📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 57 dokumen

KETIDAKPASTIAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI ASIA TENGGARA (2018-2022): MENGUJI PEMBIAYAAN HIJAU SEBAGAI MODERATOR YANG BERGANTUNG PADA KRISIS

Penelitian ini menguji apakah pembiayaan hijau memoderasi hubungan antara ketidakpastian dan hasil pembangunan berkelanjutan di delapan negara Asia Tenggara selama periode 2018- 2022. Menggunakan analisis data panel dengan estimasi Fixed Effects, Random Effects, dan Panel-Corrected Standard Error pada 40 observasi negara-tahun, penelitian ini menguji apakah ketidakpastian merusak pembangunan berkelanjutan dan apakah pembiayaan Mitigasi Perubahan Iklim meredam dampak negatif tersebut. Temuan mengungkapkan heterogenitas temporal yang mendalam yang bertentangan dengan asumsi hubungan yang stabil. Analisis PCSE sampel penuh menunjukkan ketidakpastian memberikan efek tidak signifikan (? = - 0,015, p > 0,10), sementara pembiayaan Mitigasi Perubahan Iklim menunjukkan kontribusi signifikan (? = 0,023, p < 0,05). Efek moderasi terbukti sangat bergantung pada krisis dan bukan bersifat universal. Periode pra-COVID (2018-2019) tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan koefisien bertanda salah (? = -0,025, p > 0,10). Subsampel era COVID (2020-2022) mengungkapkan ketidakpastian secara signifikan merusak pembangunan berkelanjutan (? = -0,182, p < 0,05), pembiayaan iklim menunjukkan efek positif yang kuat (? = 0,106, p < 0,05), dan moderasi mendekati signifikansi (? = 0,047, p = 0,067), melemahkan dampak ketidakpastian sekitar 65 persen pada tingkat pembiayaan rata-rata. Pembiayaan Mitigasi Perubahan Iklim secara konsisten mengungguli Dana Lingkungan, menunjukkan koefisien yang stabil sementara ENV menunjukkan ketidakstabilan arah. Pertumbuhan PDB menunjukkan hubungan negatif dengan pembangunan berkelanjutan (? = -0,001, p < 0,05), mengonfirmasi trade-off pertumbuhan-keberlanjutan. Ketimpangan pembiayaan iklim yang ekstrem menjadi ciri kawasan, berkisar dari $1,25 juta per tahun (Malaysia) hingga $408 juta (Filipina). Temuan menantang kerangka moderasi seragam, mengungkapkan kapasitas penyangga pembiayaan hijau teraktivasi secara khusus selama episode ketidakpastian ekstrem ketika pembiayaan konvensional berkontraksi. Hasil penelitian menyarankan arsitektur pembiayaan iklim harus menekankan mekanisme countercyclical, memprioritaskan instrumen spesifik-iklim yang tertarget, dan mengatasi ketimpangan akses yang membatasi ketahanan krisis.

2025
👤 Penulis: Kezia Gohanna Pratiwi Silaban
🏷️ Ketidakpastian Ekonomi 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Pembiayaan Hijau

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGENALAN PELUANG KEWIRAUSAHAAN DI BIDANG DAUR ULANG FESYEN DI KALANGAN PENGUSAHA MUDA DI INDONESIA

Penelitian ini menganalisis pengaruh kepedulian lingkungan, kreativitas, dukungan sosial, dan keterlibatan komunitas terhadap pengenalan peluang kewirausahaan upcycling fashion di kalangan pemuda Indonesia. Menggunakan pendekatan kuantitatif, data dari 165 mahasiswa dan pengusaha muda dikumpul melalui kuesioner online dengan 15 item skala Likert. Analisis JASP mencakup statistik deskriptif, uji reliabilitas Cronbach (? = 0,61-0,78), dan regresi linear berganda (R2 = 0,49, p < 0,001). Kreativitas (? = 0,194) dan keterlibatan komunitas (? = 0,198) terbukti prediktor terkuat, sementara kepedulian lingkungan memerlukan dukungan eksternal untuk diterjemahkan menjadi kewirausahaan. Studi merekomendasikan penguatan ekosistem kreativitas dan jejaring untuk perkembangan upcycling di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Gagas Candrasa Al-ghifary
🏷️ Kewirausahaan 🏷️ Pengelolaan Sumber Daya Manusia 🏷️ Hidrologi Lingkungan

