πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 124 dokumen

INTEGRASI METODE GRAVITASI DAN MAGNETIK UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DI AREA β€œCARLOS”, BANGKA SELATAN

Pulau Bangka merupakan bagian dari Paparan Sunda yang memiliki kondisi geologi kompleks akibat aktivitas tektonik dan magmatisme sejak Mesozoikum. Proses geologi tersebut menghasilkan berbagai satuan batuan sedimen, metamorf, serta intrusi granit yang berkaitan dengan perkembangan sistem struktur geologi regional seperti sesar geser dan sesar normal. Namun, kondisi geomorfologi tropis dengan tingkat pelapukan tinggi serta keterbatasan singkapan batuan menyebabkan identifikasi struktur geologi berdasarkan data permukaan menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, metode geofisika digunakan untuk memperoleh informasi kondisi bawah permukaan secara lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginterpretasi struktur geologi bawah permukaan di area β€œCarlos”, Bangka Selatan melalui integrasi metode gravitasi dan magnetik. Data yang digunakan berupa data gravitasi dan magnetik hasil akuisisi PT Timah Tbk. Tahapan pengolahan meliputi perhitungan anomali gravitasi dan magnetik, analisis spektral menggunakan metode Radially Averaged Power Spectrum (RAPS) untuk estimasi kedalaman sumber anomali, pemisahan anomali regional dan residual menggunakan filter Moving Average dan Butterworth, serta analisis derivative untuk menegaskan batas dan kelurusan anomali. Selanjutnya dilakukan pemodelan ke depan (forward modelling) 2,5D pada penampang terpilih untuk memperoleh geometri dan distribusi sifat fisik batuan bawah permukaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola anomali residual gravitasi dan magnetik yang berkorelasi dengan keberadaan struktur geologi berupa sesar dan zona rekahan yang berkembang di area penelitian. Integrasi kedua metode ini menghasilkan model bawah permukaan yang menggambarkan distribusi kontras densitas dan kemagnetan batuan, sehingga dapat digunakan untuk menginterpretasi pola struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian secara lebih komprehensif.

2026
πŸ‘€ Penulis: Bilalos Tenggoro Angin
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Struktur Geologi 🏷️ Metode Gravitasi Dan Magnetik

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK KINEMATIK GPS UNTUK PENGAMATANDEFORMASI LEMPENG BUMI

Setiap penentuan posisi menggunakan metode GPS memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat ketelitian, seperti panjang baseline pengamatan, problem penentuan ambiguitas fase secara on-the-fly, kelambatan akibat medium propagasi di atmosfer, cycle slip, serta bias residual lainnya. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian kualitas data pengamatan kinematik GPS pada suatu jaring yang telah ditentukan sehingga diperoleh nilai ketelitian data agar dapat memberikan gambaran kualitas data pengamatan. Dari hasil pengolahan dengan menggunakan RTKLIB diperoleh gambaran ketelitian berupa nilai residu dan nilai variansi. Hasil simulasi pengamatan kinematik GPS menunjukkan bahwa semakin panjang baseline pengamatan maka semakin besar nilai residu dan nilai variansinya. Untuk panjang baseline 400 m nilai residu sebesar 1-2 cm dan nilai variansi berkisar diantara 0.01-0.02 cm2; untuk panjang baseline 7.1 km nilai residu berkisar diantara 0-13 cm dengan variansi sebesar 0.20-0.21 cm2; dan untuk panjang baseline 94.9 km nilai residu berkisar diantara 14-120 cm dan nilai variansi sebesar 0.47-0.97 cm2. Kemungkinan terjadinya perbedaan dengan nilai akibat ketidak-akuratan data pengamatan dengan nilai yang sebenarnya sebesar 0.5 cm. Menurut hasil penelitian, pada panjang baseline yang relatif pendek (dibawah 10 km), penggunaan kombinasi model koreksi ionosfer Estimated Slant Total Electron Content dan koreksi troposfer Saastamoinen memberikan hasil yang terbaik. Sedangkan untuk baseline dengan panjang dibawah 100 km penggunaan model koreksi troposfer Zenith Total Delay memberikan hasil terbaik. Dengan mengetahui karakteristik kinematik GPS diharapkan deformasi lempeng bumi β€”baik di darat maupun di dasar laut, dapat diamati dari waktu ke waktu. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan penelitian terkait fenomena deformasi lempeng bumi yang akurat, murah dan cepat.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ditha Daratama Nurhadi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KARAKTERISTIK SPATIO-TEMPORAL KOREKSI ATMOSPHERIC PRESSURELOADING (APL) (SUDI KASUS :SUMATERA-JAWA)

