📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 40 dokumenKAJIAN ANALISIS STRUKTURAL TEROWONGAN TERHADAP PERGERAKAN SESAR GESER (STRIKE-SLIP FAULTING): PENDEKATAN ANALITIS DAN NUMERIK
Penelitian terkait dampak pergerakan sesar terhadap stabilitas terowongan masih terbatas, khususnya pada terowongan yang hanya sebagian melintasi zona sesar (partially-crossing fault). Sebagian besar penelitian terdahulu lebih banyak memfokuskan pada terowongan yang sepenuhnya melintasi zona sesar (fully-crossing fault), sementara respons struktural terowongan pada kondisi sesar yang hanya sebagian dilalui belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi gap pengetahuan tersebut dengan menganalisis respons struktural terowongan yang melintasi zona sesar geser (strike-slip faulting) menggunakan pendekatan analitis dan numerik berbasis elemen hingga (FEM) dengan perangkat lunak ABAQUS 3D. Model analitis memberikan gaya dalam, momen lentur, dan deformasi pada terowongan, meskipun pendekatannya lebih sederhana dibandingkan dengan model numerik. Simulasi numerik, di sisi lain, memberikan evaluasi yang lebih detail terhadap hasil yang diperoleh dari pendekatan analitis, memungkinkan verifikasi dan validasi model analitis yang digunakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa semakin panjang bagian terowongan yang melintasi zona sesar, semakin besar gaya dalam yang diterima oleh struktur terowongan. Pada model terowongan dengan panjang crossing 150m dan 200m, gaya geser dan momen lentur maksimum lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi fully crossing, yang disebabkan oleh konsentrasi tegangan di ujung struktur yang tertahan di sisi non-bergerak, mengakibatkan tegangan menumpuk di batas zona sesar. Dalam distribusi momen lentur, dapat dilihat bahwa momen lentur memiliki tendensi untuk mencapai nilai konstan 0 di sekitar tengah terowongan, hal ini dikarenakan pergerakan deformasi linear yang menyebabkan tidak adanya deformasi relatif antara titik terowongan, sebagaimana yang terjadi pada daerah moving block. Selain itu, perbandingan antara pendekatan analitis dan numerik menunjukkan kecenderungan pola distribusi yang serupa, meskipun terdapat perbedaan nilai maksimum, terutama pada momen lentur, yang lebih tinggi pada hasil numerik. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa lebar zona sesar memengaruhi distribusi gaya dalam, di mana zona yang lebih kecil menyebabkan gradien perpindahan yang lebih tinggi dalam jarak pendek, menghasilkan lonjakan gaya geser dan momen lentur yang lebih tajam.
EVALUASI KEANDALAN STRUKTUR MODULAR TIPIKAL DI INDONESIA TERHADAP BEBAN GEMPA KUAT
Struktur modular tipikal di Indonesia menggunakan sistem sambungan petikemas atau biasa disebut dengan corner fittings. Penentuan tipe sambungan pada struktur modular di Indonesia sangat perlu mempertimbangkan kondisi dan potensi gempa, mengingat Indonesia termasuk negara yang rawan gempa. Berkaitan dengan hal tersebut, melalui penelitian ini, akan ditentukan tipe sambungan struktur modular tipikal di Indonesia berdasarkan nilai kekakuan rotasional sistem sambungan corner-fittings yang dievaluasi secara lokal menggunakan metode finite element analysis. Di samping itu, dengan menggunakan finite element analysis, harapannya dapat dilakukan studi parametrik terkait perolehan parameter pada pemodelan sambungan yang sangat memengaruhi kinerja sambungan pada struktur modular. Pada penelitian ini akan dilakukan evaluasi keandalan struktur modular terhadap variasi beban gempa yang dianalisis dengan nonlinear time history untuk nantinya dapat diperoleh kemungkinan kegagalan atau keruntuhan struktur modular tipikal berdasarkan SNI 1726:2019.
