πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 84 dokumen

PENDEFINISIAN GARIS LURUS DALAM PENARIKAN BATAS LAUT

Penetapan batas laut suatu Negara berdasarkan UNCLOS 1982 (laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen) ditarik dari garis pangkal sejauh yang telah ditetapkan dalam UNCLOS 1982 kearah laut lepas. Penarikan batas laut tersebut tidak disertakan dengan bidang referensi yang digunakan, baik itu di permukaan bumi, geoid, elipsoid, maupun proyeksi peta. Reduksi jarak dari permukaan bumi ke permukaan elipsoid menggunakan formula hitungan geodetik dan hasil reduksi tersebut digunakan untuk hitungan pada sistem proyeksi peta UTM dan Mercator. Reduksi jarak dari permukan bumi ke bidang elipsoid tidak mengalami reduksi/tidak signifikan karena ketinggian geodetiknya adalah nol, sehingga permukaan bumi berimpit dengan elipsoid. Reduksi pada sistem proyeksi Mercator untuk semua penarikan batas laut melebihi batas toleransi ketelitian pengeplotan titik baik berdasarkan skala yang di rekomendasikan TALOS maupun skala peta laut Indonesia. Sistem Proyeksi UTM, untuk laut teritorial dan zona tambahan tidak signifikan terhadap skala UNCLOS maupun skala peta Indonesia. Sedangkan ZEE dan Landas Kontinen diperolah hasil yang signifikan terhadap skala peta TALOS dan skala peta laut Indonesia. Hasil reduksi jarak dengan menggunakan formula hitungan geodetik di permukaan elipsoid, sistem proyeksi peta UTM dan Mercator diperoleh hasil yang berbeda sehingga pendefinisian penarikan batas laut terhadap bidang acuan sangat dipelukan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Diyah Purnama Sari
🏷️ Geodesi 🏷️ Proyeksi Peta 🏷️ Unclos 1982

INVESTIGASI PENGGUNAAN DENSITAS LATERAL PADA PEMODELAN GEOID

Perkembangan teknologi telah mendorong bidang geodesi menuju pengukuran dan pemodelan berpresisi tinggi. GNSS (Global Navigation Satellite System) menjadi teknologi utama dalam penentuan posisi di Indonesia karena menawarkan kemudahan penggunaan, efisiensi, serta akurasi orde milimeter hingga sentimeter, sehingga sangat mendukung berbagai aplikasi survei modern. Namun, meskipun GNSS sangat efektif untuk penentuan posisi horizontal, penggunaannya dalam penentuan tinggi masih menghadapi kendala karena GNSS hanya menghasilkan tinggi elipsoidal yang merujuk pada ellipsoid referensi, bukan pada permukaan fisik Bumi. Untuk aplikasi praktis seperti pemetaan, konstruksi, dan survei hidrografi, diperlukan tinggi ortometrik yang mengacu pada geoid sebagai permukaan referensi vertikal. Penelitian ini mengkaji pengaruh penerapan variasi densitas lateral dalam pemodelan geoid untuk Pulau Jawa, Indonesia, dengan tujuan meningkatkan akurasi penentuan geoid regional. Pemodelan geoid pada umumnya mengasumsikan densitas konstan sebesar 2.670 kg/m3. Namun demikian, keragaman topografi serta kompleksitas geologi Pulau Jawa mengindikasikan bahwa variasi densitas dapat memengaruhi akurasi model geoid yang dihasilkan. Anomali gayaberat dalam penelitian ini diperoleh dari kombinasi data gayaberat terestris, gayaberat airborne, serta kontribusi komponen gelombang pendek (short wavelength) yang dihitung menggunakan data topografi SRTM 3? untuk wilayah daratan dan SRTM 15?+ untuk wilayah laut. Adapun komponen gelombang panjang (long wavelength) diperoleh dari model geopotensial global EGM2008. Pemodelan geoid dilakukan menggunakan metode Remove Compute Restore (RCR) dengan pendekatan Stokes Helmert 2nd condensation, serta komputasi integral Stokes menggunakan metode 1-Dimensional Fast Fourier Transform (1D FFT). Dua model geoid yang dikembangkan, masing-masing menggunakan densitas konstan 2.670 kg/m3 dan varias densitas lateral dari model UNB_TopoDens. Hasil validasi terhadap data GNSS/leveling menunjukkan bahwa variasi densitas lateral memberikan pengaruh minimal pada wilayah dengan topografi datar, tetapi menghasilkan perbedaan yang lebih signifikan pada daerah dengan perubahan elevasi yang besar. Secara khusus, model dengan variasi densitas menunjukkan perbedaan geoid lokal hingga 30 cm pada wilayah dengan topografi kompleks, yang menegaskan pentingnya pemilihan model densitas untuk penentuan geoid. Meskipun demikian, validasi lanjutan melalui model geoid geometrik tetap diperlukan untuk mengonfirmasi peningkatan akurasi secara menyeluruh di sepanjang wilayah penelitian.

