📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 109 dokumenMAPPING OF OCEAN CURRENT FOR FEASIBILITY STUDY OF MICRO-SCALE MARINE CURRENT TURBINE (STUDY CASE: KEPULAUAN SERIBU)
Renewable energy is an alternative energy to replace fossil fuel. One example of renewable energy is marine current which can produce electricity by using marine current turbine. This study is conducted to create marine current probabilities map for feasibility study of micro-scale marine current turbine in Pramuka, Karya, Panggang, and Semak Daun Islands. This turbine needs current speed that exceeds 0.3 m/s to move the rotor. This map is made by using marine current speed data for a year. The marine current speed data are obtained by a hydrodynamic model. This model represents natural ocean phenomena, such as marine current, wave, and surface elevation. Based on tidal and current verification one can decide whether a hydrodynamic model is good enough. Statistical processing was done to produce probability value of marine current that exceeds 0.3 m/s from the extracted marine current data based on the hydrodynamic model. The probability value will be used in map making. The result of this study is marine current probability map which shows the accumulative duration of one particular marine current speed. The duration of current speeds that exceed 0.3 m/s is around 14-18 days in a year. Thus, installing marine current turbine in the study area is not effective.
PROYEKSI KEBUTUHAN BIOMASSA SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN HIDROGEN LEWAT JALUR GASIFIKASI UNTUK KEPERLUAN CO-FIRING PLTG
Hidrogen (H2) adalah salah satu bahan bakar alternatif yang banyak dikembangkan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Hidrogen dapat langsung dicampurkan dengan gas alam (CH4) untuk keperluan co-firing PLTG. Hidrogen memiliki kelebihan dibandingkan dengan gas alam. Pembakaran hidrogen hanya menghasilkan produk samping air atau tidak menghasilkan emisi karbon. Produksi hidrogen berbasis energi terbaharukan telah banyak dikembangkan sehingga pasokan terjamin. Namun, energi per volume hidrogen sekitar 10,8 – 12,7 MJ/m3 lebih kecil dari gas alam sekitar 35,8 – 39,8 MJ/m3 sehingga diperlukan lebih banyak volume hidrogen untuk mengganti gas alam dengan volume tertentu. Hidrogen (H2) dapat dibuat dengan berbagai cara antara lain Steam Methane Reforming (SMR), gasifikasi batubara, elektrolisis air, fotoelektrokimia dan konversi biomassa. Adapun metode yang banyak digunakan saat ini adalah metode SMR dengan bahan baku gas alam sehingga masih menghasilkan emisi yang tidak ramah lingkungan. Dalam penelitian ini telah dikaji proyeksi kebutuhan biomassa untuk produksi hidrogen. Biomassa termasuk sumber energi terbaharukan yang jarang dimanfaatkan. Padahal Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar dari hasil limbah pertanian, perkebunan dan rumah tangga. Adapun jalur pembuatan hidrogen dari biomassa yang telah diterapkan dalam penelitian ini adalah proses gasifikasi biomassa. Penelitian ini adalah salahsatu upaya untuk mengembangkan energi terbaharukan dengan mengaplikasikan sebagai bahan bakar co-firing PLTG sehingga mengurangi emisi karbon PLTG tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, bonggol jagung dan wood pellet memiliki potensi sebagai bahan baku pembuatan hidrogen melalui proses gasifikasi, dengan yield masing?masing sebesar 3,5 USD/kg dan 5,5 USD/kg. Yield optimal dapat dicapai pada temperatur 700–1000 °C, rasio steam-to-biomass mendekati 1, serta equivalence ratio 0,2–0,3. Untuk memenuhi kebutuhan cofiring PLTG sebesar 20%v/v, diperlukan pasokan biomassa sekitar 1,8 ton/jam atau 15,7 ribu ton/tahun. Implementasi cofiring ini berpotensi mengurangi konsumsi LNG sebesar 638 ribu MMBtu per tahun serta menurunkan emisi karbon hingga 33.876 ton CO?e per tahun. Gasifikasi biomassa untuk keperluan cofiring menjadi salah satu opsi untuk menekan emisi gas rumah kaca pada pembangkit jenis turbine gas sekaligus memanfaatkan sumber energi lokal yang melimpah dan berkelanjutan.
