📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 146 dokumen

PERKEMBANGAN HIPPOPOTAMIDAE DI PULAU JAWA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI LINGKUNGAN DAN GEOLOGI PULAU JAWA PADA ZAMAN KUARTER

Hippopotamidae diketahui pernah hidup di Pulau Jawa berdasarkan keberadaan fosil-fosilnya. Beberapa peneliti telah mendeskripsikan dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga spesies Hippopotamidae di Pulau Jawa, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ketiga jenis Hippopotamidae tersebut adalah spesies yang sama. Perbedaan ini memunculkan diskusi lebih lanjut mengenai spesies apa yang pernah hidup di Pulau Jawa di masa lalu. Dua puluh satu spesimen fosil Hippopotamidae (termasuk dua belas spesimen yang baru ditemukan dan spesimen yang belum dideskripsi sebelumnya) yang dikumpulkan dari beberapa lokasi dan posisi stratigrafi di Jawa dianalisis dan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Analisis paleontologi kualitatif dan kuantitatif kemudian analisis geologi dilakukan pada studi fosil Hippopotamidae ini. Hasil analisis dari morfologi tengkorak dan gigi menunjukkan bahwa semua fosil Hippopotamidae di Pulau Jawa berasal dari genus Hexaprotodon. Bukti kami menunjukkan bahwa terdapat dua jenis Hexaprotodon di Jawa, yaitu Hexaprotodon yang relatif kecil pada periode awal Pleistosen Awal (Gelasian) - akhir Pleistosen Awal (Calabrian) – Pleistosen Tengah (Chibanian), dan Hexaprotodon yang lebih besar dari periode Chibanian akhir-Pleistosen akhir. Berdasarkan anatominya, Hexaprotodon kecil dari Jawa disebut Hexaprotodon sivajavanicus merupakan turunan dari Hexaprotodon sivalensis dari India sedangkan Hexaprotodon besar dari Jawa disebut Hexaprotodon megakendengensis sebagai hasil evolusi dari Hexaprotodon sivajavanicus selama masa Pleistosen di Pulau Jawa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mendinginnya iklim dunia selama masa Pleistosen yang berimplikasi pada berkembangnya sistem sungai dan padang rumput di Pulau Jawa pada masa Gelasian-Pleistosen Akhir. Di awal Pleistosen Hexaprotodon sivajavanicus hidup di lingkungan hutan rawa yang lebih tertutup yang kemudian berubah menjadi Hexaprotodon megakendengensis ketika lingkungan hidup di Pulau Jawa berubah menjadi lingkungan fluviatil savana yang lebih terbuka di Pleistosen Akhir.

2026
👤 Penulis: Unggul Prasetyo Wibowo
🏷️ Paleontologi 🏷️ Geologi 🏷️ Evolusi Hewan

IDENTIFIKASI DAN PENENTUAN PRIORITAS INDIKATOR KEBERLANJUTAN INFRASTRUKTUR GEOWISATA DI GEOPARK KALDERA TOBA

Geopark Kaldera Toba sebagai salah satu sistem kaldera terbesar di dunia memiliki signifikansi geologi dan pariwisata global, namun menghadapi tekanan lingkungan akibat pengembangan infrastruktur pariwisata yang belum sepenuhnya berbasis keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menetapkan prioritas indikator keberlanjutan infrastruktur geowisata sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan di Kawasan Geopark Kaldera Toba. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sekuensial eksploratif, melalui identifikasi dan validasi indikator secara kualitatif menggunakan kajian literatur dan wawancara mendalam, serta penentuan bobot dan prioritas indikator secara kuantitatif menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) berbasis penilaian ahli. Hasil penelitian menunjukkan adanya penambahan indikator kontekstual, yaitu konektivitas antar-geosite, etika ekologis, kemandirian pendanaan, serta koordinasi dan sinergi multi-pihak, yang menegaskan bahwa indikator keberlanjutan bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh karakteristik geopark vulkanik dengan sensitivitas lingkungan dan kompleksitas aktor yang tinggi. Hasil pembobotan menunjukkan bahwa aspek lingkungan merupakan prioritas utama, diikuti oleh kelembagaan, ekonomi, dan sosial-budaya. Pada tingkat indikator, konservasi geologi dan ketahanan lingkungan menjadi fokus utama dimensi lingkungan; kesejahteraan dan pendapatan lokal serta kelayakan finansial pada dimensi ekonomi; edukasi dan peningkatan kesadaran pada dimensi sosial-budaya; serta koordinasi dan sinergi multi-pihak pada dimensi kelembagaan. Struktur prioritas ini menegaskan bahwa keberlanjutan infrastruktur geowisata dipahami sebagai sistem hierarkis, di mana perlindungan warisan geologi dan penguatan tata kelola kelembagaan merupakan prasyarat fundamental bagi keberlanjutan manfaat ekonomi dan sosial-budaya. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan kerangka indikator keberlanjutan infrastruktur geowisata yang terprioritaskan secara kuantitatif dan kontekstual untuk geopark vulkanik berskala luas, sehingga berkontribusi secara teoretis dan praktis sebagai dasar evidence-based policy yang selaras dengan prinsip UNESCO Global Geopark.

