📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4,000 dokumen

PENANGANAN SEDIMENTASI DI AREA PELABUHAN BATU BARA, SUNGAI BERAU, KALIMANTAN TIMUR

Pelabuhan Batu Bara di Sungai Berau, Kalimantan Timur, mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, yang menurunkan kapasitas barging dari 7.000–7.200 ton (2024) menjadi 6.000–6.400 ton (2025) dan kedalaman efektif jetty dari 5,5–6 m menjadi ±4 m. Penelitian ini menganalisis karakteristik hidrologi-hidraulika penyebab sedimentasi serta merumuskan solusi penanganannya. DAS Berau memiliki luas 14.368 km² dengan CN 70,69 dan debit normal 821–1.111 m³/s. Pemodelan HEC-RAS menunjukkan kecepatan aliran di sekitar jetty 0,5 m/s (Q2) hingga 0,7 m/s (Q25); meski Q25 melampaui kecepatan kritis erosi lanau halus, probabilitas kejadiannya rendah (±4%/tahun) sehingga flushing alami tidak berlangsung berkelanjutan. Pada debit andalan 50%, laju sedimentasi tahunan mencapai 10–15 cm/tahun. Solusi yang dirumuskan adalah pengerukan menggunakan Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD), sesuai karakteristik material clayey silt, dengan luas area 12.150 m², kedalaman 2 m, dan volume keruk 24.300 m³. Hasil kerukan dibuang ke dumping area >12 mil laut sesuai Permenhub No. PM 125 Tahun 2018, dengan estimasi biaya ±Rp 6,74 miliar (±Rp 277.346/m³) dan pengerukan pemeliharaan setiap 4–6 tahun. Selain itu, teridentifikasi lahan kritis berpotensi erosi sangat berat di dekat badan sungai, sehingga direkomendasikan rehabilitasi vegetasi, pemulihan riparian buffer zone, dan pengaturan tata guna lahan untuk mendukung penanganan sedimentasi secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Abiyyu Hafiansyah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Ranny Fitria Mustika Saimuri
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Hanif Halim Wicaksono
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Ega Mutia Asyifa
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

UPCYCLING THE TIDE: EKOWISATA BAHARI SUKU BAJO BERBASIS BLUE ECONOMY SEBAGAI RESPON PARADOKS PESISIR DI KABUPATEN BONE

Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memiliki potensi pariwisata bahari yang besar tetapi menghadapi dua permasalahan paradoks yang fundamental, yaitu degradasi ekosistem laut akibat akumulasi masif sampah dan hilangnya adat istiadat Suku Bajo di Bone yang seharusnya melestarikan laut. Kabupaten Bone menghasilkan 149.743 ton sampah tahunan dengan tingkat pengurangan hanya 14,8%, sehingga menyebabkan pencemaran pesisir yang krusial. Kondisi ini diperparah dengan temuan sampah plastik sebanyak 2,35 buah/m² di perairan laut Sulawesi pada tahun 2020. Ironisnya, krisis ini terjadi di wilayah Suku Bajo di Kelurahan Bajoe, di mana lebih dari 100 ton sampah rumah tangga mencemari lingkungan mereka sendiri, sementara kearifan bahari mereka sebagai penjaga laut semakin terkikis. Tesis ini bertujuan merancang fasilitas Ekowisata Bahari dengan pendekatan Blue Economy dalam menyelaraskan isu lingkungan, sosial, dan ekonomi. Pendekatan ini diwujudkan salah satunya melalui konsep upcycling yang secara fungsional mentransformasi sampah plastik laut menjadi material bangunan inovatif untuk digunakan dalam pembangunan rancangan sekaligus dipasarkan (Value Creation), sehingga menciptakan rantai nilai ekonomi baru yang lahir langsung dari proses pemulihan lingkungan. Perwujudan prinsip dalam Blue Economy juga hadir untuk memastikan manfaatnya dirasakan secara adil dan merata, dengan memposisikan komunitas Suku Bajo sebagai subjek dan aktor utama. Fasilitas yang dirancang menyediakan ruang-ruang untuk merevitalisasi kearifan bahari serta memberdayakan ekonomi komunitas melalui keterlibatan langsung dalam operasional wisata dan upcycling (Inclusivity). Aspek Sustainability juga diwujudkan dengan mengangkat kembali identitas budaya mereka melalui adopsi prinsip arsitektur vernakular pesisir yang bioklimatik. Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah destinasi wisata yang otentik dan integratif, di mana keindahan pesisir dan narasi regenerasi lingkungan berdasarkan daya tarik Suku Bajo menjadi aspek utamanya, serta memberikan dampak positif bagi kesejahteraan komunitas Suku Bajo.

