π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenEVALUASI METODE PENGUKURAN LATERAL FRACTION (LF) DAN INTERAURAL CROSS-CORRELATION (IACC) BERBASIS MIKROFON AMBISONIK
Evaluasi kualitas akustik ruang tidak hanya ditentukan oleh parameter energi dan peluruhan waktu, tetapi juga oleh parameter spasial yang menggambarkan kesan ruang secara komprehensif. Dua parameter objektif spasial yang esensial berdasarkan standar ISO 3382-1 adalah Lateral Fraction (LF) dan Interaural Cross-Correlation (IACC). Secara konvensional, pengukuran LF menuntut kombinasi mikrofon omnidireksional dan bidireksional yang tersusun secara koinsiden, sedangkan ekstraksi IACC mensyaratkan perangkat binaural fisis seperti Head and Torso Simulator (HATS). Mengingat tingginya keterbatasan biaya, kompleksitas konfigurasi fisis, serta sensitivitas orientasi dari instrumen referensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan kelayakan instrumen alternatif yang lebih praktis, yakni mikrofon ambisonik komersial Zoom H3-VR, untuk karakterisasi parameter LF dan IACC. Pengujian fisis dilakukan di dalam Anechoic Chamber Laboratorium Adhiwijogo, Program Studi Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, guna mengamankan kondisi medan bebas (free-field) tanpa interferensi akustik ruangan. Karakterisasi dilakukan dengan mengakuisisi sinyal eksitasi Exponential Sine Sweep (ESS) yang kemudian dikonversi dari ranah fisis A-format menjadi matriks ortogonal B-format. Kanal W dan Y pada matriks tersebut dialokasikan secara langsung untuk kalkulasi nilai LF, sementara keseluruhan sinyal B-format diproses secara komputasional melalui dekoding binaural untuk mensintesis nilai IACC. Seluruh perolehan nilai dari instrumen ini kemudian dikomparasikan terhadap nilai rujukan analitis dari simulasi medan bebas EASE 5 dengan mengevaluasi selisih deviasi, bias, rentang galat maksimum, serta batas toleransi Just Noticeable Difference (JND). Hasil analisis komparatif menunjukkan bahwa ekstraksi nilai IACC dari perangkat Zoom H3-VR memiliki tingkat validitas yang tinggi pada pita frekuensi 125β500 Hz, menyentuh batas ambang toleransi pada 1 kHz, dan mulai menyimpang secara signifikan pada pita 2 kHz serta 4 kHz. Tercatat 26 dari 78 titik data pengujian melampaui ambang batas JND, dengan konsentrasi galat tertinggi pada rentang frekuensi 1β4 kHz yang dipicu oleh keterbatasan resolusi First-Order Ambisonics (FOA) serta fenomena spatial aliasing. Pada evaluasi parameter LF, instrumen ini mencatatkan nilai galat keseluruhan yang sangat rendah yakni sebesar 0,035, dengan penyimpangan yang hanya terjadi secara fokal pada sudut 90Β° di pita frekuensi rendah. Kesimpulannya, Zoom H3-VR terbukti layak difungsikan sebagai instrumen alternatif yang valid untuk pengukuran parameter spasial LF dan IACC pada pita frekuensi rendah hingga menengah, sementara pengukuran IACC pada frekuensi tinggi mensyaratkan koreksi tambahan atau validasi silang dengan instrumen standar ISO 3382.
PENENTUAN PREMI ASURANSI KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DENGAN SKENARIO PERUBAHAN IKLIM DI PROVINSI RIAU
Kebakaran lahan gambut di Provinsi Riau merupakan bencana tahunan yang menimbulkan dampak ekologis dan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi probabilitas terjadinya kebakaran lahan gambut secara spasio-temporal serta mengkuantifikasi risiko kerugian ekonomi yang ditimbulkannya. Prediksi peluang kebakaran dilakukan berdasarkan variabel iklim menggunakan pendekatan Machine Learning berbasis Convolutional Long Short Term Memory (ConvLSTM) untuk memodelkan parameter iklim (temperatur, curah hujan, dan kelembapan tanah) di wilayah Riau. Estimasi tingkat kerugian ekonomi dilakukan menggunakan pendekatan Simulasi Monte Carlo. Hasil simulasi digunakan untuk menghitung total kerugian agregat untuk setiap iterasi. Barisan data kerugian agregat kemudian berguna untuk mengestimasi harga premi murni asuransi kebakaran lahan gambut dengan periode bulanan dan tahunan. Pengukuran risiko dari kerugian agregat dilakukan menggunakan metrik Value at Risk (VaR), Tail Value at Risk (TVaR), dan Tail Variance (TV) pada tingkat kepercayaan 75%, 85%, dan 95%. Dipertimbangkan juga perhitungan premi dengan berbagai jenis modifikasi asuransi (deductible, policy limit, coinsurance, dan gabungan). Untuk mengatasi dinamisnya perubahan iklim, dilakukan analisis sensitivitas perubahan iklim terhadap premi asuransi. Perhitungan premi murni beserta modifikasinya dilakukan kembali dalam kondisi perubahan iklim. Perubahan iklim dibagi menjadi 2, yaitu pemanasan dan pengeringan serta pendinginan dan pembasahan. Hasil estimasi premi menunjukkan bahwa perubahan iklim mengakibatkan adanya perubahan peluang kebakaran yang menyebabkan peningkatan dan penurunan harga premi.
