📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 28 dokumenDINAMIKA KERAPATAN TAJUK TAMAN BURU GUNUNG MASIGIT KAREUMBI MENGGUNAKAN PENDEKATAN FOREST CANOPY DENSITY
Pemantauan kerapatan tajuk hutan merupakan aspek penting dalam menjaga kualitas habitat, terutama bagi spesies arboreal yang sangat bergantung pada struktur kanopi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan kerapatan tajuk di kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK) dengan menggunakan pendekatan Forest Canopy Density (FCD) berbasis citra satelit Landsat 8 Collection 2 Level 2 tahun 2019 dan 2024. FCD dihitung dari empat indeks biofisik, yaitu Advanced Vegetation Index (AVI), Bare Soil Index (BI), Shadow Index (SI), dan Thermal Index (TI), kemudian digunakan untuk memodelkan penutupan tajuk di lapangan yang diukur dengan fotografi hemisferis. Model regresi polinomial menunjukkan nilai determinasi (R²) sebesar 0,6993 yang mengindikasikan bahwa sekitar 70% variasi penutupan tajuk aktual dapat dijelaskan oleh variasi FCD. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa kelas dense cover meningkat seluas 1.305,27 ha dalam lima tahun terakhir, dengan peningkatan contiguity index dari 0.1761 menjadi 0.1831 dan penurunan jumlah patch sebesar 264 patch. Berdasarkan tipe tutupan lahan, kelas dense cover sebagian besar terdistribusi di hutan kering sekunder, belukar, dan hutan tanaman. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan FCD dinilai efektif untuk memantau dinamika struktur tajuk dan mendukung pengambilan keputusan konservasi pada kawasan dengan cakupan luas seperti TBGMK.
PREDIKSI TUTUPAN LAHAN ZONA RISIKO BENCANA SESAR LEMBANG MENGGUNAKAN METODE CELLULAR AUTOMATA DAN KESESUAIANNYA TERHADAP KEBIJAKAN TATA RUANG KABUPATEN BANDUNG BARAT
Kabupaten Bandung Barat merupakan wilayah strategis nasional dalam Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung, dengan laju pertumbuhan penduduk dan perkembangan wilayah yang tinggi, khususnya di bagian utara. Disisi lain, wilayah bagian utara Kabupaten Bandung Barat dilintasi oleh patahan aktif Sesar Lembang sehingga terdapat sembilan kecamatan yang memiliki risiko tingkat tinggi dan sangat tinggi bencana akibat Sesar ini. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tutupan lahan di zona risiko bencana Sesar Lembang yang akan terjadi pada tahun 2044 dan kesesuaiannya terhadap kebijakan tata ruang yang berlaku. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data primer Citra Landsat 8 melalui Google Earth Engine dan sekunder berupa dokumen rencana serta data spasial. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik biner dengan perangkat lunak STATA, analisis spasial dengan bantuan perangkat lunak QGIS dan plugin MOLUSCE serta analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi fenomena perubahan tutupan lahan ini adalah curah hujan, jenis tanah, jarak terhadap permukiman, jalan arteri serta kolektor. Fenomena tutupan lahan di zona risiko bencana Sesar Lembang memiliki dominasi tutupan lahan daerah non pertanian pada setiap tahunnya dan kecenderungan peningkatan lahan terbangun dan penyusutan untuk jenis tutupan lahan lainnya pada tahun 2044. Model tutupan lahan tahun 2044 memperlihatkan adanya ketidaksesuaian sebesar 14,39% dengan rencana pola ruang Kabupaten Bandung Barat serta 43,80% ketentuan zona koridor 250 Sesar Lembang. Hasil studi ini dapat menjadi masukan bagi penyusunan peninjauan ulang rencana pola ruang Kabupaten Bandung Barat agar dapat lebih mempertimbangkan aspek mitigasi bencana secara menyeluruh.
