📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

USULAN STRATEGI KOMUNIKASI DANA LESTARI LULUSAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BERDASARKAN FAKTOR YANG MEMENGARUHI INTENSI BERKONTRIBUSI MELEBIHI KEWAJIBAN

Sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), sebagian besar pendanaan operasional Institut Teknologi Bandung (ITB) berasal dari pembiayaan non-APBN dan non-UKT, salah satunya dari dana lestari yang dikelola oleh BPUDL ITB. Salah satu segmen dengan jumlah donatur terbanyak bagi BPUDL ITB adalah mahasiswa yang wajib berkontribusi melalui program Dana Lestari Lulusan ITB. Namun, penghimpunan dana donasi tersebut belum pernah mencapai target dan mayoritas lulusan ITB hanya membayar nominal minimum tanpa inisiatif melebihkan nominal donasi (upselling). Oleh karena itu, diperlukan identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi intensi calon lulusan ITB untuk berkontribusi melebihi kewajiban minimum (intention to contribute beyond obligation) sebagai dasar perumusan usulan strategi komunikasi bagi BPUDL ITB. Penelitian ini mengacu pada penelitian Arnett dkk. (2003), Brady dkk. (2002), dan Chen dkk. (2021). Model penelitian ini diolah dengan metode partial least square structural equation modeling (PLS-SEM) dan dengan memakai data 210 responden mahasiswa ITB yang sedang mengerjakan tugas akhir/tesis/disertasi. Hasil analisis menunjukkan delapan hipotesis yang berpengaruh signifikan. Konstruk identity salience dan trust berperan sebagai mediator terhadap intention to contribute beyond obligation. Tingkat kepentingan dan performa setiap faktor tersebut diukur menggunakan importance-performance map analysis (IPMA). Konstruk identity salience, trust, dan perceived need dipilih sebagai prioritas dengan kepentingan tertinggi. Analisis multigroup analysis (MGA) menunjukkan content quality dan platform reputation lebih berperan membentuk trust pada calon lulusan yang belum mengenal program, sedangkan institutional credibility lebih berperan dominan pada calon lulusan yang sudah mengenal program. Hasil penelitian ini adalah usulan strategi komunikasi bagi BPUDL ITB melalui kerangka source-message-channel. Pada level pesan (message), dirumuskan tiga prioritas: (1) pengaktifan identity salience melalui konten transformational appeal yang mengasosiasi kontribusi dengan identitas dan pengalaman selama di ITB; (2) peningkatan trust melalui konten informational appeal sesuai dengan tingkat pengetahuan calon lulusan; dan (3) penguatan persepsi calon lulusan atas kebutuhan ITB terhadap bantuan dari mahasiswanya. BPUDL ITB tetap berperan sebagai sumber pesan utama yang didukung saluran pesan yang berasal dari kolaborasi dengan akun resmi ITB dan saluran di tingkat fakultas dan program studi karena kredibilitas dan kedekatannya dengan calon lulusan ITB.

2026
👤 Penulis: M. Faiz Fadhlurrahman
🏷️ Kepatuhanan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pemasaran

PENGARUH VARIASI RASIO KITOSAN DAN EKSTRAK TANAMAN PADA SINTESIS HIJAU PARTIKEL KITOSAN DARI SELONGSONG LARVA LALAT TENTARA HITAM (HEMERTIA ILLUCENS) MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN MATA LELE (LEMNA MINOR)

Larva lalat tentara hitam (LTH, Hermetia illucens) dan tanaman mata lele (Lemna minor) berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku sintesis hijau partikel kitosan yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi produktivitas L. minor, karakteristik kitosan dari eksuvia larva LTH, serta perolehan, morfologi, ukuran, kestabilan, dan aktivitas antimikroba partikel kitosan yang disintesis dengan variasi rasio volumetrik kitosan:ekstrak L. minor (1:1, 1:2, 2:1). Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan relatif L. minor sebesar 0,14 ± 0,016 frond.hari?¹ dengan waktu pelipatgandaan 5,47 ± 0,61 hari, serta kandungan fenolik dan flavonoid total ekstrak berturut-turut 3,32 ± 0,12 mg GAE/L dan 3,80 ± 0,18 mg QE/L. Kitosan yang diekstraksi dari eksuvia LTH memiliki perolehan 13,95 ± 2,13% dengan derajat deasetilasi 87,3%. Sintesis partikel kitosan menghasilkan perolehan 10,88–29,13% tanpa perbedaan signifikan antarrasio (p > 0,05), morfologi sferis pada seluruh perlakuan dengan indikasi aglomerasi pada rasio kitosan rendah, serta ukuran partikel (179,83–287 nm) dan potensial zeta (+32,17 hingga +39,9 mV) yang dipengaruhi signifikan oleh rasio kitosan:ekstrak (p < 0,05). Analisis FTIR mengonfirmasi keberhasilan inkorporasi senyawa fitokimia ke dalam struktur partikel kitosan melalui interaksi nonkovalen. Aktivitas antimikroba terhadap E. coli dan S. aureus tergolong sangat rendah pada seluruh perlakuan, diduga akibat konsentrasi partikel yang rendah (<2 mg/mL). Penelitian ini menunjukkan bahwa rasio kitosan:ekstrak tanaman berpengaruh terhadap karakteristik fisik partikel kitosan, meskipun optimasi lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan bioaktivitasnya.

