📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 40 dokumenIMPLEMENTASI KONSERVASI GUMUK PASIR D.I YOGYAKARTA DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI PENGELOLAAN PESISIR SECARA TERPADU DAN DPSIR
Wilayah pesisir memiliki potensi ekosistem dan bentukan alam yang unik, salah satu contohnya adalah gumuk pasir yang terletak di pesisir Parangtritis, D.I Yogyakarta. Agar bentukan alam ini dapat lestari, pemerintah berencana mencanangkan status konservasi untuk gumuk pasir karena gumuk tersebut merupakan satu-satunya yang berada di Indonesia dan salah satu dari sedikit gumuk pasir Barchan di dunia. Dengan status konservasi tersebut berakibat positif yaitu wilayah pesisir Parangtritis akan dikelola secara terpadu (integrated coastal management). Agar pengelolaan dapat berjalan dengan baik, selanjutnya diperlukan identifikasi dalam perspektif pengelolaan pesisir secara terpadu serta solusinya. Salah satu metodenya dengan menggunakan kerangka kerja DPSIR (Drivers, Pressures, State, Impact, Responses). Tahap pertama dalam proses ini adalah identifikasi komponen dan subkomponen pengelolaan pesisir secara terpadu dalam perspektif permasalahan yang terjadi di sekitar gumuk pasir. Tahap selanjutnya mengintegrasikan komponen-komponen tersebut dengan DPSIR untuk mengetahui penyebab, tekanan, keadaan, dampak, dan sikap terhadap permasalahan. Integrasi dilakukan dengan membentuk matriks korelasi. Setelah diketahui korelasinya dengan DPSIR, kemudian dapat diketahui sikap atau tindakan teknologis yang tepat untuk mengatasi permasalahan. Agar tindakan teknologis lebih efektif dan tepat sasaran perlu dilakukan pendekatan secara geospasial. Dari tugas akhir ini ditemukan bahwa permasalahan dalam perspektif konservasi gumuk pasir memiliki tindakan teknologis yang berbeda pula, dan dengan menggunakan pendekatan geospasial diharapkan tindakan teknologis dapat lebih tepat sasaran.
PEMILIHAN LOKASI BENGKEL LAYANAN MENGGUNAKAN MCLP BERBASIS JARINGAN DAN ANALISIS KEPUTUSAN MULTI-KRITERIA: MENGINTEGRASIKAN AKSESIBILITAS, KESESUAIAN INDUSTRI, DAN PENILAIAN RISIKO BANJIR DI JAWA TIMUR
Lokasi fasilitas merupakan salah satu tantangan strategis terpenting yang dihadapi oleh usaha kecil dan menengah (UKM), terutama yang berfokus pada jasa, karena mereka perlu mengelola efisiensi operasional, kesesuaian pasar, dan faktor lingkungan. PT Cahaya Amanah Nusantara (PT CAN), sebuah perusahaan kecil di Indonesia yang menyediakan jasa perawatan dan perbaikan pendingin, tertarik untuk memperluas lokasi bengkelnya di seluruh Jawa Timur, yang memiliki beragam jaringan jalan, distribusi industri yang tidak konsisten, dan tingkat paparan lingkungan yang bervariasi. Perusahaan akan membutuhkan proses analitis terstruktur untuk mengevaluasi opsi lokasi selain penilaian intuitif atau perhitungan jarak sederhana. Studi ini menggunakan analisis lokasi fasilitas, model berbasis jaringan untuk mengevaluasi akses, dan analisis keputusan multi-kriteria (MCDA) dengan pengukuran geospasial. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja tiga bagian yang berurutan, yang mengintegrasikan evaluasi kinerja aksesibilitas, evaluasi konteks strategis, dan evaluasi risiko spasial ke dalam satu alur kerja analitis. Kerangka kerja ini mendukung peran penilaian manajerial sebagai bagian dari keputusan lokasi fasilitas secara konsisten di seluruh indikator spasial dan operasional. Studi ini terdiri dari tiga fase analitis. Kerangka kerja 1 mengevaluasi aksesibilitas menggunakan waktu tempuh jaringan jalan berdasarkan data OpenStreetMap dan area layanan SLA (SLA) berbobot permintaan untuk mengembangkan daftar pendek lokasi hub kandidat berdasarkan jarak tempuh dari area pengaruh masingmasing hub menggunakan teknik penyaringan MCLP. Kerangka kerja 2 menentukan kesesuaian spasial dengan menggabungkan tingkat aktivitas industri menjadi indeks untuk area tersebut dikombinasikan dengan paparan banjir pesisir yang digunakan untuk mengembangkan dua indeks yang dinormalisasi, yaitu indeks strategis dan indeks lingkungan. Kerangka kerja 3 menggunakan proses Analisis Keputusan Multikriteria tipe Kombinasi Linier Berbobot (WLC), yang pertama-tama menerapkan teknik normalisasi pada semua indikator kemudian memberi bobot pada indikator berdasarkan prioritas operasional manajer. Menurut hasil analisis, Kabupaten Gresik menempati peringkat tertinggi pada skor komposit (0,937016) berdasarkan akses komunikasi yang kuat dan faktor strategis yang kompatibel bila dinilai menurut asumsi pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini. Kerangka kerja ini memberikan panduan kepada manajemen PT CAN untuk membuat keputusan implementasi berdasarkan dokumentasi, metodologi pendukung keputusan yang konsisten secara internal, dan bukan menggunakan penilaian pribadi untuk membuat keputusan implementasi akhir. Studi ini mendukung hipotesis bahwa kerangka kerja perencanaan lokasi fasilitas geospasial yang terstruktur, sumber terbuka, dan berorientasi pada UKM dapat dikembangkan dan diterapkan untuk membantu UKM di lingkungan yang heterogen dan rawan risiko.
