📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 29 dokumen

ERROR BUDGET AND PERFORMANCE ANALYSIS OF A PORTABLE HYDROGRAPHIC SURVEY ON A NON-STANDARD VEHICLE IN SHALLOW WATER ENVIRONMENT

Hydrographic surveys are inherently subject to errors. To ensure the highest quality of the resulting seafloor model, the International Hydrographic Organization (IHO) provides a set of standards known as the IHO S-44 Standards to support the design, data acquisition, and quality assessment of a hydrographic survey project. Problems arise when the hydrographic survey is conducted portably on a non-standard survey vehicle. Individual performance analysis of each survey instruments involved in a hydrographic survey must be assessed, as well as the installation and integration of the whole survey system. Therefore, this study aims to assess the total propagated uncertainty of a portable hydrographic survey on a non-standard vehicle to ensure adherence to the IHO S-44 Standards. To obtain the total propagated uncertainty of the portable survey system, we indicate nine parameters that affects the error budget both horizontally and vertically. Each parameter is assessed using static and dynamic measurements across various seafloor morphology in the vicinity of the Pramuka Island, DKI Jakarta. The study finds that GNSS positioning error using the Njord receiver after convergence reaches 0.2121 ± 0.0769 meters horizontally, while SBES depth measurements showed increasing variability beyond 30 meters with standard deviations up to 0.71 meters. MBES-derived DEM exhibits vertical error range between 0–4 meters, with standard deviation values in slope areas remaining under 0.5 - 1 meters, indicating stable performance in deeper morphology. The Side Scan Sonar (SSS) performance showed high-resolution capabilities at 0.1 m/pixel and a swath width of 101.7 meters, with consistent seafloor feature detection across opposing tracks. These results suggest that a careful estimation of the error budget will support a portably conducted hydrographic survey on a non-standard vehicle to adhere to the IHO S-44 Standards.

2025
👤 Penulis: Putri Nur Azizah
🏷️ Hydrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

ERROR BUDGET AND PERFORMANCE ANALYSIS OF A PORTABLE HYDROGRAPHIC SURVEY ON A NON-STANDARD VEHICLE IN SHALLOW WATER ENVIRONMENT

Hydrographic surveys are inherently subject to errors. To ensure the highest quality of the resulting seafloor model, the International Hydrographic Organization (IHO) provides a set of standards known as the IHO S-44 Standards to support the design, data acquisition, and quality assessment of a hydrographic survey project. Problems arise when the hydrographic survey is conducted portably on a non-standard survey vehicle. Individual performance analysis of each survey instruments involved in a hydrographic survey must be assessed, as well as the installation and integration of the whole survey system. Therefore, this study aims to assess the total propagated uncertainty of a portable hydrographic survey on a non-standard vehicle to ensure adherence to the IHO S-44 Standards. To obtain the total propagated uncertainty of the portable survey system, we indicate nine parameters that affects the error budget both horizontally and vertically. Each parameter is assessed using static and dynamic measurements across various seafloor morphology in the vicinity of the Pramuka Island, DKI Jakarta. The study finds that GNSS positioning error using the Njord receiver after convergence reaches 0.2121 ± 0.0769 meters horizontally, while SBES depth measurements showed increasing variability beyond 30 meters with standard deviations up to 0.71 meters. MBES-derived DEM exhibits vertical error range between 0–4 meters, with standard deviation values in slope areas remaining under 0.5 - 1 meters, indicating stable performance in deeper morphology. The Side Scan Sonar (SSS) performance showed high-resolution capabilities at 0.1 m/pixel and a swath width of 101.7 meters, with consistent seafloor feature detection across opposing tracks. These results suggest that a careful estimation of the error budget will support a portably conducted hydrographic survey on a non-standard vehicle to adhere to the IHO S-44 Standards.