2026
👤 Penulis: Muhammad Rafi Ananda Athallah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KEWAJIBAN IMBALAN PASCAKERJA PSAK 219 MENGGUNAKAN PROJECTED UNIT CREDIT MULTIPLE DECREMENT DENGAN MODIFIKASI TINGKAT DISKONTO

Pengukuran kewajiban imbalan pascakerja sesuai PSAK 219 dipengaruhi oleh asumsi aktuaria dan tingkat diskonto yang digunakan. Umumnya menggunakan pendekatan Single Decrement (SD) dan satu tingkat diskonto untuk seluruh peserta, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan berbagai kemungkinan penyebab keluar peserta sebelum usia pensiun normal maupun perbedaan karakteristik sisa masa kerja peserta. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menyusun tabel Multiple Decrement (MD) dari tabel SD, menentukan tingkat diskonto berdasarkan segmentasi Masa Kerja Yang Akan Datang (MKYAD) menggunakan kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan oleh IBPA, serta menganalisis pengaruhnya terhadap nilai Current Service Cost (CSC) dan Present Value of Defined Benefit Obligation (PVDBO) menggunakan metode Projected Unit Credit (PUC). Tabel MD disusun menggunakan asumsi Uniform Distribution of Decrements (UDD) dengan mempertimbangkan empat penyebab decrement, yaitu meninggal dunia, cacat, mengundurkan diri, dan pensiun normal. Tingkat diskonto ditentukan berdasarkan nilai Average Remaining Working Lifetime (ARWL) pada setiap kelompok MKYAD dan mengacu pada kurva imbal hasil IBPA, dengan interpolasi linear untuk tenor yang tidak tersedia. Asumsi yang digunakan meliputi mortalitas TMI IV 2019, tingkat cacat sebesar 1% dari mortalitas, tingkat pengunduran diri berdasarkan kelompok usia, usia pensiun normal 57 tahun, dan tingkat kenaikan gaji sebesar 5% per tahun. Hasil penelitian sesuai tanggal valuasi 2 Oktober 2025 menunjukkan bahwa kelompok MKYAD jangka pendek, menengah, dan panjang memiliki ARWL masing-masing sebesar 5,81 tahun, 14,71 tahun, dan 27,35 tahun dengan tingkat diskonto 5,7343%, 6,7312%, dan 6,8733%. Penggunaan model MD menghasilkan nilai kewajiban yang lebih rendah dibandingkan model SD. Model MD menghasilkan total CSC sebesar Rp 3.811.103.682 dan PVDBO sebesar Rp 44.187.464.043, atau lebih rendah masing-masing sebesar 25,90% dan 37,98% dibandingkan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model MD dan tingkat diskonto berbasis segmentasi MKYAD menghasilkan pengukuran kewajiban imbalan pascakerja yang lebih mencerminkan karakteristik peserta.

2026
👤 Penulis: Kadek Dwi Citrarini
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DEVELOPMENT OF A LEAN ENTERPRISE INTERVENTION DECISION FRAMEWORK (LEIDF) FOR STATE INTERVENTION IN DISTRESSED STATE-OWNED ENTERPRISES: AN EX-POST CASE ILLUSTRATION OF PT KRAKATAU STEEL (PERSERO) TBK

Keputusan intervensi negara pada BUMN yang mengalami kondisi distress memerlukan proses pengambilan keputusan yang terstruktur dan terstandar. BUMN memiliki mandat ganda yaitu menjaga keberlanjutan finansial sekaligus mengemban amanat negara/kepentingan publik. Oleh karena itu, penilaian kredit biasa tidak memadai untuk menilai proposal intervensi BUMN. Meskipun analisa mendalam atas proposal intervensi telah ada, belum adanya framework standar berpotensi mengakibatkan inkonsistensi dalam proses assessment. Akibatnya, Keputusan berisiko lebih didorong oleh kondisi genting, financial pressure atau pertimbangan strategis yang kurang dilengkapi langkah pengaman yang memadai. Tesis ini menggunakan pendekatan kualitatif dan design oriented untuk mengembangkan Lean Enterprise Intervention Decision Framework (LEIDF) dan menerapkannya pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai ilustrasi kasus ex-post. LEIDF dikembangkan melalui studi literatur, sintesa konsep dan konsultasi dengan DAM Danantara. Landasan teori meliputi bounded rationality, stage-gate decision logic, Financial versus economic viability, execution feasibility, moral hazard, risiko fiskal, SOE governance dan juga kepentingan umum/negara. Konsultasi dengan Danantara digunakan untuk memahami praktek assessment intervensi, ketersediaan data, tata kelola dan pelaksanaan LEIDF secara praktis. Tesis ini mengusulkan LEIDF sebagai framework pengambilan Keputusan berbasis stage-gate, berurutan, berbasis pertanyaan, dan berdasarkan pada bukti. LEIDF terdiri dari 4 gate yaitu Post-Intervention Economic Viability, Execution Feasibility, Intervention Risk Control dan Public Value/State Interest Justification. Ilustrasi penerapan pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. menunjukkan bahwa LEIDF dapat mengorganisasi assessment atas proposal intervensi secara terstruktur dan operasional, dengan hasil rekomendasi keputusan adalah Conditional Recovery (Penyehatan)