2026
👤 Penulis: Febriani V BR Sihombing
🏷️ Geologi 🏷️ Pariwisata 🏷️ Kepemimpinan Keberlanjutan

STUDI GEOLOGI, ALTERASI, DAN MINERALISASI DI DAERAH TIRTOYUDO DAN SEKITARNYA, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR

Daerah Malang Selatan merupakan salah satu wilayah dengan kerangka tektonik margin aktif dan litologi batuan volkanik yang mendukung terbentuknya endapan logam bijih melalui aktivitas fluida hidrotermal. Penelitian ini membahas kondisi geologi, struktur, alterasi, dan mineralisasi di daerah Tirtoyudo dan sekitarnya, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Daerah ini berada pada Pegunungan Selatan yang merupakan bagian dari busur magmatik Sunda–Banda dan dipengaruhi oleh proses subduksi Lempeng Samudra Hindia serta kolisi Roo Rise pada kala Miosen. Penelitian dilakukan melalui pemetaan geologi, analisis petrografi dan mineragrafi, serta identifikasi mineral alterasi menggunakan ASD (Analytical Spectral Device). Hasil penelitian menunjukkan empat satuan batuan utama, yaitu Breksi Volkanik, Intrusi Andesit Porfiritik, Tuf Gelas, dan Breksi Hidrotermal. Struktur geologi yang berkembang didominasi oleh sesar geser mengiri berarah NE (northeast) – SW (southwest) yang berperan sebagai jalur utama migrasi fluida hidrotermal. Alterasi hidrotermal membentuk enam zona, yaitu zona silika; pirofilit ± dikit ± kuarsa; dikit ± kaolinit ± kuarsa; ilit ± kaolinit ± kuarsa; klorit ± smektit ± epidot ± kuarsa; serta smektit ± klorit ± karbonat. Mineralisasi ditemukan dalam bentuk diseminasi pirit, kalkopirit, dan kovelit, dengan asosiasi mineral yang menandakan sistem epitermal sulfidasi tinggi. Secara keseluruhan, geologi, pola alterasi, dan mineralisasi menunjukkan bahwa daerah penelitian berada pada lingkungan epitermal sulfidasi tinggi kedalaman dangkal hingga sedang yang dikontrol oleh struktur sesar geser berarah NE–SW.

2026
👤 Penulis: Adrian Ksatria Boediman
🏷️ Geologi 🏷️ Alterasi Mineralisasi 🏷️ Hidrologi

GEOLOGI DAERAH KECAMATAN BONEPANTAI DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BONE BOLANGO, PROVINSI GORONTALO

Berdasarkan studi literatur, wilayah Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo merupakan daerah dengan potensi endapan mineral. Namun, informasi geologi rinci di daerah tersebut masih sangat terbatas; oleh karena itu, diperlukan kajian geologi yang lebih rinci untuk membangun pemahaman dasar sebelum tahapan eksplorasi lanjut dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi geologi daerah Bonepantai dan sekitarnya yang meliputi geomorfologi, litologi, stratigrafi, dan struktur geologi, serta merekonstruksi sejarah geologi daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi dengan skala 1:25.000, didukung oleh studi literatur, analisis geomorfologi, analisis petrografi, dan analisis struktur geologi. Berdasarkan Pemetaan geologi pada luas 59,39 km², teridentifikasi enam satuan geomorfologi meliputi Perbukitan Aliran Lava Bondawuna, Perbukitan Intrusi Pelita Hijau, Perbukitan Intrusi Tunas Jaya, Punggungan Aliran Piroklastik Tamboo, dan Perbukitan Sisa Gunungapi Tulabolo Barat. Terdapat 10 satuan batuan yang terpetakan, terdiri atas yang tertua: Satuan Batupasir–Batulanau, Satuan Batugamping, Satuan Lava Andesit, Satuan Tuf Dasit, Satuan Tuf Lapili, Satuan Intrusi Diorit, Satuan Intrusi Andesit Piroksen, Satuan Intrusi Granit, Satuan Breksi Hidrotermal, dan Satuan Breksi Tuf. Struktur geologi berupa delapan sesar terpetakan dan dikelompokkan ke dalam dua tahap deformasi. Tahap pertama meliputi sesar mendatar dekstral NW–SE, sesar mendatar sinistral NNE–SSW, serta sesar normal NNW–SSW. Tahap kedua menghasilkan sesar normal dan normal-menganan ENE–WSW. Satuan granit yang tidak terpotong oleh sesar diinterpretasikan sebagai intrusi pascakolisi yang berkaitan dengan fase magmatisme pascakolisi pada rezim ekstensional, yang dipicu oleh proses rollback subduksi di Palung Sulawesi Utara. Integrasi data struktur geologi berupa sesar, kekar gerus dan kekar tarik menunjukkan bahwa daerah Bonepantai dikontrol oleh sistem ekstensional yang berhubungan dengan subduksi rollback Laut Sulawesi Utara. Selain itu, keberadaan breksi hidrotermal mengindikasikan adanya sistem hidrotermal yang berkembang dan berpotensi membawa mineralisasi.

