📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 56 dokumen

PENGARUH KONSENTRASI NITRAT PADA MEDIUM INKUBASI BACILLUS MEGATERIUM TERHADAP PEMBENTUKAN BIOFILM DAN BIOKOROSI

Indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia negara yang tepat untuk memanfaatkan sumber daya hayatinya untuk memproduksi biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang terbuat dari sumber minyak hayati yang tersusun dari rantai fatty acid methyl ester. Sistem penyimpanan biodiesel dalam jangka panjang seringkali menghadapi kendala seperti degradasi kualitas bahan bakar dan degradasi tempat penyimpanan biodiesel. Sifat higroskopisitas dari biodiesel menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme. Kemampuan mikroorganisme dalam memetabolisme hidrokarbon dapat menyebabkan timbulnya peristiwa biokorosi pada tangki penyimpanan biodiesel. Terdapat banyak faktor yang dapat memengaruhi peristiwa biokorosi, seperti konsentrasi biodiesel, komposisi biofilm, jenis mikroorganisme, kondisi lingkungan, dan faktor lainnya. Pada penelitian ini, dilakukan uji pengaruh konsentrasi nitrat pada medium inkubasi Bacillus megaterium terhadap pembentukan biofilm dan biokorosi baja karbon di sistem penyimpanan biosolar dengan kadar B35. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat memengaruhi pertumbuhan Bacillus megaterium serta pembentukan biofilm dan biokorosi. Pertumbuhan Bacillus megaterium dipengaruhi oleh keberadaan ion nitrat pada medium pertumbuhan yang berperan pada peristiwa pembelahan sel pertama. Kemampuan Bacillus megaterium dalam memproduksi biofilm ditemukan lebih tinggi pada medium yang kekurangan nitrat, dimana mikroba tersebut menghasilkan biofilm yang lebih pekat dan lebih terkonsentrasi oleh protein. Laju korosi rata-rata baja karbon pada variasi tanpa nitrat ditemukan lebih rendah daripada variasi dengan nitrat. Peristiwa ini berkaitan dengan jumlah biofilm yang terbentuk serta kemampuan Bacillus megaterium dalam memanfaatkan nitrat sebagai alternatif akseptor elektron. Morfologi biofilm pada logam ditemukan kurang menempel pada variasi dengan nitrat, dan ditemukan lebih menempel pada variasi kurang nitrat. Keberadaan nitrat menyebabkan terbentuknya korosi sumuran yang lebih banyak serta meningkatkan angka asam dari biosolar. Ditemukan bahwa produk korosi tidak dipengaruhi oleh kadar nitrat.

