π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 38 dokumenANALISIS KARAKTERISTIK ENDAPAN NIKEL LATERIT TERHADAP DISTRIBUSI KELIMPAHAN UNSUR KROMIUM (CR) PADA ZONA LIMONIT DENGAN METODE ORDINARY-KRIGING DI DAERAH BULI, HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA
Kebutuhan nikel dalam dunia industri terus meningkat, terutama sebagai bahan baku pembuatan baterai dan logam tahan karat. Selain nikel, kromium (Cr) juga merupakan salah satu unsur ikutan penting dalam endapan nikel laterit yang terakumulasi di zona residu, terutama zona limonit. Daerah penelitian terletak di Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit, kelimpahan unsur kromium, hubungan kromium dengan unsur mayor dan minor, serta persebaran kadar kromium di zona limonit daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 26 titik bor yang terdiri dari data XRF, profil laterit, petrografi, sampel lapangan dan lain-lain. Profil pelapukan laterit di lokasi penelitian terdiri dari lapisan tanah penutup, limonit, saprolit, dan batuan dasar. Batuan dasar penyusun profil adalah harzburgit dan serpentinit, dan tingkat pelapukan dikategorikan kuat, ditunjukkan oleh pengayaan Fe?O? yang melimpah hingga membentuk zona limonit. Terdapat dua jenis endapan nikel laterit, yakni tipe hydrous Mg-silikat dan tipe oksida. Analisis geokimia secara vertikal (downhole) menunjukkan bahwa unsur Cr terkonsentrasi dan melimpah di zona limonit. Adanya korelasi positif kuat antara Cr dengan Fe dan Fe?O?. Pola sebaran Cr secara vertikal menyerupai pola distribusi unsur-unsur dengan mobilitas rendah seperti MnO, Co, dan Cr?O?. Faktor topografi juga memengaruhi ketebalan limonit dan kadar Cr; limonit lebih tebal dan kadar Cr lebih tinggi (Cr ? 1,9 wt%) di area datar, sedangkan di area curam akan ketebalan limonit lebih tipis dan kadar Cr lebih rendah (Cr < 1,9 wt%). Selain itu, serpentinit sebagai batuan induk cenderung mengandung Cr lebih tinggi dibanding harzburgit. Berdasarkan perbandingan model semivariogram, model spherical memberikan hasil lebih baik dibandingkan model exponential, yang divalidasi melalui nilai RMSE, nilai semivariogram, dan nugget effect. Persebaran kadar Cr ? 1,9 wt% berpusat di bagian barat daya hingga ke bagian tengah dan barat daerah penelitian, sedangkan kadar Cr < 1,9 wt% lebih banyak terdapat di bagian utara dan selatan.
INVESTIGASI NUMERIK KOMPARATIF INTERAKSI GEOKIMIA CO2βMINERAL UNTUK PENYIMPANAN JANGKA PANJANG DI AKUIFER GARAM, RESERVOIR GAS TERDEPLESI, DAN RESERVOIR MINYAK TERDEPLESI
Oil and gas operations contribute approximately 15% of global energy-related emissions, amounting to 5.1 billion tonnes of greenhouse gases annually (IEA, 2021), highlighting the urgent need for mitigation strategies such as Carbon Capture and Storage (CCS). Among various CO? trapping mechanisms, mineral trapping offers a more permanent solution by chemically converting CO? into stable solid minerals. This study investigates the contribution of mineral trapping across saline aquifers, depleted gas reservoirs, and depleted oil reservoirs through numerical simulations performed using tNavigator. Three synthetic compositional models representing each storage formation were developed, with reservoir dimensions of 20,476 ft Γ 20,398 ft Γ 547 ft, discretized into a uniform grid of 31 Γ 31 Γ 22 cells. Geochemical interactions were modeled by incorporating three equilibrium CO? dissolution reactions and one mineral precipitation reaction to simulate calcite (CaCO?) formation. CO? injection was carried out over a 2-year period, with a total injected volume of 37.5 BSCF, followed by a 1000-year post-injection simulation. Mineral trapping was found to be minimal: 0.0006% in saline aquifers, 0.0002% in depleted gas reservoirs, and none in depleted oil reservoirs. Calcite formation reached 25 tonnes in saline aquifers and 10 tonnes in depleted gas reservoirs. Among all formations, saline aquifers exhibited the highest total CO? trapping, comprising 89.4% residual, 3.3% solubility, and 6.8% structural CO?. Depleted gas reservoirs demonstrated 53.5% residual and 45.3% structural trapping, while depleted oil reservoirs retained 31% residual, 37% CO? dissolved in oil, and 32% structural trapping. The primary influencing factor identified in this study was initial fluid saturation. Saline aquifers, being fully watersaturated, facilitated extensive CO?βbrine interactions, thereby enhancing dissolution and mineralization. Conversely, the presence of residual hydrocarbons in depleted reservoirs limited CO? dissolution, with the effect being more pronounced in depleted oil reservoirs due to CO?βoil miscibility. Mineral trapping should therefore be considered in saline aquifers and depleted gas reservoirs where mineral precipitation occurs, whereas its impact is negligible in depleted oil reservoirs where no mineral formation was observed.