2026
👤 Penulis: Nivo Narulita Yuninda
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN PROSES APLIKASI DAN KARAKTERISASI SIFAT DIELEKTRIK SERTA HIDROFOBISITAS PERMUKAAN INSULATOR DI BAWAH KONDISI POLUSI AKTUAL MENGGUNAKAN LAPISAN PELINDUNG RTV KARET SILIKON DENGAN PENGISI NANOPARTIKEL

Isolator pada jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik rentan mengalami penurunan performa akibat akumulasi polutan yang dapat memicu flashover dan kegagalan isolasi. Perancangan ini bertujuan mengevaluasi pengaruh metode pelapisan coating terhadap karakteristik elektrik dan fisik isolator guna menentukan metode yang paling optimal. Tiga metode yang dibandingkan, yaitu spray, dip, dan tuang, menggunakan komposisi coating yang sama dan diuji pada kondisi bersih dan berpolutan. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran resistansi isolator, sudut kontak, kapasitansi, dan tan delta. Pada parameter resistansi isolator, metode spray meningkatkan nilainya sebesar 638.75 G? pada kondisi bersih dan 669.64 G? pada kondisi berpolutan dibandingkan isolator uncoated, dengan perubahan kondisi bersih dan berpolutan sebesar 4,03%. Dari sisi hidrofobisitas, metode spray menjadi satu-satunya yang mencapai hydrophobicity class 1 (HC 1) pada kondisi bersih (receding angle 65,2°) dan mempertahankan kelas HC 2 pada kondisi berpolutan (receding angle 57,4°). Selain itu, metode spray meningkatkan tan delta sebesar 26,57% pada kondisi bersih, serta 59% pada kondisi berpolutan dibandingkan isolator uncoated. Dengan demikian, metode spray direkomendasikan sebagai solusi pelapisan isolator yang paling optimal.

2026
👤 Penulis: Hilary Evelyn Tjandra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

THE ENVIRONMENTAL IMPACTS OF PILE DRIVING FOR OFFSHORE WIND TURBINES ON MARINE MAMMALS IN INDONESIAN WATERS

This study presents a national-scale assessment of construction-phase underwater noise impacts from offshore wind turbine (OWT) monopile installation on marine mammals in Indonesian waters. Although offshore wind development is a key component of Indonesia’s energy transition, quantitative integration of acoustic environmental impacts remains limited in existing planning frameworks. This research addresses this gap by combining engineering-based acoustic modeling with spatial ecological analysis across techno?economically feasible offshore wind farm (OWF) candidate sites. Monopile geometric parameters—including diameter, pile length, penetration depth, and wall thickness—were derived using multiple linear regression based on a reference dataset of existing offshore wind projects. The resulting model identifies turbine capacity as the dominant design variable, producing representative monopile diameters of approximately 4.11–6.64?m for the 2.5?MW turbine class, with site-specific adjustments captured through secondary parameters. Underwater noise source levels were estimated using two complementary approaches: the Energy Conversion Factor (ECF) framework of Wood et?al. (2023) and the empirical scaling law of von?Pein et?al. (2022). The Wood model produces uniform and conservative Energy Source Levels (?209–211?dB re 1?µPa²·s), while the von?Pein model exhibits greater sensitivity to site-specific parameters, generating more variable Sound Exposure Levels. Transmission loss modeling indicates that Permanent Threshold Shift (PTS) impact ranges remain relatively limited, extending up to 430–614?m (Wood model) and 85–191?m (von?Pein model) depending on hearing group and hammer scenario. In contrast, Temporary Threshold Shift (TTS) zones extend significantly further, reaching 8–19?km (Wood model) and 2.6–6.0?km (von?Pein model). These results highlight the strong dependence of predicted impact extent on model selection. Spatial overlay analysis in QGIS reveals substantial overlap between acoustic impact zones and marine mammal habitats, particularly for Balaenopteridae, Delphinidae, and Physeteridae. The integrated risk classification framework—combining acoustic exposure, ecological vulnerability, and wave-based installation windows—identifies a clear west-to-east gradient, with low-risk zones concentrated in the Java Sea and higher-risk regions in the Banda Sea, Maluku, and offshore Papua. Seasonal analysis shows increased risk levels during August–October. The findings demonstrate that offshore wind development in Indonesia must incorporate both spatial and temporal considerations to minimize ecological impacts. The study provides a first-order, evidence-based framework for acoustic risk assessment and supports targeted mitigation measures including optimized installation timing, noise reduction technologies, and spatial planning strategies.