2026
👤 Penulis: Chaerul Bahrum
🏷️ Ekowisata Bahari 🏷️ Blue Economy 🏷️ Hidrologi

INVESTIGASI EMISI KARBON MATERIAL BIOMASSA PADA BANGUNAN KAYU REKAYASA PRODUK INDUSTRI DI INDONESIA

Sektor bangunan dan konstruksi merupakan salah satu kontributor terbesar emisi karbon global, menyumbang sekitar 37% emisi CO? dunia pada tahun 2022. Di Indonesia, industri manufaktur dan konstruksi menyumbang sekitar 21,46% emisi sektor energi nasional, sebagian besar berasal dari penggunaan material konvensional beremisi tinggi seperti beton dan baja. Pemerintah Indonesia menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030 melalui kerangka Nationally Determined Contributions (NDC). Pencapaian target tersebut membutuhkan transisi menuju material konstruksi rendah karbon. Kayu rekayasa produk industri muncul sebagai alternatif yang menjanjikan karena bersifat terbarukan, efisien dalam pemanfaatan bahan baku, serta mampu menyimpan karbon biogenik dalam jangka panjang. Namun, data emisi karbon kayu rekayasa di Indonesia masih sangat terbatas, belum terdokumentasi secara sistematis, dan belum terdapat Environmental Product Declaration (EPD) terverifikasi dari produsen lokal. Kondisi ini menyulitkan perencana dan pengambil kebijakan dalam menilai potensi material kayu rekayasa untuk mengurangi emisi karbon secara objektif. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi besaran emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia pada tahap sebelum bangunan digunakan, yaitu modul A1 hingga A5 yang mencakup pasokan bahan baku, transportasi bahan baku, manufaktur, transportasi produk ke lokasi konstruksi, dan proses konstruksi. Metode yang digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA) mengacu pada ISO 14040/14044, dan EN 15978:2011, dengan perhitungan karbon biogenik mengikuti EN 16449:2014. Tiga studi kasus dianalisis, yaitu Glulam pada Rumah Pluit Samudra di Jakarta, CLT pada Show Unit Modular di Pejaten, dan Blockwood pada Rumah Pascabencana Gasol di Cianjur, dengan unit fungsional 1 m³ produk terpasang. Data primer diperoleh melalui kunjungan lapangan, wawancara produsen, dan dokumen produksi, sedangkan data sekunder dilengkapi dari basis data emisi internasional dan EPD terverifikasi. Perhitungan Life Cycle Inventory (LCI) dilakukan secara manual berbasis Microsoft Excel agar setiap titik data dapat ditelusuri secara transparan. Hasil penelitian menunjukkan total emisi Global Warming Potential (GWP)-fosil pada modul A1-A5 sebesar 987,26 kg CO?e/m³ untuk Glulam, 904,29 kg CO?e/m³ untuk CLT, dan 840,55 kg CO?e/m³ untuk Blockwood. Modul A3 (manufaktur) menjadi penyumbang emisi terbesar pada seluruh studi kasus akibat konsumsi listrik selama proses produksi dan penggunaan perekat. Modul A1 menjadi kontributor terbesar kedua, tetapi perhitungannya menggunakan data asumsi dari literatur dan EPD terverifikasi. Penyimpanan karbon biogenik tertinggi ditemukan pada CLT sebesar 1.047,60 kg CO?e/m³, sedangkan Glulam dan Blockwood masing-masing 654,76 kg CO?e/m³. Setelah memperhitungkan karbon biogenik, CLT menghasilkan emisi neto -143,33 kg CO?e/m³ atau berperan sebagai penyerap karbon (carbon sink), sementara Glulam dan Blockwood tetap memiliki emisi neto positif namun jauh lebih rendah dibandingkan material konvensional setara seperti beton struktural. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyediaan basis data emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia yang disusun berdasarkan data primer dari produsen lokal pada tiga jenis produk dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa penyediaan nilai acuan awal yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan basis data emisi material bangunan nasional, penyusunan informasi lingkungan produk kayu rekayasa lokal, serta sebagai referensi bagi pengembangan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam pemilihan material bangunan berdasarkan kinerja emisi karbon di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Inten Persa Rosalia
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

