📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 24 dokumenANALISIS KRITERIA KERUNTUHAN MODEL BARTON-BANDIS DAN MOHR-COULOMB UNTUK BATUAN BERKEKAR SERTA PENERAPANNYA PADA LERENG TAMBANG HIPOTETIK
Konsep kriteria keruntuhan digunakan dalam menentukan analisis terhadap kestabilan lereng. Saat melakukan perhitungan faktor keamanan menggunakan analisis gaya penahan dan penggerak secara analitik, perkalian area dengan tegangan geser berperan sebagai gaya penahan. Saat ini, kriteria keruntuhan memiliki berbagai model, diantaranya adalah Mohr-Coulomb dan Barton-Bandis. Kriteria keruntuhan pada Mohr-Coulomb didefinisikan sebagai garis linear yang meningkat terhadap sumbu-???? oleh sudut ????. Sedangkan, Barton-Bandis mendekati perilaku kuat runtuh pada batuan terkekarkan dengan garis non-linear. Penelitian ini mengkaji kriteria keruntuhan untuk litologi siltstone, sandstone, marl, limestone, schist dan andesite berdasarkan model Mohr-Coulomb dan Barton-Bandis. Penyelidikan terhadap kriteria keruntuhan tersebut dilakukan dengan pemodelan lereng hipotetik dengan kekar vertikal menggunakan perangkat lunak RS2. Dilakukan variasi terhadap kedalaman kekar dan jarak kekar terhadap bahu lereng. Dijelaskan mengenai hubungan antara geometri kekar dengan nilai SRF kritis yang diapatkan untuk masing-masing kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb dan Barton-Bandis.
PENDEKATAN SPEKTROMETRI SINAR GAMA DALAM EKSPLORASI PANAS BUMI: STUDI KASUS LAPANGAN PANAS BUMI WAYANG WINDU
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar, mencapai sekitar 40% dari cadangan panas bumi dunia, namun pemanfaatannya masih rendah. Lapangan panas bumi Wayang Windu, sebagai salah satu yang terbesar di Jawa Barat, telah berhasil menghasilkan energi listrik dengan kapasitas 227 MWe. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pendekatan metode spektrometri sinar gamma dalam mengeksplorasi panas bumi di daerah Wayang Windu. Sinar gamma, dengan frekuensi lebih dari 1019 Hz dan energi di atas 104 eV, mampu menembus berbagai materi dan sering digunakan untuk mempelajari komposisi batuan. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran lapangan secara langsung menggunakan instrumen global positioning system, gamma spektrometer, dan komputer di 117 titik pengukuran. Tahapan penelitian meliputi studi literatur, pengumpulan data, pengolahan data, serta kesimpulan dan saran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik spektrometri sinar gamma berhasil mengidentifikasi dan mengukur konsentrasi elemen radioaktif ekuivalen seperti kalium, uranium ekuivalen, dan thorium ekuivalen serta laju dosis radiasi (dose rate) dalam batuan vulkanik di daerah Wayang Windu. Analisis data menunjukkan bahwa konsentrasi elemen radioaktif berkorelasi dengan kondisi geologi dan distribusi panas bumi. Selain itu, data spektrometri sinar gamma berhasil dikorelasikan dengan data XRF, menunjukkan hubungan erat antara indeks kimia alterasi (chemical index of alteration) dan hasil pengukuran sinar gamma. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode spektrometri sinar gamma efektif untuk mengevaluasi potensi panas bumi, memberikan informasi penting tentang kondisi geologi dan distribusi elemen radioaktif yang dapat memandu eksplorasi lebih lanjut.
