📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 32 dokumen

STUDI PENGARUH IMPLEMENTASI COFIRING DAN PEMBANGKIT ENERGI BARU TERBARUKAN (EBT) TERHADAP PENGURANGAN EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) PLTU SISTEM JAWA, MADURA DAN BALI (JAMALI) DALAM SKEMA PERDAGANGAN KARBON

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK sebesar 29% pada tahun 2030 melalui berbagai strategi mitigasi, termasuk penerapan mekanisme nilai ekonomi karbon, seperti perdagangan karbon. Untuk mengurangi emisi karbon, PT PLN (Persero) menerapkan berbagai strategi, termasuk cofiring biomassa dan pengembangan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan RUPTL. Sistem Jamali (Jawa, Madura, Bali), yang menyumbang 67% bauran energi nasional pada 2020, masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh cofiring biomassa, peningkatan bauran EBT, dan perdagangan karbon terhadap pengurangan emisi GRK di PLTU PLN Sistem Jamali. Perhitungan emisi memperhatikan data operasional pembangkit dan kualitas bahan bakar yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi peningkatan bauran EBT (27,5%) dan cofiring biomassa (5%) dapat menurunkan produksi listrik batubara PLTU sebesar 58.689 GWh (41%) dan konsumsi batubara sebesar 27,5 juta ton (37%) pada tahun 2034 dibandingkan dengan skenario Business as Usual (BaU). Skenario kombinasi menurunkan emisi GRK sebesar 54,4 juta tCO?e (39%) dari BaU dan 4,4 juta tCO?e (5%) dari skenario tanpa cofiring, dengan pengaruh signifikan secara statistik (p = 0,006). Secara spasial, skenario kombinasi menurunkan beban emisi di wilayah padat PLTU. Dalam mekanisme cap and trade, skenario ini memperpanjang periode surplus emisi dan mengurangi defisit emisi pada akhir periode evaluasi. Namun, skenario ini juga memperketat nilai batas cap emisi pelaku usaha dibandingkan dengan skenario BaU.

2025
👤 Penulis: Nanda Kartika Putri
🏷️ Pengendalian Karbon 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Renewable Energy Integration

PERBANDINGAN PERFORMA PLTU CO-FIRING BIOMASSA DENGAN VARIASI JENIS BIOMASSA : ANALISA EFISIENSI ENERGI DAN DAMPAK LINGKUNGAN DI PLTU LABUHAN ANGIN

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara merupakan kontributor utama emisi karbon di sektor energi. Co-firing biomassa menjadi strategi alternatif untuk mengurangi emisi tanpa perlu penggantian besar pada infrastruktur pembangkit. Penelitian ini mengevaluasi performa co-firing tiga jenis biomassa-sekam padi, sawdust, dan cangkang sawit yang dicampurkan sebesar 5% massa ke dalam bahan bakar batubara pada PLTU Labuhan Angin. Analisis dilakukan menggunakan simulasi Aspen Plus untuk mengkaji efisiensi termal dan dampak lingkungan berupa emisi CO?, CO, NO, SO?, dan abu sisa pembakaran. Hasil simulasi menunjukkan bahwa co-firing sekam padi memberikan efisiensi termal tertinggi, sementara cangkang sawit menghasilkan emisi gas buang yang paling rendah. Emisi CO? dan SO? menurun pada seluruh skenario biomassa dibandingkan dengan batubara murni, yang mencerminkan karakteristik biomassa yang lebih bersih dan karbon netral. Emisi NO bervariasi tergantung pada kandungan nitrogen dan suhu pembakaran, dengan cangkang sawit menunjukkan performa terbaik. Emisi CO sangat rendah pada seluruh skenario akibat asumsi pembakaran sempurna dalam model simulasi. Kandungan abu tertinggi dihasilkan oleh sekam padi, sedangkan sawdust menghasilkan abu paling sedikit. Secara keseluruhan, co-firing biomassa terbukti meningkatkan efisiensi sistem dan menurunkan dampak lingkungan, dengan masing-masing jenis biomassa memiliki keunggulan berbeda. Hasil ini dapat menjadi dasar pemilihan bahan bakar campuran yang optimal bagi pembangkit listrik berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Gilang Wirizkho Romadhona
🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Pemanfaatan Biomassa Dalam Pembangkit Listrik 🏷️ Lingkungan Dan Pembakaran Biomassa

