing mencapai 7,69 GWh, 6,23 GWh, dan 5,00 GWh. Dengan biaya konstruksi sebesar Rp32.452.805.332, proyek ini dinilai layak secara finansial dengan NPV sebesar Rp6.620.704.916,16, IRR 13,48%, BCR 1,204, dan Payback Period 8,71 tahun.
RANCACILI 3.0: REKONFIGURASI RUANG TRANSISI PRIVAT-PUBLIK SEBAGAI STRATEGI PEMULIHAN SOSIAL PADA HUNIAN VERTIKAL
Pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan di Kota Bandung memicu backlog perumahan hingga lebih dari 636.000 unit. Sebagai solusi, pemerintah menghadirkan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) untuk mengoptimalkan lahan melalui hunian vertikal. Namun, pendekatan rusunawa konvensional kerap memunculkan "paradoks hunian vertikal", sebagaimana terjadi di Rusunawa Rancacili, kawasan yang secara historis menjadi titik pendaratan bagi warga terdampak normalisasi bantaran sungai (Cikapundung/Citarum) maupun penggusuran permukiman padat di Kota Bandung. Sebagai hunian relokasi, kondisi rusunawa saat ini memicu trauma sosio-spasial, hilangnya ruang komunal dan interaksi, fragmentasi komunitas, potensi konflik antarwarga, hingga matinya ekosistem usaha mikro (UMKM) warga, yang diperparah oleh kondisi bangunan yang mangkrak dan kurang terawat. Merespons permasalahan tersebut, tugas akhir ini mengusulkan proyek "Rancacili 3.0: Rekonfigurasi Ruang Transisi Privat-Publik sebagai Strategi Pemulihan Sosial". Perancangan ini bertujuan meredefinisi standar hunian vertikal relokasi menjadi ekosistem kampung vertikal yang berdaya dan bermartabat. Pendekatan utama yang digunakan adalah Architecture as Repair, yang memosisikan arsitektur sebagai instrumen katalis pemulihan trauma relokasi sekaligus katalis perbaikan jaringan sosial-ekonomi penghuni. Strategi intervensi dirumuskan melalui tiga aspek utama, yaitu reintegrasi ekonomi mikro warga, penyediaan lingkungan hunian yang aman dan terpadu, serta optimalisasi ruang komunal untuk memfasilitasi interaksi sosial antarwarga. Rusunawa Rancacili dipilih sebagai studi kasus karena merepresentasikan kompleksitas persoalan nyata, yaitu desain rusunawa konvensional, kondisi bangunan yang kurang terawat, serta profil penghuni Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang sangat bergantung pada integrasi ruang dan ekonomi. Melalui tugas akhir ini, perancangan hunian vertikal diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan ruang tinggal dasar, tetapi juga dapat diimplementasikan sebagai model perbaikan struktur komunitas dan alat pemberdayaan masyarakat bagi kawasan permukiman padat perkotaan lainnya di Indonesia.
PERANCANGAN INDUSTRI KEMASAN BIOPLASTIK BERBASIS PATI UBI JALAR DENGAN PENAMBAHAN GLISEROL DAN KITOSAN
Perancangan industri kemasan bioplastik berbasis pati ubi jalar ini disusun sebagai upaya pengembangan alternatif kemasan ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik konvensional. Plastik konvensional masih banyak digunakan dalam sektor pangan karena praktis, ringan, dan murah, namun sulit terdegradasi secara alami sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Ubi jalar dipilih sebagai bahan baku utama karena mengandung pati yang mampu membentuk film, berasal dari sumber daya terbarukan, mudah diperoleh, serta berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Sistem pascapanen yang dirancang mencakup proses produksi bioplastik mulai dari penerimaan dan sortasi ubi jalar, pencucian, pengupasan, penghancuran, pencampuran ubi jalar dengan air, pengendapan pati, ekstraksi pati basah, pengeringan, penggilingan, pengayakan, pembuatan larutan pati dan kitosan, penambahan gliserol, pencetakan, pengeringan bioplastik, pemotongan, pembentukan kemasan, pemasangan strip perekat, pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi. Alur proses dirancang secara berurutan untuk menjaga efisiensi produksi, higienitas, serta kestabilan mutu produk akhir. Inovasi yang dikembangkan adalah kemasan bioplastik berbasis pati ubi jalar dengan penambahan kitosan dan gliserol. Pati ubi jalar berperan sebagai bahan utama pembentuk film, kitosan berfungsi memperbaiki struktur film dan memberikan potensi sifat antimikroba, sedangkan gliserol berperan sebagai plasticizer untuk meningkatkan fleksibilitas bioplastik. Inovasi ini dipilih karena memiliki keseimbangan antara kualitas produk, kemudahan proses produksi, biaya bahan, dan potensi keuntungan dibandingkan alternatif formulasi lainnya. Dengan adanya penambahan kitosan dan gliserol, produk yang dihasilkan diharapkan memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan bioplastik berbasis pati murni yang cenderung rapuh dan sensitif terhadap air. Kapasitas produksi yang dirancang adalah 14,4 kg bioplastik per hari atau sekitar 960 unit kemasan per hari. Produk akhir berupa kemasan bioplastik kering yang telah dipotong, dibentuk, diberi strip perekat, dikemas, dan siap didistribusikan kepada konsumen. Keunggulan produk ini terletak pada penggunaan bahan alami dan terbarukan, sifatnya yang biodegradable, lebih ramah lingkungan, serta berpotensi digunakan sebagai alternatif kemasan untuk produk pangan dan hortikultura. Produk juga dirancang agar memiliki nilai 3 fungsional, tidak hanya sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai kemasan berkelanjutan yang mendukung pengurangan limbah plastik. Dari aspek fasilitas dan utilitas, industri bioplastik dirancang dengan pembagian area produksi yang terdiri dari area basah, area kering, area penyimpanan, area utilitas, dan area pendukung pekerja. Pembagian area ini bertujuan untuk menjaga kelancaran alur produksi, meminimalkan kontaminasi silang, serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan kerja. Kebutuhan utilitas utama meliputi air untuk proses pencucian, sanitasi, dan formulasi larutan, serta listrik untuk pengoperasian peralatan produksi. Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa rancangan sistem pascapanen bioplastik berbasis pati ubi jalar layak untuk direalisasikan. Dengan asumsi harga jual sebesar Rp3.500 per unit, kapasitas penjualan 960 unit per hari atau 350.400 unit per tahun, umur proyek selama 10 tahun, WACC sebesar 14,21%, serta inflasi 2,7% per tahun, diperoleh pendapatan tahun pertama sebesar Rp1.226.400.000. Investasi awal (CAPEX) yang dibutuhkan sebesar Rp214.673.018, dengan nilai Gross Profit Margin (GPM) sebesar 8%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp250.698.127, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 37,79%, Break Even Point (BEP) sebesar 298.784 unit per tahun, Payback Period (PP) selama 2,27 tahun, dan Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,08. Nilai NPV yang positif, IRR yang lebih tinggi daripada WACC, BCR yang melebihi satu, serta periode pengembalian modal yang lebih singkat dibandingkan umur proyek menunjukkan bahwa sistem pascapanen yang dirancang memiliki prospek finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan sebagai usaha skala kecil hingga menengah. Selain itu, hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kuantitas penjualan dan harga kitosan merupakan variabel yang paling memengaruhi kelayakan finansial, sehingga strategi pemasaran, kepastian penyerapan pasar, dan efisiensi penggunaan bahan perlu menjadi perhatian utama dalam implementasi sistem ini.
PENGARUH KONSENTRASI BIOSTIMULAN DAN REDUKSI PUPUK KIMIA NPK TERHADAP KOMPONEN HASIL DAN KUALITAS JAGUNG MANIS (ZEA MAYS SACCHARATA) VARIETAS F1 PARAGON
Jagung manis (Zea mays saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang permintaannya terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, namun produktivitasnya masih menghadapi kendala akibat degradasi kesuburan tanah dan penggunaan pupuk kimia secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi konsentrasi biostimulan dan tingkat reduksi pupuk kimia NPK yang paling optimal dalam meningkatkan komponen hasil dan kualitas jagung manis. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan SITH ITB, Desa Haurngombong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada September–Desember 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan dan empat ulangan, terdiri atas kombinasi konsentrasi biostimulan (2, 4, dan 6 g/L) dengan tingkat reduksi pupuk NPK (75%, 50%, dan tanpa NPK) serta kontrol 100% NPK tanpa biostimulan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% (? = 0,05) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi biostimulan 4 g/L dengan reduksi NPK sebesar 50–75% (perlakuan P4 dan P5) menghasilkan komponen hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan panjang, diameter, dan bobot tongkol, baik berkelobot maupun tanpa kelobot, serta mampu mempertahankan kualitas jagung manis melalui penurunan kadar air dan peningkatan nilai °Brix serta gula reduksi dibandingkan kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa aplikasi biostimulan pada konsentrasi 4 g/L yang dikombinasikan berpotensi menjadi strategi budidaya jagung manis yang lebih efisien dan berkelanjutan
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG PERWUJUDAN KOTA CIMAHI SEBAGAI PUSAT INDUSTRI NON-POLUTIF
Kota Cimahi memiliki karakteristik sebagai kota industri dengan sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebagai sektor yang dominan. Di sisi lain, aktivitas industri TPT berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan sehingga pengembangan industri perlu diarahkan pada penerapan prinsip industri ramah lingkungan untuk mendukung perwujudan Kota Cimahi sebagai pusat industri nonpolutif. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan industri ramah lingkungan pada industri TPT di Kota Cimahi. Penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik dengan metode analisis deskriptif kualitatif melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara. Analisis dilakukan melalui tiga sasaran penelitian, yaitu identifikasi struktur industri Kota Cimahi, analisis kesenjangan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal industri ramah lingkungan, serta perumusan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri TPT menjadi sektor yang dominan pada struktur industri Kota Cimahi dan memiliki rantai nilai yang relatif lengkap dari tahap hulu, antara, hingga hilir. Analisis kondisi eksisting menunjukkan bahwa penerapan industri ramah lingkungan pada industri sampel telah dilakukan pada berbagai tingkat kematangan, sedangkan analisis kondisi ideal berdasarkan dokumen perencanaan menunjukkan adanya arahan pengembangan yang mencakup seluruh tingkat kematangan industri ramah lingkungan. Perbandingan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal menunjukkan adanya kesenjangan pada setiap tingkat kematangan yang berkaitan dengan komitmen lingkungan, aktivitas pengelolaan lingkungan, sistem pendukung, inovasi dan teknologi, serta kolaborasi dan keberlanjutan. Berdasarkan kesenjangan tersebut, diidentifikasi kebutuhan pengembangan yang dijadikan dasar dalam perumusan strategi pengembangan industri ramah lingkungan untuk mendukung transformasi industri TPT yang lebih berkelanjutan di Kota Cimahi.