EVOLUSI GEOKIMIA DAN PERILAKU KROMIUM PADA AIR TAMBANG NIKEL LATERIT: TINJAUAN DARI UJI PELINDIAN KOLOM JANGKA PANJANG DAN PEMODELAN PHREEQC
Kegiatan pertambangan nikel laterit di wilayah tropis memiliki potensi melepaskan logam berat seperti kromium (Cr) ke lingkungan, terutama dalam bentuk Cr(VI) yang bersifat toksik, larut dalam air, dan bermobilitas tinggi. Cr(VI) dapat terbentuk dari oksidasi Cr(III) akibat pelapukan mineral dalam kondisi redoks oksidatif, khususnya pada sistem tambang terbuka. Penelitian ini bertujuan mengkaji evolusi geokimia dan perilaku Cr, terutama Cr(VI), dalam air lindi hasil pelindian batuan nikel laterit melalui uji kinetik metode kolom pelindian selama 20 siklus mingguan terhadap sampel ore dan overburden dari daerah pertambangan nikel laterit di Sulawesi Selatan, Indonesia. Analisis mineralogi dilakukan menggunakan XRD dan XRF sebelum dan sesudah pelindian untuk mengetahui fasa mineral dan komposisi unsur. Selain itu, pemodelan geokimia menggunakan PHREEQC dilakukan untuk mengevaluasi spesiasi Cr dan keseimbangan muatan larutan.Hasil uji kinetik menunjukkan bahwa Cr(VI) hanya terdeteksi pada sampel ore (Petea & Sorowako), terutama ore Sorowako, dengan konsentrasi tertinggi mencapai 0,1428 mg/L. Sebaliknya, Cr(VI) tidak terdeteksi pada sampel overburden meskipun memiliki komposisi Cr tinggi dalam mineralnya. Hasil XRD menunjukkan adanya perubahan fasa mineral setelah pelindian, menunjukkan pelepasan Cr(III) dari mineral seperti goethite dan antigorite. Pemodelan PHREEQC menunjukkan bahwa spesies dominan Cr(VI) dari air pelindian adalah CrO?Β²? dan HCrO??, sesuai dengan kondisi pH netral dan lingkungan oksidatif. Perbedaan dapat dipengaruhi oleh ketersediaan Cr(III) dalam bentuk larut, yang bergantung pada karakteristik mineraloginya. Fotokimia ringan juga mungkin berkontribusi, akan tetapi belum terkonfirmasi langsung. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelapukan batuan ore nikel laterit berpotensi menjadi sumber utama pencemaran Cr(VI), dan pengelolaan tambang perlu mempertimbangkan pencegahan paparan ore reaktif serta pengendalian pH dan aliran limpasan untuk menekan risiko pelepasan Cr(VI).
STUDI ALTERASI DAN GEOKIMIA TERHADAP MINERALISASI TIPE ENDAPAN EPITERMAL DI DESA PETAI PATAH, KECAMATAN SANDAI, KABUPATEN KETAPANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik alterasi hidrotermal dan mineralisasi emas pada sistem endapan epitermal di Pit Limun dan Pit Lokma, Desa Petai Patah, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Daerah penelitian berada pada lingkungan geologi yang didominasi oleh Batuan Granit Sukadana dan Kompleks Gunung Api Kerabai, yang secara tektonik berasosiasi dengan jalur magmatik dan sistem hidrotermal. Metode yang digunakan mencakup spektroskopi reflektansi, petrografi, X-ray diffraction (XRD), serta analisis geokimia menggunakan X-ray fluorescence, atomic absorption spectrophotometry, dan inductively coupled plasma mass spectrometry. Sebanyak 15 sampel batuan yang terdiri atas sampel singkapan dan inti bor dianalisis untuk mengevaluasi mineralogi, tekstur, serta kandungan unsur logam. Hasil analisis mengidentifikasi keberadaan mineral alterasi khas seperti kaolinit, illit, alunit, dan kuarsa. Zonasi alterasi hidrotermal yang terbentuk menunjukkan pola yang jelas, dengan inti alterasi argilik lanjut di Pit Lokma yang dikelilingi oleh halo alterasi filik di Pit Limun. Analisis geokimia menunjukkan adanya pengkayaan emas yang signifikan, dengan kadar tertinggi mencapai 1,61 ppm Au yang ditemukan pada sampel breksi hidrotermal. Konsentrasi emas ini secara spasial berkorelasi kuat dengan zona alterasi filik dan argilik lanjut, serta secara mineralogi berasosiasi dengan kehadiran mineral sulfida dan kemungkinan mineral sulfosalt-telurida. Hasil tersebut secara meyakinkan mengindikasikan bahwa sistem mineralisasi di lokasi penelitian dikendalikan oleh sistem epitermal tipe sulfidasi tinggi. Secara keseluruhan, hasil penelitian memberikan kontribusi penting dalam memahami kontrol geologi dan geokimia terhadap mineralisasi epitermal di wilayah magmatik Kalimantan Barat, serta menjadi referensi ilmiah yang relevan untuk mendukung kegiatan eksplorasi mineral logam berharga secara lebih efektif dan sistematis.