2026
👤 Penulis: Bayu Maulana Faisal
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK BIOPLASTIK BERBASIS PATI UBI JALAR (IPOMOEA BATATAS) DENGAN PLASTICIZER GLISEROL

Plastik konvensional masih banyak digunakan karena sifatnya yang fleksibel, ringan, dan kuat, namun memiliki kelemahan utama berupa sifat non-degradable yang menyebabkan akumulasi limbah dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan bioplastik berbasis bahan alami yang ramah lingkungan dan mudah terurai. Pati ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu sumber biopolimer potensial karena ketersediaannya yang melimpah, bersifat biodegradable, dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kitosan sebagai filler serta menentukan konsentrasi kitosan yang optimal dalam formulasi bioplastik berbasis pati ubi jalar untuk menghasilkan karakteristik bioplastik terbaik sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu variasi konsentrasi kitosan sebesar 0,5%; 1%; 1,5%; dan 2%, masing-masing dengan lima ulangan. Konsentrasi pati dan gliserol sebagai plasticizer ditetapkan tetap masing-masing sebesar 9% dan 3,5%. Parameter yang diamati meliputi kuat tarik, elongasi, densitas, indeks swelling, permeabilitas uap air (WVP), dan biodegradabilitas. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah, dan apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. analisis data dilakukan menggunakan software IBM SPSS Statistics versi 27, sedangkan untuk keperluan rekapitulasi data awal dan visualisasi grafik digunakan Microsoft Excel 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi kitosan berpengaruh signifikan terhadap sebagian besar karakteristik bioplastik. Peningkatan konsentrasi kitosan meningkatkan kuat tarik dan densitas, menurunkan nilai swelling dan WVP, serta memperlambat laju biodegradasi, namun cenderung menurunkan nilai elongasi. Konsentrasi kitosan 1,5% dan 2% memenuhi persyaratan SNI 7188.7:2016 untuk nilai swelling, sedangkan seluruh perlakuan memenuhi persyaratan SNI 7818:2014 untuk parameter kuat tarik dan waktu degradasi, namun belum memenuhi persyaratan untuk parameter elongasi. Temuan ini menunjukkan bahwa, konsentrasi kitosan 2% menunjukkan karakteristik terbaik secara keseluruhan sebagai formulasi bioplastik pati ubi jalar.

2026
👤 Penulis: Denina Riskarania
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

BEAMFORMING PADA RADAR NON-ROTATING 360° BERBASIS HEXAGONAL ARRAY UNTUK APLIKASI AIR SURVEILLANCE

Radar air surveillance konvensional memindai wilayah azimut melalui putaran mekanis, yang membatasi laju pembaruan data dan menuntut perawatan berkala. Radar non-rotating mengatasi keterbatasan ini melalui pemindaian elektronik, namun realisasinya sebagai phased array aktif menuntut penggeser fasa dan penguat pada setiap elemen, sehingga kompleksitas, konsumsi daya, dan biayanya menjadi sangat tinggi. Butler matrix menawarkan alternatif pasif, tetapi menghadirkan dua persoalan: Butler matrix berorde genap tidak menghasilkan berkas pada arah broadside, dan jaringan ini tidak menyediakan informasi sudut kedatangan sinyal secara presisi. Penelitian ini mengusulkan integrasi rat-race coupler pasif pada pasangan port masukan Butler matrix 8×8 yang bersebelahan, untuk secara simultan mengisi celah berkas broadside dan membangkitkan kanal jumlah (?) serta kanal selisih (?) bagi estimasi sudut monopulse — seluruhnya tanpa komponen aktif maupun pemrosesan digital. Sistem dirancang pada substrat FR4 di frekuensi 3 GHz sebagai satu sektor dari susunan heksagonal 48 elemen, disimulasikan dengan CST Microwave Studio, difabrikasi, dan divalidasi melalui pengukuran Vector Network Analyzer serta pengukuran pola radiasi outdoor. Hasil pengukuran menunjukkan return loss seluruh port berada di bawah ?10 dB, deviasi fasa progresif Butler matrix tidak melebihi 2,7°, dan rat-race coupler menghasilkan beda fasa 0,43° pada kanal ? dan 180,16° pada kanal ?. Sistem terintegrasi membentuk berkas ? tepat pada arah broadside, membuktikan tercapainya beam gap filling. Kurva diskriminan ?/? pada lima pasangan port .menghasilkan estimasi sudut dengan galat rerata 0,44°, mencakup seluruh sektor ±30°.