EVALUASI KEMAMPUAN FITOREMEDIASI CENTROSEMA PUBESCENS DAN RUMPUT GAJAH (PENNISETUM PURPUREUM) YANG DIPERKAYA OLEH BAKTERI TANAH DI TANAH TAILING TAMBANG EMAS

Dalam proses pemisahan emas, sisa sianida akan dibuang bersama dengan sisa kotoran sehingga menghasilkan limbah berbahaya yang dinamakan tailing. Proses remediasi sianida dapat dilakukan secara alami dengan vegetasi seperti cover crops, disebut sebagai fitoremediasi. Selama proses fitoremediasi, pertumbuhan vegetasi dapat terganggu karena lingkungan yang tidak optimal sehingga memerlukan intervensi untuk meningkatkan pertumbuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasi kemampuan dari cover crops yaitu Centrosema pubescens dan Pennisetum purpureum dalam menyerap sianida serta membandingkan efektivitas kedua tanaman dalam fitoremediasi, dengan bantuan bakteri tanah selaku intervensi biologis. Dilakukan pengujian Siklus Nutrisi, Biokimia, serta pengamatan karakteristik makroskopis dan mikroskopis untuk menentukan dan mengkarakterisasi isolat bakteri terpilih. Inokulasi isolat bakteri dilakukan pada media tanam yang sudah dicampur tailing untuk penanaman benih Centrosema pubescens dan Pennisetum purpureum yang dilakukan di Screenhouse Labtek IA, Kampus ITB Jatinangor. Sampel tanah tailing, akar, dan batang/daun dianalisis kadar sianida dengan menggunakan UV-Visible Spectrophotometer dan hasil dianalisis menggunakan Two-Way ANOVA (p-value < 0,05) dan Tukey’s Test untuk mengetahui derajat pengaruh. Penentuan efektivitas fitoremediasi menggunakan Translocation Factor (TF), Removal Efficiency (RE), dan Bioconcentration Factor (BCF) sebagai parameter remediator. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan isolat bakteri dan perbedaan jenis tanaman tidak berpengaruh nyata dalam penyerapan sianida. Hasil ANOVA menunjukan nilai sebesar 0,526 dan 0,126 untuk hubungan kadar sianida dengan jaringan akar dan kadar sianida dengan isolat, serta nilai 0,778 dan 0,488 untuk hubungan kadar sianida dengan jaringan batang/daun dan kadar sianida dengan isolat. Nilai TF dan BCF > 1 menunjukan bahwa C. pubescens berpotensi sebagai tanaman fitoekstraksi. Hasil TF > 1 dan BCF < 1 untuk P. purpureum menunjukan ada potensi kecil sebagai tanaman fitoekstraksi dan tidak ada potensi sebagai tanaman fitostabilisasi. Nilai RE menunjukan C. pubescens lebih efektif dalam menyerap sianida dibandingkan P. purpureum.

2025
👤 Penulis: Fellicita Rahma Maritza
🏷️ Fitoremediasi 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

STRATEGI TATA KELOLA KOLABORATIF PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK (STUDI KASUS PROGRAM PPSP DI KOTA TASIKMALAYA)

Pada Tahun 2023, cakupan pelayanan air limbah di Kota Tasikmalaya masih jauh dibawah target RPJMD. Hanya 4,7% penduduk yang memiliki akses aman, 27,8% memiliki akses layak, dan 34,1% masih melakukan BABS. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan ancaman kesehatan masyarakat. Pada periode yang sama, Pemerintah Kota Tasikmalaya menyelenggarakan program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), yang melibatkan NGO SNV, sektor swasta, lembaga pendidikan, media dan masyarakat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi praktik kolaborasi yang terjadi sehingga dapat merumuskan strategi tata kelola kolaboratif untuk peningkatan layanan akses air limbah domestik di Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif studi kasus dengan beberapa teknik analisis, diantaranya analisis irisan peran stakeholder, analisis jejaring sosial untuk hubungan stakeholder, dan evaluasi praktik kolaborasi dengan kerangka collaborative governance. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 20 informan dari berbagai tingkatan stakeholder yang terlibat. Hasil temuan menunjukan ketidakjelasan distribusi peran, rendahnya hubungan antar stakeholder, dan kriteria collaborative governance yang belum terpenuhi dalam desain kelembagaan serta pemimpin yang fasilitatif saling berkaitan sebagai hambatan dalam kolaborasi program PPSP. Usulan strategi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan efektifitas kolaborasi program PPSP melalui: Akselerasi capaian akses air limbah domestik melalui penguatan program berbasis partisipasi masyarakat, formalisasi peran dan mekanisme kolaborasi dalam Peraturan Walikota serta pembentukan kelompok kerja khusus di bidang air limbah domestik. Strategi ini dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah lainnya dalam merancang model tata kelola air limbah domestik yang kolaboratif dan berkelanjutan untuk mendukung kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