ANALISIS SKENARIO KEBIJAKAN HARGA KARBON DAN TRANSISI ENERGI TERHADAP KELAYAKAN FINANSIAL PROYEK HPAL NIKEL ANTAM DI HALMAHERA TIMUR
Komitmen Indonesia mencapai NZE 2060 menuntut industri padat energi menjaga profitabilitas sambil menurunkan emisi. Berbagai studi sebelumnya membahas emisi HPAL dan desain kebijakan NEK, tetapi umumnya berada pada tingkat makro dan fokus pada jejak karbon teknis. Belum ada yang mengkaji kelayakan finansial proyek HPAL Indonesia secara langsung, terutama di bawah kombinasi kebijakan NEK, CBAM, dan skenario transisi energi. Sebagai pelaku utama rantai pasok nikel untuk baterai kendaraan listrik, ANTAM berpotensi menghadapi peningkatan biaya karbon melalui proyek HPAL di Halmahera Timur. Penelitian ini menilai dampak kebijakan harga karbon nasional dan global serta transisi energi terhadap kelayakan finansial proyek tersebut. Model keuangan berbasis skenario menggunakan metode DCF untuk horizon 20 tahun dengan WACC 14,89%. Empat konfigurasi dianalisis: gas tanpa harga karbon, gas dengan NEK, gas dengan NEK-CBAM, dan energi terbarukan surya dengan NEK, CBAM, dan offset karbon 10%. Analisis menunjukkan penerapan NEK dan CBAM menurunkan indikator kelayakan karena meningkatnya beban biaya karbon. NEK menurunkan NPV dan IRR dari USD 332,76 juta; 18,90% menjadi USD 316,43 juta; 18,72%, sementara paparan CBAM menurunkannya lebih jauh menjadi USD 154,60 juta; 16,84%. Transisi energi berbasis surya meningkatkan investasi dari USD 1,95 miliar menjadi USD 2,35 miliar, namun menurunkan total emisi dari 14,40 menjadi 12,46 juta ton CO?e (-13,45%) dan bersama offset karbon 10% menurunkan biaya karbon kumulatif dari USD 937,80 menjadi USD 810,61 juta (-13,56%), dengan NPV dan IRR tetap di atas ambang kelayakan. Analisis sensitivitas menemukan variabel pasar, khususnya harga MHP dan volume penjualan, serta biaya material input dan energi menjadi penentu utama fluktuasi nilai proyek. Simulasi Monte Carlo (3.000 iterasi) menunjukkan bahwa konfigurasi energi terbarukan menghasilkan sebaran NPV sedikit lebih sempit dan volatilitas lebih rendah dibandingkan gas. Secara keseluruhan, proyek HPAL ANTAM tetap layak secara finansial pada seluruh skenario, tetapi profitabilitasnya sangat sensitif terhadap desain kebijakan harga karbon internasional dan bauran sumber energi. Untuk mempertahankan daya saing, kebijakan seperti penetapan harga karbon yang bertahap, insentif energi terbarukan, fokus pasar non-EU, dan pemanfaatan pembiayaan hijau menjadi penting. Studi ini memberi kontribusi pada evaluasi tingkat proyek dari strategi dekarbonisasi HPAL BUMN Indonesia di bawah kombinasi NEK-CBAM dan transisi energi, serta menjadi dasar kebijakan dan strategi investasi yang lebih adaptif terhadap agenda dekarbonisasi nasional.
STUDI INTEGRASI MULTI-ENERGI PLTP ATADEI, PLTS, DAN PLTD UNTUK OPTIMASI SUSUT ENERGI, STABILITAS TEGANGAN, SERTA EVALUASI KEMAMPUAN TEKNIS PLTP PADA SISTEM ISOLATED DI LEMBATA
Sistem kelistrikan di wilayah kepulauan Indonesia masih menghadapi keterbatasan mendasar akibat beroperasi dalam bentuk isolated grid yang sangat bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Kondisi ini tidak hanya menimbulkan biaya pokok penyediaan listrik yang tinggi, tetapi juga meningkatkan kerentanan pasokan akibat ketergantungan pada distribusi bahan bakar minyak. Pulau Lembata di Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu contoh nyata, di mana pasokan listrik saat ini didominasi oleh PLTD Lamahora dan Omesuri dengan tambahan kapasitas kecil PLTS Ile Ape. Untuk mengatasi permasalahan ini, dokumen RUPTL PLN 2025–2034 merencanakan pembangunan PLTP Atadei 2 × 5 MW yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2030, disertai dengan PLTS 2 × 3 MW yang didukung Battery Energy Storage System (BESS). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi integrasi PLTP Atadei ke dalam sistem distribusi 20 kV Pulau Lembata dengan proyeksi beban tahun 2030. Metode yang digunakan adalah Quasi-Dynamic Load Flow (QDLF) berbasis DIgSILENT PowerFactory, yang mampu memodelkan variasi beban harian selama 24 jam. Analisis dilakukan terhadap tiga skenario utama integrasi PLTP, serta optimasi lokasi PLTS menggunakan metode Loss Sensitivity Index (LSI). Parameter teknis yang dievaluasi meliputi susut energi, profil tegangan, ramp rate PLTP, dan minimum output. Penelitian ini menggunakan 3 skenario dengan Skenario 1 dimana PLTP dihubungkan secara radial melalui gardu hubung eksisting dimana masing-masing PLTD masih beroperasi secara radial (terpisah). Skenario 2 dimana Operasi radial seperti Skenario 1 dengan pengalihan penyulang Atadei langsung dari PLTP Atadei 2 dan penyulang Lamalera langsung dari PLTP Atadei. Skenario 3 dengan PLTP diintegrasikan ke dalam sistem secara penuh dengan konfigurasi interkoneksi, sehingga kedua unit dapat beroperasi secara paralel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi PLTP paling optimal pada Skenario 3 (full interkoneksi) dengan konfigurasi terbaik dicapai ketika PLTP dioperasikan pada set point 2 × 2 MW untuk proyeksi kebutuhan beban 2030 sebagai baseload. Konfigurasi ini mampu menjaga profil tegangan seluruh bus pada rentang standar SPLN (0,90–1,05 p.u.), dengan susut energi lebih rendah dibandingkan skenario radial. Sementara itu, untuk penetrasi energi surya, hasil optimasi LSI menunjukkan bahwa PLTS paling optimal dibatasi pada kapasitas 1 × 3 MW, dengan titik integrasi terbaik di bus PLTD Lamahora. Pada kombinasi PLTP 2 × 2 MW sebagai load following/fleksibel, PLTS 3 MW, dan PLTD sebagai residual load following, rugi-rugi energi harian tercatat hanya sekitar 4,19%, ramp rate PLTP < ±0,1 MW/menit, dan minimum output PLTP tetap di atas 0,75 MW. Sehingga PLTP Atadei 2 × 5 MW layak dikembangkan dengan dua pendekatan: sebagai baseload pada skenario interkoneksi penuh dengan set point 2 × 2 MW pada tahun 2030, serta sebagai pembangkit fleksibel (load following) pada sistem isolated yang dipadukan dengan PLTS 1 × 3 MW. Konfigurasi ini terbukti memberikan keseimbangan terbaik antara efisiensi energi, kestabilan tegangan, dan fleksibilitas operasional, sehingga menjadikan PLTP Atadei sebagai tulang punggung transisi energi bersih di sistem isolated kepulauan.
