πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4,000 dokumen

PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA

Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.

2026
πŸ‘€ Penulis: Diaz Jeisa Rakhmat
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA

Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.

2026
πŸ‘€ Penulis: Bey Alhafizh Putra Bharata
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

PENERAPAN KONSOLIDASI LAHAN VERTIKAL MELALUI PENDEKATAN U-DEVELOP SEBAGAI UPAYA PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH DI KELURAHAN PEJAGALAN, KECAMATAN PENJARINGAN, JAKARTA UTARA

Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan mendorong berkembangnya permukiman padat dan kumuh, khususnya di kota metropolitan seperti Jakarta. Salah satu kawasan yang mengalami permasalahan tersebut adalah RW 15 RT 04 dan RT 05 Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, yang memiliki karakteristik berupa kepadatan bangunan tinggi, keterbatasan infrastruktur dasar, kondisi hunian yang belum layak, serta kerentanan terhadap banjir. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan rancangan penataan kawasan permukiman kumuh melalui penerapan Konsolidasi Lahan Vertikal (KTV) dengan pendekatan U-Develop. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner, wawancara, dan pengumpulan data sekunder dari instansi terkait. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif kualitatif, analisis perhitungan konsolidasi lahan vertikal, dan analisis perancangan kawasan. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kawasan studi seluas 2,1 hektar memiliki tingkat kekumuhan sedang dengan kepadatan penduduk mencapai 433 jiwa per hektar, sehingga memerlukan penataan kawasan melalui pembangunan hunian vertikal berupa rumah susun. Hasil perhitungan KTV dengan pendekatan U-Develop menghasilkan pembagian kawasan ke dalam tiga zona utama, yaitu Zona A untuk pembangunan rusunawa milik pemerintah, Zona B untuk pembangunan rusunami sebagai kompensasi kepemilikan bagi peserta konsolidasi, dan Zona C sebagai area komersial untuk investasi melalui skema Kemitraan Masyarakat, Pemerintah, dan Badan Usaha (KMPBU). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan KTV dengan pendekatan U-Develop dapat menjadi alternatif penataan kawasan permukiman kumuh melalui optimalisasi pemanfaatan lahan serta peningkatan kualitas hunian dan lingkungan kawasan yang berkelanjutan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Debby Devira
🏷️ Konsolidasi Lahan Vertikal 🏷️ Perencanaan Permukiman 🏷️ Hidrologi

PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO-TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA

Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.

2026
πŸ‘€ Penulis: Arsenio Nathaniel Wiliono
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

KEADILAN SPASIAL AKSES BUS BAGI PEREMPUAN DI KOTA BANDUNG BERBASIS ANALISIS PENYEDIAAN, PERMINTAAN, DAN PELUANG

Transportasi umum merupakan salah satu infrastruktur dasar perkotaan yang berperan penting dalam menghubungkan penduduk dengan berbagai peluang sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kota. Namun, perempuan sering kali tidak terakomodasi secara memadai dalam perencanaan transportasi karena kebijakan transportasi yang bersifat umum dan tidak menangkap ketimpangan akses yang dialami kelompok pengguna tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keadilan akses transportasi umum bus terhadap perempuan di Kota Bandung melalui pendekatan analisis penyediaan, permintaan, dan peluang. Digunakan pendekatan kuantitatif berbasis keadilan spasial dengan mengembangkan analisis bivariat dengan mengintegrasikan tiga komponen aksesibilitas bagi perempuan. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak QGIS dengan unit spasial sebanyak 19.806 grid heksagonal di seluruh Kota Bandung yang diintegrasikan ke dalam kelurahan. Hasil menunjukkan bahwa layanan bus di Kota Bandung belum terdistribusi secara spasial yang adil, dengan 9,10% wilayah Kota Bandung masuk dalam kategori prioritas intervensi tinggi dalam analisis tipologi kawasan bivariat melalui agregasi komponen permintaan, peluang, dan penyediaan. Kawasan dengan intervensi tinggi sebagian besar terletak di sebagian pinggiran bagian selatan, barat dan timur Kota Bandung. Distribusi nilai indeks aksesibilitas mengindikasikan bahwa ketimpangan di Kota Bandung tidak bersifat ekstrem, namun memerlukan pendekatan kebijakan yang menyeluruh dan merata. Penemuan atas penelitian ini mempertegas bahwa perencanaan transportasi umum massal di Kota Bandung belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan spesifik perempuan dan diharapkan menjadi pertimbangan kebijakan pengembangan sistem bus yang berkeadilan di Kota Bandung.

