📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 32 dokumenPENENTUAN PRIORITAS RUAS JALAN TOL TRANS-SUMATERA FASE II DENGAN MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) merupakan proyek strategis nasional yang bertujuan untuk memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumatera. Proyek ini merupakan tanggung jawab PT Hutama Karya (Persero) yang diberi amanah oleh pemerintah Indonesia untuk membangun lebih dari 2.700 kilometer jalan tol di Sumatera. Namun, dalam pelaksanaan Tahap II, proyek ini menghadapi beberapa tantangan, seperti keterlambatan pembebasan lahan, keterbatasan anggaran, dan kondisi geografis yang kompleks. Permasalahan tersebut menyebabkan terjadinya penyimpangan dari target waktu dan anggaran serta dapat menghambat pencapaian tujuan strategis nasional. Kajian ini bertujuan untuk membantu PT Hutama Karya, khususnya Divisi Perencanaan Jalan Tol (RJT), dalam menentukan ruas jalan tol mana yang harus diprioritaskan dalam pelaksanaan Tahap II. Untuk menjawab permasalahan tersebut, metode Analytical Hierarchy Process menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multikriteria. Metode ini memungkinkan penyusunan struktur hierarki berdasarkan tujuan utama, kriteria evaluasi, dan alternatif ruas, serta dilengkapi dengan pembobotan berdasarkan preferensi pakar. Dalam kajian ini, ditetapkan empat kriteria utama berdasarkan hasil wawancara dengan empat orang subject matter expert (SME) dari internal perusahaan, yaitu: volume lalu lintas, kesiapan lahan, biaya investasi, dan kondisi geografis. Ketiga alternatif ruas yang diperbandingkan adalah Betung–Tempino–Jambi, Jambi–Rengat, dan Rengat–Pekanbaru. Penilaian dilakukan dengan menggunakan kuesioner pairwise comparison yang diolah menggunakan perangkat lunak SuperDecision. Konsistensi data juga diuji untuk memastikan keabsahan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruas Betung–Tempino–Jambi merupakan alternatif terbaik yang diprioritaskan dalam pelaksanaan proyek JTTS Tahap II. Ruas ini memiliki volume lalu lintas harian tertinggi, kesiapan lahan relatif lebih matang, biaya investasi paling efisien (Rp21,01 triliun), dan kondisi geografis yang lebih mudah dibangun dibandingkan kedua alternatif lainnya. Rengat–Pekanbaru berada di peringkat kedua, sedangkan Jambi–Rengat berada di peringkat ketiga karena memiliki biaya investasi tertinggi (Rp55,87 triliun) serta tingkat kesiapan lahan dan kondisi teknis yang paling menantang. Perbandingan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian hanya berfokus pada satu aspek proyek, seperti kelayakan finansial atau masalah teknis, tanpa mempertimbangkan semua faktor. Penelitian ini unik karena membandingkan beberapa segmen sekaligus dan juga menggabungkan data teknis dengan wawasan praktis dari para ahli di bidangnya. Hal ini membuat hasilnya lebih aplikatif dan dapat digunakan langsung dalam perencanaan strategis perusahaan. Kontribusi ini memberikan panduan praktis bagi PT Hutama Karya dalam menentukan prioritas pembangunan dan memperkaya wawasan di bidang manajemen proyek infrastruktur. Penelitian ini juga membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut, seperti mengintegrasikan AHP dengan metode lain (misalnya, TOPSIS atau PROMETHEE) dan menambahkan indikator lingkungan, sosial, dan pembiayaan proyek ke dalam kerangka evaluasi yang lebih komprehensif.