EVALUASI TEKNO-EKONOMI PRODUKSI GREEN HYDROGEN: PERBANDINGAN SUMBER ENERGI DAN SKENARIO PRODUKSI

Green hydrogen menjadi solusi potensial dalam mendukung transisi energi bersih dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060. Salah satu peluang besar untuk pengembangannya adalah pemanfaatan potensi excess power dari PLTA Saguling sebagai sumber energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi tekno-ekonomi produksi green hydrogen dengan membandingkan dua sumber energi listrik, yaitu excess power PLTA Saguling dan listrik jaringan (on-grid) dengan skema Renewable Energy Certificate (REC), serta tiga teknologi elektroliser: Alkaline Water Electrolyzer (AWE), Proton Exchange Membrane (PEM), dan Solid Oxide Electrolyzer (SOE) dalam tiga skenario lokasi produksi. Metodologi mencakup pemodelan sistem produksi hidrogen, estimasi kebutuhan daya dan output, perhitungan Levelized Cost of Hydrogen (LCOH), serta analisis sensitivitas terhadap parameter kunci seperti biaya listrik dan lokasi produksi. Data teknis diambil dari datasheet pabrikan komersial, sedangkan parameter ekonomi berasal dari sumber kredibel. Hasil menunjukkan bahwa AWE merupakan teknologi paling ekonomis, dengan LCOH berkisar 2,39–4,89 US$/kg, dan biaya terendah pada skenario on-site dengan PLTA Saguling. Sebaliknya, penggunaan listrik on-grid + REC menghasilkan LCOH tertinggi, hingga 8,90 US$/kg, karena tingginya tarif listrik dan tambahan biaya REC. Biaya listrik terbukti sebagai variabel paling berpengaruh terhadap LCOH, disusul oleh faktor lokasi dan infrastruktur. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan green hydrogen di Indonesia. Pemanfaatan excess power dari PLTA terbukti menjadi strategi efektif dalam mendorong produksi green hydrogen berkelanjutan dan memperkuat peran Indonesia dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

2025
👤 Penulis: Santi Purnaning Dewi
🏷️ Green Hydrogen 🏷️ Analisis Tekno-Ekonomi 🏷️ Efisiensi Energi

AUDIT ENERGI PLTU 100 MW TIPE BOILER CIRCULATING FLUIDIZED BED

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber pemborosan energi pada komponen utama PLTU tipe boiler Circulating Fluidized Bed (CFB) berkapasitas 100 MW, serta merumuskan rekomendasi atau strategi teknis dan ekonomis guna meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi karbon dioksida (CO?). Metode yang digunakan adalah audit energi awal (preliminary audit) dengan analisis neraca massa dan energi serta perhitungan efisiensi menggunakan perangkat lunak Ms Excel berbasis data operasional (uji performa) bulan April– November tahun 2024. Objek penelitian meliputi area boiler, turbin, dan kondensor di PLTU Punagaya unit 2. Hasil studi menunjukkan bahwa pada area boiler, kombinasi penurunan udara lebih menjadi 31% dan penurunan temperatur gas buang sebesar 10°C dapat meningkatkan efisiensi boiler dari 83,9% menjadi 84,77%, dengan potensi penghematan batubara sebesar 4.978 ton/tahun setara penurunan emisi CO? sebesar 7.518 ton/tahun dan payback period 3,3 tahun. Di sisi turbin, peningkatan tekanan uap masuk HP Turbin dari 8,4 MPa menjadi 8,8 MPa menghasilkan penurunan heat rate sebesar 3,84 kcal/kWh setara penghematan batubara sebesar 850 ton/tahun dengan potensi penurunan emisi CO? 1.284 ton/tahun. Pada area kondensor, perbaikan tekanan vakum dan sistem pendingin meningkatkan laju perpindahan panas hingga 294 Mcal/jam, setara penghematan batubara sebesar 15.951 ton/tahun dan penurunan emisi CO? sebesar 650 ton/tahun dengan payback period hanya 0,75 tahun. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa penghematan energi di PLTU dapat dicapai melalui pengendalian operasional yang optimal, pemeliharaan rutin, serta pemanfaatan teknologi penunjang yang sesuai dengan kondisi operasi terkini.