2026
👤 Penulis: Wulan Widya Yukti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN INDUSTRI PRODUKSI TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM) KERING IRISAN DAN BUBUK

Tomat merupakan komoditas hortikultura dengan produksi tinggi di Indonesia, namun memiliki kadar air yang sangat tinggi (93–95%) sehingga mudah mengalami kerusakan dan kehilangan hasil (food loss) selama penyimpanan dan distribusi. Kondisi ini menyebabkan umur simpan tomat relatif pendek serta fluktuasi harga saat panen raya. Salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan pascapanen adalah melalui proses pengeringan yang dapat menurunkan kadar air, menghambat pertumbuhan mikroorganisme, memperpanjang umur simpan, serta meningkatkan nilai tambah tomat. Namun, untuk menghasilkan tomat kering dengan mutu yang baik, proses pengeringan perlu didukung oleh tahapan pengolahan yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan perancangan proses yang terintegrasi guna menjaga kualitas produk selama pengolahan hingga penyimpanan. Perancangan industri ini bertujuan menghasilkan produk tomat kering dalam bentuk irisan dan bubuk yang berkualitas, aman, serta memiliki umur simpan yang lebih panjang. Sistem produksi dirancang secara terintegrasi mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi. Inovasi yang diterapkan meliputi pre-treatment menggunakan kalium metabisulfit (K?S?O?) dan kalsium klorida (CaCl?), pengeringan menggunakan food dehydrator, serta pengemasan vakum. Pre-treatment berfungsi untuk mempertahankan warna, tekstur, dan kandungan nutrisi, sedangkan food dehydrator akan memberikan hasil pengeringan yang lebih merata dan terkontrol. Pengemasan vakum digunakan untuk menghambat oksidasi dan pertumbuhan mikroorganisme sehingga dapat memperpanjang umur simpan tomat kering. Kapasitas produksi dirancang menggunakan 579 kg tomat segar per batch yang akan menghasilkan 248 kemasan irisan tomat kering serta 58 kemasan tomat bubuk, dengan bobot masing-masing 100 gram dan total produksi sekitar 984 kg per bulan. Sistem produksi menerapkan konsep zero waste, yaitu irisan tomat yang tidak memenuhi standar estetika diolah menjadi bubuk sehingga pemanfaatan bahan baku lebih optimal. Produk yang dihasilkan memiliki kadar air rendah, mutu mikrobiologis stabil, umur simpan lebih panjang, serta kandungan nutrisi dan antioksidan yang tetap terjaga. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri ini layak dijalankan dengan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp3.016.032.531, Internal Rate of Return (IRR) 34%, Benefit Cost Ratio (BCR) 1,9, dan Payback Period (PP) selama 2 tahun 3 bulan. Analisis sensitivitas menunjukkan usaha masih layak pada kenaikan biaya bahan baku hingga 54% serta penurunan harga jual maupun volume penjualan hingga 13%.

2026
👤 Penulis: Nadya Maulia Fitriani
🏷️ Produksi Hidroponik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kontrol Mikrobiologis

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM CLOUD BACKEND BERBASIS MQTT UNTUK PENJADWALAN BERBASIS RENTANG WAKTU DAN KOORDINASI MULTI-CAREGIVER PADA DISPENSER OBAT IOT

