📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 113 dokumenINISIATIF STRATEGIS UNTUK MENJADI SURVEYOR PILIHAN UTAMA DALAM PEKERJAAN SUPERINTENDING DI INDONESIA
Batubara merupakan salah satu komoditas energi yang memiliki peran strategis dalam perdagangan global. Dalam setiap transaksi ekspor maupun domestik, keterlibatan perusahaan Testing, Inspection, and Certification (TIC) menjadi elemen yang tidak terpisahkan. Perusahaan TIC berperan memastikan kualitas dan kuantitas batubara sesuai dengan kesepakatan kontraktual antara penjual dan pembeli. Pentingnya proses inspeksi ini menjadikan perusahaan TIC sebagai aktor kunci dalam menjaga kepercayaan dan transparansi antar pelaku industri. Namun, vitalnya peran tersebut juga diikuti oleh meningkatnya tingkat persaingan antar perusahaan TIC yang beroperasi di sektor ini. Di tengah persaingan tersebut, setiap perusahaan TIC dituntut untuk memiliki strategi yang tepat agar dapat menjadi surveyor pilihan utama bagi para pelaku industri batubara. Penelitian ini berangkat dari fenomena ketidaksesuaian antara tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction) terhadap perusahaan dan posisi aktual perusahaan dalam peta persaingan industri. Melalui pendekatan penelitian kualitatif, penulis melakukan in-depth interview dengan para stakeholder relevan, seperti perusahaan penambang batubara, trader, dan perusahaan end-user, guna menggali persepsi mereka terhadap faktor-faktor yang memengaruhi penunjukan perusahaan TIC sebagai pelaksana pekerjaan inspeksi (jasa superintending). Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi alasan mengapa pelanggan memilih atau enggan menunjuk perusahaan TIC tertentu, tetapi juga menguraikan tindakan strategis yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperkuat daya saingnya di industri. Untuk mencapai hal tersebut, penulis menerapkan beberapa alat analisis, yaitu business process mapping, economic and global segment analysis, stakeholder mapping berdasarkan power–interest matrix, serta SWOT analysis untuk menilai kondisi internal dan eksternal perusahaan secara komprehensif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan strategic insight bagi perusahaan TIC dalam merumuskan strategi bisnis yang lebih terarah, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika industri batubara global, sehingga mampu memperkuat posisi perusahaan dalam kompetisi yang semakin ketat dan menegaskan eksistensinya sebagai mitra terpercaya di sektor inspeksi komoditas.
PENGARUH MODAL SOSIAL TERHADAP KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN PERHUTANAN SOSIAL: STUDI KASUS PADA LMDH LEMBAH HARAPAN JAYA, DESA JAYAGIRI, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Penelitian ini menganalisis peran modal sosial dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan Perhutanan Sosial. Pada Kelompok Tani Hutan (KTH) di LMDH Lembah Harapan Jaya, Desa Jayagiri, Bandung. Tujuan utama penelitian adalah merumuskan strategi penguatan modal sosial yang dapat meningkatkan keberlanjutan pengelolaan Perhutanan Sosial, yang dicapai melalui beberapa tujuan pendukung, yaitu mengidentifikasi faktor-faktor signifikan yang membentuk modal sosial, menilai tingkat modal sosial anggota KTH, serta menganalisis faktor internal dan eksternal dalam merumuskan strategi penguatan modal sosial untuk meningkatkan keberlanjutan pengelolaan Pengelolaan Perhutanan Sosial. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed method), dengan pendekatan kuantitatif melalui Structural Equation Modeling (SEM) Partial Least Square (PLS) untuk menguji hubungan antarvariabel, analisis interval skor untuk menilai tingkat modal sosial, dan pendekatan kualitatif melalui analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi penguatan modal sosial. Sampel penelitian terdiri dari 136 responden anggota KTH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu, peran aktif anggota, akses informasi, dan peran pendamping memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan modal sosial. Modal sosial terbukti sebagai variabel mediasi yang signifikan dalam memengaruhi keberlanjutan pengelolaan Perhutanan Sosial, sementara peran anggota dan pendamping juga memberikan kontribusi langsung yang signifikan. Tingkat modal sosial anggota KTH secara keseluruhan tergolong substansial, mencerminkan komitmen kolektif dan kerjasama terlembaga, meskipun kepercayaan terhadap instansi pemerintah dan LMDH masih rendah, serta jaringan sosial terhadap lembaga eksternal dan akses permodalan terbatas. Strategi penguatan modal sosial yang direkomendasikan mencakup pembukaan peluang kolaborasi dengan pihak eksternal, peningkatan kapasitas manajemen dan organisasi anggota melalui pelatihan dan pendampingan, rekonsiliasi dengan LMDH melalui forum musyawarah terbuka, serta diversifikasi produk hasil hutan bukan kayu. Strategi ini diharapkan memperkuat modal sosial sebagai pilar utama pengelolaan Perhutanan Sosial yang efektif dan berkelanjutan.