2025
👤 Penulis: Pajri Ramadhan
🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Penurunan Emisi Karbon 🏷️ Pemeliharan Rantai Pasokan Energi

POTENSI PEMENUHAN STANDAR SERTIFIKASI GREENSHIP NEW BUILDING V.1.2STUDI KASUS: GEDUNG LABTEK XV ITB GANESA

Pembangunan berkelanjutan telah menjadi imperatif global, mendorong adopsi konsep bangunan hijau sebagai solusi mitigasi dampak lingkungan. Di Indonesia, Green Building Council Indonesia (GBCI) memfasilitasi transisi ini melalui sistem sertifikasi GREENSHIP New Building V.1.2. Penelitian ini mengeksplorasi potensi implementasi standar sertifikasi tersebut pada proyek pembangunan Gedung Labtek XV ITB Ganesa. Pendekatan studi kasus diterapkan, melibatkan analisis mendalam terhadap dokumen perencanaan proyek, seperti Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) Arsitektur, Struktur, dan Mekanikal-Elektrikal-Plambing (MEP), gambar teknis, serta dilengkapi dengan wawancara bersama konsultan perencana. Temuan kunci dari penelitian ini mengindikasikan bahwa Gedung Labtek XV ITB Ganesa menunjukkan potensi signifikan dalam mencapai sertifikasi GREENSHIP New Building V.1.2, berhasil meraih total 32 poin dan menempatkannya dalam kategori Perunggu. Capaian ini terutama didukung oleh kinerja unggul dalam aspek efisiensi energi, konservasi air, serta pemilihan sumber dan siklus material. Meskipun demikian, identifikasi celah menunjukkan bahwa beberapa area kritis memerlukan optimalisasi lebih lanjut. Aspek-aspek seperti peningkatan efisiensi energi tambahan, daur ulang dan pemanfaatan sumber air alternatif, pengembangan lahan yang lebih hijau, kualitas lingkungan dalam ruang yang komprehensif, serta manajemen bangunan yang terintegrasi, belum sepenuhnya memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, rekomendasi difokuskan pada penyesuaian perencanaan dan implementasi pada area-area yang belum optimal guna memaksimalkan potensi keberlanjutan gedung ini.

2025
👤 Penulis: Petra Hizkia Hendrajaya
🏷️ Pembangunan Hijau 🏷️ Green Building Council Indonesia (Gbci) 🏷️ Efisiensi Energi