2025
👤 Penulis: Salma ST Zakiah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kolaborasi Publik-Non-Publik 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PERANCANGAN APARTEMEN RENDAH KONSUMSI ENERGI

Sektor bangunan merupakan komponen yang menyumbang konsumsi energi cukup besar, yaitu sebesar 31% (22-57% di tingkat regional) dari nilai konsumsi energi secara global. Konsumsi energi bangunan terus meningkat karena beberapa faktor, yaitu urbanisasi, perubahan iklim, dan lain-lain. Berdasarkan De Cian et al., 2025, rumah tinggal yang menggunakan AC memiliki rata-rata konsumsi energi 36% lebih tinggi. Beban pendinginan bulanan di daerah perkotaan yang padat dapat mencapai sekitar 120% lebih tinggi. Hunian berkontribusi dalam pelepasan emisi karbon untuk fungsi-fungsi pendinginan seperti AC dan lemari es. Berdasarkan C. D. Putra et al., 2021, UHI yang terjadi di Jakarta pada tahun pada tahun 2018 didominasi dengan suhu ? 34,10 C. Tingginya konsumsi energi juga berdampak terhadap kenaikan suhu global. Oleh karena itu, diperlukan strategi desain yang mampu mengurangi konsumsi energi tersebut, khususnya beban pendinginan yang cukup besar untuk hunian vertikal. Tesis ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan strategi desain pasif untuk apartemen tipe serviced apartment. Beberapa konsep yang diterapkan dalam perancangan apartemen ini adalah penerapan passive cooling, desain fasad untuk mengurangi pemanasan pada bangunan, dan pengaturan massa serta layout ruang untuk meningkatkan pendinginan melalui penghawaan alami. Strategi desain yang diterapkan dapat menurunkan Energy Use Intensity (EUI) tahunan rata-rata sebesar 41.44 kWh/m2, dari rata-rata konsumsi energi sebesar 263.946 kWh/m2 menjadi 222.501 kWh/m2.

2025
👤 Penulis: Nadya Tiara Artanti
🏷️ Desain Pasif 🏷️ Bangunan Vertikal 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PERANCANGAN MODEL PENENTUAN LOKASI, INVENTORI, DAN RUTE PADA SISTEM DISTRIBUSI GAS ELPIJI UNTUK AGEN DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK EKONOMI, LINGKUNGAN, DAN SOSIAL