Dalam deret waktu data pengamatan satelit geodesi terdapat sinyal tektonik dan non-tektonik, salah satu sinyal non-tektonik adalah Atmospheric Pressure Loading (APL). APL adalah pembebanan pada permukaan bumi padat oleh variasi tekanan di atmosfer, dimana variasi tekanan ini dapat mendeformasi permukaan bumi lebih dari 1 cm pada arah radial (vertikal) dan horizontal. Oleh karena itu, efek APL ini harus dihilangkan terutama pada data pengamatan untuk keperluan studi geodinamika yang memerlukan ketelitian pergeseran posisi umumnya dalam level mm. Jika tidak dihilangkan efek tersebut akan merambat ke parameter pengamatan lainnya. Untuk menghilangkan efek tersebut, diperlukan pemodelan fisis APL dan studi untuk mempelajari karakteristik spatio-temporal koreksinya. Pendekatan secara geofisik memerlukan proses konvolusi dari distribusi pembebanan aktual di seluruh permukaan bumi padat. Data yang diperlukan dalam pendekatan ini adalah tekanan permukaan global, referensi tekanan, posisi stasiun pengamatan, land-sea mask, load love numbers, dan nilai Green’s function. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada titik – titik sampel di pulau Sumatera dan Jawa, efek APL dapat mendeformasi pada arah vertikal dalam rentang -2,8 – 4.1 mm dan horizontal dalam rentang -1.9 – 3.1 mm. Untuk mempelajari karakteristik spatio-temporal dari koreksi APL dilakukan analisis efek lintang geografis, analisis efek Inverted Barometer, analisis klimatologi bulanan dan per jam, dan analisis spektral. Dari analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa koreksi APL di Sumatera dan Jawa memiliki variasi harian (diurnal dan semi-diurnal) dan musiman, serta besarnya koreksi APL tergantung lintang geografis dan jarak ke laut.

2026
πŸ‘€ Penulis: Akbar Ilham Noor
🏷️ Geofisika 🏷️ Kartografi Dinamis 🏷️ Analisis Spektral

PEMODELAN BASEMENT MAGNETIK MENGGUNAKAN PROGRAM MAGB_INV PADA WILAYAH TELUK BONE, SULAWESI SELATAN

Teluk Bone merupakan wilayah cekungan sedimen yang berkembang akibat interaksi tektonik regional yang kompleks dan memiliki peran penting dalam tatanan geologi Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan konfigurasi basement magnetik serta mengestimasi ketebalan sedimen di wilayah Teluk Bone menggunakan metode inversi magnetik berbasis program MagB_Inv. Data magnetik yang digunakan terlebih dahulu dilakukan koreksi dan transformasi Reduce to the Pole (RTP) dengan menggunakan nilai Inklinasi dan Deklanasi pada wilayah penelitian sehingga menghasilkan peta anomali magnetik yang sesuai. Analisis Radially Averaged Power Spectrum (RAPS) diterapkan untuk menentukan parameter kedalaman awal dan batas filter yang digunakan dalam proses inversi. Proses inversi dilakukan dengan mempertimbangkan parameter magnetisasi ratarata, kedalaman awal, serta kriteria konvergensi berbasis nilai RMS error. Hasil inversi basement magnetik menunjukkan variasi kedalaman basement yang signifikan, dengan kedalaman berkisar antara 4,5 km hingga lebih dari 13 km. Model basement magnetik tiga dimensi memperlihatkan adanya zona basement dalam yang berkembang di bagian tengah hingga selatan Teluk Bone, yang diinterpretasikan sebagai cekungan utama, serta tinggian basement di bagian barat dan timur wilayah penelitian. Analisis profil lintasan basement magnetik menunjukkan konsistensi terhadap model tiga dimensi tersebut. Estimasi ketebalan sedimen yang diperoleh dari selisih antara kedalaman basement magnetik dan data batimetri menunjukkan variasi ketebalan sedimen yang signifikan, dengan ketebalan maksimum berkembang pada zona basement terdalam dengan ketebalan mencapai 8,5 km. Hasil ini mengindikasikan bahwa konfigurasi basement berperan sebagai kontrol utama dalam perkembangan cekungan dan akumulasi sedimen di wilayah Teluk Bone. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode inversi magnetik menggunakan program MagB_Inv mampu memberikan gambaran awal konfigurasi basement dan distribusi sedimen secara regional, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk studi geologi dan eksplorasi lanjutan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Maulana Satria Ramadhan
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Sedimen 🏷️ Hidrologi