INTERACTIVE PLATFORM FOR THREE-DIMENSIONAL REPRESENTATION OFMULTIBEAM-SURVEYED UNDERWATER ARCHAEOLOGICAL SITES IN PANGGANGDISTRICT, SERIBU ISLANDS

Proyek tugas akhir ini menyajikan pengembangan sistem dokumentasi digital terintegrasi untuk dua situs arkeologi bawah air, yaitu bangkai kapal KM Tabularasa dan KM Poso, yang berlokasi di Kecamatan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Data batimetri resolusi tinggi diperoleh menggunakan Norbit WBMS X MBES dengan frekuensi standar 400 kHz, mengacu pada standar IHO S-44 Special Order yang telah disesuaikan, serta strategi survei pencitraan bangkai kapal multi-arah. Strategi ini menggabungkan jalur survei utama (main line), silang (cross line), dan miring (oblique line) untuk meningkatkan cakupan akustik terhadap struktur bangkai kapal yang kompleks, termasuk sisi lambung dan fitur dek. Data yang diperoleh diproses melalui alur kerja hidrografi yang lengkap, meliputi kalibrasi patch-test, koreksi pasang surut, koreksi sound velocity profile, pembersihan point cloud, registrasi swath-to-swath menggunakan algoritma PPP dan Fine Iterative Closest Point, gridding DEM, serta pembuatan mesh PSR. Produk spasial yang dihasilkan diintegrasikan ke dalam DIVE (Diving Into Vessel Exploration), sebuah platform WebGIS Storymap berbasis browser yang menggabungkan antarmuka peta 2D interaktif Leaflet dengan penampil point cloud dan mesh 3D berbasis Three.js. Platform ini didukung oleh frontend Next.js, GeoServer untuk publikasi data raster yang sesuai standar OGC, serta server tile 3D berbasis Potree. Modul Video Pengembangan WebGIS juga dihasilkan untuk mendukung reproduksibilitas metodologi dan transfer pengetahuan di lingkungan komunitas geodesi dan geomatika. Evaluasi pengguna yang melibatkan empat puluh enam responden untuk platform WebGIS dan dua puluh tujuh responden untuk modul video menghasilkan skor kelayakan terbobot sebesar Qw = 3.701 (92.532%) dan Qv =3.775 (94.369%), yang keduanya dikategorikan sebagai Sangat Layak. Proyek ini menunjukkan bahwa integrasi survei MBES definisi tinggi, visualisasi tiga dimensi, dan WebGIS Storymap yang dapat diakses publik dapat mendukung dokumentasi arkeologi bawah air, penelitian, pendidikan, pengambilan keputusan pemerintah, dan pengembangan ekowisata bahari.

2026
👤 Penulis: Hanif Ramadhan
🏷️ Geodesi 🏷️ Geomatika 🏷️ Hidrologi

INTERACTIVE PLATFORM FOR THREE-DIMENSIONAL REPRESENTATION OFMULTIBEAM-SURVEYED UNDERWATER ARCHAEOLOGICAL SITES IN PANGGANGDISTRICT, SERIBU ISLANDS

Proyek tugas akhir ini menyajikan pengembangan sistem dokumentasi digital terintegrasi untuk dua situs arkeologi bawah air, yaitu bangkai kapal KM Tabularasa dan KM Poso, yang berlokasi di Kecamatan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Data batimetri resolusi tinggi diperoleh menggunakan Norbit WBMS X MBES dengan frekuensi standar 400 kHz, mengacu pada standar IHO S-44 Special Order yang telah disesuaikan, serta strategi survei pencitraan bangkai kapal multi-arah. Strategi ini menggabungkan jalur survei utama (main line), silang (cross line), dan miring (oblique line) untuk meningkatkan cakupan akustik terhadap struktur bangkai kapal yang kompleks, termasuk sisi lambung dan fitur dek. Data yang diperoleh diproses melalui alur kerja hidrografi yang lengkap, meliputi kalibrasi patch-test, koreksi pasang surut, koreksi sound velocity profile, pembersihan point cloud, registrasi swath-to-swath menggunakan algoritma PPP dan Fine Iterative Closest Point, gridding DEM, serta pembuatan mesh PSR. Produk spasial yang dihasilkan diintegrasikan ke dalam DIVE (Diving Into Vessel Exploration), sebuah platform WebGIS Storymap berbasis browser yang menggabungkan antarmuka peta 2D interaktif Leaflet dengan penampil point cloud dan mesh 3D berbasis Three.js. Platform ini didukung oleh frontend Next.js, GeoServer untuk publikasi data raster yang sesuai standar OGC, serta server tile 3D berbasis Potree. Modul Video Pengembangan WebGIS juga dihasilkan untuk mendukung reproduksibilitas metodologi dan transfer pengetahuan di lingkungan komunitas geodesi dan geomatika. Evaluasi pengguna yang melibatkan empat puluh enam responden untuk platform WebGIS dan dua puluh tujuh responden untuk modul video menghasilkan skor kelayakan terbobot sebesar Qw = 3.701 (92.532%) dan Qv =3.775 (94.369%), yang keduanya dikategorikan sebagai Sangat Layak. Proyek ini menunjukkan bahwa integrasi survei MBES definisi tinggi, visualisasi tiga dimensi, dan WebGIS Storymap yang dapat diakses publik dapat mendukung dokumentasi arkeologi bawah air, penelitian, pendidikan, pengambilan keputusan pemerintah, dan pengembangan ekowisata bahari.