PEMANFAATAN DATA GEOSPASIAL MULTI-SENSOR DAN MULTI-RESOLUSI UNTUK INSPEKSI KERUSAKAN STUKTUR CAGAR BUDAYA DI INDONESIA
Cagar budaya (CB) merupakan warisan kebendaan bersejarah yang perlu dilestarikan karena fisiknya rentan rusak akibat berbagai faktor ancaman alam, terutama seismisitas. Kerusakan fisik berupa deformasi signifikan bagi keamanan struktur CB. Di Indonesia, pemantauan deformasi (aspek geometrik) yang terkait perubahan posisi, dimensi, dan orientasi CB telah dilakukan secara geospasial memakai berbagai sensor perekaman dan pengindraan. Namun, umumnya masih menganggap struktur CB hanya diwakili oleh beberapa titik pantau, sehingga tidak seluruh struktur CB terwakili. Sementara itu, CB itu morfologinya kompleks terus berpotensi rusak, maka perlu model struktur lengkap dan detail yang bisa dipakai berulang untuk mitigasi deformasinya secara kontinu. Finite Element Method (FEM) yang umum dipakai menyimulasikan respons deformasi kontinu suatu objek akibat gangguan eksternal diajukan menjadi basis solusi masalah ini. Adapun morfologi CB kompleks yang tidak bisa hanya ditangani satu sensor pengindraan, didekati dengan perekaman secara multi-sensor dan multi-resolusi agar lengkap dan detail. Penelitian ini membangun suatu model FEM re-usable yang geometri masukannya berasal dari perekaman CB secara multi-sensor multi-resolusi (MSMR) untuk menyimulasikan deformasi kontinu CB akibat ancaman seismisitas. Penelitian ini memakai gugusan candi Prambanan yang kompleks sebagai studi kasus. Pada tahap awal, Suatu skema perekaman MS-MR, yang direfleksikan dari atribut desain arsitekturnya, diterapkan untuk memperoleh morfologi candi yang lengkap dan detail. Proses tersebut melibatkan penyiaman dengan sensor fotogrametri dan LiDAR multi-moda multi-platform dipakai. Lalu, hasil berupa point-clouds dikonversikan langsung, tanpa representasi permukaan perantara, menjadi model FE yang siap pakai dengan algoritma Cloud2FEM termodifikasi. Kemudian, suatu simulasi FEM secara statik dan dinamik dilakukan untuk mengetahui efek ancaman seismisitas sesaat dan seimsisitas runut waktu terhadap candi. Seismisitas runut waktu (time-history) yang disimulasikan adalah gempa Yogyakarta 2006 yang sangat destruktif terhadap candi. Akibat ketiadaan rekaman seismik di dekat episentrum, maka diterapkan empat skenario input berdasarkan gempa termirip, sintetik #1, artifisial, dan sintetik #2. Hasil respons deformasi dinyatakan dengan nilai displacement, strain, dan stress pada seluruh struktur. Keseluruhan proses dari penyiaman hingga ke simulasi FEM ini disebut scan-to- FEM. Terakhir, dilakukan identifikasi titik rentan rusak, analisis dan validasi hasil. Hasil menunjukkan bahwa perekaman MS-MR menghasilkan geometrik candi yang lengkap, akurat, dan presisi. Skema MS-MR refleksi atribut desain candi memberikan pendekatan perekaman data yang terstruktur, sehingga penggabungan data point-clouds menjadi lebih rasional dan terstruktur pula urutannya. Sementara itu, hasil konversi point-clouds ke model FE (volumetric mesh) sukses dilakukan. Efektivitas konversinya berhubungan dengan kelengkapan, jumlah, dan distribusi dari point-clouds di tiap subset potongan horizontal planimetrik yang dibentuk. Cloud2FEM ini tidak sepenuhnya otomatis, karena intervensi operator tetap dibutuhkan. Kemudian, hasil simulasi seismisitas statik sesaat dari FEM menunjukkan bahwa respons deformasi dari candi menunjukkan respons yang sesuai dengan perilaku deformasi hipotetiknya. Titik dengan potensi kerusakan yang tinggi letaknya sesuai dengan sampel kerusakan aktualnya, yaitu di bagian puncak candi dan pertemuan batu Ratna atap dengan atapnya. Factor-of-safety (FoS) dari respons stress candi menunjukkan nilai > 1, atau level aman. Selain itu, hasil simulasi seismisitas dinamis dari FEM, diketahui bahwa tiga titik rawan rusak konsisten terdeteksi rusak pada pertemuan batu Ratna dengan bagian atap candi, dan di door jamb sisi kanan candi. Tiga dari empat skenario input seismisitas menunjukkan bahwa dua titik rawan (node 1298620 dan 1230199) terindikasi fraktur. Dua skenario terkonfirmasi sejalan dengan penelitian sebelumnya yang memakai input seismisitas sama. Letak titik-titik rawan secara umum sejalan dengan laporan kerusakan aktual akibat gempa Yogyakarta 2006. Dengan demikian, model FE yang dibangun dapat disimpulkan mampu memberikan respons deformasi yang seharusnya. Hal ini akan bermanfaat dalam memberikan masukan dalam intervensi pelestarian cagar budaya, khususnya pada Candi Prambanan.