PENENTUAN PRIORITAS INVESTASI PEMBANGKIT LISTRIK DENGAN MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DAN GOAL PROGRAMMING (STUDI KASUS DI PT PLN (PERSERO)
Sebagai penyedia utama tenaga listrik yang menjadi tulang punggung pembangunan nasional, PLN memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk memenuhi peran tersebut, investasi merupakan elemen penting dalam menjamin keberlangsungan dan keandalan pasokan listrik. Salah satu investasi terbesar adalah infrastruktur pembangkit. Untuk memastikan bahwa investasi yang dilakukan perusahaan dapat merealisasikan nilai bisnis perusahaan diperlukan skema prioritisasi pembangkit listrik yang tidak hanya berfokus dari aspek finansial namun juga mengakomodir berbagai faktor lainnya. Oleh karena itu, penerapan metode Multi-Criteria Decision Making (MCDM) menjadi sangat penting. Pengembangan skema prioritas investasi pembangkit listrik dilakukan dengan mengintegrasikan pendekatan AHP dan Goal Programming. Pendekatan AHP digunakan untuk mendapatkan bobot kriteria/sub kriteria dan bobot setiap alternatif. Penggunaan goal programming bertujuan untuk menghasilkan prioritas investasi yang optimal dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Tuntutan para pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan biaya investasi memungkinkan Perusahaan untuk mendapatkan proyek-proyek investasi dengan fungsi tujuan yang saling bertentangan, yaitu memaksimalkan aspek finansial, memaksimalkan kinerja dan keandalan serta meminimalkan aspek lingkungan sesuai dengan keterbatasan biaya investasi yang dimiliki. Penggunaan parameter teknis yang baku bertujuan untuk meminimalisir ketidakkonsistenan dalam pengisian bobot setiap alternatif. Parameter teknis yang digunakan terdiri dari: IRR (%) untuk kriteria finansial, LCOE (Rp/kWh) dan Gap Reserve Margin (%) untuk kriteria kinerja dan keandalan serta Emisi Gas (Ton CO2e/Tahun) untuk kriteria lingkungan. Berdasarkan pengujian dan pengolahan menggunakan data investasi pembangkit listrik pada tahun 2024, didapatkan hasil bahwa terdapat 21 proyek investasi yang terpilih dengan pencapaian 0.999 pada kriteria finansial, 0.835 pada kriteria kinerja dan keandalan, serta 0.998 pada kriteria lingkungan.
EVALUASI KEBIJAKAN WILAYAH PERTAMBANGAN RAKYAT DALAM RANGKA PENGELOLAAN TAMBANG RAKYAT (STUDI KASUS: PROVINSI JAWA BARAT)
Pertambangan rakyat memiliki peran strategis dalam mendukung ekonomi masyarakat, namun pelaksanaannya seringkali tidak selaras dengan kebijakan tata ruang dan cenderung belum legal secara administratif. Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) diharapkan menjadi instrumen formal untuk mengatur dan melegitimasi kegiatan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebijakan WPR di Provinsi Jawa Barat dalam mendukung pengelolaan pertambangan rakyat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode evaluasi kebijakan secara ex-post, melalui analisis konten terhadap dokumen kebijakan dan analisis spasial terhadap kesesuaian lokasi WPR dengan rencana tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun telah tersedia kerangka regulasi yang cukup, implementasi kebijakan WPR masih menghadapi kendala, terutama dalam pembagian peran antar pemerintah, keterpaduan dengan RTRW, serta belum tersedianya pedoman, ketentuan, dan kriteria yang mengatur secara rinci dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Ditemukan pula beberapa WPR berada di kawasan yang tidak sesuai peruntukan ruang, yang menghambat penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Selain itu, proses pengusulan WPR belum didukung oleh evaluasi substansial yang memadai. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan evaluatif yang mengintegrasikan analisis konten dan analisis spasial, serta memberikan gambaran menyeluruh mengenai tantangan implementasi WPR dalam konteks daerah. Penelitian ini menyumbang penguatan pendekatan evaluasi kebijakan berbasis bukti (evidence based policy), sekaligus memberikan masukan bagi pembuat kebijakan agar dapat merumuskan kebijakan WPR yang lebih adaptif, terukur, dan berkelanjutan.
ANALISIS STRATEGI INVESTASI ADOPSI KENDARAAN LISTRIK BERTENAGA BATERAI DI INDONESIA (STUDI KASUS PT. GREENTRUCK)
Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan perubahan iklim, Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui perjanjian internasional dan kebijakan nasional. Dukungan pemerintah terhadap Perjanjian Paris dan Peraturan Presiden No. 55/2019-yang diperbarui dengan No. 79/2023menyoroti upaya untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik baterai (BEV). Kebijakan-kebijakan ini menawarkan insentif fiskal dan non-fiskal untuk beralih dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) ke alternatif listrik. PT. GREENTRUCK, sebuah perusahaan logistik dan outsourcing yang memiliki lebih dari seratus truk diesel, menghadapi dilema strategis. Meskipun adopsi BEV sejalan dengan tren keberlanjutan dan peraturan, kondisi teknologi dan infrastruktur truk BEV yang belum berkembang di Indonesia mempersulit keputusan investasi. Perusahaan harus menimbang manfaat lingkungan dan kepatuhan terhadap risiko ekonomi dan operasional. Studi ini menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP), sebuah alat bantu pengambilan keputusan multi-kriteria, untuk memprioritaskan faktor teknis, ekonomi, infrastruktur, lingkungan, sosial, tata kelola, dan faktor perusahaan. AHP mengubah penilaian kualitatif menjadi bobot kuantitatif, menghasilkan kerangka kerja keputusan peringkat. Hasilnya menunjukkan faktor ekonomi, infrastruktur, dan tata kelola sebagai prioritas utama. Biaya modal yang tinggi, stasiun pengisian daya yang terbatas, dan peraturan yang terus berkembang secara signifikan mempengaruhi keputusan. Aspek teknis, lingkungan, sosial, dan perusahaan berada di peringkat yang lebih rendah. Analisis AHP menyimpulkan bahwa adopsi BEV belum dapat dilakukan tanpa adanya perbaikan infrastruktur, kinerja baterai, dan biaya.