2025
👤 Penulis: Dwi Hadi Nugraha
🏷️ Hydrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PRODUKSI LOGAM BESI DAN TERAK KAYA TITANIA DARI KONSENTRAT ILMENIT MENGGUNAKAN HYDROGEN PLASMA SMELTING REDUCTION (HPSR)

Titanium dioksida (TiO2) atau titania merupakan material yang banyak digunakan dalam berbagai industri, mulai dari pigmen cat hingga teknologi energi terbarukan. Titania dapat diproduksi melalui pengolahan konsentrat ilmenit yang memiliki kadar TiO2 sebesar 40–65%. Namun, proses pengolahan ilmenit untuk produksi terak titania masih bergantung pada metode reduksi berbasis batubara (kokas atau antrasit) menggunakan tanur listrik tipe AC atau DC, yang menghasilkan emisi CO2 sebesar 7,25 ton CO2 per ton terak titania. Untuk mengatasi tantangan ini, metode ramah lingkungan digunakan dengan memanfaatkan reaktor Hydrogen Plasma Smelting Reduction (HPSR) untuk produksi terak titania. Proses ini memungkinkan ilmenit tereduksi menjadi logam besi (Fe) dan terak kaya titania (TiO2) dengan kadar TiO2 yang berpotensi melebihi 90%. Metodologi penelitian mencakup karakterisasi awal konsentrat ilmenit menggunakan X-ray Fluorescence (XRF) untuk menentukan komposisi kimia dan X-ray Diffraction (XRD) untuk mengidentifikasi fasa. Komposisi kimia konsentrat ilmenit (32,86% Ti dan 27,50% Fe) digunakan untuk perhitungan termodinamika menggunakan perangkat lunak FactSage 8.2. Proses reduksi dilakukan dalam reaktor HPSR dengan variasi waktu (60–240 detik) dan gas (H?/Ar dengan rasio 4:1 atau Ar-80% H?). Produk hasil reduksi dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (SEM-EDS) untuk menentukan distribusi unsur serta komposisi kimia pada logam dan terak yang dihasilkan. Nilai perolehan Fe pada 60 detik telah melebihi 90% dan cenderung meningkat seiring bertambahnya waktu, sementara kadar titanium dalam logam tetap di bawah 0,5%. Peningkatan perolehan Fe menunjukkan bahwa besi berhasil terpisah dari titania dan membentuk logam, dengan hanya sekitar 0,4–3% Fe yang masuk ke dalam terak. Fe terkonsentrasi di bagian logam, sedangkan TiO2 terdistribusi dalam terak dengan kadar TiO? yang meningkat dari 88% pada 60 detik menjadi 95% pada 220 detik. Rasio daya terhadap berat dalam proses reduksi adalah 1,4 kW/g. Secara keseluruhan, metode HPSR terbukti lebih ramah lingkungan, efisien dalam waktu pemrosesan, serta mampu menghasilkan terak titania berkualitas tinggi (kadar TiO? > 90%) tanpa emisi karbon dibandingkan dengan metode konvensional.

2025
👤 Penulis: Fauzan Akbar Maulana
🏷️ Hydrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN DAN STUDI NUMERIK TURBIN HIDROKINETIK PADA TAIL RACE PLTA BAKARU UNTUK PENERAPAN COMBINED-CYCLE HYDROPOWER SYSTEMS

Target Net Zero Emission (NZE) 2060 mendorong optimalisasi pembangkit listrik terbarukan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan energi kinetik aliran tail race PLTA dengan memasang turbin hidrokinetik. Energi yang dihasilkan dapat mengurangi Pemakaian Sendiri (PS) PLTA melalui konsep Combined-Cycle Hydropower Systems. Penelitian ini dilakukan di PLTA Bakaru, Sulawesi Selatan, yang merupakan pembangkit run-of-river dengan turbin Francis vertikal. Pengukuran kecepatan aliran pada tail race dilakukan menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) menunjukkan kecepatan aliran tail race sebesar 1,6–2,4 m/s pada saat PLTA Bakaru berada pada beban maksimum 126 MW, sehingga potensi daya teoritis dari tail race PLTA Bakaru adalah sebesar 48 kW. Simulasi dilakukan pada tiga desain turbin dengan panjang chord 100 mm, 209 mm, dan 314 mm berdasarkan nilai solidity (0,1; 0,2; 0,3) ditempatkan pada dua posisi pemasangan di tail race. Hasilnya menunjukkan bahwa turbin dengan chord 100 mm memiliki koefisien momen tertinggi, sementara posisi pemasangan 2 menghasilkan daya lebih besar dibandingkan posisi 1. Sehingga diketahui daya tertinggi sebesar 1.436,84 W diperoleh pada turbin dengan chord 100 mm di posisi pemasangan 2.