NUMERICAL STUDY OF LATTICE FILLED HEXAGONAL CRASH BOX STRUCTURE UNDER AXIAL QUASI STATIC LOAD
The increase in the number of vehicles, driven by the rising demand for transportation as a means of mobility, affects the high number of motor vehicle accidents. An important component in the impact safety aspect that can improve safety in an accident is the crash box. A crash box is a thin-walled column that absorbs energy from impacts by undergoing plastic deformation, allowing the energy transmitted to passengers to be controlled. The crash box has undergone rapid development, evolving from simple cross-section shapes to complex structures, such as multi-cell, foam-filled, and lattice-filled designs. To attain better specific energy absorption (SEA) performance, the development of the crash box is also accompanied by the advancement of lattice-filled hexagonal column. This research aims to numerically model the crushing of hexagonal crash box filled with modified hexagonal close-packed lattice structure (HCP-M) under quasi static axial loading. Through this research, numerical simulations will be conducted on lattice structure for energy absorption and their implementation in hexagonal crash box structures. An analysis of the addition of lattice structures to the crash box will be carried out to identify the parameters that most significantly impact the performance of the crash box under quasi-static axial loading.
USULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK MEMPERTAHANKAN LOYALITAS PELANGGAN BISNIS TELCO STUDI KASUS: TELKOMSEL REGIONAL BANTEN
Telkomsel Region Western Jabotabek yang mengelola layanan di Wilayah Provinsi Banten mengalami penurunan pelanggan secara year-on-year. Revenue Generating Base (RGB) yang merupakan pelanggan aktif yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan harus dapaat dipertahankan. Berdasarkan data, mulai semester kedua tahun 2024, tepatnya pada bulan Juli, Telkomsel Region Western Jabotabek Bagian Barat mengalami penurunan RGB sebesar -7,7% secara tahun ke tahun dan -3,86% bulan ke bulan yang sebagian besar dikontribusi oleh pelanggan dengan usia penggunaan di atas enam bulan. Tren ini mengindikasikan berkurangnya jumlah pelanggan loyal. Terkait hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan strategi untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dengan mengidentifikasi faktor pendorong utama pelanggan tetap loyal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan analisa eksternal dan internal yang didukung oleh data kuantitatif melalui kuesioner terhadap 217 responden yang dilakukan menggunakan pendekatan Structural Equation Model yang diolah menggunakan aplikasi SEM-PLS menghasilkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi loyalitas adalah layanan oleh customer care, diikuti oleh kualitas jaringan internet dan jangkauan selama pelanggan menggunakan layanan tersebut, dan yang ketiga adalah berbagai alternatif kanal penjualan yang ditawarkan. Selanjutnya dilakukan analisa secara komprehensif dengan TOWS Matrix dengan Melakukan interview pada pihak yang berhubungan dengan penelitian untuk memperoleh strategi alternatif dan selanjutnya ditentukan alternatif terbaik melalui QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) sehingga diperoleh strategi Penetapan Harga yang menawarkan berbagai skema dengan adanya harga khusus untuk lokasi tertentu, layanan penjualan paripurna, dan memperluas saluran penjualan dan distribusi baru yang mencakup hingga ke daerah pedesaan.
ANALISIS RESPON STATIS DAN DINAMIS AKTUATOR PIEZOELEKTRIK MENGGUNAKAN ELEMEN HINGGA YANG TERKOPEL SECARA ELEKTROMEKANIK
Dalam penelitian ini, analisis komputasi pada aktuator berbasis piezoelektrik dilakukan. Bahan piezoelektrik mampu menghasilkan gaya dari muatan listrik dan sebaliknya. Dengan demikian, bahan piezoelektrik banyak digunakan sebagai sensor dan aktuator elektromekanis. Sebagai aktuator, pemanfaatan material piezoelektrik memberikan beberapa keuntungan, yaitu presisi yang luar biasa dan ruang operasional yang minimal. Selama bertahun-tahun, banyak penelitian telah dilakukan pada pemodelan piezoelektrik. Pendekatan elemen hingga merupakan salah satu teknik evaluasi. Pekerjaan saat ini berfokus pada evaluasi komputasi aktuator berbasis piezoelektrik melalui elemen hingga yang terkopel secara elektromekanis. Perangkat lunak elemen hingga komersial digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menyelidiki kasus statis dan dinamis dari aktuator berbasis piezoelektrik. Aktuator beam-bending unimorph dan multilayer adalah jenis actuator yang dievaluasi. Metode analitik digunakan untuk aktuator multilayer untuk memvalidasi hasil komputasi. Kedua hasil cukup serupa, dengan varian maksimum kurang dari 6%. Untuk kasus konfigurasi unimorph, hasil eksperimen sensor berbasis piezoelektrik digunakan untuk memverifikasi karakteristik elektromekanis elemen hingga. Analisis respons frekuensi pembacaan tegangan sensor dievaluasi. Hasil tegangan cukup serupa, khususnya dalam rentang frekuensi dasar lentur pertama dan kedua. Selanjutnya, analisis komputasi juga dilakukan untuk struktur unimorph sebagai aktuator, dengan tegangan penggerak sebagai pembebanan utama pada struktur.
