📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 32 dokumen

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA BUNGA DAN DAUN TERATAI NYMPHAEA NOUCHALI (BURM. F)

Radikal bebas adalah molekul dengan elektron tidak berpasangan di orbit paling luar yang dapat merusak biomolekul seperti protein, DNA, dan lipid. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti kanker dan Alzheimer’s disease. Walaupun ada mekanisme antioksidan alami, mekanisme tersebut biasanya kalah dengan radikal bebas seiring berjalan waktu sehingga diet antioksidan menjadi penting. Penelitian ini bermaksud menyelidiki aktivitas antioksidan di dalam daun dan bunga teratai Nymphaea nouchali (Burm. f.). Ekstraksi yang dilakukan terhadap daun dan bunga adalah metode refluks dengan pelarut metanol. Aktivitas antioksidan dilakukan dengan DPPH radikal. Kesetaraan Asam Askorbat (mg) per gram sampel untuk daun dan bunga Nymphaea nouchali (Burm. f.). adalah 67.809 ± 0.098 dan 68.265 ± 0.041 AAE mg/g, berturutan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Faris Ridho
🏷️ Antioksidan 🏷️ Hidrologi Botani 🏷️ Kemoterapi Alternatif

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK  DAUN, DAGING BUAH, DAN  KULIT BUAH TERONG BELANDA (SOLANUM BETACEUM  CAV.)

Antioksidan adalah zat yang mampu menstabilkan radikal bebas. Salah satu sumber antioksidan alami adalah terong belanda (Solanum betaceum Cav.). Penelitian dilakukan untuk mengkaji aktivitas antioksidan dari ekstrak terong belanda pada bagian yang dikonsumsi masyarakat (daging buah) dan yang tidak dikonsumsi masyarakat (daun dan kulit buah) melalui penentuan aktivitas antioksidan berdasarkan kesetaraan dengan asam askorbat, penentuan total fenol dan flavonoid, pengujian korelasi antara total fenol dan flavonoid terhadap aktivitas antioksidan, pengujian korelasi antara metode DPPH dan CUPRAC dan penentuan kadar senyawa flavonoid pada ekstrak terpilih. Penetapan nilai aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan CUPRAC, total fenol dan flavonoid dengan spektrofotometri UV-sinar tampak, analisis statistik uji perbedaan bermakna menggunakan ANOVA- post hoct Tukey. Uji korelasi total fenol dan flavonoid terhadap aktivitas antioksidan serta antar metode pengujian antioksidan dengan metode Pearson. Identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid pada ekstrak terpilih dilakukan dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Aktivitas antioksidan ekstrak terong belanda dengan metode DPPH pada rentang 1,109- 94,917mg AEAC/g sampel, dan CUPRAC 3,944-110,182 mg AEAC/g sampel. Fenol total tertinggi pada ekstrak etanol daun (10,416 g GAE/100 g), sedangkan flavonoid total tertinggi pada ekstrak n-heksana daun (8,367 g QE/ 100 g). Golongan fenol dan flavonoid berkontribusi besar pada aktivitasantioksidanekstrak terong belanda dengan metode DPPH dan CUPRAC, dan kedua metode uji memberikan hasil linier. Ekstrak etanol daun terong belanda memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode DPPH maupun CUPRAC. Ekstrak etanol daun terong belanda mengandung rutin, dengan kadar sebesar 0,088%. Daun terong belanda yang jarang dimanfaatkan masyarakat memiliki potensi sumber antioksidan alami.

2025
👤 Penulis: Zhafira Amalia Regiana
🏷️ Antioksidan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA DAUN TIGA KULTIVAR PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) DENGAN METODE 2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN 2,2’-AZINO-BIS(3-ETILBENZOTIAZOLIN-6-ASAM SULFONAT) (ABTS)

Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan di orbit terluarnya, sehingga sangat reaktif menyerang elektron molekul yang berada di sekitarnya. Dampak negatif radikal bebas dapat diredam oleh antioksidan. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antioksidan daun dari tiga kultivar pepaya, yaitu bangkok, burung, dan callina melalui penentuan IC50 peredaman DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan IC50 peredaman !??????????-azino-bis(3-etilbenzotiazolin-6-asam sulfonat)); menetapkan total fenol, flavonoid, dan karotenoid; menguji korelasi antara total fenol, flavonoid, dan karotenoid terhadap IC50 DPPH dan ABTS; serta menguji korelasi metode DPPH dan ABTS pada sampel uji. Ekstraksi dengan metode refluks menggunakan pelarut dengan kepolaran meningkat. Penetapan IC50 peredaman DPPH, IC50 peredaman ABTS, fenol total, flavonoid total dan karotenoid total secara spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan korelasinya dianalisis menggunakan metode Pearson. Aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode DPPH (IC50 0,84 ± 0,06 µg/mL) diberikan oleh ekstrak etanol daun pepaya callina, sedangkan dengan metode ABTS diberikan oleh ekstrak etanol daun pepaya bangkok (IC50 1,79 ± 0,1 µg/mL). Ekstrak daun pepaya bangkok, burung, dan callina merupakan antioksidan sangat kuat dengan metode DPPH. Senyawa golongan fenol merupakan kontributor utama pada aktivitas antioksidan ekstrak daun pepaya bangkok dan callina dengan metode DPPH. Metode DPPH dan ABTS tidak memberikan hasil yang linier pada semua sampel uji.

