📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 30 dokumen

ANALISIS EMISI GAS RUMAH KACA DARI PENINGKATAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR PEMBUANGAN TERBUKA MENJADI LAHAN URUK TERKENDALI DAN SANITER DI TPA SARIMUKTI

TPA Sarimukti sebagai tempat pemrosesan akhir utama di wilayah Bandung Raya, masih beroperasi dengan sistem pembuangan terbuka yang berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca (GRK). Praktik ini meningkatkan risiko pencemaran air tanah akibat air lindi serta pelepasan metana (CH?), karbon dioksida (CO?) dan dinitrogen oksida (N?O) yang merupakan salah satu faktor utama pemanasan global. Penelitian ini mengkaji potensi reduksi emisi gas rumah kaca dari konversi TPA Sarimukti menjadi lahan uruk terkendali dan saniter, serta skenario pengoptimalan melalui pengadaan unit pengolahan sampah. Penelitian dilakukan dengan metode perhitungan yang mengacu pada Intergovernmental Panel on Climate Change Guidelines tier 1 (semi-tier 2) menggunakan data komposisi sampah lokal, kadar air, dan nilai degradable organic carbon (DOC), serta divalidasi dengan hasil pengukuran konsentrasi gas metana di lapangan. Estimasi emisi gas rumah kaca dihitung berdasarkan baseline kondisi eksisting dan baseline pembuangan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca pada kondisi eksisting mencapai 7,44 Gg CH4/tahun (200,99 Gg CO2e/tahun), sedangkan pada kondisi pembuangan terbuka mencapai 10,52 Gg CH4/tahun (283,92 Gg CO2e/tahun). Penerapan lahan uruk terkendali dapat menurunkan emisi menjadi 5,26 Gg CH4/tahun (141,96 Gg CO2e/tahun) dengan persentase penurunan emisi 29,37% dari baseline eksisting dan 50% dari baseline pembuangan terbuka. Penerapan lahan uruk saniter menghasilkan emisi terendah sebesar 1,31 Gg CH4/tahun (35,49 Gg CO2e/tahun) dengan persentase penurunan emisi 82,34% dari baseline eksisting dan 87,5% dari baseline pembuangan terbuka.Skenario A pengolahan sampah tidak mampu mereduksi emisi GRK dari kondisi eksisting atau pun pembuangan terbuka tetapi mampu mengolah 100% timbulan sampah. Kemudian, skenario B mampu mereduksi emisi melalui pengolahan parsial menjadi 80,30 Gg CO2e/tahun (60,18%) dengan baseline eksisting dan 87,76 Gg CO2e/tahun (69,13%) dengan baseline pembuangan terbuka, tetapi masih menyisakan 60% timbulan di lahan uruk.

2025
👤 Penulis: Azharie Fairuz Novandhia
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS MULTIKRITERIA TERHADAP ALTERNATIF METODE PEMANFAATAN LIMBAH FLY ASH & BOTTOM ASH (FABA) DI PLTU TARAHAN LAMPUNG MENGGUNAKAN ANALYTICAL NETWORK PROCESS

Fly ash dan bottom ash (FABA), sebagai residu pembakaran batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola secara berkelanjutan. Di sisi lain, karakteristiknya memungkinkan FABA dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alternatif metode pemanfaatan FABA yang optimal di PLTU Tarahan, Lampung, serta menilai relevansi dan keterkaitan antar kriteria dan subkriteria penilaian melalui pendekatan Analytical Network Process (ANP). Sebelum tahap ANP, dilakukan identifikasi kriteria, subkriteria, dan alternatif melalui studi literatur dan wawancara mendalam, diikuti analisis keterkaitan antar subkriteria menggunakan metode Driving & Dependence Power Analytic (DDPA). Hasil DDPA menghasilkan delapan subkriteria yang digunakan untuk membentuk struktur jaringan ANP. Data diperoleh dari kuesioner perbandingan berpasangan yang melibatkan 23 responden ahli dari kalangan akademisi/peneliti, praktisi, dan pemerintah, kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SuperDecisions®. Empat alternatif dianalisis: bahan campuran pembenah tanah, campuran mortar, bahan pembuatan pupuk biosilika, dan pengganti karbon aktif. Hasil menunjukkan bahwa subkriteria permintaan pasar (0,148) dan penerimaan masyarakat (0,148) paling dominan dalam pengambilan keputusan. Alternatif campuran mortar menempati prioritas utama (0,37167), diikuti bahan pembenah tanah (0,26544), pupuk biosilika (0,21986), dan karbon aktif (0,14303).Studi ini menyajikan pendekatan evaluatif terpadu, melengkapi studi sebelumnya yang bersifat parsial, dan merekomendasikan pengembangan mortar sebagai strategi prioritas dalam kebijakan pemanfaatan FABA di PLN dengan tetap mempertimbangkan potensi adaptasi alternatif lainnya secara bertahap. Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan FABA di lingkungan PLN.