2026
👤 Penulis: Alena Cansery
🏷️ Geodesi 🏷️ Geomatika 🏷️ Hidrologi

INTERACTIVE PLATFORM FOR THREE-DIMENSIONAL REPRESENTATION OFMULTIBEAM-SURVEYED UNDERWATER ARCHAEOLOGICAL SITES IN PANGGANGDISTRICT, SERIBU ISLANDS

Proyek tugas akhir ini menyajikan pengembangan sistem dokumentasi digital terintegrasi untuk dua situs arkeologi bawah air, yaitu bangkai kapal KM Tabularasa dan KM Poso, yang berlokasi di Kecamatan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Data batimetri resolusi tinggi diperoleh menggunakan Norbit WBMS X MBES dengan frekuensi standar 400 kHz, mengacu pada standar IHO S-44 Special Order yang telah disesuaikan, serta strategi survei pencitraan bangkai kapal multi-arah. Strategi ini menggabungkan jalur survei utama (main line), silang (cross line), dan miring (oblique line) untuk meningkatkan cakupan akustik terhadap struktur bangkai kapal yang kompleks, termasuk sisi lambung dan fitur dek. Data yang diperoleh diproses melalui alur kerja hidrografi yang lengkap, meliputi kalibrasi patch-test, koreksi pasang surut, koreksi sound velocity profile, pembersihan point cloud, registrasi swath-to-swath menggunakan algoritma PPP dan Fine Iterative Closest Point, gridding DEM, serta pembuatan mesh PSR. Produk spasial yang dihasilkan diintegrasikan ke dalam DIVE (Diving Into Vessel Exploration), sebuah platform WebGIS Storymap berbasis browser yang menggabungkan antarmuka peta 2D interaktif Leaflet dengan penampil point cloud dan mesh 3D berbasis Three.js. Platform ini didukung oleh frontend Next.js, GeoServer untuk publikasi data raster yang sesuai standar OGC, serta server tile 3D berbasis Potree. Modul Video Pengembangan WebGIS juga dihasilkan untuk mendukung reproduksibilitas metodologi dan transfer pengetahuan di lingkungan komunitas geodesi dan geomatika. Evaluasi pengguna yang melibatkan empat puluh enam responden untuk platform WebGIS dan dua puluh tujuh responden untuk modul video menghasilkan skor kelayakan terbobot sebesar Qw = 3.701 (92.532%) dan Qv =3.775 (94.369%), yang keduanya dikategorikan sebagai Sangat Layak. Proyek ini menunjukkan bahwa integrasi survei MBES definisi tinggi, visualisasi tiga dimensi, dan WebGIS Storymap yang dapat diakses publik dapat mendukung dokumentasi arkeologi bawah air, penelitian, pendidikan, pengambilan keputusan pemerintah, dan pengembangan ekowisata bahari.