ANALISIS KEBERLANJUTAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS 3R DENGAN METODE MULTIDIMENSIONAL SCALING (MDS)–RAPFISH(STUDI KASUS: MRF, TPST KOTA HIJAU, DAN BANK SAMPAH KOTA HIJAU BALIKPAPAN)
ABSTRAK ANALISIS KEBERLANJUTAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS 3R DENGAN METODE MULTIDIMENSIONAL SCALING (MDS)–RAPFISH (STUDI KASUS: MRF, TPST KOTA HIJAU, DAN BANK SAMPAH KOTA HIJAU BALIKPAPAN) Oleh Khairunisa NIM: 25723007 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi) Sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Kota Balikpapan menghadapi pertumbuhan jumlah penduduk yang berbanding lurus dengan pertumbuhan produksi sampah. Pada tahun 2023, timbulan sampah tercatat sebesar 528,87 ton/hari, yang mana naik sebesar 2,74% dari tahun sebelumnya. Prediksi menunjukkan bahwa TPA Manggar akan mencapai kapasitas penuh pada tahun 2026, sehingga tidak mampu lagi menampung sampah dari Kota Balikpapan. Pada Tahun 2017, Pemerintah Kota Balikpapan bersama KLHK dan JICA bekerjasama dalam pengelolaan sampah berbasis 3R, yaitu dengan integrasi Material Recovery Facility (MRF), Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), dan Program Bank Sampah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem pengelolaan sampah di MRF, TPST Kota Hijau, dan Bank Sampah Kota Hijau serta merumuskan strategi pengembangannya. Metode yang digunakan meliputi Multidimensional Scaling (MDS) dengan pendekatan RAPFISH dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Bank Sampah Kota Hijau memiliki status keberlanjutan tertinggi karena didukung oleh kemandirian finansial dan partisipasi masyarakat dan masuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Untuk pengelolaan sampah di MRF juga tergolong cukup berkelanjutan, namun masih bergantung pada anggaran Pemerintah Kota. Begitu juga untuk pengelolaan sampah di TPST Kota Hijau yang masuk dalam kategori cukup berkelanjutan, namun memiliki tingkat keberlanjutan paling rendah akibat beberapa kendala teknis operasional dan minimnya partisipasi masyarakat. Saat ini pengelolaan sampah di ketiga infrastruktur masuk kedalam kategori cukup berkelanjutan, yang mana untuk ditingkatkan statusnya menjadi berkelanjutan atau sangat berkelanjutan dapat dilakukan upaya strategis dengan optimalisasi kebijakan atau peraturan di lingkungan Pemerintah Kota dan sinkronisasi program antar pemangku kepentingan, penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM, diversifikasi sumber pendanaan, melakukan upaya peningkatan partisipasi masyarakat, dan melakukan peningkatan dalam aspek teknis operasional.
PENGEMBANGAN STRATEGI UNTUK PERUSAHAAN INTEGRATOR SISTEM ELEKTRIK & OTOMASI UNTUK MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN BISNIS DI MASA DEPAN (STUDI KASUS: PT. MITRA)
PT Mitra adalah perseroan terbatas swasta yang telah berdiri sejak tahun 1996. PT Mitra mengkhususkan diri dalam bidang kelistrikan dan otomasi dan memiliki banyak klien di perusahaan milik negara seperti PT. Pertamina, PT Semen Indonesia, PT PLN, PT. Biofarma dan perusahaan swasta seperti PT. British Petroleum Berau, PT Indocement, dll. Dalam empat tahun terakhir, pendapatan PT. Mitra tumbuh secara eksponensial. Hal ini membuat perusahaan tumbuh menjadi perusahaan berskala besar yang dinilai dari pendapatan, karyawan, dan modal mereka. Pertumbuhan PT. Mitra yang tiba-tiba didukung oleh pendapatan siklus mereka yang dapat menimbulkan masalah jika pemilik dan manajemen PT. Mitra tidak dapat mengelola perusahaan dengan baik. Metode SCENARIO PLANNING mencoba memberikan beberapa skenario alternatif dan bagaimana pemilik serta manajemen harus bereaksi dengan mengembangkan strategi mereka. Perencanaan skenario dalam studi ini dirancang untuk durasi lima tahun dan strategi akan dikembangkan menggunakan analisis TOWS untuk membuat strategi yang berbeda untuk setiap skenario.
