📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 31 dokumen

PERANCANGAN SHOPPING PRECINCT DENGAN PENDEKATAN BIOMIMETIK

Ruang terbuka hijau merupakan salah satu aspek yang penting untuk dihadirkan dalam kehidupan perkotaan. Kontribusi dari keberadaan ruang terbuka hijau tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik kota, melainkan kehidupan masyarakat di dalamnya. Manfaat yang dihasilkan juga sangat beragam, mulai dari unsur ekologi hingga kesehatan masyarakat pada lokasi tersebut. Perencanaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau yang baik, dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam berbagai aspek. Namun, seringkali luas ruang terbuka hijau perkotaan tidak memenuhi standar yang diharapkan. Perencanaan kondisi ideal dari sebuah perkotaan dalam hal ruang terbuka hijau, terkadang terabaikan oleh kepentingan individu pemilik lahan. Kasus tersebut terjadi di Kota Bandung, dengan luas ruang terbuka hijau hanya mencapai 10,2% dari 30% luas kota. Area ruang terbuka hijau seringkali dikesampingkan, mengutamakan nilai ekonomi lahan sebagai orientasi utama pemanfaatan lahan. Tentunya fenomena ini harus menjadi perhatian berbagai pemangku kepentingan pada Kota Bandung. Kurangnya ruang terbuka hijau akan memiliki dampak yang buruk bagi kualitas lingkungan kota, seperti kurangnya daerah resapan air, kualitas udara menurun, dsb. Dalam mendorong bertambahnya luas ruang terbuka hijau Kota Bandung, sesuai dengan kepemilikan lahan dalam aspek ekonomi, serta manfaat dari ruang terbuka hijau, maka dibutuhkan suatu fasilitas yang mampu mewadahi kebutuhan ruang terbuka hijau, ekonomi, kesehatan, dsb dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Perancangan shopping precinct bertemakan ruang terbuka hijau, ditujukan untuk menjawab persoalan jumlah ruang terbuka hijau, beriringan dengan aspek ekonomi dan kesehatan masyarakat (lingkungan, walkability, dsb). Keberadaan fungsi tersebut diorientasikan pada jumlah partisipasi masyarakat di dalamnya, agar ruang terbuka hijau dapat berdampak lebih menyeluruh kepada pengguna.

2025
👤 Penulis: Reynaldo Christofer
🏷️ Ruang Terbuka Hijau 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Masyarakat

MENELITI NIAT KONSUMEN GENERASI Z DALAM MEMBELI PRODUK BUMBU MASAKAN

Industri bumbu makanan di Indonesia memainkan peran penting dalam warisan kuliner negara ini dan terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Seiring dengan perkembangan industri ini, tantangan-tantangan seperti persaingan yang ketat, perubahan preferensi konsumen, dan masalah integritas produk menjadi hal yang harus dihadapi, yang memerlukan inovasi dan adaptasi yang berkelanjutan. Industri ini bertanggung jawab dalam produksi, pengolahan, dan distribusi berbagai bahan yang ditambahkan pada makanan untuk meningkatkan rasa dan aroma, yang meliputi rempah-rempah alami hingga bahan tambahan sintetis. Dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap kenyamanan dan beragam rasa, sektor ini telah mengalami perubahan signifikan, yang didorong oleh kemajuan teknologi dan selera konsumen yang terus berkembang (Mwale, 2023). Salah satu perubahan terbesar dalam industri ini adalah pengaruh besar dari Generasi Z. Dikenal sebagai generasi yang lahir di era digital, Gen Z sangat dipengaruhi oleh kesadaran akan kesehatan, kepedulian terhadap lingkungan, dan pengaruh media sosial. Generasi ini menghargai keberlanjutan, konsumsi yang etis, dan transparansi dalam memilih produk, terutama dalam hal bumbu makanan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memahami nilai-nilai dan motivasi yang mendorong keputusan pembelian mereka, agar dapat menargetkan segmen pasar ini dengan efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian Generasi Z terhadap produk bumbu makanan, khususnya yang berkaitan dengan kesadaran kesehatan dan keberlanjutan. Penelitian ini mengkaji beberapa faktor kunci, termasuk atribut produk (seperti bahan alami dan keragaman rasa), masalah kesehatan (seperti kekhawatiran terhadap bahan tambahan, alergen, dan dampak kesehatan secara keseluruhan), tanggung jawab sosial dan lingkungan (fokus pada sumber bahan yang berkelanjutan dan kemasan ramah lingkungan), strategi pemasaran (penggunaan influencer media sosial, keaslian merek, dan keterlibatan), sensitivitas harga (menyeimbangkan keterjangkauan dan kualitas), serta aksesibilitas (kemudahan pembelian melalui saluran ritel dan online). Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan sampel 240 individu Generasi Z yang tinggal di DKI Jakarta dan memiliki kebiasaan memasak setidaknya sekali seminggu. Analisis data akan dilakukan menggunakan regresi linier berganda melalui SPSS, untuk mengkaji hubungan antara berbagai faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian. Hasil sementara menunjukkan bahwa nilai kesehatan dan strategi pemasaran secara signifikan mempengaruhi niat pembelian Generasi Z. Dengan nilai signifikansi sebesar 0,000, variabel Kesehatan menunjukkan pengaruh positif yang kuat terhadap perilaku pembelian, sementara variabel Strategi Pemasaran, dengan nilai signifikansi sebesar 0,004, juga secara signifikan memengaruhi niat pembelian. Temuan ini menekankan pentingnya bahan-bahan yang peduli kesehatan dan strategi pemasaran yang efektif dalam membentuk keputusan pembelian konsumen Gen Z. Berdasarkan temuan-temuan ini, penelitian ini akan mengusulkan strategi-strategi yang dapat diterapkan oleh perusahaan-perusahaan dalam industri bumbu makanan untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi Generasi Z yang terus berkembang, memastikan mereka tetap kompetitif dan relevan di pasar yang terus berubah ini.

