📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 173 dokumen

PERENCANAAN PERBAIKAN TANAH STONE COLUMN PADA RUAS JALAN TOL TRANS-JAWA STA 4450 – 4625

Ruas Jalan Tol Trans-Jawa pada STA 4450 – 4625 di wilayah Yogyakarta berada di atas tanah dasar yang memiliki potensi likuifaksi akibat kondisi tanah pasir jenuh air dan dekat dengan dua sesar aktif, yaitu Sesar Opak dan Sesar Mataram. Evaluasi kondisi eksisting pada ketiga titik bor (BH-24A, BH-25B, dan BH-26B) menunjukkan bahwa sebagian besar lapisan tanah berpotensi mengalami likuifaksi. Selain itu, terjadi penurunan tanah berlebih khususnya pada BH-24A yang mencapai 10,9 cm, serta nilai faktor keamanan (SF) stabilitas lereng pada kondisi pseudostatik belum memenuhi kriteria minimum sebesar 1,1. Tugas akhir ini mencakup evaluasi potensi likuifaksi, perencanaan perbaikan tanah dengan metode stone column, serta analisis efektivitasnya terhadap pengendalian penurunan, peningkatan stabilitas lereng, dan mitigasi likuifaksi. Desain stone column dilakukan menggunakan metode Priebe (1995) berdasarkan pada model unit cell. Hasil analisis menunjukkan bahwa stone column efektif dalam memitigasi risiko likuifaksi dan mereduksi settlement hingga batas aman, dengan nilai terbesar 3,7 cm pada BH-24A berdasarkan pemodelan SIGMA/W. Evaluasi stabilitas lereng pascaperbaikan menggunakan metode Limit Equilibrium pada SLOPE/W menunjukkan peningkatan SF pada seluruh titik bor, dengan nilai kondisi pseudostatik yang telah memenuhi kriteria minimum di semua sisi lereng.

2026
👤 Penulis: Nadine Anindya
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Stabilitas Lengkung

EVALUASI PERBAIKAN TANAH MENGGUNAKAN METODE STONE COLUMN TERHADAP POTENSI LIKUIFAKSI DI PROYEK JALAN TOL TRANS JAWA STA 4+200-STA 4+405, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Jalan tol sebagai proyek strategis yang memberikan kebermanfaatan yang sangat besar bagi daerah yang terkoneksi serta perkembangan ekonomi nasional dan regional menuntut adanya perancangan yang matang. Proyek Jalan Tol Trans Jawa STA 4+200-STA 4+405, dilakukan pada Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan daerah dengan aktivitas seismik tinggi, serta kondisi geoteknik yang didominasi oleh tanah pasir dengan muka air dangkal yang menuntut adanya solusi perbaikan tanah yang dapat memitigasi fenomena likuifaksi pada lokasi studi. Perbaikan tanah yang digunakan untuk mencegah akumulasi peningkatan air pori digunakan adalah metode stone column. Potensi likuifaksi diukur menggunakan metode NCEER. Metode stone column adalah perbaikan tanah menggunakan material batu pecah yang digunakan untuk mengisi tanah dengan membentuk kolom. Stone column menciptakan material batu-tanah komposit yang lebih kaku, sehingga penurunan total dapat bernilai kurang dari 0,1 m dan stabilitas lereng pada kondisi statik memiliki SF?1,5 dan kondisi pseudostatik memiliki nilai SF?1,1. Hasil desain stone column diameter 1 m dan spacing 1,7-2,3 m menunjukkan bahwa perbaikan tanah efektif dalam meningkatkan resistensi likuifaksi, mengurangi penurunan total tanah dan meningkatkan stabilitas lereng sesuai standard teknis.

