📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 124 dokumen

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Hanif Halim Wicaksono
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Ega Mutia Asyifa
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

ANALISA KAJIAN RESIKO KEBOCORAN H2S PADA SEPARATOR AKIBAT KOROSI STUDI KASUS PLTP DOMINASI UAP.

Separator merupakan salah satu komponen penting pada fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dominasi uap karena berfungsi memisahkan fasa uap dan fasa cair sebelum uap dialirkan menuju peralatan hilir. Dalam operasi jangka panjang, separator bekerja pada kondisi temperatur dan tekanan tertentu serta terpapar fluida panas bumi yang mengandung gas non-kondensabel, seperti H?S dan CO?. Kondisi tersebut dapat memicu degradasi material, gangguan operasi, serta penurunan integritas komponen separator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kerusakan dan mengkaji tingkat risiko pada komponen separator Unit 2 dan Unit 3 berdasarkan data kerusakan, work order, inspeksi visual, pengukuran Ultrasonic Testing (UT), serta penilaian kategori risiko sedang. Hasil evaluasi SIL merekomendasikan fungsi deteksi gas H?S pada SIL 1 dan shutdown otomatis separator pada SIL 2 sebagai arahan awal penguatan sistem proteksi. Strategi mitigasi yang direkomendasikan meliputi inspeksi berbasis risiko, pemantauan ketebalan secara berkala, peningkatan inspeksi NDT seperti Visual Testing (VT), Penetrant Testing (PT), dan Magnetic Particle Testing (MT), perbaikan atau pelapisan komponen yang mengalami degradasi, penguatan sambungan pipa, pengendalian erosi pada nozzle, pengendalian getaran melalui support pipa, serta penguatan sistem deteksi dan proteksi operasi.

2026
👤 Penulis: Febrilian Arief Syaifulloh
🏷️ Korosis 🏷️ Analisis Risiko

PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS: PENINGKATAN EFEKTIVITAS PENGAWASAN DEWAN KOMISARIS TERHADAP TANTANGAN KRITIS PERUSAHAAN (STUDI KASUS PT PERTAMINA HULU ENERGI)

PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sebagai Subholding Upstream Pertamina, menghadapi tantangan utama berupa penurunan produksi alamiah pada lapangan mature, risiko integritas aset, volatilitas harga komoditas, dan peningkatan biaya operasi. Kondisi tersebut menuntut Dewan Komisaris (BoC) untuk memusatkan perhatian pengawasan pada isu yang paling memengaruhi laba bersih setelah pajak (NPAT) dan pencapaian Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memprioritaskan tantangan bisnis PHE serta merancang sistem pengawasan BoC yang efektif. Penelitian menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed-methods. Tahap kualitatif menggabungkan kajian dokumen perusahaan dan empat belas wawancara semi-terstruktur dengan anggota BoC, eksekutif, dan subject-matter experts. Tahap kuantitatif menggunakan Best-Worst Method (BWM) terhadap dua belas responden berdasarkan lima kriteria: Impact, Urgency, Probability, Detectability, dan Controllability. Penelitian mengidentifikasi lima belas tantangan bisnis dan tujuh kelemahan dalam proses pengawasan. Impact menjadi kriteria dengan bobot tertinggi. Seluruh tantangan kemudian dikelompokkan ke dalam tiga tingkat prioritas, yaitu empat tantangan Tier 1, tujuh Tier 2, dan empat Tier 3. Hasil penelitian diterjemahkan menjadi Tiered BoC Oversight System yang terdiri atas rencana kerja bertingkat, monitoring toolkit, escalation and contingency protocol, serta enabling conditions. Sistem ini diintegrasikan ke dalam arsitektur pengawasan PHE untuk mendukung proses pengawasan yang lebih terfokus, antisipatif, dan akuntabel.