2025
👤 Penulis: Adiksa Insan Mutaqin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Multikriterial 🏷️ Manajemen Lingkungan

EVALUASI PENGGUNAAN PESTISIDA MENUJU PENERAPAN POLLUTANT RELEASE TRANSFER REGISTERS(PRTRS) DI DAS CITARUM HULU

Pollutant Release and Transfer Registers (PRTRs) merupakan sistem inventarisasi polutan berbasis data publik yang mencatat jenis, jumlah, dan sumber pelepasan polutan ke lingkungan. Sistem ini mendukung transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan lingkungan serta dapat membantu Indonesia memenuhi standar lingkungan internasional, termasuk dalam proses aksesi ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan pestisida di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu sebagai dasar penerapan PRTRs. Fokus kajian meliputi identifikasi jenis, distribusi, dan pola penggunaan pestisida di sektor pertanian; estimasi emisi pestisida melalui pemodelan runoff; serta analisis kesiapan sistem pemantauan kualitas air. Metode penelitian menggunakan survei kuesioner kepada petani di Kabupaten Bandung Barat, ditunjang data sekunder seperti curah hujan, luas lahan, dan karakteristik tanah. Estimasi konsentrasi residu pestisida dihitung berdasarkan faktor presipitasi, kemiringan lahan, dan kandungan karbon organik tanah. Hasil penelitian ini berupa konsentrasi prediksi bahan aktif pestisida (PECs) di DAS Citarum Hulu dimana bahan aktif Propineb tercatat sebagai bahan aktif dengan konsentrasi tertinggi (0,534 µg/L). Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan implementasi aspek-aspek PRTRs di Indonesia dinilai masih rendah atau masih pada tahap awal dengan penilaian untuk aspek regulasi dan peraturan (37,5%), monitoring aktivitas antropogenik (33,3%), alur informasi dan data pelaporan (25%), serta keterlibatan publik (0%).

2025
👤 Penulis: Branden
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN HUNIAN LANSIA BERORIENTASI PADA KEGIATAN KOMUNAL BERBASIS ALAM DAN SENI

Fenomena ageing population di Indonesia menunjukkan pertumbuhan tingkat populasi lanjut usia (lansia) yang signifikan. Kondisi ini memunculkan tantangan baru, termasuk kebutuhan akan hunian yang mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan sosial lansia. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut mendorong perlunya hunian yang tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga mampu menunjang kesejahteraan mental dan sosial penghuninya. Khususnya bagi lansia yang tinggal sendiri, hunian harus mampu menjawab tantangan isolasi sosial, keterbatasan fisik, dan penurunan kualitas hidup. Proyek ini menggunakan pendekatan elderly-friendly design, dengan fokus pada penciptaan ruang yang aman, nyaman, mudah diakses, dan mendorong aktivitas mandiri lansia dalam kesehariannya. Hunian ini dilengkapi fasilitas kegiatan komunal berbasis alam dan seni seperti area berkebun, ruang seni, serta ruang workshop, yang dirancang untuk mendukung konsep active aging. Kegiatan tersebut ditujukan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, meningkatkan fungsi kognitif, dan mempererat hubungan sosial lansia dalam komunitasnya. Lokasi tapak yang dipilih berada di kawasan Ciumbuleuit, Kota Bandung, dengan mempertimbangkan iklimnya yang sejuk, lingkungan yang tenang, serta potensi alam yang mendukung kenyamanan hunian. Hunian ini juga terintegrasi dengan fasilitas kesehatan, area olahraga, dan ruang interaksi sosial untuk menciptakan kehidupan lansia yang lebih bermakna, aktif, dan terhubung dengan lingkungannya. Rancangan ini diharapkan dapat menjadi prototype hunian lansia masa depan yang lebih manusiawi, adaptif, dan berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Putri Aulia Rahma
🏷️ Desain Hunian 🏷️ Kesejahteraan Lansia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PENGEMBANGAN SISTEM PEMANTAUAN EMISI GAS KARBON BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT) DENGAN PERHITUNGAN ISPU STUDI KASUS KAMPUS ITB