2024
👤 Penulis: Muhammad Ramadhan
🏷️ Hydrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN TOOLS HYDROMINE SOLUTION UNTUK OPTIMASI SARANA PENYALIRAN PADA TAMBANG TERBUKA

Air tambang dapat memengaruhi kegiatan operasi penambangan, mulai dari efisiensi dan produktivitas peralatan dan pekerja, keamanan dan kestabilan lereng, hingga biaya kapital untuk pemompaan air tambang. Dalam merencanakan sistem penyaliran tambang, diperlukan perhitungan yang kompleks, pengolahan data, dan optimasi yang cermat. Dengan demikian, diperlukan tools pendukung untuk mempercepat proses tersebut dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dalam penelitian ini, perancangan tools dibuat dengan menggunakan instrumen perangkat lunak Microsoft Excel. Microsoft Excel dipilih karena memiliki kemudahan pengguna, kemampuan perhitungan yang kuat, dan visualisasi data yang mudah dipahami. Tools ini memiliki keluaran berupa perhitungan rainfall analysis, dimensi dan kapasitas open channel, dimensi dan kapasitas culverts, dan dimensi dan kapasitas sump serta rekomendasi pompa. Proses perhitungan menggunakan perhitungan numerik sehingga didapatkan dimensi sarana penyaliran paling optimal. Tools ini memiliki batasan yakni pengaruh air tanah dan evapotranspirasi diabaikan, rekomendasi pompa hanyalah gambaran awal tanpa mempertimbangkan efisiensi pompa, dan curah hujan dianggap tersebar merata pada tiap lokasi. Berdasarkan pengujian dan implementasi yang telah dilakukan, tools ini memberikan hasil yang tepat sesuai dengan perhitungan manual dan mempercepat proses perhitungan. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tools ini dirancang untuk mendukung dan membantu perhitungan perencanaan penyaliran tambang terbuka. Selain itu, tools ini juga dapat membantu pengambilan keputusan dalam penentuan alternatif sistem penyaliran tambang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ada.

2024
👤 Penulis: Fahrul Rahmadani
🏷️ Hydrologi 🏷️ Optimasi Sarana Penyaluran Tambang Terbuka 🏷️ Analisis Numerik

PERANCANGAN SARANA PENYALIRAN PADA WASTE DUMP TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT XYZ

PT XYZ merupakan perusahaan tambang terbuka batubara yang menghasilkan batuan penutup dan harus ditimbun sesuai dengan rencana penambangan. Penimbunan ini dipengaruhi oleh faktor alamiah, seperti kondisi hidrologi dan karakteristik batuan penutup. Di zona timur, PT XYZ memiliki waste dump yang terdiri dari material gambut yang sangat jenuh air dan dapat menampung air dalam jumlah besar. Karena belum ada sarana penyaliran, terjadi pergerakan di kaki timbunan sehingga diperlukan upaya penanganan limpasan dan perancangan sarana penyaliran untuk mengatasi permasalahan ini. Perancangan sarana penyaliran diawali dengan analisis frekuensi data curah hujan harian pada tahun 2010-2023 menggunakan seri data durasi parsial. Pemilihan distribusi probabilitas dilakukan melalui uji Chi Square dan Smirnov-Kolmogorov untuk mendapatkan nilai curah hujan rencana. Kemudian, intensitas hujan rencana dihitung menggunakan rumus Mononobe. Analisis topografi dilakukan untuk mendapatkan daerah tangkapan hujan (DTH) beserta karakteristiknya seperti luas, panjang, dan kemiringan. Dengan data di atas, dilakukan penyusunan hidrograf Soil Conservation Service (SCS) untuk mendapatkan debit puncak limpasan. Dengan sifat gambut yang mudah menyerap air, dilakukan juga analisis infiltrasi kumulatif dengan metode Green-Ampt menggunakan data sifat fisik gambut seperti konduktivitas hidraulik, porositas efektif, dan suction head. Berdasarkan uji kecocokan distribusi probabilitas dengan data asli dipilih distribusi Log Pearson Tipe III sehingga dihasilkan intensitas hujan rencana pada durasi hujan 1 jam sebesar 38,28 mm/jam dan 42 mm/jam untuk periode ulang 5 dan 10 tahun. Lalu, luas DTH rencana untuk void A3 sebesar 1,94 m3 dan untuk void B Utara sebesar 0,97 m3. Dengan hidrograf SCS, diperoleh debit puncak limpasan sebesar 11,50 m3/s dari DTH Void A3 dan 9,57 m3/s dari DTH Void B Utara. Kumulatif infiltrasi gambut pada durasi hujan 1 jam senilai 1,48 cm. Berdasarkan debit puncak limpasan dan kumulatif infiltrasi, dihasilkan kebutuhan sarana penyaliran meliputi, saluran terbuka yang terbagi menjadi dua kategori dengan bentuk trapesium dan dimensi lebar bawah 2-2,2 m, serta tinggi 1-1,2 m, drop structure dengan tinggi 1 m dan jumlah drop sebanyak 5- 20 buah, gorong-gorong berdiameter 1-1,2 meter dengan jumlah 4 line, drainage basin yang diperlukan pada DTH A3_2, DTH B Utara_1, dan DTH B Utara_3. Kemudian, dengan debit puncak limpasan yang besar, diperlukan kapasitas kolam retensi sebesar 41.358,67 m3 dari DTH void A3 dan 22.060,13 m3 dari DTH void B Utara untuk debit outlet 1 m3/s serta 33.157,27 m3 dari DTH void A3 dan 16.811,97 m3 dari DTH void B Utara untuk debit outlet 2 m3/s.