2026
👤 Penulis: Muhammad Gilang Aldiansach
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Mineralisasi

GEOLOGI DAN PENILAIAN GEOWISATA DI WILAYAH GUNUNG TAMPOMAS, KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT

Wilayah Gunung Tampomas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat memiliki bentang alam vulkanik dan berpotensi untuk dijadikan kawasan geowisata. Namun, kawasan ini hanya dimanfaatkan untuk rekreasi visual semata, tanpa adanya integrasi dengan aspek edukasi kebumian yang mendalam. Kendala utama yang dihadapi adalah belum adanya deskripsi setiap situs geologi, interpretasi proses pembentukan situs geologi, dan penilaian kuantitatif terhadap situs geologi. Tidak adanya ketiga komponen tersebut menghambat transformasi wilayah Gunung Tampomas menjadi laboratorium alam yang dapat memberikan nilai edukasi dan konservasi. Maksud dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi data geologi untuk merekonstruksi pembentukan setiap situs geologi dan melakukan penilaian kuantitatif yang terukur untuk merancang rekomendasi pengembangan jalur wisata alam berbasis edukasi. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan lapangan dan laboratorium. Pengambilan data primer dilakukan di lima situs geologi: Mata Air Cikandung, Curug Cipadayungan, Curug Ciputrawangi, Mata Air Cipanas Cileungsing, dan Mata Air Ciembutan. Analisis petrografi dilakukan untuk menentukan mineralogi dan nama batuan secara presisi. Pengambilan data struktur juga dilakukan untuk melengkapi interpretasi pembentukan situs geologi. Selanjutnya, penilaian kelayakan setiap situs geologi dilakukan dengan menggunakan metode penilaian kuantitatif yang mengevaluasi lima kategori: Nilai ilmiah dan intrinsik, nilai edukasi, nilai ekonomi, nilai konservasi, dan nilai tambah. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya untuk memberikan gambaran holistik yang menyeimbangkan aspek saintifik dan aspek manajemen pariwisata berkelanjutan. Hasil dan pembahasan menunjukkan keragaman vulkanik yang kompleks pada pembentukan Gunung Tampomas. Mata Air Cikandung diinterpretasikan sebagai mata air kontak di endapan Aliran Piroklastik Tampomas 1 dengan litologi bongkahan-bongkahan dasit yang masif dan akuifer dikontrol oleh porositas sekunder. Curug Cipadayungan tersusun atas batuan tuf kristal yang mengalami proses pengelasan dan membentuk dinding air terjun yang resisten akibat suhu pengendapan yang tinggi disertasi kemunculan kekar akibat gaya tektonik lokal. Curug Ciputrawangi memperlihatkan lava andesit dengan fitur kekar berlembar yang terbentuk akibat pelepasan beban tekanan batuan dan adanya muncul shear fracture. Mata Air Cipanas Cileungsing merupakan manifestasi panas bumi yang bertipe lateral outflow yang muncul pada Satuan Jatuhan Piroklastik yang berada di atas satuan aliran lava dengan jejak oksidasi besi yang kuat. Mata Air Ciembutan muncul dari lapisan tuf gelas yang berfungsi sebagai filter alami sehingga menghasilkan air yang memiliki rona turquoise. Berdasarkan penilaian kuantitatif geowisata, Curug Ciputrawangi menempati peringkat kelayakan tertinggi dengan skor akhir 58,3, didukung oleh nilai ilmiah yang baik, infrastruktur yang memadai, dan adanya produk lokal (kerupuk opak). Mata Air Cipanas Cileungsing menyusul dengan skor 55,8 berkat nilai tambah budaya dan ekonomi yang tinggi. Mata Air Cikandung memperoleh skor 53,3 berkat nilai tambah budaya, aksesibilitas mudah, dan infrastruktur yang memadai. Curug Cipadayungan mendapatkan skor 38,3 karena belum adanya perlindungan hukum dan memiliki nilai tambah yang kurang baik. Meskipun begitu, Curug Cipadayungan memiliki nilai ilmiah dan intrinsik yang tergolong tinggi karena memiliki memiliki keunggulan di keragaman geologi dan tidak terdapat kerusakan pada situs. Mata Air Ciembutan tercatat memiliki skor terendah, yaitu 27,5 yang disebabkan oleh minimnya aksesibilitas dan fasilitas penunjang meskipun memiliki potensi ilmiah yang unik. Letak kebaruan penelitian ini terdapat proses integrasi data mikropetrografi, evaluasi pariwisata numerik yang belum pernah dilakukan sebelumnya di kawasan ini, dan penyusunan peta rekomendasi geotrek yang membentang dari barat, utara, hingga timur Gunung Tampomas.