ANALISIS TEKNO EKONOMI PEMANFAATAN PLTP KAMOJANG SEBAGAI PENGHASIL HYDROGEN
Perubahan iklim dan ketahanan energi menjadi isu yang semakin mendesak seiring dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat peningkatan penggunaan energi fosil. Energi baru dan terbarukan (EBT) dengan emisi yang lebih rendah dipandang sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Dalam konteks transisi energi, pengembangan teknologi rendah emisi, termasuk produksi hidrogen berbasis EBT, menjadi sangat penting. Penelitian ini menganalisis kelayakan teknis dan ekonomi produksi hidrogen sebagai bahan bakar dengan memanfaatkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Data teknis dan ekonomi diperoleh dari data operasi, spesifikasi teknis Hydrogen Plant yang saat ini ada di PLTP Kamojang, serta asumsi-asumsi dari literatur. Analisis teknis dilakukan melalui pemodelan kinerja dua jenis teknologi elektrolisis, yaitu Alkaline Water Electrolysis (AWE) dan Proton Exchange Membrane (PEM) menggunakan aplikasi Aspen Plus V14, dengan mempertimbangkan parameter-parameter seperti kapasitas produksi, konsumsi energi, dan umur ekonomis alat. Analisis ekonomi difokuskan pada perhitungan Capital Expenditure (CAPEX), Operational Expenditure (OPEX), dan Electricity Cost untuk menentukan nilai Levelized Cost of Hydrogen (LCOH). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai LCOH dari AWE yang saat ini digunakan di PLTP Kamojang adalah sebesar 16,09 USD/kg dengan kapasitas produksi 56 ton/tahun. Sementara LCOH dari PEM menunjukkan nilai sebesar 7,78 USD/kg dengan kapasitas produksi lebih dari 16 ribu ton/tahun. Teknologi PEM menunjukkan kinerja teknis dan ekonomi yang lebih unggul dibandingkan AWE, dengan LCOH yang lebih kompetitif untuk kebutuhan komersial, sementara AWE lebih cocok untuk menjadi pilot project. Temuan ini memberikan dasar pertimbangan dalam perencanaan pengembangan infrastruktur hidrogen di PLTP Kamojang dalam rangka mendukung kebijakan dekarbonisasi nasional. Kajian ini juga menyarankan perlunya optimalisasi kapasitas dan efisiensi teknologi elektroliser untuk menjamin keekonomian proyek jangka panjang.
A COMPARATIVE ANALYSIS IN THE APPLICATION OF B50 FUEL ON A 2400CC DIESEL ENGINE USING EURO-2 AND EURO-4 EMISSION STANDARDS
Indonesia berkomitken untuk kemajuan transportasi berkelanjutan guna memenuhi agenda 2030 dalam Nationally Determined Contribution, yang ditetapkan pada Paris Climate Agreeement. Pemerintah memprioritaskan peningkatan kualitas mobilitas, dicontohkan dengan rencana transisi dari bahan bakar diesel B40 menjadi B50 pada tahun 2026 – mempromosikan sumber energi terbarukan dan juga mengurangi ketergantungan pada impor biofuel. Penelitian ini menguji performa mesin diesel Euro-2 dan Euro-4 dengan menggunakan bahan bakar diesel B50. Melalui serangkaian pengujian Drivability, Dynamometer, Road- Test, analisis emisi, komposisi oli mesin, dan pembentukan deposit, penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut: penurunan kinerja minor setelah penggunaan jangka panjang – ditunjukkan oleh penurunan akselerasi sebesar 3,35%, kecepatan maksimum sebesar 1,21%, dan efisiensi bahan bakar rata-rata sebesar 4,29% – dengan torsi dan daya yang relative tetap stabil. Seiring dengan meningkatnya kandungan FAME dan besi pada oli mesin, analisis emisi mengindikasi penurunan kadar NOx serta peningkatan hidrokarbon. Namun, opasitas gas buang tetap memenuhi baku mutu menunjukkan adanya keausan dan pembentukan deposit yang masih dalam batas normal dari pemakaian jangka panjang.