2025
👤 Penulis: Mukti Mulyawan
🏷️ Generasi Z 🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Pemasaran Digital

STRATEGI PEMASARAN YANG DIUSULKAN UNTUK PRODUK DI NICHE MARKET (STUDI KASUS: 3KURMA)

Kurma, buah yang secara alami manis dan kaya akan nutrisi, terutama tumbuh di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, telah mengalami peningkatan konsumsi yang signifikan di seluruh dunia, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, negara dengan populasi Muslim yang besar, kurma secara tradisional dikonsumsi selama Ramadan untuk berbuka puasa, yang menyebabkan lonjakan permintaan musiman. Meskipun kurma memiliki makna budaya dan religius yang penting, konsumsi kurma di Indonesia masih terbatas pada periode Ramadan. Pola musiman ini menimbulkan beberapa tantangan bagi bisnis impor kurma, khususnya dalam mengelola persediaan, logistik, dan fluktuasi permintaan pasar. Salah satu bisnis tersebut, 3Kurma, menghadapi kesulitan dalam memperluas jangkauan pasarnya karena bergantung pada pemasaran dari mulut ke mulut dan basis pelanggan yang terbatas. Meskipun merek ini dapat memenuhi target keuntungan tahunan melalui metode ini, potensi pertumbuhannya terbatas oleh kurangnya kesadaran akan manfaat kesehatan dan kegunaan kuliner kurma, yang menyebabkan produk mereka tidak dimanfaatkan sepenuhnya di luar musim puncak. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi pemasaran inovatif yang dapat merangsang permintaan sepanjang tahun untuk produk berbasis kurma di Indonesia, serta memahami pola konsumsi dan hambatan yang menghalangi konsumen Indonesia untuk mengonsumsi kurma iv secara teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana mengubah persepsi konsumen tentang kurma dari makanan yang terkait dengan agama menjadi camilan sehat, serbaguna, dan praktis. Selain itu, studi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, seperti kualitas produk, persepsi merek, dan kemasan, yang dapat berkontribusi pada keberlanjutan jangka panjang bagi bisnis seperti 3Kurma di pasar kurma yang sangat kompetitif. Pendekatan metode campuran diterapkan dalam penelitian ini, menggabungkan metode pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner daring, yang dianalisis menggunakan SPSS dan analisis klaster untuk mengidentifikasi segmen konsumen berdasarkan sikap, perilaku, dan preferensi mereka terhadap kurma. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, yang memberikan wawasan lebih dalam mengenai motivasi, persepsi, dan sikap konsumen terhadap kurma. Data kualitatif dianalisis menggunakan NVivo, dengan analisis tematik untuk mengidentifikasi tema dan pola utama di seluruh tanggapan. Penggunaan triangulasi dalam pengumpulan data memastikan validitas dan keandalan temuan, memberikan pemahaman yang komprehensif tentang perilaku konsumen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsumen semakin peduli dengan kualitas dan asal produk yang mereka beli. Faktor-faktor seperti transparansi mengenai asal-usul kurma, penggunaan praktik pertanian organik atau premium, dan keterlibatan merek melalui media sosial ditemukan memengaruhi keputusan pembelian. Banyak responden menyatakan kesediaannya untuk membayar lebih untuk kurma yang dipasarkan sebagai organik atau bersumber secara etis. Selain itu, studi ini mengidentifikasi dua klaster konsumen yang berbeda: Klaster 1, yang terdiri dari konsumen yang sangat terlibat dan menunjukkan loyalitas merek yang kuat serta perilaku pembelian yang konsisten, dan Klaster 2, yang terdiri dari konsumen yang kurang terlibat dan membutuhkan lebih banyak edukasi tentang manfaat kurma sebagai makanan sehat dan camilan sepanjang tahun. v Temuan kualitatif menyoroti potensi kurma untuk dipasarkan sebagai camilan sehat yang serbaguna dan bergizi yang tidak hanya dikonsumsi saat Ramadan. Konsumen semakin melihat kurma sebagai alternatif sehat untuk camilan olahan, menghargai rasa manis alami dan kualitas bebas pengawetnya. Namun, mengubah persepsi konsumen yang mengaitkan kurma hanya dengan penggunaan religius menjadi pengakuan atas manfaat kesehatannya yang lebih luas tetap menjadi tantangan yang signifikan. Strategi pemasaran yang efektif harus fokus pada edukasi konsumen tentang manfaat kesehatan kurma, menggunakan kombinasi pemasaran online dan offline, termasuk kolaborasi dengan influencer, kampanye media sosial, dan promosi di toko. Selain itu, transparansi merek, jaminan kualitas, dan kemasan produk yang inovatif menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen dan pembelian berulang. Sebagai kesimpulan, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman perilaku konsumen dalam pasar barang yang mudah rusak, khususnya dalam konteks di mana musiman dan persepsi budaya memengaruhi permintaan. Temuan ini menunjukkan bahwa 3Kurma dapat memperluas pasarnya dengan menerapkan strategi pemasaran inovatif yang fokus pada kualitas, transparansi, dan edukasi konsumen. Dengan memposisikan kurma sebagai camilan bergizi sepanjang tahun, bisnis dapat meningkatkan keterlibatan konsumen dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan di pasar Indonesia.