2026
πŸ‘€ Penulis: Quinoza Guvil
🏷️ Geodesi 🏷️ Pemetaan Geoid 🏷️ Gnss (Global Navigation Satellite System)

ANALISIS PEMETAAN DELAY TROPOSFER, WILAYAH SUMATERA MENGGUNAKAN DATA GPS KONTINYU, SUMATERA GPS ARRAY (SUGAR)

Sinyal GPS mengalami refraksi atau pembiasan dalam perjalanannya dari satelit ke antena receiver ketika melalui lapisan troposfer. Besarnya penyimpangan jarak akibat perlambatan waktu tempuh sinyal GPS saat melewati lapisan troposfer, umumnya disebut sebagai delay troposfer. Delay troposer pada arah zenith disebut dengan Zenith Total Delay. ZTD terdiri dari komponen hidrostatik, Zenith Hydrostatic Delay dan komponen basah, Zenith Wet Delay. Besaran ZTD ini selain digunakan sebagai faktor koreksi terhadap ukuran jarak dari satelit ke antena, khususnya dalam aplikasi geodesi yang membutuhkan ketelitian tinggi, dapat juga digunakan sensor meteorologis di suatu lokasi pengamatan. Tugas akhir ini akan mengulas beberapa teori dasar mengenai bias troposfer pada sinyal GPS serta akan mengestimasi nilai ZTD pada titik di Sumatera menggunakan data pengamatan GPS kontinyu SUGAR, Sumatera GPS Array. Nilai ZTD dari data GPS dihitung menggunakan software Bernese 5.0. Metode pengolahan dilakukan dengan 2 cara, pertama dengan menggunakan mode jaring β€œobsmax” atau jaring optimal yang dibuat oleh software. Kedua, pengolahan dilakukan secara single baseline untuk tiap stasiun. Sebelumnya, untuk memutuskan model troposfer apa yang paling cocok digunakan, pada pengolahan secara jaring obsmax, diterapkan 2 model troposfer yang berbeda yaitu model Niell dan Hopfield. Untuk kemudian dibandingkan terhadap nilai ZTD pada titik BAKO dan NTUS yang diestimasi oleh IGS. Nilai estimasi ZTD pada titik BAKO dan NTUS yang dihasilkan menggunakan model Hopfield umumnya lebih mendekati nilai solusi dari IGS dengan nilai rerata selisih antara solusi IGS dengan hasil pengolahan menggunakan model hopfield sebesar 7 mm untuk titik BAKO dan 9 mm untuk titik NTUS. Sedangkan penggunaan model Niell menghasilkan nilai selisih sebesar 18 mm untuk titik BAKO dan 16 mm untuk titik NTUS. Sehingga pengolahan selanjutnya dilakukan mengunakan model Hopfield. Nilai ZTD yang dihasilkan dari hitungan secara jaring umumnya menghasilkan nilai yang lebih besar sekitar 10 cm sampai 20 cm terhadap hasil hitungan menggunakan single baseline. Metode single baseline kemudian akan digunakan pada proses hitungan selanjutnya. Selain itu tugas akhir ini akan menunjukkan perbedaan pola ZTD pada masing-masing titik pengamatan di Sumatera, dan pemilihan titik ikat untuk masing-masing itik pengamat terkait dengan hitungan secara single baseline tersebut.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ade Rafianto
🏷️ Geodesi 🏷️ Hidrologi Meteorologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENENTUAN BEDA TINGGI GEODETIK MENGGUNAKAN GPS UNTUKPENENTUAN TINGGI ORTHOMETRIK