2026
👤 Penulis: Hadin Harridhi Saiful
🏷️ Geoteknik 🏷️ Perbaikan Tanah 🏷️ Likuifaksi

DESAIN STONE COLUMN SEBAGAI METODE PERBAIKAN TANAH DASAR TIMBUNAN JALAN TOL (STUDI KASUS: PROYEK JALAN TOL TRANS-JAWA, STA 4+800–5+115)

Proyek Jalan Tol Trans-Jawa STA 4+800–5+115 berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu wilayah dengan aktivitas seismik relatif tinggi. Tanah dasar pada lokasi tinjauan didominasi oleh pasir berlanau (silty sand), lanau (silt), dan pasir bersih (clean sand) dengan muka air tanah pada kedalaman 1,00 m sampai 8,00 m. Kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap likuefaksi, penurunan tanah, dan ketidakstabilan lereng timbunan. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik tanah, mengevaluasi kondisi praperbaikan, dan merancang stone column sebagai metode perbaikan tanah dasar timbunan. Evaluasi likuefaksi dilakukan dengan metode NCEER berbasis data N-SPT, sedangkan evaluasi penurunan tanah dan stabilitas lereng dilakukan menggunakan GeoStudio. Hasil evaluasi praperbaikan menunjukkan bahwa seluruh zona borehole berpotensi mengalami likuefaksi dengan faktor keamanan minimum 0,19 sampai 0,40. Penurunan tanah kondisi eksisting berada pada rentang 46,95 mm sampai 152,78 mm, sedangkan stabilitas lereng belum memenuhi kriteria pada kondisi pseudo-statik. Desain akhir perbaikan tanah menggunakan stone column berdiameter 1,00 m, spasi 1,60 m, kedalaman 20,00 m, dan pola pemasangan segitiga berdasarkan metode densifikasi Baez (1995). Setelah perbaikan, faktor keamanan terhadap likuefaksi meningkat menjadi 4,15 sampai 6,82, penurunan tanah berkurang menjadi 25,68 mm sampai 83,72 mm, serta faktor keamanan lereng meningkat menjadi 1,91 sampai 2,41 pada kondisi statik dan 1,10 sampai 1,13 pada kondisi pseudo-statik. Dengan demikian, desain stone column yang digunakan dinilai mampu memitigasi potensi likuefaksi, mengurangi penurunan tanah, dan meningkatkan stabilitas lereng hingga memenuhi kriteria desain.

2026
👤 Penulis: Muhammad Duta Pahlevi
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Jalan Tol 🏷️ Analisis Likuefaksi

DESAIN STONE COLUMN SEBAGAI METODE PERBAIKAN TANAH DASAR TIMBUNAN JALAN TOL (STUDI KASUS: PROYEK JALAN TOL TRANS-JAWA, STA 4+800 – 5+115)

Proyek Jalan Tol Trans-Jawa STA 4+800–5+115 berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu wilayah dengan aktivitas seismik relatif tinggi. Tanah dasar pada lokasi tinjauan didominasi oleh pasir berlanau (silty sand), lanau (silt), dan pasir bersih (clean sand) dengan muka air tanah pada kedalaman 1,00 m sampai 8,00 m. Kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap likuefaksi, penurunan tanah, dan ketidakstabilan lereng timbunan. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik tanah, mengevaluasi kondisi praperbaikan, dan merancang stone column sebagai metode perbaikan tanah dasar timbunan. Evaluasi likuefaksi dilakukan dengan metode NCEER berbasis data N-SPT, sedangkan evaluasi penurunan tanah dan stabilitas lereng dilakukan menggunakan GeoStudio. Hasil evaluasi praperbaikan menunjukkan bahwa seluruh zona borehole berpotensi mengalami likuefaksi dengan faktor keamanan minimum 0,19 sampai 0,40. Penurunan tanah kondisi eksisting berada pada rentang 46,95 mm sampai 152,78 mm, sedangkan stabilitas lereng belum memenuhi kriteria pada kondisi pseudo-statik. Desain akhir perbaikan tanah menggunakan stone column berdiameter 1,00 m, spasi 1,60 m, kedalaman 20,00 m, dan pola pemasangan segitiga berdasarkan metode densifikasi Baez (1995). Setelah perbaikan, faktor keamanan terhadap likuefaksi meningkat menjadi 4,15 sampai 6,82, penurunan tanah berkurang menjadi 25,68 mm sampai 83,72 mm, serta faktor keamanan lereng meningkat menjadi 1,91 sampai 2,41 pada kondisi statik dan 1,10 sampai 1,13 pada kondisi pseudo-statik. Dengan demikian, desain stone column yang digunakan dinilai mampu memitigasi potensi likuefaksi, mengurangi penurunan tanah, dan meningkatkan stabilitas lereng hingga memenuhi kriteria desain.