2026
👤 Penulis: Fikra Asyrafi
🏷️ Geologi 🏷️ Pendidikan Geologi 🏷️ Manajemen Pariwisata

PEMODELAN RESERVOIR STATIS TIGA DIMENSI DAN ESTIMASI KAPASITAS PENYIMPANAN CO2, FORMASI MINAHAKI DAN MENTAWA, LAPANGAN PALADIN, CEKUNGAN BANGGAI, SULAWESI TENGAH

Pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, yang menuntut upaya signifikan dalam mitigasi emisi gas rumah kaca, termasuk dari sektor industri minyak dan gas bumi. Karbondioksida (CO2) adalah salah satu gas rumah kaca utama, dan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) diakui sebagai solusi untuk mengurangi emisinya. Lapangan Paladin, Cekungan Banggai, Sulawesi Tengah, menunjukkan potensi besar sebagai lokasi penyimpanan CO2. Penelitian ini berfokus pada analisis kondisi geologi meliputi stratigrafi dan struktur menggunakan data sumur, seismik, dan batuan inti; pemodelan reservoir statis menggunakan metode geostatistika; dan perhitungan estimasi awal penyimpanan CO2 pada interval penelitian. Pemodelan reservoir statis tiga dimensi (3D) dibutuhkan untuk menggambarkan kondisi dan persebaran properti fisik bawah permukaan, meliputi porositas, permeabilitas, dan saturasi hidrokarbon. Hasil pemodelan 3D ini diharapkan dapat memberikan dasar yang kuat untuk perencanaan dan implementasi proyek CCS di masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lapangan Paladin ini merupakan bagian dari Cekungan Banggai dengan dominasi struktur sesar normal berarah timur laut – barat daya. Lapangan Paladin sendiri menunjukkan keragaman litologi yang dibagi menjadi tiga asosiasi fasies utama: reef core, fore reef, dan deep shelf, yang lebih lanjut diklasifikasikan ke dalam enam Tipe Batuan (RT1 hingga RT6). Pemodelan geologi mengidentifikasi dua area akumulasi hidrokarbon yang signifikan yakni wilayah selatan serta di wilayah utara. Potensi penyimpanan karbon di wilayah penelitian ini juga dievaluasi, dengan kapasitas estimasi penyimpanan karbon sebesar 266,79 MtCO2 di bagian reservoir terdeplesi dan 38,27 MtCO2 di bagian akuifer salin.

2026
👤 Penulis: Naufal Hilmi Putra
🏷️ Geologi 🏷️ Carbon Capture And Storage (Ccs) 🏷️ Hidrokarbon

