📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 22 dokumenPARAGENESIS MINERALISASI ENDAPAN PORFIRI-ISE AREA DOUP, KECAMATAN KOTABUNAN, KABUPATEN BOOLANG MONGONDOW TIMUR, SULAWESI UTARA
Indonesia merupakan negara dengan potensi sumber daya dan cadangan emas yang besar, salah satunya berada pada Pulau Sulawesi. Daerah penelitian berada pada Daerah Doup, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mondondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki prospek mineralisasi emas. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu mengetahui kondisi geologi, geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi area penelitian; mengetahui tipe dan karakteristik alterasi dan mineralisasi area penelitian, dan mengetahui paragenesis mineralisasi pada area penelitian. Sebanyak 72 sampel permukaan, 2 data lubang bor primer, 4 data lubang bor sekunder digunakan untuk analisis pada penelitian ini. Metode yang digunakan antara lain petrografi sayatan tipis, sayatan poles, analisis spektroskopi, dan analisis x-ray flourescene (XRF). Berdasarkan hasil penelitian, daerah penelitian terdiri atas sebelas satuan litologi, yaitu satuan batugamping, satuan tuf, satuan intrusi andesit, satuan intrusi kuarsa diorit, satuan tonalit, satuan batupasir-konglomerat, satuan lava dasit, satuan intrusi andesit 2, satuan breksi epiklastik, satuan konglomerat vulkanik, satuan aluvium-kolovium. Struktur geologi yang berkembang pada area penelitian cenderung berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara. Adapun zona alterasi yang ditemukan adalah zona magnetit + biotit ± K-felspar, zona magnetit + klorit ± epidot, dan zona klorit sebagai penciri sistem porfiri, serta zona serisit + klorit + illit ± kaolinit dan kuarsa + serisit + illit + pirit sebagai zona penciri sistem epitermal sulfidasi menengah yang memotong keberadaan dari sistem porfiri. Paragenesis mineral diawali dengan pembentukan dari magnetit yang berada pada urat porfiri, diikuti oleh pembentukan pirit dan juga kalkopirit. Urat-urat yang berada pada sistem porfiri tersebut dipotong oleh urat-urat basemetal yang menunjukkan mineral pirit mengawali pembentukan urat-urat ini, diikuti oleh galena, sfalerit, kalkopirit, emas, kovelit, dan hematit.
PARAGENESIS MINERALISASI ENDAPAN EPITERMAL SULFIDASI RENDAH DI AREA PANI, KECAMATAN BUNTULIA, KABUPATEN POHUWATO, PROVINSI GORONTALO
Daerah penelitian berlokasi di area Pani, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Daerah penelitian berada pada daerah eksplorasi PT. Gorontalo Sejahtera Mining. Daerah ini diketahui memiliki tipe endapan epitermal sulfidasi rendah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui litologi, alterasi, dan paragenesis mineralisasi. Metode penelitian yang digunakan antara lain analisis petrologi megaskopis, petrografi sayatan tipis, mineragrafi, analisis ASD (Analytical Spectral Devices), dan analisis FA/AAS (Fire Assay/Atomic Absorption Spectrometry). Sebanyak 54 sampel batuan dan satu lubang bor sebagai data primer yang digunakan untuk analisis. Berdasarkan pemetaan lapangan dan hasil analisis yang dilakukan, daerah penelitian merupakan kompleks gunungapi yang terdiri dari lima satuan litologi, yaitu Satuan Breksi Dasit, Satuan Dasit Berlapis, Satuan Dasit Masif, Satuan Tuf Lapili, dan Satuan Breksi Diatrema. Struktur sesar yang berkembang di daerah penelitian berarah barat laut – tenggara dan timur laut – barat daya. Struktur sesar berarah timur laut – barat daya diinterpretasikan sebagai struktur sesar yang mengontrol alterasi dan mineralisasi. Alterasi di daerah penelitian terbagi menjadi empat zona, yaitu zona kuarsa + kaolinit + ilit ± serisit ± adularia, zona kuarsa + kaolinit + serisit + ilit/smektit, zona kuarsa + kaolinit + smektit ± ilit, dan zona kuarsa + kaolinit + serisit + ilit/smektit + klorit + epidot ± kalsit. Mineralisasi di daerah penelitian hadir sebagai stockwork, breksi hidrotermal, urat kuarsa-pirit, dan urat kuarsa-oksida. Paragenesis mineralisasi terbagi menjadi dua tahapan, dimulai dari tahap hipogen dan mineralisasi hidrotermal yang mengendapkan pirit, galena, sfalerit, kalkopirit, emas, dan tenantit. Tahap kedua merupakan tahap supergen dan oksidasi mineral membentuk mineral hasil oksidasi seperti hematit.