Distribusi tabung gas elpiji sebagai bahan bakar memasak memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang memiliki karakteristik geografis dan kepadatan penduduk yang beragam seperti Kabupaten Subang. Dalam praktiknya, proses distribusi tabung elpiji tidak hanya mencakup pengiriman tabung terisi, tetapi juga pengembalian tabung kosong dari pangkalan ke agen sebagai bagian dari sistem logistik tertutup. Tantangan utama dalam sistem ini adalah bagaimana merancang keputusan lokasi agen, pengelolaan inventori, dan penjadwalan rute pengiriman secara simultan dalam suatu kerangka terpadu yang memperhatikan keterbatasan sumber daya dan keberlanjutan operasional. Permasalahan ini dikenal sebagai Location Inventory Routing Problem (LIRP), yang dalam penelitian ini diterapkan pada studi kasus PT X sebagai Agen distribusi di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Penelitian ini berkontribusi dalam penerapan model LIRP multi-objektif secara komprehensif pada studi kasus nyata distribusi gas elpiji sebuah Agen di Kabupaten Subang, dengan mempertimbangkan karakteristik sistem logistik pengembalian tabung kosong. Penelitian ini juga berkontribusi dalam integrasi tiga aspek pada fungsi objektif, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial ke dalam satu kerangka optimisasi tunggal. Fungsi objektif ekonomi yaitu minimasi total biaya yang dikeluarkan oleh PT X dalam satu horizon perencanaan meliputi biaya pembukaan Agen, biaya perutean, biaya inventori, biaya kekurangan stok, dan biaya pelanggaran jendela waktu. Fungsi objektif lingkungan yaitu minimasi emisi karbon kendaraan selama proses distribusi yang meliputi jarak tempuh dan laju emisi rata-rata.. Fungsi objektif sosial bertujuan meminimalkan dampak negatif pada internal dan eksternal perusahaan, yang diukur melalui Indeks Dampak Sosial (IDS) yang mengintegrasikan dua komponen yaitu stres fisik pengemudi berdasarkan energi aktivitas bongkar muat dan kualitas layanan kepada masyarakat berdasarkan akumulasi keterlambatan pengiriman. Penelitian ini secara metodologis memberikan kontribusi dengan menerapkan dan membandingkan secara sistematis tiga metode solusi multi-objektif yang berbeda, yaitu Weighted Sum, Epsilon-Constraint, dan Lexicographic ii Model matematis yang dikembangkan memformulasikan keputusan pembukaan lokasi Agen, pengelolaan persediaan pada Agen, serta perutean distribusi tabung gas elpiji yang melibatkan SPBE, Agen, dan Pangkalan dalam suatu kerangka terintegrasi. Formulasi model matematis yang dikembangkan sebagai Mixed- Integer Linear Programming (MILP) dan memiliki batasan seperti kapasitas kendaraan, kapasitas Agen, dan kapasitas energi pengemudi. Data primer dan sekunder dikumpulkan dari PT X yang mencakup jumlah pasokan dan permintaan harian, lokasi SPBE, Agen, dan Pangkalan untuk menentukan jarak antar entitas, dan parameter-parameter lainnya. Model ini dilakukan uji coba dengan menggunakan bahasa pemrograman Python dan perangkan lunak optimisasi Gurobi. Uji coba dilakukan terhadap dua model, yaitu model saat ini dengan mengoperasikan Agen yang sudah berdiri dan model usulan dengan terdapat opsi membuka Agen yang menjadi kandidat. Berdasarkan hasil uji coba, seluruh metode menghasilkan bahwa model usulan menunjukkan efisiensi signifikan dalam seluruh aspek objektif. Dari sisi ekonomi, total biaya distribusi dapat ditekan hingga 8,59% dibandingkan model saat ini, terutama melalui pengurangan biaya rute dan pengelolaan inventori yang lebih adaptif sehingga tidak terjadi pelanggaran jendela waktu. Dari aspek lingkungan, emisi karbon kendaraan berkurang sebesar 27,49% kg CO2 akibat perencanaan rute yang lebih pendek dan efisien. Sementara dari aspek sosial, Indeks Dampak Sosial menunjukkan perbaikan hingga 17,48%, yang didorong oleh eliminasi total keterlambatan pengiriman dan penurunan stres fisik pengemudi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan model logistik yang bersifat multi-objektif. Secara praktis, model yang diusulkan dapat diimplementasikan oleh agen distribusi untuk mendukung pengambilan keputusan strategis terkait lokasi fasilitas, pengelolaan persediaan, dan perencanaan rute, dengan mempertimbangkan efisiensi biaya sekaligus dampak sosial dan lingkungan. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya khazanah ilmu di bidang riset operasi, logistik berkelanjutan, dan optimisasi multiobjektif. Penelitian lanjutan dapat diarahkan pada pengembangan algoritma heuristik atau metaheuristik untuk menangani skala data yang lebih besar, atau integrasi ketidakpastian permintaan dan ketersediaan kendaraan ke dalam model saat ini.

2025
👤 Penulis: Zulfian Muhammad Furqon
🏷️ Logistik Berkelanjutan 🏷️ Optimisasi Multi-Objektif 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PERENCANAAN DRAINASE PADA STASIUN MRT JAKARTA KOTA DAN GLODOK DENGAN KONSEP SUSTAINABLE DRAINAGE SYSTEM (SUDS)

Pembangunan Stasiun MRT Kota dan Glodok di kawasan urban padat menuntut sistem pengelolaan air hujan yang modern dan berkelanjutan. Selain itu, fokus pembangunannya yang berada di bawah tanah mengharuskan kawasan terbebas dari resiko banjir. Konsep Sustainable Drainage Systems (SuDS) yang meniru siklus hidrologi alami menjadi solusi yang dapat diterapkan di kawasan tersebut. Metodologi dimulai dengan analisis kapasitas drainase eksisting dan debit limpasan menggunakan pemodelan EPA SWMM. Analisis ini menjadi dasar perancangan sistem SuDS yang mengombinasikan green roof, rainwater harvesting, dan rain garden. Efektivitas skenario SuDS ini kemudian dievaluasi kembali melalui pemodelan SWMM. Hasil penelitain menunjukkan skenario SuDS mampu menurunkan debit puncak limpasan secara efektif. Manfaat tambahan juga diperoleh dari rainwater harvesting untuk konservasi air bersih, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Secara keseluruhan, integrasi SuDS terbukti menjadi pendekatan efektif untuk pengelolaan air hujan di lingkungan urban yang padat dan selaras dengan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan.