Peningkatan emisi gas karbon di lingkungan kampus menjadi tantangan serius dalam mewujudkan konsep green campus yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pemantauan emisi gas karbon berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mendeteksi dan memvisualisasikan konsentrasi gas CO, CO?, dan NO? secara real-time di lingkungan Kampus ITB. Sistem ini terdiri dari tiga perangkat IoT yang dipasang di titik strategis kampus, yaitu Pos Gerbang Masuk Utama, Pos Gerbang Keluar Utara, dan Pos Gerbang Masuk Utara. Perangkat menggunakan sensor MICS-6814 dan CJMCU-811 yang dikalibrasi untuk menghasilkan data akurat, dikirim melalui protokol MQTT, dan divisualisasikan melalui dashboard berbasis Streamlit dan InfluxDB. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai ISPU CO dan NO? di Pos Gerbang Masuk Utama mencapai kategori “Sangat Tidak Sehat” hingga mendekati “Berbahaya”, sedangkan Pos Gerbang Masuk Utara menunjukkan kategori “Sedang” hingga “Tidak Sehat”. Pos Gerbang Keluar Utara menunjukkan anomali data ISPU NO? yang konstan di angka maksimum, mengindikasikan kemungkinan kerusakan sensor. Konsentrasi CO? di seluruh lokasi menunjukkan lonjakan signifikan pada jam sibuk, mengindikasikan akumulasi emisi akibat aktivitas kendaraan dan kondisi atmosfer yang tidak mendukung dispersi. Sistem ini berhasil memenuhi tujuan penelitian dengan menyediakan solusi pemantauan emisi gas karbon yang berkelanjutan, akurat, dan dapat diakses secara langsung. Temuan ini memberikan kontribusi nyata terhadap inisiatif kampus rendah karbon dan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan lingkungan berbasis data. Penelitian ini juga merekomendasikan pengembangan lebih lanjut melalui peningkatan kualitas perangkat, validasi sensor, serta perluasan cakupan pemantauan untuk representasi yang lebih menyeluruh.

2025
👤 Penulis: Dhafin Kawakibi
🏷️ Internet Of Things (Iot) 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

INVENTARISASI EMISI UDARA DAN ANALISIS BACKWARD TRAJECTORY MENGGUNAKAN HYSPLIT DI PULAU SULAWESI, INDONESIA

Sektor industri, domestik, transportasi, dan kebakaran hutan dan lahan merupakan beberapa kontributor emisi polutan di Sulawesi, sehingga memerlukan langkahlangkah mitigasi guna memperbaiki kualitas udara dan mempertahankan kesehatan lingkungan serta masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi dan pemodelan polutan NOx, SO2, PM10, dan PM2,5 dari keempat sektor tersebut sebagai langkah pengelolaan, serta merumuskan pemodelan backward trajectory untuk menemukan potensi pemindahan polutan jarak jauh. Inventarisasi dilakukan dengan menghitung beban emisi yang dihasilkan ketiga sektor tersebut, dan memetakannya ke dalam grid berbasis GIS dengan resolusi 9 km x 9 km. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa provinsi yang paling berkontribusi pada emisi sektor industri, transportasi, dan domestik adalah Sulawesi Selatan, dengan beban emisi signifikan NOx 330.831,8 ton/tahun dan SO2 137.467,9 ton/tahun. Pada sektor karhutla, provinsi dengan emisi tertinggi adalah Sulawesi Tenggara, dengan beban emisi signifikan PM10 5.228,8 ton/tahun dan PM2,5 4.605,1 ton/tahun. Distribusi spasial emisi menunjukkan bahwa emisi dari sektor industri dan domestik memusat pada daerah ibukota-ibukota Sulawesi, sektor transportasi memusat pada ibukota-ibukota dan jalan-jalan yang menghubunginya, dan sektor karhutla terdistribusi terhadap hutan-hutan yang ada di Sulawesi. Hasil pemodelan HYSPLIT menunjukkan bahwa pada periode musim kemarau, Kota Gorontalo, Kabupaten Mamuju, dan Kota Makassar berpotensi menjadi resepien long range transport polutan, serta pada periode peralihan musim kemarau ke musim hujan, Kabupaten Mamuju juga mengalami hal yang sama.