STUDI KASUS PENINGKATAN EFISIENSI KONSUMSI STEAM PADA INDUSTRI PUPUK DI INDONESIA

Energi memainkan peran penting pada manufakturing, terutama di pabrik petrokimia. Sebagai pendukung produksi, energi menempati porsi signifikan atas biaya produksi (COGM). Energi, khususnya uap bertekanan, menyumbang 15% hingga 20% dari COGM. Penelitian ini didasarkan pada masalah bisnis yaitu meningkatnya konsumsi pemakaian uap bertekanan di pabrik urea. Peningkatan rasio konsumsi uap bertekanan sebesar 0,1 ton uap per ton urea pada sebagian besar pabrik urea setara dengan peningkatan biaya produksi sekitar 5-8 USD per ton urea. Studi ini menyelidiki kerugian energi di pabrik urea yang didukung oleh sistem pembangkitan uap terintegrasi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi energi dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kinerja produksi. Studi ini berfokus pada pabrik urea dan distribusi uap di PT Pupuk Sumatera. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi energi, khususnya uap bertekanan, kemudian menganalisis untuk menemukan akar penyebabnya. Pengumpulan data melibatkan survei awal untuk menilai kondisi operasi pabrik saat ini, mencakup konsumsi uap dan pelepasan energi panas. Diskusi kelompok dilakukan untuk mengklarifikasi data dan mengeksplorasi alternatif solusi yang mungkinkan mengatasi masalah bisnis. Melalui metodologi penelitian yang komprehensif, studi ini menunjukkan kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi energi di pabrik proses, termasuk rantai pasokan, operasi, strategi pemeliharaan, dan faktor manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar penyebab utama berasal dari kehilangan energi, ketidakefektifan pada proses start-up pabrik, kurang efektifnya strategi pemeliharaan, dan kurangnya training. Solusi yang diusulkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah penggantian isolasi pipa uap bertekanan yang rusak dan steam trap, menetapkan target spesifik start up, meningkatkan strategi pemeliharaan dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (ML) untuk meningkatkan akurasi pemeliharaan prediktif dan melaksanakan asesmen kompetensi karyawan. Solusi tersebut diproyeksikan berpotensi mendatangkan penghematan sebesar 0.8 juta USD/tahun dengan periode pengembalian modal hanya 7 bulan. Kebaruan dari studi ini adalah pendekatan pemanfaatan drone untuk inspeksi termal pada pipa distribusi uap. Temuan menunjukkan degradasi kinerja isolasi pipa uap meskipun secara visual terlihat normal. Isolasi pipa uap yang rusak dapat merugikan pabrik. Selain penghilangan panas, hujan deras dapat memaksa operator untuk menurunkan tingkat produksi yang bahkan dapat menyebabkan downtime. Pada akhirnya, penelitian ini memberikan blueprint yang berharga bagi manajemen dan insinyur proses untuk mengenali kehilangan energi dan melakukan peningkatan untuk menaikkan efisiensi energi dalam operasi pabrik proses.

2025
👤 Penulis: Akhmad Kurniawan
🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Pemanfaatan Teknologi Ai/Ml 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Industri Pupuk

OPTIMISASI MULTI-OBJEKTIF KONSUMSI ENERGI DAN KEKASARAN PERMUKAAN PADA PERMESINAN CNC 5- AXIS MENGGUNAKAN METODE NSGA-II

Optimisasi dalam proses pemesinan CNC sangat penting untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi. Konsumsi energi selama proses pemotongan merupakan salah satu tujuan optimisasi, karena para peneliti dan produsen berusaha mencapai penggunaan energi minimal dalam pemesinan CNC untuk mengurangi biaya operasional. Di sisi lain, konsumen menginginkan kualitas produk yang tinggi, dan salah satu ukuran kualitas ini adalah kekasaran permukaan, di mana nilai yang lebih rendah menunjukkan kualitas yang lebih baik. Penggunaan coolant dalam proses pemotongan dapat mengurangi kekasaran permukaan, tetapi juga meningkatkan konsumsi energi karena diperlukan pompa untuk mengalirkan coolant tersebut. Penelitian ini mengatasi tantangan untuk meminimalkan konsumsi energi sekaligus meminimalkan kekasaran permukaan pada produk yang dipotong menggunakan mesin CNC 5-axis Hartford 5A-25R. Lima parameter, masing-masing dengan tiga level—kecepatan spindel, laju umpan, kedalaman potong, lebar potong, dan mode coolant—diteliti. Rancangan eksperimen Taguchi Orthogonal array L27 digunakan untuk memperoleh persamaan regresi untuk proses optimasi multi- objektif menggunakan Non-dominated Sorting Genetic Algorithm II (NSGA-II). Proses NSGA-II menghasilkan pareto optimal front, yang mewakili nilai optimal untuk kedua tujuan yang tidak saling mendominasi satu sama lain, menunjukkan adanya trade-off antara konsumsi energi dan kekasaran permukaan. Verifikasi eksperimental dari solusi optimal front menunjukkan error di bawah 10% untuk setiap tujuan, yang berada dalam batas yang dapat diterima.