REFLEKSI BISNIS ATAS L’ETERNAL
Industri parfum di Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang pesat, didorong oleh perubahan gaya hidup konsumen, meningkatnya permintaan akan produk yang dipersonalisasi, serta pengaruh platform digital dalam membentuk tren kecantikan dan perawatan diri. Perkembangan ini membuka peluang bagi merek-merek baru seperti L’eternal, yang didirikan pada tahun 2023 untuk menawarkan extrait de parfum berkonsep affordable luxury dengan aroma uniseks. L’eternal menunjukkan potensi yang kuat melalui penawaran aroma yang unik, positioning merek yang jelas, dan harga yang kompetitif. Namun, L’eternal juga menghadapi beberapa tantangan internal, seperti ketergantungan pada satu produsen parfum, pemasaran yang belum konsisten, struktur sumber daya manusia yang terbatas, serta kinerja keuangan yang belum mencapai titik impas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi proses bisnis L’eternal dan merumuskan rekomendasi strategis guna memperkuat model bisnisnya demi pertumbuhan yang berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan panduan Gibbs’ Reflective Cycle, serta didukung oleh wawancara mendalam dengan anggota tim internal, pelanggan, pelaku usaha, dan pakar industri. Analisis tambahan dilakukan menggunakan kerangka SWOT, Porter’s Five Forces, dan PESTEL.Temuan menunjukkan bahwa untuk mengatasi tantangan yang ada, L’eternal perlu mendiversifikasi pemasok, memperkuat kehadiran di media sosial, meningkatkan keterlibatan konsumen, mendefinisikan peran internal secara lebih jelas, serta mengintegrasikan biaya pemasaran ke dalam strategi penetapan harga. Perbaikan-perbaikan ini diharapkan dapat menghasilkan model bisnis yang lebih tangguh dan efektif.
STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING KONTRAKTOR KUALIFIKASI BESAR NASIONAL: PANDANGAN KONTRAKTOR
Strategi peningkatan daya saing kontraktor kualifikasi besar nasional menjadi isu strategis dalam merespons dinamika industri konstruksi yang semakin kompetitif, baik dalam skala domestik maupun global. Sektor konstruksi memiliki kontribusi yang konsisten terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan rata-rata kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 10,43% dalam satu dekade terakhir. Namun demikian, sektor ini juga menghadapi beragam tantangan struktural, seperti keterbatasan akses pendanaan proyek, tekanan efisiensi dalam manajemen operasional, ketidakpastian arah kebijakan pemerintah, serta perubahan dalam struktur pasar. Salah satu perubahan besar adalah berkurangnya jumlah proyek penugasan langsung dari pemerintah kepada kontraktor BUMN, yang sebelumnya menjadi andalan utama dalam menjaga keberlangsungan proyek dan arus kas. Kontraktor besar nasional kini dihadapkan pada kebutuhan untuk bersaing secara terbuka dengan kontraktor swasta dan perusahaan asing yang memiliki keunggulan dalam efisiensi biaya, penguasaan teknologi, dan akses pendanaan global. Oleh karena itu, penyusunan strategi daya saing yang tepat menjadi sangat relevan dalam menjawab tantangan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menyusun rencana strategi dalam rangka meningkatkan daya saing kontraktor kualifikasi besar nasional melalui analisis mendalam terhadap faktorfaktor internal dan eksternal yang memengaruhi daya saing perusahaan, serta berdasarkan refleksi langsung dari pengalaman pelaku industri konstruksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksploratif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima kontraktor BUMN kualifikasi besar, yaitu PT PP (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Hutama Karya (Persero). Data sekunder diperoleh dari dokumen resmi perusahaan, laporan pemerintah, serta tinjauan literatur ilmiah. Seluruh data dianalisis menggunakan pendekatan SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Strategi kemudian diformulasikan melalui Matriks TOWS dan dipadukan dengan pendekatan strategi bersaing generik untuk memperoleh alternatif strategi yang relevan. Selanjutnya, strategi-strategi tersebut dievaluasi dan diprioritaskan menggunakan Grand Strategy Matrix, dengan mempertimbangkan posisi kompetitif perusahaan serta ii dinamika pertumbuhan sektor konstruksi. Strategi utama kemudian diterjemahkan secara rinci ke dalam kerangka implementasi berdasarkan Integrated Performance Management System (IPMS), yang mencakup hasil strategis organisasi, proses internal, serta daya dukung organisasi. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa peningkatan daya saing kontraktor kualifikasi besar nasional membutuhkan strategi menyeluruh dan terpadu. Pada dimensi hasil organisasi, strategi diarahkan pada efisiensi pembiayaan proyek melalui skema pendanaan alternatif, penguatan posisi sebagai pelaksana proyek dalam skema KPBU dan kerja sama sektor swasta, serta pengembangan layanan proyek inovatif berbasis kebutuhan pembangunan nasional. Pada dimensi proses internal, strategi meliputi digitalisasi proses operasional, penerapan konstruksi modular, optimalisasi aset, serta penguatan sinergi lintas unit usaha. Sementara pada dimensi daya dukung organisasi, strategi mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan adaptif dan sertifikasi, pengembangan sistem informasi proyek terintegrasi, serta penyesuaian struktur organisasi agar lebih fleksibel terhadap perubahan kebijakan dan pembiayaan. Implementasi strategi ini juga diarahkan pada penguatan hubungan kelembagaan dengan pemangku kepentingan dan peningkatan kepercayaan melalui kepatuhan terhadap regulasi dan konsistensi kinerja proyek. Penelitian ini memberikan sumbangan dalam pengembangan model formulasi dan implementasi strategi daya saing yang bersifat integratif, dengan menggabungkan analisis SWOT, TOWS, strategi bersaing generik, dan Grand Strategy Matrix ke dalam sistem implementasi IPMS. Model ini tidak hanya dapat digunakan oleh kontraktor BUMN, tetapi juga oleh pelaku lain dalam sektor konstruksi nasional yang menghadapi tantangan serupa. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada upaya menjembatani kesenjangan antara analisis strategi dan pelaksanaan nyata di lapangan. Hasil penelitian diharapkan dapat memperluas referensi dalam pengembangan ilmu manajemen strategis sektor konstruksi dan memberikan arah penguatan daya saing perusahaan konstruksi nasional secara berkelanjutan.
FINANCIAL FEASIBILITY ANALYSIS OF A STRATEGIC TRANSPORT TECHNOLOGY PROJECT
Studi ini mengevaluasi kelayakan finansial dari proyek teknologi transportasi strategis yang dikembangkan melalui kolaborasi industri. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan kemampuan daya saing dalam negeri melalui kerja sama internasional. Model evaluasi finansial yang digunakan bersifat terstandarisasi dan modular, sehingga dapat diterapkan pada inisiatif serupa lainnya. Analisis mencakup penilaian eksternal melalui kerangka PESTLE dan Porter’s Five Forces, serta penilaian internal menggunakan pendekatan Project Resources dan VRIO. Hasil analisa situasi bisnis menjadi analisa SWOT. Model keuangan dibangun dengan metode Discounted Cash Flow (DCF) dan WACC sebesar 11,5 persen. Indikator utama yang digunakan meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Modified Internal Rate of Return (MIRR), Profitability Index (PI), dan Payback Period (PP). Hasil skenario dasar menunjukkan bahwa proyek layak secara finansial dengan NPV sebesar USD 43.801, IRR 63,41 persen, MIRR 36,74 persen, PI 1,35, dan PP 2,79 tahun. Nilainilai ini mencerminkan kemampuan proyek untuk menghasilkan arus kas positif dan memberikan imbal hasil investasi yang kompetitif. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa harga jual dan volume produksi merupakan faktor paling berpengaruh terhadap hasil keuangan. Perubahan ±20 persen pada harga jual menghasilkan kisaran NPV antara –USD 17.072 hingga USD 104.674, dan PI antara 0,86 hingga 1,83. Perubahan volume produksi juga berdampak signifikan terhadap profitabilitas. Faktor lain seperti biaya operasional, investasi awal, dan WACC menunjukkan pengaruh sedang. Dalam skenario pesimistis, NPV menjadi negatif dan IRR turun di bawah WACC, yang mengindikasikan bahwa proyek ini membutuhkan kepastian komersial yang kuat agar tetap layak. Studi ini merekomendasikan lima langkah strategis: mengamankan harga dan kontrak, mengoptimalkan produksi, memperkuat pengendalian biaya, meningkatkan pemantauan risiko, dan memanfaatkan proyek ini untuk membangun kapabilitas jangka panjang. Temuan ini mendukung perencanaan investasi dan strategi keuangan bagi proyek teknologi transportasi di masa mendatang.