2025
👤 Penulis: Cynara Inayah Armida
🏷️ Korosi 🏷️ Biofilm 🏷️ Bacillus Megaterium

STUDI PENGENDALIAN BIOKOROSI DENGAN MINYAK ATSIRI PADA SISTEM PENYIMPANAN DIESEL CAMPURAN

Biodiesel merupakan produk bahan bakar nabati terbarukan yang ramah lingkungan, dengan penerapan di Indonesia berupa diesel campuran B35 (35%-v biodiesel dan 65%-v petrodiesel). Biodiesel pada diesel campuran memiliki kelemahan yang dapat menyebabkan adanya ketidakcocokan material antara tangki baja karbon dengan diesel campuran, yang berujung pada peristiwa biokorosi atau Microbiologically Influenced Corrosion (MIC). MIC adalah hal yang perlu diperhatikan, mengingat MIC berkontribusi sebanyak 40% dari peristiwa korosi pada industri minyak dan gas. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi peristiwa MIC pada sistem penyimpanan diesel campuran beserta metode pengendaliannya, yang dilakukan dengan 4 tahapan penelitian. Penelitian tahap pertama mempelajari karakteristik dan resiko dari peristiwa MIC pada sistem penyimpanan diesel campuran di bagian interfasa minyak-air oleh isolat kultur campuran dari lumpur diesel. Peristiwa MIC pada kondisi ini memicu korosi seragam pada baja karbon dengan laju sebesar 0,05 mm/tahun (kategori moderate). Biodegradasi bahan bakar juga teridentifikasi, yang ditandai oleh peningkatan angka asam 10 kali lipat, menjadi 2,34 mg KOH/g setelah inkubasi selama 21 hari, yang melampaui batas standar PT. Pertamina (0,6 mg KOH/g). Pertumbuhan mikroorganisme, korosi seragam, dan korosi sumuran lebih dominan terjadi pada fasa air daripada fasa minyak. Hal ini menyebabkan terdeteksinya dua lapisan pada permukaan baja karbon, yaitu biofilm pada bagian atas dan produk korosi pada bagian bawah. Korosi sumuran cenderung terjadi akibat pertumbuhan biofilm yang tidak merata. Di daerah interfasa minyak-air, teridentifikasi biofilm yang relatif rapat, yang dapat menghambat difusi oksigen dari fasa minyak ke fasa air sehingga memicu terbentuknya kondisi anaerobik. Tahap ini memberikan keilmuan terkait pengaruh dan karakteristik mikroorganisme yang terlibat dalam MIC pada tangki diesel campuran serta usulan mekanisme MIC yang terjadi. Penelitian tahap kedua mempelajari pengaruh minyak atsiri sebagai inhibitor-biokorosi alami dalam pengendalian MIC pada baja karbon, dengan mikroorganisme uji yaitu Pseudomonas sp. dan kultur campuran yang berasal dari lumpur diesel. Pada kedua jenis kultur, minyak atsiri clove bud pada konsentrasi 5.000 ppm menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dalam menekan pertumbuhan biofilm dibandingkan dengan minyak atsiri eucalyptus globulus 5.000 ppm, dengan penghambatan pertumbuhan mikroba variasi clove bud lebih baik di fasa air, sedangkan penghambatan pertumbuhan mikroba variasi eucalyptus lebih baik di fasa minyak. Sementara itu, minyak atsiri clove bud memiliki performa pengendalian MIC lebih baik pada kultur campuran, sedangkan minyak atsiri eucalyptus memiliki performa pengendalian MIC lebih baik pada Pseudomonas sp. Selain itu, kedua jenis minyak atsiri juga mampu menghambat korosi elektrokimiawi. Tahap ini memberikan keilmuan terkait performa minyak atsiri serta penentuan dosis terbaiknya sebagai inhibitor-biokorosi alami dalam pengendalian MIC, serta mekanisme inhibisi MIC dalam perannya sebagai inhibitor-biokorosi alami. Penelitian tahap ketiga mempelajari pengaruh minyak atsiri sebagai film protektif dalam pengendalian MIC pada baja karbon, dengan mikroorganisme uji yaitu kultur campuran yang berasal dari lumpur diesel. Film protektif yang digunakan adalah biopolimer Ca-alginat yang telah dicampur dengan minyak atsiri dengan konsentrasi 5.000 ppm (sesuai konsentrasi hambat minimum). Penggunaan biopolimer Ca-alginat untuk kedua variasi minyak atsiri menyebabkan peningkatan laju korosi seragam, baik pada kondisi dengan maupun tanpa keberadaan mikroba. Peningkatan ini diduga disebabkan oleh adanya ion-ion klorida pada biopolimer, yang dapat meningkatkan konduktivitas biopolimer dan mempercepat proses korosi. Meskipun demikian, kedua jenis biopolimer menunjukkan kinerja yang baik dalam menghambat distribusi sumuran pada permukaan baja karbon, dengan biopolimer minyak atsiri eucalyptus globulus 5.000 ppm menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi daripada biopolimer minyak atsiri clove bud 5.000 ppm. Tahap ini memberikan keilmuan terkait performa minyak atsiri sebagai film-protektif alami dalam pengendalian MIC, serta mekanisme inhibisi MIC dalam perannya sebagai film-protektif alami. Penelitian tahap keempat mengevaluasi kelayakan tangki penyimpanan B35. Jika dibandingkan dengan kondisi tanpa mikroba, variasi Pseudomonas sp. menghasilkan umur tangki yang lebih tinggi, sedangkan variasi kultur campuran yang lebih merepresentasikan kondisi nyata di lapangan menyebabkan umur tangki lebih pendek. Penambahan inhibitor biokorosi terbukti efektif dalam memperpanjang umur tangki penyimpanan secara signifikan, baik pada kondisi dengan mikroba dan tanpa mikroba. Namun, penggunaan film protektif pada penelitian ini justru menurunkan umur tangki penyimpanan, baik pada kondisi dengan mikroba dan tanpa mikroba. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan film protektif masih memerlukan optimasi lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara efektif. Secara umum, semua variasi menunjukkan umur tangki lebih dari 20 tahun, yang merupakan umur desain tangki pada umumnya. Namun, perlu diingat bahwa estimasi ini hanya mempertimbangkan laju korosi seragam. Padahal, MIC juga melibatkan korosi sumuran. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi kedalaman sumuran sehingga laju korosi sumuran dapat dihitung dan umur tangki dapat diestimasi ulang secara lebih akurat.

2025
👤 Penulis: Christian Aslan
🏷️ Mic (Microbiologically Influenced Corrosion) 🏷️ Korosi 🏷️ Penyimpanan Biodiesel

ANALISIS INSPEKSI BERBASIS RISIKO PADA TANGKI PENYIMPANAN SLOP OIL DI KILANG MINYAK

Tangki penyimpanan merupakan infrastruktur vital dalam industri minyak dan gas, tetapi memiliki risiko kegagalan akibat degradasi material seperti korosi. Kegagalan ini tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak pada keselamatan dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko dan menyusun program inspeksi yang optimal untuk tangki penyimpanan slop oil 63-T-110 di PT X. Analisis ini menggunakan metodologi inspeksi berbasis risiko untuk mengevaluasi kondisi aset secara sistematis dan memprioritaskan tindakan pemeliharaan. Penelitian ini menerapkan pendekatan semikuantitatif secara sistematis yang mengacu pada standar API 580 dan API 581 untuk menilai tingkat risiko. Data-data peralatan dan hasil inspeksi sebelumnya digunakan dalam penghitungan tingkat risiko. Penilaian risiko dilakukan dengan menghitung kemungkinan kegagalan (POF) berdasarkan faktor kerusakan yang aktif dan konsekuensi kegagalan (COF) yang berbasis finansial. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor kerusakan yang aktif pada tangki adalah penipisan dan korosi eksternal. Tingkat risiko tangki saat ini teridentifikasi berada pada kategori 3C (menengah), dengan nilai POF sebesar 0,00243 kegagalan/tahun dan COF senilai $785.370. Tanpa adanya intervensi melalui program inspeksi yang diperbarui, tingkat risiko tangki 63-T-110 diproyeksikan akan meningkat secara signifikan ke kategori 5C (menengah-tinggi) pada tahun 2035. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan implementasi program inspeksi baru yang mencakup teknik inspeksi kategori B dengan interval yang lebih pendek. Dengan penerapan program inspeksi usulan ini, diharapkan tingkat risiko dapat terkendali dan menjadi kategori 3C (menengah) pada tahun 2035.