2026
👤 Penulis: Ferry Firmansyah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Kepemimpinan Perusahaan

PEMODELAN RISIKO MORTALITAS STOKASTIK DAN PREDIKSI MORTALITY-AT-RISK BERBASIS EKSPEKTIL UNTUK PERHITUNGAN ANUITAS JIWA

Mortalitas menjadi salah satu tantangan bagi perusahaan asuransi jiwa. Hal ini disebabkan oleh sifat laju mortalitas yang dinamis dan tidak konstan sepanjang waktu. Ketidakpastian laju mortalitas dapat memengaruhi kecukupan dana yang dimiliki perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang. Oleh karena itu, pemodelan laju mortalitas dengan asumsi variansi konstan menjadi kurang tepat. Model Autoregressive (AR) digunakan untuk memodelkan mean bersyarat laju mortalitas, sedangkan model Autoregressive Conditional Heteroscedastic (ARCH) dan Generalized ARCH (GARCH) digunakan untuk memodelkan volatilitas bersyarat yang berubah terhadap waktu. Ukuran risiko Mortality-at-Risk (MaR) diperlukan untuk mengukur risiko penurunan laju mortalitas. MaR diprediksi menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan berbasis kuantil (qMaR) yang mengukur batas penurunan mortalitas pada tingkat kepercayaan tertentu, dan pendekatan berbasis ekspektil (eMaR) yang mempertimbangkan besaran kerugian ekstrem. Kedua pendekatan tersebut kemudian dibandingkan dan diterapkan dalam perhitungan anuitas jiwa untuk menghasilkan nilai yang lebih konservatif dalam memperhitungkan ketidakpastian laju mortalitas.

2026
👤 Penulis: Matthew Leandro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Perhitungan Anuitas Jiwa

PORTOFOLIO ASURANSI DAN REASURANSI DENGAN VARIANSI DAN VALUE-AT-RISK UNTUK PENENTUAN RETENSI OPTIMAL

Perusahaan asuransi menghadapi risiko kerugian akibat ketidakpastian besar klaim yang terjadi. Hal ini dapat menimbulkan beban finansial yang signifikan. Untuk meminimumkan risiko tersebut, perusahaan asuransi dapat mengalokasikan sebagian kerugian kepada reasuransi melalui kontrak seperti quota-share, stop-loss, dan kombinasi keduanya. Tugas Akhir ini bertujuan untuk memodelkan portofolio asuransi dan reasuransi serta menentukan retensi optimal berdasarkan ukuran risiko variansi dan Value-at-Risk (VaR) dengan mempertimbangkan ketidakpastian dalam pengukuran. Data klaim dimodelkan menggunakan distribusi eksponensial dan Pareto diperumum (generalized Pareto). Ukuran risiko berbasis variansi dihitung menggunakan beberapa penaksir variansi, sedangkan VaR estimatif (estimative VaR) diperbaiki menggunakan pendekatan VaR dengan improvisasi (improved VaR) untuk mengurangi bias akibat kesalahan penaksiran parameter. Selanjutnya, retensi optimal ditentukan dengan meminimumkan fungsi kerugian gabungan dari perspektif asuransi dan reasuransi dengan mempertimbangkan faktor bobot kepentingan kedua pihak. Hasil Tugas Akhir menunjukkan bahwa pemilihan penaksir mempengaruhi hasil pengukuran risiko, dan pendekatan VaR dengan improvisasi (improved VaR) menghasilkan prediksi yang lebih akurat dibandingkan VaR estimatif (estimative VaR). Selain itu, kombinasi retensi optimal menunjukkan bahwa penggunaan reasuransi berperan dalam meminimumkan risiko gabungan secara optimal.