DELINEASI ZONA ASAM PADA WILAYAH KERJA PANAS BUMI TANGKUBAN PERAHU MENGGUNAKAN INTEGRASI DATA GEOLOGI, GEOKIMIA, DAN GEOFISIKA.
Wilayah Kerja Panas Bumi Tangkuban Parahu terletak di Jawa Barat, Indonesia. Beberapa manifestasi bersifat asam, misalnya mata air panas Ciater yang memiliki pH 2,2; mata air panas Kancah dengan pH 2,4; dan mata air panas Kawah Domas dengan pH 2,1. Zona alterasi asam di Kawah Domas juga mengindikasikan pernah terjadi reaksi antara fluida asam dan batuan di WKP ini. Informasi tersebut menunjukkan bahwa terdapat fluida bersifat asam di WKP Tangkuban Parahu. Sebaran fluida asam di Tangkuban Parahu dapat diperkirakan dengan integrasi data geologi, geokimia, dan geofisika. Berdasarkan analisa geokimia, zona asam di WKP ini terbagi menjadi zona asam steam-heated dan zona asam akibat pengaruh magmatik. Model geokimia kedua zona asam tersebut kemudian dikorelasikan dengan data geofisika berupa nilai konduktansi total untuk mendapatkan sebaran zona asam. Sebaran zona asam tersebut kemudian dikalibrasi dengan data struktur geologi dan divalidasi dengan data sumur. Hasil penelitian ini menunjukkan zona asam terpengaruh magmatik berada pada area kawah dengan cakupan 650-1800 m dari volcanic vent dengan luas area + 8 km2 dan menerus ke bawah mengikuti diatrem Tangkuban Parahu. Kisaran nilai TC pada zona asam ini adalah 675-950 S. Zona asam steam-heated menyebar secara lokal dengan cakupan berada di area sekitar kawah, Kancah, Ciater dan selatan Kawah Ratu. Luas area zona asam ini diestimasi + 7 km2 dengan sebaran vertikal sampai dengan kedalaman 300 m. Kisaran nilai konduktansi total untuk zona asam steam-heated adalah 27,5-34 S.
STUDI KARAKTERISASI GEOKIMIA BATUAN UNTUK MEMPREDIKSI PEMBENTUKAN AIR ASAM TAMBANG DI TAMBANG AIR LAYA PT. BUKIT ASAM
Kegiatan pertambangan batubara dengan metode penambangan terbuka akan membuat material yang ada di lokasi penambangan terekspos. Material yang mengandung mineral sulfida akan teroksidasi dan terlarut oleh air di lingkungan pertambangan akan menghasilkan air asam tambang (AAT). Air asam tambang memiliki pH yang rendah dan mengandung mineral logam yang terlarut. PT Bukit Asam sebagai salah satu perusahaan tambang yang menambang komoditas batubara perlu melakukan pengelolaan terhadap air asam tambang, khususnya pada lokasi Tambang Air Laya. Prediksi potensi pembentukan air asam tambang dapat dilakukan dengan berbagai metode uji geokimia di lapangan ataupun di laboratorium. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik geokimia pembentukan air asam tambang dari sampel batuan dengan metode uji statik dan uji kinetik. Uji statik dilakukan untuk mengetahui beberapa parameter geokimia dari masing-masing sampel yaitu kandungan total sulfur, acid neutralizing capacity (ANC), pH pasta, dan net acid generation (NAG). Uji kinetik dilakukan dengan metode free draining column leach test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 17 sampel yang tergolong ke dalam kategori potential acid forming (PAF) dan 13 sampel yang tergolong ke dalam kelompok non-acid forming (NAF). Berdasarkan gambaran umum persebaran geokimia sampel pada litologi lubang bor, dapat diketahui lapisan IB A1-A2 didomindasi oleh batuan NAF, sedangkan pada lapisan IB A2-B1, IB B1-B2, dan IB B2-C didominsasi oleh batuan PAF.