UPDATED SPECIFICATIONS FOR SHIP-LIFT WINCH COMPONENTS
The ship lift is used to dry dock and to launch ships. However, as it was built to be a better alternative than the original dry dock and slipway, it has a few crucial advantages that its counterparts do not have. It has also been recognized to have advantages over navigation ship locks, leading to its development being emphasized in the 21st PIANC International Navigation Congress. The first leverage it has is that ship lifts can serve many parking places. The second is that while a normal dry-docking system does not support the body as best as a ship in its waterborne state, the vertical ship lift are able to emulate that condition. It should be noted that in Indonesia, maritime development has become even more important, but it can only be profitable if Indonesian products can remain competitive on the regional stage. This can only be achieved by improving maritime infrastructure. With ship lift being one of the best systems a dock can have, helping in its advancement inside the country is the most logical route to go. The ship lift consists of a few systems in place, two of which are the transporter and the hoist system. This report will be covering components of those systems which can be analysed and safely chosen through several parameters that are stress, deflection, load, and material selection. Those components include the trestle, crossbeam, bogie, rail, and winch. The components’ safety factor will thus be found to choose the best design out a few.
STUDI KERUNTUHAN PROGRESIF PADA BANGUNAN BERTINGKAT BAJA DENGAN SISTEM BRESING KONSENTRIK
Bangunan struktur tingkat tinggi pada dasarnya akan mengalami kerusakan akibat fenomena alam ataupun buatan. Kerusakan akibat fenomena alam diakibatkan adanya bencana alam seperti gempa dan kerusakan akibat fenomena buatan seperti ledakan, kebakaran, adanya aktivitas terorisme. Fenomena buatan yang terjadi sering kali tidak dapat diprediksi kapan datangnya dan perlu dilakukan perencanaan yang tepat dalam menghindari kegagalan bangunan secara tiba-tiba. Kegagalan struktur bangunan akibat fenomena buatan terjadi karena adanya kegagalan terlebih dahulu pada elemen struktur yang dapat memicu keruntuhan progresif. Keruntuhan progresif merupakan kondisi dimana suatu elemen bangunan struktur mengalami kegagalan dan berlanjut pada elemen lainnya yang akan mengakibatkan keruntuhan total atau sebagian dari struktur tersebut. Keruntuhan biasanya dimulai dari elemen struktur yang berada dalam kondisi kritis yang kemudian akan memicu kegagalan elemen lainnya secara berurutan, sehingga seluruh struktur tidak lagi mampu menahan beban yang diberikan. Keruntuhan progresif yang diketahui salah satunya adalah kasus keruntuhan gedung World Trade Center (WTC) yang terjadi New York pada tahun 2001 lalu. Keruntuhan pada gedung WTC ini dikarenakan adanya tabrakan pesawat yang memicu kebakaran besar dan mengakibatkan elemen struktural baja pada bangunan tersebut dalam kondisi kritis akibat suhu tinggi. Proses keruntuhan dimulai dengan adanya kerusakan lokal pada elemen struktur yang kemudian menyebar ke seluruh struktur dan akhirnya kedua struktur bangunan mengalami keruntuhan total dalam waktu yang cepat. Pada penelitian ini dilakukan studi terkait keruntuhan progresif pada bangunan bertingkat dengan sistem rangka baja konsentris. Pemodelan struktur dimodelkan menggunakan software ETABS dengan bangunan bertingkat 10 lantai. Pengecekan awal struktur memastikan bahwa struktur telah memenuhi kriteria kegempaan berdasarkan SNI 1726:2019. Pemodelan struktur akan dilakukan identifikasi penghilangan elemen sebanyak 5 (lima) kasus yang masing-masing kasus penghilangan berupa kolom, bresing atau keduanya. Identifikasi penghilangan elemen dari kasus 1 berupa penghilangan kolom gravitasi pada sudut gedung di lantai dasar, kasus 2 