ANALISIS KEPUTUSAN UNTUK MENDAPATKAN SOLUSI PERCEPATAN PROGRAM EKSPLORASI BATUBARA PADA BLOK PASOPATI SELATAN DI PT. BORNEO INDOBARA
PT Borneo Indobara (PT BIB) merupakan perusahaan pertambangan batubara pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan memiliki luas wilayah sebesar 24.100 Ha. Lokasi kegiatan pertambangan berada di Kabupatem Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Area blok operasional PT BIB terdiri dari Batulaki Selatan, Batulaki Utara, Girimulya Barat, Sebamban, Kusan, Girimulya dan Pasopati. Saat ini PT BIB memiliki bisnis proses dari hulu dengan kegiatan eksplorasi dan penambanganya, serta di hilir dengan kegiatan pengolahan dan pengapalan. Kegiatan eksplorasi batubara pendahuluan telah mulai dilakukan pada tahun 1998 dan eksplorasi lanjutan masih berlangsung hingga saat ini. Kegiatan eksplorasi pendahuluan telah dilakukan di seluruh area sub blok dan kegiatan eksplorasi rinci yang masih berlangsung hingga saat ini. Sub blok Pasopati terdiri dari area Pasopati Utara dan Pasopati Selatan. Pada sub blok ini sesuai dengan kajian feasibility study memiliki jumlah cadangan batubara sebesar 2,028 MT dengan kualitas tertinggi yang dimiliki PT BIB yaitu dengan nilai kalori gar 6,622 kcal/kg-ar dan memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan batubara di sub blok lainya. Pasopati Utara telah dilakukan penambangan pada periode 2022-2023, namun dengan kondisi geologi yang kompleks dan kurangnya data eksplorasi menyebabkan akurasi model geologi rendah sehingga recovery penambangan hanya mencapai 85% dibawah dalam standar Kepmen ESDM No. 1827 – 2018 yaitu 95%. Untuk Pasopati Selatan direncanakan untuk penambangan di tahun 2026. Program eksplorasi di Pasopati Selatan mengalami beberapa kendala sehingga program tersebut tertunda. Kendala-kendala sudah terlihat meliputi kondisi geologi area, perijinan, keterbatasan man power dan peralatan pendukung, dan isu sosial. PT BIB mempertimbangkan untuk pelaksanaan kegiatan eksplorasi ini dengan beberapa opsi alternatif, yaitu: program eksplorasi dilakukan dengan penambahan man power dan alat pendukung, program eksplorasi dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga sebagai pelaksana dan program eksplorasi dilakukan dengan metode geofisika. Dari ketiga opsi tersebut, penulis menggunakan metode Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART) dan Kepner Tregoe untuk mendapatkan opsi terbaik dengan mempertimbangkan aspek Cost Effectiveness and Efficiency, Project Started, Project Duration, Flexibility Operation, Operation Risk, Data Accuracy dan Data Compatibility, sehingga pelaksanaan kegiatan eksplorasi di area Pasopati Selatan dapat segera terlaksana dengan optimal dan efisien.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN PROYEK DI PT. JKT DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Fokus penelitian ini adalah bagaimana PT. Jawara Kanistha Tibra (JKT) membuat keputusan tentang tiga proyek: "Reggae Festival", "A Night at the Orchestra: Dewa 19," dan "Suara Akal Summit". PT. JKT menghadapi tantangan dalam memilih antara tiga proyek. Setiap proyek memiliki risiko dan keuntungan yang berbeda, dan banyak pemangku kepentingan yang berbeda berpartisipasi dalamnya. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menyediakan kerangka kerja sistematis untuk mengevaluasi dan memilih proyek yang paling sesuai dengan tujuan strategis organisasi. Hasil menunjukkan bahwa "A Night at the Orchestra: Dewa 19" menerima skor tertinggi, menunjukkan bahwa proyek ini memenuhi semua kriteria penilaian.Keputusan ini membantu perusahaan mencapai tujuan jangka panjangnya selain keuntungan finansial jangka pendek. PT JKT dapat memberikan arahan yang lebih baik untuk evaluasi dan pemilihan proyek di masa depan dengan menggunakan pendekatan yang lebih objektif dan metodis.
PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK MENENTUKAN PROYEK TERBAIK PADA BISNIS KONSTRUKSI DI INDONESIA: STUDI KASUS CV. MAEZURRA INDOTAMA
Sektor konstruksi memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB negara. Namun, inefisiensi dalam proses birokrasi dan penundaan pembayaran masih menjadi tantangan yang signifikan, terutama bagi perusahaan konstruksi skala kecil seperti CV. Maezurra Indotama. Dalam rangka memilih sistem manajemen proyek yang terbaik untuk perusahaan dan menjamin kelangsungan bisnis serta pertumbuhan jangka panjang, penelitian ini mencoba untuk menunjukkan faktor-faktor penting untuk membuat keputusan dan memberi peringkat pada pilihan yang tersedia. Dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik (AHP), penelitian ini mengevaluasi kriteria keputusan utama, termasuk manajemen kontrak, keamanan dana, dan manajemen jadwal. Hirarki terstruktur dari kriteria dan subkriteria dikembangkan, dan perbandingan berpasangan dilakukan untuk memprioritaskannya. Pengumpulan data melibatkan wawancara mendalam dengan para ahli perusahaan, untuk memastikan dasar kualitatif dan kuantitatif yang kuat. Temuan menunjukkan bahwa faktor yang paling penting untuk keberhasilan proyek meliputi tinjauan kontrak sebelum penandatanganan (42,2%), memastikan ketersediaan dana klien (47,0%), dan menjamin jadwal pembayaran yang jelas (29,1%). Di antara proyek-proyek yang dievaluasi, SOP Peninjauan Kontrak yang Komprehensif muncul sebagai pilihan utama (37%), selaras dengan prioritas strategis perusahaan. Untuk meningkatkan hasil proyek, rekomendasi yang diberikan mencakup penguatan manajemen kontrak melalui penyederhanaan dan standarisasi dokumen, meningkatkan kesiapan keuangan dengan memastikan ketersediaan dana klien dan mengeksplorasi opsi pendanaan alternatif, serta mengoptimalkan penjadwalan proyek dengan jadwal yang realistis dan pengawasan yang efektif. Penerapan strategi ini dapat mengurangi risiko, merampingkan operasi, dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dalam industri konstruksi yang kompetitif
ANALISIS KEPNER TREGOE DAN AHP UNTUK MENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN POMPA KAPASITAS RENDAH DI KILANG UNIT VI BALONGAN
Pasca pelaksanaan proyek RDMP Fase-1 pada awal tahun 2022, crude distillation unit (CDU) RU-VI Balongan mengalami kendala operasional. Setelah melakukan inspeksi pada semua rangkaian peralatan CDU, diketahui bahwa terdapat perbedaan antara kapasitas desain dan kapasitas operasional yang diperlukan pompa produk LGO dan HGO. Ketidaksesuaian ini berpotensi mengakibatkan kerugian operasional RU-VI Balongan yang berupa terbatasnya kapasitas CDU. Permasalahan ini perlu ditangani segera agar target penugasan operasional Kilang RU-VI Balongan dapat sustain tercapai. Studi ini bertujuan untuk membantu pihak manajemen dalam mengambil keputusan terkait permasalahan low capacity LGO & HGO product pump. Pada penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metodologi pendekatan untuk pemahaman yang lebih luas dan utuh. Pendekatan Problem Kepner Tregoe problem analysis yang digabungkan dengan brainstorming dan teknik wawancara terstruktur digunakan untuk eksplorasi isu-isu bisnis. Pendekatan stakeholder analysis juga dilakukan untuk mendapatkan expektasi para pemangku kepentingan terhadap penyelesaian permasalahan. Melalui teknik wawancara terstruktur dirumuskan tiga alternatif solusi yakni modifikasi diameter impeller pompa, menambah pompa yang identik, dan meretrovit pompa. Dalam pemilihan alternatif terbaik, penulis menggunakan Metoda Analytic Hierarchy Process (AHP) dan melibatkan subject matter expert yang memiliki otorisasi dalam pengambilan keputusan dilingkungan kilang RU-VI Balongan. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa menambah unit pompa merupakan alternatif solusi terbaik dengan keunggulan kualitas dan reliabilitas yang baik serta service purna jual yang paling memadai. Pada akhir penelitian ini, penulis mengusulkan strategi implementasi solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan permasalahan kapasitas pompa produk LGO dan HGO
PENGGUNAAN DEEP LEARNING UNTUK MENENTUKAN WAKTU TIBA GELOMBANG P DAN S PADA DATA MIKROSEISMIK PANAS BUMI