MODUL GENERATOR FLIGHT PLAN TRACK PADA AIR SITUATION DISPLAY BERBASIS CLOUD
Tugas akhir ini merancang dan mengembangkan modul Generator Flight Plan Track berbasis cloud sebagai bagian dari sistem Air Situation Display (ASD) untuk mendukung pengelolaan lalu lintas udara. Modul ini mendukung simulasi dasar fungsional ASD, melakukan penghitungan dan pengiriman data posisi pesawat berdasarkan flight plan untuk mempermudah pengamatan track pesawat, serta menyediakan mekanisme deteksi konflik strategis dan jangka pendek. Kepadatan lalu lintas udara menuntut pengawasan yang lebih cermat untuk menjaga keselamatan dan efisiensi operasional. Sistem Air Situation Display (ASD) merupakan solusi utama dalam mendukung tugas Air Traffic Controller (ATC), terutama dalam memantau pergerakan pesawat secara real-time dan mengantisipasi konflik antar rute penerbangan. Namun, keterbatasan infrastruktur ASD di Indonesia yang umumnya hanya tersedia di bandara besar dan masih bersifat on-premise, membuat sulit diimplementasikan di bandara kecil. Hal ini berdampak pada efisiensi dan kapasitas pengelolaan lalu lintas udara. Modul ini dikembangkan menggunakan pendekatan geospasial. Data disimpan dalam PostgreSQL dengan ekstensi PostGIS untuk keperluan spasial, serta Redis untuk caching pergerakan pesawat. Pengiriman data real-time dilakukan menggunakan WebSocket. Seluruh sistem dioperasikan dalam lingkungan terkontainerisasi menggunakan Docker dan dapat dijalankan melalui layanan cloud Microsoft Azure. Evaluasi sistem menunjukkan bahwa modul ini mampu menangani hingga 1.000 pengguna dan 1.000 data penerbangan secara bersamaan. Sistem juga berhasil memberikan dasar fungsional ASD dengan baik. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis cloud dapat menjadi solusi efektif dan efisien untuk meningkatkan kapasitas serta kemampuan bandara kecil dalam mendukung pengelolaan lalu lintas udara di Indonesia.
PENGEMBANGAN PROTOTIPE SISTEM GEOLOKASI PRESISI BERBASIS GNSS/RTK UNTUK MENDUKUNG APLIKASI SMART CITY MENGGUNAKAN LORA
Smart City merupakan konsep pembangunan kota modern yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi layanan publik, kualitas hidup warga, serta keberlanjutan lingkungan. Dalam ekosistem Smart City, keberadaan sistem geolokasi presisi secara real-time menjadi komponen vital dalam mendukung berbagai aplikasi seperti kendaraan otonom, pemantauan infrastruktur, pemetaan dinamis, manajemen lalu lintas, serta navigasi drone. Akurasi dan kecepatan dalam memperoleh data posisi menjadi faktor kunci untuk menjamin keberhasilan implementasi teknologi-teknologi tersebut. Salah satu solusi untuk menghadirkan sistem geolokasi presisi adalah dengan menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) yang dipadukan dengan metode Real-Time Kinematic (RTK). RTK bekerja dengan cara mengoreksi data posisi yang diterima oleh rover (penerima bergerak) menggunakan sinyal koreksi dari stasiun basis GNSS, sehingga mampu mencapai tingkat akurasi hingga sentimeter. Teknologi ini banyak diadopsi dalam bidang geospasial, konstruksi, dan pertanian presisi karena keunggulannya dalam menyediakan estimasi posisi yang sangat akurat secara real-time. Dalam implementasinya, sistem RTK membutuhkan distribusi data koreksi RTCM (Radio Technical Commission for Maritime Services) dari stasiun basis ke rover melalui protokol yang andal. Networked Transport of RTCM via Internet Protocol (NTRIP) merupakan protokol yang dirancang khusus untuk mengalirkan data koreksi GNSS melalui jaringan internet. NTRIP terdiri atas tiga komponen utama: NTRIP server (basis), NTRIP caster (relay data), dan NTRIP client (rover). Namun, keberhasilan NTRIP sangat bergantung pada kestabilan dan keberadaan jaringan internet, sehingga penggunaannya menjadi kurang optimal di daerah yang memiliki keterbatasan konektivitas internet, seperti daerah pinggiran atau area dengan interferensi jaringan tinggi. Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi komunikasi LoRa (Long Range) diusulkan sebagai solusi alternatif. LoRa merupakan teknologi komunikasi nirkabel berbasis spektrum sempit yang memiliki karakteristik konsumsi daya rendah, jangkauan panjang, dan latensi rendah. Berkat efisiensi energinya, LoRa sangat sesuai untuk implementasi perangkat berbasis Internet of Things (IoT). Dalam konteks sistem RTK, LoRa dapat dimanfaatkan sebagai jalur transmisi data koreksi RTCM dari caster ke rover, terutama di lingkungan yang tidak memiliki akses internet yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe sistem geolokasi presisi yang mengintegrasikan GNSS, RTK, NTRIP, dan LoRa dalam satu kesatuan sistem yang mendukung implementasi teknologi Smart City. Prototipe ini dirancang untuk menjawab tantangan akurasi, latensi, dan efisiensi daya dalam pengiriman data posisi secara real-time, sekaligus menyediakan alternatif bagi daerah dengan keterbatasan akses jaringan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi perancangan sistem dan pengujian lapangan di tiga rute berbeda di lingkungan terbuka kampus ITB yang mencerminkan kondisi perkotaan. Data posisi dikumpulkan menggunakan modul GNSS berbasis RTK, baik dengan skema langsung melalui NTRIP maupun melalui jalur perantara menggunakan LoRa. Hipotesis penelitian ini adalah bahwa sistem akan menghasilkan akurasi error kurang dari 10 cm dengan standar deviasi kurang dari 5 cm pada pengukuran RTK, serta masih dalam batas toleransi pada pengukuran berbasis LoRa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem berbasis RTK melalui NTRIP menghasilkan akurasi horizontal dengan error kurang dari 10 cm dan standar deviasi kurang dari 5 cm. Sementara itu, ketika data RTCM ditransmisikan melalui LoRa, sistem masih mampu mencapai akurasi kurang dari 15 cm dengan standar deviasi di bawah 10 cm. Penurunan akurasi ini disebabkan oleh latensi tambahan dan konsumsi daya akibat perantara komunikasi LoRa. Nilai latensi total yang diukur berada pada kisaran 65 ms, dengan kekuatan daya transmisi LoRa sebesar 42 dBm. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat penurunan performa, sistem tetap layak digunakan di lingkungan Smart City karena masih berada dalam batas toleransi akurasi, dengan latensi yang rendah dan efisiensi energi yang baik. Sebagai kesimpulan, prototipe sistem geolokasi presisi berbasis GNSS/RTK yang dilengkapi dengan mekanisme pengiriman data koreksi RTCM melalui NTRIP dan LoRa telah berhasil direalisasikan dan menunjukkan performa yang sesuai dengan kebutuhan Smart City. Kontribusi penelitian ini terletak pada penggabungan sistem komunikasi rendah daya dan rendah latensi dengan sistem geolokasi presisi, yang dapat membuka peluang pengembangan sistem navigasi dan pemantauan posisi secara real-time di wilayah dengan infrastruktur jaringan terbatas. Penelitian ini juga menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam integrasi sistem GNSS dan komunikasi nirkabel untuk aplikasi perkotaan masa depan.
STRATEGI EVALUASI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DIMENSI SOSIAL BERBASIS GEOSPASIAL STUDI KASUS KABUPATEN LEBAK
Indikator dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tingkat global maupun nasional tidak selalu dapat diterapkan secara langsung untuk mengevaluasi capaian pembangunan di tingkat daerah. Perbedaan konteks wilayah, relevansi indikator, dan keterbatasan data menjadi tantangan tersendiri, termasuk di Kabupaten Lebak yang memiliki karakteristik sosial dan geografis yang kompleks. Penelitian ini bertujuan menyusun strategi evaluasi pembangunan berkelanjutan dimensi sosial melalui perumusan indikator yang disesuaikan berdasarkan SDGs dan studi literatur. Hasilnya, diperoleh 12 indikator sosial yang dinilai paling relevan dan tersedia datanya di 28 kecamatan. Indikator dianalisis secara kuantitatif dengan pembobotan melalui pendekatan subjektif menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan pendekatan objektif menggunakan Growth-Oriented Sequential Relationship Analysis (GOSRA). Nilai skor yang dihasilkan selanjutnya dianalisis secara spasial menggunakan metode autokorelasi dan identifikasi klaster untuk melihat pola keterkaitan antarwilayah. Skor keberlanjutan sosial berkisar antara 0,29 hingga 0,58. Kecamatan Bayah, Gunung Kencana, dan Panggarangan menempati peringkat tertinggi, sementara Cimarga, Maja, dan Curugbitung berada di posisi terendah. Analisis spasial menunjukkan adanya pola autokorelasi positif dan klaster High–High di wilayah selatan serta Low–Low di wilayah tengah dan utara. Kebaruan penelitian ini terletak pada strategi evaluasi pembangunan????berkelanjutan tingkat daerah dan integrasi indikator lokal dengan pembobotan kombinatif dan analisis spasial, yang belum diterapkan di tingkat kabupaten. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan model evaluasi sosial berbasis spasial serta menjadi referensi kebijakan pembangunan yang berbasis data dan konteks wilayah.