2025
👤 Penulis: Yolanda Gabrita Kamal
🏷️ Pemasaran Produk Berbasis Buah 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Kesehatan Masyarakat

PENGUKURAN HEMOGLOBIN SECARA NON-INVASIVE BERBASIS SMARTPHONE

Anemia adalah suatu kondisi di mana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin di dalamnya lebih rendah dari normal. Hemoglobin diperlukan untuk membawa oksigen dan jika kita memiliki terlalu sedikit atau sel darah merah abnormal, atau tidak cukup hemoglobin, akan terjadi penurunan kapasitas darah untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Menurut World Health Organization (WHO), penyebab paling umum dari anemia adalah kekurangan nutrisi, terutama kekurangan zat besi, meskipun kekurangan folat, vitamin B12 dan A serta juga penyakit menular, seperti malaria, TBC, HIV dan infeksi parasit. WHO juga menjelaskan bahwa Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang serius terutama pada anak-anak dan wanita hamil. WHO memperkirakan 42% anak-anak di bawah usia 5 tahun dan 40% ibu hamil di seluruh dunia mengalami anemia. Berdasarkan data Riskesdes 2013 menunjukan bahwa prevalensi anemia pada perempuan usia di atas atau 15 Tahun sebesar 22.7% sedangkan preverensi anemia pada ibu hamil sebesar 37.1 %. SK Menkes RI Nomor 736a/Menkes/XI/1989, seseorang dinyatakan anemia jika kadar hemoglobin (Hemoglobin) dalam darah dibawah normal, yaitu kurang dari 13,0 g/dL pada laki- laki dewasa, dan kurang dari 12,0 g/dL pada wanita dewasa, sedangkan pada wanita hamil kurang dari 11,0 g/dL (Kemenkes, 2020). Secara umum deteksi anemia dilakukan secara invasif melalui pemeriksaan kadar hemoglobin pada darah. Hemoglobin berperan penting untuk pembentukan protein darah sebagai media transport oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Oksigen merupakan suatu bagian yang tidak terpisakan pada tubuh manusia berperan penting untuk metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi. ii Pengukuran hemoglobin saat ini pada manusia secara konvensional biasanya dilakukan secara instan tapi masih invasif hal ini tentunya menyakiti saat pengambilan sampel darah, disposable, menimbulakan limbah medis dan selalu dibuang tidak secara benar. Adapun cara lain untuk memdeteksi anemia yang bersifat non-invasif dengan melihat dalam kelopak mata bawah (konjugtiva)

2024
👤 Penulis: Hamrin
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Analisis Anemia 🏷️ Teknologi Medis

ANALISIS STRATEGI ADAPTASI TERBAIK BAGI INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN TERHADAP KEBIJAKAN PEMASARAN PANGAN

Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana industri makanan dan minuman harus menerapkan strategi dalam menanggapi peraturan pemasaran makanan baru yang telah didorong oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada bulan Oktober 2023, WHO membuat rekomendasi untuk menerapkan peraturan yang lebih ketat pada pemasaran makanan dan minuman yang tinggi garam, gula, dan lemak (HFSS). Rekomendasi ini dibuat untuk meminimalkan efek negatif dari pemasaran makanan yang agresif. Fokus penelitian ini adalah pasar global tetapi sebagian besar responden survei adalah orang Indonesia. Analisis mengungkapkan bahwa pelanggan juga peduli dengan dampak kesehatan dari makanan dan minuman yang tidak sehat ini dan bersedia mendukung perusahaan yang mengingatnya. Tren telah menunjukkan bahwa pelanggan lebih cenderung beralih ke pilihan makanan yang lebih sehat. Rekomendasi seperti penerapan peraturan yang lebih ketat yang diperuntukkan bagi kelompok rentan dan peningkatan transparansi dalam pemasaran direkomendasikan untuk diambil oleh industri makanan dan minuman.

