📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenSEBARAN SPASIAL-TEMPORAL TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) PADA TIGA MUARA SUNGAI DI TELUK BLANAKAN, KABUPATEN SUBANG
Pesisir Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, merupakan salah satu kawasan dengan laju akresi tertinggi di Pantai Utara Jawa, yang pembentukannya dipengaruhi oleh suplai sedimen dalam bentuk Total Suspended Solid (TSS) dari Sungai Cilamaya, Blanakan, dan Ciasem. Namun, informasi mengenai pola sebaran TSS secara simultan pada ketiga muara tersebut di musim yang berbeda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola sebaran spasial konsentrasi TSS, menguji pengaruh musim dan lokasi muara terhadap TSS, serta mengidentifikasi keterkaitan tutupan lahan riparian dengan besaran suplai TSS. Sampel diambil pada musim kemarau (Agustus 2025) dan musim hujan (Januari 2026) di 30 titik pada masing-masing muara secara purposive sampling, sehingga diperoleh 180 sampel. Konsentrasi TSS dianalisis dengan metode gravimetri mengacu SNI 06-6989.3:2019, dilanjutkan uji Two-Way ANOVA serta analisis spasial sebaran TSS dan tutupan lahan riparian. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi TSS meningkat dari 101,0–108,3 mg/L pada musim kemarau menjadi 135,4–144,3 mg/L pada musim hujan, dengan nilai maksimum 338,8 mg/L di Muara Ciasem. Konsentrasi tertinggi secara konsisten berada di sekitar mulut muara, mengindikasikan karakteristik zona Estuarine Turbidity Maximum (ETM). Two-Way ANOVA menunjukkan musim berpengaruh sangat signifikan terhadap konsentrasi TSS (p<0,001), sedangkan lokasi muara (p=0,929) dan interaksi musim×muara (p=0,975) tidak berpengaruh signifikan. Variasi tutupan mangrove riparian antarmuara juga tidak menunjukkan keterkaitan nyata dengan variasi konsentrasi TSS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa musim hujan menjadi faktor utama peningkatan konsentrasi TSS, sedangkan ketiga sungai memberikan suplai sedimen yang relatif setara ke Teluk Blanakan. Temuan ini dapat menjadi dasar penentuan prioritas rehabilitasi mangrove dan riparian serta pengelolaan lahan akresi di kawasan pesisir.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU MAHASISWA DALAM PEMILAHAN SAMPAH DI KAWASAN KAMPUS GANESA ITB (APLIKASI MODEL THEORY OF PLANNED BEHAVIOR DAN VALUE BELIEF NORM)
Pengelolaan sampah masih menjadi masalah global diperparah dengan peningkatan timbulan sampah mencapai 2.1 miliar ton pada tahun 2023 dan diperkirakan menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050. Hal ini akan menyebabkan biaya pengelolaan yang terus meningkat dan dampak lainnya termasuk biaya untuk mengatasi polusi, kesehatan yang buruk, dan perubahan iklim yang diperkirakan meningkat. Indonesia menghadapi tantangan yang signifikan dalam pengelolaan sampah dengan total timbulan pada tahun 2023 sebesar 40,2 juta ton per tahun, sebesar 60,4% sampah terkelola, sementara 39,6% sisanya belum terkelola. Manajemen sampah yang belum terkelola dapat menimbulkan dampak serius pada kesehatan dan dan penurunan kualitas lingkungan hidup, sekaligus menghambat upaya pembangunan berkelanjutan akibat degradasi lingkungan dan meningkatnya beban sosial serta ekonomi. Untuk mengatasi tantangan ini membutuhkan strategi untuk melibatkan partisipasi pihak kampus, dukungan fasilitas memadai, hingga kebijakan terfokus untuk mendorong praktik pengelolaan sampah yang lebih efektif. Kampus berkelanjutan menjadi salah satu konsep yang bertujuan untuk mempromosikan tanggung jawab terhadap lingkungan, salah satunya pengelolaan sampah. Faktor motivasi dan tingkat partisipasi individu pemilahan sampah menjadi paramater yang dapat diprioritaskan untuk dikaji. Penelitian ini dilakukan kepada 155 orang responden dari mahasiswa aktif sarjana dan magister sebagai target penelitian yang menggunakan fasilitas tempat sampah terpilah di lingkungan Kampus Ganesa ITB. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala Likert dengan poin 1-7 bersifat closed-ended questionnaire dengan mengaplikasikan model Theory of Planned Behavior (TPB) dan Value Belief and Norms (VBN). Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskriptif Multi Group Analysis (MGA) menggunakan SPSS dengan membandingkan hasil analisis konstruk-konstruk pada model TPB dan VBN antar kelompok (jenis kelamin, strata pendidikan, usia, total pendapatan responden per bulan, dan berdasarkan Fakultas dan Sekolah) serta menggunakan perangkat lunak SEM-PLS dengan menggabungkan model yang digunakan dan dilakukan dengan uji outer model (measurement model) dan uji inner model (structural model).