berupa penghilangan kolom gempa dan bresing di lantai dasar, kasus 3 berupa penghilangan kolom gempa dan dua bresing di lantai dasar, kasus 4 berupa penghilangan kolom interior di lantai dasar dan kasus 5 berupa penghilangan kolom gempa dan dua bresing di lantai 5. Masing-masing kasus identifikasi penghilangan elemen akan dianalisis bagaimana respon struktur terhadap penghilangan elemen melalui dua prosedur pendekatan yaitu Linear Static Procedure (LSP) dan Nonlinear Static Procedure (NSP) berdasarkan GSA guidline. Pendekatan LSP dilakukan untuk mengamati nilai dari Demand-Capacity Ratio pada elemen terdekat dengan kasus penghilangan kolom / bresing. Pendekatan LSP dinilai lebih konservatif karena mampu mengindikasi awal untuk kegagalan elemen yang memicu keruntuhan progresif. Pendekatan NSP dilakukan menggunakan metode Pushdown Analysis dengan peningkatan beban yang ditentukan terlebih dahulu. Setiap peningkatan beban diamati bagaimana perubahan respon struktur dan pembentukan sendi plastis elemen pada kasus penghilangan kolom / bresing. Hasil penelitian menunjukan bahwa kasus 1 dan 2 dan memiliki indikasi keruntuhan progresif dengan adanya kegagalan pada elemen balok dan bresing. Sementara pada kasus 3, 4, 5 mampu berdeformasi lebih besar pada kondisi inelastis dan tidak ada potensi keruntuhan progresif. Kegagalan pada kasus 1 dimulai dari kegagalan balok akibat lentur dan kegagalan kasus 2 dimulai dari kegagalan aksial / tekuk pada bresing. Potensi pola keruntuhan pada kasus 1 dan 2 menyebabkan keruntuhan section yang dimana keruntuhan diakibatkan adanya bagian struktur yang gagal namun keseluruhan struktur tetap berdiri meskipun ada risiko lebih lanjut.
PEMODELAN NUMERIK DINDING BATA TERKEKANG AKIBAT BEBAN QUASI-STATIC MENGGUNAKAN MODEL STRUT METODE ELEMEN HINGGA
Wilayah Indonesia yang rawan gempa ditambah dengan banyaknya bangunan yang dibangun tanpa proses perancangan struktur, menyebabkan tingkat kerusakan yang tinggi jika terjadi gempa. Bahkan perancangan struktur pada umumnya mengabaikan kontribusi kekakuan dan kekuatan dinding bata meskipun hal tersebut sebenarnya kurang tepat. Di Indonesia, dinding bata tetap menjadi salah satu elemen yang sering digunakan dalam bangunan karena pertimbangan efisiensi biaya. Oleh karena itu, pemodelan dinding bata terkekang untuk memahami respons struktur dinding bata menjadi tantangan baru yang membutuhkan perhatian lebih. Untuk memahami metode pemodelan dinding bata terkekang akibat beban quasi-static, dilakukan pemodelan menggunakan model strut berbasis metode elemen hingga dengan perangkat lunak OpenSees dan interface OpenSees Navigator. Strut diagonal ekuivalen dimodelkan menggunakan model elemen Truss dengan model material Hysteretic untuk analisis monotonik dan model material Pinching4 untuk analisis siklik, sedangkan portal pengekang dimodelkan menggunakan elemen HingeBeamColumn dengan model material Concrete02 sebagai beton dan Steel02 sebagai tulangan baja. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian yang cukup baik dengan hasil eksperimen pada penelitian sebelumnya. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan backbone curve, parameter pinching, dan parameter degradasi siklik memberikan pengaruh signifikan dalam meningkatkan akurasi pemodelan yang dilakukan. Evaluasi terhadap nilai kekakuan unloading dan reloading, kekuatan, serta kapasitas energi disipasi menghasilkan nilai rata-rata rasio antara hasil analisis numerik dan eksperimen masing-masing sebesar 1,05; 0,851; 0,964; dan 1,217 yang menunjukkan tingkat akurasi yang memuaskan. Namun, evaluasi terhadap nilai daktilitas struktur menghasilkan rasio sebesar 2,06. Ketidakmampuan model dalam merepresentasikan efek pinching secara menyeluruh menyebabkan kurangnya akurasi pada distribusi energi tiap siklus pembebanan yang berkontribusi terhadap nilai daktilitas struktur.