2024
👤 Penulis: Muhammad Alyosha Rizqullah Akbar
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Pangan 🏷️ Regulasi Pemasaran

PATIENT-CENTRIC TYPE C-GENERAL HOSPITAL IN MEDAN: PROMOTING WELLNESS & COMMUNITIES INTO EVERYDAY HEALTHCARE.

Kesehatan mencakup aspek kesejahteraan fisik, sosial, spiritual, dan mental individu. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di Kecamatan Medan Maimun, di Kota Medan, pentingnya adanya fasilitas kesehatan seperti rumah sakit sangat terasa. Sayangnya, pembangunan rumah sakit di wilayah ini belum merata. Dalam perspektif wellness & communities, konsep perancangan rumah sakit tipe C di Kecamatan Medan Maimun tetap mengedepankan healing environment. Pendekatan ini tidak hanya mempertimbangkan faktor fisik, tetapi juga mengintegrasikan elemen wellness ke dalam desainnya. Wellness di sini mencakup pemahaman menyeluruh tentang kesehatan, fokus pada pencegahan penyakit, dan menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. Dalam merencanakan rumah sakit, diperhatikan aspek-aspek yang dapat meningkatkan kesejahteraan pasien, seperti kehadiran area terbuka hijau, pencahayaan alami, area yang didedikasikan untuk pasien dan care-giver sebagai sarana dan wadah interaksi, dan desain interior yang menenangkan. Dengan demikian, tujuan perancangan bukan hanya memastikan pelayanan kesehatan yang optimal, melainkan juga menciptakan ruang yang mendukung gaya hidup sehat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Medan Maimun. Melalui metode pengumpulan data, analisis, dan sintesis, hasilnya adalah rumah sakit tipe C yang tidak hanya memadukan unsur-unsur alam, psikologis, dan indra, tetapi juga merancang lingkungan yang berkontribusi pada wellness dan kebersamaan komunitas

2024
👤 Penulis: Suwandy Halim
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Desain Rumah Sakit 🏷️ Wellness Komunitas

IDENTIFIKASI TINGKAT PENGGUNAAN DAN MANFAAT APLIKASI MOBILE HEALTH TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT MASYARAKAT KOTA BANDUNG

Kepatuhan dalam pengobatan diakui sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Seiring berkembangnya teknologi digital, aplikasi mobile health (mHealth) dinilai sebagai salah satu sarana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat. Hingga saat ini sudah banyak aplikasi kesehatan yang terus dikembangkan. Namun, penggunaan serta pengaruhnya dalam masyarakat belum teridentifikasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat penggunaan dan kebermanfaatan aplikasi mHealth terhadap kepatuhan minum obat masyarakat Kota Bandung dan menganalisis hubungan korelasi antara faktor sosiodemografi dan faktor terkait pengobatan terhadap tingkat penggunaan mHealth dan tingkat kepatuhan minum obat masyarakat Kota Bandung. Penelitian dilakukan dengan metode observasional potong lintang dengan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan dari Januari hingga Juni 2024 dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat di 30 kecamatan Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas masyarakat Kota Bandung (70%, n=335) menggunakan media mHealth dengan berbagai tujuan seperti kuratif, preventif, dan edukatif. Sebagian besar masyarakat Kota Bandung yang tidak menggunakan mHealth beralasan belum sempat mencoba mHealth secara langsung, tetapi sebagian besar dari mereka (67,36%, n=95) tertarik untuk menggunakan mHealth di masa yang akan datang. Lebih dari setengah masyarakat yang menggunakan mHealth (52,84%, n=177) berpandangan bahwa mHealth memberikan manfaat tinggi. Meskipun lemah, terdapat pengaruh yang signifikan (p < 0,05) antara faktor pendapatan rata-rata per bulan dan jumlah obat terhadap tingkat penggunaan mHealth serta antara faktor usia; pendapatan rata-rata per bulan; dan variasi waktu minum obat terhadap kepatuhan minum obat. Selain itu, tingkat penggunaan mHealth dan kebermanfaatan yang dirasakan pengguna berpengaruh kuat terhadap kepatuhan minum obat (p < 0,05).