PENINGKATAN KEBIJAKAN PUBLIK KBRI-DOHA DALAM PENANGANAN SITUASI DARURAT BERDASARKAN PELAJARAN DARI COVID-19 BAGI WNI YANG BERMUKIM DI NEGARA QATAR
Pendekatan musyawarah untuk mufakat masih berlaku untuk membuat kebijakan publik di pemerintahan, DPR, lembaga publik, dan lingkungan keluarga oleh masyarakat Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki struktur pengambilan keputusan untuk memperkuat output kebijakan agar selaras dengan semangat tata kelola perusahaan yang baik (GCC) yaitu akuntabilitas, transparansi, keadilan, tanggung jawab, dan manajemen risiko. Dengan menerapkan penelitian kualitatif yang melibatkan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan dan pakar dalam diskusi kelompok forum (FGD), makalah ini difokuskan untuk memahami hambatan yang dihadapi oleh pejabat pemerintah dan peserta publik sebagai tim tanggap darurat (ERT). Mempertanyakan efektivitas proses pengambilan keputusan yang digunakan untuk membuat kebijakan publik Covid19 2020. Mengevaluasi semua aspek yang berkaitan dengan struktur organisasi ERT, alur kerja, penilaian kasus darurat, seberapa efektif memproses aliran informasi dan data. Hasil penelitian tidak hanya merumuskan dan memperkenalkan struktur organisasi dan alur kerja baru; tetapi juga memperkenalkan alat bantu pengambilan keputusan untuk meningkatkan hasil proses. Alat bantu tersebut adalah penyaringan risiko sebagai alat untuk mengidentifikasi dan memahami risiko yang terlibat dalam suatu acara, matriks risiko untuk menentukan tingkat risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan dan probabilitas, analisis SWOT (Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman) untuk mengevaluasi dampak eksternal-internal terhadap organisasi atau orang, dan analisis PESTLE (Politik-Ekonomi-Sosial-Teknologi-Hukum-Lingkungan) untuk memahami secara mendalam dampak faktor eksternal terhadap masyarakat dan organisasi. Hasil penelitian ini tidak hanya memberikan perspektif baru kepada tim ERT untuk Kedutaan Besar Indonesia di Doha dan masyarakat Indonesia. Hal ini juga meningkatkan keyakinan pemangku kepentingan bahwa mereka siap menghadapi ancaman masa depan dengan proses pengambilan keputusan baru.
ANALISIS DAN REKOMENDASI STRATEGI UNTUK PT. JABAR UTAMA ENGINEERING, JAWA BARAT, INDONESIA
PT. Jabar Utama Engineering (PT. JUE) adalah perusahaan fabrikasi baja yang beroperasi sebagai Original Equipment Manufacturer (OEM), melayani klien dari berbagai industri seperti minyak dan gas, infrastruktur, serta alat berat. Seperti halnya usaha kecil dan menengah (UKM) lainnya, PT. JUE menghadapi berbagai tantangan dalam melakukan ekspansi operasionalnya. Lingkungan bisnis B2B dicirikan oleh siklus proyek yang berbasis kontrak serta akses pasar yang terbatas. Studi ini mengeksplorasi bagaimana PT. JUE dapat mengatasi tantangan internal dan eksternal sambil meningkatkan penyesuaian internal dan kehadiran di pasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis pemecahan masalah, dengan mengintegrasikan kerangka analisis seperti analisis SWOT, matriks TOWS, Resource-Based View (RBV), Porter’s Five Forces, dan Integrated Marketing Communication (IMC). Data dikumpulkan melalui analisis internal, dokumentasi perusahaan, serta wawancara mendalam dengan para pendiri untuk menemukan strategi dan peluang yang relevan. Temuan dari penelitian ini bertujuan untuk mendukung PT. JUE dalam mengidentifikasi arah pengembangan yang sesuai, meningkatkan pendekatan pemasaran, dan memperkuat adaptabilitas organisasi untuk pertumbuhan jangka panjang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis untuk memperkuat posisi PT. JUE sebagai OEM sekaligus mengeksplorasi strategi diversifikasi.
PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN DENGAN METODE PROMOTION MIX UNTUK MENINGKATKAN NIAT BELI DI PT SINAR DEMPO BUS SERVICE
Industri transportasi bus antarkota di Indonesia tengah mengalami transformasi yang pesat akibat digitalisasi dan perubahan preferensi konsumen. PT Sinar Dempo, sebagai operator regional di Sumatera Selatan, telah meluncurkan platform pemesanan tiket online melalui situs web dan aplikasi seluler. Namun, tingkat adopsi masih rendah—kurang dari 5% dari total penjualan tiket pada tahun 2023—karena rendahnya kesadaran konsumen, kebiasaan tradisional, dan keterlibatan digital yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi Integrated Marketing Communication (IMC) guna meningkatkan niat pembelian tiket secara digital. Pendekatan campuran digunakan dalam penelitian ini. Faktor internal dianalisis melalui kerangka kerja 7P marketing mix, STP, dan VRIO, sementara faktor eksternal dikaji menggunakan analisis PESTEL, Porter’s Five Forces, analisis pesaing, dan analisis pelanggan. Temuan tersebut kemudian disintesiskan ke dalam analisis SWOT dan dirumuskan menjadi alternatif strategi melalui matriks TOWS. Selain itu, kuesioner terstruktur dibagikan kepada 250 responden dan dianalisis menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan, personal selling, promosi penjualan, dan pemasaran digital berpengaruh signifikan terhadap sikap konsumen yang kemudian memengaruhi niat pembelian. Studi ini merekomendasikan strategi pengembangan produk, peningkatan platform digital, dan optimalisasi promosi sebagai langkah strategis yang aplikatif bagi perusahaan transportasi yang menghadapi tantangan dalam adopsi digital.
USULAN STRATEGI BISNIS DAN PEMASARAN UNTUK PENINGKATAN PANGSA PASAR PT JASAMARGA TOLLROAD OPERATOR
PT Jasamarga Tollroad Operator (JMTO) merupakan perusahaan operator jalan tol terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 49%, namun pangsa pasar tersebut tidak mengalami penambahan yang signifikan dan cenderung berkurang seiring dengan bertambahnya Ruas Jalan Tol yang beroperasi. Bisnis yang dijalankan oleh perushaan adalah Business to Business (B2B) yang menjadikan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sebagai konsumennya. Perusahaan ini mengoperasikan Ruas Jalan Tol milik BUJT untuk melayani pengguna jalan dan memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang menjadi kewajiban dari BUJT terhadap Pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal dengan metode kualitatif yang berkaitan perusahaan untuk kemudian dirumuskan alternatif strategi bisnis yang dapat membuat perusahaan untuk lebih ekspansif, adaptif dan kompetitif. Data dan informasi yang berkaitan dengan faktor internal didapat melalui in-dept-interview Jajaran Direksi, Komisaris dan Management dari Perusahaan. Data dan Informasi yang berkaitan dengan faktor eksternal didapat melalui konsumen yang merupakan perwakilan dari BUJT, Pesaing Langsung dari Perusahaan dan kondisi pasar dari Jalan Tol di Indonesia. Data dan informasi tersebut kemudian dipetakan dan diolah melalui beberapa kerangka kerja yaitu: 7S dari McKinsey, Segmentasi, Target dan Positioning (STP), Marketing Mix (7P), PESTEL, Porter Five Forces, VRIO, SWOT dan TOWS Analysis. Kompetitor yang sangat ekspansif serta agresif ditambah tantangan dari kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan Multi Lane Free Flow di Jalan Tol dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2024 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2025 sebesar 6,5%, membuat perusahaan harus melakukan penyesuaian strategi bisnis, struktur organisasi serta pemasaran untuk keberlangsungan bisnis yang kompetitif, memilki daya saing dan peningkatan pangsa pasar kedepan.