2025
👤 Penulis: Khoirunnisa Ayu Paramitha
🏷️ Antioksidan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Korespondensi

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA BIJI KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA L.) DARI TIGA DAERAH BERBEDA DENGAN METODE 2,2-DIPHENYL-1-PICRYLHYDRAZIL (DPPH) DAN 2,2’-AZINO-BIS-3-ETHYLBENZOTHIAZOLINE-6-SULFONIC ACID (ABTS)

Radikal bebas merupakan suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan, dengan cara menyerang dan mengikat elektron yang berada di sekitarnya. Radikal bebas dapat menyebabkan penyakit degeneratif pada manusia. Radikal bebas dapat diredam oleh senyawa antioksidan. Antioksidan dapat ditemukan pada berbagai jenis tumbuhan, contohnya pada biji kopi Arabika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan dengan penentuan IC50 peredaman pada biji kopi Arabika (Coffea arabica L.) dari daerah Toraja, Lintong, Mandailing dengan menggunakan metode DPPH dan ABTS; penetapan total fenol, total flavonoid, dan total karotenoid; korelasi antara total fenol, total flavonoid, dan total karotenoid terhadap IC50 peredaman DPPH dan ABTS; serta korelasi antara IC50 peredaman antara dua metode pengujian DPPH dan ABTS. Ekstraksi dengan cara refluks menggunakan pelarut dengan kepolaran meningkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol secara berurutan. Ekstrak dipantau dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Penetapan IC50 peredaman DPPH, IC50 peredaman ABTS, penetapan total fenol, flavonoid, karotenoid dari masing-masing ekstrak secara spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan korelasinya dengan peredaman DPPH dan ABTS dengan menggunakan metode Pearson. IC50 peredaman DPPH terendah diberikan oleh ekstrak etanol biji kopi Arabika dari Lintong (0,70 µg/mL) dan IC50 peredaman ABTS terendah diberikan oleh ekstrak etil asetat biji kopi Arabika dari Mandailing (1,66 µg/mL). Ekstrak etanol biji kopi Arabika dari Mandailing memiliki fenol total tertinggi (70,55 g GAE/100 g), ekstrak etil asetat biji kopi Arabika dari Mandailing memiliki flavonoid total tertinggi (7,41 g QE/100 g) dan ekstrak etanol biji kopi Arabika dari Lintong memiliki karotenoid total tertinggi (0,28 g BE/100 g). Fenol total dan karotenoid total pada ekstrak biji kopi Arabika dari Lintong memiliki korelasi negatif, tinggi, dan bermakna dengan IC50 peredaman DPPH. Terdapat korelasi yang linier antara IC50 peredaman DPPH dan IC50 peredaman ABTS pada ekstrak biji kopi Arabika dari Lintong. Senyawa fenol dan karotenoid adalah kontributor utama pada aktivitas antioksidan ekstrak biji kopi Arabika dari Lintong dengan metode DPPH. Metode DPPH dan ABTS memberikan hasil yang linier pada aktivitas antioksidan ekstrak biji kopi Arabika dari Lintong.

2025
👤 Penulis: Annisa
🏷️ Antioksidan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK TEH OOLONG DARI BANTEN, BENGKULU, DAN JAWA BARAT DENGAN METODE 2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN 2,2’-AZINO-BIS(3- ETHYLBENZOTHIAZOLINE-6-SULFONIC ACID (ABTS)

Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan di orbit terluarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada di sekitarnya. Dampak negatif radikal bebas dapat diredam oleh antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas. Sebagian besar tanaman dapat memiliki aktivitas antioksidan bila mengandung senyawa yang mampu menangkal radikal bebas seperti flavonoid dan fenol. Teh oolong memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antioksidan teh oolong dari tiga daerah yaitu Banten, Bengkulu, dan Jawa Barat melalui penentuan IC50 peredaman DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan IC50 ?±?±¸ ? ?!????0 ??????-azino-bis(3- etilbenzotiazolin-6-asam sulfonat)); menetapkan total fenol, flavonoid, dan karotenoid; menguji korelasi antara total fenol, flavonoid, dan karotenoid terhadap IC50 DPPH, ABTS dan menguji korelasi metode DPPH dan ABTS pada sampel uji. Ekstraksi dengan metode refluks menggunakan pelarut dengan kepolaran meningkat. Masing-masing ekstrak dipantau dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Penetapan IC50 peredaman radikal DPPH, IC50 peredaman ABTS, fenol total, flavonoid total dan karotenoid total dari masing-masing ekstrak secara spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan korelasinya dengan IC50 peredaman DPPH dan ABTS dengan menggunakan metode Pearson. Aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode DPPH (IC50 0,31 ± 0,01 µg/mL) diberikan oleh ekstrak etil asetat teh oolong Jawa Barat, sedangkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode ABTS diberikan oleh ekstrak etanol teh oolong Banten (IC50 0,02 ± 0,008 µg/mL). Ekstrak teh oolong Banten, Bengkulu dan Jawa Barat merupakan antioksidan sangat kuat. Senyawa golongan fenol merupakan kontributor utama pada aktivitas antioksidan ekstrak teh oolong dari Banten, Bengkulu dan Jawa Barat dengan metode DPPH dan ABTS. Metode DPPH dan ABTS memberikan hasil yang linier pada semua sampel uji.