2026
πŸ‘€ Penulis: Aurelia Nadya Utomo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

FORMULASI PRODUKSI BERAS ANALOG BERBASIS FERCAF MENGGUNAKAN EKSTRUDER SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN LOKAL

Ketergantungan impor beras mengancam ketahanan pangan Indonesia. Diversifikasi pangan melalui pemanfaatan surplus ubi kayu menjadi tepung FERCAF sebagai bahan baku beras analog merupakan solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi beras analog berbasis FERCAF menggunakan ekstruder. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama mengoptimasi komposisi tepung (FERCAF 100%, 85%, 70%), rasio maizena:kacang hijau (1:2), kadar air (16%, 18%, 20%), dan prekondisi (tanpa, 10 menit). Formulasi terbaik (70% FERCAF, 20% kacang hijau, 10% maizena, kadar air 20%, prekondisi 10 menit) dipilih berdasarkan karakteristik fisik dan uji hedonik. Tahap kedua menambahkan hidrokoloid CMC atau karagenan (3%, 4%) pada formulasi tersebut. Produk diuji dimensi, derajat pecah, warna, tekstur (TPA), daya rehidrasi, daya kembang, dan sensori oleh 50 panelis. Hasil menunjukkan penambahan CMC 3% menghasilkan beras analog terbaik: dimensi bulir seragam (0,22Γ—0,78Γ—0,25 cm), derajat pecah 16,55%, kapasitas rehidrasi 424,58%, daya kembang 156,69%, hardness 11.839,55 g, adhesiveness mendekati nol, dan nilai ?E terkecil (mentah 1,8; matang 2,8). Uji sensori mengonfirmasi penerimaan tertinggi dan 72% panelis memilihnya sebagai alternatif beras konvensional. Karagenan justru menghasilkan nasi terlalu kohesif dan gagal mempertahankan bulir. Kesimpulannya, formulasi optimum adalah 70% FERCAF, 20% tepung kacang hijau, 10% maizena, air 20%, prekondisi 10 menit, dan CMC 3%, menghasilkan beras analog dengan karakteristik mendekati beras komersial.

2026
πŸ‘€ Penulis: Anggieta Liliani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PROFIL FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L.) MENGGUNAKAN METODE INHIBISI DENATURASI PROTEIN

Inflamasi adalah respon biologis tubuh terhadap infeksi atau kerusakan jaringan, yang salah satu mekanismenya ditandai oleh denaturasi protein sehingga memicu pembentukan autoantigen dan dapat memperparah respon inflamasi. Daun kersen (Muntingia calabura L.) diketahui mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis aktivitas inhibisi denaturasi protein ekstrak daun kersen, mengidentifikasi dan menetapkan kadar senyawa marker, serta menganalisis profil metabolit menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan kemometrika. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan nheksana, etil asetat, etanol 96%, etanol 70%, dan air. Aktivitas ekstrak diuji dengan metode inhibisi denaturasi protein BSA. Ekstrak etanol 70% menunjukkan aktivitas inhibisi denaturasi protein terkuat (IC50 77,84 Β± 0,36 ????g/mL). Asam klorogenat teridentifikasi sebagai senyawa marker pada ekstrak etanol 70% dan air, dengan kadar berturut-turut 12,23% Β± 0,48 dan 17,45% Β± 0,79 (b/b), serta IC50 119,69 ????g/mL Β± 1,37. Analisis FTIR menunjukkan dominasi gugus O-H, C=C aromatik, C-O, dan C-H alifatik yang mengindikasikan keberadaan senyawa fenolik dan flavonoid. Analisis kemometrika menunjukkan kedekatan antara ekstrak n-heksana dan etil asetat secara metabolit sekunder berdasarkan variasi absorbansi spektrum inframerah. Berdasarkan hasil penelitian, perbedaan polaritas pelarut meengaruhi profil metabolit dan aktivitas inhibisi denaturasi protein dari ekstrak daun kersen. Ekstrak etanol 70% memberikan aktivitas inhibisi denaturasi protein terbaik, sedangkan analisis kemometrika menunjukkan kemiripan profil metabolit antara ekstrak n-heksana dan etil asetat serta perbedaan paling nyata pada ekstrak air.