PENYUSUNAN MEKANISME PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG UNTUK MENGATASI URBAN SPRAWL DI KABUPATEN BANDUNG
Fenomena urban sprawl yang terjadi di Kabupaten Bandung memberikan serangkaian dampak negatif yang harus ditanggulangi. Alih fungsi lahan yang merupakan salah satu karakteristik urban sprawl memberikan potensi penanggulangan urban sprawl dari sudut pandang penataan ruang, yaitu melalui pengendalian pemanfaatan ruang. Saat ini, Kabupaten Bandung belum memiliki ketentuan yang khusus menangani dan mengendalikan urban sprawl, sehingga diperlukan serangkaian mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang sebagai upaya penanggulangan urban sprawl di Kabupaten Bandung. Metode pengambilan data sekunder, desk study, dan wawancara digunakan dalam pengambilan data yang berkaitan dengan urban sprawl dan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, analisis konten, analisis spasial, dan problem tree analysis. Dari analisis yang telah dilakukan, terdapat beberapa akar masalah dari penyebab urban sprawl di Kabupaten Bandung, meliputi pembangunan yang belum berizin, luas rencana kawasan permukiman yang berlebihan, belum lengkapnya produk hukum yang menjadi panduan operasional mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang, kelembagaan pengendalian pemanfaatan ruang yang belum lengkap, dan keterbatasan sumber daya manusia yang berwenang pada lingkup ini. Dari akar masalah tersebut dirumuskan rekomendasi solusi berupa penyesuaian dalam perencanaan tata ruang yang sesuai kebutuhan sehingga dapat mencegah terjadinya urban sprawl, mekanisme pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang untuk mengatasi urban sprawl, dan penyesuaian kelembagaan yang berwenang.
ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TERHADAP POLA GENTRIFIKASI DI KORIDOR JALAN TOL JAKARTA OUTER RING ROAD JAKARTA SELATAN
Pembangunan infrastruktur transportasi sering kali menjadi pemicu perubahan sosial dan ekonomi dalam suatu kawasan. Salah satu fenomena yang semakin sering dikaji dalam konteks pembangunan perkotaan adalah gentrifikasi, yakni proses transformasi suatu kawasan yang menyebabkan peningkatan harga lahan dan perumahan, yang pada akhirnya dapat menggeser penduduk asli dengan kelompok berpenghasilan lebih tinggi. Dalam konteks Jakarta Selatan, pembangunan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) telah meningkatkan aksesibilitas kawasan sekitarnya, yang berpotensi memicu gentrifikasi dengan mendorong perubahan tata guna lahan dan kenaikan nilai properti.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembangunan Jalan Tol JORR terhadap proses gentrifikasi di wilayah Jakarta Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif berbasis analisis spasial, dengan mengintegrasikan data citra satelit untuk mengidentifikasi perubahan tata guna lahan dalam rentang waktu 2002 hingga 2024. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data harga lahan dan pemanfaatan lahan untuk memahami dinamika pertumbuhan kawasan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan Jalan Tol JORR telah meningkatkan nilai properti di sepanjang koridor tol, yang berdampak pada perubahan pola pemanfaatan lahan dari kawasan permukiman tradisional menjadi kawasan komersial dan apartemen. Selain itu, fenomena displacement atau pemindahan penduduk akibat kenaikan harga lahan juga terjadi secara bertahap, yang mengindikasikan adanya gentrifikasi berbasis infrastruktur. Keberadaan frontage road di sepanjang koridor tol mempercepat perubahan kawasan dengan meningkatkan daya tarik investasi properti dan bisnis.Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan tol di kawasan perkotaan dapat menjadi katalisator bagi perubahan tata guna lahan dan struktur sosial-ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan perencanaan kota yang lebih inklusif, seperti regulasi sewa, penyediaan hunian terjangkau, serta strategi pengelolaan tata ruang yang dapat meminimalisir dampak negatif gentrifikasi.