2026
👤 Penulis: Muhammad Mufid Ramadhan
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Jalan Tol 🏷️ Analisis Likuefaksi

PEMETAAN SITUASI TIGA DIMENSI DENGAN METODE CLOSE RANGE PHOTOGRAMETRY ( STUDI KASUS : INDUSTRI PERMINYAKAN )

Teknik fotogrametri khususnya fotogrametri rentang dekat dapat diterapkan untuk merekonstruksi objek tiga dimensi suatu bangunan. Data tiga dimensi sangat membantu untuk memodelkan objek dengan tingkat kompleksitas tinggi, yang tidak dapat direpresentasikan dengan data dua dimensi. Dalam hal ini, kamera dijital nonmetrik dapat digunakan untuk pemetaan tiga dimensi dengan objek-objek yang dipetakan adalah bangunan dan tangki. Studi ini memanfaatkan kamera dijital nonmetrik yang telah dikalibrasi berdasarkan beberapa alasan, yaitu: ukuran kamera lebih kecil dan ringan, lebih mudah dioperasikan, mudah didapat dan harga relatif murah. Studi dilakukan dalam 4 langkah: pengambilan data/ pemotretan, pengolahan foto menjadi model tiga dimensi objek, proses penggabungan objek-objek, kemudian penyekalaan menjadi peta tiga dimensi yang dapat ditampilkan secara dinamik sehingga memungkinkan untuk mengamati model fisik objek dari berbagai sudut pandang.. Dari hasil perbandingan ukuran jarak data Electronic Total Station (ETS) dan pada model tiga dimensi dapat diketahui bahwa selisih nilai ukuran jarak terbesar mencapai 0,2202 m, dengan nilai rata-rata selisih ukuran sebesar 0,117 m. Besarnya kesalahan relatif rata-rata selisih terhadap rata-rata jarak adalah 1: 832.

2026
👤 Penulis: Revanza Adirama Anwar
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Kualitas Data Geografis 🏷️ Pengantar Digital

DESAIN FONDASI TAHAN GEMPA DAN DINDING BASEMENT PROYEK GEDUNG PERKANTORAN ABC DI DKI JAKARTA

Kepadatan lahan di DKI Jakarta mendorong pemanfaatan basement sebagai solusi ruang pada gedung perkantoran bertingkat, sementara posisi Indonesia di kawasan tektonik aktif mengharuskan seluruh sistem fondasi dan dinding basement dirancang tahan gempa. Tugas akhir ini merancang fondasi dalam berupa tiang bor untuk mendukung beban struktural gedung, serta dinding diafragma sebagai dinding basement yang berfungsi sebagai struktur penahan tanah untuk Proyek Gedung Perkantoran ABC di DKI Jakarta. Analisis parameter tanah dilakukan berdasarkan data SPT dan CPT dari lima titik borehole (BH-01 hingga BH-05), mencakup sudut geser dalam, undrained shear strength, modulus elastisitas, dan parameter konsolidasi, dengan kelas situs ditentukan sesuai SNI 8460:2017. Dinding basement dirancang menggunakan sistem dinding diafragma dengan ground anchor sebagai penopang lateral, dilaksanakan dengan metode bottom-up. Perancangan mencakup perhitungan tekanan lateral kondisi undrained dan drained, desain ground anchor, serta penulangan lentur dan geser. Verifikasi dilakukan dengan PLAXIS 2D menggunakan model Hardening Soil melalui beberapa iterasi untuk memperoleh desain optimal yang memenuhi faktor keamanan SF ? 1,5 dan batas defleksi lateral yang diizinkan. Fondasi dalam menggunakan tiang bor berdiameter 1 m sepanjang 40 m, dengan analisis kapasitas aksial dan lateral menggunakan perangkat lunak LPILE dan GROUP. Hasil desain menunjukkan bahwa dinding diafragma dan tiang bor yang dirancang memenuhi seluruh persyaratan keamanan struktural berdasarkan standar yang berlaku.