2025
👤 Penulis: Nasrul Ikhwan
🏷️ Korosi 🏷️ Manajemen Risiko Tangki Minyak 🏷️ Analisis Kecerdasan Buatan Dalam Industri Minyak

PENGARUH KONSENTRASI NITRAT PADA MEDIUM INKUBASI BACILLUS MEGATERIUM TERHADAP PEMBENTUKAN BIOFILM DAN BIOKOROSI

Indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia negara yang tepat untuk memanfaatkan sumber daya hayatinya untuk memproduksi biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang terbuat dari sumber minyak hayati yang tersusun dari rantai fatty acid methyl ester. Sistem penyimpanan biodiesel dalam jangka panjang seringkali menghadapi kendala seperti degradasi kualitas bahan bakar dan degradasi tempat penyimpanan biodiesel. Sifat higroskopisitas dari biodiesel menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme. Kemampuan mikroorganisme dalam memetabolisme hidrokarbon dapat menyebabkan timbulnya peristiwa biokorosi pada tangki penyimpanan biodiesel. Terdapat banyak faktor yang dapat memengaruhi peristiwa biokorosi, seperti konsentrasi biodiesel, komposisi biofilm, jenis mikroorganisme, kondisi lingkungan, dan faktor lainnya. Pada penelitian ini, dilakukan uji pengaruh konsentrasi nitrat pada medium inkubasi Bacillus megaterium terhadap pembentukan biofilm dan biokorosi baja karbon di sistem penyimpanan biosolar dengan kadar B35. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat memengaruhi pertumbuhan Bacillus megaterium serta pembentukan biofilm dan biokorosi. Pertumbuhan Bacillus megaterium dipengaruhi oleh keberadaan ion nitrat pada medium pertumbuhan yang berperan pada peristiwa pembelahan sel pertama. Kemampuan Bacillus megaterium dalam memproduksi biofilm ditemukan lebih tinggi pada medium yang kekurangan nitrat, dimana mikroba tersebut menghasilkan biofilm yang lebih pekat dan lebih terkonsentrasi oleh protein. Laju korosi rata-rata baja karbon pada variasi tanpa nitrat ditemukan lebih rendah daripada variasi dengan nitrat. Peristiwa ini berkaitan dengan jumlah biofilm yang terbentuk serta kemampuan Bacillus megaterium dalam memanfaatkan nitrat sebagai alternatif akseptor elektron. Morfologi biofilm pada logam ditemukan kurang menempel pada variasi dengan nitrat, dan ditemukan lebih menempel pada variasi kurang nitrat. Keberadaan nitrat menyebabkan terbentuknya korosi sumuran yang lebih banyak serta meningkatkan angka asam dari biosolar. Ditemukan bahwa produk korosi tidak dipengaruhi oleh kadar nitrat.

2025
👤 Penulis: Yesha Aurellya
🏷️ Korosi 🏷️ Biofilm 🏷️ Bacillus Megaterium

PENGARUH KOROSI TERHADAP PERILAKU TENSION STIFFENING BETON GEOPOLIMER DENGAN PENAMBAHAN SERAT

Pada struktur beton bertulang, kekuatan tarik beton sering kali menjadi aspek yang diabaikan dalam proses desain, dengan kekuatan tarik tulangan baja yang lebih ditekankan. Namun, dengan beton bertulang yang sejauh ini masih menjadi alternatif yang lebih mudah diakses bahkan dalam kondisi sedang hingga keras, kemampuan beton untuk menahan variabel yang dapat menyebabkan korosi pada tulangan di dalamnya menjadi sangat penting. Tension stiffening sering kali merupakan aspek yang memiliki implikasi besar dalam kinerja beton bertulang tetapi jarang disebutkan secara eksplisit dalam peraturan bangunan, di mana parameter lain seperti lebar retak dan jarak retak digunakan sebagai penggantinya. Dalam penelitian ini, spesimen yang terbuat dari beton geopolimer tanpa serat dan yang diperkuat dengan serat mengalami prosedur korosi dipercepat yang diukur setiap hari dengan menggunakan hukum Faraday untuk memperkirakan tingkat korosi selama proses percepatan. Spesimen kemudian menjalani uji tarik uniaksial untuk menentukan jumlah kapasitas yang hilang akibat korosi tulangan sebelum akhirnya menjalani pemeriksaan X-Ray MicroCT untuk menyelidiki mekanisme kegagalan pada tingkat mikrostruktur. Dapat disimpulkan bahwa beton geopolimer memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap korosi dengan serat yang semakin meningkatkan karakteristik ini.

2025
👤 Penulis: Romi Arkan
🏷️ Korosi 🏷️ Beton Geopolimer 🏷️ Tulangan Beton

PENGARUH VARIABEL PROSES ANODISASI DALAM LARUTAN ASAM TARTARAT-SULFAT TERHADAP KETAHANAN KOROSI LAPISAN ANODIZE PADA PADUAN AL 2024 T3.