ESTIMASI SIMPANAN KARBON PADANG LAMUN PADA TIGA PULAU DENGAN TUTUPAN MANGROVE BERBEDA DI TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA
Ekosistem padang lamun memiliki potensi tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon untuk memitigasi perubahan iklim. Salah satu kawasan dengan padang lamun yang luas dan beragam adalah Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Padang lamun di Kepulauan Seribu dapat ditemukan tumbuh berdekatan dengan mangrove, maupun pada pulau yang tidak terdapat ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi simpanan karbon padang lamun pada tiga pulau di Kepulauan Seribu dengan kondisi mangrove yang berbeda. Tiga pulau tersebut terdiri dari Pulau Pramuka dan Pulau Panggang yang memiliki luasan mangrove berbeda, serta Pulau Kotok yang tidak terdapat ekosistem mangrove. Luasan padang lamun diperkirakan menggunakan analisis spasial dengan data satelit Sentinel-2A dengan klasifikasi unsupervised. Pengambilan data biotik lamun dilakukan menggunakan transek dan plot kuadrat. Komunitas lamun di tiap pulau dideskripsikan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP) spesies. Simpanan karbon biomassa dan sedimen dihitung dengan metode pengabuan (loss on ignition/LOI). Luas mangrove di Pulau Panggang diperkirakan 1,19 ha lebih luas dibandingkan Pulau Pramuka. Secara keseluruhan ditemukan enam spesies lamun dari ketiga pulau. Pada Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, komunitas lamun yang teramati adalah Thalassia-Enhalus sementara komunitas pada Pulau Kotok adalah Halodule-Thalassia. Simpanan karbon pada Pulau Pramuka terukur sebesar 46,3 g C m-2 dalam AGB (above ground biomass), 125,7 g C m-2 pada BGB (below ground biomass) dan 6444 g C m-2 pada sedimen dengan kedalaman 20cm. Pada Pulau Panggang simpanan karbon dalam AGB terukur sebesar 37,7 g C m-2, dalam BGB sebesar 119,8 g C m-2, dan 6762 g C m-2 dalam sedimen. Pada Pulau Kotok simpanan karbon dalam AGB terukur sebesar 28,5 g C m-2, dalam BGB sebesar 24,4 g C m-2, dan 4405 g C m-2 dalam sedimen. Hasil uji signifikansi pada simpanan karbon antar pulau menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05) pada simpanan karbon dalam sedimen. Uji lanjutan menunjukkan perbedaan signifikan antara Pulau Panggang dan Pulau Kotok (p<0,05) dan antara Pulau Pramuka dan Pulau Kotok (p<0,05). Hasil tersebut mengindikasikan bahwa keberadaan ekosistem mangrove memengaruhi simpanan karbon dalam sedimen padang lamun; simpanan karbon sedimen lebih besar pada pulau yang memiliki ekosistem mangrove. Jika dijumlahkan, maka total karbon di Pulau Pramuka diperkirakan sebesar 0,73GgC, Pulau Panggang 1,12GgC, dan Pulau Kotok 0,27GgC.
ANALISIS PERTUMBUHAN APARTEMEN DAN POLA PERUBAHAN HARGA LAHAN PADA SITUASI GENTRIFIKASI DI JAKARTA
Perkembangan Jakarta sebagai pusat ekonomi telah memicu urbanisasi yang tinggi, yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan hunian di tengah terbatasnya lahan. Kondisi ini memaksa masyarakat menengah ke bawah tinggal di permukiman dengan kualitas fisik yang rendah. Fenomena ini mendorong pengembangan hunian vertikal, seperti apartemen, sebagai solusi keterbatasan lahan, meskipun seringkali dibangun pada lahan dengan harga tinggi untuk menghindari kenaikan harga yang lebih besar di masa depan. Pembangunan apartemen ini juga menyebabkan terjadinya gentrifikasi, berbeda dengan negara lain di mana gentrifikasi akibat pembangunan apartemen biasanya terjadi pada lahan dengan harga yang menurun akibat perkembangan kota dan meningkatnya kriminalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola perubahan harga lahan dan kaitannya terhadap sebaran dan pertumbuhan apartemen di Jakarta. Sasaran dalam penelitian ini adalah teridentifikasinya sebaran dan pertumbuhan apartemen di Jakarta, teridentifikasinya pola perubahan harga lahan di Jakarta, dan terumuskannya faktor-faktor pola perubahan harga lahan terhadap pertumbuhan apartemen di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis spasial, deskriptif kualitatif, deskriptif asosiatif, dan analisis statistik deskriptif untuk mengidentifikasi pola perubahan harga lahan dan pertumbuhan apartemen. Penelitian ini menganalisis pertumbuhan apartemen dengan faktor ekonomi dan kebijakan rumah susun, pola perubahan harga lahan, dan faktor-faktor pola perubahan harga lahan terhadap pertumbuhan apartemen berdasarkan koridor favorit dan tipologi apartemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola perubahan harga lahan di Jakarta secara dominan mengalami peningkatan. Perubahan rata-rata harga lahan per tahun sejak apartemen beroperasi dan berkembang hingga saat ini didominasi oleh pertumbuhan yang positif dimana apartemen pada koridor SCBD mencatat pertumbuhan harga lahan positif yang paling tinggi, sementara pada tipologi apartemen mencatat apartemen menengah mengalami pertumbuhan harga lahan yang positif paling tinggi. Selain itu, pendekatan rent gap theory di Jakarta dan di negara lain menunjukkan perbedaan di mana secara umum pertumbuhan apartemen di Jakarta tidak didahului oleh penurunan harga lahan.