Hasil pengolahan data mikroseismik bergantung pada kualitas picking gelombang P dan S yang umumnya dilakukan secara manual oleh praktisi geofisika, namun proses ini memakan waktu lama dan rentan terhadap subjektivitas manusia. Teknologi terbaru seperti deep learning dapat membantu mengurangi permasalahan subjektivitas dan meningkatkan efisiensi dalam pengolahan data mikroseismik. Pengembangan teknologi deep learning dalam bidang seismologi menunjukkan adanya peningkatan kinerja pemantauan kegempaan, terutama dalam menentukan waktu tiba gelombang P dan S. Akan tetapi, model-model deep learning tersebut dilatih menggunakan data gempa tektonik regional yang memiliki perbedaan karakteristik dengan mikroseismik di lapangan panas bumi. Adanya perbedaan karakteristik gempa akan mempengaruhi akurasi dan performa model deep learning tersebut. Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk melatih model automatic picker PhaseNet menggunakan data mikroseismik dan mengevaluasi performanya dengan membandingkan katalog waktu tiba yang terprediksi dengan katalog manual, serta menganalisisnya menggunakan konsep confusion matrix. Hasil pelatihan menghasilkan tiga model automatic picker yaitu: Model 1 yang hanya dilatih menggunakan data mikroseismik, dan Model 2 dan Model 3 yang dilatih menggunakan teknik transfer learning dari pre-trained model INSTANCE, dengan Model 3 menambahkan pembekuan pada lapisan arsitektur terdalam. Hasil analisis dari ketiga model menunjukkan adanya peningkatan peforma dibandingkan dengan model PhaseNet original, hal ini ditandai dengan F1 score fase P meningkat dari 0.62 menjadi rata-rata 0.93, dan F1 score fase S dari 0.62 menjadi rata-rata 0.77. Hasil ini membuktikan bahwa penggunaan model deep learning yang dilatih secara spesifik dengan data mikroseismik dapat meningkatkan peformanya dalam menentukan waktu tiba gelombang P dan S pada data mikroseismik panas bumi.
PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN KLASIFIKASI PRIORITAS PERMOHONAN KERJA SAMA PADA BIRO KEMITRAAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memiliki kewajiban untuk menjalankan tridarma perguruan tinggi. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, salah satu indikator untuk akreditasi perguruan tinggi adalah kinerja program studi dalam membangun kerja sama dengan mitra kelas dunia, yang menjadi tanggung jawab Biro Kemitraan. Biro Kemitraan memiliki tanggung jawab untuk menerima pengajuan permohonan kerja sama dari calon mitra, melakukan seleksi permohonan, hingga memproses permohonan tersebut menjadi draf MoU. Namun, karena adanya keterbatasan personil, unsur kesubjektifan tinggi, dan tidak adanya kriteria yang tetap dan jelas, decision maker tidak mampu mempertimbangkan faktor-faktor penting dalam seleksi, yaitu arahan rencana strategis ITB yang tentatif, keterbatasan aset ITB, dan potensi keberhasilkan kerja sama. Dalam kasus nyatanya, skenario pengajuan permohonan kerja sama akan mempengaruhi alur pengambilan keputusan yang dilakukan oleh decision maker. Maka dari itu, model keputusan dan sistem perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan adanya berbagai skenario pengajuan permohonan. Untuk dapat mengakomodasi berbagai skenario pengajuan permohonan kerja sama, maka model keputusan klasifikasi ditentukan menggunakan metode decision rules. Decision rules akan mengatur alur pengambilan keputusan decision maker pada kategori kondisi yang berbeda-beda akibat perbedaan situasi dari masing-masing calon mitra saat mengajukan permohonan. Penilaian akan menggunakan pembobotan kriteria dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang terbagi atas pembobotan relatif menggunakan pairwise comparison dan pembobotan absolut yang mengacu pada skala bobot acuan dari studi literatur yang relevan dari segi latar belakang dan topik literatur. Luaran dari penelitian ini adalah sebuah prototipe sistem pendukung keputusan yang mengakomodasi rancangan kriteria, model keputusan klasifikasi, dan proses penilaian kriteria untuk menghasilkan rekomendasi keputusan, klasifikasi prioritas, beserta catatan- catatannya. Rekomendasi keputusan ini akan menjadi pertimbangan bagi decision maker untuk menindaklanjuti sebuah permohonan kerja sama
MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTI-KRITERIA HIBRIDA UNTUK MENGEVALUASI PRAKTIK EFISIENSI ENERGI DI INDUSTRI TEKSTIL INDONESIA
Energi memainkan peran penting dalam perkembangan sosial ekonomi suatu negara, terutama di sektor manufaktur seperti industri tekstil. Konsumsi energi secara langsung mempengaruhi biaya produksi dan daya saing pasar. Oleh karena itu, penerapan praktik efisiensi energi sangatlah penting. Namun, penerapan praktik efisiensi energi merupakan masalah manajemen yang kompleks karena berbagai faktor yang mempengaruhi harus dipertimbangkan. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengembangkan kerangka kerja untuk mengevaluasi praktik efisiensi energi di industri tekstil dengan menetapkan kriteria evaluasi dan menerapkan model pengambilan keputusan multi-kriteria hibrida (MCDM) yang memperhitungkan hubungan antar kriteria ini. Opini para ahli dikumpulkan menggunakan metode Delphi untuk memvalidasi kriteria evaluasi yang diperoleh dari studi literatur. Model MCDM hibrida, yang menggabungkan Decision-Making Trial and Evaluation Laboratory (DEMATEL) dengan Analytic Network Process (ANP), digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar kriteria dan menetapkan bobot masing-masing kriteria. Temuan utama dari studi ini adalah bahwa aspek teknis dan ekonomi adalah faktor paling kritis dengan bobot tertinggi. Kriteria teknis yang sangat signidikan meliputi 'Kelayakan teknis' dan 'Aksesibilitas teknologi'. Sementara itu, 'Potensi penghematan ekonomi' menjadi faktor ekonomi yang paling krusial. Kriteria ekonomi penting lainnya termasuk 'Biaya implementasi' dan 'Biaya operasi dan pemeliharaan,' yang menyoroti aspek finansial dari penerapan praktik efisiensi energi di industri tekstil. Kerangka kerja dan model hibrida ini dapat berfungsi sebagai alat pengambilan keputusan di berbagai sektor. Keunggulan utama dari model ini terletak pada kemampuan untuk mempertimbangkan hubungan antar kriteria, sehingga meningkatkan aplikasi secara praktis.
EVALUASI PERFORMA PELIMPAH BERTANGGA LOWER DAM UPPER CISOKAN PUMPED STORAGE (UCPS) DENGAN PENDEKATAN MODEL NUMERIK FLOW-3D
Dalam rangka meningkatkan kapasitas sistem pembangkit listrik Jawa-Bali, PLN merencanakan pembangkit listrik Upper Cisokan Pumped Storage (UCPS) yang terdiri dari Upper Dam dan Lower Dam. Saat waktu penulisan, Lower Dam UCPS sedang berada di tahap pengujian prototipe menggunakan uji model fisik hidraulik. Pada penelitian ini, dilakukan studi komparasi parameter hidraulik dari mercu Ogee model Seri-0 dan Seri-2 pelimpah bertangga Lower Dam UCPS, mercu golden ratio ITB, serta mercu bulat dengan variasi kondisi pelimpah mulus dan bertangga menggunakan model numerik FLOW-3D. Adapun parameter hidraulik yang dibandingkan antara lain: koefisien pelimpahan, tingkat disipasi energi, potensi kerusakan kavitasi, kemudahan konstruksi, dan pola aliran. Model numerik ini diharapkan dapat memberikan validasi dan analisis tambahan terhadap uji model fisik hidraulik. Pemodelan numerik di FLOW-3D dilakukan menggunakan model turbulensi k-? dengan maximum mixing length 5% dari kedalaman aliran dan model air entrainment untuk mensimulasikan rezim aliran. Berdasarkan studi independensi grid dengan metode Grid Convergence Index (GCI), diperoleh ukuran mesh yang konvergen sebesar 0,175 m dengan asymptotic range 1,09. Validasi model numerik yang menggunakan data tinggi muka air Q10.000 dan QPMF, serta rating curve hasil uji model fisik Seri-2 skala 1:50 menunjukkan kesesuaian yang cukup baik dengan RMSE masing-masing sebesar 0,344; 0,380; 0,595. Hasil studi menunjukkan bentuk pelimpah dengan koefisien pelimpahan terbesar adalah mercu bulat, bentuk pelimpah dengan rata-rata disipasi energi terbesar adalah pelimpah bertangga dengan mercu golden ratio, bentuk pelimpah dengan risiko kerusakan kavitasi terkecil adalah mercu bulat, pelimpah dengan kemudahan konstruksi terbaik adalah mercu golden ratio, dan pelimpah dengan pola aliran terbaik adalah mercu Ogee Seri-0 . Adapun penentuan bentuk pelimpah optimum menggunakan analisis keputusan metode TOPSIS dengan metode AHP untuk menentukan bobot kriteria menghasilkan bentuk pelimpah optimum yakni mercu bulat dengan nilai Ci+ sebesar 0,990.