ANALISIS KURVA HAZARD (BAHAYA) GEMPA DI PULAU JAWA BAGIAN BARAT

Wilayah Jawa bagian barat merupakan kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan yang relatif aktif akibat pengaruh zona subduksi di selatan Pulau Jawa serta keberadaan sesar kerak dangkal aktif. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah ini memiliki potensi bahaya gempa bumi yang dominan, sehingga diperlukan analisis bahaya gempa bumi yang mampu merepresentasikan karakteristik kegempaan secara kuantitatif dan bersifat probabilistik. Penelitian tugas akhir ini dilakukan untuk menganalisis bahaya gempa bumi di wilayah Jawa bagian barat menggunakan pendekatan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung laju kegempaan berdasarkan estimasi b-value regional dan lokal pada masing-masing area sumber gempa untuk magnitudo ? Mc, menyusun kurva probabilitas gempa terlampaui sebagai fungsi magnitudo pada selang M 4,8–6,7, serta mengestimasi kurva bahaya gempa pada wilayah penelitian sebagai fungsi b-value regional dan lokal pada periode data jangka panjang dan jangka pendek. Wilayah penelitian mencakup Bogor, Bekasi, Jakarta, dan Purwakarta. Data yang digunakan berupa katalog gempa bumi dangkal dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) untuk periode 1963-2016 dan 2017-2022. Estimasi parameter seismisitas dilakukan menggunakan hubungan Gutenberg-Richter dengan metode Maximum Likelihood Estimation. Nilai tersebut digunakan untuk menghitung laju kemunculan gempa dan probabilitas kejadian gempa tahunan. Estimasi guncangan tanah dilakukan menggunakan model Ground Motion Prediction Equation (GMPE) Fukushima dan Tanaka (1992) dengan parameter magnitudo gempa dan jarak sumber ke titik observasi. Nilai Peak Ground Acceleration (PGA) digabungkan untuk memperoleh Mean PGA sebagai dasar penyusunan kurva bahaya gempa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju kemunculan dan probabilitas kejadian gempa menurun seiring peningkatan magnitudo. Kurva bahaya gempa menunjukan perbedaan tingkat bahaya seismik antar wilayah penelitian, dengan wilayah Purwakarta menunjukkan tingkat bahaya tertinggi dan wilayah Jakarta relatif lebih rendah. Estimasi menggunakan periode jangka panjang menunjukan hasil tingkat bahaya gempa yang lebih besar dibandingkan periode jangka pendek pada probabilitas terlampaui yang sama.

2026
πŸ‘€ Penulis: Muhamad Farhan
🏷️ Seismologi 🏷️ Analisis Bahaya Gempa Bumi 🏷️ Geofisika

DELINEASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DI LAPANGAN PANAS BUMI

Untuk mendukung pengembangan model konseptual Lapangan Panas Bumi Agni, struktur bawah permukaan memegang peranan penting dalam memahami mekanisme dari sistem panas bumi. Pada awal 2024 (Februari – Maret), jaringan seismik temporer yang terdiri dari 18 stasiun seismik short-period ditempatkan di sekitar Lapangan Panas Bumi Agni selama ~36 hari, dengan jarak antar pasangan stasiun mencapai ~5 km. Studi ini bertujuan untuk mendeliniasi struktur bawah permukaan dari Lapangan Panas Bumi Agni berdasarkan model kecepatan gelombang geser (????????). Pada studi ini, Empirical Green’s Function (EGF) diperoleh melalui proses koherensi silang rekaman seismik komponen vertikal dari setiap pasangan stasiun. Kurva dispersi dari gelombang Rayleigh kemudian diekstraksi dari setiap EGF menggunakan Continuous Wavelet Transform (CWT). Model ???????? di Lapangan Panas Bumi Agni diperoleh melalui inversi kurva dispersi pada rentang periode 0.1 – 2.0 s. Secara umum, model ???????? menunjukkan anomali kecepatan rendah pada kedalaman dangkal, yang mengindikasikan batuan penudung dari sistem panas bumi. Sedangkan, pada kedalaman lebih dalam, kecepatan cenderung mengalami peningkatan. Namun, di bagian tenggara, anomali kecepatan rendah tetap teramati hingga kedalaman yang lebih dalam, yang mengindikasikan keberadaan reservoar yang permeabel. Berdasarkan kontras anomali kecepatan, reservoar ini tampak dibatasi oleh struktur patahan dominan. Selain itu, anomali kecepatan tinggi di timur laut Kawah C mengindikasikan keberadaan intrusi magmatik. Dengan demikian, model ???????? yang dihasilkan dari studi ambient noise tomography mampu menggambarkan elemen utama dari sistem panas bumi, termasuk batuan penudung, intrusi, struktur patahan, dan reservoar.