STUDI MOBILITAS LOGAM DARI SAMPEL ENDAPAN PORFIRI UNTUK PENDUKUNG PENGELOLAAN KUALITAS AIR PIT LAKE
Pada masa pascatambang, tambang terbuka (open pif) akan membentuk void yang kemudian terisi oleh air sehingga membentuk pit lake. Air yang mengisi void dan berinteraksi dengan batuan dinding pit yang terekspos dapat bersifat asam, sirkumnetral, atau basa. Hal ini bergantung pada komposisi mineral dan mekanisme reaksi pembentukan asam, penetralan asam, dan penyanggaan. Umumnya, air yang bersifat asam (pH rendah) berasosiasi dengan metal leaching disertai konsentrasi logam dan kandungan sulfat yang tinggi. Rangkaian proses interaksi air-batuan dapat mempengaruhi mobilitas logam, khususnya logam-logam pencemar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik geokimia dan potensi mobilitas logam dari sampel batuan dinding pit endapan porfiri. Pada penelitian ini, digunakan 4 sampel batuan terpilih dari litologi utama pembentuk dinding pit endapan porfiri, yaitu batuan vulkanik dan diorit. Karakterisasi geokimia yang dilakukan di laboratorium meliputi pengujian statik, mineralogi (X-ray diffraction, XRD), unsur (X-ray fluorescence, XRF), kinetik menggunakan metode free draining column leach test (FDCLT), dan ekstraksi sekuensial. Pengujian kinetik (FDCLT) dilakukan untuk menilai kelarutan logam dari reaksi air-batuan. Sementara itu, ekstraksi sekuensial untuk mengidentifikasi distribusi logam dalam fraksi geokimia batuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuan vulkanik dan diorit memiliki karakteristik geokimia pembentuk AAT yang bervariasi. Logam Fe, Mn, Cu, Zn, Pb, dan Cd terdistribusi pada fraksi water soluble (pH netral), exchangeable & carbonates (pH rendah), dan Fe (I1I) oxyhydroxides (Eh-pH rendah). Sampel batuan dinding pit yang paling berisiko, diantaranya fraksi water soluble (Dio K-14), fraksi exchangeable & carbonates (Vul K-2), serta Fe (III) oxyhydroxides (Vul K-2). Mobilitas logam dipengaruhi oleh reaksi air-batuan dan pH air lindian. Hasil kinetik (FDCLT) menegaskan bahwa sampel batuan vulkanik (Vul K-2, Vul K-6, Vul K-11) yang memiliki kapasitas penyanggaan dan netralisasi asam dapat mempertahankan pH sirkumnetral, schingga memiliki kelarutan logam lebih rendah dibandingkan sampel batuan diorit (Dio K-14) yang memiliki pH lebih rendah. Kondisi asam ini memfasilitasi pelepasan logam yang terikat pada mineral karbonat dan mekanisme pertukaran ion. Hal inipun didukung oleh kondisi elektrokimia air (Eh-pH), pada pH <5 dan kondisi fase oksidatif logam berada dalam bentuk ion bebas dalam air lindian.
PEMANTAUAN MANIFESTASI AIR SEBAGAI RESPONS KEGIATAN PRODUKSI BERDASARKAN STUDI GEOKIMIA DI LAPANGAN PANAS BUMI MUARA LABOH, SUMATRA.
Lapangan Panas Bumi Muara Laboh mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2019. Lapangan ini aktif melakukan pemantauan manifestasi termal dengan tujuan untuk memahami respons manifestasi termal terhadap kegiatan produksi dan hubungannya dengan dinamika reservoir. Berdasarkan penelitian pemantauan fumarola di dekat area produksi disimpulkan bahwa tidak terjadi perubahan signifikan selama dua tahun pertama produksi. Namun, respons manifestasi air terhadap kegiatan produksi belum dilakukan meskipun perubahan manifestasi air dapat mencerminkan dinamika reservoir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan parameter fisika dan kimia manifestasi air serta penyebab perubahannya berdasarkan studi geokimia. Data penelitian terdiri dari delapan manifestasi air yang meliputi data parameter fisika dan kimia pada periode sebelum produksi dan setelah produksi. Data parameter fisika mencakup temperatur air manifestasi, pH, dan TDS, sementara data parameter kimia mencakup unsur terlarut dan isotop stabil. Data sebelum produksi meliputi data tahun 2008 dan 2016, sementara data setelah produksi meliputi data tahun 2022 yakni setelah tiga tahun pertama produksi. Data penelitian dianalisis perubahannya menggunakan grafik antar waktu, diagram terner, dan diagram klorida-entalpi (mixing model) untuk menginterpretasi penyebab perubahan serta proses dominan pada manifestasi air dengan ditunjang data geologi lokal, data kimia brine injeksi dan data kimia air meteorik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan signifikan parameter fisika dan kimia manifestasi air akibat kegiatan produksi terjadi pada manifestasi air Sapan Malulong, Bangko Kecil, dan Rimbo Tengah. Perubahan ini disebabkan oleh mixing dengan brine injeksi terdilusi dari sumur ML-D2 melalui sesar permeabel yang dikonfirmasi oleh tracer test. Sementara itu, manifestasi air Sapan Central mengalami perubahan yang tidak signifikan tetapi tetap dipengaruhi oleh kegiatan produksi, dengan proses boiling alami sebagai mekanisme utama. Sebaliknya, perubahan signifikan yang tidak terkait dengan kegiatan produksi terdeteksi pada manifestasi air Pekonina dan Air Hitam, yang mengalami perubahan akibat proses kondensasi. Adapun perubahan yang tidak signifikan dan tidak terpengaruh oleh produksi ditemukan pada manifestasi air Bukit Sikapa dan Pinangawan, yang didominasi oleh proses dilusi dengan air meteorik. Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan reservoir yang berkelanjutan serta mitigasi potensi dampak lingkungan.