Salahsatu paduan aluminium yang banyak digunakan pada pesawat terbang adalah paduan Al 2024 T3. Paduan aluminium ini mempunyai unsur pemadu utama tembaga dengan kandungan sekitar 3-6% yang berfungsi memperbaiki sifat mekanik paduan. Paduan ini mempunyai kekurangan pada ketahanan korosi, khususnya ketahanan terhadap korosi setempat terutama korosi sumuran (pitting corrosion). Untuk meningkatkan ketahanan korosi paduan ini, umumnya dilakukan proses anodisasi. Proses anodisasi paduan aluminium dalam larutan asam tartaratsulfat merupakan salahsatu perkembangan proses anodisasi untuk mendapatkan proses yang lebih ramah lingkungan dan menghasilkan lapisan anodize dengan kualitas dan ketahanan korosi yang baik. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh variabel proses anodisasi paduan Al 2024 T3 yang diperoleh dari PT. Dirgantara Indonesia dalam larutan asam tartarat-sulfat terhadap ketebalan, berat dan ketahanan korosi lapisan anodize. Serangkaian percobaan anodisasi dilakukan dengan variasi tegangan (10 V, 15 V, 20 V), suhu (20, 30, 40oC), dan waktu anodisasi (20, 40, 60 menit). Sebelum dilakukan proses anodisasi, terlebih dahulu dilakukan preparasi permukaan (surface preparation) benda kerja yang terdiri dari penghalusan permukaan dengan kertas abrasif dari grid 1000 sampai 2000 diikuti pembilasan dalam ultrasonic cleaner menggunakan alkohol 95% selama 3 menit dan alkaline cleaning menggunakan larutan TURCO 4215 NCLT serta proses deoxidizing menggunakan larutan ARDROX 295 GD. Setelah benda kerja selesai dianodisasi, dilakukan sealing dengan cara mencelupkan benda kerja yang telah dianodisasi dalam larutan alodin pada suhu kamar selama 1 menit. Ketebalan lapisan anodize diukur pada tiga titik yang berbeda lalu dihitung ketebalan rata-rata-nya. Pengujian ketahanan korosi lapisan anodize dilakukan dengan uji sembur garam selama 336 jam dan pengukuran kurva polarisasi menggunakan potensiostat. Pengujian sembur garam bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan lapisan anodize terhadap korosi sumuran (pitting corrosion) dan menentukan kerapatan pit (jumlah pit per satuan luas), sementara pengukuran kurva polarisasi dengan potensiostat dilakukan untuk memperoleh data-data parameter korosi yang meliputi potensial korosi (Ekor), rapat arus korosi (ikor), dan potensial pitting (Epit). Morphologi lapisan anodize dan kandungan unsur-unsur dalam lapisan dianalisis dengan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Energy Dispersive X-Ray (EDX). Untuk mengevaluasi signifikansi pengaruh variabel tegangan (A), suhu (B) dan waktu (C) serta interaksi antar variabel terhadap berat dan ketebalan lapisan anodize dilakukan analysis of variance (ANOVA) 3 faktor. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tegangan, suhu dan waktu proses anodisasi berpengaruh terhadap ketebalan, berat dan ketahanan korosi lapisan anodize dari proses anodisasi paduan Al 2024 T3 dalam larutan asam tartarat-sulfat. Berdasarkan hasil perhitungan ANOVA 3 faktor, urutan variabel yang paling berpengaruh terhadap ketebalan dan berat lapisan anodize yaitu suhu (B), tegangan (A), waktu (C), interaksi tegangan-suhu (AB), interaksi suhu-waktu (BC), interaksi tegangan-suhu-waktu (ABC) dan interaksi tegangan-waktu (AC). Faktor yang paling berpengaruh terhadap kerapatan pitting adalah suhu (A), diikuti interaksi suhu-tegangan (AB), tegangan (B), interaksi suhu-waktu (BC), waktu (C), interaksi tegangan-suhu-waktu (ABC) dan interaksi tegangan-waktu (AC). Kerapatan pit, rapat arus korosi (ikor), potensial korosi (Ekor) dan potensial pitting (Epit) bergantung pada ketebalan lapisan anodize. Lapisan anodize dengan ketebalan di atas 3 ?m tidak terbentuk pitting setelah dilakukan uji sembur garam selama 336 jam. Persamaan regresi hubungan kerapatan pit (y) dan ketebalan lapisan anodize (x) adalah y = 0.0023x2 - 0.0381x + 0.1341. Proses anodisasi dalam larutan asam tartarat-sulfat (TSAA) pada paduan Al 2024 T3 menghasilkan lapisan anodize yang memenuhi standard spesifikasi MIL-A-8625 F yaitu jumlah pit kurang dari 15 pit per 9 dm2 atau 5 pit per 2 dm2 setelah dilakukan uji sembur garam selama 336 jam. Oleh karena itu, metode ini dapat dijadikan sebagai alternatif dari proses chromic acid anodizing (CAA) karena lebih ramah lingkungan, menggunakan suhu yang lebih rendah dan menghasilkan lapisan yang tahan terhadap korosi sumuran.