2026
πŸ‘€ Penulis: Mudo Prakoso
🏷️ Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Panas Bumi 🏷️ Analisis Struktural

ANALISIS MIKROZONASI DAN DELINEASI STRUKTUR VS KAB. CIANJUR JAWA BARAT BERDASARKAN DATA MIKROTREMOR HVSR

Gempa Mw 5.6 dengan intensitas MMI V-VI yang terjadi di Cianjur pada 21 November 2022 dipicu oleh sistem sesar berpasangan (conjugate fault) berarah NNW-SSE dan WSW-ENE pada kedalaman sekitar 11 km. Kejadian ini mengakibatkan korban jiwa 602 orang, 7.504 bangunan rusak, dan memicu longsor. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Gempa Cianjur relatif signifikan, hal ini kemungkinan dipengaruhi kondisi lapisan bawah permukaan yang labil, hiposenter gempa yang dangkal, ataupun standar kualitas bangunan yang belum memadai. Untuk memahami kondisi tersebut, diperlukan pendekatan studi geofisika. Studi ini mengkaji respons seismik lokal dan kondisi bawah permukaan berdasarkan kecepatan gelombang geser (Vs) untuk mengidentifikasi potensi amplifikasi gelombang seismik. Data mikrotremor yang digunakan berjumlah 255 titik yang tersebar di Kabupaten Cianjur dengan jarak antar titik adalah 500 m. Metode yang digunakan adalah Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio (HVSR), inversi eliptisitas, dan integrasi dengan data kerusakan serta kondisi geologi. Hasil penelitian menunjukkan amplifikasi signifikan di beberapa area, dengan variasi nilai frekuensi dominan (f0) antara 0.55 hingga 19.36 Hz dan nilai faktor amplifikasi (A0) antara 1.09 hingga 14.53. Beberapa area dengan amplifikasi tinggi tersebut bertepatan dengan data kerusakan dari BNPB. Berdasarkan profil 1D dan model pseudo-3D Vs terlihat pola struktur yang memiliki nilai Vs rendah (200-500 m/s) dengan kedalaman antara 30-150 m, dibawahnya terdapat zona dengan Vs menengah (500- 650 m/s). Sedangkan engineering bedrock (Vs >750 m/s) membentuk pola bergelombang yang kontinu pada kedalaman 80-200 m. Nilai Vs30 berada pada rentang kelas batuan lunak hingga sedang-keras, dengan klasifikasi situsii didominasi kelas SC menurut SNI, dan C menurut NEHRP. Nilai Vs rendah bertepatan dengan data kerusakan BNPB dan juga amplifikasi tinggi, kondisi ini juga didukung oleh kondisi litologi yang tersusun dari batuan vulkanik dengan dugaan endapan sedimen.

2026
πŸ‘€ Penulis: Fera Gusyifa
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Mikrotremor 🏷️ Struktur Geologi

INTERPRETASI DATA GRAVITASI DAN MAGNETIK MENGGUNAKAN EDGE DETECTION FILTER DI DAERAH CEKUNGAN BANYUMAS

Eksplorasi hidrokarbon di Cekungan Banyumas menghadapi tantangan utama berupa keberadaan endapan vulkanik tebal di permukaan yang menghambat metode seismik dalam pencitraan fitur geologi bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi metode filter regional-residual serta filter edge detection terpilih yang diterapkan pada data gravitasi (1.287 titik) dan magnetik (303 titik) yang diintergrasikan melalui pemodelan (forward modeling) 2.5D untuk mendapatkan . Pada penelitian ini sebelum diterapkan pada data lapangan, metode edge detection filter dianalisis terlebih dahulu menggunakan model sintetik graben dan half-graben dengan antiklin pada variasi kedalaman 0 dan 2 km. Hasil perhitungan filter regional-residual menunjukan metode moving average dipilih sebagai filter yang digunakan dalam pemisahan anomali karena dapat mencitrakan fitur geologi target dengan baik. Hasil uji sintetik menunjukkan bahwa filter Softsign Function (SF) dan Fast Sigmoid Edge Detection (FSED) memberikan respons dengan resolusi yang lebih tinggi dibandingkan Horizontal Gradient (HG), meskipun teridentifikasi adanya pergeseran lateral respon filter sejauh 1 km ke arah puncak anomali seiring perubahan kedalaman sumber. Pada aplikasi data lapangan, filter SF dan FSED pada data gravitasi berhasil mendelineasi kelurusan berarah Barat Laut-Tenggara (NW-SE), yang mengonfirmasi keberadaan Antiklin Cipari sebagai pemisah antara Sub-cekungan Citanduy dan Majenang. Pemodelan 2.5D yang dikalibrasi dengan data sumur Jati-1 memvalidasi geometri halfgraben serta antiklin cipari dengan kedalaman basement yang bervariasi dari 7 km dan mengidentifikasi lapisan Eosen Deposit sebagai batuan induk potensial. Penetlitian ini menyimpulkan bahwa integrasi data gravitasi dan magnetik dengan filter edge detection terpilih dapat mendelineasi keberadaan struktur geologi penting dengan baik di daerah Cekungan Banyumas.