FORMULASI STRATEGI TRANSFORMASI OPERASIONAL INDUSTRI PERTAHANAN MENGGUNAKAN INTEGRASI DELPHI-AHP DAN KERANGKA TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PT LEN INDUSTRI (PERSERO)
Pembentukan Holding BUMN Industri Pertahanan (DEFEND ID) pada tahun 2021 menandai tonggak sejarah yang signifikan bagi lanskap pertahanan Indonesia, menempatkan PT Len Industri (Persero) sebagai perusahaan induk yang bertugas memimpin ekosistem teknologi pertahanan nasional. Meskipun berhasil mencapai pendapatan komersial yang substansial dan memenuhi mandat strategis untuk menyokong kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) domestik, PT Len Industri (Persero) menghadapi kerentanan struktural dan operasional yang krusial. Beroperasi dalam lingkungan manufaktur High-Mix Low-Volume (HMLV) yang sangat kompleks, perusahaan saat ini berjuang mengatasi kesenjangan kinerja operasional yang persisten. Masalah yang paling menonjol adalah Cost of Poor Quality (COPQ) yang mengalami peningkatan, menyerap antara 2,4% hingga 3,9% dari Cost of Revenue dari tahun 2022 hingga 2025. Erosi profitabilitas yang tersembunyi ini diperburuk oleh tingginya rasio penolakan (reject) dan pengerjaan ulang (rework), kekurangan kompetensi teknis, dan tidak adanya mekanisme transfer pengetahuan formal, yang menciptakan kerapuhan sistemik dalam kapasitas organisasi untuk mempertahankan kualitas. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi transformasi operasional berbasis bukti yang berfokus pada dua pilar penting: pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement Culture) dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (Human Capital Enhancement). Untuk memastikan evaluasi keberlanjutan organisasi yang komprehensif, strategi yang diusulkan dievaluasi menggunakan kerangka pengukuran kinerja Triple Bottom Line (TBL) tertimbang, yang mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang disesuaikan secara khusus dengan konteks industri pertahanan HMLV. Penelitian ini menggunakan paradigma pragmatisme melalui desain sekuensial eksploratori metode campuran (mixed-methods). Data kualitatif primer dikumpulkan secara cermat melalui wawancara semi-terstruktur dengan Dewan Direksi PT Len Industri (Persero) dan pengguna akhir utama dari Kementerian Pertahanan. Setelah eksplorasi kualitatif, metode Modified Delphi dua putaran yang melibatkan panel yang dikurasi dengan cermat yang terdiri dari 12 pakar digunakan. Proses ini bertujuan untuk memvalidasi dan menghitung bobot rasio penerapan (applicability-ratio) dari indikator kinerja TBL. Selanjutnya, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mengevaluasi, menimbang, dan memprioritaskan intervensi strategis yang diusulkan secara sistematis. Metode Modified Delphi berhasil memvalidasi kerangka kerja kuat yang terdiri dari 35 indikator kinerja TBL tertimbang yang dikontekstualisasikan untuk sektor pertahanan. Temuan menunjukkan bahwa metrik seperti COPQ dan Reject Rate (Ekonomi), Technology and Manufacturing Readiness Level (TRL/MRL), Transfer Pengetahuan (Sosial), dan Kepatuhan Regulasi Lingkungan (Lingkungan) muncul sebagai prioritas dengan bobot tertinggi. Evaluasi garis dasar (baseline) terhadap target strategis 2029 menunjukkan bahwa 12 dari 35 indikator saat ini berada jauh di bawah target, membenarkan kebutuhan mendesak untuk intervensi struktural. Lebih lanjut, analisis AHP secara kuantitatif menetapkan bahwa pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (bobot 60,2%) memegang prioritas dasar di atas Peningkatan Kapasitas SDM (bobot 39,8%). Di antara alternatif strategis yang dievaluasi, penerapan Lean Six Sigma Enterprise (LSS) menempati peringkat sebagai prioritas global teratas (31,31%), diikuti oleh Digital Manufacturing Integration (26,68%). Secara bersamaan, Knowledge Management System (KMS) dan Supply Chain Optimization (SCO) diidentifikasi melalui Matriks Prioritas sebagai langkah cepat (Quick Wins) yang sangat layak diterapkan dan memberikan dampak strategis yang substansial. Sebagai kesimpulan, tesis ini menyintesis temuan-temuan tersebut ke dalam peta jalan (roadmap) transformasi operasional 3 tahun yang preskriptif dan bertahap. Tahun fondasi pertama menekankan implementasi komprehensif metodologi 5S, manajemen visual, dan pembentukan Kantor Keunggulan Transformasi (Transformation Excellence Office). Tahun akselerasi kedua berfokus pada Value Stream Mapping dan integrasi Lean Six Sigma Green/Black Belt. Tahun kematangan terakhir melembagakan Total Productive Maintenance (TPM) dan budaya Kaizen yang mandiri. Untuk menjamin eksekusi yang berkelanjutan, studi ini sangat merekomendasikan integrasi inisiatif-inisiatif ini melalui arsitektur tata kelola yang kuat yang dikendalikan oleh sistem penyelarasan strategis Hoshin Kanri. Pada akhirnya, penelitian ini menyediakan kerangka kerja TBL pertama yang divalidasi secara empiris untuk industri pertahanan milik negara di Indonesia, menawarkan model strategis yang dapat direplikasi untuk produsen pertahanan sejenis.