2025
👤 Penulis: Resanti Audrienne
🏷️ Sustainable Drainage Systems (Suds) 🏷️ Manajemen Air Hujan Urban 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PEMODELAN DISPERSI POLUTAN DI UDARA PADA PT. XYZ YANG BERGERAK DI INDUSTRI KOKAS (COKING COAL) MENGGUNAKAN AERMOD

Industri kokas mengeluarkan emisi berbahaya yang signifikan, sehingga perlu analisis dampak lingkungan yang akurat dan dapat dilakukan dengan pemodelan. Penelitian ini memodelkan dispersi polutan TSP, SO?, dan NO? dari industri kokas PT. XYZ menggunakan AERMOD. Hasil prediksi konsentrasi kemudian dibandingkan dengan baku mutu udara ambien (PP No. 22 Tahun 2021 Lampiran VII) serta data pengukuran di wilayah kajian. Hasil pemodelan menunjukkan sebaran polutan bergerak dominan dari arah barat daya menuju timur laut, yang konsisten dengan analisis wind rose. Prediksi konsentrasi maksimum terjadi di dekat sumber emisi, dengan potensi pelampauan baku mutu untuk SO? (4.838 µg/m³ 1-jam) dan NO? (2.258 µg/m³ 1-jam). Sebaliknya, konsentrasi maksimum TSP (184 µg/m³ 24-jam) masih berada di bawah baku mutu. Karena hasil awal dinilai overestimate, pemodelan ulang dengan persentil 98 sesuai anjuran US EPA menunjukkan hasil yang lebih representatif, walaupun masih tidak dapat dilakukan validasi model karena PT. XYZ terletak di kawasan industri yang memiliki banyak sumber emisi lainnya. Titik dampak tertinggi secara konsisten berada di dekat sumber, dengan reseptor K22 menjadi area paling terdampak.

2025
👤 Penulis: Jeremia Christofer P.S.
🏷️ Kokas 🏷️ Model Aermod 🏷️ Hidrologi Lingkungan

STUDI PENGELOLAAN SANITASI YANG AMAN PADA SUB-SEKTOR AIR LIMBAH DOMESTIK DI DAERAH RURAL INDONESIA MELALUI PEMBUATAN SHIT FLOW DIAGRAM (SFD) (STUDI KASUS: KABUPATEN KEDIRI, BARITO UTARA, MANGGARAI BARAT, LAMPUNG SELATAN, GROBOGAN, DAN MANGGARAI)

Sanitasi aman merupakan kebutuhan pokok untuk lingkungan sehat, namun Indonesia masih menghadapi tantangan dengan hanya 10,16% penduduk yang memiliki akses sanitasi aman per 2023. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) keenam menargetkan layanan sanitasi berkelanjutan bagi semua pada 2030. Pemerintah Indonesia berkomitmen mencapai 90% akses layak, termasuk 15% akses aman pada tahun 2024, dan 100% akses layak dengan 30% akses aman serta 0% Buang Air Besar Sembarangan (BABS) pada tahun 2030. Shit Flow Diagram (SFD) digunakan sebagai alat visual untuk mengidentifikasi aliran dan nasib kotoran, serta titik kegagalan sistem. Penelitian ini membandingkan SFD Lite (berdasarkan data sekunder) dan Intermediate SFD (data sekunder dan primer dari hasil wawancara pemangku kepentingan). Hasil menunjukkan persentase pengelolaan sanitasi aman yang bervariasi: Kab. Kediri (0%), Kab. Barito Utara (28%), Kab. Manggarai Barat (78%), Kab. Lampung Selatan (51%), Kab. Grobogan (47%), dan Kab. Manggarai (88%). Titik kegagalan utama meliputi lumpur tinja yang tidak tertampung atau tidak dikosongkan, pembuangan langsung ke lingkungan, serta fasilitas pengolahan yang tidak berfungsi optimal. Studi ini menemukan bahwa kepadatan penduduk yang tinggi cenderung memiliki akses BABS yang lebih rendah namun tantangan pada pengelolaan sanitasi setempat (onsite) dan sanitasi terpusat (offsite) yang belum aman, sedangkan kapasitas fiskal tinggi tidak selalu menjamin sanitasi aman.