2026
πŸ‘€ Penulis: Veronika Tara Ivanka
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kedekatan Metabolit

PENGARUH WAKTU FERMENTASI SUBSTRAT PADAT DENGAN BACILLUS STEAROTHERMOPHILUS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN DARI LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK

Larva lalat tentara hitam (LLTH, Hermetia illucens) merupakan salah satu sumber protein alternatif yang menjanjikan, namun efisiensi ekstraksi protein serta peningkatan bioaktivitas hidrolisatnya masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi padat menggunakan Bacillus stearothermophilus terhadap perolehan protein dan sifat bioaktif hidrolisat protein LLTH. Tepung LLTH difermentasi selama 0–4 hari pada suhu 45Β°C, kemudian dilakukan ekstraksi protein secara alkali, hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain, dan pengeringan beku. Parameter yang dianalisis meliputi protein recovery, derajat hidrolisis, komposisi asam amino, aktivitas antioksidan, aktivitas antibakteri, serta distribusi bobot molekul protein menggunakan sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan kadar protein kasar dan protein recovery, dengan nilai tertinggi sebesar 59,64 Β± 8,85%. Peningkatan perolehan kembali protein yang dihasilkan oleh B. stearothermophilus tidak berbeda signifikan pada variasi waktu fermentasi. Derajat hidrolisis mencapai 42,21 Β± 1,0% pada hari kedua fermentasi, kemudian menurun seiring bertambahnya waktu fermentasi, yang menunjukkan bahwa aktivitas proteolitik maksimum terjadi pada fase pertumbuhan eksponensial bakteri. Aktivitas antioksidan juga meningkat, ditunjukkan oleh nilai IC50 terendah sebesar 261,78 + 57 ppm pada hari ketiga fermentasi, meskipun aktivitas tersebut menurun pada hari keempat. Analisis asam amino menunjukkan peningkatan konsentrasi beberapa asam amino bebas setelah fermentasi, yang mengindikasikan terjadinya degradasi matriks protein oleh aktivitas protease. Sebaliknya, hidrolisat protein tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus maupun Escherichia coli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan B. stearothermophilus berpotensi meningkatkan efisiensi ekstraksi protein dan aktivitas antioksidan hidrolisat protein LLTH, meskipun optimasi kondisi fermentasi masih diperlukan untuk memaksimalkan potensi proteolitiknya.

2026
πŸ‘€ Penulis: Samuel Alexander Harsono
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH WAKTU FERMENTASI SUBSTRAT PADAT DENGAN BACILLUS STEAROTHERMOPHILUS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN DARI LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK

Larva lalat tentara hitam (LLTH, Hermetia illucens) merupakan salah satu sumber protein alternatif yang menjanjikan, namun efisiensi ekstraksi protein serta peningkatan bioaktivitas hidrolisatnya masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi padat menggunakan Bacillus stearothermophilus terhadap perolehan protein dan sifat bioaktif hidrolisat protein LLTH. Tepung LLTH difermentasi selama 0–4 hari pada suhu 45Β°C, kemudian dilakukan ekstraksi protein secara alkali, hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain, dan pengeringan beku. Parameter yang dianalisis meliputi protein recovery, derajat hidrolisis, komposisi asam amino, aktivitas antioksidan, aktivitas antibakteri, serta distribusi bobot molekul protein menggunakan sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan kadar protein kasar dan protein recovery, dengan nilai tertinggi sebesar 59,64 Β± 8,85%. Peningkatan perolehan kembali protein yang dihasilkan oleh B. stearothermophilus tidak berbeda signifikan pada variasi waktu fermentasi. Derajat hidrolisis mencapai 42,21 Β± 1,0% pada hari kedua fermentasi, kemudian menurun seiring bertambahnya waktu fermentasi, yang menunjukkan bahwa aktivitas proteolitik maksimum terjadi pada fase pertumbuhan eksponensial bakteri. Aktivitas antioksidan juga meningkat, ditunjukkan oleh nilai IC?? terendah sebesar 261,78 + 57 ppm pada hari ketiga fermentasi, meskipun aktivitas tersebut menurun pada hari keempat. Analisis asam amino menunjukkan peningkatan konsentrasi beberapa asam amino bebas setelah fermentasi, yang mengindikasikan terjadinya degradasi matriks protein oleh aktivitas protease. Sebaliknya, hidrolisat protein tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus maupun Escherichia coli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan B. stearothermophilus berpotensi meningkatkan efisiensi ekstraksi protein dan aktivitas antioksidan hidrolisat protein LLTH, meskipun optimasi kondisi fermentasi masih diperlukan untuk memaksimalkan potensi proteolitiknya.

2026
πŸ‘€ Penulis: Samuel Alexander Harsono
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGOLAHAN DATA MAGNETOTELURIK MENGGUNAKAN METODE ROBUST HUBER DAN IMPLEMENTASINYA PADA DATA LAPANGAN

Metode magnetotelurik (MT) merupakan metode geofisika pasif yang memanfaatkan variasi alami medan elektromagnetik untuk mengestimasi distribusi resistivitas listrik bawah permukaan bumi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kode program pengolahan data magnetotelurik menggunakan Python yang mampu diaplikasikan pada data lapangan, mengevaluasi pengaruh tahapan pre-processing dan robust processing, serta memvalidasi hasil pengolahannya terhadap software referensi. Program yang dikembangkan mengimplementasikan tahapan pre-processing yang meliputi kalibrasi, detrending, penghapusan DC offset, dan notch filter, dilanjutkan dengan decimation, transformasi Fourier (Fourier Transform), estimasi cross-power spectral density, robust processing menggunakan metode Huber, serta perhitungan impedansi, resistivitas semu, dan fasa. Data yang digunakan merupakan hasil akuisisi lapangan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dengan durasi perekaman selama 17 ???????????? 7 ????????????????????. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pre-processing memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas data, sedangkan robust processing mampu meminimalkan pengaruh beberapa data outlier sehingga menghasilkan estimasi parameter yang lebih stabil. Hasil validasi terhadap software referensi menunjukkan kesesuaian yang baik pada rentang frekuensi tinggi (???????? = 24 ????????????), dengan nilai ???????????????? log10(????) resistivitas semu sebesar 0,0649 untuk komponen ???????? dan 0,0571 untuk komponen ????????. Sedangkan pada frekuensi rendah ( ???????? = 150 ????????) menghasilkan nilai RMSE log10(????) resistivitas semu sebesar 1.8380 untuk komponen ???????? dan 1.1831 untuk komponen ????????.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ihyaudin Hasbillah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO PADA BENDUNGAN BENER, KABUPATEN PURWOREJO, JAWA TENGAH