PEMODELAN SPASIAL SEBARAN EMISI PENCEMAR UDARA DAN GAS RUMAH KACA SEKTOR TRANSPORTASI DI KOTA BANDUNG
Aktivitas transportasi merupakan salah satu sumber utama pencemar udara di wilayah perkotaan. Jumlah kendaraan bermotor di Kota Bandung pada tahun 2022 telah mencapai 2,2 juta unit kendaraan. Senyawa yang umum dihasilkan pada gas buang kendaraan bermotor adalah NOx, CO, HC, PM10, SO2, serta menghasilkan gas rumah kaca seperti CO2, CH4, dan N2O. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh inventarisasi emisi dari sektor transportasi di Kota Bandung dan mengetahui konstribusi dari setiap jenis tipe kendaraan bermotor yang merupakan sumber pencemar sektor transportasi terhadap besaran emisi di Kota Bandung. Penelitian ini terbagi menjadi empat tahap, yaitu pengumpulan data sekunder, penentuan faktor emisi untuk setiap tipe kendaraan, perhitungan beban emisi untuk semua parameter pencemar dari jenis kendaraan sepeda motor, mobil penumpang, dan kendaraan berat, dan analisis spasial untuk melihat pola sebaran emisi pencemar dengan sistem grid 30 x 30 meter. Volume kendaraan dari pemodelan transportasi menunjukkan volume sebesar 5.505.376 kend./jam kendaraan dengan proporsi 89% sepeda motor, 9,79% mobil penumpang, dan 1% kendaraan berat. Semakin tinggi kecepatan rata-rata suatu kendaraan, maka semakin rendah polutan yang diemisikan. Beban emisi NOx dari mobil bensin EURO IV dan EURO II, mobil solar EURO IV dan EURO II, kendaraan berat EURO IV dan EURO II, serta motor EURO III dan EURO II secara berturut-turut adalah 98,10 dan 490,15; 574,61 dan 4.349,15; 189,82 dan 3.062,41; serta 2.688,33 dan 4.714,84 ton/tahun. Sedangkan, beban emisi PM dari masing-masing kendaraan dengan urutan yang sama adalah 2,61 dan 14,81; 28,93 dan 294,88; 3,18 dan 111,82; 59,29 dan 96,44 ton/tahun
IDENTIFIKASI PARTISIPASI RUMAH TANGGA DALAM MITIGASI DAN ADAPTASI FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DI KOTA BEKASI
Kenaikan suhu bumi mencapai 0,20 Celcius terjadi pada setiap dekade. Heat waves lebih intens di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan terjadi sebagai efek urban heat island (UHI). Urbanisasi menyebabkan bertambahnya perubahan tutupan lahan, bangkitan kendaran, bertambahnya penggunaan energi listrik dan air, serta bertambahnya penghasilan limbah. Faktor-faktor tersebut akan berpengaruh terhadap pemanasan suhu permukaan kota. Kota Bekasi sebagai kota satelit Ibu Kota DKI Jakarta bertransformasi menjadi kawasan hunian bagi kaum urban. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi partisipasi rumah tangga di Kota Bekasi dalam mitigasi dan adaptasi fenomena urban heat island serta hubungannya dengan faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi. Pengumpulan data primer melalui kuesioner serta pengumpulan data sekunder melalui jurnal, buku, media popular, dan website. Metode analisis yang digunakan adalah analisis spasial, statistik deskriptif dan Rasch Model. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi maladaptasi dan tingkat partisipasi mitigasi rumah tangga masih tergolong menengah cenderung rendah dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin dan pendapatan. Perlunya kesadaran masyarakat bahwa solusi UHI adalah dengan beralih pada penggunaan pada trasnportasi publik, pengelolaan air limbah di IPAL, dan penerapan prinsip daur ulang diterapkan pada berbagai pola konsumsi rumah tangga. UHI yang masih dan akan terus berlangsung memerlukan rencana strategis di tingkat kota untuk mencapai tujuan pendinginan kota.