2026
👤 Penulis: Diandra Maulida Ibrahim
🏷️ Portofolio Asuransi Dan Reasuransi 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Estimasi Value-At-Risk (Var)

KUANTIFIKASI RISIKO TERJADINYA TAILSTRIKE DENGAN PENDEKATAN MODEL LONGITUDINAL DAN SUBSET SIMULATION

Fase flare merupakan salah satu tahap kritis dalam proses pendaratan karena pesawat berada pada ketinggian rendah dan mengalami perubahan sudut pitch menjelang touchdown. Pada kondisi tertentu, peningkatan sudut pitch yang tidak terkendali dapat mengurangi tail clearance hingga menyebabkan tailstrike. Meskipun kejadian tailstrike tergolong jarang, insiden ini dapat menimbulkan kerusakan struktural, gangguan operasional, serta biaya perawatan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi metrik insiden sebagai dasar untuk membedakan kondisi aman dan kondisi gagal, serta pendekatan probabilistik untuk mengestimasi probabilitas kejadian dan menentukan strategi mitigasi risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metrik insiden tailstrike pada fase flare, mengkuantifikasi probabilitas kegagalan menggunakan metode Subset Simulation, serta menentukan strategi mitigasi berdasarkan parameter yang berkontribusi terhadap peningkatan probabilitas tailstrike. Data yang digunakan berasal dari Quick Access Recorder (QAR) pesawat Boeing 747-300 pada operasi pendaratan di Bandar Udara Internasional Minneapolis-Saint Paul (KMSP). Metrik insiden didefinisikan menggunakan nilai tail clearance sebagai fungsi batas yang membedakan kondisi aman dan kondisi gagal. Model dinamika longitudinal digunakan untuk merepresentasikan respons pesawat selama fase flare, sedangkan ketidakpastian parameter operasi dimodelkan melalui distribusi probabilitas berdasarkan data QAR. Hasil subset simulation menunjukkan bahwa probabilitas kejadian tailstrike pada kondisi dasar adalah sebesar 1,61 × 10??. Nilai tersebut merepresentasikan probabilitas yang sesuai untuk kejadian extremely rare event dan menunjukkan bahwa tailstrike pada fase flare memiliki tingkat kejadian yang sangat rendah.. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa defleksi elevator dan kecepatan pendaratan merupakan parameter paling dominan dalam memengaruhi probabilitas kegagalan, sedangkan sudut serang dan sudut pitch awal memberikan pengaruh yang lebih kecil. Berdasarkan hasil tersebut, mitigasi risiko tailstrike perlu difokuskan pada pengendalian input elevator yang tidak agresif, pengelolaan kecepatan pendaratan agar tetap sesuai batas operasional, serta pemantauan data penerbangan untuk mendeteksi kondisi yang mendekati batas tail clearance kritis.

2026
👤 Penulis: Naufal Husna Risqulloh
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN MODEL SISTEM PENGAWASAN MAKANAN DALAM KEMASAN UNTUK PENENTUAN PRIORITAS PERUSAHAAN YANG DIAWASI BERDASARKAN INTEGRASI METODE FUZZY AHP DAN FUZZY TOPSIS

Penelitian ini bertujuan untuk merancang model sistem pengawasan makanan dalam kemasan berbasis risiko guna membantu penentuan prioritas perusahaan yang perlu diawasi. Permasalahan penelitian dilatarbelakangi oleh keterbatasan sumber daya pengawasan serta adanya irisan kewenangan dan perbedaan persyaratan antara Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam pengawasan makanan dalam kemasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multi kriteria dengan mengintegrasikan metode Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP) dan Fuzzy Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (FTOPSIS). FAHP digunakan untuk menentukan bobot kriteria berdasarkan penilaian 18 pakar dari Kementerian Perdagangan dan BPOM, sedangkan FTOPSIS digunakan untuk menentukan peringkat prioritas pengawasan terhadap 10 alternatif perusahaan sebagai data uji model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria produk memiliki bobot lebih besar, yaitu 0,5946, dibandingkan kriteria perusahaan sebesar 0,4054. Pada tingkat sub-kriteria, kualitas produk memiliki bobot global tertinggi sebesar 0,2454, diikuti oleh kuantitas produk sebesar 0,1572 dan pelabelan produk sebesar 0,1263. Hasil pemeringkatan menunjukkan bahwa alternatif perusahaan A7, A10, dan A3 menjadi prioritas utama dalam kegiatan pengawasan. Selain itu, penelitian ini juga menambahkan kriteria viral dan komoditas prioritas sebagai mekanisme intervensi kebijakan untuk merespons kondisi tertentu yang membutuhkan pengawasan segera. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa model tetap stabil terhadap perubahan bobot kriteria hingga ±20%. Dengan demikian, model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan untuk mendukung pengawasan makanan dalam kemasan yang lebih objektif, terstruktur, dan berbasis risiko.