Peningkatan kebutuhan energi listrik di Indonesia mendorong pengembangan sumber energi terbarukan. Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan PLTM. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun desain PLTM pada Bendungan Bener yang memenuhi aspek teknis dan ekonomis. Analisis dilakukan melalui pengolahan data hidrologi, meliputi analisis curah hujan, debit banjir rencana, dan debit andalan. Selanjutnya dilakukan perencanaan komponen utama PLTM yang meliputi pipa pesat (penstock), surge tank, rumah pembangkit (powerhouse), saluran pembuang (tailrace), serta pemilihan jenis. Selain itu, dilakukan analisis hidraulik, penyusunan rencana operasi dan pemeliharaan, estimasi biaya konstruksi, serta analisis kelayakan ekonomi proyek. Hasil perencanaan menunjukkan bahwa PLTM Bendungan Bener dapat memanfaatkan tiga unit turbin Francis dengan kapasitas operasi rata-rata sebesar 5,55 MW. Total investasi yang dibutuhkan sebesar Rp142.902.263.433,26. Analisis ekonomi menghasilkan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 11,91%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp14.363.371.516,25, Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,10, dan Payback Period (PBP) selama 8,92 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, proyek PLTM Bendungan Bener dinilai layak untuk dilaksanakan baik dari aspek teknis maupun ekonomi.

2026
πŸ‘€ Penulis: Rayhan Chandra Pramudya
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi Terbarukan

PENGARUH KEMIRINGAN HULU TERHADAP PUNCAK PELIMPAH ITB GOLDEN RATIO TIPE B MENGGUNAKAN PEMODELAN NUMERIK

Pelimpah ITB Golden Ratio Tipe B merupakan struktur hidraulis inovatif yang memanfaatkan proporsi rasio emas (?????1.618) untuk memudahkan proses desain dan konstruksi. Penelitian ini menginvestigasi dampak hidrodinamika dari variasi kemiringan hulu (Vertikal, 3:1, 3:2, dan 3:3) terhadap kapasitas debit, distribusi tekanan pada mercu, dan profil aliran bilangan Froude. Simulasi tiga dimensi dilakukan menggunakan perangkat lunak FLOW-3D (model turbulensi RNG ?????????), yang divalidasi dengan data model fisik laboratorium dan rumus analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kemiringan hulu memberikan pengaruh yang sangat kecil dan dapat diabaikan terhadap kinerja hidraulis secara keseluruhan. Pada tinggi muka air desain (????????=2.0 m), mercu ITB Golden Ratio mencapai koefisien debit tak berdimensi (????????) yang sangat stabil sebesar 0,778. Selain itu, mercu ini menghasilkan tekanan negatif maksimum sebesar -17,41 kPa yang masih berada jauh di dalam batas aman operasi. Secara khusus, kurva dari geometri ini mampu mempertahankan konformitas streamline pada kondisi muka air ekstrem, sehingga berhasil mencegah lonjakan tekanan negatif yang berbahaya serta anomali lonjakan debit yang umumnya terjadi pada desain Ogee konvensional. Pelimpah ITB Golden Ratio Tipe B terbukti menjadi alternatif desain mercu yang sangat efisien, aman, dan adaptif secara geometris.

2026
πŸ‘€ Penulis: Akmal Rabani Muis
🏷️ Hidrologi 🏷️ Desain Hidraulik 🏷️ Analisis Numerik

KONTROL PEMADATAN TANAH DI INDONESIA BERDASARKAN PERSAMAAN MATEMATIS SOIL STIFFNESS INDEX SEBAGAI FUNGSI TINGKAT ENERGI KOMPAKSI DAN DERAJAT SATURASI