STUDI ARAH ALIRAN AIR BAWAH PERMUKAAN DI KAWASAN KAMPUS ITB JATINANGOR MENGGUNAKAN METODE SELF-POTENTIAL (SP)
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan arah aliran air bawah permukaan, mengidentifikasi karakteristik litologi akuifer, mengestimasi kedalaman perlapisan, serta menentukan zona recharge dan discharge di kawasan Kampus ITB Jatinangor. Metode yang digunakan adalah integrasi antara metode pasif SelfPotential (SP) untuk analisis lateral dan data sekunder Time-Domain Electromagnetic (TDEM) untuk analisis vertikal. Pengukuran SP dilakukan menggunakan konfigurasi fixed-base dengan menerapkan koreksi base-shift sepanjang lintasan pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai anomali SP di lokasi penelitian bervariasi antara -15 mV hingga 105 mV. Zona resapan (recharge zone) teridentifikasi di dataran tinggi bagian utara kampus, tepatnya di area lapangan bola, yang ditandai oleh anomali SP rendah hingga negatif (mencapai -15 mV) akibat mekanisme potensial elektrokinetik (streaming potential) saat air meresap secara vertikal. Sebaliknya, zona luapan (discharge zone) berada di dataran rendah bagian selatan kampus yang berimpit dengan lokasi dua danau ITB Jatinangor, ditandai oleh akumulasi anomali SP positif tinggi berkisar antara 65 mV hingga 105 mV akibat penumpukan kation. Berdasarkan kontras anomali tersebut, arah aliran air tanah terindikasi kuat bergerak secara lateral dari utara menuju selatan. Analisis vertikal melalui inversi 1D data TDEM (RMSE 5,27%) berhasil memvalidasi sistem hidrogeologi ini dengan mengidentifikasi struktur selangseling (interbedded) vulkanik, berupa lapisan akuifer terbuka (unconfined aquifer) pasir jenuh air pada kedalaman 7,0β13,0 meter (22,8 ?Β·m). Di bawahnya, ditemukan lapisan kedap air (aquitard) berupa lempung pada kedalaman 13,0β18,0 meter (8,7 ?Β·m) yang menyekat rangkaian sistem akuifer tertutup (confined aquifer) berupa pasir jenuh air pada kedalaman 18,0β25,0 meter (25,4 ?Β·m) dan 33,0β45,0 meter (13,6 ?Β·m). Integrasi kedua metode ini memberikan indikasi kualitatif yang kuat mengenai model hidrogeologi yang utuh dan konsisten di kawasan Kampus ITB Jatinangor.
RENCANA IMPLEMENTASI KAWASAN EKO-INDUSTRI MINERAL STRATEGIS YANG DIDUKUNG KECERDASAN BUATAN DI BANGKA BELITUNG
Studi kasus akhir ini membahas Bangka Strategic Mineral Eco Estate (BSMEE) sebagai model implementasi hilirisasi mineral strategis di Bangka Belitung. Provinsi ini memiliki sejarah panjang dalam pertambangan timah serta potensi mineral ikutan, seperti logam tanah jarang, zirkon, kuarsa berkadar tinggi, dan ilmenit. Namun, ekosistem mineral yang ada masih terfragmentasi antara kegiatan pertambangan, pengolahan, logistik, perencanaan kawasan industri, tata kelola data, dan koordinasi kelembagaan. Akibatnya, nilai tambah mineral belum sepenuhnya tertangkap di tingkat daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui telaah kebijakan, analisis data sekunder, kajian literatur eco-industrial park, serta masukan dari wawancara pemangku kepentingan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya mineral atau kawasan industri, melainkan pada lemahnya keterhubungan antara pasokan bahan baku, kapasitas pengolahan, infrastruktur, sistem data, dan kewenangan kelembagaan. Karena itu, BSMEE tidak hanya diposisikan sebagai kawasan industri, tetapi sebagai ekosistem mineral yang terkoordinasi. Model yang diusulkan menggabungkan klaster industri, infrastruktur bersama, industrial symbiosis, sistem Big Data and AI, dan tata kelola bertahap. Implementasinya perlu dimulai dari penyelarasan kelembagaan, pemetaan bahan baku dan produk samping, standardisasi data, pengembangan dasbor digital awal, serta persiapan anchor tenant sebelum masuk ke investasi hilir berskala besar. Penelitian ini memberikan kerangka praktis untuk mendorong Bangka Belitung dari wilayah berbasis mineral hulu menuju ekosistem mineral strategis yang lebih terintegrasi, terlacak, dan bernilai tambah.
