📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 21 dokumenPERANCANGAN LANSKAP HEALING GARDEN DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG
Perkembangan studi akademis mengenai healing garden melonjak drastis pada awal tahun 2023, yaitu sebanyak 17 jumlah studi dari yang sebelumnya di tahun 2022 berjumlah 3 studi. Hal ini menandakan tren dan kebutuhan healing garden di Indonesia semakin meningkat. Studi membuktikan ketersediaan healing garden di rumah sakit selain berdampak positif bagi kesehatan, berfungsi sebagai fasilitas pendukung penyembuhan pasien, dan bersifat antithesis terhadap suasana rumah sakit. Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang menjadi rujukan tertinggi di Provinsi Jawa Barat mengusung konsep Green Hospital sehingga ketersediaan healing garden di rumah sakit ini harus selaras dengan perkembangan konsep rumah sakit kedepannya. Ruang terbuka hijau yang tersedia di RSHS sudah tersedia dibanyak titik diantara masa bangunan, namum belum dimanfaatkan sebagai healing garden. Menyadari dampak mendalam healing garden terhadap psikologis, sosial, dan lingkungan kepada pasien, tenaga medis, dan pendamping pasien, tesis ini membahas tiga rumusan masalah utama: menilai ruang luar yang ada di rumah sakit yang berpotensi dikembangkan menjadi healing garden; mengidentifikasi elemen pendekatan desain yang bisa diterapkan pada konsep healing garden dengan menyesuaikan kondisi eksisting area potensial; dan mengembangkan konsep dan desain penerapan yang disesuaikan dengan kondisi ruang luar rumah sakit. Untuk mencapai hal tersebut, penelitian ini mengejar tiga tujuan: menganalisis kondisi eksisting ruang luar dan menemukan ruang luar yang potensial untuk dikembangkan menjadi healing garden, menganalisis elemen yang mendukung proses penyembuhan proses rehabilitasi, dan pada akhirnya, merumuskan desain lanskap healing garden di RSHS. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada taman kantong yang tersebar merata di area rumah sakit dan yang sesuai dengan kriteria kebutuhan healing garden untuk 11 program rehabilitasi medik. Metode perancangan dimulai dari perumusan data sekunder berupa program rehabilitasi terkait, 5 stimulus indra yang diperlukan, dan 4 stimulus peran healing garden yang dibutuhkan, yang kemudian menghasilkan skema dan analisis kebutuhan stimulus indra dan stimulus peran. Kemudian dirumuskan matrix studi preseden dan konsiderasi luasan serta paparan keramaian untuk masing-masing program rehabilitasi hingga menghasilkan peta kesesuaian penempatan kelompok program rehabilitasi. Hal ini menjadi dasar masterplan dan perancangan masing-masing healing garden pada ruang terpilih. Hasil perancangan mengelompokkan 11 program rehabilitasi yang sudah ada di RSHS menjadi 5 kelompok rehabilitasi. Pemanfaatan taman kantong pada RSHS dibagi menjadi healing garden kelompok rehabilitasi 1 dan 3, healing garden kelompok rehabilitasi 2, healing garden kelompok rehabilitasi 4, dan healing garden kelompok rehabilitasi 5, dan taman pendukung healing garden. Fasilitas dan elemen lanskap pada masing-masing healing garden merespon pada kebutuhan tiap kelompok rehabilitasi dari segi kebutuhan stimulus indra dan kebutuhan stimulus peran. Hal ini menjadi rujukan perancangan dan pengembangan konsep desain. Konsep dan desain yang dihasilkan menyediakan fasilitas yang memaksimalkan taman kantong eksisting menjadi healing garden yang bersifat restoratif, aksesibel, dan berkontribusi aktif dalam memfasilitasi pasien rehabilitasi, petugas medis, dan pendamping pasien RSHS secara keseluruhan.