Hingga saat ini, ketelitian komponen vertikal dari penentuan posisi menggunakan GPS tidak sebaik komponen horisontalnya yang diakibatkan oleh bias dan kesalahan yang ada. Untuk memperoleh komponen vertikal (tinggi geodetik) yang memiliki kualitas yang baik pada penentuan posisi menggunakan GPS, maka bias dan kesalahan yang ada harus dapat tereduksi secara optimal. Untuk dapat mereduksi bias dan kesalahan yang ada dapat dilakukan dengan melakukan metoda pengamatan dan metoda pengolahan data yang baik. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data menggunakan metoda GPS diferensial moda radial dari satu titik ikat. Pengolahan data dilakukan secara β€œsingle baseline” menggunakan perangkat lunak Bernese 5.0 dan TGO 1.62 dengan melakukan pengoreksian serta pengestimasian bias dan kesalahan secara optimal sesuai dengan kemampuan algoritma pengolahan data yang digunakan. Data yang digunakan adalah data dalam fungsi baseline dan lama pengamatan, sehingga dari pengolahan data dapat dihasilkan nilai beda tinggi geodetik dalam variasi spasial dan temporal. Dari hasil pengolahan data, semakin pendek baseline pengamatan dan semakin lama pengamatan, maka kualitas nilai beda tinggi geodetik akan semakin baik dilihat dari variasi nilai beda tinggi geodetik. Pada baseline pengamatan yang lebih panjang dengan lama pengamatan yang lebih pendek dihasilkan kualitas beda tinggi geodetik yang kurang baik. Hal ini disebabkan karena bias dan kesalahan seperti bias troposfir, kesalahan orbit, multipath, dan lainnya tidak dapat tereduksi dengan optimal. Dari bias dan kesalahan tersebut, bias troposfer memberikan dampak yang lebih dominan karena belum dapat tereduksi secara optimal. Dilihat dari segi perangkat lunak yang digunakan, perangkat lunak Bernese 5.0 memberikan kualitas tinggi geodetik yang lebih baik daripada penggunaan perangkat lunak TGO 1.62

2026
πŸ‘€ Penulis: Angga Trysa Yuherdha
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Gps 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN BATAS MARITIM INDONESIA - SINGAPURA PADA SEGMEN TIMUR

To maintain the integrity and ensure the sovereignty of the Unitary Republic of Indonesia, it is necessary to determine the boundary region firmness in Indonesia, especially the sea borders (maritime boundary). From the Indonesian side there are some cases of unresolved maritime borders, one of them is Indonesia towards Singapore's maritime boundary. Maritime boundary between these two country has been agreed to West and Central segments and it still leaves 1 (one) other segment, the Eastern segment, which until now has not been resolved and still being negotiated. In this study conducted maritime delimitation Indonesia - Singapore on East segment by using the principle of equal distance (Equidistant Principle) and assessed according to the 1982 UNCLOS. The results of this study was obtained 5 (five) median points which form the median line as the maritime boundary between Indonesia and Singapore. The median line is divided into 2 (two) segments, there are Eastern-1 and Eastern-2 segment due to the region of Trijunction Point. Another thing that is found in this study is the difference in geodetic datum which is used in the Eastern segment compared with the Central segment.

2026
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Hamdanis
🏷️ Geodesi 🏷️ Perjanjian Laut 🏷️ Pengaturan Batas Maritim

TRANSFORMASI PETA (PROYEKSI UTM) DARI DATUM LOKAL KE DATUMGEODESI NATIONAL 1995 (DGN'95) PADA PETA PEMBAHASAN LAHAN DIWILAYAH KANTOR PETROLEUM SA (STUDI KASUS : LAPANGAN MELIBUR)