2025
👤 Penulis: Ananda Fitri Pratiwi
🏷️ Antioksidan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Korespondensi

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN LIDAH MERTUA (DRACAENA TRIFASCIATA (PRAIN) MABB.) DARI EMPAT VARIETAS BERBEDA

Latar belakang dan tujuan: Tumbuhan lidah mertua banyak tumbuh di Indonesia dan telah digunakan secara tradisional untuk berbagai jenis penyakit. Eksplorasi kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan dari berbagai varietas lidah mertua masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 4 varietas Dracaena trifasciata, kandungan fenol total (TPC), flavonoid total (TFC), korelasi TPC dan TFC terhadap aktivitas antioksidan, identifikasi dan penentuan kadar seyawa flavonoid dalam ekstrak terpilih. Metode: Sampel diekstraksi secara refluks menggunakan pelarut etanol 96% dan 70%. TPC ditentukan menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu, TFC ditentukan menggunakan reaksi kolorimetri dengan AlCl3. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH), Cupric Ion Reducing Antioxidant Capacity (CUPRAC), dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Korelasi antara TPC dan TFC terhadap aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode Pearson. Hasil: TPC tertinggi pada ekstrak etanol 96% daun D.trifasciata var. moonshine brazilian (138,534 ± 5,217 mg GAE/g) dan TFC tertinggi pada ekstrak etanol 96% daun D.trifasciata var. gold flame (368,957 ± 19,461 mg QE/g). Ekstrak etanol 96% D.trifasciata var. mediopicta cobra menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode DPPH dan CUPRAC, sedangkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode FRAP oleh ekstrak etanol 70% varietas mediopicta cobra. TPC dan TFC mempunyai korelasi kuat sampai sangat kuat dengan aktivitas antioksidan. Kesimpulan: Secara umum, ekstrak etanol 96% D.trifasciata var. mediopicta cobra memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi daripada varietas gold flame, banded nelsoni, dan moonshine brazilian. Senyawa golongan fenol dan flavonoid berkontribusi besar terhadap aktivitas antioksidan empat varietas D.trifasciata yang diuji. Senyawa rutin dan kemferol terdapat pada ekstrak etanol 96% dan ekstrak etanol 70% daun D.trifasciata var. mediopicta cobra, berturut-turut dengan kadar 0,026 ± 0,002, 0,020 ± 0,002, dan 0,071 ± 0,002, 0,052 ± 0,004 mg/g.

2024
👤 Penulis: Dimas Isnu Saputra
🏷️ Antioksidan 🏷️ Dracaena Trifasciata 🏷️ Korelasi Kandungan Metabolit Sekunder

ISOLASI SENYAWA AKTIF ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETANOL DAUN GATAL (LAPORTEA DECUMANA (ROXB.) WEDD.)

Radikal bebas merupakan molekul atau atom yang tidak stabil karena memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan, bersifat sangat reaktif mencari pasangan elektronnya, dan dapat menyerang sel-sel tubuh hingga terjadi kerusakan jaringan. Antioksidan sebagai sistem pertahanan terhadap radikal bebas merupakan zat yang mampu menahan reaksi oksidasi dengan mendonorkan elektron ke radikal bebas. Antioksidan dari luar tubuh diperlukan jika jumlah radikal bebas yang masuk melampaui batas. Penggunaan antioksidan sintetis dapat mengakibatkan peradangan, kerusakan hati, dan meningkatkan risiko penyakit karsinogenesis. Oleh karena itu diperlukan antioksidan alami yang salah satunya dapat berasal dari tumbuhan. Daun gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.) merupakan tumbuhan endemik papua yang diketahui memiliki kemampuan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa aktif antioksidan dari ekstrak etanol daun gatal, serta menentukan aktivitas antioksidan ekstrak daun gatal dengan metode peredaman DPPH. Serbuk simplisia diekstraksi menggunakan metode maserasi bertingkat dengan pelarut berturut-turut yaitu nheksana, etil asetat, dan etanol 96%. Penentuan aktivitas antioksidan ekstrak secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode peredaman DPPH menunjukkan ekstrak n-heksana daun gatal memiliki aktivitas antioksidan dengan potensi sangat lemah dan ekstrak etanol daun gatal dengan potensi sedang. Ekstrak etanol daun gatal dilakukan penghilangan klorofil dengan metode ekstraksi caircair (ECC), lalu dilanjutkan ke tahap fraksinasi menggunakan metode kromatografi cair vakum (KCV). Fraksi terpilih yang memiliki aktivitas antioksidan dilakukan pemurnian menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif. Hasil pemurnian yang diperoleh dilakukan uji kemurnian menggunakan metode KLT pengembangan tunggal dan KLT dua dimensi. Isolat yang sudah murni di karakterisasi menggunakan instrumen KLT spektrofotodensitometri. Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa ekstrak n-heksana dan etanol daun gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.) memiliki aktivitas antioksidan dengan metode peredaman DPPH. Ekstrak etanol daun gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.) memiliki aktivitas antioksidan dengan potensi sedang dan ekstrak n-heksana daun gatal dengan potensi sangat lemah. Isolat daun gatal yang diperoleh dari ekstrak etanol diduga merupakan senyawa asam p-kumarat dengan aktivitas peredaman DPPH sebesar 12,829 ?0,846% pada konsentrasi 500 ?g/mL.