2025
👤 Penulis: Najmuddin Yahya
🏷️ Optimisasi Proses Cnc 🏷️ Kualitas Produk 🏷️ Efisiensi Energi

ASESMEN EFISIENSI ENERGI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS DAN UAP(STUDI KASUS : PLTGU DI PRIOK)

~

2025
👤 Penulis: Hendrastantyo Ruriandi
🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Analisis Rantai Pasok Energi 🏷️ Pltu

PERANCANGAN APARTEMEN DENGAN PENDEKATAN BIOKLIMATIK DI KOTA BANDUNG

Penggunaan sumber daya yang berlebih merupakan salah satu faktor pemanasan global. Di Indonesia penggunaan bahan bakar fosil masih menjadi yang utama untuk menghasilkan energi. Pnggunaan sumber daya yang berlebihan ini akan diptoyeksi kan terus meningkat dengan naiknya pertumbuhan penduduk Indonesia. Dengan me ningkatnya penduduk maka kebutuhan akan hunian juga akan semakin meningkat. Sektor bangunan termasuk kedalam sektor yang menggunakan energi terbanyak dengan 45 persen dari total energi yang digunakan berasal dari operasional bangunan itu sendiri.Pendekatan Arsitektur Bioklimatik mencoba menangani permasalahan pemborosan energi dengan merespon iklim dan memanfaatkan potensi potensinya. Tujuan dari tesis ini adalah untuk membuat konsep apartemen yang bisa beradaptasi dengan lingkungan dan bisa meminimalisir penggunaan energi yg berlebih dan memaksimalkan kenyamanan dalam bangunan. Fokus utama dalam tesis ini bagaimana cara meningkatkan kenyamanan pengguna namun menurunkan energi yang dibutuhkan (efisiensi energi). Sehingga kualitas hidup manusia didalamnya teeap terjaga namun juga tetap melestarikan lingkungan. Oleh karena itu diharapkan Desain Apartemen dengan pendekatan Bioklimatik dapat menjadi salah satu Solusi hunian yang boros energi dan merusak lingkungan

2024
👤 Penulis: Farelio Shafly Abyan Artha
🏷️ Desain Bangunan 🏷️ Bioklimatika 🏷️ Efisiensi Energi

IDENTIFIKASI POTENSI PEMANFAATAN SISTEM SMART HOME SEBAGAI ALTERNATIF DESAIN AKTIF DALAM MENCAPAI EFISIENSI ENERGI

Bangunan hunian memiliki tingkat konsumsi energi yang besar dan laju emisi gas karbondioksida yang tinggi. Adanya peningkatan populasi dan taraf hidup masyarakat turut menjadi katalisator dari tingginya konsumsi energi dan laju emisi CO2. Di sisi lain, perkembangan teknologi menawarkan berbagai kemungkinan untuk melakukan intervensi dan perubahan terhadap permasalahan ini. Salah satu caranya adalah dengan mengimplementasikan teknologi Internet of Things (IoT) pada bangunan hunian atau yang dikenal dengan sebutan sistem smart home. Smart home diyakini dapat membantu meningkatkan efisiensi energi pada bangunan hunian sehingga dapat mengurangi laju emisi gas CO2. Melalui penelitian ini akan diungkap bagaimana kesiapan teknologi dan preferensi masyarakat dalam rangka proses adopsi sistem smart home pada bangunan hunian di Indonesia. Selain itu, akan dicari tahu hal – hal yang perlu diperhatikan dalam desain sebuah bangunan hunian di Indonesia untuk menerapkan sistem smart home untuk meningkatkan efisiensi energi bangunan hunian tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu melalui studi literatur, kuesioner, observasi dan diskusi. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode content analysis, analisis clustering, dan analisis komparasi. Melalui penelitian ini, akan didapatkan output berupa pengetahuan tentang tingkat kesiapan teknologi di Indonesia untuk mengaplikasikan sistem smart home dan preferensi masyarakat terhadap sistem smart home. Selain itu, diharapkan juga akan didapat rekomendasi terkait bangunan hunian di Indonesia agar dapat menerapkan sistem smart home untuk meningkatkan efisiensi energi. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan rekomendasi para stakeholder yang terlibat dalam industri smart home maupun kepada pemerintah, serta menambah wawasan tentang smart home di bidang Arsitektur.