Peta-peta pembebasan tanah di wilayah kerja Kondur Petroleum SA dilihat pada tahun 1989-1990 dengan proyeksi UTM, tetapi tidak mencantumkan datum geodesi horizontal yang digunakan. Sedangkan Indonesia menggunakan georeferensi standar nasional yaitu Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN ?95). Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan datum lokal yang digunakan dan transformasi datum dari datum lokal ke DGN ?95. Metodologi yang dilakukan pada tugas akhir ini adalah mengidentifikasi peta-peta pembebasan lahan yang ada (peta lama), registrasi peta, kemudian mengidentifikasi titik-titik batas pada peta pembebasan tanah, dan pemeriksaan datum geodesi horizontal yang digunakan. Kemudian mengidentifikasi titik-titik batas yang dimaksud, pada peta Bakosurtanal dengan proyeksi UTM – Datum Indonesia 1974 (DI ?74), karena peta Bakosurtanal dengan proyeksi UTM – DGN ?95 untuk daerah penelitian pada waktu penelitian dimulai belum ada. Nilai koordinat titik-titik batas yang diperoleh berbeda dengan nilai koordinat pada peta lama, sehingga peta lama tidak menggunakan datum Indonesia 1974. Oleh sebab itu untuk memperoleh peta-peta pembebasan tanah di wilayah kerja Kondur Petroleum SA dengan proyeksi UTM – DGN ?95, dilakukan tahapan, yaitu mengasumsikan bahwa datum geodesi lokal pada peta lama menggunakan elipsoid referensi Bessel 1841, melakukan transformasi datum dari datum lokal dengan elipsoid referensi Bessel 1841 ke datum Indonesia 1974 (DI ?74) pada titik-titik batas, melakukan transformasi datum dari datum Indonesia 1974 ke DGN ?95 pada titik-titik batas tanah, melakukan transformasi datum dari datum lokal dengan elipsoid referensi Bessel 1841 ke DGN ?95 pada peta, dan melakukan verifikasi terhadap citra satelit. Setelah itu membandingkan hitungan selisih koordinat proyeksi UTM dan pergeseran (?D) terhadap 4 titik sekutu yang dijadikan sebagai kontrol hitungan. Berdasarkan penelitian tugas akhir ini disimpulkan bahwa peta-peta pembebasan tanah dapat diasumsikan sebagai datum relatif dengan elipsoid referensi Bessel 1841. Koordinat titik-titik hasil transformasi tidak dapat diaplikasikan untuk 1:1000. Koordinat titik-titik hasil transformasi hanya dapat diaplikasikan pada peta dengan skala peta ? 1 : 160.000.

2026
πŸ‘€ Penulis: Sabri Fathoni Hardi
🏷️ Geodesi 🏷️ Transformasi Datum 🏷️ Peta Geografis

KAJIAN PENGARUH JUMLAH TITIK IKAT TERHADAP KETELITIAN POSISI PADA PENGUKURAN GPS MENGGUNAKAN METODE JARING TERTUTUP DANJARING RADIAL

GPS (Global Positiong System) adalah penentuan posisi secara reseksi (ikatan kebelakang) dengan jarak atau pengukuran jarak secara simultan kebeberapa satelit yang koordinatnya telah diketahui. Penentuan posisi menggunakan GPS sangat diperlukan dalam berbagai aplikasi yang berbeda. Metode yang digunakan dalam pengukuran adalah metoda jaring tertutup dan metoda jaring radial dimana berdasarkan SNI 19-6724-2002 bahwa jaring tertutup adalah metode yang seharusnya digunakan dalam survei GPS. Pada penelitian tugas akhir ini dilakukan Penambahan titik ikat dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dan kinerja dari metode jaring tertutup dan jaring radial terhadap ketelitian posisi yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh dari tugas akhir ini adalah selisih koordinat UTM pada kedua metode tersebut dalam fraksi milimeter sampai centimeter, penambahan titik ikat meningkatkan presisi atau nilai standar deviasi baseline maupun koordinat, metode jaring tertutup 2 titik ikat memiliki nilai terkecil berdasarkan perbandingan sudut jurusan dan jarak terhadap sudut jurusan dan jarak pada terestris dan juga berdasarkan perbandingan nilai transformasi affine metode jaring tertutup 2 titik ikat memiliki nilai terbaik dari semua metode. Dari tugas akhir ini disimpulkan bahwa secara umum metode jaring tertutup 2 titik ikat memiliki ketelitian posisi lebih baik.