KARAKTERISTIK DAN GENESA BATUAN ASAL LATERIT NIKEL SERTA HUBUNGANNYA TERHADAP KELIMPAHAN SKANDIUM DAERAH PULAU PAKAL - HALMAHERA TIMUR
Kepulauan Halmahera, di bagian timur dan bagian tengah, merupakan daerah dengan litologi berkomposisi kompleks batuan ultrabasa yang didalamnya terdapat batuan ultramafik berpotensi menghasilkan mineralisasi berupa laterit nikel. Daerah penelitian berada di Pulau Pakal adalah tambang nikel milik PT Antam Tbk. Penelitian hubungan batuan ultramafik dengan karakteristik kobalt (Co) pada endapan laterit nikel daerah Pulau Pakal bertujuan menganalisis jenis batuan asal yang dominan terhadap pengayaan kobalt, dan mengidentifikasi karakteristik kobalt endapan laterit nikel di daerah penelitian dengan melakukan identifikasi jenis mineral yang berasosiasi pada pengayaan kobalt (Co) di semua zona laterit dan, menentukan tipe cebakan kobalt (Co) pada batuan ultramafik jenis dunit, harzburgit, dan serpentinit. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis petrografi dan analisis XRD (X-Ray Diffraction), analisis geokimia menggunakan metode analisis XRF (X-Ray Fluoresence). Data pengambilan sampel yang mencukupi dianalisis statistik menggunakan histogram dan scatter diagram. Hasil penelitian hubungan batuan ultramafik dengan karakteristik kobalt (Co) pada endapan laterit nikel daerah Pulau Pakal menunjukkan bahwa konsentrasi kobalt bervariasi di sepanjang profil, dengan pengayaan tertinggi umumnya terjadi di zona limonit dengan batuan dasar jenis serpentinit mempunyai kadar paling tinggi dengan rata-rata kadar 0,229% dengan ketebalan zonasi limonit Β± 2 meter, sedangkan batuan dasar jenis dunit mempunyai kadar tinggi dengan rata-rata kadar 0,212% dengan ketebalan zonasi limonit Β± 10 meter sehingga menyimpulkan pada. litologi batuan dunit mempunyai potensi ekonomi yang lebih baik untuk dikaji lebih lanjut terutama pada zona limonit dibandingkan litologi batuan harzburgit dan serpentinit daerah Pulau Pakal
STUDI DAMPAK GEOKIMIA LAJU OKSIDASI DAN LAJU DISOLUSI PADA BATUAN ALTERASI TERHADAP KUALITAS AIR
Endapan porfiri yang terbentuk melalui interaksi larutan hidrotermal dengan batuan samping, umumnya terdirj atas mineral silikat, aluminosilikat dan sulfida. Endapan ini seringkali ditambang dengan metode penambangan terbuka, namun dapat meninggalkan void yang berpotensi membentuk pi! /ake pada masa pascatambang. Proses tersebut seringkali menimbulkan masalah lingkungan, seperti air asam tambang (AAT) yang muncul akibat oksidasi mineral sulfida disertai keberadaan air. Karakteristik batuan samping yang reaktif juga dapat membentuk kualitas air yang bervariasi pada pit lake yang dicirikan dengan kondisi pH asam atau basa. Pada penelitian ini terdapat enam belas kolom sampel batuan yang digunakan terdiri atas sembilan kolom sampel batuan vulkanik, 5 kolom sampel batuan diorite dan 2 kolom sampel batuan tonalite. Metode pengujian yang dilakukan meliputi beberapa pendekatan yaitu uji statik, uji mineralogi seperti X-Ray Diffraction (XRD) dan XRay Fluorescence (XRF), uji kinetik menggunakan metode free draining column leaching test (FDCLT) dengan tiga siklus penyiraman yaitu siklus 1 hari (harian) selama 28 hari, siklus 3 hari selama 30 hari dan siklus 7 hari selama 56 hari. Uji kimia air lindian meliputi Jon Chromatography (IC) dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) serta pemodelan reaksi geokimia dengan perangkat lunak PHREEQC untuk memahami dan memprediksi kualitas air lindian dan dampak geokimia yang