2026
👤 Penulis: Rasya Intishar
🏷️ Geodesi 🏷️ Geomatika 🏷️ Hidrologi

INTERACTIVE PLATFORM FOR THREE-DIMENSIONAL REPRESENTATION OFMULTIBEAM-SURVEYED UNDERWATER ARCHAEOLOGICAL SITES IN PANGGANGDISTRICT, SERIBU ISLANDS

Proyek tugas akhir ini menyajikan pengembangan sistem dokumentasi digital terintegrasi untuk dua situs arkeologi bawah air, yaitu bangkai kapal KM Tabularasa dan KM Poso, yang berlokasi di Kecamatan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Data batimetri resolusi tinggi diperoleh menggunakan Norbit WBMS X MBES dengan frekuensi standar 400 kHz, mengacu pada standar IHO S-44 Special Order yang telah disesuaikan, serta strategi survei pencitraan bangkai kapal multi-arah. Strategi ini menggabungkan jalur survei utama (main line), silang (cross line), dan miring (oblique line) untuk meningkatkan cakupan akustik terhadap struktur bangkai kapal yang kompleks, termasuk sisi lambung dan fitur dek. Data yang diperoleh diproses melalui alur kerja hidrografi yang lengkap, meliputi kalibrasi patch-test, koreksi pasang surut, koreksi sound velocity profile, pembersihan point cloud, registrasi swath-to-swath menggunakan algoritma PPP dan Fine Iterative Closest Point, gridding DEM, serta pembuatan mesh PSR. Produk spasial yang dihasilkan diintegrasikan ke dalam DIVE (Diving Into Vessel Exploration), sebuah platform WebGIS Storymap berbasis browser yang menggabungkan antarmuka peta 2D interaktif Leaflet dengan penampil point cloud dan mesh 3D berbasis Three.js. Platform ini didukung oleh frontend Next.js, GeoServer untuk publikasi data raster yang sesuai standar OGC, serta server tile 3D berbasis Potree. Modul Video Pengembangan WebGIS juga dihasilkan untuk mendukung reproduksibilitas metodologi dan transfer pengetahuan di lingkungan komunitas geodesi dan geomatika. Evaluasi pengguna yang melibatkan empat puluh enam responden untuk platform WebGIS dan dua puluh tujuh responden untuk modul video menghasilkan skor kelayakan terbobot sebesar Qw = 3.701 (92.532%) dan Qv =3.775 (94.369%), yang keduanya dikategorikan sebagai Sangat Layak. Proyek ini menunjukkan bahwa integrasi survei MBES definisi tinggi, visualisasi tiga dimensi, dan WebGIS Storymap yang dapat diakses publik dapat mendukung dokumentasi arkeologi bawah air, penelitian, pendidikan, pengambilan keputusan pemerintah, dan pengembangan ekowisata bahari.

2026
👤 Penulis: Raju Imam Syahanafi
🏷️ Geodesi 🏷️ Geomatika 🏷️ Hidrologi

STUDI EKOLOGI POLITIK DAN TAKSONOMI KEADILAN LINGKUNGAN DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA SARIMUKTI, KABUPATEN BANDUNG BARAT

Dinamika pengelolaan sampah di TPA Sarimukti merepresentasikan kompleksitas spasial dan manajerial dalam tata kelola lingkungan di kawasan aglomerasi Bandung Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relasi kebijakan, tata ruang, dan respons elemen masyarakat sipil dalam perencanaan persampahan regional. Menggunakan pendekatan Ekologi Politik dan Critical Discourse Analysis (CDA), studi ini menganalisis dokumen kebijakan, observasi lapangan, serta wawancara mendalam guna memahami berbagai dimensi di balik penanganan persampahan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kebijakan persampahan regional cenderung berorientasi pada pendekatan teknokratis yang berpusat pada infrastruktur fisik, khususnya melalui rencana Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL). Pendekatan ini berfokus pada stabilitas pelayanan perkotaan, namun masih menghadapi tantangan dalam pengendalian sampah di wilayah hulu. Secara spasial, hal ini memicu distribusi beban ekologis yang belum seimbang, menempatkan perdesaan penyangga sebagai area penerima eksternalitas. Kondisi tersebut turut berdampak pada optimalisasi partisipasi warga dan peningkatan risiko sosial-ekologis, di tengah tingginya ketergantungan ekonomi masyarakat lokal pada keberadaan fasilitas TPA. Merespons dinamika tersebut, masyarakat sipil bersama komunitas lokal mendorong pendekatan yang lebih inklusif dengan mengartikulasikan urgensi desentralisasi penanganan sampah, penguatan ekonomi sirkular, serta implementasi Extended Producer Responsibility (EPR). Studi ini menyimpulkan bahwa penyelesaian persoalan persampahan memerlukan integrasi antara penyediaan infrastruktur dan pendekatan sosial. Diperlukan pergeseran menuju tata kelola berbasis Transisi Berkeadilan (Just Transition), yaitu kerangka kolaboratif yang mendorong keseimbangan distribusi beban ruang dan mengakomodasi kebutuhan lingkungan masyarakat di tingkat tapak secara optimal.