2024
👤 Penulis: Nursyifa Akmalia
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan Digital 🏷️ Analisis Data Sosio Demografis

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERILAKU PEMANFAATAN FASILITAS SANITASI DI KABUPATEN CIMENYAN, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

Isu sanitasi di Indonesia, khususnya Jawa Barat, masih menjadi tantangan serius. Sebanyak 20% daerah di Jawa Barat belum memiliki sanitasi yang aman. Meskipun terdapat peningkatan infrastruktur sanitasi, pemanfaatan fasilitas oleh masyarakat belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemanfaatan fasilitas sanitasi, khususnya perilaku BAB di MCK dan penanganan tangki septik, terhadap 105 sampel di Kampung Cisanggarung. Kerangka kerja RANAS (risiko, sikap, norma, kemampuan, dan regulasi diri) digunakan sebagai kerangka penelitian dan variabel independen yang diteliti terhadap variabel dependen perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat terkait perilaku BAB di MCK relatif tinggi, namun masih rendah untuk perilaku penanganan tangki septik. Pengolahan data dengan analisis regresi linear berganda menunjukan bahwa adanya hubungan statistik yang signifikan antara variabel independen RANAS dan variabel dependen perilaku BAB di MCK (r = 0,756, R² = 0,572, p < 0,001) serta variabel independen RANAS dan variabel dependen perilaku terhadap tangki septik (r = 0,568, R² = 0,322, p < 0,001). Faktor norma dan kemampuan secara signifikan berkontribusi terhadap perilaku BAB di MCK, sedangkan faktor norma menjadi kontributor utama dalam perilaku penanganan tangki septik.

2024
👤 Penulis: Ashfia Pramita Nurfitriani
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Sanitasi 🏷️ Analisis Regresi

MODEL PENILAIAN LINGKUNGAN BINAAN DALAM KONSEP KOTA SEHAT PADA KONTEKS TATA RUANG: STUDI KASUS DI KOTA SEMARANG

Beragam variabel ukuran kota sehat di Indonesia menyebabkan biasnya intervensi kebijakan di skala kota yang perlu diambil dalam mewujudkannya. Pada konteks perencanaan kota, perwujudan kota sehat sulit menjadi prioritas karena belum adanya variabel khusus yang menjadi sasaran intervensi dalam instrumen perencanaan tata ruang. Perumusan seperangkat variabel lingkungan binaan yang sehat dan indikatornya dapat menangkap hubungan kausatif tersebut dan menerapkannya pada kebijakan tata ruang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menyusun model penilaian objektif lingkungan binaan yang sehat pada konteks tata ruang dalam konsep kota sehat. Model penilaian objektif yang dieksplorasi mengambil penelitian satu kasus, yaitu di Kota Semarang dengan metode kuantitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur kota sehat menggunakan paradigma healthy built environment yang memandang bahwa populasi sehat dapat dicapai dengan mempromosikan gaya hidup sehat, meningkatkan kualitas hidup, kemakmuran, dan kemajuan peradaban, melalui lingkungan binaan. Penelitian ini telah menyusun model penilaian objektif lingkungan binaan yang sehat dari jumlah penyakit menular dengan studi kasus di Kota Semarang. Kota Semarang dibagi menjadi 1966 sel heksagon untuk membantu perhitungan nilai setiap variabel lingkungan binaan. Tiga belas variabel dibagi menjadi tiga tingkatan lingkungan binaan, yaitu lingkungan alam, lingkungan terbangun, dan aktivitas dengan variabel kontrol jumlah penduduk yang sebarannya terdistribusi mendekati pola Poisson. Indeks Global Moran’s I 0,671 yang mengindikasikan adanya kondisi autokorelasi spasial. Model penilaian objektif disusun dengan Geographically Weighted Regression (GWR) dengan persentase deviansi terjelaskan 87,6% dapat disusun sebagai instrumen dalam mengukur kondisi lingkungan binaan di skala yang lebih kecil daripada kelurahan. Berdasarkan estimasi rata-rata model lokal, kontribusi di setiap tingkatan lingkungan binaan berbeda-beda persentasenya. Pengaruh terbesar yang ditemukan adalah jumlah penduduk sebagai variabel kontrol, yaitu sebesar 60,39%. Pengaruh tingkatan lingkungan terbangun adalah yang paling besar di antara tingkatan lingkungan binaan lainnya, sebesar 22,68%. Lingkungan alam memiliki kontribusi sebesar 10,52%. Sementara yang paling kecil pengaruhnya adalah di tingkat aktivitas, hanya sebesar 6,41%. Lingkungan binaan dinilai berdasarkan kategori jumlah penyakit menularnya mulai dari Sangat Sehat hingga Tidak Sehat. Rata-rata lingkungan binaan di Kota Semarang dinilai Sangat Sehat, hanya intensitas simpangan jalan yang dinilai dengan kategori Sehat. Namun, hasil yang berbeda terlihat saat mengukurnya di tingkat sel yang menemukan adanya lingkungan binaan yang berkategori Tidak Sehat di sel-sel dengan kasus tertinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa kasus adanya spatial non-stationary dari lingkungan binaan terhadap kasus penyakit menular. Hasil refleksiii kategori tersebut dengan jumlah penyakit menular di Kota Semarang, menunjukkan 52,54% sel dikategorikan Sangat Sehat, 11,39% Sehat, 4,18% Kurang Sehat, dan 28,07% Tidak Sehat. Pusat Kota Semarang menjadi klaster sel yang tidak sehat yang menggambarkan sulitnya mendapatkan kondisi yang sehat di kawasan perkotaan. Sejalan dengan hal tersebut, sel dengan kategori Sangat Sehat sebagian besar berada di pinggiran kota. Namun secara agregat, Kota Semarang masih layak dikatakan sebagai kota yang sehat dan sesuai dengan capaiannya mendapatkan penghargaan Swasti Saba. Penilaian dari skala yang lebih kecil dapat menghindari pengabaian kondisi yang lebih rinci daripada penilaian dengan skala yang lebih besar, seperti di tingkat kecamatan maupun kota. Instrumen penilaian yang disusun dengan model pada penelitian ini dapat dikatakan sebagai penilaian yang objektif dan adaptif untuk lingkungan binaan yang sehat. Kebaruan yang dihadirkan dalam penelitian ini adalah model penilaian lingkungan binaan yang bersifat kausatif terhadap salah satu keluaran kesehatan, yaitu jumlah kasus penyakit menular. Penelitian ini mampu menggunakan model lokal GWR sebagai dasar dalam menyusun indikator penilaian yang dinamis di skala lokal pada konteks tata ruang