2025
👤 Penulis: Wahab
🏷️ Korosi 🏷️ Proses Anodisasi 🏷️ Al 2024 T3

SIMULASI MENGGUNAKAN MONO ETHYLENE GLYCOL (MEG) UNTUK REDUKSI SLUGGING, KOROSI, DAN PEMBENTUKAN HIDRAT PADA JARINGAN PIPA LINE A STRUKTUR LAPANGAN JAMBI

This study investigates issues in flow assurance focusing on slugging, corrosion, and hydrate formation in the pipelines of line A in structure X of the Jambi field, which consists of 14 operational wells and 4 manifolds. Pipelines themselves are the most common and safe method used for transporting hydrocarbons. Understanding flow assurance is crucial to ensure fluid flow during its transfer from the well to the final storage. In this study, simulations were conducted using transient simulation software. The simulation results indicate that 14 wells experienced slugging, 7 wells had already deposition in the pipelines, and the average corrosion rate exceeding 0.48 mm/yr. However, no hydrate formation occurred in this field. Following this, a sensitivity analysis was performed on the pipeline diameter and inhibitor injection to assess their effects on slugging and corrosion. The simulation results again shows that as the pipeline diameter increases, there is more space for the fluid to move within the pipeline, resulting in a decrease in the liquid hold-up fraction and an increase the area of pipeline exposed to the fluid. This will subsequently lead to an increase in the corrosion rate. Conversely, as the pipeline diameter decreases, the space available for the fluid becomes more limited, causing the liquid hold-up fraction to increase and the area of the pipeline exposed to the fluid to decrease. This will lead to a reduction in the corrosion rate. Changes in pipeline diameter also do not impact slugging. Inhibitor (mono ethylene glycol) injection proves to be an efficient method for addressing both slugging and corrosion. The inhibitor (mono ethylene glycol) will bind water molecules in the flowing fluid, thereby reducing the water content in the pipeline. The reduction in water content will maintain the stability of the flow in the pipeline, allowing slugging to be mitigated. Additionally, the reduction in water content can lower the corrosion rate, which in this case becomes below 0.48 mm/yr. This study contributes to the understanding of fluid dynamics and pipeline integrity in the oil and gas industry and provides practical solutions to industry challenges.

2025
👤 Penulis: Alnobest Son Pratama
🏷️ Slugging 🏷️ Korosi 🏷️ Hidrokat

EVALUASI PENGGUNAAN LAPISAN METAL MATRIX COMPOSITE NICR, CR3C2, DAN WC12%CO DENGAN METODE HIGH VELOCITY OXYGEN FUEL (HVOF) UNTUK APLIKASI BOILER BATU BARA PLTU

Pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) terdapat komponen yang disebut boiler, dimana pada boiler ini sering terjadi kerusakan pecahnya dinding pipa boiler yang dapat disebabkan oleh korosi, erosi, dan overheat. Sehingga diperlukan upaya untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melapisi pipa boiler dengan material yang tahan korosi, erosi, dan temperatur tinggi. Diantara material pelapis yang biasa dilapiskan untuk komponen pipa boiler adalah material yang tergolong Metal Matrix Composite (MMC). Material MMC yang digunakan yaitu nickel chromium (NiCr), chromium carbide (Cr3C2), dan tungsten carbide cobalt (WC12%Co) dengan variasi jenis powder, ukuran powder, dan komposisi powder. Pada penelitian ini pelapisan pada material substrate yang digunakan sebagai pipa boiler menggunakan High Velocity Oxygen Fuel (HVOF) Thermal Spray. Fokus penelitian ini adalah pada evaluasi test coupon hasil pelapisan yang telah diujikan di boiler PLTU pada bagian economizer. Pada penelitian kali ini akan dilakukan evaluasi pada test coupon yang telah diambil untuk dilakukan pengujian mekanik dan karakterisasi material. Test coupon yang telah diambil selanjutnya dilakukan proses preparasi agar didapatkan spesimen untuk pengujian dan karakterisasi material. Metodologi pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengujian dan karakterisasi spesimen yaitu Pengujian Keras (Hardness Test), Pengujian Kekasaran Permukaan (surface roughness test), Pengamatan Mikroskop Optik, karakterisasi X-Ray Diffraction, dan Scanning Electron Microscope – Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS). Setelah pengujian dan karakterisasi dilakukan pula analisis terhadap data hasil pengujian dan karakterisasi. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa MMC yang memiliki performa paling baik adalah NiCr + Cr3C2 karena hampir tidak memiliki lapisan coating yang hilang.

2025
👤 Penulis: Miftah Alfiqri
🏷️ Korosi 🏷️ Erosi 🏷️ Hidrolik

STUDI DAMPAK EKONOMI PADA POTENSI PERUBAHAN PEMELIHARAAN DUKUNGAN PENCEGAHAN (PSM) BERBASIS KOROSI SELAMA UMUR TAMBANG (LOM)

GBC Rail Haulage Level merupakan salah satu level produksi yang memfasilitasi pengangkutan bijih hasil ekstraksi dari level ekstraksi ke crusher menggunakan lokomotif. Pada tahun 2019, sebuah laporan konsultan merekomendasikan bahwa 18.000m penyangga kabel di level GBC Rail Haulage harus diganti antara tahun 2025 – 2045 untuk memastikan bahwa level operasional dan produksi dapat tercapai. Biaya langsung untuk penggantian baut di terowongan sepanjang 18.000 m tidak akan merangkum biaya Preventative Support Maintenance (PSM) yang sebenarnya dan studi biaya harus mencakup area detail, jenis penyangga, serta waktu rehabilitasi yang diperlukan. Estimasi biaya konsultan dianggap terlalu tinggi, sehingga memerlukan eksplorasi opsi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif yang dapat memberikan biaya yang lebih baik dibandingkan dengan rekomendasi konsultan dan seberapa besar potensi penghematan biaya dari alternatif tersebut. Tinjauan pustaka, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan wawancara semi terstruktur dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan alternatif. Analisis SWOT, evaluasi ground support dan pembaharuan laju korosi digunakan untuk memilih penyangga alternatif, analisis biaya kemudian dilanjutkan untuk melihat potensi penghematan biaya. Berdasarkan analisis tersebut, baut kabel 17,8 mm yang sudah di-grouting dipilih untuk diaplikasikan di area dengan korosi sedang hingga ekstrem. Setelah dilakukan perhitungan biaya, solusi dari penghematan biaya ini adalah sebesar 40% dari rekomendasi yang di buat oleh konsultan.