KAJIAN PROGRAM STRATEGIS PENGELOLAAN KUALITAS AIR LAUT DI INDONESIA BERDASARKAN ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL (STUDI KASUS TELUK JAKARTA)
Indonesia mengalami penurunan kualitas air laut yang menjadi salah satu permasalahan lingkungan paling kritis saat ini, karena dampaknya yang merugikan baik bagi ekosistem laut maupun kesehatan manusia. Penurunan kualitas air laut ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adalah polusi industri, limbah domestik, dan aktivitas pertambangan yang meningkat. Untuk menghadapi masalah penurunan kualitas air laut akibat aktivitas manusia, perlu dilakukan upaya pengendalian dan pengelolaan yang efektif dan efisien. Pada penelitian ini, upaya pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air laut dibuat dalam bentuk kajian program strategis sebagai upaya meningkatkan kualitas air laut dan mengurangi dampak dari aktivitas manusia. Kajian program strategis tersebut disusun menggunakan analisis spasial menggunakan software ArcGIS dan analisis kebijakan menggunakan paradigma DPSIR (Driving forces, Pressures, State, Impact, dan Responses); HITS (Holistik, Intergratif, Tematik, dan Spasial); dan SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, dan Threats). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat lokasi kritis penurunan kualitas air laut di teluk jakarta, yaitu pada gedung pompa Pluit yang memiliki gradien nilai IKAL sebesar -0,81. Lokasi kerusakan terumbu karang di teluk Jakarta berada di Kepulauan Seribu dengan tiga tingkat kondisi terumbu karang (Baik, Sedang, dan Buruk). Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penurunan kulaitas air laut yang menyebabkan rusaknya terumbu karang di Teluk Jakarta. Program strategis yang telah dilakukan pemerintah indonesia untuk mengelola kualitas air laut adalah melalui pembuatan regulasi dan pelaksanaan program pantai lestari (program konservasi dan perbaikan kondisi lingkungan hidup di wilayah laut dan pesisir). Diperlukan penambahan periode pemantauan kualitas air laut dan periode pemantauan kerusakan terumbu karang di Teluk Jakarta.
PEMODELAN DIGITAL PETA 3D KOTA UNTUK PROSES EVALUASI BANGUNAN
Kota cerdas saat ini menjadi salah satu tujuan dari pembangunan dan pengembangan kota dengan menggunakan teknologi informasi untuk mengelola aset kota, salah satunya adalah bangunan. Di Indonesia sendiri, saat ini sudah ada beberapa kota yang sedang membangun sistem kota cerdas, seperti Jakarta, Bandung, dan Cirebon. Untuk mempermudah proses tersebut diperlukan suatu model digital yang merepresentasikan objek pada lingkungan nyata secara tiga dimensi (3D) dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi. Model digital kota dapat disimpan dalam sistem Building Information Modeling (BIM) atau Sistem Informasi Geografis 3D (SIG 3D). BIM dan SIG memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga diperlukan integrasi keduanya untuk dapat dimanfaatkan dalam pemodelan kota. Model kota dapat dimanfaatkan sebagai perangkat/alat bantu pemerintah daerah dalam pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung. Namun saat ini data yang banyak digunakan oleh pemerintah sebagai acuan untuk pengawasan dan pemeliharaan berupa peta dua dimensi (2D) dengan informasi ketinggian tanah (kontur) yang memiliki keterbatasan informasi. Selain itu, peta 2D tersebut masih memiliki perbedaan antar-instansi dan tidak diperbarui secara berkala. Hal tersebut dapat menghambat pelayanan masyarakat, salah satunya terkait dengan perizinan. Oleh karena itu diperlukan pemanfaatan model digital bangunan dan peta kota untuk pengawasan dan pemeliharaan kota. Untuk melakukan pengawasan bangunan dan tata lingkungan diperlukan peta kota (model 3D kota) yang memiliki informasi geometrik, semantik, topologi dan tampilan yang baik, sehingga diperlukan