2024
👤 Penulis: Ahmad Baikuni Perdana
🏷️ Geografis 🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Analisis Regresi Geografis

USER PERCEPTION AND BEHAVIOUR TOWARDS THE SUSTAINABILITY OF SHARED SANITATION FACILITIES IN SLUM PERI-URBAN AREA (CASE STUDY: CIWALENGKE, MAJALAYA DISTRICT)

Akses terhadap sanitasi yang aman memainkan peran penting dalam kesehatan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Di Indonesia, tingkat buang air besar sembarangan telah berkurang menjadi 5,6%, dan akses ke sanitasi yang lebih baik tersedia untuk 80,29% dari populasi. Program Pemantauan Bersama WHO/UNICEF telah mengakui peran sanitasi bersama dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 6b. Fasilitas sanitasi bersama menawarkan solusi sementara yang praktis untuk kawasan kumuh yang padat penduduk dan merupakan alternatif yang hemat biaya dibandingkan dengan fasilitas rumah tangga pribadi. Namun, keberlanjutan fungsional fasilitas ini sering terganggu oleh operasi dan pemeliharaan yang buruk. Perilaku pengguna dalam mengoperasikan dan memelihara fasilitas sanitasi bersama memainkan peran besar dalam penggunaan fasilitas ini secara berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktorfaktor psikososial yang mempengaruhi perilaku yang diinginkan secara berkelanjutan dalam pemeliharaan fasilitas sanitasi bersama. Menggunakan studi kasus di Ciwalengke, Majalaya, penelitian ini memanfaatkan model RANAS dan IBM-WASH. Model RANAS terdiri dari lima faktor psikososial (Risiko, Sikap, Norma, Kemampuan, dan Regulasi Diri) agar perilaku baru tertanam dalam diri seseorang. Faktor risiko mencakup kerentanan yang dirasakan, tingkat keparahan yang dirasakan, dan pengetahuan faktual; faktor sikap mencakup keyakinan instrumental dan keyakinan afektif; faktor norma mencakup norma deskriptif, norma injungtif, dan norma pribadi; faktor kemampuan mencakup pengetahuan tindakan, efikasi diri, pemeliharaan efikasi diri, dan pemulihan efikasi diri; faktor regulasi diri mencakup kontrol tindakan/perencanaan, perencanaan penanggulangan, mengingat, dan komitmen. Model Perilaku Terintegrasi untuk Air, Sanitasi, dan Kebersihan (IBM-WASH) adalah model perilaku multidimensi. Hasil wawancara terstruktur dengan 135 peserta di Ciwalengke berguna untuk merancang intervensi perilaku guna mencapai SDG 6.2

2024
👤 Penulis: Husna Salimah
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Sanitasi 🏷️ Hidrologi

STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DI INSTAGRAM MINUMAN PROBIOTIK ASA CERRA

Meningkatnya industri probiotik, kesehatan, dan kebugaran di Indonesia telah memaksa perusahaan-perusahaan di sektor ini untuk mengadopsi strategi komunikasi pemasaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi pelanggan. Banyak perusahaan mempromosikan nilai produk mereka, menonjolkan manfaat, dan bahan-bahannya. Nilai produk merupakan faktor kunci yang mempengaruhi keinginan pelanggan untuk mempertahankan produk. Asa Cerra adalah perusahaan baru yang sedang menentukan profil pelanggan untuk peluncuran produk probiotik kami yang akan datang. Memahami profil pelanggan akan membantu Asa Cerra menyesuaikan nilai dan strategi komunikasi pemasaran untuk “Nata de Whey”, memastikan produk tersebut secara efektif meningkatkan kesehatan pencernaan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pelanggan kami untuk mempromosikan “Nata de Whey'' berdasarkan nilai-nilai ini menggunakan AIDA Marketing Funnel. Studi ini mengintegrasikan analisis internal tim Asa Cerra dengan evaluasi eksternal melalui PESTLE, Lima Kekuatan Porter, dan analisis kompetitif. Secara metodologis, proses ini mengikuti delapan tahap yang mencakup identifikasi masalah, tinjauan literatur, dan pengumpulan data komprehensif dari sumber internal dan eksternal, termasuk wawancara mendalam dengan pelanggan dan pakar. Hasil penelitian ini menemukan bahwa karakteristik pelanggan Asa Cerra adalah sadar akan kesehatan, memiliki pengetahuan yang baik tentang probiotik, dan aktif mencari informasi dari berbagai sumber, termasuk jurnal ilmiah, media sosial, pakar, dan jaringan pribadi, serta menjaga keterbukaan. pendekatan berpikiran terhadap perkembangan terkini. Oleh karena itu, strategi yang akan kami gunakan untuk berinteraksi dengan pelanggan kami dengan perilaku seperti itu, Asa Cerra akan meningkatkan kesadaran melalui konten dan kampanye Instagram dengan mempromosikan manfaat probiotik dan “Nata de Whey”, membangkitkan minat dengan detail produk dan testimonial, membangun keinginan dengan menyoroti manfaat unik, harga, ketersediaan, dan komunitas, yang terakhir mendorong tindakan melalui platform e-niaga yang lancar dan layanan purna jual yang sangat baik. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas, membangun kredibilitas, dan membina komunitas yang setia, dan mendorong tingkat konversi tinggi dan keterlibatan merek.

2024
👤 Penulis: Evinka Aisha Maulana
🏷️ Komunikasi Pemasaran Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Masyarakat

ANALISIS PROYEK INVESTASI BISNIS BERBASIS LAYANAN: STUDI KASUS GRUP MENGASIHI

Terdapat lebih dari 6,300,000 balita di Indonesia mengalami stunting. Kemudian diketahui bahwa prevalensi bayi yang memiliki ibu seorang pekerja dengan tingkat stunting buah hatinya yaitu sebesar 30.6%. Sedangkan, mayoritas ibu pekerja lebih memilih susu formula sebagai pengganti nutrisi air susu ibu walaupun terdapat banyak risiko yang bermunculan ketika dikonsumsi buah hati. Mengasihi, startup kesehatan teknologi yang memiliki jasa untuk pembubukkan asi untuk penggunaan personal berusaha memberikan solusi pemberian nutrisi terbaik bagi buah hati dengan simpel. Mayoritas startup gagal (McConnel, 2022), begitu juga dengan Mengasihi yang berada dalam tahap awal pembangunan startup. Studi menemukan bahwa arus kas suatu organisasi memainkan peran yang besar dalam kegagalan startup yang tentunya berdampak terhadap keberjalanan organisasi dalam jangka panjang. Studi kelayakan dapat membantu menentukan apakah Mengasihi sebagai tahap awal startup layak secara finansial. Mengambil startup Mengasihi sebagai studi kasus, penelitian ini menganalisis kondisi internal dan eksternal finansial organisasi. Oleh karena itu, berdasarkan proyeksi keuangan lima tahunan menunjukkan bahwa berbagai kriteria seperti Payback Period, Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR) dapat diterima. Kemudian proyek Mengasihi dianggap layak secara finansial dan rencana implementasi juga disediakan pada akhir penelitian.

2024
👤 Penulis: Zakaria Khori Hermawan
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Keuangan Startup 🏷️ Teknologi Kesehatan