PERANCANGAN STRUKTUR PEMECAH GELOMBANG PADA PENGEMBANGAN KOLAM D PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP
Pengembangan Kolam D Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap membutuhkan kondisi perairan yang terlindungi untuk mendukung aktivitas operasional pelabuhan. Pengaruh gelombang yang masuk ke area kolam dapat mengganggu keamanan kapal serta kegiatan tambat dan bongkar muat, sehingga diperlukan struktur pemecah gelombang sebagai bangunan pelindung. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrodinamika kawasan PPS Cilacap sebagai dasar dalam mengevaluasi efektivitas layout breakwater yang direncanakan oleh PT. Haskoning Indonesia dalam mereduksi pengaruh gelombang pada area Kolam D. Analisis distribusi gelombang dilakukan melalui pemodelan hidrodinamika menggunakan Delft3D pada kondisi eksisting dan setelah adanya penambahan struktur breakwater. Hasil pemodelan digunakan sebagai dasar perencanaan struktur pemecah gelombang tipe rubble mound serta analisis stabilitas daya dukung tanah terhadap struktur yang direncakan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tinggi gelombang maksimum pada kondisi eksisting sebesar 2.638 m dari arah timur. Setelah penambahan breakwater, tinggi gelombang pada area terlindungi berkurang menjadi 0.049β0.456 m. Struktur yang direncanakan memiliki panjang 1.450 m, elevasi puncak +5.5 m, lebar puncak 3.48 m, tinggi 11.5 m, dan kemiringan 1:2. Analisis stabilitas daya dukung tanah menghasilkan nilai faktor keamanan sebesar 4.65 sehingga struktur memenuhi kriteria keamanan perencanaan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa layout breakwater efektif dalam mereduksi gelombang dan memberikan perlindungan terhadap area Kolam D PPS Cilacap.
ANALISIS NEUTRONIK DESAIN MOLTEN SALT REACTORFUJI DENGAN KOMBINASI ISOTOP U DAN PU SEBAGAI BAHAN FISIL AWAL
Molten salt reactor (MSR), termasuk dalam daftar reaktor generasi IV, menggunakan kombinasi bahan bakar dan pendingin yang terkandung dalam lelehan garam. Pada penelitian, studi neutronik dilakukan pada MSR tipe FUJI-12 dan FUJI-U3 yang dikembangkan oleh International Thorium Molten-Salt Forum (ITMSF) Jepang menggunakan modul PIJ dan CITATION dari SRAC2006.. Pendingin yang digunakan adalah FliBe atau LiF-BeF2 dan dicampur dengan berbagai kombinasi bahan bakar berbasis U dan Pu dalam kondisi terpisah maupun tergabung. Penelitian ini membahas tentang penentuan komposisi bahan bakar optimum yang mencapai kritikalitas sesuai dengan referensi pada desain FUJI-12 dan FUJI-U3. Selanjutnya dilakukan tiga skenario refuelling (pengembalian atomic number density isotop tertentu ke kondisi awal) setiap 40 hari sekali. Skenario refuelling yang digunakan adalah pengembalian bahan bakar (tanpa thorium), thorium, dan bahan bakar serta thorium. Proses refuelling disederhanakan dengan menggunakan bahasa pemrograman Bash berbasis Linux. Power Peaking Factor (PPF) merupakan parameter yang berhubungan dengan stabilitas, keamanan, dan efisiensi reaktor. PPF yang rendah menunjukkan reaktor memiliki distribusi rapat daya yang baik agar spek keselamatan reaktor dari segi pemerataan daya reaktor MSR meningkat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah setiap varian bahan bakar memiliki skenario refuelling unggulan tersendiri yang dapat menjaga kondisi superkritis pada reaktor lebih lama, menjaga konsistensi PPF reaktor walaupun desain tidak mempertimbangkan pemerataan spektrum fluks neutron.