2026
πŸ‘€ Penulis: Arief Irfan Hutomo
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geologi 🏷️ Modeling Geologis 2.5D

PEMODELAN MULTIBAHAYA BENCANA TSUNAMI DAN BANJIR DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN GIANYAR, KABUPATEN GIANYAR, PROVINSI BALI

Pesisir Kecamatan Gianyar memiliki potensi ancaman multibahaya, yaitu tsunami yang berkaitan dengan aktivitas subduksi megathrust segmen Jawa Tengah – Jawa Timur dan segmen Bali, serta banjir akibat hujan ekstrem di hulu DAS. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik genangan banjir, tsunami, serta multibahaya dari keduanya saat terjadi bersamaan dengan fokus penelitian di Pantai Lebih dan Pantai Siyut. Tsunami yang dimodelkan dengan software DelftDashboard dan Delft3d-Flow menunjukkan tinggi gelombang maksimum mencapai 6,3 m pada waktu simulasi 35 menit di laut kedalaman 20 m. Debit banjir dari kedua DAS dengan luas 85,45 km2 (Sub-1) dan 55,06 km2 (Sub-2) di lokasi penelitian diperhitungkan menggunakan metode SCS Curve Number (CN) berdasarkan data hujan empat stasiun BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Jembrana tahun 2015-2024, karakteristik tanah, dan tutupan lahan. Parameter perhitungan debit banjir dan elevasi DEMNAS mempengaruhi kalibrasi debit. Periode ulang banjir yang dianalisis yaitu 25, 100, 500, dan 1000 tahun untuk mengetahui kejadian ekstrem. Hasil model genangan HEC-RAS 2D menunjukkan bahwa banjir ternyata memiliki dampak yang lebih parah daripada tsunami. Ketinggian genangan maksimum di permukiman mencapai 9 m akibat banjir maupun multibahaya, sedangkan tsunami mencapai 6 m. Luas genangan akibat banjir periode ulang 1000 tahun seluas 80,76 ha dan luas genangan akibat tsunami seluas 31,8 ha. Sedangkan, luas genangan multibahaya dari keduanya seluas 95,31 ha. Sementara itu, jarak inundasi genangan terjauh akibat tsunami mencapai 250 m pada waktu simulasi ke-40 menit. Tsunami juga mampu menjalar ke arah hulu melalui sungai sejauh 200 m. Kontribusi tsunami terhadap genangan multibahaya hanya 34% dibandingkan dengan total genangan dari banjir periode ulang 500 tahun bersamaan dengan tsunami dengan periode ulang yang sama. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan keduanya (multibahaya) pada analisis peta bahaya atau peta risiko oleh lembaga/instansi terkait karena daerah yang terdampak banjir dan tsunami lebih berbahaya daripada daerah yang terdampak tsunami atau banjir saja. Selain itu, hasil model juga menunjukkan waktu surut genangan di Pesisir Kecamatan Gianyar untuk dasar perencanaan evakuasi sekitar 5,7 jam pada kejadian tsunami dan 47 jam pada kejadian banjir serta kejadian multibahayanya.

2026
πŸ‘€ Penulis: Estu Wijayanti
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Geohandal 🏷️ Geofisika