2025
👤 Penulis: Francesco Arthurito Santara
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

KARAKTERISASI GEOKIMIA BATUAN PENUTUP DAN POTENSI DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS DAN KUANTITAS PENGISIAN VOID DALAM PEMBENTUKAN DANAU PASCATAMBANG

Kegiatan tambang terbuka batubara di Indonesia meninggalkan lubang bekas tambang berskala besar yang berpotensi menjadi danau pascatambang. Namun, interaksi antara air dan permukaan lubang tambang dapat menurunkan kualitas air akibat proses geokimia seperti pelindian logam berat, pembentukan air asam tambang (AAT), dan erosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat geokimia batuan dari dinding lubang tambang berdasarkan posisi terhadap seam batubara melalui uji mineralogi, uji statik, dan uji kinetik. Hasil analisis menunjukkan bahwa sampel mudstone didominasi oleh mineral kuarsa dan kaolinit, sementara sandstone didominasi oleh kuarsa dan hematit. Komposisi mineral tersebut bersifat inert, sehingga tidak menunjukkan potensi pelarutan maupun pembentukan asam yang signifikan. Nilai pH, ORP, DO, DHL, TSS, dan TDS stabil namun variatif setiap sampelnya sepanjang 12 minggu pengujian. Misalnya, sampel S4 memiliki pH rata-rata 7,74, sementara S2 yang tergolong asam memiliki pH rata-rata 4,57, namun keduanya menunjukkan kestabilan. Uji statik mengindikasikan bahwa hanya tiga sampel (M2, M3, dan M4) diklasifikasikan sebagai uncertain cenderung PAF, sedangkan lainnya tergolong NAF atau uncertain cenderung NAF. Selain potensi asam, sampel juga menunjukkan potensi akumulasi TSS yang tinggi. Strategi pengelolaan lingkungan yang direkomendasikan dimulai dari pengisian danau pascatambang bertahap secara terintegrasi dengan pemulihan kondisi hidrologis: reklamasi dan geoteknik, penerapan cover system pada batuan yang berpotensi asam, serta pemantauan kualitas air secara berkala. Akibat dari strategi ini adalah durasi pengisian yang bisa jadi lebih lama untuk volume yang sama.

2025
👤 Penulis: Nurul Bayani
🏷️ Geokimia Batuannya 🏷️ Pembentukan Danau Pascatambang 🏷️ Manajemen Lingkungan

STUDI RENDAMAN DAN KERENTANAN PESISIR DI KABUPATEN DEMAK SERTA INTEGRASI ASPEK SOSIAL-LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN MULTI-CRITERIA DECISION MAKING (MCDM) DAN PROBABILISTIC PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PPCA)

Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki posisi strategis di pesisir utara Pulau Jawa. Letaknya yang berada di Pantura mendukung logistik dan akses transportasi. Namun, elevasi tanah yang sangat rendah serta alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak menyebabkan Kabupaten Demak menghadapi masalah lingkungan seperti rob, banjir, dan abrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tingkat kerentanan pesisir berdasarkan lima kelompok kerentanan seperti oseanografi, hidroklimatologi, fisik, sosial ekonomi, dan ekologi dengan metode pendekatan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) dan Probabilistic Principal Component Analysis (PPCA). Wilayah yang memiliki tingkat kerentanan sangat tinggi yaitu Kecamatan Sayung, Kecamatan Mranggen, Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Bonang, dan Kecamatan Guntur. Proyeksi rendaman dan risiko memiliki 4 skenario rendaman dengan risiko dihitung dari penggabungan peta kerentanan dan rendaman. Luas proyeksi rendaman terbesar berada di Kecamatan Wedung (12.154,82 ha), Kecamatan Bonang (8.058,24 ha), Kecamatan Sayung (5.092,47 ha), dan Kecamatan Karangtengah (3.196,80 ha). Risiko yang tinggi terlihat di Kecamatan Sayung, Kecamatan Bonang, dan Kecamatan Wedung karena memiliki wilayah tambak sehingga risiko terendam akan meningkat. Permasalahan tersebut mendorong diperkuatnya strategi adaptasi dan mitigasi seperti restorasi mangrove, pembangunan tanggul, dan relokasi yang terencana.