PENERAPAN TEKNIK SPASIAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK EKSPLORASI POTENSI ENDAPAN EMAS EPITERMAL DI JAWA BARAT
Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi potensi endapan emas epitermal di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia, dengan menggunakan teknik spasial dalam sistem informasi geografis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya permintaan global terhadap emas dan potensi besar yang dimiliki Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, yang belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta potensi mineralisasi emas epitermal berdasarkan analisis geokimia, geologi, dan struktur geologi menggunakan metode fuzzy logic. Dalam penelitian ini, data geologi regional, geokimia, dan digital elevation model (DEM) digunakan sebagai basis utama analisis. Data geokimia dianalisis untuk memahami distribusi unsur-unsur yang berasosiasi dengan emas epitermal, yaitu Cu dan Zn. Data geologi diolah untuk mengklasifikasikan litologi batuan dan memahami struktur geologi yang mengendalikan keberadaan endapan emas. DEM digunakan untuk menganalisis topografi dan kelurusan yang berkorelasi dengan struktur geologi. Hasil dari analisis tersebut menghasilkan peta prospektivitas yang membagi area studi menjadi zona prospektivitas sangat tinggi, tinggi, rendah, dan sangat rendah.
EKSPLORASI DAN IDENTIFIKASI MINERAL IKUTAN TIMAH DENGAN PENDEKATAN PENGINDRAAN JAUH DAN SPEKTROSKOPI SINAR GAMMA DI PULAU BELITUNG
Pulau Belitung yang terletak di sabuk timah Asia Tenggara memiliki kekayaan endapan timah yang melimpah baik itu berupa endapan primer maupun placer. Selain timah, terdapat mineral ikutan timah (MIT) seperti rutil, monasit, xenotim, dan zirkon, yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam industri modern. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran MIT dengan memanfaatkan teknologi pengindraan jauh resolusi tinggi dengan metode band ratio, principal component analysis, dan linear spectral unmixing. Selain itu, pemetaan spektroskopi gamma dilakukan untuk mendata kadar unsur radioaktif yaitu potasium (K, %), ekuivalen uranium (eU, ppm), dan ekuivalen thorium (eTh, ppm). Analisis sebaran MIT difokuskan pada area bukaan lahan seperti area pertambangan dan bekas tambang (tailing). Hasil penelitian menunjukkan adanya sebaran MIT yang berbeda-beda, dengan goetit tersebar di area tambang Batu Besi PT Timah, serta MIT lainnya seperti rutil, monasit, dan zirkon tersebar di area tambang pasir silika, tambang timah inkonvensional, dan beberapa bukaan pasir silika. Analisis spektroskopi gamma menunjukkan kadar K bervariasi dari 0–9,63%, eU dari 0,015–59,55 ppm, eTh dari 0,1–92,54 ppm, dan laju dosis dari 2,52–500,76 nGy/h. Anomali unsur eTh, eU, dan laju dosis terkonsentrasi di daerah Granit Tanjungpandan. Berdasarkan hasil ini, daerah-daerah yang berpotensi memiliki kandungan MIT dapat dipetakan. Informasi yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam eksplorasi sumber daya MIT di masa depan.