2024
👤 Penulis: Maharani Stavira Indrasuta
🏷️ Smart Home 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Desain Bangunan Hunian

PENILAIAN KELAYAKAN KEUANGAN DAN RISIKO TINGKAT LANJUT PEMBANGKIT PANAS BUMI BINER INDONESIA DENGAN INTEGRASI KREDIT KARBON

Pemanasan global adalah permasalahan yang mendesak. NASA telah memperkirakan wabhwa 15 bulau di Asia Tenggara akan tenggelam pada tahun 2100, sebagai akibat dari peningkatan permukaan laut global setinggi 0,77cm pada tahun 2022-2023. Suhu global meningkat 1,48’C lebih tinggi dari tingkat praindustri pada tahun 2023. Indonesia harus meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan dan efisiensi energi. Pada tahun 2030, konsumsi energi akan meningkat sebesar 3% dan permintaan listrik sebesar 8.5%, dengan bahan bakar fosil memenuhi dua pertiga permintaan dan emisi CO2 meningkat 35%. Studi ini mengevaluasi kelayakan tekno-ekonomi pembangkit listrik tenaga panas bumi Indonesia Organic Rankine Cycle (ORC) 53,5 MW menggunakan kredit karbon. Potensi panas bumi di Indonesia adalah sebesar 40% dari sumber daya global, tetapi biaya dimuka yang tinggi, dukungan regulasi yang tidak memadai dan adanya hambatan teknis yang membatasi pengembangan panas bumi. Pembangkit listrik Panas Bumi ORC yang fleksibel dan efisien memberikan daya beban dasar yang stabil untuk sumber daya bersuhu rendah hingga sedang, studi ini menerapkan perangka lunak RET Screen untuk Analisa tekno-ekonomi, sensitivitas dan penilaian risiko untuk menganalisis kelayakan proyek dalam berbagai scenario. Biaya awal, pengeluaran operasi dan pemeliharaan, pembangkit energi dan pengurangan GRK dianalisa secara rinci. Net Present Value (NPV), Internal Return of Rate (IRR) dan Levelized Cost of Energy (LCOE) dihitung untuk emoat scenario: i. insentif minimal, ii. Peningkatan insentif kredit karbon; iii. Memperpanjang umur proyek dengan manfaat pajak; iv. Scenario yang dioptimalkan dengan harga kredit karbon yang tinggi. Ndengan IRR ekuitas sebelum pajak sebesar 20,7% dan NPV sebesar $97,52 juta, proyek ini layak secara komersial dengan harga $2/ton CO2 di Indonesia. menaikkan harga kredit karbon menjadi $18/ton CO2 meningkatkan IRR menjadi 26,1% dan NPV menjadi $142,74 juta. Periode pengembalian ekuitas 2,9 tahun dan penurinan LCOE dicapai dengan memperpanjang umur proyek menjadi 30 tahun dan mengunakan harga kredit karbon sebesar $46/ton CO2. Data ini menunjukkan bagaimana harga karbon mempengaruhi profitabilitas investasi panas bumi. Mengoptimalkan eksplorasi panas bumi dan mengadopsi teknologi inovatif dapat memangkas pengeluaran dan mempercepat progress. Terinspirasi dari Filipina dan Kenya, insentif pemerintah, pemotongan pajak, dan persetujuan yang lebih cepat dapat membuat proyek panas bumi layak secara finansial dan membantu Indonesia mencapai tujuan nol emisi karbon pada tahun 2060.

2024
👤 Penulis: Xiaojun Yan
🏷️ Pemanasan Global 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Kredit Karbon