EVALUASI DATA ANOMALI GAYABERAT BERDASAR PENGAMATAN GAYABERAT AIRBORNE RAGAM PERIODE DI WILAYAH KALIMANTAN

Perkembangan teknologi memungkinkan pengukuran gayaberat menggunakan wahana pesawat terbang atau dikenal sebagai survei gayaberat airborne. Teknologi ini menjadi solusi atas keterbatasan survei gayaberat secara terestris. Teknologi ini menjadi angin segar untuk mengatasi keterbatasan pengukuran gayaberat secara terestris. Wilayah Kalimantan menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang memiliki dua periode survei gayaberat airborne. Pengukuran Data A dilakukan tahun 2009-2010 mencakup seluruh Kalimantan menggunakan gravimeter Air/Sea S99 LaCoste & Romberg dengan jarak antar jalur terbang sekitar 18 km. Pengukuran berikutnya yaitu Data B dilakukan pada periode 2021-2022 menggunakan gravimeter Canadian Micro Gravity GT-2A mengisi celah antar jalur sebelumnya sehingga jarak antar jalur terbang menjadi sekitar 9 km. Beberapa jalur terbang dibuat bertampalan antara periode pertama dan kedua. Evaluasi performa dilakukan pada data anomali free-air (FAA) gayaberat airborne pulau Kalimantan pada waktu pengukuran yang berbeda di mana masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Evaluasi mencakup uji kualitas internal masing-masing data melalui cross-over analysis, uji kualitas pada pertampalan jalur terbang dibandingkan dengan data EGM2008, serta analisis spasial dan spektrum masing-masing data. Data B memiliki konsistensi internal MAE = 2,944 mGal dan STD = 4,412 mGal lebih baik dari Data A MAE = 5,628 mGal dan STD 7,322 mGal. Kombinasi kedua data (Data C) menunjukkan nilai pertengahan antara kedua data dengan MAE = 4,343 mGal dan STD = 6,044 mGal. Cross-over adjustment dilakukan menggunakan metode orde-0 dan orde-1. Cross-over adjustment Data A, B dan C orde 1 menunjukkan MAE 2,391 mGal STD 4,630 mGal, MAE 1,604 mGal STD 2,689 mGal, dan MAE 2,489 mGal STD 3,727 mGal. Nilai ini lebih baik dari penggunaan orde 0 dengan hasil MAE 2,927 mGal STD 4,262 mGal, MAE 1,779 mGal STD 2,712 mGal, dan MAE 2,599 mGal STD 3,759 mGal. Akan tetapi, penggunaan orde 1 menunjukkan potensi perubahan pola spasial pada beberapa jalur terbang secara ekstrem. Hal ini dikarenakan kondisi sebaran cross-line yang tidak ideal. Hasil analisis 30 pasangan pertampalan jalur terbang ditambah dengan perbandingan dengan EGM2008 menunjukkan dengan jelas adanya perbedaan referensi antar data. Hal ini ditunjukkan dengan adannya shifting antara Data A dan B di beberapa pasangan jalur terbang. Perbedaan FAA Data A dan B pada pertampalan jalur terbang menghasilkan rentang MAE 0,757 mGal hingga 12,792 mGal. Dengan melakukan kombinasi antara Data A dan B kemudian dilakukan cross-over adjustment bersama memperbaiki masalah ini. Perbedaan FAA Data A dan B pada pertampalan jalur terbang mengecil menghasilkan rentang MAE 0,986 mGal hingga 6,868 mGal. Sementara itu, analisis spektrum menunjukkan bahwa Data B memiliki amplitudo yang lebih tinggi dibandingkan Data A dan EGM2008 pada rentang panjang gelombang menengah hingga pendek. Data B juga menunjukkan peluruhan spektrum yang lebih lambat, yang konsisten dengan tingkat derau yang lebih rendah dan kemampuan yang lebih baik dalam mempertahankan sinyal dinamis. Secara keseluruhan, integrasi dataset gayaberat airborne wilayah Kalimantan meningkatkan koherensi spasial dan spektrum, serta memberikan landasan yang lebih kuat untuk penyempurnaan geoid maupun berbagai aplikasi geosains lainnya, termasuk analisis struktur kerak, interpretasi cekungan, dan eksplorasi sumber daya alam.

2026
πŸ‘€ Penulis: Harka Amrossalma
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Anomali Gayaberat 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI IDENTIFIKASI PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA DENPASAR DENGAN MENGGUNAKAN METODE INSAR

Penurunan tanah di Indonesia sudah teramati di Jakarta, Bandung, dan Semarang. Fenomena penurunan tanah juga ditengarai terjadi di kota-kota seperti Denpasar, Cilegon, dan Medan. Fenomena yang terjadi di kota Denpasar perlu dipantau mengingat dampak yang akan ditimbulkan seperti adanya kerusakan pada bangunan. Teknologi InSAR adalah salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk memantau ada atau tidaknya penurunan tanah ini. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi penurunan muka tanah di kota Denpasar dengan memanfaatkan teknologi InSAR, serta menilai keterkaitan antara penggunaan lahan dengan penurunan muka tanah di kota Denpasar. Hasil penelitian belum dapat menyimpulkan terjadinya fenomena penurunan tanah pada periode Juli 2007 – Desember 2008. Sehingga masih perlu dilaksanakan lagi penelitian lebih lanjut.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ihsan Nurul Fauzi
🏷️ Infraspektrum 🏷️ Analisis Penyusutan Tanah 🏷️ Geofisika