2025
👤 Penulis: Syifa Nur Fitriani
🏷️ Sanitasi Amaman 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air Limbah Domestik 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PERANCANGAN PUSAT MODE BERKELANJUTAN DENGAN PENDEKATAN MATERIAL DAN KONSTRUKSI YANG RAMAH LINGKUNGAN

Industri fast fashion berkontribusi signifikan terhadap permasalahan lingkungan global, termasuk peningkatan limbah tekstil, polusi air, dan emisi karbon. Di Indonesia, fenomena ini juga memicu perubahan perilaku konsumsi yang berdampak pada meningkatnya limbah tekstil dan pencemaran lingkungan, khususnya di kawasan industri tekstil seperti Bandung. Penelitian ini bertujuan merancang Fashion Hub yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat edukasi dan kreativitas fesyen berkelanjutan, tetapi juga menerapkan prinsip keberlanjutan dalam arsitektur melalui pendekatan material dan konstruksi ramah lingkungan. Metode perancangan mengacu pada teori Life Cycle Assessment (LCA), Cradle-to-Cradle, passive design, dan sustainable construction principles, yang diimplementasikan melalui pemanfaatan fasad baja bekas sebagai material daur ulang berketahanan tinggi dan teknologi prefabrication untuk efisiensi konstruksi. Hasil perancangan menunjukkan bahwa kombinasi strategi desain pasif, material daur ulang, dan konstruksi modular mampu mengurangi jejak karbon bangunan, meminimalkan limbah, serta memberikan identitas visual yang mendukung citra inovasi dalam industri fesyen berkelanjutan. Kesimpulannya, Fashion Hub ini menjadi representasi penerapan prinsip ekonomi sirkular tidak hanya pada produk fesyen, tetapi juga pada infrastruktur pendukungnya.

2025
👤 Penulis: Muhammad Arsyad Ibrahim
🏷️ Desain Berkelanjutan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Tekstil 🏷️ Hidrologi Lingkungan

STUDI PERSEPSI TERMAL DALAM KAITANNYA DENGAN KENYAMANAN DALAM RUANG KELAS DI SMP SANTA ANGELA BANDUNG

Penelitian ini mengkaji persepsi dan kenyamanan termal siswa di SMP Santa Angela Bandung, sebuah bangunan berarsitektur kolonial yang sepenuhnya mengandalkan ventilasi alami pasif. Di tengah tantangan perubahan iklim dan fenomena Urban Heat Island (UHI) di Bandung, penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas desain pasif historis dengan menganalisis hubungan antara kondisi termal fisik ruang kelas dan persepsi subjektif siswa. Kebaruan studi ini terletak pada fokusnya terhadap bangunan pendidikan bersejarah, mengisi kesenjangan riset yang umumnya dilakukan pada bangunan modern. Dengan menggunakan pendekatan metode gabungan antara metode kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini membandingkan dua ruang kelas (9A dan 9B) yang dipilih karena memiliki kondisi termal paling kontras. Data termal objektif (kecepatan angin, indeks WBGT, kelembapan relatif, suhu udara, paparan radiasi, dan titik embun) diukur secara simultan dengan data persepsi subjektif siswa yang dikumpulkan melalui kuesioner berbasis standar ASHRAE 55 serta skala Likert yang telah teruji reabilitasnya dengan nilai Cronbach's Alpha (? ? 0.7). Analisis data dilakukan menggunakan statistik non-parametrik untuk menguji perbedaan dan hubungan antar variabel. Hasil utama menunjukkan sebuah paradoks yang signifikan: ruang kelas 9B, yang secara objektif terbukti lebih sejuk dengan sirkulasi udara lebih baik, justru dipersepsikan oleh siswa lebih hangat dan kurang nyaman dibandingkan kelas 9A yang secara fisik lebih panas. Analisis mendalam mengungkapkan bahwa fenomena ini disebabkan oleh faktor non-termal yang dominan, yaitu: (1) kepadatan spasial yang sangat tinggi di kelas 9B yang menciptakan stres psikologis, dan (2) pengaruh adaptasi psikologis (thermal alliesthesia dan habituation). Temuan ini sejalan dengan kerangka Model Kenyamanan Adaptif yang menjelaskan bahwa tidak terdapat korelasi langsung antara data fisik dan persepsi subjektif karena kuatnya pengaruh adaptasi perilaku serta psikologis pengguna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada lingkungan belajar berventilasi alami, persepsi kenyamanan merupakan fenomena multifaktorial, seperti faktor spasial, arsitektural, dan psikologis dapat lebih berpengaruh dibandingkan parameter termal fisik semata. Temuan ini memberikan kontribusi penting dengan menyajikan bukti empiris mengenai batas efektivitas desain pasif pada bangunan bersejarah sekaligus menguatkan relevansi Model Kenyamanan Adaptif dalam konteks iklim tropis yang berubah.