2026
👤 Penulis: Matthew Ray Saroinsong
🏷️ Geoteknik 🏷️ Desain Struktur 🏷️ Tekanan Gempa

PEMBUATAN SWELLING HAZARD POTENTIAL (SHP) RATING UNTUK TEROWONGAN BERDASARKAN ASPEK GEOLOGI DAN MINERALOGI

Deformasi akibat fenomena swelling pada penggalian terowongan di formasi batuan kaya lempung dan sulfat masih menjadi tantangan geoteknik yang krusial, khususnya pada massa batuan yang lemah dan telah mengalami pelapukan atau alterasi. Penelitian ini menyajikan kajian terpadu berbasis aspek geologi dan mineralogi untuk mengevaluasi perilaku swelling pada sejumlah studi kasus terowongan. Fokus utama diarahkan pada pengaruh setting geologi, lingkungan pembentukan batuan, komposisi mineralogi, struktur batuan, tingkat pelapukan dan alterasi, kondisi air tanah, dan kekuatan massa batuan. Sebuah basis data mengenai terowongan yang mengalami swelling telah disusun dan diklasifikasikan secara sistematis berdasarkan kategori regangannya (strain). Sebagai pendekatan kuantitatif untuk menilai pengaruh aspek geologi dan mineralogi terhadap tingkat deformasi, dikembangkan suatu sistem penilaian yang disebut Swelling Hazard Potential (SHP). Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat regangan tinggi umumnya ditemukan pada formasi argillaceous (lempungan) dan pada batuan yang mengandung sulfat, yang terbentuk di lingkungan laut dalam (mélange) serta lingkungan evaporit. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik massa batuan yang tergerus (sheared), terfoliasi, dan mengalami pelapukan atau alterasi kuat dengan kondisi air tanah yang basah hingga mengalir. Validasi terhadap data regangan aktual di lapangan membuktikan bahwa SHP rating mampu memetakan potensi swelling secara efektif. Selain itu, analisis komparatif antara rasio kekuatan massa batuan terhadap tegangan overburden dan rasio tekanan penyangga maksimum terhadap tekanan swelling memberikan gambaran mengenai keseimbangan mekanis kekuatan batuan-penyangga terhadap tekanan yang berkembang akibat swelling. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku swelling tidak hanya dipengaruhi oleh kandungan mineral lempung ekspansif, tetapi juga oleh interaksi hidromekanis serta struktur geologi batuan. Penelitian ini menyajikan pendekatan sistematis untuk identifikasi awal kondisi tanah/batuan yang berpotensi swelling, sekaligus menjadi landasan dalam pengembangan desain terowongan berbasis risiko pada lingkungan geologi yang kompleks.

2026
👤 Penulis: Safira Salsabila
🏷️ Geoteknik 🏷️ Hidromekanika 🏷️ Analisis Struktur Geologi

EKSTRAKSI CITRA INTENSITAS DAN DATA ELEVASI LIDAR UNTUKPENGUKURAN TITIK KONTROL TANAH PADA PROSES TRIANGULASI UDARAFOTOGRAMETRI

Teknik Airborne LIDAR atau ALS memberikan efisiensi dalam akuisisi data untuk memenuhi kebutuhan data DEM/DTM yang sangat akurat dalam area yang luas untuk keperluan teknik sipil, perencanaan, maupun lingkungan. Kelemahannya, LIDAR kurang memberikan detail planimetrik dibandingkan foto udara. Foto udara beresolusi tinggi memiliki kelebihan dalam memberikan informasi detail planimetrik yang lebih banyak di permukaan tanah. Untuk keperluan teknik yang memerlukan detail yang lengkap dengan akurasi tinggi diperlukan kombinasi dari data LIDAR dan foto udara. Metode integrasi data LIDAR dan fotogrametri dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengekstraksi citra intensitas dan data elevasi LIDAR untuk pengukuran titik kontrol tanah (TKT) pada proses triangulasi udara fotogrametri. Registrasi data LIDAR dengan data fotogrametri, melakukan proses triangulasi udara foto udara dari data titik kontrol tanah hasil ekstraksi data LIDAR. Kemudian melakukan pengujian hasil triangulasi udara foto udara tersebut untuk pemetaan skala 1:1000.