2024
👤 Penulis: Meilia Ernasari
🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS OPTIMASI PEMOMPAAN AIR DARI KOLAM PENGENDAPAN MENUJU PIT LAKE SAAT PASCATAMBANG PADA TAMBANG EMAS PT XYZ

Sebuah perusahaan tambang tembaga-emas di Nusa Tenggara akan memasuki tahap pascatambang pada tahun 2033, meninggalkan void bekas tambang dengan diameter sekitar 2 km dan kedalaman 700 m. Void ini direncanakan untuk dijadikan pit lake yang akan diisi oleh air limpasan, rembesan, dan air hujan, dengan perkiraan waktu pengisian penuh sekitar 40 tahun. Untuk mempercepat proses pengisian pit lake, air dari kolam pengendapan dapat dipompa masuk ke dalam void. Pemompaan direncanakan dari kolam pegendapan Tongoloka Toe Dike. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang meliputi curah hujan selama 21 tahun (2002-2022) dari stasiun WS-01, peta topografi lokasi penambangan, serta luas catchment area. Analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB 2024a untuk menentukan curah hujan rencana mingguan. Beberapa distribusi, seperti Weibull, Gumbel, Gamma, Eksponensial, dan Log Pearson Tipe III, digunakan untuk menghitung curah hujan, dan distribusi dengan nilai signifikansi terbesar dipilih untuk setiap minggu. Setelah itu, dilakukan fitting data dengan data cumulative distribution function (CDF) untuk mendapatkan nilai curah hujan dengan probabilitas 50%, 55%, 60%, 65%, 70%, 75%, 80%, 85%, 90%, 95%, dan 97,5%. Simulasi Monte Carlo digunakan untuk menentukan probabilitas curah hujan tiap minggunya. Waktu pemompaan ditetapkan 3.5 tahun, dimulai pada pertengahan tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk bisa memompa dari Tongoloka Toe Dike, setidaknya 1 pompa memerlukan 11 booster. Penelitian ini menganalisis penggunaan 1 hingga 10 pompa. Skenario dengan 9 pompa memiliki efektivitas pemompaan 99,99%, volume air yang masuk kolam adalah 66.220.811 m3, volume air dari pompa yang menuju pit lake adalah 66.212.640 m3 dan telah memasuki minggu tanpa terjadi overflow. Skenario 9 pompa ini mampu untuk mempercepat pembuatan pit lake selama 14 tahun.