2026
👤 Penulis: Diexy Inkha Pradana
🏷️ Ekologi Politik 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Sampah 🏷️ Hidrologi

POLICY INSTRUMENT MIX UNTUK IMPLEMENTASI GASIFIKASI BATU BARA MENJADI DIMETHYL ETHER SEBAGAI SUBSTITUSI LIQUEFIED PETROLEUM GAS DI INDONESIA: PENDEKATAN NATO – AHP

Indonesia menghadapi tantangan struktural berupa ketergantungan tinggi terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang mencapai lebih dari 70 persen dari total konsumsi nasional, menimbulkan beban subsidi fiskal Rp87 triliun per tahun dan kerentanan terhadap volatilitas harga energi global. Sebagai respons, pemerintah menetapkan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai Proyek Strategis Nasional dan bagian dari agenda hilirisasi industri. Namun demikian, meskipun telah mendapat komitmen kebijakan normatif yang kuat – termasuk groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo pada Januari 2022 – proyek ini belum berhasil merealisasikan investasi dan memulai konstruksi. Kondisi ini mencerminkan kegagalan pada dua tataran yang saling terkait: kegagalan formulasi kebijakan, yakni ketiadaan instrumen operasional yang koheren sejak tahap perancangan, dan kegagalan implementasi yang ditimbulkannya, berupa ketidakmampuan aktor pelaksana untuk mengambil keputusan investasi akibat tidak tersedianya struktur insentif yang memadai. Penelitian ini bertujuan merumuskan konfigurasi policy instrument mix yang koheren dan implementatif untuk mendukung keberhasilan proyek DME. Secara metodologis, penelitian menggunakan desain analitis-preskriptif berbasis studi kasus yang mengintegrasikan analisis kebijakan kualitatif menggunakan kerangka NATO (Nodality, Authority, Treasure, Organization) dari Hood (1983) dengan metode analisis kuantitatif Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas instrumen secara terukur. Data dikumpulkan melalui studi dokumen kebijakan, wawancara mendalam, dan kuesioner AHP dengan sebelas responden pakar dari Kementerian ESDM, Bappenas, Danantara, PT Bukit Asam, PT Pertamina, dan kalangan praktisi energi independen, kemudian divalidasi melalui triangulasi lintas sumber dan metode. Hasil analisis menunjukkan bahwa hambatan implementasi bersifat multidimensi dan saling terkait pada keempat dimensi NATO: defisit kredibilitas roadmap dan komunikasi kebijakan (Nodality); absennya regulasi penugasan formal, penetapan harga, dan wilayah distribusi (Authority); ketiadaan dukungan fiskal capital expenditure (CAPEX) untuk fasilitas produksi dan infrastruktur hilir, serta ketidakpastian skema subsidi (Treasure); dan absennya institusi koordinator bermandat hukum yang efektif (Organization). Hasil analisis AHP dengan nilai Consistency Ratio kelompok tertinggi sebesar 1,9 persen (pada node Nodality), jauh di bawah ambang batas 10 persen, menghasilkan urutan prioritas dimensi: Treasure (46,9%), Authority (38,7%), Organization (8,2%), dan Nodality (6,1%). Empat subkriteria tertinggi – CAPEX fasilitas produksi (T2, 25,2%), regulasi harga DME (A2, 19,8%), subsidi konsumen (T1, 15,8%), dan regulasi penugasan offtaker (A1, 13,8%) – secara kumulatif mencakup 74,6 persen bobot keseluruhan. Temuan bahwa Treasure lebih dominan daripada Authority mengindikasikan bahwa kelayakan finansial merupakan prasyarat kausal yang mendahului kepastian regulatif dalam proyek infrastruktur energi berskala besar. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan konfigurasi Pendekatan Terpadu yang diimplementasikan dalam tiga fase: penerbitan paket regulasi dan komitmen fiskal secara simultan (Fase I, 0–12 bulan); operasionalisasi infrastruktur distribusi dan komunikasi publik (Fase II, 6–24 bulan); serta konstruksi dan skalabilitas program (Fase III, 18–60 bulan). Berdasarkan proyeksi yang dikembangkan oleh Danantara (2026) dan kalkulasi CAPEX yang telah dilakukan oleh PTBA, implementasi penuh strategi policy instrument mix yang direkomendasikan berpotensi menghasilkan penghematan subsidi Rp40,56 triliun per tahun, eliminasi impor LPG senilai US$4,67 miliar per tahun, dan net benefit kumulatif Rp644,70 triliun dalam horizon 20 tahun. Angka-angka proyeksi tersebut bersumber dari Danantara (2026) dan PTBA; kontribusi penelitian ini adalah mengintegrasikan dan menjelaskan secara kausal mengapa konfigurasi instrumen kebijakan yang direkomendasikan menjadi prasyarat bagi terwujudnya manfaat dimaksud. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian desain instrumen kebijakan di sektor energi melalui integrasi kerangka NATO dan metode AHP dalam konteks hilirisasi sumber daya alam di negara berkembang.