STUDI PENURUNAN MUKA TANAH SERTA IDENTIFIKASI KERUGIANAKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG

Penurunan muka tanah merupakan fenomena yang banyak terjadi di kota – kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Penurunan muka tanah di Cekungan Bandung diduga disebabkan oleh pengambilan airtanah secara berlebihan, kompaksi alamiah, beban bangunan dan pengaruh tektonik. Penurunan muka tanah di Cekungan Bandung juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi seperti kerusakan pada bangunan, infrastruktur, dan memperparah genangan banjir. Pemantauan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung telah dilakukan dengan metode survey GPS dari tahun 2000 sampai 2010 di beberapa daerah yang diduga mengalami penurunan muka tanah dan penurunan muka airtanah yang relatif besar. Survey lapangan juga dilakukan di Cekungan Bandung untuk mengidentifikasi kerugian ekonomi yang mungkin timbul akibat penurunan muka tanah. Hasil pengolahan data GPS menunjukkan pada periode tahun 2000 sampai 2010 beberapa daerah di Cekungan Bandung telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 1 sampai 16 cm pertahun yang bervariasi baik secara spasial maupun temporal. Hal ini disebabkan oleh pengambilan airtanah yang berlebihan dan juga proses kompaksi alamiah. Penurunan muka tanah yang paling besar dialami oleh daerah - daerah yang mengalami penurunan muka airtanah yang besar pula seperti Cimahi, Dayeuhkolot, Rancaekek dan Majalaya. Kerugian ekonomi telah teridentifikasi di wilayah terdampak seperti retakan pada dinding bangunan dan jalan tol, biaya untuk menaikkan halaman rumah, dan memperparah genangan banjir. Pemantauan terhadap penurunan muka tanah ini berguna untuk pengaturan pengambilan airtanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan dalam pembangunan infrastruktur.

2026
👤 Penulis: Edward
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Analisis Data Geospasial

SURVEI DAN ANALISIS MORFOLOGI PANTAI DI KECAMATAN MUARA GEMBONG, KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT

Kecamatan Muara Gembong berada pada Kabupaten Bekasi, Jawa Barat memiliki daerah pesisir kurang lebih sepanjang 36 km. Daerah pesisir Kecamatan Muara Gembong memiliki karakteristik morfologi pesisir tersendiri. Proses sedimentasi dan abrasi mempengaruhi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Survei morfologi pantai diperlukan untuk mengetahui perilaku fenomena morfologi di sepanjang pesisir daerah tersebut guna membentuk sistem atau cara penanggulangan, sistem perencanaan dan pemanfaatan lahan serta sistem evaluasi dampak sedimentasi pada pesisir Muara Gembong. Survei morfologi pantai yang dilakukan untuk mendapatkan data morfologi pantai Kecamatan Muara Gembong terbagi menjadi dua yaitu pengambilan sampel sedimen yang dilakukan untuk menentukan karakteristik sedimen dan investigasi garis pantai yang dilakukan untuk klasifikasi pesisir Muara Gembong. Pengambilan sampel sedimen di pesisir Muara Gembong dilakukan dengan cara manual. Pergerakan sedimen dapat terjadi ketika nilai actual shields parameter lebih besar dibanding nilai critical shields parameter sedimen tersebut. Dari pergerakan sedimen lalu ditentukan jenis perpindahan sedimen dengan membandingkan nilai dari falling velocity dengan nilai kecepatan arus. arah arus digunakan untuk menentukan arah pergerakan sedimen pada kecepatan arus tercepat saat pasang dan surut. Untuk mengenali kondisi awal, sifat dan potensi dari pesisir Muara Gembong maka dilakukan investigasi garis pantai yang menghasilkan klasifikasi pesisir. Dari perhitungan pergerakan sedimen dan jenis perpindahan sedimen didapatkan seluruh sedimen bergerak pada saat keadaan pasang sedangkan pada saat surut hanya terdapat tiga dari sepuluh sampel yang bergerak. Dari keseluruhan pergerakan tersebut, sedimen tersuspensi pada perairan. Dari klasifikasi pesisir yang dilakukan, pesisir Muara Gembong tergolong kepada pesisir dengan kendali tektonik yang relatif stabil, berlokasi membelakangi samudera lepas, memiliki kemiringan yang landai, sedimennya tergolong pada pasir sangat halus, memiliki vegetasi yang didominasi oleh hutan bakau, dan tergolong pada pantai primer atau lebih dipengaruhi proses dari daratan sedangkan proses dari laut lebih didominasi oleh gelombang.