ditimbulkan dalam jangka panjang. Laju oksidasi berdasarkan pendekatan mol besi (Fe), mol sulfat (SO3β) dan transfer mol pirit (FeS;) menunjukkan bahwa laju oksidasi cenderung meningkat pada kondisi pH asam terutama pada siklus mingguan. Sementara laju kelarutan yang didekati dengan mol kalsium (Ca) dan bikarbonat (HCO3) juga berperan dalam mengontrol potensi pembentukan AAT. Hubungan antara laju oksidasi dan laju kelarutan adalah jika laju oksidasi lebih cepat dibandingkan laju kelarutan, maka potensi pembentukan air asam akan meningkat. Dalam jangka panjang, konsentrasi sulfida dengan laju oksidasi tertinggi pada batuan vulkanik, diorite dan tonalite masing β masing akan habis dalam waktu 49 tahun, 66 tahun dan 94 tahun. Sementara masih pada litologi yang sama, untuk parameter pelarutan karbonat tertinggi masing β masing akan habis dalam waktu 78 tahun, 136 tahun dan 108 tahun
ANALISIS METODE PENINGKATAN RESOLUSI CITRA OPTIS TERVERIFIKASI LAPANGAN UNTUK MENDETEKSI SEBARAN MINERAL OKSIDA TAMBANG KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Salah satu metode eksplorasi tahap awal yang umum digunakan adalah penginderaan jauh, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung identifikasi keterdapatan mineral. Penggunaan teknologi penginderaan jauh dalam mengidentifikasi mineral masih dapat ditingkatkan dengan metode penajaman citra (pan-sharpening) untuk meningkatkan resolusi spasial, sehingga diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih akurat. Penelitian ini difokuskan pada evaluasi penerapan metode penajaman Gram Schmidt dalam mengidentifikasi sebaran mineral di wilayah Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan area validasi hasil pemetaan dilakukan pada Prospek Tambang Utara, IUP OP komoditas Nikel UBPN Kolaka, PT Antam Tbk, Kecamatan Pomalaa. Metode penajaman Gram Schmidt meningkatkan resolusi spasial citra multispektral 30 m menggunakan citra pankromatik menghasilkan citra multispektral baru dengan resolusi spasial 15 m. Penelitian ini melibatkan 186 sampel batuan inti yang diambil pada 5 titik bor untuk memverifikasi keakuratan citra sebelum dan sesudah penajaman. Analisis spektrometri menggunakan alat ASD TerraSpec Explorer/4 Hi-Res dilakukan untuk mengidentifikasi jenis mineral berdasarkan reflektansinya. Analisis geokimia dengan metode X-Ray Fluoresence (XRF) juga digunakan untuk mengevaluasi efektifitas metode Gram Schmit berdasarkan persentase unsur Ni dalam sampel batuan inti. Hasil korelasi menunjukkan mineral saponit dan antigorit memiliki kesesuaian yang paling tinggi dengan peningkatan kadar nikel. Spektral dari kedua mineral tersebut kemudian dijadikan acuan dalam identifikasi sebaran mineral menggunakan metode Spectral Angle Mapper (SAM). Validasi hasil identifikasi mineral dengan peta isograde Ni menunjukkan bahwa persebaran mineral saponit sesuai dengan kadar Ni 1 - 1.5%, sedangkan mineral antigorit sesuai dengan kadar Ni kurang dari 1%. Pada citra setelah penajaman, keterdapatan unsur Ni lebih konsisten dengan data lapangan, terutama di tambang terbuka dan pemukiman. Validasi pola spektral menunjukkan citra yang ditajamkan memiliki pola absorpsi yang sesuai dengan spektral sampel batuan inti dan referensi. Selain itu, validasi litologi dan pola kelurusan menunjukkan distribusi Ni berada pada batuan ultramafik dengan pola kelurusan N 330?E. Akurasi distribusi mineral saponit meningkat dari 50% pada citra sebelum penajaman menjadi 65% setelah penajaman dengan metode Gram-Schmidt.