2024
👤 Penulis: Aulia Bagas Widya Prakosa
🏷️ Analisis Optimasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Hydrologi

KAJIAN PENGARUH TIPE BREAKWATER PADA POLA ARUS DAN GELOMBANG (STUDI KASUS: MUARA SUNGAI PLUMBON, JAWA TENGAH)

Sungai Plumbon terletak di perbatasan antara kota Semarang dan kabupaten Kendal yang bermuara ke laut di sekitar pantai Mangunharjo. Pantai Mangunharjo serta pantai lainnya yang berada di bagian utara pulau Jawa banyak mengalami perubahan garis pantai yang berefek pada hilangnya lahan tambak. Salah satu penyebab dari perubahan garis pantai adalah erosi pantai. Permasalahan yang terdapat pada muara sungai Plumbon salah satunya berupa abrasi pantai yang disebabkan oleh arus dari laut sehingga berefek terhadap perubahan garis pantai. Karya tulis ini membahas tentang hasil analisis pola arus yang terjadi di sekitar muara sungai Plumbon. Pemodelan pola arus menggunakan Delft3D-FLOW menghasilkan arus yang bergerak dari barat domain melewati daerah sekitar pantai dengan kecepatan 0.1- 0.6 m/s saat terjadinya pasang tertinggi. Hasil model Delft3D-WAVE dengan input gelombang signifikan pada kondisi eksisting menghasilkan tinggi gelombang 1.2 meter di sekitar muara. Salah satu bangunan pantai yang dapat memecah gelombang adalah breakwater. Pada penelitian ini akan dibahas tentang model breakwater untuk menurunkan tinggi gelombang dengan perangkat lunak Delft3DWAVE untuk input obstacle dengan menggunakan 3 simulasi. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa pembangunan breakwater dengan skenario 1 dengan tipe bangunan sisi dinding miring, skenario 2 dengan tipe bangunan Caisson, dan skenario 3 dengan tipe bangunan dinding vertikal tipis berhasil mereduksi gelombang pada muara sungai Plumbon dengan mereduksi tinggi gelombang menjadi masing-masingnya 0,85 meter, 0,4 meter, dan 0,78 meter untuk musim barat, dan 0,53 meter, 0,5 meter, 0,67 meter untuk musim timur, yang mana bangunan cassion pada skenario 2 memberikan hasil yang baik untuk penurunan gelombang. Sedangakan untuk kecepatan arus yang terjadi di titik kontrol muara saat disimulasikannya breakwater adalah masing-masingnya 0,3 m/s, 0,35 m/s, dan 0,45 m/s dengan skenario bangunan miring dari skenario 1 dapat mereduksi kecepatan arus yang terjadi di laut.

2024
👤 Penulis: Iqbal Faruq
🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

KEEFEKTIFAN KOMBINASI BREAKWATER DAN TRENCH DALAM MEREDUKSI GELOMBANG

Dalam penelitian ini, kami menyelidiki peredaman gelombang oleh parit (trench) atau pemecah gelombang (breakwater) melalui model matematika menggunakan Persamaan Air Dangkal 1D. Kami menerapkan dua skema numerik, yaitu Leapfrog dan Lax-Wendroff, untuk menyelesaikan model tersebut secara numerik. Kami juga menguraikan solusi analitis untuk memperoleh koefisien transmisi gelombang. Solusi analitis yang dibangun memberikan tolok ukur penting untuk memvalidasi solusi numerik. Kedua skema numerik memenuhi syarat yang diperlukan untuk konsistensi dan stabilitas yang diperlukan untuk konvergensi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kedua metode tersebut efektif dalam meredam gelombang, dengan amplitudo gelombang datang berkurang sekitar 8, 3% dalam konfigurasi tertentu. Kombinasi optimal antara pemecah gelombang dan parit dicapai ketika tinggi pemecah gelombang dan kedalaman parit meningkat, serta panjang struktur ini disesuaikan untuk mencapai koefisien transmisi yang rendah (Kt). Selain menunjukkan pengurangan amplitudo gelombang yang konsisten dalam berbagai konfigurasi struktural, hasil simulasi juga menunjukkan bahwa posisi penempatan pemecah gelombang dan parit tidak secara signifikan mempengaruhi efektivitas peredaman gelombang, sehingga memungkinkan fleksibilitas dalam desain struktur pantai.