2025
👤 Penulis: Rudy Ekberth Paskalis Belseran
🏷️ Korosi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Biaya Operasional Tambang

ANALISIS PERILAKU KOROSI PADA WELDED STAINLESS STEEL 316 DENGAN PERBEDAAN PERLAKUAN PERMUKAAN DALAM LINGKUNGAN TIMBAL SUHU TINGGI OPERASIONAL LEADCOOLED FAST REACTOR (LFR)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku korosi pada stainless steel 316 yang dilas dengan variasi perlakuan permukaan dalam lingkungan timbal cair (Pb) bersuhu tinggi, seperti yang dihadapi dalam kondisi operasional Lead-Cooled Fast Reactor (LFR). Uji material dilakukan selama 100 jam pada suhu 550? untuk mensimulasikan lingkungan LFR dan dalam kondisi oksigen tersaturasi. Penelitian ini menyoroti perbedaan pengaruh perlakuan permukaan berupa pemolesan terhadap ketahanan korosi, terutama pada area lasan dan base metal. Hasil pengujian menunjukkan pembentukan lapisan oksida yang heterogen di permukaan material, yang disertai dengan fenomena dissolution pada beberapa area. Lapisan oksida ini cenderung lebih tebal pada material tanpa perlakuan permukaan, namun distribusinya tidak merata. Hasil analisis mengindikasikan bahwa lapisan oksida mampu memperlambat laju korosi. Selain itu, ditemukan bahwa perlakuan permukaan menghilangkan lapisan oksida awal sehingga pada kondisi kekurangan oksigen akan menghambat pertumbuhan lapisan oksida yang lebih seragam dan meningkatkan laju dissolution. Studi ini memberikan wawasan penting mengenai pengaruh perlakuan permukaan terhadap ketahanan korosi stainless steel 316 dalam lingkungan timbal bersuhu tinggi. Temuan ini relevan untuk pengembangan strategi mitigasi korosi dan pemilihan material dalam desain LFR.

2025
👤 Penulis: Yassir Sairo Amri
🏷️ Korosi 🏷️ Stainless Steel 316 🏷️ Lead-Cooled Fast Reactor (Lfr)

EVALUASI KEGAGALAN BLADE L-2 PADA LOW PRESSURE TURBINE PLTU SURALAYA UNIT 3 KAPASITAS 400 MW

Penelitian ini berfokus pada evaluasi kegagalan blade L-2 pada low pressure turbine di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya Unit 3 dengan kapasitas 400 MW. Kegagalan pada blade turbin merupakan masalah kritis yang dapat mengakibatkan kerugian besar, baik dari segi operasional maupun finansial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan, menganalisis mekanisme kerusakan, dan memberikan rekomendasi untuk mencegah terjadinya kegagalan serupa di masa depan. Metode penelitian yang digunakan meliputi inspeksi visual, analisis metalografi, uji kekerasan, dan analisis komposisi kimia. Data operasional turbin juga dikaji untuk memahami kondisi kerja dan beban yang dihadapi oleh blade. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan blade L-2 disebabkan oleh kombinasi faktor kelelahan material, korosi, dan getaran mekanis. Analisis metalografi mengungkapkan adanya retakan mikro pada permukaan blade yang diakibatkan oleh kelelahan material. Selain itu, lingkungan operasi yang korosif turut mempercepat proses degradasi material. Rekomendasi yang diberikan mencakup peningkatan program pemeliharaan prediktif, penggunaan material dengan ketahanan korosi dan kelelahan yang lebih baik, serta perbaikan desain blade untuk mengurangi getaran mekanis. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat meningkatkan keandalan dan umur pakai turbin, serta meminimalisir risiko kegagalan di masa mendatang.

2025
👤 Penulis: Usman Hadi Prabowo
🏷️ Korosi 🏷️ Mekanisme Kerusakan Turbin 🏷️ Pemeliharaan Prediktif

PENGARUH PENAMBAHAN DOPING ZR TERHADAP PERILAKU KOROSI PADUAN ODS FERITIK-MARTENSITIK FE-CR-AL-W-TI-ZR-Y?O? DI LINGKUNGAN PB PADA TEMPERATUR 600 °C