2026
👤 Penulis: MUSTAFA IHSAN IRAQI (NIM : 15108017) ; (Pembimbing :Dr. rer. nat. Wiwin Windupranata, S.T., M.Si. ;
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Morfologi Pantai

IDENTIFIKASI KERUSAKAN PASCA GEMPA MENGGUNAKAN METODE OBJECT BASED IMAGE ANALYSIS MULTI PARAMETER

Seperti yang kita tahu, gempa bumi merupakan bencana yang dapat menyebabkan kerusakan bangunan seperti ketidakstabilan hingga keruntuhan bangunan. Selain itu kerusakan bangunan juga berdampak kepada efek sosial-ekonomi di dalam masyarakat. Indonesia sebagai negara yang terletak di daerah cincin api (ring of fire) merupakan negara yang cukup sering dilanda gempa hingga pada skala yang cukup besar. Pada tanggal 30 September 2009 Kota Padang dilanda gempa drengan kekuatan sebesar 7,9 skala ritcher yang mengakibatkan 100.000 bangunan mengalami kerusakan. Saat ini penginderaan jauh dapat sangat berperan dalam mengidentifikasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa. Studi kali ini akan berfokus terhadap pengidentifikasian kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh gempa menggunakan citra beresolusi tinggi (IKONOS yang diambil pada tanggal 2 Oktober 2009) dan pengaplikasian OBIA (Object Based Image Analysis) sebagai metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisa kerusakan pasca gempa. Sebagai hasil dari penelitian ini, teknologi pengideraan jauh dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan bangunan pasca gempa dengan menggunakan citra satelit beresolusi tinggi.

2026
👤 Penulis: IKHSAN SAUMANTRI (NIM : 15108025); pembimbing : Prof. Ketut Wikantika, Ph.D. ;Dr. Soni Darmawan, ST
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Citra 🏷️ Manajemen Resiko Gempa Bumi

KAJIAN TINGKAT PENGARUH SIGNIFIKANSI PASUT LAUT DAN KEMIRINGAN PANTAI DALAM PENDEFINISIAN GARIS PANTAI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG INFORMASI GEOSPASIAL (UU No 4 Tahun 2011)

Sebelum dibentuknya Undang-Undang Informasi Geospasial (UU IG), di dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Survey Hidrografi dan Peta Dasar Lingkungan Pantai Indonesia, telah ditetapkan mengenai definisi garis pantai dan pemilihan pasut laut tertentu yang digunakan untuk menentukan garis pantai, namun berbeda dengan UU IG. Pada Tugas Akhir ini akan diteliti sejauh mana pengaruh pasut laut dan kemiringan pantai dalam menentukan tingkat signifikansi garis pantai dalam penggambarannya pada Peta Dasar. Daerah penelitian pada Tugas Akhir ini yaitu : Batam, Benoa dan Tarakan. Data yang digunakan pada penelitian ini meliputi : data pasut yang diambil oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), data air tinggi dan air rendah yang diperoleh dari BIG, Peta Batimetri yang diproduksi oleh DISHIDROS TNI-AL, dan data kemiringan pantai dari Dinas Geologi Tata Lingkungan. Metodologi yang digunakan pada Tugas Akhir dimulai dari tahap studi literatur, pengumpulan data, penentuan signifikansi garis pantai, dan analisis signifikansi garis pantai. Dari hasil penelitian Tugas Akhir ini dapat disimpulkan bahwa, selisih perbedaan datum pasut laut berbanding lurus dengan tingkat signifikansi garis pantai, sedangkan pengaruh kemiringan pantai berbanding terbalik dengan tingkat signifikansi garis pantai. Untuk kasus Peta LPI pada ketiga daerah penelitian, harus dilakukan kembali pengamatan pasut dan pengukuran garis pantai karena perbedaan garis pantai Peta LPI yang menggunakan kedudukan muka air laut rata-rata berdasarkan SNI dengan garis pantai Peta LPI yang menggunakan surut terendah berdasarkan UU IG termasuk dalam katagori signifikan

2026
👤 Penulis: HABBIE RIZAQ (NIM :15108041); Pembimbing : Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT.; Dr. Ir. Irdam Adil, MT.
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Informasi Geospasial

ANALISIS PERUBAHAN LAHAN DAN PENURUNAN MUKA TANAH PASCA SEMBURAN LUMPUR PANAS SIDOARJO DENGAN METODE PENGINDERAAN JAUH DAN GPS

Semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo terjadi pertama kali pada tanggal 29 Mei 2006. Sudah 4 tahun berlalu namun lumpur panas tak kunjung berhenti meluap dari bawah permukaan bumi. Bencana ini menimbulkan berbagai dampak, baik yang terlihat secara fisik maupun tidak. Dampak yang terlihat secara fisik antara lain adanya genangan lumpur di atas permukaaan tanah, turunnya permukaan tanah, munculnya retakan dan bualan, serta pencemaran air dan udara. Sedangkan dampak yang tidak terlihat secara fisik antara lain meningkatnya pengangguran dan kriminalitas. Ketersediaan peta daerah terdampak sangatlah penting, untuk memperoleh informasi daerah mana saja yang terkena dampak akibat semburan lumpur panas Sidoarjo. Pada penelitian kali ini, peta daerah terdampak yang dibuat mencakup dampak perubahan lahan dan penurunan muka tanah. Identifikasi perubahan lahan dapat dilakukan dengan melakukan klasifikasi dari interpretasi citra satelit multitemporal. Sedangkan penurunan muka tanah dapat diukur dengan melakukan pengukuran GPS secara rutin setiap tahun untuk mendapatkan perubahan nilai penurunan tanah yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa perubahan lahan hanya terjadi pada wilayah yang terkena genangan lumpur panas serta penurunan muka tanah terjadi secara luas hingga radius beberapa kilometer dari pusat semburan.