ANALISIS TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA SEKOLAH DI JAWA BARAT MELALUI DATABUGAR

Latar Belakang: Tingkat kebugaran jasmani merupakan salah satu indikator kesehatan, dimana hal ini berkaitan dengan kemampuan seorang individu dalam melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan secara berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat kebugaran jasmani siswa sekolah dari tiga tingkatan baik sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas dari kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat. Metode: Penelitian ini merupakan cross-sectional observational study yang dilaksanakan pada 27 sekolah dari kabupaten/kota di Jawa Barat melalui kerjasama dengan ikatan guru olahraga nasional (IGORNAS) dengan metode pengambilan sampel random sampling. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada para guru yang menjadi perwakilan IGORNAS mengenai situs databugar dan bentuk tes kebugaran jasmani yang digunakan. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat kebugaran jasmani pada penelitian ini terdiri dari muscular endurance test, body mass index, dan aerobic capacity test. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, serta one way anova untuk melihat perbedaan antar kabupaten/kota ataupun secara keseluruhan. Hasil: Data yang diperoleh sebanyak 1378 siswa berasal dari 9 sekolah dasar, 10 sekolah menengah pertama, dan 9 sekolah menengah atas. Data menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kebugaran jasmani siswa sekolah di Jawa Barat masih berada dibawah standar yang digunakan, terutama jika dilihat dari hasil tes muscular endurance pull-up dan aerobic capacity test. Terdapat perbedaan yang signifikan antara beberapa sekolah di masing-masing tingkatan. Kesimpulan: Tingkat kebugaran jasmani siswa sekolah di Jawa Barat yang menjadi sampel relatif rendah dibandingkan standar kebugaran yang ada, serta dapat dikatakan tingkat aktivitas fisiknya juga rendah dan memiliki risiko yang tinggi untuk terserang penyakit degeneratif

2024
👤 Penulis: Gabriel Ramadhan E.D.
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Analisis Data Siswa Sekolah 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Pendidikan

EVALUASI PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTIK MASYARAKAT KOTA BANDUNG TERKAIT PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN RESISTANSI TERHADAP ANTIBIOTIK

Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang seperti Indonesia, dengan insidensi penyakit yang tinggi per 100 penduduk. Antibiotik digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi bakteri. Resistansi terhadap antimikroba (RAM) merupakan salah satu dari 10 ancaman kesehatan global pada tahun 2019. Diperkirakan pada tahun 2050, RAM menyebabkan kematian yang sangat tinggi, dengan satu orang meninggal setiap tiga detik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat Kota Bandung terkait penggunaan antibiotik dan resistansi terhadap antibiotik; mengidentifikasi hubungan antara karakteristik sosiodemografi dengan domain pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat; dan menentukan korelasi antara ketiga domain tersebut. Penelitian dilakukan dengan metode observasional potong lintang (cross-sectional) dengan teknis purposive sampling. Penelitian dilakukan dari Desember 2023 hingga Mei 2024 dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat di 30 kecamatan Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas masyarakat Kota Bandung memiliki pengetahuan tidak memadai (55,77%, n=343), sikap negatif (66,67%, n=410), dan praktik positif (61,95%, n=381). Faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, status pekerjaan, dan suku berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan, sikap, dan praktik (p-value < 0,05), kecuali praktik yang tidak dipengaruhi usia (p-value > 0,05). Koefisien korelasi (?) antara sikap dan pengetahuan adalah +0,649, antara praktik dan pengetahuan +0,527, dan antara praktik dan sikap +0,537, dengan p-value <0,001. Analisis ini menunjukan pengetahuan yang memadai menghasilkan sikap dan praktik yang positif. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kota Bandung memiliki pengetahuan yang kurang memadai dan sikap negatif meskipun praktik sudah positif, sehingga diperlukan upaya edukasi dan intervensi lain untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap secara keseluruhan.

2024
👤 Penulis: Cut Difa Aulya Oktaviani Y.
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Resistensi Terhadap Antibiotik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan

PERAN PENGGUNAAN RUANG PUBLIK DAN AKTIVITAS FISIK MASYARAKAT DI GOR BUNG KARNO SEBAGAI INDIKATOR IMPLEMENTASI KOTA SEHAT PASCA PANDEMI

Penyakit COVID-19, yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, telah menimbulkan dampak serius di seluruh dunia sejak akhir tahun 2019. Hal ini mengakibatkan peningkatan kasus dan tekanan besar pada sistem kesehatan global. Untuk menghadapi pandemi ini, berbagai negara mulai menerapkan pembatasan sosial dan karantina. Di Indonesia, PSBB diterapkan untuk membatasi penyebaran virus. Namun, berkat vaksinasi dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan, kasus COVID-19 di Indonesia mulai menurun pada Januari 2022. Pandemi ini mendorong perlunya refleksi terhadap pendekatan kesehatan, dengan beberapa negara dan kota mulai mengembangkan konsep Kota Sehat sebagai respons terhadap krisis. Studi ini mengeksplorasi peran penggunaan ruang publik dan aktivitas fisik masyarakat di GOR Bung Karno sebagai indikator implementasi Kota Sehat Pasca Pandemi. Temuan menunjukkan bahwa ruang publik yang berada di GOR Bung Karno mendukung pengembangan kesehatan tetapi tingkat aktivitas fisik masyarakat masih rendah. Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat pasca pandemi melalui pembangunan Kota Sehat mencakup upaya meningkatkan kesadaran masyarakat serta pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan dan mendukung aktivitas fisik.

2024
👤 Penulis: Wichasta K Dimitya Noeradi
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Pandemi Covid-19 🏷️ Konsep Kota Sehat
Halaman 2 dari 3
💬