Energi nuklir dikenal sebagai sumber energi ramah lingkungan dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan sumber energi lainnya. Salah satu inovasi terbaru dalam teknologi nuklir adalah Lead-Cooled Fast Reactor (LFR), yang menggunakan timbal (Pb) sebagai pendingin utama. Timbal menawarkan keunggulan seperti konduktivitas termal yang tinggi dan stabilitas kimia pada temperatur tinggi. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah korosi pada material, yang dapat mengurangi umur pakai dan keamanan reaktor. Untuk mengatasi tantangan ini, material berbasis Oxide Dispersion Strengthened (ODS) steel muncul sebagai kandidat yang menjanjikan karena memiliki ketahanan yang unggul terhadap temperatur tinggi, korosi, dan oksidasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan zirkonium (Zr) pada material Fe-9Cr-5Al-1W-0,3Ti-xZr0,35Y?O? terhadap morfologi, fasa, distribusi elemen, dan ketahanan korosi di lingkungan Pb. Material disintesis menggunakan metode mechanical alloying dengan planetary ball milling (PBM) selama 8 jam. Setelah proses milling, serbuk di-press dan disinter pada temperatur 1200°C selama 2 jam untuk membentuk material solid. Karakterisasi dilakukan pada sampel dalam bentuk serbuk dan solid. SEM-EDS digunakan untuk menganalisis morfologi dan distribusi elemen, sementara XRD digunakan untuk mengidentifikasi fasa yang terbentuk. Analisis menunjukkan bahwa material serbuk memiliki morfologi yang tidak beraturan dengan kecenderungan aglomerasi. Ukuran rata-rata partikel serbuk bervariasi antar sampel, yaitu 8,468 µm untuk Sampel 1 (0% Zr), 8,049 µm untuk Sampel 2 (0,5% Zr), 10,103 µm untuk Sampel 3 (1% Zr), dan 9,133 µm untuk Sampel 4 (1,5% Zr). Distribusi elemen yang homogen pada material solid dikonfirmasi melalui SEM-EDS, menunjukkan bahwa proses sintering berlangsung secara efektif. Fasa awal yang terdeteksi meliputi alfa-ferit dan martensit, yang berkontribusi pada kekuatan mekanik tinggi serta ketahanan terhadap korosi. Uji korosi dilakukan dalam dua kondisi lingkungan: tertutup (kekurangan oksigen) dan terbuka (oksigen jenuh). Pada lingkungan tertutup, Sampel 1 (0% Zr) dan Sampel 2 (0,5% Zr) tidak membentuk lapisan oksida pelindung, sehingga Pb menembus hingga kedalaman masing-masing 5,741 µm dan 11,917 µm. Sebaliknya, pada Sampel 3 (1% Zr) dan Sampel 4 (1,5% Zr), terbentuk lapisan oksida Fe dengan ketebalan masing-masing 24,119 µm dan 31,806 µm, yang efektif mencegah penetrasi Pb. Pada Sampel 4, ditemukan tambahan lapisan spinel Fe-Cr dengan ketebalan 9,133 µm yang berfungsi sebagai lapisan protektif tambahan. Pada lingkungan oksigen jenuh, pengaruh Zr semakin terlihat signifikan. Sampel dengan kandungan Zr rendah (0% dan 0,5%) menunjukkan lapisan oksida yang lebih tipis. Sebaliknya, sampel dengan kandungan Zr lebih tinggi (1% dan 1,5%) menghasilkan lapisan oksida yang lebih tebal. Sampel 3 (1% Zr) menunjukkan ketebalan oksida yang optimal dengan diffusion zone yang luas sebesar 46,368 µm. Namun, pada Sampel 4 (1,5% Zr), meskipun lapisan oksida lebih tebal, diffusion zone lebih sempit (26,373 µm) akibat saturasi Zr, yang menghambat mekanisme difusi. Saturasi ini juga menyebabkan segregasi Zr pada batas butir, sehingga membatasi migrasi elemen Fe dan Cr menuju permukaan material. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan Zr secara signifikan memengaruhi mikrostruktur dan ketahanan korosi material ODS. Konsentrasi Zr sebesar 1% menghasilkan kondisi optimal dengan lapisan spinel Fe-Cr yang stabil, diffusion zone luas, dan ketahanan terbaik terhadap penetrasi Pb. Pada konsentrasi Zr sebesar 1,5%, ditemukan penurunan ketebalan lapisan oksida Fe dan diffusion zone, yang berpotensi memengaruhi ketahanan material dalam jangka panjang, seperti yang terlihat dari penetrasi hingga kedalaman 37,230 µm. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang pengaruh Zr terhadap ketahanan korosi material ODS di lingkungan Pb, serta menjadi dasar bagi pengembangan material tahan korosi untuk aplikasi pada reaktor nuklir generasi IV, khususnya Lead-Cooled Fast Reactor (LFR).

2025
👤 Penulis: Hakimul Wafda
🏷️ Korosi 🏷️ Reaktor Nuklir Lead-Cooled Fast Reactor (Lfr)

PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP KETAHANAN KOROSI PADUAN ALSI10MG YANG DIFABRIKASI MENGGUNAKAN SELECTIVE LASER MELTING PADA LARUTAN KOH