2025
👤 Penulis: Agesti Tri Putriningsih
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Analisis Keputusan Multi-Kriteria

ANALISIS BEBAN PENCEMAR DAN STRATEGI PENGELOLAAN KUALITAS AIR SUNGAI BARITO SEGMEN TELUK TIMBAU

Sungai Barito merupakan salah satu sungai utama di Pulau Kalimantan yang mendukung kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat, Namun berdasarkan hasil pemantauan kualitas air yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2021 dampai 2022 di tujuh titik sepanjang Sungai Barito, diketahui bahwa indeks kualitas air menunjukkan kategori status mutu cemar ringan. Kegiatan permukiman dan stockpile batubara di sekitar Sungai Barito berkontribusi terhadap beban pencemar air sungai. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kualitas air Sungai Barito Segmen Teluk Timbau sepanjang 12 km akibat adanya aktivitas permukiman dan stockpile batubara menggunakan perangkat lunak WASP (Water Quality Analysis Simulation Program). Berdasarkan tiga skenario pengelolaan yang dilakukan, penurunan beban pencemar paling optimal adalah sebesar 60% untuk Total Suspended Solid, 50% untuk Chemical Oxygen Demand, dan 85% untuk Biochemical Oxygen Demand dengan menerapkan konservasi lahan di hulu (reboisasi dan terasering), sediment pond di sekitar stockpile batubara, perbaikan drainase lokal, vegetasi penyangga, biofilter, pembangunan IPAL dan penerapan wetland buatan agar kondisi kualitas air Sungai Barito Segmen Teluk Timbau sesuai dengan baku mutu sungai kelas II Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.

2025
👤 Penulis: Azizah Shalihah A
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

TRANSISI DARI DIESEL KE GRID: KERANGKA KERJA PENGAMBILAN KEPUTUSAN KOMPREHENSIF UNTUK TRANSISI ENERGI INDUSTRI PERTAMBANGAN

Perusahaan industri saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar untuk beralih dari sistem energi yang bergantung pada bahan bakar fosil ke sistem yang lebih berkelanjutan. Mereka harus melakukan hal ini sambil menyeimbangkan kebutuhan para pemangku kepentingan, kebutuhan untuk tetap menguntungkan, dan kebutuhan untuk melindungi lingkungan. Meskipun ada banyak penelitian tentang teknologi transisi energi dan bagaimana organisasi mengambil keputusan, belum ada kerangka kerja komprehensif yang secara sistematis menggabungkan berbagai faktor evaluasi sambil tetap dapat digunakan dalam kehidupan nyata. Penelitian ini mengisi kesenjangan yang sangat penting dengan menciptakan dan menguji Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Transisi Energi yang terintegrasi untuk mengelola energi dalam bisnis. Metodologi Penelitian Sains Desain digunakan untuk membangun kerangka teoritis yang menggabungkan ide- ide dari teori transisi energi, aturan pengambilan keputusan organisasi, dan analisis tekno-ekonomi. Keselarasan Strategis, Kelayakan Teknis, Viabilitas Ekonomi, dan Dampak Lingkungan adalah empat bagian yang membentuk sistem tersebut. Konteks validasi utama adalah Perusahaan A, operasi pertambangan Indonesia yang harus memutuskan apakah akan terus menggunakan generator diesel atau terhubung ke jaringan PLN. Hal ini memberikan kondisi ideal untuk pengujian kerangka kerja yang menyeluruh di semua dimensi evaluasi. Studi ekonomi menunjukkan bahwa menghubungkan ke jaringan PLN memiliki manfaat yang substansial. The Levelized Cost of Electricity (LCOE) hanya $0,17 per kWh dibandingkan dengan $0,4984 per kWh untuk pembangkit diesel, yang merupakan penghematan biaya sebesar 66%. Berdasarkan studi Net Present Value (NPV), koneksi jaringan memiliki NPV positif sebesar $14,46 juta dan tingkat pengembalian internal sebesar 32,34%. Analisis lingkungan menunjukkan pengurangan emisi CO2 sebesar 2.054 kg per tahun. Berbagai kelompok akan terpengaruh oleh hasil ini dengan cara yang penting. Perusahaan mendapatkan panduan terorganisir tentang cara mengevaluasi transisi energi dan meningkatkan kemampuan manajemen energi strategis mereka secara bersamaan. Sebagai cara untuk membantu organisasi melakukan perubahan, pembuat kebijakan dapat memperbaiki kerangka regulasi dan pengeluaran infrastruktur. Penelitian ini memberikan kerangka kerja yang solid bagi peneliti akademis untuk terus menyelidiki lebih lanjut dan mengelola transisi energi organisasi.