2024
👤 Penulis: Muh. Afdal Abidin
🏷️ Hydrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS KERUGIAN EKONOMI AKIBAT KERUNTUHAN BENDUNGAN AMERORO

Salah satu langkah untuk menangani kegagalan bendungan adalah penyusunan Rencana Tindak Darurat. Rencana ini mencakup peta genangan banjir yang disebabkan oleh keruntuhan, yang merupakan elemen penting untuk pengambilan keputusan dalam penanggulangan kegagalan bendungan. Peta genangan banjir diperoleh melalui analisis keruntuhan bendungan. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis keruntuhan Bendungan Ameroro, yang berada di Sub DAS Konaweha dan masuk dan Wilayah Sungai Lasolo Sampara. Analisis ini mencakup analisis hidrograf keruntuhan dan penelusuran banjir dengan HEC-RAS, dan pengolahan informasi spasial menggunakan ARC-GIS. Skenario keruntuhan yang dimodelkan adalah keruntuhan akibat piping pada hari cerah (sunny day) dengan variasi initial piping pada 1/3, 1/2, dan 2/3 ketinggian bendungan dan overtopping. Hasil analisis hidrograf keruntuhan dari keempat skenario tersebut menunjukkan debit puncak tertinggi yaitu skenario overtopping, yaitu sekitar 12927,19 m³/dt. Keruntuhan Bendungan Ameroro skenario overtopping menyebabkan genangan banjir seluas 17123,88 Ha. Ada10 Kecamatan yang terdampak akibat keruntuhan bendungan Ameroro. Kecamatan yang terkena dampak banjir terluas adalah Kecamatan Uepai dengan luasan area yang terdampak sebesar 1288,65 Ha Kedalaman banjir kecamatan ini bervariasi, mulai dari 0,1 m hingga lebih dari 5 m. Kecepatan banjir juga bervariasi, dari 0,01 m/dt hingga lebih dari 5 m/dt. Durasi banjir berlangsung lebih dari 5 jam.

2024
👤 Penulis: Indra Rukmana Ardi
🏷️ Analisis Keruntuhan Bendungan 🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Risiko Banjir

MAXIMIZING PRODUCTIVITY IN TALANG AKAR FORMATION THROUGH HYDRAULIC FRACTURING WITH LINEAR GEL AND CROSSLINKED GEL FLUIDS

Hydraulic fracturing stimulation is commonly used in oil and gas extraction to enhance the flow of hydrocarbons from a well. This method is valuable implemented in a low to even high permeability reservoir. The stimulation is carried out in an oil field in Indonesia, Abis Field, with a candidate well has been selected to be Well Susanto. The objectives of this study are to estimate the quality of reservoir before stimulation, design optimum fracture geometry, and determine the increase in well productivity post-fracturing job. First, well log interpretation is required for geomechanic data such as closure stress. Then, the permeability of the pay zone in the Talang Akar Formation that has been obtained through well test data is reconfirmed using a Step Rate Test (SRT). This step is essential for the efficient fracture design that is made. After that, several proppants and fluids type are selected to make 4 scenarios that are simulated using a 3D modelling software. Through the software, the optimum fracture geometry such as fracture half-length, height, and width are generated. The best scenario is attained based on the largest value from the comparison of Folds of Increase (FOI).

2024
👤 Penulis: Bernard Susanto
🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Minyak Dan Gas 🏷️ Kecerdasan Buatan

OPTIMIZING OIL RECOVERY IN FIELD X JAMBI: EVALUATING WATERFLOODING, INFILL DRILLING, AND HYDRAULIC FRACTURING METHODS

Improving hydrocarbon recovery in the oil and gas industry faced significant challenges. This study explores development scenarios for Field X Jambi using waterflooding, infill drilling, and hydraulic fracturing. Waterflooding displaces trapped oil towards production wells. Infill drilling increases reservoir contact through additional wells, particularly in areas with heterogeneous permeability. Hydraulic fracturing enhances reservoir permeability by creating fractures with high-pressure fluid. Advanced reservoir simulation and optimization methods were employed to determine the best strategy for maximizing oil recovery and economic performance, providing valuable insights for optimizing recovery methods under varying reservoir conditions. The results showed that for waterflooding, converting two non-optimal production wells into injection wells was the most effective, as other cases did not significantly improve cumulative oil recovery. For infill drilling, the optimal wells were ID-005 and ID-001 with three existing wells plus one infill well yielding 4.116 MMSTB and three existing wells plus two infill wells yielding 4.297 MMSTB from 3.7921 MMSTB. Hydraulic fracturing increased the oil rate at XPN-219 from 87 STBD to 111 STBD and cumulative oil from 0.42111 MMSTB to 0.45923 MMSTB, resulting in a field-scale cumulative oil recovery of 3.823 MMSTB. Consequently, the infill drilling scenario was selected as the most effective for maximizing cumulative oil recovery.To optimize this approach further, it is recommended to evaluate the location of infill wells to avoid interference with existing wells, adjust liquid rate and bottom hole pressure (BHP) in the infill drilling scenario, and conduct comprehensive economic and risk analyses to ensure financial feasibility and mitigate potential risks.