ANALISIS DEFORMASI PULAU BALI BERDASARKAN PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2010-2012 DAN GPS BERKALA TAHUN 2013

Pulau Bali terletak di dekat daerah subduksi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Subduksi yang terjadi mengakibatkan regangan dan tegangan secara spasial dan temporal yang menyebabkan deformasi. Untuk mengamati deformasi tersebut digunakan metode pengamatan GPS dimana titik-titik pengamatan tersebar di Pulau Bali. Data yang digunakan adalah data pengamatan GPS kontinu tahun 2010-2012 dan data pengamatan GPS berkala bulan maret dan September tahun 2013. Pengolahan data pengamatan GPS menghasilkan koordinat geosentrik yang kemudian di transformasikan ke dalam bentuk koordinat toposentrik. Selanjutnya dilakukan perhitungan pergeseran dengan memperhatikan pergerakan dari blok Sunda. Hasil hitungan tersebutlah yang digunakan untuk menganalisis deformasi yang terjadi di Pulau Bali. Hasil perhitungan data menunjukkan bahwa besar pergeseran Pulau Bali berkisar antara 3,1 mm/tahun sampai 22,6 mm/tahun dengan vektor pergeseran dominan ke arah timur-utara. Berdasarkan hasil yang didapat, diketahui bahwa Pulau Bali mengalami deformasi dan terpengaruh pergerakan dari lempeng Indo-Australia. Namun, penelitian ini hanya merupakan hasil penelitian awal yang memerlukan penelitian lebih lanjut agar pola deformasi Pulau Bali dapat menghasilkan data yang lebih akurat.

2026
πŸ‘€ Penulis: TEGAR PILAR RAMADHAN (NIM : 15109091) ; Pembimbing (1) : Dr. Ir. Dina Anggreni Sarsito, MT ; Pemb
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Deformasi Geografis 🏷️ Pengolahan Data Gps

ANALISIS DEFORMASI GEMPA PADANG TAHUN 2009 BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2009 - 2010

Pulau Sumatera terletak pada jalur batas konvergen antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia. Pada batas lempeng konvergen ini terjadi aktivitas tektonik yang saling menekan dan mengunci antar kedua lempeng, sehingga menimbulkan akumulasi energi. Jika energi tersebut terlepas secara tiba-tiba, maka akan menyebabkan gempa bumi. Salah satu gempa yang terjadi di Pulau Sumatera adalah gempa Padang 30 september 2009. Pola deformasi dari gempa ini dapat diamati dengan pengamatan GPS (Global Positioning System). Pengamatan GPS dilakukan untuk mencari vektor pergeseran, regangan, serta menganalisis pola deformasi yang terkait gempa tersebut. Dari hasil pengolahan data, vektor pergeseran titik-titik pengamatan GPS di Sumatera cenderung bergerak ke arah timur laut (NE) yang mengindikasikan adanya akumulasi energi. Sedangkan vektor pergeseran yang mengarah ke barat daya (SW) mengindikasikan adanya pelepasan energi. Gempa 30 september 2009 mengakibatkan pergeseran maksimum dari titik-titik pengamatan GPS sebesar 0.055 m ke arah barat daya. Kecepatan vektor pergeseran rata-rata dari titik-titik pengamatan GPS sebelum gempa adalah sebesar 0.033m/tahun dan setelah gempa sebesar 0.031 m/tahun dengan pergerakan mengarah ke timur laut. Regangan di sekitar daerah kajian menunjukkan adanya pola kompresi dengan nilai maksimum sebesar 1.226 x 10-7 strain yang mengindikasikan potensi terjadinya gempa bumi. Gempa 30 September 2009 tidak menunjukkan deformasi setelah gempa dari hasil yang teramati. Gempa ini tidak mempengaruhi vektor kecepatan pergeseran serta tidak menghilangkan distribusi regangan pola kompresi di sekitar daerah pusat gempa setelah gempa terjadi. Meskipun demikian, gempa ini berdampak cukup besar, khususnya untuk daerah di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera.