PEMODELAN NUMERIK DINDING BATA TERKEKANG AKIBAT BEBAN QUASI-STATIC MENGGUNAKAN MODEL STRUT METODE ELEMEN HINGGA
Wilayah Indonesia yang rawan gempa ditambah dengan banyaknya bangunan yang dibangun tanpa proses perancangan struktur, menyebabkan tingkat kerusakan yang tinggi jika terjadi gempa. Bahkan perancangan struktur pada umumnya mengabaikan kontribusi kekakuan dan kekuatan dinding bata meskipun hal tersebut sebenarnya kurang tepat. Di Indonesia, dinding bata tetap menjadi salah satu elemen yang sering digunakan dalam bangunan karena pertimbangan efisiensi biaya. Oleh karena itu, pemodelan dinding bata terkekang untuk memahami respons struktur dinding bata menjadi tantangan baru yang membutuhkan perhatian lebih. Untuk memahami metode pemodelan dinding bata terkekang akibat beban quasi-static, dilakukan pemodelan menggunakan model strut berbasis metode elemen hingga dengan perangkat lunak OpenSees dan interface OpenSees Navigator. Strut diagonal ekuivalen dimodelkan menggunakan model elemen Truss dengan model material Hysteretic untuk analisis monotonik dan model material Pinching4 untuk analisis siklik, sedangkan portal pengekang dimodelkan menggunakan elemen HingeBeamColumn dengan model material Concrete02 sebagai beton dan Steel02 sebagai tulangan baja. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian yang cukup baik dengan hasil eksperimen pada penelitian sebelumnya. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan backbone curve, parameter pinching, dan parameter degradasi siklik memberikan pengaruh signifikan dalam meningkatkan akurasi pemodelan yang dilakukan. Evaluasi terhadap nilai kekakuan unloading dan reloading, kekuatan, serta kapasitas energi disipasi menghasilkan nilai rata-rata rasio antara hasil analisis numerik dan eksperimen masing-masing sebesar 1,05; 0,851; 0,964; dan 1,217 yang menunjukkan tingkat akurasi yang memuaskan. Namun, evaluasi terhadap nilai daktilitas struktur menghasilkan rasio sebesar 2,06. Ketidakmampuan model dalam merepresentasikan efek pinching secara menyeluruh menyebabkan kurangnya akurasi pada distribusi energi tiap siklus pembebanan yang berkontribusi terhadap nilai daktilitas struktur.
PEMODELAN DEFLEKSI DAN REGANGAN PLASTIS PADA BATANG KANTILEVER MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA.
Ada di cover
PENGEMBANGAN DINDING 3D CONCRETE PRINTING (3DCP) TAHAN GEMPA DENGAN SIMULASI NUMERIK MENGGUNAKAN LS-DYNA
Konstruksi rumah masih umum dikerjakan secara konvensional padahal telah tersedia teknologi untuk membantu proses konstruksinya yaitu menggunakan 3D Concrete Printing (3DCP). Keunggulan dari penggunaan teknologi ini yaitu mempercepat proses konstruksi, meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja, pengurangan biaya konstruksi khususnya dalam menggunakan bekisting, memberikan keluwesan dalam membuat bentuk bangunan, dan tingkat presisinya yang tinggi. Dibalik keunggulannya tentu saja ada kekurangan dari teknologi ini yang perlu menjadi perhatian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu terkait pumpability dan printability karena dengan 3DCP campuran betonnya perlu diantarkan melalui selang menuju nozzle untuk kemudian dicetak (pumpability) dan diharapkan tetap memiliki kekakuan tertentu agar saat dicetak lapis demi lapis campuran dapat mempertahankan bentuknya (printability). Selain hal-hal tersebut hubungan antarlapisnya juga memerlukan perhatian khusus karena proses mencetaknya dilakukan lapis demi lapis sehingga ada potensi perlemahan akibat dikerjakan pada waktu yang berbeda (indikasi tidak monolit). Penelitian ini bertujuan mempelajari perilaku dinding dan keandalannya untuk digunakan sebagai bangunan rumah satu lantai di Indonesia mengingat adanya perlemahan yang terjadi pada hubungan antarlapis. Struktur elemen yang ditinjau adalah dinding yang terbuat dari 3DCP yang diberikan elemen pengikat seperti confined masonry. Analisis untuk men-justifikasi bahwa dinding dengan konfigurasi tersebut dapat digunakan di Indonesia perlu dilakukan karena Indonesia adalah daerah yang rawan gempa. Mengingat dinding yang dianalisis digunakan untuk bangunan rumah satu lantai yang mana artinya sangat kaku sehingga pendekatan dalam kriteria penerimaannya berdasarkan kekuatan (strength based) karena tidak diharapkan terjadi plastifikasi pada struktur. Software LS-DYNA digunakan untuk mempelajari perilaku dinding dan menghasilkan kapasitas dinding yang akan dibandingkan dengan demand gempa maksimum yang terjadi di Indonesia. Beban yang diberikan pada struktur dinding yang ditinjau yaitu menggunakan pushover. Pemodelan dibagi menjadi dua model yang mana model pertama untuk parameter kekuatan antarlapisnya mengacu pada standar bata dan model kedua menggunakan hasil pengujian di Laboratorium ITB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur dinding tersebut memiliki kapasitas struktur diatas demand gempa maksimum yang terjadi di Indonesia berdasarkan peta gempa yang berlaku saat ini. Selain itu perilaku kegagalan struktur dinding ini diawali dengan kegagalan lentur kemudian diikuti dengan kegagalan sliding shear. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa struktur dinding 3DCP yang dianalisis dapat digunakan untuk bangunan rumah satu lantai di Indonesia.