Kontrol pemadatan tanah di lapangan secara konvensional dilakukan menggunakan parameter kadar air dan kepadatan kering yang mengacu pada hasil pengujian Proctor di laboratorium. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan mendasar, yakni kurva pemadatan akan bergeser seiring dengan perubahan tingkat energi pemadatan, sehingga parameter kadar air menjadi kurang representatif sebagai acuan kontrol pemadatan ketika terdapat variasi CEL antara kondisi lapangan dan laboratorium. Sebagai alternatif yang lebih andal, Tatsuoka et al. (2021) mengusulkan penggunaan indeks kekakuan tanah sebagai parameter kontrol pemadatan yang direpresentasikan sebagai fungsi dari kepadatan kering dan derajat saturasi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan persamaan empiris estimasi nilai California Bearing Ratio (CBR) rendaman dan tidak direndam yang spesifik untuk tanah-tanah di Indonesia, serta melakukan normalisasi persamaan tersebut menggunakan parameter derajat pemadatan relatif ([Dc]1Ec) dan selisih derajat saturasi (?Sr) guna mereduksi persebaran data akibat perbedaan jenis tanah dan variasi tingkat energi pemadatan. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji korelasi antara indeks plastisitas (PI) dan kepadatan kering maksimum (?d)max pada berbagai tingkat energi pemadatan, serta mengevaluasi karakteristik derajat saturasi optimum (Sr)opt untuk tanah-tanah di Indonesia. Penelitian ini juga mempertimbangkan pengaruh karakteristik ekspansivitas tanah, yang diidentifikasi melalui pengujian MBV dan XRD, terhadap perilaku CBR rendaman. Penelitian ini menggunakan kombinasi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengujian laboratorium terhadap tiga sampel tanah yang diambil dari Sentul, Sadang, dan Cimahi, meliputi pengujian indeks propertis, MBV, XRD, pemadatan dengan tiga variasi tingkat energi, yakni 1 Ec, 4.5 Ec, dan 6 Ec, serta pengujian CBR rendaman dan tidak direndam. Data sekunder terdiri dari 218 sampel iii pemadatan dari 68 lokasi, 74 sampel CBR rendaman, dan 25 sampel CBR tidak direndam yang bersumber dari arsip Laboratorium Mekanika Tanah Institut Teknologi Bandung serta penelitian terdahulu. Seluruh pengujian dilaksanakan mengacu pada standar ASTM yang berlaku. Berdasarkan analisis terhadap 221 sampel dari 71 lokasi di Indonesia, diperoleh nilai derajat saturasi optimum (Sr)opt rata-rata sebesar 92.59% dengan standar deviasi 3.89%, serta specific gravity Gs rata-rata sebesar 2,58. Nilai (Sr)opt yang relatif konsisten terhadap variasi jenis tanah dan tingkat energi pemadatan ini memperkuat dasar ilmiah penggunaan derajat saturasi sebagai parameter kontrol pemadatan yang lebih representatif dibandingkan kadar air. Selain itu, ditemukan korelasi logaritmik antara indeks plastisitas dan kepadatan kering maksimum pada setiap tingkat energi pemadatan, yang direpresentasikan melalui persamaan empiris sebagai berikut: (?d)max = ?0.369 ln(PI) + 0.062 CEL + 2.503 (g/cmΒ³). Persamaan empiris estimasi nilai CBR sebagai fungsi dari ?d dan Sr yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah CBRsoaked = 2.92/(1+exp((Sr – 97.40)/8.40)) Γ— (?d/?w – 0.01)4,27 untuk kondisi rendaman, dan CBRunsoaked = 126.83/(1+exp(Sr/24.51)) Γ— (?d/?w – 0.01)4,27 untuk kondisi tidak direndam. Setelah melalui proses normalisasi menggunakan parameter [Dc]1Ec dan ?Sr, diperoleh koefisien CCBR sebesar 7.62 untuk kondisi rendaman dan 11.57 untuk kondisi tidak direndam. Persamaan empiris yang telah dinormalisasi menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mereduksi persebaran data dibandingkan persamaan sebelumnya, sehingga lebih andal untuk diterapkan pada berbagai jenis tanah dan variasi tingkat energi pemadatan di lapangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan metode kontrol pemadatan tanah di lapangan yang lebih praktis, konsisten, dan akurat untuk proyek-proyek konstruksi di Indonesia, khususnya pada kondisi variasi tingkat energi pemadatan yang beragam.