2026
πŸ‘€ Penulis: IKHWAN PERMANA (NIM: 15109088); Tim Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.; Dr. Ir. Dina Anggren
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Deformasi Geologi 🏷️ Pengamatan Gps

PENGARUH GEOMETRI PENJALARAN SINYAL GPS TERHADAP PENENTUAN TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC)

Lapisan ionosfer secara fisis merupakan medium dispersif sehingga penjalaran sinyal GPS akan bergantung dengan frekuensi. Oleh karena itu gelombang pembawa L1 dan L2 yang memiliki frekuensi berbeda, tidak merambat pada jalur yang identik saat melintasi lapisan ionosfer. Maka, perlu diperbandingkan seberapa besar selisih hasil perhitungan Slant Total Electron Content (STEC) dari sinyal GPS jika memperhitungkan efek perbedaan lintasan sinyal. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan penghalusan data kode P1 dan P2 untuk kemudian digunakan dalam penentuan STEC dengan epok (30 detik) menggunakan formula Geometric-Free (GF) dan formula Improved Geometric-Free (IGF) yang sudah memperhitungkan efek perbedaan lintasan sinyal. Data GPS berformat rinex didapatkan dari data lokasi-lokasi pengamatan GPS pada stasiun International GNSS Service (IGS) pada tahun 2008 dan 2013 yang diambil pada lokasi pengamatan yang mencakup zona lintang menengah di Algonquin Park (Kanada), zona ekuator di Bakosurtanal (Indonesia), dan zona kutub di Syowa (Kutub Selatan). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa secara posisi geografis selisih perhitungan dengan menggunakan metode IGF terhadap metode GF pada IGS Algonquin Park yang berada pada lintang menengah memiliki nilai yang lebih besar daripada IGS Syowa yang berada pada kawasan kutub selatan. Sedangkan IGS Bakosurtanal yang berada pada zona ekuator memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan keduanya. Selisihnya pun bertambah besar saat aktivitas matahari tinggi pada tahun 2013. Hasil yang diperoleh dari pengolahan delta-STEC yang merupakan selisih antara metode penghitungan IGF dibandingkan dengan metode GF menunjukkan bahwa nilai delta-STEC maksimum hanya sebesar 20.5 miliTECU pada kawasan equator (Bakosurtanal) di saat aktivitas matahari sedang tinggi (tahun 2013). Sehingga efek penjalaran sinyal belum signifikan mempengaruhi ketelitian TEC yang sampai saat ini belum sampai orde miliTECU.

2026
πŸ‘€ Penulis: FIKRI JULIANDI (NIM: 15109031);
🏷️ Geofisika 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB DARI FENOMENA PENURUNAN TANAH DI KAWASAN JAKARTA

Fenomena penurunan tanah biasanya terjadi di daerah-daerah yang memiliki urban development yang tinggi seperti DKI Jakarta. Pemantauan dari fenomena penurunan tanah ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan metode geodetik yaitu survei sipat datar (levelling), survei GPS, survei gaya berat mikro, dan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Informasi-informasi mengenai penurunan tanah ini dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan maupun pengambilan keputusan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kebumian serta hal-hal lainnya apabila disimpan serta digunakan secara tepat. Data-data spasial serta informasi pendukung dari penurunan tanah di Jakarta ini belum memiliki suatu sistem sebagai media pengelolaan data. Oleh karena itu dibutuhkan suatu basisdata untuk menyimpan data-data tersebut. Perancangan model basisdata untuk fenomena penurunan tanah ini terdiri dari tiga tahap yaitu perancangan basisdata konseptual, logikal, dan fisikal. Hasil perancangan basisdata kemudian disimpan pada perangkat lunak PostgreSQL/PostGIS sebagai Database Management System. Perangkat lunak GeoServer digunakan sebagai web-mapping server yang berperan sebagai sebuah gateway kepada kumpulan data geospasial dalam bentuk berkas/file, basisdata, maupun layanan lainnya yang kemudian diterjemahkan ke dalam protokol web service seperti Web Map Service (WMS), Web Feature Service (WFS), Web Coverage Service (WCS), dan lainnya. Meskipun data yang disimpan belum lengkap, namun sistem informasi geografis dari penurunan tanah ini masih dapat dibangun karena telah terdapat suatu basisdata yang memanipulasi bagaimana data-data yang belum tersedia tersebut dapat disimpan nantinya. Pembangunan suatu basisdata spasial yang kemudian ditampilkan dalam suatu aplikasi sistem informasi geografis berbasis web diharapkan dapat membantu dalam pengorganisasian data serta mempermudah pengaksesan dan pengorganisasian data-data spasial dari fenomena penurunan tanah di kawasan Jakarta.

2026
πŸ‘€ Penulis: DINNI SANNI HAFIDZAH (NIM: 15109022); Tim Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc; Dr.
🏷️ Geofisika 🏷️ Manajemen Data Geografis 🏷️ Sistem Informasi Geografis
Halaman 2 dari 9
πŸ’¬