integrasi model bangunan dan kota. Model bangunan juga dapat digunakan untuk melakukan analisis spasial dalam melakukan evaluasi bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah membangun standar model digital bangunan dan peta kota dalam pembangunan dan pengkajian teknis bangunan gedung. Model digital tersebut dapat digunakan untuk berbagai aplikasi, dalam penelitian ini adalah evaluasi bangunan dan tata lingkungan. Untuk keperluan evaluasi dan tata lingkungan diperlukan peta kota dengan model bangunan yang memiliki tingkat perincian tinggi. Daerah kajian yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua kawasan, yaitu Kawasan Keraton Kasepuhan Cirebon dan Kelurahan Cipageran-Cimahi. Namun terdapat tiga objek bangunan yang dikaji, yaitu Gedung KOICA, Rumah Pangeran Arya Denda, dan Toko Elizabeth. Dalam penelitian ini dilakukan pembangunan model konseptual standardisasi peta 3D sesuai dengan profil Indonesia. Selain itu, dibangun model digital bangunan dan lingkungan yang dapat digunakan untuk evaluasi bangunan dan tata lingkungan dalam struktur model CityGML. Model digital yang dibangun kemudian dipakai untuk melakukan evaluasi keandalan bangunan dan evaluasi tata bangunan dan lingkungan berdasarkan peraturan yang ada menggunakan analisis spasial 3D, selain itu juga dimanfaatkan dalam memperbarui peta kota untuk keperluan perencanaan dan pengawasan kota. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memudahkan dalam melakukan proses evaluasi bangunan, sehingga mempermudah dan mempercepat pelayanan masyarakat oleh instansi pemerintahan yang merupakan salah satu capaian dalam konsep kota cerdas dalam aspek tata kelola pemerintahan. Selain itu, integrasi antara peta kota dan model bangunan digunakan untuk melakukan perbaruan peta kota tersebut.
HUBUNGAN INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP TERHADAP PREVALENSI PENYAKIT DI PROVINSI JAWA BARAT
Kualitas lingkungan hidup yang buruk dapat memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap munculnya penyakit menular ataupun tidak menular pada manusia. Beberapa kasus penyakit dengan jumlah yang besar di Provinsi Jawa Barat dan berkaitan dengan lingkungan hidup terdiri dari diare, pneumonia, hipertensi, tuberkulosis (TBC), dan demam berdarah (DBD). Penentuan kualitas lingkungan hidup di setiap kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Barat didasarkan pada indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 27 Tahun 2021 yang terdiri dari indeks kualitas air (IKA), indeks kualitas udara (IKU), dan indeks kualitas tutupan lahan (IKTL). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan analisis hubungan IKLH dan prevalensi penyakit menggunakan analisis spasial pada QGIS dan analisis regresi linear pada SPSS. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar komponen IKLH tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prevalensi penyakit
PENGGUNAAN BIG DATA NIGHTTIME LIGHT SATELLITE IMAGERY DAN POPULAR TIMES SEBAGAI INFORMASI SEBARAN PEOPLE AT RISK UNTUK STRATEGI TANGGAP DARURAT SAAT BENCANA GEMPABUMI & BANJIR TERJADI DI KOTA BANDUNG & KOTA CIMAHI
Fenomena bencana alam tidak mengenal waktu sehingga dapat terjadi pada saat siang ataupun malam. Bencana terjadi malam hari memberikan ancaman keselamatan jiwa lebih tinggi dibandingkan siang hari. Penggunaan Big data citra satelit malam dan POI google maps memiliki peran dalam pengurangan dampak bencana dengan melihat populasi berisiko diwaktu malam. Sebaran cahaya menggambarkan sebaran populasi berisiko pada saat kondisi malam hari. Intensitas cahaya menginformasikan kepadatan populasi berisiko pada saat kondisi malam. Penelitian ini bertujuan membuat strategi tanggap darurat saat bencana terjadi malam hari dengan memanfaatkan big data citra satelit malam dan POI google maps untuk melihat