PENGURANGAN HEAT LOSS DAN PENINGKATAN KAPASITAS MESIN PENGERING POLYDRIER LTPM ITB

Pengeringan produk pasca panen penting dilakukan untuk menambah masa simpan ataupun sebagai tahap produksi awal pengembangan produk pertanian. Namun, pengeringan konvensional menggunakan sinar matahari sangat lama dan sangat bergantung pada cuaca. Mesin pengering polydrier dengan basis superabsorbent polymer (SAP) merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi waktu dan kapasitas pengeringan. SAP merupakan polimer dengan kemampuan penyerapan tinggi yang sering digunakan pada produk sanitasi sekali pakai. Dalam proses pengeringan, SAP dimanfaatkan untuk dapat menyerap kadar air udara masuk pengering sebelum dipanaskan menggunakan pemanas. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Abidin, dkk. (2017 dan 2022). Pada penelitian ini, dilakukan peningkatan kapasitas pengeringan dan produktivitas dengan merubah dan memodifikasi desain keseluruhan alat pengering dan sistem pengoperasian yang sebelumnya tersusun dari 3 chamber secara seri menjadi 4 chamber. Hal ini dilakukan untuk mempermudah operasionalitas, mengurangi kebutuhan energi dengan merubah bahan bakar gas menjadi mesin elektrik, dan memodifikasi material aliran panas dengan mengurangi heat loss yang terjadi pada aliran yang ada. Berdasarkan tujuan tersebut dilakukan desain dan konstruksi mesin pemanas elektrik dan 4 chamber yang kemudian akan karakterisasi untuk menentukan sistem operasionalitas pengeringan yang sesuai. Setelah itu, akan dilakukan proses pengeringan dengan menggunakan 2 bahan yang dapat dikomparasi dengan penelitian sebelumnya (kunyit dan biji kopi) dan 1 bahan baru (lemon). Berdasarkan proses pengeringan yang dilakukan, ditemukan bahwa laju produktivitas mesin dengan desain terbaru meningkat dibandingkan generasi sebelumnya dengan perubahan pada pengeringan kunyit sebesar 138% dari 0,54 kg/jam ke 0,74 kg/jam (21 jam lebih cepat) dan pengeringan kopi sebesar 110% dari 1,29 kg/jam ke 1,41 kg/jam 2 jam lebih cepat). Selain itu, dengan penggunaan insulansi mineral wool untuk pipa dan glass wool untuk pemanas terjadi pengurangan heat loss dari 89% menjadi 1,92 – 6,11%.

2024
👤 Penulis: Fitria Azzahra
🏷️ Mesin Pengering Polytetrafluorethilen (Ptfe) 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Desain Teknis Mesin

PENGEMBANGAN METODE ANALITIK PREDIKSI PERFORMA PADA STAGE TURBIN UAP TEKANAN RENDAH PADA KAPASITAS DESAIN DAN OFF-DESIGN

Penelitian ini berfokus pada pengembangan metode untuk memprediksi performa pada setiap stage turbin uap tekanan rendah. Turbin uap tekanan rendah sendiri memegang peranan penting dalam pembangkitan daya PLTU. Seringkali, muncul permasalahan pada performa turbin uap terjadi akibat adanya permintaan pembangkitan yang mengharuskan PLTU beroperasi dalam kapasitas off-design. Oleh karena itu, metode analitik yang diusulkan diharapkan dapat membantu prediksi cepat pada performa turbin tekanan rendah baik ketika beroperasi dalam kondisi desain dan off-design. Metode yang diusulkan akan membutuhkan data tingkat keadaan uap berdasarkan heat balance pada berbagai kondisi operasi, dengan mengintegrasikan analisis neraca energi, neraca momentum, serta berbagai pendekatan teoritis. Peneliti akan mempertimbangkan berbagai kondisi kerja turbin uap tekanan rendah, termasuk ekstraksi pada stage, tingkat keadaan uap, dan geometri stage. Metodologi ini akan digunakan untuk mengevaluasi performa stage turbin uap pada kondisi desain dan off-design PLTU Suralaya Unit 5-7. Pada prediksi performa yang dilakukan, didapatkan bahwa kondisi desain 100% MCR memiliki efisiensi efisiensi isentropik total-to-static terbesar dibandingkan kondisi off-design 75% MCR dan 50% MCR, dimana nilai berkisar antara 55-72% untuk kondisi desain 100% MCR. Selain itu, pada kondisi off-design 75% MCR dan 50% MCR, didapatkan juga bahwa penyimpangan sudut serang aliran uap dari sudut serang optimal menyebabkan penurunan pada efisiensi isentropik total-to-static serta penambahan pada gaya aksial yang bekerja pada turbin uap terkait. Hasil akhir dari penelitian ini akan memberikan metode prediksi cepat untuk performa stage turbin uap tekanan rendah yang telah diuji pada data PLTU Suralaya Unit 5-7 dalam berbagai kondisi operasi. Alhasil, prediksi performa secara cepat tetap dapat dilakukan untuk memastikan kelancaran operasi turbin uap dalam serta antisipasi dari kerugian yang dapat terjadi pada berbagai kondisi operasi. Dengan prediksi yang cepat dan optimal, penelitian ini berkontribusi pada optimalisasi operasi turbin uap, meningkatkan efisiensi energi, dan efektivitas biaya dalam pembangkitan listrik dan proses industri.