EVALUASI MATERIAL KONSTRUKSI PELAT ATAP DAN DINDING EKSTERIOR TERHADAP EFISIENSI ENERGI GEDUNG (STUDI KASUS: LANDMARK BSI ACEH)
Penelitian ini mengevaluasi material konstruksi pelat atap dan dinding eksterior hemat energi pada Gedung Landmark BSI Aceh melalui tiga aspek utama, yaitu energi yang diukur dengan Intensitas Konsumsi Energi (IKE), ekonomi menggunakan metode Life Cycle Costing (LCC) selama 20 tahun, dan lingkungan berdasarkan penilaian GREENSHIP. Hasil analisis menunjukkan bahwa gedung tinjauan memiliki IKE eksisting sebesar 64,22 kWh/m²/tahun. Untuk menurunkan IKE tersebut, terdapat beberapa usulan yang diuji, meliputi penambahan polyurethane foam, cat reflektif surya pada permukaan atap, substitusi material pelat atap dengan Insulated Concrete Form (ICF), serta substitusi material dinding eksterior dengan Stopray Vision 31T. Dari seluruh usulan, substitusi Stopray Vision 31T terbukti paling optimal dengan penurunan IKE sebesar 2,55%, menghasilkan Net Present Value (NPV) melalui metode LCC sebesar Rp1,45 miliar, sekaligus memenuhi prasyarat EEC P2 dan menambah 3 skor EEC 1 pada GREENSHIP. Dengan demikian, substitusi Stopray Vision 31T direkomendasikan sebagai usulan paling optimal berdasarkan aspek energi, ekonomi, dan lingkungan.
EVALUASI GAP ANALYSIS DAN STRATEGI PADA TRANSISI ENERGI DI INDONESIA UNTUK MENILAI KESIAPAN INDONESIA MENUJU NET ZERO EMISSION 2060
Net-Zero Emission (NZE) is an idea that emerged from the Paris Agreement in 2015. Many countries, including Indonesia, have committed to achieving NZE. Climate Change Performance Index (CCPI), as an indicator that provides comparative scores between countries, shows Indonesia is ranked quite far. This study aims to examine the progress of Indonesia's strategy in achieving NZE. This final project assesses Indonesia's readiness to achieve NZE based on a gap analysis (GHG emission reductions in the energy sector, the integration of renewable energy (RE), renewable energy investment costs, coal capacity increases, and Indonesia's electric vehicle population), questionnaire results, and evaluation of Indonesia's strategy. This study will then provide alternative policy recommendations that can help drive the energy transition. Based on the gap analysis, questionnaire results, Indonesia is not yet ready to achieve NZE 2060. Improvements are needed in efforts to reduce coal-fired power plants and increase the integration of RE. To help encourage the transition from coal-fired power plants to RE, the government must increase RE capacity by 2 GW/year and focus on increasing EBT in solar power plants in Kalimantan. In addition, the government can raise coal prices and impose a carbon tax to increase the price of coal-fired electricity to USD 0,068/kWh to compete with the price of electricity from the Cirata solar power plant. Another effort is to create a Climate/Net-Zero Act to show determination and use an auction scheme to lower EBT prices and transparency to attract investors.
STUDI TEKNO EKONOMI PERENCANAAN PLTS TERAPUNG PADA DANAU SINGKARAK KABUPATEN SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT
Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, dengan intensitas radiasi matahari rata-rata sekitar 4,8 kWh/m² per hari. Perencanaan dan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya merupakan salah satu inisiatif utama pemerintah dalam mendukung visi nasional Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060. Provinsi Sumatera Barat memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar, di mana energi surya menjadi sumber paling menjanjikan dengan estimasi potensi mencapai 5,9 GW. Penerapan teknologi PLTS terapung menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan dengan memanfaatkan wilayah perairan seperti waduk dan danau sebagai lokasi instalasi. Danau Singkarak, yang merupakan salah satu danau terbesar di Sumatera Barat, menawarkan lokasi yang strategis untuk pengembangan PLTS terapung. Dengan luas permukaan air yang cukup besar, pembangunan PLTS di danau ini tidak hanya mengurangi kebutuhan akan lahan darat, tetapi juga memberikan manfaat tambahan seperti mengurangi laju penguapan air dan membantu menjaga kelestarian ekosistem di sekitarnya. Untuk mengoptimalkan implementasi proyek PLTS terapung di Danau Singkarak, Sumatera Barat, telah diajukan tiga skenario dengan kapasitas terpasang yang berbeda, yaitu: Skenario 1 dengan kapasitas 118 MWp/93 MW, Skenario 2 dengan kapasitas 239 MWp/186 MW, dan Skenario 3 dengan kapasitas 357MWp/277 MW. Studi teknis dan ekonomis secara menyeluruh dilakukan untuk menganalisis ketiga skenario tersebut. Berdasarkan hasil simulasi menggunakan PVsyst terhadap ketiga skenario yang direncanakan, skenario tiga menghasilkan produksi energi tertinggi, yaitu sebesar 483.785.295 kWh, dengan nilai performance ratio mencapai 81% dan juga Berdasarkan hasil simulasi analisis keekonomian menggunakan aplikasi PVsyst, skenario 3 menunjukkan hasil paling optimal. Skenario ini memiliki nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp 733.424.366.361, dengan Payback Period (PP) selama 11,2 tahun, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 12,91%, Return on Investment (ROI) sebesar 21,1%, serta Levelized Cost of Electricity (LCoE) sebesar Rp 824,36/kWh. Akan tetapi, pada saat dilakukan simulasi ramp down dan ramp up pada DIgSILENT dengan penurunan daya 80%, frekuensi turun lebih jauh ke 49,18 Hz, dan pada ramp down 100%, tercatat penurunan maksimum hingga 49,05 Hz. Pada saat disimulasikan pada kondisi ramp down dan ramp up kembali dengan 80% dan 100%, DIgSILENT membaca ada ketidakstabilan sistem pada sistem Sumatera dikarenakan terjadinya beberapa GI trip melepaskan beban dengan kondisi relay UFR bekerja yang disebabkan kondisi frekuensi mencapai 49,18 Hz dan 49,05 Hz. Hasil analisis menunjukkan bahwa Skenario 2 merupakan pilihan terbaik karena menghasilkan energi lebih besar dibandingkan Skenario 1, yaitu sebesar 323.974.764 kWh. Dari sisi keekonomian, skenario