EKSPLORASI PEWARNA ALAMI BIJI BUAH ALPUKAT (PERSEA AMERICANA MILL.) DENGAN INSPIRASI NILAI MOTTAINAI DAN TEKNIK SASHIKO UNTUK MENSWEAR
Ironitas terbesar dalam industri busana adalah bahwa di balik penciptaan produk yang bernilai estetis, industri ini juga menghasilkan limbah dalam jumlah yang besar. Salah satu upaya meminimalisir dampak negatif yang dihasilkan dari industri busana adalah dengan beralih dari pewarna sintetis ke pewarna alami. Pewarna alami paling mudah diperoleh dari tumbuhan, salah satunya adalah biji buah alpukat yang mengandung senyawa tanin yang memberikan warna merah muda atau kuning kecoklatan. Manusia umumnya langsung membuang biji buah alpukat ke tempat sampah sehingga menghasilkan limbah yang melimpah di Indonesia. Pada penelitian ini, biji buah alpukat akan diberikan kesempatan kedua dan hidup baru dalam industri tekstil melalui pemanfaatannya menjadi pewarna alami. Hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan selaras dengan filosofi mottainai yang berasal dari Jepang, yaitu upaya manusia untuk tidak menyia-nyiakan sumber daya di sekitarnya melalui prinsip reduce, reuse, recycle dan respect. Pengimplementasian nilai mottainai tidak hanya melalui material yang digunakan, namun juga melalui tekniknya. Penelitian ini menggabungkan pewarnaan biji buah alpukat dengan teknik sashiko dan siluet kimono laki-laki. Teknik sashiko diaplikasikan untuk memperkuat struktur kain agar lebih tahan lama. Sementara itu, siluet kimono laki-laki menjadi inspirasi utama dalam produk akhir karena nilainilainya yang selalu mengutamakan regenerasi. Berlandaskan nilai mottainai sebagai kerangka filosofis, penelitian ini mengintegrasikan pewarna alami biji buah alpukat, teknik sashiko, dan siluet kimono laki-laki dalam produk menswear semiformal.
EKSPLORASI VISUAL LIMBAH KERAMIK DENGAN PENDEKATAN KINTSUGI UNTUK ELEMEN DEKORASI INTERIOR
Limbah keramik merupakan hasil samping industri keramik yang umumnya berasal dari produk cacat akibat deformasi bentuk, gagal glasir, serta produk pecah, yang belum dikelola secara optimal sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan kembali limbah keramik serta mengeksplorasi potensi visualnya melalui pendekatan kintsugi sebagai elemen dekorasi interior. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif melalui studi pustaka, survei lapangan, serta eksplorasi teknik dan bentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah keramik memiliki potensi untuk diolah menjadi karya dekorasi interior yang bernilai estetis. Dari lima eksplorasi teknik yang dilakukan, penggunaan lem epoksi clear, bubuk sablon emas, gipsum casting, dan cat emas menghasilkan kualitas visual yang paling optimal karena mampu merekatkan keramik dengan kuat sekaligus menutup retakan secara rapi. Sementara itu, eksplorasi bentuk menunjukkan bahwa limbah keramik dapat dikembangkan baik dengan mempertahankan bentuk aslinya maupun direkonstruksi menjadi bentuk baru yang abstrak. Temuan tersebut kemudian diwujudkan dalam tiga seri karya, yaitu Utuh, Rumpang, dan Ubah, yang mengangkat nilai-nilai kintsugi berupa penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, perawatan kerusakan, dan transformasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan kintsugi memiliki potensi sebagai alternatif pemanfaatan limbah keramik di Indonesia. Selain berkontribusi terhadap upaya pengurangan limbah, pendekatan ini juga mampu menghasilkan elemen dekorasi interior yang memiliki nilai estetis dan konseptual.