2026
πŸ‘€ Penulis: Jonifer
🏷️ Geodesi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Metodologi Pengukuran Gps

STUDI AKUMULASI MOMEN SEISMIK, MODEL PERULANGAN, DAN ESTIMASI FUNGSI BAHAYA GEMPA: STUDI KASUS SEGMEN TORU, SESAR SUMATRA

Pulau Sumatra adalah pulau terbesar keenam di dunia dan ketiga di Indonesia dengan luas 475,807.63 km2. Secara tektonik, Pulau Sumatra memiliki zona subduksi yang terbentuk akibat interaksi antara lempeng samudera Indo-Asutralia yang bergerak menunjam ke bawah lempeng benua Eurasia. Selain itu, Pulau Sumatra memiliki Zona Sesar Sumatra (SFZ) dengan panjang 1900 km yang melengkung di bagian ujung Selatan dan menjadi pusat rekahan di bagian ujung Utara. Kedua zona tersebut menjadi sumber utama gempa-gempa besar yang terjadi di Pulau Sumatra. Pada penelitian ini, Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) untuk Sesar Sumatra khususnya Segmen Toru dan sekitarnya diestimasi menggunakan data katalog yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan data geologi dan geodesi. Perbedaan nilai estimasi fungsi bahaya seismik berdasarkan data geologi dan geodesi kemudian di fitting dengan data katalog untuk menghasilkan persentase kalibrasi yang sesuai. Parameter ini kemudian digunakan untuk mengestimasi fungsi bahaya seismik di Kota Sibolga yang berjarak 48.18 km untuk rentang magnitudo 4.6 hingga 7.4 selama periode 50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan jika persentase kalibrasi yang merepresentasikan jumlah total energi yang dilepaskan saat terjadi gempa dari total energi yang diakumulasi pada saat penguncian sesar hanya sebesar 3% untuk data geodesi dan 4% untuk data geologi. Selanjutnya, nilai probabilitas yang tinggi teramati di pusat Segmen Toru sesuai dengan data persebaran episenter gempa berdasarkan data katalog yang diestimasi menggunakan metode maximum likelihood. Pemahaman terkait sumber dan fungsi bahaya seismik yang dilakukan pada penelitian ini dapat membantu kita mengenali sifat fisis fenomena gempa bumi yang terjadi untuk pemantauan risiko dan penyusunan rencana mitigasi bencana.

2026
πŸ‘€ Penulis: Adi Syahwal Ganda Diputra
🏷️ Seismologi 🏷️ Analisis Kejadian Seismik 🏷️ Geodesi

PENGUKURAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)UNTUK STUDI DEFORMASI KAWASAN GUNUNG MURIA DALAM RANGKA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan salah satu sumber energi alternatif. Salah satu lokasi di sekitar Gunung Muria direncanakan menjadi PLTN di Indonesia. Pemilihan lokasi pembangunan PLTN harus pada lokasi yang aman dari kemungkinan terjadinya gempa yang disebabkan oleh pergerakan lempeng maupun aktivitas vulkanik. IAEA (International Atomic Energy Agency) memberikan garis besar panduan keselamatan lokasi yang aman untuk dibangun PLTN, yaitu pada lokasi pergerakan lempeng yang stabil dianggap tidak terjadi deformasi. Dengan demikian, dilakukan metode survei GPS untuk mencari vektor pergeseran, regangan, serta menganalisis pola deformasi. Data pengukuran GPS yang digunakan adalah data GPS kontinu yang dikelola BIG sebanyak empat titik di sekitar Gunung Muria tahun 2010 sampai tahun 2012 dan data pengukuran berkala lima titik pada lokasi Gunung Muria sebanyak 3 kala pada bulan November 2011, Januari 2013, dan September 2013 dengan lama pengamatan 12 jam. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0 dengan metode radial terhadap ITRF 2008. Setelah nilai vektor pergeseran yang dihasilkan dinyatakan lolos oleh uji statistik, maka akan didapat vektor pergeseran dan nilai regangan. Hasil pengolahan data pengukuran kontinu menunjukkan hasil nilai vektor kecepatan pergeseran sekitar 2 mm/tahun Β± 1mm ke arah tenggara, sedangkan pengolahan data pengukuran berkala pada Gunung Muria nilai kecepatan pergeserannya sekitar 5 mm/tahun Β± 4mm ke arah barat daya dengan nilai regangan maksimum sekitar 8.8x10-7strain. Berdasarkan nilai regangan yang didapat, kawasan Gunung Muria termasuk kedalam kawasan pergerakan lempeng yang stabil.