2024
👤 Penulis: Nurhasna Alifya
🏷️ Antioksidan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Fraksinasi

ISOLASI SENYAWA AKTIF ANTIOKSIDAN DARI MINYAK DAN AMPAS BIJI MALAPARI (PONGAMIA PINNATA (L.) PIERRE) HASIL PRODUKSI BIODIESEL

Radikal bebas merupakan senyawa yang bersifat reaktif. Radikal bebas dalam jumlah yang berlebihan dan tidak seimbang mampu merugikan bagi kesehatan. Kondisi ini disebut sebagai stres oksidatif. Untuk mengatasi masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh stres oksidatif, maka diperlukan senyawa antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mampu menginhibisi radikal bebas. Salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan adalah malapari (Pongamia pinnata (L.) Pierre). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa yang aktif antioksidan pada minyak dan ampas biji malapari hasil pemrosesan biodisel. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk menentukan golongan metabolit sekunder yang berperan memberikan aktivitas antioksidan tersebut. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH secara kualitatif dan kuantitatif. Pengujian kualitatif dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT) bioautografi dan pengujian kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis untuk menentukan % peredaman dan nilai IC50. Nilai IC50 merupakan besaran yang menyatakan konsentrasi sampel yang mampu meredam sebanyak 50% radikal bebas. Nilai IC50 pada ekstrak etanol ampas biji malapari bernilai 2.187,60 ± 22,03 ?g/mL, sedangkan minyak biji pada konsentrasi 2.000 ?g/mL hanya mampu meredam aktivitas radikal bebas sebesar 17,92%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan antioksidan ekstrak etanol ampas biji lebih kuat dibandingkan dengan minyak biji, sehingga bahan yang dilanjutkan untuk diisolasi adalah ekstrak etanol ampas biji. Hasil uji kualitatif aktivitas antioksidan pada isolat yang diperoleh dari ekstrak etanol ampas biji menunjukkan adanya bercak kuning pada latar ungu. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat aktivitas antioksidan. Isolat yang diperoleh dari ekstrak etanol ampas biji pada konsentrasi 116,66 ?g/mL memiliki % peredaman 0,29 ± 0,19% dan merupakan senyawa golongan asam fenolat.

2024
👤 Penulis: Kathleen Tanuwijaya
🏷️ Antioksidan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI METODE PENGERINGAN TERHADAP KUALITAS TEPUNG PISANG TONGKA LANGIT SEBAGAI BAHAN PENYUSUN PANGAN FUNGSIONAL

Pisang tongka langit (Musa troglodytarum L.) merupakan jenis pisang yang ditemukan di Indonesia Timur, terutama di kepulauan Maluku. Buah ini memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan dengan pisang lainnya, yaitu dengan total karotenoid mencapai 6360 ?g/100 g. Pisang tongka langit (PTL) umumnya dapat dikonsumsi secara langsung, tetapi tidak begitu disukai karena memiliki rasa masam. Daging dan kulit buah PTL dapat diolah menjadi tepung sebagai alternatif bahan penyusun pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu pengeringan dan perlakuan asam terhadap kualitas tepung daging dan tepung kulit PTL yang dihasilkan. Analisis utama dilakukan terhadap aktivitas antioksidan tepung. Uji kandungan proksimat, total karotenoid, dan penentuan umur simpan dilakukan sebagai karakterisasi tepung. Metoda pengeringan dilakukan menggunakan food dehydrator dengan variasi suhu 40oC, 50oC, dan 60oC dan dengan variasi pre-treatment asam sitrat 0,5% b/v dan tanpa pre-treatment asam. Pembuatan roti tawar dilakukan untuk mengetahui kelayakan tepung yang dihasilkan sebagai alternatif bahan penyusun pangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh suhu pengeringan dan perlakuan asam terhadap aktivitas antioksidan (p < 0,05) dengan pengeringan terbaik didapatkan pada variasi pre-treatment asam sitrat 0,5% b/v suhu 50oC. Tepung daging dan kulit PTL masing-masing memiliki nilai aktivitas antioksidan sebesar 64,27% dan 82,51%. Karaktersisasi proksimat dan karotenoid menghasilkan nilai kadar air, abu, serat kasar, protein, lemak, karbohidrat, dan karotenoid total untuk tepung daging PTL adalah sebesar 7,74%; 3,92%; 12,57%; 1,30%; 1,73%; 82,71% dan 22,72 mg/100 g serta untuk tepung kulit PTL adalah sebesar 8,32%; 9,59%; 16,51%; 1,73%; 1,81%; 77,68%; dan 84,39 mg/100 g. Diperoleh umur simpan tepung daging dan kulit pada penyimpanan di suhu 25oC selama 7,75 dan 25,07 bulan. Pembuatan roti tawar menggunakan tepung daging PTL dengan perbandingan komposisi tepung terigu dan tepung daging PTL sebanyak 1:1 lebih diterima oleh panelis.