PENENTUAN SKENARIO TERBAIK UNTUK MENCAPAI JUMLAH TARGET PENGEBORAN DI LAPANGAN STRUKTUR AKASIA BAGUS JATIBARANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS
Sebagai upaya pencapaian target produksi Minyak dan Gas Bumi tahun 2030 dimana produksi Minyak Bumi sebesar 1 Juta Barel per Hari (BOPD) dan produksi Gas sebesar 12 Miliar Kaki Kubik per Hari (BSCFD) sebagaimana yang ditetapkan pemerintah, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menghimbau kepada seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang memiliki wilayah kerja di Indonesia untuk mendukung target tersebut, termasuk PT. PERTAMINA EP. Salah satu upaya untuk mencapai target tersebut adalah dengan melakukan pengeboran. Hal yang sama dilakukan oleh PT Pertamina EP yaitu dengan mencari beberapa sumur kandidat untuk dilakukan pengeboran termasuk di Struktur Akasia Bagus. Namun dalam upaya pemenuhan target tersebut terdapat beberapa kendala yang menyebabkan terjadinya keterlambatan pelaksanaan Pengeboran diantaranya pengeboran di struktur Akasia Bagus, Lapangan Jatibarang, Zona 7. Pada tahun 2024, PT. PERTAMINA EP ditargetkan akan melakukan pengeboran sebanyak 21 sumur termasuk di Struktur Lapangan Akasia Bagus Jatibarang. Dalam pelaksanaanya terdapat kendala perizinan dan pembebasan lahan yang menyebabkan potensi tidak tercapainya target jumlah pemboran pada tahun 2024. Untuk mencapai target pemboran yang telah ditetapkan diperlukan langkah-langkah alternatif baik dari segi metode pemboran maupun proses perizinan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan tidak tercapainya target pemboran pada lapangan Jatibarang. Penulis menggunakan metode diagram tulang ikan untuk mencari beberapa kemungkinan penyebab tidak tercapainya target pemboran. Dari hasil Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan pakar di wilayah 7 PT.Pertamina EP dihasilkan beberapa alternatif solusi antara lain (1) Sumur Baru di Cluster Berbeda, (2) Sumur Kembar, (3) Sumur Sidetrack. Software Super Decision digunakan untuk melakukan perhitungan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang digunakan untuk memilih solusi terbaik berdasarkan kriteria sebagai berikut: waktu pemboran, biaya pemboran, kesiapan proyek, HSE, Hasil Produksi. Solusi terbaik berdasarkan analisis AHP adalah Sumur Sidetrack dengan nilai sebesar 64,3%. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa penambahan route 6" merupakan pilihan terbaik dengan nilai 64,3%. Untuk memastikan hasil analisis AHP terealisasi, maka disusunlah Rencana Pelaksanaan agar solusi ini dapat terlaksana sesuai waktu, biaya dan tidak terdapat masalah keselamatan. Berdasarkan hasil pembahasan dan data sumur, pekerjaan sidetrack ini diimplementasikan pada sumur ABG-9 dan ABG-16 yang mana data sumur tersebut telah memenuhi spesifikasi dan hasil produksinya masih belum optimal. Dan dengan adanya rencana tersebut, maka realisasi pemboran di Lapangan Jatibarang dapat bertambah sebanyak 2 sumur dan dapat memenuhi target pemboran yang telah ditetapkan.