MINERALISASI SKARN SN PEMBAGIAN DOMAIN BERDASARKAN ASOSIASI MINERALISASI DAN MINERALOGI SKARN DI BATUBESI, BELITUNG TIMUR, PROVINSI BANGKA BELITUNG
Kegiatan eksplorasi dilakukan oleh PT Timah di Bangka dan Belitung untuk mengetahui potensi endapan timah primer. Hasil eksplorasi timah primer berhasil mendefinisikan beberapa endapan yang diantaranya adalah Batubesi di Belitung Timur. Endapan timah primer di Batubesi bertipe skarn yang ditambang dengan cara tambang terbuka. Hasil penambangan pada tahap pertama menghasilkan recovery penambangan yang sangat rendah yaitu 5% dengan kadar 60% Sn. Hal ini diduga dikarenakan informasi geologi dan kadar yang digunakan masih banyak menggunakan asumsi saat dilakukan studi kelayakan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari hasil kegiatan eksplorasi di dalam PT Timah berupa data geologi, data pengeboran, data topografi UAV dan sampel drill core. Data sampel drill core dari dua sumur dilakukan analisis geokimia dan petrologi, 12 sampel petrografi, dan satu sampel SEM/EDS. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemodelan mineralogi endapan skarn serta membaginya secara lebih rinci untuk mengetahui keterkaitan endapan timah terhadap masing-masing satuan ubahan di dalam skarn tersebut. Skarn di Batubesi Blok 3 bisa dibagi menjadi domain garnet skarn (GSKN), magnetite skarn (MSKN), dan piroksen skarn (PSKN) selain hornfels yang dijumpai pada kontak dengan granit. Magnetit skarn mendominasi bagian atas dari tubuh skarn yang berasosiasi dengan kadar mineralisasi Sn yang lebih tinggi (>0.3% Sn) dengan sebaran yang menunjam ke arah barat. Hasil penelitian ini bisa memberikan masukan kepada tim penambangan dalam merencanakan penambangan sehingga lebih efisien dan lebih terarah untuk mendapatkan bijih timah dengan recovery yang lebih baik kedepannya.
STUDI KARAKTERISTIK PENGAYAAN LOGAM SKANDIUM (SC) PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Lokasi penelitian berada di IUP OP UBPN Kolaka, PT Antam Tbk, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Daerah penelitian dapat dicapai dengan menempuh jalur udara dari Jakarta ke Makasar sekitar 2 jam perjalanan, kemudian dilajutkan penerbangan udara dari Makasar ke Kolaka sekitar 1 jam perjalanan, kemudian dilanjutkan lewat jalur darat dari Bandara Kolaka menuju daerah penelitian sekitar 45 menit perjalanan. Metode penelitian yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu melakukan pemetaan geologi, pengeboran dengan total titik bor sebanyak 52 titik dan percontohan sampel bor sebanyak 1253 sampel. Evaluasi pengayaan skandium pada endapan nikel laterit di daerah penelitian menggunakan data sampel inti bor yang kemudian dilakukan analisis geokimia dengan metode X-Ray Fluoresence (XRF) untuk mengetahui kadar major element sebanyak 1253 sampel dan Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectometry (ICP-OES) sebanyak 1253 sampel untuk mengetahui kadar skandium. Petrografi sampel inti bor dilakukan untuk mendapatkan nama batuan sebanyak 30 sampel sedangkan untuk mengetahui presentase mineral penyusun dilakukan analisis X-Ray Diffraction (XRD) sebanyak 230 sampel atau 5 titik bor. Daerah penelitian dibagi menjadi tiga prospek yaitu Prospek Blok Utara, Prospek Blok Tengah dan Prospek Blok Maniang. Unsur skandium mengalami pengayaan pada zona limonit. Berdasarkan karakteristik fisik, zona limonit dibagi menjadi dua jenis yaitu zona red limonite dan yellow limonite. Korelasi unsur skandium dengan senyawa oksida menggunakan metode korelasi Spearmen dan klasifikasi tingkat hubungan antar variabel merujuk pada Schober, 2018. Pada zona red limonite unsur skandium berkorelasi positif lemah dengan senyawa Fe2O3 memiliki nilai 0.31 dan korelasi positif sedang dengan senyawa Al2O3 memiliki nilai 0.51, sedangkan memasuki zona yellow limonite, unsur skandium menunjukan kenaikan korelasi dengan senyawa Al2O3 yang memiliki nilai korelasi positif kuat yaitu 0.80 karena terbentuk mineral ubahan seperti gibbsite dan nacrite kemudian kenaikan korelasi positif sedang dengan senyawa Fe2O3 yang memiliki nilai yaitu 0.52 