Medication adherence merupakan faktor penting dalam keberhasilan terapi, terutama pada lansia yang menjalani pengobatan jangka panjang dan mengonsumsi beberapa jenis obat. Kompleksitas jadwal obat, keterbatasan fisik dan kognitif, serta tidak selalu hadirnya caregiver dapat menyebabkan obat tidak dikonsumsi sesuai jadwal. Untuk membantu permasalahan tersebut, tugas akhir kelompok ini mengembangkan MedEase, yaitu dispenser obat berbasis Internet of Things yang dapat menyimpan obat, memberikan pengingat, mengeluarkan obat sesuai jadwal, serta memungkinkan caregiver melakukan pemantauan dari jarak jauh. Tugas akhir ini berfokus pada perancangan dan implementasi subsistem cloud backend berbasis MQTT untuk mendukung pengelolaan jadwal obat, sinkronisasi cloud-device, pemantauan status perangkat, penyimpanan riwayat kepatuhan, dan notifikasi caregiver. Subsistem yang dikembangkan terdiri atas aplikasi web caregiver, basis data, scheduler, backend event listener, komunikasi MQTT, dan integrasi Telegram. Aplikasi web digunakan untuk mengelola perangkat, obat, jadwal, profil waktu makan, riwayat konsumsi, dan akses multi-caregiver. Basis data berperan sebagai pusat state sistem, sedangkan backend event listener memproses event dari perangkat, memperbarui basis data, dan mengirim notifikasi jika terdapat event penting. Subsistem dirancang menggunakan model hybrid cloud-edge. Cloud menjadi sumber kebenaran untuk data obat, konfigurasi caregiver, jadwal, dan riwayat sistem, sedangkan ESP32 menjalankan jadwal harian secara lokal. Dengan pendekatan ini, alarm dan proses dispensing tetap dapat berjalan meskipun koneksi internet sementara terputus. Jadwal caregiver dikompilasi menjadi payload harian dan dikirim ke perangkat melalui MQTT. Scheduler menggunakan model penjadwalan berbasis jendela, yaitu setiap dosis direpresentasikan dengan waktu awal, waktu target, dan waktu akhir. Jendela identik dapat digabung untuk mendukung konsumsi beberapa obat pada waktu yang sama, sedangkan jendela yang beririsan sebagian ditolak untuk menghindari ambiguitas. Hasil implementasi menunjukkan bahwa subsistem berhasil mengintegrasikan aplikasi web caregiver, Supabase PostgreSQL, backend Node.js, broker MQTT, Telegram Bot API, dan ESP32 dispenser. Pengujian menunjukkan sinkronisasi cloud-to-broker memiliki p95 sebesar 265 ms, sinkronisasi hingga acknowledgement perangkat memiliki p95 sebesar 1,81 s, propagasi realtime ke antarmuka pengguna memiliki p50 sebesar 423 ms, dan pengiriman notifikasi Telegram memiliki p95 sebesar 796 ms. Evaluasi usability terhadap 10 calon caregiver menghasilkan task completion rate 100% dan skor System Usability Scale rata-rata 84,0. Berdasarkan hasil tersebut, subsistem yang dikembangkan telah memenuhi fungsi utama sebagai infrastruktur penjadwalan, sinkronisasi, pemantauan, dan notifikasi pada dispenser obat IoT MedEase.

2026
👤 Penulis: Aldeo Malta Junior
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Iot

PEMODELAN PROPAGASI DAN GENANGAN TSUNAMI MENGGUNAKAN DELFT3D SEBAGAI DASAR MITIGASI BENCANA DI PANTAI KLAYAR, PACITAN

Pantai Klayar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan terletak di zona subduksi aktif antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia dengan tingkat eksposur wisatawan mencapai 4.774 orang per hari pada kondisi puncak dan indeks kesiapsiagaan yang masih rendah (0,15). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya tsunami, menghasilkan peta zonasi risiko genangan, serta merancang desain awal Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) berbasis hasil pemodelan numerik. Pemodelan tsunami dilakukan menggunakan Delft3D-FLOW dengan konfigurasi empat tingkatan nesting grid (resolusi 1 km hingga 10 m) terhadap lima skenario megathrust PuSGeN 2024. Deformasi dasar laut dihitung menggunakan Model Okada (1985) melalui Delft Dashboard dengan magnitudo momen berdasarkan persamaan Hanks & Kanamori (1979). Data batimetri dan topografi bersumber dari BATNAS, DEMNAS, dan GEBCO 08 yang digabungkan menggunakan Global Mapper, serta analisis pasang surut dilakukan menggunakan metode Least Square berbantuan toolbox UTide pada perangkat lunak MATLAB terhadap data BIG periode Mei–Juni 2025. Hasil pemodelan digunakan sebagai basis perencanaan jalur evakuasi sesuai Pedoman Bina Marga No.10/P/BM/2023 dan desain awal struktur BEV menggunakan ETABS 22 berdasarkan SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, SNI 2847:2019, dan FEMA P-646. Skenario 5 (segmen Eastern Java + Sumba, Mw 9,59) ditetapkan sebagai skenario terburuk. Peta zonasi risiko genangan dihasilkan dan diklasifikasikan menjadi tiga zona bahaya berdasarkan Peraturan Kepala BNPB Nomor 2 Tahun 2012. Evaluasi evakuasi menunjukkan bahwa ETE 24,8 menit melampaui waktu evakuasi tersedia, sehingga kebutuhan TES di kawasan ini terkonfirmasi. Dua lokasi TES ditetapkan: Bukit Klayar Alami (TES Barat) dan BEV berkapasitas 1.000 orang (TES Timur). BEV direncanakan berukuran 35 m × 30 m dengan area evakuasi pada elevasi 18,5 m. Sistem struktur menggunakan SRPMK Kategori Risiko IV (Ie = 1,5) dan KDS D, dengan empat komponen beban tsunami FEMA P-646 diperhitungkan. Seluruh design check ETABS dinyatakan memenuhi persyaratan SNI dan FEMA P-646.