MODEL TERINTEGRASI GOVERNMENT VALUE CAPTURE DALAM RANTAI NILAI NIKEL (STUDI EXPORT VALUE, SMELTER MARGIN, DAN PENERIMAAN NEGARA 2017β2024)
dan sejak pelarangan ekspor bijih 2014 dan 2019 menempuh hilirisasi secara agresif. Namun selama 2017β2024 muncul paradoks fiskal: nilai ekspor melonjak ~848% hingga Rp 1.260,58 triliun, tetapi rasio penerimaan negara terhadap nilai ekspor turun dari 27,21% (2018) ke 11,59% (2024) jauh di bawah tolok ukur global (World Bank 20β25%, Chile 40%, Norwegia 78%). Akar masalahnya diduga fragmentasi data dan lemahnya koordinasi antar-lembaga, bukan hilirisasi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi faktor integrasi data penyebab rendahnya penerimaan negara; (2) merancang Nickel Value Chain Integrated Monitoring System (NVIMS) untuk mendeteksi anomali dan ketidaksesuaian pencatatan; serta (3) membangun prototipe dan mensimulasikan kesenjangan penerimaan yang dapat ditangkap, dengan mengkaji lima determinan (Export Value, Smelter Margin, Production Volume, Downstream Level, dan repatriasi DHE). Metode memadukan data panel 112 perusahaan nikel 2017β2024 (896 firm year observations) dari enam institusi dan harga LME/SHFE serta tujuh wawancara, dengan rekonsiliasi silang, Fishbone, dan simulasi what-if. Hasil penelitian mengidentifikasi 94 anomali dan empat ketidaksesuaian sistemik lintas lembaga, volume produksi, ekspor (?Rp 28 triliun/tahun), nilai ekspor realisasi DHE (?USD 5,7 miliar/Rp 85,5 triliun), pendapatan SPT nilai ekspor (?Rp 86,8 triliun/tahun; effective tax rate perusahaan asing hanya 5,99% terhadap tarif 22%), serta royalti actual normatif (?Rp 36 triliun/tahun) total kebocoran ?Rp 198,2 triliun per tahun dari sepuluh perusahaan terbesar. NVIMS tujuh lapis (37 modul, 122 tools) dirinci lengkap pada Layer 1β3 yang memenuhi 21 dari 36 sel Zachman. Simulasi tiga skenario memproyeksikan penerimaan menjadi Rp 63,6/79,5/95,4 triliun (rasio 20/25/30%) dan akumulasi Rp 150β250 triliun dalam lima tahun (ROI >800Γ; Perpres No. 76/2025). Kontribusi penelitian: model holistik government value capture, dataset terkomprehensif (112 perusahaan, delapan tahun) pertama untuk industri nikel Indonesia, serta penggunaan ganda Zachman Framework menjembatani Enterprise Architecture dan Extractive Industry Fiscal Governance.
SYNESTHESIA OF DELIGHT: PERPUSTAKAAN UMUM BERBASIS EXPERIENTIAL DESIGN SCHEMAS SEBAGAI RUANG BELAJAR INFORMAL DI BANDUNG
Bandung merupakan Kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi yang didominasi oleh penduduk usia produktif. Berdasarkan data terbaru dari BPS (tahun 2024-2025), sekitar 65.62% atau sekitar 1.69 juta orang merupakan penduduk usia produktif di Bandung. Banyaknya jumlah penduduk ini perlu diwadahi dalam suatu ruang publik yang mendukung produktivitas dan tetap mementingkan kesejahteraan pengguna di dalamnya. Pertumbuhan minat baca penduduk indonesia juga ditandai dengan munculnya berbagai perpustakaan independen dan ruang baca swasta. Perkembangan minat baca dan produktivitas yang tidak diwadahi dalam ruang publik yang memadai ini kemudian memberikan celah bagi komersialisasi ruang publik dan pada akhirnya tidak inklusif. Dalam tugas akhir ini, solusi ruang yang diajukan adalah sebuah bangunan perpustakaan publik yang mampu mendefinisikan ulang konsep kaku perpustakaan konvensional atau pemahaman awam bahwa perpustakaan hanya sebagai gudang buku. Perpustakaan memiliki fungsi lain sebagai ruang rekreasi edukatif. Oleh karena itu, bangunan perpustakaan publik dalam tugas akhir ini juga difungsikan sebagai informal learning space. Dalam sintesisnya digunakan konsep experiential design schemas. Kerangka kerja ini menjadi alat untuk mengimplementasikan data spasial dan konsep yang ingin diterapkan ke dalam elemen arsitektural dengan melakukan gubahan dalam lima kelompok besar skema: kontras, gradient, flux, rhythm, dan sequence. Konsep-konsep dalam skema ini diterapkan untuk menghasilkan proses multisensori pada indra penerima dan menghasilkan pengalaman dalam penggunaan ruang. Perpustakaan publik dengan fungsi informal learning space ini mengorganisasikan elemen alami (angin dan cahaya matahari) dengankonsep dalam experiential design schemas sehingga bangunan dapat menjadi membran yang memfasilitasi interaksi antara pengguna dan elemen alami untuk meningkatkan kesejarhteraan pengguna. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai utama dan rooftop. Lantai 1 merupakan area publik dengan cafe, lantai 2 berisi ruang baca dan ruang diskusi terbuka, serta lantai 3 berisi ruang baca dan lebih banyak ruang bersekat untuk privasi dan abience(ruang diskusi tertutup, pod individu, dan ruang multimedia). Ketiga lantai ini dihubungkan dengan satu elemen kunci dari konsep arsitektural yang digunakan, yaitu tangga multisensori. Kesimpulannya, bangunan perpustakaan publik dengan konsep eksperiensial desain skema ini mendemonstrasikan pendekatan konsep multisensori yang mampu meningkatkan kualitas belajar dan kesejahteraan pengguna di ruang publik yang dinamis.