2025
👤 Penulis: Alin Nurliani
🏷️ Transisi Energi Industri Pertambangan 🏷️ Analisis Tekno-Ekonomi 🏷️ Manajemen Lingkungan

PROGRAM INISIATIF PENGELOLAAN KENDARAAN RINGAN DALAM RANGKA MENDUKUNG LINGKUNGAN, SOSIAL, DAN TATA KELOLA (ESG) DI ZONA 4 REGIONAL 1 SUBHOLDING UPSTREAM PERTAMINA

Belakangan ini, tantangan perusahaan minyak dan gas semakin bertambah, selain untuk menghasilkan keuntungan, juga harus mempertimbangkan aspek ESG, dimana salah satunya pengurangan emisi karbon. Subholding Upstream Pertamina (SHU) menjadikan hal ini sebagai salah satu target capaian tahunan perusahaan dan dicascading untuk menjadi target setiap Fungsi. Untuk mendukung target Bersama tersebut, setiap fungsi harus mereview bisnis proses masing-masing, apa saja kegiatan yang menghasilkan emisi carbon, dan tentu saja melihat potensi improvement yang dapat dilakukan. Di Fungsi SCM, salah satu kegiatan yang menghasilkan emisi carbon cukup tinggi adalah penyediaan kendarangan ringan penumpang (KRP) yang mencapai lebih dari 440 unit kendaraan. Dalam konteks ini, pemilihan bahan bakar alternatif yang optimal yang menyeimbangkan efisiensi, operasional, dampak lingkungan, dan kepatuhan terhadap peraturan menjadi sangat penting. Projek akhir ini menyajikan evaluasi sistematis terhadap alternative penggunaan 4 (empat) bahan bakar, yaitu Biosolar CN48, Dexlite CN51, Pertadex CN53, dan Biosolar CN48+ Additive, dengan menggunakan tool Analytic Hierarchy Process (AHP). Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi opsi bahan bakar yang paling ramah lingkungan dan efisien yang meminimalkan emisi karbon dan polusi udara sekaligus memastikan kelayakan operasional. Penelitian ini menggunakan AHP sebagai alat pengambilan keputusan multikriteria (MCDM), untuk mengintegrasikan berbagai kriteria dan subkriteria yang penting untuk mengevaluasi opsi bahan bakar alternatif. Kriteria ini meliputi aspek Lingkungan, Ekonomi, Teknis, dan Kualitas. Penilaian ahli dari para Subject Matter Expert (SME) di sektor minyak dan gas dikumpulkan untuk melakukan perbandingan berpasangan, yang menghasilkan penilaian komprehensif untuk setiap alternatif bahan bakar. Hasil analisis mengungkapkan bahwa PT.Pertamina Dex CN53 muncul sebagai alternatif yang paling sesuai. Temuan penelitian ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi perusahaan energi dan pembuat kebijakan yang ingin mengadopsi alternatif bahan bakar yang lebih bersih, yang berkontribusi pada tujuan yang lebih luas dari manajemen energi berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.