PERANCANGAN MODEL KEPUTUSAN PENENTUAN PRIORITAS PROMOSI PEGAWAI UNTUK SISTEM PROMOSI JABATAN PADA BANK XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE AHP DAN PROMETHEE
Saat ini, Bank XYZ mengalami kesulitan menentukan pegawai terbaik untuk mengisi kekosongan jabatan yang terjadi pada perusahaan dengan cepat dan akurat. Kesulitan ini disebabkan oleh metode seleksi manual yang digunakan Bank XYZ untuk mengambil keputusan pegawai terbaik sehingga proses penentuan membutuhkan waktu yang lama serta memiliki resiko subjektivitas yang tinggi. Adapun Bank XYZ memiliki ribuan jenis jabatan yang perlu diisi di dalam perusahaannya. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode penilaian alternatif pegawai berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya untuk meningkatkan objektivitas tetapi tetap dapat mengikuti kebutuhan berbagai jenis jabatan. Untuk menjawab masalah tersebut, diusulkan penggunaan model keputusan untuk memberi perusahaan rekomendasi pegawai dengan kompetensi terbaik. Model keputusan pada penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot dari tiap kriteria dan metode PROMETHEE guna menghasilkan penilaian kuantitatif untuk setiap alternatif dan mendapatkan nilai preferensi untuk mengurutkan prioritas pegawai pada Bank XYZ. Penelitian dilakukan pada kriteria promosi jabatan secara umum dengan studi kasus pada jabatan Kepala KCP. Teridentifikasi sebelas kriteria umum yang memengaruhi pengurutan kandidat pegawai: size, talent class, performance level, shape, masa unit kerja, masa jabatan, masa grade, masa level jabatan, budaya perusahaan, dan sanksi. Sedangkan pada studi kasus untuk jabatan Kepala KCP, ditambahkan kriteria khusus penempatan dan pengalaman jabatan untuk mengakomodasi kebutuhan jabatan. Hasil penelitian rancangan model keputusan berupa sebuah mekanisme penentuan prioritas pegawai untuk promosi jabatan pada Bank XYZ. Didapatkan berturut-turut kriteria yang paling berpengaruh pada penentuan alternatif pegawai terbaik: talent class, size, sanksi, performance level, budaya perusahaan, masa grade, masa jabatan, pengalaman jabatan, masa level jabatan, job family, masa unit kerja, dan penempatan. Bobot global masing- masing kriteria secara berturut-turut adalah 0,2235, 0,1823, 0,1146, 0,1129, 0,0686, 0,0601 0,0574, 0,0533, 0,0532, 0,0355, 0,0246, dan 0,0141.
ANALISIS KEPUTUSAN FOKUS PERBAIKAN MANAJEMEN PT GEOTINDO SURVEY SERVICES DENGAN BENEFIT-COST RATIO BERBASIS AHP
PT Geotindo Survey Services (GSS) merupakan sebuah perusahaan konsultasi dan survei geofisika yang berdiri pada tahun 2015. Sebagai perusahaan yang telah berdiri selama 8 tahun, GSS ingin mengembangkan bisnisnya lebih jauh lagi melalui perbaikan manajemen perusahaan. Tetapi, sebagai perusahaan kecil, sumber daya yang dimiliki oleh GSS saat ini, seperti sumber daya manusia dan finansial, terbatas. Oleh karena itu, analisis keputusan fokus perbaikan oleh manajemen GSS menjadi penting untuk dilaksanakan. Penelitian analisis keputusan ini dilakukan menggunakan metode benefit-cost ratio berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP). Penelitian ini dimulai dengan identifikasi kondisi existing sebagai dasar penyusunan kriteria pemilihan dan alternatif keputusan yang digunakan dalam model AHP. Dari proses identifikasi tersebut, didapatkan enam kriteria manfaat, dua kriteria biaya, dan delapan alternatif keputusan. Nilai prioritas manfaat diperoleh melalui penilaian menggunakan metode rating oleh (Liberatore, et al., 1992). Nilai relative cost diperoleh melalui perbandingan antara present worth setiap alternatif dengan jumlah present worth keseluruhan. Benefit-cost ratio untuk setiap alternatif diperoleh dengan membagi nilai prioritas manfaat dengan relative cost. Dari proses perhitungan tersebut, didapatkan hasil berupa peringkat prioritas pelaksanaan alternatif perbaikan. Terdapat perbedaan antara hasil yang didapatkan dari proses pembangunan model AHP B/C dengan pemeringkatan pribadi Direktur GSS karena karena perbedaan metode dan dasar pemeringkatan yang digunakan sehingga perlu dilakukan penyempurnaan model AHP B/C dengan melakukan beberapa kali iterasi identifikasi kriteria dan alternatif keputusan.