2026
👤 Penulis: Ridha Pramesthi
🏷️ Pemodelan Tsunami 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

MODEL SISTEM DINAMIS UNTUK ANALISIS KEBIJAKAN KONVERSI LIQUIFIED PETROLEUM GAS (LPG) KE DIMETIL ETER (DME) DI INDONESIA

Liquified petroleum gas (LPG) merupakan sumber energi rumah tangga yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Tingginya ketergantungan Indonesia pada LPG impor (sebesar 79%) untuk memenuhi energi rumah tangga domestik menimbulkan permasalahan dalam ketahanan energi nasional. Sebagai upaya untuk mengurangi risiko permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia berupaya untuk menggantikan sebagian LPG dengan sumber energi alternatif, yaitu dimetil eter (DME) yang diperoleh dari teknologi gasifikasi batu bara domestik. Meskipun konversi ini sebagai salah satu program prioritas yang ditetapkan dalam Perpres No. 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pelaksanaan program ini melibatkan banyak pemangku kepentingan di dalamnya. Pemangku kepentingan dan aktor yang terlibat dalam program konversi LPG ke DME ini diantaranya Pemerintah Indonesia sebagai problem owner, PT Bukit Asam sebagai penyedia batu bara, pabrik DME sebagai produsen DME, PT Pertamina Patra Niaga sebagai off-taker dan distributor DME, serta masyarakat yang terdampak dari konversi energi rumah tangga. Pelaksanaan program konversi LPG ke DME ini merupakan salah satu contoh sistem transisi energi nasional. Kinerja dari sistem transisi ini menentukan tingkat keberhasilan transisi dan dampaknya pada aktor yang terlibat. Peran pemerintah melalui kebijakan fiskal dan non fiskal yang dibuat diperlukan untuk menjaga kualitas dari kinerja sistem transisi energi nasional tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian untuk memodelkan rekomendasi strategi kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan keberhasilakn konversi LPG ke DME di Indonesia. Melalui pengembangan model sistem dinamis, pengaruh setiap alternatif rekomendasi strategi kebijakan fiskal dan non fiskal yang akan disusun oleh pemerintah terhadap kinerja sistem dapat disimulasikan. Untuk mengukur kinerja sistem, digunakan kriteria performansi tingkat pencapaian target produksi DME, tingkat impor LPG nasional, dan rasio beban fiskal nasional dalam implementasi konversi DME. Model yang dikembangkan mempertimbangkan aspek fiskal berupa adanya insentif, subsidi dan penghematan fiskal dan aspek teknis berupa tingkat konversi batu bara ke DME dan learning rate. Untuk memodelkan bagaimana performansi konversi dapat meningkatkan keekonomian DME, digunakan mekanisme learning curve terhadap biaya produksi DME. Pada penelitian ini dikembangkan kondisi business as usual (BAU) yang merepresentasikan implementasi kebijakan sesuai rencana pemerintah. Hasil simulasi pada target blending ratio (BR) 20% dan 50% menunjukkan tingkat pencapaian produksi DME masing-masing sebesar 41,93% dan 53,30%, penurunan impor LPG menjadi 72,89% dan 54,63%, tingkat penghematan terhadap pengeluaran 144% dan 368%, serta keuntungan dari penjualan batu bara sebesar 59,2 juta dan 190,5 juta USD/tahun. Evaluasi tiga skenario kebijakan, yaitu Technology Plateau (TPL), Technology Push (TPU), dan Energy Security Push (ESP), menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) menunjukkan bahwa strategi yang paling sesuai bergantung pada target BR. Pada BR 20%, skenario konservatif melalui TPL memberikan keseimbangan terbaik antara pemenuhan kebutuhan DME, efisiensi fiskal, dan manfaat ekonomi, sedangkan pada BR 50%, ESP lebih sesuai untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi melalui pemberian insentif serta percepatan pengembangan industri dan learning effect. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan transisi LPG ke DME perlu diterapkan secara bertahap sesuai target blending ratio.

2026
👤 Penulis: David Chekat Januardi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MENGUNGKAP BEBAN TERSEMBUNYI TUBERKULOSIS (TB) UNTUK PENENTUAN PRIORITAS INTERVENSI DI JAWA BARAT