2026
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Rachman Hakim
🏷️ Geodesi 🏷️ Manajemen Risiko Gempa Bumi 🏷️ Analisis Deformasi Geologi

PENENTUAN SLIP RATE PADA SESAR SUMENEP, INDONESIA, MENGGUNAKAN INTEGRASI INSAR DAN GNSS

Segmen Sumenep yang merupakan bagian dari sistem sesar Rembang-MaduraKangean-Sakala (RMKS) di bagian timur Pulau Madura adalah struktur aktif yang berpotensi menghasilkan gempa bumi merusak. Laju gerak dan kedalaman kuncian segmen Sumenep diestimasi untuk pertama kalinya dengan mengintegrasikan data deret waktu InSAR Sentinel-1 dan pengukuran deret waktu GNSS. Lebih dari 1600 interferogram Sentinel-1 diproduksi dan dianalisis menggunakan layanan pemrosesan InSAR berbasis komputasi awan (HyP3) untuk menurunkan kecepatan deformasi line of sight (LOS) ascending dan descending. Selanjutnya, kecepatan LOS ascending dan descending didekomposisikan menjadi komponen kecepatan arah timur-barat dan vertikal. Kecepatan horizontal GNSS diestimasi untuk dua stasiun (CSMN dan CPMS) melalui regresi linier terhadap data deret waktu stasiun tersebut. Kecepatan arah timur-barat hasil pengolahan deret waktu InSAR dan GNSS kemudian dimodelkan menggunakan model skrew dislokasi, dengan rentang parameter sesar yang diestimasi menggunakan sample Markov Chain Monte Carlo (MCMC). Hasil pemodelan menunjukkan estimasi laju gerak sebesar 6.9 mm/tahun dan kedalaman kuncian sebesar 5.0 km, dengan interval kepercayaan 90% untuk rentang laju gerak 6.0-8.4 mm/tahun dan rentang kedalaman kuncian 3.3-7.7 km, serta asumsi periode ulang sebesar 200 tahun. Parameter yang telah diestimasikan menunjukkan bahwa sesar ini mampu menghasilkan gempa bumi dengan magnitudo sebesar Mw 6.6 (rentang 6.5-6.9 pada interval kepercayaan 90%). Hasil penelitian ini merupakan estimasi pendekatan geodetik pertama untuk sesar Sumenep dan dapat dijadikan parameter penting dalam meningkatkan penilaian potensi seismik di Pulau Madura dan wilayah sekitarnya.

2026
πŸ‘€ Penulis: Tasya Mutiara Dewi
🏷️ Geodesi 🏷️ Sesar Sumenep 🏷️ Analisis Insar

PENENTUAN TITIK-TITIK GARIS PANGKAL KEPULAUAN INDONESIA MENGGUNAAKAN UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) DENGAN PENDEKATAN STRUCTURE FROM-MOTION (SFM)

Sebagai negara kepulauan, Indonesia berhak membuat garis pangkal kepulauan untuk menentukan klaim terhadap batas lautnya. Salah satu aspek teknis yang krusial untuk negara kepulauan dalam menetapkan garis pangkal kepulauan adalah titik-titik garis pangkal kepulauan. Titik-titik garis pangkal kepulauan adalah titik yang berada disepanjang garis pangkal, yang merupakan posisi terjadinya perubahan arah dari garis pangkal. Untuk mendapatkan lokasi titik-titik garis pangkal kepulauan yang optimal Indonesia telah melakukan survei pada tahun 1989 dan menghasilkan sebanyak 195 titik yang dipublikasikan dalam PP 38 tahun 2002 dan PP 37 tahun 2008. Setelah lebih dari 30 tahun sejak dilakukan survei titik-titik garis pangkal kepulauan, ditemukan titik-titik berada pada lokasi yang tidak memenuhi kriteria dari UNCLOS 1982. Mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas dengan 195 titik-titik garis pangkal kepulauan, mengakibatkan kegiatan survei untuk memperbaharui titik dasar membutuhkan biaya yang besar serta waktu yang panjang. Selain itu, beberapa wilayah di Indonesia tidak memungkinkan untuk dilakukan survei secara terestris. Oleh karena itu diperlukan metode survei yang dapat mengatasi masalah tersebut. Pemetaan menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Structure-From Motion (SfM) dapat menghasilkan data topografi pada area pesisir dan perairan dangkal dengan kualitas yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Structure-From Motion (SfM) menghasilkan ketelitian vertikal mencapai 0,209 m. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa metode pemetaan menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Structure-From Motion (SfM) dapat digunakan untuk menentukan titik-titik garis pangkal kepulauan dan memenuhi spesifikasi peta 1 : 5000 kelas 1. Dari hasil penelitian yang dilakukan, Indonesia mempunyai potensi penambahan luas wilayah sebesar 12 km persegi untuk wilayah perairan pedalaman (internal water).