populasi berisiko diwaktu malam. Studi kasus yang diambil adalah Kota Bandung dan Kota Cimahi dimana kedua kota ini memiliki ancaman bencana gempabumi dan banjir dengan jumlah penduduk yang besar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analsisi spasial melalui ArcMap,Qgis, dan google earth. Dalam merumuskan strategi menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahun 2023 sampai tahun 2040 mengalami peningkatan populasi berisiko terhadap bahaya gempabumi sebanyak 70,5 % di Kota Bandung dan 57% di Kota Cimahi. Kemudian peningkatan populasi berisiko terhadap bahaya banjir sebanyak 15,7% di Kota Bandung dan 14,5% di Kota Cimahi. Sementara itu, populasi berisiko ditempat bangunan mall dan stasiun terjadi puncak kunjungan pada saat malam akhir pekan. Selanjutnya, populasi berisiko dijalan raya dan taman mengalami kunjungan yang relatif normal. Berdasarkan hasil analisis SWOT, terdapat 16 strategi dalam pengoptimalan proses penanganan tanggap darurat saat bencana terjadi malam hari. Selain itu, sarana terkait pencarian dan pertolongan, lokasi tempat pos pengungsian, posko koordinasi pelaporan situasi, posko komando dan konferensi pers, lokasi posko logistik utama, tempat unit posko logistik pendukung, dan cadangan sumber energi pencahayaan malam hari menjadi bagian penting dalam proses penanganan tanggap darurat agar dapat berlangsung dengan cepat dan tepat.
ANALISIS SIRKULASI RSUD DR. TJITROWARDOJO PURWOREJO DALAM ASPEK WAYFINDING UNTUK MENUNJUANG EFEKTIVITAS BAGI PASIEN RAWAT JALAN
Penggunaan wayfinding dalam rumah sakit memainkan peran penting dalam sirkulasi pasien rawat jalan. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengevaluasi sirkulasi instalasi pasien rawat jalan melalui pendekatan wayfinding. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif, dengan data dikumpulkan melalui observasi dan kuisioner yang diisi oleh 102 responden. Kemudian metode space syntax digunakan untuk menganalisis permasalahan keterbacaan ruang di instalasi rawat jalan. Analisis space syntax menggunakan perangkat lunak depthmapX, bertujuan untuk mengidentifikasi area mana yang menyebabkan masalah sirkulasi dan area mana yang memiliki permasalahan wayfinding. hasil penelitian dan hasil space syntax menggunakan metode yang berbeda. Penelitian terkait tingkat familiaritas pasien terhadap sirkulasi menggunakan metode observasi, wawancara, dan kuesioner untuk mengumpulkan data langsung dari pasien tentang pengalaman mereka. Sementara itu, space syntax merupakan metode analisis spasial yang digunakan untuk memetakan dan memahami konfigurasi ruang dan bagaimana hal itu mempengaruhi pergerakan dan interaksi manusia. Kombinasi dari kedua metode ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai efisiensi sirkulasi dan penggunaan wayfinding di rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan sirkulasi instalasi rawat jalan pada pasien memiliki tingkat familiritas yang baik, sehingga mempermudah pasien dalam orientasi dan navigasi. Namun hasil space syntax berbeda terbalik yang menunjukkan terdapat area yang sulit terjangkau oleh pandangan maupun jarak menuju ruang dan terdapat area yang menjadi magnet aktivitas pasien di instalasi rawat jalan. Meskipun familiritas pasien memiliki pemahaman tinggi, masih terdapat kekurangan dalam penggunaan penunjuk arah. Hal ini menunjukkan temuan bahwa RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo mengalami tantangan signifikan dalam efektivitas dan konsistensi penggunaan signage. Diperlukan perbaikan yang menyeluruh terhadap penunjuk arah dan penempatan signage untuk meningkatkan navigasi pasien dan meminimalisir kebingungan di dalam instalasi rawat jalan. hasil Penelitian ini memberikan evaluasi dan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas penggunaan wayfinding di rumah sakit.