2026
👤 Penulis: Uswatun Nizham
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

A MULTI-CRITERIA DECISION ANALYSIS FOR RIGLESS JOB SCOPE PRIORITIZATION: FRAMEWORK FOR STRATEGIC RIGLESS WELL CANDIDATE SELECTION

Intervensi sumur tanpa rig memainkan peran penting dalam mengembalikan produksi, menjaga integritas sumur, serta mendukung keberlanjutan aset pada operasi hulu minyak dan gas. Dalam praktiknya, perusahaan sering menghadapi situasi operasional yang dinamis, di mana beberapa kandidat Rigless muncul secara bersamaan, sementara kapasitas eksekusi dibatasi oleh anggaran, sumber daya, atau adanya perubahan kondisi keuangan Perusahaan secara mendadak. Tanpa adanya kerangka prioritisasi yang terstruktur, keputusan eksekusi Rigless dapat menjadi tidak konsisten dan sangat bergantung pada penilaian subjektif, terutama ketika perusahaan berada dalam kondisi keterbatasan finansial atau menghadapi strategi eksekusi yang terlalu agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka pendukung keputusan yang sistematis dalam memprioritaskan program intervensi sumur Rigless dengan menerapkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kerangka ini mengintegrasikan berbagai kriteria teknis, operasional, ekonomi, serta risiko untuk menentukan prioritas relatif dari tujuan program Rigless. Penilaian para ahli dikumpulkan dan disintesis untuk membentuk hierarki prioritas yang jelas di antara berbagai alternatif yaitu pengurangan Lost Production Opportunity (LPO), pemulihan integritas sumur, evaluasi sumur lapangan dan stimulasi sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan LPO menjadi prioritas tertinggi karena dampaknya yang langsung dan signifikan terhadap pemulihan produksi. Selanjutnya, pemulihan integritas sumur menjadi prioritas penting sebagai prasyarat utama untuk operasi yang aman dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil tersebut, disusun pula panduan prioritisasi Rigless sebagai solusi bisnis utama yang menerjemahkan hasil analisis ke dalam aturan praktis terkait pelaksanaan maupun penundaan pekerjaan, yang dapat diterapkan dalam kondisi banyaknya kandidat secara bersamaan serta adanya keterbatasan finansial maupun operasional. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada transformasi hasil analisis prioritas menjadi acuan pengambilan keputusan bisnis yang dapat diimplementasikan, sehingga dapat mendukung keputusan eksekusi Rigless yang konsisten, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kerangka yang diusulkan memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan strategi eksekusi Rigless secara efektif, baik dalam kondisi eksekusi yang agresif maupun dalam situasi keterbatasan keuangan tanpa menambah kompleksitas operasional.

2026
👤 Penulis: Harry Kurniawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