2026
πŸ‘€ Penulis: Eko Prasetiyo
🏷️ Geodesi 🏷️ Peta Digital 🏷️ Mekanisme Pemetaan Teritorial

PEMODELAN TIGA DIMENSI BENDUNGAN DARMA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER

<p align="justify">Tilt Compensator pada penentuan posisi metode Real-Time Kinematic (RTK) telah dikembangkan menggunakan sensor Inertial Measrument Unit (IMU) dan Micro Electromechanical System (MEMS) yang dapat mendeteksi pergerakan dan kemiringan dari pole. Penggunaan tilted-RTK dapat memberikan keuntungan dimana receiver tidak perlu berdiri secara tegak sehingga dapat menghindari obstruksi seperti kanopi atau pohon lebat dan mendapatkan sinyal satelit yang lebih banyak. Kemampuan mendeteksi kemiringan pada tilted-RTK merupakan tujuan dari penelitian kali ini, yaitu untuk mengetahui akurasi dari tilted-RTK dari nilai selisih dengan koordinat acuan dan uji statistik. Metodologi yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah melakukan perhitungan selisih jarak antara koordinat yang diakuisisi menggunakan tilted-RTK dan referensi. Data yang digunakan merupakan data primer di Institut Teknologi Bandung, yang terbagi menjadi 3 area, yaiut area terbuka, area pinggir gedung, dan area persil tanah. Untuk setiap area, konstelasi satelit yang digunakan adalah GNSS, GPS+Beidou, dan GPS, dengan kemiringan 15Β°, 30Β°, 45Β°, 55Β°, dan 60Β°. Kemudian akan dilakukan perhitungan RMSE dari selisih yang telah dihasilkan yang akan dikelompokkan berdasarkan area, kemiringan, dan konstelasi satelit. Hasil dari penelitian kali ini adalah akurasi yang cukup baik yang dihasilkan oleh tilted-RTK, dengan rentang nilai 1–12-sentimeter untuk horizontal dan 1–14-sentimeter untuk vertikal, dengan kemiringan yang semakin kecil dan kombinasi konstelasi satelit yang banyak akan memberikan akurasi yang cukup baik.

2026
πŸ‘€ Penulis: Mohammad Muzamil
🏷️ Kartografi Numerik 🏷️ Geodesi 🏷️ Sensor Inertial

KAJIAN ASPEK TEKNIS DALAM KAITANNYA DENGAN INTEGRASI DARAT DAN LAUT PADA PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT

Pipa bawah laut yang merupakan sebuah infrastruktur yang dibangun dengan teknologi yang membutuhkan pemahaman keilmuan yang mendalam serta biaya yang relatif besar memerlukan suatu perlakuan khusus, yaitu dalam hal proses perencanaan pemasangan pipa bawah laut sampai proses perawatan pipa tersebut. Dalam proses pemasangan pipa di daerah pesisir harus dilihat aspek-aspek teknis yang ada, tidak hanya aspek yang ada di lautan saja namun juga kita harus melihat aspek daerah pesisir (daratan).Adapun aspek-aspek teknis yang terkait diantaranya datum vertikal, datum horisontal, sistem proyeksi, skala dan satuan jarak. Metode yang digunakan adalan analisis kajian aspek-aspek teknis yang digunakan serta kelemahan dan kelebihannya. Dalam hal ini terutama yang dibahas adalah permasalahan perbedaan datum vertikal antar pulau (Pulau Jawa dan Sumatera).Setelah dilakukan anilisis maka didapat kan solusi dari masalah-masalah yang terjadi. Selain itu juga permasalahan perbedaan datum vertikal dapat diselesaikan dengan visualisasi dan perumusan, sehingga dapat mempermudah dalam penentuan aspek-aspek teknis yang sesuai dalam proses pemasangan jalur pipa bawah laut (Jawa-Sumatera).