PENGARUH SIFAT MIKROEMULSI DAN VISKOSITAS FLUIDA PADA INJEKSI SURFAKTAN-POLIMER: EVALUASI MULTI SKALA TERINTEGRASI PADA PENDEKATAN EMPIRIS DAN SIFAT FISIK DI MATURE DELTAIC SANDSTONE RESERVOIR
Injeksi surfaktan–polimer (SP) merupakan salah satu metode chemical enhanced oil recovery (EOR) yang relevan untuk mature sandstone reservoir karena mengombinasikan penurunan interfacial tension (IFT) dengan peningkatan kontrol mobilitas fluida. Lapangan-X, suatu mature deltaic sandstone reservoir di Indonesia, telah berproduksi selama lebih dari empat dekade dan mencapai recovery factor (RF) sebesar 65,68% pada akhir history matching. Meskipun hasil penyaringan menunjukkan bahwa reservoir ini sesuai untuk penerapan SP, prediksi kinerja skala lapangan masih sering menggunakan formulasi empiris berbasis tabel yang belum sepenuhnya merepresentasikan perilaku fasa mikroemulsi dan perubahan reologi polimer akibat shear rate. Penelitian ini bertujuan membandingkan pendekatan empiris dan pendekatan berbasis informasi fisik dalam memprediksi mekanisme pendesakan serta tambahan perolehan minyak dari injeksi SP. Model empiris terlebih dahulu dikalibrasi terhadap data coreflood, khususnya respons penurunan tekanan dan perolehan minyak, kemudian melalui proses upscaling ke model skala lapangan. Model upscale mampu mempertahankan respons RF akhir model coreflood dengan perbedaan absolut sekitar 1%. Pada skala lapangan, pendekatan empiris merepresentasikan kinerja surfaktan melalui tabel IFT/capillary desaturation dan polimer melalui tabel pengali viskositas terhadap konsentrasi. Pendekatan kedua berbasis informasi fisik menggunakan korelasi Huh yang dikalibrasi berdasarkan data salinity scan untuk merepresentasikan perilaku fasa mikroemulsi, serta shear-rate-dependent rheology untuk menggambarkan perubahan viskositas polimer. Model geologi, sifat fluida, konfigurasi sumur, dan strategi injeksi dipertahankan sama agar perbedaan hasil dapat dikaitkan secara langsung dengan representasi mekanisme SP. Hasil simulasi menunjukkan bahwa waterflooding menghasilkan RF sebesar 72,90%. Kasus pertama injeksi SP berbasis empiris, yaitu injeksi polimer yang dilanjutkan dengan SP, menghasilkan RF sebesar 73,49%, sedangkan Kasus kedua yakni injeksi SP berbasis informasi fisik menghasilkan RF sebesar 73,55%. Tambahan RF terhadap waterflooding masing-masing hanya sebesar 0,59% dan 0,65%, dengan selisih antarmodel sebesar 0,06%. Meskipun RF akhir keduanya berdekatan, mekanisme yang diprediksi berbeda. Hasil penilitian menunjukkan pada pendekatan informasi fisik menurunkan IFT rata-rata menjadi 0,02 mN/m dari 0,81 mN/m pada pendekatan empiris, dan menurunkan saturasi minyak residual rata rata dari 0,105 di kasus pertamaa menjadi 0,047 di kasus kedua. Namun, pengaruh shear thinning menurunkan viskositas air rata-rata dari 0.6596 cP menjadi 0,4185 cP sehingga kontrol mobilitasnya lebih rendah dibandingkan pendekatan tabel. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kinerja Kasus ke 2 terutama dipengaruhi oleh tekanan dan laju injeksi, sedangkan dari sisi bahan injeksi dikontrol oleh salinitas efektif dan parameter tegangan antarmuka mikroemulsi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan informasi fisik tidak selalu menghasilkan perbedaan RF yang besar, tetapi memberikan pemahaman mekanistik yang lebih baik terhadap mobilisasi minyak, propagasi chemical slug, injectivity, dan respons reologi polimer. Pendekatan empiris tetap memadai untuk tahap screening dan evaluasi awal, sedangkan pendekatan informasi fisik lebih sesuai untuk desain pilot dan implementasi lanjutan. Pada mature deltaic sandstone reservoir dengan RF dan water cut yang telah tinggi, keberhasilan injeksi SP lebih ditentukan oleh pemilihan area target, pengendalian laju dan tekanan injeksi, serta kesesuaian formulasi terhadap salinitas daripada sekadar peningkatan konsentrasi bahan kimia.