2024
👤 Penulis: Nadya Putri Deyanti
🏷️ Antioksidan 🏷️ Pangan Fungsional 🏷️ Kecerdasan Buatan

EVALUASI METODE PENGERINGAN TERHADAP KUALITAS TEPUNG PISANG TONGKA LANGIT SEBAGAI BAHAN PENYUSUN PANGAN FUNGSIONAL

Pisang tongka langit (Musa troglodytarum L.) merupakan jenis pisang yang ditemukan di Indonesia Timur, terutama di kepulauan Maluku. Buah ini memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan dengan pisang lainnya, yaitu dengan total karotenoid mencapai 6360 ?g/100 g. Pisang tongka langit (PTL) umumnya dapat dikonsumsi secara langsung, tetapi tidak begitu disukai karena memiliki rasa masam. Daging dan kulit buah PTL dapat diolah menjadi tepung sebagai alternatif bahan penyusun pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu pengeringan dan perlakuan asam terhadap kualitas tepung daging dan tepung kulit PTL yang dihasilkan. Analisis utama dilakukan terhadap aktivitas antioksidan tepung. Uji kandungan proksimat, total karotenoid, dan penentuan umur simpan dilakukan sebagai karakterisasi tepung. Metoda pengeringan dilakukan menggunakan food dehydrator dengan variasi suhu 40oC, 50oC, dan 60oC dan dengan variasi pre-treatment asam sitrat 0,5% b/v dan tanpa pre-treatment asam. Pembuatan roti tawar dilakukan untuk mengetahui kelayakan tepung yang dihasilkan sebagai alternatif bahan penyusun pangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh suhu pengeringan dan perlakuan asam terhadap aktivitas antioksidan (p < 0,05) dengan pengeringan terbaik didapatkan pada variasi pre-treatment asam sitrat 0,5% b/v suhu 50oC. Tepung daging dan kulit PTL masing-masing memiliki nilai aktivitas antioksidan sebesar 64,27% dan 82,51%. Karaktersisasi proksimat dan karotenoid menghasilkan nilai kadar air, abu, serat kasar, protein, lemak, karbohidrat, dan karotenoid total untuk tepung daging PTL adalah sebesar 7,74%; 3,92%; 12,57%; 1,30%; 1,73%; 82,71% dan 22,72 mg/100 g serta untuk tepung kulit PTL adalah sebesar 8,32%; 9,59%; 16,51%; 1,73%; 1,81%; 77,68%; dan 84,39 mg/100 g. Diperoleh umur simpan tepung daging dan kulit pada penyimpanan di suhu 25oC selama 7,75 dan 25,07 bulan. Pembuatan roti tawar menggunakan tepung daging PTL dengan perbandingan komposisi tepung terigu dan tepung daging PTL sebanyak 1:1 lebih diterima oleh panelis.

2024
👤 Penulis: Annisa Salwa Syafira
🏷️ Antioksidan 🏷️ Pangan Fungsional 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI KOMPUTASI SENYAWA KOMPLEKS MONONUKLIR CU(II)-GALAT DAN MN(II)-GALAT SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DENSITY FUNCTIONAL THEORY (DFT)

Asam galat (asam 3,4,5- trihidroksibenzoat, disimbolkan sebagai H4G) merupakan salah satu senyawa polifenol yang dikenal sebagai antioksidan yang baik. Sebagai senyawa polifenol, asam galat dapat juga bertindak sebagai ligan dan membentuk ikatan koordinasi dengan ion logam transisi. Asam galat juga merupakan asam poliprotik, yang dapat mengalami berbagai tahap ionisasi dalam air dengan nilai pKa1 = 4,0, pKa2 = 8,7, pKa3 = 11,4, dan pKa4 > 13. Kesetimbangan asam galat dalam air tersebut dapat menghasilkan beberapa ion yaitu ion H3G?, H2G?2?, HG3?, dan G4?. Oleh karena itu, pembentukan senyawa kompleks ion logam transisi dengan asam galat sangat dipengaruhi oleh pH larutan. Beberapa peneliti melaporkan bahwa asam galat dapat membentuk kompleks mononuklir dengan ion logam transisi M(II) (M = Cu, Mn, Fe, Co, Ni, Zn, Cd) dan ion galat sebagai ligan bidentat yang menggunakan atom O gugus fenolik posisi 3 dan 4 sebagai atom donor. Selain itu, asam galat juga dapat bertindak sebagai ligan jembatan dan menghasilkan kompleks polimerik dengan kerangka MOF. Berdasarkan studi kompleks mononuklir sebelumnya, ikatan koordinasi antara ion logam transisi dengan ligan galat melalui gugus fenolik yang memiliki nilai pKa yang lebih besar dibandingkan gugus karboksilat. Nilai pKa terkecil untuk asam galat terletak pada gugus karboksilat, sehingga gugus karboksilat akan jauh lebih mudah untuk mengalami deprotonasi dan lebih berpotensi menjadi gugus donor daripada gugus fenolik untuk kompleks mononuklir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti kompleks mononuklir Cu(II) dan Mn(II) dan ligan galat dengan atom O pada karboksilat dan fenolik yang terdeprotonasi sebagai atom donor. Penelitian dilakukan secara komputasi menggunakan metode DFT (Density Functional Theory) dengan pendekatan B97-3c dan B3LYP LANL2DZ D4 untuk mempelajari struktur dan parameter elektronik dari kompleks tersebut, termasuk potensinya sebagai antioksidan. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa kompleks mononuklir Cu(II)-galat dan Mn(II)-galat lebih stabil dengan atom O gugus karboksilat pada ligan galat sebagai atom donor. Hal ini ditunjukkan dengan nilai ?E kompleks dengan atom O gugus karboksilat pada ligan galat bernilai negatif, sedangkan nilai ?E kompleks dengan atom O gugus fenolik pada ligan galat bernilai positif. Berdasarkan optimasi struktur, kompleks Cu(II)-galat lebih stabil dalam bentuk koordinasi 4 dibandingkan dengan koordinasi 6. Geometri kompleks Cu(II)-galat adalah segiempat planar. Analisis FMO (Frontier Molecular Orbital) menunjukkan bahwa Cu(II)-galat lebih mudah menangkap elektron, sedangkan Mn(II)-galat lebih mudah melepaskan elektron. Studi potensi antioksidan menunjukkan bahwa kompleks Cu(II)-galat lebih berpotensi sebagai antioksidan melalui mekanisme HAT (Hydrogen Atom Transfer).