2025
👤 Penulis: Moh Kholid Yadi
🏷️ Energi Alternatif 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Analisis Multikriteria

SIMULASI POLUSI UDARA KEBAKARAN HUTAN MENGGUNAKAN MODEL WRF-CHEM DI PULAU SUMATERA PERIODE OKTOBER 2015

Kebakaran hutan besar-besaran yang terjadi sejak Agustus hingga November tahun 2015 telah menyebabkan bencana lingkungan di Indonesia. Kebakaran hutan melepaskan partikel aerosol yang dapat menyebabkan penurunan visibilitas, kerusakan lingkungan, dan berdampak buruk pada kesehatan manusia. Kebakaran hutan juga melepaskan emisi karbon seperti karbon monoksida (CO). Oleh karena itu, dilakukan simulasi sebaran asap kebakaran hutan di Pulau Sumatera pada tahun 2015 untuk memprediksi arah sebaran asap kebakaran hutan serta membandingkan performa Model WRF-Chem terhadap data Fire INventory from NCAR (FINN) versi 1.5 dan versi 2.5. Penelitian ini menggunakan model prediksi cuaca numerik yang mengintegrasikan parameter kimia, yaitu Model Weather Research Forecasting-Chemistry (WRF Chem). Model ini memungkinkan simulasi emisi dan transportasi asap dari kebakaran hutan. Data inisial dan boundary yang digunakan dalam penelitian ini adalah The National Centers for Environmental Prediction (NCEP) Final (FNL) untuk model atmosfer global, sementara inventaris FINNv2.5 digunakan sebagai data input untuk emisi kebakaran hutan. Hasil penelitian menunjukkan arah persebaran asap kebakaran hutan di Pulau Sumatera mirip dengan arah pergerakan cintra Satelit Himawari-8 menggunakan komposit True Color RGB. Arah persebaran asap hasil simulasi Model WRF-Chem bergerak ke arah barat laut, utara timur laut, dan timur laut. Sehingga menyebabkan asap kebakaran hutan menyebar hingga ke Singapura. Hasil perbandingan performa Model WRF-Chem terhadap inventaris FINNv1.5 dan FINNv2.5 menghasilkan bahwa hasil dari inventaris FINNv2.5 masih kurang konsisten nilai ???????????????? WRF FINNv2.5 untuk variabel kecepatan dan arah angin overestimasi, serta untuk variabel suhu dan kelembaban relatif underestimasi dibandingkan dengan hasil keluaran model WRF-FINNv1.5.

2024
👤 Penulis: Fiyannastiti
🏷️ Hidrologi 🏷️ Model Meteorologi 🏷️ Manajemen Lingkungan

ANALISIS PENGARUH SEA BREEZE TERHADAP SEBARAN EMISI PM10 MENGGUNAKAN MODEL WRF CALPUFF (STUDI KASUS: PT. PERTAMINA RU IV CILACAP)

Kegiatan pengolahan minyak di PT. Pertamina RU IV Cilacap menghasilkan berbagai emisi gas berbahaya, salah satunya PM10. Lokasi kilang Pertamina ini berdekatan dengan permukiman penduduk yang meningkatkan risiko paparan emisi PM10 bagi masyarakat sekitar. Selain itu, lokasi kilang yang berada di dekat laut berpotensi dipengaruhi oleh angin laut yang dapat memengaruhi sebaran polutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak angin laut terhadap sebaran emisi PM10 dengan sumber polutan berasal dari PT. Pertamina RU IV Cilacap. Dalam penelitian ini, hari kajian dipilih menggunakan data observasi meteorologi dan data ERA5 Reanalysis. Pada hari kajian yang terpilih, akan dilakukan simulasi model WRF untuk memodelkan angin laut. Selanjutnya, dilakukan simulasi model CALPUFF menggunakan data emisi PM10, data fisik cerobong, data topografi, data tutupan lahan, serta data meteorologi yang dihasilkan dari model WRF untuk melihat sebaran emisi PM10 pada saat terjadi angin laut. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kawasan sekitar PT. Pertamina RU IV Cilacap dipengaruhi oleh angin laut pada siang hari. Angin laut ini menyebabkan emisi PM10 tersebar ke arah daratan yang didominasi oleh wilayah permukiman dan persawahan. Konsentrasi PM10 tertinggi yang tersebar saat terjadi angin laut berkisar antara 5,7 ?g/m3 hingga 14,72 ?g/m3 . Besar konsentrasi sebaran emisi PM10 ini masih dalam kategori baik menurut ISPU, sehingga tidak membahayakan kesehatan manusia.