ini juga menunjukkan hasil yang unggul, dengan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp 488.592.823.565, Payback Period (PP) selama 11,2 tahun, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 12,89%, Return on Investment (ROI) sebesar 20,9%, serta Levelized Cost of Electricity (LCoE) sebesar Rp825,21/kWh lebih baik dibandingkan nilai-nilai keekonomian pada Skenario 1. Dari hasil simulasi sistem, Skenario 2 juga menunjukkan kinerja yang andal. Sistem tetap stabil meskipun dilakukan simulasi ramp down dan ramp up dalam kondisi terburuk, yakni ketika seluruh produksi energi (100%) hilang secara tiba-tiba. Dalam kondisi ini, frekuensi terendah yang tercatat adalah 49,31 Hz, dan tidak menyebabkan ketidakstabilan sistem. Hal ini berbeda dengan Skenario 3, yang pada simulasi ramp down dan ramp up sebesar 80% dan 100% justru memicu ketidakstabilan sistem yang berakibat beberapa Gardu Induk (GI) mengalami trip karena bekerja nya proteksi Under Frequency Relay (UFR). Sebagai tambahan objek penelitian, dilakukan simulasi kestabilan sistem terhadap PLTS terapung dengan kapasitas sebesar 50% dari total kapasitas pembangkit fosil di Sumatera Barat, yaitu sebesar 227 MW, menggunakan aplikasi DIgSILENT. Hasil simulasi ramp down dan ramp up pada tingkat penurunan daya 20%, 50%, 80%, dan 100% menunjukkan bahwa sistem masih dalam kondisi stabil untuk penurunan daya sebesar 20% (frekuensi 49,81 Hz), 50% (49,59 Hz), dan 80% (49,32 Hz). Namun, saat dilakukan simulasi ramp down dan ramp up sebesar 100%, terjadi trip pada beberapa Gardu Induk (GI) akibat terjadinya penurunan frekuensi hingga 49,18 Hz, yang memicu aktifnya proteksi UFR (Under Frequency Relay).
PERANCANGAN PLTS – DIESEL UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN LISTRIK PERUMAHAN KARYAWAN PERKEBUNAN SAWIT DI KABUPATEN MUARA TEBO, PROVINSI JAMBI
Listrik merupakan kebutuhan mendasar bagi peningkatan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, masih banyak wilayah terpencil di Indonesia yang belum terjangkau jaringan listrik nasional. Salah satunya adalah perumahan karyawan perkebunan sawit di Kabupaten Muara Tebo, Provinsi Jambi, yang hingga kini bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Ketergantungan ini menimbulkan permasalahan serius berupa biaya operasional tinggi akibat volatilitas harga bahan bakar serta emisi gas rumah kaca yang berlawanan dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia 2060. Perluasan jaringan PLN ke lokasi penelitian juga tidak layak secara finansial, karena biaya investasi sangat besar dan periode pengembalian melebihi 20 tahun. Kondisi tersebut menegaskan kebutuhan solusi elektrifikasi berbasis energi terbarukan yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merancang sistem hibrida Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), PLTD, dan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menyediakan pasokan listrik 24 jam di lokasi penelitian. Metodologi yang digunakan bersifat terintegrasi menggunakan tiga perangkat lunak utama. Pertama, PVSyst digunakan untuk menganalisis potensi surya dan merancang sistem PLTS berdasarkan data iradiasi SolarGIS untuk Desa Sungai Keruh. Kedua, HOMER Pro digunakan untuk evaluasi tekno-ekonomi dan optimasi konfigurasi sistem dengan empat skenario: (1) PLTD eksisting, (2) hibrida PLTD–PLTS, (3) hibrida PLTD–PLTS–BESS, dan (4) PLTS–BESS. Evaluasi meliputi Levelized Cost of Energy (LCOE), Net Present Cost (NPC), fraksi energi terbarukan, dan total emisi CO2. Ketiga, dari keempat skenario dilakukan penilaian untuk mendapat nilai terbaik, dan skenario dengan nilai terbaik akan dilanjutkan analisis dengan menggunakan perangkat lunak DIgSILENT PowerFactory untuk analisis aliran daya, simulasi operasi harian quasi-dynamic, dan simulasi RMS guna menguji keandalan sistem terhadap gangguan kritis. Hasil analisis menunjukkan Skenario 3 (PLTD–PLTS–BESS) sebagai konfigurasi paling optimal. Skenario 1 menghasilkan LCOE sebesar, 0,371 USD/kWh, dengan emisi CO2 tahunan 483.196 kg, sehingga tidak berkelanjutan dan menghasilkan polusi CO2 terbesar selama setahun. Skenario 2 mampu menurunkan LCOE menjadi 0,319 USD/kWh, namun menghasilkan kelebihan energi hingga 43% karena tidak adanya penyimpanan. Skenario 4 (PLTS–BESS) tidak andal secara teknis karena kapasitas penyimpanan tidak mencukupi untuk suplai malam hari dan dilakukan optimasi dengan cara mengubah kapasitas BESS namun menghasilkan LCOE yang lebih tinggi disbanding PLTD sebagai base case. Sebaliknya, Skenario 3, dengan konfigurasi optimal PLTS 493 kWp, BESS 1.300 kWh, dan PLTD eksisting, menghasilkan LCOE terendah 0,2667 USD/kWh, NPC 1.872.781 USD, serta fraksi energi terbarukan 81,1%. Kehadiran BESS terbukti penting untuk menyerap surplus energi siang hari dan mendukung kebutuhan malam hari, sehingga jam operasi PLTD berkurang signifikan dan emisi CO2 turun 81% menjadi 92.669 kg/tahun. Validasi stabilitas dinamik memperkuat hasil tersebut. Simulasi quasi-dynamic memperlihatkan koordinasi yang baik antara PLTS, BESS, dan PLTD dalam melayani beban 24 jam. Sementara simulasi RMS terhadap pelepasan daya PLTS akibat tertutup awan menunjukkan sistem tetap stabil. Deviasi frekuensi berada dalam rentang ±0,0012 Hz dari nominal 50 Hz, dan tegangan cepat kembali ke kondisi normal. Hal ini membuktikan kemampuan BESS tidak hanya sebagai penyimpan energi, tetapi juga penopang frekuensi dan tegangan sistem. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan integrasi perangkat lunak yang menghasilkan pendekatan komprehensif dari sisi teknis, ekonomi, dan stabilitas dinamik, dengan studi kasus spesifik elektrifikasi di perumahan karyawan perkebunan sawit di Desa Sungai Keruh, Kabupaten Muara Tebo, Provinsi Jambi, Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa model desain sistem off-grid yang tervalidasi, sekaligus rekomendasi praktis bagi PLN maupun pihak swasta untuk pengembangan elektrifikasi pedesaan yang efisien, berkelanjutan, dan mendukung agenda transisi energi nasional.