ARSITEKTUR SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN TUNANETRA: SEKOLAH LUAR BIASA A DAN PANTI PELAJAR WYATA GUNA, KOTA BANDUNG, JAWA BARAT
Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri A Kota Bandung merupakan SLB tertua di Asia Tenggara yang berdiri tahun 1908 sebagai sekolah dan panti tunanetra. SLB tersebut terletak di kompleks Wyata Guna, Jl. Pajajaran 50-52. Pada tahun 2019, SLB terancam penggusuran oleh Kementerian Sosial yang akan membangun seluruh Wyata Guna menjadi balai rehabilitasi lanjut. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memohon hibah tanah dari Kementerian Sosial seluas 15.000 m2 dari total 45.000 m2 lahan Wyata Guna untuk tetap menjadi SLB (TKLB-SMALB) dan panti (SD-mahasiswa). Hibah tapak membuka peluang perancangan ulang SLB dan panti yang kondisinya tidak memenuhi standar. Terdapat tiga isu utama perancangan: Akomodasi disabilitas siswa yang tetap mempersiapkan kehidupan mandiri pasca sekolah; Akomodasi fungsi publik SLB sebagai pusat sumber pendidikan tunanetra yang tetap melindungi privasi siswa; Merespon bangunan bersejarah pada tapak (rumah pendiri SLB, C.H.F Westhoff). Akomodasi disabilitas siswa dipenuhi melalui fleksibilitas ukuran ruang kelas sesuai jenis difabilitas: tunanetra dan tunaganda; acuan nonvisual bunyi, angin, penciuman; panduan sentuh mobilitas; sirkulasi tegak lurus/sederhana untuk orientasi; menghindari silau pada (low-vision) dan gaung (tunanetra). Perancangan mengakomodasi kurikulum kemandirian yaitu activities of daily living melalui panti/asrama berbasis tahap kemandirian; serta orientasi dan mobilitas melalui variasi kesulitan sirkulasi horizontal dan vertikal. Akomodasi fungsi publik dilakukan melalui pemisahan zonasi privat-publik yang jelas, dengan mengalokasikan sisi timur tapak untuk taman publik serta alih fungsi rumah Westhoff sebagai museum sejarah. Untuk merespon bangunan bersejarah, bentuk atap serta jarak antar massa bangunan disusun agar menciptakan kontinuitas visual dengan rumah Westhoff.
SUCCESSFUL AGING: BANGUNAN APARTEMEN DAN FASILITAS PENUNJANGNYA UNTUK LANSIA DI KOTA BANDUNG
Peningkatan jumlah lansia di Indonesia akibat peningkatan Angka Harapan Hidup (AHH) menyebabkan Indonesia sejak tahun 2019 telah masuk struktur penduduk tua (ageing population). Hal ini menunjukkan 10% penduduk Indonesia adalah penduduk lansia. Penduduk lansia adalah penduduk yang berusia di atas 60 tahun. Peningkatan ini menyebabkan Indonesia mengalami bonus demografi ke-2. Bonus demografi kedua adalah keadaan ketika lansia ikut berkontribusi kepada ekonomi. Agar bonus demografi ke-2 di Indonesia dapat tercapai, lansia di Indonesia harus melalui proses penuaan yang baik atau disebut successful aging. Successful aging adalah kondisi ketika lansia terhindar dari segala penyakit, memiliki fungsi kognitif dan fisik yang baik, serta memiliki rasa ingin dan keterlibatan dalam hidup yang tinggi. Akan tetapi, dalam menghadapi bonus demografi dan successful aging ini terdapat tiga permasalahan utama pada lansia yang menyebabkan lansia masuk ke dalam kategori penduduk rentan, yaitu masalah kesehatan (penghalang untuk indikator terbebas dari segala penyakit dan kemampuan kognitif dan fisik), lansia yang sudah tidak produktif secara ekonomi (penghalang untuk indikator lansia memiliki rasa ingin dan keterlibatan dalam hidup yang tinggi), dan membutuhkan pendamping atau caregiver (penghalang untuk indikator kemampuan kognitif dan fisik yang baik pada lansia). Ketiga masalah ini sebenarnya bersimpul pada satu isu permasalahan, yaitu kesehatan. Sebab lansia yang sehat akan mampu berkegiatan, bersosial, dan berkontribusi kepada perekonomian, dan tingkat ketergantungan kepada orang lain akan berkurang. Sehingga dibutuhkan perencanaan baik berupa preventif maupun korektif yang dapat membuat lansia merasakan successful aging sehingga bonus demografi ke-2 di Indonesia dapat terjadi secara maksimal. Salah satu perencanaan tersebut adalah menyediakan hunian beserta lingkungan yang ramah lansia dan mendukung lansia untuk melakukan berbagai kegiatan. Disebabkan meningkatnya jumlah penduduk maka kebutuhan terhadap lahan untuk membuat tempat tinggal semakin meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Kemudian, isu selanjutnya adalah jumlah lansia yang semakin bertambah maka kebutuhan hunian dan lingkungan yang mendukung untuk lansia akan terus meningkat. Oleh karena itu, dalam proyek ini akan dirancang sebuah bangunan mixed-use dengan fungsi utama adalah hunian, yaitu apartemen, dan fasilitas kesehatan berupa klinik utama yang menitik beratkan kepada spesialis geriatri dengan pendekatan well-being architecture. Tujuan perancangan mendesain apartemen mixed-use dengan kriteria aging-friendly dan mendukung terjadinya successful aging dijawab dengan merancang fasilitas penunjang di dalam komplek apartemen untuk lansia dilengkapi dengan desain yang mempertimbangkan kenyamanan lansia. Tujuan perancangan mendesain apartemen mixed-use yang mendorong lansia agar sehat, mandiri, produktif secara ekonomi, dan bersosial agar mencapai successful aging dijawab dengan menyediakan ruang-ruang fan fasilits yang penunjang lansia untuk beraktivitas sehari-hari secara nyaman. Kemudian, tujuan perancangan mendesain apartemen mixed-use untuk lansia dengan pendekatan desain yang inovatif, adaptif, dan rekreatif dijawab dengan mendesain ruang yang memiliki tingkat kolaboratif tinggi sehingga dapat digunakan untuk berbagai acara dan membuat unit-unit yang dapat menyesuaikan kebutuhan lansia.