2024
👤 Penulis: Francis Ferdinand
🏷️ Analisis Turbin Uap 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Optimalisasi Operasi Pembangkit Listrik

PEMANFAATAN VARIASI MOTOR POMPA SUBMERSIBLE ELECTRIK SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI

The decline in natural gas production in a mature offshore field has made the company to investigate ways to optimize its energy usage. One technology that consumes a significant amount of power during the production process is the Electric Submersible Pump (ESP). It has been found that ESPs account for 13% of the total energy losses. This study aims to compare Induction Motors with Permanent Magnet Motors in ESPs and to examine the effects of the number of poles in Permanent Magnet Motors on system performance as an effort to improve energy efficiency in mature offshore fields in Indonesia. To achieve the objectives of this research, the implementation of Permanent Magnet Motors will be carried out on one of the wells in this field. Implementing Permanent Magnet Motors in the well “X” is projected to be implemented for all well in this field and will reduce total electrical energy consumption. Moreover, sensitivity is conducted in this study to see the influence of variables water cut, reservoir pressure, operating frequency, number of stages and number of pole permanent magnet motors on the liquid rate and efficiency system. The results show that implementing a permanent magnet motor can increase ESP system efficiency by 16.249% from the current design electrical submersible pump as a solution to declining natural gas production, a source of electrical energy in the offshore field. The results of this study are expected to be considered by stakeholders for assessing the feasibility of this transition for widespread use.

2024
👤 Penulis: Ahmad Supriadi
🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Pompa Submersible Elektrik 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Energi Offshore

KAJIAN IMPLEMENTASI STANDAR GREEN BUILDING PROYEK KONSTRUKSI BERDASARKAN SISTEM SERTIFIKASI EXCELLENCE IN DESIGN FOR GREATER EFFICIENCIES (EDGE)STUDI KASUS: PROYEK SCIENCE TECHNO PARK (STP) ITB GANESHA

<p align="justify">Masifnya pembangunan telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan. Menurut Kementerian PUPR (2020) secara global, bangunan gedung menggunakan 40% energi dan 12% persediaan air tawar,yang berkontribusi terhadap 30% emisi gas rumah kaca yang dipercaya sebagai penyebab pemanasan global. Green Building menjadi solusi yang muncul sebagai tanggapan terhadap tantangan ini dengan dapat mengurangi konsumsi energi sebesar 25%, penggunaan air sebesar 40%, emisi CO2 36%, dan limbah padat sebesar 70% dibandingkan dengan bangunan konvensional. Akan tetapi, implementasi teknologi Green Building menghadapi berbagai permasalahan dari faktor internal maupun eksternal dilihat dari minimnya implementasi teknologi tersebut. Untuk itu, sebagai langkah dalam meningkatkan implementasi teknologi Green Building di Indonesia, dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor penghambat yang memengaruhi adopsi konsep Green Building serta melakukan evaluasi dan strategi untuk menjawab permasalahan yang ada. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara kajian literatur, kuesioner, observasi, dan wawancara. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif dan analisis SWOT untuk merumuskan strategi peningkatan penerapan Green Building. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan yang sangat berpengaruh menjadi faktor penghambat yaitu variabel dengan kode X4, X1, dan X3 untuk faktor internal serta Y4, Y1, dan Y7 untuk faktor eksternal. <p align="justify">

2024
👤 Penulis: Muhammad Kaisar Diandra
🏷️ Green Building 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan
Halaman 2 dari 3
💬