STUDI EKSPERIMENTAL PERILAKU MONOTONIK DAN SIKLIK TANAH LEMPUNG LAUT TERKONSOLIDASI LEBIH DENGAN LAMINASI UNTUK DESAIN FONDASI LEPAS PANTAI
Perkembangan infrastruktur lepas pantai di Indonesia yang terus meningkat menuntut keandalan desain fondasi, yang sangat bergantung pada pemahaman perilaku tanah dasar laut, khususnya tanah lempung laut terkonsolidasi lebih (Overconsolidated Marine Clay, OCMC) yang umum dijumpai pada lingkungan sedimen laut. Pada beberapa lokasi, endapan OCMC tidak tersusun homogen, melainkan mengandung struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir dengan ketebalan dan kontinuitas yang bervariasi. Kehadiran laminasi ini berpotensi mengubah perilaku mekanis tanah, baik pada pembebanan monotonik maupun siklik. Sementara itu, sebagian besar basis data dan model perilaku tanah yang digunakan dalam desain fondasi lepas pantai justru dikembangkan dari tanah lempung homogen, sehingga pengaruh laminasi terhadap respons OCMC belum dipahami secara memadai. Penelitian ini bertujuan mengkaji perilaku monotonik dan siklik tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni, Indonesia, sekaligus mengevaluasi kesesuaian pendekatan Cyclic Contour Diagram (CCD) yang umum digunakan dalam analisis fondasi lepas pantai. Kajian difokuskan pada pengaruh struktur laminasi dan tingkat overkonsolidasi terhadap perkembangan regangan, kuat geser niralir, respons tekanan air pori, dan ketahanan siklik tanah. Penelitian ini juga menilai apakah CCD yang dikembangkan dari basis data Drammen Clay mampu merepresentasikan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi di lokasi penelitian. Program penelitian mencakup karakterisasi tanah melalui pengujian sifat indeks, identifikasi mineralogi dengan X-Ray Diffraction (XRD), serta identifikasi struktur internal sampel menggunakan Computed Tomography (CT-scan). Kondisi konsolidasi dievaluasi melalui interpretasi nilai Overconsolidation Ratio (OCR) dari data CPTu dan diverifikasi dengan hasil uji konsolidasi laboratorium. Perilaku monotonik dikaji melalui pengujian Direct Simple Shear (DSS) dan triaksial pada beberapa tingkat OCR, sedangkan perilaku siklik ditelaah melalui pengujian siklik DSS dan triaksial dengan berbagai kombinasi tegangan geser rata-rata dan tegangan geser siklik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah yang diteliti merupakan endapan OCMC dengan nilai OCR umumnya lebih besar dari dua, dengan struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir non-plastis di dalam matriks lempung plastisitas tinggi. Hasil CT-scan memperlihatkan laminasi berbentuk sejajar hingga bergelombang. Pada pembebanan monotonik, peningkatan OCR menghasilkan kekakuan awal dan kuat geser niralir yang lebih tinggi, disertai kecenderungan perilaku yang lebih dilatif. Kuat geser niralir hasil DSS secara umum lebih rendah daripada hasil triaksial; perbedaan ini mengindikasikan adanya pengaruh anisotropi serta orientasi bidang geser terhadap struktur laminasi tanah. Pada pembebanan siklik, peningkatan amplitudo tegangan geser siklik mempercepat akumulasi regangan geser dan menurunkan jumlah siklus menuju kegagalan. Meskipun demikian, tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni menunjukkan ketahanan siklik yang lebih tinggi dibandingkan Drammen Clay: pada rasio tegangan geser rata-rata, rasio tegangan geser siklik, dan tingkat OCR yang setara, jumlah siklus menuju kegagalan secara konsisten lebih besar daripada prediksi basis datanya. Temuan ini menunjukkan bahwa batas kegagalan siklik tanah OCMC berlaminasi berada pada posisi yang berbeda dari CCD referensi, sehingga baik CCD berbasis Drammen Clay maupun faktor penskalaan sederhana belum memadai untuk merepresentasikan perilaku siklik tanah di lokasi penelitian. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian eksperimental yang mengintegrasikan karakterisasi struktur laminasi, perilaku monotonik, dan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi dari Indonesia dalam satu kerangka evaluasi CCD. Penelitian ini memperlihatkan bahwa keberadaan laminasi memengaruhi respons mekanis tanah dan dapat menghasilkan perilaku siklik yang berbeda secara nyata dari tanah lempung homogen yang menjadi basis pengembangan CCD saat ini. Hasil penelitian memperdalam pemahaman perilaku tanah laut berlaminasi, memperkaya basis data perilaku siklik OCMC, serta memberikan justifikasi teknis bagi pengembangan CCD yang bersifat site-specific untuk meningkatkan keandalan desain fondasi lepas pantai pada kondisi tanah yang serupa.