2026
👤 Penulis: Purwanto
🏷️ Kebijakan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Kebijakan

ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBASIS KOMUNITAS :STUDI KASUS PROGRAM KAMPUNG IKLIM (PROKLIM) DI KAMPUNG CIBUNUTDAN KAMPUNG TAKAKURA SUKAMISKIN, KOTA BANDUNG

Program Kampung Iklim (ProKlim) kerap dihadapkan pada ancaman ketergantungan proyek (project dependency) pasca-pendampingan eksternal. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan model keberlanjutan ProKlim pasca-predikat Lestari di kawasan perkotaan yang dibedakan oleh fondasi sosialnya, yakni Kampung Cibunut (stabil-homogen) dan Kampung Takakura (dinamis-heterogen) di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus komparatif. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Community-Based Environmental Management (CBEM), tipologi sosiologi (Gemeinschaft-Gesellschaft), serta konsep modal sosial (bonding, bridging, linking). Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, yang didukung oleh data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan capaian administratif tertinggi belum menjamin ketangguhan substantif yang seragam akibat perbedaan tipologi sosial. Di Kampung Cibunut, keberlanjutan berakar pada ikatan paguyuban dan bonding capital yang melahirkan "gotong royong emosional" serta inovasi subsisten, namun rentan akibat minimnya linking capital. Sebaliknya, Kampung Takakura merepresentasikan masyarakat patembayan yang digerakkan "profesionalitas rasional" purnatugas. Mereka sukses meretas pendanaan CSR skala besar lewat bridging dan linking capital, namun dibayangi ancaman krisis regenerasi kultural dan mentalitas transaksional warga. Studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada model tunggal (one-size-fits-all) untuk keberlanjutan iklim perkotaan. Resiliensi sejati menuntut keseimbangan kapasitas struktural dan kohesi sosial. Sebagai solusi, direkomendasikan "Model Keberlanjutan Iklim Urban Berbasis Adaptasi Karakter" yang mencakup reorientasi penilaian kontekstual, peran pemerintah sebagai broker modal sosial, dan sistematisasi regenerasi.

2026
👤 Penulis: Edit Rahmadhita Anas
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS LAJU ANGKUTAN SEDIMEN SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP EROSI TIKUNGAN DAN PERUBAHAN MORFOLOGI SUNGAI PADA RUAS HILIR SUNGAI BENENAIN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Sungai Benenain merupakan sungai dengan karakteristik morfologi yang dinamis akibat interaksi antara aliran, angkutan sedimen, dan geometri alur. Pada ruas hilir, kelengkungan sungai menyebabkan distribusi energi aliran yang tidak seragam sehingga memengaruhi proses erosi dan deposisi, khususnya pada tikungan sungai. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju angkutan sedimen dan implikasinya terhadap perubahan dasar sungai serta erosi pada tikungan, sekaligus mengevaluasi skenario penanganan yang sesuai dengan karakteristik hidrodinamika dan morfologi lokal. Analisis dilakukan pada ruas hilir Sungai Benenain sepanjang ±5,96 km selama periode 2019–2023 menggunakan formulasi angkutan sedimen Van Rijn serta pemodelan hidrodinamika dan morfologi satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D) dengan HEC-RAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan debit dari 1,5 m³/det menjadi 100 m³/det meningkatkan laju angkutan sedimen total dari 0,007715 ton/hari menjadi 868,882805 ton/hari, dengan dominasi angkutan sedimen dasar. Peningkatan kecepatan dan tegangan geser juga diikuti oleh degradasi dasar hingga ?0,7621 m, yang menunjukkan keterkaitan antara energi aliran, mobilisasi sedimen, dan perubahan morfologi sungai. Pada tiga tikungan kritis, perbedaan geometri alur menghasilkan distribusi kecepatan, tegangan geser, serta zona erosi–deposisi yang berbeda. Evaluasi skenario menunjukkan bahwa kombinasi krib–revetment lebih sesuai diterapkan pada Tikungan 1 dan Tikungan 2, sedangkan revetment lebih sesuai pada Tikungan 3. Skenario tersebut mampu mengurangi konsentrasi energi aliran pada tebing luar dan menghasilkan respons perubahan dasar yang lebih terkendali. Hasil penelitian menegaskan bahwa penanganan erosi tikungan tidak dapat diterapkan secara seragam, tetapi perlu ditentukan berdasarkan keterkaitan antara angkutan sedimen, karakteristik hidrodinamika, dan respons morfologi lokal pada setiap tikungan.