GRID SEARCH OPTIMIZATION: AN APPROACH FOR AUTOMATIC INFILL WELL PLACEMENT THROUGH VORONOI DIAGRAM
This study presents an innovative approach to optimising infill well placement by integrating machine learning techniques, Voronoi diagrams, and GridSearchCV optimisation. The main objective is to enhance oil recovery by strategically determining the optimal locations for infill wells within a multi-layered reservoir. The methodology involves a comprehensive analysis of reservoir characterization data, including porosity, water saturation, and hydrocarbon pore volume (HCPV). Machine learning models predict the current oil in place (COIP). Voronoi diagrams partition the reservoir into manageable regions, each representing a potential infill well location, acting as proxies for drainage areas, thus allowing for precise targeting of high-potential zones. GridSearchCV is utilised to fine-tune the hyperparameters of the machine learning models, ensuring the best possible predictive performance. The approach is validated through a case study of Field X, which encompasses 24 wells across three formation layers: UBR, UBR-B, and UBR-C. The study finds that this integrated method significantly improves the accuracy of infill well placement, resulting in enhanced oil recovery and more efficient reservoir management. The results indicate a substantial increase in the predicted oil after adding new infill wells, demonstrating the effectiveness of combining machine learning with Voronoi diagrams and GridSearchCV optimisation in optimising well placement strategies. This approach offers a valuable tool for reservoir engineers to maximise hydrocarbon recovery and improve field development planning.
ANALISIS KARAKTERISTIK OVERPRESSURE PADA LAPANGAN X, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Cekungan Sumatra Tengah merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon di Indonesia. Cekungan ini diketahui memiliki zona overpressure. Pengetahuan tentang kondisi overpressure sangat diperlukan untuk meminimalkan risiko pengeboran. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kedalaman kemunculan pertama overpressure, mengestimasi nilai tekanan pori menggunakan data log tali kawat, menentukan mekanisme terjadinya overpressure, dan menganalisis hubungan antara stratigrafi daerah penelitian dengan keberadaan overpressure. Penelitian ini dilakukan pada lima sumur (SM-01, SM-02, SM-03, SM-04, dan SM- 05). Estimasi tekanan pori dilakukan dengan Metode Eaton. Hasil analisis menunjukkan pada kelima sumur ditemukan kondisi overpressure. Kedalaman puncak overpressure berkisar antara 4500-6577 ft TVD. Mekanisme pembentukan overpressure pada daerah penelitian adalah mekanisme loading dengan estimasi gradien tekanan pori pada zona overpressure sebesar 0,69 psi/ft–0,82 psi/ft. Mekanisme loading tersebut mungkin disebabkan oleh pembebanan secara kontinu dengan kecepatan sedimentasi yang tinggi pada Kelompok Pematang yang didominasi oleh litologi serpih.
PREDIKSI KEKUATAN GEMPA MENGGUNAKAN MODEL GENERALIZED SPACE TIME AUTOREGRESSIVE (GSTAR) DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK (ANN) DENGAN MATRIKS BOBOT TIGA DIMENSI
Pulau Sumatera merupakan wilayah yang dilalui oleh sesar aktif, jalur gunung berapi, dan zona subduksi lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang berada di bagian timur Samudera Hindia. Hal ini mengakibatkan 5 dari 25 wilayah rawan gempa di Indonesia berada di Pulau Sumatera. Gempa bumi memiliki karakteristik tidak dapat dicegah tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi. Salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi adalah dengan melakukan prediksi kekuatan gempa menggunakan suatu model ruang-waktu seperti Generalized Space Time Autoregressive (GSTAR). Model GSTAR digunakan untuk mendeteksi pola linier dari data dan Artificial Neural Network (ANN) digunakan untuk menangkap pola nonlinier pada residual dari hasil model GSTAR. Selain itu, karena titik-titik pusat gempa yang berbeda memiliki kedalaman yang berbeda-beda, maka digunakan letak lokasi secara tiga dimensi untuk membangun matriks bobot melalui perkalian matriks Hadamard. Matriks bobot yang digunakan adalah matriks bobot uniform, invers jarak, dan modifikasi yang menggambarkan hubungan antar lokasi yang berbeda. Penelitian ini fokus untuk meneliti kekuatan gempa dari bulan Agustus 2013 sampai dengan Juli 2023 di wilayah zona subduksi Nias – Pagai dan sesar Utara-Barat Sumatera dengan Latitude (-4,544?S – 2,175?N) dan Longitude (95,545? - 102,656?E). Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa model residual GSTAR(1;1)-ANN dengan matriks bobot modifikasi memberikan kemampuan prediksi yang paling baik dengan rata-rata nilai MAPE hasil prediksi yang lebih kecil dibandingkan model lainnya yaitu sebesar 8,27%. Dari perhitungan nilai MAPE, model yang menggunakan ANN dapat meningkatkan performa model sebesar 88,89%. Selanjutnya dilakukan visualisasi melalui peta kontur untuk melihat kontur data asli dan hasil prediksi kekuatan gempa lima bulan kedepan.