2026
πŸ‘€ Penulis: ADE TEAWARMAN (NIM 15105023); Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT., dan Ir. Eri Busoeri, MM.
🏷️ Geodesi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Teknis

PEMBANGUNAN TITIK TETAP REFERENSI TINGGI UNTUK KEGIATAN SURVEI PEMETAAN DAN REKAYASA DI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Titik tetap referensi tinggi sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan survei pemetaan dan rekayasa, sebagai acuan referensi ketinggian. Namun dengan adanya peristiwa penurunan muka tanah yang sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, maka titik-titik tetap tersebut juga mengalami penurunan dan sudah tidak merepresentasikan nilai ketinggiannya. Dengan demikian, diperlukan titik tetap referensi tinggi yang stabil terhadap peristiwa penurunan muka tanah tersebut. Berdasarkan pengamatan para ahli, penurunan muka tanah terjadi disebabkan oleh pengambilan air di sumur yang berlebih, beban bangunan, kompaksi tanah, dan tektonik. Penurunan muka tanah tersebut berlangsung diantara lapisan permukaan tanah dan lapisan akuifer tempat air tanah berada.Metode penelitian tugas akhir ini melakukan pengamatan GPS statik pada titik-titik tetap yang telah dibangung dengan pondasi tertentu, pengamatan GPS setidaknya dua tahun sebagai penguji kestabilan titik tersebut. Data hasil pengamatan tersebut diolah menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0, kemudian nilai tinggi titik tetap hasil pengolahan tersebut diamati perubahannya. Perubahan tinggi yang terjadi pada titik-titik yang dibangun dengan pondasi mencapai kedalaman 400 meter di bawah permukaan tanah tersebut, tidak signifikan, hanya dalam level milimeter, dan perubahan tersebut berada pada interval koreksi pengamatan GPS. Dengan demikian, titik-titik tersebut dapat dinyatakan stabil dan layak digunakan sebagai titik tetap refrensi tinggi di DKI Jakarta.

2026
πŸ‘€ Penulis: SALMAN AL FARISI PANJAITAN ( NIM : 15108002 )
🏷️ Geodesi 🏷️ Pengolahan Data Geografi 🏷️ Analisis Teknik Gps

PENENTUAN DATUM PASUT DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sejumlah datum pasut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, dengan menggunakan data tinggi muka air laut. Datum pasut yang ditentukan adalah berupa HAT (Highest Astronomical Tide), MSL (Mean Sea Level), dan LAT (Lowest Astronomical Tide). Metodologi yang diterapkan agar diperoleh nilai LAT adalah dengan cara melakukan analisis harmonik terhadap data tinggi muka air laut selama 10 bulan. Berdasarkan analisis harmonik tersebut, didapatkan nilai MSL serta 59 komponen pasut dilengkapi dengan nilai Amplitudo, Fase, dan SNR (Signal to Noise Ratio). Kemudian, dilakukan prediksi pasut selama 18,6 tahun dengan komponen pasut tersebut. Dalam melakukan prediksi, komponen pasut yang digunakan adalah komponen yang memiliki nilai SNR lebih besar dari 2. Setelah diperoleh data prediksi pasut selama 18,6 tahun, maka nilai HAT dan LAT dapat ditentukan dengan memilih nilai ketinggian tertinggi dan terendah dalam selang data prediksi tersebut. Sedangkan MSL didapatkan dengan menghitung rata-rata tinggi model prediksi pasut selama 18,6 tahun. Nilai HAT, MSL, dan LAT yang didapatkan adalah sebesar -480,0 cm, -547,9 cm, dan -601,6 cm mengacu kepada nol alat, dengan standar deviasi sebesar +9,3 cm. Tingkat keterandalan dari datum pasut tersebut dapat diketahui secara kualitatif berdasarkan jumlah komponen pasut yang terlibat dalam melakukan prediksi pasut, yaitu sebanyak 45 komponen pasut.

2026
πŸ‘€ Penulis: RIFAKHRYZA AQFALA MUGIARAYA (NIM: 15109054); Pembimbing: Dr.rer.nat. Poerbandono
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Meteorologi
Halaman 2 dari 6
πŸ’¬