PENGEMBANGAN MODEL ELEMEN HINGGA UNTUK ANALISIS STRUKTUR FUSELAGE DEPAN PESAWAT AMFIBI 19-PENUMPANG
Structural analysis of an aircraft is an essential part in determining an aircraft’s safety and therefore must be done before any given aircraft could pass the certification required by regulatory authorities. One of the ways that said analysis could be done is by employing the finite element method (FEM), which is a numerical technique that is used extensively in engineering applications for complex problems including structural analysis and optimization of an aircraft model. The first step to do so would be the initial modelling process which is crucial in determining the accuracy, efficiency, and success of the simulation as a whole. During this process, simplifications of the model could be done in order to increase computational efficiency while maintaining sufficient accuracy of the results as long as the calculations of the simplifications are done properly. This research aims to document the development process of a 19-passenger amphibious aircrafts’ forward fuselage structure using FEM with Abaqus/CAE software while highlighting the considerations made in the simplification process as well as aspects of the modelling that could still be improved upon. As a result, it is found that simplification strategies such as midsurfacing and removing unnecessary entities help in reducing the amount of total elements in the model, thus increasing computing efficiency. However, mesh refinements and convergence tests still need to be done to further validate and optimize the model.
WING STRUCTURE WEIGHT REDUCTION OF A 19-PASSENGER AMPHIBIOUS TRANSPORT AIRCRAFT USING FINITE ELEMENT METHOD
This research focuses on the weight reduction of the wing structure for a 19-passenger amphibious transport aircraft using the Finite Element Method (FEM). Through detailed FEM simulations under static loading conditions, the study successfully analysed the wing's structural behaviour, recording a maximum stress of 192.6 MPa and a displacement of 42.69 mm. The initial total mass of the wing structure was determined to be 481.6 kg. Analysis revealed that the skin and skin panels were the most significant contributors to the wing's mass, accounting for over 70%, followed by stringers/stiffeners (19% to 21%) and ribs (6.87% to 7.22%). The spar had minimal impact, contributing less than 0.4%. Optimization using the Taguchi method led to a successful reduction in wing weight to 385.4 kg, achieving a total weight reduction of 96.2 kg while maintaining structural integrity below the yield strength. The findings demonstrate that significant weight reduction is achievable through systematic optimization without compromising the structural performance of the wing.