EVALUASI POTENSI IMPLEMENTASI STRATEGI PEMANGKASAN BEBAN PUNCAK DENGAN SISTEM BATERAI PENYIMPAN ENERGI DAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA PADA PROSES PENDINGINAN SUSU
Industri pengolahan susu sapi perah memerlukan sistem Milk Cooling Unit (MCU) yang efisien untuk menjaga kualitas susu segar, namun konsumsi energinya yang tinggi masih bergantung pada pasokan listrik konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi implementasi strategi pemangkasan beban puncak melalui integrasi sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrida 41 kWp dan Sistem Baterai Penyimpan Energi (SBPE) 51,2 kWh yang sudah terpasang dengan beban MCU di KSU Karya Nugraha Jaya. Metodologi penelitian menerapkan pendekatan kuantitatif, dimulai dengan pemodelan profil konsumsi energi untuk 7 unit Bulk Milk Cooler (BMC). Karakterisasi beban ini dilakukan berdasarkan data baseline lapangan dan studi literatur yang mencakup dua fase operasional utama, yaitu pendinginan intensif dan pemeliharaan suhu. Selanjutnya, simulasi performa sistem terintegrasi dilakukan menggunakan perangkat lunak PVSyst dengan menerapkan algoritma manajemen energi berbasis prioritas untuk mengevaluasi efektivitas strategi yang diusulkan. Hasil pemodelan menunjukkan profil beban MCU memiliki karakteristik puncak ganda yang signifikan, dengan total konsumsi energi tahunan mencapai 69.443 kWh/tahun. Ditemukan bahwa fase pendinginan intensif berkontribusi besar dalam konsumsi energi keseluruhan siklus, mencakup 93,57% dari total konsumsi energi per siklus. Sistem PLTS 41 kWp yang dianalisis mampu memproduksi energi sebesar 65.329 kWh/tahun. Integrasi beban MCU secara signifikan meningkatkan performa sistem PLTS, yang terlihat dari peningkatan Performance Ratio (PR) dari kondisi baseline yang hanya 19,32% menjadi 76,64% pada skenario terintegrasi, yang mengindikasikan utilisasi energi yang jauh lebih optimal. Evaluasi integrasi menunjukkan sistem PLTS-SBPE mampu memenuhi 66,26% dari total kebutuhan energi gabungan. Implementasi strategi pemangkasan beban puncak terbukti sangat efektif, dengan potensi mereduksi beban puncak hingga 80,79% pada kondisi produksi energi optimal. Peran SBPE menjadi penting, terutama dalam mereduksi puncak beban kedua (sore hari) hingga 45,92%, dengan tingkat Self-Consumption (SC) energi keseluruhan mencapai 55,3%. Implementasi sistem ini menunjukkan dampak positif pada potensi penghematan biaya operasional yang mencapai Rp 56.054.268/tahun dan potensi reduksi emisi karbon sebesar 49,07 ton CO?e/tahun. Penelitian ini membuktikan bahwa strategi manajemen energi berbasis prioritas yang didukung SBPE dapat menjadi sebuah solusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan, mendukung transisi energi berkelanjutan, serta meningkatkan efisiensi dan kemandirian energi pada industri pengolahan susu.