2026
👤 Penulis: Aji Rahmayudi
🏷️ Geoteknik 🏷️ Hidrologi 🏷️ Fotogrametri

PENGARUH DIFFERENTIAL SETTLEMENT AKIBAT LAND SUBSIDENCE TERHADAP PERILAKU TUNNEL DAN STASIUN PADA PROYEK MRT JAKARTA FASE 2A CP-203

Penurunan tanah (land subsidence) di wilayah Jakarta berpotensi menimbulkan differential settlement yang memengaruhi kinerja struktur bawah tanah, khususnya sistem tunnel dan stasiun MRT Jakarta Fase 2A CP-203. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh differential settlement akibat land subsidence terhadap deformasi dan gaya dalam sistem tunnel–stasiun, membandingkan respon sambungan rigid connection dan semi-rigid connection, serta mengevaluasi kinerja struktur hingga periode analisis 100 tahun. Analisis dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan perangkat lunak Rocscience RS2 dan RS3, dengan land subsidence dimodelkan terutama melalui pendekatan pembebanan merata di permukaan sebagai representasi penurunan tanah jangka panjang, sementara pendekatan groundwater extraction dengan penurunan nilai total head digunakan secara terbatas sebagai model verifikasi mekanisme penurunan tanah. Pembebanan merata di permukaan dipilih sebagai pendekatan pemodelan karena memberikan hasil yang lebih konservatif. Evaluasi deformasi didasarkan pada parameter deviasi gradien penurunan vertikal [d(?z)/dx] pada tanah dan struktur tunnel. Hasil analisis dengan pendekatan pembebanan menunjukkan bahwa deviasi gradien penurunan tanah relatif kecil pada permukaan dan pada posisi di atas tunnel (? 0–2,3%), tetapi meningkat signifikan pada posisi di bawah tunnel hingga sekitar 47%, sedangkan respon deformasi struktural tunnel menunjukkan konsentrasi tertinggi pada zona sambungan stasiun–tunnel dengan deviasi gradien mencapai sekitar 90–100%. Perbandingan tipe sambungan menunjukkan bahwa rigid connection menghasilkan deformasi lebih kecil dengan gaya dalam lebih besar, sedangkan semi-rigid connection lebih mampu mengakomodasi deformasi vertikal dengan gaya dalam lebih rendah, dan hasil evaluasi kapasitas struktur menunjukkan bahwa seluruh segmentasi tunnel dan d-wall masih berada dalam batas aman hingga periode analisis 100 tahun.

2026
👤 Penulis: Muhammad Reza Kamil
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Struktural 🏷️ Hidrologi

EKSPLORASI NIKEL LATERIT MENGGUNAKAN METODE GROUND PENETRATING RADAR DI LAPANGAN

Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu daerah dengan potensi endapan nikel laterit yang besar karena tersusun oleh batuan ultramafik sebagai batuan induk. Penelitian ini dilakukan di Lapangan “MARINA”, Tapunopaka, dengan tujuan untuk memetakan distribusi lapisan nikel laterit bawah permukaan serta mengidentifikasi batas antar lapisan topsoil, limonit, saprolit, dan bedrock menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR). Metode GPR dipilih karena memiliki resolusi tinggi pada kedalaman dangkal hingga menengah serta bersifat cepat dan non-destruktif, sehingga sesuai untuk eksplorasi awal endapan nikel laterit. Akuisisi data GPR dilakukan menggunakan peralatan MALA Rough Terrain Antenna (RTA) dengan frekuensi 25 MHz pada enam lintasan pengukuran, yaitu lintasan 5, 6, 9A, 9B, 10A, dan 10B, dengan panjang lintasan bervariasi antara 253 m hingga 393 m. Data hasil akuisisi diolah menggunakan perangkat lunak ReflexW melalui beberapa tahapan, meliputi Dewow, Static Correction, Automatic Gain Control (AGC), Bandpass Butterworth filter, Background Removal, FK-filter, Running Average, serta koreksi topografi. Hasil pengolahan selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan dalam bentuk radargram dan diagram pagar untuk menggambarkan kontinuitas lateral lapisan laterit. Hasil interpretasi radargram menunjukkan adanya kontras amplitudo refleksi yang jelas antara zona laterit dan batuan dasar ultramafik. Lapisan topsoil–limonit umumnya teridentifikasi pada kedalaman 0–14 m, lapisan saprolit berada pada kedalaman sekitar 6–60 m dengan ketebalan yang bervariasi secara lateral, sedangkan bedrock mulai muncul pada kedalaman 30–68 m. Zona saprolit menunjukkan refleksi yang relatif heterogen akibat pengaruh variasi kandungan lempung dan kadar air, namun tetap menjadi zona target utama eksplorasi nikel laterit. Korelasi antara hasil interpretasi GPR dan data bor menunjukkan kesesuaian yang baik pada lapisan topsoil dan limonit, sementara pada lapisan saprolit terdapat perbedaan kedalaman yang dipengaruhi oleh heterogenitas material bawah permukaan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode GPR dengan antena frekuensi 25 MHz efektif untuk memetakan distribusi dan ketebalan lapisan nikel laterit pada kedalaman dangkal hingga menengah. Integrasi data GPR dan data borii sangat penting untuk meningkatkan keakuratan interpretasi bawah permukaan, sehingga metode ini dapat menjadi pendukung yang andal dalam tahap awal eksplorasi nikel laterit di daerah tropis seperti Sulawesi Tenggara.