DELINEASI ZONA OVERPRESSURE DALAM INTERVAL FORMASI WOOLASTON-VULCAN MENGGUNAKAN METODE EATON DAN PROPERTI ELASTIS SEISMIK DARI INVERSI SEISMIK SIMULTAN: STUDI KASUS LAPANGAN POSEIDON, CEKUNGAN BROWSE
Dalam proses eksplorasi oil and gas sebelum masuk ke tahap pengembangan, diperlukan pemboran sumur-sumur baru untuk memaksimalkan potensi hidrokarbon. Agar proses pemboran berjalan lancar dan aman, studi tekanan pori harus dilakukan untuk mencegah terjadi kick atau yang paling buruk terjadi blowout. Oleh karena itu, estimasi tekanan pori sangat penting dalam melakukan eksplorasi hidrokarbon khususnya untuk menentukan kisaran aman dari berat lumpur. Salah satu objektif dalam studi tekanan pori adalah mengetahui dimana lokasi atau zona overpressure. Penelitian ini menggunakan open data Poseidon 3D yang diolah untuk interval Formasi Woolaston hingga Formasi Vulcan/Brewster Shale. Dalam penelitian ini estimasi tekanan pori dilakukan menggunakan log sonik dengan metode Eaton. Dalam analisis tekanan pori, data mudweight dan Modular Dynamic Test (MDT) sebagai validasi hasil perhitungan sudah benar. Berdasarkan hasil perhitungan tekanan pori pada sumur, didapatkan top overpressure pada Formasi Jamieson. Analisis parameter sensitif pada properti elastik seismik dengan colorkey tekanan pori dilakukan melalui teknik crossplot. Berdasarkan hasil analisis AI dan SI sensitif terhadap tekanan pori yang overpressure. Hasil Deliniasi dari model parameter AI, SI, dan perhitungan tekanan pori Metode Eaton 3D mengindikasikan bahwa terdapat variasi nilai overpressure dalam interval formasi Jamieson – Vulcan. Nilai overpressure yang rendah terdapat di area barat laut (NW) dengan sebaranya barat daya (SW) – timur laut (NE) dimana di area tersebut hadirnya struktur uplift yang terjadi rifting pada masa Jurassic sehingga terjadi nya penipisan formasi kemudian formasi menebal ke arah tenggara (SE) dan barat laut (NW) Kembali ke nilai overpressure yang tinggi.
STUDI PENURUNAN TANAH TERKINI DI CEKUNGAN BANDUNG
Cekungan Bandung memiliki masalah penurunan muka tanah yang sudah diamati sejak tahun 2000. Penurunan muka tanah yang terjadi pada Cekungan Bandung diperkirakan sangat dipengaruhi oleh pengambilan air tanah yang berlebihan (Abidin, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar dari penurunan muka tanah yang terjadi di Cekungan Bandung di tahun 2010 sampai 2016. Pemantauan penurunan muka tanah terkini di Cekungan Bandung pada penelitian ini dilakukan dengan metode survei GPS (Global Potitioning System) dari tahun 2010 sampai 2016 di beberapa daerah yang diduga mengalami penurunan muka tanah. Hasil pengolahan data GPS menunjukkan pada periode tahun 2010 sampai 2016 beberapa daerah di Cekungan Bandung telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 0.1 sampai 20 cm pertahun yang bervariasi baik secara spasial maupun temporal. Pemantauan terhadap penurunan muka tanah ini berguna untuk pengaturan pengambilan air tanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan.