2025
👤 Penulis: Erica Bridgette
🏷️ Kenyamanan Ruang Belajar 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Model Kenyamanan Adaptif

EKONOMI SIRKULAR KEPULAUAN: ANALISIS STUDI KASUS SISTEM GUNA-ULANG ‘TOKO CURA’ DI KEPULAUAN SERIBU

Kepulauan Seribu menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah yang berasal dari rumah tangga, laut, dan aktivitas pariwisata, diperparah dengan keterbatasan pembangunan tempat pembuangan akhir karena statusnya sebagai kawasan konservasi. Sebagai tanggapan, Divers Clean Action (DCA) memperkenalkan sistem guna ulang Toko Cura untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Namun, belum ada evaluasi formal terkait kinerja dan kelayakan sistem ini setelah masa pilot DCA berakhir. Penelitian ini mengkaji penerapan prinsip ekonomi sirkular melalui sistem guna ulang di Kepulauan Seribu, dengan fokus pada analisis rantai nilai, keterlibatan pemangku kepentingan, dan penilaian keberlanjutan. Pendekatan metode campuran—menggabungkan wawancara, observasi lapangan, analisis biaya-manfaat, dan metrik lingkungan—digunakan untuk mengumpulkan data dari produsen, toko lokal, dan kelompok masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan respon awal yang positif dari masyarakat, terutama melalui upaya edukasi yang dilakukan oleh PKK di Pulau Pramuka. Secara lingkungan, Toko Cura berhasil mencegah 8.930 plastik sachet menjadi sampah selama satu tahun. Namun secara ekonomi, sistem ini mengalami kerugian sebesar Rp25 juta pada tahun pertama, dengan biaya transportasi dan barang sebagai penyumbang utama. Meskipun menunjukkan potensi, sistem ini menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya minat konsumen, logistik yang belum terstruktur, dan belum adanya mekanisme pendanaan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi publik, optimalisasi inventori dengan metode EOQ dan ROP, penguatan logistik balik, serta transformasi model bisnis dari konsinyasi ke pembelian langsung. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi transportasi laut rendah emisi, perubahan perilaku konsumen, serta mekanisme kebijakan seperti insentif dan regulasi untuk memperluas sistem guna ulang secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Ellana Givena Kerrysa
🏷️ Ekonomi Sirkular 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Laut 🏷️ Hidrologi Lingkungan

ANALISIS PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI PADA RUSUN ASN PUPR PASAR JUMAT SEBAGAI HUNIAN BERBASIS TOD

Pembangunan Rumah Susun Perkotaan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah dan ASN merupakan Proyek Prioritas Strategis Kementrian PUPR di Tahun 2020- 2024. Salah satu rusun yang telah dibangun adalah Rusun ASN PUPR Pasar Jumat yang berlokasi di Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Rusun ASN PUPR Pasar Jumat merupakan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD), dengan tujuan utama untuk mendorong penggunaan transportasi publik. Meskipun demikian, kepemilikan kendaraan pribadi penghuni rusun masih tinggi, serta sebagian penghuni menggunakan transportasi online. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian terkait preferensi penghuni rusun dalam memilih moda transportasi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemilihan moda penghuni rusun dalam perjalanan menuju Kantor Kementerian PUPR di Jl. Pattimura, Jakarta Selatan. Data dikumpulkan melalui survei sosioekonomi dan stated preference, kemudian dianalisis dengan Model Multinomial Logit (MNL) menggunakan RStudio dan paket Apollo, dengan MRT sebagai moda acuan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa waktu tempuh, biaya perjalanan, dan kondisi cuaca berpengaruh signifikan terhadap pemilihan moda. Selain itu, jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap pemilihan moda mobil dan motor, sementara kepemilikan motor memengaruhi pemilihan moda motor. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa moda MRT sensitif terhadap perubahan moda lain, di mana kenaikan waktu tempuh dan biaya perjalanan moda lain akan meningkatkan probabilitas pemilihan MRT. Temuan ini menekankan pentingnya pengembangan layanan MRT yang efisien, integrasi antarmoda yang nyaman dan aman, serta strategi non-infrastruktur dalam mendorong peralihan ke transportasi publik.