DESAIN PENGHALANG KEBISINGAN BERBASIS KOMBINASI LUMUT DAN SONIC CRYSTAL
Pembangunan dan desain urban diperlukan untuk memberikan kelangsungan hidup bagi makhluk hidup. Salah satu sasaran rencana urban ini adalah mencari keseimbangan segi lingkungan. Namun, area urban sudah dikenal sebagai area yang metropolitan dengan banyaknya populasi dan kendaraan. Permasalahan tersebut menyebabkan polusi suara dan suara yang menghasilkan dampak buruk bagi masyarakat terhadap kesehatan dan kualitas hidup. Sonic crystal dikenal memiliki efektifitas dalam menghalangi gelombang suara khususnya kebisingan lalu lintas. Sedangkan vegetasi merupakan metode klasik untuk menanggulangi polusi udara. Kedua metode tersebut telah digunakan untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Tetapi studi ini akan mengombinasikan sebuah sistem penghalang kebisingan berbasis lumut dan sonic crystal guna mengurangi kebisingan dan meningkatkan kualitas udara. Metode penelitian meliputi karakterisasi lumut menggunakan tabung impedansi, pemodelan dan simulasi numerik sonic crystal dan lumut, serta validasi kinerja akustik melalui pengukuran eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan lumut sebagai elemen pendukung sistem, memiliki kinerja akustik dalam penyerapan gelombang suara. Lumut mendapatkan koefisien absorpsi yang baik yaitu 0,3 pada frekuensi 1000 Hz dan 0,6 pada frekuensi 1700 Hz. Kemudian perhitungan numerik juga memberikan jawaban positif dengan nilai rugi transmisi celah pita 8 dB pada frekuensi 1000 Hz saat sistem sonic crystal berdiameter 3 inci dan jarak kisi 15 cm. Nilai rugi transmisi celah pita meningkat menjadi 10 dB pada frekuensi 1000 Hz saat sistem dikombinasikan antara sonic crystal dengan lumut. Saat dilakukan eksperimental sistem penghalang kebisingan, hasil eksperimen berbeda dengan perhitungan numerik karena definisi dari celah pita yang kurang baik. Pada sistem sonic crystal, didapatkan rugi transmisi kurang lebih 5 dB pada frekuensi 1000 Hz hingga 5000 Hz. Sedangkan pada sistem sonic crystal dan lumut, diperoleh rugi transmisi 8 dB pada 1000 Hz dan terus meningkat hingga 20 dB pada frekuensi 4000 Hz. Sejauh ini, sistem penghalang kebisingan berbasis kombinasi lumut dan sonic crystal dapat bekerja dengan baik untuk mengurangi kebisingan terutama kebisingan lalu lintas. Kata kunci: Kebisingan Lalu lintas, Lumut, Sonic Crystal, Penghalang kebisingan. ?