2024
👤 Penulis: Muh. Fauzan Hamzah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Kompleks Mononuklir 🏷️ Antioksidan

KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI EKSTRAK, FRAKSI, SUBFRAKSI DAN SENYAWA AKTIF TUMBUHAN MOBE (ARTOCARPUS LACUCHA BUCH. -HAM)

Infeksi menyebabkan banyak masalah kesehatan. Salah satu penyebab infeksi adalah bakteri patogen yang dapat diobati dengan antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat menyebabkan resistensi antibiotik yang berdampak pada gagalnya terapi untuk infeksi. Dewasa ini, penelitian mengenai antibakteri dan antioksidan pada tanaman sering dilakukan, karena adanya kandungan senyawa fenol dan flavonoid yang mampu bertindak sebagai antibakteri dan antioksidan. Reactive oxygen species (ROS) yang merupakan radikal bebas, dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif seperti aterosklerosis, diabetes, jantung dan pembuluh darah serta penuaan dini. Karena berbagai masalah tersebut, maka perlu dilakukan pencarian kandidat obat baru dari tumbuhan. Mobe (Artocarpus lacucha) adalah salah satu tumbuhan dari marga Artocarpus yang secara tradisional digunakan masyarakat sebagai bumbu masakan dan untuk mengobati penyakit seperti sakit perut, penyembuh luka serta obat cacing. Melalui berbagai hasil penelitian diperoleh informasi bahwa tumbuhan ini memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, antiinflamasi dan antiglikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan dan antibakteri dari tumbuhan mobe. Bagian tumbuhan yang digunakan adalah daun, kulit batang, ranting dan buah. Kulit batang dipilih untuk diuji lebih lanjut karena memiliki aktivitas antioksidan terbaik (kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 7,19 ± 0,10 mg AEAC/g ekstrak dan dengan metode CUPRAC 91,32 ± 3,77 mg AEAC/g ekstrak) dan antibakteri terbaik terhadap 6 dari 9 bakteri uji (diameter hambat pada konsentrasi 750 µg/disk terhadap bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), S.aureus, C.acnes, S.mutans, S.epidermidis dan B.subtillis berturut-turut 10,20 ± 0,001; 10,40 ± 0,69; 9,80 ± 0,34; 8,85 ± 0,26; 8,20 ± 0,17; 7,27 ± 0,37 mm, konsentrasi hambat minimum (KHM) keenam bakteri berturut-turut pada konsentrasi 1,56; 12,5; 25; 12,5; 25 dan 12,5 mg/mL). Pada tahap ekstraksi bertingkat kulit batang digunakan berturut-turut pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol. Ekstrak etil asetat dipilih untuk dilanjutkan pada tahap fraksinasi karena memiliki ativitas antioksidan terbaik (kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 70,91 ± 2,60 mg AEAC/g ekstrak dan CUPRAC 179,74 ± 2,52 mg AEAC/g ekstrak) dan antibakteri terbaik terhadap 6 dari 9 bakteri uji (diameter hambat pada konsentrasi 750 µg/disk terhadap bakteri MRSA, S.aureus, C.acnes, S.mutans, S.epidermidis dan B.subtillis berturut-turut 9,13 ± 0,03; 9,88 ± 0,02; 9,63 ± 0,03; 8,03 ± 0,03; 8,53 ± 0,02; 6,83 ± 0,03 mm, KHM keenam bakteri berturut-turut pada konsentrasi 3,125; 3,125; 1,56; 1,56; 6,25 dan 3,125 mg/mL. Pada tahap fraksinasi, diperoleh 8 fraksi gabungan. Berdasarkan rendemen, pola kromatogram, aktivitas antioksidan dan aktivitas antibakteri dengan bioautografi, fraksi F6 dipilih untuk dilanjutkan ke tahap subfraksinasi. Aktivitas antioksidan fraksi F6 memberikan kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 57, 63 ± 0,98 mg AEAC/g ekstrak dan CUPRAC 70,55 ± 0,32 mg AEAC/g ekstrak. Hasil KLT-bioautografi menyimpulkan bahwa fraksi F6 dengan konsentrasi 50 µg memberikan zona bening pada S. aureus, MRSA, C. acnes dan S. epidermidis. Pada tahap subfraksinasi, diperoleh 9 subfraksi gabungan. Subfraksi SF5 memberikan aktivitas antioksidan terbaik (kapasitas antioksidan dengan metode DPPH 69,72 ± 0,09 mg AEAC/g ekstrak dan CUPRAC 209,65 ± 0,18 mg AEAC/g ekstrak). Hasil KLT-bioautografi menyimpulkan subfraksi SF5 dengan konsentrasi 50 µg memberikan zona bening pada S. aureus, MRSA, C. acnes dan S. epidermidis. KHM yang dihasilkan oleh subfraksi SF5 terhadap S. aureus, MRSA, C. acnes pada konsentrasi 625 µg/mL dan terhadap S. epidermidis pada konsentrasi 1250 µg/mL. Selanjutnya subfraksi SF5 dianalisis dengan LC-HRMS-MS, SEM dan TEM. Hasil LC-HRMSMS berupa enam senyawa mayor dengan similarity ?90% yaitu kemferol, piseatanol, isorhamnetin, 4-metilumbeliferon, oleamide dan (2R,3R)-2-(2,6-dihidroksifenil)-3,5,7- trihidroksi-2,3-dihidro-4H-chromen-4-one. Hasil analisis SEM dan TEM menunjukkan bahwa subfraksi SF5 pada KHM menyebabkan kerusakan dinding sel pada keempat bakteri uji. Tiga senyawa terpilih yaitu kemferol, piseatanol dan isoramnetin dilakukan uji in silico dan disimpulkan bahwa ketiga senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri S. aureus, MRSA, C. acnes dan S. epidermidis. Pada penelitian ini juga dilakukan penetapan kadar kemferol pada ekstrak etil asetat kulit batang, fraksi F6, subfraksi SF5 dan diperoleh kadar kemferol berturutturut 0,18 ± 0,05; 0,07 ± 0,01 dan 0,04 ± 0,02 %. Dari penelitian ini disimpulkan, ekstrak kulit batang mobe berpotensi untuk dikembangkan sebagai antioksidan dan antibakteri, terutama untuk bakteri Gram positif.