2025
👤 Penulis: Hana Karimah
🏷️ Transportasi Publik 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN ‘RUMAH RETRET’ SEBAGAI COMMUNITY CENTER DENGAN INTEGRASI BUDAYA JAWA

Di era modern yang serba cepat dan penuh tekanan, kebutuhan akan ruang yang mendukung pemulihan holistik menjadi semakin mendesak. Retreat house, yang berakar dari tradisi ordo Katolik, hadir sebagai fasilitas yang dirancang untuk mendukung pemulihan kognitif, emosional, dan spiritual secara menyeluruh. Berdasarkan Attention Restoration Theory (ART), interaksi antara manusia dan lingkungan alami yang dirancang secara arsitektural memungkinkan terjadinya soft fascination, yaitu keterpukauan lembut yang membantu mengurangi kelelahan mental dan memulihkan kapasitas perhatian secara alami. Retreat house masa kini berkembang menjadi sarana pencarian identitas diri, peningkatan kesejahteraan mental, dan eskapisme. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan retreat house yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan prinsip ekologi dan spiritualitas, sebagai respon terhadap kebutuhan ruang restoratif yang inklusif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan kuesioner kualitatif. Proyek ini diidentifikasi sebagai fasilitas spiritual non-komersial dengan pendekatan desain yang menyatukan unsur alam, budaya, dan arsitektur. Konsep utama dirancang berdasarkan prinsip serene, terrene, dan tradisional, yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk massa bangunan, tata ruang, material alami, dan pengalaman ruang yang mendukung refleksi dan ketenangan batin.

2025
👤 Penulis: Gabriela Regina Caeli Nugroho
🏷️ Retreat House 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Budaya 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PEMODELAN REGRESI PENDUGAAN SIMPANAN KARBON DIATAS PERMUKAAN TANAH DI TAMAN BURU GUNUNG MASIGIT KAREUMBI MENGGUNAKAN FOREST CANOPY DENSITY (FCD)

Dari total penyerapan karbon global, sekitar 92,6% atau 8,8 Pg CO?/tahun diserap oleh hutan. Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK) seluas 12.552,73 ha merupakan kawasan yang berpotensi tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam bentuk biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan distribusi simpanan karbon diatas permukaan tanah di TBGMK dengan melibatkan Forest Canopy Density (FCD) sebagai variabel penduga. FCD merupakan indeks kerapatan tajuk yang dihasilkan dari citra satelit dengan menggabungkan empat komponen, yaitu Advanced Vegetation Index (AVI), Bare Soil Index (BI), Shadow Index (SI), dan Thermal Index (TI). Data vegetasi diambil di 54 plot berukuran 30 m × 30 m berdasarkan kelas FCD. Data yang diukur meliputi DBH, jenis pohon, dan tinggi total. Biomassa dihitung menggunakan persamaan alometrik biomassa diatas permukaan tanah, lalu dikonversi menjadi simpanan karbon. Analisis regresi linear berganda (MLR) dilakukan dengan variabel FCD, tutupan lahan, elevasi, kelerengan, dan jenis tanah. Analisis statistik mencakup analisis multikolinearitas, uji normalitas, backward stepwise regression, dan uji signifikansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi terbaik adalah model dengan dua variabel penduga, yaitu FCD dan tutupan lahan, dengan nilai R² sebesar 0,695. FCD berpengaruh signifikan dan menunjukkan hubungan positif terhadap simpanan karbon (koefisien 0,8854; p = 0,0096). Tutupan lahan berpengaruh signifikan, dengan hutan lahan kering sekunder dan hutan tanaman memiliki simpanan karbon lebih tinggi dibandingkan belukar, pertanian, dan padang rumput. Perkiraan total simpanan karbon di TBGMK mencapai 1.881.859,01 Mg C dengan rata-rata 150,05 Mg C/ha. Hasil ini menunjukkan bahwa FCD dan tutupan lahan merupakan variabel penting dalam pendugaan spasial simpanan karbon di kawasan konservasi.

2025
👤 Penulis: Umi Nuraisyah
🏷️ Karbon Diatas Permukaan Tanah 🏷️ Analisis Regresi Linier Berganda 🏷️ Hidrologi Lingkungan
Halaman 2 dari 4
💬