DAMPAK PERATURAN PERUSAHAAN DAN PEMERINTAH TERHADAP HARGA LAYANAN PERUSAHAAN JASA DI INDUSTRI PANAS BUMI
Penelitian ini menguji pengaruh Tekanan Institusional, Biaya Transaksi, serta Kebijakan Internal dan Pengendalian Risiko terhadap Penetapan Harga Berbasis Informasi Nilai, serta hubungannya dengan Kinerja Perusahaan pada industri jasa panas bumi di Indonesia. Data survei dari 33 responden dianalisis menggunakan pendekatan regresi struktural berbasis skor komposit yang parsimonious. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biaya Transaksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Penetapan Harga Berbasis Informasi Nilai, sedangkan Tekanan Institusional serta Kebijakan Internal dan Pengendalian Risiko tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan. Penetapan Harga Berbasis Informasi Nilai memiliki hubungan positif dengan Kinerja Perusahaan yang signifikan secara marginal pada tingkat 10 persen, tetapi tidak signifikan pada tingkat 5 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa kompleksitas transaksi meningkatkan kebutuhan akan artikulasi nilai dan justifikasi harga yang lebih jelas. Tekanan Institusional serta Kebijakan Internal dan Pengendalian Risiko ditafsirkan sebagai kondisi kontekstual, bukan moderator yang telah dikonfirmasi secara statistik
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PANDUAN RITME NAPAS DAN ANTARMUKA LAYAR PADA PERANGKAT WEARABLE BERBASIS LOCOMOTOR-RESPIRATORY COUPLING (LRC)
Pelari amatir kerap mengalami kesulitan menyinkronkan ritme pernapasan dengan kadens langkah kaki secara mandiri; survei terhadap 66 pelari menunjukkan bahwa 74,2% di antaranya gagal mempertahankan pola Locomotor-Respiratory Coupling (LRC) tanpa bantuan eksternal, akibat tingginya beban kognitif untuk menghitung langkah dan mengatur napas secara bersamaan. Sistem panduan yang telah ada umumnya bersifat reaktif dan bergantung pada smartphone, sehingga instruksi yang diberikan terlambat akibat latensi transmisi Bluetooth A2DP yang berkisar 150–170 ms. Tugas Akhir ini merancang dan mengimplementasikan tiga subsistem pada purwarupa wearable berbasis ESP32: Subsistem Panduan Ritme yang membangkitkan sinyal audio secara pre-emptive menggunakan mesin penjadwalan prediktif (filter Simple Moving Average N=5 dan kompensasi latensi -170 ms), Subsistem Antarmuka Tampilan berbasis layar OLED yang dikendalikan Finite State Machine delapan-tahapan, serta arsitektur inti mikrokontroler dengan skema single-boot dualradio yang memisahkan operasi Bluetooth Classic (A2DP) dan Bluetooth Low Energy (BLE) melalui NVS untuk mengatasi konflik alokasi memori heap. Pengujian osiloskop pada kecepatan lari 120–200 SPM menunjukkan deviasi waktu pemicuan konstan pada -174,25 ms (pola 3:2) dan -174,80 ms (pola 2:1), masih di dalam toleransi ±30 ms. Uji ketahanan penyimpanan biner berkerapatan 6-byte pada LittleFS berhasil menampung 200.000 kejadian langkah (10 sesi) hanya dalam 1,14 MB dari kapasitas 1,96 MB tanpa kehilangan data. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh spesifikasi teknis sistem tercapai, membuktikan kelayakan arsitektur perangkat tertanam non-blocking berbasis dual-core FreeRTOS untuk aplikasi panduan pernapasan lari secara real-time.