PENINGKATAN AFINITAS FV ANTIBODI IGA SPESIFIK TERHADAP RBD BERBAGAI VARIAN SARS-COV-2
Penggunaan antibodi poliklonal berbasis Convalescent COVID-19 Plasma memiliki kelemahan seperti spesifisitas rendah, penurunan efikasi karena mutasi SARS-CoV-2, dan risiko reaksi imunogenisitas. Oleh karena itu, pendekatan sekuensing proteomik untuk penemuan antibodi monoklonal terapeutik yang spesifik dan memiliki afinitas tinggi semakin dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk merekayasa secara komputasi Fv anti-RBD-SARS-CoV-2 berbasis sekuens IgA dari saliva dan plasma orang Indonesia pasca paparan COVID-19. Sampel saliva dan plasma orang Indonesia dengan 14-21 hari pasca paparan COVID-19 dipurifikasi menggunakan kromatografi afinitas (CaptureSelect™ IgA dan Ni-NTA) untuk isolasi IgA spesifik anti-S1-his rekombinan. Selanjutnya, komponen isolat IgA, heavy dan light chain, diisolasi dengan SDS-PAGE dan dikonfirmasi dengan Western Blot. Isolat heavy dan light chain diekstraksi dan dipecahkan dengan enzim tripsin dan kimotripsin lalu dilakukan sekuensing IgA dengan LC MS/MS. Selanjutnya, fragmen variabel (Fv) yang tersusun atas variabel heavy dan light chain (VH dan VL) dilakukan konstruksi dan kombinasi secara in silico berdasarkan hasil karaterisasi sekuensing IgA disertai coverage sekuens asal database/referensi sehingga menghasilkan pustaka Fv. Analisis struktur dengan Abodybuilder2, developability dengan TAP, dan molecular docking dengan HDOCK dan HADDOCK terhadap RBD-SARS-CoV-2 berbagai varian dilakukan untuk seleksi Pustaka Fv. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat 9 Fv potensial dari pustaka Fv yang secara empiris memiliki afinitas pengikatan yang kuat terhadap semua varian RBD-SARS-COV-2 yang diuji dengan nilai RMSD struktur model CDR dan Framework Fv kurang dari 0.5 Å dan nilai developability berada dalam batas keamanan terapi. Salah satu kandidat Fv terbaik (FVIGA0289) memiliki afinitas pengikatan (?G) terhadap varian Wuhan, alpha (B.1.1.7), beta (B.1.351), gamma (P.1), delta (B.1.617.2), dan omicron (XBB.1.5) berturut-turut -17.5, -16.3, -15.6, -16.6, -17.4, dan -17.6 kkal/mol. Kesimpulannya, rekayasa komputasi Fv anti-RBD-SARS-CoV-2 berbasis sekuens IgA dari sampel saliva dan plasma orang Indonesia pasca paparan COVID-19 berhasil menemukan kandidat Fv yang memiliki afinitas pengikatan yang kuat terhadap RBD-SARS-CoV-2 berbagai varian dengan prediksi struktur model dan developability yang baik.
PENGUJIAN STATIK KNEE LOCKS KOMPONEN STRUKTUR LUTUT PROSTETIK BERDASARKAN STANDAR ISO 10328
Prostetik merupakan alat bantu gerak bagi amputee yang berfungsi untuk menyerupai anggota tubuh aslinya. Prostetik perlu didesain sedemikian mungkin sehingga bentuk, mekanisme, dan strukturnya dapat menyerupai anatomi anggota tubuh yang hilang tersebut agar amputee dapat dengan mudah beradaptasi terhadap penggunaan prostetik dan pengguna dapat lebih nyaman mengoperasikannya. Laboratorium Biomekanika FTMD ITB telah merancang kaki prostetik multi sumbu yang terbuat dari polimer dan memiliki komponen rotator yang berfungsi untuk melakukan gerakan melipat. Prostetik ini diharapkan dapat membantu amputee di Indonesia, dijual dengan harga yang terjangkau, dan meningkatkan kualitas prostetik dari segi fungsionalitas dan keamanan. Untuk menguji faktor keamanan, komponen prostetik lutut ini diuji secara statik knee locks menggunakan dokumen ISO 10328 sebagai standarisasinya. Metode yang dipakai dalam penelitian ini meliputi proses perancangan, manufaktur, dan pengujian. Perancangan dan manufaktur dilakukan untuk memperoleh jig uji untuk mesin uji Tensilon RTF 1310 yang sesuai dengan parameter yang tercantum dalam ISO 10328. Jig ini juga sebisa mungkin memiliki karakteristik kekakuan yang tinggi dan juga dapat mencengkeram sampel dengan baik. Pengujian dilakukan dengan menguji knee locks secara proof dan ultimate strength, Hasil yang didapat ialah pada proses perancangan dan manufaktur, dihasilkan produk jig yang kaku dan dapat memegang prostetik dengan baik untuk proses pengujian. Hasil yang didapat dari proses pengujian, tidak terjadinya fenomena slip dan sampel uji berhasil dilakukan proses pengujian knee locks proof dan ultimate strength.