PUSAT PELATIHAN PERSIB: PENGEMBANGAN ATLET DAN PENINGKATAN SENSE OF COMMUNITY BOBOTOH
Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling populer di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Adanya kompetisi sepak bola menjadi wadah untuk sebuah klub untuk menunjukan reputasi dan prestasi. Pembinaan atlet merupakan aspek penting dalam sebuah klub yang dapat diwadahi dengan menyediakan fasilitas pelatihan. Di Indonesia tidak semua klub sepak bola mempunyai fasilitas pelatihan yang layak, salah satu klub tersebut adalah Persib. Persib hingga kini masih belum mempunyai tempat pelatihan yang layak dan sering berpindah-pindah tempat. Selain itu, Persib mempunyai basis suporter yang sangat besar di Jawa Barat yaitu Bobotoh. Suporter sendiri merupakan elemen penting dalam keberjalanan sebuah klub. Elemen lain yang tidak kalah penting adalah pemain. Mentalitas pemain merupakan kunci dari pencapaian prestasi. Persib dengan basis suporter yang besar, yaitu Bobotoh, memerlukan sebuah pusat pelatihan untuk meningkatkan profesionalisme klub dan pengembangan atlet. Diharapkan pusat pelatihan tersebut dapat memberikan rasa kepemilikan pada setiap elemen klub yaitu pemain, staf ofisial, manajemen, bahkan hingga bobotoh, sehingga pusat pelatihan menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan daya juang klub dalam mengarungi musim kompetisi agar mencapai prestasi terbaik. Lokasi proyek terletak di Jalan Babakan Cimekar, Desa Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Proyek dengan luas lahan sebesar 93.510 m2 akan menghadirkan beberapa fungsi ruang seperti fungsi pelatihan, fungsi akomodasi, fungsi kesehatan, fungsi administrasi, dan fungsi komersial. Persoalan perancangan dalam proyek ini adalah wadah pengembangan kemampuan dan regenerasi atlet, bangunan representatif dari Persib, memaksimalkan peran suporter, dan lingkungan yang restoratif. Perancangan pusat pelatihan Persib perlu memperlihatkan branding klub yang profesional dan modern, maka pendekatan yang dilakukan dalam perancangan adalah arsitektur modern. Arsitektur modern dianggap cocok karena mengedepankan fungsionalitas dan kesederhanaan. Pusat pelatihan ini memungkinkan untuk mewadahi aktivitas dari para suporter sehingga terdapat pertimbangan untuk menghadirkan sense of community dan sense of place dalam perancangannya. Selain itu, Strategi desain biofilik digunakan dengan mempertimbangkan kesehatan mental dan well-being dari pemain yang akan berdampak pada performa tim. Perlu juga ada konsiderasi agar performa dan kebugaran atlet terjaga dan meningkat dengan menerapkan prinsip dari Active-Design Guidelines. Sebagai pusat pelatihan yang terintegrasi dengan aspek komersial, perlu ada prinsip dalam merancang sebuah fungsi komersial dan zoning tersendiri agar fungsi komersial tersebut menjadi hidup.
RIVERSCAPES CO-LIVING: AFFORDABLE COMMUNITY HOUSING ON THE CITARUM RIVERSIDE
Di sekitar Baleendah-Bojongsoang, Bandung, terdapat area industri padat karya, terutama di sektor tekstil dan garmen. Namun, hingga kini belum ada fasilitas hunian yang memadai untuk menampung para pekerja dan karyawan yang bekerja di sana. Pekerja ini umumnya memiliki penghasilan yang terbatas, sementara lahan untuk perumahan semakin sempit dan harganya terus melambung. Kondisi ini berpotensi mendorong munculnya permukiman kumuh di lokasi yang tidak semestinya, seperti di bantaran sungai. Masalah ini timbul karena beberapa faktor selain ekonomi, termasuk kebutuhan akan akses yang dekat dengan tempat kerja dan transportasi. Sempadan sungai memiliki peranan penting sebagai buffer antara sungai dan daratan, melindungi fungsi alami sungai dari gangguan aktivitas sekitarnya. Namun, kehilangan zona sempadan sungai karena peruntukan lahan lain memberikan ancaman pencemaran lingkungan sungai yang serius, yang pada gilirannya akan mengancam keselamatan, kenyamanan, dan kesehatan orang di sekitarnya. Hal ini menunjukkan dampak serius dari kehilangan zona sempadan sungai terhadap lingkungan sungai dan sekitarnya. Proyek ini bertujuan membangun fasilitas hunian bersama untuk pekerja industri di Baleendah-Bojongsoang dengan sistem sewa yang dirancang sesuai dengan kebutuhan hidup pekerja di industri sekitar. Fasilitas ini akan dibangun di lokasi yang strategis sehingga mudah dijangkau oleh transportasi umum. Selain itu, lokasinya di tepian Sungai Citarum membuat perencanaan proyek ini harus mempertimbangkan kelestarian alam di sekitarnya. Melalui proyek ini, diharapkan dapat tercipta hunian di tepian sungai yang terencana dengan baik, yang tidak hanya memberikan tempat tinggal layak bagi para pekerja, tetapi juga melestarikan lingkungan sekitarnya.