2026
👤 Penulis: Mark Christian Martua Manurung
🏷️ Geoteknik 🏷️ Eksplorasi Mineral 🏷️ Hidrologi

KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI AKIBAT BANGUNAN PENGENDALI SEDIMEN DI SUNGAI SALUKI KAB. SIGI PROV. SULAWESI TENGAH

Bencana gempa bumi berkekuatan 7,4SR yang terjadi pada 28 September 2018 di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah tidak hanya menimbulkan dampak langsung berupa kerusakan infrastruktur, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap kondisi geoteknik di daerah hulu sungai, termasuk di Sungai Saluki. Gempa mengganggu stabilitas tanah di hulu Sungai Saluki sehingga mudah tererosi pada saat hujan. 30% wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Saluki terdiri dari material yang tidak stabil sehingga sangat rentan terhadap aliran debris pada saat terjadi hujan. Fenomena ini akan berkontribusi terhadap peningkatan beban sedimen yang terbawa aliran permukaan menuju Sungai Saluki, dan akan mempengaruhi fungsi bendung dan intake air baku yang baru selesai dibangun pada Tahun 2024 sebagai bentuk upaya rehabilitasi rekonstruksi pasca bencana yang berfungsi untuk menyediakan air baku bagi Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Upaya penanganan pengendalian sedimen yang telah dilakukan adalah pembangunan 1 unit sabodam di hulu Bendung Saluki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas Sungai Saluki dalam menerima dan mengalirkan aliran debris, menganalisis perubahan morfologi Sungai Saluki akibat adanya bangunan pengendali sedimen, dan menganalisis kapasitas dan kinerja penangkapan sedimen oleh sabodam di Sungai Saluki. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan pemodelan aliran debris dan pemodelan sedimentasi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 1 Dimensi. Pemodelan aliran debris menggunakan parameter Non-Newtonian Bingham dengan debit banjir rencana Q2 dan Q100. Pemodelan sedimentasi dilakukan dengan kondisi debit harian satu tahun dan kondisi Q100. Berdasarkan hasil pemodelan aliran debris, dengan adanya sabodam tidak mempengaruhi tinggi muka air secara signifikan. Sungai Saluki mampu mengalirkan aliran debris hingga Q100. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi debit harian satu tahun menunjukan agradasi sungai pada area yang terpengaruh bangunan sabodam, dan degradasi pada hilir Bendung Saluki. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi Q100, terjadi agradasi pada area terpengaruh bangunan sabodam pada area hilir tidak terjadi perubahan morfologi sungai yang signifikan. Pada Skema 2 (Sabodam 1) kondisi debit harian, diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 1 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen mencapai 27,91%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 82,17%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen mencapai 16,58% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 75,12%. Pada Skema 3 (Sabodam 1, Sabodam 2, dan Sabodam 3) kondisi debit harian diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 19, Sabodam 2 = 4 tahun, dan Sabodam 3 = 4 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 35,35%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 92,30%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 68,54% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 100%.