2024
👤 Penulis: Suci Rosyidatunnajah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Model Meteorologi 🏷️ Manajemen Lingkungan

ANALISIS RISIKO KONTAMINASI BAKTERI COLIFORM PADA PENGGUNAAN AIR PERMUKAAN SUNGAI CIWALENGKE SEBAGAI SUMBER AIR BAKU NONPERPIPAAN (STUDI KASUS: DUSUN CIWALENGKE)

Masyarakat Dusun Ciwalengke telah mengalami krisis air bersih selama beberapa dekade yang ditandai dengan penggunaan sumber air dari Sungai Ciwalengke yang tercemar oleh limbah domestik dan terindikasi mengandung bakteri Coliform yang dapat menyebabkan penyakit diare dan penyakit lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur paparan air dari MCK yang terkontaminasi bakteri Coliform Sungai Ciwalengke terhadap kesehatan warga sekitar untuk menentukan konsep pengelolaan lingkungan yang tepat. Analisis risiko dilakukan dengan metode Quantitative Microbial Risk Assessment (QMRA). Konsentrasi bakteri E. coli sumber air bersih warga diukur menggunakan metode Membran Filter dengan Media Coliform Chromocult Agar (CCA). Dibutuhkan juga data volume konsumsi air tiap individu yang didapatkan dari hasil penyebaran kuesioner. Semua sumber air bersih warga tidak layak untuk digunakan karena mengandung bakteri E. coli. Estimasi beban penyakit tahunan dari kontaminasi E. coli dihitung dengan BetaPoisson Model dan analisis Monte-Carlo dimana diperoleh bahwa nilai DB berada pada rentang 0,00013 ? 0,0013. Nilai ini melewati batas dari WHO yaitu 10-4 sehingga sumber air tidak layak untuk digunakan dalam aktivitas harian. Upaya penanganan masalah lingkungan di Dusun Ciwalengke dapat dilakukan dengan intervensi dari banyak pihak dengan membangun tangka septik komunal, menempatkan tempat sampah, membangun IPAS, membersihkan tempat penampungan air, dan menerapkan PHBS.

2024
👤 Penulis: Marsha Daulah Salsabila
🏷️ Kontaminasi Air 🏷️ Analisis Risiko Microbiologis 🏷️ Manajemen Lingkungan

PERANCANGAN SET SARANA PENGANGKUTAN SAMPAH SISA MAKANAN PADA LINGKUNGAN PEMUKIMAN PENDUDUK DENGAN AKSES MOBILITAS YANG TERBATAS DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS KECAMATAN COBLONG, BANDUNG WETAN, SUMUR BANDUNG)

Sampah merupakan hal yang tidak akan pernah luput dari siklus kehidupan. Sampah selalu dihasilkan baik secara sengaja atau tidak sengaja, oleh makhluk hidup atau benda mati, banyak atau sedikit. Jumlah sampah yang dihasilkan juga dipengaruhi secara langsung oleh jumlah kontributornya itu sendiri. Dan faktanya ialah: sampah merupakan satu kontributor terbesar dalam kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan sampah merupakan hal yang harus diperhatikan agar dapat menerapkan metode dan sistem paling efisien untuk meminimalisir dampak pencemaran pada lingkungan, contohnya ialah sampah sisa makanan yang dapat berdampak langsung terhadap lingkungan dengan jendela waktu yang singkat. Sehingga, kita harus mempertimbangkan secara seksama dalam menentukan proses pengelolaan sampah sisa makanan, seperti proses mobilisasi sampah pada lingkungan pemukiman penduduk. Data lapangan diperoleh dengan melakukan observasi serta wawancara terhadap sampel dan juga petugas kebersihan. Sampel merupakan perwakilan masyarakat dengan tingkatan RT hingga RW dengan Kelurahan dan Kecamatan yang berbeda pada masing-masing sampel. Pada penelitian kali ini, terdapat tiga sampel yang menjadi subjek penelitian; RT05/RW07 Cibunut, RT02/RW05 Pelesiran, dan RT08/RW20 Tamansari. Pihak petugas kebersihan yang dijadikan sampel merupakan pihak dari TPS Tamansari. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada saat ini diperlukan suatu aksi untuk meningkatkan kemandirian pengelolaan sampah pada masyarakat.

2024
👤 Penulis: Panca Arya Nugraha
🏷️ Pengelolaan Sampah Sisa Makanan 🏷️ Desain Sarana Pengangkutan 🏷️ Manajemen Lingkungan
Halaman 2 dari 2
💬