RISK QUANTIFICATION OF TAIL STRIKE DURING TAKEOFF PHASE USING SUBSET SIMULATION

Keselamatan penerbangan senantiasa menjadi prioritas utama dalam industri dirgantara. Fase lepas landas merupakan fase yang sangat sensitif terhadap faktor manusia maupun teknis, yang berpotensi menghadirkan risiko langka namun kritis seperti peristiwa tail strike. Meskipun penelitian terdahulu telah meninjau risiko ini, sering kali terdapat keterbatasan dalam mengintegrasikan dinamika terbang dengan teknik probabilitas tingkat lanjut sehingga presisi dari kuantifikasi risiko menjadi terbatas. Penelitian ini menjawab keterbatasan tersebut dengan menerapkan kuantifikasi risiko probabilistik untuk mengevaluasi probabilitas insiden tail strike pada pesawat Boeing 747 saat fase lepas landas. Tujuan penelitian ini dicapai melalui pengembangan model dinamika untuk menghitung tail clearance serta penetapan limit state function, ????(????), yang didefinisikan sebagai tail clearance, di mana ????(????)?0 mendefinisikan sebuah kegagalan. Dengan menggunakan metode Subset Simulation untuk mengestimasi probabilitas di berbagai kondisi operasional, penelitian ini memperoleh nilai probabilitas kegagalan, ????????, sebesar 5.63×10?7, yang dikategorikan sebagai extremely remote failure oleh EASA. Hasil dari analisis sensitivitas manual mengidentifikasi bahwa ground speed merupakan faktor risiko utama, di mana rotasi di bawah kecepatan yang seharusnya (under speed rotation) memicu terjadinya tail strike. Selain itu, penggunaan defleksi elevator yang tidak terlalu agresif ditemukan efektif dalam menurunkan probabilitas kegagalan. Sebagai kesimpulan, risiko tail strike dapat dimitigasi secara efektif melalui manajemen kecepatan rotasi dan kontrol pitch yang disesuaikan dengan berat serta konfigurasi pesawat.

2026
👤 Penulis: Rangga Brava Ivanza
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KUANTIFIKASI RISIKO KETERCAPAIAN TARGET PENERIMAAN IURAN BPJS KESEHATAN DENGAN INTERVENSI KEPESERTAAN

Keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional BPJS Kesehatan sangat bergantung pada keseimbangan kondisi keuangan lembaga sehingga pencapaian target penerimaan iuran menjadi fokus utama manajemen risiko. Penelitian ini bertujuan mengembangkan framework kuantifikasi risiko penerimaan iuran menggunakan model deret waktu ARIMAX dengan variabel eksogen jumlah peserta aktif. Proyeksi kepesertaan diperoleh dari mengaplikasikan model rantai Markov yang telah dimodifikasi sedangkan simulasi Monte Carlo diterapkan untuk mengestimasi distribusi penerimaan iuran tahunan dan menghitung peluang ketercapaian target. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ARIMAX mampu menangkap keterkaitan antara dinamika kepesertaan dan penerimaan iuran. Model terbaik untuk data tahun 2022-2024 adalah ????????????????????????(0, 1, 0) dengan nilai MAPE sebesar 1,95% pada data pengujian. Tanpa intervensi tambahan, peluang ketercapaian target Rp168,5 triliun hanya sebesar 37,00%. Dari tiga skenario intervensi yang diuji, skenario peningkatan peserta baru dinilai paling efisien dengan peluang keberhasilan 96,38%. Kerangka kerja ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi manajemen risiko.

2026
👤 Penulis: Fransisca Benedicta
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI KETERLAMBATAN KONTAINER DAN DETEKSI RISIKO RANTAI SUPPLY DI PT X