PEMANFAATAN ASET PASCATAMBANG UNTUK ENERGI TERBARUKAN: ANALISIS TEKNO-EKONOMI DAN KREDIT KARBON DENGAN RETSCREEN PADA PROYEK PLTS PT BUKIT ASAM
Tekanan global untuk energi bersih dan dekarbonisasi mendorong perusahaan berbasis batubara menyesuaikan model bisnisnya. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), salah satu perusahaan tambang batubara terkemuka di Indonesia, tengah mengeksplorasi inisiatif energi terbarukan yang selaras dengan tujuan transisi energi nasional. Studi ini menilai kelayakan finansial pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala utilitas di lahan pascatambang PTBA di Muara Enim, Sumatera Selatan. Metodologi kuantitatif digunakan dengan perangkat RETScreen Expert untuk mensimulasikan kinerja teknis, menganalisis kelayakan finansial, dan mengevaluasi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Kelayakan proyek dinilai menggunakan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Levelized Cost of Electricity (LCOE), payback period (PBP), analisis biaya–manfaat (BCR), serta estimasi penurunan GRK yang berpotensi dikonversi menjadi kredit karbon. Data iklim, asumsi finansial, dan spesifikasi teknis diperoleh melalui tinjauan pustaka, data sekunder, dan sumber regulasi. Hasil menunjukkan bahwa proyek layak secara finansial di berbagai skenario yang dianalisis, ditunjukkan dengan nilai NPV pada skenario dasar sebesar USD 604.946, IRR ekuitas pra-pajak 14%, periode pengembalian sederhana 8,1 tahun, dan BCR 1,3, serta untuk skenario terbaik, dengan penambahan kredit GRK, menghasilkan NPV sebesar USD 6.104.817, IRR ekuitas pra-pajak 43%, periode pengembalian sederhana 5 tahun, dan BCR 3,5. RETScreen terbukti efektif untuk diimplementasikan,.dalam pengembangan skenario, identifikasi parameter perancangan strategis, dan kajian kelayakan proyek.
ANALISIS TEKNO EKONOMI HIBRIDISASI PLTS – PLTD DAN EKSPANSI PLTS: STUDI KASUS SISTEM PULAU KARANRANG
PLN berperan aktif dalam mendukung transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) yang telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui peningkatan kapasitas terpasang pembangkit terbarukan dan program dedieselisasi. Pulau Karanrang yang mana sistem kelistrikannya saat ini masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam program dedieselisasi. Rencana pengembangan pembangkit di Pulau Karanrang mencakup integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan ekspansi kapasitas PLTS sebagai alternatif untuk mengurangi jam operasional PLTD. Dalam rangka mendukung program dedieselisasi, yaitu pengalihan pembangkit listrik dari berbasis diesel ke energi surya baik secara penuh maupun sebagian, diperlukan kajian menyeluruh dari sisi teknis, ekonomis maupun lingkungan. Tujuannya adalah untuk menentukan konfigurasi sistem yang paling optimal yang dilakukan dengan bantuan perangkat lunak PVsyst, HOMER, dan DIgSILENT. Terdapat empat skenario konfigurasi yang dianalisis, yaitu: ( 1) PLTD – PLTS Eksisting, (2) PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru, (3) PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru - Baterai, dan (4) Konfigurasi optimalisasi PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru - Baterai. Berdasarkan hasil kajian, skenario yang paling optimal dan berkelanjutan untuk diimplementasikan di pulau karanrang adalah skenario 3, yaitu kombinasi PLTD-PLTS eksisting-PLTS baru-Baterai. Konfigurasi ini terdiri dari sistem hybrid yang menggabungkan pembangkit PLTD (100 kW), pembangkit tenaga surya sebesar 382 kWp dan baterai berkapasitas 1.000 kWh. Dari sisi ekonomi, skenario ini memberikan hasil paling optimal dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 19,89% dan Payback Period selama 4,7 tahun. Total biaya investasi (NPC) mencapai 2,90 M USD dan Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar $0,219. Selain efisiensi biaya, konfigurasi ini juga mendukung pemanfaatan energi terbarukan dengan fraksi EBT mencapai 55,6%, yang mampu menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 48,26% dan mengurangi emisi CO? hingga 48%. Dari sisi teknis, tegangan dan frekuensi yang dihasilkan sistem ini berada dalam rentang yang sesuai dengan regulasi, yaitu tegangan rata-rata sebesar 0,3992 kV dan frekuensi 50,006 Hz.
ANALISIS TEKNO EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEM: STUDI KASUS DANAU TOBA
Perubahan iklim global menjadi isu paling mendesak di abad ke-21. Pemerintah Indonesia menetapkan target NZE pada tahun 2060 serta bauran EBT sebanyak 23% di tahun 2025. Pada penelitian ini dilakukan analisis potensi integrasi PLTS terapung dan BESS sebagai usaha mendukung program NZE, pengurangan biaya pokok penyediaan, peningkatan bauran energi bersih, dan peningkatan kehandalan sistem interkoneksi Sumatera. Studi dilakukan dengan mengambil lokasi Danau Toba sebagai kandidat lokasi PLTS terapung dan dilakukan simulasi berbasis perangkat lunak PVsyst untuk mengevaluasi produksi energi PLTS, HOMER Pro untuk mengevaluasi kelayakan investasi, dan DIgSILENT PowerFactory untuk mengevaluasi kestabilan sistem. Perhitungan kapasitas maksimum PLTS terapung Danau Toba menghasilkan nilai kapasitas sebesar 258 MWp. Simulasi teknis menggunakan PVsyst menunjukkan bahwa PLTS terapung 258 MWp mampu menghasilkan energi sebesar 346,5 GWh per tahun dengan Performance Ratio (PR) sebesar 82,9%. Simulasi keekonomian dengan HOMER Pro terhadap lima skenario integrasi PLTS dan BESS menunjukkan bahwa skenario S2 (Basecase + PLTS terapung 258 MWp + BESS 250 MW) menunjukkan hasil paling unggul, dengan nilai Levelized Cost of Electricity (LCOE) sebesar 1.347,49 Rp/kWh. Penambahan kapasitas lebih lanjut seperti pada skenario S5 (Basecase + PLTS terapung 1.032 MWp + BESS 1.000 MW) meningkatkan potensi pengurangan emisi CO?. Simulasi kestabilan sistem menggunakan DIgSILENT PowerFactory menunjukkan bahwa penambahan BESS meningkatkan stabilitas sistem kleistrikan Sumatera. Pada simulasi RMS fault, skenario S2 mencatat frekuensi nadir sebesar 49,99 Hz dan waktu pemulihan frekuensi 0 detik, jauh lebih baik dibandingkan skenario tanpa BESS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan PLTS terapung dan BESS di Danau Toba tidak hanya layak secara teknis dan ekonomis, tetapi juga mampu meningkatkan kehandalan sistem tenaga listrik Sumatera.