STRATEGI PROMOSI UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PADA APOTEK SAHABAT
Penjualan Apotek Sahabat akhir-akhir ini mengalami stagnasi penjualan dan belum mencapai target penjualan. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan harus menerapkan strategi promosi yang komprehensif. Hasil yang dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengembangkan strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC) yang akan membantu Apotek Sahabat mengatasi masalah dan mengatasi tantangan yang dihadapi Apotek di pasar yang semakin kompetitif. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data primer dan sekunder, termasuk analisis pesaing dan survei pelanggan, untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi perilaku konsumen dan efektivitas berbagai strategi promosi. Penelitian ini menggunakan analisis internal berdasarkan segmentasi, penargetan, dan pemosisian (STP) dan kerangka kerja IMC, serta analisis eksternal yang mencakup PESTLE. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT dan TOWS untuk menemukan peluang strategis dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap stagnasi penjualan. Berdasarkan hasil tersebut, tesis ini membuat bauran promosi yang mencakup strategi periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, pemasaran langsung, dan penjualan personal. Tujuan dari rencana pemasaran yang diusulkan adalah untuk meningkatkan penjualan Pharmacy dan meningkatkan keterlibatan pelanggan, yang akan membantu Sahabat Pharmacy untuk sukses dalam jangka panjang. Untuk membuat kampanye periklanan mereka lebih baik di pasar yang kompetitif, penelitian masa depan harus melihat bagaimana strategi promosi memengaruhi penjualan dan kepuasan pelanggan Sahabat Pharmacy dari waktu ke waktu.
PENGUATAN EKUITAS MEREK PELUMAS REPSOL: STUDI KASUS PT PRABU CAHAYA ABADI SEBAGAI DISTRIBUTOR PELUMAS INDUSTRI REPSOL DI BANTEN
Tujuan dari penelitian ini adalah, pertama, untuk mengetahui apakah kegiatan pemasaran yang dilakukan saat ini sudah efektif dalam membangun ekuitas merek Repsol di Banten, dan kedua, untuk menganalisa kegiatan pemasaran apa saja yang dapat membantu meningkatkan ekuitas merek Repsol di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan mengintegrasikan Analisis PESTEL, Kerangka Kerja VRIO, Pembandingan Pesaing, Bauran Pemasaran 7P, Model Strategi Lima Berlian, analisis SWOT, dan Matriks TOWS. Para responden dipilih berdasarkan peran strategis dan pengalaman mereka dalam industri pelumas, dengan melibatkan tiga peserta dari pemangku kepentingan eksternal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Repsol, melalui PT Prabu Cahaya Abadi, telah memberikan kontribusi positif terhadap ekuitas merek di Banten. Namun, masih ada tantangan dalam mengoptimalkan strategi pemasaran dan infrastruktur organisasi. Meskipun Repsol memiliki keunggulan produk dan layanan, analisis menggunakan Bauran Pemasaran 7P, Kerangka Kerja VRIO, Pembandingan Pesaing, dan Anaslis PESTEL menunjukkan bahwa integrasi teknologi dan pemahaman pasar lokal perlu diperkuat. Untuk mempertahankan daya saing, perusahaan harus memprioritaskan pendidikan teknis, adaptasi lokal, dan penguatan merek melalui pendekatan yang berorientasi pada nilai dan keberlanjutan.
FORMULASI STRATEGI BISNIS INTERNASIONAL UNTUK PASAR AFRIKA: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN KERTAS FOTOKOPI
Transisi global menuju digitalisasi telah berdampak signifikan terhadap industri kertas, khususnya pada segmen kertas grafis yang mencakup kertas tulis, cetak, dan fotokopi. Eropa dan Amerika Utara sebagai contoh negara maju semakin beralih dari penggunaan kertas konvensional ke alternatif digital, yang menyebabkan penurunan tajam dalam permintaan dan volume produksi. Hal ini menjadi tantangan serius bagi produsen dan eksportir kertas seperti PT Lembar Masa Depan (LMD), perusahaan manufaktur kertas berbasis di Indonesia yang bisnis utamanya adalah ekspor kertas fotokopi. Meskipun konsumsi global menurun, beberapa wilayah seperti Afrika tetap menunjukkan permintaan yang stabil atau meningkat akibat pertumbuhan penduduk, peningkatan tingkat literasi, keterbatasan infrastruktur digital, dan rendahnya penetrasi pabrik kertas lokal. Penelitian ini memiliki tiga research objective: (1) mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi tingkat persaingan perusahaan di pasar Afrika menggunakan analisis SWOT; (2) menentukan strategi bisnis internasional yang paling sesuai di antara strategi global , multidomestik, atau transnasional; dan (3) mengidentifikasi mode masuk pasar yang paling efektif, seperti ekspor langsung, pembangunan pabrik di Afrika, pembangunan fasilitas konversi di Afrika, akuisisi, atau pembentukan usaha patungan (joint venture). Penelitian ini didasarkan pada teori dan kerangka strategi utama seperti PESTLE, Porter Five Forces, Value Chain Analysis, VRIN competitor analysis, dan customer analysis. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan delapan pemangku kepentingan internal, termasuk kepala penjualan, manajer produk, dan eksekutif pengembangan bisnis yang memiliki pengalaman luas di pasar Afrika. Wawancara ini dilengkapi dengan data sekunder. Untuk pemilihan strategi, metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan dengan responden dari empat narasumber kunci di bagian sales dan business development. Analisis SWOT menunjukkan bahwa LMD memiliki kapabilitas internal yang kuat, termasuk operasional pabrik terintegrasi, beragam variasi produk, dan pengendalian atas logistik. Di sisi lain, terdapat peluang di Afrika berupa permintaan yang belum terpenuhi, produksi lokal yang terbatas, serta keberadaan perjanjian perdagangan regional seperti AfCFTA dan COMESA. Namun demikian, ancaman seperti sensitivitas harga, ketidakstabilan politik, dan perbedaan tarif harus diantisipasi. Strategi transnasional dipilih karena skor AHP yang tinggi baik dari strategi global maupun multidomestik. Strategi ini memungkinkan LMD untuk menyeimbangkan efisiensi operasional global dengan kemampuan menyesuaikan produk dan pemasaran secara lokal sesuai preferensi konsumen Afrika yang beragam. Untuk pemilihan mode masuk, studi ini merekomendasikan pengembangan usaha patungan (joint venture) dengan mitra lokal guna membangun fasilitas konversi di Afrika sebagai strategi jangka panjang. Pengiriman jumbo roll untuk dikonversi secara lokal dapat membantu menghindari tarif impor tinggi atas produk jadi, mempercepat respons terhadap permintaan pasar, serta memungkinkan penyesuaian kemasan sesuai preferensi lokal.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTIKRITERIA DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK PRIORITISASI BISNIS DI PT KRAKATAU BAJA KONSTRUKSI
PT Krakatau Baja Konstruksi (KBK) saat ini menjalankan lima lini bisnis, namun menghadapi masalah bisnis dalam menyelaraskan keterbatasan sumber daya dengan prioritas strategis. Operasi kelima lini bisnis secara bersamaan tanpa fokus yang jelas telah menyebabkan ketidakefisienan, fragmentasi upaya, serta risiko salah alokasi modal, tenaga kerja, dan operasional—yang pada akhirnya dapat melemahkan kinerja keuangan dan daya saing perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan arah strategis PT Krakatau Baja Konstruksi (KBK), anak usaha dari PT Krakatau Steel, yang saat ini mengelola lima lini bisnis: Manufaktur, Tolling, Fabrikasi, Impor, dan Kerja Sama Operasi (KSO). Dengan keterbatasan sumber daya, KBK perlu menetapkan prioritas lini bisnis yang paling strategis untuk meningkatkan fokus, efisiensi, dan profitabilitas. Penelitian ini mengintegrasikan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan analisis tematik serta alat manajemen strategis (SWOT, PESTEL, dan Porter’s Five Forces), menciptakan model pengambilan keputusan yang menggabungkan kapabilitas internal dan dinamika eksternal—suatu pendekatan yang jarang diterapkan secara komprehensif di industri baja Indonesia. Pendekatan mixed-method digunakan dalam penelitian ini. Data kualitatif diperoleh melalui Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam untuk menentukan kriteria evaluasi. Selanjutnya, dilakukan perbandingan berpasangan menggunakan metode AHP untuk menghasilkan prioritas kuantitatif antar lini bisnis. Lini bisnis Manufaktur menempati peringkat pertama (25.02%), diikuti oleh Impor, KSO, Tolling dan Fabrikasi. Sub-kriteria paling berpengaruh adalah Permintaan Pasar dan Potensi Pertumbuhan (38,88%), menandakan pentingnya peluang eksternal dalam pengambilan keputusan strategis. Model prioritisasi berbasis AHP yang dihasilkan memberikan kerangka keputusan yang terstruktur bagi KBK untuk mengalokasikan sumber daya secara efektif. Hal ini mendukung manajemen dalam mengeksekusi strategi berdampak tinggi, meningkatkan kinerja bisnis, dan memperkuat keberlanjutan jangka panjang.