EVALUASI MODAL EKONOMI DENGAN ADAPTASI INDIKATOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGS) MELALUI PENDEKATAN GEOSPASIAL (STUDI KASUS: KABUPATEN LEBAK, BANTEN)
Sustainable Development Goals (SDGs) menekankan tiga pilar utama, termasuk pilar ekonomi yang berperan krusial dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pencapaian indikator SDGs. Namun, pemantauan kemajuan SDGs secara global dan nasional (termasuk di Indonesia) menghadapi tantangan kompleks seperti banyaknya indikator, ambiguitas terminologi, dan ketidaklengkapan data. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat dan komposisi modal ekonomi masing-masing kecamatan di Kabupaten Lebak berdasarkan hasil perhitungan indeks modal ekonomi menggunakan indikator yang telah dirumuskan. Kemudian akan dilakukan analisis autokorelasi spasial menggunakan Global Moran’s I dan Local Indicators of Spatial Association (LISA) untuk melihat pola disparitas modal ekonomi di Kabupaten Lebak. Didapatkan skor evaluasi modal ekonomi Kabupaten Lebak yang menunjukkan peningkatan dari 0,5489 pada 2020 menjadi 0,56493 pada 2023. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor evaluasi modal ekonomi Kabupaten Lebak selama periode pengamatan. Analisis autokorelasi spasial mengidentifikasi disparitas signifikan antar kecamatan, dengan beberapa kecamatan menunjukkan hasil tinggi dan lainnya rendah. Pola spasial membentuk klaster signifikan, ditandai dengan kelompok kecamatan bernilai ekonomi tinggi (high-high) dan rendah (low-low). Empat kecamatan yang membentuk klaster hot spot terdiri atas Cikulur Cibadak, dan Wanasalam. Dua kecamatan yang masuk pada kategoti low-low ialah Cirinten dan Cigemblong. Terdapat 3 kecamatan yang memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari tetangga di sekitarnya dengan 1 kecamatan masuk pada kategori low-high dan 2 kecamatan masuk pada kategori high-low. Kecamatan yang masuk pada klasifikasi low-high ialah Kecamatan Cikulur. Sedangkan kecamatan yang termasuk dalam klasifikasi high-low merupakan kecamatan Gunungkencana dan Leuwidamar. Temuan ini memberikan perspektif spasial yang penting untuk pengambilan keputusan kebijakan dalam mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan di Kabupaten Lebak.
EVALUASI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DIMENSI LINGKUNGAN BERBASISKAN GEOSPASIAL (STUDI KASUS: KABUPATEN LEBAK, BANTEN)
Pemanfaatan lingkungan merupakan tolak ukur utama evolusi suatu peradaban. Sebagai modal utama pembangunan peradaban, konseravsi terhadap lingkungan merupakan hal yang tidak dapat dihiraukan. Dalam konteks tersebut, evaluasi terhadap pembangunan berkelanjutan lingkungan menjadi hal yang krusial. SDGs sebagai tolak ukur pembangunan berkelanjutan memiliki beberapa permasalahan terkait kelengkapan data, rumusan indikator yang redundan, ambigu, dan ketidaksesuaian dengan karakteristik lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat pembangunan berkelanjutan lingkungan di Kabupaten Lebak yang memiliki karakteristik geografis kompleks. Peneliti mengedepankan konsep lokalisasi indikator dan pemanfaatan ilmu geospasial dalam evaluasi berkelanjutan lingkungan. Indikator dianalisis secara kuantitaif melalui pembobotan Growth-Oriented Sequential Relationship Analysis (GO-SRA). Hasil menunjukan bahwa skor pembangunan berkelanjutan lingkungan dari tahun 2018-2023 berkisar antara 0,33 hingga 0,63 dari 1. Perolehan skor tertinggi diraih oleh Kecamatan Cibeber dengan skor 0,634 dan skor terendah diraih oleh Kecamatan Maja dengan skor 0,337. Sementara itu, laju pertumbuhan tertinggi diraih oleh Kecamatan Kalanganyar dan laju pertumbuhan terendah diraih oleh Kecamatan Malingping. Secara keseluruhan pembangunan berkelanjutan lingkungan di Kabupaten Lebak menunjukan hasil yang stagnan dengan laju pertumbuhan 0,05% per tahun. Analisis spasial menunjukan adanya pola klasterisasi nilai tinggi di bagian selatan Kabupaten Lebak serta klasterisasi nilai rendah di bagian utara Kabupaten Lebak.
KAJIAN PENGEMBANGAN PERIODISASI ASPEK TEKNIS PENDAFTARAN TANAH DI INDONESIA MELALUI PENDEKATAN HISTORICAL RESEARCH
Dasar Pendaftaran tanah merupakan fondasi utama dalam membangun sistem administrasi pertanahan yang efektif, akurat, dan berkelanjutan. Di Indonesia, Peta Pendaftaran menjadi representasi spasial resmi dari bidang tanah yang telah terdaftar, namun kualitas data spasial yang tersimpan menunjukkan variasi kualitas akibat perbedaan metode, regulasi, dan pendekatan teknis dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi periodisasi regulasi terkait pengukuran dan pemetaan bidang tanah, menganalisis perubahan pelaksanaannya, serta mengevaluasi karakteristik output spasial dalam pembuatan Peta Pendaftaran. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan strategi historis dan analitis. Data diperoleh melalui studi dokumen regulaasi, dokumen historis, analisis spasial, dan wawancara dengan narasumber ahli. Proses analisis mencakup tiga parameter utama, yaitu peta dasar (base map), metode pengukuran dan pemetaan bidang, serta proses plotting Peta Pendaftaran. Penelitian ini mengidentifikasi lima periode utama yang memengaruhi kualitas data spasial, yaitu: 1. sebelum UUPA, 2. 1961–1997, 3. 1997–2017, 4. 2017–2022, dan 5. 2023 s.d sekarang. Setiap periode menunjukkan karakteristik teknis yang berbeda, mulai dari penggunaan sistem koordinat lokal hingga integrasi teknologi UAV dan referensi geospasial modern (SRGI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya pendekatan periodisasi menyebabkan terjadinya kesenjangan kualitas spasial antar bidang sehingga berakibat tumpang tindih, dan ketidaksesuaian posisi bidang dengan kondisi di lapangan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap perkembangan historis dan teknis pendaftaran tanah sangat penting sebagai dasar dalam upaya validasi dan modernisasi sistem administrasi pertanahan di Indonesia.