SPEKTROSKOPI ABSORPSI TERSATURASI (SAS) MONOKROMATIK DAN BIKROMATIK PADA RB-87 UNTUK STABILISASI FREKUENSI LASER
Spektroskopi atom beresolusi tinggi merupakan komponen penting dalam pengembangan referensi frekuensi optik presisi dan jam atom. Dalam konteks ini, spektroskopi absorpsi jenuh (SAS), yang menyediakan resolusi sub-Doppler pada temperatur ruang, menawarkan pendekatan yang menarik untuk menghasilkan referensi optik yang stabil. Namun, SAS monokromatik konvensional (mSAS) memiliki keterbatasan dalam jumlah referensi frekuensi yang dapat diakses. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, spektroskopi absorpsi jenuh bikromatik (bSAS) telah diusulkan, yang memungkinkan munculnya tambahan Lamb dip tanpa menyebabkan pelebaran linewidth yang signifikan. Pada penelitian ini, model teoretis spektrum mSAS dan bSAS pada atom alkali dikembangkan menggunakan dua pendekatan komplementer, yaitu pendekatan analitik dan numerik. Selain itu, dikembangkan pula suatu kerangka teoretis untuk memprediksi kestabilan frekuensi pada stabilisasi frekuensi laser berbasis SAS melalui analisis deviasi Allan yang mempertimbangkan kontribusi derau photon shot noise, relative intensity noise (RIN), dan sumber-sumber derau lainnya. Kedua model spektroskopi berhasil mereproduksi Lamb dip sub-Doppler yang sesuai dengan hasil eksperimen. Model numerik memprediksi linewidth Lamb dip dengan lebih akurat dibandingkan model analitik, dengan galat relatif RMS sebesar 26,2% dibandingkan 59,0%. Model kestabilan frekuensi berhasil mereproduksi perilaku kualitatif yang diharapkan dari mekanisme-mekanisme derau dominan, tetapi masih mengestimasi batas white noise eksperimen satu hingga tiga orde magnitudo lebih rendah dan belum mampu mereproduksi perilaku flicker noise yang teramati. Hasil penelitian ini memberikan landasan teoretis untuk pemodelan spektrum SAS dan kestabilan frekuensi laser sekaligus mengidentifikasi arah pengembangan model lebih lanjut.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER LANSIA BERBASIS HIDROTERAPI DI CIPANAS GARUT DENGAN PENDEKATAN WELL-BEING
Mengingat populasi lansia di Indonesia saat ini, khususnya di Jawa barat, menunjukkan peningkatan yang pesat, inovasi fasilitas bagi lansia yang berfokus pada kualitas hidup dan kemandirian, bukan hanya sekadar perawatan, sangatlah dibutuhkan. Namun sayangnya, fasilitas dalam pemenuhan kebutuhan lansia yang bersifat preventif maupun kuratif dalam penuaan sekunder, mendukung aspek sosial, serta ramah terhadap ergonomi lansia belum menjadi perhatian penting di Indonesia. Hal ini memungkinkan lansia berisiko mengalami isolasi sosial sehingga pemenuhan kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Salah satu langkah untuk melakukan pencegahan degenerasi tersebut adalah dengan melakukan terapi. Jenis terapi yang dianjurkan untuk lansia yang memiliki keterbatasan motorik adalah hidroterapi atau terapi air. Sementara itu, Cipanas Garut memiliki sebuah potensi alam yaitu sumber air panas alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung kegiatan terapi air (hydrothermal). Tujuan utama perancangan ini adalah menghasilkan desain interior wellness center berbasis hidroterapi sebagai fasilitas penampung kegiatan terapeutik dan hunian sementara lansia yang secara aktif mendukung karakter well-being di masa tua dan sebagai tindakan preventif dari penuaan sekunder. Metode perancangan yang digunakan adalah Design Thinking dengan pendekatan studi kualititaf-empiris yaitu penggunaan beberapa fasilitas hidroterapi di Garut sebagai studi kasus dan pembanding untuk menganalisis integrasi kegiatan hidroterapi, serta salah satu fasilitas serupa yaitu Rukun Place Bandung sebagai benchmark hunian sementara. Proses perancangan dimulai dengan studi literatur yang mendalam mengenai Universal Design dan Environmental Psychology bagi lansia. Proyek berlokasi di Cipanas kota Garut yang dikenal dengan potensi alam dan sumber air panas alami sebagai terapi kesehatan (wellness tourism). Peluang besar lainnya dari lokasi ini adalah belum adanya fasilitas yang serupa sehingga proyek ini dapat dikembangkan menjadi ide dan penelitian baru. Konsep desain yang diusung adalah Modern Tropis Heritage yang berlandaskan prinsip Kontrass Kognitif dan memanfaatkan keindahan alam Gunung Guntur. Konsep ini dipilih agar dapat menyelaraskan suasana dengan kondisi Cipanas yang alami sehingga terasa hangat dan terapeutik. Impelementasi desain akan difokuskan menjadi 3 elemen, yaitu unit terapi air panas (hidroterapi), dan unit hunian sementara, dan unit wellness pelengkap lainnya seperti unit workshop, spa, sauna, medical checkup, snoezelen room, perpustakaan, indoor garden, gym, yoga, dan salon. Unit terapi air panas yang merupakan poin utama dari perancangan ini, dirancang sebagai fasilitas yang meningkatkan kesehatan lansia. Sedangkan Unit hunian akan memaksimalkan ergonomis, keamanan, dan kemudahan sehingga kemandirian lansia meningkat. Terakhir, pelengkap kegiatan mencakup fasilitas yang mendorong karakter well-being dan relaksasi. Prinsip kontras kognitif yaitu penggunaan kontras luminan tinggi dan material alami akan digunakan untuk mendukung navigasi, stimulasi, dan kenyamanan lansia secara menyeluruh. Hasil rancangan ini diharapkan dapat menjadi solusi prototipe perancangan fasilotas lansia yang holistic di Jawa Barat.