karena berkurangnya mineral hematite dan lebih dominan terbentuk mineral goethite. Senyawa Cr2O3 ketika memasuki zona yellow limonite memiliki pola korelasi positif sedang terhadap pengayaan skandium yaitu dengan nilai 0.53. Jenis batuan dasar memiliki korelasi terhadap pengayaan skandium pada daerah penelitian. Pada Prospek Blok Utara kadar pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan dunite memiliki kadar rata-rata 62.32 ppm dan kadar skandium pada batuan harzburgite memiliki kadar rata-rata 72.43 ppm. Pada Prospek Blok Tengah pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan harzburgite memiliki kadar rata-rata 72.85 ppm dan kadar skandium pada batuan lhezorlite memiliki kadar rata-rata 64.25 ppm. Pada Prospek Blok Maniang pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan harzburgite memiliki kadar rata-rata 83.22 ppm dan kadar skandium pada batuan serpentinite memiliki kadar rata-rata 79.32 ppm. Batuan dasar jenis harzburgite dan serpentinite memiliki rata-rata kadar skandium yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan dunite dan lhezorlit. Mineral piroksen jenis orthopiroksen diinterpretasikan lebih banyak membawa skandium dibandingan dengan mineral klinopiroksen dominan ataupun mineral olivine dominan. Pada daerah penelitian pengayaan skandium pada zona limonit memiliki kadar berkisar 55 ppm - 127 ppm, kemudian memasuki zona saprolit kadar skandium akan turun yaitu berkisar 11 ppm – 20 ppm dan semakin turun kadarnya pada zona batuan dasar yaitu memiliki kadar skandium berkisar 5 ppm – 15 ppm.
KELIMPAHAN RARE EARTH ELEMEN PADA BATUBARA FORMASI TANJUNG DAERAH SAMBUNG MAKMUR, KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN
Lokasi penelitian terletak di Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Lokasi tersebut dapat dicapai menggunakan penerbangan dengan waktu tempuh dua jam dari Jakarta, selanjutnya menggunakan kendaraan darat selama 1,5 jam menuju lokasi penelitian. Pengeboran inti batubara di lakukan di bagian utara konsesi PT Tanjung Alam Jaya, tepatnya berdekatan dengan bekas tambang terbuka V (PIT-V), Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT Tanjung Alam Jaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan dan penyebaran REE dalam batubara Formasi Tanjung berumur Eosen, mengetahui potensi keekonomian REE melalui perhitungan total REE dan menentukan klaster keekonomiannya dengan mengidentifikasi critical-REE, uncritictical-REE dan excessive-REE. Sebanyak 23 sampel batubara dan 14 sampel non batubara telah dipreparasi dan dianalisis kandungan REE-nya menggunakan Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectrometry (ICP OES). Nilai total REE dari batubara Formasi Tanjung berkisar antara 146 ppm sampai dengan 592 ppm. Rata-rata total REE di batubara Formasi Tanjung adalah 336 ppm. Hasil analisis total REE batubara Formasi Tanjung lebih besar dari REE pada batubara dunia (68,5 ppm) maupun REE di upper continental crust (UCC) yaitu 168,4 ppm. Unsur REE dominan adalah neodymium (Nd) dan yttrium (Y), keduanya termasuk critical REE. Hasil analisis dari 23 sampel batubara menunjukkan nilai Nd berkisar dari 55 ppm sampai 267 ppm dengan nilai rata ratanya adalah 120 ppm. Nilai Y berkisar dari 43 ppm sampai 245 ppm dengan nilai rata-rata Y adalah 89 ppm. Klaster REE batubara Formasi Tanjung adalah klaster III yang artinya sangat menjanjikan (highly promising). Batubara Formasi Tanjung mengandung REE yang mempunyai potensi ekonomis. Kelimpahan REE dalam batubara Formasi Tanjung dominan terdapat di bagian bawah lapisan batubara. Untuk lapisan Batubara yang sama, di bagian bawah memiliki kadar abu batubara yang lebih rendah dibandingkan bagian atasnya. Kadar abu batubara berbanding terbalik dengan kandungan total REE, yaitu kadar abunya rendah, namun kandungan total REEnya tertinggi. Dengan mengambil ambang batas kadar total REE (15 unsur) minimal 100 ppm maka batubara Formasi Tanjung mengandung critical REE yang berpotensi ekonomis. Batubara Formasi Tanjung berpotensi menjadi sumber REE untuk industri bila telah menjadi fly ash bottom ash (FABA).