OPTIMALISASI MODEL MACHINE LEARNING MELALUI ANALISIS FITUR PENTING UNTUK PREDIKSI RISIKO STUNTING BALITA BERBASIS DATA KOHORT LONGITUDINAL MAL-ED (2009-2017)
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada balita yang ditandai oleh nilai Height-for-Age Z-score (HAZ) di bawah ?2 SD menurut WHO, dengan prevalensi di Indonesia mencapai 21,5% pada 2023. Stunting bersifat multifaktorial, namun sebagian besar penelitian prediksi masih berbasis data crosssectional yang belum menangkap dinamika growth faltering sejak periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sehingga membatasi deteksi dini risiko. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fitur prediktor utama, mengoptimalkan model Machine Learning terbaik, serta mengimplementasikannya ke dalam sistem berbasis web, menggunakan data kohort longitudinal MAL-ED 0–60 bulan dari delapan negara berkembang. Fitur temporal (mean, std, slope, nilai terakhir) dibentuk dari pengukuran berulang usia 0–24 bulan di delapan domain (antropometri, ASI, imunisasi, diare, ISPA, diet, mikrobiologi, biomarker inflamasi usus), menghasilkan 735 fitur. Beberapa model (Logistic Regression, Random Forest, Gradient Boosting, XGBoost, SVM, k-NN, MLP) dioptimalkan melalui SMOTE, hyperparameter tuning (RandomizedSearchCV, F2-score), crossvalidation, dan optimasi threshold; Random Forest dipilih karena recall tertinggi. Sebagai pelengkap, Random Survival Forest dikembangkan untuk estimasi waktu terjadinya (time-to-event) stunting, dibandingkan dengan Cox Proportional Hazards dan DeepSurv. Pada Skenario 1 (48 fitur, threshold 0,40) yang merepresentasikan ketersediaan data layanan kesehatan primer seperti Posyandu, Random Forest menghasilkan Accuracy 83,3%, Recall 88,7%, Precision 73,3%, F2-score 85,1%, dan ROC-AUC 92,1% (test set 186 anak), sementara Random Survival Forest menghasilkan C-index 0,8444. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi eksplisit model klasifikasi dan survival berbasis data longitudinal, dilengkapi interpretasi SHAP pada level individu dan kategori fitur. Seluruh model diimplementasikan pada sistem prototipe berbasis web StuntGuard (FastAPI, React, PostgreSQL), yang menyajikan status prediksi, estimasi usia onset, kurva survival, dan interpretasi faktor risiko, sebagai landasan awal decision support tool untuk skrining dini stunting berbasis data longitudinal.