FORMULASI PRODUKSI BERAS ANALOG BERBASIS FERCAF MENGGUNAKAN EKSTRUDER SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN LOKAL
Ketergantungan impor beras mengancam ketahanan pangan Indonesia. Diversifikasi pangan melalui pemanfaatan surplus ubi kayu menjadi tepung FERCAF sebagai bahan baku beras analog merupakan solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi beras analog berbasis FERCAF menggunakan ekstruder. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama mengoptimasi komposisi tepung (FERCAF 100%, 85%, 70%), rasio maizena:kacang hijau (1:2), kadar air (16%, 18%, 20%), dan prekondisi (tanpa, 10 menit). Formulasi terbaik (70% FERCAF, 20% kacang hijau, 10% maizena, kadar air 20%, prekondisi 10 menit) dipilih berdasarkan karakteristik fisik dan uji hedonik. Tahap kedua menambahkan hidrokoloid CMC atau karagenan (3%, 4%) pada formulasi tersebut. Produk diuji dimensi, derajat pecah, warna, tekstur (TPA), daya rehidrasi, daya kembang, dan sensori oleh 50 panelis. Hasil menunjukkan penambahan CMC 3% menghasilkan beras analog terbaik: dimensi bulir seragam (0,22Γ0,78Γ0,25 cm), derajat pecah 16,55%, kapasitas rehidrasi 424,58%, daya kembang 156,69%, hardness 11.839,55 g, adhesiveness mendekati nol, dan nilai ?E terkecil (mentah 1,8; matang 2,8). Uji sensori mengonfirmasi penerimaan tertinggi dan 72% panelis memilihnya sebagai alternatif beras konvensional. Karagenan justru menghasilkan nasi terlalu kohesif dan gagal mempertahankan bulir. Kesimpulannya, formulasi optimum adalah 70% FERCAF, 20% tepung kacang hijau, 10% maizena, air 20%, prekondisi 10 menit, dan CMC 3%, menghasilkan beras analog dengan karakteristik mendekati beras komersial.
DINAMIKA EVAPOTRANSPIRASI PADA TAHUN 2015 β 2025 DI PEGUNUNGAN MALABAR BERDASARKAN ALGORITMA SEBAL
Hutan tropis berperan vital dalam siklus hidrologi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), namun konversi lahan dapat menurunkan kapasitas tata air tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika temporal Evapotranspirasi Aktual (ETa) dan Forest Canopy Density (FCD) pada tiga kelas tutupan lahan (hutan alam, agroforestri kopi, perkebunan monokultur) di Pegunungan Malabar, hulu DAS Citarum, periode 2015β2025; menganalisis kekuatan hubungan FCDβETa pada berbagai skala temporal; serta mengkaji keterkaitan pola elevasi dan ketersediaan energi radiasi dengan ETa pada masing-masing kelas tutupan lahan. ETa diestimasi menggunakan algoritma SEBAL berbasis citra Landsat 8/9. Hasil menunjukkan hutan alam mendominasi kawasan pada 2025 (43%; FCD 82,79%), diikuti agroforestri (32,1%; FCD 65,88%) dan perkebunan (24,1%; FCD 50,22%). Two-Way ANOVA menunjukkan tutupan lahan [F(2,60)=57,803; p<0,001] dan musim [F(1,60)=21,509; p<0,001] berpengaruh signifikan tanpa interaksi bermakna [F(2,60)=0,911;p=0,408], dengan hierarki ETa Hutan Alam > Agroforestri > Perkebunan (Tukey HSD). Hutan alam relatif stabil dengan peningkatan pada 2023, mengindikasikan kondisi energy-limited; agroforestri menunjukkan tren pemulihan pasca-2018 hingga mencapai 75% kapasitas hutan alam; perkebunan paling rentan terhadap anomali curah hujan 2017β2019. FCD berkorelasi kuat dan konsisten terhadap ETa pada seluruh skala temporal (rtahunan = 0,945; rpenghujan = 0,903; rkemarau = 0,930). Hutan alam pada elevasi tertinggi menerima radiasi terendah namun ETa tertinggi (rasio ET/Radiasi 0,607, tertinggi dibanding agroforestri 0,453 dan perkebunan 0,357), mengindikasikan FCD berperan lebih besar dibandingkan radiasi dalam mempengaruhi ETa. Temuan ini menjadikan FCD indikator relevan untuk pengelolaan tata air hulu DAS Citarum.
PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA
Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.