2026
👤 Penulis: Marianus Andre Neka
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Erosi Mikro

NIMA: SEBUAH PUSAT PROMOSI DAN BUDIDAYA PERIKANAN DI TEPI WADUK DARMA

Waduk Darma di Kabupaten Kuningan merupakan kawasan perairan multifungsi yang berperan sebagai sumber irigasi, destinasi wisata, sekaligus sentra budidaya perikanan air tawar melalui lebih dari 6.500 unit Keramba Jaring Apung (KJA). Potensi tersebut belum didukung oleh fasilitas yang mampu mengintegrasikan aktivitas produksi perikanan, mitigasi risiko budidaya, serta kegiatan wisata dan edukasi. Di sisi lain, fenomena upwelling (umbalan) yang terjadi secara berkala menyebabkan penurunan kualitas air dan kematian ikan secara massal sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi para pembudidaya. Infrastruktur pascapanen, logistik, dan ruang publik yang tersedia juga masih terbatas sehingga belum mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan maupun kualitas pengalaman wisata kawasan. Tugas akhir ini mengusulkan NIMA (Adaptive Fishery Hub) sebagai sebuah pusat promosi dan budidaya perikanan di tepi Waduk Darma yang berfungsi sebagai titik temu antara aktivitas ekonomi, sosial, dan ekologi. Perancangan menggabungkan tiga fungsi utama, yaitu fasilitas Pusat Pemasaran dan Promosi Hasil Perikanan (P3HP), pusat penyelamatan ikan berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS) yang didukung sistem pemantauan kualitas air, serta ruang publik dan wisata edukatif yang memperlihatkan proses budidaya dan pengolahan hasil perikanan secara aman tanpa mengganggu operasional. Pendekatan perancangan menggunakan Concept-Based Approach dengan konsep Adaptive Confluence, yang memaknai bangunan sebagai antarmuka antara manusia dan alam, air dan daratan, serta aktivitas produksi dan rekreasi dalam satu ekosistem yang adaptif terhadap perubahan lingkungan. Konsep tersebut diwujudkan melalui strategi pemisahan sirkulasi publik dan logistik, penerapan alur pengolahan yang higienis, respons terhadap fluktuasi muka air waduk, serta pembentukan ruang transisi yang memungkinkan interaksi visual antara pengunjung dan aktivitas perikanan. Massa bangunan disusun mengikuti karakter tapak dan orientasi terbaik ke arah waduk untuk memperkuat hubungan visual dengan lanskap sekaligus mendukung efisiensi operasional. Hasil perancangan menghadirkan sebuah fasilitas terpadu yang tidak hanya meningkatkan efisiensi rantai pasok dan nilai tambah produk perikanan, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor budidaya terhadap fenomena upwelling melalui sistem mitigasi berbasis teknologi. Di sisi lain, proyek ini membangun identitas baru kawasan Waduk Darma sebagai destinasi wisata edukatif yang menghubungkan masyarakat, nelayan, dan wisatawan dalam pengalaman ruang yang informatif, interaktif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, NIMA diharapkan menjadi model pengembangan kawasan perikanan tepi waduk yang mampu mengintegrasikan produktivitas ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penguatan kualitas ruang publik.

2026
👤 Penulis: Putra Pandu Riseano
🏷️ Perikanan Air Tawar 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 19 dari 267
💬