PEMBANGUNAN MODUL ANALISIS SOSIAL, EKONOMI, DAN TUTUPAN LAHAN BERBASISKAN DATA GEOSPASIAL
Tidak ada deskripsi.
PEMUTAKHIRAN BASIS DATA GEOSPASIAL 3D SECARA PARSIAL SEBAGAI UPAYA PEMELIHARAAN INFORMASI SPASIAL DINAS CIPTA KARYA, BINA KONSTRUKSI DAN TATA RUANG KOTA BANDUNG
Pertumbuhan pembangunan yang pesat di Kota Bandung, khususnya pada sektor infrastruktur dan tata ruang, mendorong kebutuhan akan basis data geospasial tiga dimensi (3D) yang akurat dan terkini. Namun, proses pembuatan peta baru secara keseluruhan memerlukan biaya, waktu, dan sumber daya yang besar. Oleh karena itu, pemutakhiran parsial basis data geospasial menjadi solusi yang efisien dan strategis untuk pemeliharaan informasi geospasial yang berkelanjutan. Penelitian ini mengusulkan metode pemutakhiran berbasis deteksi perubahan spasial menggunakan analisis multitemporal citra satelit Sentinel-2 dengan pendekatan Normalized Difference Time Series (NDTS), yang digunakan untuk mengidentifikasi kemunculan objek bangunan baru. Setelah area perubahan terdeteksi, survei terestris dilakukan secara selektif pada area tersebut menggunakan instrumen pengukuran seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Electronic Total Station (ETS). Produk yang dihasilkan berupa model 3D gedung Laboratorium Teknik XVII dan Teras FTMD ITB dengan tingkat kedetailan Level of Detail (LoD) 3.3. Model ini dikembangkan dalam format Geodatabase (.gdb) dan menggunakan sistem referensi koordinat SRGI 2013 (Sistem Referensi Geospasial Indonesia) sesuai dengan standar Open Geospatial Consortium (OGC). Hasil akhir berupa basis data 3D yang mutakhir, lengkap dengan atribut semantik dan elemen arsitektural, memungkinkan visualisasi dan analisis spasial yang presisi. Pada hasil penelitian ini, diperoleh luaran berupa model 3D untuk dua bangunan dengan masing-masing nilai RMSE sebesar 0,0850 untuk Laboratorium Teknik XVII dan nilai RMSE sebesar 0,1207 untuk Teras FTMD ITB. Selain itu, pemutakhiran ini dapat menjadi fondasi implementasi digital twin cities dan mendukung integrasi lintas sektor instansi pemerintah. Prosedur yang digunakan pada pengolahan data dapat menjadi acuan teknis awal untuk mendukung regulasi yang sedang disusun oleh Pemerintah Kota Bandung terkait pemeliharaan basis data geospasial 3D.
PEMUTAKHIRAN BASIS DATA GEOSPASIAL 3D SECARA PARSIAL SEBAGAI UPAYA PEMELIHARAAN INFORMASI GEOSPASIAL DINAS CIPTA KARYA, BINA KONSTRUKSI, DAN TATA RUANG KOTA BANDUNG
Pertumbuhan pembangunan yang pesat di Kota Bandung, khususnya pada sektor infrastruktur dan tata ruang, mendorong kebutuhan akan basis data geospasial tiga dimensi (3D) yang akurat dan terkini. Namun, proses pembuatan peta baru secara keseluruhan memerlukan biaya, waktu, dan sumber daya yang besar. Oleh karena itu, pemutakhiran parsial basis data geospasial menjadi solusi yang efisien dan strategis untuk pemeliharaan informasi geospasial yang berkelanjutan. Penelitian ini mengusulkan metode pemutakhiran berbasis deteksi perubahan spasial menggunakan analisis multitemporal citra satelit Sentinel-2 dengan pendekatan Normalized Difference Time Series (NDTS), yang digunakan untuk mengidentifikasi kemunculan objek bangunan baru. Setelah area perubahan terdeteksi, survei terestris dilakukan secara selektif pada area tersebut menggunakan instrumen pengukuran seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Electronic Total Station (ETS). Produk yang dihasilkan berupa model 3D gedung Laboratorium Teknik XVII dan Teras FTMD ITB dengan tingkat kedetailan Level of Detail (LoD) 3.3. Model ini dikembangkan dalam format Geodatabase (.gdb) dan menggunakan sistem referensi koordinat SRGI 2013 (Sistem Referensi Geospasial Indonesia) sesuai dengan standar Open Geospatial Consortium (OGC). Hasil akhir berupa basis data 3D yang mutakhir, lengkap dengan atribut semantik dan elemen arsitektural, memungkinkan visualisasi dan analisis spasial yang presisi. Pada hasil penelitian ini, diperoleh luaran berupa model 3D untuk dua bangunan dengan masing-masing nilai RMSE sebesar 0,0850 untuk Laboratorium Teknik XVII dan nilai RMSE sebesar 0,1207 untuk Teras FTMD ITB. Selain itu, pemutakhiran ini dapat menjadi fondasi implementasi digital twin cities dan mendukung integrasi lintas sektor instansi pemerintah. Prosedur yang digunakan pada pengolahan data dapat menjadi acuan teknis awal untuk mendukung regulasi yang sedang disusun oleh Pemerintah Kota Bandung terkait pemeliharaan basis data geospasial 3D.