2026
👤 Penulis: Yosephina Puspa Setyoasri
🏷️ Geoteknik 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PERBANDINGAN HASIL METODE KLASIFIKASI LIDAR DENGAN FOTOGRAMETRI

Studi awal adalah studi yang dilakukan untuk mengevaluasi komponen-komponen dalam suatu objek, contohnya adalah infrastruktur. Studi ini dinilai penting karena hasil evaluasi dapat digunakan untuk melakukan manajemen aset dalam infrastruktur melalui Building Information Modeling (BIM). Lokasi penelitian ini adalah Bendung Manganti yang terletak di Kabupaten Ciamis. Aset-aset dalam bangunan bendung berguna untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Pemantauan dan pemeliharaan infrastruktur perlu dilakukan secara berkala agar tetap dapat menjalankan fungsinya. Manajemen aset diperlukan agar data grafis dan atribut dari aset-aset bangunan bendung dapat tertata dengan rapi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah melalui pemanfaatan Building Information Modeling (BIM). Penelitian ini memanfaatkan BIM untuk menghubungkan model tiga dimensi dengan informasi setiap aset seperti nama aset, kode unik (ID), kondisi, biaya pembuatan, dan lainnya. Informasi aset bangunan bendung dilekatkan ke model tersebut sehingga aset akan bersifat object-oriented. Kumpulan informasi tersebut disusun dalam suatu basis data yang berguna untuk memantau aset-aset di bangunan bendung. Informasi tersebut memiliki tingkat kedalaman grafis dan atribut yang dapat dianalisis melalui pengelompokan kategori Level of Detail (LOD) dan Level of Information (LOI). Basis data memiliki kedalaman yang dapat dianalisis melalui proses pembuatannya dan produk yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini berupa model tiga dimensi dan sistem basis data yang telah mengacu pada struktur Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy dan format Industry Foundation Classes (IFC). Basis data tersebut memuat informasi umum bangunan bendung serta informasi aset. LOD aset bangunan bendung termasuk dalam kategori LOD 3 dan 4. LOI aset bangunan bendung termasuk dalam kategori LOI 500. Kedalaman basis data yang dibentuk meliputi adanya pembuatan tabel, pendefinisian relasi, normalisasi, dan form basis data untuk memudahkan pemantauan aset bangunan bendung.

2026
👤 Penulis: Rofiatul Ainiyah
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Aset Infrastruktur 🏷️ Building Information Modeling (Bim)

PEMETAAN 3 DIMENSI TERESTRIS DENGAN BANTUAN FOTO NON TOPO (STUDI KASUS GEDUNG UTAMA KAMPUS INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG-JATINANGOR)

Pemetaan tiga dimensi (3D) bukan hanya dinyatakan dalam bentuk permukaan saja, melainkan dengan obyek yang ada di atas permukaan tanah. Pemetaan 3D obyek di atas permukaan bumi bertujuan untuk mendapatkan bentuk, ukuran, dan keadaan situasi di sekitar obyek tersebut. Untuk mempercepat proses pengukuran, maka dilakukan pengukuran terestris dengan bantuan foto agar mudah dipastikan titik detail pemetaan. Hasil pengukuran terestris sebagai acuan utama dan foto untuk pembuatan detail. Detail foto didapat dengan mentransformasi koordinat foto ke koordinat lokal yang sama dengan pengukuran terestris. Studi kasus dalam pemetaan ini adalah Gedung Utama kampus ITB-Jatinangor yang ditujukan untuk mendapatkan peta 3D digital. Adapun pengukuran terestris dalam pemetaan dilakukan beberapa metode pemetaan sekaligus.

2026
👤 Penulis: TASHADDA FADHLUR RAZZAQ
🏷️ Pemetaan 3 Dimensi 🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Geologi

PEMANFAATAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) UNTUK MENGHITUNG POTENSI KERUGIAN ASET AKIBATDAMPAK PENURUNAN MUKA TANAH DAN BANJIR ROB