Estimasi beban tuberkulosis (TB) yang merepresentasikan suatu wilayah menghadapi tantangan berupa bias kapasitas diagnostik. Hal ini dapat menjadi pemicu kesalahan dalam penentuan fokus intervensi kesehatan. Tingginya angka kasus di suatu wilayah bisa jadi hanya mencerminkan implikasi dari banyaknya alat tes, bukan merepresentasikan beban penyakit yang sebenarnya. Studi ini melakukan analisis dan evaluasi dari kondisi penyakit TB di Provinsi Jawa Barat dengan menyoroti ketimpangan distribusi alat diagnostik, yaitu GeneXpert, dengan mempertimbangkan kondisi sosioekonomi, demografi, dan lingkungan dari masing-masing wilayah. Melalui pendekatan pemodelan inferensi Bayesian, studi ini berhasil membangun model yang mengoreksi bias laporan data kasus akibat persebaran GeneXpert yang tidak merata dan membuktikan bahwa variasi laporan kasus di wilayah yang ada di Jawa Barat saat ini lebih didorong oleh heterogenitas ketersediaan alat diagnostik, sedangkan positivity rate di masyarakat sebenarnya relatif homogen antarwilayah di Jawa Barat. Untuk memahami hubungan kerentanan beban penyakit antarwilayah secara spasial, dilakukan pengonstruksian jaringan yang memetakan konektivitas kerentanan TB berdasarkan kemiripan sosioekonomi dan kedekatan geografis. Jaringan yang terbentuk kemudian dievaluasi melalui beberapa metrik konektivitas, seperti k- Core, Betweenness Centrality, Eigenvector Centrality, dan PageRank Centrality. Lebih jauh, dari evaluasi yang dilakukan pada jaringan teridentifikasi bahwa kawasan Ciayumajakuning sebagai wilayah dengan tingkat prioritas tinggi untuk dilakukan intervensi. Temuan ini memberikan landasan saintifik bagi pemangku kebijakan untuk membuat intervensi dan alokasi sumber daya lebih optimal dan adil, serta hasil dari studi ini dapat memberikan informasi untuk wilayah yang lebih prioritas untuk fokus intervensi ketika sumber daya yang dimiliki terbatas.

2026
👤 Penulis: Arrofiatuz Zahra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH KETERGANTUNGAN PADA MODEL COPULA ARCHIMEDEAN TERHADAP PREMI DAN CADANGAN ASURANSI JIWA JOINT-LIFE

Asuransi jiwa joint-life merupakan produk asuransi jiwa yang melibatkan dua tertanggung atau lebih, dengan manfaat dibayarkan ketika salah satu tertanggung meninggal dunia. Dalam praktik aktuaria, perhitungan premi dan cadangan umumnya didasarkan pada asumsi bahwa sisa waktu hidup antar tertanggung bersifat saling bebas. Namun, pada kasus pasangan suami-istri, asumsi tersebut belum tentu sepenuhnya terpenuhi karena keduanya dapat memiliki ketergantungan akibat adanya faktor risiko bersama. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat ketergantungan pasangan suami-istri terhadap premi dan cadangan asuransi jiwa joint-life menggunakan model Copula Archimedean. Sebaran marginal laju kematian laki-laki dan perempuan dimodelkan berdasarkan Tabel Mortalitas Penduduk Indonesia 2023 melalui mixed model Gompertz, Makeham, dan Weibull, kemudian struktur ketergantungan pasangan dibangun menggunakan beberapa model Copula Archimedean, yaitu Copula Gumbel dan Copula Clayton, lalu dievaluasi untuk memperoleh model yang paling sesuai. Selanjutnya, premi dan cadangan dihitung menggunakan studi kasus untuk beberapa kombinasi usia, masa pertanggungan, dan tingkat ketergantungan yang direpresentasikan oleh Kendall’s tau dan diperoleh bahwa semakin tinggi tingkat ketergantungan antara pasangan suami-istri, semakin kecil nilai premi dan cadangan yang harus dibentuk.

2026
👤 Penulis: Margareth Liza Siagian
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS BAJA KOMPOSIT TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM RANGKA BRESING KONSENTRIK PADA APARTEMEN 12 LANTAI DI KAWASAN TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT FATMAWATI

Peningkatan jumlah penduduk Kota Jakarta sebesar 0,23% per tahun memicu tingginya kebutuhan hunian di tengah keterbatasan lahan. Kondisi tersebut mendorong terjadinya fenomena commuting jarak jauh yang kurang efisien bagi masyarakat perkotaan. Sebagai solusi, konsep Transit-Oriented Development (TOD) diterapkan untuk mengintegrasikan hunian dengan akses transportasi umum. Kawasan Stasiun MRT Fatmawati dipilih sebagai lokasi strategis karena menghubungkan wilayah penyangga Jakarta Selatan dengan pusat kota. Pada kawasan ini, dilakukan perancangan gedung apartemen kelas menengah urban yang terdiri dari 12 lantai sebagai struktur tahan gempa. Diimplementasikan konsep baja komposit yang terdiri dari kolom komposit, balok komposit, serta pelat komposit dek baja. Sistem penahan gaya lateral direncanakan menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Rangka Bresing Konsentrik Khusus (SRBKK). Digunakan sambungan terprakualifikasi tipe Welded Unreinforced Flange-Welded Web (WUF-W) pada sambungan balok-kolom pada SRPMK untuk memenuhi persyaratan daktilitas struktur tahan gempa. Tata cara pembebanan dan analisis struktur yang dilakukan mengacu pada SNI 1727:2020 dan SNI 1726:2019 dengan persyaratan kekuatan dan detailing sambungan mengikuti SNI 1729:2020, SNI 7860:2020, dan SNI 7972:2020.

2026
👤 Penulis: Naila Nurul Hania
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 18 dari 349
💬