PT X adalah perusahaan manufaktur otomotif yang menerapkan sistem Just-In-Time, sehingga keterlambatan kedatangan komponen impor melalui jalur laut berpotensi menghentikan lini produksi dan memicu kebutuhan Critical Part Order (CPO) melalui kargo udara berbiaya tinggi. Penelitian ini mengidentifikasi dua kesenjangan eksekusi pada proses pengadaan impor: (1) belum tersedianya alat prediksi keterlambatan berbasis data historis untuk penetapan parameter shipping delay, dan (2) belum tersedianya alat pendukung keputusan berbasis sinyal dini berita untuk justifikasi CPO preventif. Untuk menjawab kedua permasalahan tersebut, dikembangkan prototipe alat pendukung keputusan dua modul menggunakan metodologi CRISP-DM. Modul 1 membangun model prediksi keterlambatan pengiriman berbasis machine learning pada 420 data historis pengiriman dari delapan rute menuju Tanjung Priok (periode Juni 2023 sampai Mei 2024). Lima model kandidat dievaluasi menggunakan time-series cross-validation dengan embargo terhadap baseline statistik Weighted Historical Average (WHA). Modul 2 mengadaptasi konsep Contributing Event-based Risk Identification and Assessment (CERIA) untuk merancang pipeline analisis berita maritim berbasis Large Language Model (LLM) dengan GPT-4o-mini yang menghasilkan informasi risiko terstruktur dan dapat ditelusuri. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model ExtraTrees menghasilkan Mean Absolute Error (MAE) 1,588 hari, yaitu perbaikan sebesar 35,5% dibandingkan baseline WHA (MAE 2,462 hari), dan perbedaan tersebut signifikan secara statistik (Wilcoxon p = 0,006; Friedman p < 0,001). Pipeline Modul 2 menghasilkan 25 risk events terstruktur dari 10 artikel unik yang memuat komponen audit utama berupa sumber, event, risk level, rute terdampak, dan reasoning. Backtesting timeliness pada skenario Red Sea Crisis menunjukkan sinyal berita tersedia 68 hari sebelum spike keterlambatan pertama teramati (first spike arrival 24 Januari 2024), dengan actionable window +29 hari terhadap decision proxy pemesanan. Integrasi kedua modul dirancang sebagai kerangka pelaporan yang menyatukan prediksi keterlambatan internal dengan evidence risiko eksternal untuk mendukung keputusan CPO dan penetapan parameter shipping delay secara lebih transparan dan dapat diaudit.

2026
👤 Penulis: Andy Harits Adnyana Tangkas
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

ANALISIS RISIKO KEGAGALAN PIPA BAWAH LAUT PENYALUR MINYAK MENGGUNAKAN METODE FUZZY FAULT TREE ANALYSIS (FFTA)

Pipa bawah laut merupakan infrastruktur yang sangat krusial dalam sistem transportasi minyak, khususnya pada kegiatan produksi minyak dan gas di wilayah lepas pantai, karena berfungsi sebagai sarana utama untuk menyalurkan fluida hidrokarbon dari fasilitas produksi menuju fasilitas pemrosesan atau fasilitas darat. Keandalan sistem pipa bawah laut ini menjadi aspek yang sangat penting mengingat potensi kegagalan pipa dapat menimbulkan dampak signifikan baik dari sisi keselamatan, lingkungan, maupun kerugian ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analisis risiko yang mampu merepresentasikan kondisi sistem secara lebih realistis, termasuk dalam menghadapi keterbatasan data kegagalan yang sering terjadi pada sistem perpipaan bawah laut. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Fuzzy Fault Tree Analysis (FFTA), yang memungkinkan integrasi antara data kuantitatif dan penilaian pakar dalam bentuk linguistik untuk mengatasi ketidakpastian pada metode fault tree analysis konvensional. Dalam penelitian ini, metode FFTA diterapkan pada enam pipa minyak bawah laut yang beroperasi di wilayah Northwest Java dengan memanfaatkan data inspeksi dan operasional yang tersedia, serta mempertimbangkan interval inspeksi selama empat tahun dalam perhitungan laju kegagalan. Hasil analisis menunjukkan bahwa estimasi probabilitas kegagalan top event berupa kegagalan pipa berada pada rentang sekitar 0,01 hingga 0,06, yang mencerminkan perbedaan kondisi operasional, riwayat kebocoran, serta tingkat degradasi masing-masing pipa. Selain itu, hasil analisis juga mengindikasikan bahwa faktor riwayat kebocoran merupakan kontributor paling dominan terhadap potensi kegagalan pipa, diikuti oleh lamanya umur operasional pipa, dan kerusakan dinding pipa, sedangkan faktor tindakan pengendalian integritas preventif memiliki pengaruh yang relatif lebih kecil. Secara keseluruhan, penerapan metode FFTA menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan estimasi probabilitas kegagalan yang lebih berbasis kondisi aktual (condition-based), sehingga dapat mendukung proses prioritisasi risiko dan pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam pengelolaan integritas pipa minyak bawah laut.