ANALISIS TEKNO-EKONOMI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DENGAN BATERAI YANG TERINTEGRASI DENGAN ISOLATED GRID NIAS
Nias dengan geografis berupa pulau terpisah merupakan wilayah Provinsi Sumatera Utara yang tidak terhubung dengan jaringan transmisi utama Sumatera sehingga memiliki sistem kelistrikan yang terpisah (isolated grid). Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi hibridisasi PLTS dan baterai pada sistem isolated grid Nias untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil terutama PLTD yang masih menjadi bagian konfigurasi utama. Pemodelan PLTS Nias 26 MWac mampu menghasilkan energi tahunan sebesar 36,71GWh/tahun dengan performance ratio sebesar 0,764. Simulasi keekonomian multi-skenario untuk konfigurasi pembangkitan isolated grid Nias menghasilkan skenario S2 sebagai skenario terbaik dengan konfigurasi PLTS Nias 26 MWac dan baterai 13 MWh terintegrasi dengan isolated grid Nias. Skenario S2 memberikan capaian net present cost (NPC) sebesar Rp10,249 triliun dengan LCOE sebesar Rp2.445/kWh. Hibridisasi PLTS dan baterai membantu penurunan kapasitas puncak pembangkit berbahan bakar fosil sehingga tingkat konsumsi bahan bakar menurun dan tambahan fleksibilitas operasi sehingga mampu menghilangkan capacity shortage dan menurunkan excess energy dari PLTS yang tidak mampu diserap beban. Hal ini mengakibatkan penurunan tingkat emisi CO2 dari 265.921 ton/tahun menjadi 232.173 ton/tahun. Simulasi stabilitas aliran daya dan RMS menunjukkan bahwa sistem kelistrikan isolated grid Nias mampu mempertahankan kestabilan operasi pada kedua skenario gangguan. Pada skenario instantaneous power out, tegangan turun hingga 68,2 kV dan frekuensi mencapai 49,05 Hz, kemudian kembali stabil pada 69,13 kV dan 49,42 Hz. Sementara itu, pada skenario ramp-down power out, perubahan tegangan berada pada rentang 69,57–70,05 kV dan frekuensi pada rentang 49,43–50,07 Hz, menunjukkan bahwa penetrasi PLTS 26 MWac masih dapat diakomodasi dengan baik oleh sistem dalam beradaptasi terhadap intermitensi PLTS.
This research assesses the technical viability of Sulfonated di-Alkyl Ester (SAE-2), a polymeric surfactant, for chemical enhanced oil recovery (CEOR) in ultra-low salinity brine (300 ppm NaCl). Base formulation SAE-2 at 1.0 %wt reduced the interfacial tension (IFT) of high-wax crude oil from 3.386 mN/m to 0.913 mN/m. Systematic screening of alkaline agents, divalent cations, co-solvents, and co-surfactants was conducted to optimize performance. Sodium carbonate (Na?CO?) promoted in-situ soap generation and significantly lowered IFT but increased ionic sensitivity. While calcium ions (Ca²?) caused severe destabilization, magnesium ions (Mg²?) remained tolerable and contributed to IFT reduction. To overcome the stability-activity trade-off, 1.5%wt ethylene glycol butyl ether (EGBE) was incorporated as a cosolvent, maintaining clear aqueous stability for seven days at 60°C. The optimal formulation (19J) comprising 1.0 %wt SAE-2, 2.5 %wt Na?CO?, 100 ppm MgCl?, and 1.5%wt EGBE, achieved IFT of 0.04846 mN/m and formed a stable Winsor Type II microemulsion. Spontaneous imbibition tests on Berea cores yielded exceptional oil recovery of 95.61%, compared to only 50.55% for formulations containing nonylphenol ethoxylate (NPE). These findings demonstrate that Formulation 19J is highly technically feasible for reservoir-scale surfactant flooding in ultra-low salinity environments.
EVALUASI SKALA PORI GUM XANTHAN MENGGUNAKAN MODEL MIKROFLUIDIK UNTUK FRAKTUR HIDRAULIK: PERBANDINGAN DENGAN KARBOKSIMETIL HIDROKSIPROPIL GUAR
Polymer selection in fluid hydraulic fracturing design plays an important role in controlling mobility and minimizing formation damage, especially at high temperatures. This study presents pore-scale experimental observations of Xanthan Gum as a candidate non-Newtonian fracturing fluid with Carboxymethyl Hydroxypropyl Guar (CMHPG) used as a reference polymer. The evaluation focused on viscosity changes due to temperature changes and potential permeability disturbances using a microfluidic porous model. This study was initiated by preparing Xanthan Gum and CMHPG solutions in demineralized water, followed by rheological equalization of both solutions using a rheometer. Microfluidic experiments were carried out at temperatures of 45 oC and 70 oC with a back pressure of 10 bars to represent reservoir conditions with medium and high temperatures and to keep the polymer from evaporating easily. Initial permeability calculations and pressure changes when the polymer was injected were observed periodically to reveal the behavior of the polymer in the pore network. Then a thermal soak was carried out for 2 hours to assess the effect of temperature exposure on polymer stability and changes in flow characteristics. Mobility control and potential formation damage are characterized by calculating the resistance factor (RF) and residual resistance factor (RRF). The results of the study show that at high concentrations xanthan gum shows high RRF and RF values compared to CMHPG, reaching 10.89 and 18.95 with a decrease in permeability of up to 90.82%, while CMHPG shows relatively small RF and RRF values reaching 6.15 and 16.66 with a decrease in permeability of 83.74%. This study helps the performance of polymers that are very affected by temperature, where xanthan gum shows lower potential for formation damage at high temperatures, while CMHPG is more stable at medium temperatures.