Teknologi manufaktur aditif atau additive manufacturing (AM) telah menadapatkan perhatian yang meningkat dalam dekade terakhir karena potensinya untuk menghasilkan struktur atau geometri yang kompleks dengan toleransi kecil, biaya menarik, dan waktu pemasaran yang singkat. Logam paduan aluminium banyak digunakan dalam industri transportasi dan elektronik karena ketahanan korosi yang baik dalam atmosfer biasa. Namun, paduan AlSi10Mg hasil proses AM memiliki kekasaran permukaan yang tinggi dan tegangan sisa termal yang berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap korosi. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari pengaruh perlakuan panas terhadap struktur mikro dan ketahanan korosi paduan AlSi10Mg yang diperoleh menggunakan Selective Laser Melting (SLM). Ketahanan korosi dievaluasi melalui uji korosi di larutan KOH. Struktur mikro dan morfologi spesimen dianalisis dengan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) yang dilengkapi Energy Dispersive X-Ray (EDS). Pada penelitian ini dilakukan uji korosi menggunakan metode Open Circuit Potential (OCP), Cyclic Polarization, Elecctrochemical Impedance Spectroscopy (EIS), dan Imersi pada larutan KOH 0,5 M, 1,5 M, dan 2,5 M. Perlakuan panas solution treatment dan aging mengubah struktur mikro paduan AlSi10Mg dari fish scale menjadi matriks ?-Al dengan presipitat partikel silikon. Hasil OCP menunjukkan bahwa sampel hasil fabrikasi memiliki kecenderungan terkorosi yang lebih tinggi. Hasil cyclic menunjukkan kecenderungan pitting pada hanya larutan KOH 0,5 M. Hasil plotting EIS menunjukkan perlakuan panas tidak mengubah resistansi film pasif. Hasil imersi menunjukkan pengurangan massa yang lebih rendah pada hasil fabrikasi sebesar 15-50%.

2025
👤 Penulis: Mahesa Kanigara Kasiyanto
🏷️ Korosi 🏷️ Additive Manufacturing 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Logam

STUDI KOROSI TEMPERATUR TINGGI PADUAN FE-9CR-XZR DI LINGKUNGAN GAS AR-20% CO2: PENGARUH KONSENTRASI ZR DAN TEMPERATUR

Oxyfuel Combustion merupakan inovasi yang dapat meningkatkan produksi listrik pada PLTU. Akan tetapi, inovasi tersebut dapat meningkatkan gas CO2 dan temperatur yang dapat merusak komponen PLTU berbahan paduan Fe-9Cr. Oleh karena itu, diperlukan adanya unsur pemadu tambahan; seperti Ce, La, dan Mn; untuk meningkatkan ketahanan oksidasi paduan Fe-9Cr. Penambahan unsur Zr belum pernah dilakukan sehingga dicoba sebagai alternatif karena unsur Zr memiliki ketahanan oksidasi temperatur tinggi yang umumnya digunakan pada cladding reaktor nuklir. Pada penelitian ini, paduan Fe-9Cr-xZr dibuat menggunakan metode arc melting dalam single electric arc furnace (EAF) dalam skala lab. Paduan dibuat dengan variasi konsentrasi Zr sebanyak 1 wt%, 3 wt%, dan 5 wt%. Lalu, paduan dioksidasi pada variasi temperatur 700 oC, 800 oC, dan 900 oC dalam lingkungan gas Ar-20% CO2 selama 4 hari. Lingkungan Ar-20% CO2 dipilih untuk mendekati lingkungan pada oxyfuel power plant. Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan unsur Zr pada paduan Fe-9Cr-xZr berbanding lurus dengan ketahanan oksidasi. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa peningkatan temperatur berbanding lurus dengan ketebalan kerak oksida. Kerak oksida yang dihasilkan pada penelitian ini adalah FeO, Fe3O4, dan Fe2O3. Ketahanan oksidasi pada setiap temperatur ditentukan dari energi aktivasi dari paduan Fe-9Cr-xZr, mikrostruktur, serta jenis dan ketebalan kerak oksida yang terbentuk. Didapatkan nilai Q Fe-9Cr-1Zr, Fe-9Cr-3Zr, dan Fe-9Cr-5Zr, yaitu 1,255 kJ/mol, 0,960 kJ/mol, dan 0,841 kJ/mol.

2024
👤 Penulis: Jevon Aryo Parikesit
🏷️ Korosi 🏷️ Paduan Ferroalumunium 🏷️ Oksidasi Buatan

PEMBUATAN, KARAKTERISASI STRUKTUR MIKRO, DAN SIFAT KOROSI PADUAN ZN-CA PADA APLIKASI IMPLAN TULANG

Penelitian mengenai logam biodegradable semakin berkembang karena sifatnya yang mampu terdegradasi di dalam tubuh, sehingga tidak memerlukan pembedahan ulang untuk pengangkatan implan. Magnesium memiliki laju korosi yang terlalu cepat, sementara laju korosi zinc terlalu lambat dibandingkan dengan laju korosi yang ideal. Penelitian ini dilakukan dengan menambahkan unsur kalsium pada zinc untuk menghasilkan material dengan laju korosi yang lebih sesuai dengan proses penyembuhan tulang. Paduan Zn-Ca diproses dengan pengecoran, kemudian dikarakterisasi menggunakan mikroskop optik, Scanning Electron Microscope (SEM), dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS). Untuk mengetahui laju korosi paduan Zn-Ca, dilakukan uji imersi pada larutan Simulated Body Fluid (SBF) dan uji polarisasi Tafel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan unsur kalsium ke dalam paduan zinc meningkatkan laju korosi, akibat terbentuknya fasa intermetalik CaZn13 yang menjadi titik inisiasi korosi. Uji keras Vickers memperlihatkan bahwa nilai kekerasan meningkat seiring penambahan kalsium, yang menunjukkan peningkatan sifat mekanik.

2024
👤 Penulis: Estri Mastuti Prabaswari L
🏷️ Korosi 🏷️ Paduan Zn-Ca 🏷️ Biodegradable Implant
Halaman 2 dari 4
💬