2026
👤 Penulis: Rr. ATIKA RETNANINGTYAS (NIM 15106034); Pembimbing: Dr. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng. dan Heri Andreas
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Citra Satelit 🏷️ Pengukuran Gps

STUDI POSTSEISMIK GEMPA PANGANDARAN DARI DATA PENGAMATAN GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM) TAHUN 2006-2008

Gempa dan tsunami Pangandaran 2006 yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 pukul 3 sore hari mengakibatkan kerugian matrial dan korban juwa yang tidak sedikit. Gempa tersebut tercatat dengan kekuatan 7,7 Mw (BMG, 2006). Gempa tersebut memiliki titik episenter yang terletak 200 km dari daratan terdekat. Gempa tersebut menghasilkan sebuah efek pasca gempa yang disebut dengan fase postseismik, yang mana postseismik itu sendiri merupakan salah satu siklus gempa. Dengan mempelajari siklus gempa diharapkan dapat diketahui periode pengulangan gempa. Dengan melihat fase setelah gempa (postseismik) diharapkan dapat memprediksi pengulangan gempa di masa mendatang, sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Salah satu upaya untuk mempelajari siklus gempa ini adalah dengan metode survei GPS. Survei GPS dilakukan dengan mengamati titik-titik pengamatan GPS di sekitar Pangandaran. Pada tanggal 23-30 Juli 2006 survei GPS kala-1 dilakukan dengan melakukan pengamatan di 24 titik pengamatan. Pada kala-2 pada tanggal 9-14 Agustus 2007 diamati 24 titik pengamatan. Dan pada kala-3 1-5 Agustus 2008 diamati 23 titik. Metode yang digunakan adalah metode diferensial dengan moda jaring. Dari hasil pengolahan dan analisis mengindikasikan bahwa titik-titik di sekitar Pangandaran mengalami penurunan deformasi dari tahun 2006-2007 ke tahun 2007-2008, artinya postseismik semakin melemah. Gerakan pergeserannya menuju ke arah selatan, sama dengan tahapan koseismiknya.

2026
👤 Penulis: BRAGO ADI JAYA PUTRANTO (NIM 15106033); Pembimbing: Dr. Ir. Irwan Meilano, M.Sc. dan Irwan Gumilar,
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Gps 🏷️ Mitigasi Bencana

IDENTIFIKASI DAERAH RISIKO TSUNAMI WILAYAH PANGANDARAN BERDASARKAN KERENTANAN DAN BAHAYA DENGAN MEMODIFIKASI DATA TATA GUNA LAHAN DAN KEPADATAN PENDUDUK

Secara geografis, Indonesia berada di beberapa jalur patahan atau tumbukan antar lempeng antara lain, lempeng Eurasia dan Indo-Australia Indonesia. Akibatnya, Indonesia menjadi rawan terhadap bencana gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi di lautan berpotensi menyebabkan tsunami. Dalam kurung waktu kurang dari 10 tahun terakhir, tsunami di Indonesia telah merenggut ratusan ribu korban jiwa di Aceh pada tahun 2004 dan pada tahun 2006 di Pangandaran tepatnya tanggal 17 Juli yang merenggut ratusan korban jiwa. Pangandaran merupakan daerah rawan terjadinya bencana gempa yang berpotensi tsunami. Berdasarkan kondisi yang telah dipaparkan, maka perlu dilakukan analisis daerah bahaya yang dapat dilakukan dengan menggunakan data satelit dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Bahaya tsunami dilihat dari data ketinggian gelombang tsunami yang telah terjadi, sedangkan kerentanan tsunami dilihat dari kondisi fisik, sosial kependudukan, dan ekonomi. Dari kondisi-kondisi tersebut maka dapat dilakukan analisis risiko tsunami yang berguna dalam mitigasi bencana sehingga dapat meminimalisasi korban jiwa dan kerugian materi.