MEKANISME ERUPSI KALDERA IJEN BERDASARKAN ANALISIS TEKSTURAL KUANTITATIF DAN GEOKIMIA PADA ENDAPAN PUMIS
Pada bagian utara dinding Kaldera Ijen, terdapat banyak endapan erupsi kaldera yang didominasi oleh kehadiran pumis. Kelimpahan endapan pumis mulai dari pumis yang relatif kecil (Β±2 cm) hingga pumis yang berukuran relatif besar (Β±10 cm). Namun tidak seperti produk erupsi kaldera pada umumnya yang ada di Indonesia yang menghasilkan endapan pumis yang selaras dari segi warna, erupsi Kaldera Ijen menghasilkan dua jenis pumis yang berbeda yaitu pumis gelap (PG) dan pumis terang (PT) yang tersebar di beberapa lokasi bagian utara kaldera. Kehadiran pumis gelap (PG) dan pumis terang (PT) ini menandai adanya perbedaan waktu erupsi. Oleh karena itu analisis tekstural kuantitatif dan geokimia menjadi sangat penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana mekanisme erupsi dari Kaldera Ijen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan data lapangan dan analisis laboratorium, yang terdiri dari analisis tekstural kuantitatif dan geokimia. Berdasarkan data tekstural dan geokimia, diperoleh sampel PT dengan nilai PVND berkisar antara 0.4 x 109 hingga 1.3 x 109 m-3 dan MVND berkisar antara 0.9 x 1015 hingga 1.0 x 1015 m-3 (SiO2 54 β 58 wt.%) sedangkan sampel PG memiliki nilai PVND berkisar antara 0.7 x 109 hingga 5.7 x 109 m-3 dan MVND berkisar antara 1.1 x 1015 hingga 3.1x1015 m-3 (SiO2 60 β 62 wt.%). Hasil tersebut memiliki nilai MVND yang tinggi (banyak gelembung kecil) yang disebabkan oleh laju dekompresi yang tinggi atau cepat (108 Pa/s). Dekompresi tinggi ini menghasilkan erupsi eksplosif yang intensif. Sehingga pada mekanisme pembentukan Kaldera Ijen diawali oleh dekompresi mendadak dengan laju dekompresi yang tinggi (6,00 x 108 Pa/s) lalu mengalami kenaikan dan terjadi secara intensif yang menghasilkan lapisan PT (PT-1 hingga PT-3). Karena dekompresi mendadak pada fase sebelumnya telah mengganggu sistem magmatik, maka magma mafik naik dan mengisi ruang magma felsik dan produk magma mafik ini diamati sebagai pumis berwarna gelap (PG). Setelah itu, erupsi mencapai fase klimaksnya saat mengeluarkan seluruh magma yang ada sehingga mengosongkan dapur magma. Setelah erupsi, ruang magma gunungapi yang kosong dapat runtuh sehingga membentuk depresi melingkar besar yang disebut dengan Kaldera Ijen.
KARAKTERISTIK GEOKIMIA DAN MINERALOGI ENDAPAN SEDIMEN DETRITUS DAN LATERIT BREKSI DAERAH ROUTA, KABUPATEN KONAWE
Endapan nikel laterit yang diasosiasikan dengan pelapukan batuan ultramafik menjadi target produksi nikel saat ini, namun terdapat kondisi yang membuat endapan laterit mengalami proses perpindahan dan terendapkan kembali sebagai endapan sedimen detritus di dataran yang lebih rendah. Akibat dari perubahan lingkungan serta masuknya material lain selama proses perpindahan dan pengendapan kembali, endapan sedimen detritus menunjukkan karakteristik yang berbeda dari material asalnya. Pemahaman terkait karakteristik geokimia dan mineralogi diperlukan untuk memahami proses pembentukan endapan sedimen detritus yang terdiri atas satuan displaced limonite, brown sediment, black sediment, dan gray sediment, serta satuan breksi peridotit dengan produk pelapukannya yaitu laterit breksi. Beberapa metode yang dilakukan diantaranya analisis petrografi dari sampel batuan inti batupasir serta sampel singkapan dari breksi peridotit, proyeksi stereografi dan kinematika dari data struktur serta LiDAR untuk menunjang identifikasi kelurusan. Selain itu, analisis statistik dilakukan pada data geokimia yang didapatkan dari pengujian X-ray fluorescence (XRF) menggunakan analisis univariat dan multivariat termasuk principal component analysis (PCA) dan matriks korelasi serta identifikasi mineralogi dari hasil pengujianX-ray powder diffraction (XRPD) untuk mengetahui karakteristik mineralogi setiap lapisan dan membantu menganalisis kondisi geologi daerah penelitian. Hasil analisis petrografi menunjukkan batupasir berbutir pasir sedang hingga sangat halus yang terendapkan di lokasi penelitian terdiri atas feldspathic wacke dan lithic wacke, sedangkan sampel breksi memperlihatkan tekstur monomiktik yang didominasi oleh peridotit. Proyeksi stereografi dan analisis kinematik memperlihatkan daerah penelitian terbentuk dari proses struktural yang kuat dan terus menerus dengan arah relatif selatan menenggara dan barat barat laut menyebabkan pengangkatan dan penurunan permukaan membentuk cekungan yang terjadi sepanjang Miosen yang kemudian dipotong oleh sesar geser sinistral. Analisis geokimia menunjukkan adanya peningkatan kandungan sulfur pada satuan brown sediment dan black sediment. Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh dari penguraian material organik yang didukung oleh kandungan karbon yang signifikan. Perubahan komposisi mineral oksida besi seperti goetit menjadi besi karbonat seperti siderit menjadi petunjuk adanya perubahan lingkungan dari yang bersifat oksidatif menuju reduktif. Kondisi lingkungan yang oksidatif dicirikan oleh satuan displaced limonite dengan karakteristik geokimia MgO <3,5 wt%. Lapisan ini didominasi oleh mineral goetit dan kaolinit sehingga diinterpretasi sebagai hasil dari pelapukan batuan ultramafik yang kemudian mengalami erosi dan transportasi menuju ke daerah yang lebih rendah. Kehadiran mineral lempung kaya potasium pada endapan laterit dianggap sesuatu yang tidak biasa, namun hal ini bisa dijelaskan karena adanya potasium yang terlarut selama proses transportasi dan pengendapan dari mineral seperti K-feldspar, biotit, ataupun klorit yang kemudian didalam satuan gray sediment berasosiasi dengan senyawa aluminosilikat membentuk mineral illit. Karakteristik geokimia lapisan ini terlihat dari kandungan K2O ?0,15 wt%. Selain itu, satuan laterit breksi memperlihatkan tingkat pelapukan menengah dengan dominasi mineral oksida besi seperti goetit; mineral alterasi seperti lizardit; dan pengendapan silika. Kandungan sulfur <0,015 wt% mengindikasikan bahwa pembentukannya tidak dipengaruhi oleh keberadaan material organik dan tidak pada kondisi lingkungan yang anaerob. Hal ini membuktikan bahwa lapisan ini merupakan hasil pelapukan dari breksi peridotit yang sering dijumpai bersama-sama dalam profil endapan laterit daerah penelitian.