2024
👤 Penulis: Dewi Pertiwi
🏷️ Antioksidan 🏷️ Antibakteri 🏷️ Mobe (Artocarpus Lacucha)

PENINGKATAN STABILITAS PEWARNA PANGAN DARI EKSTRAK BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA LINN.) DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN DAN KOPIGMENTASI

Bunga telang (Clitoria ternatea Linn.) merupakan bunga asli Ternate, Indonesia yang kaya akan antosianin. Antosianin merupakan kumpulan senyawa pigmen biru-ungu alami golongan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi serta terbukti memiliki banyak khasiat kesehatan. Namun, pemanfaatan bunga telang sebagai pewarna pangan alami masih terbatas dengan stabilitasnya. Struktur kation flavilium pada antosianin yang sangat rentan terhadap degradasi menjadi kelemahan terbesar. Pada penelitian ini, dilakukan eksplorasi pengaruh metode kopigmentasi sebagai salah satu metode untuk meningkatkan stabilitas antosianin pada pewarna alami dari bunga telang. Penelitian ini dibagi menjadi tahap ekstraksi, tahap sterilisasi, dan tahap kopigmentasi. Tahap ekstraksi memiliki variasi perbandingan rasio 1:3, 1:5, 1:10, 1:15, 1:20, 1:23, dan 1:30 selama 10, 20, dan 30 menit. Rasio serta waktu ekstraksi memengaruhi kandungan antosianin, variasi rasio 1:15 serta waktu ekstraksi 30 menit menghasilkan kadar antosianin paling tinggi. Konfigurasi kopigmentasi adalah pembentukan kompleks antosianin yang lebih stabil dan tahan terhadap cahaya, oksigen, dan peningkatan suhu. Ekstrak pekat dari variasi ekstraksi terbaik kemudian disterilisasi dengan metode ultrafiltrasi (UF). Kopigmentasi dilakukan dengan variasi parameter metode kopigmentasi penambahan agen kopigmen dan pemekatan (self-association). Variasi agen kopigmen berupa asam ferulat, gum arab, dan asam askorbat untuk rasio mol 1:25, 1:50, dan 1:75 dan pemekatan dengan membran distilasi osmotik (OMD) hingga mencapai 1,5, 2, dan 2,5x. Berbagai metode kopigmentasi memengaruhi nilai konstanta laju reaksi degradasi antosianin orde 1. Penambahan gum arab 1:50 mol menghasilkan kompleks antosianin yang paling stabil terhadap degradasi cahaya selama 12 hari dan oksidasi selama 7 hari dengan nilai k sebesar 0,031 hari-1 dan 0,03 hari1 . Penambahan asam ferulat 1:50 mol paling stabil terhadap degradasi termal selama 3 jam dengan nilai k berturut untuk suhu 30, 50, dan 70 oC sebesar 0,6x10-3 , 0,7x10-3 , dan 1,3x10-3 menit-1 . Kopigmentasi dapat menurunkan nilai k yang dihasilkan sehingga kopigmentasi layak untuk dilakukan.

2024
👤 Penulis: Vanessa Heriyanto
🏷️ Kopigmentasi 🏷️ Ekstraksi Bunga Telang 🏷️ Antioksidan

SINTESIS, KARAKTERISASI, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMPLEKS TEMBAGA(II)-GALAT DAN MANGAN(II)-GALAT