2026
👤 Penulis: ATHIAN PRAMADHITA (NIM 15106046); Pembimbing: Dr. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng.
🏷️ Geologi 🏷️ Bencana Alam: Tsunami 🏷️ Analisis Geografis

PEMETAAN DAMPAK AKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH DI WILAYAH JAKARTA

Penurunan muka tanah merupakan fenomena yang banyak terjadi di kota – kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Penurunan muka tanah di Wilayah Jakarta diduga disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih, kompaksi alamiah, beban bangunan dan pengaruh tektonik. Penurunan muka tanah di Wilayah Jakarta juga ternyata berpotensi menimbulkan dampak kerugian seperti kerusakan pada bangunan, infrastruktur, dan memperparah genangan banjir. Dalam tugas akhir ini akan dicoba dilakukan pemetaan dampak dari penurunan muka tanah di wilayah Jakarta. Dampak penurunan tanah telah teridentifikasi seperti retakan pada dinding bangunan, atap rumah yang turun, terjadi indudansi air laut atau rob, kerusakan infrastruktur, dan memperparah genangan banjir. Daerah yang mengalami beberapa kerusakan akibat penurunan muka tanah ini seperti Penjaringan, Tanjung Priok, Cengkareng, Cakung, Kelapa Gading, Pademangan, dan Taman Sari. Sebagai background peta pemetaan dampak penurunan tanah dibuat peta zonasi penurunan tanah di Jakarta yang diperoleh dari hasil pemantauan menggunakan teknologi GPS dan Sipat Datar dari tahun 2000 sampai dengan 2011 . Hasil pengolahan data GPS dan Sipat datar menunjukkan pada periode tahun 2000 sampai 2011 beberapa daerah di Wilayah Jakarta telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 1 cm sampai 1,7 m yang bervariasi baik secara spasial maupun temporal. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh proses kompaksi alamiah dan beban bangunan. Penurunan muka tanah yang paling besar dialami oleh daerah - daerah yang mengalami penurunan muka airtanah yang besar pula seperti Penjaringan, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur. Pemantauan terhadap penurunan muka tanah beserta pemetaan dampaknya ini diharapkan dapat berguna untuk pengaturan pengambilan airtanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan dalam pembangunan infrastruktur.

2026
👤 Penulis: ARDITO YOGA BIMANTARA (NIM 15106047); Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc. dan Heri
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Analisis Geografis

STUDI PENURUNAN TANAH WILAYAH SEMARANG PERIODE TAHUN 2008-2009

Semarang adalah ibukota Propinsi Jawa Tengah yang memiliki lokasi yang strategis dengan luas area sekitar 374 km2. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangannya sebagai kota pelabuhan, industri, jasa, dan perdagangan, kebutuhan akan air bersih pun meningkat. Peningkatan penggunaan airtanah ini diduga menyebabkan terjadinya penurunan muka airtanah. Penurunan muka airtanah dan penambahan beban di permukaan tanah secara bersama-sama menyebabkan terjadinya percepatan proses konsolidasi lapisan lempung (aluvial) yang berakibat terjadinya penurunan muka tanah di wilayah Semarang. Dari fenomena penurunan tanah dan dampak yang ditimbulkan, penurunan tanah di Semarang perlu dipantau secara periodik. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode survey GPS secara episodik (periodik). Dengan mengetahui besarnya penurunan muka tanah yang ditunjukkan oleh perubahan tinggi titik dari satu pengamatan ke pengamatan berikutnya, maka karakteristik dari penurunan muka tanah ini dapat dipelajari lebih lanjut. Pada tahun 2008 dan 2009, telah dilakukan pemantauan penurunan muka tanah dengan metode survey GPS. Hasil pemantauan pada tahun 2008-2009 menunjukan besarnya penurunan tanah yang telah terjadi di Semarang adalah sebesar 0.8 – 12.4 cm dengan laju 0.8 – 13.5 cm/tahun. Penurunan terbesar terjadi di Semarang utara yaitu berkisar 4 - 12 cm dengan laju 4 – 13.5 cm/tahun. Penurunan tanah yang terjadi berkorelasi kuat dengan pola penurunan muka airtanah, penyebaran ketebalan lapisan lempung lunak, ketebalan tanah urug, dan banyaknya lapisan pasir pada endapan dataran delta.

2026
👤 Penulis: ANTARINI DALINTA (NIM 15105041); Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanudin Z. Abidin,MSc., dan Irwan Gumil
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Perubahan Tanah 🏷️ Manajemen Air Bersih
Halaman 2 dari 10
💬