PENERAPAN METODE VERTIKAL DERIVATIF DALAM PERHITUNGAN KONTINUASI KE BAWAH UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN APLIKASINYA PADA DATA LAPANGAN CEKUNGAN BANDUNG
Pengolahan dan interpretasi data gravitasi sangat penting dalam berbagai studi geofisika. Salah satu metode penting dalam pemrosesan data lapangan potensial adalah kontinuasi ke bawah, yang membantu mereduksi data observasi menjadi data yang lebih mudah diinterpretasi. Namun, operasi kontinuasi ke bawah sering tidak stabil ketika menggunakan data dengan noise. Oleh karena itu, metode mutakhir diperlukan, seperti metode turunan vertikal dengan upward continuation yang digunakan dalam downward continuation. Tujuan penelitian ini adalah memahami dan menghitung penggunaan metode UCT dalam downward continuation pada model sintetik, membandingkan hasilnya dengan software komersil, dan mengaplikasikan metode UCT pada data lapangan untuk menilai penggunaan praktisnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan stabilitas dan akurasi yang tinggi, terutama pada data dengan noise. Metode UCT dapat memetakan struktur regional lebih baik daripada peta FAA. Analisis lintasan menunjukkan detail geologi, termasuk Cekungan Bandung berbentuk tapal kuda membuka ke barat, dikelilingi gunungapi. Di sebelah utara, kompleks gunung seperti Gunung Burangrang, Gunung Tangkubanparahu, Gunung Manglayang; sisi timur ada Gunung Cikuray, Gunung Galunggung; selatan ada Gunung Papandayan, Gunung Cikuray; Gunung Guntur - Gunung Kamojang membatasi Cekungan Bandung dan Garut. Gunung Gede – Pangrango dan Cekungan Ciranjang juga teridentifikasi, serta Sesar Lembang – Sesar Cimandiri berdasarkan pola kelurusan. Metode ini juga dibandingkan dengan metode pemisahan anomali lain berdasarkan tren anomalinya, yaitu filter Gaussian, filter Butterworth, dan SVD. Hasil perbandingannya menunjukkan pola kelurusan pada peta kontinuasi ke bawah dan berkesusaian dengan peta geologi, serta memiliki kecocokan sebesar 86%. Untuk perbandingan kelurusan metode UCT dengan filter Gaussian kecocokan 86%, dengan filter Butterworth kecocokan 80%, dan dengan metode SVD kecocokan 86%. Hasil perbandingan ini menunjukkan keefektifan metode UCT dalam meningkatkan sinyal-sinyal yang berguna, serta memperjelas struktur yang lebih kecil. Dengan demikian, metode UCT ini dapat diandalkan dalam pengolahan data gravitasi, bahkan pada data dengan noise, dengan stabilitas dan akurasi yang tinggi.
STUDI PENERAPAN METODE DEKONVOLUSI WERNER PADA MODEL SINTETIK DATA GRAVITASI UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR DAN KEBERADAAN BODY ANOMALI BAWAH PERMUKAAN
Metode gravitasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi struktur dan memodelkan kondisi geologi bawah permukaan. Salah satu metode yang dapat membantu proses pemodelan gravitasi terkait estimasi kedalaman dan posisi sumber anomali adalah Dekonvolusi Werner. Dalam penelitian ini dilakukan studi penerapan metode Dekonvolusi Werner pada beberapa model sintetik untuk lebih memahami keterbatasan dan kelebihan metode tersebut dan pengaruh beberapa parameter terkait dalam menentukan kedalaman dan posisi sumber anomali sintetik. Hasil evaluasi dari studi diharapkan dapat menjadi acuan untuk melakukan penerapan Dekonvolusi Werner yang lebih optimal pada data lapangan. Pengujian model sintetik dilakukan pada 5 (lima) model sintetik berupa satu dike, dua dike terpisah secara horizontal, dua body terpisah secara vertikal, body tebal, dan struktur serta menerapkan 6 parameter, yaitu Maximum Window Length, Minimum Window Length, Window Shift Increment, Window Expansion Increment, Detrend Order, dan X Cut-off. Berdasarkan hasil pengujian data sintetik tersebut, dapat diidentifikasi parameter yang dapat memperlihatkan posisi dan kedalaman yang sesuai dengan model struktur sintetik yaitu Window Length dengan nilai 5000 m, Window Shift dan Expansion Increment dengan nilai 0 m, Detrend Order dengan nilai 2, dan X Cut-off dengan nilai 10 %. Hasil yang diperoleh dari solusi Dekonvolusi Werner berhasil menunjukkan keberadaan posisi dan kedalaman pada model-model body sederhana dan batas-batas kontak pada model struktur, namun belum dapat mendeteksi variasi kedalaman dari body yang terpisah secara vertikal dan body yang jarak horizontalnya terlalu berdekatan. Hal ini ditunjukkan oleh kesesuaian dengan posisi dari solusi yang mengklaster. Selain itu, plot kurva first vertical derivative dan second horizontal derivative telah membantu dalam meyakinkan interpretasi dari model sintetik struktur