PENGEMBANGAN PERENCANAAN SOLAR PHOTOVOLTAIC ATAP DI WILAYAH URBAN UNTUK MENDUKUNG NET ZERO CARBON BERBASIS GEOSPASIAL
The world is facing the danger of a future energy crisis, compounded by the negative impacts of fossil fuel use as the current primary energy source. One way to address both issues is by transitioning from fossil fuels to renewable energy. Urban areas are suitable locations for the development of renewable energy due to their high energy demands. Urban regions have high energy consumption because of their large populations and their role as centers for economic and industrial activities. Net-zero carbon initiatives can be implemented in urban areas to reduce greenhouse gas emissions by replacing fossil fuels with renewable energy sources. Solar energy is a renewable energy option that can be easily applied in urban environments, as it can be installed on rooftops, eliminating the need for open land. However, a well-designed plan is necessary to implement net-zero carbon in urban areas. Since solar energy is intermittent, there are times when energy cannot be supplied by solar energy, so installing batteries is essential for storing solar energy during the daytime. A good plan requires calculating the necessary capacity of PV (Photovoltaic) and batteries for each building. Optimal capacity can be determined by calculating the balance between solar energy production and energy consumption for each building. In urban areas, energy production is complex due to the presence of tall buildings that can block sunlight to reach rooftops. Additionally, energy consumption varies from building to building. Therefore, careful calculations are needed to determine the appropriate solar cell and battery capacity for each building. To determine the optimal PV and battery capacity, this study follows several stages: reconstructing detailed 3D models of urban buildings, integrating physical and meteorological parameters to achieve high temporal and spatial resolution for solar energy observations, and then combining each building’s solar energy potential with its energy consumption to calculate the optimal solar cell and battery capacity. Three energy fulfillment scenarios—20%, 50%, and 100%—are used to assess the required capacity for gradual net-zero carbon implementation. In this study, remote sensing and geospatial data were integrated to achieve the objective. To determine building height, this research used DSM (Digital Surface Model) data: DEMNAS (Digital Elevation Model Nasional) Indonesia and DSM AW3D (Alos World 3D), that integrated with Sentinel-1. The source data were combined with building polygons to obtain detail building height. To assess PV potential, this research utilized geostationary satellite observation data (AMATERASS) with a 10-minute temporal resolution. The data were solar radiation, temperature, and wind velocity. Demand data were generated based on the general hourly statistic electricity household demand in Indonesia. In this study, 3D building models were created by integrating multi-machine learning methods and datasets. The best results for low, medium, and high building height classes were achieved using a combined dataset with the random forest method, AW3D with the decision tree method, and a combined dataset with the decision tree method, with Mean Absolute Error (MAE) values of 1.333 m, 2.487 m, and 13.898 m, respectively. This reconstruction resulted in an R² value of 0.754. Using the building height data, physical analysis was performed using shadow modeling and the sky view factor (SVF) for each pixel with a size of 1 x 1 m. Physical and meteorological models were integrated to determine detailed PV potential for each pixel, showing hourly energy potential in Jakarta and Bandung ranging from 260 to 420 Wh/Wp. Next, the PV energy potential was integrated with the electricity consumption of each building to calculate the optimal solar cell and battery capacity. The difference of scenario energy fulfillment can change the optimal PV and battery capacity use in every building. The larger energy fulfilment makes the larger optimal capacity. The study found that the median solar cell capacities for small, medium, large, very large, and extra-large buildings in Jakarta were 0.8, 4.2, 17, 42.1, and 117.4 kWh, respectively, while in Bandung, the capacities were 0.9, 2.2, 6.8, 16.8, and 37.4 kWh. The median batteries for small, medium, large, very large, and extra-large buildings in Jakarta were 1.9, 11.4, 47.3, 119.2, and 351.4 kWh, while in Bandung, they were 2.2, 5.8, 18, 43.3, and 96.3 kWh. It is hoped that with this research can be used by policymakers to increase the use of renewable energy, particularly solar energy, and contribute to achieving the 2030 Sustainable Development Goals (SDGs 2030) numbers 7 and 11, which focus on clean energy and sustainable cities and communities. Additionally, this research hopefully can contribute to urban planning for carbon neutrality by providing a more detailed understanding of PV and Battery capacity in the area with absence of detailed data information. It is also hoped that inclusive PV utilization can be planned not only by the government but also by building owners by understanding the optimal PV and battery capacity in every household.