2026
πŸ‘€ Penulis: Hana Yasmin Kamila
🏷️ Kontrol Pemadatan Tanah 🏷️ Hidrologi 🏷️ Mekanika Tanah

PENGARUH NOISE DALAM BUΕΎEK-HILLERY QUANTUM CLONING MACHINE MENGGUNAKAN OPERATOR KRAUS

Proses duplikasi merupakan sebuah proses melakukan penggandaan informasi dari sebuah sistem kepada sistem yang lain. Namun untuk melakukan duplikasi keadaan kuantum sembarang tak dapat dilakukan sebagaimana tertera pada No-Cloning Theorem. Akan tetapi, No-Cloning Theorem tak membatasi duplikasi tak sempurna sehingga muncul Quantum Cloning Machine yang memungkinkan untuk mendapatkan hasil duplikasi yang mendekati keadaan yang diinginkan diantaranya adalah Bu!ek-Hillery Quantum Cloning Machine. Dalam keadaan riil, sistem kuantum dapat berinteraksi dengan lingkungan yang menyebabkan adanya gangguan (noise) yang dapat dimodelkan dengan operator Kraus. Penelitian ini akan mengamati pengaruh beberapa tipe noise pada Bu!ek-Hillery Quantum Cloning Machine meliputi bit flip, phase flip, noise depolarizing dan amplitude damping. Penelitian ini dilakukan secara analitik untuk mendapatkan persamaan untuk tiap noise serta komputasi untuk kasus-kasus input tertentu, yaitu keadaan basis dan keadaan superposisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, noise akan menurunkan nilai fidelitas dan amplitude overlap untuk masing-masing qubit namun dalam beberapa kasus nilai fidelitas dan amplitude overlap dapat membesar bahkan melebihi nilai ketika tak ada gangguan sama sekali.

2026
πŸ‘€ Penulis: Nashwan Chakap Nanggala
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Quantum Computing

KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN FISIOLOGI BIBIT SEBAGAI ACUAN PEMILIHAN SPESIES UNTUK REHABILITASI HUTAN

Deforestasi hutan tropis Indonesia ditandai dengan penurunan tutupan hutan primer dari 55,7% menjadi 45,2% luas daratan antara tahun 2000–2022, dan program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diamanatkan Permen LHK Nomor 23 Tahun 2021 belum mencapai target dengan mortalitas bibit di lapangan mencapai 40–70% pada tahun pertama penanaman. Kegagalan ini bersumber dari ketidaksesuaian spesies dengan kondisi tapak dan minimnya data ekofisiologi lokal untuk mendukung seleksi spesies berbasis bukti ilmiah. Bibit yang tampak sehat di persemaian tidak menjamin kemampuan bertahan di lapangan, karena morfologi tidak mencerminkan kapasitas fisiologis aktual dalam menghadapi cekaman di tapak terbuka. Penelitian ini dilaksanakan di Persemaian Aklimatisasi ITB Kampus Jatinangor selama sebelas minggu, mengkaji tiga spesies hutan tropis untuk rehabilitasi, yaitu Khaya anthotheca (KA), Altingia excelsa (AE), dan Intsia bijuga (IB). Pengukuran morfologi mencakup tinggi, diameter batang, jumlah, ketebalan daun, dan Specific Leaf Area (SLA). Pengukuran fisiologi dilakukan menggunakan IRGA CI-340 pada intensitas cahaya 1.500 ?mol/mΒ²/s, mencakup laju fotosintesis neto, transpirasi, konduktansi stomata, suhu daun, dan Water Use Efficiency (WUE), dilanjutkan kalkulasi Relative Growth Rate (RGR) dan uji ANOVA-Tukey HSD. KA sebagai spesies pionir mencatat konduktansi stomata tertinggi, suhu daun terendah, dan akselerasi pertumbuhan batang tertinggi pada periode akhir. AE sebagai spesies transisi menunjukkan tekanan termal kumulatif dengan kompensasi struktural parsial. IB sebagai spesies klimaks menerapkan strategi trade-off antara pertumbuhan primer dan sekunder disertai kapasitas re-growth daun pascagugur. Berdasarkan integrasi data morfofisiologi dan dinamika pertumbuhan, ketiga spesies direkomendasikan untuk ditanam secara bertahap sesuai zonasi suksesional sebagai dasar program rehabilitasi hutan tropis berbasis data ilmiah.

2026
πŸ‘€ Penulis: Mahira Hasna Shafana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Rehabilitasi Hutan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan
Halaman 18 dari 267
πŸ’¬