INTERAKSI SINERGIS SISTEM ALKALI-SURFAKTAN-POLIMER DALAM KONDISI SALINITAS SANGAT RENDAH: OPTIMALISASI FORMULASI DAN MEKANISME PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK
Alkaline–Surfactant–Polymer (ASP) flooding represents a method of Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) that utilizes the synergistic interactions between alkali, surfactant, and polymer to improve oil recovery efficiency. This study evaluates the performance of ASP under ultra-low-salinity brine conditions (300 ppm) and elucidates the mechanisms that contribute to the improvement of oil recovery. Comprehensive chemical screening tests were performed, encompassing interfacial tension (IFT) measurements, aqueous stability tests (AST), phase behavior (PB) assessments, viscosity measurements, and imbibition tests on Berea sandstone cores. The optimal formulation of alkaline surfactants consisted of 2.5 %wt Na?CO? and 0.5 %wt LABS:AOS in a 1:1 ratio, resulting in an interfacial tension (IFT) of 0.28 mN/m. This formulation demonstrated remarkable aqueous stability and facilitated the formation of Winsor Type I microemulsions. Incorporation of polymer (HPAM) preserved system compatibility while elevating viscosity from 23.2 cP to 84.32 cP and decreasing the viscosity ratio from 0.974 to 0.268, thus improving sweep efficiency. Imbibition tests exhibited enhanced recovery factors in comparison to base brine injection. The enhanced oil recovery is attributed to synergistic effects, including the reduction of interfacial tension by the alkaline-surfactant system, improved sweep efficiency using polymer, and wettability alteration induced by ultra-low salinity. These conditions reduced surfactant adsorption and enhanced polymer performance, thereby facilitating the effective mobilization of residual oil.
STUDI LABORATORIUM TERHADAP KINERJA DAN SENSITIVITAS CAMPURAN SURFAKTAN ZWITTERIONIK-ANIONIK
Residual oil trapped by capillary forces remains difficult to mobilize through conventional waterflooding, necessitating the application of an Enhanced Oil Recovery method to significantly reduce the interfacial tension (IFT) between the oil and aqueous phases. This study evaluates the performance of a zwitterionicanionic surfactant mixture, consisting of Macat-AO14 (MA-AO14) as the zwitterionic surfactant and Aristonate-M (AR-M) as the anionic surfactant, with isopropyl alcohol (IPA) at a concentration of 0.1% as a co-solvent, using crude oil from Field X. The experimental evaluation consisted of three sequential stages, namely aqueous stability tests, phase behavior observations, and IFT measurements using a spinning drop tensiometer. These tests were conducted across a NaCl salinity range of 0.5% to 2.5% and total surfactant concentrations of 0.15 wt% and 0.3 wt%. The results demonstrated that the MA-AO14/AR-M formulations at 70/30 and 80/20 ratios exhibited the best aqueous stability. Notably, the 70/30 ratio successfully formed a Winsor Type III middle-phase microemulsion and achieved an ultralow minimum IFT of 8.65 × 10?³ mN/m at an optimum salinity of 1.75% NaCl. Conversely, the 80/20 ratio failed to reach the ultralow IFT order. Furthermore, increasing the total surfactant concentration to 0.3 wt% yielded no significant improvement in IFT reduction. These findings indicate that the MA-AO14/AR-M at a ratio of 70/30, with a surfactant concentration of 0.15 wt%, a salinity of 1.75% NaCl and an IPA concentration of 0.1%, represents the best performing zwitterionic-anionic surfactant formulation under the evaluated conditions.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM INDOOR POSITIONING BERBASIS TIME DIFFERENCE OF ARRIVAL DENGAN ULTRA-WIDEBAND: PERANGKAT KERAS DAN INTEGRASI TOP-LEVEL