IDENTIFIKASI SPATIAL ECONOMETRICS DENGAN INFORMASI GEOSPASIAL UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Dalam laporan ini, kami berusaha untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang aktivitas kerja praktik yang kami lakukan, termasuk sasaran dan lingkup tugas yang kami lakukan, metodologi yang kami terapkan, serta hasil dan kesimpulan yang kami dapatkan. Kami berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan dan menjadi referensi yang berharga bagi mereka yang ingin memahami kontribusi kami selama kerja praktik. Kami juga sangat menghargai setiap saran dan masukan untuk perbaikan di masa mendatang, jika ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Akhir kata, kami ingin mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang berharga ini dan dukungan yang kami terima selama masa kerja praktik. Semoga laporan ini dapat memberikan gambaran yang jelas dan bermanfaat.
EKSTRAKSI UNSUR OTOMATIS BERBASIS PENDEKATAN TRANSFER LEARNING UNTUK MENDUKUNG PERCEPATAN PEMBUATAN PETA DASAR DI INDONESIA
Kebutuhan akan informasi geospasial di Indonesia terus meningkat seiring dengan perkembangan pembangunan dan kebutuhan akan perencanaan yang lebih baik dan terstruktur. Pemerintah Indonesia telah menerapkan Kebijakan Satu Peta, di mana salah satu poin utama dari kebijakan tersebut adalah pemenuhan peta dasar skala besar untuk seluruh wilayah Indonesia. Hingga akhir tahun 2022, pemenuhan peta dasar skala besar baru mencapai 2.57% dari seluruh luas wilayah Indonesia. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam mencapai target pemenuhan peta dasar skala besar yang semakin mendekat, yaitu pada Desember 2024. Metode konvensional untuk ekstraksi unsur, yang melibatkan proses manual seperti monoplotting atau stereoplotting, seringkali memakan waktu serta jumlah sumber daya manusia yang banyak, dan rentan terhadap kesalahan operator. Oleh karena itu, diperlukan metode alternatif yang dapat mempercepat proses pembuatan peta dasar untuk memenuhi target tersebut. Transfer learning adalah suatu pendekatan yang memanfaatkan model deep learning yang telah dilatih sebelumnya pada kumpulan data yang besar lalu mengadaptasi pengetahuan yang dipelajari dari satu tugas untuk diterapkan pada tugas lain yang masih berkaitan. Transfer learning menyempurnakan model-model yang telah dilatih sebelumnya kemudian memungkinkan model untuk mempelajari unsur-unsur lain dengan karakteristik baru serta meningkatkan kemampuan generalisasi model. Pendekatan transfer learning menjadi sangat berguna ketika jumlah dataset pelatihan yang tersedia terbatas. Belum terdapat penelitian yang melakukan ekstraksi unsur bangunan dan jalan secara otomatis menggunakan algoritma deep learning ditambah dengan pendekatan transfer learning di wilayah yang memiliki bentuk bangunan serta jalan yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas model deep learning berbasis transfer learning dalam melakukan ekstraksi unsur peta dasar dari citra udara resolusi tinggi di Indonesia, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hasil ekstraksi unsur peta dasar menggunakan pendekatan transfer learning di Indonesia, dan menganalisis kendala dan tantangan yang perlu dihadapi dalam penerapan metode transfer learning untuk percepatan pembuatan peta dasar skala besar. Temuan yang didapatkan pada penelitian ini mengevaluasi metode alternatif untuk mengekstraksi unsur bangunan dan jalan secara otomatis yaitu melalui pendekatan transfer learning. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif solusi, evaluasi, masukan, serta pertimbangan dalam pembuatan kebijakan atau standar baru dalam rangka percepatan pembuatan peta dasar, terutama peta dasar skala besar. Pada penelitian ini, telah dilakukan ekstraksi unsur bangunan dan jalan secara otomatis melalui pendekatan transfer learning menggunakan algoritma deep learning. Ekstraksi unsur bangunan dilakukan menggunakan algoritma Mask RCNN, sedangkan ekstraksi unsur jalan dilakukan menggunakan algoritma MTRE. Dengan menggunakan dataset pelatihan yang didigitasi manual sejumlah 40% dari keseluruhan objek, ekstraksi unsur bangunan mampu menghasilkan nilai presisi rata-rata sebesar 0.7854 sedangkan ekstraksi unsur jalan mampu menghasilkan nilai mIoU sebesar 0.9918. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan transfer learning memiliki potensi tinggi dan efektivitas yang baik dalam melakukan ekstraksi unsur otomatis. Akan tetapi, perlu dipastikan bahwa data pelatihan telah mencakup seluruh variasi unsur bangunan dan jalan yang terdapat di area yang akan dipetakan. Apabila variasi unsur bangunan dan jalan pada data pelatihan tidak cukup, maka model akan sangat rentan untuk mengalami overfitting sehingga model kurang mampu untuk melakukan generalisasi terhadap unsur baru. Pendekatan transfer learning menggunakan algoritma deep learning dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam proses ekstraksi unsur peta dasar skala besar di Indonesia. Hal ini penting untuk mendukung percepatan pembuatan peta dasar guna memenuhi target Kebijakan Satu Peta. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi tantangan dan kendala yang ada, terutama dalam memastikan data pelatihan yang mencakup variasi unsur yang memadai. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap bidang geospasial di Indonesia dan dapat menjadi dasar untuk pengembangan metode lebih lanjut dan penerapan teknologi geospasial yang lebih efektif dan efisien.