Sintesis senyawa kompleks dengan menggunakan ligan kelompok senyawa fenolik telah banyak dilakukan oleh peneliti, dengan tujuan untuk meningkatkan kelarutan senyawa fenolik tersebut. Salah satu senyawa fenolik yang sudah digunakan untuk sintesis dengan ion logam yaitu asam galat (asam 3,4,5-trihidroksibenzoat, C7H6O5). Beberapa senyawa kompleks dengan ligan asam galat yang telah disintesis di antaranya kompleks dengan ion logam Fe(III), Mn(II), Co(II), Cu(II), dan Zn(II). Informasi mengenai kelarutan kompleks-kompleks tersebut dalam air masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini telah dilakukan melalui strategi sintesis kompleks Cu(II)-Galat dan Mn(II)-Galat dengan metode microwave, sehingga diperoleh senyawa kompleks yang dapat larut dalam air. Hal ini lakukan untuk mempelajari potensi kedua senyawa kompleks tersebut sebagai antioksidan secara in vitro. Strategi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu mengubah asam galat menjadi garam natrium galat terlebih dahulu, agar pH larutan relatif konsisten selama sintesis kompleks berlangsung. Beberapa karakterisasi dilakukan pada kompleks hasil sintesis, yaitu uji kelarutan, analisis unsur CHNS (Carbon, Hydrogen, Nitrogen, Sulfur), Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), kerentanan magnet, difraksi sinar-X serbuk (P-XRD), spektrofotometri inframerah (FTIR) dan UV-Vis, serta Cyclic Voltammetry (CV). Dari hasil analisis unsur CHNS dan AAS, kompleks yang diperoleh memiliki rumus molekul CuC7H8O7 dan MnC7H8O7. Kedua senyawa kompleks tersebut larut baik dalam air. Hasil pengukuran difraksi sinar-X serbuk (P XRD) menunjukkan difraktogram kompleks Mn(II)-Galat hasil sintesis sesuai dengan difraktogram kristal tunggal (SC-XRD) yang sudah dipublikasikan. Kedua senyawa kompleks tersebut bersifat paramagnetik dengan momen magnet 1,78 BM untuk CuC7H8O7 dan 5,93 BM untuk MnC7H8O7. Ikatan koordinasi antara ion Cu(II) atau Mn(II) dengan ion galat ditunjukkan pada daerah sidik jari spektrum inframerah, yaitu pada bilangan gelombang 503 cm-1 untuk Cu-O dan 573 cm-1 untuk Mn-O. Selain itu, terdapat pergeseran bilangan gelombang gugus fungsi karboksil dan hidroksil dari ion galat. Stretching gugus O-H bergeser dari 3213 cm-1 menjadi 3431 cm-1 pada spektrum kompleks Cu(II)-galat dan 3406 cm-1 pada spektrum kompleks Mn(II) Galat. Sementara itu, stretching gugus C=O bergeser dari bilangan gelombang 1561 cm-1 menjadi 1627 cm-1 pada spektrum kompleks Cu(II)-Galat dan 1602 cm-1 pada spektrum kompleks Mn(II) Galat. Hasil uji antioksidan menggunakan reagen DPPH diperoleh nilai IC50 untuk kompleks Cu(II)-Galat sebesar 2,59 mM, dan untuk kompleks Mn(II)-Galat sebesar 2,40 mM. Selanjutnya, hasil pengukuran voltametri siklik (CV) menunjukkan bahwa kedua kompleks tersebut memiliki nilai potensial redoks yang terletak pada rentang potensial untuk oksidasi radikal DPPH• (0,006 V vs NHE) dan potensial untuk reduksinya (0,806 V vs NHE). Berdasarkan pengukuran CV tersebut, kedua kompleks memiliki potensi sebagai penangkap radikal DPPH•, melalui reaksi reduksi radikal anion DPPH• menjadi molekul DPPH yang lebih stabil.

2024
👤 Penulis: Fahmi Yusup Faisal
🏷️ Kemiripan Ion 🏷️ Antioksidan 🏷️ Microwave

UJI AKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA FRAKSI HIDROLISAT MEMBRAN CANGKANG TELUR TERHADAP SEL 3T3

Penyembuhan luka yang tidak optimal dapat menyebabkan komplikasi serius hingga berujung kematian. Berdasarkan beberapa penelitian, ditemukan bahan alam yang berpotensi dalam penyembuhan luka dengan ketersediaan melimpah, yaitu membran cangkang telur (MCT). Meskipun dapat mempercepat penyembuhan luka, MCT dalam bentuk padatan tidak dapat berpenetrasi dalam kulit, sehingga dibutuhkan dalam bentuk hidrolisat yang terlarut. Hidrolisis MCT (HMCT) dilakukan secara enzimatik menggunakan enzim papain yang ditambahkan natrium sulfit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas penyembuhan luka dari fraksi HMCT. HMCT difraksinasi menjadi Fraksi I (<10 kDa), Fraksi II (10-30 kDa), dan Fraksi III (>30 kDa) menggunakan membran ultrafiltrasi. Masing-masing fraksi HMCT diuji aktivitas antioksidan dengan menggunakan DPPH dan kemampuannya dalam penyembuhan luka melalui in vitro wound healing scratch assay. Aktivitas antioksidan pada Fraksi II lebih tinggi jika dibandingkan fraksi HMCT lainnya. Hasil uji viabilitas sel menunjukkan Fraksi I, Fraksi II, dan Fraksi III pada konsentrasi 500 hingga 1500 ppm tidak toksik. Perolehan persentase penutupan luka paling tinggi dalam waktu 24 jam dihasilkan dari Fraksi I pada konsentrasi 250 ppm yang menunjukkan bahwa Fraksi I memiliki kemampuan paling baik untuk menginduksi sel 3T3 bermigrasi dan berproliferasi sehingga mempercepat proses penyembuhan luka.

2024
👤 Penulis: Nyoman Tita Widhiyani
🏷️ Antioksidan 🏷️ Penyembuhan Luka 🏷️ Membran Cangkang Telur
Halaman 2 dari 3
💬