Peneliti robotika di Institut Teknologi Bandung membutuhkan informasi posisi, orientasi, kecepatan, dan percepatan drone selama pengujian di dalam ruangan, namun teknologi yang tersedia berharga sangat mahal dan GPS tidak akurat di dalam ruangan. Tugas akhir ini merancang dan mengimplementasikan indoor positioning system berbasis Time Difference of Arrival (TDoA) dengan Ultra-wideband (UWB), dengan lingkup pengerjaan berupa perangkat keras dan integrasi top-level. Perangkat keras terdiri atas sub-sistem tag dan sub-sistem anchor. Secara fungsional, tag yang dipasang pada drone memancarkan sinyal blink UWB dan mengirim data IMU setiap 40 ms, sedangkan anchor (satu master clock dan empat slave) menjadi referensi posisi dan clock melalui sinyal sinkronisasi CCP setiap 30 ms. Tag tersusun atas mikrokontroler ESP32-S3, IMU BNO055, modul UWB DWM1000, regulator daya, dan battery management system; anchor menggunakan ESP32-WROOM-32 dan DWM1000. Antarmuka antar-blok memanfaatkan SPI, I2C, sinyal UWB, serta WiFi/UDP. Integrasi top-level direalisasikan sebagai pipeline ROS2 yang menggabungkan algoritma sinkronisasi clock, perhitungan posisi TDoA, dan pengolahan data IMU menjadi keluaran end-to-end. Sistem yang terpasang di drone berdimensi 5 cm × 4 cm dengan berat total 43 gram termasuk baterai 600 mAh, sehingga memenuhi seluruh spesifikasi. Keluaran sistem berupa estimasi posisi, kecepatan dan percepatan translasi, orientasi, serta kecepatan dan percepatan angular dalam format JSON. Pipeline ROS berjalan secara real-time dengan beban komputasi 14–23%, latensi ~19 ms, dan laju pembaruan posisi ~24,7 Hz. Total biaya produksi ~Rp4,3 juta, jauh di bawah anggaran pengguna sebesar Rp10 juta, sehingga permasalahan berhasil diselesaikan.
ESTIMASI KONEKTIVITAS ANTARSUMUR PADA RESERVOAR INJEKSI AIR MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET SILANG: PENGEMBANGAN DAN VALIDASI WAVEITB
Most of the world’s producing oil comes from mature fields where waterflooding is essential, yet identifying fluid pathways remains a challenge. Current surveillance methods face significant limitations. Full numerical reservoir simulation is labor-intensive and computationally expensive, while capacitanceresistance modeling often fails to account for dynamic, non-stationary field conditions. This study addresses these gaps by proposing a signal processing approach to evaluate dynamic interwell connectivity in waterflooded reservoirs. The study details the construction and validation of WaveITB, a desktop application built upon the cross-wavelet transform (CrWT) methodology. The study translates injection and production rate histories into a time-frequency domain using a complex Morlet wavelet. The methodology evaluates cross-wavelet coherence, quantifies phase lag to determine signal directionality, and strictly screens spurious coherence using Monte Carlo red-noise significance testing alongside cone of influence (COI) masking. The application was validated through three case studies. It successfully replicated a published benchmark, demonstrating multiscale capabilities. In a structural sensitivity test, the connectivity index for the well isolated by a sealing fault collapsed by approximately four-fifths when compared to the unhindered well in the same scenario, whereas the index remained robust across a non-sealing fault, matching simulated streamlines. When compared to a capacitance-resistance model (CRM), WaveITB identified identical flow barriers but yielded a low Spearman rank correlation of 0.316, confirming it distinctly measures dynamic signal communication rather than partitioning volumes under mass-balance constraints. The study concludes that the multiscale cross-wavelet approach is a robust, data-driven technique. WaveITB provides operators with a fast, non-stationary, and low-preparation analytical tool for continuous reservoir surveillance.