ANALISIS STRATEGI DIVERSIFIKASI PT BUKIT ASAM TBK KE PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (FOTOVOLTAIK) DI LOKASI PASCA-TAMBANG
Studi ini mengevaluasi kelayakan strategis diversifikasi bisnis PT Bukit Asam (PTBA) ke pengembangan pembangkit listrik tenaga surya utility scale (PLTS) di lahan pasca-pertambangan (SPV-PML), sejalan dengan transformasi jangka panjang perusahaan menuju menjadi perusahaan energi berkelanjutan. PTBA menghadapi tekanan yang semakin besar akibat penurunan industri batubara secara global, pemanfaatan lahan pasca-pertambangan yang belum optimal, dan kebutuhan mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Sebagai respons, PTBA menargetkan 30% pendapatan perusahaan berasal dari energi terbarukan pada tahun 2030, menjadikan SPV-PML sebagai salah satu inisiatif strategis dalam peta jalan jangka panjangnya (RJPP). Masalahnya adalah bagaimana upaya memastikan diversifikasi tersebut berhasil dan dapat memberikan nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Untuk itu, penulis mengusulkan solusi dengan menerapkan teori Porter’s Three Essential Tests sebagai kerangka kerja untuk menilai kelayakan diversifikasi ini. Porter’s Three Essential Tests terdiri dari tiga proses pengujian: Industry Attractiveness (mengevaluasi apakah industri baru secara struktural menarik dan menawarkan potensi keuntungan yang signifikan saat ini dan di masa depan), Cost of Entry (mengevaluasi apakah biaya masuk ke industri baru wajar dan tidak melebihi potensi keuntungan), dan Better-Off (Synergies) (memastikan bahwa diversifikasi akan menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi perusahaan, baik melalui sinergi strategis maupun penciptaan nilai jangka panjang). bagi manajemen upaya memastikan suatu kesuksesan strategi implementasi Bisnis merupakan bentuk kehatia-hatian sebagai mitigasi risiko kegagalan diversifikasi business. Hasil penelitian pada Industry Attractiveness Test menunjukkan bahwa industri PLTS utility scale di lahan pascatambang (SPV-PML) memiliki daya tarik menengah (saat ini) dan tinggi (dimasa depan), yang berarti masih sangat relevan untuk dimasuki oleh PTBA. Daya tarik ini diperkuat oleh dukungan pemerintah melalui RUPTL 2025–2034 yang menargetkan kapasitas energi surya sebesar 17,1 GW, di mana 87% dialokasikan kepada Independent Power Producers (IPP). PTBA memiliki posisi strategis terkait kepemilikan lebih dari 2.200 Ha lahan pascatambang, citra sebagai pelaku energi hijau (melalui afiliasi PT BEST dan PT BEI), akses terhadap teknologi solar yang maju, serta pengalaman dalam pembangunan infrastruktur energi. Cost of Entry Test, dilakukan untuk mengevaluasi kelayakan finansial dari tiga proyek yaitu : Bantuas, Tanjung Enim, dan Ombilin. Hasilnya masing-masing proyek memiliki nilai investasi (CAPEX) sebesar USD 159,94 juta dan menunjukkan kelayakan finansial yang kuat. Ketiganya mencatat IRR di atas standar kelayakan investasi, NPV yang positif, serta periode pengembalian modal yang dapat diterima. Tanjung Enim menjadi proyek paling menarik, dengan IRR proyek sebesar 13,37%, IRR ekuitas sebesar 19,93%, dan masa pengembalian selama 4,7 tahun. LCOE (Levelized Cost of Electricity) dari ketiga proyek berada di kisaran 5,77 hingga 6,28 sen USD/kWh, menjadikan PTBA tetap kompetitif dalam harga jual listrik. Better-Off Test menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara bisnis inti PTBA dan inisiatif SPV-PML. Selain keuntungan finansial, proyek ini menawarkan nilai strategis (potential economic of scope yang dapat disinergikan) melalui optimalisasi lahan pascatambang, peningkatan kompetensi SDM untuk operasional energi terbarukan, alih teknologi O&M, digitalisasi, serta keselarasan dengan prinsip ESG. Proyek ini diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan sebesar IDR 25,98 triliun selama 25 tahun, berkontribusi sekitar 2,2% terhadap total pendapatan PTBA dan mendukung pencapaian target kontribusi 30% dari sektor energi pada tahun 2030. Penelitian ini memberikan peta jalan strategis tidak hanya bagi PTBA, tetapi juga bagi perusahaan energi berbasis tambang lainnya di Indonesia. Analisis ini menunjukkan bagaimana evaluasi strategi yang terstruktur dapat membantu pengambilan keputusan yang efektif, meminimalkan risiko investasi, dan sekaligus mendorong keberlanjutan jangka panjang.