Kawasan Pantai Mutiara merupakan perumahan hasil reklamasi di wilayah pesisir Jakarta Utara yang tidak terlepas dari fenomena penurunan muka tanah. Salah satu faktor penyebab terjadinya fenomena ini diduga karena tanah hasil reklamasi tidak mampu menahan beban bangunan serta infrastruktur yang dibangun pada kawasan tersebut. Penurunan muka tanah yang terjadi mengakibatkan kawasan tersebut terletak dibawah muka air laut sehingga air laut dapat menggenangi wilayah tersebut yang dikenal dengan banjir rob. Penurunan muka tanah serta banjir rob memberikan dampak negatif seperti menimbulkan kerusakan bangunan serta tanah sehingga mengakibatkan kerugian aset yang cukup parah. Kerugian aset tersebut perlu diestimasi untuk membantu meminimalkan kerugian. Salah satu metode untuk membantu menghitung potensi kerugian akibat dampak penurunan muka tanah dan banjir rob adalah dengan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanner (TLS). Pemanfaatan TLS digunakan untuk memodelkan kawasan pantai mutiara secara tiga dimensi. Tahap pengolahan data TLS untuk mendapatkan model 3D meliputi tahap registrasi, georeferencing, filtering, meshing, digitasi kerangka bangunan dan tanah, serta pembentukan bidang bangunan dan tanah. Potensi kerugian aset akibat penurunan muka tanah dan banjir rob dapat dihitung menggunakan informasi model 3D, data luas tanah dan bangunan, serta data harga tanah dan bangunan/m2 yang didapat berdasarkan harga NJOP dan harga pasar kawasan Pantai Mutiara. Hasil menunjukkan total potensi kerugian aset kawasan pantai mutiara bernilai 1,34 triliun rupiah dengan menggunakan harga NJOP dan 5,5 triliun rupiah dengan menggunakan harga pasar.

2026
👤 Penulis: M. FRIDHO FINANTHEO (NIM : 15109079) ; Pembimbing (1) : Dr. Heri Andreas, ST., MT. ; Pembimbing (2
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Risiko Asuransi 🏷️ Hidrologi

SURVEI PEMETAAN MENGGUNAKAN ALAT BERTEKNOLOGI LASER SCANNING UNTUK MENDUKUNG INFORMASI SPASIAL 3D

Berkembangnya zaman, menyebabkan informasi spasial 3D sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Keperluan tersebut dibutuhkan dengan cepat sehingga survei pemetaan dituntut agar lebih cepat. Survei pemetaan dilakukan dengan menggunakan alat Terrestrial Laser Scanner (TLS) dapat menjawab kebutuhan tersebut. TLS merupakan alat baru yang memiliki metode tersendiri. Alat tersebut mampu merekam titik dalam jumlah besar dengan akurasi tinggi dan waktu yang relatif singkat, sehingga memberikan dampak cost survei yang lebih murah, serta hasilpengukuran berupa titik-titik dalam sistem koordinat 3D (x,y,z). TLS memilikikomponen-komponen canggih di dalamnya, termasuk kamera, serta menggunakan metode Terrestrial Laser Scanning, menjadikan TLS sebagai alat survei yang efisien. Dalam proses penelitian, dilakukan pengumpulan data titik kontrol hasil pengukuran GPS dan pemindaian objek jalan dan persil. Tahap pengolahan data yang dilakukan berupa registrasi dengan metode registration natural point feature, filtering,georeferencing dengan metode tidak langsung pendekatan dua tahap, dan modeling. Hasil yang diperoleh berupa model solid 3D. Analisis yang dilakukan adalah tingkat kedetailan model yang dibandingkan dengan tingkat kedetailan dari foto, selain itu ukuran jarak pada model solid 3D yang dibandingkan dengan ukuran jarak menggunakan distometer. Dilakukan uji statistik t-student untuk mengetahui ukuran jarak rata-rata pada model solid 3D sama dengan ukuran jarak rata-rata distometer. Kesimpulan yang diperoleh, yaitu survei pemetaan menggunakan TLS dapat membuat model 3D objek jalan dan persil, ukuran jarak pada model solid 3D sama dengan ukuran jarak di lapangan, dan tingkat kedetailan model mencapai 3 (LOD3)

2026
👤 Penulis: ANDIKA PRASETYA SUHERMAN PUTRA (NIM: 15109034); Pembimbing: Dr. Ir. S. Hendriatiningsih, MS.; Dr. He
🏷️ Geoteknik 🏷️ Pengukuran Jalan Dan Persil 🏷️ Analisis Geografi Digital
Halaman 2 dari 12
💬