2024
👤 Penulis: Tiara Adetya Hasibuan
🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Optimisasi Produksi Minyak

OFFSHORE HYDROGRAPHIC DATUM: ESTABLISHMENT OF HYDROGRAPHIC SEPARATION MODEL AROUND MAHAKAM DELTA, IN EAST KALIMANTAN

The Mahakam Delta in East Kalimantan is crucial for oil and gas exploration in Indonesia. However, the reliance on a single chart datum (CD) at Handil for sea level measurements has led to operational disruptions due to the uncertain sea level values. To address these issues, developing a robust system to better define sea level values is essential. One effective solution is to build a hydrographic separation model. The offshore hydrographic separation model is essential for accurately describing and transforming the positions of tidal datums relative to an ellipsoid. This model is particularly useful for converting the position of Mean Sea Level (MSL) to Lowest Astronomical Tide (LAT). In this project, the goal is to create such a model for the area extending from the Mahakam Delta to Peciko-Bekapai, leveraging Global Mean Sea Surface (MSS) models and tidal models. The hydrographic separation model was developed to address the challenges of sea level uncertainty in the Mahakam Delta, crucial for oil and gas exploration and maritime operations. The project utilized the CNES CLS2022 MSS model for Mean Sea Surface (MSS) and the TPXO9v5a tidal model for Lowest Astronomical Tide (LAT) due to their minimal absolute mean error values. The model was implemented as a WebGIS application to enhance accessibility and usability. The implementation of hydrographic separation model as a website application has facilitated real-time, accurate sea level predictions, greatly enhancing shipping operations and safety. The product analysis yielded results indicating an 111.94% increase in the frequency of ship shipping operation windows around the Mahakam area.

2024
👤 Penulis: Monica Andini Ineka Putri
🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Minyak Dan Gas 🏷️ Geografi Digital

EXPERIMENTAL STUDY ON COW MANURE UTILIZATION INTO CLAY BRICKS USING HYDROTHERMAL PROCESS

We depend on cattle for our food and clothes, which in 2022 census had 19,203,045 accounted in Indonesia. This raises a new problem that is cattle manure. Another problem we face is the need for construction material. Clay brick is the most common construction material for small residential houses, but this brick is not environmentally friendly based on the raw material sourcing and on the production method. Thus, based on several anecdotes and research reports, an alternative raw material for clay bricks using cattle manure that maintains the mechanical properties but more environmentally friendly is proposed. In this research, cow manure was hydrothermally treated to extract the nutrient in liquid form and to improve the fiber characteristics of manure to be then mixed with clay and molded into clay bricks. After the bricks were fired using electric furnace, they were then inspected and tested to understand the quality of the bricks and the effects of hydrothermal process and brickmaking process parameters on the final products. The solid manure products of hydrothermal were also tested to determine the characteristics and the effects of hydrothermal process to fiber. The result found in this research was that by hydrothermally processing cow manure in the range of 100-140 ?, the fiber swelled up, agglomerated, and had less ash content than raw manure. By mixing the manure and clay with ratio of 750 gr clay to 500 gr manure to 360 ml water, it was found that as the hydrothermal temperature rises, so does the compression strength and water absorption of the bricks, and the density lowers. This research also solidified the findings of several studies about the positive impact of manure addition to earthen material. Furthermore, it was found that manure addition to clay improved the compression strength based on the type of clay material. The best performing brick composition is fiber treated at 140 ? mixed with commercial grade clay from Majalengka, yielding 1.92 MPa compression strength, 29.57% water absorptivity, and 1.37 g/cm3 density bricks. The characteristics are not up to SNI-15-2094-1991 standard.

2024
👤 Penulis: Victoriano Jonathan Lendeng
🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan
Halaman 2 dari 2
💬