PETROLOGI, GEOKIMIA, DAN MEKANISME KEMUNCULAN BASAL DI BELAKANG BUSUR VULKANIK: STUDI KASUS BASAL SUKADANA, LAMPUNG
Kemunculan Basal di permukaan bumi khususnya di belakang busur vulkanik masih belum terselesaikan tak terkecuali Basal Sukadana, di Provinsi Lampung. Petrogenesis dan mekanisme kemunculannya di lempeng benua khususnya di belakang busur vulkanik masih diperdebatkan. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengungkapkan petrogenesis Basal Sukadana dan mekanisme kemunculannya di belakang busur vulkanik sumatra melalui metode observasi lapangan, petrografi, metode geofisika gayaberat, analisis geokimia umum dengan menggunakan metode XRF ICP-OES (Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectroscopy; dan metode ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry), Isotop Sr-Nd-Pb-Hf, dan penentuan umur menggunakan metode 40Ar/39Ar. Basal Sukadana memiliki karakteristik petrologi yaitu bertekstur afanitik, mineral fenokris yang umum yaitu mineral plagioklas, piroksen, dan olivin, dengan struktur yang berkembang masif yaitu vesikuler, dan memiliki alterasi iddingsite rim. Data geokimia umum menunjukkan bahwa Basal Sukadana memiliki dua grup petrogenesis yaitu grup A (<Nb 22 ppm) dan grup B (Nb>22 ppm), masing-masing grup memiliki kemiripan karakteristik dengan Calc-Alkaline dan Ocean Island Basalt, memiliki tingkat kontaminasi minimal, dan tingkat fraksinasi kristalisasi yang minor. Grup A diperkirakan erupsi pada 299,6Β±11,2 Rtyl dan grup B diperkirakan erupsi pada 266.7 Β± 3.7 Rtyl. Integrasi data geokimia umum dengan data isotop Sr-Nd-Pb-Hf menunjukkan bahwa grup A merupakan produk metasomatisma oleh peluruhan material sedimen atau kerak lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah lempeng Eurasia, sedangkan grup B merupakan produk pencampuran magma dari astenosfer yang dalam dengan magma hasil metasomatisma oleh peluruhan material sedimen atau kerak lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah lempeng Eurasia. Magma dari astenosfer naik keatas melalui robekan lempeng pada lempeng samudera. Kedua grup magma ini naik ke permukaan bumi melalui sesar-sesar normal melalui mekanisme peluruhan dekompresi sebagai akibat deformasi tensional di kerak benua. Peluruhan dekompresi secara tidak langsung diakibatkan oleh aktivitas Sesar Sumatra. Penelitian ini berkontribusi dalam model kemunculan magma di zona transisi subduksi ortogonal dan oblik, perubahan kontras magma bertipe ARC ke magma bertipe OIB karena robekan lempeng dan kontribusi baru bahwa nilai Nb tinggi dapat berasal mantel sumber berjenis OIB yang mengalami peluruhan sebagian (dicirikan oleh nilai isotop berjenis MORB dan elemen jejak bertipe OIB).
ANALISIS MIKROSKOPI DAN GEOKIMIA PADA ENDAPAN FE-SKARN DI PELAIHARI, KABUPATEN TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik mineralogi dan geokimia endapan Fe-skarn di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menggunakan metode mikroskopi dan analisis geokimia. Daerah penelitian dibagi menjadi dua zona, yaitu endoskarn dan eksoskarn, yang dibedakan berdasarkan jaraknya dari intrusi magmatik. Pengamatan mikroskopi dilakukan pada sayatan tipis dan poles, sementara analisis geokimia memanfaatkan data ICP-MS dan XRF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona eksoskarn memiliki kandungan Fe yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona endoskarn, dengan tipe endapan skarn di wilayah penelitian tergolong sebagai calcic iron skarn. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam memahami distribusi mineral dan kondisi geokimia pada zona endoskarn dan eksoskarn, serta berpotensi menjadi referensi dalam eksplorasi sumber daya mineral, khususnya dalam mengidentifikasi zona dengan kandungan Fe tertinggi di daerah tersebut.