2026
👤 Penulis: Alyana Fathira Kaysandini S
🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PADA TAHAP PRELIMINARY WORK STUDI KASUS: MEGAPROYEK STRATEGIS NASIONAL

Tahap preliminary work pada megaproyek strategis nasional merupakan fase awal yang menentukan keberhasilan proyek secara keseluruhan. Risiko pada tahap ini akan bersifat propagated risk, apabila tidak dikelola secara sistematis, berpotensi menyebabkan pembengkakan biaya, keterlambatan jadwal, serta pengambilan keputusan yang kurang optimal pada fase berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen risiko pada tahap preliminary work serta mengkuantifikasi biaya risiko dan konsekuensi keterlambatan proyek sebagai dasar pengambilan keputusan proyek. Metode penelitian dilakukan melalui proses manajemen risiko yang mengacu pada kerangka kerja SNI ISO 31000, meliputi identifikasi, analisis, evaluasi, perlakuan, serta pemantauan risiko. Selanjutnya, dilakukan analisis biaya risiko dan konsekuensi keterlambatan proyek untuk menilai besarnya potensi dampak finansial dari risiko-risiko yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa risiko utama pada tahap preliminary work memiliki eksposur biaya yang signifikan dan berpengaruh terhadap kelayakan serta strategi pelaksanaan proyek. Berdasarkan studi kasus, biaya preliminary work mewakili sekitar 0,02% dari total investasi atau sekitar 76 miliar rupiah. Meskipun kontribusinya relatif kecil, keputusan yang salah dapat mengakibatkan potensi kerugian hingga 586 triliun rupiah. Risiko dari preliminary work bersifat propagated risk yang dapat memicu dampak yang lebih besar, yang artinya manajemen risiko dan kualitas pengambilan keputusan memiliki peran penting dalam pelaksanaan megaproyek.

2026
👤 Penulis: Tegar Putra Perdana
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Hidrologi Strategis

STUDI KASUS PEMODELAN PREMI MURNI ASURANSI ALAT BERAT BERDASARKAN TIPE JAMINAN, USIA ALAT BERAT, JENIS ALAT BERAT DAN LOKASI RISIKO.

Asuransi Alat Berat memiliki karakteristik risiko yang heterogen akibat perbedaan jenis jaminan, usia alat berat, jenis alat berat, dan lokasi risiko, sehingga pendekatan tarif konvensional berpotensi menghasilkan estimasi premi yang kurang mencerminkan tingkat risiko aktual. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi premi murni asuransi CPM melalui pendekatan aktuaria berbasis data dengan diawali analisis profil klaim menggunakan statistik deskriptif serta segmentasi risiko melalui metode pengelompokan berdasarkan frekuensi, severitas, dan premi murni. Hasil analisis menunjukkan bahwa portofolio asuransi alat berat tidak homogen dan memerlukan pembentukan tarif per sel yang lebih granular untuk mengurangi potensi dibawah harga dan jauh diatas harga pada segmen tertentu. Estimasi premi murni dilakukan menggunakan Tweedie Generalized Linear Models mampu menangkap karakteristik data klaim dengan frekuensi nol yang tinggi dan distribusi severitas berekor kanan. Hasil model dibandingkan dengan metode burning cost dan tarif pembanding internal, yang menunjukkan bahwa pendekatan berbasis model menghasilkan estimasi premi yang lebih stabil, dapat dipertanggungjawabkan secara aktuaria, serta lebih sensitif terhadap variasi tingkat risiko. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan pendekatan penetapan tarif berbasis risiko berbasis tarif per sel sebagai dasar evaluasi dan penyempurnaan tarif premi asuransi alat berat yang lebih adaptif dan berbasis pengalaman klaim.

2026
👤 Penulis: Brigita Yosephine Lumban Gaol
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko
Halaman 2 dari 9
💬